Banyakkanlah Tafakkur dan Berpikir
Kami sering kali diberikan nasehat oleh ahli-ahli da’wah untuk selalu bertafakur dan berpikir. Karena jika tanpa hal itu, maka langkah-langkah yang dilakukan menjadi bentuk kebiasaan atau adat saja. Untuk hal ini, musyawarah yang sering dilakukan, apakah musyawarah dengan ahli keluarga di rumah, apakah musyawarah harian di masjid sendiri, apakah itu di malam musyawarah mingguan, apakah itu pada saat malam markaz, dan seterusnya, ternyata pikir dan kerisauan terus dapat terjaga dan tumbuh dengan baik. Musyawarah telah memberikan pikir yang terus tumbuh tidak hanya di kalangan khusus tertentu, bahkan kaum muslimin yang yang sering dianggap rendah oleh kebanyakan manusia, dan kami sendiri mendapatkan pengaruh ini bukan dari seorang ulama atau ustadz tetapi dari seorang pedagang biasa dan juga pengasuh becak yang mempunyai pikir dan kerisauan. Oleh karena itu kami memahami betul dengan pentingnya memperbanyak tafakkur dan juga berpikir.
Sehingga setelah sekian lama kami belajar usaha da’wah dan tabligh, kurang lebih 14 tahun, ternyata kami masih sedikit yang kami pahami dalam usaha da’wah dan silaturahmi ini. Tafakkur dan juga berpikir inilah yang kami pergunakan untuk lebih memahami usaha da’wah ini dan tentunya dengan menggunakan pendekatan yang beragam:
- kami perlu terus untuk dapat berhubungan dengan teman-teman kami dan juga ahli-ahli da’wah yang sudah lama;
- kami perlu banyak mencari sumber-sumber yang baik dan beragam yang telah ditulis para Ulama, tidak hanya dari para ulama yang telah lama terlibat dalam usaha da’wah ini;
- kami perlu menjaga silaturahmi dengan para ustadz dan ulama, meskipun tidak ada hubungannya dengan usaha da’wah ini;
- dan keempat kami perlu menggunakan pendekatan yang berasal dari keilmuan umum yang kami pelajari dari waktu-ke-waktu, pendekatan keempat ini dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan oleh kami sebelumnya, tetapi Salman Al-Farisi RA telah membuktikannya ketika memberikan kerangka masukan kepada Rasulullah SAW dalam perjuangan khandaq. Itulah yang menjadikan kami juga menggunakan pendekatan keempat yang mungkin tidak umum.
Untuk kepentingan hal ini, kami sampaikan beberapa ayat al-quran untuk memberikan kepentingannya untuk selalu bertafakkur dan juga berpikir. Dan kami tidak berikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang bersangkutan, karena banyak lagi ulama-ulama yang sangat faqih dengan hal ini. Tetapi kami mengajak bersama-sama bertafakkur dan berpikir terhadap hal-hal yang unik terjadi di dalamnya, sehingga kita dapat mengetahui bahwa Allah swt memberikan karunia kepada kita satu perangkat yang sangat penting yaitu kemampuan untuk berpikir. Oleh karena itu kita sebagai kaum muslimin hendaknya untuk memanfaatkan kemampuan itu untuk bertafakkur dan berpikir terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kita sendiri. Jangan sampai kita tidak memanfaatkannya dengan baik, akhirnya kita sendiri, kaum muslimin, mengalami kesusahan dan juga penderitaan. Bertafakkur dan berpikir tidak hanya untuk memikirkan penciptaan alam semesta ini, ternyata lebih luas dari itu.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS Ali Imran:103)
Kisah sejarah kaum muslimin di jaman Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA, dimana hampir terjadi pertempuran yang sangat hebat di antara kaum muslimin, antara Aus dan Khazraj. Oleh karena itu dengan karunia kemampuan untuk bertafakkur dan berpikir inilah kita dapat memperoleh hikmah di balik kisah itu. Dan Allah swt merekam kejadian itu di dalam beberapa ayat dalam Surat Ali Imran, agar kita semua mendapatkan petunjuk atau juga arahan yang benar. Sehingga hal itu tidak terjadi lagi di kemudian hari, atau juga akan lebih waspada terhadap hal-hal yang dapat mendorong kearah pertingkaian di antara kaum muslimin itu sendiri. Kita dapat mempelajari Ali Imran: 103 dari beberapa tafsir yang telah menjelaskan dengan sangat baik dan sistematik.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS Ali Imran:190)
Allah swt memberikan penegasan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi, begitupun juga dengan pergantian siang dan malam, terdapat pelajaran-pelajaran yang berharga bagi orang yang selalu berpikir.

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS Al-Baqarah: 197)
Allah swt mengajak kaum muslimin untuk menggunakan pikirannya dan juga akalnya ketika mengerjakan amal ibadah, seperti haji. Haji, sebagai rukun islam kelima, merupakan amal ibadah yang memerlukan kesiapan yang tidak sedikit. Bahkan jumlah kaum muslimin yang mengerjakannya bukan lagi 2.000 orang atau 10.000 orang, tetapi sudah sangat banyak sekali, bisa sampai 3 juta orang lebih. Disinilah Allah swt mengingatkan kita untuk menggunakan akal yang telah dikarunikanNya. Dan kita bisa bayangkan apa yang kira-kira terjadi ketika berkumpul sebanyak itu, ada yang muda dan tua, ada yang besar dan kecil, ada laki-laki dan perempuan, ada dari berbagai negara dan suku.

“Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah: 100)
Tidak ada di antara kita yang tidak berkinginan untuk mendapatkan keberuntungan atau kesuksesan. Oleh karena itu Allah swt mengajak orang-orang yang mempunyai pikiran (akal) untuk selalu memperhatikan antara yang baik dan buruk dalam kehidupan kita. Dan ternyata sekarang ini apa-apa yang tidak baik di sisi Allah swt lebih banyak memberikan pengaruh kepada kita, kaum muslimin, dan bahkan memberikan daya tarik yang luar biasa. Disinilah kita perlu mempunyai pikiran kenapa hal itu terjadi dan bagaimana memberikan jawabannya. Kita dapat mengamati apa-apa yang terjadi di lingkungan kita sendiri, apakah itu di kantor, apakah itu di pasar, apakah di halte bus, apakah itu terminal.

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran” (QS Ar-Ra’d:19)

“Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (QS Thaahaa: 120)
Sejarah telah banyak memberikan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga kepada kita semua, bagaimana kisah di jaman Nabi Musa As, bagaimana kisah di jaman Nabi Luth As, bagaimana kisah di jaman Syuaib As, begitupun juga bagaimana kisah di jaman Nabi Nuh As. Ha-hal itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang berakal dan berpikir. Oleh karena itu kaum muslimin dengan berbagai kejadian-kejadian seperti saat ini, seharusnya mendapatkan pelajaran yang berharga dari perjalanan ummat sebelumnya. Dan untuk mendapatkan pelajaran tersebut, kecuali kaum muslimin sendiri mau menggunakan pikiran dan akalnya untuk memahami itu.

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS Al-Baqarah: 44)
Allah swt mengajak kita untuk berpikir dan merenung terhadap diri kita sendiri. Kita selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada yang lain, tetapi kita sendiri sering melupakan dengan hal-hal itu. Sehingga jika kita sering memberikan pelajaran atau da’wah kepada kaum muslimin yang lain, kita harus juga mengetahui bahwa pelajaran-pelajaran itu juga untuk diri kita sendiri, oleh karena itu kita dituntut juga untuk selalu meningkatkan amal sholeh dari apa yang kita sampaikan kepada kaum yang lainnya. Sehingga jika kita melupakannya, Allah swt mengingatkannya apakah kita tidak berpikir tentang hal itu.
Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran mendorong dan mendidik kita untuk selalu bertafakkur dan juga berpikir ini, begitupun juga yang ada dalam ucapan-ucapan Rasulullah SAW sendiri. Hanya saja kami ingin menyampaikan satu ayat At-Taubah:128 yang menurut kami inilah yang telah hilang dalam diri kita kaum muslimin dalam hal bertafakkur dan berpikir. Kita kurang risau terhadap kaum muslimin atau juga bahkan dengan kehidupan manusia yang sedang terjadi saat ini. Silahkan dalami, renungilah, dan bertanyalah kepada para ulama atau ustadz apa maksud ayat itu, sehingga kita benar-benar bisa memahaminya dengan baik, dan akhirnya mendorong kita bersama-sama berkerja untuk kebaikan kaum muslimin di seluruh alam ini, yang mana kita sangat sedikit untuk kaum muslimin, termasuk kami yang lemah ini.

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmi” (QS At-Taubah:128)
Popularity: 5% [?]
Recent Comments