Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah (Penjelasan Ringkas)
Wahyu Arifianto Wrote:
http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/11/guru-kami-pengorbanan-dan-khuruj/#comment-262
AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
(penjelasan ringkas)
Mohon dibaca dengan seksama, tawajjuh dan penuh perhatian…!!! Terima kasih…
1. Allah Ta’ala berfirman:
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (QS. Asy-Syura: 11).
Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian, yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al jawhar al fard) dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini juga terbagi menjadi dua bagian:
a. Benda lathif : sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, roh, angin, dan sebagainya.
b. Benda katsif : sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan, seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.
Adapun sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al jawhar al fard, juga bukan benda lathif ataupun benda katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti Ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.
2. Rosulullah saw, bersabda, yang artinya:
“Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (HR. Bukhari, Baihaqi dan Ibnu al Jarud).
Makna hadits ini, bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah.
Al Imam al Baihaqi (W. 458H) dalam kitabnya al Asma wa as-Shifat, hlm 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah, mengambil dalil dari:
3. Sabda Rosulullah saw, yang artinya:
“Engkau Az-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya) tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah Al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu”. (HR. Muslim dan lainnya.).
Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.
Adapun salah satu riwayat hadits jariyah yang zhahirnya memberi persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwilkan dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, diantaranya adalah al Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Senada dengan perkataan Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib-semoga Allah meridhainya, yang maknanya:
“Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat”. (di tuturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq hlm. 333).
Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau ada di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh ‘Abdul Wahhab asy-Sya’rani (W. 973 H) dalam kitabnya Al Yawaqiit Wa al Jawahir menukil perkataan Syekh ‘Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat.
Al Imam ‘Ali-semoga Allah meridhainya- mengatakan yang maknanya:
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”. (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq Bayna al Firaq, hlm. 333).
Sayyidina Ali -semoga Allah meridhainya- juga mengatakan yang maknanya:
“Sesungguhnya yang menciptakan aina (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kaifa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana”. (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hlm. 98).
Menurut Ulama Tauhid yang dimaksud al-Mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk, baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al-Hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk, baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk ruangan melalui jendela) mempunyai ukuran, demikian juga ‘arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.
Al Imam Ali -semoga Allah meridhainya- berkata, yang maknanya:
“Barangsiapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)”. Diriwayatkan oleh al Imam Abu Nu’man (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’ (Juz I hlm. 72).
- Maksud perkataan Sayyidina ‘Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran.
- Semua bentuk baik lathif maupun katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Adapun Allah bukanlah merupakan benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya Ulama Ahlussunnah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah: bahwa ruang kosong yang di isi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang di isi oleh suatu benda.
Al Imam as-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husayn ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (38 H- 94 H), berkata, yang maknanya:
“Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”. Dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang maha suci dari hadd (benda, bentuk dan ukuran)”. Beliau juga berkata: “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh”, yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Ia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan ada tanpa arah. (Diriwayatkan al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah ahlul bait, keturunan Rosulullah saw).
Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan wahdatul wujud dan hulul.
Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridhainya- berkata yang maknanya:
“Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir” (diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya).
Al Imam Syekh al ‘Izz ibn ‘Abd as-Salam asy-Syafi’i dalam kitabnya Hall ar-Rumuz menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan: “karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwasanya Allah bertempat, dan barangsiapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Demikian juga dijelaskan maksud Imam Abu Hanifah ini oleh al Bayadli al Hanafi dalam Isyaraat al Maraam.
Al Imam al Hafizh ibn al Jawzy (W. 597 H) mengatakan dalam kitabnya Daf’u Syubah at-Tasybih, maknanya: “Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya) dan mujassim (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jism; benda), yang tidak mengetahui sifat Allah”.
Di dalam kitab Al Fatawa al Hindiyyah, cetakan Dar Shadir, jilid II, hlm. 259 tertulis sebagai berikut: “Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta’ala”.
Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridhainya- dalam kitabnya al Washiyyah berkata yang maknanya: “Bahwa penduduk surga melihat Allah ta’ala adalah perkara yang haqq (pasti terjadi), tanpa (Allah) disifati dengan sifat-sifat benda, tanpa menyerupai makhluk-Nya dan tanpa (Allah) berada di suatu arah”. Ini adalah penegasan Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridhainya- bahwa beliau menafikan arah dari Allah ta’ala.
Al Imam Malik -semoga Allah meridhainya- berkata: “Ar-Rahman ‘ala al-‘arsy istawa sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana, dan kaifa (sifat-sifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya”. (diriwayatkan oleh al Baihaqi).
Maksud perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda, seperti duduk, bersemayam, berada di suatu tempat dan arah dan sebagainya.
Al Imam as-Syafi’i -semoga Allah meridhainya- berkata: “Barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui pengaturnya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka ia adalah musyabbih; kafir. Dan jika ia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu’aththil -atheis-; kafir. Dan jika ia berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim”. (diriwayatkan oleh al Baihaqi dan lainnya).
Al Imam Ahmad bin Hanbal dan al Imam Tsauban bin Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri, salah seorang murid terkemuka al Imam Malik -semoga Allah meridhai keduanya- berkata: “Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidaklah menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)”. (diriwayatkan oleh Abu al Fadli at Tamimi dan al Khatib al Baghdadi).
Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridhainya- (227-321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah tersebut”. Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ini merupakan ijma’ (konsensus) para sahabat dan salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Dalil dari perkataan tersebut, bahwasannya bukanlah nabi Muhammad saw, naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rosulullah saw, dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad saw, sehingga jarak keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad saw, disaat mi’raj adalah Jibril as, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridhainya-.
Adapun ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya kearah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit/ atas. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat.
Penjelasan seperti ini di tuturkan oleh para Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim dan masih banyak lagi. Perkataan ini juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham wahdah al wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan ijma’ kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Hafizh as-Suyuthi, juga para panutan kita ahli tashawwuf sejati seperti al Imam al Junayd al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H), Syekh Abd al Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua imam tashawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang mengaku dusta sebagai pengikut tarekat tashawwuf dan meyakini aqidah wahdah al wujud dan hulul. Beliau juga berkata: “Barangsiapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir”.
Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, berada pada suatu tempat dan arah, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa dan sebagainya. Maka orang yang mengatakan bahwa bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa arab adalah bahasa Allah atau kalam Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) dengan huruf, suara atau semacamnya, dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka ia telah terjerumus kedalam kekufuran, begitu juga orang yang meyakini wahdah al wujud dan hulul.
Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Mu-ayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegangan kepada zhahir al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw, yang mutasyabihat, sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.
Mutasyabihat artinya nash-nash al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw, yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur’an kepada ayat-ayat muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa arab, yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya. Di antara ayat-ayat mutasyabihat yang tidak boleh di ambil secara zhahirnya adalah firman Allah ta’ala dalam surat Thaha ayat 5:
Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah duduk (jasala) atau bersemayam atau berada di atas ‘arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Baihaqi (W. 458H), al Imam Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki (W. 756 H) dan al Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H) dan lainnya. Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa arab mempunyai 15 makna. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsiri dengan makna yang layak bagi Allah dan harus selaras dengan ayat-ayat muhkamat. Berdasarkan ini, maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna tersebut. Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai). Al Imam ‘Ali-semoga Allah meridhainya- mengatakan: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya”.
Maka ayat tersebut diatas (surat Thaha: 5) boleh ditafsirkan dengan qahara (menundukkan dan menguasai), yakni Allah menguasai ‘arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. Karena al-Qahr merupakan sifat pujian bagi Allah. Dan Allah menamakan Dzat-Nya al-Qahir dan al-Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka dengan nama ‘Abd (hamba) al Qahir dan ‘Abd al Qahhar. Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya ‘Abd al Jalis (al Jalis adalah nama bagi yang duduk). Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia, jin, hewan dan malaikat. Penafsiran diatas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai ‘arsy kemudian menguasainya, karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan ‘arsy merupakan makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan). Dalam ayat ini, Allah menyebut ‘arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya.
Ibnu al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’i menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk diatas ‘Arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya. Yang menta’wil istawa dengan qahara adalah para ulama Ahlussunah wal Jama’ah. Diantaranya adalah al Imam ‘Abd Allah ibnu Yahya ibnu Mubarak (W. 273 H), al Imam Abu Manshur al Maturudi al Hanafi (W. 333 H), al Ghazali asy-Syafi’i (W. 505 H), al Hafizh Ibnu al Jawzi al Hanbali (W. 597 H), al Imam Abu ‘Amr ibnu al Hajib al Maliki (W. 646 H), Syekh Muhammad Mahfuzh at-Termasi al Indonesi asy-Syafi’i (1285-1338 H), Syekh Nawawi al Jawi al Indonesi asy-Syafi’i (1314-1397 H).
Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang ia katakan tentang ayat (al-Baqarah: 115):
Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya: “Ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscaya Allah ada di sana”. Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan. Akan tetapi makna ayat di atas bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat di atas hewan tunggangannya, ke arah manapun tunggangannya itu menghadap selama arah itu adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah. Sebagaimana yang dikatakan Mujahid (W. 102 H), murid Ibnu ‘Abbas. Dan begitulah seluruh ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Seperti firman Allah dalam surat an-Nur ayat 35:
Tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya. Tetapi makna ayat ini, bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang. Atau maknanya, bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan jin dan manusia, yang berada di bumi, yaitu petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana yang dikatakan ‘Abd Allah ibnu ‘Abbas -semoga Allah meridhainya- salah seorang sahabat Nabi saw. Ta’wil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma’ wa ash-Shifat.
Abu Bakr ash-Shiddiq -semoga Allah meridhainya- berkata yang maknanya: “Pengakuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, adapun mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik”.
Maksudnya adalah kita beriman bahwa Allah ada, tidak seperti makhluk-Nya, tanpa memikirkan tentang Dzat(hakekat)-Nya. Adapun berfikir tentang makhluk Allah adalah hal yang dianjurkan, karena segala sesuatu merupakan tanda akan ada-Nya. Perkataan Abu Bakr ash-Shiddiq -semoga Allah meridhainya- tersebut diriwayatkan oleh seorang ahli fiqh dan hadits, al Imam Badr ad-Din az-Zarkasyi asy-Syafi’i (W. 794 H) dan lainnya.
——————-Why——————-
Demikian penjelasan ini kami kutip dan kami ringkas dari buku “AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH” yang diterbitkan oleh Syahamah press dan dari kitab-kitab yang judulnya telah kami cantumkan diatas, serta hasil mudzakaroh dengan para Ulama. Dan bila pembaca ingin penjelasan lebih luas silahkan baca buku “ALLAH ADA TANPA TEMPAT” yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh Ponpes Dar Ahlussunnah Wal Jama’ah, Kubu-Riau atau silahkan baca kitab-kitab yang judulnya telah kami sebutkan dengan bertanya kepada Ulama-ulama Ahlussunnah terkemuka.
Semoga bermanfaat dan semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita semua. Amiiiin….
Wassalam….
Mohon di edit….
jazakallah…
Catatan: Admin blog hanya merapikan. Silahkan untuk dipelajari dengan baik.
Popularity: 11% [?]
alhamdulillah hampir saya tersesat karena aqidah tri loginya salafy merajalela sementara NU banyak diam . awalnya saya akrab dgn mereka tetapi ketika dikatakan a’sary dan maturidi sesat saya jadi nyari2 dan ketemu.