Pembagian Tauhid Merupakan Ijtihad dan Penilaian Ulama Lainnya Terhadap Pembagian Tauhid
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kami sudah jelaskan dalam blog ini, bahwa tidak ada satupun dalil apakah dalam Al-quran dan juga As-Sunnah yang menyatakan secara TEXT perihal pembagian tauhid menjadi tiga katagori, yaitu Tauhid Rubiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asmau Wa Shifat. Pembagian ini merupakan ijtihad dari ulama terhadap tauhid. Dalam penjelasan yang disampaikan salafi ke dalam blog kami juga, dapat menunjukkan bahwa perihal itu merupakan pembagian katagori berdasarkan kandungan-kandungan yang terdapat dalam Al-quran dan As-sunnah yang dapat menunjukkan hal itu.
Tetapi pembagian ini bukan berarti harus dijadikan sebagai sarana untuk menyalahkan atau bahkan menyatakan sesat terhadap Ummat Islam lain yang tidak mengenal atau tidak mengakui pembagian itu sendiri. Dan kami sendiri dapat menunjukkan bahwa Kitab Aqidah Thohawiyyah sendiri yang menjelaskan perihal aqidah Sunnah Wal Jama’ah tidak memperlihatkan pembagian Tauhid itu.
Oleh karena itu, kami sendiri menghargai pola pendekatan pembagian itu, sebagai ijtihad untuk memudahkan. Tetapi juga kita tidak dapat memaksakan kaum muslimin harus semuanya mengikuti pembagian itu. Coba perhatikan dua bahasan yang cukup menarik perihal ini dalam link di bawah ini:
1. The Divisions of Tawhid:
http://www.marifah.net/index.php?option=com_content&task=view&id=40&Itemid=47
2. Assessment of the Division of Tawhid into Uluhiyya and Rububiyya:
http://www.marifah.net/index.php?option=com_content&task=view&id=21&Itemid=47
Sedangkan pembagian Tauhid sebagai berikut:
http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/11/guru-kami-pengorbanan-dan-khuruj/#comment-155
PEMBAGIAN TAUHID
Oleh
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari
Pertanyaan
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari ditanya : Selama ini dalam berbagai kesempatan, saya banyak mendengar dari orang-orang yang mengatakan bermanhaj dan beraqidah Salaf, membagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Dari manakah pembagian ini, mengingat di dalam Al-Qur’an dan hadits tidak disebutkan. Dan menurut kami, hal itu tidak didapati pula pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun shahabat. Bukankah pernyataan tersebut termasuk suatu perkara baru (muhdats) dan tidak ada dalilnya?
Jawaban
Kami katakan, bahwa pembagian yang disyaratkan tersebut kedudukannya seperti pembagian para pakar ilmu Nahwu terhadap kata dalam bahasa Arab menjadi isim (nama), fi’il (kata kerja) dan harf (imbuhan). Apakah yang demikian itu suatu hal tercela, padahal sesuai dengan kenyataan dan hakekat perkaranya.
Betapa tepatnya perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam risalahnya “At-Tahdzir” halaman 30 berkisar pembagian tauhid. Kata beliau : “Pembagian ini adalah hasil istiqra (telaah) para ulama Salaf terdahulu seperti yang diisyaratakan oleh Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-Thabari serta yang lainnya. Hal ini pun diakui oleh Ibnul Qayim. Begitu pula Syaikh Zabidi dalam “Taaj Al-Aruus” dan Syaikh Syanqithi dalam “Adhwa Al-Bayaan” dan yang lainnya. Semoga Allah merahmati semuanya
Ini adalah hasil telaah yang paripurna dari nash-nash syar’i , seperti yang dikenal dalam setiap bidang ilmu. Seperti hasil tela’ah pakar ilmu Nahwu terhadap bahasa Arab menjadi : isim, fi’il dan harf. Dan orang-orang Arab tidak mencela dan melecehkan para pakar Nahwu tersebut terhadap hasil tela’ahnya”.
Berkata Syaikh Al-Baijuri dalam “Syarh Jauharah At-Tauhid” halaman 97. Firman Allah ; ‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin’, mengisyaratkan pada pengakuan ‘Tauhid Rububiyah, yang konsekwensinya adalah pengakuan terhadap Tauhid Uluhiyah. Adapun konsekwensi Tauhid Uluhiyah adalah terlaksananya Ubudiyah. Hal ini menjadi kewajiban pertama bagi seorang hamba untuk mengenal Allah Yang Maha Suci. Kata beliau selanjutnya : “Kebanyakan surat-surat Al-Qur’an dan ayat-ayatnya mengandung macam-macam tauhid ini, bahkan Al-Qur’an dari awal hingga akhir menerangkan dan mengejawantahkan (menjelaskan)”.
Kami katakan : “Sesungguhnya pembagian tauhid menjadi tiga ini, dikandung dalam banyak surat di dalam Al-Qur’an Al-Karim. Yang paling tampak serta paling jelas adalah dalam dua surat, yaitu Al-Fatihah dan An-Naas, dimana keduanya adalah pembuka dan penutup Al-qur’an.
Oleh karena itu firman-Nya Yang Maha Suci ; ‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin’, mengandung pengukuhan akan ke-rububiyah-an Allah Jalla wa Alaa terhadap seluruh makhluk-Nya, dan firman-Nya Yang Maha Suci : ‘Ar-Rahmanir Rahiim Maliki Yaumid Diin’ di disini mengandung pengukuhan terhadap sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi dan nama-nama-Nya Yang Maha Mulia, sedangkan firman-Nya Yang Maha Suci : ‘Iyaaka Na’budu Wa Iyaaka Nasta’iin’ di sana mengandung pengukuhan ke-ubudiyah-an seluruh makhluk kepada-Nya dan ke-uluhiyah-an Allah atas mereka.
Kemudian berkata Imam Ibnu Athiyah (wafat ; 546H) dalam kitabnya Al-Muharrar Al-Wajiiz, juz I, hal.75. Firman-Nya : ‘Iyaaka Na’budu’ adalah ucapan seorang yang beriman kepada-Nya yang menunjukkan pengakuan terhadap ke-rububiyah-an Allah, mengingat kebanyakan manusia beribadah kepada selain-Nya yang berupa berhala-berhala dan lain sebagainya”.
Jadi pembagian tauhid menjadi tiga tersebut adalah pembagian secara ilmu dan merupakan hasil tela’ah seperti yang dikenal dalam kaidah keilmuan. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti tidak ber-tafaquh terhadap Kitab Allah, tidak mengetahui kedudukan Allah, mengetahui sebagian dan tidak mengetahui sebagian yang lainnya. Allah pemberi petunjuk ke jalan nan lurus kepada siapa yang Dia kehendaki.
Wallahu ‘alam
[Diangkat dari rubrik soal-jawab majalah Al-Ashalah edisi 4 Syawal 1413H. Disalin ulang oleh Majalah As-Sunnah Edisi 14/II/1416 - 1995. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Gedung Umat Islam Lt. II Jl. Kartopuran 241A Surakarta 57152]
Popularity: 11% [?]
Assalamu’alaikum
salam kenal dari purwakarta
Ustadz … blog yang (http://shahabat.wordpress.com)
kok udah nggak ada ya, atau sedang error aja ya
Istiqomah terus akhi ..
Syukron