Pandangan Berimbang Untuk Analisa Kritis Kaum Salafi Wahabi Terhadap Mimpi Maulana Ilyas (1)
Kepada Kaum Muslimin,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kaum Salafi Wahabi telah mencoba memberikan pandangan analisa kritis yang berhubungan dengan mimpi yang dialami seorang ulama, Maulana Ilyas Rah, yang berhubungan dengan pemahaman terhadap ayat Ali Imran (3): 110. Yang mana hal ini ada kaitannnya dengan usaha da’wah dan tabligh (orang mengenalnya dengan jama’ah tabligh). Mimpi ini sebenarnya dituliskan balik oleh seorang Ulama setelah mendengarkan perkara ini dari Maulana sendiri. Dan kami sendiri telah membacanya dengan baik.
Mari sama-sama ungkap dua hal utama dalam perkara mimpi ini, yaitu mimpi sendiri dan juga isi / konten dari mimpi itu sendiri. Kami sendiri mengajak kaum muslimin, terutama teman-teman ahli da’wah dan tabligh, tidak perlu gusar dengan pandangan Kaum Salafi Wahabi. Mungkin saja analisa kritis Kaum Salafi Wahabi ini dapat menjadikan kita sangat gusar karena pandangan Kaum Salafi Wahabi bahwa mimpi-mimpi seperti ini berasal dari Syaithan. Jika Kaum Salafi Wahabi beranggapan seperti itu, maka usaha da’wah dan tabligh sendiri sebagai bagian dari program syaithan. Sebuah pandangan yang SANGAT CEROBOH.
Kita kaum muslimin perlu berpegang terhadap sebuah hadits Nabi Muhammad SAW, dan hal ini diriwiyatkan oleh Imam Bukhari (susunan ringkasan dari H. Zainuddin Hamidy, H. Fachruddin, dan tim) :
Dari Abdullah Bin Ummar Ra dari Muhammad SAW bersabda: “Orang Muslim adalah orang yang selamat semua orang muslim dari lidahnya dan tangannya. Dan orang yang hijrah adalah orang meninggalkan dari apa-apa yang Allah swt larang darinya” (No.
Kita berlindung kepada Allah swt dari ucapan-ucapan dan juga analisa-analisa yang membangkitkan semangat amarah yang tidak pada tempatnya. Dalam tulisan sebelumnya, kami sudah menunjukkan KETIDAKAKURATAN INFORMASI ASAL Maulana Ilyas, sehingga pandangan-pandangan itu merupakan proses TERGESA-GESA menilai sesuatu. Dan kami TIDAK MENDAPATKAN KOREKSI INFORMASI YANG DISAMPAIKAN dari penulisnya. Sesuatu yang aneh jika Kaum Salafi Wahabi selalu mendengungkan ILMIYYAH, sedangkan hal kecil TIDAK DAPAT AKURAT. Jika penterjemah melakukan klarifikasi tentang data itu, hal ini tidak dapat dilakukan karena penterjemah tidak dapat melakukan atas nama penulis. DUNIA ILMIYYAH seperti BUKAN?
Kami akan mencoba menuliskan sumber-sumber yang dapat dipercaya, dan mudah-mudahan Kaum Salafi Wahabi dapat membacanya dengan baik juga, tidak hanya kata gurunya atau juga syeikhnya, tanpa mau membuka juga. Dan kita harus terima kebenaran itu datangnya darimana saja, meskipun dari Syeithan sekalipun. Kaum Salafi Wahabi telah menulis perkara bahwa kita perlu menerima kebenaran itu darimana saja. Dan hal ini dituilis dengan jelas dalam blognya, tetapi apakah akan menerima dari kaum muslimin lainnya, itu dipersilahkan kepada Kaum Salafi Sendiri dan juga kaum muslimin lainnya menilai.
Mari kita ungkap bersama yang berhubungan dengan perkara pertama, yaitu mimpi itu sendiri. Dan nantinya kita ungkap dengan isi mimpi itu sendiri. Yang diperhatikan adalah jika mimpi tersebut memberikan efek terhadap syariat utama lainnya, maka mimpi siapapun PERLU DITINGGALKAN. Misalkan seseorang bermimpi bahwa dia merupakan Nabi Baru sehingga Syariat Islam yang sekarang tidak berlaku, sampai tidak perlu sholat, maka jelas mimpi itu perlu PERLU DITINGGALKAN. Di bawah ini beberapa kisah yang berhubungan denga MIMPI dalam Al-quran, sebagai sumber utama kita.
Kisah Mimpi Yusuf Ketika Masih Masih Kecil
“ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”
Ayahnya berkata: “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (QS Yusuf (12): 4-5)
Kisah ini sangat menarik karena mimpi seorang anak, Yusuf ketika belum menjadi Nabi, dan ditakwilkan oleh Bapaknya sendiri, Nabi Yaqub As. Dalam dialog itu sebenarnya terdapat pelajaran yang berharga, dimana kita tidak dapat sembarangan menyampaikan mimpi kita. Mimpi seorang anak kecil tetapi karena memang dibina oleh seorang Bapak yang sholeh, maka mimpinya sendiri mempunyai makna sendiri.
Kisah Mimpi Raja dan Takwil Nabi Yusuf As
Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi.”
Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu.”
Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).”
Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.”
Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.”
Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.
Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.” (QS Yusuf: 43-49)
Mimpi seseorang, termasuk mimpi seorang raja dianggap hal yang biasa bagi kebanyakan orang, tetapi ketika ditanyakan kepada Nabi Yusuf As, maka mimpi ini memberikan sebuah makna yang sangat penting bagi negeri yang bersangkutan. Disini ada sebuah pelajaran yang berharga bagi kita bahwa mimpi seseorang itu dapat mempunyai makna. Oleh karena itu Rasulullah SAW menjelaskannya dengan baik, supaya kita kaum muslimin tidak keliru dengan hal-hal yang berhubungan dengan mimpi. Oleh karena itu, kitab hadits seperti Imam Muslim menjelaskannya dengan cukup baik, termasuk adab-adab yang berhubungan mimpi itu.
Popularity: 11% [?]
Recent Comments