Home > Kisah-Kisah Tauladan, Manhaj Pilihanku, Para Shahabat RA > Marilah kita banyak mengisahkan cerita Para Shahabat RA!

Marilah kita banyak mengisahkan cerita Para Shahabat RA!

Pendahuluan

Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni’mat kepada kita semua, terutama dengan ni’mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.

Tulisan ini terinspirasi dengan nasehat dari seorang ulama dan guru yang banyak memberikan pengaruh kepada penulis sendiri, yaitu Maulana Ilyas. Beliau memberikan nasehatnya dengan lugas dan tegas, “Janganlah menceritakan tentang aku, tetapi banyakkanlah bercerita tentang para Shahabat RA”. Ucapan yang sederhana tetapi mempunyai makna yang sangat dalam. Penulis sendiri pernah ditegur oleh seseorang dikarenakan penulis banyak bercerita tentang beliau itu dalam satu ceramah, “Kita bersyukur dengan kerja agama ini, dan beliaulah yang mengajarkan kepada kita, tetapi para Shahabat RA telah dinyatakan langsung oleh Allah swt, sebagai generasi yang diridhoiNya meskipun masih ada di dunia yang fana ini. Oleh karena itu kita mesti banyak-banyak menceritakan para shahabat RA itu”.

Tulisan ini untuk memberikan tambahan terhadap tulisan-tulisan sebelumnya, yaitu karakter, kerja dan pikir salafush sholeh. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita untuk lebih banyak menceritakan kisah-kisah generasi para Shahabat RA, dan tentunya mengikuti langkah-langkahnya dengan baik. Sehingga kepahaman kita terhadap karakter, kerja dan pikir generasi para shahabat dalam didalami dan dihayati.

Ridho Allah swt untuk Generasi Shahabat RA

Allah swt menyatakan dengan tegas dalam satu ayatnya:

“Generasi awwalun dari Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka dengan baik, Allah swt ridho kepada mereka dan juga mereka ridho kepada Allah swt” (QS: 9-100)

Allah swt yang mempunyai sifat-sifat yang mulia, dan sebagai pencipta alam jagat raya ini, termasuk manusia, terlebih dahulu menyatakan keridhoanNya kepada generasi pertama dan juga generasi yang mengikutinya dengan baik.

Dan kita, sebagai generasi yang sangat jauh dengan generasi Shahabat RA itu, sangat perlu mengetahui generasi dengan baik, apakah ucapan-ucapannya, apakah dialog-dialognya, apakah perilaku-perilakunya. Dan untuk mengetahui itu, kita perlu terus mendorong kaum muslimin untuk lebih banyak mengisahkan kisah-kisah generasi Shahabat RA, sehingga hikmah-hikmahnya dapat direnungi, dihanyati, dan didalami dengan baik, yang akhirnya memberikan dorong atau juga spririt yang dalam bagi kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai kehidupan di kaum muslimin.

Seorang yang kaya akan dapat belajar dari hikmah yang dimiliki Abu Bakar RA dan Ustman RA. Seorang pemimpin akan dapat belajar dari hikmah Ummar RA, dan juga Ali Bin Abi Thalib RA. Seorang anak muda dapat belajar dari kepiwaian Musaib bin Umair RA ketika dialog dengan orang-orang Madinah. Seorang gadis dapat belajar dari hikmah Siti Fathimah RA dan Siti Aisyah RA ketika masih gadis. Seorang anak kecil akan bisa belajar hikmah dari kisah Hasan RA dan Husein ketika masih kecil.

Kisah-kisah ini telah mewujudkan hikmah-hikmah dan juga pelajaran-pelajaran yang berharga, kita tidak hanya belajar dari ucapan-ucapannya saja yang kadangkala kita tidak mempelajari bagaimana generasi Para Shahabat RA meaktualkanya, tetapi ada makna dan hikmah yang lebih dalam dari perilaku generasi.

Saat ini, kita telah banyak diberikan kisah-kisah atau cerita-cerita yang dapat memberikan efek kepada perilaku kita secara langsung dan tidak langsung. Media cetak, media komunikasi, media elektronik, dan apa lagi di masa depan akan muncul, telah memberikan kisah-kisah atau cerita-cerita glamorisasi dalam kehidupan, kekerasan sampai dengan pembunuhan dan perkosaan, aib-aib telah banyak bersuliweran dalam kehidupan kita kaum muslimin, saling menghina dan mengolok-olokan bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu. Oleh karena itu, marilah kita banyak mengisahkan generasi Para Shahabat RA yang telah banyak memberikan banyak pelajaran.

Kisah Yang Berkesan

Para Shahabat RA telah menjadi generasi yang unggul dan telah membaktikan waktu, jiwa dan hartanya untuk tersebar dan wujud di dunia ini. Generasi ini telah mewujudkan Islam dalam diri-diri mereka, sehingga kecermelangan dan keberkahan Islam bukan lagi menjadi slogan-slogan, tetapi wujud dengan indahnya dalam kehidupan mereka itu. Sehingga perlu banyak belajar dari generasi itu dengan baik, dengan harapan kita dapat mencontohnya dalam berbagai kehidupannya. Penulis mencoba menuliskan beberapa kisah yang berkesan utuk penulis, dalam kesempatan ini satu dahulu.

Siti Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW, telah mendapatkan kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya. Dan kalung itu adalah barang yang sangat berharga dan bernilai yang tidak terkira bagi Siti Fathimah RA. Satu ketika, telah datang seorang miskin ke masjid dan bertemu dengan Rasulullah SAW untuk mendapatkan makanan karena orang miskin sudah beberapa hari tidak makan. Bisa kita bayangkan bagaimana kerendahan hati Rasulullah SAW dalam menghadapi hal ini, Rasulullah SAW masih mau menemui orang miskin ini, bahkan orang ini meminta makanan. Sikap tauladan telah diwujudkan oleh Nabi kita, dan hal ini tidak mudah bagi kita untuk mengikutinya. Karena saat ini kita kadangkala menyepelekan orang miskin.

Dan Rasulullah SAW dengan hikmah menyuruhnya untuk bertemu dengan anaknya, Siti Fathimah RA, padahal Rasulullah SAW paham betul dengan anaknya, dan juga mantunya Ali Bin Abi Thalib, sangat berkurangan juga. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memperlihatkan kembali tauladannya, bahwa meskipun anaknya berkurangan juga, pasti mau memberikan solusi terhadap hal ini. Karena memuliakan tamunya merupakan tanda-tanda beriman kepada Allah swt dan Akherat.

Sesampai di rumahnya, orang miskin ini menjelaskan maksudnya itu. Siti Fathimah RA jelas bingung karena memang kelurganya berkurangan. Beliau ini terus mencoba mencari jawabannya, dan tidak sengaja beliau ketika memegang kalungnya itu. Dan tidak banyak berpikir pandang lebar, beliau menyerahkan itu. Jelas orang miskin tidak bisa menerimanya, karena yang diminta adalah makanan. Beliau menyuruhnya untuk bertemu kembali dengan Rasulullah SAW tentang hal. Bisa kita bayangkan, kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya itu diberikan kepada orang lain. Sifat yang menunjukkan bahwa memberikan pemberian yang lebih dicintainya telah diwujudkan oleh Siti Fathimah RA.

Orang miskin ini menemui lagi, dan menjelaskan perkaranya. Dan menyerahkan kalung dari Siti Fathimah RA itu. Bisa kita bayangkan, bagaimana Rasulullah SAW terkejutnya dengan hal ini. Rasulullah SAW jelas termenung, bersyukur dan bercampur haru menjadi satu. Bersyukur karena anaknya telah menjadi seorang perempuan yang sangat mulia, dan terharunya adalah Rasulullah SAW tahu betul itu adalah kalung pemberian istrinya yang sangat dicintainya. Coba kita bayangkan, kalau kita mendapatkan baju pemberian kita untuk anak kita, terus sudah ada ditangan orang lain. Kita akan marah sama anak kita. Tetapi Rasulullah SAW tetap menunjukkan sifat tauladannya.

Akhirnya Rasulullah SAW mempersilahkan kepada orang miskin itu untuk menjualnya. Dan ada seorang Shahabat RA yang membelinya dan ditukar dengan makanan dan barang-barang yang diperlukannya untuk orang miskin ini. Tetapi jelas bahwa hal itu bukan untuk keperluannya, tetapi karena hanya membantu orang miskin itu. Sesampainya di rumah Shahabat itu menyuruh kepada pembantunya untuk menyerahkan kalung ini kepada Rasulullah SAW, karena kalau diserahkan kepada siti Fathimah RA tidak pada tempatnya. Dan sampaikan ini merupakan hadiah dari shahabat itu, dan pembantunya itu dibebaskan dari majikannya itu sebagai hadiah kalau memang kalung itu diterima oleh Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW menerima kalung itu, dan menyerahkan kembali kepada Siti Fathimah RA.

Bisa kita bayangkan, ada seorang shahabat RA yang sangat berhati-hati untuk menyerahkan kalung itu karena takut dengan fitnah, dan bahkan telah bebasnya seorang pembantu dari ikatan dengan majikannya, orang miskin telah mendapatkan apa yang diperlukannya dan bahkan berlebih, dan anak seorang Rasul memberikan pengorbanan yang luar biasa. Itu kisah yang sangat terkesan. Dan banyak hikmah yang dapat kita peroleh.

Penutup

Oleh karena itu, marilah kita banyak kisahkan dari para shahabat RA untuk kita dan dapat memberikan dorongan atau spirit perubahan kehidupan kaum muslimin di masa depan. Mudah-mudah kisah-kisah lebih memahami terhadap karakter utama manhaj generasi shahabat RA, kerja manhaj Shahabat RA dan pikir generasi itu.

Popularity: 21% [?]

  1. November 5th, 2008 at 02:46 | #1

    Allahummaj’alna minhum

  2. syekh yusuf
    November 13th, 2008 at 01:24 | #2

    selamat ya

  1. No trackbacks yet.