Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (1)
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Amal maqomi masjid sendiri merupakan kerja harian untuk kita semua kaum muslimin. Hanya mungkin saja istilah ini masih dikenal dalam lingkungan ahli da’wah dan tabligh, kaum muslimin masih belum banyak mengetahuinya dengan baik. Ahli da’wah membagi amal maqomi masjid ke dalam lima kerja atau aktifitas utama yaitu:
(1) Dua ta’lim fadhoil harian, di masjid dan di rumah,
(2) Dua jaulah (berkeliling silaturahmi), di masjid sendiri dan di masjid tetangga,
(3) Musyawarah harian,
(4) 2.5 jam khususi, berkunjung di lingkungan masjid sendiri kepada masyarakat kaum muslimin, dan
(5) 3 hari khuruj ke masjid yang lebih jauh dari masjid kita, bagi pelajar 1 hari.
Kerja maqomi akan terus meningkat dari waktu-ke-waktu, mungkin saja tahapan seperti kita adalah tingkatan TADIKA, sehingga kita kurang serius terhadap kerja seperti ini. Kami sendiri sekarang ini lebih banyak di luar, karena urusan pekerjaan. Sehingga amal maqomi lebih banyak bolongnya, tetapi niyat terus dibangun dan kalau ada kesempatan kita bangun da’wah ke dalam lingkungan pekerjaan kita. Kami masih ingat sebuah pertanyaan ahli da’wah pada seorang ulama perihal maqomi, karena ahli da’wah ini adalah seorang dokter yang cukup sibuk dalam pekerjaannya.
Dan jelas, kerja maqominya akan sulit dilakukan, terutama kerja 2.5 jamnya. Dan jawabannya cukup hikmah dari ulama ini, beliau menjelaskan siapa yang sering membagikan obat ke pasien yang sakit di rumah sakit. Dokter ini menjawab bahwa yang membagikan obat ke pasien adalah perawat. Dan ulama ini menasehati bagaimana kalau sdr. sendiri yang bertemu pasien, sehingga da’wahpun dapat dilakukan juga. Dokter ini selanjutnya melaksanakannya, dan sebelum pasien makan obat selalu diajarkan untuk membaca basmalallah, atau bahkan didorong untuk sholat. Dan Alhamdulillah, berkat pikir seorang ahli da’wah itu seorang doter ini telah banyak lagi orang yang mengenal agama. Allah swt yang memberikan hidayah, dan kita hanya kerja untuk hidayah.
Kami yang menulis ini juga perlu terus mengingatkan diri kami dengan jalan mengulang-ulang hal itu, agar kami sendiri teringat akan kerja maqomi masjid sendiri yang sangat fundamental untuk kaum muslimin pahami dengan baik, termasuk pada keluarga kami dan juga teman-teman kami yang cukup sibuk dengan kegiatannya. Dalam tulisan ini, kami akan ungkap hal-hal perlu mendapatkan perhatian bagi kami dan juga yang lainnya, agar kita tidak tersilap atau bahkan menjadi perbincangan berkepanjangan dengan kaum muslimin yang berlum memahami, sehingga akhirnya diri kita sendiri jauh dari perkara amal maqomi sendiri.
Tulisan ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan umum untuk MENGGUGAH terhadap kita semua, termasuk kami sendiri:
- Kenapa kita perlu amal maqomi ini?
- Kenapa kita perlu ta’lim fadhoil?
- Kenapa kita perlu jaulah atau keliling silaturahmi di sekitar masjid kita?
- Kenapa kita perlu jalankan 2.5 jam khususi?
- Kenapa kita perlu musyawarah harian?
- Kenapa kita perlu keluarkan rombongan Khuruj 3 hari dari masjid sendiri?
Kenapa kita perlu amal maqomi ini?Coba perhatikan dengan baik perihal program kerja di atas, dan coba kita juga pelajari arti kita BERADA dalam lingkungan kita sendiri. Serta renungi beberapa ayat ataupun hadits berkaitan dengan amalan-amalan yang berhubungan antara Ummat yang banyak diajarkan oleh guru-guru kita, apakah di masjid kita sendiri ataupun mungkin kita datang kepada guru ngaji kita.
Misalkan saja, jika kita bersin maka kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdallah, dan yang mendengarnya wajib menjawabnya dengan yarhamukallah. Atau juga kita sangat ditekankan untuk menyampaikan salam kepada kaum muslimin, yang kita kenal atau tidak kenal, sebagai tanda ciri-ciri kebaikan seorang muslim, sesuai anjuran Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Atau juga perihal jika ada kematian di sekitar kita, atau yang sedang sakit. Termasuk juga kita sholat berjama’ah di masjid kita sendiri. Dan masih banyak lagi.
Semua perkara-perkara itu sebenarnya HARUS menyatu ke dalam diri kita kaum muslimin, tidak kecuali siapapun orangnya. Apakah itu seorang Ulama? Apakah itu seorang dokter? Apakah itu seorang pelajar? Apakah itu seorang pedagang kaki lima? Dll. TETAPI kenapa hal itu SEKARANG ini tidak wujud di tengah-tengah kita kaum muslimin, PADAHAL kita sendiri mengetahui ajaran-ajaran itu sebenarnya telah banyak diajarkan kepada Ummat ini. Dan bahkan kita sendiri kurang banyak memperhatikan dengan baik.
Bahkan ibadah yang banyak memberikan pengaruh terhadap diri sendiri dan juga masyarakat, misalkan dzikir ataupun sholat. Hari ini telah hilang pengaruh hakekatnya, misalkan sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, ternyata pengaruh ini sudah mulai berkurang ataupun juga kurang memberikan kesan. Iman sebagai daya dorong amal seseorang, telah menjadi lemah dalam diri kaum muslimin. Bukan berarti kaum muslimin tidak percaya dengan adanya ajaran Sholat, ataupun azab kubur. Tetapi pengaruh atau kesan pelajaran itu sudah berkurangan.
Iman dan amal sholeh ini perlu disuburkan dengan baik di sekitar kita, sehingga kita dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar kita sendiri. INDIVIDUALISME telah menjadi penyakit yang menahun pada diri kita sendiri. Inilah penyakit yang telah menyebabkan BENCANA pertama kali terjadi di muka bumi. Kisah Qabil dan Habil, yang mana keduanya adalah anak dari Nabi Adam As, telah menunjukan satu penyakit yang akan terus menghantui ummat manusia dari zaman-ke-zaman. Penyakit ini yang hampir menjadikan Kaum Muslimin Aus dan Khajraz berperang, meskipun masih ada Nabi Muhammad SAW dan juga ayat Al-quran turun. Semuanya dicatat dengan baik dalam Al-quran, dan para Ulama telah memberikan penjelasannya dengan baik.
BENAR bahwa kita berat menjalankan kerja maqomi ini, karena semua masyarakat di sekitar kita mengetahui siapa kita. Kamipun berat untuk menjalankan ini, meskipun sudah cukup lama kenal usaha da’wah ini. Disinilah awalnya kehidupan agama itu akan masuk ke dalam diri kita, kita akan berusaha mengamalkan atau berusaha mengikuti seluruh hikmah-hikmah yang diajarkan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Kita akan belajar senyum kalau bertemu tetangga kita; kita akan belajar menghormati pada yang tua; kita akan belajar menyayangi pada yang muda; kita akan belajar mendahulukan kepentingan orang lain; kita akan belajar bagaimana menghormati seorang ustadz atau alim; dsb.
Belajar-belajar ini semua bukan lagi di atas buku, tetapi menjadi sebuah kenyataan yang memang nyata. Sehingga semangat beramal akan menjadi dorongan terhadap diri kita sendiri. Dan tidak heran jika hal ini juga akhirnya menjadikan iman kita mendapatkan tingkatan, sehingga amal mudah dijalankan. Itulah Hakekat, bukan lagi gambaran terhadap Islam itu sendiri. Mungkin kita berat, karena malu, karena takut, karena kurang percaya diri, dsb.
Malu, Takut, kurang percaya diri dll it akan muncul di depan kita sendiri, dan jika kita usahakan melalui kerja maqomi dengan adab dan akhlaq yang memang mesti dilakukan oleh kita sendiri, maka penyakit INDIVIDUALISME dan juga perasaan-perasaan itu juga akan hilang dengan izin Allah swt dan kita dan masyarakat akan sama-samam membangun suasana itu sendiri. Sehingga kita sendiri akan senang dan mudah melakukan amal-amal baik lainnya. Saling membantu, saling menyalami, saling bertegu sapa, saling mengingatkan, akan mudah terwujud.
Dan yang masuk ke dalam diri kita dan juga masyarakat kita adalah suasana inter-aksi dan inter-komunikasi yang berlandaskan pada adab dan akhlaq Islam, sehingga amal-amal Islam menjadi wujud dalam kehidupan masyarakat kita di sekitar masjid kita sendiri, dan terus memberikan suasana ke lingkungan yang lainnya. Oleh karena itu, kerja maqomi perlu disebarkan melalui jaulah ke dua dan bahkan 3 hari dari masjid kita sendiri, agar kita mempunyai benteng beradius cukup luas terhadap hal-hal negatif yang akan datang lagi kepada lingkungan kita.
Kerja ini memerlukan TERTIB, karena kerja ini merupakan inter-aksi dan inter-komunikasi harian, maka musyawarahnyapun ada yang harian pula, sehingga kerja ini dapat dikendalikan dengan baik, dan juga dapat mendengarkan adab dan akhlaq Nabi ketika menjalankan hubungan dengan masyarakat umumnya. Sehingga kita sendiri akhirnya terjaga dari perkara-perkara yang kurang diharapkan. Itulah pentingnya musyawarah harian kita lakukan.
Nanti kami lanjut lagi dalam hal ….
Popularity: 9% [?]
Recent Comments