Home > Manhaj Pilihanku, Pikir dan Analisa Manhaj > Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (2)

Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (2)

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu ta’lim fadhoil harian dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.

Kenapa Kita Perlu Ta’lim Fadhoil Harian?

Pelajaran-pelaran kelebihan amal atau fadhoil, dan tentunya juga peringatan-peringatan ketika meninggalkan amal, merupakan pelajaran yang ada di dalam Al-quran dan juga Hadits Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Sehingga kita tidak perlu mempermasalahkan perkara ini, meskipun hari ini ada sebagian kaum muslimin memberikan pandangan kenapa ahli da’wah dan tabligh ini hanya menjalankan ta’lim fadhoil. Kaum muslimin ada yang sudah dapat memahaminya, tetapi adanya juga yang belum dapat memahaminya.

Bahkan ada komentar atau pandangan yang cukup berlebihan kenapa dibagi pada ilmu masyail dan fadhoil segala? Bukankah di jaman Nabi dan shahabat RA tidak ada pembagian ilmu itu, serta termasuk di jaman para Ulama terdahulu? Sehingga pandangan seperti ini memberikan kesan bahwa pembagian itu sesuatu perkara bid’ah atau menyalahi syariat agama kita.

Kodifikasi atau pembagian ilmu sudah dijalankan di jaman para Ulama terdahulu, termasuk para Imam besar dan juga ahli hadits, dan kita semua dengan mudah mendapatkan perihal ini melalui kitab-kitab beliau sendiri, sehingga kodifikasi atau pembagian itu berdasarkan Bab atau sub bab. Bukankah di jaman Nabi tidak ada pembagian bab ini dalam proses pengajarannya? Jadi proses kodifikasi itu merupakan proses untuk memudahkan kaum muslimin belajar, dan juga mempunyai fokus yang betul. Sama halnya dengan pembagian ilmu ke dalam masyail dan fadhoil.

Jika kita perhatikan bermacam-macam buku atau kitab rujukan, maka kita akan mendapatkan ilmu masyail dan fadhoil sekaligus dalam satu bab atau fasal. Bahkan kita juga mendapatkan dalam kitab yang mana Ulama mengatakan bahwa kitab itu adalah kitab yang banyak berhubungan dengan hukum Islam, Misalkan kitab Al-Muntaqa, susunan Imam Ibnu Taimiyyah Rah. Kami berikan contoh di bawah ini sebagai fadhoil.

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda: Muadzdzin itu akan diampuni sepanjang suaranya, dan akan disaksikan oleh semua benda yang basah dan kering” (HR Imam Yang Lima, kecuali Tirmidzi).

“Dari Abdullah bin Zaid, sesungguhnya ia bermimpi adzan. Ia berkata: Lalu aku pergi ke tempat Nabi SAW untuk menceritakan hal itu. Kemudian Nabi bersabda: Sampaikanlah hal itu kepada Bilal. Lalu aku sampaikan kepadanya. Kemudian Bilal adzan. Dan ketika ia hendak iqomat, aku berkata: Ya Rasulullah! Aku mimpi hendak iqomat. Nabi menjawab: “Kalau begitu iqomatlah”. Kemudian Abdullah Iqomat, sedang Bilal yang adzan” (HR Ahmad, Abu Da’wud).

Hadits yang kedua ini cukup panjang (tidak dimasukkan perihal mimpinya dan juga kalimat adzan dan juga iqomat) menjelaskan perihal adzan. Dan dalam kitab itu dibahas perihal berapa banyak kalimat yang harus diadzankan, dan terdapat beberapa pandangan. Jelas hal ini merupakan perkara Masyail, tidak boleh sembarang orang menyampaikannya apalagi memberikan pendapatnya. Sehingga diperlukan ustadz atau faqih untuk menjelaskan dengan baik, terutama beberapa perbedaan yang ada.

Ilmu masyail merupakan ilmu yang menjelaskan perkara-perkara bagaimana menjalankan amal itu sendiri, sehingga dalam ilmu masyail ini kita akan mendapatkan pandangan-pandangan yang berbeda di kalangan ulama sendiri, misalnya dalam bab wudhu. Bersetuhan dengan wanita dapat membatalkan wudhu seseorang, itu pandangan dari Imam Syafi’I, sedangkan Imam Malik berpandangan hal itu tidak membatalkan wudhu. Dan masih banyak perkara-perkara ini kita dapat temukan dalam kitab-kitab yang disusun Ulama.

Oleh karena itu, ilmu masyail memerlukan pengajaran yang benar dan dalam hal ini ustadz atau ulama yang faqih dalam bidang ilmu itu yang harus mengajarkannya dengan baik. Sedangkan Ilmu fadhoil merupakan ilmu yang menjelaskan perkara-perkara dorongan, keutamaan, dan juga peringatan terhadap sebuah amal. Sehingga kita semua sebenarnya berkepentingan dengan hal ini, dan kita semua perlu sering menyampaikan satu sama lain di antara kita sendiri. Hal ini agar kita sendiri terdorong untuk mengamalkan apa yang diperintakan oleh Allah swt dan juga Nabi Muhammad SAW, dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah swt dan juga Nabi kita sendiri.

Beberapa Ulama dulu juga sangat memahami perihal ini, sehingga kita dapat juga menemukan kitab yang sangat khusus berkaitan dengan Fadhoil ini, misalkan Kitab Targhib Wa Tarhib Imam Mundziri, Kitab Fadhoil Amal Imam Muhammad Wahib Al-Maqdisi, Kitab Fadhoil Ramadhan Imam Ibnu Abi Dunya. Dan masih banyak lagi perihal kitab seperti ini. Kami sendiri sangat berkeinginan mengambil dan menyusunnya ke dalam kitab tematik yang berasal dari kitab-kitab seperti itu.

Oleh karena itu ketika ada sebagian kaum muslimin mempermasalahkan ta’lim fadhoil ini, kami sendiri menjadi heran. Padahal banyak kitab telah ditulis oleh ulama dulu perihal fadhoil amal ini. Tidak apa-apa, Insya Allah, di masa depan kaum muslimin akan lebih banyak memahaminya dengan baik. Dan bagi ahli da’wah dan tabligh sebenarnya ini merupakan banyak kesempatan untuk banyak mendo’akan kaum muslimin yang lain dan lebih lagi bersemangat dalam kerja da’wah ini. Allah swt yang memberikan hidayah, dan kita hanya kerja untuk hidayah.

Oleh karena itu kita tidak perlu banyak mempermasalahkan dengan pembagian ilmu ini. Dan sekarang kenapa kita perlu sungguh-sungguh dengan ta’lim harian ta’lim fadhoil amal ini? Hal ini lebih penting dan utama, dan kita perlu menjalankan setiap hari di waktu yang sama, di masjid kita sendiri dan juga di rumah kita sendiri. Dan kita perlu sampaikan agar keluarga kita perlu terus menjalankan ta’lim ini dengan baik, termasuk juga di masjid kita.

Ta’lim fadhoil ini sangat penting bagi kaum muslimin. Mari kami ajak untuk memperhatikan kehidupan kita terutama dengan media yang banyak menjelaskan perkara keutamaan ini. Coba perhatikan media televisi hari ini, mulai dari pagi sampai malam hari. Semua iklan lebih banyak menceritakan keutamaan dari barang itu sendiri. Misalkan, iklan mobil. Kita akan mendapatkan bahwa dengan menggunakan mobil itu, kita akan nyaman untuk keluarga kita.

Iklan sikat gigi. Kita akan mendapatkan alat yang baik untuk bergosok gigi, karena akan lebih bersih dan juga tidak merusak gigi kita ketika menggosok gigi kita. Iklan alat olahraga. Kita akan mendapatkan tubuh yang baik dan sehat. Iklan minimum isotonik, kita akan cepat segar dan bergairah. Iklan genting rumah. Kita akan mendapatkan genting yang tahan lama dan berumur panjang. Dan masih banyak lagi. Kita akan temukan tidak hanya di televisi, tetapi di media cetak lainnya.

Semua informasi itu untuk memberikan pengaruh pada kita untuk mengambil keputusan, sehingga kelebihan-kelebihan ini akan menjadi sumber yang bekelanjutan dan mungkin saja menjadi sebuah informasi yang terdapat dalam kepala kita cukup banyak. Tetapi kita sendiri tidak pernah bertanya bagaimana membuat mobil yang nyaman itu. Kalau ada, hanya berapa orang dari sekian banyak orang. Dan juga kita tidak bertanya bagaimana membuat sikat gigi yang sangat baik untuk gigi kita. Kalaupun ada, hanya beberapa orang dari sekian banyak orang. Dan yang perlu menjelaskannya juga tidak boleh sembarangan orang, karena kalau salah menjelaskannya, maka mungkin saja menghasilkan seseuatu yang merugikan.

Atau juga berkaitan dengan keahlian. Jika jadi seorang programmer, kita akan mendapatkan penghasilan yang besar dan peluang di masa depan. Jika jadi seorang dokter, kita akan mendapatkan penghasilan yang banyak dan tetap di masa depan. Seperti itu terus terjadi di lingkungan kita. Dan hal itu merupakan hal yang normal dan sangat alamiyyah. Itulah sebuah analogi, bahwa kita sekarang ini sudah sangat diajarkan dengan banyak kelebihan yang berhubungan dengan dunia. Dan perkara-perkara itu terjadi dalam kehidupan kita setiap hari.

Al-Islam bukan merupakan panduan untuk ketika kita sholat atau haji saja, tetapi Al-Islam mengajarkan mulai dari tidur sampai ke tidur lagi dalam kehidupan kita. Sehingga kita semua perlu mendapatkan dorongan agar berusaha menghidupkan semua amalan dari tidur sampai ke tidur lagi. 24 jam kita perlu mengikuti apa yang diajarkan oleh Allah swt. Kaum muslimin kalau ditanya perihal Sholat, maka kebanyakan kaum muslimin mengetahui bahwa Sholat itu wajib, dan bahkan sudah belajar dari kecil bagaimana mengerjakan sholat.

Atau jika kita tanya perihal Puasa Ramadhan, maka kebanyakan kaum muslimin mengetahui bahwa Puasa Ramadhan itu merupakan wajib, dan bahkan sudah dari kecil diajari bagaimana puasa ramadhan ini. Begitupun juga dengan Baca Quran, dsb. Tetapi kita sendiri mendapatkan berapa banyak kaum muslimin yang sungguh-sungguh menjaga Sholat, menjaga Puasa Ramadhan, menjaga Baca Quran. Sangat sedikit. Begitupun juga kadangkala kita sendiri, dan juga keluarga kita sendiri.

Oleh karena itu, kita perlu lakukan sebuah kerja atau program yang berkelanjutan, dan kita perlu tekankan pentingnya perkara ini. Yaitu Ta’lim Fadhoil Harian di masjid kita dan di rumah kita. Kita perlu sampaikan kepada masyarakat kita, meskipun kaum muslimin yang belum ikut serta dalam usaha da’wah dan tabligh ini juga dapat menghidupkan kebiasaan ta’lim fadhoil ini di rumah masing-masing. Sehingga semua amal akan terdorong dan terbangun, dan hal ini akan memudahkan kita semua kaum muslimin menjalankan perkara-perkara yang lebih besar.

Apabila sering setiap hari mendengarkan Fadhoil amal dan kelebihan-kelebihan amal ini, maka akhirnya kita dengan sendirinya berusaha untuk mencapainya, dan kita sendiri terdorong untuk belajar bagaimana mengerjakannya dengan baik pula, sehingga Ilmu Masya’il akan dipelajari juga. Dan lambat laut, kita akan terbiasa untuk menyampaikan kelebihan-kelebihan amal ini di mana saja, termasuk kisah-kisah tauladan dari para Shahabat. Artinya Apa? Kami banyak menemukan dalam kisah-kisah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA, kadangkala Nabi kita memberikan dorongan itu pada para Shahabat RA ketika dalam perjalanan, ketika dalam makan, ketika duduk rileks, dsb. Sehingga kita sendiri akan terbentuk suasana untuk saling menyampaikan dan mengingatkan ketika lupa atas sesuatu, di dalam lingkungan apa saja. Seperti mana pengajaran yang dilakukan Nabi kita sendiri.

Perkara-perkara yang lebih besar misalkan saja bagaimana mendalami pengajaran Islam dari ustadz, agar pengajarannya lebih baik lagi. Bagaimana mencetak ulama yang faqih dalam ilmu masyail, seperti paham dalam hadits, paham dalam fiqih, paham dalam tafsir dll. Bagaimana seorang imam masjid adalah seorang hafidz, karena semakin baik imam sholat di masjid maka akan semakin baik juga kepada kita kaum muslimin di masjid itu. Bagaimana menyediakan santunan anak yatim, sehingga anak-anak itu sendiri dapat tumbuh dengan baik dan juga dapat belajar dengan baik. Dan masih banyak lagi.

Anak-anak kita akan memahami perihal kelebihan amal, dan juga peringatan jika meninggalkannya. Misalkan seperti sholat dan puasa ramadhan. Sehingga anak-anak kecil kita akan semangat untuk beramal sholat. Jjika anak-anak kita sedang belajar bersama di rumah temannya, mereka akan mengajak yang lainnya untuk mengerjakan sholat berjama’ah ketika memasuki waktunya.

Oleh karena itu kita perlu galakkan ta’lim fadhoil ini di masjid dan di rumah. Bagaimana dengan Ta’lim Ilmu Masyail? Seolah-olah Usaha da’wah dan tabligh tidak memberikan perhatian pada Ilmu Masyail, karena sangat mendorong ilmu fadhoil ini dalam kesehariannya. Pandangan yang beranggapan bahwa usaha da’wah dan tabligh ini tidak memberikan perhatian ilmu masyail sangat tidak tepat.

Telah dijelaskan perkara Ilmu Masyail ini di bagian atas, bahwa Ilmu Masyail ini perlu ditangani dengan baik dan sistematik oleh orang yang faqih dalam bidangnya. Tidak semua kaum muslimin dapat memikirkan perkara ini. Kenapa begitu? Dalam Ilmu Masyail ini terdapat hal-hal yang memerlukan ilmu sendiri atau alat, misalkan bahasa arab, ilmu hadits, ilmu tafsir dll. Sehingga jika semua kaum muslimin terlibat dalam perkara ini, maka akan lebih banyak hal-hal yang kurang diinginkan.

Misalkan saja dalam perbedaan-perbedaan yang telah kami sampaikan di hadits di atas, perihal jumlah kalimat adzan. Jika orang yang tidak faqih, maka akhirnya menghasilkan perdebatan-perdebatan yang tidak akan selesai-selesai. Yang satu menyatakan harus 4 kalimat, yang satu lagi harus 2 kalimat. Dimana masing-masing hanya mengetahui satu kerangka saja, tetapi jika mempunyai ilmu yang baik maka pandangan-pandangan yang berbeda ini akan memberikan kebaikan bersama. Misalkan lagi, apakah harus bermadzhab atau tidak sama sekali. Jika tidak hati-hati, maka akhirnya tidak pernah selesai perkara seperti ini.

Oleh karena itu jika kita terus tanamkan untuk ta’lim fadhoil ini, maka akan terdorong untuk memikirkan perkara yang lebih besar, misalkan yang kami sebutkan di atas seperti mengundang ulama atau ustadz , dan bahkan mencetak ulama yang faqih. Dan akhirnya Ulama faqih inilah yang kita harapkan dapat mengajarkan kepada kaum muslimin dengan baik.

Musyawarahkan dengan kaum muslimin atau juga ahli da’wah lainnya waktu yang baik untuk menjalankan ta’lim fadhoil dengan baik di masjid, dan begitupun juga dengan keluarga kita sendiri. Dan biasakan untuk banyak minta nasehat pada ahli da’wah lainnya di markaz agar kita semua besemangat dengan perkara ta’lim fadhoil harian. Dan kita tetap untuk menggunakan kitab Fadhoil Amal yang telah diputuskan musyawarah para Ulama, atau kitab Riyadhush Sholihin.

Apakah itu ta’lim fadhoil ataupun masyail, kita tetap harus menjaga tertib dan adab. Karena kebehasilan seseorang dalam ta’lim bergantung sejauh mana kita mengikuti pada tertib dan adab. Dan kita yang mengambil usaha da’wah ini, maka kita perlu semangat untuk mempunyai waktu sendiri untuk membaca dan menelaah Ilmu Islam secara baik dan berkelanjutan, meskipun hanya membaca beberapa lembar halaman setiap, disamping tentunya kita tidak lupa untuk membaca al-quran secara teratur.

Nanti kita lanjut lagi …. Insya Allah.

Popularity: 6% [?]

  1. syekh yusuf
    November 13th, 2008 at 01:19 | #1

    TERUSKAN

    Sdr. Syekh Yusuf,

    Terimakasih telah sudi datang ke tempat kami. Mudah-mudahan kita dapat menjalankan dengan baik, dan juga kita dapat meningkatkan semangat tholab kita dalam ilmu agama kita.

  1. No trackbacks yet.