Home > Manhaj Pilihanku, Pikir dan Analisa Manhaj > Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (3)

Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (3)

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu bersemangat musyawarah harian. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.

Kenapa Kita Perlu Musyawarah Harian?

Musyarawah ini merupakan perkara yang sangat penting bagi kita yang telah terjun ke dalam usaha da’wah ini. Kita jangan sepelekan perkara musyawarah ini, meskipun hanya musyawarah 5-10 menit. Banyak ayat Quran dan hadits yang menjelaskan perihal musyawarah ini, bahkan kisah-kisah musyawarah di kalangan para Shahabat RA.

Kami yang setidaknya membaca pelajaran ilmu umum yang berasal dari bangsa lain, telah terbukti bahwa pertemuan rutin setiap hari untuk membahas masalah dan menyelesaikannya secara bersama, meskipun hanya beberapa menit saja, telah memberikan pengaruh besar bagi perusahaan-perusahaan mereka. Dan akhirnya memberikan pengaruh pada negara tersebut. Itu adalah kebiasaan yang dilakukan di perusahaan-perusahaan besar, seperti di Korea, Jepang dll.

Apalagi seperti kita yang terlibat dalam usaha da’wah ini? Karena kerja kita ini adalah untuk diri kita dan juga kaum muslimin, agar Allah swt memberikan rahmat dan hidayahnya. Kita perlu musyawarah dengan sungguh-sungguh dan juga pikir yang benar. Musyawarah harian akan membiasakan kerja kita dalam kebersamaan atau ijtimaiyyah, sehingga kita akan selalu mempunyai pikir dan kerja yang sama. Tanpa adanya pikir dan kerja yang sama, kerja kita akan nafsi-nafsi dan biasanya saling menyalahkan satu sama lain jika ada sesuatu yang kurang berkenan. Hal ini perlu menjadi perhatian penting bagi kita semua, kita perlu menjaga kesatuan hati di antara kaum muslimin. Kita sendiri sangat memahami hal ini, karena kejadian-kejadian seperti ini dapat juga terjadi dalam semua lapangan kehidupan kita sendiri. Sehingga bagaimana kita dapat mencapai apa yang menjadi keinginan kita kalau sudah seperti itu.

Musyawarah ini telah banyak hilang dalam kehidupan kaum muslimin, sehingga perkara-perkara kecil saja dapat menghasilkan masalah-masalah besar di antara kaum muslimin. Bahkan musyawarah bukan lagi menjadi kebiasaan di dalam rumah tangga kaum muslimin. Itulah kita perlu bersungguh-sungguh untuk menjalankan musyawarah ini, dan kita libatkan kaum muslimin dalam musyawarah harian kita. Sehingga mereka mengetahui apa yang dipikirkan atau dibahas dalam musyawarah kita.

Dan kami pribadi melihat bahwa musyawarah ini sangat fundamental bagi kaum muslimin. Kami terlibat dalam mudzakarah-mudzakarah dengan sebagian kaum muslimin perihal usaha da’wah ini, karena sebagian kaum muslimin ini banyak memberikan pandangan yang berlebihan dan kurang tepat tentang usaha da’wah. Sehingga mudzakarah-mudzakarah ini tidak banyak memberikan kerangka kebersamaan di antara kaum muslimin. Karena kaum muslimin yang pertama kali menyampaikan pandangannya, tidak dapat serta merta mengakui atau memahami apa yang kita sampaikan sebagai bentuk pandangan berimbang ataupun pelurusan.

Setelah sekian lama kami bermudzakarah, akhirnya kami mendapatkan satu titik terang bahwa memang kaum muslimin belum mempunyai kebersamaan untuk saling bermusyawarah. Bahkan kami yang sering mendapatkan pandangan yang kurang tepat atau kesewenang-wenangan dari sebagian kaum muslimin, kadangkala berpikir untuk tidak terlalu dalam dalam perbicangan tersebut. Mudah-mudahan di masa depan, adanya forum saling bertukar pikiran di antara ulama atau ustadz di antara kaum muslimin terhadap keadaan kaum muslimin sendiri, sehingga hal-hal yang kurang diinginkan kita dapat menyampaikannya dengan baik pula.

Kembali pada bahasan kita, yaitu kenapa kita perlu bersemangat dengan musyawarah harian ini? Musyawarah yang kita lakukan sebagai bagian dari amal maqomi kita merupakan sebuah sarana untuk memudzakarahkan dan menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan kerja atau program harian ataupun yang berkaitan dengan kerja da’wah itu sendiri. Musyawarah harian kita pertama kali perlu fokuskan dan prioritaskan pada amal maqomi itu sendiri, seperti ta’lim harian, jaulah masjid, jaulah dua, keluar 3 hari, 2.5 jam khususi harian. Sehingga kita mempunyai arah yang jelas terhadap kerja maqomi itu sendiri.

Dan kita biasakan untuk memulai dari kecil secara bertahap terus meningkat. Itulah yang banyak diajarkan oleh Nabi kita Nabi Muhammad SAW. Insya Allah, ini akan terus meningkat sesuai kapasitasnya dengan baik juga. Bermula musyawarah harian untuk menentukan terlebih dahulu siapa yang akan memberikan pikir musyawarah besoknya, juga ta’lim fadhoil harian dan juga siapa yang akan dikunjungi besok atau hari ini.

Kerja maqomi di masjid kita seperti perusahaan atau pabrik, sehingga kita perlu mengamati dan menyelesaikan hal-hal yang kurang berkenan untuk kerja da’wah ini. Jika sekitar masjid kita ada sekitar 100 keluarga, sedangkan yang masih datang ke masjid baru sekitar 20 orang, maka kita masih ada target bagimana yang datang ke masjid untuk sholat berjamaah menjadi 30 orang, terus menjadi 40 orang, sampai akhirnya semua laki-laki dewasanya mau untuk sholat berjama’ah.

Jika kita mengetahui bahwa yang baru ikut ta’lim fadhoil baru sekitar 4 orang, kita perlu pikirkan lagi bagaimana menjadi 10 orang, bagaimana menjadi 20 orang, terus begitu. Jika di sekitar masjid kita, baru 2 orang yang sudah mempunyai ta’lim harian di rumah, maka kita perlu pikirkan kembali menjadi 5 orang, terus 10 keluarga, terus menjadi 30 keluarga, sampai akhirnya semua keluarga menjalankan ta’lim harian ini dengan baik.

Kita dapat bermusyawarah perkara bagaimana jaulah dilakukan di tempat sendiri, dan juga masjid tetangga. Dan setelah itu, kita dapat musyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan da’wah misalkan nusrah rombongan, menyiapkan orang yang akan keluar 40 hari atau 4 bulan dsb. Kita juga dapat kirimkan wakil untuk dapat ikut serta dalam musyawarah halaqah, dimana kita sendiri dapat menyampaikan pikir bagaimana membentuk rombongan 3 hari yang belum dapat dibentuk dari masjid sendiri. Atau juga bagaimana membantu rombongan dari halaqah lain ataupun dari yang lainnya.

Dan yang terpenting, musyawarah ini akan memberikan pengaruh tertib pada diri kita terhadap masyarakat kita sendiri. Sehingga kebaikan itu secara automatis akan kepada diri kita sendiri terlebih dahulu, misalkan saja jika kita sebelum terjun dalam usaha da’wah ini, kita ini dikenal sebagai orang yang kurang baik di tengah-tengah masyarakat kita.

Maka dengan adanya musyawarah, ketika kita akan bertemu khususi misalnya, maka kita akan mendapatkan nasehat-nasehat atau pesan-pesan dari teman kita yang lain untuk berlaku sabar, tenang, tidak tergesa-gesa. Dan Insya Allah, adab-adab dan juga akhlaq ini akan lebih memberikan warna, karakter baik dan sedikit-demi-sedikit akan menghilang karakter tidak baik kita dan juga memberikan kesan yang baik kepada kaum muslimin di sekitar kita. Kita tetapkan untuk selalu ikut serta dalam musyawarah, apakah itu di masjid sendiri ataupun di halaqah bahkan di markaz kota kita.

Kami penulis sendiri pernah diminta teman lama kami untuk selalu hadir musyawarah markaz dan tidak perlu menyampaikan usulan-usulan dalam musyawarah itu, cukup duduk dan dengar saja. Setelah sekian lama, baru kami menyadari pengaruh yang sangat signifikan dari musyawarah ini sendiri. Oleh karena itu, kita perlu tetap menjaga tertib dan adab ketika menjalankan musyawarah itu, agar kita semua mendapatkan kesan-kesan untuk di kita dan kaum muslimin.

Nanti kita lanjut lagi …. Insya Allah.

Popularity: 7% [?]

  1. syekh yusuf
    November 13th, 2008 at 01:16 | #1

    LANJUT

    Sdr. Syekh Yusuf,

    Terimakasih telah sudi datang ke tempat kami. Mudah-mudahan kita dapat menjalankan dengan baik, dan juga kita dapat meningkatkan semangat tholab kita dalam ilmu agama kita.

  1. No trackbacks yet.