Home > Komentar Fatwa Salafi > Melepas Kedok Jemaah Tabligh Bagian 1

Melepas Kedok Jemaah Tabligh Bagian 1

Kepada Kaum Muslimin,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mudah-mudahan Allah swt memberikan Rahmat, Ampunan dan LindunganNya kepada sdr. sekalian. Telah banyak pandangan yang berkaitan usaha da’wah dan tabligh (orang mengenalnya sebagai jama’ah tabligh). Mudah-mudahan tulisan di bawah ini memberikan wacana atau juga pengetahuan baru bagi sdr. sekalian, dimana tulisan ini merupakan analisa dan juga pengamatan terhadap usaha da’wah.

Jika ada tulisan saat ini disebarkan melalui berbagai media, apakah itu internet dan lainnya, dengan judul yang sangat cukup sensasi yaitu “membongkar kedok jama’ah tabligh”.Dan sekarang kami suguhkan dengan judul yang hampir sama “Melepas Kedok Jama’ah Tabligh”.

Sdr. sekalian dapat mencermati kedua judul yang hampir bersamaan, dan kami secara jujur ini merupakan wacana yang baik untuk dipelajari. Yang satu memberikan kerangka kritik, dan yang lainnya memberikan keranga survey dan analisa. Silahkan untuk dicermati dengan baik dan buka lebar-lebar diri kita untuk mendapatkan berbagai kebaikan dari siapapun.

Terimakasih,
Pengelola Usaha Da’wah dan Tabligh

Sumber: http://imanyakin.wordpress.com/2008/07/25/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-1/

Risalah kecil yang disusun oleh : Abu Muhammad Fahim

KATA PENGANTAR

Sebagai seorang pengamat harokah di Indonesia, saya tertarik dengan ucapan pimpinan Jemaah Tabligh (istilah yang penulis pakai buat orang yang kerja dakwah di masjid Kebon Jeruk) di Indonesia, ketika seorang ustadz kritik jemaah tabligh. Beliau (almarhum) katakana : “Jangankan kerja tabligh, ‘kentut tabligh’ saja anda tak paham.”

Setelah saya amati program yang diadakan yakni khuruj fi sabilillah ternyata kerja tabligh yang mereka buat seperti khazanah lautan yang tak habis jika digali.

Orang menyangka bahwa karang adalah lautan, air adalah lautan, ada yang menyatakan juga ikan, rumput laut, pasir, dsb. Padahal lautan adalah kumpulan dari itu semua secara menyeluruh.

Kebanyakan pencemooh jemaah tabligh hanya melihat sebagian dari kerja jemaah, sehingga terlihat kekurangan disana sini seperti anggapan mereka tentang bodohnya ahli jemaah dalam hal masail, hukum Islam, dsb. Kalaulah kita mau melek sedikit, membuka hati dan mau menerima kekurangan mereka, maka di balik itu ada suatu kekuatan yang akan menjadi harapan bagi kejayaan umat Islam.

Mereka tampil di permukaan, berjalan di tengah manusia dengan segala kekurangan, tetapi hati mereka tawajjuh kepada Allah SWT, sehingga Allah tampakkan bantuan-Nya ke atas mereka. Banyak negeri yang sudah didirikan markaz dakwah mereka, tak ada suatu kekuatan pun yang bisa membendung, mereka laksana air bah.

Islamisasi di segala bidang tak terlihat tetapi dapat dirasakan oleh umat. Mereka tak suka expose di media masa, hasil kerja mereka hanya untuk menyenangkan Allah dan Rasul Nya.

Dalam buku ini saya mencoba melepas sedikit tirai/kedok mereka yang masih tersembunyi di mata orang awam, agar mereka objektif menilai kelebihan dan kekurangan jemaah tabligh, dan tidak mendengar dari satu pihak yang memiliki hasad terhadap hasil kerja mereka.

Walaupun saya menyadari tak dapat menjelaskan itu semua secara gamblang karena perlu keseriusan dalam hal ini, juga penyertaan diri dalam program khuruj fi sabilillah bersama mereka, namun semoga saja dari sedikit apa yang saya ketahui ini dapat menjadi jembatan persatuan umat agar tidak saling mencaci dan mencari-cari kesalahan saudara muslim, sehingga hari demi hari kita sibuk memikirkan bekal kita untuk berjumpa dengan Allah SWT.

Dan akhirnya saya pun akui bahwa ‘kentut’ tabligh saja saya tak tahu. Wallahu a’lam.

Catatan : Dalam buku ini saya gunakan nama Jemaah Tabligh untuk menyebut orang-orang ahli dakwah karena hal ini sudah masyhur di kalangan awam.

MISTERI JEMAAH TABLIGH

Tiba-tiba saja dunia heboh ketika menyaksikan di jalan-jalan, di kantor-kantor, tempat perbelanjaan, di pasar-pasar terlihat laki-laki berjenggot dan memakai gamis, celana di atas mata kaki berjalan dengan bebasnya, tak terkesan dengan suasana. Adat memakai kopiah bagi laki-laki dan bercadar bagi wanita mulai hidup di tengah-tengah masyarakat dan terasa tak tabu lagi. Ada apa gerangan ?

Pemandangan kontras terjadi di sekitar Masjid Jami’ Kebin Jeruk yang menjadi pusat kegiatan seluruh Indonesia bagi satu jemaah yang dinamakan oleh kebanyakan orang jemaah tabligh. Di tengah hingar-bingarnya kota Jakarta dengan kehidupan malam yang berbau sex dan kriminal, ada kumpulan orang yang terlihat bergamis sopan, selalu tundukkan pandangan bahkan tak memandang sedikit pun kepada wanita-wanita yang lalu lalang dengan pakaian seronok.

Pemuda-pemuda yang biasa menghabiskan masanya dengan hura-hura terlihat begitu antusias dalam mengamalkan agama, orang kaya dengan mobil mewah terlihat tawadu’ tak menampakkan kekayaannya. Padahal konon menurut mereka terkadang yang hadir dalam pertemuan mereka di malam jumat ada pejabat Negara, namun tidak terlihat perbedaan di antara mereka. Masya Allah…!

ASAL USUL NAMA JEMAAH TABLIGH

Nama Jemaah Tabligh sendiri sampai sekarang tak ada yang tahu dari mana asalnya. Karena orang tak akan temukan plang-plang nama di depan markaz mereka sebagaimana layaknya organisasi atau kelompok seperti secretariat AHMADIYYAH, LDII atau memiliki majalah atau bulletin yang menjadi Icon harakah seperti Hizbuttahrir, atau majalah Khilafah untuk Jemaah Khilafatul Muslim, majalah salafi untuk kajian salafi (termasuk assunnah, arrisalah, dsb) tak ada kop surat yang bersimbol “tabligh”, kaos, spanduk, selebaran, yang mempropagandakan kelompok. Misalnya bentuk partai.

Dan yang lebih menarik mereka tidak menarik dana dari manapun, tak ada rekening Bank yang mewakili mereka untuk di transfer sebagai dana perjuangan harokah lain. Kenyataan yang aneh mereka bisa pergi melalang buana ke seluruh dunia tanpa terkecuali, orang kaya, orang miskin, pejabat, petani, tukang somay, dll.

Seorang yang awam dari mereka jika ditanya tentang dari mana ia dapatkan dana? Mereka selalu katakana dari Allah..! Sumber dana mereka berasal dari kantong-kantong mereka sendiri karena mereka membuat tertib “berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri sendiri.”

Sedangkan nama jemaah dinamakan oleh orang yang tak simpati kepada gerakan mereka bermacam-macam nama yang diberikan kepada mereka, ada yang menamakan JT (di Jakarta) tetapi di Palu namanya ‘musafir’. Di India dan Pakistan orang cukup katakan ‘jemaah’ langsung paham kalau itu mereka. Ada juga yang katakan jemaah jenggot, jemaah sarung, jemaah kompor, jemaah sendalan, bahkan yang ekstrem mereka katakan jemaah pengangguran karena selalu berada di Masjid.

Tetapi orang-orang yang menjadi penanggung jawab jika ditanya tentang nama jemaah mereka, mereka akan cerita tentang syaikh besar mereka yakni Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah.A yang pernah mengatakan :

“Jika saya disuruh menamakan Jemaah yang saya buat ini, maka akan saya namakan Jemaah Pergerakan Iman (Harakatul Iman), tetapi kita tak boleh menambah nama dalam Islam dengan nama.”

Salah seorang ulama mereka Syaikh Maulana Jamil di dalam ceramahnya mengatakan : “Jangan mengatakan kita orang tabligh karena perkataan itu memecah belah umat Islam.”

JEMAAH TABLIGH TIDAK MEMILIKI KARTU KEANGGOTAAN

Jika seseorang diajak oleh mereka untuk keluar di jalan Allah yang disebut tasykil dalam istilah mereka, maka cukup mendaftarkan dirinya dengan mencatat nama di tim tasykil yang mereka tunjuk. Kemudian orang itu akan dimasukkan ke jemaah yang sudah di bentuk sekitar 10 orang atau lebih (jemaah minimal berjumlah 3-4 orang).

Di dalam jemaah ada orang yang sudah lama aktif dalam tabligh, ada yang baru, ada ustadz, bahkan terkadang Hafidz Al Quran.

Tidak ada kartu anggota yang diberikan kepada jemaah, sehingga tidak seperti organisasi yang memiliki kartu keanggotaan.

Pernah ada seorang yang ikut dengan mereka namun disebabkan kekecewaan terhadap oknum di dalam tabligh, maka orang itu katakan : Saya akan keluar dari Jemaah Tabligh. Maka mereka katakan : Bagaimana anda akan keluar dari Tabligh sedangkan anda tak pernah masuk tabligh, sebab di Tabligh tak ada keanggotaan.

Mereka beranggapan bahwa Tabligh bukanlah sebuah Nama Jemaah tetapi Tabligh adalah sebuah kerja yang harus dibuat oleh seluruh orang Islam tanpa terkecuali. Bahkan diantara mereka berkata : Kami di Tabligh bukan disuruh masuk tetapi di suruh keluar yakni keluar di jalan Allah.

AQIDAH JEMAAH TABLIGH

Aqidah Jemaah Tabligh adalah Ahlu Sunnah wal Jamaah, ini bisa dibuktikan dari ucapan para masyaikh mereka di Pakistan, di Indonesia bisa langsung ditanyakan kepada Kyai-Kyai yang sudah ambil bagian dalam kerja Dakwah ini.

Walaupun tidak mempropagandakan Aqidah Ahlu Sunnah wal Jamaah dengan lafadz, namun bisa dibuktikan sbb:

1.      Di Pondok Pesantren mereka baik yang di Reiwind Pakistan atau di dalam negeri (Magelan dan Temboro misalnya) dikaji kitab Kutubussittah, artinya bukan seperti orang syiah yang anti Bukhari atau sebagian kelompok lain ‘menuhankan’ Bukhari dan menafikan kitab Hadits yang lain).

2.      Di dalam kitab yang mereka baca secara Ijtima’I misalnya Fadhilah A’mal mengutip kisah semua sahabat tanpa membedakan.

3.      Ulama-ulama mereka menulis syarah Kutubussittah seperti Syarah Imam Abu Daud dan Imam Muslim (kitabnya beredar di India). Maulana Zakariya Rah. A menulis syarah Muatho’ yakni kitab Auzajul Masalik.

4.      Tidak pernah mengatakan Al Quran adalah makhluk seperti kaum Mu’tazilah.

5.      Tidak ada pengkramatan kubur-kubur seperti Breelwie di India bahkan golongan penyembah kubur membenci mereka (penulis membuktikan sendiri melihat ketidaksukaan Breelwie kepada Jemaah Tabligh). Sementara isu fitnah yang mengatakan orang tabligh tawaf di kubur semuanya tidak betul. Wallahi..!

6.      Tak ada ajaran mereka tawaf di kubur. Kubur yang mana? Sedangkan di markaz Reiwind tidak ada kuburan satupun di sana. Wallahi!

7.      Tidak ada amalan dzikir-dzikir khusus atau wasilah terhadapa wali-wali / makhluk untuk sampai kepada Allah. Dapat dibuktikan… datanglah ke markaz mereka tak ada satupun ruangan khusus yang digunakan untuk amalan demikian, dan tak pernah diajarkan mereka bahkan mereka selalu berkata: “Makhluk adalah hijab antara hamba dengan Allah bukan sebagai wasilah”.

Uluhiyyah mereka lurus hanya beribadat kepada Allah SWT saja bahkan dalam ceramahnya Ulama mereka Syaikh Saad Al Kandahlawi telah katakan bahwa maksud ruku’ dalam sholat adalah agar kita tak boleh menundukkan kepala kita kepada selain Allah SWT. Bahkan mereka katakan : Bahwa menundukkan kepala kepada orang lain adalah hakikat penyembahan.

Di Markaz Reiwind jika kita memberi salam sambil menunduk maka para ulama di sana akan marah.

Sedangkan Rububiyyah mereka tak bisa diragukan lagi mereka siap tinggalkan anak isteri karena keyakinan yang kuat bahwa Allah Ar Raziq (Maha Pemberi Rizqi). Mereka datang ke negeri kafir dengan mengandalkan kekuatan amal, yakin Allah yang berkuasa sedangkan makhluk tak bisa memberi manfaat dan mudharat tanpa izin Allah SWT terlihat dari ceramah-ceramah mereka tentang Qudratullah, Pertolongan Allah kepada para Nabi, shahabat, serta berbicara tentang ta’rif iman yang ada dalam Al Quran dan Al Hadits.

Justru orang-orang yang mengkritik aqidah Jemaah Tabligh ketika mereka diajak / tasykil : Ayo kita keluar di jalan Allah 4 bulan.!! Kebanyakan mereka menjawab. Hah..!! 4 bulan tinggalkan anak isteri, gak kerja, anak saya makan apa? Ini aqidah rububiyyah apaan???

“bersambung……”

Popularity: 54% [?]

  1. Ardi
    November 15th, 2008 at 10:13 | #1

    Saudara seperjuangan yg rela berkorban dgn harta dan jiwa,doakan agar saya bisa khuruj 4bln,…

  2. zebastopo
    February 17th, 2009 at 14:54 | #2

    oke banget, ane setuju abiiiiiiiiis.

  3. DaniDC
    February 19th, 2009 at 10:40 | #3

    Subhanallah, laahaulawalaa kuwwata illa billah

  4. al abid
    April 13th, 2009 at 18:08 | #4

    “hasil kerja mereka hanya untuk menyenangkan Allah dan Rasul Nya” bukan kah Allah SWT tidak butuh keimanan sekaligus kakafiran makhluqnya.

  5. r_sZk
    April 20th, 2009 at 11:25 | #5

    kita tidak pernah tau apa yang kita lakukan ini seperti apa nilainya di mata allah swt, karena itu jangan mengamati orang lain berlebihan dalam ikhwal ibadah, mereka masih untung “TERSESAT” di dalam perjuangan mencari”tuan” mereka,seperti nabi ibrahim mencari tuhannya, selalu awalnya gagal. lalu bagaimana kita,,, mana mungkin tersesat berjalan saja TIDAK. jadi lupakan sikap menghakimi orang lain seolah kita benar, belajar lah untuk mencari sesuatu.
    Cahyoo… AL-Fath, teruskan Sunnah dan perjuangan rasul mu.allahhuakbar !!!

  6. Abu Irfan
    April 26th, 2009 at 04:15 | #6

    doain ane ye biar bisa khuruj lagi. Kalau sudah pernah khuruj, mau jauh2 dr amalan tetap teringat2 akan nikmatnya amalan selama khuruj.

  7. arif
    May 8th, 2009 at 03:52 | #7

    insyaallah
    walaupun banyak orang yang tidak suka, saya percaya allah lebih mengetahui apa yang kita kerjakan…

  8. June 3rd, 2009 at 00:27 | #8

    kebanyakan saudara kit hanya bs hujat,subhanallah kerja dakwah bkn sesuatu yg mdh utk ttp istiqomah.kt bs liat mrk tak terkesan dgn keadaan utk ttp amalkan amalan maqomi,mulai silaturahmi,musyawarah,ta’lim.pertanyaanya apakah mereka mampu mengamalkan apa yg mrk amalkan yg smua itu prnth Allah&Rosul-Nya.jd ngk adil dong klo cm jd ahli hujat tanpa satupun mampu amalkan apa-apa yg udah jamaah tabligh amalkan.tugas para ahli hujat masih bnyk,sodara kt tuh msh bnyk yg blm istiqomah sholat berjamaah coba dakwah pd mrk,bkn hujat sana-sini.

  9. anshorussunnah as salafy
    June 26th, 2009 at 11:32 | #9

    bismillahirrohmanirrohim
    bilakah para penggiat dakwah dikalangan kalian mau dan bisa berhenti ber”ngebul-ngebul asap tembakauria” sungguh kontras bilamana berpakaian jubah dan ghomin dan bersirwal namun sang bibir hitam legam dan bau tembakau nan menyengat bilamana ia menguap sendirian apatah lagi dalam sholat…wallohul musta’an
    semoga Alloh Azza wa jalla menurunkan kpd kita rasa cinta yg benar-benar mendalam kpd As-sunnah kekasihNYA dan rasa benci yg luas pula kpd aktifitas yang melalaikan dan merusak diri maupun lingkungan
    Walohu’alam bish-showab

    Sdr. anshorussunnah as salafy,

    Terimakasih dengan nasehatnya, apakah ada yang lebih hikmah dari yang sdr. sampaikan di atas? Apakah sudah sdr. memberikan teguran dengan hikmah seperti mana kalangan Salafush sholeh?

    Atau apakah ada contohnya di kalangan para Shahabat RA yang membuka kekurangan orang kemana-mana dan tidak ada keinginan memberikan nasehat yang baik dan dengan penuh kasing sayang?

    Apakah dengan membuka kekurangan orang dapat dikatakan sebagai anshorussunnah seperti yang sdr. gunakan dalam namanya? Mudah-mudahan sdr. menjadi penolong sunnah yang penuh hikmah dalam nasehat.

  10. uzair
    June 28th, 2009 at 04:41 | #10

    begini,…….aku tgk jemaah dakwah tabligh ni lebih islamic dlm beramal dan kuat ikut sunnah,mereka kuat bertahajjud dan selalu sibuk dalam amalan harian,jaga solat jemaah,kita yg duduk kutuk atau perli mereka amalan kita pun tak sekuat mereka,ada kita bangun tahajud,nangis untuk umat seperti mereka?mereka sanggup susah payah bermujahadah berhari hari dan ada yg berbulan bulan utk berdakwah tanpa gaji atau elaun malah guna duit sendiri,
    kita pun tak mampu nk buat lebih lebih lagi ajak org rumah kerumah utk agama seperti mereka tapi tukang kritik bolehlah ,aku tgk markaz diorang kat sri petaling hairannya satu tabung pun tak ada.akan dtg ni 9-12july diorang buat perhimpunan ijtimak besar besaran diatas tanah 100ekar dimasjid quarters klia nilai tanpa ada satu pun bantuan kerajaan walaupun kos buat berjuta ringgit,siap kos makan utk jemaah luar negeri 4000-5000org yg datang dan utk tetamu .tetamu khas
    ada pernah kau tgk org dakwah ni minta derma,aku pernah pergi masjid 100% kepunyaan sultan pun ada tabung.lagi satu yg aku respect dakwah diorang tak ada kayakan siapa siapa,semua belanja sendiri tak ada seponser seponser dan tak ada nk rebut atau minta minta jawatan,yg mujahadah lagi apabila jadi syura lagi banyak kena keluar belanja sendiri krn kena pergi mcm mcm tmpat.mesyuarat sana sini,ingatlah bila kita tak mampu buat jgn kita kritik org yg mampu buat,cukuplah doakan utk mereka.

  11. Abu Ahmad Raziqin
    July 7th, 2009 at 04:18 | #11

    Dari biografi berbagai ulama besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan masih banyak lagi yang lainnya, tampak bahwa mereka belajar tentang Islam dulu bertahun-tahun lamanya sebelum mulai berdakwah. Tapi nampaknya di zaman sekarang ini ada orang-orang yang (merasa) lebih hebat dari imam-imam di atas sehingga baru sekali dua kali ikut ta’lim langsung mau berdakwah kemana-mana. Tabligh markas besarnya ada di India, negara di mana sapi dan api disembah. Semoga menjadi renungan

    Sdr. Abu Ahmad Raziqin,

    Apakah seperti itu kejadiannya? Atau ada proses lainnya? Sdr. baru melihat begitu tinggi ilmunya beliau-beliau itu dikarenakan mendalami ilmu, tetapi sdr. tidak melihat awalnya.

    Da’wah itu untuk melakukan proses perubahan dari satu kondisi ke kondisi lainnya, sedangkan ta’lim untuk melakukan peningkatan di posisi ke posisi yang lebih tinggi. Jadi kedua hal itu tidak bisa ditukar-tukar posisinya, tetapi saling melengkapi.

    Apakah sdr. sudah mempunyai keluarga dan anak? Ada teman kami yang bukan seorang hafidz, dan karena asbab da’wah ini, maka akhirnya teman kami sangat berkeinginan anak-anaknya bisa hafidz dan alim. Apakah terus anak-anaknya tidak boleh da’wah atau harus menguasai ilmu dahulu sampai tinggi? Anak-anaknya ini terus dilatih da’wah, dan terus tumbuh keilmuannya itu.

    Apakah harus menjadi setingkat Imam Syafi’i Rah dahulu, baru da’wah. Itu jelas sangat keliru. Sampai sekarang tidak ada ulama yang dapat menguasai ilmu seperti Imam Syafi’i Rah. Tetapi banyak juga yang berda’wah itu.

    Para Shahabat RA sudah berda’wah baru satu hari masuk Islam, seperti Abu Bakar RA. Kalau dalam Ilmu mungkin tidak banyak, karena yang baru diajar adalah perkara kalimat syahadat. Terus kenapa beliau berda’wah? Padahal di tangan beliau ada 5 orang masuk Islam karena ajakannya dan dibawa ke Rasulullah SAW.

    Terimakasih

  12. bimo prada
    July 14th, 2009 at 15:43 | #12

    alhamdulillah ana kembali ke jalanNya…

  13. hamim
    July 24th, 2009 at 03:04 | #13

    semoga menambah keiklasan kita dalam beramal hanya karena allah swt. mdah2an yang ga mau ikut tabligh karena orang JT bodoh2 memperoleh hidayah, bahwa saudara kita yang pintar2 akan di tanya ilmunya di gunakan untuk apa? masa mudanya digunakan untuk apa? umurnya digunakan untuk apa? hartanya digunakan untuk apa? alhamdulilah bagi da’i cukup Satu Kata Khuruj fi sabilillah.
    BAGI YANG BERILMU NAMUN DI GUNAKAN UNTUK MENGHUJAT………BERTAUBATLAH SELAGI MASIH HIDUP, kita sesama muslim yang diikat kalimar LAILLAHAILLALLAH.

  14. abd. kholik
    August 19th, 2009 at 06:58 | #14

    Ass, saudara2 sekalian ada info di link beikut :http://www.ziddu.com/download/3058920/TelaahKritisatasDoktrinFahamSalafi-Wahabi.pdf.html
    mohon kommennya.

  15. Nuruddin Manado
    August 19th, 2009 at 12:29 | #15

    kepada saudara2 ku sekalian, nasehat dari anshorussunnah adalah benar !!! kadang bibir kita ini menyampaikan kalimat haq, mengamalkan sunnah dan bermakruh ria… maka saudaraku, kita ini Da’i yang harus menjadi uswah, usaha ini adalah usaha percontohan bagi umat. maka berhentilah merokok, ingat kisah shoalahudin al-ayubi mengenai siwak. gimana pertolongan ALLAH mau datang kalo kita bermakruh ria kesana-kemari.

  16. Nuruddin Manado
    August 19th, 2009 at 12:34 | #16

    kepada Abu rahamad, kalau yang dapat hidayah duluan sibuk mencari ilmu semua lalu siapa yang akan menyampaikan kalau sudah tua renta dan ilmu sudah banyak, gimana mau datangin umat? dakwah nabi seperti air hujan, bukan seperti air sumur apalagi air PAM.

    maka antum mencari ilmu yang banyak dan jika ada saudara antum yang datang ke masjid antum maka muzakarahlah dengan mereka agar mereka dapat ilmu dari antum kemudian mereka sampaikan kepada umat seluruh alam. jadikan mereka kendaraan dakwah antum. karena mereka cuma ingin bisa masuk khasanah dakwah meski jadi tunggangan sekalipun. semoga ALLAH mencucuri rahmatNya kepada mereka.

  17. August 25th, 2009 at 00:43 | #17

    astaghfirullah…sudahlah bro,debat itu mengeraskan hati,lebih baik kita buat korban:diri,harta dan waktu agar kita mendapat petunjuk from ALLAH SWT.

  18. Syamsudin Ahmadi
    August 28th, 2009 at 03:58 | #18

    Allohu Akbar…
    Kejayaan kita hanya dan hanya dalam agama. Semoga kita menjadi pengikut orang dulu yang sholeh (salafus sholeh) , bukan pengikut orang dulu yang silaf(salasus silaf)..

  19. ilham
    August 28th, 2009 at 04:31 | #19

    subhanallah,saya menangis saat melihat penjelasan saudara di risalah ini,ini semua seperti yang saya alami..sungguh nikmat keluar dijalan allah,saya merindukannya seperti saya merindukan sesuatu yang saya sayangi..dengan khuruj,makin menambah kecintaan saya kepada allah SWT dan rosullullah SAW,saya bertambah yakin akan adanya alam setelah kematian..Allah rajik,allah Khalik..

  20. adi
    August 31st, 2009 at 05:34 | #20

    ikhwan2 doakan ana,ana lagi lemah dah lama gk keluar

  21. Ali Pangestu
    January 27th, 2010 at 04:51 | #21

    Assalamu’alaikum

    Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallah..saya menyaksikan bahwa jemaah Tabligh adalah jalan yg benar untuk memperbaiki iman di diri kita, keluarga kita, masyarakat kita…saya bersyukur telah dikenalkan dalam usaha dakwah ini selama 15 tahun semenjak saya masih di bangku sekolah hingga saya punya istri dan anak, menangis saya jika banyak saudara kita yg telah banyak mendapatkan hidayah dan ikut usaha ini. Semoga Allah berikan hidayah bagi kita, keluarga kita dan seluruh ummat Islam di Dunia ini. Agar kembali pada jalan yg lurus seperti yg selalu kita baca dalam Ummul Qur’an di setiap Sholat kita…Amiin

    Maju dan Bergerak para Pejuang Agama Allah
    Insya Allah kita saling mendo’akan agar bisa ke Negeri jauh yaa…
    4 Bulan Insya Allah

    Wassalam

    Ali dari kota hujan Bogor

  22. March 26th, 2010 at 13:11 | #22

    alhamdullilah ana senang baca blog antum,
    terus dan gunakan untuk berdakwah sampai akhir zaman.
    doakan ana mau belajar dakwah ke IPB amin.

  1. No trackbacks yet.