Home > Komentar Fatwa Salafi > Melepas Kedok Jemaah Tabligh bagian 2

Melepas Kedok Jemaah Tabligh bagian 2

Sumber: http://imanyakin.wordpress.com/2008/07/25/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-2/

SEKITAR MARKAZ NIZAMUDDIN

Nizamuddin merupakan Basti atau kampung di kota New Delhi. Sebagaimana Nabi-Nabi diutus seluruhnya di Ummul Qurro’ atau ibu kota, begitu pulalah Jemaah Tabligh membuat kerja dan mengendalikan gerakan diseluruh dunia dari Ibu Kota Negara India yang mayoritas beragama Hindu.

Bahkan mereka dihadirkan di tengah-tengah gencarnya kebencian kaum Hindu dan Sikh di India. Tak jarang kekerasan fisik dilakukan oleh orang Hindu terhadap umat Islam lebih-lebih tatkala perpecahan India dan Pakistan. Jutaan umat Islam mati dibunuh di India. Tetapi terlihat banyak pertolongan Allah kepada Jemaah yang mubarok ini.

Mereka tetap eksis, di tengah gejolak negeri India dan hingar bingar kota New Delhi. Pada saat terjadi peperangan antara Pakistan dan India, Syaikh M Ilyas Rah A. tetap perintah jemaahnya tetap hidupkan amalan masjid, tak terkesan dengan peperangan tetapi kesan kepada amalan agama.

Markaz mereka terdiri dari 5 lantai, bangunannya tak besar. Di dalam bangunan masjid terlihat garis hijau terang pada plafon untuk menunjukkan bahwa bangunan asli Nizamuddin di zaman Syaikh Ilyas sangat kecil, lainnya merupakan perluasan masjid mengingat tak muat lagi menampung jemaah yang datang dari seluruh dunia.

Karena pelebaran itulah maka makam Syaikh Ilyas yang berada di belakang masjid akhirnya menempel dengan tembok masjid yang merupakan pembatas antara kuburan dengan masjid. Jika kita tidak bertanya dimana makam itu, maka kita tak akan tahu karena makam itu tak dapat dilihat langsung dari lantai dasar Karena tebalnya dinding pembatas dan tak adanya jendela antara kubur dengan masjid. Kita baru bisa lihat kalau kita naik ke atas lantai.

Di depan masjid ada lokasi kuburan orang tempatan, antara mihrab dengan lokasi kuburan dibatasi oleh jalan setapak sehingga tanah kuburan dengan masjid tidak bersatu. Karena padatnya kota New Delhi di depan pintu markaz ada pasar tradisional yang umumnya berdagang adalah orang India yang belum ambil kerja dakwah, terlihat dari kumis-kumis mereka yang tebal dan banyak yang cukur jenggot mereka.

Ruang bawah adalah dapur, tempat makan jemaah tempatan yang berasal dari India dan tempat wudhu dan sebagian tempat sholat bagi tempatan. Lantai dua merupakan ruang sholat dimana imam sholat berada di sana. Sholat lima waktu di Imami oleh Maulana Saad Al Kandahlawi, seorang yang faqih dalam ilmu agama. Lantai dua juga merupakan tempat makan foreign jemaat yang dari berbagai Negara, di sana mereka makan bersama para masayikh mereka di antaranya Maulana Zubair, Maulana Mustaqim, Maulana Daud, dan Maulana Yaqub.

Para tamu dari luar negeri beristirahat di lantai 3 terkadang jika penuh di lantai yang lebih atas lagi. Lantai 5 digunakan untuk menjemur pakaian. Tak ada tulisan apapun di dalam masjid kecuali penuntun arah seperti Istiqbal (tempat menerima tamu). Tulisan Tasykil untuk menunjukkan tempat mencatat nama ketika hendak keluar di jalan Allah. Tulisan Foreign untuk menunjukkan tamu, dsb yang semua petunjuk itu sebagai penunjuk arah bagi tamu yang baru pertama kali datang ke sana.

Tidak ada tulisan seperti yang dituduhkan oleh para PENDUSTA bahwa di markaz Nizamuddin ada tulisan sandi di pintu mereka berlambang surat Al Falaq, An Naas dan berbagai angka sandi. Masjid mereka bersih dari tulisan kaligrafi apapun. Di depan tembok masjid tertulis Banglawali Masjid yakni nama masjid yang menjadi markaz.

Jika kita bertanya tentang Masjid Nizamuddin maka orang akan mengantar kita ke masjid Nizamuddin yang merupakan makam Nuzamuddin Aulia seorang wali tanah Hindustan dimana orang di sekitar sana memuja-muja kuburan wali-wali dan beribadat kepada mereka. Letak masjid itu hanya beberapa ratus meter dari Markaz Tabligh yakni Banglawali Masjid.

Disinilah letak kekeliruan para pengeritik di mana mereka melihat Nizamuddin Masjid tempat pemujaan kubur. Penulis sendiri ketika berkunjung ke sana dan di bandara ditawarkan oleh pengemudi Reksa (bajaj) dengan teriakan Nizamuddin….Nizamuddin…Nizamuddin, maka ketika naik penulis dibawa ke Masjid Nizamuddin Aulia tempat pemuja kubur. Pakaian mereka dan jenggot serta atribut sama dengan jemaah tabligh. Sehingga banyak orang menyangka bahwa jemaah tabligh penyembah kubur, sehingga ucapan ini perlu TABAYYUN datang ke sana membuktikan langsung. Itulah sebabnya setiap jemaah diseru untuk pergi ke sana untuk menjawab sendiri tuduhan FITNAH yang menyebar.

Makanya tak ada jemaah tabligh yang goyang keyakinannya setelah ke sana walaupun di internet, buku-buku, majalah-majalah, yang mengkritik mereka habis-habisan tetapi keyakinan para tablighi tak goyah karena mereka telah melihat langsung KEBOHONGAN para PENDUSTA yang mengkritik mereka.

MARKAZ REIWIND

Reiwind ada di wilayah Lahore. Dari kota Lahore dengan bis kita akan sampai dalam waktu setengah jam ke sana. Markaz mampu menampung 20.000 jemaah setiap hari. Tampak setiap orang di dalamnya sibuk dengan amal. Tak ada perkara dunia yang dibicarakan.

Musyawarah agama dilakukan tiap hari sekitar 2 jam pada jam 8 atau jam 9 pagi. Sepuluh ribu orang dihantar keluar di jalan Allah setiap harinya baik dalam maupun ke luar negeri. Dalam pada itu juga 10.000 orang setiap hari masuk selesai bergerak keluar di jalan Allah. Suasana seperti shahabat Nabi dalam mempersiapkan Jihad akan tampak di sana.

Setiap subuh Masyaikh mereka yakni Syaikh Abdul Wahhab memberi ceramah pentingnya Usaha Atas Agama. Jam 10 diberikan bayan Nasihat bagi yang mau keluar di jalan Allah yang dinamakan Bayan Hidayah. Ada sepuluh halaqoh di dalam markaz setiap hari dan program markaz baru berakhir setelah jam 12 malam di musim panas dengan pembacaan kitab Hayatusshahabah.

Ada 6 amalan ijtimaiyyat dalam markaz, yakni :

1. Musyawarah Harian

2. Bayan Hidayah

3. Taklim Ba’da Dzuhur

4. Bayan Ba’da Ashar

5. Kargozary (laporan perjalanan) selama keluar di jalan Allah

6. Taklim Akhir

Para ulama di sana menekankan selalu hadir dalam majlis ijtimaiyyat amal, bahkan Syaikh Ihsan dalam ceramahnya selalu mengatakan : “Siapa yang tidak hadir dalam 6 amalan ijtimaiyyat markaz maka sebenarnya pada hakekatnya tak pernah datang ke Reiwind.

Jika memperhatikan markaz mereka di Reiwind kita akan tercengang dibuatnya, bagaimana tidak? Para tamu yang berjumlah lebih dari sepuluh ribu orang setiap hari dijamu makan gratis dengan lauk pauk daging setiap hari 3 kali ditambah minum susu / cae (teh susu) atau yogurt setiap pagi dan sore. Belum lagi listrik mereka begitu banyak penggunaannya, untuk air mandi, cuci, dan minum. Air kran di sana terasa hangat di musim dingin dan terasa dingin di musim panas.

Ahli dunia akan berfikir bagaimana cara manajemennya? Padahal Reiwind bukanlah pabrik yang punya produksi yang bisa dijual untuk membiayai operasional. Di sana hanya kita temui orang yang sibuk fikirkan agama, suara dakwah antar mereka terdengar seperti lebah, orang bicara kebesaran Allah, saling senyum, salam, dan ikrom terlihat di sana.

Mungkin tak ada satu Negara yang sanggup buat seperti mereka dalam melayani tamu.

MARKAZ KEBON JERUK INDONESIA

Di Jalan Hayam Wuruk 83 di kelilingi oleh kesibukan kantor, toko, bahkan ada yang buka 24 jam. Maka di Masjid Kebon Jeruk hidup amalan masjid 24 jam. Kalau kita datang jam berapa saja maka istiqbal siap layani kita.

Masjid ini merupakan masjid tua yang dibangun oleh seorang Muslim Cina yang makamnya berada di samping kiri masjid jika kita masuk dari pintu belakang dan sebelah kanan masjid jika masuk dari pintu depan.

Makam ini tadinya ada di luar masjid tetapi karena kebutuhan jemaah yang sudah tidak ketampung lagi maka dilebarkan ke belakang. Sekarang makam itu dibatasi dinding antara masjid jadi seolah berada di luar masjid. Jika orang baru datang ke sana maka tak akan tahu kalau itu adalah makam.

Tak ada orang yang khusus ke sana untuk menziarahi makam itu, bahkan dilarang, karena makam dan masjid merupakan cagar budaya yang jadi asset pemerintah ibu kota. Bahkan banyak orang tabligh yang berasal dari daerah tak tahu kalau itu kuburan.

Bersambung….

Popularity: 45% [?]

  1. upin
    November 21st, 2008 at 06:53 | #1

    subhanallah smg kt tetap istiqomah di jalan Allah. amin

    terimakasih.

  2. endarsudarjat (abdurrahman)
    November 28th, 2008 at 23:22 | #2

    ASSALAMU ‘ALAIKUM WR..WB.., Ya..I4jj..penguasa seluruh alam.. keluarkan kami di jalanMu ya ALLAH, istiqomahkan kami dalam perintah-MU. Matikan kami dalam keadaan tengah menyeru/ berdakwah- mengajak taat kepada-Mu. Perbaikilah akhlak-akhlak kami,jadikn kami orang2 yg bermanfaat.. berilah kami ilmu,kesabaran dan kemampuan untuk mengamalkan seluruh perintah agama-Mu.. Ya..ALLAH kami lemah,kuatkan selalu hati KAMI semua penegak agama-Mu. Amin..

    Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh,

    Terimakasih telah datang ke tempat kami. Dan mudah-mudahan apa yang menjadi keinginan dan harapan sdr. dapat dikabulkan Allah swt, dan kita semua menjadi bagian dari ummat da’wah ini.

    Begitu juga kita akan terus mengajarkan kepada anak-anak kita untuk menjadi da’i-da’i Allah swt di muka bumi, seperti mana Nabi Ibrahim As mendidik Nabi Ismal As menjadi da’i Allah. Seorang da’i sepantasnya mendidik da’i kembali. Sehingga Islam menjadi tersebar dan tegak di muka bumi ini.

    Jangan kita berkecil hati dengan orang yang meremehkan kita karena kita mengambil usaha ini, dan juga jangan merasa bersedih hati dengan orang yang menyindir kita karena kita mengambil usaha da’wah ini. Yang harus kita takutkan adalah kemurkaan Allah swt.

    Terimakasih,

  3. endarsudarjat (abdurrahman)
    November 28th, 2008 at 23:31 | #3

    salamu alaika.. Maulana,ana izin meng-copy sebahagian isi materi antum buat dimuat kembali di-blogs “anak tajug majalengka” di opera comunity.com. jzk4jj..

    Silahkan diambil, dan ambillah yang baik.

    Dan jangan gunakan semua bahan yang kami miliki sebagai bahan untuk debat yang tidak memberikan manfaat. Dan juga jangan remehkan kaum muslimin yang belum terjun dalam usaha da’wah, tetapi binalah hubungan baik dengan siapapun termasuk dengan orang yang kurang sreg dengan usaha da’wah ini. Banyaklah belajar dengan alim ulama yang sdr. kenal, dan hormatilah dengan baik.

    Terimakasih

  4. firman
    January 17th, 2009 at 15:03 | #4

    doakan kami agar bisa cepat keluar 4 bulan j.k agar dapat ketemu dan menjadi raja – raja di surga

  5. firman
    January 17th, 2009 at 15:04 | #5

    Allah SWT ciptakan dunia, langit, bumi yang luas, hutan-hutan, lautan yang luas, gunung-gunung, sawah dan lading adalah untuk manusia, tapi manusia diciptakan untuk taat kepada Allah dan RasulNya. Manusia saat ini tidak taat kepada Allah karena lemah Iman. Rasul sabdakan bahwa iman ini bisa naik dan turun bahkan keluar masuk, (naudzubillah) apabila ketika iman kita keluar kita mati.

    Kenapa hari ini seperti ini karena kita belum paham nilai-nilai usaha nubuwwah, seperti anak kecil yang diberikan antara coklat dan cek 1 trilin maka akan memilih coklat. Diri kita ini seperti itu juga, yang masih suka dengan bungkus coklat dari pada cek 1 triliun. Oleh karena itu kita saat ini susah mengambil takazah.

    Karena kita salah meletakkan iman. Zainal Abidin dari Pakistan katakan misal kita punya senjata dan 50 peluru, kemudian ada kucing lewat, lalu kita lemparkan 5 peluru kea rah kucing maka kucing itu pun tidak akan mati, tapi apabila 1 peluru kita masukkan senjata lalu ditembakkan jangankan kucing gajah pun akan mati. Begitu pula kalo kita salah meletakkan iman, kita tidak akan dapat menaati Allah SWT.”

    Iman letaknya tidak di mata, tidak di lidah, ataupun di otak. Tapi di hati, walaupun iman diseminarkan atau diiklankan tetapi belum diletakkan di dalam hati maka belum dapat membuat taat kepada Allah.

    Abu Darda r.hu diberitahu di kampunya ada kebakaran, maka Abu Darda r.hu katakan rumahku tidak akan kebakaran, maka datang lagi orang mengingatkannya bahwa sebentar lagi api ke rumahnya tapi beliau katakan sama bahwa rumahnya tidak akan terbakar, begitu sampai ada 3 x yang memberitahunya tapi jawab beliau sama juga bahwa rumahku tidak akan kebakaran. Lalu ada orang yang kabarkan bahwa api padam ketika akan mendekati rumah Abu Darda r.hu. Abu Darda r.hu katakan kalian hanya melihat dzahirnya saja sedangkan aku melihat bahwa Rasul telah ajarkan do’a yang apabila saya ‘amalkan pagi petang maka semua harta benda akan dijaga oleh Allah SWT.

    Manusia dapat mencapai derajat lebih tinggi dari malaikat dan dapat rendah daripada binatang contoh kawin sesama jenis, membunuh anak sendiri.

    Penyelesaiannya hanya dengan da’wah Rasulullah SAW.

    Masyaikh katakan keadaan umat di jaman Nabi yaitu di Makkah :

    1. Kelompok muslim : pakaian muslim , pikir akhirat

    2. Kelompok kafir : pakaian kafir , pikir dunia

    Ketika di Madinah tambah 1 kelompok

    3. Kelompok Munafik : pakaian muslim, pikir dunia.

    Cara da’wah kita harus sesuai dengan cara da’wah Rasulullah SAW yaitu dengan cara yang sama kepada siapa saja, hanya membawa kalimat Laa ilaahaillallaah Muhammadurrasulullah seperti turunnya hujan yang airnya warnanya sama, kadarnya sama dan bermanfaat untuk semua tumbuhan, tidak untuk jagung nanti airnya warna kuning, untuk pisang airnya warnanya hijau, begitu juga da’wah kita hanya membawa Laa ilaahaillallaah Muhammadurrasulullah dan manfaatnya untuk semua jenis manusia, kepada tukang becak, petani, pedagang, pejabat, direktur maupun presiden semuanya sama.

    Maksud hidup kita bagaimana

    1. Iman sempurna

    2. Ibadah sempurna

    3. Muamalah sempurna

    4. Muasyarah sempurna

    5. Akhlak sempurna

    Apabila 5 ini ada dalam diri kita maka akan masuk surga dengan tersenyum.

    (Pesan Maulana Yusuf dalam sebuah surat yang akan dikirim kepada sebuah jamaah yang akan keluar di Jalan Allah, namun ketika itu beliau terlanjur wafat dan surat itu tersimpan dalam waktu lama, maka Maulana sa’ad yang menemukan surat itu kemudian menyampaikannya :

    “Dalam keluar di jalan Allah hendaknya ada 7 sifat yang harus dibawa yang akan menjadi asbab hidayah untuk seluruh umat :

    1. Kit a keluar di jalan Allah dengan iman dan yakin

    2. Kit a keluar di jalan Allah dengan perasaan takut kepada Allah

    3. Kit a keluar di jalan Allah dengan penuh tawajjuh kepada Allah

    4. Kit a keluar di jalan Allah dengan perasaan cinta kepada Allah (melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya)

    5. Kit a keluar di jalan Allah dengan perasaan risau ( bagaimana nanti setelah mati, bisa nggak jawab pertanyaan kubur, bagaimana keadaan di alam mahsyar, jembatan shirot dll)

    6. Kit a keluar di jalan Allah dengan ikut sunnah Rasulullah SAW 24 jam full

    7. Kit a keluar di jalan Allah semata-mata hanya mengharap ridho Allah SWT. “)

    Da’wah kita jangan hanya dengan karkun saja, tetapi kepada setiap umat.

    Usaha Da’wah ini telah dicontohkan oleh Masyaikh bagaimana pernah Prof. Dr Abdurrahman yang ketika itu keluar di daerah kami (mubayin) di Jakarta. Maka ketika itu pukul 21.30, Prof. Dr Abdurrahman meminta kami(mubayin dan salah seorang temannya) untuk menemani beliau berkeliling di sekitar masjid. Maka tak lama kemudian kami menjumpai sekumpulan anak-anak sedang begadang dan bermain gitar dan ternyata mereka adalah pelajar SMP. Maka di datangi oleh kami bertiga, dan mengucapkan salam kepada mereka. Setelah berkenalan maka Prof pun berbicara sesuai dengan keadaan mereka yang pelajar, bagaimana belajar yang baik, memberikan beberapa ilmu tentang fisika, dll, sehingga mereka pun mendengarkan dengan senang. Maka Prof bertanya kepada mereka, “ Apakah kalian tidak ingin menyenangkan hati orang tua kalian ?” jawab mereka,” iya, kami ingin menyenangkan hati orang tua kami.”, lanjut beliau ,” kalau begitu ikut kami ke masjid untuk makan.”, jawab mereka , “ benar kami boleh makan sama-sama.” Jawab beliau lagi ,” iya semuanya boleh ikut.” Maka mereka semua ikut ke Masjid, sesampai di Masjid, Prof sendiri yang menyiapkan makanan dan mengambilkan minuman. Maka setelah selesai makan, Prof kembali berkata, “ kalian sekarang udah menyenangkan orang tua, bagaimana mau menyenangkan orang tua lagi nggak ?” jawab mereka, “ iya tentu saja”, lalu Prof bertanya ,” kalian sudah sholat Isya’ ?”, jawab mereka belum , lalu Prof katakan ,” sekarang senangkan hati orang tua kalian dengan mendirikan sholat isya’ berjamaah.” Dan mereka pun mau mendirikan sholat , Ketika itu mereka ada yang berpakaian celana pendek dan Prof pun mengeluarkan sarungnya sendiri untuk diberikan kepada anak yang bercelana pendek. Ditanyakan kepada mereka siapa yang bacaan Alqurannya bagus, lalu mereka menunjuk salah satu anak yang akhirnya dijadikan imam dan mulai melakukan sholat berjamaah.

    Kita juga kerja atas orang-orang lama atau yang pernah lama dalam usaha da’wah ini kemudian tidak bergerak lagi, ibaratnya seperti roti yang belum matang masih bantat, dibuang sayang, dimakan tidak enak, dan kalau dia kita biarkan maka dapat lebih rusak sebelum ikut dalam usaha ini.

    Kerja atas ulama yang perlu dikerjakan :

    1. Jangan dalil di depan ulama

    2. Jangan targhib

    3. Jangan tasykil untuk keluar

    Yang dianjurkan

    4. Bawa hadiah

    5. Minta nasehat

    6. Minta do’a

    Bagaimana dengan yang menentang?

    Maulana Sa’ad ketika di Makkah duduk dalam sebuah pengajian manasik Haji, dan beliau tepat di depan di hadapan ulama yang berceramah, setelah selesai menyampaikan pengajian tentang haji, ulama’ itu mulai menjelek-jelekkan Maulana Ilyas dan usaha da’wah ini, namun Maulana Sa’ad tetap memperhatikan dengan penuh perhatian tanpa berubah raut wajahnya. Selesai majelis Maulana Sa’ad yang ketika itu dengan 2 temannya pun ingin pulang, namun ada khodim (pelayan) ustadz penceramah melihat mereka, dan menduga sepertinya bukan orang Arab, lalu Maulana Sa’ad dan temannya didatangi. Ketika itu Maulana Sa’ad berada di depan dan 2 temannya berada di belakang. Khodim itu bertanya kalian darimana, jawab temannya Maulana Sa’ad, “ kami dari India.”, maka terkejut khodim tersebut lalu bertanya, “kalian kenal dengan Maulana Ilyas.” Lalu dijawab oleh temannya, “ iya dan beliau adalah cucu Maulana Ilyas(dengan menunjuk Maulana Sa’ad).”, khodim itu pun terkejut lagi dan mendatangi Maulana Sa’ad, lalu bertanya, “ Tuan, tuan tadi dengar apa yang dibicarakan ustadz.” Jawab Maulana Sa’ad,” Iya, mulai dari awal hingga akhir aku dengar semua, Masya Allah belum pernah saya dengar pengajian tentang manasik Haji selengkap itu.” (Maulana Sa’ad tidak menyinggung satu hal tentang Maulana Ilyas dan usaha Da’wah), maka khodim itu pun bercerita kepada Ustadz tersebut tentang hal ini. Keesokan harinya ada pengajian ustadz tersebut lagi namun kali ini Maulana Sa’ad agak terlambat sehingga duduknya di beberapa shof (5 shof), ketika Maulana Sa’ad datang maka Ustadz tadi langsung mendatangi Maulana Sa’ad dan menjabat tangannya dan meminta maaf, setelah itu ustadz tadi kembali ke tempatnya untuk menyampaikan pengajiannya dan selesai pengajian tidak lagi menjelekkan Maulana Ilyas dan usaha da’wah ini.

    Maka inilah pentingnya kelembutan kita bawa dalam usaha da’wah ini.

    Selanjutnya Mubayin menceritakan tentang kepentingan dan keperluan Jord di P jawa pada bulan agustus nanti.

    Insya Allah semua niat hadir dalam jord dan siapkan diri kita dan rombongan untuk keluar di jalan Allah SWT.

  6. MUhammad Ikbal
    January 17th, 2009 at 15:14 | #6

    SULUQ NGASENGKO USTAD
    kalo kita tidak dakwah, tdk ada risau kepada umat minimal risau diri sendiri apakah selamat dari adzab Allah SWT maka orang2 Islam akan diinjak-injak oleh ZIONIS seperti yg terjadi di Palestina

  7. iim
    April 27th, 2009 at 09:31 | #7

    Alhamdulilah penjelasan sdrku cukup jelas & bagus utk diingat sebagai bahan perenungan bahwa gerakan Jama’ah ini InsyALLAh ada keberkahan didalamnya & diamalkan spt 6 sifat para sahabat, amin, saya mau print utk dibaca lebih mendalam serta utk bekal, klau2 ada masyarakat yg belum memahami kerja Dakwah ini, mohon ijin dari SYaikh,

    Wassalam,

    iim

    Khalaqah Cisauk-Serpoeng

  8. awang klate
    July 15th, 2009 at 16:38 | #8

    pohon kesabaran itu pahit…tapi buahnya amat manis…

  1. No trackbacks yet.