Home > Komentar Fatwa Salafi > Melepas Kedok Jemaah Tabligh, bagian 5 (Habis)

Melepas Kedok Jemaah Tabligh, bagian 5 (Habis)

Sumber : http://imanyakin.wordpress.com/2008/08/13/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/

MENGAPA HARUS KE INDIA DAN PAKISTAN BUKAN KE MEKKAH ATAU MADINAH ?

Banyak anggota mereka yang telah menghabiskan harta mereka agar dapat datang ke India dan Pakistan belajar cara kerja dakwah yang asal. Sampai-sampai orang jual rumah, kendaraan, ternak, atau kehilangan modal usaha gara-gara ingin pergi ke sana. Bahkan dalam ceramah-ceramah mereka di markaz pusat maupun daerah selalu diakhiri dengan ajakan untuk pergi ke sana. Ada apa gerangan ?

Beredar di tengah masyarakat bahwa kiblat mereka jemaah tabligh bukan ke ka’bah, mereka tak mau pergi haji, haji mereka ke India Pakistan, dsb.

Orang tua di antara mereka mengatakan kami datang ke INDIA PAKISTAN untuk belajar ke tempat yang sudah hidup amal DAKWAH, bukan untuk beribadat di sana. Ada juga yang mengatakan sebagaimana orang ingin belajar sepak bola harus ke BRAZIL dan INGGRIS karena sudah sukses menjadi juara dunia. Begitu pula belajar HADITS orang perlu ke MADINAH, belajar qiraat ke MESIR, belajar madzhab Imam Syafi’I ke negeri MELAYU, belajar WAHABY ke ARAB SAUDI, belajar madzhab Hanafy ke KHURASAN. Maka apa salah kami belajar DAKWAH ke INDIA dan PAKISTAN karena di negeri itulah hidup amal dakwah.

Masjid banyak yang hidup 24 jam tidak seperti di Negara lain masjid banyak di kunci termasuk di MAKKAH dan MADINAH jika tak musim haji terkunci. (Penyalin : Rumah Allah DIKUNCI!!?) Padahal Rasulullah saw mulai kerja dari Masjid Nabawi yang hidup dengan amal 24 jam. Di Reiwind amalan hidup 24 jam sebagaimana Masjid Nabawi dahulu di zaman Rasulullah saw.

Ada juga di antara mereka yang katakan : Kami ke INDIA mau lihat sejarah bagaimana hasil kerja dakwah yang dibuat oleh Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A terhadap orang MEWAT. Suatu kampung pemakan bangkai, tidak mengenal Allah, tak pernah ibadah, sampai menjadi kampung yang penuh kesalehan.

Yang lain mengatakan banyak orang yang menuduh kami haji ke Pakistan bukan ke Mekah terkadang mereka sendiri belum berhaji. Lihatlah di markaz kami, di sana para hujjaj tak pernah di panggil Pak Haji, bahkan mereka berkali-kali haji, ini bisa dibuktikan jika kita Tanya para AHLI SYURA mereka rata-rata lebih dari 3 kali ke haji.

Di antaranya juga katakan : Kami datang untuk Shuhbah (berteman rapat / bershahabat untuk mengambil manfaat dari ILMU maupun AMAL) dengan ulama-ulama yang telah banyak berkorban dalam kerja dakwah, dan melihat kisah nyata kehidupan mereka yang telah jadikan dakwah sebagai MAKSUD HIDUP. Sebab jika kami tidak lihat mereka hanya baca tentang dakwah maka tak akan bisa kami terapkan.

Sebagaimana penjahit yang hanya membaca buku bagaimana cara menjahit jas tetapi tak pernah lihat bagaimana jas dibuat oleh penjahit yang lebih senior maka tak mungkin bias jahit. Memang kalau kita mau jujur mengamati kepergian mereka ke India dan Pakistan tak merubah cara ibadah, dan cara mu’asyaroh mereka, artinya tidak ada misi madzhab ataupun aliran yang dibawa. Mereka malahan lebih tenggelam dalam masyarakat dan memikirkan keadaan mereka yang jauh dari agama. Mereka shalat berjamaah dengan orang banyak, cara shalat pun tak berikhtilaf dengan umat Islam lainnya hanya saja mereka lebih menekankan sholat berjamaah, di awal waktu, dan di masjid.

Jadi kebanyakan tuduhan-tuduhan orang terhadap mereka kebanyakan hanya ikut-ikutan dan mencari-cari celah kesalahan tanpa melihat perubahan yang terjadi terhadap orang yang pulang dari sana.

BEBERAPA KRITIKAN TERHADAP JEMAAH TABLIGH

Kalau kita mau jujur melihat kritikan yang beredar sejak awal usaha didirikan oleh Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A, maka kita akan dapati kritikan dengan materi yang sama. Karena usut punya usut selalu bersumber dari kitab yang sama yang selalu dijadikan topik yang berulang-ulang. Di antara kritikan yang berulang-ulang itu adalah :

1.      Mereka tak memiliki Tauhid Uluhiyyah hanya membicarakan Tauhid Rubbubiyyah saja.

2.      Mereka memiliki kebiasaan TAWAF di kuburan.

3.      Masjid-masjid mereka di dalamnya ada kuburan.

4.      Buku Fadhilah amal mengandungi hadits-hadits dhoif.

5.      Mereka ahli bid’ah di dalam ibadah.

6.      Dakwah mereka kepada hal yang rendah yaitu shalat bukan dakwah untuk murnikan agama yakni anti terhadap bid’ah sehingga tak beresiko seperti Rasulullah saw.

7.      Mereka merupakan gerakan sufi modern.

8.      Tinggalkan anak istri dan tidak mengurusnya adalah suatu kedzoliman

9.      Mereka dakwah tanpa ilmu sehingga berbahaya untuk umat Islam

10.  Haji mereka ke India Pakistan

11.  Mereka berlebihan dalam memuji masyaikh mereka (Ghuluw)

TANGGAPAN MEREKA TERHADAP KRITIKAN

Umumnya mereka tidak menanggapi kritikan-kritikan yang beredar bahkan mereka anggap angin lalu saja sehingga semakin menambah sakit hati orang yang mencemooh mereka. Karena jika kritikan ditanggapi maka orang yang kritik merasa kritikannya berarti atau merasa menang atas mereka. Tetapi aneh! Mereka tak tanggapi kritikan sehingga banyak ahli kritik yang benci mereka stress atas sikap mereka.

Tak ada satu buku pun ditulis untuk jawab kritikan. Dakwah mereka istikhlash seperti kuda INDIA yang dipakaikan kaca mata kuda tak lihat kiri kanan, tak lihat kerja orang lain, tak lihat apa kata orang, mereka tawajjuh hanya kepada tertib yang mereka telah sepakati.

Dalam mudzakaroh enam sifat mereka ada point tentang tashihun niyat / meluruskan niat. Di sana dikatakan bahwa cirri orang ikhlash adalah Sikapnya sama saja dengan orang memuji atau orang yang membenci. Mereka telah buktikan, walaupun dihina, dicaci, tetap mereka memberi salam kepada siapapun, selalu tersenyum, bahkan justru para pengkritik banyak yang tak mau jawab salam mereka, memalingkan muka dari senyum mereka, bahkan meludah di hadapan mereka.

BETULKAH JEMAAH TABLIGH SUATU ALIRAN KESUFIAN GAYA BARU ?

Banyak yang katakan bahwa para masyaikh jemaah tabligh adalah penganut Thariqat Chistiyyah. Hal ini tak bias dipungkiri terlihat dari buku yang ditulis oleh Syaikh Zakariya Al Kandahlawi dalam bukunya “Thariqat menurut Maulana Zakariya yang diterjemahkan oleh Ustadz Qosim Timori. Thariqat mereka bersanad sampai Ali Bin Abi Thalib R A.

Tetapi keanehan terjadi di dalam kerja dakwah yang mereka sebarkan tak pernah sedikit pun perintah orang untuk amalkan thariqat tertentu, hatta kepada orang yang sudah puluhan tahun ikur kerja dakwah sekalipun. Bahkan menurut sejarah yang shahih kerja tabligh yang ada sekarang dimulai ketika Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A menganggap cara-cara taklim, pengajian, thariqat yang pernah dinuatnya atas orang Mewat mengalami kegagalan dalam merubah mereka.

Dengan keilmuan yang luas Syaik Ilyas Rah A pernah membayar orang-orang Mewat untuk duduk di majlisnya dan dengan thariqatnya beliau pernah ajarkan orang Mewat untuk bersihkan Iman mereka. Tetapi semua mengalami kegagalan, barulah Allah beri taufiq untuk kerja Tabligh ini.

Lihatlah!! Mereka di masjid bukan untuk berdzikir saja tetapi mereka bertemu manusia untuk jadikan seluruh manusia berdzikir kepada Allah. Setelah itu mereka hidupp seperti biasa punya istri dan anak, punya pekerjaan. Adakah ajaran sufi seperti ini? Perlu kejujuran dalam menjawabnya.

Anehnya mereka pencemooh mengatakan Tabligh Sufi Modern karena kesamaan ucapan antara Syaikh Yusuf Rah A dengan tokoh sufi seperti Al Busyairi Rah A, dsb. Bukankah ucapan yang baik dan haq perlu selalu disampaikan walau dari siapapun. Bahkan pepatah Arab katakan : Ambillah nasehat walaupun dari dinding.

Lihatlah dalam hadits tentang perkataan Raja Hiraclius dikutip kembali oleh para shahabat dan para perawi hadits, tidak menjadikan shahabat atau perawi hadits dikatakan sebagai orang Romawi.

Inilah kedangkalan ilmu para pencemooh yang hanya didasari hasad sehingga Allah SWT tampakkan kebodohan mereka walaupun mereka dikecam justru menjadi promosi gratis bagi mereka sehingga orang yang berhati bersih jadi tablighi karena ingin tahu yang sebenarnya.

Ketika mereka katakan Jemaah Tabligh Khawarij Modern, maka orang langsung bisa lihat siapa yang Khawarij.

Ternyata sifat Khawarij yang tak mau salah (Ali RA dan Muawiyyah RA dimata Khawarij keduanya salah yang betul dia sendiri) justru ada pada para pencemooh.

Adakah Jemaah Tabligh salahkan orang ?? Baik dalam buku maupun dalam bayan mereka ?? Tidak!!

Adakah Jemaah Tabligh membid’ahkan orang sehingga tak mau shalat berjemaah di masjid, atau mau shalat hanya di masjid tertentu ?? Tidak !!

Adakah pelarangan dari syuro mereka atau ustadz mereka yang melarang duduk di majlis taklim yang diajar oleh ustadz yang bukan karkun ?? Tidak!!

Bahkan setelah khuruj dianjurkan agar lebih dekat dengan ulama di kampung mereka masing-masing.

Dengarlah ucapan Syaikh Maulana Muhammad Saad Al Kandahlawi : Wallahi!! Doa Masnunah (Doa masuk WC, Doa makan, dsb) yang diajarkan oleh Rasulullah saw jauh lebih hebat jika dibandingkan amalan yang diajarkan mursyid-mursyid dzikir.

Inikah yang dinamakan sufi?? Tidak, bahkan mereka adalah orang yang cinta sunnah Nabi saw.

Sufi menurut Ibnu Taimiyyah berasal dari kata suf artinya wol, yakni sebagian penduduk Kufah yang ahli ibadah berpakaian wol. Lihatlah baju jemaah tabligh apakah berasal dari wol?? Capek deh…

JEMAAH TABLIGH TINGGALKAN ANAK ISTRI LI I’LAI KALIMATILLAH

Jadi perginya seorang keluar di jalan Allah bukan untuk habiskan waktu di masjid, duduk, dzikir, pegang tasbih, kalaulah ini yang dibuat maka ini adalah bentuk kedzaliman terhadap keluarga. Tetapi para shahabat dahulu tinggalkan istri berbulan-bulan bahkan ada Al Faruq ayah dari Rabi’ah Al Faruq seorang muhaddits telah tinggalkan istri 27 tahun adalah untuk meniggikan kalimat Allah dengan berdakwah.

Datang dari kampung ke kampung, Bandar ke Bandar, dengan cara membentuk Jemaah dakwah. Bahkan di zaman Rasulullah saw tak kurang dari 150 jemaah telah dihantar Rasulullah saw. Dan Nabi sendiri telah ikut tak kurang dari 25 kali. Kini orang mau tegakkan agama hanya duduk di majlis taklim dan mencela sesama muslim…Mungkinkah???

TERTIB DAKWAH JEMAAH TABLIGH ADA DALAM KITAB HAYATUSHAHABAH

Amir dakwah mereka yang kedua yakni Maulana Muhammad Yusuf Rah A telah berkata: Kalau saya tuliskan suatu kitab ushul atau tertib kerja dakwah ini maka yang membaca hanyalah orang-orang yang ikut dalam kerja dakwah saja sedangkan yang lain tak baca. Padahal dakwah ini memiliki ushul dalam kehidupan sahabat. Karena Allah jadikan shahabat sebagai contoh tauladan umat. Untuk itulah saya tuliskan kitab HAYATUSSHAHABAH.

Maulana Ahmad Lat telah berkata bahwa kitab Hayatusshahabah sudah cukup untuk dijadikan ushul dalam kerja dakwah, tak perlu tambahan apa-apa, siapa yang ikut cara mereka akan ada jaminan keselamatan baginya.

Hayatusshahabah dihimpun dalam 3 jilid. Ketiga jilid merupakan keajaiban yang besar, karena belum ada kitab hadits yang ditulis dengan cara seperti ini.

Permulaan kitab ditulis dengan ayat :

“Dari kalangan orang beriman ada laki-laki yang telah membenarkan janjinya kepada Allah yakni mereka syahid dan mencari cari jalan untukk syahid”

Seolah-olah Maulana Yusuf Rah A ingin katakan inilah kitab yang berisi kisah orang yang telah tunaikan janjinya kepada Allah SWT. Akhir dari kitab ini adalah carita tentang bantuan-bantuan Allah secara ghaib yang diberikan kepada para shahabat. Sehingga tengah-tengah antara keduanya adalah berisi cara untuk datangkan bantuan itu. Mereka menamsilkan bahwa kehidupan shahabat ibarat lautan yang mana jika orang akan berenang di dalamnya harus tanggalkan dulu pakaiannya dan diganti dengan baju renang.

Ayat pembuka seolah pakaian yang bias menyelam dalam kehidupan mereka. Selama kita tak tanggalkan pakaian kita dan diganti dengan pakaian shahabat maka kita tak akan faham kehidupan mereka. Pakaian kita yakni saya seorang dokter, seorang guru, seorang ayah, seorang suami, harus kita tanggalkan dahulu dan menggantinya dengan pakaian mereka yakni Syahid dan Bersiap-siap Syahid.

Sehingga aneh jika ada seorang ustadz yang mengkritik mereka dan menanyakan mana dalil dakwah dengan cara keluar di jalan Allah ?? Mana dalilnya tinggalkan anak istri untuk dakwah ??  Mana dalilnya 4 bulan 40 hari, karena kisah tersebut telah ada dalam kitab hayatusshahabah dengan sanad hadits yang jelas.

Hanya saja menurut mereka orang yang tak mau mujahadah untuk meniru kehidupan shahabat tak akan faham dengan kehidupan mereka. Bagaimana mungkin orang akan faham agama dengan cara satu keadaan yang tak sama. Hanya mengkajinya di majlis taklim setelah itu pulang ke rumah ngobrol sama anak istri, bahkan nonton TV, kemudian shalat, dll.

Sementara para shahabat Nabi bermujahadah dalam terik matahari, kehausan, berhadapan dengan musush, musim dingin, dsb. Sedangkan Al Quran turun kepada mereka dalam keadaan suasana yang berlainan bukan di majlis taklim. Surat At Taubah turun di musim panas, surat Al Ahzab di musim dingin dsb. Mustahil akan bias memahami Al Quran tanpa mengambil pengorbanan mereka.

JEMAAH TABLIGH BUKAN ORGANISASI TETAPI DALAM KERJA DAKWAHNYA TERORGANISIR

Di mulai dari penanggung jawab mereka untuk seluruh dunia yang dikenal dengan Ahli Syura di Nizamuddin, New Delhi, INDIA. Kemudian di bawahnya ada syura Negara, misalnya : SYura Indonesia, Malaysia, Amerika, dll. Menurut pengakuan mereka ada lebih dari 250 negara yang memiliki markaz seperti Masjid Kebon Jeruk Jakarta.

Kemudian ada penanggung jawab propinsi, untuk Indonesia sudah ada di semua propinsi. Di bawahnya ada peannggungjawab Kabupaten, seperti : penanggung jawab Solo, Purwokerto, dll. Di bawahnya ada Halaqah yang terdiri dari banyak mahalah yang minimal 10 mahalah yakni masjid yang hidup amal dakwah dan masing-masing mereka ada penanggungjawab yang dipilih oleh musyawarah tempatan masing-masing.

Di India ada masjid yang menjadi Muhallah sekaligus halaqah dimana di dalam masjid hidup 10 kelompok kerja (jemaah yang dihantar tiap bulan 3 hari). Semua permasalahan diputus dalam musyawarah sehingga tak ada perselisihan di antara mereka dan mereka punya sifat taat kepada hasil musyawarah.

Walaupun mereka tak pernah katakan bentuk mereka kekhalifahan seperti harakah lain yang mempropagandakan Khilafatul Muslimin, tetapi system jemaah tabligh terlihat begitu rapi sehingga mereka saling kenal satu sama lain karena jumlah orang yang pernah keluar di jalan Allah tercatat dan terdaftar di markaz dunia.

Setiap 4 bulan mereka berkumpul musyawarah Negara masing-masing kemuadian dibawa ke musyawarah dunia di Nizamuddin.

Musyawarah harian ada di mahalah masing-masing untuk memikirkan orang kampung mereka masing-masing sehingga biarpun ada yang pergi tasykiil tetaplah ada orang di maqami yang garap dakwah di sana. Orang yang suka dakwah sendiri-sendiri / penceramah suka kritik mereka katanya kenapa harus dakwah jauh-jauh ke luar negeri kalau tempat tinggal sendiri aja belum beres. Hal ini karena dakwah jemaah tabligh berjamaah sehingga walaupun mereka pergi tasykiil di maqami ada orang yang tetap jalankan dakwah.

Yang jelas mereka telah amalkan ayat :

“Hendaklah ada di antara kamu umat (Ibnu Abbas mengartikan jemaah) yang mengajak kepada kebaikan, memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang yang mendapat kejayaan.” (QS Ali Imran)

PANDANGAN JEMAAH TABLIGH TENTANG KEKHALIFAHAN

Kekhalifahan adalah janji Allah dalam AlQuran, artinya pasti Allah beri sebagaimana dalam surat An Nuur :

Allah berjanji kepada orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih pasti sungguh mereka akan dijadikan khalifah di muka bumi.

Syura mereka beri bayan : Dua orang anak dijanjikan ayahnya : Nak, jika kamu lulus dan nilai kamu baik maka ayah akan beri kalian mobil. Anak yang pertama sibuk memenuhi syaratnya, belajar semakin rajin, siang dan malam, tak fikir mobil, maka pada waktunya akhirnya ia lulus dengan nilai yang baik. Anak yang kedua sibuk pergi ke showroom mobil, lihat-lihat, Tanya harga, duduk-duduk di joknya, dll. Setiap hari tidak pernah belajar hanya sibuk bicarakan mobil. Maka pada waktunya akhirnya ia tak lulus, karena nilainya jelek.

Tuan-tuan begitulah kekhalifahan, ada orang yang sibuk propagandakan, bicarakan, diskusikan tetapi lupa penuhi syaratnya. Bahwa syarat kekhalifahan diberikan Allah SWT adalah karena Iman dan Amal Shalih.

JEMAAH TABLIGH ALIRAN MASYAIKH MANIA / BERLEBIHAN DALAM IKUT MASYAIKH (GHULLUW), BENARKAH ???

Datanglah ke markaz Nizamuddin, dengarkan ceramah masyaikh mereka, Syaikh Maulana Muhammad Saad Alkandahlawi : Seandainya Maulana Ilyas Rah A hidup kembali dan beliau mengatakan wahai manusia dengar !! Jangan jalani kerja tabligh yang saya ajarkan kepada kalian, karena saya keliru dan ini kesesatan.” Maka kita jangan percayai Maulan Ilyas Rah A karena kerja ini adalah kerja Anbiya, kerja yang haq di sisi Allah SWT.

Bahkan orang-orang yang pergi ke Nizamuddin tak ada satupun yang menziarahi Makam Syaikh Ilyas Rah A, tak ada targhib / anjuran, apalagi diharuskan untuk ziarah ke makam Syaikh Ilyas Rah A. Kebanyakan mereka pergi ke Nizamuddin 40 hari tetapi selama itu tak ada program ziarah makam seperti kebanyakan orang yang adakan ziarah ke wali-wali. Bahkan banyak yang pergi ke sana sampai pulang tak tahu tempat makam Syaikh Ilyas Rah A termasuk penulis yang pernah datang ke sana tak ada yang mau tunjuki dimana makam itu. Wallahi!!

Tuan-tuan buktikanlah!! Datang ke sana, kalian akan tahu jawabannya bahwa mereka bukan kepada masyaikh mereka tetapi mereka taat kepada Rasulullah saw untuk meneruskan kerja mereka. Berbeda dengan para pencemooh yang suka menggunakan lisan Syaikh mereka dalam keburukan akhlaq. Menurut Syaikh anu, anu…jemaah tabligh sesat. Jadi mereka kutip omongan syaikh bukan dalam kebaikan, sedang jemaah tabligh ikut dalam kebaikan kepada masyaikh mereka.

Popularity: 72% [?]

  1. November 20th, 2008 at 01:27 | #1

    Mudah2an tulisan ini mendorong saya dan ummat Islam lainnya untuk semakin menambah pengorbanan harta, diri, dan waktu untuk agama Allah ta’ala. Amiin.

  2. kamal
    November 25th, 2008 at 07:21 | #2

    banyak2 istigfar,,semoga Alloh swt mengampuni kita,,,,karena yg haq pasti banyak cemoohnya,,jangan kita,,para nabi dan rasul pun tidak adsa yang luput dari cemooh,,,so be patient,,Alloh pasti tahu hambanya yg haq,,,keep goin dakwahnya,,,

    Sdr. yang dimuliakan Allah swt,

    Ya, memang kita harus banyak berdo’a kepada Allah swt. Sehingga kita dapat terjaga dalam iman dan amal sholeh. Allah swt yang memberikan hidayah, dan bukan kita yang memberikan hidayah.

    Sehingga kita dituntut untuk dapat mengerjakan apa yang menjadi asbab turunannya Hidayah Allah swt. Jika ada yang kurang senang dengan usaha da’wah ini, maka tetaplah baik kepada kaum muslimin dan juga do’akan kaum muslimin. Sehingga kita sendiri banyak dido’akan oleh para Malaikat.

  3. endarsudarjat (abdurrahman)
    December 18th, 2008 at 20:49 | #3

    Assalamu ‘alaikum wr.wb., Ya Allah,berilah hidayah ya Alloh kepada kami semua,juga para pencemooh usaha kerja kami. Satukan hati kami,mudahkan kami bersama bergandeng tangan dalam usaha kerja dakwah ini untuk bersama mengajak umat ini taat kembali pada Allah. Sebagaimana telah dicontohkan Rasululloh saw panutan kami dan para sahabat.. Amiin.. Amiin ya Allahu ya Karim.. istiqomahkan kami untuk keluar di jalan Allah.. Wassalamu’alaikum wr.wb..

  4. dikyzulham
    February 24th, 2009 at 07:36 | #4

    ikut dulu usaha dakwah ini tapi dengan niat yang betul yaitu mencari riho Allah SWT ,jangan mencari keburukan orang lain ,jika niatnya salah pasti nanti dapatnya salah akan tetapi jika niat betul insya Allah nanti ditunjuki oleh Allah SWT jalan yang benar

  5. abu faura
    March 20th, 2009 at 11:00 | #5

    Ya Alloh, pilih aq dan org islam utk istiqomah dalam mnyeru mnsia kpd Mu. Brngkatkan aq 4bln, april ini ya Allah. Perbaiki kami org islam ya Alloh. Perbaiki iman,ibdah,muamalah,muasyaroh serta akhlaq kami ya Alloh. Matikan kami dlm da’wah. Bngkitkan kami bersama org2 yg menyeru pd Mu pagi dan petang. Amin

    Amin, Ya Allah Rabul ‘Alamiin.

  6. amild
    March 22nd, 2009 at 03:58 | #6

    ASALAMUALAIKUM..YA ALLAH masukkanlah saya dalam usaha daqwah ini..dan berikanlah keluarga saya kepahaman.amien

  7. pratiara
    March 25th, 2009 at 05:29 | #7

    selamat berdakwah semoga hidayah tersebar ke seluruh alam

  8. bujang paris
    April 28th, 2009 at 11:55 | #8

    Assalamu’alaikum wr.wb
    saudaraqu…
    apakah ada contoh dakwah yang lebih dari yang rasulullah ajarkan…
    cuma dia suri tauladan kita…
    janganlah engkau menambah nambah dan mengada(bid’ah)..
    seandainya rasulullah tahu saudara saudara menambah nambah ajaran nabi SAW…
    beliau akan menangis…
    agama islam sudah lengkap…
    segala hal dalam berbentuk aqidah,ibadah (aqidah) telah mutlak diatur beliau..
    sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW pada haji wada’ :
    “telah kusempurnakan islam agamamu, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya kamu akan selamat”
    mudah mudah saudara kembali hanya kepada Alqur’an dan Sunnah…
    semangat amal kalian bagus tapi arahkanlah kepada tauhid, aqidah dan ibadah yang benar,yang telah sempurna yang hanya dari rasulullah…

    Wa’alaikumus salam wr. wb.

    Terimakasih atas nasehatnya, dan memang kita perlu saling menasehati di kalangan kaum muslimin. Tetapi juga kita perlu mendapatkan pandangan ataupun penjelasan dari kaum muslimin yang lain, sehingga kita ini tidak hanya menilai satu perkara dari pandangan kita sendiri dan tidak memperhatikan bagaimana pandangan orang lain. Kita dapat bermudzakarah lebih luas dan membuka wacana dalam forum, sepertu myQuran dan Sidogiri. Silahkan undang kami dalam forum seperti itu.

  9. buyung
    April 28th, 2009 at 12:07 | #9

    Assalamu’alaikum wr.wb
    ada satu pertanyaan…
    wahai akh jema’ah tabligh..
    mengapa akh melakukan dakwah dengan cara yang contohnya gak ada dari nabi…
    apa jama’ah tabligh lebih tahu dari pada nabi muhammad saw tentang cara dakwah yang benar?

    Wa’alaikumus salam wr. wb.

    Apakah sdr. mau membuka wacana lebih luas? Atau hanya menilai semata dan tidak mau berusaha mengetahui dari kaum muslimin lainnya?

  10. PRAYITNO
    April 30th, 2009 at 02:56 | #10

    Saya sangat merasa bahagia sekali setelah ikut langsung jamaah tablig selama 3 hari, sesuatu yang saya takutkan ternyata tidak terbukti, dulu sy takut klo JT (Jamaah Tablig) itu sesat, membawa aliran baru, jamaahnya orang2 tak berilmu, dll. Saya merasa malu dan berdosa tlah berperasangka buruk sangka kepada mereka yang tlah menda’wahkan dan memperjuangkan agama Allah..dengan ikhlas tanpa mengharapan imbalan dari siapapun..
    Semoga Allah slalu memberikan kekuatan dan kesabaran pd kita semua amin

    Amin.

  11. Rusdarmawan
    May 7th, 2009 at 09:44 | #11

    Teruslah berdakwah dan bersabar.dakwah kalian mengajak orang islam untuk shalat jamaah dimasjid,mendengarkan ayat2 quran & hadis2 sahih,dan menganjurkan utk berakhlak yg dicontohkan Muhammad SAW. Kalian diridhai Allah. Allah sendiri yg akan membuat perhitungah kepada orang2 yg menghalangi setiap usaha dakwah ini. InsYAllah.

  12. unerpc77
    May 17th, 2009 at 10:10 | #12

    Kepada Ibu Yang dimuliakan Allah swt,

    Pertama kali, kami mengucapkan terimakasih atas pandangan dan kirimannya yang disampaikan kepada blog kami. Dan kami sangat senang suami Ibu telah terjun dalam usaha da’wah ini (orang menyebutnya sebagai jama’ah tabligh).

    Kami sendiri mempunyai istri dan anak-anak yang sedang dibina, tentunya mencintai istri dan anak-anak itu tidak dapat melebihi cinta kepada Allah swt dan Rasulullah SAW. Tetapi bukan berarti kami harus menapikan istri dan anak-anak, karena hal ini sudah jelas dalam al-quran dan juga hadits Rasulullah SAW. Apalagi kami sering bermudzakarah pentingnya mengikuti perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah SAW, seperti para Shahabat RA yang mulia.

    Seorang istri mempunyai hak terhadap suami begitupun juga anak-anak mempunyai hak terhadap ibu bapaknya. Usaha da’wah ini sangat menekankan pada mudzakarah dan musyawarah. Di beberapa daerah memang ada usaha khusus untuk kalangan istri/ibu, sehingga hal ini dapat memperjelas perkara-perkara yang berhubungan dengan usaha da’wah.

    Seorang istri dapat menyampaikan hal-hal yang dianggap penting kepada istri karkun lainnya agar diketahui dengan baik, terutama hubungan dengan suami-istri yang berhubungan dengan usaha da’wah ini. Kita boleh menyampaikan perihal kurang perhatian suami kita yang kita anggap kepada istri karkun lainnya secara baik-baik, dan tentunya istri karkun yang dimaksud adalah yang cukup baik dan dapat menyampaikan kepada suaminya yang akhirnya bisa bermudzakarah dengan suami kita. Atau kalau ada anak-anak laki-laki kita sudah besar, anak-anak kita dapat berhubungan dengan markaz langsung dan menyampaikan kepada sesepuh di sana.

    Sekarang ini telah banyak jama’ah masturah yang keluar (khuruj) selama 3 hari bahkan 40 hari. Dan jama’ah ini ditemani oleh suaminya masing-masing ataupun ahli keluarganya (muhrim tentunya) yang sudah paham dengan usaha da’wah ini. Sehingga kadangkala kalau sangat lama tidak bertemu dengan suaminya, karena memang ketiak keluar ini dipisahkan tempatnya. Biasanya suaminya meminta ijin kepada amir rombongan untuk dapat bertemu dengan istrinya. Biasa suami yang rindu sangat berkeinginan bertemu istrinya, mungkin saja untuk membeli sesuatu bersama. Karena tentunya ada hal yang hubungan infirodhiyyah.

    Dan untuk menyampaikan usulan kita kepada suami, maka pertama kali apakah suami kita yang sudah terlibat dalam usaha da’wah ini sudah membuat ta’lim rumah secara teratur. Maka mintalah perhatian kepada suaminya untuk membuat ta’lim rumah dan juga tajwid (halaqah) quran untuk keluarga di waktu yang sama. Hal ini sangat bermanfaat untuk satu keluarga untuk saling menyampaikan pandangan atau usulan kepada keluarga lainnya.

    Kami sangat mendorong kepada Ibu untuk meminta kepada suami membuat ta’lim rumah, dan karkun ini sebenarnya harus sangat serius menjalankan ta’lim rumah dengan istri dan anak-anaknya. Bahkan sampai makan bersama saja juga dilakukan, hal ini untuk menjaga hubungan keluarga dan menambah perhatian semuanya.

    Suami memang harus bertanggung jawab terhadap keluarga, termasuk urusan harta bendanya sebagai keperluan hidup dari istri dan anak-anaknya. Dan kita sebagai istri boleh menuntut hal ini dengan baik kepada suami, karena merupakan hak dari istri dan anak-anak. Islam ini sangat indah jika dipelajari dengan baik. Itulah suami sangat didorong untuk berkerja, dan para Shahabat RA banyak memperlihatkan tanggung jawab ini dengan baik.

    Sekian dahulu …

  13. unerpc77
    May 19th, 2009 at 14:47 | #13

    terimakasih pak atas commentnya…

    Kepada Ibu yang terhormat,

    Apakah di rumah sudah ada ta’lim rumah bersama suami dan anak-anak? Jika suami belum membuat ta’lim rumah, maka sebaiknya meminta ataupun mendorong suami untuk membuat ta’lim rumah.

    Ta’lim rumah ini merupakan aktifitas harian, dan dapat dibaca kutab fadhilah amal ataupun riyadhush sholihin bersama-sama dengan suami dan anak-anak.

    Doronglah suami untuk membuat ta’lim rumah ini, apalagi suami sudah banyak terlibat dalam usaha da’wah (orang menyebutnya sebagai JT). Ta’lim rumah ini akan meningkatkan komunikasi antara suami dan istri (ibu sendiri), dan juga antara Bapak dan anak-anak.

    Teman kami yang telah lama mengikuti usaha da’wah ini selalu berusaha menghidupkan ta’lim rumah, bahkan ada satu rumah tangga di Srilangka. Seorang anak mengenal usaha da’wah ini, dan kemudian tidak mau diajak makan oleh orangtuanya. Sudah berkali-kali dirayu, tidak juga berhasil. Akhirnya si anak ini berkata bahwa jika saya tidak makan mungkin sakit beberapa hari, tetapi ibu dan bapak tidak sholat saya akan lebih sedih lagi karena nantinya disiksa lebih lama dan pedih lagi. Dengan asbab sederhana ini akhirnya kedua orangtuanya mau sholat lagi.

    Ada lagi kisah lainnya, ada seorang suami selalu bertengkar dengan istrinya. Satu ketika suami ini mengikuti usaha da’wah ini. Selanjutnya suami ini keluar 3 hari. Maka ketika pulang, apapun ucapan istrinya tidak lawannya. Dan satu ketika suaminya ini mengundang makan, dan ketika sudah mulai duduk. Maka suami ini menyuapinya mulut istrinya dengan makanan yang sudah disediakan, tentunya dengan perasaan penuh kasih sayang. Dan akhirnya dengan tidak mau lagi ribut, dan tidak lagi keduanya ingin bercerai.

    Jadi doronglah suami menghidupkan ta’lim rumah, dan buatkan dialog-dialog kecil ketika setelah ta’lim atau mengaji. Insya Allah, dengan ijin Allah swt kebaikan itu akan datang dengan adanya ta’lim rumah ini. Ajaklah suami untuk membuat ta’lim rumah.

    Boleh orang keluar dan keluar untuk khuruj dan bicara usaha da’wah ini di mana-mana, tetapi lupa terhadap ta’lim rumah ini dengan istrinya dan anak-anaknya. Belum lagi paham dengan usaha da’wah ini. Karena usaha da’wah ini bukan mau meninggalkan pekerjaan, tetapi meningkatkan kebaikan dan rahmat terhadap diri yang menjalankannya tentunya kepada keluarganya dan juga anak-anaknya.

    Dan kami sendiri terus berusaha untuk membuat ta’lim rumah bersama istri dan anak-anak kami sendiri. Dan itu tidak mudah, apalagi dalam ta’lim rumah ini sebenarnya harus berganti-ganti membacanya agar anak-anak kita sendiri menjadi da’i-da’i juga di waktu akan datang. Bahkan istripun bisa membacanya untuk suaminya.

    Dan sekali-sekali perlu juga dibiasakan makan bersama dalam satu nampan, sehingga membangun keharmonisan dalam rumah tangga. Suami Ibu tentunya sering melakukan makan bersama ketika keluar dengan jama’ahnya, masa tidak bisa makan bersama dengan istri dan anak-anak.

    Terimakasih atas perhatiannya …

  14. Mustafa
    May 26th, 2009 at 07:13 | #14

    Saya sudah mengenal jamaah dakwah ini beberapa tahun yang lalu, karena banyak keluarga yang ikut di dalamnya. Tapi saya baru menyempatkan diri ikut keluar tiga hari. Kesan saya adalah subhanalloh, apa yang dilakukan sangat mulia dan sangat baik sekali. Dan semua aktifitasnya memang bersandar kepada sunnah Nabi kita semua yang agung, Nabi Muhammad SAW. Dengan keluar tiga hari saya merasakan betapa nikmatnya amalan jam’iah, baik saat beribadah sholat berjamaah, taklim berjamaah, bahkan pada saat makan berjamaah dan kegiatan jam’iah lainnya. Dan yang lebih istimewa lagi, amalan jam’iah ini dilakukan oleh semua anggota rombongan tanpa membedakan satu sama yang lain. Ada ustadz, ada dosen, ada pegawai, ada pengajar, ada mahasiswa, ada santri, ada pensiunan. Ada yang baru keluar, dan ada pula yang sudah sering dan lama keluar. Tapi semua menyatu dan dengan sungguh-sungguh mengikuti semua program yang sudah disiapkan.
    Dengan keluar tiga hari saja sudah sangat terasa hubungan persaudaraan sesama muslim yang erat. Sikap saling memuliakan dan menghormati sesama muslim sangat kental terasa. Insya Alloh kegiatan dakwah ini bisa terus mendorong umat muslim untuk terus berdakwah demi tegaknya Islam di seluruh alam. Bukankan Nabi kita sudah mengajak kita semua untuk berdakwah walaupun dengan satu ayat (mungkin maksudnya walaupun ilmu agama kita masih minim). Tidak perlu menunggu menjadi ulama untuk bisa berdakwah. Tapi sampaikan yang sederhana yang kita pahami. Begitulah sekelumit kesan saya setelah mengikuti keluar tiga hari. Bagi penggemar durian, enaknya durian, bisa diceritakan hanya kepada orang yang pernah merasakan kelezatannya. Kepada saudaraku sesama muslim, yang belum pernah keluar, coba deh, anda akan merasakan kelezatannya. Wallau ‘alam.

    Pak Mustafa,

    Terimakasih telah sudi datang ke tempat kami.

    Mudah-mudahan kita tetap menjaga dan berusaha untuk bermujahadah dan istiqomah dengan amal-amal agama yang mulia, Al-Islam. Dan tentunya kita akan terus juga berusaha menyampaikan kepada sdr. kita kaum muslimin lainnya, sehingga kebaikan dan keberkahan dari amal-amal agama itu tidak hanya untuk kita semata tetapi juga untuk sdr. kita yang lain.

    Untuk hal ini, tentunya kita perlu banyak juga meminta kepada Allah swt karena kebaikan dan keberkahan itu ada sisi Allah swt untuk kita, untuk Bapak dan saya pribadi, termasuk juga keluarga kita dan kaum muslimin lainnya. Amiin.

  15. Fittrie
    May 30th, 2009 at 05:53 | #15

    Ass. Doakan saja bagi mereka-mereka yang mengkritik Kerja Dakwa ini,mudah-mudahan Allah berikan hidayah sehingga mereka ikut terjun di dalamnya (jadi karkun2/masturo2 yang joss hoss). Aaamin. Tolong doakan juga agar ayahanda dan 2 saudara laki-laki kami ikut usaha dakwa ini. Aaamin.

    Kepada Ibu Fittrie,
    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

    Terimakasih telah datang ke tempat kami.

    Kita sebagai muslim tentunya perlu mendo’akan kaum muslimin lainnya, dan hal ini telah diberikan contoh tauladan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Meskipun kepada kaum muslimin yang kurang sreg dengan usaha da’wah ini.

    Dan kita sendiri perlu banyak mendo’akan orangtua kita dan juga sdr kandung kita sendiri. Jika ada teman masturah yang telah lama berkecimpung ataupun bahkan baru, maka mintalah do’a untuk saling mendo’akan di antara keluarga ahli da’wah sendiri.

    Kami berharap mudah-mudahan keluarga kami sendiri, anak-anak kami sendiri terjun dalam usaha da’wah ini, serta istri kami menjadi pendorong dalam kerja usaha. Begitupun juga keluarga Ibu sendiri, dan juga yang lain agar menjadi bagian dari kerja-kerja da’wah ini. Amiin.

  16. aan
    July 4th, 2009 at 12:40 | #16

    Assalamualikum lebih dulu mau munta maaf
    1.bukankah istri dan anak2 lebih berhak didakwahi kok malah meninggalkannya, lalu nafkah badan istrei bagaimana (andai waktu ditinggal lalu istri butuh berhubungan intim lalu mencari pelampiasan ke yang lain ) LALU yang dosa siapa
    2. Dakwah ma orang apa cukup 3 hari rek

    terima ksaih dan sekali lagi maaf

    Sdr. aan,

    Wa’alaikumussalam wr. wb.

    Kami sudah berkeluarga, dan juga mempunyai anak-anak seperti yang lainnya. Kami bahkan pernah meninggalkan keluarga kami cukup lama, karena kami saat itu mengambil program riset untuk pendidikan S3. Dan hal itu berkali-kali bolak-balik ke negeri jauh, karena keluarga tidak dibawa ke sana.

    Tentunya sebelum kami pergi selalu berpesan agar anak-anak dapat dijaga dengan baik oleh ibunya, karena memang kami sebelumnya terbiasa untuk bermudzakarah perihal agama dengan keluarga. Dan kami bersyukur ternyata kebiasaan ta’lim rumah setiap hari itu sampai sekarang dilakukan, meskipun kadangkala dilakukan atau tidak.

    Kebiasaan ta’lim rumah ini didorong melalui usaha da’wah yang kami ikuti sebelumnya. Jadi bagi seorang suami yang belum biasa menghidupkan da’wah dan ta’lim di rumah harian, maka sebaiknya belajar keluar sesuai dengan waktu yang mampunya, supaya nanti biasa menghidupkan amal-amal agama di rumah tangganya.

    Dan secara jujur, banyak kaum muslimin yang awalnya tidak ada ta’lim di rumah, dengan belajar usaha da’wah ini akhirnya bisa belajar menghidupkan ta’lim rumahnya bersama keluarganya. Itulah adalah sebuah dorongan yang baik.

  17. July 29th, 2009 at 13:30 | #17

    Assalamu’alaikum wr.wbr.
    Terus berjuang saudaraku…moga usaha kita yang tidak seberapa ini dinilai oleh Allah dan menjadi asbab kita bisa berkumpul dengan kekasih kita Nabi Muhammad SAW di jannah-Nya…amiin

  18. Arieni Santoso
    August 5th, 2009 at 10:23 | #18

    Dikritik Salafi bukan masalah,Di bom nuklir bukan masalah
    Ga jaulah…… itu masalah

  19. galih
    August 23rd, 2009 at 02:26 | #19

    kami mencari ridho Allah,bukan ridho salafi..lagipula kalo antum2 yang menganggap ini sesat,kenapa ga berlomba2 sama karkun2 itu untuk lebih awal datang ke mesjid?bukannya bnyk org2 salafy yang datengnya telat ke mesjid?:)

  20. julihan muntaha
    September 1st, 2009 at 06:58 | #20

    Ass wr wb. Saudara-saudaraku lanjutkan dakwah, jangan terpancing dengan fitnah tetap istikomah, buat amalan, giatkan jaulah,saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dalam amamlan agama allah amien!

  21. Aris Fuadin
    September 4th, 2009 at 15:44 | #21

    Ass. Wr. Wb, sodara2 ga usah mikirin omongan wahab salafi, skrng justru udah banyak yg ngebongkar kesesatan mrk. Kita istiqomah aja smprnakan amal makomi dan jaga nisab.

  22. September 9th, 2009 at 02:47 | #22

    Setelah ikut khuruz 3 hari beberapa kali, saya ikutkan Istri saya program Masturot, Alhamdulillah,anak istri jadi paham atas usaha ini dan ajibnya rumah tangga terasa lebih sakinah.Anak istri tak terpengaruh lagi akan suasana dan keadaan Dunia yang semakin kacau balau, yang penting Istiqomah dalam amal sholeh.
    Insya Allah hidup untuk dakwah…mati dalam dakwah.
    “Save the world by da’wah no war can stop it”

  23. Donovan
    September 18th, 2009 at 02:02 | #23

    Tulisan ini menurut saya malah menyesatkan. Ditulis secara naif. Saya malah merasa malu untuk membacanya. Merasa paling benar adalah hal yang amat naif. Menyalahkan pihak lain, adalah hal yang paling naif. Bukankah telah banyak contoh baik dari jamaah tabligh. Mari kita bersama-sama berproses mendekati kebenaran dengan membuka diri dan membersihkan pikiran dari semua prasangka.

  24. ganta hagana
    October 4th, 2009 at 16:16 | #24

    asalamualaikum,. semoga kita selalu di beri rahmnat oleh ALLAH SWT agar tetap istiqomah dalam usaha nubuwah ini…………

    NB : maaf sekadar saran sedikit buat saudara2ku klo mau ngasih comen yang baik2 aja ya….jangan negejelek-jelekin orang ato firqaH LAIN NGGAK enak diliat orang nanti katanya usaha mulia ini di sangkain cuma mengejek orang lain saja,…… pesen masayaikh dan orang tua kita tetap jaga iman dan amal saleh kita aja pasti ALLAH akan memberikan Nusratullah pada kita……

  25. ali syabari
    October 9th, 2009 at 08:13 | #25

    Assalamualaikum

    Mohon penjelasan mengenai metode yg dilakukan terhadap ta’lim kelurga agar tarbiyah dalam kelurga bersinambungan. Alhamdullilah Jaza kallahukhoiroh.

    Pak Ali,

    Terimakasih telah datang ke tempat kami. Mudah-mudahan kami bisa menulisnya di waktu akan datang.

  26. DJAMBEKS
    October 12th, 2009 at 03:48 | #26

    KITA GA PERLU NANGGAPI PARA PENGKRITIK,YANG PENTING SELAGI KITA MASIH BERPEGANG PADA AL-QURAN DAN HADIST PASTI ALLAH YANG YANG MENYELESAIKAN ITU SEMUA. AMIN

  27. w0n6nd3s0
    October 12th, 2009 at 18:03 | #27

    Sesungguhnya umat ini akan selalu sepakat dlm kebaikan. Barangsiapa selalu melihat aib orang lain maka pasti mereka lupa aibnya sendiri(orang yg ngaku2 ngikuti salafus sholeh/firqotun najiyah/thoifah al manshuroh sesungguhnya dlm diri mereka banyak perkara yg menyelisihi amalan para salafus sholeh)ya akhi…setiap perjuangan pasti ada pengorbanan, setiap sumpah pasti harus dibuktikan, setiap janji pasti harus ditepati, maka tetapkanlah kakimu dijalan yg mulia ini sebagaimana rosulullah saw katakan APABILA MATAHARI DILETAKKAN DITANGAN KANANKU DAN BULAN DITANGAN KIRIKU, NISCAYA SEKALI-KALI AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN PEKERJAAN ITU(DA’WAH) DAN AKU AKAN TETAP MENGERJAKANNYA SAMPAI ALLOH MEMBERIKAN KEMENANGAN KEPADAKU ATAU JIWAKU MELAYANG KARENANYA.

  28. zainuddin, mahasiswa
    October 27th, 2009 at 06:59 | #28

    semoga Allah selalu meberikan hidayahnya kepada kita semua….anda hanya bisa mengkritik dan menyalahkan orang lain, seolah-olah syurga hanya disediakan untuk anda. ingatlah bahwa Allah maha melihat, mendengar, dan mengetahui perbuatan anda.

  29. annisa
    October 27th, 2009 at 07:14 | #29

    hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia. dialah yang mengatur alam semesta. Allah maha pemberi rizki, pemberi maaf, pemberi hidayah dan pemberi ilmu. para ustad yang terhormat yang menulis artikel diatas, marilah sama-sama beristigfar kepada Allah. janganlah melihat kesalahan orang lain. memang tidak seorangpun yang tak punya kesalahan, tapi kanjeng nabi selalu melihat kebaikan orang lain dan selalu menutup aib sahabat-sahabatnya. tapi, mengapa yang anda cari hanya kesalahan dan kekurangan yang seolah-olah syurga disediakan hanya untuk anda.

  30. musyarrofah
    October 27th, 2009 at 07:17 | #30

    semoga Allah memberikan hidayah kepada anda. dan semoga anda selalu mendapat syafaat nabi Muhammad SAW. marilah kita sama-sama beristigfar kepada Allah tanpa harus melihat kesalah orang lain.

  31. October 31st, 2009 at 09:43 | #31

    assalamualaikum..
    boleh ka saya minta satu article yang lengkap tentang tabligh?
    saya nak buat satu kajian tebntang tabligh..
    saya harap pihak sana dapat memberinya utk mjayakan kajian saya..

  32. November 1st, 2009 at 08:17 | #32

    assalamualaikum…
    saudaraku selakian,
    silah kunjungi blog ana, kalau kesalahan tolong diralat..
    http://takaza.blogspot.com
    ada mudzakarah masturatnya..
    http://takaza.blogspot.com/2008/06/mudzakarah-masturat.html

  33. huda
    November 8th, 2009 at 18:16 | #33

    smua amal itu trgantung niatnya.dan amal itu yg diterima itu apakh sesuai/bnr ilmunya jg ikhlas/tdkny.Alloh yg mh mngetahui. jgn cm mnyalahkn apalagi mnjelek2kn.jk emg bnr,tunjukan bgmna yg sehrsnya dan berilah hujah yg jelas dg lemah lmbut jg baik.jt(anti politik) dan hti(berpolitik) yg sptnya berlawananpun ada bnrnya jg.jk agama tdk diamalkn dan didakwahkn,nnt bgaimana?tp jk syariah/ hukum2 agama tdk ditegakkan,jg bgmna? sdgkn utk menegakkan hukum diprlukan institusi/negara. SMUA SDH TAU KAN?.., AKBT HUKUM YG DIGUNAKN HSIL KPUTUSAN MNSIA?spt berita di koran hukm bs dipermainkn dan diperjual belikan shg ta’kan prnh ada keadilan.ya iyalah, memang YG MH ADIL DAN MH BENAR hanyalah ALLOH.

  34. nurim
    November 13th, 2009 at 12:02 | #34

    sebenarnya tulisan diatas merupakan ungkapan perasaan, betapa seringnya orang secara semberono memvonis thd kegiatan JT, seolah-olah JT adalah kumpulan orang-orang sesat, musyrik (betapa sangat besar tuduhan itu, Allah SWT akan mengadili di hari akhir nanti). Seharusnya orang-orang yang telah menuduh spt itu yang istigfarnya lebih banyak lagi.

  35. nurim
    November 13th, 2009 at 13:23 | #35

    tetap dijaga pak kesantunan dalam penulisan, itu yang dapat menjaga keharmonisan umat.

  36. eko sutanto yuwono
    November 15th, 2009 at 03:19 | #36

    Assalamualaikum wr. wb. sekedar pemberitahuan usaha ini tidak ada nama,usaha ini bukan usaha jamaah tablig tapi usaha umat muslim tidak ada bendera disini entah anda kunut atau tidak kunut entah anda mazhab hanafi,maliki,hambali atau syafii.ini usaha rasullulah yaitu usaha perbaikan umat pada jaman rasullulah yang metodenya ditemukan kembali oleh maulana Ilyas RAh.A!jamaah Tablig itu hanya sebutan orang saja, Ex: (dimakasar disebut jamaah jenggot-jenggot dan jamaah kompor)dan ditempat lain disebut musaffir.jadi tidak ada jamaah tablig yang ada usaha dakwahnya rasullulah!ustadz lutfy dan ustadz sofyan katakan: kalau menyebut usaha ini jamaah tablig itu bid’ah,karena alasan sudah jelas diatas

  37. eko sutanto yuwono
    November 15th, 2009 at 03:35 | #37

    Assalamualaikum wr. wb. jadi saya mohon perbaiki artikel anda!setalah memberikan komentar – komentar diatas saya banyak istigfar kepada allah S.W.T!hindari dakwah di internet buat dakwah sesuai dengan metode dakwah Rasullulah S.A.W seperti yang sering disampaikan para masyaikh!wasalamualaikum wr. wb.

  38. abu shadan
    November 15th, 2009 at 08:24 | #38

    siap dihantar kmana saja kapan saja n dengan sapa saja….itu baru dakwah….

  39. November 17th, 2009 at 02:03 | #39

    Assalaamu alaiku. saya anjurkan bagi yang belum kenal dengan usaha tabligh dengan baik, unutk ikut kegiatan mereka selama beberapa hari. lepas tu kasi koment baru kasi komen

  40. Nur Azmie
    December 1st, 2009 at 12:26 | #40

    Assalamualaikum dan salam sajehtera. Banyak2 istigfar, jangan buat fikiran atau andaian yang tak tentu, lihat dan tenguk dan ikuti, inilah jalan Nabi Muhammad s.a.w,sebenarnya tidak ada nama yang khusus untuk jemaah ini dan majoriti mereka udah buat ibadah haji dan umrah. Jangan sekali-sekali menuduh tak usul periksa. Mereka ini semua membuat usaha satu hati dan seluruh dunia telah menghidupkan usaha ini dan seluruh dunia ada Markaz untuk membuat perhimpunan dan belajar usaha Agama ini. Memang India, Pakistan dan Bangladesh telah tempat yang menghidupkan usaha ini dan semua orang belajar membuat usaha ini. Terpulang kepada anda sekalian, sekali lagi banyak2 beristigfar. Allahu Akbar!

  41. umar bali
    March 8th, 2010 at 04:35 | #41

    Assalamu’alaikum wr wb

    Allahu Akbar, Suatu perkara sebaiknya di pelajaridan harus kita selidiki bila ingin TAHU,…. umumnya yang ikut JT awalnya orang awam, (seperti saya), misalnya sebagai contoh mau jadi dokter perlu beberapa masa untuk faham akan masalah kedokteran dan insya Allah dalam masa belajar tentu akan byk lebih faham.
    Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya,.. wallahi .. sudah banyak kawan, kerabat dan kenalan dari kalangan yang menganggap miring usaha ini, mereka byk2 istifar kpd Allah SWT (baik yg jebolan lokal maupun luar dgn byk gelar keagamaan), KARENA mereka mau duduk dan selidiki IKUT SEBAGAIMANA DOKTER tadi tidak ikut2 saja, 1,2,3,seminggu membaca artikel atau dari luarnya SAJA.
    awal2 kita akan byk melihat kekurangan2 bagi orang2 awam yang ambil usaha ini(sesungguhnya itu hanya dari person-nya saja, mungkin karena terlalu bersemangat hingga lupa apakah ini sesuai sunnah atau tidak, nah…. ini lah yang akan nantinya akan membawa mereka bila ada kemaun dan sifat TOLAB bahwa hal ini adalah salah dan yang diajarkan oleh baginda Rasulluh SAW yang betul begini dan begini = sifat ‘ilm)
    Insya Allah… Insya Allah… Insya Allah Pasti dan Pasti bila niat kita BETUL semua kekeliruan2 dalam beribadah akan hilang dengan sendirinya sehingga kita kembali kepada GARIS YANG BETUL YANG DIBAWA / DIAJARKAN OLEH BAGINDA RASULULLAH SAW,
    amin
    wassalam

  42. hendi fauz
    March 16th, 2010 at 10:09 | #42

    InsyAllah semangat teruuuus walau keritikan dan cemohan selalu datang bertubi-tubi….

  43. LENI ARIFIN
    June 10th, 2010 at 23:37 | #43

    siapapun manusia pasti dilengkapi dengan kelebihan dan kekurangan.Karena kesempurnaan mutlak hanyalah Milik ALLAH SWT. Saudaraku sesama muslim marilah kita sama-sama menjaga ukhuwah islamiyah berdasarkan Alqur’an dan Alhadist.Jangan saling mengejek, menghina bahkan mengklaim paling benar.Sampaikan segala sesuatu dengan sopan . Malu pada ALLAH sesama manusia yang yang punya kekurangan saling menghina dan mencemooh. Kita malah ditertawakan umat lain. Sadarlah wahai saudaraku kita kuatkan ukhuwah islamiyah. Jadikan perbedaan sebagai kekuatan insya ALLAH GEMA DAKWAH di seluruh Alam. Amin ya Rabbal Alamin

  44. Haitan Rachman
    June 11th, 2010 at 00:40 | #44

    Sdr. Leni Arifin

    Kita kaum muslimin perlu banyak saling menghormati di antara kaum muslimin sendiri. Kalangan ahli usaha da’wah selalu diberikan pelajaran untuk menjaga “Ikramul Muslimin”, sebagai salah satu sifat para Shahabat RA yang sering diulang-ulang.

    Begitupun juga ketika mudzakarah “Ushul-Ushul Da’wah”, selalu menekankan untuk banyaknya Khidmat, tidak menyentuh kekurangan ataupun aib masyarakat yang bersangkutan. Begitupun juga kalangan ahli usaha da’wah selalu ditekankan ketika mudzakarah adab-adab Islam, seperti adab silaturahmi, dsb.

    Semua pelajaran itu berasal dari Al-Quran dan As-Sunnah yang diaktualkan, dilatihkan, dimudzakarahkan, dibayankan berkali-kali dan diulang-ulang. Hal ini untuk mendapatkan kesan dalam hati, pikiran, semangat bahwa memang Kesuksesan itu bergantung sejauh mana “Keta’atan kepada Allah swt dan Rasulullah SAW”.

    Kami mengenal betul dengan usaha da’wah ini, beberapa tahun silam, kalangan ahli da’wah tidak pernah memberikan pandangan balik ataupun memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang aneh disampaikan kepada kalangan ahli da’wah.

    Ucapan itu juga dilakukan dari kalangan penuntut Ilmu dan pergerakan Islam, bahkan terdapat ucapan yang sempat sampai kepada kami bahwa kalangan ahli da’wah ini tidak pernah membaca al-fatihah kalau sholat. Hal ini sebelum beredarnya kalangan salafi.

    Atau juga, bahwa kalangan ahli da’wah ini tidak jelas da’wahnya, tidak syumul da’wahnya, tidak ada tandzim sama sekali. Banyaklah kalimat-kalimat disampaikan kepada kalangan usaha da’wah, beberapa tahun yang silam.

    Dan ketika kejadian dengan kalangan salafi sekarang ini, maka hal ini banyak pandangan disampaikan dari kalangan salafi ini perlu mendapatkan Pandangan Berimbang. Itulah sekarang banyak Ulama menyampaikan pandangan-pandangan Berimbang, setelah sekian lama tidak pernah sama sekali menyentuhnya.

    Sudah banyak dari kalangan Arab sendiri menulis perihal pandangan-pandangan berimbang, dan semua itu ditulis dari kalangan Ulama. Bahkan ketika ada yang ngaku-ngaku sebagai ahli da’wah yang keluar, maka diberikan pandangan dari seorang alim yang mendapatkan gelar dalam Dr. bidang Islam. Dan bahasannya dijelaskan secara lengkap, dan sistematik.

    Jadi sdr. yang budiman, semua hal mudzakarah ini anggap saja untuk membuka wacana Pandangan Berimbang yang biasa dilakukan kalangan salafi terhadap kaum muslimin lainnya, khususnya juga terhadap kalangan usaha da’wah.

    Siapa yang tidak ingin agar Da’wah Islam menggema ke seluruh alam? Oleh karena itu tidak heran jika usaha da’wah ini terus menjalankan da’wah ini ke seluruh alam, ke berbagai kota, berbagai kampung, ke berbagai pulau dan ke berbagai suku dan negara. Semua dikeluarkan rombongan-rombongan silaturahmi dan da’wah ke seluruh alam.

    Hal ini untuk mewujudkan “Sebuah Pikir” yang telah ada pada diri Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, dan wujud kembali pada Ummat Islam ini. Maka jangan heran kalau rombongan terus dikeluarkan.

    Mana buktinya Da’wah Islam ini sebagai da’wah Rahmatan Lil’alaamin.

    Kalau Ummat ini mau menjadi kembali sebagai Ummat Da’wah yang menyebarkan Da’wah Islam sebagai Rahmatan Lil’alaamin, maka Berikanlah bantuan kepada kaum muslimin yang banyak bergerak sekarang ini di seluruh dunia, DAN juga terjun keluar dan luangkan waktu untuk silaturahmi ke berbagai tempat, kota, dan daerah untuk silaturahmi dan Da’wah Islam.

    Tidaklah mungkin menjadi ummat yang Rahmatan Lil’alaamin, jika ummat ini bisanya menjelekan kaum muslimin lainnya, merendahkan ummat Islam lainnya, bahkan merasa senang kalau mereka tidak khuruj lagi. Apakah ini yang diinginkan?

    Atau hanya duduk-duduk untuk mendengar ceramah-ke-ceramah, bahkan merasa bangga dengan membuka-buka lembaran kitab semata.

    Al-Islam ini sampai ke negri kita bukan melalui lembaran kitab, bukan melalui lembaran surat, bukan melalui burung-bung, bukan melalui jaringan komunikasi dsb. Tetapi Islam ini datang melalui pengorbanan Jiwa dan Harta melalui Khuruj dan datang langsung. Ini sejarah yang tercantum dalam berbagai kisah. Semua karena berpindahnya badan ummat ini ke daerah lainnya.

    Apa Artinya? Artinya Jika kita melupakan dan meninggalkan kerja-kerja melalui Silaturahmi dan datang langsung bertemu Ummat Manusia untuk menyampaikan Islam, maka sampai kapanpun TIDAK PERNAH ada Islam untuk Rahmatan Lil’Alaamiin.

    Kita tidak pernah menapikan cara-cara lainnya, TETAPI semua itu perlu ada penopang utamanya. Jika memang Islam ini akan diwujudkan secara Rahmatan Lil’alaamin. Usaha da’wah ini telah memberikan gambaran perihal kerja-kerja yang dapat dijadikan sebagai penopang utamanya untuk seluruh Ummat Islam. Dan kerja-kerja lainnya merupakan keindahannya diatasanya.

    Usaha da’wah ini merupakan kerja atas tanah, sedangkan kerja-kerja kaum muslimin lainnya merupakan kerja yang berada di atas tanah. Kerja atas tanah merupakan kerja semua ummat manusia, sedangkan kerja yang berada di atas tanah merupakan kerja yang sesuai dengan keahliannya.

    Jadi kenapa kami berikan pandangan kepada kaum muslimin lainnya, termasuk kepada kalangan salafi? Itulah kami jelaskan di atas.

    Silahkan untuk direnungkan …

  1. No trackbacks yet.