Home > Ilmu dan Pengajaran, Kisah-Kisah Tauladan > Kitab-Kitab Fadhilah Amal dan Hayatush Shahabat

Kitab-Kitab Fadhilah Amal dan Hayatush Shahabat

Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:

Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da’wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu kami sampaikan kenapa Hayatush Shahabat menjadi salah satu pengajaran utama dalam usaha da’wah ini. Para Ulama dari jaman kapanpun sangat memahami bahwa kesuksesan dan kejayaan para Shahabat RA ini merupkan tauladan yang tidak dapat dipupus oleh jaman. Sehingga tidak heran banyak ulama sepanjang perjalanan kaum muslimin selalu menulis perihal kehidupan para Shahabat RA.

Itulah sebabnya para ahli da’wah di manapun berada, apakah di masjid ataupun sedang khuruj, selalu membaca kisah-kisah para Shahabat RA ini, diulang-ulang, disampaikan berkali-kali, diceritakan lagi dan lagi kepada kaum muslimin lainnya, KARENA para Shahabat RA itu merupakan generasi yang telah mendapatkan keridhoan Allah swt dan juga kesuksesan di dunia ini serta akherat nanti. Sehingga perlu dibacakan untuk dingat serta menjadi idola, atau menjadi sebuah keinginan yang membakar untuk mempunyai cita-cita seperti para Shahabat RA.

Dua sumber bacaan yang cukup banyak di baca yaitu kitab kisah-kisah para Shahabat, Maulana Dzakaria, dan Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf. Kedua kitab ini mempunyai ciri yang khas, dan untuk memahaminya sebenarnya para pembaca perlu membuka pengantar buku-buku itu dengan baik. Banyak orang menilai, tetapi kadangkala tidak memperhatikan kata pengantar ataupun pendahuluan, yang tentunya untuk memberikan secara menyeluruh terhadap apa buku itu sebenarnya. Silahkan perhatikan pengantar dari kedua buku itu dengan baik.

Sekarang ini telah ada yang memberikan komentar terhadap kitab Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf, yang berkaitan dengan tingkatan hadits yang terdapat dalam kitab itu. Tetapi yang harus dipahami dengan baik oleh siapapun termasuk juga kalangan ulama yang juga memberikan komentar terhadap tingkatan hadits dalam kitab itu, yaitu susunan sistematik kitab itu mempunyai tujuan atau sasaran utama yang hendak dicapai dari apa yang menjadi pikiran si penulis sendiri, dalam hal ini yaitu Maulana Yusuf.

Jadi jika ada Ulama yang memberikan komentar terhadap hadits yang terdapat dalam kitab itu, itu sah-sah saja ataupun mungkin juga menyusun ringkasannya secara ilmiyyah. TETAPI yang perlu diperhatikan adalah susunan sistematik kitab itu sendiri, karena pikiran dan sasaran itu terdapat dalam susunan sistematik itu sendiri. Jika dilakukan perumbakan secara serampangan, maka artinya sama dengan merusak karya seseorang dalam pola analisanya. Sehingga hal itu kurang pantas dilakukan. Jangan kita menjadi tertawaan orang banyak, karena kita melakukan perombakan terhadap karya orang, sedangkan kita tidak mampu berbuat sesuatu yang lebih baik.

Kitab seperti Fadhilah Amal ini sudah banyak di abad-abad yang lalu, dan tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda. Kami sendiri ]melakukan penulusuran terhadap kitab-kitab yang seperti fadhilah amal. Kami mendapatkan banyak kitab seperti itu, tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda.  Misalkan kitab dengan judul Fadhoil Amal yang ditulis Ulama, Al-Hafidz MUhammad Abdul Wahid Al-Maqdisi, sekitar tahn 600-an. Atau kitab yang disusun Imam Mundziri, Targhib Wat Tarhib. Kitab Imam Mundziri ini yang banyak dijadikan sebagai rujukan buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria.

Sekarang ini telah ada ulama yang memberikan komentar terhadap buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria. Hal ini merupakan sah-sah saja secara ilmiyyah, dan telah banyak dilakukan juga. Sekarang saja telah ada kitab ringkasan Kitab Tafsir Ibnu Katsir dimana Ulama menghilangkan hal-hal yang dianggap maudhu atau israilliyat. TETAPI tetap kita atau bahkan ulama menghormati Ibnu Katsir sendiri sebagai penulis kitab itu, dan bahkan banyak ulama yang mendorong untuk membacanya.

Dan sebenarnya kita kaum muslimin juga perlu mengetahui kenapa beliau, maulana dzakaria, menulis buku-buku fadhilah amal ini. Tentunya mempunyai latar belakangnya. Usaha da’wah ini lebih dahulu muncul dibandingkan dengan kelahiran buku-buku fadhilah itu sendiri yang disusun Maulana Dzakaria. Dan juga tidak semua topik yang menjadi buku fadhilah amal, berbeda dengan targhib wa tarhib yang lebih banyak dan luas dalam topiknya. Silahkan untuk diperhatikan dengan baik!

Jika ada ulama yang berkeinginan meringkas buku-buku fadhilah amal, itu merupakan hak secara ilmiyyah. Sama halnya terhadap kitab hadist shohih muslim, ataupun shohih bukhari, ataupun juga terhadap kitab Tafsir Ibnu Katsir, juga ada ringkasannya. TETAPI yang perlu dijaga adalah susunan sistematik dan juga sasaran yang hendak dicapai dari kitab yang ditulis itu. Ini yang harus diperhatikan dengan baik.

Para Ulama biasa menyusun kitab yang sama dengan ulama lainnya, tentunya dengan karakter dan pendalaman yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang dan juga sasaran yang dibuat. Begitulah kita juga berlaku secara ilmiyyah, tidak hanya kita memberikan penilaian yang mengarah pada kontra-produktif bagi kaum muslimin. Yang akhirnya tidak produktif bagi kaum muslimin lainnya. Apakah ketika memberikan penilaian isi yang terdapat Tafsir Ibnu Katsir, Ulama yang bersangkutan meremehkan dan mencaci Ibnu Katsfir? Kami kira ulama yang bersangkutan tidak melakukannya. Begitulah kita juga kepada Ulama lainnya.

Popularity: 45% [?]

  1. April 12th, 2009 at 20:27 | #1

    Metode tahkik mungkin tidak jauh dari yang penulis maksud, tetapi jujur sebagai pencari ilmu dan yg ingin mengenal secara original pemikiran ulama, methode ini membuat kita agak kecewa ketika mendapai apa yg dibuang oleh ulama’ yg mentahkik suatu kitab menghilangkan kandungan suatu kitab, walaupun pentahkik menganggap maudhu’ tetapi tentu pengarang aslinya mempunyai alasan mengapa dicantumkannya. kemudian sisi lain, dhoif dan shohih hadits atau derajat hadits pun sebagian berbeda dlm pandangan satu imam dg yg imam lainnya.

    Lebih bijak bila pentahkik tidak usah menghilangkan sesuatu pun dari apa yg ditahkiknya, dan tak lebih memberi komentar atau menjelaskan menurut penjelasan pentahkik, agar pembaca bisa memilih sendiri secara objektif, antara pendapat penulis asli dan pentahkik.

    Jika dg alasan tahkik diperbolehkan membuang isi kandungan kitab walaupun sebagian kecil, lama kelamaan mau tidak mau isi kandungan kitab akan berubah dari keasliannya, sementara pandangan pembaca terhadap penulis aslinya pun menjadi bias dan tidak jelas antara pentahkik dan pengarang aslinya.

    Wallahu a’lamu bishowab.

  2. Abu Hannah As-Seruty Al-Magetany
    April 22nd, 2009 at 07:45 | #2

    Assalamu’alaykum…
    Ana dari Magetan, tepatnya Ds. baluk dekat dengan Temboro.
    Alhamdulillah sudah banyak yang ambil bagian dalam kerja yang mulia ini.
    Abaikan saja pak ucapan orang-orang salaf. Tiap orang memakai jalan yang berbeda-beda.

  3. June 13th, 2009 at 06:39 | #4

    Assalamu’alaikumwarahmatullah wabarakaatuh, alhamdulillah sepanjang penyampaian kurikulum Fadilah ‘Amal kepada masyarakat luas di Badanbatu, riau, Rokanhilir, khususnya,mereka antusias dan semakin semangat untuk beribadah,

    Sdr. M.Edi Masruri,
    Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh,

    Terimakasih atas kedatangan sdr. ke tempat kami, mudah-mudahan semangat ibadah ini akan terus mengalir di kalangan kaum muslimin, dan akhirnya memberikan kesan dan pesan kepada kehidupan kaum muslimin sendiri.

    Seperti sholat merupakan ibadah yang sangat penting bagi kaum muslimin, dan Allah swt menjelaskan dengan jelas dan terang bagi orang yang menjaga sholat akan memberikan pengaruh kepada pelaksananya yaitu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

    Mohon maaf, jika kami lambat.

  4. abdul malik
    July 11th, 2009 at 08:51 | #5

    fadilah amal keren

  5. Aris Fuadin
    September 4th, 2009 at 15:17 | #6

    Assalamualaikum. Wr. Wabarakatuh. Alhamdhulillah,sejauh ini meski mengetahui adanya hadis dhoif pd kitab fadilah amal. Dengan taklim rumah yg istiqomah kami buat tlh memberikan pengaruh yg luar biasa bagi anak2 kami yg berjumlah 3org yg tertua berusia 7th, shg anak2 kami tlh mulai menjg sholat sjk usia 4th tnp hrs diperintah, dan kuat puasa 1bln penuh dibln romadhon. Kitab shoheh yang mana lagi yg mesti kami baca ? Wassalam

  6. Abu Fadhlan
    October 13th, 2009 at 03:35 | #7

    Sebenarnya Maulana Zakariyya sudah menjelaskan juga kalau suatu hadits itu dho’if, biasanya beliau tuliskan ‘menjadi perbincangan ulama’

  7. October 27th, 2009 at 09:33 | #8

    Di Fadhilah Amal ada amalan sholat isroq ternyata di shohehkan oleh Ulama besarnya Salafy yaitu Syaikh Nashiruddin Al-Bani di Shahih Sunan Tirmidzi No: 480 juga menshahihkan di shahih At-Targhib ( 1/188-189 ) beliau menyebutkan beberapa Syahid ( penguat ) hadits berasal dari Abu Umamah dan Ibnu Umar yang di riwayatkan oleh Tabrani informasi berupa tulisan ini saya dapat dari mantan JT yang ngaji di Salafy

    Sdr. yang dimuliakan Allah swt,

    Perihal sholat ini sudah ada dalam kitab-kitab dulu, dan kami sendiri mendapatkan bahasan itu dari seorang Ulama. Artinya Ulama yang menuliskan ke dalam kitab itu mempunyai referensi, sehingga mari kita berhati-hati dalam memberikan pandangan tanpa ada satu pengetahuan yang dalam.

    Jangan sampai kejadian kembali dulu ada orang yang memberikan pandangan bid’ah kepada aktifitas sholat tersebut itu, tetapi setelah 2 tahun akhirnya dia sendiri melakukannya. Artinya baru mendapatkan ilmu sedikit itu, jangan dahulu memberikan penilaian yang lain-lain. Tetapi teruslah tuntut ilmu, karena ilmu itu lautan samudra. Dan tidak ada yang dapat menguasainya seluruhnya.

  8. R Anggi Nurprihasta S
    November 18th, 2009 at 16:47 | #9

    Saya mendapatkan banyak manfaat dari kitab fadhilah amal

  9. Raden Suhartono
    January 23rd, 2010 at 01:09 | #10

    Alhamdulillah sejak tahun 1999 saya mengikuti usaha ini saya jadi memahami makna dakwah dan hidayah , sampai saat ini saya masih terus menggali makna tersirat maupun tersurat dari usaha ini. banyak yang belum mempelajari dengan betul metode ini namun sudah menyatakan tidak berminat, saran saya cobalah terus mendalami

  10. February 3rd, 2010 at 07:20 | #11

    Berdakwah dengan cara Nabi bukan hanya bertujuan memberi petunjuk orang lain tapi yang paling penting adalah memberi perinatan pada diri sendiri, karena telinga paling dekat dengan mulut kita sendiri. Bila kita bicara soal neraka, maka kita sendirilah lebih dahulu yang takut.

  1. No trackbacks yet.