Da’wah itu memerlukan tertib, jika berkeinginan mendapatkan manfaat yang lebih besar daripada madhoratnya
Dear All,
Bid’ah dholalah, syrik dan macam-macam yang bertentangan dengan Al-Islam perlu dijelaskan dengan baik kepada kaum muslimin, tetapi menjelaskan dan menerangkan hal-hal tersebut memerlukan TERTIB. Tanpa adanya TERTIB maka kita kaum muslimin sendiri akan mendapatkan hal-hal yang kurang diinginkan. Nabi Muhammad SAW sangat menekankan TERTIB ini dengan baik, dan beliau tidak hanya menjelaskan dengan kalimat-kalimat tetapi juga dengan bentuk-bentuk contoh yang bisa dipahami dengan baik.
Ada seorang badwi buang air kecil di dalam masjid Nabawi, bisa kita bayangkan bagaimana perasaan para Shahabat RA yang melihat itu. Tentunya mereka marah dan kesal, sehingga ada saja yang akan memukulnya. TETAPI Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW, melarangnya bahkan beliau menyuruhnya membawa air untuk disiramkan. Itulah da’wah dan pengajaran tidak boleh kasar.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. ” (QS Ali-Imran (3): 159)
Ada seorang pemuda akan masuk Islam tetapi agar diijinkan untuk tetap melakukan berzina. Kira-kira apa yang akan kita lakukan kalau ada orang seperti ini? Nabi kita tidak marah dan tidak memperlihatkan wajah marah atau bahkan mengeluarkan dalil-dalil quran yang mana pasti beliau sangat hafal, TETAPI beliau melakukan dialog yang ringan dengan pemuda itu. Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan ibumu? Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan istrimu? Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan sdr. Perempuanmu? Jelas pemuda itu menjawab bahwa dia akan marah. Dan Nabi kita menjawab dengan simple, yang lainpun akan marah kepada kamu jika kamu tetap berzina. Dan akhirnya pemuda itu tidak mau berzina lagi.
Nabi Muhammad SAW sangat memahami bahwa keluarganya banyak yang belum masuk Islam, dan bahkan menyembah latta dan uza. Nabi kita tidak pernah mencaci dan menghina tuhan-tuhan mereka, ataupun bahkan merusak tuhan-tuhan mereka.
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS Al-An’am (6): 108)
Coba kita lebih jauh dengan pelajaran perihal Khmar. Allah swt jelas akan mengharamkan perihal khmar ini. TETAPI Allah swt sendiri memberikan pelajaran secara bertahap terhadap para Shahabat RA. Nabi kita Nabi Muhammad SAW tidak pernah minum khmar dari kecil, meskipun masyarakatnya biasa minum khmar dan main judi. Tentunya Nabi kita Nabi Muhammad SAW sangat memahami perihal khmar ini, tetapi beliau menunggu bagaimana pelajaran dari Allah swt.
Dan akhirnya Allah swt menjelaskan dengan ayat yang menjelaskan jangan dekat-dekat sholat dalam keadaan mabuk, maka lama-lama para Shahabat RA banyak yang menhancurkan khmar itu sendiri. Padahal ketentuan khmar itu belum ditetapkan sebagai haram. Allah swt sendiri memberikan pelajaran yang demikian baik kepada para Shahabat RA bagaimana langkah-langkah untuk melakukan perbaikan terhadap masyarakat yang terbiasa dengan khmar dan judi. Apakah kita kaum muslimin kurang memperhatikan pelajaran-pelajaran seperti ini?
Allah swt dengan jelas menegaskan bahwa jika telah datang yang haq maka yang bathil akan hilang. Ini mengandung pelajaran denganbaik. Atau misalkan kalimat “amar ma’ruf nahi mungkar”, kalimat ini akan seperti itu. Artinya bukan berarti kita mendorong atau menyuruh orang lain untuk berbuat baik, terus diartikan bahwa kita tidak menghalangi yang mungkar. Semua hal itu ada pertimbangan itu sendiri, maka TERTIB dalam pengajaran, pendidikan, tarbiyyah dan da’wah merupakan hal yang perlu sangat diperhatikan. Tanpa adanya TERTIB maka akhirnya kita kaum muslimin akan menghasilkan kontra-produktif dan ketidakharmmisan yang semakin tajam.
Sekarang kita ajak seluruh kaum muslimin untuk sholat dengan baik, berjama’ah, khusyu dan tertib. Allah swt menjelaskan dengan jelas dan terang, bahwa sholat itu dapat mencegah perbuat keji dan mungkar. Artinya kita teruskan secara terus-menerus dan berkelanjutan untuk mengajak kaum muslimin untuk sholat dengan baik itu, dan dengan tidak perlu menyentuh perkara yang keji dan mungkarnya, maka kaum muslimin akan meninggalkannya sendiri perkara keji dan mungkar itu.
Dan hal itu ada buktinya sering ditemukan dalam usaha da’wah, bahkan di jaman Rasulullah SAW pernah terjadi ketika perihal anak muda yang bolak-balik ke masjid untuk sholat yang ketika itu masih belum betul perilakunya dan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pemuda itu akan berubah karena sholatnya dan ternyata benar adanya.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS Al-’Ankabut (29): 45)
Jadi jangan dianggap bahwa kalau ada sebagian kaum muslimin tidak membicarakan syirik, bid’ah dholalah, kemusyikan yang umum terjadi di lingkungan kita kaum muslimin; selanjutnya dikatakan salah dalam da’wah dan pengajaran kaum muslimin. Jelas hal ini tidak tepat. Konten dan cara pendekatan itu perlu dipertimbangkan secara TERTIB.
Jika ada sebagian kaum muslimin yang berkeinginan menyampaikan secara terang-terangan dan bebas perihal syirik atau bid’ah dholalah ataupun perihal kekeliruan masyarakat, silahkan saja sampaikan sesuai dengan langkah-langkah yang dipercayainya. TETAPI jangan melemahkan ataupun meremehkan terhadap sebagian kaum muslimin yang tidak memilih jalur seperti itu, seperti kami termasuk yang menolak mentah-mentah.
Usaha da’wah ini mempunyai TERTIB. Empat perkara yang tidak boleh disentuh ketika khuruj fisabilillah atau bahkan ketika aktifitas usaha da’wah di maqomi di jalankan, yaitu perihal politik, perihal khilafiyyah, perihal aib masyarakat, serta perihal derma dan pangkat. Mungkin banyak kaum muslimin bertanya, Why? Tentunya pertanyaan itu dikeluarkan dengan macam-macam argumen, seperti politik itu kan ada yang syar’i atau Islam juga membahas Politik, bukan perlu membahas perihal khilafiyyah dsb. Dan ujungnya bahwa usaha da’wah ini tidak jelas.
Orang yang terlibat dalam usaha da’wah ini ada juga ahli politik, dan bahkan menjadi persiden pertama kali di India. Orang yang terlibat dalam usaha da’wah ini ada yang ahli dalam perkara khilafiyyah, dan bahkan menulis perihal madzhab maliki melalui syarh Kitab Al-Muwathanya. Orang yang terlibat dalam usaha da’wah ini ada yang kaya raya dan cukup banyak, dan bahkan sudah bisa merencanakan masjid terbesar di Eropa dengan biaya hampir 10 Trillyun. Orang yang terlibat dalam usaha da’wah ini ada yang pangkat tinggi, bahkan ada yang sudah menjabat sebagai kapolda dan ada juga sebagai pangeran.
Kenapa tidak menyentuh perkara-perkara itu, TETAPI malahan menguasai di perkara-perkara tersebut dengan sangat baik. Empat perkara tersebut jika tidak melalui TERTIB menjadi sebab terhadap perpecahan kaum muslimin. Sedang usaha da’wah ini dipersiapkan untuk seluruh kaum muslimin, apakah berbeda lapisan, berbeda tingkatan, berbeda status, berbada umur, berbada suku dsb.
Sehingga jika disentuh perkara politik praktis, khilafiyyah dsb, maka bisa dibayangkan bagaimana kacaunya ummat Islam ini nantinya. Dan bisa diperkirakan kekacauannya sangat luar biasa pengaruhnya ke seluruh dunia. Mungkin jika hanya satu kampung saja sangat kecil pengaruhnya, tetapi bisa dibayangkan dengan berbeda suku, tingkatan, umur, warna kulit, dsb yang ada di seluruh dunia.
Usaha da’wah ini merupakan kerja da’wah dan pengorbanan kaum muslimin seluruh alam, tidak hanya untuk satu kota atau kampung. Jadi jika ada yang meminta ataupun mengharapkan usaha da’wah secara ijtimaiyyah untuk menyentuh atau membicarakan bahasan-bahasan seperti yang diminta sekarang ini, hal itu tidak dapat ditunaikan. Dan kami sendiri menolak mentah-mentah. TETAPI jika sebagian kaum muslimin meminta agar dijelaskan perkara-perkara di madrasah-madrasah ataupun dalam kajian-kajian itu secara sistematik, tentunya hal itu sudah biasa dan juga bergantung dari kurikulum dan silabus yang dibahasnya.
Jadi kesimpulannya kepada kawan-kawan :
PERTAMA jika usaha da’wah tidak menyentuh dan menjelaskan perkara-perkara tersebut tentunya memiliki pertimbangan TERTIB, yang akan memberikan pengaruh pada manfaat dan madhoratnya. Tentunya pertimbangannya akan dicarikan manfaat yang lebih besar daripada madhoratnya. Pengajaran dan da’wah juga seperti jual beli, yang semuanya pertimbangananya keuntungan yang besar. Untuk apa kita lakukan pengajaran dan da’wah tetapi akhirnya menimbulkan kontra-produktif dan tidak harmonis di kalangan kaum muslimin.
Kontra-produktif dan tidak harmonis di kalangan kaum muslimin tidak akan pernah mengangkat pada tingkatan pengajaran dan da’wah yang lebih tinggi. Sekarang ini kita masih pada tarap awal saja, karena kita masih saling mengingatkan di antara kaum muslimin. Bagaimana kita bisa mengajak manusia di luar Islam ke dalam pangkuan Al-Islam dan mereka juga akan terbebas dari api neraka dan masuk surga Allah swt, sedangkan kita akhirnya habis waktu dengan kontra-produktif dan tidak harmonis. Yang akhirnya kita sendiri dipermainkan oleh lawan-lawan kita sendiri.
KEDUA, silahkan saja kepada kawan-kawan yang semangat dengan bahasan perihal syirk, bid’ah dholalah, khilafiyyah secara langsung untuk disampaikan kepada Ummat Islam. Kami tidak akan mengambil cara-cara itu ketika menjalankan ijtimaiyyah tertib, bahkan kami sendiri secara infirodhiyyah juga tidak akan mengambil cara-cara yang akan menimbulkan mudhorat yang lebih besar.
TETAPI jika ada yang mau mengambinya, silahkan sebagai bagian dari hak semua orang untuk menyampaikannya. Silahkan saja krirtsasi atau tahdzir perihal-perihal syirk itu dan bid’ah dholalah, atau yang dianggap bid’ah secara langsung di depan orangnya. Tentunya hal itu ada pertimbangannya oleh kawan-kawan dengan alasan-alasan yang menghasilkan langkah-langkah itu. Hanya saja ketika menimbulkan mudhorat lebih besar, tentunya juga perlu dipertimbangkan. Silahkan bangun macam-macam da’wah untuk kaum muslimin, karena da’wah ini merupakan tanggung jawab bersama dan khidmat untuk agama kita yang mulia. Dan kita tidak perlu saling menghujat ataupun meremehkannya.
Hanya saja KETIKA ada sebagian kaum muslimin sudah memberikan pandangan terhadap usaha da’wah ini dikarenakan mempunyai pendekatan yang berbeda dari pandangannya, tentunya siapapun termasuk kami juga perlu membuka pandangan berimbang denganhal itu. Maksud pandangan berimbang ini untuk membuka wacana bersama, sehingga kita semua terbebas dari pola berpikir kerdil dan tidak terjebak dalam kerdilisasi.
Pola berpikir kerdil dan terjebak dalam kerdilisasi ini telah memakan korban di jaman Nabi kita Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Apakah yang dibangun sendiri oleh sebagian kaum muslimin di jaman itu karena mempunyai jiwa ghuluw, atau dibangun oleh kalangan orang munafik sendiri. Orang-orang munafik ini sangat lincah dan lihai, para Shahabat RA sendiri bisa terkecoh. Dan banyak kejadian di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA menjadi pelajaran. Sebagai contohnya, silahkan buka dan pelajari Ali-Imran (3):100-105. Kisah latar belakang ini sangat menarik, dan dari belajar kami terhadap ayat tersebut menunjukan bahwa saat ini juga kaum muslimin memperlihatkan keadaan yang hampir sama dan tentunya solusinya akan sama juga.
Itulah kenapa Da’wah dan pengajaran/tarbiyyah ini memerlukan TERTIB. Dan usaha da’wah telah menyiapkan tertib dan ushul da’wah secara sistematik, hal itu untuk menghindari dari hal-hal yang kurang diharapkan dan menghasilkan serta mencapai sasaran/niat/tujuan yang hendak dicapai.
Terimakasih,
Haitan Rachman
Popularity: 23% [?]
Recent Comments