Pendalaman DALIL terhadap Da’wah yang TERTIB tentunya memerlukan proses-proses perbaikan yang terus-menerus dan berkelanjutan
Dear All,
Da’wah Islam merupakan amal Islam yang sangat fundamental untuk diperhatikan dengan baik dan seksama, sehingga tentunya menjalankan da’wah Islam itu tidaklah asal-asalan tetapi perlu dijalankan dengan Tertib. Dan untuk menjaga ataupun membentuk da’wah Islam yang tertib tentunya juga memerlukan satu pendekatan yang baik pula. Artinya perlu proses-proses yang mendorong untuk pembentukan da’wah Islam yang tertib itu.
Da’wah Islam tidak menganjurkan untuk menghujat ataupun meremehkan sebagian kaum muslimin lainnya, bahkan juga kepada ummat-ummat lainnya. Begitupun juga da’wah Islam tidak menganjurkan untuk menghasilkan saling berbantahan di antara pelaku da’wah itu sendiri. Tetapi kita harus menyadari bahwa manusia itu tetap manusia, artinya kekhilafan itu pasti datang, begitupun dengan kami sendiri.
Di bawah ini terdapat empat proses yang perlu selalu dijaga dan terus berlanjut, sehingga perbaikan-perbaikan atau peningkatan-peningkatan dalam aktifitas da’wah Islam dapat mencapai TERTIB yang lebih dari waktu ke waktu tentunya.
MUHASABAH Kita kaum muslimin perlu selalu melakukan introspeksi diri atau menimbang diri kita. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, selalu melakukan ini. Beliau selalu beristighfar setiap hari, padahal beliau pasti dijamin masuk Surga Allah swt. Begitupun juga para Shahabat RA lainnya, bagaimana Ali RA ketika sholat malam, atau juga Ummar RA. Bahkan ada seseorang bukan shahabat besar dijamin dengan surga oleh Rasulullah SAW. Dan ketika dipelajari lagi, orang ini selalu melakukan muhasabah sebelum tidurnya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr (59): 18)
Dengan adanya muhasabah ini, kita akan selalu menjaga diri kita untuk lebih berhati-hati dalam bertindak atau berucap. Karena semuanya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah swt, dan tentunya akan selalu meningkatkan kepahaman terhadap agama kita sendiri. Tetapi bukan untuk dilihat sebagai orang paling faqih dalam Islam, tetapi akan selalu mencari tahu apa yang perlu diikuti dan apa yang perlu dijauhi.
MUDZAKARAH. Kita kaum muslimin jarang sekali melakukan mudzakarah secara baik, dan padahal mudzakarah ini dapat lebih meningkatkan kedekatan hubungan sesama kaum muslimin itu sendiri. Saat ini kita kaum muslimin telah dapat melakukan mudzakarah melalui jaringan Internet, seperti melalui Sidogiri atau juga MyQuran.
Meskipun sarana ini dapat memberikan fasilitas mudzakarah, tetapi terdapat hal-hal utama yang tidak dapat digantikan yang sebenarnya banyak dalam sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan juga para shahabat RA, seperti bermuka manis ketika bertemu, berjabat tangan ketika bertemu, mengucapkan salam ketika bertemu, menghormati ketika duduk, mendengarkan dengan seksama dan hormat, dll. Mudzkarah ini perlu dilakukan dengan berbagai kalangan kaum muslimin. Mudzakarah ini akan membangkitkan hal-hal yang tidak dipahami oleh kita sendiri ketika sebelum mudzakarah.
Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA sering melakukan mudzakarah kadangkala dalam hal-hal yang unik. Misalkan Nabi Muhammad SAW datang ke masjid untuk mendengarkan bacaan quran dari seorang shahabat RA, dan terjadi dialog mudzakarah yang bermanfaat untuk kita sampai saat ini. Nabi Muhammad SAW bermudzakarah dengan seorang shahabat dikarenakan shahabat ini berhubungan dengan istrinya ketika berpuasa di bulan Ramadhan. Atau juga dialog Nabi Muhammad SAW dengan shahabat-shahabat yang berlebihan dalam ibadah, dikarenakan akan berpuasa terus menerus, ada juga akan sholat malam terus-menerus. Dialog yang sangat baik, dan merupakan pelajaran yang sangat berharga. Dan masih banyak lagi.
Dengan adanya mudzakarah ini secara langsung di kalangan kaum muslimin, kaum muslimin akan terbiasa terbuka berkomunikasi dengan baik dan juga akan terbiasa untuk mendengarkan pandangan kaum muslimin yang lainnya. Sehingga suasana kebersamaan akan terbentuk dengan baik. Saat ini kita kaum muslimin sangat berkurangan mudzakarah Islam dalam suasana terbuka dan langsung.
MUSYAWARAH. Aktifitas ini yang benar-benar lemah dalam kaum muslimin, padahal aktifitas inilah yang dapat menghasilkan keputusan-keputusan atau juga langkah-langkah perbaikan untuk kaum muslimin atau kita sendiri. Padahal banyak sekali dalil dalam al-quran mendorong selalu bermusyawarah, bahkan banyak hadits mengajarkan cara-caranya itu dengan baik. Tetapi aktifitas ini benar-benar asing di lingkungan kaum muslimin.
Nabi Muhammad SAW dan para shahabat RA selalu melakukan musyawarah ini. Sehingga perbaikan-perbaikan itu terus terjadi dan bahkan mencapai puncaknya kejayaan Ummat Islam di saat itu. Kami cukup lama terlibat dalam usaha da’wah dan tabligh. Dan banyak teman-teman lama selalu menasehati untuk dapat mengikuti musyawarah, meskipun hanya duduk dan mendengarkan saja. Setelah sekian lama, kami baru banyak memahami bahwa musyawarah ini sangat fundamental terhadap pertumbuhan da’wah ataupun aktifitas-aktifitas kaum muslimin di masa depan. Karena proses dan tanggung jawab dapat dibentangkan dan diambil untuk dikerjakan.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. ” (QS Ali-Imran (3): 159)
Diriwiyatkan dari Abu Hurairah RA katanya “Aku belum pernah melihat seorangpun yang paling sering bermusyawarah dengan para Shahabatnya selain Rasulullah SAW” (HR Tirmidzi. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)
“Dari Ali RA menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, jika kami menjumpai suatu urusan yang belum jelas mengenainya apakah diperintah atau dilarang, ap yang diperintahkan kepada kami? Nabi Muhammad SAW bersabda: “Musyawarahkanlah urusan itu dengan para fuqaha (orang yang dalam urusan agama) dan para ‘abidin (orang-orang sholeh), dan janganlah memutuskan urusan itu dengan hanya mengikuti pendapat orang tertentu.” (HR Thabrani dalam Al-Awsath dan sanad-sanadnya dipercaya daripara perawi yang shahih – Majma’uz Zawaid. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)
“Dari Ibnu Abbas RA menceritakan: “Ketika turun ayat ini “bermusyawarahlah engkau dengan mereka dalam segara uruan”. Maka Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah swt dan Rasul-NYA tidak memerlukan musyawarah, tetapi Allah swt telah menjadikan musyawarah ini sebagai rahmat bagi ummatku. Oleh karena itu siapa saja di antara ummatku yang melakukan musyawarah, maka ia tidak akan kehilangan bimbingan (petunjuk jalan yang lurus), sebaliknya barangsiapa di antara ummatku yang meninggalkan musyawarah, maka tidak akan hilang kesulitannya (yakni dalam keadaan kesulitan)” (HR Baihaqi. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)
Dan juga ternyata musyawarah ini juga dapat dipakai untuk lingkungan keluarga kaum muslimin, bahkan untuk urusan dunia sendiri. Musyawarah ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, dan terus-menerus. Dengan musyawarah yang berkelanjutan dan baik, saya mendapatkan informasi perubahan-perubahan yang sangat mengembirakan di negara-negara yang sebenarnya kaum muslimin sangat sedikit.
MUJAHADAH. Ini merupakan langkah kongrit atau amaliyah terhadap keputusan-keputusan yang dibuat dari Muhasabah, Mudzakarah dan Musyawarah. Sehingga proses perbaikan itu akan terus berlanjut. Kisah dialog Salman Al-Farisi RA dengan Nabi Kita, Nabi Muhammad SAW, ketika perang khandaq merupakan bentuk proses yang bagus untuk dipelajari. Dan Allah swt merekamnya ke dalam Al-quran, bahkan yang lebih luar biasa lagi, dalam keadaan tertekan dan terkungkung itu, Allah swt akan memberikan kemenangan di masa depan bagi generasi itu.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. ” (QS Al-Hujurat (49): 15)
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. ” (QS Ash Shaff (61): 4)
Itulah empat proses yang perlu dijalankan dalam kehidupan kaum muslimin untuk menjadikan aktifitas da’wah Islam ini terus mengalami perbaikan-perbaikan dengan baik mencapai TERTIB yang lebih baik. Dan akhirnya semuanya bergantung kepada kaum muslimin sendiri untuk membangun da’wah itu dengan tertib.
Thanks,
Haitan Rachman
Popularity: 36% [?]
Recent Comments