Sebagian Kaum Muslimin Selalu Berkomentar Pada Jumlah Hari Khuruj Usaha Da’wah, Tetapi Kerdil dalam Analisa dan Sintesa
Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da’wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid’ahkan aktifitas kaum muslimin.
Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, oleh karena itu tentunya kita sendiri perlu banyak berhubungan dengan kisah-kisah itu dengan baik. Perihal waktu sebenarnya tidak merupakan hal yang kaku, tetapi setidaknya dengan adanya pola tertib/keteraturan itu akan lebih mudah bagi kaum muslimin sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da’wah ini cukup banyak sebagai ahli hadist, oleh karena itu banyak di antaranya menulis syarh hadits hadist yang cukup tebal-tebal.
Perihal waktu itu banyak berhubungan dengan pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan 10%, dan juga tentunya ada beberapa kisah yang berkaitan dengan 3 hari, 40 hari, 4 bulan. Memang kejadiannya sangat berbeda dan juga aktifitasnya berbeda, tetapi setidaknya pola itu dapat dipergunakan untuk ketertiban dan kemudahan bagi kaum muslimin. Karena meskipun berbeda dari aktifitasnya, tetapi mempunyai kedekatan dari proses penyebaran dan juga pengorbanan untuk agama kita yang mulia, Al-Islam. 3 hari kisah Khalid Bin Walid RA, 40 hari berkaitan kisah Ummar Bin Khatab RA, begitupun juga dengan 4 Bulan berkaitan dengan Ummar Bin Khatab RA. Silahkan untuk membuka lembaran kisah itu yang cukup menarik.
Waktu khuruj ini tidak kaku, tetapi sangat fleksibel. Berbeda dengan sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dana S1,S2, S3 mempunyai batas bawah dan atas. Sedangkan khuruj ini lebih banyak tentunya akan lebih memberikan kesan kepada yang menjalankannya. Tetapi meskipun begitu harus tertib dan beraturan. Pola waktu untuk SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 juga diadopsi dari dunia pendidikan barat, dan hal itu juga dipergunakan untuk pendidikan dan pengajaran bidang-bidang Islam. Padahal tidak ada waktu-waktu pendidikan itu di jaman Rasulullah SAW, Para Shahabat RA, tetapi memberikan manfaat dan memberikan kemudahan bagi penyusun kurikulum dan silabusnya secara bertingkat.
Jadi waktu 3 hari, 40 hari, 4 bulan, merupakan proses keteraturan untuk memberikan kemudahan, disamping juga dianalisa dan disintesa berdasarkan pada kaidah 10% yang menjadi pesan Nabi kita sendiri. Yang diharapkan tentunya akan meningkat terus, mungkin kita pernah mendengar bahwa ada yang mau menginfaqkan semuanya, tetapi akhirnya hanya 1/3 saja. Dan tentunya jika pengorbanan 1/3 ini dapat dilakukan cukup luar biasa pengaruhnya kepada dunia Islam. Sekarang saja baru dengan pola 10% sudah begitu besar pengaruhnya di dunia Eropa, bagaimana jika 1/3 waktu tentunya akan sangat berbeda pengaruhnya.
Oleh karena itu jangan antum semua terjebak dengan waktu atau lamanya, karena hal itu sudah menjadi hal umum dalam kehidupan kita agar lebih tertarur. Dan Allah swt sendiri dan Nabi kita Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan kepada kita semua perihal waktu ini, hanya saja kita kurang memperhatikan dengan baik. Jadi perihal waktu itu untuk memudahkan, begitu juga dengan pesan 10% Nabi kita, serta juga pesan Ummar RA dengan 40 hari dan 4 bulan, semua untuk menjadi teratur hidup ini. Dan ini jelas diikuti para Ulama yang benar-benar faham dengan usaha da’wah ini. Jadi tidak asal copot saja hikmah yang dibangun itu, tetapi dengan segala pertimbangan mendalam apalagi mereka ini kebanyakan ahli hadist.
Lebih baik antum semua memperhatikan dengan baik terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri. Sehingga semakin lama tentunya akan memberikan kesan yang lebih baik kepada setiap orang yang melakukan khuruj.
Tetapi juga kita sendiri jangan melupakan musuh yang akan terus menggoda kita, yaitu syeithan, dan tentunya dorongan nafsu kita sendiri yang mengarah pada hal-hal yang tidak sesuai. Itulah perlunya ketika khuruj itu mengikuti tertib-tertib dan ushul da’wah. Tanpa tertib dan ushul, maka syeithan dan nafsu akan sangat mudah masuk dalam proses ishlah/perbaikan diri kita dalam suasana agama, sehingga akhirnya tujuan yang hendak dicapai tidak dapat dicapai dengan baik.
Seluruh tertib dan ushul itu mempunyai landasan Al-quran dan/atau as-sunnah. Seluruh tertib dan ushul ini dijalankan sebaik mungkin, tidak dalam bentuk dalil-dalil detail yang perlu dihafal. Dan untuk menjaga tertib dan ushul itu maka musyawarah menjadi landasan utama. Musyawarah dalam usaha da’wah merupakan hal yang sangat penting diperhatikan, sehingga agendanya sangat beragam dan tingkatan bahasannya. Musyawarah sebenarnya membentuk pikir, kepahaman dan tanggung jawab terhadap da’wah Islam itu sendiri.
Perihal dalil-dalil detail yang berkaitan dengan tertib dan ushul, bagi kalangan alim-ulama dan juga penuntut ilmu biasanya mempunyai keinginan yang berbeda dengan kalangan umum. Sehingga kadangkala menghafal hadist yang begitu panjang, kami pernah mendengarkan satu hadist dalam Bahasa arab yang disampaikan dari orang Perancis turunan arab, mungkin kalau dituliskan Bahasa arabnya mungkin saja 2-3 halaman. Itu yang mempunyai jiwa thalab yang tinggi.
Lebih baik antum semua memperhatikan dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri.
Dalam hal ini banyak dalil berkaitan dengan aktifitas/kerja ketika khuruj yang kita dapat peroleh untuk menguatkan minat kita terhadap usaha da’wah dan tabligh ini, karena memang usaha da’wah ini untuk seluruh kaum muslimin. Dan jika sudah waktunya, amal ini akan kembali ke masjid Nabawi seperti mana kepala ular kembali ke kandangnya. Mungkin sdr. pernah mendengar satu hadist yang hampir sama dengan konteks dengan kalimat itu. Itulah sebenarnya yang akan terjadi dan akan dikembalikan.
Popularity: 41% [?]
Asslm. Sekh.. tolong kirimkan tertib jalan kaki yg terbaru…. jazakalloh
Assalm.’alaikum wr.wb.
Walaupun pilihan metode dakwah saya tidak sama dengan sdr. Haitan, tapi saya sangat setuju dengan paparan sdr. Haitan. Masing-masing kita bisa memilih metode dakwah yang berbeda, tentunya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Yang penting adalah kita tidak saling menyalahkan. Fastabiqul khoirot lah. Cukup banyak PR bagi umat Islam ini yang harus kita kerjakan, maka yang harus kita pikirkan justru bagaimana kita yang beda pilihan dakwahnya itu bisa saling menghargai dan bersinergi. OK, sdr. Husni?
Assalam’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,
Coba tolong tuan lihat kitab Al Ihya Ulumuddin dari Imam Al Gozhali (yang bermazhab Syafi’i), dimana disitu tertulis pada halaman 6 jilid 2: “idza uthliqo ahlussunnati falmurodubihil asy’ariyah wal maatuiydiyyah” (kuranglebih artinya: Apabila disebut kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikuti ‘tiqad Asy’ari dan faham Abu Mansur al Maturidi.”)
Jadi kalau tuan mengklaim bahwa tuan adalah pengikut Ahlussunnah Wal Jamaah, harusnya tuan tidak berkiblat kepada Tuan Ilyas dari New Delhi itu.
Wassalamu’alaikum warohmatllahi wabarokatuh.
Memang Tuan Ilyas yang bermadzab Hanafi bukan Ahlusunnah mas M. Syafi’i, karena beliau sudah wafat mas Syafi’i masih bisa kok melihat keturunan beliau bahkan kegiatan sehari-hari beliau baik penampilan, kegiatan hariannya dan apa yang beliau fikirkan untuk ummat islam. Keturunan beliau kelihatannya masih terjaga (secara fisik) tidak sama dengan orang2 India pada umumnya, beliau katanya silsilahnya sampai kepada Abu Bakar Asshiddiq (orang Quraisy).
Wallahu a’lam