<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Aqidah Islam</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/ilmu-dan-pengajaran/aqidah-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jangan hanya pandai berkomentar terhadap usaha da&#8217;wah, tetapi pelajari dengan teliti dan sistematik!</title>
		<link>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 00:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang telah tumbuh sebagian kalangan kaum muslimin (baca: salafi) yang hanya pandai berkomentar, dan bahkan asal-asalan membid&#8217;ahkan tanpa keinginan mendapatkan pandangan berimbang. Oleh karena itu coba kita semua mempelajari secara telit dan sistematika.
Dalam kaidah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah, adalah keyaqinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan membuktikan dengan amal-amal sholeh. Dan Iman itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang telah tumbuh sebagian kalangan kaum muslimin (baca: salafi) yang hanya pandai berkomentar, dan bahkan asal-asalan membid&#8217;ahkan tanpa keinginan mendapatkan pandangan berimbang. Oleh karena itu coba kita semua mempelajari secara telit dan sistematika.</p>
<p>Dalam kaidah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah, adalah keyaqinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan membuktikan dengan amal-amal sholeh. Dan Iman itu dapat meningkat dengan tetap menjaga amal sholeh, dan iman dapat menurun ketika menjalankan amal-amal maksyiat kepada Allah swt. Ini adalah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Seorang yang berpikiran Sunnah Wal Jama&#8217;ah, tentunya harus berusaha, berpikir, dan melaksanakan bagaimana iman dapat meningkat dan menghindari dari iman yang menurun. Karena jika Iman terus menurun, artinya telah banyak amal-amal maksyiat dilaksanakan, sehingga akan menjadi sulit menjalankan amal-amal sholeh lainnya.</p>
<p><span id="more-294"></span>Tidaklah mungkin antum semua berpikiran sebagai sunnah wal jama&#8217;ah untuk tidak berusaha menjaga iman dan berusaha meningkatkan iman. Dan tentunya sesuai dengan kaidah sunnah wal jama&#8217;ah, maka untuk meningkatkan iman itu dalam suasana agama dengan amal-amal sholeh.</p>
<p>Apa saja amal sholeh itu? Sholat berjama&#8217;ah jelas merupakan amal sholeh, apalagi jika dilaksanakan di awal waktu. Tentunya akan terjaga iman karena dia akan selalu mendahulukan yang perlu didahulukan. Seorang sunnah Wal Jama&#8217;ah tidaklah mungkin ketika mendengar Adzan kemudian tidak melakukan sholat, tentunya akan berusaha sholat di awal waktu dan berjama&#8217;ah. Dengan hal ini tentunya Iman akan terjaga dan meningkat.</p>
<p>Apa lagi kalau begitu? Membaca al-quran jelas juga akan meningkatkan iman, apalagi begitu banyak perintah dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW untuk selalu menjaga membaca Al-quran. Tentunya seorang sunnah wal jama&#8217;ah akan berusaha menjaga secara berkelanjutan untuk membaca al-quran.</p>
<p>Apa lagi? Berdzikir pagi dan petang, sudah banyak perintah agama untuk menganjurkan berdzikir pagi petang. Belajar dan mengajarkan al-islam apakah perkara yang mudah ataupun perkara yang memerlukan mudzakarah. Jelas juga akan meningkatkan iman, karena tidak dalam keadaan suasana maksyiat. Kira-kira apa lagi? Mendengarkan keagungan Allah swt ketika seseorang memberikan penjelasan perihal itu. Da&#8217;wah merupakan amal yang dapat meningkatkan iman juga, apalagi jika bertemu dengan halangan dan rintangan. Sehingga berharap kepada Allah swt akan lebih kuat.</p>
<p>Bagaimana dengan berdo&#8217;a kepada Allah swt? Berdo&#8217;a merupakan ibadah kepada Allah swt dan tentunya dapat meningkatkan iman, jika disertai dengan kesadaran dan harapan kepada Allah swt untuk dapat dikabulkan. Bagaimana dengan silaturahmi? Jelas juga dapat meningkatkan iman, karena merupakan amal sholeh yang sangat dianjurkan agama kita.</p>
<p>Jadi bagi kita yang mengikuti sunnah wal jama&#8217;ah maka tentunya iman itu akan menaik dan juga akan turun, sesuai dengan suasana agama yang ada. Jika banyaknya tidur-tiduran atau ngobrol ngalor ngidul, jelas iman tidak akan banyak kenaikan yang baik. Kecuali tidurnya itu dengan sunnah, dan ngobrolnya itu tidak melanggar aturan syariat agama.</p>
<p>Apakah hal itu bisa dilatih secara keseluruhan dan lengkap? Kira-kira harus bagaimana membentuk suasana agama dan semua orang bisa berlatih bersama untuk meningkatkan iman itu.</p>
<p>Khuruj 3 hari merupakan latihan untuk meningkatkan iman dan amal sholeh, dalam suasana masjid yang memang sudah ada perintahnya dari Allah swt dan Rasulullah SAW untuk memakmurkannya. Inilah tujuan pertama dalam khuruj yaitu Ishlah diri. Dalam kaidah Sunnah Wal Jama&#8217;ah Iman bisa turun dan naik, karena amalnya. Inilah yang dilatih dalam 3 hari. Sehingga kita jangan dahulu menilai yang tidak tepat, sebelum kita mengetahui dari sisi tujuan yang harusnya berlandaskan pada Sunnah Wal Jama&#8217;ah, dan tentunya amal-amal sholeh yang dilakukan selama waktu itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Bagi kalangan kaum muslimin yang selalu menilai dengan bid&#8217;ah dan bahkan sesat terhadap usaha da&#8217;wah / khuruj. Mari kita teliti dengan baik dan berikan jawabannya dengan baik pula. Jangan kita menilai, tanpa dengan ilmunya atau tidak memahaminya karena tidak mendalaminya secara detail.</p>
<p>Apakah membaca al-quran ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdzikir pagi dan petang ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah sholat berjama&#8217;ah ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a masuk kampung ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah da&#8217;wah dari rumah ke rumah itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah ta&#8217;lim hayatush shahabat ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a dengan menangis ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a terhadap orang tertentu itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah makan secara berjama&#8217;ah itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah penjelasan perihal iman dan amal sholeh itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah silaturahmi ke masyarakat itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah beri&#8217;tikaf di masjid itu sunnah atau bid&#8217;ah?</p>
<p>Silahkan berikan jawaban di atas? Seluruh di atas ini baru sebagian kecil dari aktifitas 3 hari, dan semua itu dapat meningatkan iman. Itulah yang dimaksud dalam kaidah sunnah wal jama&#8217;ah, bahwa iman itu dapat meningkat dan menurun. Dan itu cara-cara keberpaduan dari berbagai aktifitas amal sholeh dalam 3 hari dapat meningkatkan iman. Maka sering mendengar dari kalangan ahli da&#8217;wah dan tabligh, bahwa kalau mau meningkatkan iman maka keluarlah atau khuruj. Itu maknanya sebagai latihan amal sholeh untuk meningkatkan iman. Apakah hal itu bertentangan dengan sunnah wal jama&#8217;ah?</p>
<p>Kita sangat kuatir jika kita mati dalam keadaan TIDAK husnul khatimah, artinya ketika iman dan amal sholeh itu berkurangan atau bahkan dalam keadaan maksyiat kepada Allah swt. Bukankah ada yang mati dalam keadaan sedang buka aurat dengan yang bukan mukhrimnya? Bukankah ada yang mati dalam keadaan sedang minum khamr?</p>
<p>Ini yang kita kuatir bersama, oleh karena itu kita perlu bersama-sama meningkatkan iman dan amal sholeh, dan mengajak kaum muslimin lainnya untuk mau meningkatkan iman dan amal sholeh. Itulah sunnah wal jama&#8217;ah dalam memahami Iman yang bisa meningkat dan bisa menurun.</p>
<p>Kalau antum semua sebagai sunnah wal jama&#8217;ah ada yang mempunyai cara meningkatkan iman dan amal sholeh, terus dan lanjutkan. Karena sebenarnya kurikulum dan silabus aturan terhadap peningkatan iman dan amal sholeh bisa beragam bentuknya. Perkara ini biasanya diketahui dengan baik oleh kalangan ulama yang khas.</p>
<p>Oleh karena itu kita tidak perlu  mengomentari, meremehkan, bahkan berkeinginan memadamkan aktifitas-aktifitas kaum muslimin yang sedang berusaha meningkatkan iman dan amal sholeh, dan juga mengajak kaum muslimin lainnya untuk meningkatkan iman dan amal sholeh. Semua hal itu tidak ada gunanya sama sekali, bahkan bisa bertentangan dengan kaidah sunnah wal jama&#8217;ah sendiri. Seharusnya saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=294&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembagian Tauhid Merupakan Ijtihad dan Penilaian Ulama Lainnya Terhadap Pembagian Tauhid</title>
		<link>http://usahadawah.com/pembagian-tauhid-merupakan-ijtihad-dan-penilaian-ulama-lainnya-terhadap-pembagian-tauhid/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/pembagian-tauhid-merupakan-ijtihad-dan-penilaian-ulama-lainnya-terhadap-pembagian-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 21:55:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Asma Was Sifat]]></category>
		<category><![CDATA[Pembagian Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Rububiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Uluhiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kami sudah jelaskan dalam blog ini, bahwa tidak ada satupun dalil apakah dalam Al-quran dan juga As-Sunnah yang menyatakan secara TEXT perihal pembagian tauhid menjadi tiga katagori, yaitu Tauhid Rubiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asmau Wa Shifat. Pembagian ini merupakan ijtihad dari ulama terhadap tauhid. Dalam penjelasan yang disampaikan salafi ke dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Kami sudah jelaskan dalam blog ini, bahwa tidak ada satupun dalil apakah dalam Al-quran dan juga As-Sunnah yang menyatakan secara TEXT perihal pembagian tauhid menjadi tiga katagori, yaitu Tauhid Rubiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asmau Wa Shifat. Pembagian ini merupakan ijtihad dari ulama terhadap tauhid. Dalam penjelasan yang disampaikan salafi ke dalam blog kami juga, dapat menunjukkan bahwa perihal itu merupakan pembagian katagori berdasarkan kandungan-kandungan yang terdapat dalam Al-quran dan As-sunnah yang dapat menunjukkan hal itu.</p>
<p><strong>Tetapi pembagian ini bukan berarti harus dijadikan sebagai sarana untuk menyalahkan atau bahkan menyatakan sesat terhadap Ummat Islam lain yang tidak mengenal atau tidak mengakui pembagian itu sendiri. Dan kami sendiri dapat menunjukkan bahwa Kitab Aqidah Thohawiyyah sendiri yang menjelaskan perihal aqidah Sunnah Wal Jama&#8217;ah tidak memperlihatkan pembagian Tauhid itu. </strong></p>
<p><span id="more-113"></span>Oleh karena itu, kami sendiri menghargai pola pendekatan pembagian itu, sebagai ijtihad untuk memudahkan. Tetapi juga kita tidak dapat memaksakan kaum muslimin harus semuanya mengikuti pembagian itu. Coba perhatikan dua bahasan yang cukup menarik perihal ini dalam link di bawah ini:</p>
<p>1.  					The Divisions of Tawhid:</p>
<p><a href="http://www.marifah.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=40&amp;Itemid=47" target="_blank">http://www.marifah.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=40&amp;Itemid=47</a></p>
<p>2.  					Assessment of the Division of Tawhid into Uluhiyya and Rububiyya:</p>
<p><a href="http://www.marifah.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=21&amp;Itemid=47" target="_blank">http://www.marifah.net/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=21&amp;Itemid=47</a></p>
<p>Sedangkan pembagian Tauhid sebagai berikut:</p>
<p><a href="http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/11/guru-kami-pengorbanan-dan-khuruj/#comment-155" target="_blank">http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/11/guru-kami-pengorbanan-dan-khuruj/#comment-155</a></p>
<p>PEMBAGIAN TAUHID</p>
<p>Oleh<br />
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari</p>
<p>Pertanyaan<br />
Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi Al-Atsari ditanya : Selama ini dalam berbagai kesempatan, saya banyak mendengar dari orang-orang yang mengatakan bermanhaj dan beraqidah Salaf, membagi tauhid menjadi Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat. Dari manakah pembagian ini, mengingat di dalam Al-Qur&#8217;an dan hadits tidak disebutkan. Dan menurut kami, hal itu tidak didapati pula pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun shahabat. Bukankah pernyataan tersebut termasuk suatu perkara baru (muhdats) dan tidak ada dalilnya?</p>
<p>Jawaban<br />
Kami katakan, bahwa pembagian yang disyaratkan tersebut kedudukannya seperti pembagian para pakar ilmu Nahwu terhadap kata dalam bahasa Arab menjadi isim (nama), fi&#8217;il (kata kerja) dan harf (imbuhan). Apakah yang demikian itu suatu hal tercela, padahal sesuai dengan kenyataan dan hakekat perkaranya.</p>
<p>Betapa tepatnya perkataan Syaikh Bakr Abu Zaid dalam risalahnya &#8220;At-Tahdzir&#8221; halaman 30 berkisar pembagian tauhid. Kata beliau : &#8220;Pembagian ini adalah hasil istiqra (telaah) para ulama Salaf terdahulu seperti yang diisyaratakan oleh Ibnu Mandah dan Ibnu Jarir Ath-Thabari serta yang lainnya. Hal ini pun diakui oleh Ibnul Qayim. Begitu pula Syaikh Zabidi dalam &#8220;Taaj Al-Aruus&#8221; dan Syaikh Syanqithi dalam &#8220;Adhwa Al-Bayaan&#8221; dan yang lainnya. Semoga Allah merahmati semuanya</p>
<p>Ini adalah hasil telaah yang paripurna dari nash-nash syar&#8217;i , seperti yang dikenal dalam setiap bidang ilmu. Seperti hasil tela&#8217;ah pakar ilmu Nahwu terhadap bahasa Arab menjadi : isim, fi&#8217;il dan harf. Dan orang-orang Arab tidak mencela dan melecehkan para pakar Nahwu tersebut terhadap hasil tela&#8217;ahnya&#8221;.</p>
<p>Berkata Syaikh Al-Baijuri dalam &#8220;Syarh Jauharah At-Tauhid&#8221; halaman 97. Firman Allah ; ‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin&#8217;, mengisyaratkan pada pengakuan ‘Tauhid Rububiyah, yang konsekwensinya adalah pengakuan terhadap Tauhid Uluhiyah. Adapun konsekwensi Tauhid Uluhiyah adalah terlaksananya Ubudiyah. Hal ini menjadi kewajiban pertama bagi seorang hamba untuk mengenal Allah Yang Maha Suci. Kata beliau selanjutnya : &#8220;Kebanyakan surat-surat Al-Qur&#8217;an dan ayat-ayatnya mengandung macam-macam tauhid ini, bahkan Al-Qur&#8217;an dari awal hingga akhir menerangkan dan mengejawantahkan (menjelaskan)&#8221;.</p>
<p>Kami katakan : &#8220;Sesungguhnya pembagian tauhid menjadi tiga ini, dikandung dalam banyak surat di dalam Al-Qur&#8217;an Al-Karim. Yang paling tampak serta paling jelas adalah dalam dua surat, yaitu Al-Fatihah dan An-Naas, dimana keduanya adalah pembuka dan penutup Al-qur&#8217;an.</p>
<p>Oleh karena itu firman-Nya Yang Maha Suci ; ‘Alhamdulillahir rabbil ‘alamiin&#8217;, mengandung pengukuhan akan ke-rububiyah-an Allah Jalla wa Alaa terhadap seluruh makhluk-Nya, dan firman-Nya Yang Maha Suci : ‘Ar-Rahmanir Rahiim Maliki Yaumid Diin&#8217; di disini mengandung pengukuhan terhadap sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi dan nama-nama-Nya Yang Maha Mulia, sedangkan firman-Nya Yang Maha Suci : ‘Iyaaka Na&#8217;budu Wa Iyaaka Nasta&#8217;iin&#8217; di sana mengandung pengukuhan ke-ubudiyah-an seluruh makhluk kepada-Nya dan ke-uluhiyah-an Allah atas mereka.</p>
<p>Kemudian berkata Imam Ibnu Athiyah (wafat ; 546H) dalam kitabnya Al-Muharrar Al-Wajiiz, juz I, hal.75. Firman-Nya : ‘Iyaaka Na&#8217;budu&#8217; adalah ucapan seorang yang beriman kepada-Nya yang menunjukkan pengakuan terhadap ke-rububiyah-an Allah, mengingat kebanyakan manusia beribadah kepada selain-Nya yang berupa berhala-berhala dan lain sebagainya&#8221;.</p>
<p>Jadi pembagian tauhid menjadi tiga tersebut adalah pembagian secara ilmu dan merupakan hasil tela&#8217;ah seperti yang dikenal dalam kaidah keilmuan. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti tidak ber-tafaquh terhadap Kitab Allah, tidak mengetahui kedudukan Allah, mengetahui sebagian dan tidak mengetahui sebagian yang lainnya. Allah pemberi petunjuk ke jalan nan lurus kepada siapa yang Dia kehendaki.</p>
<p>Wallahu ‘alam</p>
<p>[Diangkat dari rubrik soal-jawab majalah Al-Ashalah edisi 4 Syawal 1413H. Disalin ulang oleh Majalah As-Sunnah Edisi 14/II/1416 - 1995. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Alamat Gedung Umat Islam Lt. II Jl. Kartopuran 241A Surakarta 57152]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=113&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/pembagian-tauhid-merupakan-ijtihad-dan-penilaian-ulama-lainnya-terhadap-pembagian-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah (Penjelasan Ringkas)</title>
		<link>http://usahadawah.com/aqidah-ahlussunnah-wal-jama%e2%80%99ah-penjelasan-ringkas/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/aqidah-ahlussunnah-wal-jama%e2%80%99ah-penjelasan-ringkas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 03:26:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah wal jama'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Wahyu Arifianto Wrote:
http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/11/guru-kami-pengorbanan-dan-khuruj/#comment-262
AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA&#8217;AH
(penjelasan ringkas)
Mohon dibaca dengan seksama, tawajjuh dan penuh perhatian&#8230;!!! Terima kasih&#8230;
1. Allah Ta&#8217;ala berfirman:
&#8220;Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)&#8221;. (QS. Asy-Syura: 11).
Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam Al-Qur&#8217;an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wahyu Arifianto Wrote:</p>
<p>http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/11/guru-kami-pengorbanan-dan-khuruj/#comment-262</p>
<p><strong>AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA&#8217;AH</strong><br />
(penjelasan ringkas)</p>
<p>Mohon dibaca dengan seksama, tawajjuh dan penuh perhatian&#8230;!!! Terima kasih&#8230;</p>
<p>1. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)&#8221;. (QS. Asy-Syura: 11).</p>
<p>Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam Al-Qur&#8217;an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian, yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al jawhar al fard) dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jism). Benda yang terakhir ini juga terbagi menjadi dua bagian:</p>
<p><span id="more-100"></span>a.	Benda lathif : sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, roh, angin, dan sebagainya.</p>
<p>b.	Benda katsif : sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan, seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.</p>
<p>Adapun sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta&#8217;ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al jawhar al fard, juga bukan benda lathif ataupun benda katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti Ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.</p>
<p>2. Rosulullah saw, bersabda, yang artinya:</p>
<p>&#8220;Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya&#8221;. (HR. Bukhari, Baihaqi dan Ibnu al Jarud).</p>
<p>Makna hadits ini, bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).</p>
<p>Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah.</p>
<p>Al Imam al Baihaqi (W. 458H) dalam kitabnya al Asma wa as-Shifat, hlm 506, mengatakan: &#8220;Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah, mengambil dalil dari:</p>
<p>3. Sabda Rosulullah saw, yang artinya:</p>
<p>&#8220;Engkau Az-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya) tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah Al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu&#8221;. (HR. Muslim dan lainnya.).</p>
<p>Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat&#8221;.</p>
<p>Adapun salah satu riwayat hadits jariyah yang zhahirnya memberi persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwilkan dengan makna yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh Ulama Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, diantaranya adalah al Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Senada dengan perkataan Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib-semoga Allah meridhainya, yang maknanya:<br />
&#8220;Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat&#8221;. (di tuturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq Bayna al Firaq hlm. 333).</p>
<p>Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau ada di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh ‘Abdul Wahhab asy-Sya&#8217;rani (W. 973 H) dalam kitabnya Al Yawaqiit Wa al Jawahir menukil perkataan Syekh ‘Ali al Khawwash: &#8220;Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana&#8221;. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tempat.</p>
<p>Al Imam ‘Ali-semoga Allah meridhainya- mengatakan yang maknanya:<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya&#8221;. (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq Bayna al Firaq, hlm. 333).</p>
<p>Sayyidina Ali -semoga Allah meridhainya- juga mengatakan yang maknanya:<br />
&#8220;Sesungguhnya yang menciptakan aina (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kaifa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana&#8221;. (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hlm. 98).</p>
<p>Menurut Ulama Tauhid yang dimaksud al-Mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk, baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al-Hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk, baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk ruangan melalui jendela) mempunyai ukuran, demikian juga ‘arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.</p>
<p>Al Imam Ali -semoga Allah meridhainya- berkata, yang maknanya:<br />
&#8220;Barangsiapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)&#8221;. Diriwayatkan oleh al Imam Abu Nu&#8217;man (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya&#8217; (Juz I hlm. 72).</p>
<ul>
<li>Maksud perkataan Sayyidina ‘Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran.</li>
<li>Semua bentuk baik lathif maupun katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Adapun Allah bukanlah merupakan benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya Ulama Ahlussunnah mengatakan: &#8220;Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil&#8221;. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah: bahwa ruang kosong yang di isi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang di isi oleh suatu benda.</li>
</ul>
<p>Al Imam as-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husayn ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (38 H- 94 H), berkata, yang maknanya:</p>
<p>&#8220;Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat&#8221;. Dan dia berkata: &#8220;Engkaulah Allah yang maha suci dari hadd (benda, bentuk dan ukuran)&#8221;. Beliau juga berkata: &#8220;Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh&#8221;, yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Ia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan ada tanpa arah. (Diriwayatkan al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah ahlul bait, keturunan Rosulullah saw).</p>
<p>Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan wahdatul wujud dan hulul.</p>
<p>Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridhainya- berkata yang maknanya:<br />
&#8220;Barangsiapa yang mengatakan saya tidak tahu apakah Allah berada di langit ataukah berada di bumi maka dia telah kafir&#8221; (diriwayatkan oleh al Maturidi dan lainnya).</p>
<p>Al Imam Syekh al ‘Izz ibn ‘Abd as-Salam asy-Syafi&#8217;i dalam kitabnya Hall ar-Rumuz menjelaskan maksud Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan: &#8220;karena perkataan ini memberikan persangkaan bahwasanya Allah bertempat, dan barangsiapa yang menyangka bahwa Allah bertempat maka dia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Demikian juga dijelaskan maksud Imam Abu Hanifah ini oleh al Bayadli al Hanafi dalam Isyaraat al Maraam.</p>
<p>Al Imam al Hafizh ibn al Jawzy (W. 597 H) mengatakan dalam kitabnya Daf&#8217;u Syubah at-Tasybih, maknanya: &#8220;Sesungguhnya orang yang mensifati Allah dengan tempat dan arah maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhuk-Nya) dan mujassim (orang yang meyakini bahwa Allah adalah jism; benda), yang tidak mengetahui sifat Allah&#8221;.</p>
<p>Di dalam kitab Al Fatawa al Hindiyyah, cetakan Dar Shadir, jilid II, hlm. 259 tertulis sebagai berikut: &#8220;Adalah kafir orang yang menetapkan tempat bagi Allah ta&#8217;ala&#8221;.</p>
<p>Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridhainya- dalam kitabnya al Washiyyah berkata yang maknanya: &#8220;Bahwa penduduk surga melihat Allah ta&#8217;ala adalah perkara yang haqq (pasti terjadi), tanpa (Allah) disifati dengan sifat-sifat benda, tanpa menyerupai makhluk-Nya dan tanpa (Allah) berada di suatu arah&#8221;. Ini adalah penegasan Al Imam Abu Hanifah -semoga Allah meridhainya- bahwa beliau menafikan arah dari Allah ta&#8217;ala.</p>
<p>Al Imam Malik -semoga Allah meridhainya- berkata: &#8220;Ar-Rahman ‘ala al-‘arsy istawa sebagaimana Allah mensifati Dzat (hakekat)-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana, dan kaifa (sifat-sifat makhluk) adalah mustahil bagi-Nya&#8221;. (diriwayatkan oleh al Baihaqi).</p>
<p>Maksud perkataan al Imam Malik tersebut, bahwa Allah maha suci dari semua sifat benda, seperti duduk, bersemayam, berada di suatu tempat dan arah dan sebagainya.</p>
<p>Al Imam as-Syafi&#8217;i -semoga Allah meridhainya- berkata: &#8220;Barangsiapa yang berusaha untuk mengetahui pengaturnya (Allah) hingga meyakini bahwa yang ia bayangkan dalam benaknya adalah Allah, maka ia adalah musyabbih; kafir. Dan jika ia berhenti pada keyakinan bahwa tidak ada Tuhan (yang mengaturnya) maka dia adalah mu&#8217;aththil -atheis-; kafir. Dan jika ia berhenti pada keyakinan bahwa pasti ada pencipta yang menciptakannya dan tidak menyerupainya serta mengakui bahwa dia tidak akan bisa membayangkan-Nya maka dialah muwahid (orang yang mentauhidkan Allah); muslim&#8221;. (diriwayatkan oleh al Baihaqi dan lainnya).</p>
<p>Al Imam Ahmad bin Hanbal dan al Imam Tsauban bin Ibrahim Dzu an-Nun al Mishri, salah seorang murid terkemuka al Imam Malik -semoga Allah meridhai keduanya- berkata: &#8220;Apapun yang terlintas dalam benakmu (tentang Allah) maka Allah tidaklah menyerupai itu (sesuatu yang terlintas dalam benak)&#8221;. (diriwayatkan oleh Abu al Fadli at Tamimi dan al Khatib al Baghdadi).</p>
<p>Al Imam Abu Ja&#8217;far ath-Thahawi -semoga Allah meridhainya- (227-321 H) berkata: &#8220;Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya), Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah tersebut&#8221;. Perkataan al Imam Abu Ja&#8217;far ath-Thahawi ini merupakan ijma&#8217; (konsensus) para sahabat dan salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah). Dalil dari perkataan tersebut, bahwasannya bukanlah nabi Muhammad saw, naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi&#8217;raj adalah memuliakan Rosulullah saw, dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur&#8217;an surat al-Isra&#8217; ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad saw, sehingga jarak keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad saw, disaat mi&#8217;raj adalah Jibril as, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridhainya-.<br />
Adapun ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya kearah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah berada di arah langit/ atas. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka&#8217;bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka&#8217;bah adalah kiblat shalat.</p>
<p>Penjelasan seperti ini di tuturkan oleh para Ulama Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al-Ghun-yah, Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya&#8217; ‘Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim dan masih banyak lagi. Perkataan ini juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham wahdah al wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati sebagian makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan ijma&#8217; kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Hafizh as-Suyuthi, juga para panutan kita ahli tashawwuf sejati seperti al Imam al Junayd al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa&#8217;i (W. 578 H), Syekh Abd al Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua imam tashawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang mengaku dusta sebagai pengikut tarekat tashawwuf dan meyakini aqidah wahdah al wujud dan hulul. Beliau juga berkata: &#8220;Barangsiapa mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir&#8221;.</p>
<p>Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak, diam, turun, naik, duduk, bersemayam, mempunyai jarak, menempel, berpisah, berubah, berada pada suatu tempat dan arah, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa dan sebagainya. Maka orang yang mengatakan bahwa bahasa Arab atau bahasa-bahasa selain bahasa arab adalah bahasa Allah atau kalam Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) dengan huruf, suara atau semacamnya, dia telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka ia telah terjerumus kedalam kekufuran, begitu juga orang yang meyakini wahdah al wujud dan hulul.</p>
<p>Al Imam Ahmad ar-Rifa&#8217;i (W. 578 H) dalam al Burhan al Mu-ayyad berkata: &#8220;Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegangan kepada zhahir al-Qur&#8217;an dan hadits Nabi Muhammad saw, yang mutasyabihat, sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran&#8221;.</p>
<p>Mutasyabihat artinya nash-nash al-Qur&#8217;an dan hadits Nabi Muhammad saw, yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur&#8217;an kepada ayat-ayat muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa arab, yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya. Di antara ayat-ayat mutasyabihat yang tidak boleh di ambil secara zhahirnya adalah firman Allah ta&#8217;ala dalam surat Thaha ayat 5:</p>
<p>Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah duduk (jasala) atau bersemayam atau berada di atas ‘arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda sebagaimana yang dikatakan oleh al Hafizh al Baihaqi (W. 458H), al Imam Mujtahid Taqiyyuddin as-Subki (W. 756 H) dan al Hafizh Ibnu Hajar (W. 852 H) dan lainnya. Kemudian kata istawa sendiri dalam bahasa arab mempunyai 15 makna. Karena itu kata istawa tersebut harus ditafsiri dengan makna yang layak bagi Allah dan harus selaras dengan ayat-ayat muhkamat. Berdasarkan ini, maka tidak boleh menerjemahkan kata istawa ke bahasa Indonesia dan bahasa lainnya karena kata istawa mempunyai 15 makna dan tidak mempunyai padan kata (sinonim) yang mewakili 15 makna tersebut. Yang diperbolehkan adalah menerjemahkan maknanya, makna kata istawa dalam ayat tersebut adalah qahara (menundukkan atau menguasai). Al Imam ‘Ali-semoga Allah meridhainya- mengatakan: &#8220;Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya&#8221;.</p>
<p>Maka ayat tersebut diatas (surat Thaha: 5) boleh ditafsirkan dengan qahara (menundukkan dan menguasai), yakni Allah menguasai ‘arsy sebagaimana Dia menguasai semua makhluk-Nya. Karena al-Qahr merupakan sifat pujian bagi Allah. Dan Allah menamakan Dzat-Nya al-Qahir dan al-Qahhar dan kaum muslimin menamakan anak-anak mereka dengan nama ‘Abd (hamba) al Qahir dan ‘Abd al Qahhar. Tidak seorangpun dari umat Islam yang menamakan anaknya ‘Abd al Jalis (al Jalis adalah nama bagi yang duduk). Karena duduk adalah sifat yang sama-sama dimiliki oleh manusia, jin, hewan dan malaikat. Penafsiran diatas tidak berarti bahwa Allah sebelum itu tidak menguasai ‘arsy kemudian menguasainya, karena al Qahr adalah sifat Allah yang azali (tidak mempunyai permulaan) sedangkan ‘arsy merupakan makhluk yang baru (yang mempunyai permulaan). Dalam ayat ini, Allah menyebut ‘arsy secara khusus karena ia adalah makhluk Allah yang paling besar bentuknya.</p>
<p>Ibnu al Mu&#8217;allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi&#8217;i menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk diatas ‘Arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya. Yang menta&#8217;wil istawa dengan qahara adalah para ulama Ahlussunah wal Jama&#8217;ah. Diantaranya adalah al Imam ‘Abd Allah ibnu Yahya ibnu Mubarak (W. 273 H), al Imam Abu Manshur al Maturudi al Hanafi (W. 333 H), al Ghazali asy-Syafi&#8217;i (W. 505 H), al Hafizh Ibnu al Jawzi al Hanbali (W. 597 H), al Imam Abu ‘Amr ibnu al Hajib al Maliki (W. 646 H), Syekh Muhammad Mahfuzh at-Termasi al Indonesi asy-Syafi&#8217;i (1285-1338 H), Syekh Nawawi al Jawi al Indonesi asy-Syafi&#8217;i (1314-1397 H).</p>
<p>Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang ia katakan tentang ayat (al-Baqarah: 115):</p>
<p>Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya: &#8220;Ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscaya Allah ada di sana&#8221;. Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan. Akan tetapi makna ayat di atas bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat di atas hewan tunggangannya, ke arah manapun tunggangannya itu menghadap selama arah itu adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah. Sebagaimana yang dikatakan Mujahid (W. 102 H), murid Ibnu ‘Abbas. Dan begitulah seluruh ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Seperti firman Allah dalam surat an-Nur ayat 35:</p>
<p>Tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya. Tetapi makna ayat ini, bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang. Atau maknanya, bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan jin dan manusia, yang berada di bumi, yaitu petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana yang dikatakan ‘Abd Allah ibnu ‘Abbas -semoga Allah meridhainya- salah seorang sahabat Nabi saw. Ta&#8217;wil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam kitabnya al Asma&#8217; wa ash-Shifat.</p>
<p>Abu Bakr ash-Shiddiq -semoga Allah meridhainya- berkata yang maknanya: &#8220;Pengakuan bahwa pemahaman seseorang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakekat Allah adalah keimanan, adapun mencari tahu tentang hakekat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik&#8221;.<br />
Maksudnya adalah kita beriman bahwa Allah ada, tidak seperti makhluk-Nya, tanpa memikirkan tentang Dzat(hakekat)-Nya. Adapun berfikir tentang makhluk Allah adalah hal yang dianjurkan, karena segala sesuatu merupakan tanda akan ada-Nya. Perkataan Abu Bakr ash-Shiddiq -semoga Allah meridhainya- tersebut diriwayatkan oleh seorang ahli fiqh dan hadits, al Imam Badr ad-Din az-Zarkasyi asy-Syafi&#8217;i (W. 794 H) dan lainnya.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-Why&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
Demikian penjelasan ini kami kutip dan kami ringkas dari buku &#8220;AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA&#8217;AH&#8221; yang diterbitkan oleh Syahamah press dan dari kitab-kitab yang judulnya telah kami cantumkan diatas, serta hasil mudzakaroh dengan para Ulama. Dan bila pembaca ingin penjelasan lebih luas silahkan baca buku &#8220;ALLAH ADA TANPA TEMPAT&#8221; yang diterbitkan dan disebarluaskan oleh Ponpes Dar Ahlussunnah Wal Jama&#8217;ah, Kubu-Riau atau silahkan baca kitab-kitab yang judulnya telah kami sebutkan dengan bertanya kepada Ulama-ulama Ahlussunnah terkemuka.<br />
Semoga bermanfaat dan semoga Allah memberikan pemahaman kepada kita semua. Amiiiin&#8230;.<br />
Wassalam&#8230;.</p>
<p>Mohon di edit&#8230;.<br />
jazakallah&#8230;</p>
<p>Catatan: Admin blog hanya merapikan. Silahkan untuk dipelajari dengan baik.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=100&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/aqidah-ahlussunnah-wal-jama%e2%80%99ah-penjelasan-ringkas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

