<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Ilmu dan Pengajaran</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/ilmu-dan-pengajaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pandangan aneh dan berlebihan terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh karena beberapa hadist/keterangan</title>
		<link>http://usahadawah.com/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 00:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Kepada kaum muslimin yang berbahagia,
Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Para ulama terhadap satu perkara belum tentu mempunyai pandangan yang sama, dan hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa (baca: ijtihad) yang dibangunnya oleh Ulama yang bersangkutan. Sama halnya dengan TINGKATAN hadist Rasulullah SAW belum tentu sama seluruh ulama terhadap tingkatan tersebut, disamping terdapat yang disepakati para Ulama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada kaum muslimin yang berbahagia,</p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Para ulama terhadap satu perkara belum tentu mempunyai pandangan yang sama, dan hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa (baca: ijtihad) yang dibangunnya oleh Ulama yang bersangkutan. Sama halnya dengan TINGKATAN hadist Rasulullah SAW belum tentu sama seluruh ulama terhadap tingkatan tersebut, disamping terdapat yang disepakati para Ulama sendiri.</p>
<p>Sebagian kaum muslimin (baca: salafi) selalu menyampaikan pandangan bahwa kitab fadhilah amal, Maulana Dzakaria Rah, mengajarkan hadits-hadist dhoif, maudhu, mungkar. Sehingga akhirnya dibuat satu kesimpulan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh (baca: orang menyebutnya jama&#8217;ah tabligh) mengajarkan kesesatan. Satu pandangan dan kesimpulan yang terlalu gegabah dan tergesa-gesa.</p>
<p><span id="more-305"></span>Di bawah ini selalu dikomentari kalangan Sebagian kaum muslimin (baca: salafi).</p>
<blockquote><p>Disebutkan dalam kitab Fadha`il Al-A’mal, bab Fadhilah Adz-Dzikr2 hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab z berkata: Rasulullah n bersabda:</p>
<p>Ketika Adam telah berbuat dosa, ia pun mengangkat kepalanya ke atas langit kemudian berdoa: “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad, ampunilah dosaku.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?” Maka Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu, dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. Maka akupun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu dari orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu, kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”</p>
<p>Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa menerjemahkan takhrij hadits yang disebutkan Al-Kandahlawi. Dia berkata setelah itu: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab Ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Durr, dan dalam Majma’ Az-Zawa`id (disebutkan): Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, dan dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yang lainnya berupa hadits yang masyhur: “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini”, Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”</p></blockquote>
<p>Memang cukup disayangkan terjemahan fadhilah amal itu TIDAK MENTERJEMAHKAN bagian penjelasan-penjelasan yang berkaitan periwayatan hadist Rasulullah SAW, MESKIPUN dalam kitab itu sangat jelas dan tertulis dengan baik. Mudah-mudahan di waktu akan datang akan diterjemahkan dengan baik, sehingga kaum muslimin tidak serampangan menilai terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Hadits di atas tersebut terdapat dalam pasal 3 kitab fadhilah dzikir no hadist 28, dan merupakan bagian dari 40 hadist yang digunakan oleh Maulana Dzakaria Rah untuk menjelaskan perihal kepentingan dan keutamaan kalimat Thoyyibah. Kita pertama kali harus MEMPELAJARI DENGAN BAIK seluruh 40 hadist itu apa yang mau disampaikan oleh penulisnya dengan baik.</p>
<p>Disamping itu juga kita perlu memperhatikan penjelasan-penjelasan (baca: syarah hadist) dari 40 hadits yang bersangkutan dengan baik, serta perhatikan juga bagaimana pandangan ulama terhadap tingkatan hadist tersebut dengan baik. Dengan 3 hal perhatian kita tersebut, diharapkan kita tidak membuat kesimpulan ataupun penilaian yang serampangan terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh, apalagi sampai menyebutkan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh mengajarkan pada kesesatan.</p>
<p>3 hal yang harus diperhatikan dengan baik yaitu :</p>
<p>1. Pelajari seluruh 40 hadist Rasulullah SAW berkaitan dengan keutamaan kalimat Thoyyibah</p>
<p>2. Pelajari seluruh penjelasan-penjelasan (baca: syarh hadist) terhadap 40 hadist Rasulullah SAW berkaitan dengan kalimat Thoyyibah</p>
<p>3. Pelajari seluruh periwayatan dari 40 hadist tersebut yang dijelaskan dalam kitab itu</p>
<p>Hadits yang diatas itu memang dikeluarkan seperti yang dijelaskan di atas, TETAPI terdapat penjelasan ulama lainnya yang menjelaskan bahwa hal itu tidak maudhu oleh Imam Suyuthi Rah dan secara makna shohih oleh Al-Qari Rah dalam penjelasan hadist itu sendiri tertulis dengan baik, sedangkan ulama-ulama yang disebutkan awal-awalnya tempat dikeluarkannya hadist ini. Penulis, Maulana Dzakaria Rah, menjelaskan perihal hadist itu dalam kitab itu bahwa hadist yang serupa ini cukup banyak riwayatnya, sehingga tentunya beliau mengambil satu kesimpulan sesuai dengan keahlian yang beliau miliki.</p>
<p>Dalam 40 hadist yang dicantumkan itu banyak yang shohih juga. Dan perihal hadist dhoif ini banyak Ulama yang berbeda pandangan dalam menyikapinya. Seperti Imam Nawawi Rah menjelaskan perihal hadist dhoif dapat diamalkan dalam urusan keutamaan amal. Dan Maulana Dzakaria Rah mengambil pandangan ini secara baik, dan masih banyak lagi Ulama lainnya yang membolehkan perihal hadist dhoif dalam perkara keutamaan amal.</p>
<p>Sehingga kesimpulan yang mengatakan bahwa fadhilah amal mengajarkan pada kesesatan, maka jelas hal ini terlalu serampangan dan tergesa-gesa. Karena akhirnya mereka sendiri harus mengambil kesimpulan bahwa para Imam lainnya juga mengajarkan kesesatan. Imam Syutuhi Rah sendiri tidak mengatakan sebagai hadist maudhu dalam hal di atas, jika hanya diambil kesimpulan sederhana bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh mengajarkan kesesatan, maka Imam Suyuthi Rah juga mengajarkan kesesatan. Begitupun juga dengan Imam-Imam lainnya yang diambil pandangannya.</p>
<p>Sehingga kita tidak boleh serampangan menilai terhadap kitab fadhilah amal, karena kitab ini juga mempunyai sumber-sumber kitab yang disusun para Ulama sebelumnya. Oleh karena itu perhatikan 3 hal di atas itu dengan baik.</p>
<p>Jika ada di kalangan kaum muslimin tidak menggunakan hadist no. 28 itu, tidak ada masalah karena masih ada hadist lainnya yang menjelaskan dengan baik. TETAPI yang perlu kita BERHATI-HATI adalah menilai kaum muslimin lainnya dengan mengatakan &#8220;mengajarkan kesesatan dan kemungkaran&#8221; dikarenakan berbeda pandangan dalam satu hal. Karena hal ini merupakan ketergesa-gesaan dalam menilai Ummat Islam.</p>
<p>Dan seharusnya kaum muslimin bersyukur dengan adanya usaha da&#8217;wah dan tabligh, dan berusaha membantu rombongan-rombongan da&#8217;wahnya dengan baik; karena asbab dari da&#8217;wah-da&#8217;wah yang dilakukannya telah banyak kaum muslimin yang tadinya jauh dengan amal-amal Islam dan sekarang mereka ini telah kembali ke pangkuan Islam dengan penuh semangat Iman dan Amal sholeh, bahkan tidak hanya di daerah mayoritas Islam seperti Indonesia, Malaysia, tetapi bahkan di negara-negara Eropa, Amerika, banyak kaum muslimin yang kembali ke pangkuan Islam termasuk turuan arab sekalipun.</p>
<p>Dan bahkan banyak kaum-kaum lainnya yang tadinya bukan muslim, mereka menjadi senang memilih Al-Islam dan menjadi muslim. Dan mereka juga aktif melibatkan diri dalam kerja-kerja da&#8217;wah. Oleh karena itu, sebaiknya kalangan salafi tidak tergesa-gesa dan serampangan menilai kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh, karena hal itu sama saja dengan berusaha memadamkan semangat da&#8217;wah Ilallah.</p>
<p>Meskipun banyak yang tadinya jauh dengan Al-Islam dan bahkan banyak maksyiat kepada Allah swt, dan Alhamdulillah setelah berkenalan usaha da&#8217;wah dan tabligh akhirnya mereka bisa kembali ke pangkuan Al-Islam. Tetapi selanjutnya menjadi berpikiran aneh terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh setelah berkenalan dengan sebagian kalangan salafi dikarenakan doktrin-doktrinnya yang selalu dibangun terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Sehingga lupa terhadap jasa dan asbab yang menjadikan mereka bisa kembali ke pangkuan Islam. Bisa dibayangkan jika tidak ada usaha da&#8217;wah dan tabligh, maka mereka-mereka ini akan terus dalam keadaan masyiat kepada Allah swt dan jauh dari Al-Islam. Jadi sangat beruntunglah orang-orang yang bisa menyelamatkan mereka-mereka dan mengajak mereka kembali ke pangkuan Islam, kalau tidak mereka-mereka ini masih dalam keadaan masyiat kepada Allah swt.</p>
<p>Oleh karena itu, kawan-kawan yang awalnya tidak mengenal agama dan selanjutnya mengenal agama meskipun sedikit karena asbab usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, selanjutnya malahan mempunyai pandangan aneh terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, setelah berkenalan sebagian salafi karena doktrin-doktrinnya ataupun pergerakan lainnya. COBA MERENUNG SEDIKIT SAJA, kira-kira kalau tidak ada usaha da&#8217;wah dan tabligh yang mengajak kawan-kawan, apakah kawan-kawah masih dalam lupa dan jauh dengan Allah swt atau bagaimana?</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=305&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan hanya pandai berkomentar terhadap usaha da&#8217;wah, tetapi pelajari dengan teliti dan sistematik!</title>
		<link>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 00:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang telah tumbuh sebagian kalangan kaum muslimin (baca: salafi) yang hanya pandai berkomentar, dan bahkan asal-asalan membid&#8217;ahkan tanpa keinginan mendapatkan pandangan berimbang. Oleh karena itu coba kita semua mempelajari secara telit dan sistematika.
Dalam kaidah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah, adalah keyaqinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan membuktikan dengan amal-amal sholeh. Dan Iman itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang telah tumbuh sebagian kalangan kaum muslimin (baca: salafi) yang hanya pandai berkomentar, dan bahkan asal-asalan membid&#8217;ahkan tanpa keinginan mendapatkan pandangan berimbang. Oleh karena itu coba kita semua mempelajari secara telit dan sistematika.</p>
<p>Dalam kaidah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah, adalah keyaqinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan membuktikan dengan amal-amal sholeh. Dan Iman itu dapat meningkat dengan tetap menjaga amal sholeh, dan iman dapat menurun ketika menjalankan amal-amal maksyiat kepada Allah swt. Ini adalah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Seorang yang berpikiran Sunnah Wal Jama&#8217;ah, tentunya harus berusaha, berpikir, dan melaksanakan bagaimana iman dapat meningkat dan menghindari dari iman yang menurun. Karena jika Iman terus menurun, artinya telah banyak amal-amal maksyiat dilaksanakan, sehingga akan menjadi sulit menjalankan amal-amal sholeh lainnya.</p>
<p><span id="more-294"></span>Tidaklah mungkin antum semua berpikiran sebagai sunnah wal jama&#8217;ah untuk tidak berusaha menjaga iman dan berusaha meningkatkan iman. Dan tentunya sesuai dengan kaidah sunnah wal jama&#8217;ah, maka untuk meningkatkan iman itu dalam suasana agama dengan amal-amal sholeh.</p>
<p>Apa saja amal sholeh itu? Sholat berjama&#8217;ah jelas merupakan amal sholeh, apalagi jika dilaksanakan di awal waktu. Tentunya akan terjaga iman karena dia akan selalu mendahulukan yang perlu didahulukan. Seorang sunnah Wal Jama&#8217;ah tidaklah mungkin ketika mendengar Adzan kemudian tidak melakukan sholat, tentunya akan berusaha sholat di awal waktu dan berjama&#8217;ah. Dengan hal ini tentunya Iman akan terjaga dan meningkat.</p>
<p>Apa lagi kalau begitu? Membaca al-quran jelas juga akan meningkatkan iman, apalagi begitu banyak perintah dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW untuk selalu menjaga membaca Al-quran. Tentunya seorang sunnah wal jama&#8217;ah akan berusaha menjaga secara berkelanjutan untuk membaca al-quran.</p>
<p>Apa lagi? Berdzikir pagi dan petang, sudah banyak perintah agama untuk menganjurkan berdzikir pagi petang. Belajar dan mengajarkan al-islam apakah perkara yang mudah ataupun perkara yang memerlukan mudzakarah. Jelas juga akan meningkatkan iman, karena tidak dalam keadaan suasana maksyiat. Kira-kira apa lagi? Mendengarkan keagungan Allah swt ketika seseorang memberikan penjelasan perihal itu. Da&#8217;wah merupakan amal yang dapat meningkatkan iman juga, apalagi jika bertemu dengan halangan dan rintangan. Sehingga berharap kepada Allah swt akan lebih kuat.</p>
<p>Bagaimana dengan berdo&#8217;a kepada Allah swt? Berdo&#8217;a merupakan ibadah kepada Allah swt dan tentunya dapat meningkatkan iman, jika disertai dengan kesadaran dan harapan kepada Allah swt untuk dapat dikabulkan. Bagaimana dengan silaturahmi? Jelas juga dapat meningkatkan iman, karena merupakan amal sholeh yang sangat dianjurkan agama kita.</p>
<p>Jadi bagi kita yang mengikuti sunnah wal jama&#8217;ah maka tentunya iman itu akan menaik dan juga akan turun, sesuai dengan suasana agama yang ada. Jika banyaknya tidur-tiduran atau ngobrol ngalor ngidul, jelas iman tidak akan banyak kenaikan yang baik. Kecuali tidurnya itu dengan sunnah, dan ngobrolnya itu tidak melanggar aturan syariat agama.</p>
<p>Apakah hal itu bisa dilatih secara keseluruhan dan lengkap? Kira-kira harus bagaimana membentuk suasana agama dan semua orang bisa berlatih bersama untuk meningkatkan iman itu.</p>
<p>Khuruj 3 hari merupakan latihan untuk meningkatkan iman dan amal sholeh, dalam suasana masjid yang memang sudah ada perintahnya dari Allah swt dan Rasulullah SAW untuk memakmurkannya. Inilah tujuan pertama dalam khuruj yaitu Ishlah diri. Dalam kaidah Sunnah Wal Jama&#8217;ah Iman bisa turun dan naik, karena amalnya. Inilah yang dilatih dalam 3 hari. Sehingga kita jangan dahulu menilai yang tidak tepat, sebelum kita mengetahui dari sisi tujuan yang harusnya berlandaskan pada Sunnah Wal Jama&#8217;ah, dan tentunya amal-amal sholeh yang dilakukan selama waktu itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Bagi kalangan kaum muslimin yang selalu menilai dengan bid&#8217;ah dan bahkan sesat terhadap usaha da&#8217;wah / khuruj. Mari kita teliti dengan baik dan berikan jawabannya dengan baik pula. Jangan kita menilai, tanpa dengan ilmunya atau tidak memahaminya karena tidak mendalaminya secara detail.</p>
<p>Apakah membaca al-quran ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdzikir pagi dan petang ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah sholat berjama&#8217;ah ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a masuk kampung ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah da&#8217;wah dari rumah ke rumah itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah ta&#8217;lim hayatush shahabat ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a dengan menangis ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a terhadap orang tertentu itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah makan secara berjama&#8217;ah itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah penjelasan perihal iman dan amal sholeh itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah silaturahmi ke masyarakat itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah beri&#8217;tikaf di masjid itu sunnah atau bid&#8217;ah?</p>
<p>Silahkan berikan jawaban di atas? Seluruh di atas ini baru sebagian kecil dari aktifitas 3 hari, dan semua itu dapat meningatkan iman. Itulah yang dimaksud dalam kaidah sunnah wal jama&#8217;ah, bahwa iman itu dapat meningkat dan menurun. Dan itu cara-cara keberpaduan dari berbagai aktifitas amal sholeh dalam 3 hari dapat meningkatkan iman. Maka sering mendengar dari kalangan ahli da&#8217;wah dan tabligh, bahwa kalau mau meningkatkan iman maka keluarlah atau khuruj. Itu maknanya sebagai latihan amal sholeh untuk meningkatkan iman. Apakah hal itu bertentangan dengan sunnah wal jama&#8217;ah?</p>
<p>Kita sangat kuatir jika kita mati dalam keadaan TIDAK husnul khatimah, artinya ketika iman dan amal sholeh itu berkurangan atau bahkan dalam keadaan maksyiat kepada Allah swt. Bukankah ada yang mati dalam keadaan sedang buka aurat dengan yang bukan mukhrimnya? Bukankah ada yang mati dalam keadaan sedang minum khamr?</p>
<p>Ini yang kita kuatir bersama, oleh karena itu kita perlu bersama-sama meningkatkan iman dan amal sholeh, dan mengajak kaum muslimin lainnya untuk mau meningkatkan iman dan amal sholeh. Itulah sunnah wal jama&#8217;ah dalam memahami Iman yang bisa meningkat dan bisa menurun.</p>
<p>Kalau antum semua sebagai sunnah wal jama&#8217;ah ada yang mempunyai cara meningkatkan iman dan amal sholeh, terus dan lanjutkan. Karena sebenarnya kurikulum dan silabus aturan terhadap peningkatan iman dan amal sholeh bisa beragam bentuknya. Perkara ini biasanya diketahui dengan baik oleh kalangan ulama yang khas.</p>
<p>Oleh karena itu kita tidak perlu  mengomentari, meremehkan, bahkan berkeinginan memadamkan aktifitas-aktifitas kaum muslimin yang sedang berusaha meningkatkan iman dan amal sholeh, dan juga mengajak kaum muslimin lainnya untuk meningkatkan iman dan amal sholeh. Semua hal itu tidak ada gunanya sama sekali, bahkan bisa bertentangan dengan kaidah sunnah wal jama&#8217;ah sendiri. Seharusnya saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=294&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab-Kitab Fadhilah Amal dan Hayatush Shahabat</title>
		<link>http://usahadawah.com/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 02:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah amal]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[targhib wat tarhib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:

http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/
http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/

Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:</p>
<ul>
<li><a href="http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/" target="_blank">http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/</a></li>
<li><a href="http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/" target="_blank">http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/</a></li>
</ul>
<p>Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu kami sampaikan kenapa Hayatush Shahabat menjadi salah satu pengajaran utama dalam usaha da&#8217;wah ini. Para Ulama dari jaman kapanpun sangat memahami bahwa kesuksesan dan kejayaan para Shahabat RA ini merupkan tauladan yang tidak dapat dipupus oleh jaman. Sehingga tidak heran banyak ulama sepanjang perjalanan kaum muslimin selalu menulis perihal kehidupan para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-244"></span>Itulah sebabnya para ahli da&#8217;wah di manapun berada, apakah di masjid ataupun sedang khuruj, selalu membaca kisah-kisah para Shahabat RA ini, diulang-ulang, disampaikan berkali-kali, diceritakan lagi dan lagi kepada kaum muslimin lainnya, KARENA para Shahabat RA itu merupakan generasi yang telah mendapatkan keridhoan Allah swt dan juga kesuksesan di dunia ini serta akherat nanti. Sehingga perlu dibacakan untuk dingat serta menjadi idola, atau menjadi sebuah keinginan yang membakar untuk mempunyai cita-cita seperti para Shahabat RA.</p>
<p>Dua sumber bacaan yang cukup banyak di baca yaitu kitab kisah-kisah para Shahabat, Maulana Dzakaria, dan Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf. Kedua kitab ini mempunyai ciri yang khas, dan untuk memahaminya sebenarnya para pembaca perlu membuka pengantar buku-buku itu dengan baik. Banyak orang menilai, tetapi kadangkala tidak memperhatikan kata pengantar ataupun pendahuluan, yang tentunya untuk memberikan secara menyeluruh terhadap apa buku itu sebenarnya. Silahkan perhatikan pengantar dari kedua buku itu dengan baik.</p>
<p>Sekarang ini telah ada yang memberikan komentar terhadap kitab Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf, yang berkaitan dengan tingkatan hadits yang terdapat dalam kitab itu. Tetapi yang harus dipahami dengan baik oleh siapapun termasuk juga kalangan ulama yang juga memberikan komentar terhadap tingkatan hadits dalam kitab itu, yaitu <strong>susunan sistematik kitab itu mempunyai tujuan atau sasaran utama yang hendak dicapai dari apa yang menjadi pikiran si penulis sendiri, dalam hal ini yaitu Maulana Yusuf.</strong></p>
<p>Jadi jika ada Ulama yang memberikan komentar terhadap hadits yang terdapat dalam kitab itu, itu sah-sah saja ataupun mungkin juga menyusun ringkasannya secara ilmiyyah. TETAPI yang perlu diperhatikan adalah susunan sistematik kitab itu sendiri, karena pikiran dan sasaran itu terdapat dalam susunan sistematik itu sendiri. Jika dilakukan perumbakan secara serampangan, maka artinya sama dengan merusak karya seseorang dalam pola analisanya. Sehingga hal itu kurang pantas dilakukan. Jangan kita menjadi tertawaan orang banyak, karena kita melakukan perombakan terhadap karya orang, sedangkan kita tidak mampu berbuat sesuatu yang lebih baik.</p>
<p>Kitab seperti Fadhilah Amal ini sudah banyak di abad-abad yang lalu, dan tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda. Kami sendiri ]melakukan penulusuran terhadap kitab-kitab yang seperti fadhilah amal. Kami mendapatkan banyak kitab seperti itu, tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda.  Misalkan kitab dengan judul <strong>Fadhoil Amal </strong>yang ditulis Ulama, Al-Hafidz MUhammad Abdul Wahid Al-Maqdisi, sekitar tahn 600-an. Atau kitab yang disusun Imam Mundziri, Targhib Wat Tarhib. Kitab Imam Mundziri ini yang banyak dijadikan sebagai rujukan buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria.</p>
<p>Sekarang ini telah ada ulama yang memberikan komentar terhadap buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria. Hal ini merupakan sah-sah saja secara ilmiyyah, dan telah banyak dilakukan juga. Sekarang saja telah ada kitab ringkasan Kitab Tafsir Ibnu Katsir dimana Ulama menghilangkan hal-hal yang dianggap maudhu atau israilliyat. TETAPI tetap kita atau bahkan ulama menghormati Ibnu Katsir sendiri sebagai penulis kitab itu, dan bahkan banyak ulama yang mendorong untuk membacanya.</p>
<p>Dan sebenarnya kita kaum muslimin juga perlu mengetahui kenapa beliau, maulana dzakaria, menulis buku-buku fadhilah amal ini. Tentunya mempunyai latar belakangnya. Usaha da&#8217;wah ini lebih dahulu muncul dibandingkan dengan kelahiran buku-buku fadhilah itu sendiri yang disusun Maulana Dzakaria. Dan juga tidak semua topik yang menjadi buku fadhilah amal, berbeda dengan targhib wa tarhib yang lebih banyak dan luas dalam topiknya. Silahkan untuk diperhatikan dengan baik!</p>
<p>Jika ada ulama yang berkeinginan meringkas buku-buku fadhilah amal, itu merupakan hak secara ilmiyyah. Sama halnya terhadap kitab hadist shohih muslim, ataupun shohih bukhari, ataupun juga terhadap kitab Tafsir Ibnu Katsir, juga ada ringkasannya. TETAPI yang perlu dijaga adalah susunan sistematik dan juga sasaran yang hendak dicapai dari kitab yang ditulis itu. Ini yang harus diperhatikan dengan baik.</p>
<p>Para Ulama biasa menyusun kitab yang sama dengan ulama lainnya, tentunya dengan karakter dan pendalaman yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang dan juga sasaran yang dibuat. Begitulah kita juga berlaku secara ilmiyyah, tidak hanya kita memberikan penilaian yang mengarah pada kontra-produktif bagi kaum muslimin. Yang akhirnya tidak produktif bagi kaum muslimin lainnya. Apakah ketika memberikan penilaian isi yang terdapat Tafsir Ibnu Katsir, Ulama yang bersangkutan meremehkan dan mencaci Ibnu Katsfir? Kami kira ulama yang bersangkutan tidak melakukannya. Begitulah kita juga kepada Ulama lainnya.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=244&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurikulum Pengajaran melalui ta’lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat</title>
		<link>http://usahadawah.com/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 16:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[hayatush shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[ 
Usaha da&#8217;wah dan tabligh merupakan satu bentuk pergerakan Islam yang cukup sangat dinamis di jaman sekarang ini. Tidak mungkin satu pergerakan tanpa mempunyai metodologi gerak secara ijtimaiyyah, termasuk juga kurikulum ataupun silabus pengajaran Al-Islam itu sendiri. Dan hal ini sudah menjadi hal yang umum dalam proses pengajaran memerlukan kurikulum dan silabus itu sendiri, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   AR-SA </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh merupakan satu bentuk pergerakan Islam yang cukup sangat dinamis di jaman sekarang ini. Tidak mungkin satu pergerakan tanpa mempunyai metodologi gerak secara ijtimaiyyah, termasuk juga kurikulum ataupun silabus pengajaran Al-Islam itu sendiri. Dan hal ini sudah menjadi hal yang umum dalam proses pengajaran memerlukan kurikulum dan silabus itu sendiri, dan dengan sendirinya akan juga berhubungan sumber-sumber buku yang menjadi bacaannya.</p>
<p>Kami yang sempat berhubungan perguruan tinggi dalam pengembangan kurikulum dan silabus, serta juga ma&#8217;had Islam sendiri, maka kurikulum dan silabus mempunyai peran yang cukup penting untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya dengan baik. Hal ini juga berlaku untuk usaha da&#8217;wah dan tabligh, begitupun juga kami kira dengan ma&#8217;had atau madrasah Islam lainnya.</p>
<p><span id="more-238"></span>Kitab-kitab yang ditulis para Ulama dulu sangat banyak sekali, dan tidak mungkin dapat dipelajari dan diajarkan seluruhnya kepada kaum muslimin. Sehingga diperlukan penyusunan yang bersesuaian dengan sasaran yang hendak dicapainya dalam pengajaran itu sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh sendiri banyak menulis kitab-kitab yang cukup tebal, TETAPI tidak semua bacaan itu menjadi bahan bacaan secara ijtimaiyyah.  Bahkan jika membawanya saja mungkin sudah cukup sulit ketika mengadakan khuruj.</p>
<p>Pengajaran yang ditekankan adalah untuk memahami bahwa kesuksesan dunia dan akherat jika mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi apa yang dilarangnya, serta menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya secara 100%. Dan untuk memudahkan hal ini perlu dijelaskan perihal sifat-sifat utama yang dimiliki para Shahabat RA, dan ditekankan pada enam sifat utama. Sehingga pelajaran kisah-kisah Shahabat RA tentunya dengan Rasulullah SAW menjadi pelajaran yang sangat rutin.</p>
<p>KItab Hayatush Shahabat, susunan Maulana Yusuf Rah, merupakan kitab yang banyak dibaca ketika di malam markaz. Kitab ini terdiri dari 3 jilid tebal, mengisahkan perihal Rasulullah SAW dan para Shahabat RA dalam hal ibadah, da&#8217;wah, jihad, pengorbanan, ijtimatiyyah, belajar-mengajar, ikramul muslimin, akhlaq dsb. Dan khusus dalam bab pertama dijelaskan yang sangat penting yaitu ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah SAW, dan juga mengikuti para Shahabat RA.</p>
<p>Kitab hikayat para Shahabat, susunan Maulana Dzakaria Rah, kitab ini biasanya dibundle dalam kitab fadhoil amal. Kitab ini banyak dibaca kalau sedang keluar dan juga di rumah atau di masjid. Disamping itu terdapat beberapa kitab fadhilah yaitu Sholat, Dzikir, Quran, Tabligh, Ramadhan. Semuanya disatukan biasanya dalam kitab fadhoil amal. Tetapi bacaan kitab fadhilah Ramadhan, biasanya dilakukan ketika keluar di bulan ramadhan ataupun mau menghadapi bulan ramadhan.</p>
<p>Terdapat juga kitab Al-Muntakhabatul Hadist, susunan Maulana Yusuf Rah, merupakan kitab pilihan ayat dan hadist yang berkaitan dengan enam sifat Shahabat (enam prinsip). Disamping tersebut terdapat buku yang kadangkala dipergunakan ketika khuruj, kecuali di daerah timur tengah lebih banyak dipergunakan, kitab itu adalah Kitab Riyadhush Sholihin, susunan Imam Nawawi Rah.</p>
<p>Terdapat pelajaran yang sering diulang, kalaupun terdapat kitabnya tetapi kitab ini hampir tidak dibaca secara ijtimatiyyah tetapi dibaca secara infirodhiyyah, pelajaran ini adalah enam sifat Shahabat, juga ushul-ushul da&#8217;wah dan adab-adab Islam.</p>
<p>Ada juga kitab fadhilah Shodaqah dan Haji, disamping tersebut ada kitab fadhilah lainnya, fadhilah dagang,  yang ditulis oleh Maulana Dzakaria, ataupun perihal kajian terhadap pendalaman da&#8217;wah dalam kerja da&#8217;wah dan tabligh, bahkan terdapat beberapa buku yang ditulis oleh para ustadz di Indonesia. Tetapi hal itu bukan menjadi sebuah bacaan yang bersifat ijtima&#8217;iyyah, tetapi infirodhiyyah. Artinya belum tentu ahli da&#8217;wah sendiri mempunyai buku-buku itu.</p>
<p>Bacaan Ijtimaiyyah hampir sama ketika khuruj, ataupun di rumah atau masjid. Tetapi pelajaran infirodhiyyah merupakan bacaan untuk meningkatkan kualitasnya sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. TENTUNYA seseorang yang mempelajari bacaan buku-buku secara individu ini akan memberikan kesan secara langsung kepada jama&#8217;ah itu sendiri. Karena ketika bayan, ataupun taqrir, seseorang yang mempunyai pengetahuan dan pendalaman luas akan menyampaikannya sesuai dengan kepahamannya. TETAPI kerangkanya tidak keluar dari kerangka ijtimaiyyah.</p>
<p>Pelajaran Infirodhiyyah merupakan proses belajar-mengajar yang dilakukan atas kemampuan dan keinginan sendiri. Sehingga dapat saja seseorang mengikuti kurikulum atau silabus yang dibangun oleh satu ma&#8217;had yang lainnya, misalkan mengikuti pelajaran kitab shohih bukhari dan muslim, atau pelajaran fiqh Imam Syafi&#8217;I, dsb. Pelajaran ini akan menambah kepahaman dan kualitas sendiri dari yang mengikutinya.</p>
<p>Para Ulama yang menjalankan usaha da&#8217;wah ini cukup lama memahami bahwa ijtimaiyyah tidak dapat mengantikan infirodhiyyah, begitupun infirodhiyyah tidak dapat menggantikan ijtimaiyyah. Sehingga para ulama atau masyaikh da&#8217;wah mendorong untuk meningkatkan jiwa tholab dalam mencari ilmu, tetapi untuk ijtimaiyyah para Ulama melakukannya melalui musyawarah-musyawarah secara berkesinambungan dan tentunya perlu memperhitungkan dengan baik.</p>
<p>Kitab yang dibaca terutama ketika keluar/khuruj fi sabilillah, di masjid atau di rumah yaitu:</p>
<p>1.       Bundel Buku-Buku Fadhilah Amal:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a.       Fadhilah sholat, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">b.      Fadhilah dzikir, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">c.       Fadhilah quran, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">d.      Fadhilah tabligh, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">e.      Fadhilah ramadhan, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">f.        Kisah-kisah para Shahabat RA, Maulana Dzakaria</p>
<p>g.       Keruntuhan Ummat Islam dan Cara Perbaikannya, Maulana Ihtisamul Hasan</p>
<p>2.       Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf (kitab 3 jilid tebal)</p>
<p>3.       Kitab Hadits-Hadits Pilihan, Maulana Yusuf</p>
<p>4.       Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi</p>
<p>5.       Fadhilah Haji, Maulana Dzakaria</p>
<p>6.       Fadhiah Shodaqah, Maulana Dzakaria</p>
<p>Pengajaran melalui ta&#8217;lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat memberikan pendekatan yang lebih mudah diserap oleh semua lapisan kaum muslimin. Tidak hanya untuk semua lapisan tertentu, misalnya hanya untuk kalangan penuntut ilmu atau santri madrasah, tetapi semua lapisan dapat melibatkan diri dengan baik, apakah itu pelajar, apakah itu petani, apakah itu pedagang, apakah itu dokter, dsb. Dan semua Nampak dengan jelas kalau kita melibatkan diri dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh atau juga menghadiri ijtima&#8217;i-ijtima&#8217;I pertemuan yang dilaksanakan, semua lapisan kaum muslimin dapat melibatkan diri, atau juga ketika khuruj fisabilillah.</p>
<p>Biasanya jika semangat telah tumbuh, maka seseorang berusaha untuk meningkatkan kualitas pemahaman melalui kitab lainnya: kitab fiqh Islam, buku-buku berkaitan dengan usaha  da&#8217;wah dan tabligh, do&#8217;a-do&#8217;a harian. Beberapa tulisan kecil yang sangat erat dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini yang dapat meningkatkan pikir yaitu:</p>
<p>1.       Keruntuhan Ummat Islam dan Cara Perbaikannya, Maulana Ihtisamul Hasan</p>
<p>2.       Penderitaan Ummat dan Penyelesaiannya, Maulana Dzakaria</p>
<p>3.       Perasaan Ummat seruan Maulana Yusuf</p>
<p>4.       Sebuah Seruan Kepada Kaum Muslimin, pesan disampaikan Maulana Ilyas dalam konferensi seluruh Ulama Indoa dan pemimpin politik Muslim</p>
<p>5.       Enam Prinsip Tabligh, Maulana Ishaq Elahi</p>
<p>6.       Malfudhat Maulana Ilyas, Maulana Manzoor Nu&#8217;mani</p>
<p>Tulisan-tulisan di atas ini merupakan bahan bacaan infirodhiyyah, dan tidak dilakukan secara ijtimaiyyah. Disamping mungkin saja untuk meningkatkan kualitas pendalamannya, misalkan melalui kajian tafsir Quran, Syarh Hadits, dsb. Peningkatan infirodhiyyah tentunya akan banyak memberikan pengaruh ijtimaiyyah, begitupun ijtimaiyyah akan banyak memberikan dorongan terhadap infirodhiyyah.</p>
<p>Bagi kaum muslimin yang mempunyai kemampuan tentunya juga sebaiknya mempunyai kurikulum ataupun silabus untuk pendalaman-pendalaman Islam lainnya, sehingga pendalaman tersebut mempunyai arah dan sistematika yang jelas dan beraturan. Dan beberapa kitab perihal Ilmu selalu menjelaskan kurikulum dan silabus pengajaran Islam dengan baik, hal ini untuk menghindari pengajaran yang tidak beraturan dan tidak terstruktur.</p>
<p>Meskipun seperti itu sasaran utama dari ta&#8217;lim wat ta&#8217;allum dalm usaha da&#8217;wah dan tabligh ini adalah bagaimana menghidupkan amal agama 100% dalam kehidupan kita sebagai muslim. Bukan menjadikan buku-buku itu sebagai tumpukan yang tidak ada artinya, jangan sampai seperti perumpaan keledai yang membawa tumpukan kitab yang tidak memberikan kesan sama sekali.</p>
<p>Sekian penjelasan dari analisa dan sintesa kami pribadi berkaitan dengan Kurikulum Pengajaran melalui ta&#8217;lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat, dan juga berkaitan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh juga. Kami akan lanjutkan dalam tulisan lainnya, beberapa pesan yang disampaikan maulana Ilyas Rah yang berkaitan dengan ilmu. Sehingga kita kaum muslimin dapat memperhatikan hikmah yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Terimakasih</p>
<p><script type="text/javascript"></script></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=238&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Tidak Membaca Kitab Hadits Shohih Bukhari dan Muslim?</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 16:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[hayatush shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[kitab bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[kitab muslim]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[ 
Di kalangan penuntut ilmu sering muncul pertanyaan ataupun bahkan pernyataan kenapa tidak saja menggunakan kitab hadits bukhari dan muslim daripada menggunakan kitab fadhoil amal. Apalagi kedua kitab ini mempunyai bobot yang cukup tinggi. Para ulama sangat kenal benar dengan kedua kitab ini, dan merupakan sumber rujukan yang tidak ada taranya. Kedua kitab ini juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   AR-SA </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Di kalangan penuntut ilmu sering muncul pertanyaan ataupun bahkan pernyataan kenapa tidak saja menggunakan kitab hadits bukhari dan muslim daripada menggunakan kitab fadhoil amal. Apalagi kedua kitab ini mempunyai bobot yang cukup tinggi. Para ulama sangat kenal benar dengan kedua kitab ini, dan merupakan sumber rujukan yang tidak ada taranya. Kedua kitab ini juga merupakan rujukan dari kitab fadhoil amal sendiri. Kami pribadi mempunyai kedua kitab itu serta juga syarahnya yang disusun oleh Ulama yang sangat dikenal, seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Asqolani.</p>
<p>Kita kadangkala kurang memperhatikan pandangan-pandangan lain ketika kita memberikan pandangan ataupun pernyataan itu. Oleh karena itu sebaiknya kaum muslimin, terutama kalangan penuntut ilmu, dapat juga memperhatikan pandangan terhadap satu perkara, sehingga kaum muslimin terhindari dari penilaian-penilain yang kurang tepat, bahkan terhindar dari perkara meremehkan dan merendahkan kaum muslimin lainnya.</p>
<p><span id="more-236"></span>Mari kita perhatikan dengan dengan pertanyaan di atas. Sebelumnya kita perlu mengetahui apa tujuan utama dari pelajaran fadhilah amal ini. Pelajaran utama dari fadhilah amal ini adalah untuk selalu mengetahui kelebihan-kelebihan amal, dan mengetahui jaminan-jaminan Allah swt dan juga Rasulullah SAW terhadap orang yang mengamalkan amal Islam dan bagaimana akibatnya dengan yang meninggalkan amal Islam itu. Sehingga timbul dorongan yang berkelanjutan untuk menjaga amal Al-Islam itu sendiri.</p>
<p>Kitab fadhoil amal ini merupakan kumpulan dari beberapa buku fadhilah yang dijadikan satu, dan salah satunya di dalamnya terdapat buku yang secara khusus untuk kisah-kisah para Shahabat RA disamping kisah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Dan kisah-kisah ini perlu sering dibaca untuk menumbuhkan semangat ataupun acuan bahwa contohan dan tauladan itu adalah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Dan kesuksesan hidup di dunia dan di akherat itu jika mengikuti Nabi Muhammad SAW seperti para Shahabat RA yang mengikuti Rasulullah SAW dalam hidupnya.</p>
<p>Buku fadhilah amal ini dan kisah-kisah ini disusun agar dapat dibaca oleh semua kalangan, tidak hanya kalangan penuntut ilmu tetapi juga kalangan orang awam sekalipun. Dan jika berkeinginan bagaimana mengetahui kaifiyyahnya tentunya orang awam akan bertanya kepada para ustadz atau ulama yang dikenalnya dengan baik, tetapi dorongan itu tetap dapat dilakukan dengan baik pula oleh setiap kaum muslimin.</p>
<p>Bagaimana dengan Kitab Shohih Bukhari dan Muslim? Kitab Kitab Shohih Bukhari dan Muslim merupakan kitab hadist yang tidak hanya berhubungan dengan bagian-bagian fadhilah amal, tetapi mengandung bagian lainnya yang memerlukan penjelasan dengan baik. Sehingga perlu orang-orang tertentu yang dapat mengajarkannya kepada kaum muslimin, tidak semua orang dapat mengajarkannya, untuk bagian-bagian yang memerlukan penjelasan itu. Itu merupakan bahasan masyail yang memerlukan kepahaman secara khusus. Yang tentunya tidak asal berdasarkan apa yang tertulis saja. Disamping juga kitab ini bukan merupakan kitab kisah-kisah para Shahabat RA, meskipun ada sebagian-sebagiannya.</p>
<p>Dan mengajar kitab bukhari dan muslim ini karena merupakan kitab rujukan utama maka tentunya orang yang mengajarkannya kembali perlu mempunyai hubungan pengajaran sampai kepada penulis kitab itu sendiri. Maulana Ilyas ah sebagai penggagas usaha da&#8217;wah, ataupun juga Maulana Dzakaria Rah sebagai penulis kitab fadhilah-fadhilah amal, beliau ini belajar kitab hadist ini berhubungan dengan langsung dengan penulis dari kitab itu sendiri melalui guru-gurunya yang sampai ke penulis yang bersangkutan. Ini adalah perkara yang tidak mudah sembarangan dilakukan.</p>
<p>Dalam bahasan masyail ini meskipun kitabnya sama, bisa saja mempunyai pemahaman yang berbeda sesuai pengajarannya itu sendiri. Apalagi bagi orang yang membaca dan mempelajari kedua kitab itu tidak ada sangkut pautan pelajarannya tidak sampai ke kedua imam itu, maka bisa juga melakukan interpretasi-interpretasi yang berbeda dengan kedua imam itu atau ulama lainnya. Sehingga sebaiknya kedua kitab ini dibaca dan dipelajari melalui bimbingan dari seorang guru atau ustadz yang cukup baik asal-muasal belajarnya. Disamping sistematikanya juga memerlukan perhatian yang cukup baik dari orang yang membacanya.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak heran jika dikemudian hari banyak ulama yang menyusun kitab-kitab hadits yang merupakan gambungan dari kitab-kitab hadist rujukan dengan pendekatan atau sistematika yang lebih mudah dan juga arah yang terfokus, misalkan kitab Riyadhush Sholihin, Bulughul Murom, Targhib Wat Tarhib, dsb. Kitab-kitab ini menggunakan sumber-sumber kitab hadist yang lebih awal, seperti kitab bukhari, muslim, tirmidzi, nasa&#8217;I dsb.</p>
<p>Bagaimana dengan kitab fadhilah amal itu sendiri. Pertama, kitab fadhilah amal ini disusun oleh ulama yang telah lama berkecimpung dalam pelajaran hadist, termasuk kitab hadist bukhari dan muslim, sehingga sudah dipertimbangkan perihal penjelasan dan sistematikanya sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai. Bahkan penulis sendiri menulis kitab syarh dari kitab Imam Bukhari. Kedua, kitab fadhilah amal ini sangat berhubungan dengan dorongan amal dan juga kisah-kisah para Shahabat dalam buku yang terdapat dalam bundel kitab itu. Sehingga tentunya akan lebih mendorong pada jiwa dan mudah dipahaminya. Dan setiap kaum muslimin dapat membacanya.</p>
<p>Apakah kedua kitab itu dipelajari? Tentu kedua kitab itu dipelajari, tetapi di madrasah-madrasah yang lebih tepat dan juga terdapat bimbingan yang baik dari ustadz-ustadz yang mempunyai kapasitasnya. Mudah-mudahan di waktu akan datang lebih banyak ulama ataupun ustadz yang dapat mengajar kedua kitab ini dengan lebih mudah, seperti di masjid-masjid kaum muslimin sendiri. Disamping memang sekarang telah ada kitab ringkasan untuk kedua kitab itu serta juga penjelasannya.</p>
<p>Tetapi proses belajar itu mempunyai peningkatan yang perlu diperhatikan, TIDAK MUNGKIN setiap kaum muslimin akan mempunyai kemampuan yang sama dalam memahami ini. Dan hal ini sudah sesuai dengan kaidah yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sendiri, bahwa masyarakat yang diberikan pengajaran ini mempunyai tingkatan sendiri-sendiri. Dan hal ini terbukti di jaman Rasulullah SAW sendiri, para Shahabat RA mempunyai tingkatan yang berbeda-beda bahkan dalam kepahaman juga. Kita semua dapat mempelajari kisah-kisah terhadap tingkatan kepahaman ini. Salah satu kisah yang menarik adalah perihal seorang Shahabat RA memperhatikan benang ketika shaum di bulan ramadhan karena ingin melihat bagaimana berbuka di bulan Ramadhan sehingga terus memperhatikan kapan  benang dengan warna yang berbeda.</p>
<p>Jadikan pelajaran fadhilah amal sebagai pelajaran yang merata dan merupakan alif, ba, ta di k</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=236&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alloh SWT menyembunyikan 6 perkara didalam 6 perkara/keadaan</title>
		<link>http://usahadawah.com/alloh-swt-menyembunyikan-6-perkara-didalam-6-perkarakeadaan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/alloh-swt-menyembunyikan-6-perkara-didalam-6-perkarakeadaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 03:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[lailatul qodar]]></category>
		<category><![CDATA[wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Sumber :http://tetesanhujan.wordpress.com/2008/11/24/alloh-swt-menyembunyikan-6-perkara-didalam-6-perkarakeadaan/
Dari umar rhu, Sesungguhnya Alloh Ta&#8217;ala menyembunyikan 6 perkara di dalam 6 perkara/keadaan:
1. Alloh menyembunyikan ridhoNya didalam suatu ketaatan, diantara berbagai ketaatan, agar manusia bersungguh-sungguh di seluruh perbuatan ketaatan, dengan harapan bertemu dengan keridhoaan Alloh Ta&#8217;ala
Maka tidak diperbolehkan bagi kita meremehkan suatu perbuatan taat, walaupun sangat kecil, karena sesungguhnya bisa jadi keridhoaan Alloh Ta&#8217;ala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber :http://tetesanhujan.wordpress.com/2008/11/24/alloh-swt-menyembunyikan-6-perkara-didalam-6-perkarakeadaan/</p>
<p>Dari umar rhu, Sesungguhnya Alloh Ta&#8217;ala menyembunyikan 6 perkara di dalam 6 perkara/keadaan:</p>
<p>1. Alloh menyembunyikan ridhoNya didalam suatu ketaatan, diantara berbagai ketaatan, agar manusia bersungguh-sungguh di seluruh perbuatan ketaatan, dengan harapan bertemu dengan keridhoaan Alloh Ta&#8217;ala</p>
<p>Maka tidak diperbolehkan bagi kita meremehkan suatu perbuatan taat, walaupun sangat kecil, karena sesungguhnya bisa jadi keridhoaan Alloh Ta&#8217;ala ada pada ketaatan kecil itu.</p>
<p>2. Alloh menyembunyikan marah-Nya didalam suatu maksiat, diantara berbagai perbuatan maksiat, agar manusia menjauihinya, karena khawatir terjerumus didalamnya.</p>
<p>Maka seseorang tidak diperbolehkan meremehkan maksiat, meskipun sangat halus, karena sesungguhnya ia tidak tahu bahwasanya kadangkala didalam perbuatan itu terdapat kemarahan Alloh Ta&#8217;ala.</p>
<p><span id="more-213"></span>3. Alloh menyembunyikan <em>lailatul qodar</em> didalam bulan romadhon, agar manusia bersungguh-sungguh dalam menghidupkan seluruh bulan romadhon dengan beribadah. Karena sesungguhnya ganjaran ibadah sunnah sama seperti ganjaran ibadah fardhu di bulan lain, sebagaimana sisebutkan dalam hadits.</p>
<p>Bahkan Syeikh An Nakho&#8217;i berpendapat: <em>&#8221; satu rokaat di bulan romadhon itu lebih utama dibandingkan seribu rokaat di bulan lainnya, dan satu ucapan tasbih di bulan romadhon itu lebih utama dibandingkan seribu tasbih di bulan lain&#8221;</em></p>
<p>Dan agar mereka bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam bulan romadhon dengan harapan mereka akan berjumpa <em>lailatul qodar</em>. Karena malam itu lebih baik dari seribu bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan.</p>
<p>Di dalam hadits Imam thobroni, secara marfu&#8217; sampai kepada rasulullah saw, disebutkan: <em>&#8221; Sesungguhnya orang yang berzina di bulan romadhon atau meminum minuman keras, maka akan dilaknat oleh Alloh dan makhluk yang ada dilangit sampai datang bulan romadhon yang sama dari putaran tahun kedua&#8221;.</em></p>
<p>Karena sesungguhnya orang yang mati sebelum ia menemui bulan romadhon, maka ia tidak mempunyai kebaikan disisi Alloh, yang dapat membuatnya takut neraka. Karena itu bertakwalah kepada Alloh di bulan romadhon, karena sesungguhnya segala kebaikan dilipat gandakan di bulan itu, sesuatu yang tidak dapat dilipat gandakan di bulan lainnya, dan begitu pula berbagai kejelekan.</p>
<p>4. Alloh menyembunyikan para wali-Nya di tengah-tengah manusia</p>
<p>Supaya mereka tidak meremehkan seorangpun diantara mereka, dan supaya mereka mencari doa dari sebagian mereka dengan harapan akan berjumpa dengan seorang wali. Maka tidak boleh seseorang meremehkan seorang manusia, karena sesungguhnya ia tidak tahu, bisa jadi orang itu termasuk wali-wali Alloh Ta&#8217;ala.</p>
<p>5. Alloh menyembunyikan kematian di dalam umur, maka selayaknya saat seperti ini bagi setiap orang hendaknya mempersiapkan kematian di setiap waktu dengan berbagai ibadah, karena terkadang kematian datang dengan tiba-tiba</p>
<p>6. Alloh menyembunyikan sholat wushto, yakni yang paling utama di dalam seluruh sholat, yakni sholat 5 waktu, agar manusia sungguh-sungguh memperhatikannya di seluruh sholat</p>
<p>Dan Alloh menyembunyikan namaNya yang agung didalam semua nama-Nya, agar manusia bersungguh-sungguh di dalam berdoa dengan semua namaNya, dengan harapan mereka bisa menjumpaiNya</p>
<p>Dan Alloh menyembunyikan saat terkabulnya doa di hari jumat, agar manusia bersungguh-sungguh berdoa di hari itu.</p>
<p>Dan Alloh menyembunyikan As Sab&#8217;ul Matsani (Tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) di dalam sejumlah surat Alquran, agar manusia bersungguh-sungguh di dalam membaca seluruh surat al quran.</p>
<p><em>(Diambil dari kitab Nashoihul Ibad, Syaikh Nawawi Albantani)</em></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=213&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/alloh-swt-menyembunyikan-6-perkara-didalam-6-perkarakeadaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syarat-syarat ilmu</title>
		<link>http://usahadawah.com/syarat-syarat-ilmu/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/syarat-syarat-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2008 03:36:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[Syarat Ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: http://tetesanhujan.wordpress.com/2008/11/24/syarat-syarat-ilmu/
Salah seorang ulama bersyair,
Belajarlah jika keadaanmu bukan orang yang berilmu..karena tiada ilmu kecuali di sisi pencari pelajaran&#8230;
Syarat-sayarat ilmu sebagaimana pendapat imam an nawawi ada 8:
1) Syarat pertama adalah mengamalkan segala yang diketahuinya
Anas rhu berkata, &#8221; Ulama cita-citanya untuk memperhatikan, sedangkan orang-orang bodoh cita-citanya adalah meriwayatkan (menceritakan). 1)
 2)  Syarat kedua menyebarkan Ilmu
Allah Ta&#8217;ala [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: http://tetesanhujan.wordpress.com/2008/11/24/syarat-syarat-ilmu/</p>
<p>Salah seorang ulama bersyair,</p>
<p><em>Belajarlah jika keadaanmu bukan orang yang berilmu..karena tiada ilmu kecuali di sisi pencari pelajaran</em>&#8230;</p>
<p>Syarat-sayarat ilmu sebagaimana pendapat imam an nawawi ada 8:</p>
<p>1) Syarat pertama adalah mengamalkan segala yang diketahuinya</p>
<p><em>Anas rhu berkata, &#8221; Ulama cita-citanya untuk memperhatikan, sedangkan orang-orang bodoh cita-citanya adalah meriwayatkan (menceritakan).<sup> 1)</sup></em></p>
<p><em> </em>2)  Syarat kedua menyebarkan Ilmu</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:&#8230;.<em>Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepada mereka</em> (At-taubah:122)</p>
<p><span id="more-209"></span>Anas rhu meriwayatkan, bahwasanya baginda rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya: <em>Inginkah kalian aku beritakan tentang yang paling dermawan diantara para dermawan?&#8221;</em></p>
<p>Para sahabat berkata<em>: &#8220;Tentu Ya rasulullah&#8221;</em></p>
<p>Nabi saw bersabda, <em>&#8220;Alloh adalah Zat yang paling dermawan diatara para dermawan, dan aku anak adam yang paling dermawan, dan mereka yang paling dermawan setelahku adalah:</em></p>
<p><em>1. </em><em>Orang yang mempelajari ilmu , lalu menyebarkannya, ia akan dibangkitkan di hari kiamat sebagai umat yang sendirian (istimewa) dan </em></p>
<p><sup>2. </sup><em>Orang yang merdermakan dirinya di jalan Alloh (fi sabilillah) hingga terbunuh. <sup>2)</sup></em></p>
<p><sup> </sup></p>
<p>3)  Syarat ketiga, tidak membanggakan diri dan berbantahan</p>
<p>Diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda<em>, &#8221; Siapa saja yang menuntut ilmu karena 4 hal, niscaya masuk neraka:</em></p>
<p><em>1.</em><em> Untuk membanggakan ilmunya kepada ulama, atau</em></p>
<p><em>2.</em><em>Membimbangkan orang-orang bodoh, atau</em></p>
<p><em>3.</em><em>Mengambil harta-harta dengan ilmunya, atau</em></p>
<p>4.<em>Memalingkan perhatian masyarakat kepadanya dengan ilmunya itu&#8221;</em> <sup>3)</sup></p>
<p>4) Syarat keempat, mempertimbangkan dalam penyebaran ilmunya dan tidak pelit dengan ilmunya. Alloh Ta&#8217;ala berfirman,&#8230;.Katakanlah: <em>&#8220;Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikannya&#8221;&#8230;(QS. Al An&#8217;am:90/ QS Asy Syuro:23)</em></p>
<p>Nabi saw bersabda, <em>siapa saja yang mengetahui satu pengetahuan, lalu ia menyembunyikannya, niscaya Alloh akan memasangkan kendali (di lehernya) di hari kiamat dengan tali kekang dari api</em>.<sup>4)</sup></p>
<p>5) Syarat kelima, tidak gengsi mengucapkan &#8220;Aku Tidak Tahu&#8221;</p>
<p>Karena Rasulullah saw yang derajatnya tinggi tatkala beliau ditanya tentang hari kiamat, beliau bersabda<em>, &#8220;Orang yang ditanya tentang hal itu tidak lebih tahu dari orang yang bertanya&#8221; <sup>5)</sup></em></p>
<p>Dan tatkala ditanya mengenai ruh, Nabi saw bersabda, <em>&#8220;Aku tidak tahu&#8221; <sup>6)</sup></em></p>
<p>6) Syarat keenam,  Bersikap tawadhu&#8217; (rendah hati)</p>
<p>Alloh Ta&#8217;ala berfirman. <em>Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati (Alfurqon:63)</em></p>
<p>Nabi Saw bersabda kepada Abu Dzar rhu, &#8221; <em>Wahai Abu Dzar, jagalah wasiat Nabimu, semoga saja Alloh memberikan manfaat kepadamu sebab wasiat itu, rendah hatilah kamu karena Alloh azza wa jalla, semoga saja Alloh akan mengangkatmu di hari kiamat, Ucapkanlah salam kepada orang yang telah engkau temui dari umatku, orang baik-baik dan orang jahatnya, dan Kenakanlah pakaian berkain kasar, dan janganlah engkau menginginkan (melakukan semua itu), kecuali (bertujuan meraih ridho) Alloh, semoga saja kesombongan dan amarah tidak diperkenankan ada dalam hatimu</em>.</p>
<p>7) Syarat ketujuh, siap menanggung rasa sakit dalam mencurahkan nasihat dan mengikuti perilaku ulama salaf yang sholeh mengenai hal itu.</p>
<p>Alloh Swt berfirman, <em>..Dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. (Qs. Luqman:17)</em></p>
<p>Nabi saw bersabda, &#8220;<em>Tidak ada seorang Nabi yang disakiti sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan&#8221; <sup>7)</sup></em></p>
<p>8.) Syarat kedelapan, ia bertujuan dengan ilmunya kepada orang yang lebih membutuhkan untuk belajar, sebagaimana ia bertujuan dalam bersedekah dengan harta kepada orang yang lebih membutuhkan, lalu kepada orang yang membutuhkan.</p>
<p>Maka siapa yang telah menghidupkan orang bodoh dengan mengajarkan ilmu, maka seakan-akan ia telah menghidupkan seluruh manusia..</p>
<p>(Diambil dari kitab: Salalimul fudhola, Syaikh Nawawi Albantani)</p>
<p><em>Keterangan:</em></p>
<p>1) Terdapat dalam kitab Jamiush shogir, Juz 2 huruf ha dan Ihya ulumuddin , Juz 1, kitab al ‘ilm</p>
<p>2)  Terdapat dalam kitab Jamiush shogir, Juz 1 huruf alif, Di dalam Syuabul iman, juz 2, dan di dalam At targhib wa tarhib, juz 1</p>
<p>3) Di dalam Sunan Tirmidzi, Didalam Sunan Ibnu majah, Di dalam Sunan Daromi, Syuabul iman juz 2, Az zuhd, At targibu wat tarhib juz1, Al kabir, kitab tanbihul ghofilin, ‘awariful ma&#8217;arif</p>
<p>4) Di dalam sunan tirmidzi, Sunan abu daud, Sunan ibnu majah, Musnad ahmad, Syuabul iman, Targibu wat tarhib, Ihya ulumuddin</p>
<p>5) Shohih bukhori, Shohih muslim, Sunan tirmidzi, Sunan nasai</p>
<p>6) Shohih bukhori, shohih muslim, sunan tirmidzi, musnad ahmad</p>
<p>7) Haliyatul awliya, juz vi</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=209&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/syarat-syarat-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Analisa Sheikh al-Saqqaf terhadap Kerangka Analisa Sheikh al-Bani (5)</title>
		<link>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-5/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 01:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Syeikh Al-Banni]]></category>
		<category><![CDATA[Syeikh Al-Saqqaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[SELECTED TRANSLATIONS FROM VOLUME 2
No 28 : (* Pg. 143 no. 1 )
Hadith of Abi Barza (Allah be pleased with him): &#8220;By Allah, you will not find a man more just than me&#8221; (Sunan al-Nisai, 7/120 no. 4103).
Al-Albani said that this Hadith was SAHIH in &#8220;Sahih al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978?, and then he [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SELECTED TRANSLATIONS FROM VOLUME 2</p>
<p>No 28 : (* Pg. 143 no. 1 )<br />
Hadith of Abi Barza (Allah be pleased with him): &#8220;By Allah, you will not find a man more just than me&#8221; (Sunan al-Nisai, 7/120 no. 4103).<br />
Al-Albani said that this Hadith was SAHIH in &#8220;Sahih al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978?, and then he astonishingly contradicts himself by saying it is DAEEF in &#8220;Daeef Sunan al-Nisai, pg. 164 no. 287.&#8221;<br />
So beware of  this mess!</p>
<p>No 29 : (* Pg. 144 no. 2 )<br />
Hadith of Harmala ibn Amru al-Aslami from his Uncle: &#8220;Throw pebbles at the Jimar by putting the extremity of the thumb on the fore-finger.&#8221; (Sahih Ibn Khuzaima, 4/276-277 no. 2874)<br />
Al-Albani acknowledged its weakness in &#8220;Sahih Ibn Khuzaima&#8221; by saying that the sanad was DAEEF, but then contradicts himself by saying it is SAHIH in &#8220;Sahih al-Jami wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923!&#8221;</p>
<p><span id="more-164"></span>No 30 : (* Pg. 144 no. 3 )<br />
Hadith of Sayyidina Jabir ibn Abdullah (Allah be pleased with him): &#8220;The Prophet (Peace be upon him) was asked about the sexually defiled [junubi]. . . can he eat, or sleep. . . He said :&#8217;Yes, when this person makes wudhu.&#8217;&#8221; (Ibn Khuzaima no. 217 and Ibn Majah no. 592).<br />
Al-Albani has admitted its weakness in his comments on &#8220;Ibn Khuzaima, 1/108 no. 217?, but then contradicts himself by correcting the above Hadith in &#8220;Sahih Ibn Majah, 1/96 no. 482 &#8220;!!</p>
<p>No 31 : (* Pg. 145 no. 4 )<br />
Hadith of Aisha (Allah be pleased with her): &#8220;A  vessel as a vessel and food as food&#8221; (Nisai, 7/71 no. 3957).<br />
Al-Albani said that it was SAHIH in &#8220;Sahih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/13 no. 1462?, but then contradicts himself in &#8220;Daeef Sunan al-Nisai, no. 263 pg. 157?, by saying it is DAEEF!!!</p>
<p>No 32 : (* Pg. 145 no. 5 )<br />
Hadith of Anas (Allah be pleased with him): &#8220;Let each one of you ask Allah for all his needs, even for his sandal thong if it gets cut.&#8221;<br />
Al-Albani said that the above Hadith was HASAN in his checking of &#8220;Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252?, but then contradicts himself in &#8220;Daeef al-Jami wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 and 4948?!!!</p>
<p>No 33 : (* Pg. 146 no. 6 )<br />
Hadith of Abu Dharr (Allah be pleased with him): &#8220;If you want to fast, then fast in the white shining nights of the 13th, 14th and 15th.&#8221;<br />
Al-Albani declared it to be DAEEF in &#8220;Daeef al-Nisai, pg. 84? and in his comments on &#8220;Ibn Khuzaima, 3/302 no. 2127?, but then contradicts himself by calling it SAHIH in &#8220;Sahih al-Jami wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448? and also corrected it in &#8220;Sahih al-Nisai, 3/902 no. 4021?!!<br />
So what a big  contradiction!<br />
NB- (Al-Albani mentioned this Hadith in ‘Sahih al-Nisai&#8217; and in ‘Daeef al-Nisai&#8217;, which proves that he is unaware of what he has and is classifying, how inept!)</p>
<p>No 34 : (* Pg. 147 no. 7 )<br />
Hadith of Sayyida Maymoonah (Allah be pleased with her): &#8220;There is nobody who has taken a loan and it is in the knowledge of Allah. . . .&#8221; (Nisai, 7/315 and others).<br />
Al-Albani said in &#8220;Daeef al-Nisai, pg 190?: &#8220;Sahih, except for the part al-Dunya.&#8221; Then he contradicts himself in &#8220;Sahih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/156?, by saying that the whole Hadith is SAHIH, including the al-Dunya part. So what an amazing contradiction!</p>
<p>No 35 : (* Pg. 147 no. 8 )<br />
Hadith of Burayda (Allah be pleased with him): &#8220;Why do I see you wearing the jewellery of the people of hell&#8221; (Meaning the Iron ring), [Nisai, 8/172 and others. . .]. Al-Albani has said that it was SAHIH in &#8220;Sahih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540?, but then contradicts himself by saying it is DAEEF in &#8220;Daeef al-Nisai, pg. 230?!!!</p>
<p>No 36 : (* Pg. 148 no. 9 )<br />
Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): &#8220;Whoever buys a carpet to sit on, he has 3 days to keep it or return it with a cup of dates that are not brownish in colour&#8221; (Nisai 7/254 and others).<br />
Al-Albani has weakened it with reference to the ‘3 days&#8217; part in &#8220;Daeef Sunan al-Nisai, pg. 186?, by saying: &#8220;Correct, except for 3 days.&#8221; But the ‘genius&#8217; contradicts himself by correcting the Hadith and approving the ‘3 days&#8217; part in &#8220;Sahih al-Jami wa Ziyadatuh, 5/220 no. 5804?.<br />
So wake up  (al-Albani)!!</p>
<p>No 37 : (* Pg. 148 no. 10 )<br />
Hadith of Abu Hurayra (Allah be pleased with him): &#8220;Whoever catches a single rak&#8217;ah of the Friday prayer has caught (the whole prayer).&#8221; (Nisai 3/112, Ibn Majah 1/356 and others). Al-Albani has weakened it in &#8220;Daeef Sunan al-Nisai, no. 78 pg. 49?, where he said: &#8220;Abnormal (shadh), where Friday is mentioned.&#8221; He then contradicts himself by saying SAHIH, including the Friday part in &#8220;Irwa, 3/84 no. 622 .&#8221;<br />
May Allah heal  you!</p>
<p>AL-ALBANI AND HIS DEFAMATION AND AUTHENTICATION OF NARRATORS AT WILL!</p>
<p>No 38 : (* Pg 157 no 1 )<br />
KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani said in his &#8220;Sahihah, 3/481? : &#8220;Kanaan is considered hasan, for he is attested by Ibn Ma&#8217;een.&#8221; Al-Albani then contradicts himself by saying, &#8220;There is weakness in Kanaan&#8221; (see &#8220;Daeefah, 4/282?)!!</p>
<p>No 39 : (* Pg. 158 no. 2 )<br />
MAJA&#8217;A IBN AL-ZUBAIR :- Al-Albani has weakened Maja&#8217;a in &#8220;Irwa al-Ghalil, 3/242?, by saying, &#8220;This is a weak sanad because Ahmad has said: ‘There is nothing wrong with Maja&#8217;a', and Daraqutni has weakened him. . .&#8221;<br />
Al-Albani then made a contradiction in his &#8220;Sahihah, 1/613? by saying: &#8220;His men (the narrators) are trusted except for Maja&#8217;a who is a good narrator of Hadith.&#8221;<br />
An amazing contradiction!</p>
<p>No 40 : (* Pg. 158 no. 3 )<br />
UTBA IBN HAMID AL-DHABI :- Al-Albani has weakened him in &#8220;Irwa al-Ghalil, 5/237? by saying: &#8220;And this is a weak (Daeef) sanad which has three defects. . . . the second defect is the weakness of al-Dhabi, the Hafiz said: ‘A truthful narrator with hallucinations&#8217;&#8221;.<br />
Al-Albani then makes an obvious contradiction in &#8220;Sahihah, 2/432?, where he said about a sanad which mentions Utba: &#8220;And this is a good (hasan) sanad, Utba ibn Hamid al-Dhabi is trustworthy but has hallucinations, and the rest of the narrators in the sanad are trusted.&#8221; !!</p>
<p>No 41 : (* Pg. 159 no. 4 )<br />
HISHAM IBN SA&#8217;AD :- Al-Albani said in his &#8220;Sahihah, 1/325?: &#8220;Hisham ibn Sa&#8217;ad is a good narrator of Hadith.&#8221; He then contradicts himself in &#8220;Irwa al-Ghalil, 1/283? by saying: &#8220;But this Hisham has a weakness in memorizing&#8221;<br />
So what an amazement!!</p>
<p>No 42 : (* Pg. 160 no. 5 )<br />
UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani has weakened him in &#8220;Sahihah, 1/371?, where he said: &#8220;He in himself is trusted but he used to be a very bad forger, which makes him undependable. . . .&#8221; Al-Albani then contradicts himself again in &#8220;Sahihah, 2/259? by accepting him and describing him as being trustworthy from a sanad which mentions Umar ibn Ali. Al-Albani says: &#8220;Classified by Hakim, who said: ‘A Sahih Isnad (chain of transmission)&#8217;, and al-Dhahabi went along with it, and it is as they have said.&#8221;<br />
So what an amazement !!!</p>
<p>No 43 : (* Pg. 160 no. 6 )<br />
ALI IBN SA&#8217;EED AL-RAZI :- Al-Albani has weakened him in &#8220;Irwa, 7/13?, by saying: &#8220;They have said nothing good about al-Razi.&#8221; He then contradicts himself in another ‘fantastic&#8217; book of his, &#8220;Sahihah, 4/25?, by saying: &#8220;This is a good (hasan) sanad and the narrators are all trustworthy.&#8221;<br />
So beware !!!</p>
<p>No 44 : (* Pg. 165 no. 13 )<br />
RISHDIN IBN SA&#8217;AD :- Al-Albani said in his &#8220;Sahihah, 3/79? : &#8220;In it (the sanad) is Rishdin ibn Sa&#8217;ad, and he has been declared trustworthy.&#8221; But then he contradicts himself by declaring him to be DAEEF in &#8220;Daeefah, 4/53?; where he said: &#8220;And Rishdin ibn Sa&#8217;ad is also daeef.&#8221; So beware!!</p>
<p>No 45 : (* Pg. 161 no. 8 )<br />
ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA&#8217;AD :- What an amazing fellow this Shaykh!! Al-Albani!! Proves to be. He said in &#8220;Irwa al-Ghalil, 2/228?: &#8220;His status is unknown, and only Ibn Hibban trusted him.&#8221; But then he contradicts himself by his usual habit! Because he only transfers from books and nothing else, and he copies without knowledge; this is proven in &#8220;Sahihah, 1/450?, where he said about Ashaath: &#8220;Trustworthy&#8221;. So what an amazement!!!</p>
<p>No 46 : (* Pg. 162 no. 9 )<br />
IBRAHIM IBN HAANI :- The honourable!! The genius!! The copier!! Has made Ibrahim ibn Haani trustworthy in one place and has then made him unknown in another. Al-Albani said in ‘Sahihah, 3/426?: &#8220;Ibrahim ibn Haani is trustworthy&#8221;, but then he contradicts himself in &#8220;Daeefah, 2/225?, by saying that he is unknown and his Ahadith are refused!!</p>
<p>No 47 : (* Pg. 163 no. 10 )<br />
AL-IJLAA IBN ABDULLAH AL-KUFI :- Al-Albani has corrected a sanad by saying it is good in &#8220;Irwa, 8/7?, with the words: &#8220;And its sanad is good, the narrators are trustworthy, except for Ibn Abdullah al-Kufi who is truthful.&#8221; He then contradicts himself by weakening the sanad of a Hadith where al-Ijlaa is found and has made him the reason for declaring it DAEEF (see ‘Daeefah, 4/71?); where he said: &#8220;Ijlaa ibn Abdullah has a weakness.&#8221; Al-Albani then quoted Ibn al-Jawzi&#8217;s (Rahimahullah) words by saying: &#8220;Al-Ijlaa did not know what he was saying .&#8221;!!!</p>
<p>No 48 : (* Pg. 67-69 )<br />
ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Al-Albani has criticised Al-Hafiz al-Haythami, Al-Hafiz al-Suyuti, Imam Munawi and the Muhaddith Abu&#8217;l-Fadl al-Ghimari (Allah&#8217;s mercy be upon them) in his book &#8220;Silsilah al-Daeefah, 4/302?, when checking a Hadith containing the narrator Abdullah ibn Salih. He says on page 300: &#8220;How could Ibn Salih be all right and his Hadith be good, even though he has got many mistakes and is of little awareness, which also made some fraudulent Hadiths enter his books, and he narrates them without knowing about them!&#8221; He has not mentioned that Abdullah ibn Salih is one of Imam al-Bukhari&#8217;s men (i.e. used by al-Bukhari), because it does not suit his mode, and he does not state that Ibn Ma&#8217;een and some of the leading critics of Hadith have trusted him. Al-Albani has contradicted himself in other places in his books by making Hadiths containing Abdullah ibn Salih to be good, and here they are :-<br />
Al-Albani said in &#8220;Silsilah al-Sahihah, 3/229? : &#8220;And so the sanad is good, because Rashid ibn Sa&#8217;ad is trustworthy by agreement, and who is less than him in the men of Sahih, and there is also Abdullah ibn Salih who has said things that are unharmful with Allah&#8217;s help!!&#8221; Al-Albani also said in &#8220;Sahihah, 2/406? about a sanad which contained Ibn Salih: &#8220;a good sanad in continuity.&#8221; And again in &#8220;Sahihah, 4/647?: &#8220;He&#8217;s a proof with continuity.&#8221;</p>
<p>NB- (Shaykh Saqqaf then continued with some important advice, this has been left untranslated for brevity but one may refer to the Arabic for further elaboration).</p>
<p>By the grace of Allah, this is enough from the books of Shaykh Saqqaf to convince any seeker of the truth, let alone the common folk who have little knowledge of the science of Hadith. If anyone is interested for hundreds of other similar quotes from Shaykh Saqqaf, then there are in book of Tanaqadat al-Albani al-Wadihat (The Clear Contradictions of al-Albani).</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=164&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Analisa Sheikh al-Saqqaf terhadap Kerangka Analisa Sheikh al-Bani (4)</title>
		<link>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-4/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 01:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Syeikh Al-Banni]]></category>
		<category><![CDATA[Syeikh Al-Saqqaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[FURTHER EXAMPLES OF AL-ALBANI&#8217;S CONTRADICTIONS
No 15 : (* Pg. 7 )
Al-Albani has criticized the Imam al-Muhaddith Abu&#8217;l Fadl Abdullah ibn al-Siddiq al-Ghimari (Rahimahullah) for mentioning in his book &#8220;al-Kanz al-Thameen&#8221; a Hadith from Abu Hurayra (Allah be pleased with him) with reference to the narrator Abu Maymoona: &#8220;Spread salaam, feed the poor. . . .&#8221;
Al-Albani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>FURTHER EXAMPLES OF AL-ALBANI&#8217;S CONTRADICTIONS</p>
<p>No 15 : (* Pg. 7 )<br />
Al-Albani has criticized the Imam al-Muhaddith Abu&#8217;l Fadl Abdullah ibn al-Siddiq al-Ghimari (Rahimahullah) for mentioning in his book &#8220;al-Kanz al-Thameen&#8221; a Hadith from Abu Hurayra (Allah be pleased with him) with reference to the narrator Abu Maymoona: &#8220;Spread salaam, feed the poor. . . .&#8221;</p>
<p>Al-Albani said in &#8220;Silsilah al-Daeefa, 3/492?, after referring this Hadith to Imam Ahmad (2/295) and others: &#8220;I say this is a weak sanad, Daraqutni has said ‘Qatada from Abu Maymoona from Abu Hurayra: Unknown, and it is to be discarded.&#8217;&#8221; Al-Albani then said on the same page: &#8220;Notice, a slapdash has happened with Suyuti and Munawi when they came across this Hadith, and I have also shown in a previous reference, no. 571, that al-Ghimari was also wrong for mentioning it in al-Kanz.&#8221;</p>
<p>But in reality it is al-Albani who has become slapdashed, because he has made a big contradiction by using this same sanad in &#8220;Irwa al-Ghalil, 3/238? where he says, &#8220;Classified by Ahmad (2/295), al-Hakim . . . from Qatada from Abu Maymoona, and he is trusted as in the book ‘al-Taqreeb&#8217;, and Hakim said: ‘A Sahih sanad&#8217;, and al-Dhahabi agreed with Hakim!<br />
So, by Allah glance at this mistake! Who do you think is wrong, the Muhaddith al-Ghimari (also Suyuti and Munawi) or al-Albani?</p>
<p><span id="more-162"></span>No 16 : (* Pg. 27 no. 3 )<br />
Al-Albani wanted to weaken a Hadith which allowed women to wear golden jewellery, and in the sanad for that Hadith there is Muhammad ibn Imara. Al-Albani claimed that Abu Haatim said that this narrator was: &#8220;Not that strong,&#8221; see the book &#8220;Hayat al-Albani wa-Atharu. . . part 1, pg. 207.&#8221;<br />
The truth is that Abu Haatim al-Razi said in the book ‘al-Jarh wa-Taadeel, 8/45?: &#8220;A good narrator but not that strong. . .&#8221; So note that al-Albani has removed the phrase &#8220;A good narrator !&#8221;</p>
<p>NB-(al-Albani has made many of the Hadith which forbid Gold to women to be Sahih, in fact other scholars have declared these Hadith to be daeef and abrogated by other Sahih Hadith which allow the wearing of gold by women. One of the well known Shaykh&#8217;s of the &#8220;Salafiyya&#8221; &#8211; Yusuf al-Qardawi said in his book: ‘Islamic awakening between rejection and extremism, pg. 85: &#8220;In our own times, Shaykh Nasir al-Din al-Albani has come out with an opinion, different from the consensus on permitting women to adorn themselves with gold, which has been accepted by all madhahib for the last fourteen centuries. He not only believes that the isnad of these Ahadith is authentic, but that they have not been revoked. So, he believes, the Ahadith prohibit gold rings and earrings.&#8221;</p>
<p>So who is the one who violates the ijma of the Ummah with his extreme  opinions?!)</p>
<p>No 17 : (* Pg. 37 no. 1 )<br />
Hadith: Mahmood ibn Lubayd said, &#8220;Allah&#8217;s Messenger (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) was informed about a man who had divorced his wife 3 times (in one sitting), so he stood up angrily and said: ‘Is he playing with Allah&#8217;s book whilst I am still amongst you?&#8217; Which made a man stand up and say, ‘O Allah&#8217;s Messenger, shall I not kill him?&#8217;&#8221; (al-Nisai).<br />
Al-Albani declared this Hadith to be Daeef in his checking of &#8220;Mishkat al-Masabih, 2/981, 3rd edition, Beirut, 1405 A.H; Maktab al-Islami&#8221;, where he says: &#8220;This man (the narrator) is reliable, but the isnad is broken or incomplete for he did not hear it directly from his father.&#8221;<br />
Al-Albani then contradicts himself in the book &#8220;Ghayatul Maram Takhreej Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, pg. 164, 3rd Edn, Maktab al-Islami, 1405 A.H&#8221;; by saying it is SAHIH!!!</p>
<p>No 18 : (* Pg. 37 no. 2)<br />
Hadith: &#8220;If one of you was sleeping under the sun, and the shadow covering him shrank, and part of him was in the shadow and the other part of him was in the sun, he should rise up.&#8221; Al-Albani declared this Hadith to be SAHIH in &#8220;Sahih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh (1/266/761)&#8221;, but then contradicts himself by saying it is DAEEF in his checking of &#8220;Mishkat ul-Masabih, 3/1337 no. 4725, 3rd Ed&#8221; and he has referred it to the Sunan of Abu Dawood!&#8221;</p>
<p>No 19 : (* Pg. 38 no. 3 )<br />
Hadith: &#8220;The Friday prayer is obligatory on every Muslim.&#8221; Al-Albani rated this Hadith to be DAEEF in his checking of &#8220;Mishkat al-Masabih, 1/434?, and said: &#8220;Its narrators are reliable but it is discontinuous as is indicated by Abu Dawood&#8221;. He then contradicts himself in &#8220;Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592?, and says it is SAHIH!!!<br />
So beware o wise  men!</p>
<p>No 20 : (* Pg. 38 no. 4 )<br />
Al-Albani has made another contradiction. He has trusted Al-Muharrar ibn Abu Hurayra in one place and then weakened him in another. Al-Albani certifies in &#8220;Irwa al-Ghalil, 4/301? that Muharrar is a trustee with Allah&#8217;s help, and Hafiz (Ibn Hajar) saying about him &#8220;accepted&#8221;, is not accepted, and therefore the sanad is Sahih.</p>
<p>He then contradicts himself in &#8220;Sahihah 4/156? where he makes the sanad DAEEF by saying: &#8220;The narrators in the sanad are all Bukhari&#8217;s (i.e.; used by Imam al-Bukhari) men, except for al-Muharrar who is one of the men of Nisai and Ibn Majah only. He was not trusted accept by Ibn Hibban, and that&#8217;s why al-Hafiz Ibn Hajar did not trust him, Instead he only said ‘accepted!&#8217;&#8221;<br />
So beware of this  fraud!</p>
<p>No 21 : (* Pg. 39 no. 5 )<br />
Hadith: Abdallah ibn Amr (Allah be pleased with him): &#8220;The Friday prayer is incumbent on whoever heard the call&#8221; (Abu Dawood). Al-Albani stated that this Hadith was HASAN in &#8220;Irwa al-Ghalil 3/58?, he then contradicts himself by saying it is DAEEF in &#8220;Mishkatul Masabih 1/434 no 1375?!!!</p>
<p>No 22 : (* Pg. 39 no. 6 )<br />
Hadith: Anas ibn Malik (Allah be pleased with him) said that the Prophet (Sall Allahu alaihi wa Aalihi wa Sallim) used to say : &#8220;Do not be hard on yourself, otherwise Allah will be hard on you. When a people were hard on themselves, then Allah was hard on them.&#8221; (Abu Dawood)<br />
Al-Albani stated that this Hadith was DAEEF in his checking of &#8220;Mishkat, 1/64?, but he then contradicts himself by saying that this Hadith is HASAN in &#8220;Ghayatul Maram, pg. 141?!!</p>
<p>No 23: (* Pg. 40 no. 7 )<br />
Hadith of Sayyida Aisha (Allah be pleased with her): &#8220;Whoever tells you that the Prophet (Peace be upon him) used to urinate while standing, do not believe him. He never urinated unless he was sitting.&#8221; (Ahmad, Nisai and Tirmidhi )</p>
<p>Al-Albani said that this sanad was DAEEF in &#8220;Mishkat 1/117.&#8221; He then contradicts himself by saying it is SAHIH in &#8220;Silsilat al-Ahadith al-Sahihah 1/345 no. 201?!!!<br />
So take a glance dear reader!</p>
<p>No 24 : (* Pg. 40 no. 8 )<br />
Hadith &#8220;There are three which the angels will never approach: The corpse of a disbeliever, a man who wears ladies perfume, and one who has had sex until he performs ablution&#8221; (Abu Dawood).<br />
Al-Albani corrected this Hadith in &#8220;Sahih al-Jami al-Sagheer wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056? by saying it was HASAN in the checking of &#8220;Al-Targhib 1/91? [Also said to be hasan in the English translation of ‘The Etiquettes of Marriage and Wedding, pg. 11]. He then makes an obvious contradiction by saying that the same Hadith was DAEEF in his checking of &#8220;Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464? and says that the narrators are trustworthy but the chain is broken between al-hasan al-Basri and Ammar (Allah be pleased with him) as al-Mundhiri had said in al-Targhib (1/91)!!</p>
<p>No 25 : (* Pg. 42 no. 10 )<br />
It reached Malik (Rahimahullah) that Ibn Abbas (Allah be pleased with him) used to shorten his prayer, in distances such as between Makkah and Ta&#8217;if or between Makkah and Usfan or between Makkah and Jeddah. . . .<br />
Al-Albani has weakened it in &#8220;Mishkat, 1/426 no. 1351?, and then contradicts himself by saying it is SAHIH in &#8220;Irwa al-Ghalil, 3/14?!!</p>
<p>No 26 : (* Pg. 43 no. 12 )<br />
Hadith: &#8220;Leave the Ethiopians as long as they leave you, because no one takes out the treasure of the Ka&#8217;ba except the one with the two weak legs from Ethiopia.&#8221; Al-Albani has weakened this Hadith in his checking of &#8220;Mishkat 3/1495 no. 5429? by saying: &#8220;The sanad is DAEEF.&#8221; But then he contradicts himself as is his habit, by correcting it in &#8220;Sahihah, 2/415 no. 772.&#8221;</p>
<p>An example of al-Albani praising someone in one place and then disparaging  him in another place in his books</p>
<p>No 27 : (* Pg. 32 )<br />
He praises Shaykh Habib al-Rahman al-Azami in the book ‘Sahih al Targhib wa Tarhib, page 63?, where he says: &#8220;I want you to know one of the things that encouraged me to. . . . which has been commented by the famous and respected scholar Shaykh Habib al-Rahman al-Azami&#8221; . . . . And he also said on the same page, &#8220;And what made me more anxious for it, is that its checker, the respected Shaykh Habib al-Rahman al-Azami has announced. . . .&#8221;</p>
<p>Al-Albani thus praises Shaykh al-Azami in the above mentioned book; but then makes a contradiction in the introduction to ‘Adaab uz Zufaaf (The Etiquettes of Marriage and Wedding), new edition page 8?, where he said: &#8220;Al-Ansari has used in the end of his letter, one of the enemies of the Sunnah, Hadith and Tawhid, who is famous for that, is Shaykh Habib al-Rahman al-Azami. . . . . For his cowardliness and lack of scholarly deduction. . . . .&#8221;</p>
<p>NB &#8211; (The above quotation from Adaab uz Zufaaf is not found in the English translation by his supporters, which shows that they deliberately avoided translating certain parts of the whole work).<br />
So have a glance at this!</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=162&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Analisa Sheikh al-Saqqaf terhadap Kerangka Analisa Sheikh al-Bani (3)</title>
		<link>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-3/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 01:03:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Komentar Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Syeikh Al-Banni]]></category>
		<category><![CDATA[Syeikh Al-Saqqaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[AL-ALBANI&#8217;S INADEQUACY IN RESEARCH (* Vol. 1 pg. 20)
Shaykh Saqqaf said: &#8220;The strange and amazing thing is that Shaykh al-Albani misquoted many great Hadith scholars and disregards them by his lack of knowledge, either directly or indirectly! He crowns himself as an unbeatable source and even tries to imitate the great scholars by using such [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AL-ALBANI&#8217;S INADEQUACY IN RESEARCH (* Vol. 1 pg. 20)</p>
<p>Shaykh Saqqaf said: &#8220;The strange and amazing thing is that Shaykh al-Albani misquoted many great Hadith scholars and disregards them by his lack of knowledge, either directly or indirectly! He crowns himself as an unbeatable source and even tries to imitate the great scholars by using such terms like &#8220;Lam aqif ala sanadih&#8221;, which means &#8220;I could not find the chain of narration&#8221;, or using similar phrases! He also accuses some of the best memorizers of Hadith for lack of attention, even though he is the one best described by that!&#8221; Now for some examples to prove our point:</p>
<p>No 9 : (* Pg. 20 no. 1 )<br />
Al-Albani said in &#8220;Irwa al-Ghalil, 6/251 no.  1847? (in connection to a narration from Ali): &#8220;I could not find the  sanad.&#8221;<br />
Shaykh Saqqaf said: &#8220;Ridiculous! If this al-Albani was any scholar of Islam, then he would have known that this Hadith can be found in &#8220;Sunan al-Bayhaqi, 7/121? :- Narrated by Abu Sayyed ibn Abi Amarah, who said that Abu al-Abbas Muhammad ibn Yaqoob who said to us that Ahmad ibn Abdal Hamid said that Abu Usama from Sufyan from Salma ibn Kahil from Mu&#8217;awiya ibn Soayd who said, ‘I found this in my fathers book from Ali (Allah be pleased with him).&#8217;&#8221;</p>
<p><span id="more-160"></span>No 10 : (* Pg. 21 no. 2 )<br />
Al-Albani said in ‘Irwa al-Ghalil, 3/283?:  Hadith of Ibn Umar ‘Kisses are usury,&#8217; I could not find the sanad.&#8221;<br />
Shaykh Saqqaf said: &#8220;This is outrageously wrong for surely this is mentioned in ‘Fatawa al-Shaykh ibn Taymiyya al-Misriyah (3/295)&#8217;: ‘Harb said Obaidullah ibn Mu&#8217;az said to us, my father said to me that Soayd from Jiballa who heard Ibn Umar (Allah be pleased with him) as saying: Kisses are usury.&#8217; And these narrators are all authentic according to Ibn Taymiyya!&#8221;</p>
<p>No 11 : (* Pg. 21 no. 3 )<br />
Hadith of Ibn Masood (Allah be pleased with him): &#8220;The Qur&#8217;an was sent down in 7 dialects. Everyone of its verses has an explicit and implicit meaning and every interdiction is clearly defined.&#8221; Al-Albani stated in his checking of &#8220;Mishkat ul-Masabih, 1/80 no. 238? that the author of Mishkat concluded many Ahadith with the words &#8220;Narrated in Sharh us-Sunnah,&#8221; but when he examined the chapter on Ilm and in Fadail al-Qur&#8217;an he could not find it!</p>
<p>Shaykh Saqqaf said: &#8220;The great scholar has spoken! Wrongly as usual. I wish to say to this fraud that if he is seriously interested in finding this Hadith we suggest he looks in the chapter entitled ‘Al-Khusama fi al-Qur&#8217;an&#8217; from Sharh-us-Sunnah (1/262), and narrated by Ibn Hibban in his Sahih (no. 74), Abu Ya&#8217;ala in his Musnad (no.5403), Tahawi in Sharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) and Haythami has mentioned it in Majmoo&#8217;a al-Zawaid (7/152) and he has ascribed it to Bazzar, Abu Ya&#8217;ala and Tabarani in al-Awsat who said that the narrators are trustworthy.&#8221;</p>
<p>No 12 : (* Pg. 22 no. 4 )<br />
Al-Albani stated in his &#8220;Sahihah, 1/230? while he was commenting on Hadith no. 149: &#8220;The believer is the one who does not fill his stomach. . . . The Hadith from Aisha as mentioned by Al-Mundhiri (3/237) and by Al-Hakim from Ibn Abbas, I (Albani) could not find it in Mustadrak al-Hakim after checking it in his ‘Thoughts&#8217; section.&#8221;<br />
Shaykh Saqqaf said: &#8220;Please don&#8217;t encourage the public to fall into the void of ignorance which you have tumbled into! If you check Mustadrak al-Hakim (2/12) you will find it! This proves that you are unskilled at using book indexes and the memorization of Hadith!&#8221;</p>
<p>No 13 : (* Pg. 23 )<br />
Another ridiculous assumption is made by al-Albani in his &#8220;Sahihah, 2/476? where he claims that the Hadith: &#8220;Abu Bakr is from me, holding the position of (my) hearing&#8221; is not in the book ‘Hilya&#8217;.<br />
We suggest  you look in the book &#8220;Hilya , 4/73!&#8221;</p>
<p>No 14 : (*Pg. 23 no. 5 )<br />
Al-Albani said in his &#8220;Sahihah, 1/638 no. 365, 4th edition&#8221;: &#8220;Yahya ibn Malik has been ignored by the 6 main scholars of Hadith, for he was not mentioned in the books of Tahdhib, Taqreeb or Tadhhib.&#8221;<br />
Shaykh Saqqaf: &#8220;That is what you say! It is not like that, for surely he is mentioned in Tahdhib al-Tahdhib of Hafiz ibn Hajar al-Asqalani (12/19 Dar al-Fikr edition) by the nickname Abu Ayoob al-Maraagi!!<br />
So  beware!</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=160&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/analisa-sheikh-al-saqqaf-terhadap-kerangka-analisa-sheikh-al-bani-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

