<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Ulama dan Profile</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/ilmu-dan-pengajaran/ulama-dan-profile/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 23:17:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mereka adalah Ulama Salaf Sesungguhnya</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/09/30/mereka-adalah-ulama-salaf-sesungguhnya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/09/30/mereka-adalah-ulama-salaf-sesungguhnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 04:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama dan Profile]]></category>
		<category><![CDATA[salafush sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[ulama salaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Artikel masuk: http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/12/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf/#comment-366
Mereka adalah Ulama Salaf Sesungguhnya
August 19, 2008 – 10:29 am
Oleh : A Dani Permana
Dari Hisyam bin Hasan, bahwasannya Al Hasan ditanya tentang sholat dibelakang pelaku bid’ah, Hasan berkata, “Shalatlah di belakangnya, dan dosa bid’ahnya menjadi tanggungannya sendiri.”[1]
Ubaidillah bin Adi bin Khiyar mengatakan bahwa dia datang kepada Utsman bin Affan sewaktu ia dikepung, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Artikel masuk</strong>: http://usahadawah.wordpress.com/2007/12/12/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf/#comment-366</p>
<p><strong>Mereka adalah Ulama Salaf Sesungguhnya</strong></p>
<p>August 19, 2008 – 10:29 am</p>
<p>Oleh : A Dani Permana</p>
<p>Dari Hisyam bin Hasan, bahwasannya Al Hasan ditanya tentang sholat dibelakang pelaku bid’ah, Hasan berkata, “Shalatlah di belakangnya, dan dosa bid’ahnya menjadi tanggungannya sendiri.”[1]</p>
<p>Ubaidillah bin Adi bin Khiyar mengatakan bahwa dia datang kepada Utsman bin Affan sewaktu ia dikepung, dan berkata kepadanya, “Engkau adalah pemimpin seluruh kaum muslimin, dan kami telah melihat apa yang menimpamu. Kami shalat diimami oleh imam penyebar fitnah, dan kami merasa prihatin.” Utsman berkata, “Shalat adalah amal terbaik dari segala amal yang dilakukan manusia. Karena itu, pada waktu orang-orang melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, maka lakukanlah kebaikan bersama mereka. Pada waktu mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk, maka hindarilah perbuatan-perbuatan buruk itu.” [2]</p>
<p><span id="more-108"></span>Sebagian sahabat shalat dibelakang sebagian ahli bid’ah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abu Zamnin dari Siwar bin Syubaih, “Najdah Haruri pergi haji setelah mendapat restu dari Ibnu Az Zubair, Ia memimpin shalat dibelakangnya. Salah seorang bertanya : Wahai Abu Abdurrahman, apakah kamu shalat dibelakang Najdah Al Haruri (pendukung khawarij)? Ibnu Umar menjawab, “Bila mereka mengajak marilah kita menuju kebaikan, maka kita penuhi panggilan mereka. Dan bila mereka mengajak mari kita membunuh jiwa yang suci, maka kami mengatakan: Tidak, sambil dengan suara yang meninggi.”[3]</p>
<p>Ibnu Hazm berkata: “Tidak seorang pun dari kalangan sahabat menolak shalat dibelakang Mukhtar, ubaidillah bin Zayyad dan Hajaj. Sementara tidak ada pemimpin lebih fasik dari mereka. Sebab Allah berfirman: “dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa dan jangan menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maidah :2). [4]</p>
<p>Dari beberapa riwayat tersebut diatas tidak dipungkiri bawah para sahabat dan tabi’in radhiallahu ‘anhu shalat di belakang orang-orang yang selama ini dipandang sesat bahkan kafir oleh sebagian kaum muslimin.</p>
<p>Kebencian para sahabat dan tabi’in kepada kaum Khawarij hanya terbatas apa yang mereka benci dari perbuatan buruknya, namun mereka masih membaur dengan kalangan khawarij. Para sahabat dan tabi’in bisa menempatkan posisinya kapan harus benci dan kapan harus bersama-sama.</p>
<p>Bila mereka mengajak kepada kebaikan maka kita wajib penuhi mereka namun bila mengajak kepada keburukan kita wajib menghindar dan memberikan peringatan.</p>
<p>Dalam agama ini memang diperkenanakan untuk menyebutkan keburukan sesorang/kelompok yang memang merusak agama yang murni bahkan hal itu adalah wajib diperingati atas keberukannya agar kita terhindar dari keburukannya, sambil tetap menempatkan adab dan sopan santun sebagaimana yang dicontohkan oleh Ustman bin Affan dan Ibnu Umar diatas.</p>
<p>Bagi mereka yang memang diketahui melakukan kebid’ah-hannya karena segala amalan perbuatannya tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah, maka wajib untuk di tahdzir karena kebid’ah-hannya namun kebaikan yang lain yang sesuai dengan Kitabullah dan as Sunnah maka kita wajib berbaur dengan mereka.</p>
<p>Berikut adalah dalil-dalil bolehnya men-tahdzir orang yang melakukan keburukan,</p>
<p>Dari ‘Aisyah radhiAllahu ‘anha, “Ada orang yang minta izin untuk menemui Rasulullah Shalalllahu ‘alahi wasallam dan beliau bersabda, “Izinkanlah dia, sungguh dia adalah seburuk-buruknya saudara dan teman bergaul, ketika orang it masuk, Rasulullah bertutur kata dengan santun, lalu Aisyah bertanya, ” Wahai Rasulullah, engkau sudah mengucapkan perkataan seperti itu, kemudian engkau bertutur kata santun didepannya.” Rasulullah menjawab, :”Hai ‘Aisyah, seburuk-buruk orang adalah orang yang dijauhi orang karena takut keburukannya.”. [5]</p>
<p>Imam Nawawi menjelaskan dengan menukil pendapat Al Qadhi, orang yang dimaksud adalah Uyainah bin Hisn bin Hudiafah Al Fazari atau Abu Malik. Nabi ingin menjelaskan kepada Aisyah perangainya agar semua orang mengerti dan tidak terkecoh, juga sebagai bukti adanya perangai buruk dikalangan sahabat Nabi ketika Rasulullah shalallhu ‘alaihi wasallam masih hidup. Setelah Rasulullah wafat, dia Abu Malik kembali murtad bersama kelompok orang-orang murtad, yang kemudian diserahkan kepada khalifah Abu Bakar radhiAllahu ‘anhu. Hadits diatas sebagai dalil diperbolehkannya untuk berbasa-basi untuk menghindar dari kejahatannya dan menggunjing orang fasik yang menampakkan kefasikannya.[6]</p>
<p>Imam Bukhari berijtihad dari Hadis ini akan bolehnya mengumpat pada orang-orang yang suka membuat kerusakan serta ahli bimbang &#8211; tidak berpenderian tetap[7]</p>
<p>Kemudian juga dari riwayat berikut, Ketika Muawiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm melamar Fatimah bin Qais, beliau minta saran kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam, dan Fatimah bin Qais bertanya: “dengan siapa saya harus menikah? Rasulullah menjawab, “adapun Abu Jahm tidak pernah meletakan tongkat dipundaknya dan Muawiyah bin Abu Sufyan miskin tidak punya harta.” [8]</p>
<p>Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: “Adapun Abul Jahm, maka ia adalah seorang yang gemar memukul wanita.” Ini adalah sebagai tafsiran dari riwayat yang menyebutkan bahwa ia tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya. Ada pula yang mengartikan lain ialah bahwa “tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya” itu artinya banyak sekali bepergiannya. [Riyadhus Sholihin No Hadits 1533]</p>
<p>Dari Zaid bin Arqam r.a., ia berkata: “Kita keluar bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. dalam suatu perjalanan yang menyebabkan orang-orang banyak memperoleh kesukaran, lalu Abdullah bin Ubay berkata: “Janganlah engkau semua memberikan apa-apa kepada orang yang ada di dekat Rasulullah, sehingga mereka pergi &#8211; yakni berpisah dari sisi beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam. itu.” Selanjutnya ia berkata lagi: “Niscayalah kalau kita sudah kembali ke Madinah, sesungguhnya orang yang berkuasa akan mengusir orang yang rendah.” Saya lalu mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. dan memberitahukan hal ucapannya Abdullah bin Ubay di atas. Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam. menyuruh Abdullah bin Ubay datang padanya, tetapi ia bersungguh-sungguh dalam sumpahnya bahwa ia tidak melakukan itu -yakni tidak berkata sebagaimana di atas. Para sahabat lalu berkata: “Zaid berdusta kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.” Dalam jiwaku [Zaid] terasa amat berat sekali karena ucapan mereka itu, sehingga Allah Ta’ala menurunkan ayat, untuk membenarkan apa yang saya katakan tadi, yaitu &#8211; yang artinya: “Jikalau orang-orang munafik itu datang padamu.” (al-Munafiqun: 1)</p>
<p>Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. lalu memanggil mereka untuk dimohonkan ampun &#8211; yakni supaya orang-orang yang mengatakan bahwa Zaid berdusta itu dimohonkan pengampunan kepada Allah oleh beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam., tetapi orang-orang itu memalingkan kepalanya &#8211; yakni enggan untuk dimintakan pengampunan.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Dari beberapa dalil tersebut diatas menggambarkan diperbolehkan mengungkap aib dalam sesorang demi kemashlahatan, maka membongkar aib ahli bid’ah adalah lebih utama karena berkaitan dengan kepentingan agama secara umum.</p>
<p>Namun teramat beda dengan sifat dan sikap sebagian orang yang mendakwakan dirinya Manhaj salaf dewasa ini/pada masa sekarang bila dibandingkan dengan sikap para sahabat Nabi dan tabi’in dalam men-tahdzir dan meng-hajr pada masanya. Sungguh jauh bagaikan langit dan bumi, sikap Rasulullah dalam kasus Zaid bin Arqam dan Abdullah bin Ubay adalah contoh sikap kasih sayang Rasulullah kepada umatnya dengan memohonkan ampun. Sesungguhnya bila mereka bermanhaj kepada Rasulullah-shallahu ‘alahi wasallam itu terlebih baik.</p>
<p>Mereka Para sahabat Nabi masih memiliki rasa saudara seagama dan bisa menempatkan tahdzir dan hajr sesuai dengan porsinya sambil menasehati mereka untuk merujuk kepada Kitabullah dan As Sunnah.</p>
<p>Wallahu’alam bishowab</p>
<p>Footnote:</p>
<p>[1] HR Bukhori</p>
<p>[2] HR Bukhori No. 654</p>
<p>[3] Lih: Ushul As Sunnah, Ibnu Abu Zamnin, Jilid III, hal. 1003</p>
<p>[4] lih: Muhalla, Jilid IV hal 302</p>
<p>[5] HR Bukhori dalam Kitab Adab No 5572, dan Muslim dalam kitab Al Birr No. 4693, Abu Dawud No. 4159 , Musnad Ahmad No. 22977.</p>
<p>[6] Syarh Shahih Muslim No. 4693</p>
<p>[7] Riyadhus Shalihin, Bab diperbolehkannya Ghibah No hadist. 1531</p>
<p>[8] HR Muslim dalam Kitab At Thalaq</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=108&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/09/30/mereka-adalah-ulama-salaf-sesungguhnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jenis-Jenis Kitab Hadits</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/09/30/jenis-jenis-kitab-hadits/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/09/30/jenis-jenis-kitab-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 03:02:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama dan Profile]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Maulana Dzakaria]]></category>
		<category><![CDATA[Pembagian Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah Rasulullah SAW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[(Saringan dan adaptasi dari &#8220;Muqaddimah Lami` al-Darari Ala Jami` al-Bukhari&#8221; karangan Maulana Muhammad Zakaria al-Kandahlawi oleh Ust Muhammad Hanief Awang Yahya dan Hakim-eze)
Sumber: http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm 
Berikut  adalah 29 jenis kitab hadis:
1) Jami&#8217;/ jawami&#8217;
2) Sunan/ ahkam
3) Mathani/ musnad
4) Ma&#8217;ajim/ mu&#8217;jam
5) Masyikhat
6) Ajza&#8217;/ rasail
7) Arbainat
8] Afrad dan Gharaaib
9) Mustadrak
10) Mustakhraj
11) ‘ilal
12) Atraf
13) Tarajim
14) Ta&#8217;aliq
15) Taghrib wa tarhib
16) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>(Saringan dan adaptasi dari &#8220;Muqaddimah Lami` al-Darari Ala Jami` al-Bukhari&#8221; karangan Maulana Muhammad Zakaria al-Kandahlawi oleh Ust Muhammad Hanief Awang Yahya dan Hakim-eze)</em></p>
<p>Sumber: <span style="text-decoration: underline;"><strong>http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm </strong></span></p>
<p><strong>Berikut  adalah 29 jenis kitab hadis:</strong><br />
1) Jami&#8217;/ jawami&#8217;<br />
2) Sunan/ ahkam<br />
3) Mathani/ musnad<br />
4) Ma&#8217;ajim/ mu&#8217;jam<br />
5) Masyikhat<br />
6) Ajza&#8217;/ rasail<br />
7) Arbainat<br />
8] Afrad dan Gharaaib<br />
9) Mustadrak<br />
10) Mustakhraj<br />
11) ‘ilal<br />
12) Atraf<br />
13) Tarajim<br />
14) Ta&#8217;aliq<br />
15) Taghrib wa tarhib<br />
16) Mursalsalat<br />
17) Tsulasiyyat<br />
18) Al-amali<br />
19) Zawaid<br />
20) Al-Mukhtasarat<br />
21) Takharij<br />
22) Syarhul atsar<br />
23) Asbab nuzul hadis<br />
24) At-tartib<br />
25) At-Ta&#8217;liq<br />
26) Al-Mawdhu`at<br />
27) Al-ma&#8217;thurat<br />
28) an-Nasikh wal Mansukh<br />
29) Mutasyabih/ Musykil hadis</p>
<p><span id="more-98"></span><br />
<strong>1) Jami&#8217; atau Jawami&#8217;</strong></p>
<p>Penulisan Jami` bermaksud menghimpunkan hadis-hadis berkenaan dengan bidang aqidah, ahkam, riqaq, adab, tafsir, tarikh dan sirah, fitan dan manaqib.<br />
Kitab hadis  Sahih Bukhari merupakan salah satu kitab yang digelar kitab <em>Jami&#8217;</em> (atau Jawami&#8217;) . Untuk dipanggil sesebuah kitab hadis  sebagai  <em>Jami</em>‘ sebuah kitab hendaklah mengandungi sekurang-kurangnya lapan bidang . Di kalangan ulama ada yang menyusun hadis-hadis dalam bidang-bidang ini secara berasingan. Antaranya ialah:</p>
<ol>
<li>Aqaid (akidah):   	Contohnya: <em>Kitab al-Tauhid</em> karangan  Abu Bakar Ibn Abi Khuzaimah,  	Kitab al-Asma wa al-Sifat oleh al-Baihaqi</li>
<li>Ahkam:  Kitab hadis   	hukum yang disusun seperti  dalam kitab-kitab  fiqh seperti  <em>Bulugh maram </em>dan<em> Umdatul ahkam.</em></li>
</ol>
<ol>
<li>Riqaq ( raqaaiq) : dinamakan juga sebagai Ilmu al-Suluk wa al-Zuhd iaitu menyebut tentang peringatan di hari akhirat dan azab kubur yang akan melembutkan hati sesiapa yang mendengarnya dan menjadikannya seorang yang zuhud.</li>
</ol>
<p>Contohnya:  <em>Kitab Zuhud</em> oleh  Abdullah Ibn Mubarak, Imam Ahmad,</p>
<ol>
<li>Adab: Adab sopan,  	adab tidur, adab solat, adab makan dan sebagainya. Contohnya kitab al-<em>Adab  	al-Mufrad</em> oleh al-Bukhari dan K<em>itab Syamail</em> oleh Tirmizi</li>
<li>Tafsir: Hadis-hadis  	yang mentafsirkan al-Quran.<br />
Contohnya kitab <em>Tafsir ibn Mardawaih</em>, <em>ibn Jarir at-Tabari</em>, <em> Tafsir al-Dailami</em> dan <em>Tafsir Jailani</em>.</li>
<li>Tarikh: Sejarah<br />
Terbahagi kepada dua jenis:</li>
</ol>
<p>a- Sejarah tentang kejadian alam ( <em>bada&#8217; al-khalq</em>) seperti kejadian  langit dan bumi,syurga,neraka,jin,syaitan, malaikat dan sebagainya<br />
b- Sejarah tentang kehidupan Rasulullah s.a.w. dan para sahabat seperti <em>Sirah  Ibn Hisyam</em>, <em>Sirah Mulla Umar</em>,dan sebagainya.</p>
<ol>
<li>al-Fitan iaitu fitnah-fitnah yang muncul di akhir zaman bermula selepas kewafatan Rasulullah s.a.w. Contohnya, kitab Muin bin Hammad (guru al-Bukhari) tentang Dajjal, turunnya nabi Isa as, kemunculan Imam Mahdi, dan sebagainya. Beliau telah mencampuradukkan antara yang sahih dan tidak sahih.</li>
</ol>
<ol>
<li>Manaqib (tentang kelebihan seseorang seperti Abu Bakar,Umar,Uthman,dan Ali, tabi&#8217;in, ahlul bait, isteri-isteri Rasulullah s.a.w., Nawasib dan sebagainya) contohnya, <em> al-Riyadh al-Nadhirah Fi</em> <em>Manaqib al-`Asyarah</em> oleh Muhib al-Tabari, 	<em>Zakhair al-`Uqba Fi Manaqib</em> <em>Zawi al-Qurba</em> dan lain-lain.<a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftn1">[1]</a></li>
</ol>
<p>Antara kitab-kitab hadis yang termasuk dalam kategori ini ialah <em>Sahih al-Bukhari</em> <em>Jami&#8217; al-Tirmizi, Sahih Muslim, Misykat al-Masabih, Jami` Suyfan al-Thauri,  Jami`</em> <em>Abdul Razzaq bin Hammam al-San`ani, Jami&#8217; al-Darimi</em>, dan  lain-lain.</p>
<p>Kitab <em>Sahih Muslim</em> pula terdapat pertikaian tentangnya. Jumhur ulama mengatakan ianya termasuk kitab Jami&#8217; namun sebahagian yang lain menyatakan tidak kerana hadis-hadis tafsir di dalam kitabnya terlalu sedikit.</p>
<p><strong>2) al-Sunan dan al-Ahkam</strong><br />
Ianya disusun mengikut tertib fiqh yang bermula dengan bab Taharah, sembahyang dan seterusnya. Walaubagaimanapun di dalam sunan sendiri ianya tidak hanya memuatkan tentang hukum-hakam tetapi ada juga perkara-perkara lain yang dibincangkan.<br />
Contoh kitab-kitab yang termasuk dalam kategori ini ialah: <em>Sunan al-Nasai&#8217;e</em>, <em>Jami` al-Tarmizi, Sunan Ibn Majah, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Daruqutni</em>, <em>Sunan Abi Ali bin al-Sakan</em> dan lain-lain.</p>
<p><strong>3- Masanid dan Musnad</strong><br />
Penulisan Musnad bermaksud menyusun hadis-hadis mengikut nama-nama sahabat. Sama ada mengikut susunan abjad atau terdahulu memeluk Islam.</p>
<p>Imam Ahmad yang menulis  musnad telah mendahulukan hadis-hadis Abu Bakar daripada hadis-hadis sahabat  yang lain.<br />
Antara cara penyusunan musnad:</p>
<ol>
<li>memuatkan  	hadis-hadis tentang 10 orang sahabat yang dijamin masuk syurga, atau tentang  	khalifah yang empat.</li>
<li>mengikut siapa yang  	lebih dahulu yang memeluk Islam.</li>
<li>dengan melihat  	siapakah ahli Badar/ Hudaibiah dahulu.</li>
<li>dengan melihat  	siapakah yang memeluk Islam terlebih dahulu ketika Pembukaan Mekah.</li>
<li>dengan melihat lelaki dahulu perlu diutamakan. Tetapi dari kalangan wanita pula isteri-isteri nabi diutamakan terlebih dahulu.</li>
<li>atau dengan melihat  	jenis qabilah (qabilah bani Hasyim didahulukan).</li>
</ol>
<p>Di dalam musnad juga taraf hadis tidak diambil kira. Ia cuma mengumpulkan sebanyak mungkin hadis-hadis yang menerangkan tentang sesuatu perkara. Namun begitu musnad yang paling sahih adalah <em>Musnad Ahmad</em> kerana beliau telah  menyaring hadis-hadisnya. Kebanyakan ulama salaf menulis hadis-hadis dalam  bentuk musnad.<a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>4- Ma&#8217;ajim dan mu&#8217;jam</strong><br />
Mu&#8217;jam pula disusun mengikut tertib huruf ejaan, atau mengikut susunan nama guru-guru mereka. Nama guru-guru mereka pula disusun mengikut ejaan nama atau kelebihan mereka.<br />
Mu&#8217;jam juga hanya mengumpulkan hadis-hadis nabi saw tanpa melihat taraf  hadis-hadisnya.<br />
Contoh kitab-kitab mu&#8217;jam ialah <em>Mu&#8217;jam Tabrani, Mu&#8217;jam kabir, Mu&#8217;jam as-Sayuti</em>,  dan <em>Mu&#8217;jam as-Saghrir</em>, <em>Mu&#8217;jam Abi Bakr, ibn Mubarak</em>, dan  sebagainya.</p>
<p>Kitab rijal yang mengumpulkan orang-orang yang tersebut dalam meriwayatkan hadis-hadis nabi s.a.w. mengikiut ejaan bersama dengan kuniyyahnya. Ini semua adalah untuk memastikan kesahihan sesebuah hadis. Golongan. Orientalis sendiri mengakui kehebatan ilmu hadis. <a title="_ftnref3" name="_ftnref3" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftn3"> [3]</a></p>
<p><strong>5- Masyikhat</strong><br />
Di dalam penulisan masyikhat, hadis-hadis dikumpul dari seorang syeikh sama ada dia mengumpulkan sendiri hadis tersebut atau orang lain yang mengumpulkannya. Contohnya, <em>Masyikhat</em> Ibn al-Bukhari, yang dibuat tambahan oleh Hafiz al-Mizzi, <em>Masyikhah Ibn Syadam al-Kubra</em> dan <em>al-Sughra</em>, dan dibuat tambahan  oleh al-`Iraqi.<br />
Ali bin Anjab al-Baghdadi mempunyai 20 jilid kitab masyikhat.<br />
Antara kitab Masyikhat yang disebutkan juga ma&#8217;ajim seperti <em>Mu&#8217;jam al-Sayut</em>i,  Abu Bakar Ibn Mubarak. Kitab yang ada sanad pula seperti <em>Musnad </em>al-Firdaus  oleh al-Dailami,</p>
<p>Istilah lain bagi mu&#8217;jam dengan makna kamus dan bukannya bermaksud penulisan hadis. Ada juga yang menyebut mu&#8217;jam itu sebagai kamus geografi yang menyebut tentang geografi sesuatu tempat seperti <em>Mu`jam al-Buldan</em> oleh Yaqut al-Hamawi.  Ada juga yang mengumpulkan tentang biografi seseorang tokoh di dalam kitab  mu&#8217;jamnya seperti <em>al-Mu`jam fi  Athar Muluk al-`Ajam.<br />
</em></p>
<p><strong>6- Ajza&#8217;/ Rasail</strong><br />
Hadis-hadis yang dikumpulkan berhubung dengan sesuatu perkara atau tajuk seperti <em>Raf` al-Yadaian</em> oleh al-Bukhari. Dalam kitab ini beliau mengemukakan hadis-hadis tentang mengangkat tangan tanpa membahaskan kedudukan hadis-hadis tersebut samada mansukh, syaz, atau mujmal dan sebagainya.</p>
<p>Contoh-contoh lain seperti <em>Juz al-Niyyah</em> oleh Ibn Abi al-Dunya, <em>Juz  al-Qira&#8217;ah Khalf al-Imam</em> oleh al-Baihaqi<a title="_ftnref4" name="_ftnref4" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftn4">[4]</a>,   <em>Juz Fadhail Ahl al-Bait</em> oleh Abu al-Husin al-Bazzar, <em>Juz al-Munziri  Fi Man Ghufira Lah Ma Taqaddama Min</em> <em>Zanbih</em>, <em>Juz Asma al-Mudallisin</em><a title="_ftnref5" name="_ftnref5" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftn5">[5]</a> dan <em>Juz `Amal al-Yaum wa al-Lail</em>.</p>
<p>Tujuan kitab Rasail ini ditulis adalah:<br />
1- Untuk membuktikan sesuatu perkara itu sabit daripada Rasulullah s.a.w dengan mengumpulkan pelbagai riwayat tanpa mengira kedudukan hadis-hadis tersebut.<br />
2- Supaya lebih mudah untuk membuat kajian terhadap sesuatu perkara.</p>
<p><strong>7- Arbainat</strong><br />
Kitab-kitab hadis yang mengumpulkan hadis sebanyak 40 buah hadis. Usaha ini dilakukan berpandukan hadis riwayat dari Abu al-Darda&#8217; yang disebut oleh al-Baihaqi: &#8220;Sesiapa yang hafal untuk ummatku 40 hadis berhubung urusan agamanya, Allah akan bangkitkannya nanti sebagai seorang faqih dan aku (Muhammad) pada hari kiamat nanti akan menjadi syafaat kepadanya&#8221;. Imam Ahmad berkata, hadis ni masyhur tetapi tidak sabit.</p>
<p>Hadis-hadis dikumpul dalam bentuk ini juga disebabkan ianya termasuk dalam bab  fadhail seperti pendapat al-Nawawi.<br />
Abdullah bin Mubarak adalah orang pertama yang menulis kitab arbainat ini.<br />
Ibn Hajar pula telah menulis 2 kitab Arbain. Kitab Arba`inat yang paling mashyur ialah karangan al-Nawawi. Antara syarahnya pula ialah <em>Syarah Ibn</em> <em>Rajab, Syarah Mulla Ali al-Qari</em> dan lain-lain.<br />
Ada juga ulama yang mengumpul Hadis 40 berkenaan tauhid, mensabitkan sifat-sifat Allah, hadis hukum, hadis-hadis yang sanadnya semua sahih, mengumpulkan hadis-hadis yang mempunya lafaz panjang, mengumpul hadis-hadis yang mengambil hadis-hadis tersebut dari 40 tokoh ulama atau 40 orang sahabat. Ada juga hadis-hadis dikumpulkan mengikut keturunan yang sama, dan ada juga kumpul hadis yang sanadnya hanya ‘daripada Malik daripada Nafi` daripada Ibn Umar&#8217; sahaja.<br />
Selain itu ada hadis-hadis dikumpul tentang jihad dan hadis-hadis yang mengatakan ketika berdoa tangannya diangkat. Ibn Hajar pula mengumpulkan hadis-hadis yang diambil dari Sahih Muslim yang mana hadis-hadisnya lebih tinggi sanadnya dari Bukhari.</p>
<p><strong>8- Afrad dan Gharaaib</strong><br />
Penulisan tentang hadis-hadis yang hanya terdapat pada seorang syaikh tetapi tidak ada pada syaikh yang lain. Tegasnya hadis-hadis yang mempunyai seorang perawi sahaja pada setiap generasi sama ada:<br />
Fard nisbi atau fard mutlak (seorang sahaja yang meriwayatkannya dari sahabat).</p>
<p><strong>9- Mustadrak</strong><br />
Iaitu kitab hadis yang mengumpulkan hadis-hadis yang tidak disebutkan oleh seseorang pengarang sebelumnya secara sengaja atau tidak. Contohnya kitab Mustadarak al-Hakim setebal 4 jilid di mana hadis-hadis tersebut dikumpul menepati syarat-syarat yang digunakan oleh Bukhari dan Muslim.</p>
<p>Kitab ini tidak boleh dibaca begitu sahaja,  tetapi mesti bersama dengan takhrijnya oleh al-Zahabi.</p>
<p>Antara contoh kitab-kitab mustadrak yang lain adalah seperti <em>Mustadrak Hafiz  Ahmad al-Maliki.</em></p>
<p>Di dalam kitab masyikhat ianya dibahagikan kepada tiga bahagian. Bahagian ketiga tersebut adalah tentang Mustadrak. Oleh itu kitab Mustadrak boleh dikatakan kitab Masyikhat.</p>
<p>Tujuan penyusunan kitab Mustadarak ialah:</p>
<p>Supaya kita tidak menganggap hadis sahih  hanyalah apa yang terkandung di dalam <em>Sahih al-Bukhari</em> dan Muslim sahaja.</p>
<p><strong>10- Mustakhraj</strong></p>
<p>Mengumpulkan hadis-hadis yang sama dalam satu kitab tetapi sanadnya berlainan di mana sanadnya bertemu dengan syeikh kitab asalnya (gurunya) seperti hadis tentang niat.<br />
Contoh kitab Mustakhraj ialah <em>Mustakhraj Abu ‘Awanah `Ala Sahih Muslim</em>.</p>
<p>Ada juga yang hanya membawa hadis-hadis tersebut tetapi tidak membawa sanadnya. Beliau cuma menyebut kitab-kitab yang menyebut tentang perawinya.<br />
Tujuannya adalah: Supaya hadis-hadis tersebut akan lebih meyakinkan tambahan pula jika lafaznya hampir sama antara satu sama lain.</p>
<p>Contoh lain pula ialah Mustakhraj ala  Sahihain:<br />
1) Mustakhraj atas kitab Sahih Muslim oleh Abu Ja`far bin Hamdan, Abu Bakar al-Jauzaqi, Abi Imran Musa bin Abbas, Abi Said bin Utsman dan sebagainya.<br />
2) Mustkhraj ke atas Bukhari sahaja seperti karangan al-Ismaili, Abu Abdillah  dan lain-lain.<br />
3) Mustakhraj ke atas Bukhari dan Muslim pula seperti Mustakhraj oleh Abi Abdillah, Abi Muhammad al-Khallan, Abi Bakar al-Siraji, dan sebagainya.</p>
<p>Ada juga Mustakhraj atas al-Tirmizi oleh Abi Ali al-Tusi, <em>Mustakhraj</em> atas  Abu Daud, <em>Kitab al-Tauhid</em> karangan Ibn Khuzaimah. Bagaimanapun mereka  tidak beriltizam tentang kesahihannya.</p>
<p>Ada juga yang mentakrifkan Mustakhraj yang mana sanadnya bertemu dengan tabi`in  tetapi ada iktilaf mengenainya.</p>
<p>Faedah penyusunan kitab Mustakhraj:</p>
<p>1-Ketinggian sanad- ia ditulis untuk menunjukkan sanadnya lebih tinggi dari kitab asal seperti Muslim. Contoh Abu `Awanah dalam kitabnya <em>Mustakhraj Abu ‘Awanah</em> yang mengambil sanad hadis tersebut  atas lagi daripada guru Muslim.</p>
<p>2-Menunjukkan kekuatan hadis itu. Contohnya jika hadis itu hanya disebutkan di dalam Sunan Abu Daud sahaja, tetapi tidak diriwayatkan oleh orang lain. Sekiranya hadis tersebut terdapat dalam Sunan Abu Daud itu pula bertentangan dengan hadis yang lain, maka ia perlukan penguat. Dengan adanya kitab Mustakhraj, kita dapat mencari penguat-penguatnya yang lain supaya proses pentarjihan dapat dilakukan dengan baik. Oleh itu, kitab Mustakhraj penting sebagai penguat apabila riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat.</p>
<p>3-Menerangkan sanad yang tidak jelas. Contohnya pada peringkat permulaan seseorang perawi itu masih kuat ingatannya tetapi semasa menghampiri akhir hayatnya ia menjadi seorang yang <em>mukhtalit</em> (nyanyuk). Dengan itu dapat dipastikan bilakah sesebuah hadis itu diambil samada ketika ingatannya masih kuat atau selepas menjadi nyanyuk. Contohnya perawi Bukhari dan Muslim, Hisyam bin Urwah bin Zubair yang nyanyuk selepas berhijrah ke Iraq.<br />
.<br />
4-Kitab asal riwayat dari <em>mudallis</em> yang dikira daif sekiranya menggunakan  lafaz  <em>‘an</em>. tetapi dengan adanya Mustakhraj, adanya sanad lain yang mengunakan lafaz yang menunjukkan dengan jelas yang dia mendengar hadis.</p>
<p>5-Riwayat secara <em>mubham</em>- iaitu perawi yang tidak dijelaskan namanya  seperti  ‘<em>haddatsana rajulun min ahli bait&#8217;</em>. Tidak diketahui siapa ‘<em>rajulun&#8217;</em> itu? Nama perawi <em>mubham</em> akan diketahui apabila memeriksa kitab  Mustakhraj.</p>
<p>6-Mengetahui siapakah orang yang disebut namanya secara <em>muhmal</em> tanpa  kunyahnya-contoh Muhammad. Muhammad yang mana?</p>
<p>7-Isnad asal ada `<em>illah</em> yang sukar untuk diselesaikan tanpa berpandukan  kepada riwayat yang bebas `<em>illah</em>. Contohnya perawi tersebut dituduh  sebagai Syiah, Irja&#8217;<a title="_ftnref6" name="_ftnref6" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftn6">[6]</a>dan  sebagainya.</p>
<p><strong>11-`Ilal</strong><br />
Sesebuah kitab yang menyebut tentang  penyakit pada riwayat trsebut pada  matannya atau sanadnya. Contohnya kitab <em>al`Ilal</em> karangan Ibn al-Jawzi dan  Muhammad Abu Hatim al-Razi yang mengikut susunan bab-bab fiqh.<br />
<strong><br />
12-Atraf</strong><br />
Kitab yang mana menyebut sebahagian dari hadis sama ada menyebut permulaannya sahaja, di tengah-tengahnya, atau diakhir sahaja. Hal ini banyak dilakukan terutama oleh Bukhari untuk mengeluarkan sesuatu hukum dari sesebuah hadis.<br />
Ada juga <em>Atraf Sunan Abi Daud, Jami&#8217; al-Tirmizi dan Sunan al-Nasa&#8217;i</em> dan  sebagainya.<br />
Ibn Hajar al-Asqalani pula ada mengarang kitab yang berjudul Ithaf <em>al-Mahara</em> <em>Bi Atraf al-`Asyarah</em> yang mengumpulkan 10 buah kitab hadis di dalamnya  berserta sanadnya iaitu:<br />
1-al-Muwatta&#8217;<br />
2-Musnad Ahmad<br />
3-Musnad al-Syafi`e<br />
4-Sahih Ibn Khuzaimah<br />
5-Mustadrak al-Hakim<br />
6-Sunan al-Daruqutni<br />
7-Jami&#8217; al-Darimi<br />
8- Muntaqa Ibn al-Jarud<br />
9-Sahih Ibn Hibban<br />
10-Mustakhraj Abi Awanah<br />
.<br />
<strong><br />
13-Tarajim</strong><br />
Penulisan yang mengumpulkan hadis-hadis dari sanad-sanad yang tertentu seperti  &#8220;Malik daripada Nafi` daripada Ibn Umar.&#8221;</p>
<p><strong>14- Ta&#8217;aliq</strong><br />
Penulisan yang mengumpulkan hadis-hadis dari sesebuah kitab tanpa menyebutkan  sanad seperti yang disebut oleh Bukhari secara <em>ta&#8217;liq</em>.<a title="_ftnref7" name="_ftnref7" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftn7">[7]</a></p>
<p><strong>15- Taghrib Wa Tarhib</strong><br />
Hadis-hadis tentang galakan dan ancaman terhadap sesuatu perkara. Contohnya, Targhib al-Solat karangan al-Baihaqi, al-Targhib wa al-Rahib oleh Ibn al-Munzir. Termasuk dalam kategori ini ialah kelebihan amalan khusus seperti <em>Fadhail al-Jihad</em> Ibn  Syaddad al-Musuli dan <em>Fadhail al-A`mal</em> oleh Ibn Zanjuwaih</p>
<p><strong>16-Musalsalat</strong><br />
Hadis yang mengumpulkan isnad yang disebut secara berturut-turut seperti  semuanya dengan lafaz <em>sami&#8217;tu</em>, <em>sami&#8217;tu</em> hinggalah akhir sanad. Ada juga riwayat yang mana perawi meriwayatkan hadis-hadis dengan memegang janggut kerana semasa Nabi s.a.w. meriwayatkannya, baginda memegang janggutnya.<br />
Musalsalat ini termasuk dari sudut <em>Qauli</em> (ucapan) atau <em>Fi&#8217;li</em> (perbuatan)  Nabi s.a.w.<br />
Contohnya seseorang perawi itu akan memberi buah tamar dahulu kepada seseorang itu sebelum dia meriwayatkannya kepada orang tersebut sepertimana Nabi s.a.w. meriwayatkan hadis tersebut pada asalnya.</p>
<p><strong> 17-Thulathiyyat</strong></p>
<p>Hadis yang mempunyai jumlah perawinya hanya 3 orang sahaja antaranya dan Nabi s.a.w. (sanadnya pendek). Contohnya seperti thulathiyyat Bukhari, Muslim, dan sebagainya. Ada juga hadis berbentuk <em> ruba&#8217;iyat</em> (empat orang perawi) dan <em>thunaiiyat</em> (dua orang perawi)</p>
<p><strong>18-al-Amali</strong><br />
Kitab yang ditulis oleh seseorang anak murid daripada syaikh yang mendiktekkan hadis. Contohnya dia mengatakan kitab ini adalah yang dibaca oleh syaikh dan dicatat oleh muridnya. Imlak ini berdasarkan kepada tulisan, kitab atau ingatan.</p>
<p><strong>19-Zawaid</strong><br />
Hadis yang dikumpul sebagai tambahan dari kitab asal tetapi syarat-syarat pengumpulannya sama dengan kitab asal. Contohnya kitab <em>Zawa&#8217;id Ibn</em> <em> Hibban Ala al-Sahihain</em> oleh Ibn al-Mughalta&#8217;i, <em>Zawa&#8217;id Sunan al-Baihaqi  al-Kubra</em>, <em>Zawa&#8217;id Imam Ahmad</em> dan <em>Zawa&#8217;id Abi Ya`la</em>.  Walaubagaimanapun, kitab Zawaid tidak setaraf dengan kitab asalnya.</p>
<p><strong>20-al-Mukhtasarat</strong><br />
Penulisan yang berbenutuk saringan dan ringkasan kepada sesebuah kitab.</p>
<p><strong>21-Takhrij</strong></p>
<p>Kitab yang membahaskan hadis-hadis yang hanya disebutkan dalam sesebuah kitab di mana hadis-hadis tersebut tidak dihukum oleh pengarang asalnya seperti yang dibuat oleh al-`Iraqi terhadap kitab <em>Ihya</em> al-Ghazzali. Begitu juga dengan takhrij terhadap kitab Tafsir <em>Kasyaf</em>.Contoh  lain ialah takhrij hadis Tirmizi.<br />
Salah satu keistimewaan Jami` al-Tirmizi ialah apabila Imam al-Tirmizi selesai mengemukakan sesebuah hadis seperti hadis daripada Abu Hurairah, diakhirnya beliau akan mengatakan seperti &#8220;dalam bab ini, ia juga diriwayatkan oleh Ali, Ibn Abbas, Ibn Mas`ud, al-Zubair dan lain-lain tanpa mengemukakan sanadnya secara lengkap. Oleh itu ulama mengarang kitab-kitab lain secara khusus untuk menyebutkan kembali sanad yang tidak disebutkan oleh Imam al-Tirmizi.</p>
<p><strong>22-Syarh al-Atsar</strong><br />
Kitab-kitab yang mengumpulkan atsar-atsar sahabat. Di dalam bab hukum-hakam pula  kitab  yang masyhur ialah <em>Syarhu Ma&#8217;ani Athar</em> oleh Imam al-Tahawi. Kitab  ini telah disyarah oleh Amir Jamaah Tabligh, Maulana Muhammad Yusuf yang  mengarang kitab <em>Hayat al-Sahabat</em>. Bagaimanapun, kitab syarah tersebut tidak dapat disiapkan kerana ajal lebih dahulu menjemputnya. Di antara kitab-kitab yang lebih lama pula ialah <em>Musannaf Ibn</em> <em>Abi Syaibah</em> yang mengandungi banyak atsar-atsar sahabat.<br />
Faedah penyusunan kitab syarah atsar ialah:</p>
<p>Memudahkan proses pentarjihan hadis. Contohnya tentang hadis jilatan anjing. Ada yang berpendapat wajib membasuh sebanyak 7 kali, salah satu dengan tanah. Ada yang mengatakan tiga kali dan ada yang berpendapat sekali basuh sahaja.<br />
Bagaimana mentarjihkan jika terdapat begitu banyak pandapat?<br />
Antara caranya ialah dengan melihat pada atsar sahabat iaitu bagaimana  kebanyakan sahabat mengamalkannya.</p>
<p><strong>23- Asbab Wurud al-Hadith</strong><br />
Penulisan kitab hadis tentang sebab-sebab hadis disabdakan. Antara ulama yang menulis kitab seperti ini ialah Taqiyudiin Ibn Daqiq al-‘Iid, Abi Ya`ala, Ibn Hamzah al-Husaini, dan sebagainya. Amatlah penting bagi kita untuk mengetahui latar belakang kenapa sesebuah hadis itu datang supaya tidak berlaku salah faham dan tafsiran.</p>
<p>Contohnya:<br />
1- Tentang hadis Nabi s.a.w. melarang makan di atas meja. Sekiranya kita tidak mengetahui sebab-sebabnya, pastinya kita juga di zaman sekarang ini tidak akan makan di atas meja. Tetapi baginda melarangnya pada masa itu ialah untuk menghapuskan budaya orang-orang bangsawan yang sombong kerana mereka menganggap meletak dan makan makanan di atas lantai itu adalah taraf orang miskin dan tidak layak bagi mereka.<br />
2- Nabi s.a.w. mengatakan bahawa sesiapa yang melabuhkan kain melebihi buku lali akan masuk neraka atau Allah s.w.t. tidak memandang kepada mereka di akhirat nanti.<br />
3-Sesiapa yang berbekam maka batal puasanya. Bagi Imam Ahmad, beliau hanya berpegang dengan zahir hadis tersebut sahaja iaitu memang batal puasanya, tetapi Imam al-Syafi`e mengatakan tidak kerana hadis tersebut ada latar belakangnya. Sebenarnya terbatalnya puasa tersebut merujuk kepada terhapusnya atau batalnya pahala orang yang berbekam tersebut kerana pada masa itu mereka yang membekam dan dibekam itu sedang mengumpat.</p>
<p><strong>24- al-Tartib</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Oleh kerana ada sesetengah kitab hadis yang ditulis tidak mengikut susunan atau bab yang tertentu, maka ada ulama lain yang menyusun kembali hadis-hadis tersebut mengikut bab-bab yang tertentu.<br />
Tujuannya ialah supaya senang untuk membuat rujukan serta mencari hadis yang  terdapat di dalamnya. Contohnya, seperti <em>Musnad Imam Ahmad</em> yang tidak tersusun mengikut bab-bab tertentu. Ini kerana kaedah penyusunan musnad adalah dibuat mengikut susunan nama sahabat yang meriwayatkan sesebuah hadis. Antara ulama yang menyusun kitab tartib ialah bapa kepada Hasan al-Banna, Abdul Rahman al-Banna yang menyusun <em>Tartib Musnad</em> <em>Imam Ahmad</em> mengikut tartib  fiqh. Nama kitab tersebut ialah <em>al-Fath al-Rabbani Fi Tartib Musnad Ahmad al-Syaibani</em>.  Tetapi kitab tersebut juga tidak siap kerana beliau meninggal dunia terlebih  dahulu.<br />
Contoh-contoh lainya seperti <em>Tartib kitab al-Umm</em>, <em>Tartib Musnad Ahmad </em>oleh Ibn Kathir dan lain-lain.</p>
<p><strong>25- At-Ta&#8217;lif `ala Huruf fil mu&#8217;jam</strong><br />
Penulisan hadis berdasarkan kepada huruf yang pertama iaitu bermula dengan huruf  alif, ba&#8217; dan seterusnya.  Contohnya, <em>al-Jami` al-Saghir</em> karangan al-Suyuti,<em>al-Maqasid al-Hasanah</em> oleh al-Sakhawi, <em>al-Maudhu`at al-Kubra</em> dan <em>al-Maudhu`at al-Sughra</em> oleh Mulla Ali al-Qari.</p>
<p><strong>26- Al-Muadu&#8217;at</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kumpulan hadis-hadis maudu&#8217; iaitu menghimpunkan hadis-hadis palsu. Antara ulama yang menyusun hadis-hadis palsu dan mendedahkan kedudukannya termasuklah Ibn al-Jauzi, al-Suyuti, al-Syaukani, Muhammad bin Tahir al-Fattani dan lain-lain. Sementera kitab yang menyebutkan perawi-perawi yang melakukan pendustaan dan perawi yang dhaif ialah <em>al-Kamil</em> oleh Ibn Adi, <em>al-Dhu`afa wa al-Matrukin</em>, <em>Mizan al-I`tidal</em> oleh al-Zahabi, <em>Lisan al-Mizan</em> oleh Ibn Hajar dan lain-lain lagi.<br />
<strong>27- Al-Ma&#8217;thurat</strong><br />
Kitab tentang doa-doa yang mathur iaitu doa yang terdapat di dalam hadis-hadis  Rasulullah s.aw.seperti <em>al-Azkar</em> karangan Imam al-Nawawi, <em>Amal al-Yaum  wa al-Lailah</em> oleh al-Munziri dan sebagainya.<br />
<strong><br />
28- al-Nasikh wa al-Mansukh</strong><br />
Mengumpulkan hadis yang nasikh dan mansukh. Contoh tentang solat dengan memakai selipar yang sudah mansukh, Rasulullah s.a.w. sembahyang lepas asar dan subuh (mansukh), mut&#8217;ah (mansukh), angkat tangan lepas bangun dari sujud yang pertama (sudah mansukh) tetapi tetap dilakukan oleh Syi`ah. Antara ulama yang menulis tentangnya seperti Qasim bin Asbagh, al-Nuhhas, Abu `Ubaid, Ibn al-Anbari, al-Hazimi, Ibn al-Jauzi dan Ibn Shahin. Orang pertama yang menulis kitab tentang hadis-hadis mansukh ialah Muhammad bin Syihab al-Zuhri.</p>
<p><strong>29- Mutasyabih/ Musykil hadis</strong><br />
Penulisan ini mengumpulkan hadis-hadis yang sukar untuk difahami sebagai terdapat di dalam al-Quran beberapa ayat yang samar-samar. Contohnya, hadis neraka tidak akan penuh selagi Allah tidak letakkan tapak kaki-Nya sehinggalah neraka berkata, cukuplah, cukuplah<em>. </em>Antara kitab yang baik iaitu <em> Musykil al-Hadith wa Bayanuhu</em> hadis karangan Ibn Furak  dan <em>Takwil</em> <em> Muktalif al-Hadith</em> karangan Ibn Qutaibah.</p>
<p>Jawapan bagi kemusykilan di atas ialah perkataan &#8220;qadam&#8221; dalam hadis tersebut adalah mutasyabih. &#8220;Qadam&#8221; itu tak semestinya bermakna tapak kaki akan tetapi ia bermakna keputusan atau taqdir Allah s.w.t. kepada hamba-hamba-Nya.</p>
<p dir="rtl" align="right">
<hr size="1" /><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftnref1"> [1]</a> Nawasib atau nasibi (golongan Syiah memanggil Ahli Sunnah Wal Jamaah dengan nama nasibi di dalam kitab-kitab muktabar mereka). Nasibi sebenarnya golongan-golongan yang berlebih-lebihan terhadap Muawiyah.<br />
Imam al-Nasai&#8217;e dibunuh kerana menulis kitab berkenaan manaqib ahlul bait kerana pada masa tersebut terlalu kuat pengaruh Nawasib.2. Kata Imam Ahmad &#8220;al-hadisu daif aqwal min ra&#8217;yu&#8221;<br />
Maksudnya hadis daif itu lebih baik dari pendapat akal.<br />
Kenapa hadis itu daif lebih baik dari ra&#8217;yu?<br />
Jawab: Ini kerana, hadis daif itu walaupun ianya daif tetapi ianya adalah kata-kata yang berkemungkinan datangnya dari nabi s.a.w. yang ma&#8217;sum. Sebenarnya hadis itu daif disebabkan kecacatan pada sanadnya atau perawinya. Akan tetapi ra&#8217;yu pula berada dalam keterbukaan yang luas untuk berlakunya kesalahan, kerana akal manusia itu amatlah terbatas.</p>
<p>3 Ingatlah Imam al-Bukhari sendiri kencing berdarah dalam mengkaji hadis . Imam Muslim pula meninggal dunia disebabkan tidak cukup makan, mati dalam lautan ilmu.</p>
<p>4. Di dalam masalah bacaan makmun di belakang imam, Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya berpendapat bacaan imam itu sudah menjadi bacaan mereka.</p>
<p>5  		Perawi-perawi yang  		melakukan Tadlis iaitu mereka yang menyembunyi nama-nama guru mereka di  		dalam periwayatan hadis.</p>
<p><a title="_ftn6" name="_ftn6" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftnref6"> [6]</a> Irja&#8217;, fahaman yang  		mengatakan keimanan tidak akan terjejas kerana maksiat dilakukan.</p>
<p><a title="_ftn7" name="_ftn7" href="http://www.darulkautsar.com/penghadis/kitabhadis.htm#_ftnref7"> [7]</a> Membuang sanad daripada matan dengan mengekalkan perawi teratas atau  		tidak.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=98&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/09/30/jenis-jenis-kitab-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shaykh al-Hadith Muhammad Zakariyya Kandhlawi</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/09/27/shaykh-al-hadith-muhammad-zakariyya-kandhlawi/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/09/27/shaykh-al-hadith-muhammad-zakariyya-kandhlawi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 22:50:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama dan Profile]]></category>
		<category><![CDATA[Biographi]]></category>
		<category><![CDATA[Profil]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: http://www.whitethreadpress.com/authors/shaykh_zakariyya.htm
In the last century, India has undoubtedly become an important center for the study of hadith, and the scholars of India have become well-known for their passion for religious knowledge. Upon them ended the era of leadership in teaching hadiths, codification of the special fields (funun) of hadith, and commentary upon its texts (mutun). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: </strong><strong>http://www.whitethreadpress.com/authors/shaykh_zakariyya.htm</strong></p>
<p>In the last century, India has undoubtedly become an important center for the study of hadith, and the scholars of India have become well-known for their passion for religious knowledge. Upon them ended the era of leadership in teaching hadiths, codification of the special fields (funun) of hadith, and commentary upon its texts (mutun). Such was their mastery of this science that Muhammad Rashid Rida mentions in the introduction of his book Miftah Kunuz al-Sunna, &#8220;Were it not for the superb attention to detail in the science of hadith displayed by our brothers, the scholars of India in the present era, this science would have withered away in the eastern cities. And, indeed, mastery of this science has been waning in Egypt and Syria since the tenth century ah.&#8221; There is no doubt that Shaykh Muhammad Zakariyya was among the most distinguished hadith scholars of India and a great contributor in service of the Sunna. He was given the honorary title of Shaykh al-Hadith, or &#8220;Great Scholar of Hadith,&#8221; by his teacher, Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri, who recognized his deep insight, clear-sightedness, and extensive knowledge of hadith and related sciences.</p>
<p><span id="more-96"></span>Lineage and Upbringing</p>
<p>He was born in the village of Kandhla (in Uttar Pradesh, India) on Ramadan 10, 1315 ah (February 12, 1898 CE). His full name was Muhammad Zakariyya ibn Muhammad Yahya ibn Muhammad Isma‘il, and his lineage continues all the way back to Abu Bakr (may Allah be pleased with him), the great Companion of the Messenger (upon him be peace).</p>
<p>Shaykh Abu &#8216;l-Hasan Nadwi said about him, &#8220;Shaykh Muhammad Zakariyya was born into a household rooted in knowledge and passion for Islam. His immediate family and his predecessors were distinguished by firm resolve, perseverance, steadfastness, and adherence to religion&#8230;. His family included many notable scholars &#8230; and his grandmother memorized the entire Qur&#8217;an while nursing her son [Shaykh Zakariyya's father].&#8221;</p>
<p>His father, Shaykh Muhammad Yahya, was among the great scholars of India in both the Related (manqulat) and Logical sciences (ma‘qulat). His primary teacher in hadith was Shaykh Rashid Ahmad Gangohi. Under him he studied Sahih al-Bukhari, Jami<em>‘</em> al-Tirmidhi, Ibn Maja and others of the six famous authentic books of hadith (Sihah sitta). Shaykh Yahya went on to teach at Madrasa Mazahir ‘Ulum, in the district of Saharanpur, but did not accept any payment for his services. He instead made his living through his own book-publishing business.</p>
<p>As a young boy, Shaykh Zakariyya moved with his father to the village of Gangoh, in the district of Saharanpur. Since his father and Shaykh Gangohi had a close relationship, Shaykh Zakariyya quickly earned the affection of his father&#8217;s teacher.</p>
<p>Growing up in this virtuous environment, he began learning how to read with Hakim ‘Abd al-Rahman of Muzaffarnagar. He memorized the Qur&#8217;an with his father and also studied books in Persian and the introductory Arabic books with his uncle Shaykh Muhammad Ilyas (founder of the Tabligh movement). He stayed with his father in the company of Shaykh Gangohi until age eight, when the shaykh passed away. Shaykh Abu al-Hasan Nadwi says, &#8220;He was brought up in the best of environments in this era; the most adhering to the conduct and the sunna and the furthest from the corruption that had begun to spread in the world.</p>
<p>At the age of twelve, Shaykh Zakariyya traveled with his father to Mazahir ‘Ulum. Shaykh Muhammad ibn Yahya [his father] bathed and performed two rak&#8217;ats of prayer and began teaching Mishkat al-Masabih. He then made a lengthy prayer for himself and his son. From that day on, hadith became the main focus and goal of Shaykh Zakariyya&#8217;s life. There, under his father, he advanced his study of Arabic, tackling many classical texts on Arabic morphology, grammar, literature, and also logic. But by the time he was seventeen, hadith became the main focus of his life. He studied five of the six authentic books of hadith with his father, and then he studied Sahih al-Bukhari and Sunan al-Tirmidhi (for a second time) with the honorable Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri. Out of his immense respect for h adith, Shaykh Zakariyya was extremely particular about always studying the hadith narrations with wudu&#8217;.</p>
<p>On Dhu &#8216;l-Qa‘da 10, 1334 ah, when Shaykh Zakariyya was just nineteen, his dear father passed away. This event was extremely traumatic for Shaykh Zakariyya, as he lost not only a father but also a teacher and mentor. His deep sorrow remained with him for the rest of his life.</p>
<p>Teachers</p>
<p>Shaykh Zakariyya was blessed to live and learn in an era considered by many to be one of great achievements in Islamic knowledge by scholars in the Indian subcontinent. He studied with few but select teachers who reached the highest levels of learning, research, authorship, and piety. One of his most influential teachers was his own father, Shaykh Muhammad Yahya, born in 1287 ah. Shaykh Zakariyya memorized the Qur&#8217;an at the age of seven, then as per his father&#8217;s instruction he would recite the whole Qur&#8217;an each morning. In addition to his father and uncle (Shaykh Muhammad Ilyas), he studied under the hadith scholar Khalil Ahmad Saharanpuri, author of the Badhl al-Majhud, a commentary on Sunan Abi Dawud. Shaykh Zakariyya acquired a hadith authorization from him and remained his student until Shaykh Khalil&#8217;s death in Madina Munawwara in 1346 ah.</p>
<p>Before his death, Shaykh Khalil A h mad expressed his desire to write Badhl al-Majhud, and he sought Shaykh Zakariyya&#8217;s assistance as his right-hand man. This was the beginning of his good fortune and the route to his excellence. His work earned him a special position with his Shaykh. The shaykh would direct him towards the possible texts and religious sources from which he could take the subject matter. Shaykh Muhammad Zakariyya would collect the information and present them to his Shaykh, who would then select from the collection whatever he required. Thereafter he would dictate it to Shaykh Muhammad Zakariyya who would write it down. This is how the completion of Badhl al-Majhud fi hall Abi Dawud took place. This experience revealed Shaykh Zakariyya&#8217;s gift of penmanship and, furthermore, expanded his insight in the science of hadith. He worked hard on the project, He undertook the task of publishing his shayk&#8217;s work in the Indian press and devoted his attention to its correction, publishing it with complete sincerity. He attained the pleasure and trust of his shaykh, He became a successor (khalifa) and representative (na&#8217;ib) of his shaykh and was even mentioned by name in the commentary.</p>
<p>Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri mentions in the introduction of Badhl al-Majhud, &#8220;I was helped by some of my friends, notable amongst whom is my relative and the coolness of my eyes and heart, Hajj Hafiz Molwi Muhammad Zakariyya ibn Mawlana Hafiz Molwi Muhammad Yahya Kandhlawi (may Allah have mercy on him). I was incapable of writing or pursuing it (without his help), due to the shaking of my hand and due to weakness in mind and vision. I would dictate to him and he would write. He would search for the difficult subject matter from the sources, thus facilitating the dictation for me. I thank Allah for his effort and ask Him to grant him the best reward for whatever he spent of his effort. Allah has gifted him with intrinsic and apparent knowledge, beneficial in this world and in the hereafter, and with accepted, illuminated, good deeds.&#8221;</p>
<p>This indeed opened the door to Shaykh Zakariyya&#8217;s authoring many literary works and treatises over the course of his life.</p>
<p>Teaching Career</p>
<p>In Muharram 1335 ah he was appointed as a teacher at Madrasa Mazahir ‘Ulum, where he was assigned to teach books on Arabic grammar, morphology, and literature, as well as a number of primary texts of Islamic jurisprudence. In 1341 ah he was assigned to teach three sections of Sahih al-Bukhari upon the insistence of Shaykh Khalil Ahmad. He also taught Mishkat al-Masabih until 1344 ah. Shaykh Abu al-Hasan Nadwi said, &#8220;Although he was one of the youngest teachers at the school, he was selected to teach works generally not assigned to those of his age, nor to anyone in the early stages of his teaching career. Nevertheless, he showed that he was not only an able, but an exceptional teacher.&#8221;</p>
<p>In 1345 ah he traveled to Madina Munawwara, the city of Allah&#8217;s Messenger (upon him be peace) where he resided for one year. There he taught Sunan Abi Dawud at Madrasa al-‘Ulum al-Shar‘iyya. While in Madina, he began working on Awjaz al-Masalik ila Muwatta&#8217; Imam Malik, a commentary on Imam Malik&#8217;s Muwatta&#8217;. He was twenty-nine at the time.</p>
<p>When he returned to India, he resumed teaching at Mazahir ‘Ulum. He began teaching Sunan Abi Dawud, Sunan al-Nasa‘i, the Muwatta&#8217; of Imam Muhammad, and the second half of Sahih al-Bukhari. The school&#8217;s principle taught the first half of Sahih al-Bukhari, and after his death, Shaykh Zakariyya was given the honor of teaching the entire work.</p>
<p>In all, he taught the first half of Sahih al-Bukhari twenty-five times, the complete Sahih al-Bukhari sixteen times, and Sunan Abi Dawud thirty times. He did not just teach hadith as a matter of routine; the work of hadith had become his passion, and he put his heart and soul into it. Shaykh Zakariyya taught until 1388 ah, when he was forced to give up teaching after developing eye cataracts.</p>
<p>Travels to the Two Holy Cities</p>
<p>Allah Most High blessed him with the opportunity to visit the two holy cities of Makka and Madina. He performed hajj several times, and his multiple trips had a profound personal effect on him, both spiritually and educationally. He made the blessed journey with Shaykh Khalil Ahmad in 1338 ah. During the trip, Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri discovered that there was a manuscript of Musnad Abdul Razzaq, which he intended to purchase but the seller was asking for an exorbitant price and Shaykh Khalil Ahmad, not having the required amount, was unable to purchase it. When Shaykh Zakariyya learned of this, he asked to borrow the manuscript from the bookseller. Knowing that he had only ten days left until his return to India (not nearly enough time for them to transcribe it) the seller gave it to him. Shaykh Muhammad Zakariyya took the manuscript and began copying it with the help of some of his acquaintances. In ten days, they finished copying the entire manuscript and also proofread it completely (before returning the original). Shaykh Saharanpuri was surprised by the high aspirations (himma) of his student, his discernment (nabaha), and his effort, and prayed on his behalf.</p>
<p>He traveled with the shaykh again in 1344. It was during the second trip that Shaykh Khalil completed Badhl al-Majhud; he died shortly thereafter and was buried in the Baqi‘ graveyard in Madina. May Allah have mercy on him and put light in his grave.</p>
<p>Sincere Love for Allah and the Prophet</p>
<p>Shaykh Muhammad Zakariyya inherited piety, honesty, and good character from his father (may Allah be pleased with him). He aspired to follow the Qur&#8217;an and Sunna in all matters, big and small, with a passion not found in many scholars. He had extreme love for the Prophet (upon him be peace) and the blessed city of Madina. His students have related that whenever the death of the Messenger (upon him be peace) was mentioned during a lecture on Sunan Abi Dawud or Sahih al-Bukhari, his eyes would well up with tears, his voice would choke up, and he would be overcome with crying. So evocative were his tears that his students could do nothing but weep with raised voices.</p>
<p>He was often tested with regard to his sincerity. He was offered many teaching jobs at two or three times the salary that was customarily given at Mazahir ‘Ulum, but he always graciously declined the offers. For most of his teaching career, Shaykh Zakariyya never accepted any money for his services at Mazahir ‘Ulum; he did the work voluntarily, seeking Allah&#8217;s pleasure. Although he did accept a small salary at the beginning of his career, he later totaled up the amount and paid it back in its entirety.</p>
<p>Household</p>
<p>Shaykh Muhammad Zakariyya married twice. He first married the daughter of Shaykh Ra&#8217;uf al-Hasan in Kandhla. She passed away on Dhu &#8216;l- Hijja 5, 1355 ah. He then married the daughter of Shaykh Muhammad Ilyas Kandhlawi in 1356 ah. Allah blessed him with five daughters and three sons from his first wife, and two daughters and one son from his second marriage.</p>
<p>Daily Routine</p>
<p>Shaykh Zakariyya organized his time meticulously. He would rise an hour before dawn and occupy himself in tahajjud and recitation of Qur&#8217;an before performing the Fajr prayer in the masjid. After Fajr, he would read his morning supplications and litany until sunrise. Thereafter he would go to meet with some people and drink tea (but never ate anything with it). He would then return to his quarters to read. During this time he would also research and compile his literary works, and, with few exceptions, no one was allowed to visit him at this time. When it was time for lunch he would come out and sit with his guests, who were from all walks of life; he would respect and treat them well, irrespective of who they were. After Zuhr prayer, he would take a siesta and then spend some time listening to his correspondence (which amounted to around forty or fifty letters daily from different places) and dictating replies. He also taught for two hours before ‘Asr. After ‘Asr, he would sit with a large group of people, offering them tea. After performing Maghrib, he would remain devoted in solitude to optional prayer and to supplication. He did not take an evening meal except to entertain an important guest.</p>
<p>Personality and Appearance</p>
<p>Shaykh Abu &#8216;l-Hasan ‘Ali Nadwi says about his characteristics, &#8220;He was of medium height, heavyset, good-looking, with a fair, rosy complexion, as though pomegranate seeds had burst unto both his cheeks. &#8220;He was extremely vibrant, never lazy; light-hearted, smiling, cheerful, friendly; and he often jested with his close friends and acquaintances. We saw in him good character and forbearance with people, as well as a rare humility; and above all, his personal qualities were always governed by his deep faith and sense of contentment.&#8221;</p>
<p>Death</p>
<p>He had always hoped to meet Allah while in the city of the Messenger (upon him be peace); Allah granted his wish. He died there on Monday Sha‘ban 1, 1402 ah (May 24, 1982 CE) and was buried in Jannat al-Baqi‘, in the company of the Companions and the noble family members of the Messenger (upon him be peace). His funeral procession was followed by a large number of people and he was buried in the Baqi‘ graveyard next to his teacher Shaykh Khalil Ahmad Saharanpuri. May Allah forgive him, grant mercy, and elevate his status. Amin.</p>
<p>Scholars&#8217; Praise of Him</p>
<p>Many scholars, both Arab and non-Arab, have praised him and recognized his knowledge and excellence. ‘Allama Muhammad Yusuf Binnori relates,</p>
<p>Indeed there are some remnants of the scholars of past generations living today among the scholars of today&#8217;s generation. They have been guided to praiseworthy efforts in multiple religious sciences, such as jurisprudence; they are on par with the previous generations in their knowledge, excellence, fear of Allah, and piety; they stir up memories of the blessed golden age of scholarship. Among these scholars is a unique figure envied for his excellence in knowledge and action, the author of outstanding, beneficial works and of beautiful, superb commentaries: Shaykh Muhammad Zakariyya Kandhlawi Saharanpuri.</p>
<p>Shaykh Sa‘id Ahmad, the head of Islamic studies at the University of Aligarh, UP, relates,</p>
<p>It is evident to one who takes a look at his works that he had a brilliancy, both in knowledge and with the pen, like that of Ibn al-Jawzi and Imam Ghazali. Of the scholars of his era, I know of no one comparable to him in this regard, except Imam ‘Abd al-Hayy al-Farangi Mahalli (of Lucknow).</p>
<p>Shaykh ‘Abd al-Fattah Abu Ghudda said regarding him,</p>
<p>&#8220;The Shaykh, the Imam, the honorable, the Jurist, the scholar, the noble, the fragrant flower and sweet basil of India and Hijaz (Rayhanat al-Hind wa&#8217;l-Hijaz), the exponent of spiritual realities (haqiqa) and allusions (majaz), our leader, and our blessing.&#8221;</p>
<p>Doctor Sayyid Muhammad Ibn ‘Alawi al-Maliki relates,</p>
<p>&#8220;His Moral excellence (Sahib al-Fadila), the hadith scholar, the remnant of the predecessors and adornment of the successors, the blessed Imam, caller to Allah, my leader (<em>sayyidi</em>) and my teacher: Shaykh Muhammad Zakariyya.&#8221;</p>
<p>The hadith scholar, Hafiz al-Tijani portrayed him in the following words:</p>
<p>&#8220;The scholar of hadith, most erudite of the honorable, (Hadrat ‘Allama), Muhammad Zakariyya Kandhelwi, most erudite, the outstanding (fadil), the meticulous, the inquirer (muhaqqiq).&#8221;</p>
<p>‘Allama Sayyid Sulayman Nadwi mentioned upon his trip to Hijaz,</p>
<p>&#8220;In the 1369 ah, I met the honorable Shaykh Sayyid ‘Alawi al-Maliki, who was praising the work <em>Awjaz al-masalik</em> and its author. He was saying, &#8220;There is no literary work comparable to this in the works of the predecessors (mutaqaddimin).&#8221;</p>
<p>Shaykh Abu &#8216;l-Hasan ‘Ali Nadwi relates that Shaykh ‘Alawi al-Maliki said,</p>
<p>When he reports the ruling and evidences of the Maliki school [in his writings], we Malikis are astonished at the accuracy and integrity of the report&#8230;. If the author had not mentioned in the introduction of [his] book that he was a Hanafi, I would not have known that he was Hanafi, but would have definitely concluded that he was a Maliki, since in his Awjaz he cites by-laws and derivatives of the Maliki school from their books that even we have a hard time obtaining.</p>
<p>Shaykh Abu &#8216;l-Hasan ‘Ali al-Nadwi relates of him that the hadith was not only a profession or a science for him, but a desire and a state in which he lived and lived for.</p>
<p>Shaykh ‘Abd al-Wahhab ‘Abd al-Latif said,</p>
<p>&#8220;He was the author of the work <em>Awjaz al-masalik,</em> in six volumes. In it is contained a great deal of effort in compiling, and an extent of reporting from the books of hadith and jurisprudence which has made the compiler deserving of praise.&#8221;</p>
<p>Students</p>
<p>Shaykh Zakariyya had numerous students who spread around the world and continue, to this day, to serve Islam, particularly establishing traditional Islamic schools in India, Pakistan, Bangladesh, England, Canada, America, South Africa, Zambia, Zimbabwe, and other countries. Some of his more prominent students in the field of hadith were Mu h addith Muhammad Yusuf Kandhlawi (d. 1384 ah), author of Amani &#8216;l-Ahbar Sharh Ibn Ma‘ani &#8216;l-Athar, Shaykh ‘Abd al-Jabbar A&#8217;zami, author of Imdad al-Bari (Urdu commentary on Sahih al-Bukhari) , and Mufti Mahmud Hasan Gangohi (d. 1417 ah). Many other scholars and students also acquired authorizations in hadith from him, including Dr. Mustafa&#8217; al-Siba‘i, Shaykh ‘Abd al-Fattah Abu Ghudda, Dr. Muhammad ‘Alawi al-Maliki, and Shaykh Muhammad Taha al-Barakati.</p>
<p>Written Works</p>
<p>Shaykh Zakariyya wrote many works both in Arabic and Urdu. A number of them treat specialized subjects intended for scholars, and the rest have been written for the general public. His works demonstrate his deep knowledge and intelligence; his ability to understand the issue at hand, research it thoroughly, and present a complete, clear and comprehensive discussion; his moderation, humility (as can be seen from the preface of this book), patience, and attention to detail. His respect and awe for the pious predecessors are evident in his works, even when he disagrees with their opinions on any particular aspect.</p>
<p>His first written work was a three-volume commentary of the Alfiyya Ibn Malik (on Arabic grammar), which he wrote as a student when he was only thirteen. His written works amount to over one hundred. He did not withhold any rights to his works and made it publicly known that he only published his works for the sake of Allah&#8217;s pleasure. Whoever wished to publish them was permitted to, on the condition that they were left unaltered and their accuracy maintained.</p>
<p>Hence, his books have gained overwhelming acceptance throughout the world, so much so that his work Fada&#8217;il al-Qur&#8217;an (Virtues of the Qur&#8217;an) has been translated into eleven languages, Fada&#8217;il Ramadan (Virtues of Ramadan) into twelve languages, and Fada&#8217;il al-Salat (Virtues of Prayer) into fifteen languages. He wrote four books on Qur&#8217;an commentary (tafsir) and proper recitation (tajwid), forty-four books on hadith and its related sciences, six books on jurisprudence (fiqh) and its related sciences, twenty-four historical and biographical books, four books on Islamic creed (aqida), twelve books on abstinence (zuhd) and heart-softening accounts (riqaq), three books in Arabic grammar and logic, and six books on modern-day groups and movements.</p>
<p>Some of His Hadith Works</p>
<p>One can find a complete list and description of his books in the various biographies written on him. Here is a brief description of a few of his more popular works on hadith:</p>
<p><em>Awjaz al-Masalik ila Muwatta&#8217; Imam Malik</em>: One of the most comprehensive commentaries on the Muwatta&#8217; of Imam Malik in terms of the science of hadith, jurisprudence, and hadith explication. Shaykh Zakariyya provides the summaries of many other commentaries in a clear, intellectual, and scholarly way, dealing with the various opinions on each issue, mentioning the differences of opinions among the various scholars, and comparing their evidences. This commentary, written in Arabic, has won great acclaim from a number of Maliki scholars.</p>
<p><em>Lami‘ al-Dirari ‘ ala Jami‘ &#8216;l-Bukhari</em>: Written in Arabic, a collection of the unique remarks and observations on Sahih al-Bukhari presented by Shaykh Rashid Ahmad Gangohi . These life-long acquired wisdoms were recorded by his student Shaykh Yahya Kandhlawi (Shaykh Zakariyya&#8217;s father) during their lessons. Shaykh Zakariyya edited, arranged, and commented on his father&#8217;s compilation, clarifying the text and adding a comprehensive introduction at the beginning.</p>
<p><em>Al-Abwab wa &#8216;l-Tarajim li &#8216;l-Bukhari</em>: An explanation of the chapter headings of Imam Bukhari&#8217;s Sahih al-Bukhari. Assigning chapter headings in a hadith collection is a science in itself, known among the scholars as al-abwab wa &#8216;l-tarajim (chapters and explanations). In it, the compiler explains the reasons for the chapter heading and the connections between the chapter headings and the hadiths quoted therein. It is well known that the commentators of Sahih al-Bukhari have paid special attention to the titles therein, in tune with the Arabic saying: &#8220;The fiqh of Bukhari is in his chapter headings&#8221; ( fiqh al-Bukhari fi tarajimihi). Shaykh Zakariyya not only quotes and compiles what has been mentioned by other scholars like Shah Wali Allah al-Dehlawi and Ibn Hajar al-‘Asqalani, but also correlates and clarifies these opinions and presents findings from his own research in many instances.</p>
<p><em>Juz&#8217; Hajjat al-Wida‘ wa ‘ Umrat al-Nabi</em> (sallallahu alayhi wasallam) : A comprehensive Arabic commentary on the detailed accounts of the pilgrimage (hajj) of Allah&#8217;s Messenger (upon him be peace) . It includes the details of any juridical discussions on the various aspects of pilgrimage, giving the locations, modern-day names, and other details of the places the Messenger of Allah (upon him be peace) passed by or stayed at.</p>
<p><em>Khasa&#8217;il Nabawi Sharh Shama&#8217;il al-Tirmidhi</em>: Composed in Urdu, a commentary on Imam Tirmidhi&#8217;s renowned work Al-Shama&#8217;il al-Muhammadiyya, a collection of hadiths detailing the characteristics of the Messenger (upon him be peace) . This commentary explains the various aspects related to the different characteristics and practices of Allah&#8217;s Messenger (upon him be peace). It has been translated into English and is widely available.</p>
<p>[Adapted from the Arabic biography on Shaykh Zakariyya Kandhlawi by Wali 'l-Din Nadwi]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=96&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/09/27/shaykh-al-hadith-muhammad-zakariyya-kandhlawi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
