<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Kisah-Kisah Tauladan</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/kisah-kisah-tauladan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 23:17:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kitab-Kitab Fadhilah Amal dan Hayatush Shahabat</title>
		<link>http://usahadawah.com/2009/03/12/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2009/03/12/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 02:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah amal]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[targhib wat tarhib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:

http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/
http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/

Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:</p>
<ul>
<li><a href="http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/" target="_blank">http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/</a></li>
<li><a href="http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/" target="_blank">http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/</a></li>
</ul>
<p>Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu kami sampaikan kenapa Hayatush Shahabat menjadi salah satu pengajaran utama dalam usaha da&#8217;wah ini. Para Ulama dari jaman kapanpun sangat memahami bahwa kesuksesan dan kejayaan para Shahabat RA ini merupkan tauladan yang tidak dapat dipupus oleh jaman. Sehingga tidak heran banyak ulama sepanjang perjalanan kaum muslimin selalu menulis perihal kehidupan para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-244"></span>Itulah sebabnya para ahli da&#8217;wah di manapun berada, apakah di masjid ataupun sedang khuruj, selalu membaca kisah-kisah para Shahabat RA ini, diulang-ulang, disampaikan berkali-kali, diceritakan lagi dan lagi kepada kaum muslimin lainnya, KARENA para Shahabat RA itu merupakan generasi yang telah mendapatkan keridhoan Allah swt dan juga kesuksesan di dunia ini serta akherat nanti. Sehingga perlu dibacakan untuk dingat serta menjadi idola, atau menjadi sebuah keinginan yang membakar untuk mempunyai cita-cita seperti para Shahabat RA.</p>
<p>Dua sumber bacaan yang cukup banyak di baca yaitu kitab kisah-kisah para Shahabat, Maulana Dzakaria, dan Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf. Kedua kitab ini mempunyai ciri yang khas, dan untuk memahaminya sebenarnya para pembaca perlu membuka pengantar buku-buku itu dengan baik. Banyak orang menilai, tetapi kadangkala tidak memperhatikan kata pengantar ataupun pendahuluan, yang tentunya untuk memberikan secara menyeluruh terhadap apa buku itu sebenarnya. Silahkan perhatikan pengantar dari kedua buku itu dengan baik.</p>
<p>Sekarang ini telah ada yang memberikan komentar terhadap kitab Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf, yang berkaitan dengan tingkatan hadits yang terdapat dalam kitab itu. Tetapi yang harus dipahami dengan baik oleh siapapun termasuk juga kalangan ulama yang juga memberikan komentar terhadap tingkatan hadits dalam kitab itu, yaitu <strong>susunan sistematik kitab itu mempunyai tujuan atau sasaran utama yang hendak dicapai dari apa yang menjadi pikiran si penulis sendiri, dalam hal ini yaitu Maulana Yusuf.</strong></p>
<p>Jadi jika ada Ulama yang memberikan komentar terhadap hadits yang terdapat dalam kitab itu, itu sah-sah saja ataupun mungkin juga menyusun ringkasannya secara ilmiyyah. TETAPI yang perlu diperhatikan adalah susunan sistematik kitab itu sendiri, karena pikiran dan sasaran itu terdapat dalam susunan sistematik itu sendiri. Jika dilakukan perumbakan secara serampangan, maka artinya sama dengan merusak karya seseorang dalam pola analisanya. Sehingga hal itu kurang pantas dilakukan. Jangan kita menjadi tertawaan orang banyak, karena kita melakukan perombakan terhadap karya orang, sedangkan kita tidak mampu berbuat sesuatu yang lebih baik.</p>
<p>Kitab seperti Fadhilah Amal ini sudah banyak di abad-abad yang lalu, dan tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda. Kami sendiri ]melakukan penulusuran terhadap kitab-kitab yang seperti fadhilah amal. Kami mendapatkan banyak kitab seperti itu, tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda.  Misalkan kitab dengan judul <strong>Fadhoil Amal </strong>yang ditulis Ulama, Al-Hafidz MUhammad Abdul Wahid Al-Maqdisi, sekitar tahn 600-an. Atau kitab yang disusun Imam Mundziri, Targhib Wat Tarhib. Kitab Imam Mundziri ini yang banyak dijadikan sebagai rujukan buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria.</p>
<p>Sekarang ini telah ada ulama yang memberikan komentar terhadap buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria. Hal ini merupakan sah-sah saja secara ilmiyyah, dan telah banyak dilakukan juga. Sekarang saja telah ada kitab ringkasan Kitab Tafsir Ibnu Katsir dimana Ulama menghilangkan hal-hal yang dianggap maudhu atau israilliyat. TETAPI tetap kita atau bahkan ulama menghormati Ibnu Katsir sendiri sebagai penulis kitab itu, dan bahkan banyak ulama yang mendorong untuk membacanya.</p>
<p>Dan sebenarnya kita kaum muslimin juga perlu mengetahui kenapa beliau, maulana dzakaria, menulis buku-buku fadhilah amal ini. Tentunya mempunyai latar belakangnya. Usaha da&#8217;wah ini lebih dahulu muncul dibandingkan dengan kelahiran buku-buku fadhilah itu sendiri yang disusun Maulana Dzakaria. Dan juga tidak semua topik yang menjadi buku fadhilah amal, berbeda dengan targhib wa tarhib yang lebih banyak dan luas dalam topiknya. Silahkan untuk diperhatikan dengan baik!</p>
<p>Jika ada ulama yang berkeinginan meringkas buku-buku fadhilah amal, itu merupakan hak secara ilmiyyah. Sama halnya terhadap kitab hadist shohih muslim, ataupun shohih bukhari, ataupun juga terhadap kitab Tafsir Ibnu Katsir, juga ada ringkasannya. TETAPI yang perlu dijaga adalah susunan sistematik dan juga sasaran yang hendak dicapai dari kitab yang ditulis itu. Ini yang harus diperhatikan dengan baik.</p>
<p>Para Ulama biasa menyusun kitab yang sama dengan ulama lainnya, tentunya dengan karakter dan pendalaman yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang dan juga sasaran yang dibuat. Begitulah kita juga berlaku secara ilmiyyah, tidak hanya kita memberikan penilaian yang mengarah pada kontra-produktif bagi kaum muslimin. Yang akhirnya tidak produktif bagi kaum muslimin lainnya. Apakah ketika memberikan penilaian isi yang terdapat Tafsir Ibnu Katsir, Ulama yang bersangkutan meremehkan dan mencaci Ibnu Katsfir? Kami kira ulama yang bersangkutan tidak melakukannya. Begitulah kita juga kepada Ulama lainnya.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=244&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2009/03/12/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa di Surga Ada Orang yang Bertatto?</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/12/02/apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/12/02/apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 08:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[belajar da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[bertato]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah Allah swt]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[thobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: http://harapandiri.wordpress.com/2008/11/29/“-apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto”
Kenapa Allah swt hadirkan gelap! Agar kita tahu bahwa dengan terang segalanya akan terlihat jelas, lantas kenapa Allah swt hadirkan masa lalu yang suram dalam hidup kita ! agar kita sadar bahwa hidayah itu suatu yang mahal, yang Allah swt berikan kepada siapa saja yang mau membuka hati untuk perkara hidayah. Karena setiap orang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: http://harapandiri.wordpress.com/2008/11/29/“-apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto”</p>
<p>Kenapa Allah swt hadirkan gelap! Agar kita tahu bahwa dengan terang segalanya akan terlihat jelas, lantas kenapa Allah swt hadirkan masa lalu yang suram dalam hidup kita ! agar kita sadar bahwa hidayah itu suatu yang mahal, yang Allah swt berikan kepada siapa saja yang mau membuka hati untuk perkara hidayah. Karena setiap orang, ya setiap orang tanpa kecuali, lepas apakah dia seorang yang memiliki kepahaman agama yang tinggi atau hanya seorang ahli maksiat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh hidayah, tinggal seberapa jauh kita mau meraih dan mempertahankan hidayah tersebut.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu , Allah swt betul-betul telah &#8220;menampar&#8221; saya dalam artian yang sesungguhnya. Melalui<em> kepergian </em>seorang sahabat, Allah seakan ingin menunjukan bahwa hidayah dan surga bukan milik sekelompok orang, melainkan milik setiap orang yang dengan hati hancur datang kedepan pintu-Nya, berharap memperoleh kasih-Nya.</p>
<p><span id="more-219"></span>Betapa adilnya Allah dan betapa beruntungnya sahabat saya, karena Allah telah pilih dia kembali kepada-Nya dalam keadaan memperbaiki diri <em>dirumah-Nya</em> dalam balutan malam yang tenang, yang hanya Allah dan malaikat-Nya yang mengetahui bagaimana perjuangan almarhum sahabat saya meninggal dunia dalam pertobatannya.</p>
<p>Ketika pertama kali bertemu dengannya, saya memandang hanya dengan sebelah mata, iblis telah menguasai hati saya , sehingga perasaan lebih baik darinya yang waktu itu muncul, tapi keinginan untuk menjadi lebih baik yang datang dari hatinya menghantarkan dia pada pintu hidayah-Nya.</p>
<p>Pagi itu seperti bulan-bulan sebelumnya, saya dan beberapa teman mengadakan program perbaikan diri dengan cara beritikaf dimasjid sekitar tempat tinggal untuk <em>belajar dakwah</em>. Dan seperti biasa pula setiap pagi diadakan taklim pagi, dimana dibacakan kisah-kisah  para sahabat Nabi dan perbaikan cara membaca alqur&#8217;an.</p>
<p>Selama mejalani program taklim, mata saya seakan sulit diajak kompromi, begitu berat untuk di buka, bukan karena malam sebelumnya saya banyak melakukan sholat malam, melainkan begitu banyaknya dosa yang ada di diri saya sehingga  dalam majelis ilmu saya masih juga mengantuk. Seperti biasa setiap taklim pagi maka di buat jaulah taklim ( berkeliling di sekitar lingkungan masjid untuk mengajak orang duduk dalam majelis taklim ). Saya dan seorang teman mendapatkan tugas jaulah taklim. Dan garis nasib menghantarkan saya bertemu dengan sekelompok pemuda yang satu diantaranya menjadi sahabat saya. Beberapa orang dari pemuda itu mencoba pergi ketika melihat saya dan teman saya mendekat , mungkin mereka fikir kami kelompok Islam garis keras yang mencoba menggang<em>gu</em> <em>keasikan</em> mereka, tinggal seorang pemuda yang tetap berada di situ. Kami mencoba memperkenalkan diri dan menerangkan maksud tujuan kami datang menemui dirinya serta kami mengajak beliau sama-sama ke masjid untuk duduk dalam majelis taklim yang baru saja di mulai. Pemuda itu hanya diam, entah apa yang ada di benaknya, apakah dia berpikir saya dan teman saya hanyalah sekelompok orang yang mengganggu kesenangan dirinya atau entahlah mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>Saya mulai aga kesal karena dirinya seperti tiada reaksi sama sekali, dia hanya tertunduk tanpa berani beradu pandang, beberapa saat sebelum kami undur diri untuk kembali ke masjid, tiba-tiba pemuda tersebut akhirnya buka suara, <strong><em>&#8221; Apa boleh orang bertatto ke masjid ?&#8221;</em></strong>, tanyanya waktu itu, lantas saya menjawab boleh asal dalam keadaan suci dari najis, siapa saja asalkan dia muslim boleh ke masjid. Dia hanya diam, saya seperti mendapatkan angin untuk terus berusaha agar dia mau ikut ke masjid, saya mulai bercerita banyak hal tentang kisah-kisah para sahabat nabi yang ketika masa jahiliyah begitu jahil , tapi setelah mereka bertaubat mereka menjadi ahli-hali surga.</p>
<p>Akhirnya dirinya mau ikut ke masjid bersama kami, setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang saya pinjamkan ia duduk bersama kami mendengarkan taklim pagi, betapa gembiranya hati saya ketika akhirnya ia mau ikut ke masjid, tak ada kata-kata yang sebanding dengan perasaan saya pada waktu itu, mungkin hanya orang-orang yang pernah terjun langsung tahu bagaimana sulitnya berdakwah di tengah-tengah manusia untuk mengajak mereka kembali kepada Allah dan ketika satu diantara mereka mau kembali taat kepada Allah, rasanya dunia dan isinya tak sebanding dengan perasaan senang yang ada di diri kita.</p>
<p>Lepas bada zuhur, dirinya mendekati saya dan menanyakan apakah dirinya boleh bergabung dengan kami, dan tentu saja boleh karena dakwah adalah tugas setiap umat Islam tanpa kecuali, kalau hewan yang lebih rendah dari manusia boleh berdakwah bahkan di abadikan dalam alqur&#8217;an ( semut, burung hud-hud dll ) apalagi manusia yang mempunyai tugas sebagai khalifatullah di muka bumi jelas lebih boleh lagi untuk berdakwah. Dengan berdakwah Allah swt akan perbaiki diri kita seperti yang terjadi pada diri para Nabi dan sahabatnya dan hal tersebut yang juga akan terjadi pada diri setiap orang yang mengambil kerja dakwah sebagai jalan hidupnya.</p>
<p>Sepanjang hari ia hanya diam, mungkin proses hidayah sedang terjadi pada dirinya, dan lepas tengah malam, saya menemuinya sedang menangis berurai air mata di pojok mesjid, saya tak berani mendekat dan hanya melihat dari kejauhan. Pemandangan yang sangat indah, dimana pada pagi hari dirinya masih bermaksiat kepada Allah swt tapi pada malamnya ia sedang menangisi dosa-dosanya. Saya menjadi malu terhadap diri sendiri, seakan saya merindukan saat-saat seperti itu , dimana begitu nikmatnya melewati malam berdua dengan-Nya, bermunajad dihadapan-Nya dengan air mata dan hati yang hancur.</p>
<p>Beberapa bulan setelah kejadian itu saya tidak lagi bertemu dengan almarhum karena memang tempat tinggal dan kesibukan  kami yang tidak memungkinkan, tapi kami masih tetap berhubungan via telpon , sampai akhirnya 2 minggu yang lalu saya bertemu dengan dirinya di salah satu mesjid tua di kawasan kebun jeruk Jakarta Pusat.</p>
<p><em>&#8220;Ane mau belajar dakwah 40 hari &#8220;</em> ucapnya. Saya hanya bisa tersenyum bahagia mendengar penuturannya<em>. &#8221; Routenya kemana ? &#8220;</em> Tanya saya. <em>&#8220;Belum di putus, besok pagi selepas bayan subuh baru ketahuan routenya, karena ane gabung dengan jamaah yang lain&#8221;</em> jawabnya singkat. Sesaat kemudian dirinya bertanya hal yang sama seperti saat kami pertama kali bertemu. <em>&#8221; Apa di surga ada orang yang bertatto?&#8221;</em> tanyanya dengan aga ragu. Dan sekali lagi saya yang sombong , yang angkuh yang ahli maksiat tapi sok bersih menjawab dengan ringannya tanpa mencerna dan berpikir lebih jauh tentang pertanyaan Almarhum tersebut. <em>&#8220;Mana ada di surga orang yang bertatto , kalau di neraka banyak&#8221;</em>. Jawab saya, dan almarhum hanya tertunduk sedih, saya segera menyadari kesalahan saya dan meralat ucapan saya <em>&#8220;Tapi ente tenang aja kalau ente tetep buat dakwah , nanti ente juga akan masuk surga dan Allah sendiri yang akan menghapus tatto ente&#8221;.</em> Almarhum sahabat saya tersenyum bahagia dengan jawaban saya, senyum yang terakhir yang saya lihat, karena saya tidak akan pernah melihat senyumnya lagi, sebuah sms saya terima malam kemarin yang mengabarkan ia telah meninggal dunia ketika dirinya sedang berlajar berdakwah, islah diri, belajar menjadi hamba yang taat, belajar mencintai Allah swt dan Rasul-Nya.</p>
<p>Selepas bersilaturahmi bada isya almarhum pamit dengan amir jamaah untuk tidur lebih awal karena kondisi badannya yang kurang baik, dan mendekati subuh terlihat almarhum masih tertidur, dan ketika salah satu rekan mencoba membangunkannya ternyata almarhum telah tiada, pergi meninggalkan dunia untuk bertemu Allah swt bertemu dengan sosok yang dicintainya yaitu Rasulullah saw dan para sahabat-nya, meninggalkan dunia pada saat pertobatannya. Kematian yang indah, yang selalu saya rindukan, mati di jalan-Nya, mati ketika mencoba meraih cinta-Nya.</p>
<p>Selamat jalan sahabat, di surga memang tiada akan ada pria bertatto , yang ada hanya pria tampan, yang suka miscall tengah malam untuk bangunin tahajud, yang suka bangun malam dan nangis kaya anak kecil, yang suka bikin gw kesel karena selalu berantakan kalau makan berjamaah, yang suka tiba-tiba batalin janji pada hal udah jauh-jauh hari dibuat. Kita memang gak akan pernah ketemu lagi di dunia, gak pernah bisa keluar masturah bareng, gak pernah akan bisa ke IPB ( India, Pakistan, Bangladesh ) berdua. Dan elo gak bisa baca blog gw lagi, pada hal elo pengen banget kita sama-sama hadir ijtima Bulan Juli nanti dan elo pengen banget ngerasin duduk di bawah tenda dan poto elo gw tampilin di blog jelek gw ini, tapi rasanya itu cuma mimpi, karena pastinya gak akan bisa terjadi. Sekarang elo dah tenang di sana, tugas elo di dunia dah selesai, tinggal gw yang masih gamang dengan jalan hidup sendiri.</p>
<p>Selamat jalan sahabat, semoga Allah selalu menjaga dan menerima tobat dirimu. Semoga kami yang di tinggalkan dapat memetik banyak pelajaran dari perjalanan hidupmu. Dan semoga Allah swt kekalkan kami dalam usaha dakwah, dakwah sebagai maksud hidup, hidup untuk dakwah , dakwah sampai mati dan mati dalam dakwah.</p>
<p>Alloh humma firlahu war hamhu wa afi&#8217;i wa&#8217;fuanhu. Amin.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=219&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/12/02/apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marilah kita banyak mengisahkan cerita Para Shahabat RA!</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/31/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/31/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 22:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.
Tulisan ini terinspirasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dengan nasehat dari seorang ulama dan guru yang banyak memberikan pengaruh kepada penulis sendiri, yaitu Maulana Ilyas. Beliau memberikan nasehatnya dengan lugas dan tegas, &#8220;Janganlah menceritakan tentang aku, tetapi banyakkanlah bercerita tentang para Shahabat RA&#8221;. Ucapan yang sederhana tetapi mempunyai makna yang sangat dalam. Penulis sendiri pernah ditegur oleh seseorang dikarenakan penulis banyak bercerita tentang beliau itu dalam satu ceramah, &#8220;Kita bersyukur dengan kerja agama ini, dan beliaulah yang mengajarkan kepada kita, tetapi para Shahabat RA telah dinyatakan langsung oleh Allah swt, sebagai generasi yang diridhoiNya meskipun masih ada di dunia yang fana ini. Oleh karena itu kita mesti banyak-banyak menceritakan para shahabat RA itu&#8221;.</p>
<p><span id="more-70"></span>Tulisan ini untuk memberikan tambahan terhadap tulisan-tulisan sebelumnya, yaitu karakter, kerja dan pikir salafush sholeh. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita untuk lebih banyak menceritakan kisah-kisah generasi para Shahabat RA, dan tentunya mengikuti langkah-langkahnya dengan baik. Sehingga kepahaman kita terhadap karakter, kerja dan pikir generasi para shahabat dalam didalami dan dihayati.</p>
<p><strong>Ridho Allah swt untuk Generasi Shahabat RA </strong></p>
<p>Allah swt menyatakan dengan tegas dalam satu ayatnya:</p>
<p><em>&#8220;Generasi awwalun dari Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka dengan baik, Allah swt ridho kepada mereka dan juga mereka ridho kepada Allah swt&#8221; (QS: 9-100)</em></p>
<p>Allah swt yang mempunyai sifat-sifat yang mulia, dan sebagai pencipta alam jagat raya ini, termasuk manusia, terlebih dahulu menyatakan keridhoanNya kepada generasi pertama dan juga generasi yang mengikutinya dengan baik.</p>
<p>Dan kita, sebagai generasi yang sangat jauh dengan generasi Shahabat RA itu, sangat perlu mengetahui generasi dengan baik, apakah ucapan-ucapannya, apakah dialog-dialognya, apakah perilaku-perilakunya. Dan untuk mengetahui itu, kita perlu terus mendorong kaum muslimin untuk lebih banyak mengisahkan kisah-kisah generasi Shahabat RA, sehingga hikmah-hikmahnya dapat direnungi, dihanyati, dan didalami dengan baik, yang akhirnya memberikan dorong atau juga spririt yang dalam bagi kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai kehidupan di kaum muslimin.</p>
<p>Seorang yang kaya akan dapat belajar dari hikmah yang dimiliki Abu Bakar RA dan Ustman RA. Seorang pemimpin akan dapat belajar dari hikmah Ummar RA, dan juga Ali Bin Abi Thalib RA. Seorang anak muda dapat belajar dari kepiwaian Musaib bin Umair RA ketika dialog dengan orang-orang Madinah. Seorang gadis dapat belajar dari hikmah Siti Fathimah RA dan Siti Aisyah RA ketika masih gadis. Seorang anak kecil akan bisa belajar hikmah dari kisah Hasan RA dan Husein ketika masih kecil.</p>
<p>Kisah-kisah ini telah mewujudkan hikmah-hikmah dan juga pelajaran-pelajaran yang berharga, kita tidak hanya belajar dari ucapan-ucapannya saja yang kadangkala kita tidak mempelajari bagaimana generasi Para Shahabat RA meaktualkanya, tetapi ada makna dan hikmah yang lebih dalam dari perilaku generasi.</p>
<p>Saat ini, kita telah banyak diberikan kisah-kisah atau cerita-cerita yang dapat memberikan efek kepada perilaku kita secara langsung dan tidak langsung. Media cetak, media komunikasi, media elektronik, dan apa lagi di masa depan akan muncul, telah memberikan kisah-kisah atau cerita-cerita glamorisasi dalam kehidupan, kekerasan sampai dengan pembunuhan dan perkosaan, aib-aib telah banyak bersuliweran dalam kehidupan kita kaum muslimin, saling menghina dan mengolok-olokan bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu. Oleh karena itu, marilah kita banyak mengisahkan generasi Para Shahabat RA yang telah banyak memberikan banyak pelajaran.</p>
<p><strong>Kisah Yang Berkesan</strong></p>
<p>Para Shahabat RA telah menjadi generasi yang unggul dan telah membaktikan waktu, jiwa dan hartanya untuk tersebar dan wujud di dunia ini. Generasi ini telah mewujudkan Islam dalam diri-diri mereka, sehingga kecermelangan dan keberkahan Islam bukan lagi menjadi slogan-slogan, tetapi wujud dengan indahnya dalam kehidupan mereka itu. Sehingga perlu banyak belajar dari generasi itu dengan baik, dengan harapan kita dapat mencontohnya dalam berbagai kehidupannya. Penulis mencoba menuliskan beberapa kisah yang berkesan utuk penulis, dalam kesempatan ini satu dahulu.</p>
<p>Siti Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW, telah mendapatkan kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya. Dan kalung itu adalah barang yang sangat berharga dan bernilai yang tidak terkira bagi Siti Fathimah RA. Satu ketika, telah datang seorang miskin ke masjid dan bertemu dengan Rasulullah SAW untuk mendapatkan makanan karena orang miskin sudah beberapa hari tidak makan. Bisa kita bayangkan bagaimana kerendahan hati Rasulullah SAW dalam menghadapi hal ini, Rasulullah SAW masih mau menemui orang miskin ini, bahkan orang ini meminta makanan. Sikap tauladan telah diwujudkan oleh Nabi kita, dan hal ini tidak mudah bagi kita untuk mengikutinya. Karena saat ini kita kadangkala menyepelekan orang miskin.</p>
<p>Dan Rasulullah SAW dengan hikmah menyuruhnya untuk bertemu dengan anaknya, Siti Fathimah RA, padahal Rasulullah SAW paham betul dengan anaknya, dan juga mantunya Ali Bin Abi Thalib, sangat berkurangan juga. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memperlihatkan kembali tauladannya, bahwa meskipun anaknya berkurangan juga, pasti mau memberikan solusi terhadap hal ini. Karena memuliakan tamunya merupakan tanda-tanda beriman kepada Allah swt dan Akherat.</p>
<p>Sesampai di rumahnya, orang miskin ini menjelaskan maksudnya itu. Siti Fathimah RA jelas bingung karena memang kelurganya berkurangan. Beliau ini terus mencoba mencari jawabannya, dan tidak sengaja beliau ketika memegang kalungnya itu. Dan tidak banyak berpikir pandang lebar, beliau menyerahkan itu. Jelas orang miskin tidak bisa menerimanya, karena yang diminta adalah makanan. Beliau menyuruhnya untuk bertemu kembali dengan Rasulullah SAW tentang hal. Bisa kita bayangkan, kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya itu diberikan kepada orang lain. Sifat yang menunjukkan bahwa memberikan pemberian yang lebih dicintainya telah diwujudkan oleh Siti Fathimah RA.</p>
<p>Orang miskin ini menemui lagi, dan menjelaskan perkaranya. Dan menyerahkan kalung dari Siti Fathimah RA itu. Bisa kita bayangkan, bagaimana Rasulullah SAW terkejutnya dengan hal ini. Rasulullah SAW jelas termenung, bersyukur dan bercampur haru menjadi satu. Bersyukur karena anaknya telah menjadi seorang perempuan yang sangat mulia, dan terharunya adalah Rasulullah SAW tahu betul itu adalah kalung pemberian istrinya yang sangat dicintainya. Coba kita bayangkan, kalau kita mendapatkan baju pemberian kita untuk anak kita, terus sudah ada ditangan orang lain. Kita akan marah sama anak kita. Tetapi Rasulullah SAW tetap menunjukkan sifat tauladannya.</p>
<p>Akhirnya Rasulullah SAW mempersilahkan kepada orang miskin itu untuk menjualnya. Dan ada seorang Shahabat RA yang membelinya dan ditukar dengan makanan dan barang-barang yang diperlukannya untuk orang miskin ini. Tetapi jelas bahwa hal itu bukan untuk keperluannya, tetapi karena hanya membantu orang miskin itu. Sesampainya di rumah Shahabat itu menyuruh kepada pembantunya untuk menyerahkan kalung ini kepada Rasulullah SAW, karena kalau diserahkan kepada siti Fathimah RA tidak pada tempatnya. Dan sampaikan ini merupakan hadiah dari shahabat itu, dan pembantunya itu dibebaskan dari majikannya itu sebagai hadiah kalau memang kalung itu diterima oleh Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW menerima kalung itu, dan menyerahkan kembali kepada Siti Fathimah RA.</p>
<p>Bisa kita bayangkan, ada seorang shahabat RA yang sangat berhati-hati untuk menyerahkan kalung itu karena takut dengan fitnah, dan bahkan telah bebasnya seorang pembantu dari ikatan dengan majikannya, orang miskin telah mendapatkan apa yang diperlukannya dan bahkan berlebih, dan anak seorang Rasul memberikan pengorbanan yang luar biasa. Itu kisah yang sangat terkesan. Dan banyak hikmah yang dapat kita peroleh.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita banyak kisahkan dari para shahabat RA untuk kita dan dapat memberikan dorongan atau spirit perubahan kehidupan kaum muslimin di masa depan. Mudah-mudah kisah-kisah lebih memahami terhadap karakter utama manhaj generasi shahabat RA, kerja manhaj Shahabat RA dan pikir generasi itu.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=70&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/31/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertobatnya seseorang yang telah membunuh 99 nyawa manusia</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/29/bertobatnya-seseorang-yang-telah-membunuh-99-nyawa-manusia/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/29/bertobatnya-seseorang-yang-telah-membunuh-99-nyawa-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 12:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Riyadhush Sholihin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Abu Said (Sa&#8217;ad bin Malik bin Sinan) Alkhudry berkata: Bersabda Nabi SAW: Dahulu pada ummat-ummat yang terdahulu, terjadi seorang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian ia ingin bertobat, maka mencari seorang alim, dan ditunjukkan pada seorang pendeta, maka ia bertanya: Bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan untuk bertobat? Jawab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Said (Sa&#8217;ad bin Malik bin Sinan) Alkhudry berkata: Bersabda Nabi SAW: Dahulu pada ummat-ummat yang terdahulu, terjadi seorang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian ia ingin bertobat, maka mencari seorang alim, dan ditunjukkan pada seorang pendeta, maka ia bertanya: Bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan untuk bertobat? Jawab pendeta: Tidak ada. Maka segera dibunuh pendeta itu, sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya.</p>
<p><span id="more-184"></span>Kemudian mencari orang alim lainnya, dan ketika telah ditunjukkan maka ia menerangkan bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah ada jalan untuk bertobat? Jawab si Alim: Ya ada, dan siapakah yang dapat menghalanginya untuk bertobat? Pergilah ke dusun itu karena di sana banyak orang?orang ta&#8217;at kepada Allah, maka berbuatlah sebegaimana perbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu ini, karena tempat penjahat. Maka pergilah orang itu.</p>
<p>Tatkala di tengah jalan, mendadak ia mati. Maka bertengkarlah Malaikat rahmat dengan Malaikat siksa. Berkata Malaikat rahmat: Ia telah berjalan untuk bertobat kepada Allah dengan sepenuh hatinya. Berkata Malaikat siksa: Ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali. Maka datanglah seorang Malaikat berupa manusia dan dijadikan­nya sebagai juri (hakim) diantara mereka.</p>
<p>Maka ia berkata: Ukur saja antara dua dusun yang ditinggalkan dan yang dituju, maka ke mana ia lebih dekat masukkanlah ia kepada golongan orang sana. Maka diukurnya. Didapatkan lebih dekat kepada dusun baik, yang ditujunya, kira?kira sejengkal, maka dipegang ruhnya oleh Malaikat rahmat.   (Buchary, Muslim).<br />
Dalam riwayat lain: Allah memerintahkan kepada bumi yang dituju supaya mendekat, dan menyuruh bumi yang ditinggalkan supaya menjauh. Dalam riwayat lainnya: Maka condong dadanya dengan kearah dusun yang dituju, maka diampunkan baginya.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=184&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/29/bertobatnya-seseorang-yang-telah-membunuh-99-nyawa-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesabaran seorang istri Shahabat RA dan melahirkan anak-anak sholeh</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/29/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/29/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 12:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalhah]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat RA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Anas r.a. berkata: Terjadi putra Abu Thalhah sakit, maka ketika Abu Thalhah telah keluar (bepergian) mendadak matilah putranya. Kemudian Abu Thalhah kembali bertanya pada isterinya: Bagaimanakah keadaan putra­ku? Jawab Ummu Sulaim (ibu anak itu): Ia lebih tenang keadaanya dari semula. Kemudian dihidangkan makan, lalu Abu Thalhah makan, dan berhubungan dengan Ummu Sulaim.
Kemudian tatkala Abu Thalhah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anas r.a. berkata: Terjadi putra Abu Thalhah sakit, maka ketika Abu Thalhah telah keluar (bepergian) mendadak matilah putranya. Kemudian Abu Thalhah kembali bertanya pada isterinya: Bagaimanakah keadaan putra­ku? Jawab Ummu Sulaim (ibu anak itu): Ia lebih tenang keadaanya dari semula. Kemudian dihidangkan makan, lalu Abu Thalhah makan, dan berhubungan dengan Ummu Sulaim.</p>
<p>Kemudian tatkala Abu Thalhah sudah merasa puas, berkata Umu Sulaim: Lurupilah anak itu (kuburkanlah anak itu). Ke­mudian pada pagi harinya Abu Thalhah pergi memberi­tahukan tentang halnya semalam pada Rasulullah. Nabipun bertanya: Pengantinankah kau semalam? Jawabnya: Ya. Ma­ka sabda Nabi s.a.w. ALLAHUMMA BAARIK LAHUMAA. (Ya Allah berilah berkat pada kedua suami isteri itu).</p>
<p><span id="more-182"></span>Mendadak dari persetubuhan yang semalam itu lahirlah seorang putra. Maka segera Abu Thalhah memerintahkan kepada Anas untuk membawa anak itu kepada Rasulullab s.a.w. de­ngan membawakan beberapa biji kurma, lalu diterima oleh Rasulullah s.a.w. dan dikunyah kurma itu kemudian dima­sukkan ke dalam mulut anak itu dan diberi nama &#8220;Abdullah&#8221;. (HR Bukhari, Muslim)­</p>
<p>Dan dalam riwayat Imam Bukhari, berkata putra ‘Ujainah lalu berkata salah seorang dari golongan Anshor kemudian saya melihat 9 orang anak, kesemuanya telah hafadh Al-qur&#8217;an, yakni dari para putra Abdullah yang lahir.</p>
<p>Dan dalam riwayat Muslim: Ketika meninggalnya putra Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, berkata Umu Sulaim kepada keluarganya: Jangan diceriterakan hal ini kepada Abu Thalhah, biarlah saya sendiri yang memberi tahu kepadanya. Maka ketika datang, segera ia menghidangkan makanan ‘asja&#8217;, kemudian diajaknya bergurau, hingga terjadilah persetubuhan.</p>
<p>Kemudian setelah Abu Thalhah merasa puas barulah ia betkata: Hai Abu Thalhah bagaimana pendapatmu kalau seseorang meminjamkan sesuatu kepada satu keluarga, tiba-tiba diminta kembali pinjamannya itu, apakah boleh keluarga yang dipinjami menolak? Jawab Abu Thalhah: Tidak boleh. Berkata Ummu Sulaim: Relakan putramu kepada Allah, Maka marahlah Abu Thalhah sambil berkata: Mengapakah kau sembunyikan berita itu hingga saya berlumuran begini baru kau beri tahu? Maka segera Abu Thalhah memberitahukan kepada Rasulullah s.a.w. segala kejadian malam itu. Rasulullah s.a.w. berdo&#8217;a: BAARAKALAAHU FlI LAILATIKUMAA (Semoga Allah memberkahi kamu berdua dalam harimu itu).</p>
<p>Kemudian mengandunglah Ummu Sulaim dari persetubuhan malain itu. Kemudian terjadi Abu Thalhah pergi bersama Rasulullah dengan Umu Sulaim, dan ketika akan kembali masuk kota Madinah mendadak Ummu Sulaim merasa perut akan bersalin, hingga harus tertinggal. Abu Thalhah berdo&#8217;a : Ya Tuhan, Engkau mengetahui bahwa saya senang jika keluar kota atau masuk ke kota bersama Rasulullah s.a.w. dan kini saya tertahan sebagaimana yang Kau ketahui.</p>
<p>Tiba?tiba Ummu Sulaim berkata: Hai Abu Thalhah rasa sakit perutku kini telah hilang, maka mari kita berjalan terus, dan mulai terasa kembali perutnya ketika telah masuk kota Madinah. Maka disanalah Umu Sulaim melahirkan seorang anak laki?laki, lalu ibuku (Umu Sulaim) berkata: Tidak boleh diteteki (disusui) oleh siapapun sebelum kau bawa kepada Rasulullah s.a.w. maka pagi?pagi benar saya bawa bayi itu kepada Rasulullah s.a.w. yang kemudian oleh Rasulullah s.a.w. ditahnikkan (menyuapkan makanan yang telah dikunyah pada bayi itu dan dinamai &#8220;Abdullah&#8221;)</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush  Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=182&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/29/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umar Minta Do’a Kepada Seorang Yang Berbakti Pada Ibunya Dari Yaman</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/28/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/28/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 12:29:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Berbakti Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Umar RA]]></category>
		<category><![CDATA[Yaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Usair bin Amru berkata: Adalah umar bin alchotthab jika kedatangan rombongan orang-orang Yaman, bertnya kepada mereka: Adakah di antara kamu seorang bernama Uwais bin Aamir? Sehingga ketika ia bertemu bertanya: Engkau Uwais bin Aamir? Jawabnya:  Ya. Engkau dari suku Murod dari Qoron? Jawabnya: Ya. Dahulunya engkau belang sekarang kemudian sembuh, hanya tinggal sebesar dirham? Jawabnya: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Usair bin Amru berkata: Adalah umar bin alchotthab jika kedatangan rombongan orang-orang Yaman, bertnya kepada mereka: Adakah di antara kamu seorang bernama Uwais bin Aamir? Sehingga ketika ia bertemu bertanya: Engkau Uwais bin Aamir? Jawabnya:  Ya. Engkau dari suku Murod dari Qoron? Jawabnya: Ya. Dahulunya engkau belang sekarang kemudian sembuh, hanya tinggal sebesar dirham? Jawabnya: Ya. Masih ada ibumu?  Jawabnya: Ya. Berkata Umar: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Akan datang kepadamu seorang bernama Uwais bin Aamir bersama rombongan orang-orang Yaman, ia dari suku Murod dari Qoron, dahulunya ia belang, kemudian sembuh kecuali sebesar dirham, ia masih beribu dan sangat bakti pada ibunya, kalau ia menghendaki sesuatu oleh Allah tentu akan memberinya. Kalau dapat minta do&#8217;a istighfar padanya maka jangan kaulepaskan.</p>
<p><span id="more-186"></span>Umar berkata: Bacakan istighfar untukku. Maka. Uwais membaca istighfar untuk Umar. Kemudian Umar bertanya: Akan ke manakah engkau? Jawabnya: Ke Kufah. Berkata Umar: Sukakah saya kirim surat kepada walikota di sana, supaya membantu dan memberi hajat kebutuhanmu? Jawabnya: Saya lebih suka menjadi rakyat jelata tidak terkenal. Maka pada tahun kemudiannya, seorang terkemuka dari mereka pergi berhaji dan bertamu pada Umar, maka ditanya tentang Uwais? Jawab orang.itu: Saya tinggalkan ia cumpang?camping tidak kecukupan.</p>
<p>Berkata Umar: Saya telah mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda: Nanti akan datang kepadamu Uwais bin Aamir bersama rombongan orang?orang Yaman, dia dari suku Murod dari Qoron, dahulunya ia belang kemudiansembuh kecuali sebesar dirham. Ia masih beribu dan sangat ta&#8217;at pada ibunya. Andaikan is minta sesuatu pada Allah pasti akan diberinya. Kalau dapat mintalah do&#8217;a istighfar padanya. Maka ketika bertemu dengan Uwais, dia berkata: Bacakanlah do&#8217;a, istighfar untukku? Jawab Uwais: Engkaulah yang baru datang dari bepergian dan beribadat, maka bacakan istighfar untukku. Apakah engkau bertemu dengan Umar? Jawabnya: Ya. Maka dibacakan istighfar oleh Uwais. Kemudian banya orang mengenal padanya. Dan ketika itu Uwais lalu menjauh darl orang?orang, supaya tidak terganggu tujuanya. <strong>(Muslim)</strong></p>
<p>Dan dalam riwayat Muslim dari Usair bin Djabir: Ketika orang?orang Kufah mengutus suatu rombongan kepada Umar, ada di antara mereka seorang mengejek Uwais, maka Umar berkata: Apakah ada di antara kamu seorang dari Qoron? Maka datanglah orang itu, berkata Umar: Sesungguhnya Rasulullah S.A.W. telah bersabda: Ada seorang dari Yaman akan datang kepada kamu, ia bernama Uwais tiada tertinggal di Yaman kecuali seorang ibunya. Dahulunya ia belang, tetapi lalu berdo&#8217;a kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dirham atau dinar. Maka siapa bertemu kepadanya hendaknya minta dibacakan, do&#8217;a istighfar baginya. Dalam lain riwayat lain Umar r.a. berkata: sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik orang tabi&#8217;in ialah seorang bernama Uwais, yang masih mempunyai ibu, yang dahulunya ia belang. Maka suruhlah ia membacakan istigfar untuk kamu.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=186&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/28/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketabahan seseorang untuk mempertahankan keimanannya</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/27/ketabahan-seseorang-untuk-mempertahankan-keimanannya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/27/ketabahan-seseorang-untuk-mempertahankan-keimanannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 12:03:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Shuhaib r.a. berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w.: Da­hulu ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir, maka ketika telah tua, ia berkata kepada raja: Kini aku telah tua, karena itu kirimlah padaku seorang pemuda yang dapat mempelajari ilmu sihir, supaya dapat menggantikan kedudukankudi sisi raja, jika saya telah meninggal dunia. Ma­ka raja memilih seorang permuda untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shuhaib r.a. berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w.: Da­hulu ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir, maka ketika telah tua, ia berkata kepada raja: Kini aku telah tua, karena itu kirimlah padaku seorang pemuda yang dapat mempelajari ilmu sihir, supaya dapat menggantikan kedudukankudi sisi raja, jika saya telah meninggal dunia. Ma­ka raja memilih seorang permuda untuk belajar ilmu sihir kepada ahli sihir itu.</p>
<p>Dan kebetulan di jalan yang dilalui pe­muda itu, ada seorang Rahib; maka tertariklah ia kepada Rahib itu, maka ia duduk mendengarkan ajaran-ajarannya, dan merasa puas pada ajaran Rahib itu hingga terlambat datang ke tempat Sahir itu, dan ia dipukul oleh Sahir itu.</p>
<p><span id="more-180"></span>Akhirnya ia mengeluh pada Rahib. Berkata Rahib: Jika engkau takut dipukul Sahir, katakan: Bahwa kau masih ditahan (disuruh) oleh ibumu, dan jika kembali terlambat katakan: &#8220;Ditahan oleh Sahir&#8221;. Maka berjalanlah ia dengan baik keadaaanya, sehingga terjadi pada suatu hari, ketika ia pergi mendadak di tengah jalan ada binatang besar yang menyebabkan orang?orang terhenti, tidak berani berjalan. Maka di situlah pemuda itu berkata: Hari ini aku akan mengetahui, Sahirkah yang lebih baik ajarannya ataukah Rahib? Maka ia mengambil batu sambil berkata: Ya Allah jika ajaran Rahib lebih Kau sukai daripada ajaran Sahir, maka bunuhlah binatang buas ini, supaya orang?orang dapat berjalan.</p>
<p>Kemudian dilempar batu itu, dan seketika itu juga matilah, hingga orang?orang dapat berjalan dengan aman. Maka ia memberitahukan kejadian itu kepada Rahib. Berkata Rahib: Anakku engkau kini lebih utama daripadaku, dan kau nanti akan mendapat ujian (bala&#8217;), maka apabila engkau mendapat bala&#8217;, janganlah kau tunjuk saya. Kemudian pemuda itu telah mendapat karunia dari Allah hingga ia dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, terutama yang biasa dikatakan oleh manusia: Tidak dapat sembuh, seperti: buta, belang dan lain?lain penyakit.</p>
<p>Maka ada seorang kawan raja sakit mata hingga buta, dan telah ber?ikhtiar kemana-mana tidak juga sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan membawa hadiah-hadiah yang banyak sekali, sambil berkata: Jika kau dapat meyembuhkan penyakitku, maka dapatlah saya mengumpulkan segala apa saja untukmu. Jawab pemuda itu: Saya tidak dapat menyembuhkan, tetapi Allah yang menyembuhkan, jika kau percaya kepada Allah, maka saya akan berdo&#8217;a dan Allah akan menyembuhkan kau. Maka segeralah orang itu percaya kepada Allah kemudian dido&#8217;akan oleh pemuda itu, dan seketika itu juga sembuh (dapat melihat).</p>
<p>Kemudian ia pergi ke majlis raja, maka kagumlah raja me­lihat sembuh kembali, raja bertanya: Siapakah yang meyembuhkan matamu? Jawabnya: Tuhanku. Raja bertanya: Apakah kau percaya pada Tuhan selain aku? Jawabnya: Tuhanku dan Tuhanmu (Allah). Maka segera ia disiksa oleh raja supaya kembali kepada agama raja itu, tetapi ia tidak berubah imannya, dan raja terus menyiksa padanya sehingga akhirnya menunjuk kepada pemuda itu. Lalu dipanggil pemuda itu, dan ditanya oleh raja: Hai anakku sihirmu telah melampaui batas sehingga dapat menyembuhkan orang buta dan belang? Jawab pemuda: Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seorangpun, hanya Allah yang menyembuhkan. Maka segera disiksa oleh raja, hingga terpaksa ia menunjuk Rahib.</p>
<p>Kemudian dipanggil Rahib dan diperintahkan supaya meninggalkan agamanya. Tetapi Rahib tetap menolak perintah raja lalu diambilkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya dan digergaji hingga terbelah dua badannya. Kemudian tibalah giliran yang kedua ialah teman raja itu, maka diperintahkan juga untuk meninggalkan agama Tuhan, inipun menolak perintah raja, yang akhirnya ia juga menerima hukuman gergaji dari atas kepala hingga terbelah menjadi dua. Kemudian didatangkan pemuda itu dan diperintahkan untuk meninggalkan agama Tuhan, ini juga menolak tawaran raja. Maka raja memerintahkan kepada tentaranya supaya membawa pemuda itu ke atas bukit, dan di sana ditawarkan kepadanya untuk melepaskan agama Allah, dan kalau ia tetap menolak maka lemparkan ia dari atas bukit supaya mati.</p>
<p>Kemudian ketika telah sampai di puncak bukit, pemuda itu berdo&#8217;a: ALLAHUMMAK FINIIHIM BIMA SYI&#8217;TA (Ya Allah hindarkan aku dari bahaya mereka ini sekehendakMu). Mendadak seketika itu bergeraklah bukit sehingga jatuhlah semua tentara raja itu. Dan kembalilah pemuda itu kepada raja. Ditanya oleh raja: Kemana tentara yang membawa kamu? Jawabnya: Allah telah menghindarkan saya dari mereka.</p>
<p>Kemudian raja memerintahkan beberapa tentara yang lain untuk membawa pemuda itu naik perahu dan apabita telah berada di tengah?teagah laut supaya ditawarkaa lagi kepadanya untuk meninggalkan agamanya, dan apabila menolak akan dilemparkan ke laut. Kemudian sesampainya di tengah laut pemuda itu berdo&#8217;a: ALLAHUMMAK FINIIHIM BIMA SYI&#8217;TA (Ya Allah hindarkan aku dari bahaya mereka itu sekehendakMu), maka terbaliklah perahu itu sehingga tenggelamlah semua tentara itu. Maka pergilah pemuda itu kepada raja: kemana tentara yang membawa kamu? Jawabnya: Allah telah menghindarkan aku dari mereka.</p>
<p>Maka pemuda itu berkata: Hai raja kau tiada dapat membunuh aku kecuali jika kau menurut perintahku. Bertanya raja: Apakah perintahmu? Jawab pemuda itu: Kumpulkan orang?orang (semua rakyat) dalam suatu lapangan, kemudian gantunglah saya di atas sebuah tiang, dan ambillah anak panahku dari tempatnya, serta letakkanlah pada busurnya, kemudian bacalah: BISMILLAH RABBIL GHULAM (Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini) lalu lepaskan anak panah itu kearahku. Bila kau lakukan yang demikian itu niscaya dapatlah kau membunuhku.</p>
<p>Maka segeralah raja mengumpulkan semua rakyat di suatu lapangan, kemudian digantung pemuda itu di atas tiang, dan diambilnya anak panah serta diletakkannya pada busurnya, lalu membaca: ­BISMILLAHIRABBILGHULAM (Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini), lalu di­lepaskannya anak panah itu kepeda pemuda itu tepat menge­nai pelipisnya. Kemudian pemuda itu meletakkan tangannya di atas luka yang kena panah itu hingga mati.</p>
<p>Maka serentak orang?orang yang menghadiri kejadian itu berkata: AAMAN­NA BIRABBIL GHULAM (Kami percaya pada Tuhan pe­muda itu), sehingga kepercayaan kepada Allah merata pada semua lapisan rakyat. Kemudian disampaikan kepada Raja. Tahukah kau yang tadinya kau kuatirkan, kini telah terjadi, semua rakyatmu telah percaya kepada Tuhannya pernuda itu. Maka segera raja memerintahkan membuat parit besar pada tiap?tiap persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamaya, dan siapa yang berjalan diperintahkan untuk meninggalkan agamanya, serta kembali kepada agama raja, sedang yang menolak dibakar didalam api.</p>
<p>Setelah dilaksana­kan hal yang demikian itu, terjadilan diantara sekian banyak orang yang disiksa itu, ada seorang wanita yang membawa bayinya, ketika ia diperintah untuk meninggalkan agamanya,  ia menolak kemudian pada waktu bayinya ditarik untuk dimasukkan ke dalam api, tiba-tiba ibunya akan menyerah karena tidak sampai hati melihat bayinya akan dibakar, namun dengan mendadak si bayi itu dapat berbicara: Hai ibu sabarlah, sungguh kamu dalam kebenaran (hak). (HR Muslim)</p>
<p>Contoh kesabaran dan ketabahan hati dalam mempertahankan iman dan kebenaran yang tiada tara bandingnya, dan demikianlah seharusnya tiap orang mu&#8217;min yang benar-benar percaya kepada Allah, dan iman belum diakui benar oleh Allah sebelum mengalami ujian kesungguhan dan kebenarannya.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush  Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=180&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/27/ketabahan-seseorang-untuk-mempertahankan-keimanannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anugrah Allah swt ketika seorang shahabat menjamu makanan saat perang khandaq</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/27/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/27/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 12:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Khandaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami sedang menggali parit Khondaq, tiba-tiba ada tanah yang keras tidak dapat dipecahkan dengan kapak, sehingga kami datang memberitahukan kepada Nabi s.a.w. : Ada tanah keras tidak dapat kami pecahkan dengan kapak kami. Rasulullah s.a.w.bersabda: Saya sendiri akan turun, kemudian ia bangun dan mengganjal perutnya dengan batu, karena tiga hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami sedang menggali parit Khondaq, tiba-tiba ada tanah yang keras tidak dapat dipecahkan dengan kapak, sehingga kami datang memberitahukan kepada Nabi s.a.w. : Ada tanah keras tidak dapat kami pecahkan dengan kapak kami. Rasulullah s.a.w.bersabda: Saya sendiri akan turun, kemudian ia bangun dan mengganjal perutnya dengan batu, karena tiga hari tidak makan, kemudian Nabi s.a.w. memegang linggis dan memukul tanah itu, mendadak seketika itu juga hancur bagaikan debu yang dihamburkan.</p>
<p><span id="more-178"></span>Kemudian saya minta izin: Ya Rasulullah, izinkan saya pulang ke rumah. Dan sesampainya di rumah saya berkata kepada isteriku: Saya melihat Rasulullsh s.a.w. sangat lapar dan tidak dapat ditahan, apakah kau, mempunyai sesuatu? Jawabnya: Ada tepung gandum sedikit dan seekor kambing. Maka segera saya sembelih kambing dan sya&#8217;ir itupun segera dimasak sesudah ditumbuk, kemudian saya letakkan daging dalam kuali besar, kemudian saya datang kepada Nabi s.a.w. memberitahu: Ya Rasulullah, di rumah kami ada sedikit makanan, silahkan datang dengan satu dua orang saja. Nabi bertanya: Berapa banyak?</p>
<p>Maka saya beritahukan adanya makanan itu. Bersabda Nabi: Baik, itu cukup banyak. Katakan kepada isterimu: Jangan dibuka panci daging itu, dan jangan diturunkan adonan roti dari panpanan apinya, hingga saya datang. Maka Nabi bersabda: Marilah sekalian. Nabi memanggil para sahabat: Mari kamu sekalian. Maka bangunlah Muhajirin dan Anshor. Dan ketika saya telah kembali kepada isteriku, saya beritahu: Cilaka kau, Nabi telah membawa semua sahabat Muhajirin dan Anshor lsteriku bertanya: Apakah ia sudah bertanya kepadamu tentang banyakaya makanan kami? Jawabku: Ya. Maka Nabi mulai mempersilahkan orang?orang.</p>
<p>Masuklah kamu dan jangan berdesakan, maka Nabi mulai memotong roti dan menyendok daging dari kuali, kemudian menutupnya kem­bali dan menghidangkannya kepada para sahabatnya. Ke­mudian kembali memotong dan menyendok dari kuali itu hingga kenyang semua yang hadir, dan masih ada sisa. Ke­mudian Nabi bersabda: Makanlah itu, dan bagi-bagikan kepada orang?orang karena kini musim paceklik dan banyak orang kelaparan. (Buchary, Muslim).</p>
<p>Dalam riwayat lain: Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami menggali parit Khondaq, saya melihat Nabi s.a.w. sedang kelaparan. Maka segera saya pulang kepada isteriku dan berkata: Saya lihat Rasulullah s.a.w. dalam keadaan lapar. Maka segera isteriku mengeluarkan segantang gandum, dan saya sembelih kambing kami. Kemudian saya tumbuk gandum itu, dan sesudah saya potong?potong kambing itu saya masukkan ke dalam kuali besar, dan segera saya akan kembali kepada Rasulullah s.a.w. maka berkatalah istriku: Janganlah kamu menjelaskan halku kepada Rasulullah bersama pengiring?pengiringnya.</p>
<p>Maka saya segera datang pada Rasulullah, dan berbisik: Ya Rasulullah saya telah menyembelih kambing kecil dan memasak satu sho&#8217; sya&#8217;ir, silahkan datang dengan berapa orang saja. Tiba?tiba Rasulullah berseru: Hai ahli Khondaq, Djabir membuat selamatan, maka marilah kamu sekalian. Dan Nabi berpesan kepada saya Jangan kamu turunkan kualimu, dan jangan dipotong roti hingga saya datang. Maka saya kembali lebih dahulu memberitahu kepada isteriku. Berkata isteriku: Salahmu sendiri tidak me nurut pada saya. Jawabku: Saya sudah membisikkan&#8217; kepada Nabi s.a.w. Kemudian Nabi datang, diikuti oleh para sahabatnya, dan oleh isteriku dihidangkan masakan rotinya, maka Rasulullah meniup roti itu untuk memberkahinya, kemudian pergi ke tempat kuali juga meludahinya sedikit dan berdo&#8217;a supaya barokah. Kemudian Nabi bersabda: Panggillah seorang membuat roti bersama kau dan menyendok dari kuali, tetapi jangan diturunkan dari dapur. Dan ketika itu mereka ada seribu orang. Djabir berkata: Saya berani sumpah: Demi Allah mereka semua kenyang makang hinnga meninggalkan tempat kami. Dan kuali kami masih terdengar suara masakan di dalamnya sebagaimana semula sebelum di sendok, demikian pula adonan kami masih banyak dapat buat roti.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=178&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/27/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fitnah Untuk Juraiz</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/19/fitnah-untuk-juraiz/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/19/fitnah-untuk-juraiz/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 01:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Fitnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Abu Hurairah r.a. berkata: Bersabda Nabi s.a.w.: Tiada yang dapat bicara ketika bayi kecuali tiga orang, yaitu Isa bin Maryam, dan anak yang membebaskan djuraidj. Djuraidj seorang ahli ibadat yang membuat suatu sauma&#8217;ah (biara) untuk ibadatnya, maka pada suatu hari ibunya datang memanggil padanya sedang ia lagi sembahyang, maka ia berkata: Tuhanku, itulah ibuku, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Hurairah r.a. berkata: Bersabda Nabi s.a.w.: Tiada yang dapat bicara ketika bayi kecuali tiga orang, yaitu Isa bin Maryam, dan anak yang membebaskan djuraidj. Djuraidj seorang ahli ibadat yang membuat suatu sauma&#8217;ah (biara) untuk ibadatnya, maka pada suatu hari ibunya datang memanggil padanya sedang ia lagi sembahyang, maka ia berkata: Tuhanku, itulah ibuku, dan kini saya sedang sembahyang, maka ia melanjutkan sembahyangnya sehingga pulanglah ibunya, kemudian esok harinya ibunya datang kembal di waktu Djuraidj sedang sembahyang, sehingga tidak menyambut panggilan ibunya, kemudian datang ketiga kalinya sedang Djuraidj bersembahyang, maka ia memanggil: Hai Djuraidj! tetapi Djuraidj tidak dapat menyambut ibunya hanya berdo&#8217;a: Tuhanku, itulah ibuku, dan ini sembahyangku.</p>
<p><span id="more-168"></span>Sehingga marahlah ibu Djuraidj dan berdoa:Ya, Allah jangan dimatikan ia sehingga melihat wajah perempuan lacur. Djuraidj memang terkenal benar sebagai seorang ‘Abi (ahli ibadat) di antara bani Isra&#8217;il, sehingga terjadi seorang wanita pelacur yang terkenal kecantikannya berkata: Saya dapat menggugurkan ibadat Djuraidj. Maka pelacur itu berusaha merayu Djuraidj dengan segala daya penariknya, tetapi ternyata bahwa Djuraidj tidak dapat tergoda olehnya, sehingga jengkel sipelacur itu, maka ia berzina dengan seorang gembala yang tidak jauh dari biara Djuraidj, sehingga bunting daripadanya. Dan ketika lahirlah kandungannya ia berkata: Ini anak dari hasilnya Djuraidj. Dan memaksa padanya turun dari biaranya, kemudian dihancurkan biara itu oleh sekalian orang-orang yang datang, kemudian mereka pukul Djuraidj. Maka berkata Djuraidj: Mengapakah kamu berbuat demikian? Apakah sebabaya ini? Jawab mereka: Kau telah berzina dengan pelacur ini, sehingga beranak daripadamu. Berkata Djuraidj: Dimanakah bayinya? Maka dibawa bayi itu kepadanya, kemudian Djuraidj berkata: Lepaskan saya bersembahyang dahulu.</p>
<p>Dan sesudah selesai sembahyang Djuraidj mendekat pada bayi itu dan menekan dengan jarinya, sambil berkata: Siapa ayahmu? Jawab bayi : Fulan, si gembala itu, dan ketika mereka mendengar keterangan bayi itu, kembali mereka mencium dan memeluk Djuraidj sambil berkata: Sukakah kami membangun biara itu dari mas? Jawab Djuraidj: Tidak kembalikan saja sebagaimana sediakala. Maka segeralah mereka bersama membangun kembali biara Djuraidj yang telah mereka hancurkan itu. Dan yang ketiga: Ketika ada bayi sedang menetek pada ibunya, mendadak ada seorang berkendaraan yang mewah sekali, maka berkata si ibu: Ya Allah, jadikanlah putraku ini seperti orang itu. Mendadak bayi itu melepaskan teteknya dan melihat pada orang yang berkendaraan itu sambil berkata:Ya Allah jangan Kau jadikan saya seperti orang itu, lalu melanjutkan menyusu lagi. Kemudian tiada lama ada budak dipukuli oleh majikannya sambil dikatakan. Kau pencuri, kau pelacur.</p>
<p>Sedang budak itu hanya membaca HASBIYALLAHU WANI&#8217;MAL WAKIL. Maka ibunya berkata: Ya Allah jangan dijadikan anakku ini seperti orang itu. Maka bayi itu segera menghentikan tetek, dan melihat pada budak yang dianiaya itu sambil berdo&#8217;a: Ya Allah jadikanlah saya seperti orang itu. Kemudian terjadi tanya jawab antara ibu dengan bayinya. Berkata ibu: Tadi ada orang mewah, saya berdo&#8217;a: Ya Allah jadikanlah putraku seperti dia. Mendadak kau berkata: Ya Allah jangan Kau jadi­kan saya seperti dia. Kemudian ada budak dipukuli karena berzina mencuri dan saya berdo&#8217;a: Ya Allah jangan dijadikan putraku seperti dia.</p>
<p>Mendadak kau berdo&#8217;a: Ya Allah jadi­kanlah saya seperti dia. Jawabnya: Orang laki laki yang gagah tadi itu adalah orang yang sangat kejam, sedang budak itu dituduh berzina padahal tidak berzina, dituduh mencuri padahal tidak mencuri, maka saya berdo&#8217;a: Ya Allah jadikan­lah saya seperti dia. (Buchary, Muslim).</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=168&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/19/fitnah-untuk-juraiz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keyaqinan Nabi Muhammad SAW ketika diancam musuh dengan pedang</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/19/keyaqinan-nabi-muhammad-saw-ketika-diancam-musuh-dengan-pedang/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/19/keyaqinan-nabi-muhammad-saw-ketika-diancam-musuh-dengan-pedang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 01:15:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Keyaqinan]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad SAW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Dari bir r.a. ketika ia pergi bersama Nabi S.A.W. dalam perang Dzatirriqa ke arah Najed, kemudian ketika kembali terpaksa berhenti pada suatu hutan yang banyak pohon duri dan di situ Rasulullah berteduh di bawah po­hon, dan menggantungkan pedang di atas pohon itu, kemu­dian kata Djabir: Ketika kami telah tidur tiba?tiba terde­ngarlah Rasulullah S.A.W. memanggil kami, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari bir r.a. ketika ia pergi bersama Nabi S.A.W. dalam perang Dzatirriqa ke arah Najed, kemudian ketika kembali terpaksa berhenti pada suatu hutan yang banyak pohon duri dan di situ Rasulullah berteduh di bawah po­hon, dan menggantungkan pedang di atas pohon itu, kemu­dian kata Djabir: Ketika kami telah tidur tiba?tiba terde­ngarlah Rasulullah S.A.W. memanggil kami, sedang di sisi Nabi ada seorang Badwi, maka bersabda Nabi: Orang ini telah meng­hunus pedangku pada waktu saya tidur, hingga saya terpe­ranjat bangun dan melihat pedang terhunus di tangannya lalu ia berkata: Siapakah yang dapat mempertahankan kau dari seranganku ini? Jawabku: Allah. Diucapkan yang demikian itu berulang sampai tiga kali. Kemudian Nabi duduk dan tidak membalas pada orang itu.  (Buchary, Muslim).</p>
<p><span id="more-166"></span>Dalam riwayat lain: Orang itu berkata: Ketika pedang telah terhunus ditangannya: Takutkah Engkau padaku? Jawab Nabi: Tidak. Dan siapakah yang mempertahankan kau dari­padaku? Jawab Nabi: Allah. Dan dalam riwayat lain: Ketika itu pedang mendadak jatuh dari tangan orang itu dan diambil oleh Nabi sambil bertanya: Siapakah yang mempertahankan kau daripadaku? Jawab orang itu: Jadilah engkau sebaik?baik orang yang membalas budi. Bertanya Nabi: Sukakah engkau bersyahadat bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan saya sebagai utusan Allah? Jawab: Tidak. Tetapi saya berjanji tidak akan memerangi kau, dan tidak membantu orang yang memerangi kau. Maka Rasulullah melepaskannya. Kemudian setelah ia kem­bali kepada kaumnya berkata: Saya datang kepadamu dari seorang yang sebaik?baik manusia.</p>
<p>hadis ini menunjukkan bagaimana kekuatan dan keyakinan Nabi S.A.W. kepada, Allah dalam keadaan yang sedemikian rupa dimana biasanya manusia, merasa tidak ada yang dapat membela kecuali belas kasih dari orang yang berbuat jahat, dan lupa bahwa kekuasaan Allah masih ada dan sanggup menghindarkan dirinya dari bahaya itu. Nyata bagaiman perbedaan jawaban iman dari Rasulullah S.A.W. dengan jawaban sikafir penjahat itu. Demikianlah contoh yakin dan tawakkal.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=166&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/19/keyaqinan-nabi-muhammad-saw-ketika-diancam-musuh-dengan-pedang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
