<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Kisah-Kisah Tauladan</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/kisah-kisah-tauladan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam bermimpi bertemu Rasulullah SAW</title>
		<link>http://usahadawah.com/kisah-pendeta-senior-di-afrika-selatan-yang-masuk-islam-bermimpi-bertemu-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kisah-pendeta-senior-di-afrika-selatan-yang-masuk-islam-bermimpi-bertemu-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 01:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Bermimpi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Masuk Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendeta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam bermimpi bertemu Rasulullah SAW
&#8220;Ya Tuhanku&#8230; Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku&#8230; sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu&#8230; Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran&#8230; manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku&#8230; jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan&#8230; tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam bermimpi bertemu Rasulullah SAW</p>
<p>&#8220;Ya Tuhanku&#8230; Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku&#8230; sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu&#8230; Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran&#8230; manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku&#8230; jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan&#8230; tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar&#8230;</p>
<p>Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-&#8217;Alam al-Islami di sana.</p>
<p><span id="more-56"></span>Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.&#8217; Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.</p>
<p>Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, &#8220;Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?&#8221; ia tersenyum dan berkata, &#8220;Ya, tentu saja boleh.&#8221;</p>
<p>Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!</p>
<p>Sily berkata, &#8220;Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.</p>
<p>Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!</p>
<p>Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.&#8217; Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.</p>
<p>Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, &#8220;Bukankah anda seorang pendeta?&#8221; Aku jawab, &#8220;Benar.&#8221; Lantas ia bertanya kepadaku, &#8220;Siapa Tuhanmu?&#8221; Aku katakan, &#8220;Al-Masih.&#8221; Ia kembali berkata, &#8220;Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku&#8217;.&#8221; Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.</p>
<p>Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, &#8220;Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.&#8221; Aku katakan, &#8220;Kalau begitu, coba beri jawabannya!&#8221; Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.</p>
<p>Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.</p>
<p>Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, &#8220;Ya Tuhanku&#8230; Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku&#8230; sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu&#8230; Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran&#8230; manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku&#8230; jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan&#8230; tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar&#8230;&#8221; lantas akupun tertidur.</p>
<p>Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, &#8220;Wahai Ibrahim!&#8221; Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, &#8220;Kamu Ibrahim&#8230; kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?&#8221; Aku jawab, &#8220;Benar.&#8221; Ia berkata, &#8220;Lihat ke sebelah kananmu!&#8221; Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!&#8221; Lanjut lelaki itu.</p>
<p>Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.</p>
<p>Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.</p>
<p>Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, &#8220;Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.&#8221; Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.</p>
<p>Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, &#8220;Selamat datang ya Ibrahim!&#8221; Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, &#8220;Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah SWT untuk hamba-Nya yaitu Islam.&#8221; Aku katakan, &#8220;Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.&#8221; Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, &#8220;Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?&#8221; Ia berkata, &#8220;Benar.&#8221;</p>
<p>Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah SWT telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, &#8220;Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.&#8221; Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, &#8220;Demi Allah sesungguhnya Allah SWT telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.&#8221; Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.</p>
<p>Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.</p>
<p>Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, &#8220;Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.&#8221; Aku katakan, &#8220;Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.&#8221; Mereka semua terdiam.</p>
<p>Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, &#8220;Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.&#8221;</p>
<p>Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, &#8220;Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.&#8221; Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.</p>
<p>Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,&#8221; Sily mengakhiri kisahnya.</p>
<p>Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da&#8217;i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da&#8217;i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar&#8217;i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.</p>
<p>Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma&#8217;had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, &#8220;Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.&#8221;</p>
<p>Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah&#8230; medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, &#8220;Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!&#8221;</p>
<p>Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal&#8230; kami berjalan lamban&#8230; kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da&#8217;i Ibrahim Sily, Da&#8217;i berbangsa Spanyol Ahmad Sa&#8217;id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (alsofwah)</p>
<p>(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616)</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=56&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kisah-pendeta-senior-di-afrika-selatan-yang-masuk-islam-bermimpi-bertemu-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Burung Hud-Hud yang mempunyai peran dalam da&#8217;wah dan menjadi asbab hidayah</title>
		<link>http://usahadawah.com/burung-hud-hud-yang-mempunyai-peran-dalam-dawah-dan-menjadi-asbab-hidayah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/burung-hud-hud-yang-mempunyai-peran-dalam-dawah-dan-menjadi-asbab-hidayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Feb 2011 00:47:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Coba kita pelajari dengan baik kisah yang dijelaskan dalam Al-quran, perihal Burung Hud-Hud yang mempunyai peran dalam da&#8217;wah dan menjadi asbab hidayah.Kita tidak boleh menyepelekan peran kalangan kaum muslimin yang lemah atau belum banyak Ilmunya terjun dalam kerja da&#8217;wah ini. Kisah ini akan menjadi renungan kita semua, bagaimana burung bisa mempunyai peran dalam da&#8217;wah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Coba kita pelajari dengan baik kisah yang dijelaskan dalam Al-quran, perihal Burung Hud-Hud yang mempunyai peran dalam da&#8217;wah dan menjadi asbab hidayah.Kita tidak boleh menyepelekan peran kalangan kaum muslimin yang lemah atau belum banyak Ilmunya terjun dalam kerja da&#8217;wah ini. Kisah ini akan menjadi renungan kita semua, bagaimana burung bisa mempunyai peran dalam da&#8217;wah dan asbab Hidayah? Mudah-mudahan kita semua menjadi bagian dari asbab hidayah di seluruh alam.</p>
<p><span id="more-461"></span></p>
<p><strong>(QS An Naml (27): 20-44)</strong></p>
<p>20. Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: &#8220;Mengapa aku tidak melihat hud-hud[1093], apakah dia termasuk yang tidak hadir.</p>
<p>21. Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.&#8221;</p>
<p>22. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: &#8220;Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba[1094] suatu berita penting yang diyakini.</p>
<p>23. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita[1095] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.</p>
<p>24. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,</p>
<p>25. agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi[1096] dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.</p>
<p>26. Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai &#8216;Arsy yang besar.&#8221;</p>
<p>27. Berkata Sulaiman: &#8220;Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.</p>
<p>28. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan&#8221;</p>
<p>29. Berkata ia (Balqis): &#8220;Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.</p>
<p>30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: &#8220;Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.</p>
<p>31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.&#8221;</p>
<p>32. Berkata dia (Balqis): &#8220;Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).&#8221;</p>
<p>33. Mereka menjawab: &#8220;Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan</p>
<p>34. Dia berkata: &#8220;Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.</p>
<p>35. Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.&#8221;</p>
<p>36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: &#8220;Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.</p>
<p>37. Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.&#8221;</p>
<p>38. Berkata Sulaiman: &#8220;Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.&#8221;</p>
<p>39. Berkata &#8216;Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: &#8220;Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya</p>
<p>40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab[1097]: &#8220;Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.&#8221; Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: &#8220;Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.&#8221;</p>
<p>41. Dia berkata: &#8220;Robahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).&#8221;</p>
<p>42. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: &#8220;Serupa inikah singgasanamu?&#8221; Dia menjawab: &#8220;Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya[1098] dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.&#8221;</p>
<p>43. Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.</p>
<p>44. Dikatakan kepadanya: &#8220;Masuklah ke dalam istana.&#8221; Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: &#8220;Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.&#8221; Berkatalah Balqis: &#8220;Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam (QS An Naml (27): 20-44)</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=461&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/burung-hud-hud-yang-mempunyai-peran-dalam-dawah-dan-menjadi-asbab-hidayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab-Kitab Fadhilah Amal dan Hayatush Shahabat</title>
		<link>http://usahadawah.com/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 02:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah amal]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[targhib wat tarhib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:

http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/
http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/

Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:</p>
<ul>
<li><a href="http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/" target="_blank">http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/</a></li>
<li><a href="http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/" target="_blank">http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/</a></li>
</ul>
<p>Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu kami sampaikan kenapa Hayatush Shahabat menjadi salah satu pengajaran utama dalam usaha da&#8217;wah ini. Para Ulama dari jaman kapanpun sangat memahami bahwa kesuksesan dan kejayaan para Shahabat RA ini merupkan tauladan yang tidak dapat dipupus oleh jaman. Sehingga tidak heran banyak ulama sepanjang perjalanan kaum muslimin selalu menulis perihal kehidupan para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-244"></span>Itulah sebabnya para ahli da&#8217;wah di manapun berada, apakah di masjid ataupun sedang khuruj, selalu membaca kisah-kisah para Shahabat RA ini, diulang-ulang, disampaikan berkali-kali, diceritakan lagi dan lagi kepada kaum muslimin lainnya, KARENA para Shahabat RA itu merupakan generasi yang telah mendapatkan keridhoan Allah swt dan juga kesuksesan di dunia ini serta akherat nanti. Sehingga perlu dibacakan untuk dingat serta menjadi idola, atau menjadi sebuah keinginan yang membakar untuk mempunyai cita-cita seperti para Shahabat RA.</p>
<p>Dua sumber bacaan yang cukup banyak di baca yaitu kitab kisah-kisah para Shahabat, Maulana Dzakaria, dan Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf. Kedua kitab ini mempunyai ciri yang khas, dan untuk memahaminya sebenarnya para pembaca perlu membuka pengantar buku-buku itu dengan baik. Banyak orang menilai, tetapi kadangkala tidak memperhatikan kata pengantar ataupun pendahuluan, yang tentunya untuk memberikan secara menyeluruh terhadap apa buku itu sebenarnya. Silahkan perhatikan pengantar dari kedua buku itu dengan baik.</p>
<p>Sekarang ini telah ada yang memberikan komentar terhadap kitab Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf, yang berkaitan dengan tingkatan hadits yang terdapat dalam kitab itu. Tetapi yang harus dipahami dengan baik oleh siapapun termasuk juga kalangan ulama yang juga memberikan komentar terhadap tingkatan hadits dalam kitab itu, yaitu <strong>susunan sistematik kitab itu mempunyai tujuan atau sasaran utama yang hendak dicapai dari apa yang menjadi pikiran si penulis sendiri, dalam hal ini yaitu Maulana Yusuf.</strong></p>
<p>Jadi jika ada Ulama yang memberikan komentar terhadap hadits yang terdapat dalam kitab itu, itu sah-sah saja ataupun mungkin juga menyusun ringkasannya secara ilmiyyah. TETAPI yang perlu diperhatikan adalah susunan sistematik kitab itu sendiri, karena pikiran dan sasaran itu terdapat dalam susunan sistematik itu sendiri. Jika dilakukan perumbakan secara serampangan, maka artinya sama dengan merusak karya seseorang dalam pola analisanya. Sehingga hal itu kurang pantas dilakukan. Jangan kita menjadi tertawaan orang banyak, karena kita melakukan perombakan terhadap karya orang, sedangkan kita tidak mampu berbuat sesuatu yang lebih baik.</p>
<p>Kitab seperti Fadhilah Amal ini sudah banyak di abad-abad yang lalu, dan tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda. Kami sendiri ]melakukan penulusuran terhadap kitab-kitab yang seperti fadhilah amal. Kami mendapatkan banyak kitab seperti itu, tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda.  Misalkan kitab dengan judul <strong>Fadhoil Amal </strong>yang ditulis Ulama, Al-Hafidz MUhammad Abdul Wahid Al-Maqdisi, sekitar tahn 600-an. Atau kitab yang disusun Imam Mundziri, Targhib Wat Tarhib. Kitab Imam Mundziri ini yang banyak dijadikan sebagai rujukan buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria.</p>
<p>Sekarang ini telah ada ulama yang memberikan komentar terhadap buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria. Hal ini merupakan sah-sah saja secara ilmiyyah, dan telah banyak dilakukan juga. Sekarang saja telah ada kitab ringkasan Kitab Tafsir Ibnu Katsir dimana Ulama menghilangkan hal-hal yang dianggap maudhu atau israilliyat. TETAPI tetap kita atau bahkan ulama menghormati Ibnu Katsir sendiri sebagai penulis kitab itu, dan bahkan banyak ulama yang mendorong untuk membacanya.</p>
<p>Dan sebenarnya kita kaum muslimin juga perlu mengetahui kenapa beliau, maulana dzakaria, menulis buku-buku fadhilah amal ini. Tentunya mempunyai latar belakangnya. Usaha da&#8217;wah ini lebih dahulu muncul dibandingkan dengan kelahiran buku-buku fadhilah itu sendiri yang disusun Maulana Dzakaria. Dan juga tidak semua topik yang menjadi buku fadhilah amal, berbeda dengan targhib wa tarhib yang lebih banyak dan luas dalam topiknya. Silahkan untuk diperhatikan dengan baik!</p>
<p>Jika ada ulama yang berkeinginan meringkas buku-buku fadhilah amal, itu merupakan hak secara ilmiyyah. Sama halnya terhadap kitab hadist shohih muslim, ataupun shohih bukhari, ataupun juga terhadap kitab Tafsir Ibnu Katsir, juga ada ringkasannya. TETAPI yang perlu dijaga adalah susunan sistematik dan juga sasaran yang hendak dicapai dari kitab yang ditulis itu. Ini yang harus diperhatikan dengan baik.</p>
<p>Para Ulama biasa menyusun kitab yang sama dengan ulama lainnya, tentunya dengan karakter dan pendalaman yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang dan juga sasaran yang dibuat. Begitulah kita juga berlaku secara ilmiyyah, tidak hanya kita memberikan penilaian yang mengarah pada kontra-produktif bagi kaum muslimin. Yang akhirnya tidak produktif bagi kaum muslimin lainnya. Apakah ketika memberikan penilaian isi yang terdapat Tafsir Ibnu Katsir, Ulama yang bersangkutan meremehkan dan mencaci Ibnu Katsfir? Kami kira ulama yang bersangkutan tidak melakukannya. Begitulah kita juga kepada Ulama lainnya.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=244&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa di Surga Ada Orang yang Bertatto?</title>
		<link>http://usahadawah.com/apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Dec 2008 08:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[belajar da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[bertato]]></category>
		<category><![CDATA[hidayah Allah swt]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[thobat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: http://harapandiri.wordpress.com/2008/11/29/“-apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto”
Kenapa Allah swt hadirkan gelap! Agar kita tahu bahwa dengan terang segalanya akan terlihat jelas, lantas kenapa Allah swt hadirkan masa lalu yang suram dalam hidup kita ! agar kita sadar bahwa hidayah itu suatu yang mahal, yang Allah swt berikan kepada siapa saja yang mau membuka hati untuk perkara hidayah. Karena setiap orang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: http://harapandiri.wordpress.com/2008/11/29/“-apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto”</p>
<p>Kenapa Allah swt hadirkan gelap! Agar kita tahu bahwa dengan terang segalanya akan terlihat jelas, lantas kenapa Allah swt hadirkan masa lalu yang suram dalam hidup kita ! agar kita sadar bahwa hidayah itu suatu yang mahal, yang Allah swt berikan kepada siapa saja yang mau membuka hati untuk perkara hidayah. Karena setiap orang, ya setiap orang tanpa kecuali, lepas apakah dia seorang yang memiliki kepahaman agama yang tinggi atau hanya seorang ahli maksiat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh hidayah, tinggal seberapa jauh kita mau meraih dan mempertahankan hidayah tersebut.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu , Allah swt betul-betul telah &#8220;menampar&#8221; saya dalam artian yang sesungguhnya. Melalui<em> kepergian </em>seorang sahabat, Allah seakan ingin menunjukan bahwa hidayah dan surga bukan milik sekelompok orang, melainkan milik setiap orang yang dengan hati hancur datang kedepan pintu-Nya, berharap memperoleh kasih-Nya.</p>
<p><span id="more-219"></span>Betapa adilnya Allah dan betapa beruntungnya sahabat saya, karena Allah telah pilih dia kembali kepada-Nya dalam keadaan memperbaiki diri <em>dirumah-Nya</em> dalam balutan malam yang tenang, yang hanya Allah dan malaikat-Nya yang mengetahui bagaimana perjuangan almarhum sahabat saya meninggal dunia dalam pertobatannya.</p>
<p>Ketika pertama kali bertemu dengannya, saya memandang hanya dengan sebelah mata, iblis telah menguasai hati saya , sehingga perasaan lebih baik darinya yang waktu itu muncul, tapi keinginan untuk menjadi lebih baik yang datang dari hatinya menghantarkan dia pada pintu hidayah-Nya.</p>
<p>Pagi itu seperti bulan-bulan sebelumnya, saya dan beberapa teman mengadakan program perbaikan diri dengan cara beritikaf dimasjid sekitar tempat tinggal untuk <em>belajar dakwah</em>. Dan seperti biasa pula setiap pagi diadakan taklim pagi, dimana dibacakan kisah-kisah  para sahabat Nabi dan perbaikan cara membaca alqur&#8217;an.</p>
<p>Selama mejalani program taklim, mata saya seakan sulit diajak kompromi, begitu berat untuk di buka, bukan karena malam sebelumnya saya banyak melakukan sholat malam, melainkan begitu banyaknya dosa yang ada di diri saya sehingga  dalam majelis ilmu saya masih juga mengantuk. Seperti biasa setiap taklim pagi maka di buat jaulah taklim ( berkeliling di sekitar lingkungan masjid untuk mengajak orang duduk dalam majelis taklim ). Saya dan seorang teman mendapatkan tugas jaulah taklim. Dan garis nasib menghantarkan saya bertemu dengan sekelompok pemuda yang satu diantaranya menjadi sahabat saya. Beberapa orang dari pemuda itu mencoba pergi ketika melihat saya dan teman saya mendekat , mungkin mereka fikir kami kelompok Islam garis keras yang mencoba menggang<em>gu</em> <em>keasikan</em> mereka, tinggal seorang pemuda yang tetap berada di situ. Kami mencoba memperkenalkan diri dan menerangkan maksud tujuan kami datang menemui dirinya serta kami mengajak beliau sama-sama ke masjid untuk duduk dalam majelis taklim yang baru saja di mulai. Pemuda itu hanya diam, entah apa yang ada di benaknya, apakah dia berpikir saya dan teman saya hanyalah sekelompok orang yang mengganggu kesenangan dirinya atau entahlah mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.</p>
<p>Saya mulai aga kesal karena dirinya seperti tiada reaksi sama sekali, dia hanya tertunduk tanpa berani beradu pandang, beberapa saat sebelum kami undur diri untuk kembali ke masjid, tiba-tiba pemuda tersebut akhirnya buka suara, <strong><em>&#8221; Apa boleh orang bertatto ke masjid ?&#8221;</em></strong>, tanyanya waktu itu, lantas saya menjawab boleh asal dalam keadaan suci dari najis, siapa saja asalkan dia muslim boleh ke masjid. Dia hanya diam, saya seperti mendapatkan angin untuk terus berusaha agar dia mau ikut ke masjid, saya mulai bercerita banyak hal tentang kisah-kisah para sahabat nabi yang ketika masa jahiliyah begitu jahil , tapi setelah mereka bertaubat mereka menjadi ahli-hali surga.</p>
<p>Akhirnya dirinya mau ikut ke masjid bersama kami, setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang saya pinjamkan ia duduk bersama kami mendengarkan taklim pagi, betapa gembiranya hati saya ketika akhirnya ia mau ikut ke masjid, tak ada kata-kata yang sebanding dengan perasaan saya pada waktu itu, mungkin hanya orang-orang yang pernah terjun langsung tahu bagaimana sulitnya berdakwah di tengah-tengah manusia untuk mengajak mereka kembali kepada Allah dan ketika satu diantara mereka mau kembali taat kepada Allah, rasanya dunia dan isinya tak sebanding dengan perasaan senang yang ada di diri kita.</p>
<p>Lepas bada zuhur, dirinya mendekati saya dan menanyakan apakah dirinya boleh bergabung dengan kami, dan tentu saja boleh karena dakwah adalah tugas setiap umat Islam tanpa kecuali, kalau hewan yang lebih rendah dari manusia boleh berdakwah bahkan di abadikan dalam alqur&#8217;an ( semut, burung hud-hud dll ) apalagi manusia yang mempunyai tugas sebagai khalifatullah di muka bumi jelas lebih boleh lagi untuk berdakwah. Dengan berdakwah Allah swt akan perbaiki diri kita seperti yang terjadi pada diri para Nabi dan sahabatnya dan hal tersebut yang juga akan terjadi pada diri setiap orang yang mengambil kerja dakwah sebagai jalan hidupnya.</p>
<p>Sepanjang hari ia hanya diam, mungkin proses hidayah sedang terjadi pada dirinya, dan lepas tengah malam, saya menemuinya sedang menangis berurai air mata di pojok mesjid, saya tak berani mendekat dan hanya melihat dari kejauhan. Pemandangan yang sangat indah, dimana pada pagi hari dirinya masih bermaksiat kepada Allah swt tapi pada malamnya ia sedang menangisi dosa-dosanya. Saya menjadi malu terhadap diri sendiri, seakan saya merindukan saat-saat seperti itu , dimana begitu nikmatnya melewati malam berdua dengan-Nya, bermunajad dihadapan-Nya dengan air mata dan hati yang hancur.</p>
<p>Beberapa bulan setelah kejadian itu saya tidak lagi bertemu dengan almarhum karena memang tempat tinggal dan kesibukan  kami yang tidak memungkinkan, tapi kami masih tetap berhubungan via telpon , sampai akhirnya 2 minggu yang lalu saya bertemu dengan dirinya di salah satu mesjid tua di kawasan kebun jeruk Jakarta Pusat.</p>
<p><em>&#8220;Ane mau belajar dakwah 40 hari &#8220;</em> ucapnya. Saya hanya bisa tersenyum bahagia mendengar penuturannya<em>. &#8221; Routenya kemana ? &#8220;</em> Tanya saya. <em>&#8220;Belum di putus, besok pagi selepas bayan subuh baru ketahuan routenya, karena ane gabung dengan jamaah yang lain&#8221;</em> jawabnya singkat. Sesaat kemudian dirinya bertanya hal yang sama seperti saat kami pertama kali bertemu. <em>&#8221; Apa di surga ada orang yang bertatto?&#8221;</em> tanyanya dengan aga ragu. Dan sekali lagi saya yang sombong , yang angkuh yang ahli maksiat tapi sok bersih menjawab dengan ringannya tanpa mencerna dan berpikir lebih jauh tentang pertanyaan Almarhum tersebut. <em>&#8220;Mana ada di surga orang yang bertatto , kalau di neraka banyak&#8221;</em>. Jawab saya, dan almarhum hanya tertunduk sedih, saya segera menyadari kesalahan saya dan meralat ucapan saya <em>&#8220;Tapi ente tenang aja kalau ente tetep buat dakwah , nanti ente juga akan masuk surga dan Allah sendiri yang akan menghapus tatto ente&#8221;.</em> Almarhum sahabat saya tersenyum bahagia dengan jawaban saya, senyum yang terakhir yang saya lihat, karena saya tidak akan pernah melihat senyumnya lagi, sebuah sms saya terima malam kemarin yang mengabarkan ia telah meninggal dunia ketika dirinya sedang berlajar berdakwah, islah diri, belajar menjadi hamba yang taat, belajar mencintai Allah swt dan Rasul-Nya.</p>
<p>Selepas bersilaturahmi bada isya almarhum pamit dengan amir jamaah untuk tidur lebih awal karena kondisi badannya yang kurang baik, dan mendekati subuh terlihat almarhum masih tertidur, dan ketika salah satu rekan mencoba membangunkannya ternyata almarhum telah tiada, pergi meninggalkan dunia untuk bertemu Allah swt bertemu dengan sosok yang dicintainya yaitu Rasulullah saw dan para sahabat-nya, meninggalkan dunia pada saat pertobatannya. Kematian yang indah, yang selalu saya rindukan, mati di jalan-Nya, mati ketika mencoba meraih cinta-Nya.</p>
<p>Selamat jalan sahabat, di surga memang tiada akan ada pria bertatto , yang ada hanya pria tampan, yang suka miscall tengah malam untuk bangunin tahajud, yang suka bangun malam dan nangis kaya anak kecil, yang suka bikin gw kesel karena selalu berantakan kalau makan berjamaah, yang suka tiba-tiba batalin janji pada hal udah jauh-jauh hari dibuat. Kita memang gak akan pernah ketemu lagi di dunia, gak pernah bisa keluar masturah bareng, gak pernah akan bisa ke IPB ( India, Pakistan, Bangladesh ) berdua. Dan elo gak bisa baca blog gw lagi, pada hal elo pengen banget kita sama-sama hadir ijtima Bulan Juli nanti dan elo pengen banget ngerasin duduk di bawah tenda dan poto elo gw tampilin di blog jelek gw ini, tapi rasanya itu cuma mimpi, karena pastinya gak akan bisa terjadi. Sekarang elo dah tenang di sana, tugas elo di dunia dah selesai, tinggal gw yang masih gamang dengan jalan hidup sendiri.</p>
<p>Selamat jalan sahabat, semoga Allah selalu menjaga dan menerima tobat dirimu. Semoga kami yang di tinggalkan dapat memetik banyak pelajaran dari perjalanan hidupmu. Dan semoga Allah swt kekalkan kami dalam usaha dakwah, dakwah sebagai maksud hidup, hidup untuk dakwah , dakwah sampai mati dan mati dalam dakwah.</p>
<p>Alloh humma firlahu war hamhu wa afi&#8217;i wa&#8217;fuanhu. Amin.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=219&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/apa-di-surga-ada-orang-yang-bertatto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marilah kita banyak mengisahkan cerita Para Shahabat RA!</title>
		<link>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 22:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.
Tulisan ini terinspirasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dengan nasehat dari seorang ulama dan guru yang banyak memberikan pengaruh kepada penulis sendiri, yaitu Maulana Ilyas. Beliau memberikan nasehatnya dengan lugas dan tegas, &#8220;Janganlah menceritakan tentang aku, tetapi banyakkanlah bercerita tentang para Shahabat RA&#8221;. Ucapan yang sederhana tetapi mempunyai makna yang sangat dalam. Penulis sendiri pernah ditegur oleh seseorang dikarenakan penulis banyak bercerita tentang beliau itu dalam satu ceramah, &#8220;Kita bersyukur dengan kerja agama ini, dan beliaulah yang mengajarkan kepada kita, tetapi para Shahabat RA telah dinyatakan langsung oleh Allah swt, sebagai generasi yang diridhoiNya meskipun masih ada di dunia yang fana ini. Oleh karena itu kita mesti banyak-banyak menceritakan para shahabat RA itu&#8221;.</p>
<p><span id="more-70"></span>Tulisan ini untuk memberikan tambahan terhadap tulisan-tulisan sebelumnya, yaitu karakter, kerja dan pikir salafush sholeh. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita untuk lebih banyak menceritakan kisah-kisah generasi para Shahabat RA, dan tentunya mengikuti langkah-langkahnya dengan baik. Sehingga kepahaman kita terhadap karakter, kerja dan pikir generasi para shahabat dalam didalami dan dihayati.</p>
<p><strong>Ridho Allah swt untuk Generasi Shahabat RA </strong></p>
<p>Allah swt menyatakan dengan tegas dalam satu ayatnya:</p>
<p><em>&#8220;Generasi awwalun dari Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka dengan baik, Allah swt ridho kepada mereka dan juga mereka ridho kepada Allah swt&#8221; (QS: 9-100)</em></p>
<p>Allah swt yang mempunyai sifat-sifat yang mulia, dan sebagai pencipta alam jagat raya ini, termasuk manusia, terlebih dahulu menyatakan keridhoanNya kepada generasi pertama dan juga generasi yang mengikutinya dengan baik.</p>
<p>Dan kita, sebagai generasi yang sangat jauh dengan generasi Shahabat RA itu, sangat perlu mengetahui generasi dengan baik, apakah ucapan-ucapannya, apakah dialog-dialognya, apakah perilaku-perilakunya. Dan untuk mengetahui itu, kita perlu terus mendorong kaum muslimin untuk lebih banyak mengisahkan kisah-kisah generasi Shahabat RA, sehingga hikmah-hikmahnya dapat direnungi, dihanyati, dan didalami dengan baik, yang akhirnya memberikan dorong atau juga spririt yang dalam bagi kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai kehidupan di kaum muslimin.</p>
<p>Seorang yang kaya akan dapat belajar dari hikmah yang dimiliki Abu Bakar RA dan Ustman RA. Seorang pemimpin akan dapat belajar dari hikmah Ummar RA, dan juga Ali Bin Abi Thalib RA. Seorang anak muda dapat belajar dari kepiwaian Musaib bin Umair RA ketika dialog dengan orang-orang Madinah. Seorang gadis dapat belajar dari hikmah Siti Fathimah RA dan Siti Aisyah RA ketika masih gadis. Seorang anak kecil akan bisa belajar hikmah dari kisah Hasan RA dan Husein ketika masih kecil.</p>
<p>Kisah-kisah ini telah mewujudkan hikmah-hikmah dan juga pelajaran-pelajaran yang berharga, kita tidak hanya belajar dari ucapan-ucapannya saja yang kadangkala kita tidak mempelajari bagaimana generasi Para Shahabat RA meaktualkanya, tetapi ada makna dan hikmah yang lebih dalam dari perilaku generasi.</p>
<p>Saat ini, kita telah banyak diberikan kisah-kisah atau cerita-cerita yang dapat memberikan efek kepada perilaku kita secara langsung dan tidak langsung. Media cetak, media komunikasi, media elektronik, dan apa lagi di masa depan akan muncul, telah memberikan kisah-kisah atau cerita-cerita glamorisasi dalam kehidupan, kekerasan sampai dengan pembunuhan dan perkosaan, aib-aib telah banyak bersuliweran dalam kehidupan kita kaum muslimin, saling menghina dan mengolok-olokan bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu. Oleh karena itu, marilah kita banyak mengisahkan generasi Para Shahabat RA yang telah banyak memberikan banyak pelajaran.</p>
<p><strong>Kisah Yang Berkesan</strong></p>
<p>Para Shahabat RA telah menjadi generasi yang unggul dan telah membaktikan waktu, jiwa dan hartanya untuk tersebar dan wujud di dunia ini. Generasi ini telah mewujudkan Islam dalam diri-diri mereka, sehingga kecermelangan dan keberkahan Islam bukan lagi menjadi slogan-slogan, tetapi wujud dengan indahnya dalam kehidupan mereka itu. Sehingga perlu banyak belajar dari generasi itu dengan baik, dengan harapan kita dapat mencontohnya dalam berbagai kehidupannya. Penulis mencoba menuliskan beberapa kisah yang berkesan utuk penulis, dalam kesempatan ini satu dahulu.</p>
<p>Siti Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW, telah mendapatkan kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya. Dan kalung itu adalah barang yang sangat berharga dan bernilai yang tidak terkira bagi Siti Fathimah RA. Satu ketika, telah datang seorang miskin ke masjid dan bertemu dengan Rasulullah SAW untuk mendapatkan makanan karena orang miskin sudah beberapa hari tidak makan. Bisa kita bayangkan bagaimana kerendahan hati Rasulullah SAW dalam menghadapi hal ini, Rasulullah SAW masih mau menemui orang miskin ini, bahkan orang ini meminta makanan. Sikap tauladan telah diwujudkan oleh Nabi kita, dan hal ini tidak mudah bagi kita untuk mengikutinya. Karena saat ini kita kadangkala menyepelekan orang miskin.</p>
<p>Dan Rasulullah SAW dengan hikmah menyuruhnya untuk bertemu dengan anaknya, Siti Fathimah RA, padahal Rasulullah SAW paham betul dengan anaknya, dan juga mantunya Ali Bin Abi Thalib, sangat berkurangan juga. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memperlihatkan kembali tauladannya, bahwa meskipun anaknya berkurangan juga, pasti mau memberikan solusi terhadap hal ini. Karena memuliakan tamunya merupakan tanda-tanda beriman kepada Allah swt dan Akherat.</p>
<p>Sesampai di rumahnya, orang miskin ini menjelaskan maksudnya itu. Siti Fathimah RA jelas bingung karena memang kelurganya berkurangan. Beliau ini terus mencoba mencari jawabannya, dan tidak sengaja beliau ketika memegang kalungnya itu. Dan tidak banyak berpikir pandang lebar, beliau menyerahkan itu. Jelas orang miskin tidak bisa menerimanya, karena yang diminta adalah makanan. Beliau menyuruhnya untuk bertemu kembali dengan Rasulullah SAW tentang hal. Bisa kita bayangkan, kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya itu diberikan kepada orang lain. Sifat yang menunjukkan bahwa memberikan pemberian yang lebih dicintainya telah diwujudkan oleh Siti Fathimah RA.</p>
<p>Orang miskin ini menemui lagi, dan menjelaskan perkaranya. Dan menyerahkan kalung dari Siti Fathimah RA itu. Bisa kita bayangkan, bagaimana Rasulullah SAW terkejutnya dengan hal ini. Rasulullah SAW jelas termenung, bersyukur dan bercampur haru menjadi satu. Bersyukur karena anaknya telah menjadi seorang perempuan yang sangat mulia, dan terharunya adalah Rasulullah SAW tahu betul itu adalah kalung pemberian istrinya yang sangat dicintainya. Coba kita bayangkan, kalau kita mendapatkan baju pemberian kita untuk anak kita, terus sudah ada ditangan orang lain. Kita akan marah sama anak kita. Tetapi Rasulullah SAW tetap menunjukkan sifat tauladannya.</p>
<p>Akhirnya Rasulullah SAW mempersilahkan kepada orang miskin itu untuk menjualnya. Dan ada seorang Shahabat RA yang membelinya dan ditukar dengan makanan dan barang-barang yang diperlukannya untuk orang miskin ini. Tetapi jelas bahwa hal itu bukan untuk keperluannya, tetapi karena hanya membantu orang miskin itu. Sesampainya di rumah Shahabat itu menyuruh kepada pembantunya untuk menyerahkan kalung ini kepada Rasulullah SAW, karena kalau diserahkan kepada siti Fathimah RA tidak pada tempatnya. Dan sampaikan ini merupakan hadiah dari shahabat itu, dan pembantunya itu dibebaskan dari majikannya itu sebagai hadiah kalau memang kalung itu diterima oleh Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW menerima kalung itu, dan menyerahkan kembali kepada Siti Fathimah RA.</p>
<p>Bisa kita bayangkan, ada seorang shahabat RA yang sangat berhati-hati untuk menyerahkan kalung itu karena takut dengan fitnah, dan bahkan telah bebasnya seorang pembantu dari ikatan dengan majikannya, orang miskin telah mendapatkan apa yang diperlukannya dan bahkan berlebih, dan anak seorang Rasul memberikan pengorbanan yang luar biasa. Itu kisah yang sangat terkesan. Dan banyak hikmah yang dapat kita peroleh.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita banyak kisahkan dari para shahabat RA untuk kita dan dapat memberikan dorongan atau spirit perubahan kehidupan kaum muslimin di masa depan. Mudah-mudah kisah-kisah lebih memahami terhadap karakter utama manhaj generasi shahabat RA, kerja manhaj Shahabat RA dan pikir generasi itu.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=70&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bertobatnya seseorang yang telah membunuh 99 nyawa manusia</title>
		<link>http://usahadawah.com/bertobatnya-seseorang-yang-telah-membunuh-99-nyawa-manusia/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/bertobatnya-seseorang-yang-telah-membunuh-99-nyawa-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 12:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Riyadhush Sholihin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Abu Said (Sa&#8217;ad bin Malik bin Sinan) Alkhudry berkata: Bersabda Nabi SAW: Dahulu pada ummat-ummat yang terdahulu, terjadi seorang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian ia ingin bertobat, maka mencari seorang alim, dan ditunjukkan pada seorang pendeta, maka ia bertanya: Bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan untuk bertobat? Jawab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abu Said (Sa&#8217;ad bin Malik bin Sinan) Alkhudry berkata: Bersabda Nabi SAW: Dahulu pada ummat-ummat yang terdahulu, terjadi seorang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian ia ingin bertobat, maka mencari seorang alim, dan ditunjukkan pada seorang pendeta, maka ia bertanya: Bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan untuk bertobat? Jawab pendeta: Tidak ada. Maka segera dibunuh pendeta itu, sehingga genap seratus orang yang telah dibunuhnya.</p>
<p><span id="more-184"></span>Kemudian mencari orang alim lainnya, dan ketika telah ditunjukkan maka ia menerangkan bahwa ia telah membunuh seratus orang, apakah ada jalan untuk bertobat? Jawab si Alim: Ya ada, dan siapakah yang dapat menghalanginya untuk bertobat? Pergilah ke dusun itu karena di sana banyak orang?orang ta&#8217;at kepada Allah, maka berbuatlah sebegaimana perbuatan mereka, dan jangan kembali ke negerimu ini, karena tempat penjahat. Maka pergilah orang itu.</p>
<p>Tatkala di tengah jalan, mendadak ia mati. Maka bertengkarlah Malaikat rahmat dengan Malaikat siksa. Berkata Malaikat rahmat: Ia telah berjalan untuk bertobat kepada Allah dengan sepenuh hatinya. Berkata Malaikat siksa: Ia belum pernah berbuat kebaikan sama sekali. Maka datanglah seorang Malaikat berupa manusia dan dijadikan­nya sebagai juri (hakim) diantara mereka.</p>
<p>Maka ia berkata: Ukur saja antara dua dusun yang ditinggalkan dan yang dituju, maka ke mana ia lebih dekat masukkanlah ia kepada golongan orang sana. Maka diukurnya. Didapatkan lebih dekat kepada dusun baik, yang ditujunya, kira?kira sejengkal, maka dipegang ruhnya oleh Malaikat rahmat.   (Buchary, Muslim).<br />
Dalam riwayat lain: Allah memerintahkan kepada bumi yang dituju supaya mendekat, dan menyuruh bumi yang ditinggalkan supaya menjauh. Dalam riwayat lainnya: Maka condong dadanya dengan kearah dusun yang dituju, maka diampunkan baginya.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=184&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/bertobatnya-seseorang-yang-telah-membunuh-99-nyawa-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesabaran seorang istri Shahabat RA dan melahirkan anak-anak sholeh</title>
		<link>http://usahadawah.com/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 12:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalhah]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat RA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Anas r.a. berkata: Terjadi putra Abu Thalhah sakit, maka ketika Abu Thalhah telah keluar (bepergian) mendadak matilah putranya. Kemudian Abu Thalhah kembali bertanya pada isterinya: Bagaimanakah keadaan putra­ku? Jawab Ummu Sulaim (ibu anak itu): Ia lebih tenang keadaanya dari semula. Kemudian dihidangkan makan, lalu Abu Thalhah makan, dan berhubungan dengan Ummu Sulaim.
Kemudian tatkala Abu Thalhah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anas r.a. berkata: Terjadi putra Abu Thalhah sakit, maka ketika Abu Thalhah telah keluar (bepergian) mendadak matilah putranya. Kemudian Abu Thalhah kembali bertanya pada isterinya: Bagaimanakah keadaan putra­ku? Jawab Ummu Sulaim (ibu anak itu): Ia lebih tenang keadaanya dari semula. Kemudian dihidangkan makan, lalu Abu Thalhah makan, dan berhubungan dengan Ummu Sulaim.</p>
<p>Kemudian tatkala Abu Thalhah sudah merasa puas, berkata Umu Sulaim: Lurupilah anak itu (kuburkanlah anak itu). Ke­mudian pada pagi harinya Abu Thalhah pergi memberi­tahukan tentang halnya semalam pada Rasulullah. Nabipun bertanya: Pengantinankah kau semalam? Jawabnya: Ya. Ma­ka sabda Nabi s.a.w. ALLAHUMMA BAARIK LAHUMAA. (Ya Allah berilah berkat pada kedua suami isteri itu).</p>
<p><span id="more-182"></span>Mendadak dari persetubuhan yang semalam itu lahirlah seorang putra. Maka segera Abu Thalhah memerintahkan kepada Anas untuk membawa anak itu kepada Rasulullab s.a.w. de­ngan membawakan beberapa biji kurma, lalu diterima oleh Rasulullah s.a.w. dan dikunyah kurma itu kemudian dima­sukkan ke dalam mulut anak itu dan diberi nama &#8220;Abdullah&#8221;. (HR Bukhari, Muslim)­</p>
<p>Dan dalam riwayat Imam Bukhari, berkata putra ‘Ujainah lalu berkata salah seorang dari golongan Anshor kemudian saya melihat 9 orang anak, kesemuanya telah hafadh Al-qur&#8217;an, yakni dari para putra Abdullah yang lahir.</p>
<p>Dan dalam riwayat Muslim: Ketika meninggalnya putra Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, berkata Umu Sulaim kepada keluarganya: Jangan diceriterakan hal ini kepada Abu Thalhah, biarlah saya sendiri yang memberi tahu kepadanya. Maka ketika datang, segera ia menghidangkan makanan ‘asja&#8217;, kemudian diajaknya bergurau, hingga terjadilah persetubuhan.</p>
<p>Kemudian setelah Abu Thalhah merasa puas barulah ia betkata: Hai Abu Thalhah bagaimana pendapatmu kalau seseorang meminjamkan sesuatu kepada satu keluarga, tiba-tiba diminta kembali pinjamannya itu, apakah boleh keluarga yang dipinjami menolak? Jawab Abu Thalhah: Tidak boleh. Berkata Ummu Sulaim: Relakan putramu kepada Allah, Maka marahlah Abu Thalhah sambil berkata: Mengapakah kau sembunyikan berita itu hingga saya berlumuran begini baru kau beri tahu? Maka segera Abu Thalhah memberitahukan kepada Rasulullah s.a.w. segala kejadian malam itu. Rasulullah s.a.w. berdo&#8217;a: BAARAKALAAHU FlI LAILATIKUMAA (Semoga Allah memberkahi kamu berdua dalam harimu itu).</p>
<p>Kemudian mengandunglah Ummu Sulaim dari persetubuhan malain itu. Kemudian terjadi Abu Thalhah pergi bersama Rasulullah dengan Umu Sulaim, dan ketika akan kembali masuk kota Madinah mendadak Ummu Sulaim merasa perut akan bersalin, hingga harus tertinggal. Abu Thalhah berdo&#8217;a : Ya Tuhan, Engkau mengetahui bahwa saya senang jika keluar kota atau masuk ke kota bersama Rasulullah s.a.w. dan kini saya tertahan sebagaimana yang Kau ketahui.</p>
<p>Tiba?tiba Ummu Sulaim berkata: Hai Abu Thalhah rasa sakit perutku kini telah hilang, maka mari kita berjalan terus, dan mulai terasa kembali perutnya ketika telah masuk kota Madinah. Maka disanalah Umu Sulaim melahirkan seorang anak laki?laki, lalu ibuku (Umu Sulaim) berkata: Tidak boleh diteteki (disusui) oleh siapapun sebelum kau bawa kepada Rasulullah s.a.w. maka pagi?pagi benar saya bawa bayi itu kepada Rasulullah s.a.w. yang kemudian oleh Rasulullah s.a.w. ditahnikkan (menyuapkan makanan yang telah dikunyah pada bayi itu dan dinamai &#8220;Abdullah&#8221;)</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush  Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=182&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umar Minta Do’a Kepada Seorang Yang Berbakti Pada Ibunya Dari Yaman</title>
		<link>http://usahadawah.com/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 12:29:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Berbakti Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Umar RA]]></category>
		<category><![CDATA[Yaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Usair bin Amru berkata: Adalah umar bin alchotthab jika kedatangan rombongan orang-orang Yaman, bertnya kepada mereka: Adakah di antara kamu seorang bernama Uwais bin Aamir? Sehingga ketika ia bertemu bertanya: Engkau Uwais bin Aamir? Jawabnya:  Ya. Engkau dari suku Murod dari Qoron? Jawabnya: Ya. Dahulunya engkau belang sekarang kemudian sembuh, hanya tinggal sebesar dirham? Jawabnya: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Usair bin Amru berkata: Adalah umar bin alchotthab jika kedatangan rombongan orang-orang Yaman, bertnya kepada mereka: Adakah di antara kamu seorang bernama Uwais bin Aamir? Sehingga ketika ia bertemu bertanya: Engkau Uwais bin Aamir? Jawabnya:  Ya. Engkau dari suku Murod dari Qoron? Jawabnya: Ya. Dahulunya engkau belang sekarang kemudian sembuh, hanya tinggal sebesar dirham? Jawabnya: Ya. Masih ada ibumu?  Jawabnya: Ya. Berkata Umar: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Akan datang kepadamu seorang bernama Uwais bin Aamir bersama rombongan orang-orang Yaman, ia dari suku Murod dari Qoron, dahulunya ia belang, kemudian sembuh kecuali sebesar dirham, ia masih beribu dan sangat bakti pada ibunya, kalau ia menghendaki sesuatu oleh Allah tentu akan memberinya. Kalau dapat minta do&#8217;a istighfar padanya maka jangan kaulepaskan.</p>
<p><span id="more-186"></span>Umar berkata: Bacakan istighfar untukku. Maka. Uwais membaca istighfar untuk Umar. Kemudian Umar bertanya: Akan ke manakah engkau? Jawabnya: Ke Kufah. Berkata Umar: Sukakah saya kirim surat kepada walikota di sana, supaya membantu dan memberi hajat kebutuhanmu? Jawabnya: Saya lebih suka menjadi rakyat jelata tidak terkenal. Maka pada tahun kemudiannya, seorang terkemuka dari mereka pergi berhaji dan bertamu pada Umar, maka ditanya tentang Uwais? Jawab orang.itu: Saya tinggalkan ia cumpang?camping tidak kecukupan.</p>
<p>Berkata Umar: Saya telah mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda: Nanti akan datang kepadamu Uwais bin Aamir bersama rombongan orang?orang Yaman, dia dari suku Murod dari Qoron, dahulunya ia belang kemudiansembuh kecuali sebesar dirham. Ia masih beribu dan sangat ta&#8217;at pada ibunya. Andaikan is minta sesuatu pada Allah pasti akan diberinya. Kalau dapat mintalah do&#8217;a istighfar padanya. Maka ketika bertemu dengan Uwais, dia berkata: Bacakanlah do&#8217;a, istighfar untukku? Jawab Uwais: Engkaulah yang baru datang dari bepergian dan beribadat, maka bacakan istighfar untukku. Apakah engkau bertemu dengan Umar? Jawabnya: Ya. Maka dibacakan istighfar oleh Uwais. Kemudian banya orang mengenal padanya. Dan ketika itu Uwais lalu menjauh darl orang?orang, supaya tidak terganggu tujuanya. <strong>(Muslim)</strong></p>
<p>Dan dalam riwayat Muslim dari Usair bin Djabir: Ketika orang?orang Kufah mengutus suatu rombongan kepada Umar, ada di antara mereka seorang mengejek Uwais, maka Umar berkata: Apakah ada di antara kamu seorang dari Qoron? Maka datanglah orang itu, berkata Umar: Sesungguhnya Rasulullah S.A.W. telah bersabda: Ada seorang dari Yaman akan datang kepada kamu, ia bernama Uwais tiada tertinggal di Yaman kecuali seorang ibunya. Dahulunya ia belang, tetapi lalu berdo&#8217;a kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dirham atau dinar. Maka siapa bertemu kepadanya hendaknya minta dibacakan, do&#8217;a istighfar baginya. Dalam lain riwayat lain Umar r.a. berkata: sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik orang tabi&#8217;in ialah seorang bernama Uwais, yang masih mempunyai ibu, yang dahulunya ia belang. Maka suruhlah ia membacakan istigfar untuk kamu.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=186&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketabahan seseorang untuk mempertahankan keimanannya</title>
		<link>http://usahadawah.com/ketabahan-seseorang-untuk-mempertahankan-keimanannya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/ketabahan-seseorang-untuk-mempertahankan-keimanannya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 12:03:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Shuhaib r.a. berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w.: Da­hulu ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir, maka ketika telah tua, ia berkata kepada raja: Kini aku telah tua, karena itu kirimlah padaku seorang pemuda yang dapat mempelajari ilmu sihir, supaya dapat menggantikan kedudukankudi sisi raja, jika saya telah meninggal dunia. Ma­ka raja memilih seorang permuda untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shuhaib r.a. berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w.: Da­hulu ada seorang raja yang mempunyai seorang ahli sihir, maka ketika telah tua, ia berkata kepada raja: Kini aku telah tua, karena itu kirimlah padaku seorang pemuda yang dapat mempelajari ilmu sihir, supaya dapat menggantikan kedudukankudi sisi raja, jika saya telah meninggal dunia. Ma­ka raja memilih seorang permuda untuk belajar ilmu sihir kepada ahli sihir itu.</p>
<p>Dan kebetulan di jalan yang dilalui pe­muda itu, ada seorang Rahib; maka tertariklah ia kepada Rahib itu, maka ia duduk mendengarkan ajaran-ajarannya, dan merasa puas pada ajaran Rahib itu hingga terlambat datang ke tempat Sahir itu, dan ia dipukul oleh Sahir itu.</p>
<p><span id="more-180"></span>Akhirnya ia mengeluh pada Rahib. Berkata Rahib: Jika engkau takut dipukul Sahir, katakan: Bahwa kau masih ditahan (disuruh) oleh ibumu, dan jika kembali terlambat katakan: &#8220;Ditahan oleh Sahir&#8221;. Maka berjalanlah ia dengan baik keadaaanya, sehingga terjadi pada suatu hari, ketika ia pergi mendadak di tengah jalan ada binatang besar yang menyebabkan orang?orang terhenti, tidak berani berjalan. Maka di situlah pemuda itu berkata: Hari ini aku akan mengetahui, Sahirkah yang lebih baik ajarannya ataukah Rahib? Maka ia mengambil batu sambil berkata: Ya Allah jika ajaran Rahib lebih Kau sukai daripada ajaran Sahir, maka bunuhlah binatang buas ini, supaya orang?orang dapat berjalan.</p>
<p>Kemudian dilempar batu itu, dan seketika itu juga matilah, hingga orang?orang dapat berjalan dengan aman. Maka ia memberitahukan kejadian itu kepada Rahib. Berkata Rahib: Anakku engkau kini lebih utama daripadaku, dan kau nanti akan mendapat ujian (bala&#8217;), maka apabila engkau mendapat bala&#8217;, janganlah kau tunjuk saya. Kemudian pemuda itu telah mendapat karunia dari Allah hingga ia dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, terutama yang biasa dikatakan oleh manusia: Tidak dapat sembuh, seperti: buta, belang dan lain?lain penyakit.</p>
<p>Maka ada seorang kawan raja sakit mata hingga buta, dan telah ber?ikhtiar kemana-mana tidak juga sembuh. Kemudian datanglah ia kepada pemuda itu dengan membawa hadiah-hadiah yang banyak sekali, sambil berkata: Jika kau dapat meyembuhkan penyakitku, maka dapatlah saya mengumpulkan segala apa saja untukmu. Jawab pemuda itu: Saya tidak dapat menyembuhkan, tetapi Allah yang menyembuhkan, jika kau percaya kepada Allah, maka saya akan berdo&#8217;a dan Allah akan menyembuhkan kau. Maka segeralah orang itu percaya kepada Allah kemudian dido&#8217;akan oleh pemuda itu, dan seketika itu juga sembuh (dapat melihat).</p>
<p>Kemudian ia pergi ke majlis raja, maka kagumlah raja me­lihat sembuh kembali, raja bertanya: Siapakah yang meyembuhkan matamu? Jawabnya: Tuhanku. Raja bertanya: Apakah kau percaya pada Tuhan selain aku? Jawabnya: Tuhanku dan Tuhanmu (Allah). Maka segera ia disiksa oleh raja supaya kembali kepada agama raja itu, tetapi ia tidak berubah imannya, dan raja terus menyiksa padanya sehingga akhirnya menunjuk kepada pemuda itu. Lalu dipanggil pemuda itu, dan ditanya oleh raja: Hai anakku sihirmu telah melampaui batas sehingga dapat menyembuhkan orang buta dan belang? Jawab pemuda: Sesungguhnya saya tidak dapat menyembuhkan seorangpun, hanya Allah yang menyembuhkan. Maka segera disiksa oleh raja, hingga terpaksa ia menunjuk Rahib.</p>
<p>Kemudian dipanggil Rahib dan diperintahkan supaya meninggalkan agamanya. Tetapi Rahib tetap menolak perintah raja lalu diambilkan gergaji dan diletakkan di atas kepalanya dan digergaji hingga terbelah dua badannya. Kemudian tibalah giliran yang kedua ialah teman raja itu, maka diperintahkan juga untuk meninggalkan agama Tuhan, inipun menolak perintah raja, yang akhirnya ia juga menerima hukuman gergaji dari atas kepala hingga terbelah menjadi dua. Kemudian didatangkan pemuda itu dan diperintahkan untuk meninggalkan agama Tuhan, ini juga menolak tawaran raja. Maka raja memerintahkan kepada tentaranya supaya membawa pemuda itu ke atas bukit, dan di sana ditawarkan kepadanya untuk melepaskan agama Allah, dan kalau ia tetap menolak maka lemparkan ia dari atas bukit supaya mati.</p>
<p>Kemudian ketika telah sampai di puncak bukit, pemuda itu berdo&#8217;a: ALLAHUMMAK FINIIHIM BIMA SYI&#8217;TA (Ya Allah hindarkan aku dari bahaya mereka ini sekehendakMu). Mendadak seketika itu bergeraklah bukit sehingga jatuhlah semua tentara raja itu. Dan kembalilah pemuda itu kepada raja. Ditanya oleh raja: Kemana tentara yang membawa kamu? Jawabnya: Allah telah menghindarkan saya dari mereka.</p>
<p>Kemudian raja memerintahkan beberapa tentara yang lain untuk membawa pemuda itu naik perahu dan apabita telah berada di tengah?teagah laut supaya ditawarkaa lagi kepadanya untuk meninggalkan agamanya, dan apabila menolak akan dilemparkan ke laut. Kemudian sesampainya di tengah laut pemuda itu berdo&#8217;a: ALLAHUMMAK FINIIHIM BIMA SYI&#8217;TA (Ya Allah hindarkan aku dari bahaya mereka itu sekehendakMu), maka terbaliklah perahu itu sehingga tenggelamlah semua tentara itu. Maka pergilah pemuda itu kepada raja: kemana tentara yang membawa kamu? Jawabnya: Allah telah menghindarkan aku dari mereka.</p>
<p>Maka pemuda itu berkata: Hai raja kau tiada dapat membunuh aku kecuali jika kau menurut perintahku. Bertanya raja: Apakah perintahmu? Jawab pemuda itu: Kumpulkan orang?orang (semua rakyat) dalam suatu lapangan, kemudian gantunglah saya di atas sebuah tiang, dan ambillah anak panahku dari tempatnya, serta letakkanlah pada busurnya, kemudian bacalah: BISMILLAH RABBIL GHULAM (Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini) lalu lepaskan anak panah itu kearahku. Bila kau lakukan yang demikian itu niscaya dapatlah kau membunuhku.</p>
<p>Maka segeralah raja mengumpulkan semua rakyat di suatu lapangan, kemudian digantung pemuda itu di atas tiang, dan diambilnya anak panah serta diletakkannya pada busurnya, lalu membaca: ­BISMILLAHIRABBILGHULAM (Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini), lalu di­lepaskannya anak panah itu kepeda pemuda itu tepat menge­nai pelipisnya. Kemudian pemuda itu meletakkan tangannya di atas luka yang kena panah itu hingga mati.</p>
<p>Maka serentak orang?orang yang menghadiri kejadian itu berkata: AAMAN­NA BIRABBIL GHULAM (Kami percaya pada Tuhan pe­muda itu), sehingga kepercayaan kepada Allah merata pada semua lapisan rakyat. Kemudian disampaikan kepada Raja. Tahukah kau yang tadinya kau kuatirkan, kini telah terjadi, semua rakyatmu telah percaya kepada Tuhannya pernuda itu. Maka segera raja memerintahkan membuat parit besar pada tiap?tiap persimpangan jalan, kemudian dinyalakan api di dalamaya, dan siapa yang berjalan diperintahkan untuk meninggalkan agamanya, serta kembali kepada agama raja, sedang yang menolak dibakar didalam api.</p>
<p>Setelah dilaksana­kan hal yang demikian itu, terjadilan diantara sekian banyak orang yang disiksa itu, ada seorang wanita yang membawa bayinya, ketika ia diperintah untuk meninggalkan agamanya,  ia menolak kemudian pada waktu bayinya ditarik untuk dimasukkan ke dalam api, tiba-tiba ibunya akan menyerah karena tidak sampai hati melihat bayinya akan dibakar, namun dengan mendadak si bayi itu dapat berbicara: Hai ibu sabarlah, sungguh kamu dalam kebenaran (hak). (HR Muslim)</p>
<p>Contoh kesabaran dan ketabahan hati dalam mempertahankan iman dan kebenaran yang tiada tara bandingnya, dan demikianlah seharusnya tiap orang mu&#8217;min yang benar-benar percaya kepada Allah, dan iman belum diakui benar oleh Allah sebelum mengalami ujian kesungguhan dan kebenarannya.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush  Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=180&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/ketabahan-seseorang-untuk-mempertahankan-keimanannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anugrah Allah swt ketika seorang shahabat menjamu makanan saat perang khandaq</title>
		<link>http://usahadawah.com/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 12:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Khandaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami sedang menggali parit Khondaq, tiba-tiba ada tanah yang keras tidak dapat dipecahkan dengan kapak, sehingga kami datang memberitahukan kepada Nabi s.a.w. : Ada tanah keras tidak dapat kami pecahkan dengan kapak kami. Rasulullah s.a.w.bersabda: Saya sendiri akan turun, kemudian ia bangun dan mengganjal perutnya dengan batu, karena tiga hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami sedang menggali parit Khondaq, tiba-tiba ada tanah yang keras tidak dapat dipecahkan dengan kapak, sehingga kami datang memberitahukan kepada Nabi s.a.w. : Ada tanah keras tidak dapat kami pecahkan dengan kapak kami. Rasulullah s.a.w.bersabda: Saya sendiri akan turun, kemudian ia bangun dan mengganjal perutnya dengan batu, karena tiga hari tidak makan, kemudian Nabi s.a.w. memegang linggis dan memukul tanah itu, mendadak seketika itu juga hancur bagaikan debu yang dihamburkan.</p>
<p><span id="more-178"></span>Kemudian saya minta izin: Ya Rasulullah, izinkan saya pulang ke rumah. Dan sesampainya di rumah saya berkata kepada isteriku: Saya melihat Rasulullsh s.a.w. sangat lapar dan tidak dapat ditahan, apakah kau, mempunyai sesuatu? Jawabnya: Ada tepung gandum sedikit dan seekor kambing. Maka segera saya sembelih kambing dan sya&#8217;ir itupun segera dimasak sesudah ditumbuk, kemudian saya letakkan daging dalam kuali besar, kemudian saya datang kepada Nabi s.a.w. memberitahu: Ya Rasulullah, di rumah kami ada sedikit makanan, silahkan datang dengan satu dua orang saja. Nabi bertanya: Berapa banyak?</p>
<p>Maka saya beritahukan adanya makanan itu. Bersabda Nabi: Baik, itu cukup banyak. Katakan kepada isterimu: Jangan dibuka panci daging itu, dan jangan diturunkan adonan roti dari panpanan apinya, hingga saya datang. Maka Nabi bersabda: Marilah sekalian. Nabi memanggil para sahabat: Mari kamu sekalian. Maka bangunlah Muhajirin dan Anshor. Dan ketika saya telah kembali kepada isteriku, saya beritahu: Cilaka kau, Nabi telah membawa semua sahabat Muhajirin dan Anshor lsteriku bertanya: Apakah ia sudah bertanya kepadamu tentang banyakaya makanan kami? Jawabku: Ya. Maka Nabi mulai mempersilahkan orang?orang.</p>
<p>Masuklah kamu dan jangan berdesakan, maka Nabi mulai memotong roti dan menyendok daging dari kuali, kemudian menutupnya kem­bali dan menghidangkannya kepada para sahabatnya. Ke­mudian kembali memotong dan menyendok dari kuali itu hingga kenyang semua yang hadir, dan masih ada sisa. Ke­mudian Nabi bersabda: Makanlah itu, dan bagi-bagikan kepada orang?orang karena kini musim paceklik dan banyak orang kelaparan. (Buchary, Muslim).</p>
<p>Dalam riwayat lain: Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami menggali parit Khondaq, saya melihat Nabi s.a.w. sedang kelaparan. Maka segera saya pulang kepada isteriku dan berkata: Saya lihat Rasulullah s.a.w. dalam keadaan lapar. Maka segera isteriku mengeluarkan segantang gandum, dan saya sembelih kambing kami. Kemudian saya tumbuk gandum itu, dan sesudah saya potong?potong kambing itu saya masukkan ke dalam kuali besar, dan segera saya akan kembali kepada Rasulullah s.a.w. maka berkatalah istriku: Janganlah kamu menjelaskan halku kepada Rasulullah bersama pengiring?pengiringnya.</p>
<p>Maka saya segera datang pada Rasulullah, dan berbisik: Ya Rasulullah saya telah menyembelih kambing kecil dan memasak satu sho&#8217; sya&#8217;ir, silahkan datang dengan berapa orang saja. Tiba?tiba Rasulullah berseru: Hai ahli Khondaq, Djabir membuat selamatan, maka marilah kamu sekalian. Dan Nabi berpesan kepada saya Jangan kamu turunkan kualimu, dan jangan dipotong roti hingga saya datang. Maka saya kembali lebih dahulu memberitahu kepada isteriku. Berkata isteriku: Salahmu sendiri tidak me nurut pada saya. Jawabku: Saya sudah membisikkan&#8217; kepada Nabi s.a.w. Kemudian Nabi datang, diikuti oleh para sahabatnya, dan oleh isteriku dihidangkan masakan rotinya, maka Rasulullah meniup roti itu untuk memberkahinya, kemudian pergi ke tempat kuali juga meludahinya sedikit dan berdo&#8217;a supaya barokah. Kemudian Nabi bersabda: Panggillah seorang membuat roti bersama kau dan menyendok dari kuali, tetapi jangan diturunkan dari dapur. Dan ketika itu mereka ada seribu orang. Djabir berkata: Saya berani sumpah: Demi Allah mereka semua kenyang makang hinnga meninggalkan tempat kami. Dan kuali kami masih terdengar suara masakan di dalamnya sebagaimana semula sebelum di sendok, demikian pula adonan kami masih banyak dapat buat roti.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=178&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

