<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Para Shahabat RA</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/kisah-kisah-tauladan/para-shahabat-ra-kisah-kisah-tauladan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Marilah kita banyak mengisahkan cerita Para Shahabat RA!</title>
		<link>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 22:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.
Tulisan ini terinspirasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dengan nasehat dari seorang ulama dan guru yang banyak memberikan pengaruh kepada penulis sendiri, yaitu Maulana Ilyas. Beliau memberikan nasehatnya dengan lugas dan tegas, &#8220;Janganlah menceritakan tentang aku, tetapi banyakkanlah bercerita tentang para Shahabat RA&#8221;. Ucapan yang sederhana tetapi mempunyai makna yang sangat dalam. Penulis sendiri pernah ditegur oleh seseorang dikarenakan penulis banyak bercerita tentang beliau itu dalam satu ceramah, &#8220;Kita bersyukur dengan kerja agama ini, dan beliaulah yang mengajarkan kepada kita, tetapi para Shahabat RA telah dinyatakan langsung oleh Allah swt, sebagai generasi yang diridhoiNya meskipun masih ada di dunia yang fana ini. Oleh karena itu kita mesti banyak-banyak menceritakan para shahabat RA itu&#8221;.</p>
<p><span id="more-70"></span>Tulisan ini untuk memberikan tambahan terhadap tulisan-tulisan sebelumnya, yaitu karakter, kerja dan pikir salafush sholeh. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita untuk lebih banyak menceritakan kisah-kisah generasi para Shahabat RA, dan tentunya mengikuti langkah-langkahnya dengan baik. Sehingga kepahaman kita terhadap karakter, kerja dan pikir generasi para shahabat dalam didalami dan dihayati.</p>
<p><strong>Ridho Allah swt untuk Generasi Shahabat RA </strong></p>
<p>Allah swt menyatakan dengan tegas dalam satu ayatnya:</p>
<p><em>&#8220;Generasi awwalun dari Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka dengan baik, Allah swt ridho kepada mereka dan juga mereka ridho kepada Allah swt&#8221; (QS: 9-100)</em></p>
<p>Allah swt yang mempunyai sifat-sifat yang mulia, dan sebagai pencipta alam jagat raya ini, termasuk manusia, terlebih dahulu menyatakan keridhoanNya kepada generasi pertama dan juga generasi yang mengikutinya dengan baik.</p>
<p>Dan kita, sebagai generasi yang sangat jauh dengan generasi Shahabat RA itu, sangat perlu mengetahui generasi dengan baik, apakah ucapan-ucapannya, apakah dialog-dialognya, apakah perilaku-perilakunya. Dan untuk mengetahui itu, kita perlu terus mendorong kaum muslimin untuk lebih banyak mengisahkan kisah-kisah generasi Shahabat RA, sehingga hikmah-hikmahnya dapat direnungi, dihanyati, dan didalami dengan baik, yang akhirnya memberikan dorong atau juga spririt yang dalam bagi kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai kehidupan di kaum muslimin.</p>
<p>Seorang yang kaya akan dapat belajar dari hikmah yang dimiliki Abu Bakar RA dan Ustman RA. Seorang pemimpin akan dapat belajar dari hikmah Ummar RA, dan juga Ali Bin Abi Thalib RA. Seorang anak muda dapat belajar dari kepiwaian Musaib bin Umair RA ketika dialog dengan orang-orang Madinah. Seorang gadis dapat belajar dari hikmah Siti Fathimah RA dan Siti Aisyah RA ketika masih gadis. Seorang anak kecil akan bisa belajar hikmah dari kisah Hasan RA dan Husein ketika masih kecil.</p>
<p>Kisah-kisah ini telah mewujudkan hikmah-hikmah dan juga pelajaran-pelajaran yang berharga, kita tidak hanya belajar dari ucapan-ucapannya saja yang kadangkala kita tidak mempelajari bagaimana generasi Para Shahabat RA meaktualkanya, tetapi ada makna dan hikmah yang lebih dalam dari perilaku generasi.</p>
<p>Saat ini, kita telah banyak diberikan kisah-kisah atau cerita-cerita yang dapat memberikan efek kepada perilaku kita secara langsung dan tidak langsung. Media cetak, media komunikasi, media elektronik, dan apa lagi di masa depan akan muncul, telah memberikan kisah-kisah atau cerita-cerita glamorisasi dalam kehidupan, kekerasan sampai dengan pembunuhan dan perkosaan, aib-aib telah banyak bersuliweran dalam kehidupan kita kaum muslimin, saling menghina dan mengolok-olokan bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu. Oleh karena itu, marilah kita banyak mengisahkan generasi Para Shahabat RA yang telah banyak memberikan banyak pelajaran.</p>
<p><strong>Kisah Yang Berkesan</strong></p>
<p>Para Shahabat RA telah menjadi generasi yang unggul dan telah membaktikan waktu, jiwa dan hartanya untuk tersebar dan wujud di dunia ini. Generasi ini telah mewujudkan Islam dalam diri-diri mereka, sehingga kecermelangan dan keberkahan Islam bukan lagi menjadi slogan-slogan, tetapi wujud dengan indahnya dalam kehidupan mereka itu. Sehingga perlu banyak belajar dari generasi itu dengan baik, dengan harapan kita dapat mencontohnya dalam berbagai kehidupannya. Penulis mencoba menuliskan beberapa kisah yang berkesan utuk penulis, dalam kesempatan ini satu dahulu.</p>
<p>Siti Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW, telah mendapatkan kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya. Dan kalung itu adalah barang yang sangat berharga dan bernilai yang tidak terkira bagi Siti Fathimah RA. Satu ketika, telah datang seorang miskin ke masjid dan bertemu dengan Rasulullah SAW untuk mendapatkan makanan karena orang miskin sudah beberapa hari tidak makan. Bisa kita bayangkan bagaimana kerendahan hati Rasulullah SAW dalam menghadapi hal ini, Rasulullah SAW masih mau menemui orang miskin ini, bahkan orang ini meminta makanan. Sikap tauladan telah diwujudkan oleh Nabi kita, dan hal ini tidak mudah bagi kita untuk mengikutinya. Karena saat ini kita kadangkala menyepelekan orang miskin.</p>
<p>Dan Rasulullah SAW dengan hikmah menyuruhnya untuk bertemu dengan anaknya, Siti Fathimah RA, padahal Rasulullah SAW paham betul dengan anaknya, dan juga mantunya Ali Bin Abi Thalib, sangat berkurangan juga. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memperlihatkan kembali tauladannya, bahwa meskipun anaknya berkurangan juga, pasti mau memberikan solusi terhadap hal ini. Karena memuliakan tamunya merupakan tanda-tanda beriman kepada Allah swt dan Akherat.</p>
<p>Sesampai di rumahnya, orang miskin ini menjelaskan maksudnya itu. Siti Fathimah RA jelas bingung karena memang kelurganya berkurangan. Beliau ini terus mencoba mencari jawabannya, dan tidak sengaja beliau ketika memegang kalungnya itu. Dan tidak banyak berpikir pandang lebar, beliau menyerahkan itu. Jelas orang miskin tidak bisa menerimanya, karena yang diminta adalah makanan. Beliau menyuruhnya untuk bertemu kembali dengan Rasulullah SAW tentang hal. Bisa kita bayangkan, kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya itu diberikan kepada orang lain. Sifat yang menunjukkan bahwa memberikan pemberian yang lebih dicintainya telah diwujudkan oleh Siti Fathimah RA.</p>
<p>Orang miskin ini menemui lagi, dan menjelaskan perkaranya. Dan menyerahkan kalung dari Siti Fathimah RA itu. Bisa kita bayangkan, bagaimana Rasulullah SAW terkejutnya dengan hal ini. Rasulullah SAW jelas termenung, bersyukur dan bercampur haru menjadi satu. Bersyukur karena anaknya telah menjadi seorang perempuan yang sangat mulia, dan terharunya adalah Rasulullah SAW tahu betul itu adalah kalung pemberian istrinya yang sangat dicintainya. Coba kita bayangkan, kalau kita mendapatkan baju pemberian kita untuk anak kita, terus sudah ada ditangan orang lain. Kita akan marah sama anak kita. Tetapi Rasulullah SAW tetap menunjukkan sifat tauladannya.</p>
<p>Akhirnya Rasulullah SAW mempersilahkan kepada orang miskin itu untuk menjualnya. Dan ada seorang Shahabat RA yang membelinya dan ditukar dengan makanan dan barang-barang yang diperlukannya untuk orang miskin ini. Tetapi jelas bahwa hal itu bukan untuk keperluannya, tetapi karena hanya membantu orang miskin itu. Sesampainya di rumah Shahabat itu menyuruh kepada pembantunya untuk menyerahkan kalung ini kepada Rasulullah SAW, karena kalau diserahkan kepada siti Fathimah RA tidak pada tempatnya. Dan sampaikan ini merupakan hadiah dari shahabat itu, dan pembantunya itu dibebaskan dari majikannya itu sebagai hadiah kalau memang kalung itu diterima oleh Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW menerima kalung itu, dan menyerahkan kembali kepada Siti Fathimah RA.</p>
<p>Bisa kita bayangkan, ada seorang shahabat RA yang sangat berhati-hati untuk menyerahkan kalung itu karena takut dengan fitnah, dan bahkan telah bebasnya seorang pembantu dari ikatan dengan majikannya, orang miskin telah mendapatkan apa yang diperlukannya dan bahkan berlebih, dan anak seorang Rasul memberikan pengorbanan yang luar biasa. Itu kisah yang sangat terkesan. Dan banyak hikmah yang dapat kita peroleh.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita banyak kisahkan dari para shahabat RA untuk kita dan dapat memberikan dorongan atau spirit perubahan kehidupan kaum muslimin di masa depan. Mudah-mudah kisah-kisah lebih memahami terhadap karakter utama manhaj generasi shahabat RA, kerja manhaj Shahabat RA dan pikir generasi itu.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=70&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesabaran seorang istri Shahabat RA dan melahirkan anak-anak sholeh</title>
		<link>http://usahadawah.com/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 12:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalhah]]></category>
		<category><![CDATA[anak-anak sholeh]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat RA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Anas r.a. berkata: Terjadi putra Abu Thalhah sakit, maka ketika Abu Thalhah telah keluar (bepergian) mendadak matilah putranya. Kemudian Abu Thalhah kembali bertanya pada isterinya: Bagaimanakah keadaan putra­ku? Jawab Ummu Sulaim (ibu anak itu): Ia lebih tenang keadaanya dari semula. Kemudian dihidangkan makan, lalu Abu Thalhah makan, dan berhubungan dengan Ummu Sulaim.
Kemudian tatkala Abu Thalhah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anas r.a. berkata: Terjadi putra Abu Thalhah sakit, maka ketika Abu Thalhah telah keluar (bepergian) mendadak matilah putranya. Kemudian Abu Thalhah kembali bertanya pada isterinya: Bagaimanakah keadaan putra­ku? Jawab Ummu Sulaim (ibu anak itu): Ia lebih tenang keadaanya dari semula. Kemudian dihidangkan makan, lalu Abu Thalhah makan, dan berhubungan dengan Ummu Sulaim.</p>
<p>Kemudian tatkala Abu Thalhah sudah merasa puas, berkata Umu Sulaim: Lurupilah anak itu (kuburkanlah anak itu). Ke­mudian pada pagi harinya Abu Thalhah pergi memberi­tahukan tentang halnya semalam pada Rasulullah. Nabipun bertanya: Pengantinankah kau semalam? Jawabnya: Ya. Ma­ka sabda Nabi s.a.w. ALLAHUMMA BAARIK LAHUMAA. (Ya Allah berilah berkat pada kedua suami isteri itu).</p>
<p><span id="more-182"></span>Mendadak dari persetubuhan yang semalam itu lahirlah seorang putra. Maka segera Abu Thalhah memerintahkan kepada Anas untuk membawa anak itu kepada Rasulullab s.a.w. de­ngan membawakan beberapa biji kurma, lalu diterima oleh Rasulullah s.a.w. dan dikunyah kurma itu kemudian dima­sukkan ke dalam mulut anak itu dan diberi nama &#8220;Abdullah&#8221;. (HR Bukhari, Muslim)­</p>
<p>Dan dalam riwayat Imam Bukhari, berkata putra ‘Ujainah lalu berkata salah seorang dari golongan Anshor kemudian saya melihat 9 orang anak, kesemuanya telah hafadh Al-qur&#8217;an, yakni dari para putra Abdullah yang lahir.</p>
<p>Dan dalam riwayat Muslim: Ketika meninggalnya putra Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, berkata Umu Sulaim kepada keluarganya: Jangan diceriterakan hal ini kepada Abu Thalhah, biarlah saya sendiri yang memberi tahu kepadanya. Maka ketika datang, segera ia menghidangkan makanan ‘asja&#8217;, kemudian diajaknya bergurau, hingga terjadilah persetubuhan.</p>
<p>Kemudian setelah Abu Thalhah merasa puas barulah ia betkata: Hai Abu Thalhah bagaimana pendapatmu kalau seseorang meminjamkan sesuatu kepada satu keluarga, tiba-tiba diminta kembali pinjamannya itu, apakah boleh keluarga yang dipinjami menolak? Jawab Abu Thalhah: Tidak boleh. Berkata Ummu Sulaim: Relakan putramu kepada Allah, Maka marahlah Abu Thalhah sambil berkata: Mengapakah kau sembunyikan berita itu hingga saya berlumuran begini baru kau beri tahu? Maka segera Abu Thalhah memberitahukan kepada Rasulullah s.a.w. segala kejadian malam itu. Rasulullah s.a.w. berdo&#8217;a: BAARAKALAAHU FlI LAILATIKUMAA (Semoga Allah memberkahi kamu berdua dalam harimu itu).</p>
<p>Kemudian mengandunglah Ummu Sulaim dari persetubuhan malain itu. Kemudian terjadi Abu Thalhah pergi bersama Rasulullah dengan Umu Sulaim, dan ketika akan kembali masuk kota Madinah mendadak Ummu Sulaim merasa perut akan bersalin, hingga harus tertinggal. Abu Thalhah berdo&#8217;a : Ya Tuhan, Engkau mengetahui bahwa saya senang jika keluar kota atau masuk ke kota bersama Rasulullah s.a.w. dan kini saya tertahan sebagaimana yang Kau ketahui.</p>
<p>Tiba?tiba Ummu Sulaim berkata: Hai Abu Thalhah rasa sakit perutku kini telah hilang, maka mari kita berjalan terus, dan mulai terasa kembali perutnya ketika telah masuk kota Madinah. Maka disanalah Umu Sulaim melahirkan seorang anak laki?laki, lalu ibuku (Umu Sulaim) berkata: Tidak boleh diteteki (disusui) oleh siapapun sebelum kau bawa kepada Rasulullah s.a.w. maka pagi?pagi benar saya bawa bayi itu kepada Rasulullah s.a.w. yang kemudian oleh Rasulullah s.a.w. ditahnikkan (menyuapkan makanan yang telah dikunyah pada bayi itu dan dinamai &#8220;Abdullah&#8221;)</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush  Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=182&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kesabaran-seorang-istri-shahabat-ra-dan-melahirkan-anak-anak-sholeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umar Minta Do’a Kepada Seorang Yang Berbakti Pada Ibunya Dari Yaman</title>
		<link>http://usahadawah.com/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 12:29:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Berbakti Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Umar RA]]></category>
		<category><![CDATA[Yaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Usair bin Amru berkata: Adalah umar bin alchotthab jika kedatangan rombongan orang-orang Yaman, bertnya kepada mereka: Adakah di antara kamu seorang bernama Uwais bin Aamir? Sehingga ketika ia bertemu bertanya: Engkau Uwais bin Aamir? Jawabnya:  Ya. Engkau dari suku Murod dari Qoron? Jawabnya: Ya. Dahulunya engkau belang sekarang kemudian sembuh, hanya tinggal sebesar dirham? Jawabnya: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Usair bin Amru berkata: Adalah umar bin alchotthab jika kedatangan rombongan orang-orang Yaman, bertnya kepada mereka: Adakah di antara kamu seorang bernama Uwais bin Aamir? Sehingga ketika ia bertemu bertanya: Engkau Uwais bin Aamir? Jawabnya:  Ya. Engkau dari suku Murod dari Qoron? Jawabnya: Ya. Dahulunya engkau belang sekarang kemudian sembuh, hanya tinggal sebesar dirham? Jawabnya: Ya. Masih ada ibumu?  Jawabnya: Ya. Berkata Umar: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Akan datang kepadamu seorang bernama Uwais bin Aamir bersama rombongan orang-orang Yaman, ia dari suku Murod dari Qoron, dahulunya ia belang, kemudian sembuh kecuali sebesar dirham, ia masih beribu dan sangat bakti pada ibunya, kalau ia menghendaki sesuatu oleh Allah tentu akan memberinya. Kalau dapat minta do&#8217;a istighfar padanya maka jangan kaulepaskan.</p>
<p><span id="more-186"></span>Umar berkata: Bacakan istighfar untukku. Maka. Uwais membaca istighfar untuk Umar. Kemudian Umar bertanya: Akan ke manakah engkau? Jawabnya: Ke Kufah. Berkata Umar: Sukakah saya kirim surat kepada walikota di sana, supaya membantu dan memberi hajat kebutuhanmu? Jawabnya: Saya lebih suka menjadi rakyat jelata tidak terkenal. Maka pada tahun kemudiannya, seorang terkemuka dari mereka pergi berhaji dan bertamu pada Umar, maka ditanya tentang Uwais? Jawab orang.itu: Saya tinggalkan ia cumpang?camping tidak kecukupan.</p>
<p>Berkata Umar: Saya telah mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda: Nanti akan datang kepadamu Uwais bin Aamir bersama rombongan orang?orang Yaman, dia dari suku Murod dari Qoron, dahulunya ia belang kemudiansembuh kecuali sebesar dirham. Ia masih beribu dan sangat ta&#8217;at pada ibunya. Andaikan is minta sesuatu pada Allah pasti akan diberinya. Kalau dapat mintalah do&#8217;a istighfar padanya. Maka ketika bertemu dengan Uwais, dia berkata: Bacakanlah do&#8217;a, istighfar untukku? Jawab Uwais: Engkaulah yang baru datang dari bepergian dan beribadat, maka bacakan istighfar untukku. Apakah engkau bertemu dengan Umar? Jawabnya: Ya. Maka dibacakan istighfar oleh Uwais. Kemudian banya orang mengenal padanya. Dan ketika itu Uwais lalu menjauh darl orang?orang, supaya tidak terganggu tujuanya. <strong>(Muslim)</strong></p>
<p>Dan dalam riwayat Muslim dari Usair bin Djabir: Ketika orang?orang Kufah mengutus suatu rombongan kepada Umar, ada di antara mereka seorang mengejek Uwais, maka Umar berkata: Apakah ada di antara kamu seorang dari Qoron? Maka datanglah orang itu, berkata Umar: Sesungguhnya Rasulullah S.A.W. telah bersabda: Ada seorang dari Yaman akan datang kepada kamu, ia bernama Uwais tiada tertinggal di Yaman kecuali seorang ibunya. Dahulunya ia belang, tetapi lalu berdo&#8217;a kepada Allah, dan Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dirham atau dinar. Maka siapa bertemu kepadanya hendaknya minta dibacakan, do&#8217;a istighfar baginya. Dalam lain riwayat lain Umar r.a. berkata: sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah S.A.W. bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik orang tabi&#8217;in ialah seorang bernama Uwais, yang masih mempunyai ibu, yang dahulunya ia belang. Maka suruhlah ia membacakan istigfar untuk kamu.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=186&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/umar-minta-do%e2%80%99a-kepada-seorang-yang-berbakti-pada-ibunya-dari-yaman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anugrah Allah swt ketika seorang shahabat menjamu makanan saat perang khandaq</title>
		<link>http://usahadawah.com/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 12:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Khandaq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami sedang menggali parit Khondaq, tiba-tiba ada tanah yang keras tidak dapat dipecahkan dengan kapak, sehingga kami datang memberitahukan kepada Nabi s.a.w. : Ada tanah keras tidak dapat kami pecahkan dengan kapak kami. Rasulullah s.a.w.bersabda: Saya sendiri akan turun, kemudian ia bangun dan mengganjal perutnya dengan batu, karena tiga hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami sedang menggali parit Khondaq, tiba-tiba ada tanah yang keras tidak dapat dipecahkan dengan kapak, sehingga kami datang memberitahukan kepada Nabi s.a.w. : Ada tanah keras tidak dapat kami pecahkan dengan kapak kami. Rasulullah s.a.w.bersabda: Saya sendiri akan turun, kemudian ia bangun dan mengganjal perutnya dengan batu, karena tiga hari tidak makan, kemudian Nabi s.a.w. memegang linggis dan memukul tanah itu, mendadak seketika itu juga hancur bagaikan debu yang dihamburkan.</p>
<p><span id="more-178"></span>Kemudian saya minta izin: Ya Rasulullah, izinkan saya pulang ke rumah. Dan sesampainya di rumah saya berkata kepada isteriku: Saya melihat Rasulullsh s.a.w. sangat lapar dan tidak dapat ditahan, apakah kau, mempunyai sesuatu? Jawabnya: Ada tepung gandum sedikit dan seekor kambing. Maka segera saya sembelih kambing dan sya&#8217;ir itupun segera dimasak sesudah ditumbuk, kemudian saya letakkan daging dalam kuali besar, kemudian saya datang kepada Nabi s.a.w. memberitahu: Ya Rasulullah, di rumah kami ada sedikit makanan, silahkan datang dengan satu dua orang saja. Nabi bertanya: Berapa banyak?</p>
<p>Maka saya beritahukan adanya makanan itu. Bersabda Nabi: Baik, itu cukup banyak. Katakan kepada isterimu: Jangan dibuka panci daging itu, dan jangan diturunkan adonan roti dari panpanan apinya, hingga saya datang. Maka Nabi bersabda: Marilah sekalian. Nabi memanggil para sahabat: Mari kamu sekalian. Maka bangunlah Muhajirin dan Anshor. Dan ketika saya telah kembali kepada isteriku, saya beritahu: Cilaka kau, Nabi telah membawa semua sahabat Muhajirin dan Anshor lsteriku bertanya: Apakah ia sudah bertanya kepadamu tentang banyakaya makanan kami? Jawabku: Ya. Maka Nabi mulai mempersilahkan orang?orang.</p>
<p>Masuklah kamu dan jangan berdesakan, maka Nabi mulai memotong roti dan menyendok daging dari kuali, kemudian menutupnya kem­bali dan menghidangkannya kepada para sahabatnya. Ke­mudian kembali memotong dan menyendok dari kuali itu hingga kenyang semua yang hadir, dan masih ada sisa. Ke­mudian Nabi bersabda: Makanlah itu, dan bagi-bagikan kepada orang?orang karena kini musim paceklik dan banyak orang kelaparan. (Buchary, Muslim).</p>
<p>Dalam riwayat lain: Djabir r.a. berkata: Pada waktu kami menggali parit Khondaq, saya melihat Nabi s.a.w. sedang kelaparan. Maka segera saya pulang kepada isteriku dan berkata: Saya lihat Rasulullah s.a.w. dalam keadaan lapar. Maka segera isteriku mengeluarkan segantang gandum, dan saya sembelih kambing kami. Kemudian saya tumbuk gandum itu, dan sesudah saya potong?potong kambing itu saya masukkan ke dalam kuali besar, dan segera saya akan kembali kepada Rasulullah s.a.w. maka berkatalah istriku: Janganlah kamu menjelaskan halku kepada Rasulullah bersama pengiring?pengiringnya.</p>
<p>Maka saya segera datang pada Rasulullah, dan berbisik: Ya Rasulullah saya telah menyembelih kambing kecil dan memasak satu sho&#8217; sya&#8217;ir, silahkan datang dengan berapa orang saja. Tiba?tiba Rasulullah berseru: Hai ahli Khondaq, Djabir membuat selamatan, maka marilah kamu sekalian. Dan Nabi berpesan kepada saya Jangan kamu turunkan kualimu, dan jangan dipotong roti hingga saya datang. Maka saya kembali lebih dahulu memberitahu kepada isteriku. Berkata isteriku: Salahmu sendiri tidak me nurut pada saya. Jawabku: Saya sudah membisikkan&#8217; kepada Nabi s.a.w. Kemudian Nabi datang, diikuti oleh para sahabatnya, dan oleh isteriku dihidangkan masakan rotinya, maka Rasulullah meniup roti itu untuk memberkahinya, kemudian pergi ke tempat kuali juga meludahinya sedikit dan berdo&#8217;a supaya barokah. Kemudian Nabi bersabda: Panggillah seorang membuat roti bersama kau dan menyendok dari kuali, tetapi jangan diturunkan dari dapur. Dan ketika itu mereka ada seribu orang. Djabir berkata: Saya berani sumpah: Demi Allah mereka semua kenyang makang hinnga meninggalkan tempat kami. Dan kuali kami masih terdengar suara masakan di dalamnya sebagaimana semula sebelum di sendok, demikian pula adonan kami masih banyak dapat buat roti.</p>
<p>[Sumber: Kitab Riyadhush Sholihin]</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=178&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/anugrah-allah-swt-ketika-seorang-shahabat-menjamu-makanan-saat-perang-khandaq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

