<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Soal-Jawab</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/komentar-fatwa-salafi/soal-jawab/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menurut Jamaah Tabligh, khuruj itu kewajiban bukan? Kalau dakwah, oke lah kewajiban setiap mukmin. Tapi metode khuruj ini kewajiban bukan?</title>
		<link>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 07:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan di myQuran:
http://myquran.org/forum/index.php/topic,62873.msg1900611.html#msg1900611
Sdr. dan kawan-kawan,
Da&#8217;wah merupakan tanggung jawab kaum muslimin, dan metoda untuk menjalankan da&#8217;wah ini beragam untuk dilakukan. Tentunya orang-orang yang mempunyai akal dan berpikiran akan bertanya-tanya kenapa jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA bisa tersebar ke berbagai lapisan dan daerah, padahal di jaman itu tidak ada media seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan di myQuran:</p>
<h5>http://myquran.org/forum/index.php/topic,62873.msg1900611.html#msg1900611</h5>
<p>Sdr. dan kawan-kawan,</p>
<p>Da&#8217;wah merupakan tanggung jawab kaum muslimin, dan metoda untuk menjalankan da&#8217;wah ini beragam untuk dilakukan. Tentunya orang-orang yang mempunyai akal dan berpikiran akan bertanya-tanya kenapa jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA bisa tersebar ke berbagai lapisan dan daerah, padahal di jaman itu tidak ada media seperti yang sekarang, tidak ada TV, tidak internet, tidak ada radio? Kenapa di jaman itu bisa tersebar dengan luas, padahal juga jika dilihat di jaman itu awalnya sangat lemah dan jumlahnya sedikit? Kenapa hal itu terjadi?</p>
<p><span id="more-258"></span>Terus juga akan bertanya lagi kepada bangsa kita sendiri. Kenapa Al-Islam bisa tersebar di Indonesia? Bukankah di Indonesia mayoritas bukan beragama Islam sebelumnya, melainkan agama hindu ataupun anisme? Kenapa bisa tersebar di jaman itu? Islam tidak disebarkan melalui burung ataupun berita-berita di media? Kenapa bisa tersebar ke seluruh nusantara? Kenapa hal itu terjadi?</p>
<p>Kenapa meskipun media banyak, TV, Internet, Radio, tetapi kenapa banyak juga orang-orang muslim yang berpindah ke dalam agama lain? Kenapa hal itu bisa terjadi? Begitupun dengan orang Islam yang pergi ke Eropa, begitu pindah dulu-dulu banyak yang berubah, yang menggunakan jilbab akhirnya menggunakan celana bikini seperti mereka yang ada di Eropa kebanyakannya? Kenapa hal itu terjadi? Kenapa juga ada orang-orang Indonesia dari jawa yang pergi ke Australia, awalnya mereka itu sholat, tetapi lama-lama turun-turunan mereka lupa dengan agama Al-Islam yang mulia. Kenapa hal itu terjadi? Bukankah telah banyak kitab dicetak?</p>
<p>Khuruj itu salah satu metoda penyebaran, dan juga menyebarkan da&#8217;wah melalui media cetak/elektronik itu metoda juga. Kedua-duanya mempunyai peran dalam penyebaran Islam, tetapi tentunya kita harus memahami karakter-karakternya. Kita tidak mungkin melepaskan metoda yang satu, dikarenakan ada metoda lainnya. Begitupun kita tidak mungkin meninggalkan metoda yang asli, karena begitu banyak metoda pilihan lainnya. Metoda yang satu tentunya akan bersifat menyeluruh untuk ummat, tetapi metoda lainnya hanya bisa dijalankan secara pribadi-pribadi yang memang mampu.</p>
<p>Khuruj ini tentunya mempunyai pasangannya, oleh karena itu perlu juga memperhatikan pasangannya yaito maqomi sebagai tempat kita membuat kerja da&#8217;wah di tempat sendiri, sedangkan Khuruj untuk melakukan penyebaran da&#8217;wah Islam ke tempat lain. Khuruj ini jelas merupakan pola penyebaran yang asli, karena di jaman Nabi dan juga para Shahabat RA ini merupakan pola yang ada bahkan jika kita membaca kisah-kisah para Ulama, maka khuruj ini merupakan hal yang biasa, seperti halnya ketika penyebaran Islam di nusantara, tentunya para Ulama itu datang bukan dengan menyebarkan buletin ataupun media lainnya.</p>
<p>Tentunya aktifitas da&#8217;wah itu sendiri beragam ketika dijalankan ketika khuruj ataupun maqomi, tentunya juga perlu bertemu langsung dengan kaum muslimin khususnya ataupun manusia lainnya. Cukup aneh kita mengajak kaum agama lain, sedangkan kita tidak mengingatkan ummat kaum muslimin sendiri. Dalam da&#8217;wah ini tentunya ada yang disampaikan melalui (1) penjelasan umum secara ijtimaiyyah (ceramah umum), ada juga dalam bentuk (2) khususi bertemu ke kalangan yang khusus seperti alim, ustadz, sesepuh, ataupun masyarakat yang perlu dikunjungi (3) da&#8217;wah umumi dimana kita bertemu dengan kaum muslimin secara langsung apakah di rumahnya ataupun di jalanan, (4) da&#8217;wah secara infirodhiyyah, dimana bisa dari hati ke hati untuk menyampaikan agama ketika di masjid atau sedang tenang.</p>
<p>Khuruj dan aktifitas da&#8217;wah baru akan bermakna jika dilakukan bertemu langsung serta juga dengan biaya sendiri dan jiwa sendiri. Lalu kita berpikir, bagaimana dengan awalnya Al-Islam, apakah langsung bertemu? Jelas kita akan menjawab bertemu dengan langsung, dan tersebarnya melalui perjalanan itu sendiri.</p>
<p>Jadi Khuruj dan aktifitas da&#8217;wah langsung itu merupakan metoda asli yang tidak boleh berhenti untuk ummat Islam, tetapi bukan berarti metoda pilihan lainnya tidak perlu diperhatikan, seperti TV, Radio, CD dsb, tetapi metoda pilihan ini juga tidak boleh dijadikan sebagai pengganti dari metoda asli yang sebenarnya telah ada dari awal perjalanan da&#8217;wah Nabi kita sampai penyebarannya di Indonesia dulu.</p>
<p>Dan karena mulai ditinggalkan, maka begitu banyak kaum muslimin yang meninggalkan amal-amal agama kita sendiri. Sehingga jika banyak kaum muslimin menjalankan khuruj dan maqomi ini kurang lebih 100.000 rombongan setiap tahun, diharapkan masjid-masjid akan makmur dengan amal-amal agama dan banyak kembali kaum muslimin yang mengamalkan agama.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=258&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>63</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa pusat usaha da&#8217;wah di India, tidak di Arab?</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 07:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Usaha Da'wah dan Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan, dan kami mencoba berbagi pandangan dengan sdr. sekalian.
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Mari kita ungkap lebih dalam perihal pertanyaan ini, dan kita jangan termasuk seperti bani Israil yang menanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman itu terlahir dari Arab tidak dari bani Israil. Pertanyaan ini terlontar sangat wajar karena banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan, dan kami mencoba berbagi pandangan dengan sdr. sekalian.</p>
<p>Assalamu ‘alaikum wr. wb.</p>
<p>Mari kita ungkap lebih dalam perihal pertanyaan ini, dan kita jangan termasuk seperti bani Israil yang menanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman itu terlahir dari Arab tidak dari bani Israil. Pertanyaan ini terlontar sangat wajar karena banyak Nabi lahir di kalangan bani israil, dan memang dari turunan Nabi Ishak As ini sangat banyak Nabi. Sedangkan dari Nabi Ismail As hanya satu Nabi saja, yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman.</p>
<p>Ummat Islam ini bukan hanya berada di arab, tetapi sudah sangat tersebar ke berbagai negara. Semua sejarah mencatat dengan baik perihal da&#8217;wah Abi Waqash RA sampai ke negera Cina. Atau kisah-kisah lainnya. Kita bisa bayangkan dengan pikiran yang normal, tanpa ada pesawat atau kendaran yang sangat hebat saat itu, tetapi kaum muslimin telah menembus negara-negara untuk menyampaikan agama Islam yang mulia ini. Jika kita perhatikan daratan yang ditempuh, gunung yang tinggi dan suhu yang dingin, tetapi mereka terus bergerak ke negara-negara jauh. Kira-kira SEMANGAT APA yang menjadikan mereka berani meninggal tanah air dengan waktu yang sangat panjang itu. Hal ini bisa terjadi karena PIKIR yang menghujam ke dalam diri mereka seperti mana PIKIR NABI untuk menyebarkan Islam ke seluruh daerah dan tempat. Apa PIKIR NABI itu? Allah swt dengan jelas dan lugas menjelaskan pikir dan kerisauan beliau itu dalam ayat Al-quran sendiri.</p>
<p><span id="more-256"></span>Perhatikan dengan ayat At-Taubah terakhir 128-129:</p>
<p><strong>&#8220;sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: &#8220;Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki &#8216;Arsy yang agung&#8221;. (At-Taubah: 128-129).</strong></p>
<p>Para Shahabat RA dan juga para Ulama dulu sangat memahami perihal risau ini, mereka ini menyelami kisah Nabi bagaimana ke thaif, mereka ini menyelami kisah Nabi ketika mengajak kaumnya sendiri di mekkah, mereka ini menyelami bagaimana hijrah Nabi ke Madinah, bagaimana keluarganya sendiri ada yang menghina dan mau merencanakan membunuhnya. PADAHAL apa yang diinginkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, yang mulia ini. Sebuah keselamatan dan keimananan bagi ummat manusia. Nabi kita bukan mau harta yang dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Jadi para Shahabat dan juga para Ulama berani untuk berpergian yang jauh untuk menyebarkan Islam ini dengan harta dan jiwa mereka sendiri. Silahkan pelajari kisah-kisah penyebaran Islam ke Indonesia, dan terutama dengan kehadirannya orang-orang Arab di Indonesia. Kalangan Arab ini sangat berperan dalam penyebaran Islam, dan menurut sejarah banyak dari kalangan Hadramaut yang ke Indonesia.</p>
<p>Kemajuan kaum muslimin di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA yang signifikan yaitu setelah ditetapkannya tempat berhimpun dan menjalankan aktifitas ijtimaiyyah kaum muslimin, Masjid. Masjid ini yang menjadi titik central Utama di jaman itu. Bahkan banyak penjelasan tolok-ukur kaum muslimin dapat dilihat dari kedatangannya ke masjid. Dan banyak ayat dan juga hadist yang menjelaskan keutamaan terhadap masjid ini. Jika Allah swt dan juga Nabi kita menekankan perkara masjid, maka tentunya masjid ini mempunyai peran sangat penting bagi kehidupan kaum muslimin dari masa ke masa. Kita dapat mempelajari perihal keutamaan masjid dalam kitab yang ditulis para Ulama.</p>
<p>Sehingga siapapun di dunia ini yang dapat menjalankan aktifitas-aktifitas masjid itu dengan baik seperti mana yang terjadi di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan terutama dengan aktifitas da&#8217;wah Islam, karena da&#8217;wah Islam ini mempunyai dampak perubahan dari ketidaktaatan menjadi ketaatan itu sendiri. Kita kaum muslimin sangat dianjurkan untuk menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat yang mungkar. Dari jelas da&#8217;wah itu merupakan aktifitas untuk melakukan perubahan dari yang tidak diridhoi menjadi yang diridhoi Allah swt. Sehingga jika da&#8217;wah ini dijalankan di masjid, maka dengan sendirinya pesan dan kesan masjid itu akan masuk ke dalam rumah-rumah kaum muslimin. Dan da&#8217;wah ini tidak mungkin dijalankan kecuali dengan ijtimaiyyah jika dilakukan di masjid kita.</p>
<p>Ada satu ayat yang sebenarnya cukup penting dipelajari dengan baik, bagi kaum muslimin yang menjalankan aktifitas da&#8217;wah ini, yaitu Ali-Imran:104. Dalam ayat ini terdapat kata &#8220;waltakum minkum ..&#8221;, terdapat dua penjelasan terhadap ayat ini oleh kalangan Ulama yaitu &#8220;Membentuk sebagian dari kaum muslimin &#8230;.&#8221; Dan &#8220;Membentuk Ummat Islam sebagai Ummat Da&#8217;wah ..&#8221;. Tetapi keduanya pada prinsipnya adalah sama untuk mendorong aktifitas da&#8217;wah itu sendiri. Yang namanya &#8220;membentuk ..&#8221; tentunya mencetak atau menjadikan seseorang untuk terjun dalam da&#8217;wah. Jika dilakukan di masjid, maka secara kemestian perlu dilakukan tertibnya atau metodanya dengan baik. Dalam hal ini kita sendiri dapat menyusun  metodanya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, tetapi bukan berarti kita harus berpegang terus dengan prosedur kita jika ada yang membawa metoda yang lebih mudah dan menyeluruh.</p>
<p>Masjid Nabawi di Arab belum menjadikan sebagai pusat da&#8217;wah, tetapi masih dijadikan sebagai pusat pengajaran dan pendidikan (ta&#8217;lim) Islam. Karena tentunya para Ulama sendiri sangat memahami apa pengaruh (efek) dari da&#8217;wah itu sendiri. Da&#8217;wah itu akan memberikan perubahan ke setiap lingkungan masyarakat, dan tentunya akan memberikan dampak orang-orang untuk berdatangan ke masjid itu sendiri dengan sukarela. Kaum muslimin sekarang juga datang ke masjid Nabawi, itupun sebenarnya karena pengaruh da&#8217;wah (ajakan) meskipun caranya mungkin dari kata-kata ringan. Sehingga banyak juga kaum muslimin akhirnya untuk belajar di masjid Nabawi. Tetapi jika menjadikan pusat da&#8217;wah, maka akhirnya akan disebarkan ke berbagai negeri untuk menyebarkan Islam. Dan nantinya secara automatis akan banyak orang datang ke masjid Nabawi ini, dan seterusnya kembali menyebarkan Islam. Dan akhirnya menggerakan semua aktifitas lainnya, seperti ta&#8217;lim, ibadah dan juga khidmat atau muamalat.</p>
<p>Waktunya akan datang, para Ulama di arab sendiri terutama yang mendukung usaha da&#8217;wah dan tabligh seperti Syeikh Abu Bakar Al-Jazairi juga sangat paham ini, tetapi perlu mempertimbangkan dengan hikmah dan dalam. Oleh karena itu beliau sendiri hanya menjelaskan ketika ditanya perihal usaha da&#8217;wah di masjid itu, bahwa usaha da&#8217;wah ini merupakan mutiara di akhir jaman. Jadi pengaruh da&#8217;wah dan ta&#8217;im sangat berbeda hasilnya. Waktunya akan datang dengan sendirinya, ketika sudah siap semuanya. Jika tidak, maka akan sangat mudah dihancurkan da&#8217;wah ini oleh musuh-musuh Islam itu sendiri. Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa perihal perahu merupakan pelajaran terpenting bagi kalangan ahli da&#8217;wah, agar semuanya berjalan dengan sederhana dan senyap, tetapi semuanya berjalan dengan jelas dan pasti. Pelajaran</p>
<p>Dan Maulana Ilyas Rah memulai dari masjid yang sangat sederhana di daerah Nizamuddin, dan sekarang tersebar ke seluruh dunia bahkan tembus negara-negara Eropa, Amerika dsb. Bahkan beberapa tahun yang silam kaum muslimin Inggris sangat berkeinginan membangun masjid markaz ini menjadi masjid yang indah dan besar, dan hal ini disampaikan kepada maulana Inamul Hasan Rah, tidak dapat diiijinkan oleh beliau. Dan bahkan beliau mendorong untuk membangun masjid besar dan megah di Inggris sendiri, dan hari ini menjadi perbincangan di Inggris akan menjadi masjid terbesar di Eropa yang dibangun kalangan da&#8217;wah dan tabligh. Dorongan Maulana Inamul Hasan Rah itu sekitar 15 tahun yang lalu.</p>
<p>Kita boleh berkeinginan dan merencanakan. Tetapi juga kita harus menyaqini bahwa Allah swt sendiri mempunyai rencana. Maulana Ilyas Rah hanya sebagai asbab saja untuk kaum muslimin, tetapi sebenarnya semua tertib itu telah tertulis dengan baik oleh para ulama dulu. Dan beliau ini hanya perangkai dari sumber-sumber itu yang saling berkaitan untuk menjadi sebuah model metoda da&#8217;wah dan tabligh, dan sekarang ijtihad itu telah banyak memberikan kesan dan pesan ke seluruh dunia, termasuk di kalangan arab sendiri termasuk para Ulama. Dan jika banyak mempelajari siapa Maulana Ilyas dan keluarganya. Kita akan mengetahui bahwa mereka juga merupakan turunan dari kalangan para Shahabat RA.</p>
<p>Thanks,</p>
<p>Haitan</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=256&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terhadap Ucapan Salaf…</title>
		<link>http://usahadawah.com/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 03:54:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[ahli bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kaum Muslimin Yang Budiman,
Kami mendapatkan pandangan dalam satu Blog, tetapi yang lebih MENJADI PERHATIAN adalah &#8220;SEBAGIAN RIWAYAT TENTANG PERINGATAN PARA SALAF AGAR JANGAN DUDUK DAN BERGAUL DENGAN AHLI BID&#8217;AH&#8221;.
Jika kami yang memberikan pandangan berimbang selalu mendapatkan hal-hal yang kurang kembali. Oleh karena itu, kami nukilkan di bawah ini yang berasal dari Blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,<br />
Kaum Muslimin Yang Budiman,</p>
<p>Kami mendapatkan pandangan dalam satu Blog, tetapi yang lebih MENJADI PERHATIAN adalah &#8220;<strong>SEBAGIAN RIWAYAT TENTANG PERINGATAN PARA SALAF AGAR JANGAN DUDUK DAN BERGAUL DENGAN AHLI BID&#8217;AH&#8221;.</strong></p>
<p>Jika kami yang memberikan pandangan berimbang selalu mendapatkan hal-hal yang kurang kembali. <strong>Oleh karena itu, kami nukilkan di bawah ini yang berasal dari Blog Salafi Wahabi lainnya, &#8220;SALAH KAPRAH TERHADAP UCAPAN SALAF&#8221;</strong></p>
<p><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- </strong></p>
<p><strong>SEBAGIAN RIWAYAT TENTANG PERINGATAN PARA SALAF AGAR JANGAN DUDUK DAN BERGAUL DENGAN AHLI BID&#8217;AH </strong><a href="http://alatsar.wordpress.com/2007/04/27/jamaah-tabligh-dalam-sorotan-tajam/">http://alatsar.wordpress.com/2007/04/27/jamaah-tabligh-dalam-sorotan-tajam/</a></p>
<p>Sebelum saya membawakan sebagian riwayat dari para salaf tentang larangan duduk dan bergaul dengan ahli bid&#8217;ah akan saya bawakan riwayat dari ibu kita Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: <em>&#8220;Dia yang menurunkan kepadamu al kitab. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (jelas) dan itu adalah induk kitab dan yang lainnya adalah mutasyabihat (samar)&#8221; hingga ayat: &#8220;Dan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.&#8221; (Ali Imran: 7). Maka beliau bersabda: Bila kalian melihat orang-orang yang mencari-cari ayat-ayat yang mutasyabihat, maka merekalah yang disebutkan Allah dalam ayat ini dan berhati-hatilah terhadap mereka.</em> (HR. Bukhari dan yang lainnya).</p>
<p><span id="more-106"></span>Adapun dari atsar adalah ucapan Al Hasan dan Ibnu Sirin, keduanya berkata: <em>&#8220;Janganlah kalian duduk bersama para pengikut hawa nafsu, mendebat mereka dan jangan mendengar ucapan mereka.&#8221; </em>(Riwayat Ad Darimi dalam sunannya 1/110 dan Al Lalika`i dalam Syarh Ushul I&#8217;tiqad Ahlus sunnah wal jama&#8217;ah 1/133).</p>
<p>Abu Qilabah berkata: <em>&#8220;Jangan kalian duduk dan bergaul dengan ahlul bid&#8217;ah, karena aku merasa tidak aman kalau mereka akan membenamkan kalian dalam kesesatan dan mengaburkan kepada kalian banyak hal yang telah kalian ketahui.&#8221;</em> (Riwayat Ad Darimi 1/108 dan Al Lalika`i 1/134).</p>
<p>Yahya bin Abi Katsir berkata: <em>&#8220;Kalau engkau berpapasan dengan Ahli bid&#8217;ah di satu jalan, maka carilah jalan lain.&#8221;</em> (Riwayat Al Lalika`i 1/1137).</p>
<p>Abdullah bin Al Mubarak berkata: <em>&#8220;Hendaklah majlismu bersama orang-orang miskin dan janganlah engkau bermajlis dengan Ahlul bid&#8217;ah.&#8221;</em> (Al Lalika`i 1/137).</p>
<p>Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata: <em>&#8220;Siapa yang didatangi oleh seseorang dan meminta pendapatnya tapi dia malah menyuruh orang yang datang itu untuk mendatangi Ahli bid&#8217;ah, berarti dia telah menipu Islam. Hati-hati, jangan mendatangi Ahli bid&#8217;ah, karena mereka menghalangi kalian dari kebenaran.&#8221;</em> (Al Lalika`i 1/137).</p>
<p>Beliau berkata juga: <em>&#8220;Jangan engkau duduk bersama Ahlul bid&#8217;ah, karena aku takut laknat Allah turun kepadamu.&#8221; </em>(Al Lalika`i 1/137).</p>
<p>Beliau berkata lagi: <em>&#8220;Aku menemui manusia yang baik-baik, mereka semua adalah Ahlus sunnah dan mereka melarang bergaul dengan ahlul bid&#8217;ah.&#8221;</em> (Al Lalika`i 1/138).</p>
<p>Ibrahim bin Maisarah berkata: &#8220;Siapa yang menghormati Ahli bid&#8217;ah, berarti dia telah membantu untuk menghancurkan Islam.&#8221; (Al Lalika`i 1/139).</p>
<p>Al Hasan Al Bashri berkata: <em>&#8220;Melaknat Ahlul bid&#8217;ah dan orang fasiq karena kefasikannya bukan termasuk ghibah.&#8221;</em> (Al Lalika`i 1/140).</p>
<p>Ada seseorang bertanya kepada Sa&#8217;id bin Jubair tentang sesuatu tapi dia tidak menjawabnya. Ada yang menanyakan tentang sikapnya itu kepadanya, maka dia mengatakan: &#8220;Dia (si penanya) adalah Azayisyan (dalam bahasa Persia yang berarti dari mereka, yaitu dari ahlul bid&#8217;ah).&#8221; (Ad Darimi 1/109).</p>
<p>Mujaddid abad 20, syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam risalahnya kepada penduduk Qashim yang berisi tentang aqidahnya: &#8220;Dan saya berpendapat bahwa ahlul bid&#8217;ah harus diisolir dan dijauhi hingga mereka bertaubat.&#8221; (Rasa`ilusy Syakhshiyyah hal. 11 yang berisi kumpulan karangan-karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang dikumpulkan oleh Universitas Al Imam Muhammad bin Su&#8217;ud Al Islamiyyah).</p>
<p>Dan riwayat-riwayat tentang hal itu banyak sekali, maka dimana kedudukan orang-orang yang menyuruh para pemuda muslim dan orang awam yang mereka tidak memiliki ilmu untuk bergaul dengan jama&#8217;ah Tabligh dan mengambil ilmu dari mereka (padahal kelompok ini adalah ahlul bid&#8217;ah, -pent). Di mana kedudukan mereka di hadapan nash-nash (keteranga-keterangan) ini.</p>
<p>Hendaklah mereka takut kepada Allah karena para pemuda ini agamanya akan menjadi kabur dan hendaklah takut kepada ayat Allah yang berbunyi (yang artinya):<em>&#8220;Hendaklah mereka memikul dosa-dosa mereka secara sempurna dan dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak tahu sedikitpun bahwa mereka disesatkan. Ingatlah, amat buruk sekali apa yang mereka pikul itu.&#8221;</em> (An Nahl: 25).</p>
<p>(Waqafat hal. 17-41 dengan beberapa ringkasan)</p>
<p><strong>Jika kami yang memberikan PANDANGAN BERIMBANG selalu mendapatkan hal-hal yang kurang tepat kembali. Oleh karena itu, kami nukilkan di bawah ini yang berasal dari Blog Salafi Wahabi lainnya.</strong></p>
<p><strong>&#8220;SALAH KAPRAH TERHADAP UCAPAN SALAF&#8221;. </strong><a href="http://abusalma.wordpress.com/2007/11/06/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf/">http://abusalma.wordpress.com/2007/11/06/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf/</a></p>
<p>Seringkali kita mendengar atau membaca ucapan-ucapan hikmah ulama salaf, terutama yang berkaitan dengan pensikapan terhadap ahli bid&#8217;ah. Misalnya :</p>
<p align="justify">Al-Imam Al-Fudhail bin Iyyadh berkata :</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Siapa yang duduk dengan ahli bid&#8217;ah maka berhati-hatilah darinya dan siapa yang duduk dengan ahli bid&#8217;ah tidak akan diberi Al- Hikmah. Dan saya ingin jika antara saya dan ahli bid&#8217;ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya makan di samping yahudi dan nashrani lebih saya sukai daripada makan di sebelah ahli bid&#8217;ah</em>.&#8221; (Al Lâlikâ`i 4/638 nomor 1149)</p>
<p align="justify">Al-Imam Hanbal bin Ishaq berkata, saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata :</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada ahli bid&#8217;ah, duduk dan bergaul dengan mereka</em>.&#8221; (Al-Ibânah 2/475 nomor 495)</p>
<p align="justify">Al-Imam Al Barbahary berkata :</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Apabila tampak bagimu satu perkara bid&#8217;ah pada seseorang maka jauhilah dia sebab sesungguhnya yang dia sembunyikan darimu jauh lebih banyak dari yang dia tampakkan</em>.&#8221; (Syarhus Sunnah 123 nomor 148)</p>
<p align="justify">Dan masih banyak lainnya&#8230;</p>
<p align="justify">Sungguh ucapan para imam di atas adalah ucapan hikmah dan haq, sebagai upaya untuk menjaga kemurnian agama umat. Namun, suatu hal penting yang patut dicatat di sini adalah : ucapan para imam tersebut akan menjadi hikmah apabila ditempatkan pada proporsi dan tempatnya, sebab diantara makna hikmah adalah : <em>wadh&#8217;u asy-Syai` fil mahallihi</em> (menempatkan sesuatu pada tempatnya). Sesuatu yang tidak ditempatkan pada tempatnya adalah sia-sia, bahkan dapat memadharatkan.</p>
<p align="justify">Ironinya, betapa sering kita lihat sebagian pemuda dan sahabat kita, yang dibakar oleh semangat tanpa ilmu, menerapkan ucapan para ulama salaf dengan serampangan dan asal-asalan. Ketika bertemu dengan saudaranya seislam ia tidak mau salam maupun menjawab salam, tidak mau senyum, bersikap kaku lagi keras, dan sifat-sifat buruk lainnya. Anehnya, ketika ditanyakan sebab mereka melakukan ini, mereka menjawab bahwa mereka sedang menerapkan ucapan ulama salaf untuk menjauhi ahli bid&#8217;ah dan bersikap keras terhadap mereka.</p>
<p align="justify">Parahnya lagi, terhadap sesama ahlus sunnah, mereka halalkan <em>ghîbah</em> (menggunjing) dengan alasan <em>tahdzîr </em>(memperingatkan dari kesesatan), mereka halalkan <em>muqôtho&#8217;ah </em>(pemboikotan) dengan alasan <em>hajr </em>(isolir), mereka halalkan sikap keras dan bengis dengan alasan <em>tabdî&#8217; </em>(menvonis bid&#8217;ah) terhadap <em>hizbî mubtadi&#8217;</em>!? Mereka sibukkan diri dengan <em>tatabbu&#8217; al-Aktho&#8217;</em> (mencari-cari kesalahan) dengan alasan <em>jarh wa ta&#8217;dîl</em>!? Ketika ditanya, maka jawaban yang meluncur adalah : &#8220;<em>Bertetangga dengan yahudi dan nashrani lebih aku sukai daripada bertetangga dengan pengekor hawa nafsu (ahli bid&#8217;ah) karena ini menyebabkan hatiku berpenyakit</em>.&#8221; (Ucapan Imam Abu Musa dalam Al-Ibânah 2/468 nomor 469) dan ucapan semisal&#8230;</p>
<p align="justify">Akhirnya syiar mereka terhadap siapa saja yang menyelisihi mereka adalah :</p>
<p align="center">?????? ???????? ????? ??????? ???????? ???????? ????? ??????????</p>
<p align="center"><em>Tidak ada nasab pada hari ini dan tidak pula hubungan persahabatan</em></p>
<p align="center"><em>Perpecahan benar-benar telah melebar atas keretakan yang ada</em></p>
<p align="justify">Al-Ustadz Abu Sumayyah, ‘Abdur Ra&#8217;?f Muhammad <em>hafizhahullahu </em>mengabarkan : Setelah menyelesaikan ibadah ‘Umrah dengan keluargaku pada hari Kamis malam, 5 Juli 2007, saya menghadiri <em>durus</em> (pelajaran) Fadhîlatusy Syaikh Shâlih bin Muhammad al-Luhaidân <em>hafizhahullahu</em> (ketua Mahkamah Tinggi Agama Arab Saudi) di al-Haram al-Makki pada hari Jum&#8217;at Juli 2007 ba&#8217;da sholat Maghrib. Syaikh ketika itu menyampaikan ceramah yang bermanfaat tentang rukun Islam, kemudian diikuti sesi tanya jawab. Syaikh ditanya dalam salah satu sesi :</p>
<p align="justify">&#8220;Apa pandangan anda terhadap beberapa pemuda yang menggunakan ucapan para salaf berkenaan tentang <em>hajr </em>dan <em>tahdzîr</em> terhadap ahli bid&#8217;ah, dalam rangka untuk menjustifikasi (membenarkan) <em>hajr</em> dan <em>tahdzîr</em> mereka terhadap ahli sunnah, yang memiliki beberapa perbedaan dalam beberapa masalah dengan mereka (yang tidak melibatkan perbuatan bid&#8217;ah) atau di dalam suatu perkara yang ada <em>ikhtilâf</em> pendapat di dalamnya?&#8221;</p>
<p align="justify">Syaikh menjawab :</p>
<p align="justify">&#8220;Pemahaman ini tidak benar dan seorang thôlibul ‘ilmi tidak boleh mengikuti cara seperti ini di dalam berhubungan dengan orang-orang yang berbeda dengannya. Perbuatan ini disebabkan oleh karena kesesatan dan kejâhilan para pemuda ini. Allôhu a&#8217;lam&#8221; [http://madeenah.com]</p>
<p align="justify">Sungguh benar apa yang dinyatakan oleh Fadhîlatusy Syaikh Shâlih bin Muhammad al-Luhaidân <em>hafizhahullâhu</em>, bahwa tindakan seperti itu bukanlah tindakan para <em>thôlibul ‘ilmi</em>, namun tidak lebih tindakan dari para pemuda yang <em>jâhil</em> namun bersikap <em>muta&#8217;âlim </em>(sok berilmu) !!! Dan sikap seperti ini sungguhlah jauh dari sifat dan hakikat salaf. [Masalah hakikat dan sifat salaf, akan saya turunkan tersendiri dari buku al-‘Allâmah asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hâdi al-Madkholî yang berjudul "<em>Quth?f min Nu'?tis Salaf</em>", semoga Allôh memudahkannya].</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=106&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Questions Regarding Jama’ah Tabligh</title>
		<link>http://usahadawah.com/questions-regarding-jama%e2%80%99ah-tabligh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/questions-regarding-jama%e2%80%99ah-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 03:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[Questions Regarding Jama&#8217;ah TablighSumber : http://www.albalagh.net/qa/tablighqa.shtml 




Q 1.) For an ordinary Muslim (a businessman, a laborer, a farmer, a professional, etc.) who is not associated with a religious organization, is it Fard,     Wajib, or Mustahab to go out for three or forty days, etc. with Jama&#8217;ah     Tabligh?



A [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Questions Regarding Jama&#8217;ah TablighSumber : <strong>http://www.albalagh.net/qa/tablighqa.shtml </strong></p>
<hr size="1" noshade="noshade" />
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Q 1.)</strong> For an ordinary Muslim (a businessman, a laborer, a farmer, a professional, etc.) who is not associated with a religious organization, is it <em>Fard</em>,     <em>Wajib</em>, or <em>Mustahab</em> to go out for three or forty days, etc. with Jama&#8217;ah     Tabligh?</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr size="1" noshade="noshade" /><strong>A 1.)</strong> <em>Dawah</em> (inviting people to Islam) and <em>Tabligh</em> (conveying the Message) is a collective responsibility of the whole Ummah and an act of great reward as it has been declared a distinguishing characteristic of this Ummah by the Qur&#8217;an.[See Albaqarah 2:104, 110. Yusuf 12:108. Hamim Al Sajjdah 41:33]Dawah falls in two categories: <span id="more-104"></span></p>
<ol>
<li>Inviting Muslims to follow the religion. It has two levels:Special     or Individual. Every Muslim is required to inform his household and people under his care about religious instructions and to forbid them from performing the munkarat (evils). Quran and Hadith clearly declare it a mandatory duty of everyone. ["Everyone of you is a supervisor and everyone will be asked about those given in his supervision...." Hadith]In addition, if a particular person alone is in a position to influence another person, and there is a major expectation of his effectiveness, the first person is required to try to correct the behavior of the other person, even though the other person may not be his family member or subordinate. ["If anyone of you witnesses an evil, he should correct it by his hand. If he is not in a position to do so, then by his tongue. If he is not in a position to do so then by his heart. And that is the lowest level of <em>Iman</em>."     Muslim]This level of <em>Dawah</em> is <em>Fard Ayn</em> (mandatory individual duty).General or Collective. This involves addressing the     Muslims collectively to enjoin good and forbid evil. This is <em>Fard Kifayah</em> or     collective responsibility which means that it is a responsibility of everyone who is     capable of doing this kind of <em>Dawah</em> but if some people discharge this duty then the burden would be lifted from others. Otherwise, everyone would be in sin.This collective responsibility requires an organized effort designed to perform it according to the teachings of Shariah. The jurists have explained that if the Muslim government fails to perform this function, it would be the responsibility of the common Muslims to establish a group to discharge this responsibility. It does not mean that a formal association must be launched but it does mean that sufficient number of persons should come forward for this purpose whether or not they are part of a formal organization.</li>
<li>Inviting non-Muslims to Islam. Every Muslim in general and the particular group mentioned above, specially would be responsible for this <em>Dawah</em>.</li>
</ol>
<p>It should be noted that <em>Shariah</em> has not prescribed a special format for the <em>Dawah</em> effort. Whether it is performed by going to homes as Jama&#8217;ah Tabligh does, or through writings or publications, or through any other means, the responsibility would be discharged. This explains that it is not <em>Fard Ayn</em> for every Muslim to participate in the work of Tablighi Jamat because a) <em>Dawah</em> at the general level is not <em>Fard Ayn</em> and b) the particular style of work adopted by the Tablighi Jama&#8217;ah is not mandated by the <em>Shariah</em>. However, since the work of Tablighi Jama&#8217;ah, with the blessings of Allah, has been greatly beneficial and it has proven to be an effective means of countering the work of anti-religious forces, therefore cooperating with this Jama&#8217;ah and participating in its work to the maximum extent possible is an act of great reward. Doing it with balance and within the limits prescribed by the jurists is a very effective means of protecting ourselves and the Ummah.</p>
<p>There may be a situation in which participating in the work of this Jama&#8217;ah may become <em>Fard Ayn</em> for an individual. Consider the case of a person who has no religious training and who is ignorant of the basic religious teachings concerning his life. For him it is mandatory to seek the minimally necessary religious education and training. If such a person finds no other means of getting this basic instruction other than going out with the Tablighi Jama&#8217;ah, then for him it would be required to join this Jama&#8217;ah. If this person does have access to other means like sitting in the company of scholars, or joining a religious school, etc. then it would not be mandatory for him to join the Jama&#8217;ah. The participation would still be desirable because of the benefits that we have seen through experience.</p>
<hr size="1" noshade="noshade" />
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Q 2.)</strong> A person is working with a religious school or Masjid or is involved in a religious work individually, but he does not go out with the Jama&#8217;ah Tablighi. He also does not go door to door in his own neighborhood for the purpose of Tabligh, nor does he participate in <em>Jihad</em> (in Kashmir or elsewhere). At the same time, he does not     reject <em>Dawah</em> or <em>Jihad</em>. Is such a person a sinner for abandoning the     responsibilities of <em>Dawah</em> and <em>Jihad</em>?</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr size="1" noshade="noshade" /><strong>A 2.)</strong> The person of Prophet Muhammad, Sall-Allahu alayhi wa sallam, was the focal point of all good. He, single handedly, established the standards of excellence in all areas of life. Subsequently we see a division of work in the Ummah. Some scholars concentrated on Jihad or Dawah, others on Islamic schools, etc. If everyone is required to work only in one area, other areas will obviously suffer, while all are important for the mission of Prophethood. So the kind of person mentioned in this question cannot be declared a sinner for leaving the responsibilities of Dawah or Jihad.It should also be noted that different approaches appeal to different people. Some people are influenced by listening to a sermon, others through reading. For some, simple facts have a great appeal, others require in-depth academic discussion. So all approaches should continue for the benefit of their intended audiences.<br />
<hr size="1" noshade="noshade" />
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td><strong>Q 3.)</strong> Is the particular style of <em>Dawah</em> work started by Moulana Ilyas     (and used by Jama&#8217;ah Tabligh) established by evidence from the earlier Islamic period?</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<hr size="1" noshade="noshade" /><strong>A 3.)</strong> As was explained in the answer to question #1 above, Shariah has not mandated a particular format for <em>Dawah</em> work. Religious education, <em>Tabligh</em>, <em>Jihad</em>, etc. are different ways of discharging this collective responsibility and they are all important in their own right. The popular format chosen for a given function is an administrative matter. For example, today our religious schools offer instruction for ten months a year, for six days a week, for six hours a day. They also have exams at predetermined intervals. This arrangement has been found useful through experience but it was not used at the time of Prophet Muhammad, Sall-Allahu alayhi wa sallam, and one cannot find any evidence requiring it in the books of Hadith. However, since this arrangement is not considered mandated by Shariah, but it is only an administrative matter, therefore it cannot be considered a bid&#8217;a (innovation).The format adopted by Tablighi Jama&#8217;ah is also an administrative matter, and therefore, is permissible and it does not need any evidence in its favor as long as it is not considered mandated by Shariah. However, for our understanding, it is sufficient to note that all Prophets and Prophet Muhammad, Sall-Allahu alayhi wa sallam, himself had gone to the people to invite them to Islam. And Allah knows best.Written by Aleem Ahsan Aziz, Darul Ifta, Darul Uloom, Karachi.Comments by Justice Mufti Taqi Usmani</p>
<p>I concur with the above <em>Fatwa</em>. The discussion of <em>Fard Ayn</em> and <em>Fard Kifayah</em> included here is in accordance with the juristic evidence. However, it does not diminish the importance of the work of Tabligh and it should not be used as a basis for reluctance in this matter. In our times when the forces of evil are very active, the work of Tabligh and Dawah has assumed special importance and Masha-Allah Jama&#8217;ah Tabligh is, overall, discharging this responsibility very well. Therefore, Muslims should cooperate with it. At the same time, efforts should be continued to correct the overstatements (<em>ghuloo</em>) made by some of its members. And Allah knows best.</p>
<p>(Abridged and Translated into English by Khalid Baig. The responsibility for any error in translation does not rest with the Darul-Uloom.)</p></blockquote>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=104&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/questions-regarding-jama%e2%80%99ah-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soal Jawab: Seputar Jamaah Tabligh, bagian-2</title>
		<link>http://usahadawah.com/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-bagian-2/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 23:20:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Sufi Baru]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=87</guid>
		<description><![CDATA[ 
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Tulisan yang disampaikan Soal-Jawab Jama&#8217;ah Tabligh yang terdapat di http://muslim.or.id/soaljawab/manhaj/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-1.html Cukup menarik untuk dipelajari dan dibahas. Bagian yang kopikan ini merupakan bahasan yang sangat menarik, bahkan terdapat satu kaidah umum yang telah dilupakan oleh kaum muslimin.
TAKLID BUTA ALA SUFI 
Salah satu ajaran Sufi yang sangat populer ialah ketundukan mutlak kepada pemimpin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Tulisan yang disampaikan Soal-Jawab Jama&#8217;ah Tabligh yang terdapat di <a href="http://muslim.or.id/soaljawab/manhaj/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-1.html" target="_blank">http://muslim.or.id/soaljawab/manhaj/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-1.html</a> Cukup menarik untuk dipelajari dan dibahas. Bagian yang kopikan ini merupakan bahasan yang sangat menarik, bahkan terdapat satu kaidah umum yang telah dilupakan oleh kaum muslimin.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>TAKLID BUTA ALA SUFI </strong></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Salah satu ajaran Sufi yang sangat populer ialah ketundukan mutlak kepada pemimpin atau guru, benar ataupun salah perintah gurunya itu. Ali Wafa berkata, <em>&#8220;Murid yang sejati dalam berperilaku di hadapan syaikhnya, laksana mayat yang terbaring di hadapan petugas yang memandikannya.&#8221;</em> Al Ghazzali berkata, <em>&#8220;Hendaklah ia ketahui, mengikuti kesalahan gurunya bila benar salah, lebih bermanfaat daripada mengikuti pendapatnya, meski pendapatnya itu benar.&#8221;</em> (Ibid III/76).</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Kelihatannya, prinsip taklid buta ini juga dipegang oleh Jama&#8217;ah Tabligh. Dalam buku <em>Hikmah Usaha Hidayat</em>, karangan Muhammad Yunus Suraji Panidi, hal. 102 disebutkan, <em>&#8220;Jama&#8217;ah manapun yang datang dari luar negeri sekali pun, apabila mengusulkan atau mengajukan sesuatu yang baru dalam hal kerja Tabligh ini, hendaklah segera menghubungi Nizhamuddin (Markas Besar mereka di India), sebelum menerima dan mengamalkan apapun usulan itu, walaupun kelihatan baik.&#8221;</em></span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">Penanya: Abdul Halim Firhad<br />
Dijawab oleh: Abu Umair Muhammad Al Makassari (Alumni Ma&#8217;had Ilmi)</span></p>
<p><strong>Haitan Wrote:</strong></p>
<p>Tulisan di atas cukup menarik untuk dibahas, dan Insya Allah, kita akan mendapatkan hal yang menarik untuk sama-sama kita cermati bersama. <strong>Paragraph pertama merupakan pola kerja pengajaran/tarbiyyah, sedangkan paragrah yang kedua merupakan pola kerja ijtimaiyyah</strong>. Sehingga keduanya tidak ada hubungan sama sekali yang signifikan, apalagi dibuat sebuah kesimpulan untuk menilai. Mari kita ungkap perkara paragrap yang kedua bersama-sama.</p>
<p><span id="more-87"></span>Dalam paragrap kedua yaitu <em>&#8220;Jama&#8217;ah manapun yang datang dari luar negeri sekali pun, apabila mengusulkan atau mengajukan sesuatu yang baru dalam hal kerja Tabligh ini, hendaklah segera menghubungi Nizhamuddin (Markas Besar mereka di India), sebelum menerima dan mengamalkan apapun usulan itu, walaupun kelihatan baik.&#8221;</em></p>
<p>Ini cukup menarik untuk telaah dan dicermati bersama, bahkan dari kalangan salafi sendiri. <strong>Karena dari analisa kami, sekarang ini ketidakharmonisan di kalangan salafi sendiri dikarenakan ketidakberadaan kaidah umum yang sebenarnya terdapat dari tulisan itu sendiri. Bahkan sebenarnya, ketidakberadaan kaidah umum dalam tulisan itu juga tidak ada dalam tubuh kaum muslimin secara global, sehingga kita kaum muslimin sangat lemah. </strong></p>
<p>Apa kaidah umum di balik kalimat <em>&#8220;Jama&#8217;ah manapun yang datang dari luar negeri sekali pun, apabila mengusulkan atau mengajukan sesuatu yang baru dalam hal kerja Tabligh ini, hendaklah segera menghubungi Nizhamuddin (Markas Besar mereka di India), sebelum menerima dan mengamalkan apapun usulan itu, walaupun kelihatan baik.&#8221;</em></p>
<p>Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA sangat memegang kaidah umum itu. <strong>Kaidah umum itu adalah Musyawarah</strong>. Kaidah ini sangat ditekankan oleh ajaran agama kita yang mulia, dan kita dapat menemukan banyak penjelasan itu dalam Al-quran dan juga Sunnah Rasulullah SAW.</p>
<p>Sebelumnya mari kita tengok sebuah sejarah besar yang hampir melanda para Shahabat RA, meskipun ayat masih turun dan juga Nabi Muhammad SAW masih ada. Sebuah kejadian yang melibatkan dua kaum, Aus dan Khajraz, dari kalangan Anshor, yang akan terlibat dalam peperangan terbuka. Hal ini dikarenakan ulah Yahudi yang sangat cerdik. Dan semuanya terekam dengan baik dalam berbagai tafsir al-quran ali-imran (3):100-105. Silahkan kepada sdr. sekalian untuk membacanya dengan baik.</p>
<p>Shahabat RA tidak ada jaminan dari Allah swt terbebas dari rencana jahat dari orang-orang yang tidak senang. Oleh karena itu, untuk menghindarinya Allah swt menjelaskan dengan baik dan tegas, yaitu Musyawarah. Musyawarah menjadikan berbagai lapisan untuk menyampaikan pandangannya ataupun usulannya, dan diputuskan secara ijtimaiyyah.</p>
<p>Mari kita tengok sekarang terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan musyawarah itu.</p>
<p><em>&#8221; Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.&#8221; (QS Ali-Imran (3): 159)</em></p>
<p><em>&#8220;Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.&#8221; (QS Asy-Syuura (42): 38)</em></p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS Al-Ma&#8217;idah (5): <img src='http://usahadawah.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p><em>&#8220;Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).&#8221; (QS An-Nisaa&#8217; (4): 83)</em></p>
<p>Jadi ungkapan di atas tadi itu merupakan bentukan dari kaidah umum tersebut, yaitu Musyawarah. Musyawarah merupakan proses untuk melakukan keputusan secara ijtimaiyyah dan berlaku adil, bukan merupakan keputusan sendiri-sendiri yang tidak mempertimbangkan keadilan dan juga ijtimaiyyah. Sekali-sekali kita perhatikan dengan kisah Ali Bin Thalib RA dan juga Muawiyyah RA, ketidak keduanya melakukan musyawarah yang sangat penting. Dan dalam keadaan itu, dimana terdapat sebagian yang tidak mau mengakui musyawarah itu sendiri yang akhirnya menghasilkan &#8220;Khawarij&#8221; yaitu yang keluar dari Ijtimaiyyah kaum muslimin di saat itu.</p>
<p>Sama halnya dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh, tidak mungkin sebuah kerja da&#8217;wah yang sudah tersebar ke berbagai lapisan dunia kemudian jika ada pendapat atau program yang dianggap baik terus dikerjakan begitu saja, tanpa adanta dialog dan musyawarah dengan orang-orang yang terlibat juga di bagian lainnya, terutama dengan pusat yang telah menjalankan pertama kalinya.</p>
<p>Dan yang perlu dipahami oleh kita kaum muslimin yang dimaksud adalah kerja dalam da&#8217;wah, bukan perkara-perkara lainnya seperti mendirikan pesantren, ataupun majelis ta&#8217;lim ataupun kajian Islam sesuai dengan madzhab tertentu. Silahkan hal itu dilakukan melalui musyawarah dengan orang-orang yang dianggap mengerti dan paham.</p>
<p><strong>Bahkan sekarang ini seharusnya kita kaum muslimin semuanya dapat mengembalikan musyawarah itu ke masjid Nabawi, bukannya di masjid Nizamuddin. Sehingga kerja pengajaran dan da&#8217;wah Islam itu dapat disebarkan seperti mana dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dan Para Shahabat RA melalui kendali masjid Nabawi Madinah.</strong></p>
<p>Dan sebenarnya hal ini sudah lumrah dan umum untuk pola kerja yang sudah luas, harus seperti itu dilakukannya. <strong>Tidak mungkin sebuah perusahaan atau organisasi yang sudah mencakup banyak tempat di lapisan dunia, sehendaknya orang-orang di tempat lain membuat program tanpa adanya konsultasi dengan pusatnya. Dan kami pribadi menemukan hal ini dengan jelas</strong>. Kami bersyukur dapat berhubungan dengan perusahaan multinasional, dan hal itu ternyata merupakan hal yang umum bagi mereka sendiri. Jadi kesimpulan yang dilakukan para ahli da&#8217;wah itu merupakan hal yang umum dan jelas kaidahnya.</p>
<p>Seharusnya kaum muslimin, termasuk teman-teman salafi, melihat dengan pola yang dilakukan teman-teman da&#8217;wah mendapatkan kerangka analisa dan sintesa yang bermanfaat untuk dilaksanakan untuk kerja atau program sendiri dimana organisai atau yayasan yang kita lakukan. Bukannya kita memberikan penilaian yang akhirnya mengaburkan sebuah kerangka yang cukup penting bagi kaum muslimin.</p>
<p><strong>Apakah teman-teman salafi memahami pentingnya Musyawarah ini? Sehingga berusaha menghilangkan ketidakharmonisan yang sebenarnya kurang baik terhadap kaum muslimin sendiri. Jika teman-teman salafi belum memahami musyarawah dalam kerjanya yang mudah, silahkan ikuti bagaimana musyawarah yang dilakukan teman-teman ahli da&#8217;wah. Begitupun juga untuk kaum muslimin lainnya.</strong></p>
<p>Hari ini kita kaum muslimin di Indonesia, apakah dalam kehidupan politik, ataupun ekonomi, bahkan dalam organisasi keislaman saat ini banyak mengalami masalah dan ketidakharmonisan yang berkepanjangan, sehingga kami anjurkan untuk membangun musyawarah sebagai sebuah kerja dan program yang berkelanjutan, tidak hanya tahunan. Tetapi sebuah proses yang mempengaruhi semua sendi kehidupan kaum muslimin di Indonesia.</p>
<p>Musyawarah ini tidak mungkin dilakukan kecuali kita sendiri datang di tempat yang memerlukan keputusan itu sendiri. Sehingga kita semua terhindar dari perkara-perkara yang merugikan diri kita sendiri. Dan silahkan kepada teman-teman salafi untuk menangkap penjelasan itu dengan baik.</p>
<p><strong>Dan kami berikan pesan kepada teman-teman ahli da&#8217;wah dan tabligh untuk mengikuti pesan ijtimaiyyah itu. Karena itu merupakan kaidah sunnah Rasulullah SAW, yang kita kurang pahami di jaman yang fasad ini. Perbanyaklah Muhasabah, Mudzakarah, Musyawarah dan Mujahadah untuk lebih memahami usaha da&#8217;wah yang mana merupakan kerja dari para Nabi. Dan kita sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW, maka kita pikirkan sekarang agar ummat Islam ini menjadi ummat Da&#8217;wah kembali sehingga mereka menyebarkan Islam dan rahmat ke seluruh alam. </strong></p>
<p><strong>Tetapi sekali lagi kami jelaskan bahwa dua paragrap tersebut di atas tidak ada sangkut paut yang sangat signifikan, dan bahkan kesimpulan yang disampaikan itu tidak tepat. Jadi mohon maaf, kami beri penilaian seperti ini. Yang benar itu dari Allah swt, dan yang keliru itu dari kebodohan kami sendiri. </strong></p>
<p>Terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=87&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soal Jawab: Seputar Jamaah Tabligh, bagian-1</title>
		<link>http://usahadawah.com/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-bagian-1/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 23:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab Jama'ah Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[ 
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Tulisan yang disampaikan Soal-Jawab Jama&#8217;ah Tabligh yang terdapat di http://muslim.or.id/soaljawab/manhaj/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-1.html Cukup menarik untuk dipelajari dan dibahas bersama. Kami tidak perlu menguraikan semua perkara dalam tulisan itu. Sebagiannya telah disampaikan dalam artikel-artikel dalam blog ini. Silahkan untuk diperhatikan dengan baik.
Syaikh Al Albani pernah ditanya tentang buku berjudul Zhahiratul Irja&#8217; Fil Fikr Islami, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   X-NONE </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Tulisan yang disampaikan Soal-Jawab Jama&#8217;ah Tabligh yang terdapat di <a href="http://muslim.or.id/soaljawab/manhaj/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-1.html" target="_blank">http://muslim.or.id/soaljawab/manhaj/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-1.html</a> Cukup menarik untuk dipelajari dan dibahas bersama. Kami tidak perlu menguraikan semua perkara dalam tulisan itu. Sebagiannya telah disampaikan dalam artikel-artikel dalam blog ini. Silahkan untuk diperhatikan dengan baik.</p>
<p><span style="color: #0000ff;">Syaikh Al Albani pernah ditanya tentang buku berjudul <em>Zhahiratul Irja&#8217; Fil Fikr Islami</em>, karangan Safar Al Hawali. Di dalamnya disebutkan tentang vonis kafir terhadap pelaku sebagian dosa besar. Beliau menjawab, <em>&#8220;Dahulu saya pernah melontarkan sebuah pendapat, kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, ketika saya masih mengajar di Al Jami&#8217;ah (maksud Beliau Jami&#8217;ah Islamiyah Madinah An Nabawiyah). Dalam sebuah majelis yang besar, saya ditanya, bagaimana pandangan saya terhadap Jama&#8217;ah Tabligh. Ketika itu saya jawab: Shufi gaya baru. Sekarang terbetik dalam hatiku untuk mengomentari jama&#8217;ah yang muncul saat ini dan menyelisihi manhaj Salaf. Saya katakan -sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Adz Dzahabi, ‘Mereka telah menyelisihi Salaf dalam sejumlah persoalan manhaj,&#8217; maka saya sebut mereka ini: Khawarij gaya baru.&#8221;</em></span></p>
<p><strong>Haitan Wrote:</strong></p>
<p>Pandangan di atas merupakan pandangan seorang Ulama sekaliber Syeikh Al-Banni, yang tentunya mempunyai kerangka analisa dan sintesa itu sendiri yang menjadi latar belakanginya sendiri. Begitupun juga usaha da&#8217;wah dan tabligh (orang yang menyebutnya sebagai jama&#8217;ah tabligh) merupakan hasil ijtihad yang cukup panjang dari proses analisa dan sintesa dari seorang Ulama, Maulana Ilyas. Mana yang benar dari kedua Ijtihad itu? Yang jelas bagi kita adalah Yang pertama sebagai &#8220;Penilai&#8221; dan yang kedua sebagai &#8220;Pelaksana&#8221;.</p>
<p><span id="more-85"></span>Apakah yang memberikan penilaian itu yang benar atau yang melaksanakan yang benar? Kedua hal itu akan dibuktikan nantinya di sisi Allah swt. Dan kami berharap kepada Allah swt mudah-mudahan keduanya  mendapatkan ampunan dan pahala yang baik disisi Allah swt.</p>
<p>Murid-murid dari &#8220;Penilai&#8221; akan terus menyampaikan penilaiannya kepada orang-orang yang mengikuti atau murid-murid dari &#8220;Pelaksana&#8221; itu sendiri. Dan hal ini terus dilakukan dengan semangat untuk menyebarkannya, dan kita semua mudah mendapatkannya. Meskipun yang disampaikan itu berulang-ulang dari sumber yang sama.  &#8220;Penilai&#8221; mengungkapkan bahwa &#8220;Pelaksana&#8221; menyalahi Manhaj Salaf, sehingga dikatakan sebagai &#8220;Khawarij Gaya Baru&#8221;.</p>
<p>Terdapat tiga istilah yang terungkap yaitu &#8220;Manhaj&#8221;, &#8220;Manhaj Salaf&#8221;, dan &#8220;Khawarij&#8221;. Dari &#8220;Penilai&#8221; serta orang-orang yang mengikutinya serta murid-muridnya menjelaskan bahwa dirinyalah sebagai pengikut salaf, sedangkan yang lain tidak bermanhaj salaf. Tetapi ada juga dari &#8220;Pelaksana&#8221; serta orang-orang yang mengikutinya serta murid-muridnya menjelaskan bahwa kita perlu berusaha untuk mendapatkan nilai-nilai dari para Shahabat RA sebagai generasi salaf yang terjamin.</p>
<p>Mari kita ungkap sedikit perihal ketiga istilah itu dalam kesempatan ini. &#8220;Manhaj&#8221; merupakan sebuah pola kerangka yang menjadi pegangan seseorang, apakah untuk berpikir ataupun beramal. Jika kita menyebutkan &#8220;Manhaj Salaf&#8221;, maka kita juga tidak boleh menapikan perihal &#8220;Manhaj Khalaf&#8221;. &#8220;Manhaj Salaf&#8221; akan menghindari dari berusaha menginterpretasikannya, sedangkan &#8220;Manhaj Khalaf&#8221; berusaha menjelaskannya untuk menghindari hal-hal yang tidak perlu terjadi. Misalkan dalam pengertian &#8220;Tangan Allah swt&#8221;, Manhaj Salaf berusaha tidak melakukan interpretasinya, sehingga apa adanya. Tetapi Manhaj Khalaf berusaha menjelaskannya, misalkan dengan makna &#8220;Kekuasaan Allah swt&#8221;. Manhaj Salaf lebih dekat dengan kepahaman para Shahabat, Tabi&#8217;in dan Tabi-Tabi&#8217;in.</p>
<p>&#8220;Khawarij&#8221; merupakan istilah yang muncul ketika di jaman Ali Bin Abi Thalib RA, yaitu ketika terjadi pertemuan antara kelompok Ali RA dan kelompok Muawiyyah RA yang mana kelompok Ali RA menerima tawaran permintaan kelompok Muawiyyah RA untuk melakukan perdamian. Sedangkan terdapat sebagian kaum muslimin yang berada di kelompok Ali tidak menerima perdamaian itu, dan selanjutnya kelompok ini mengkafirkan kaum muslimin lainnya yang tidak sepaham dengan mereka. Awalnya bermula dari politik, dan selanjutnya menyebar ke dalam kepahaman yang lainnya. Sehingga dianggap keluar dari Ijtimaiyyah Ummat Islam itu sendiri. Hanya saja di kalangan Shahabat RA sendiri tidak berani menyatakan sebagai kafir kepada mereka.</p>
<p>Dalam keadaan seperti ini, maka kita kaum muslimin dapat menilai sendiri terhadap nilai-nilai yang dibangunnya. Apakah hanya merupakan penilaian saja di masyarakat terhadap kaum muslimin lainnya yang berbeda dengan kepahamannya atau merupakan bentukan dari kerja atau amal yang terus merasuk ke dalam masyarakat kaum muslimin?</p>
<p>Apakah mungkin kita terus mengatakan bahwa kita sebagai pengikut Muhammad SAW dan juga Para Shahabat RA, sedangkan mengatakan bahwa kaum muslimin yang lainnya tidak mengikutinya. Kita tidak mungkin mengatakan seperti dalam sebuah syair yang mahsyur, &#8220;Mereka menyebut sebagai keluarga Laila, tetapi Laila sendiri tidak mengenalnya&#8221;. Oleh karena itu jawaban dari pertanyaan tersebut sebenarnya  dapat terlihat dari masyarakat kita kaum muslimin yang lebih membutuhkan nilai-nilai Al-Islam yang wujud secara jelas dalam kehidupan itu.</p>
<p>Sehingga kami menganjurkan kepada teman-teman salafi sebagai &#8220;Penilai&#8221; dan juga kepada teman-teman ahli da&#8217;wah sebagai &#8220;Pelaksana&#8221; untuk semuanya mewujudkan nilai-nilai rahmat Islam di masyarakat kaum muslimin. Silahkan berlomba dalam kebaikan di masyarakat sendiri, karena hal itu akan menjadi ladang yang utama di akherat.  Tidak hanya mengandalkan pada pengakuan ataupun penilaian semata. Karena timbangan yang besar itu bergantung pada iman dan amal sholeh itu sendiri.</p>
<p>Terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=85&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/soal-jawab-seputar-jamaah-tabligh-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

