<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Pikir dan Analisa Manhaj</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/manhaj-pilihanku/pikir-dan-analisa-manhaj/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Program Kerja Sistematik Amal Islami Banyak di Kalangan Ummat Islam, Cukup Aneh Jika Ada Yang Mengomentari Usaha Da&#8217;wah Dan Tabligh</title>
		<link>http://usahadawah.com/program-kerja-sistematik-amal-islami-banyak-di-kalangan-ummat-islam-cukup-aneh-jika-ada-yang-mengomentari-usaha-dawah-dan-tabligh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/program-kerja-sistematik-amal-islami-banyak-di-kalangan-ummat-islam-cukup-aneh-jika-ada-yang-mengomentari-usaha-dawah-dan-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 04:45:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Manajemen Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu &#8216;alaikum wr. wb.
Program kerja sistematik amal Islami telah banyak di kalangan ummat Islam, sehingga cukup aneh jika ada yang mengomentari terhadap program kerja sistematik yang dilakukan usaha da&#8217;wah dan tabligh (orang menyebutnya Jama&#8217;ah Tabligh &#8211; JT). Sebagian kalangan salafi begitu bersemangat mengomentari perihal program kerja sistematik usaha da&#8217;wah dan tabligh, mana dalil 3 hari, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu &#8216;alaikum wr. wb.</p>
<p>Program kerja sistematik amal Islami telah banyak di kalangan ummat Islam, sehingga cukup aneh jika ada yang mengomentari terhadap program kerja sistematik yang dilakukan usaha da&#8217;wah dan tabligh (orang menyebutnya Jama&#8217;ah Tabligh &#8211; JT). Sebagian kalangan salafi begitu bersemangat mengomentari perihal program kerja sistematik usaha da&#8217;wah dan tabligh, mana dalil 3 hari, 40 hari, 4 bulan, mana dalil khuruj, dsb.</p>
<p>Nampaknya komentar-komentar ini ada benarnya karena yang mengomentari itu adalah orang-orang yang berilmu. Tetapi kita cukup menyayangkan karena ketika memberikan komentar bahkan memberikan hukuman sebagai ahli bid&#8217;ah, pembuat syariat baru dsb, tidak memperhatikan secara menyeluruh dan sistematik. Kami tidak akan memberikan pandangan terhadap komentar-komentar itu, karena sudah cukup banyak dalam blog ini.</p>
<p><span id="more-449"></span>Kami ajak untuk melihat terhadap program kerja sistematik yang sebenarnya sudah cukup banyak di kalangan Ummat Islam, bahkan di kalangan salafi sendiri yang banyak mengomentari usaha da&#8217;wah dan tabligh. Coba kita perhatikan dengan baik:</p>
<ol>
<li>Program kerja sistematik juga dilakukan dalam madrasah Islam dengan jumlah tahun belajarnya, misalkan S1, S2, S3 dsb. Dan program kerja sistematik itu dipergunakan untuk pendalaman Islam, misalkan hadist, syariah, tafsir dsb. Dan hal ini juga ada di Saudi arabia sana, dan banyak kalangan salafi yang mendapatkan gelar master ataupun Dr, dan bahkan professor.</li>
<li>Program kerja sistematik juga dilakukan dalam pengajian rutin mingguan, bulanan ataupun bahkan tahunan. Kalangan salafi sendiri sering mengadakan program tarbiyyah tahunan di madinah. Jelas dilakukannya juga secara sistematik, tidaklah mungkin acak-acakan.</li>
<li>Program kerja sistematik juga dilakukan dalam pengumpulan zakat kaum muslimin, dan sekarang sudah banyak dilakukan di Indonesia. Dan lembaga zakat ummat begitu banyak dan berkembang. Tentunya hal ini dilakukan secara sistematik dan rapih.</li>
<li>Program kerja sistematik juga dilakukan untuk program haji kaum muslimin, dan tentunya pemerintah sana menyiapkan program rutin itu dengan secara sistematik dan tidak asal-asalan. Dan sekarang banyak juga biro-biro perjalan haji dan Umrah, dan mungkin saja kalangan salafi sendiri membuatnya.</li>
</ol>
<p>usaha da&#8217;wah dan tabligh ini merupakan program kerja untuk kaum muslimin dengan berlandaskan pada amal-amal masjid. Dalam tulisan sebelumnya kami lampirkan potongan tulisan yang menceritakan begitu sistematik kerja dan pesan Nabi Muhammad SAW ketika menyuruh Shahabat ke masyarkat tertentu.</p>
<p>Jadi cobalah kita berpikir dengan baik, apakah tidak boleh rutin dan teratur menjalankan pengajian Islam? apakah bid&#8217;ah dengan keteraturan itu? apakah tidak boleh dilakukan waktu tertentu untuk pendalaman islam, misalkan 2 tahun dsb? Apakah bid&#8217;ah dengan keteraturan itu? Jelas semua itu tidak bid&#8217;ah, tetapi semuanya harus teratur. Dan yang teratur itu tentunya dilakukan secara rutin. Kalau kita bisa dzikir malam hari dengan auradnya, maka ketika tertidur, kita dibolehkan untuk mengulangnya terhadap aurad kita. Dan hal itu ada keterangannya.</p>
<p>Ummat islam tanpa ada program kerja yang sistematik, maka ummat Islam akan kacau dan tidak jelas arahnya. Program kerja sistematik dan rutin itu merupakan hal yang Sunnah, karena akhirnya kita bisa menunaikan hal-hal lainnya dengan baik pula. Dan cukup banyak dalil yang menjelaskan kita untuk hidup lebih teratur dan sistematik, dan bahkan Allah swt dan Rasulullah SAW sendiri mengajarkan untuk lebih hidup teratur dan rapi.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=449&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/program-kerja-sistematik-amal-islami-banyak-di-kalangan-ummat-islam-cukup-aneh-jika-ada-yang-mengomentari-usaha-dawah-dan-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada sebagian kaum muslimin mengkritisasi enam sifat, tetapi melihat kekurangan dari kaum muslimin. Jelas kritisasi ini tidak jelas arahnya!</title>
		<link>http://usahadawah.com/ada-sebagian-kaum-muslimin-mengkritisasi-enam-sifat-tetapi-melihat-kekurangan-dari-kaum-muslimin-jelas-kritisasi-ini-tidak-jelas-arahnya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/ada-sebagian-kaum-muslimin-mengkritisasi-enam-sifat-tetapi-melihat-kekurangan-dari-kaum-muslimin-jelas-kritisasi-ini-tidak-jelas-arahnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2010 14:20:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Kaum Muslimin Yang Berbahagia,
Ada sebagian kaum muslimin mencoba untuk mengkritisasi enam sifat para Shahabat RA, tetapi melihat kekurangan dari kaum muslimin yang melibatkan diri dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh. Jelas kritisasi ini tidak jelas arahnya, apakah mengkritisasi enam sifat para Shahabat RA atau mengkritisasi kekurangan kaum muslimin.

http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/11/05/telaah-kritis-untuk-6-sifat-karkun-jt/#comment-867. Sekarang ini kaum muslimin berusaha mengkritisasi sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Kaum Muslimin Yang Berbahagia,</p>
<p>Ada sebagian kaum muslimin mencoba untuk mengkritisasi enam sifat para Shahabat RA, tetapi melihat kekurangan dari kaum muslimin yang melibatkan diri dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh. Jelas kritisasi ini tidak jelas arahnya, apakah mengkritisasi enam sifat para Shahabat RA atau mengkritisasi kekurangan kaum muslimin.<br />
<span id="more-411"></span></p>
<p><a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/11/05/telaah-kritis-untuk-6-sifat-karkun-jt" target="_blank">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/11/05/telaah-kritis-untuk-6-sifat-karkun-jt/#comment-867</a>. Sekarang ini kaum muslimin berusaha mengkritisasi sebuah kerangka, tetapi yang dikritisasinya adalah kekurangan dari kaum muslimin yang mengikuri kekurangan itu.</p>
<p><strong>Jelas kritisasi salah sasaran dan tidak jelas arahnya, apalagi judulnya saja enam sifat karkun. Sehingga pandangan itu bukan kritisasi terhadap enam sifat para shahabat RA yang banyak dipelajari, tetapi merupakan kritisasi terhadap kekurangan sebagian kaum muslimin yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh. </strong></p>
<p><strong>Manusia itu tidak lepas dari kekurangan, bahkan para Ulama sekalipun tidak lepas dari kekurangan dan kelemahan. Tetapi yang perlu diusahakan adalah bagaimana mau terus memperbaiki diri yang berkelanjutan untuk bisa mencapai sifat-sifat seperti para Shahabat RA.<br />
</strong></p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh ini terus mengulang-ngulang pelajaran enam sifat para Shahabat RA, dan bahkan sebenarnya banyak sekali dalil-dalil al-quran dan as-sunnah untuk selalu mempelajari para Shahabat RA dan juga mengikutinya dengan baik. Meskipun hanya enam sifat yang dipelajari dalam sifat-sifat para Shahabat RA, ini menjadi modal untuk mendalami seluruh kehidupan para Shahabat RA yang sudah mendapatkan kejayaan dan ridho Allah swt.</p>
<p>Untuk enam sifat para Shahabat RA ini, silahkan untuk mendownload dan mempelajarinya.<a href="http://www.binatiih.com/go/mod.php?mod=book&amp;modfile=item&amp;itemid=19" target="_blank"> http://www.binatiih.com/go/mod.php?mod=book&amp;modfile=item&amp;itemid=19</a>, kitab ini merupakan hasil karya seorang alim dari Yordania. Dan masih banyak lagi Ulama mencoba menuliskan Enam Sifat Para Shahabat RA.</p>
<p>Dan kita sendiri dapat menyusun tulisan yang serupa dengan mengambil dari kitab-kitab Ulama dengan menjadikan Enam sifat para Shahabat RA sebagai kerangka silabusnya.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=411&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/ada-sebagian-kaum-muslimin-mengkritisasi-enam-sifat-tetapi-melihat-kekurangan-dari-kaum-muslimin-jelas-kritisasi-ini-tidak-jelas-arahnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab-Kitab Yang Banyak Dibaca Kalangan Ahli Da&#8217;wah dan Tabligh Membawa Kaum Muslimin Banyak Berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA</title>
		<link>http://usahadawah.com/kitab-kitab-yang-banyak-dibaca-kalangan-ahli-dawah-dan-tabligh-membawa-kaum-muslimin-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kitab-kitab-yang-banyak-dibaca-kalangan-ahli-dawah-dan-tabligh-membawa-kaum-muslimin-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 14:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku Referensi]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[kitab hayatush shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[kitab-kitab fadhilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat tiga kitab yang disusun oleh para Ulama Da&#8217;wah yang banyak dibaca kalangan ahli usaha da&#8217;wah dan tabligh, yaitu :
(1) Kitab-kitab fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah. Terdapat kitab-kitab fadhilah amal yang disusun secara tematik oleh beliau, yaitu Kitab Fadhilah Sholat, Kitab Fadhilah Dzikir, Kitab Fadhilah Tabligh, Kitab Fadhilah Quran, Kitab Fadhilah Ramadhan, Kitab Fadhilah Shodaqah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terdapat tiga kitab yang disusun oleh para Ulama Da&#8217;wah yang banyak dibaca kalangan ahli usaha da&#8217;wah dan tabligh, yaitu :</p>
<p>(1) Kitab-kitab fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah. Terdapat kitab-kitab fadhilah amal yang disusun secara tematik oleh beliau, yaitu Kitab Fadhilah Sholat, Kitab Fadhilah Dzikir, Kitab Fadhilah Tabligh, Kitab Fadhilah Quran, Kitab Fadhilah Ramadhan, Kitab Fadhilah Shodaqah, Kitab Fadhilah Haji, Kitab Fadhilah Dagang, Fadhilah Janggut, Hikayat Kisah-Kisah Para Shahabat RA.</p>
<p>Kitab Fadhilah Amal yang cukup populer merupakan himpunan dari beberapa kitab fadhilah menjadi satu bundle, yaitu Kitab Fadhilah Sholat, Kitab Fadhilah Quran, Kitab Fadhilah Dzikir, Kitab Fadhilah Tabligh, Kitab Fadhilah Ramadhan dan Hikayat Kisah-Kisah Para Shahabat RA.</p>
<p>(2) Kitab Hayatush Shahabah, Maulana Yusuf Rah. Kitab ini terdiri dari 3 jilid tebal.</p>
<p>(3) Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Malauna Yusuf Rah. Kitab ini merupakan himpunan hadist-hadist pilihan untuk Enam Sifat Para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-323"></span>Kitab-Kitab Fadhilah Amal merupakan himpunan fadhilah dengan terdapat penjelasan atau syarh dari Maulana Dzakaria Rah. Sedangkan Kitab Hayatush Shahabah dan Kitab  Al-Hadistul Muntakhabah, Malauna Yusuf Rah, merupakan himpunan hadist-hadist pilihan yang saling terkait.</p>
<p>Sekian lama kami membuka kitab-kitab tersebut serta juga berhubungan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, kami mendapatkan para Ulama yang telah lama terjun dan banyak korban dengan kerja-kerja da&#8217;wah, seperti Maulana Ilyas Rah, Maulana Yusuf Rah, Maulana Dzakaria Rah, Maulana Inamul Hasan Rah, Maulana Manzur Noomani Rah, Maulana Hasan Ali Nadwi Rah, dsb.</p>
<p>Beliau-beliau ini dalam catatan sejarah atau autobiographinya banyak berhubungan pendalaman dengan kitab-kitab Hadist Rasulullah SAW, dan bahkan banyak menulis kitab-kitab yang berhubungan dengan hadits Rasulullah SAW. Kitab-kitab yang kami sebutkan di atas itu merupakan salah satu buktinya.</p>
<p>Masih banyak kitab-kitab hadist dan juga syarhnya yang ditulis para Ulama-Ulama tersebut, hanya saja tidak menjadi Ijtima&#8217;iyyah dalam Kerja Da&#8217;wah. Bahkan terdapat kitab-kitab yang disusun para Ulama-Ulama itu, seperti syarh kitab Imam Bukhari Rah, Syarh Kitab Al-muwatha Imam Malik Rah, Syarh Kitab Hadist Imam Thawawi Rah, Syarh Kitab Imam Abu Dawud Rah, dsb. Hanya saja kitab-kitab ini tidak menjadi Ijtima&#8217;iyyah dalam kerja da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Tetapi yang menarik dan perlu menjadi perhatian bagi kaum muslimin adalah para Ulama-Ulama yang telah terjun dan korban dalam kerja-kerja da&#8217;wah ini mengarahkan kaum muslimin untuk lebih memperhatikan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Dan sekarang Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah, merupakan kitab ijtima&#8217;iyyah dalam kerja da&#8217;wah juga terutama di kalangan Arab.</p>
<p>Dengan pendalaman yang dalam terhadap Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA ini, Six Point (Enam Sifat) yang sering diulang-ulang tersebut menjadi awal untuk memberikan dorongan terhadap jiwa-jiwa kaum muslimin. Maulana Yusuf Rah telah menyusun Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, yang merupakan hadist-hadist pilihan terhadap Six Point (Enam Sifat).</p>
<p>Dengan hal ini mudah-mudahan kaum muslimin akan banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, yang mana sebenarnya hal ini juga menjadi perhatian dari para Ulama dari jaman ke jaman terhadap Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA.</p>
<p>Kitab-kitab yang kami sebutkan di atas Kitab Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah, Kitab-Kitab fadhilah Amal Maulana Dzakaria Rah, Kitab Hayatush Shahabah Maulana Yusuf Rah, Kitab Al-Hadistul Muntakhabah (six point) Maulana Yusuf Rah, membawa kaum muslimin untuk banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Ini merupakan awal yang baik untuk seluruh kaum muslimin dalam berbagai lapisan dan tingkatan, dan mudah-mudahan akan banyak lagi kaum muslimin terdorong mendalami bahasan-bahasan para Ulama yang berkaitan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ini. Hanya memang tidak semua kaum muslimin akan mempunyai kemampuan yang sama.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah telah memberikan jalan yang mudah untuk menarik seluruh kaum muslimin, dalam berbagai tingkatan dan latar belakang, untuk banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, melalui amal maqomi, ushul-ushul da&#8217;wah, kitab, latihan khuruj, mudzakarah enam sifat, dsb.</p>
<p>Berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ini tidak hanya dalam bentuk wacana-wacana saja, tetapi harus menjadi latihan-latihan praktis dalam kehidupan kaum muslimin dan hal ini akan lebih membumikan lagi dalam kehidupan kaum muslimin.</p>
<p>Insya Allah, kami lanjutkan dalam tulisan &#8220;Kitab Al-Hadistul Muntakhabah (six point) Maulana Yusuf Rah&#8221;.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=323&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kitab-kitab-yang-banyak-dibaca-kalangan-ahli-dawah-dan-tabligh-membawa-kaum-muslimin-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pikir Hidayah, Kasih, Sayang, Sombong, dan Dengki</title>
		<link>http://usahadawah.com/pikir-hidayah-kasih-sayang-sombong-dan-dengki/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/pikir-hidayah-kasih-sayang-sombong-dan-dengki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 00:11:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir Hidayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah swt,
Ada yang lupa dan luput dari Ummat Nabi Muhammad SAW sekarang ini, yaitu KASIH dan SAYANG. Dan dua hal ini yang akan berusaha dihancurkan oleh lawan-lawan kaum muslimin, dan sekarang sudah banyak terbukti. Akhirnya hal kecil saja, bisa saling membunuh; atau hal yang banyak dibahas Ulama, bisa saling menghina.
KASIH [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Ada yang lupa dan luput dari Ummat Nabi Muhammad SAW sekarang ini, yaitu KASIH dan SAYANG. Dan dua hal ini yang akan berusaha dihancurkan oleh lawan-lawan kaum muslimin, dan sekarang sudah banyak terbukti. Akhirnya hal kecil saja, bisa saling membunuh; atau hal yang banyak dibahas Ulama, bisa saling menghina.</p>
<p>KASIH dan SAYANG telah diangkat terhadap seorang manusia dari turunan Nabi Adam As, sehingga adiknya dibunuh dengan tangannya sendiri. Itulah kisah makhsyur, perihal QABIL dan HABIL. Dan kisah tertulis dengan baik dalam Al-quran.</p>
<p>Bagaimana KASIH dan SAYANG bisa hilang dalam ummat Nabi Muhamm SAW? Karena merasa SOMBONG dan DENGKI kepada kaum yang lain. Yang menjadi pembunuhan pertama terjadi di muka bumi, karena SOMBONG dan DENGKI terhadap yang lain.</p>
<p>Maka sekarang ini harus berusaha menghilang penyakit ini SOMBONG dan DENGKI, dan penyakit ini bisa kena pada siapa saja termasuk kalangan Ulama dan Ustadz sekalipun. Sehingga akhirnya bisa hilang KASIH dan SAYANG itu.</p>
<p>KASIH, SAYANG, SOMBONG dan DENGKI banyak sekali bahasannya dalam Al-quran dan As-Sunnah, kalimat-kalimat ringan untuk diucapkan, TETAPI berat untuk dijinjing kemana-mana dalam hidup ini.</p>
<p><span id="more-321"></span>Banyak di antara kita membahas perihal SOMBONG dan DENGKI melalui kitab-kitab tebal yang ditulis para Ulama tetapi seperti tidak ada hasilnya. Kenapa bisa begitu? SOMBONG biasanya muncul ketika berhadapan dengan orang yang berada di bawah pandangan kita, apakah itu karena hartanya, ilmunya, prestasinya, keberaniannya, dsb. Sedangkan DENGKI biasanya muncul ketika kita berhadapan dengan orang yang dapat menyamai atau melebihi pandangan kita, apakah itu karena hartanya, ilmunya, prestasinya, keberaniannya, dsb.</p>
<p>Untuk menghilang SOMBONG dan DENGKI dalam diri kita, maka itulah harus dengan KASIH dan SAYANG. dua kata inipun ringan diucapkan, tetapi sulit untuk diwujudkan dalam kehidupan kaum muslimin. Untuk mendapatkan KASIH dan SAYANG ini dalam diri kita, maka kita kaum muslimin harus berusaha mempunyai PIKIR HIDAYAH.</p>
<p>HIDAYAH merupakan keputusan Allah swt dan kehendakNYA. Maka kita harus mempunyai PIKIR HIDAYAH ini, sehingga apapun kita akan berusaha menjadi ASBAB HIDAYAH. dan hal ini akan menumbuhkan KASIH dan SAYANG dalam jiwa. Kata KASIH dan SAYANG merupakan dua kata yang sangat erat dengan kalimat BASMALAH yang berkaitan dengan Allah swt.</p>
<p>Banyak manusia dari dulu sampai sekarang tetapi Allah swt terus memberikan rejekiNYA, bagaimana kufurnya Firaun La&#8217;natullah. Tidak dimatikan langsung saja ketika mengaku sebagai Rab. Tetapi masih diberikan kesempatan beberapa kali, dan bahkan yang disuruhNYA adalah kekasihNYA sendiri Musa As dan Harun As. Dan ini tentunya merupakan pengorbanan yang besar dilakukan.</p>
<p>Jadi tidaklah mungkin KASIH dan SAYANG muncul dalam tubuh ummat Islam, tanpa adanya pengorbanan besar dengan jiwa dan harta sendiri. Tidaklah mungkin KASIH dan SAYANG ini muncul di tubuh Ummat, hanya dengan membahas-bahas kitab. Karena kata-kata ini sangat sederhana, KASIH dan SAYANG. Maka untuk mendapatkan itu, kaum muslimin harus berani berkorban dengan berlatih.</p>
<p>Pernah kami mendengar seorang Alim mencuci kamar mandi/wc sebelum menunaikan sholat malam di salah satu masjid, ada lagi kisah seorang pejabat tinggi di kepolisian dimarahi tukang ojek ketika mengajaknya ke masjid, seorang Alim besar berkhidmat kepada seorang tukang sereh, kisah seorang da&#8217;i mengajak makan anak-anak sekolahan, seorang Doktor menyediakan makan untuk orang-orang umum, dsb.</p>
<p>Semua hal itu untuk menumbuhkan KASIH dan SAYANG dalam tubuh Ummat Nabi Muhammad SAW. Dan hal itu dilakukan karena ada satu keinginan besar agar HIDAYAH Allah swt turun ke kaum muslimin lainnya dan ummat manusia secara umumnya, sehingga bersedia mereka berkorban apapun yang dilakukan dengan KASIH dan SAYANG. Itulah PIKIR HIDAYAH.</p>
<p>PIKIR HIDAYAH ini akan membentuk Ijtima&#8217;iyyah di tubuh kaum muslimin, karena pikir ini merupakan PUNCAK dari segala macam-macam Pikir-Pikir kaum muslimin yang ada. Dan Ijtima&#8217;iyyah itu di tubuh kaum muslimin hanya dapat dibangun dengan KASIH dan SAYANG, bukan dengan SOMBONG dan DENGKI.</p>
<p>Tanpa adanya PIKIR HIDAYAH maka akan sulit kaum muslimin MENGUNGGULI musuh-musuhnya di muka bumi, bahkan akan sulit MENGHINDARI dari trik-trik musuh-musuh kaum muslimin.</p>
<p>Semua khidmat pada Ummat Nabi Muhammad SAW perlu kita saling menghormati, dan satu sama lain itu akan memberikan peran bagi kaum muslimin. Dan tentunya perlu ada perakat untuk semua kaum muslimin di berbagai lapisan di manapun berada bahkan akan menarik ummat lain dekat dan masuk ke dalam pangkuan Al-Islam, dan PIKIR HIDAYAH itu yang perlu dibangun, dan dapat menumbuhkan KASIH dan SAYANG.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=321&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/pikir-hidayah-kasih-sayang-sombong-dan-dengki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru-Guru Kami</title>
		<link>http://usahadawah.com/guru-guru-kami/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/guru-guru-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 00:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Menyurat Da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Pak Nurim Submitted on 2010/03/11 at 11:42am:
kalo boleh tahu siapa guru pak haitan? saya ingin berguru juga pada beliau
Assalamu ‘alaikum  wr. wb.
Mudah-mudahan kebaikan dan rahmat dilimpahkan kepada kedua orangtua kita, kepada guru-guru kita, dan juga kepada kawan-kawan lama serta seluruh kaum muslimin lainnya. Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, karena kami belum banyak menunaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Nurim Submitted on 2010/03/11 at 11:42am:</p>
<p>kalo boleh tahu siapa guru pak haitan? saya ingin berguru juga pada beliau</p></blockquote>
<p>Assalamu ‘alaikum  wr. wb.</p>
<p>Mudah-mudahan kebaikan dan rahmat dilimpahkan kepada kedua orangtua kita, kepada guru-guru kita, dan juga kepada kawan-kawan lama serta seluruh kaum muslimin lainnya. Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, karena kami belum banyak menunaikan apa yang dipesankan guru-guru kami yang cukup banyak berhubungan ketika kami masih menjadi mahasiswa. Kami banyak berhubungan dengan kalangan ulama/ustadz di kota Bandung sebelum dan sesudah mengenal usaha da’wah.</p>
<p><span id="more-315"></span>Ustadz kami yang cukup kharismatik, apalagi banyak juga ulama/ustadz di kota Bandung juga yang mengetahui dengan baik. Beliau adalah KH Khair Affandi Rah, seorang pendiri pesanten Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, dan sekarang ini banyak muridnya yang mendirikan pesanren di beberapa kota di Indonesia. Beliau memberikan pelajaran perihal tauhid dan hati. Dan Nasehat yang kami ingat betul adalah kami dianjurkan mempelajari kitab Ibnu Rusyd Rah, Bidayatul Mujtahid, sebuah kitab yang membahas perbedaan pandangan di kalangan Ulama. Hal ini beliau menekankan untuk dapat memberikan wacana ke kalangan kaum muslimin, sehingga jangan sampai perihal furuiyyah menjadi perpecahan di kalangan Ummat Islam.</p>
<p>Ustadz tafsir Quran yang sangat tematik, beliau adalah KH Mukhtar Adam yang memimpin pesanren babussalam. Dan beliau banyak mengajarkan pola tafsir secara tematik-tematik, Quran bil Quran, dan juga bahasan dari Tafsir Ulama besar dulu. Beliau cukup aktif menulis. Dan kami tertarik dengan pola tematik-tematik Quran, karena akan lebih memudahkan proses belajar kita dalam memahami Al-quran.</p>
<p>Ustadz yang banyak bermudzakarah dalam perkara pergerakan Islam dan pemahaman Quran, beliau adalah Ustadz Muslim Zainuddin Rah. Beliau banyak memberikan mudzakarah perihal pergerakan Islam dan juga pendalaman Quran. Kami sering datang dan berkunjung ke beliau. Meskipun kami telah mengikuti usaha da’wah, ketika kami mahasiswa juga masih terus berhubungan. Sehingga membuka wacana pergerakan Islam yang cukup berkembang.</p>
<p>Yang terakhir beliau yang mengajarkan perihal Bahasa Arab dan tafsir, Ust. Djaja Dzakaria. Beliau ini yang mengajarkan bahasa arab, dan terus mendorong untuk terus belajar Al-Islam dengan baik. Dan beliau sering menekankan dengan baik bahwa akan sulit mendalami Al-Islam dari sumber-sumbernya, kecuali dengan bahasa Arab. Dan setelah sekian lama kami berhubungan dengan usaha da’wah, ternyata apa yang dinasehatkan beliau sangat benar. Itulah banyak hal yang kami dapatkan dalam kitab para Ulama perihal usaha da’wah ini.</p>
<p>Semua guru-guru kami selalu menasehati untuk terus mendalami Al-Islam dengan baik, karena sumber-sumber Al-Islam ini sebenarnya banyak tertulis dalam kitab-kitab dengan baik oleh para Ulama Dulu. Dan setelah kami berkenalan dengan usaha da’wah ini telah memberikan kerangka dalam banyak tematik-tematik pendalaman Al-Islam secara mudah untuk kami. Sehingga pesan dan nasehat guru kami telah banyak memberikan wawasan pendalaman terhadap usaha da’wah. Dua guru kami yang masih ada yaitu KH Mukhtar Adam dan KH Djaja Dzakaria.</p>
<p>Oleh karena itu, jika sdr. benar-benar berkeinginan mendalami Al-Islam dengan lebih baik dan secara dalam, maka terdapat dua pola yang cukup baik menurut pandnagan kami , yaitu :</p>
<p>a.	Pelajari Bahasa Arab dengan baik. Bahasa Arab menjadi alat yang sangat penting untuk mendalami Al-Islam dengan baik.</p>
<p>b.	Pelajari Al-Islam secara TEMATIK-TEMATIK, termasuk dengan Usaha Da’wah. Banyak Ulama telah memberikan contoh secara tematik, dan Jika kita pelajari dengan baik Usaha Da’wah ini memberikan Tematik-Tematik yang cukup baik. Ushul-Ushul Da’wah, Enam Prinsip (Baca: dikenal sebagai enam sifat shahabat Ra) dan Adab-Adab itu semuanya merupakan tematik-tematik yang sangat luas sebagai langkah awal.</p>
<p>Kita dapat bejalar ke banyak Ulama dengan baik di kota kita ataupun kota lainnya, jika kita mempunyai kemampuan bahasa Arab dengan baik. SEHINGGA KETIKA ada Ulama yang mengajarkan Tafsir, Hadist, Fiqh, dsb, TENTUNYA para Ulama ini mengajarkan dengan Tematik-Tematiknya secara Baik dan Juga biasanya Ulama ini juga menggunakan Kitab-Kitab Pilihannya yang diajarkan kepada kaum muslimin. Jadi kita tidak hanya sebagai PENDENGAR SAJA, tetapi kita lebih mendalami dengan baik karena kita mempunyai sarana bahasa arab itu. Dan bahkan mungkin kita akan senang bertemu dengan Ulama yang bersangkutan.</p>
<p>Guru-Guru kami selalu menekankan perihal bahasa Arab ini, sehingga di pesantren dulu teman-teman dan kami sering membuat pelatihan Bahasa Arab, dan terakhir sekitar tahun 2007, dan cukup banyak Mahasiswa yang belajar dan kebetulan yang mengajarnya adalah lulusan dari Pakistan, Maulana Ahsan, yang sebelumnya memang cukup lama di tempat kami.  Untuk kaum muslimin secara umum dalam Belajar Islam, yaitu :</p>
<p>1.	Kaum Muslimin mendengarkan pengajaran-pengajaran Al-Islam dari Para Ulama, dan tidak dicatat, tidak diulang, tidak didalami kembali pengajaran-pengajaran tersebut.</p>
<p>2.	Kaum Muslimin mendengarkan pengajaran-pengajaran Al-Islam dari Para Ulama, dan dicatat, diulang, didalami kembali pengajaran-pengajaran tersebut. Bahkan ada yang dihafal bagian-bagiannya, termasuk juga beberapa ayat dan hadist yang disampaikan itu.</p>
<p>3.	Kaum Muslimin mendengarkan pengajaran-pengajaran Al-Islam dari Para Ulama, disamping (2) juga dipelajari dari sumber-sumber kitab yang menjadi pelajaran-pelajaran Ulama dikarenakan mempunyai kemampuan Bahasa Arab.</p>
<p>4.	Kaum Muslimin melakukan proses bacaan, penjelasan kitab-kitab Islam di depan para Ulama; sehingga Ulama yang bersangkutan dapat menjelaskan isinya dan juga mengetahui kemampuan murid-muridnya dengan baik.</p>
<p>Perihal No (4) jelas harus banyak duduk dengan para Ulama. Kami pribadi sangat berkeinginan melakukan no (4), hanya jelas untuk saat ini kami tidak dapat melakukan dengan baik karena banyak keterbatasan. Kami selalu berharap akan banyak kaum muslimin yang melakukan No (4), itulah kami pernah membuat pesantren untuk kalangan mahasiswa. TETAPI kami selalu menekankan kepada teman-teman lain, terutama kalangan muda dari usaha da’wah yang banyak berhubungan dengan kamu untuk dapat meningkatkan kemampuan bahasa arab, sehingga akan mudah melakukan no (3).</p>
<p>Jika sdr. tidak dapat melakukan no (4), maka lebih baik masuk ke No (3), sehingga sdr. perlu sungguh-sungguh mendalami bahasa arab dan akhirnya dapat bertemu banyak Ulama untuk mendalami Al-Islam secara TEMATIK, dan sisanya tentunya sdr. dapat mempelajari sendiri dan juga dengan teman-teman.</p>
<p>Kalaupun tidak bisa karena banyak keterbatasan, kita tetap harus berusaha berhubungan dengan Ulama untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran Al-Islam dengan bak, dan kami secara pribadi sangat bersyukur berkenalan dengan usaha da’wah ini karena memberikan tematik-tematik (kurikulum&amp; Silabus) yang mudah dan juga terdapat dua aktifitas ta’lim yang sangat di dorong sebagai aktifitas awal yaitu ta’lim harian di rumah dan masjid.</p>
<p>Do’akan kami, mudah-mudahan kami dapat lagi menyiapkan pesantren kembali seperti yang telah kami buat di Bandung. Sedangkan kurikulum dan silabus, Alhamdulillah, telah cukup terus disiapkan melalui kitab-kitab Ulama yang dipilih. Pesantren ini sebagai “Madrasah Da’wah dan Islam” seperti yang tertulis di http://usahadawah.com. Dan Bahasa sebagai alat pendukung utamanya adalah Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, sehingga akan memudahkan mempelajari kitab-kitab Ulama.</p>
<p>Mudah-mudahan memberikan hal yang diminta oleh Pak Nurim.</p>
<p>Terimakasih,</p>
<p>Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=315&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/guru-guru-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana kita menyikapi Internet?</title>
		<link>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-menyikapi-internet/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-menyikapi-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 02:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Author : nurim
E-mail : nisnurim@gmail.com
Comment:
Kepada sahabat-sahabatku semua. melalui media internet ini , alhamdulillahm, kita bisa berbagi ilmu, pengalaman, dll yang baik-baik. tapi dilubuk hati yang paling dalam ini muncul kekhawatiran yang amat sangat tentang pengaruh buruk internet. Karena melalui media internetlah, keburukan yang seburuk-buruknya tersebar ke seluruh dunia, sampai ke pelosok-pelosok (krn internet kan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Author : nurim</p>
<p>E-mail : nisnurim@gmail.com</p>
<p>Comment:</p>
<p>Kepada sahabat-sahabatku semua. melalui media internet ini , alhamdulillahm, kita bisa berbagi ilmu, pengalaman, dll yang baik-baik. tapi dilubuk hati yang paling dalam ini muncul kekhawatiran yang amat sangat tentang pengaruh buruk internet. Karena melalui media internetlah, keburukan yang seburuk-buruknya tersebar ke seluruh dunia, sampai ke pelosok-pelosok (krn internet kan bisa lewat hp juga). Nah apa pandangan sahabat semua sebagai aktifis dakwah mengenai media internet ini dipandang dari segi manfaat dan mudhorotnya? Dan apa pandangan para ulama tabligh berkaitan dengan fenomena ini? Ada yang bisa memberikan pencerahan?</p></blockquote>
<p><strong>1.	Pengantar</strong></p>
<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Segala puji bagi Allah swt yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan kepada kita semua, terutama dengan nikmat Iman dan Islam. Tiada yang lebih tinggi nikmat ini kecuali nikmat Iman dan Islam, serta kita dikenalkan terhadap usaha yang mulia yaitu usaha atas Iman dan Islam kita dan kaum muslimin. Sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, kekasih kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para Shahabat RA, kepada para guru-guru kita, serta kepada kaum muslimin yang selalu berusaha mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW, termasuk kepada diri kita dan keluarga kita semua. Amiin.</p>
<p>Kita dapat berbagi pandangan terhadap apa yang disampaikan Pak Nurim. Mudah-mudahan berbagi pandangan ini memberikan manfaat bagi kita kaum muslimin. Dan kami mencoba memberikan pandangan terlebih dahulu, hal ini dikarenakan apa yang disampaikan itu masuk ke tempat kami, http://usahadawah.com. Dan kami persilahkan kepada kawan-kawan untuk sama-sama berbagi pandangan dengan hal itu.</p>
<p><span id="more-310"></span>Untuk membuka wacana itu maka tentunya kita perlu mengetahui karakteristik dari usaha da’wah dan juga media internet itu sendiri. Secara singkat kami sebutkan terlebih dahulu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha da’wah ini, (1) usaha da’wah ini sangat menekankan pengorbanan (2) usaha da’wah ini menekankan untuk selalu berniat memperbaiki diri dengan Iman dan amal sholeh (3) usaha da’wah sangat menekankan bertemu langsung dengan ummat manusia (4) usaha da’wah sangat menekankan pada kerja ijtima’iyyah dan musyawarah (5) usaha da’wah sangat menekan pada kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA (6) Usaha da’wah ini sangat menekankan pada kerja/amal masjid maqomi dan Khuruj (7) Usaha da’wah ini menakankan untuk menjaga hati kaum muslimin melalui ikramul muslimin (8) usaha da’wah ini sangat menekankan untuk TERTIB dan HIKMAH dalam kehidupan kaum muslimin melalui adab dan akhlaq Islam.</p>
<p>Kami sebutkan sebagian saja, tetapi sebenarnya masih banyak karakter dari usaha da’wah ini dan semuanya mempunyai landasan Al-Quran dan As-Sunnah. Bagaimana dengan karakteristik Internet itu sendiri, (1) Internet merupakan sarana komunikasi global dan berbagi pengetahuan/informasi (2) Internet dapat memadukan antara suara, tulisan, video, gambar (3) Internet merupakan sarana terbarukan, setelah sarana komunikasi lainnya (4) Internet memberikan komunikasi yang TIDAK LANGSUNG BERTEMU (5) Internet membuka komunikas bebas, tanpa terdapat batas-batas sosial yang membatasinya. (6) Internet merekam semua tulisan yang disebarkan apakah itu baik ataupun buruk</p>
<p>Sebelum kami mengungkap perihal Usaha da’wah dan Internet. Sebelumnya kami mengajak kawan-kawan terlebih dahulu untuk memperhatikan beberapa hal utama berkaitan dengan usaha da’wah, yang mana kadangkala kita sendiri kurang memperhatikan dengan baik. Hal ini untuk lebih mengingatkan diri kami sendiri yang lemah ini. Sedangkan untuk perihal “Usaha da’wah dan Internet” kami tuliskan di bagian akhir.</p>
<p><strong>2.	Usaha Da’wah dan Kehidupan Para Shahabat RA</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Kita bersyukur dikenalkan dengan usaha da’wah ini, tidak terkecuali dengan kami sendiri yang lemah ini. Usaha da’wah ini telah memberikan satu kerangka yang sangat fundamental bagi kita sebagai muslimin yaitu Kepentingan Iman dan Amal Sholeh, Kejayaan dan Kesuksesan itu bergantung sejauh mana kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW. Serta kita diajari perihal satu masyarakat yang telah mendapatkan kesuksesan yaitu para Shahabat RA. Para Shahabat RA masih hidup di kala itu, tetapi para Shahabat RA telah mendapatkan keridhoan Allah swt.</p>
<p>Dan kita masih berusaha untuk mendapatkan ridho Allah swt, dan para Ulama/Masyaikh dalam usaha da’wah ini selalu MENEKANKAN kepada kita semua untuk mempunyai niat selalu memperbaiki diri dan mencapai seperti para Shahabat RA. Para Shahabat RA merupakan satu masyarakat yang mencapai kejayaan, dan kita tentunya berusaha mengikuti masyarakat yang sukses itu. Dan para Shahabat RA itu selalu berusaha mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah selalu menekankan kita untuk berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, begitupun juga dengan Maulana Yusuf Rah. Beliau, Maulana Yusuf Rah, menjelaskan bahwa untuk memahami tertib dan ushul usaha da’wah ini, maka tentunya harus selalu berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan beliau telah menulis kitab hayatush shahabat yang mudah dipelajari oleh kita kaum muslimin.</p>
<p>Sehingga tentunya bagi kita semua untuk selalu berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Kita dapat merasakan langsung dengan hal ini, sehingga (1) ta’lim akhir di waktu malam markaz ta’lim kisah-kisah Rasulullah SAW dan Shahabat RA, (2) ketika keluar sendiri di waktu malam kita sendiri mendengarkan ta’lim kisah-kisah Rasulullah SAW dan Shahabat RA, (3) ketika keluar/khuruj kita diulang-ulang perihal enam sifat shahabat saat bayan subuh, (4) ketika khuruj juga di waktu ta’lim pagi, untuk mengulang-ngulang sifat para Shahabat. Begitupun juga dengan ta’lim di masjid kita ataupun rumah kita.</p>
<p>Kita benar-benar diajak untuk memperhatikan kehidupan dari sebuah generasi yang telah mencapai kesuksesan di dunia dan di akherat, sehingga jika meminta do’a agar mendapat kebaikan di dunia dan akherat, SEBENARNYA kita berkeinginan berusaha seperti para Shahabat RA. Begitupun juga dengan bacaan al-fatihah minimal 17x/hari, di ayat terakhirnya sebenarnya kita meminta jalan dari orang-orang yang diberi nikmat, tentunya Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Mudah-mudahan kita selalu berusaha mempelajari kisah-kisah kehidupan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Maulana Dzakaria Rah menulis dengan hikayat para Shahabat RA, dan ini merupakan kitab yang mudah dipelajari oleh kaum muslimin. Maulana Yusuf Rah menulis kitab Hayatush Shahabat yang memperlihatkan sumber-sumber ilmiyyah terhadap kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat.</p>
<p>Dua kitab ini sangat mudah dipelajari oleh kaum muslimin, karena kitab-kitab disusun mengikuti kisah-kisah sesuai bab utamanya. Disamping masih banyak buku/kitab yang ditulis para Ulama lainnya dengan pendekatan dan sistematik penulisan yang berbeda. Dan kita dapat memilih buku-buku itu sebagai bahan tambahan untuk kita.</p>
<p><strong>3.	Usaha Da’wah dan Ulama-Ulama Tempatan Kita</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah telah memberikan kerangka kesuksesan dan kejayaan di dunia dan di akherat, yaitu Iman dan Amal Sholeh, serta ditunjukan pada satu masyarakat yang telah mencapai kesuksesan di dunia dan di akherat, yaitu Para Shahabat RA. Kejayaan dan kesuksesan para Shahabat RA yang dibina oleh Rasulullah SAW, dikarenakan para Shahabat RA ini mengikuti perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya.</p>
<p>Dan untuk mengikuti perintah Allah swt dan Sunnah Rasulullah SAW, kita tentunya memerlukan Ilmu itu sendiri. Dan usaha da’wah begitu sering menekankan perihal Ilmu ini, dan dipadukan dengan dzikir. Sehingga usaha da’wah selalu menjelaskan kepentingan dan keutamaan perihal “Ilmu Ma’adz Dzikir”. Dan kita selalu mengulang-ngulang perihal “Ilmu Ma’Adz Dzikir” ini. Para Ulama/masyaikh yang telah dalam usaha da’wah ini selalu menekankan perihal ‘Ilmu Ma’adz Dzikir”.</p>
<p>Dan beliau-beliau ini juga mengajarkan kepada kita untuk dapat menimba Ilmu kepada Ulama-Ulama tempatan kita. Bahkan kita sendiri sering mengulang-ngulang untuk dapat menimba Ilmu kepada Ulama-Ulama tempatan kita, apakah ketika mudzakarah enam sifat shahabat, apakah ketika bayan tangguh dsb. Hanya saja kadangkala kita lupa dan mempunyai jiwa malas untuk bertemu dan belajar kepada para Ulama-Ulama tempatan kita.</p>
<p>Ulama-ulama tempatan kita ini mempunyai tingkatan dan kemampuan berbeda-beda, sehingga kita dapat belajar dari banyak Ulama. Dengan Ulama yang satu, kita dapat belajar tajwid. Dengan Ulama yang kedua, kita dapat belajar perihal hadist. Dengan Ulama yang ketiga, kita dapat belajar tafsir quran. Dsb. Sehingga kita dapat berhubungan dengan Ulama-Ulama kita yang cukup banyak. DAN KITA dapat mengaturnya sendiri, mungkin tahap pertama kita belajar Tajwid sampai selesai, kemudian kita belajar Ilmu bahasa Arab sampai selesai, dsb. ATAU kita belajar pelajaran-pelajaran syarh kitab tertentu, seperti syarh kitab Riyadhush Sholihin, atau tematik tafsir Ibnu Katsir (Baca: Sesuai topik-topiknya).</p>
<p>Mungkin untuk MAYORITAS kaum muslimin lebih baik belajar dengan Syarh-Syarh Kitab Ulama Dulu atau Tematik-tematik dari Ulama Dulu; karena pengajaran seperti ini akan MEMUDAHKAN bagi kaum muslimin untuk mengetahui dengan baik perihal Islam dan langsung beramal Islam. Dan banyak Ulama dulu menyusun secara tema-tema secara sistematik. Disamping kita juga mudah untuk menghafal beberapa bagiannya. HANYA untuk kalangan yang benar-benar mau belajar dan mendalami secara serius, maka sebaiknya mengikuti madrasah-madrasah Islam dengan baik karena mempunyai kurikulum dan silabus yang, termasuk bahasa Arab.</p>
<p>Dan untuk hal ini, kita yang perlu aktif mencari pelajaran-pelajaran tersebut. Karena sampai saat ini sangat sedikit sekali pengajian-pengajian syarh-syarh kitab Ulama dulu dan juga tematik-tematiknya. Mudah-mudahan di waktu akan datang banyak Ulama/Ustadz yang membuka pengajian-pengajin dari Syarh-Syarh Kitab Ulama Dulu. Atau mungkin kawan-kawan sendiri di waktu akan datang menjadi alim/ustadz untuk mengajarkan hal ini di mohala-mohala (Baca: masjid) secara berurutan.</p>
<p>Kita bersyukur dikenalkan dengan kitab Fadhilah Amal Maulana Dzakaria Rah, Hayatush Shahabat Maulana Yusuf Rah, Al-muntakhabah Maulana Yusuf Rah dan Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah, yang dibaca dan dipelajari secara ijtimaiyyah. Artinya kita sudah mempunyai ta’lim rutin di rumah dan masjid kita. INI MERUPAKAN AWAL bagi kaum muslimin, termasuk kita. UNTUK MEMBIASAKAN ta’lim harian di dua tempat, yaitu rumah sendiri dan masjid di dekat rumah kita.</p>
<p>Dengan adanya pesan ataupun nasehat dari para masyaikh ataupun kawan-kawan senior kita untuk dapat belajar ke Ulama-Ulama tempatan kita. Karena tentunya beberapa hal ta’lim lainnya tidak ditetapkan sebagai Ijtima’iyyah. Karena kalau dijadikan sebagai aktifitas ijtima’iyyah, jelas hal itu akan banyak memberatkan kita sendiri apalagi memerlukan pengetahuan dan kepahaman yang lebih. Misalkan Tajwid Quran, Bahasa Arab, Syarh Riyadhush Sholihin, Fiqh Islam, Tafsir Quran dsb.</p>
<p>Sehingga kita harus berINISIATIF untuk dapat belajar kepada Ulama-Ulama kita untuk memahami Al-Islam dengan baik. Sehingga TUJUAN UTAMA dari IJTIMA’IYYAH itu sendiri untuk seluruh kaum muslimin DAPAT DIWUJUDKAN juga dengan baik. Dan kita akan banyak berhubungan dengan Ulama-Ulama kita sendiri. Inilah salah satu pesan yang kurang diperhatikan kita, termasuk kami yang lemah ini. Dan hal ini dapat menjadi SARANA untuk MENGHIDARI TA’ASHUB dan juga dapat MENGHORMATI ulama-ulama kita sendiri dengan baik.</p>
<p>PERPECAHAN kaum muslimin itu dikarenakan TA’ASHUB kepada dirinya sendiri, merasa bangga dengan dirinya dan meremehkan kepada kaum muslimin lainnya.  Sehingga para Masyaikh usaha da’wah mengajarkan kepada kita untuk banyak belajar kepada ulama-ulama tempatan kita. Sehingga usaha da’wah ini yang mana sebenarnya landasannya SILATURAHMI dan MASJID akan sangat mudah dipahami dengan baik oleh para Ulama sendiri.</p>
<p>Dan kita datang ke Ulama tempatan kita, bukan untuk kita mengajak beliau-beliau kepada usaha da’wah. Tetapi tujuannya untuk kita melanjutkan dan menjaga niat kita sendiri yaitu MEMPERBAIKI diri kita, sehingga amal-amal kita akan lebih dekat kepada apa yang menjadi tujuan kita sendiri yaitu mengikuti perintah Allah swt dan juga Rasulullah SAW dalam kehidupan kita 24 jam, 7 hari. Itulah yang selalu ditekankan, apakah ketika bayan markaz, apakah ketika keluar/khuruj, apakah ketika taqrir, dsb. Kita berlomba 100% kehidupan kita mengikuti perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah SAW.</p>
<p>Dan jika ada sebagian Ulama yang menyampaikan pandangannya yang kurang tepat terhadap usaha da’wah, maka kita tetap ikram kepada beliau-beliau ini. Dan mungkin ketika terlalu banyak yang bersifat doktrin dengan menggunakan dalil-dalil, maka sebaiknya kita tetap hormat kepada Ulama yang bersangkutan dan kita tetap menjalankan usaha da’wah ini dengan baik. Insya Allah di waktu akan datang akan memberikan kepahamannya.</p>
<p><strong>4.	Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah ini memberikan pengajaran lainnya untuk dapat membedakan antara Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah. Kita tentunya perlu berusaha menjaga amal-amal Ijtima’iyyah dalam kerja da’wah ini, tetapi juga usaha da’wah ini tidak mengajarkan untuk meninggalkan perkara infirodhiyyah. Sehingga jika kita banyak bermudzakarah tentunya kita akan mendapatkan gambaran yang baik perihal kedua hal tersebut.</p>
<p>Jika ada kawan-kawan mengajak kami perihal ekonomi, kami tentunya cukup senang untuk membahasnya. TETAPI ketika ada keinginan bermudzakarah ekonomi secara ijtima’iyyah ke dalam usaha da’wah ini, kami tentunya tidak menerima hal itu. Ekonomi ini sangat beragam bentuknya dan kebijakannya, dan tidak semua kaum muslimin memahami perihal ekonomi ini. TETAPI usaha da’wah ini merupakan usaha untuk semua kaum muslimin, bukan untuk kalangan tertentu saja. Sama halnya dengan perkara politik.</p>
<p>Maulana Yusuf Rah menjelaskan dalam bayan terakhir hidup beliau (baca: 3 hari sebelum meninggal dunia). Usaha da’wah ini merupakan kerja atas tanah, sedangkan usaha lainnya atas pohon. Artinya semua perkara infirodhiyyah tersebut akan subur dengan baik dalam tanah yang subur juga. Tetapi usaha atas tanah tidak dapat mengantikan usaha atas pohon, begitupun sebaliknya usaha atas pohon tidak dapat menggantikan usaha atas tanah.</p>
<p>Usaha da’wah ini merupakan usaha menyeluruh seluruh kaum muslimin, siapapun dapat melibatkan diri dalam usaha da’wah ini, apakah itu pejabat, apakah itu ulama, apakah itu pelajar, apakah itu berkulit hitam, apakah itu dokter, apakah itu petani, apakah itu pedagang dsb. Semua kaum muslimin dapat melibatkan diri dalam usaha da’wah ini. Sehingga seorang dokter tidak dapat mengajak-ngajak seluruh kaum muslimin untuk membahas kesehatan, tetapi ajaklah kalangan yang sangat terampil dan paham dalam kesehatan dan kedokteran.</p>
<p>Usaha da’wah ini karena mengajarkan perkara-perkara ijtima’iyyah, maka dengan secara tidak langsung dapat diterapkan dalam lingkungan infirodhiyyah. Kita perlu ta’at amir ketika khuruj, sebenarnya hal ini juga dapat diterapkan dalam aktifitas di kantor kita sendiri, tidak mungkin aktifitas kita berjalan dengan baik kecuali memang terdapat kepatuhan kepada pimpinan di tempat kerja kita ataupun mengajarkan anak buah kita untuk mematuhi apa yang ditetapkan dalam lingkungan kerja kita. Sehingga teamwork dapat terjaga dengan baik</p>
<p>Kita juga perlu menjaga ikramul muslimin (memuliakan kaum muslimin). Di manapun kita berada, apakah di tempat kerja, apakah di masjid kita, apakah di rumah kita, dsb. Kita tentunya harus juga memuliakan kaum muslimin lainnya. Kita tidak dibenarkan untuk membuka aib masyarakat kita, ataupun membuka aib tempat kerja kita, dsb. Sehingga hubungan kita dengan kaum muslimin lainnya menjadi cukup baik.</p>
<p>Kita juga tidak dibenarkan asal-asalan membahas perkara khilafiyyah, artinya perkara ini jika dibahas di sembarang tempat maka tentunya hasilnya juga kurang baik. Apalagi kalau kita sendiri tidak mengerti dengan baik perkara khilafiyyah yang dibahas itu. Tentunya jika serampangan, maka akan menghasilkan kontra produktif di kalangan ummat Islam.</p>
<p>Dan cukup banyak perkara-perkara yang diajarkan dalam tertib dan ushul usaha da’wah, hal tersebut agar kita kaum muslimin menjadi muslim YANG TERTIB dan HIKMAH dalam kehidupan kita sebagai muslimin. Menjadi muslim YANG TERTIB dan HIKMAH ini tidaklah mudah, sehingga perlu banyak berlatih lagi dan lagi. Dan kita bersyukur diajarinya tidak hanya dalam bentuk TEORI-TEORI, tetapi dalam bentuk AKTUALISASI NYATA. Adab makan, adab tidur, adab masjid, adab khususi, adab jaulah, dsb, semua hal tersebut agar kita menjadi TERTIB dan HIKMAH dalam hidup ini.</p>
<p>Sehingga kita harus benar-benar bisa membedakan antara Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah dengan baik. Jangan sampai aktifitas sendiri merusak aktifitas ijtima’iyyah, ataupun sebaliknya. Oleh karena itu tidak heran kalau akan khuruj lama diperlukan tafaqud dengan baik. Tentunya kerja Ijtima’iyyah jangan sampai merusak keperluan infirodhiyyah, karena  akhirnya dapat menimbulkan fitnah terhadap usaha da’wah itu sendiri. Dan hal ini harus dihindari.</p>
<p>Oleh karena itu kita semua memang dituntut akhirnya untuk LEBIH TERTIB dan HIKMAH, jangan sampai akhirnya kita kurang hikmah dalam menasehati kepada kawan-kawan kita sehingga melupakan tanggung jawab infirodhiyyah, dan akhirnya menimbulkan Fitnah terhadap usaha da’wah ini. Begitupun juga karena kurang tertib dan hikmah pula, akhirnya banyak juga kaum muslimin ataupun kawan-kawan lainnya menjadi kurang bersemangat dengan usaha da’wah Ijtima’iyyah.</p>
<p><strong>5.	Usaha da’wah dan Tulis-Menulis</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Pada saat awal-awal sekali Maulana Ilyas Rah dalam perjalanan usaha da’wah ini pernah melarang kalangan ahli da’wah menulis perihal usaha da’wah, TETAPI selanjutnya beliau membolehkan tulis-menulis perihal usaha da’wah. Dan siapapun boleh menulis perihal usaha da’wah, tetapi beliau selalu menekankan untuk selalu meminta nasehat dari kalangan senior-senior yang terjun dalam usaha da’wah ini. Hal ini agar jangan sampai kita melakukan pandangan tidak tepat terhadap usaha da’wah, sehingga merusaka dari Ijtima’iyyah itu sendiri.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah menjelaskan bahwa hal itu dilakukan seperti mana beliau mengikuti Rasulullah SAW melarang menulis hadist Rasulullah SAW karena dikuatirkan akan bercampur dengan Al-Quran, apalagi terdapat hadist qudsi. Dan ketika usaha da’wah ini sudah mulai nampak dan banyak kaum muslimin melibatkan diri, dan bahkan Ulama-ulama di jamannya telah banyak melibatkan diri. Maka beliau membolehkannya, karena jika diawal-awal dibolehkan dengan menulis maka dikuatirkan usaha da’wah ini akan menjadi tulisan-tulisan semata, sedangkan AKTUALISASInya tidak terjadi dan tidak membumi di lingkungan kaum muslimin.</p>
<p>Meskipun beliau membolehkan penulisan perihal usaha da’wah itu, tetapi tidak banyak yang menulis perihal usaha da’wah ini. Kitab Fadhilah Amal yang disusun Maulana Dzakaria Rah sendiri merupakan dorongan dari Maulana Ilyas Rah sendiri, disamping ada juga Ulama lainnya seperti Kitab Fadhilah Quran. Dan tidak banyak kitab bacaan yang menjadi bahan secara Ijtimaiyyah, boleh jadi kitab fadhilah amal Maulana Dzakaria Rah, kitab hayatush shahabat Maulana Yusuf Rah, Kitab Al-muntakhabah Maulana Yusuf, serta Kitab Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah.</p>
<p>Sedangkan tulisan lainnya meskipun berhubungan dengan usaha da’wah bukanlah bahan bacaan secara ijtima’iyyah. Terdapat satu kitab yang diSupervisi langsung oleh Maulana Ilyas Rah, yaitu Kitab Al-mafudhat Maulana Ilyas Rah yang disusun oleh Maulana Noomani Rah. Kitab ini saja tidak menjadi bacaan Ijtima’iyyah, meskipun menurut informasi yang kami peroleh para masyaikh banyak mempelajari kitab ini dengan baik.</p>
<p>Buku Malfudhat Maulana Ilyas Rah buku nasehat-nasehat beliau berkaitan dengan usaha da’wah. Sekarang ini sudah mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Boleh jadi akan banyak para Ulama dan penuntut ilmu yang mendalami nasehat-nasehat beliau dalam buku ini di waktu akan datang, karena tidak dapat dipungkiri usaha da’wah ini telah tersebar secara global dan mendunia sekali. Buku ini sangat memperlihatkan PIKIR dan RISAU BELIAU. Dan memang untuk membacanya perlu perlahan-lahan dan berulang-ulang.</p>
<p>Dan sekarang telah banyak yang menulis perihal usaha da’wah, termasuk kalangan ulama dari Timur Tengah. Dan bahkan telah ada ulama yang memberikan pandangan berimbang ketika terdapat pandangan yang kurang tepat terhadap usaha da’wah yang banyak dilontarkan kaum muslimin lainnya, begitupun di Indonesia sendiri telah banyak yang menulis perihal usaha da’wah ini. Buku-buku itu bukan merupakan bacaan ijtima’iyyah, sehingga dipersilahkan bagi ahli da’wah kaum muslimin untuk mempelajarinya di waktu luang.</p>
<p>Para Ulama/masyaikh da’wah ini di nizamuddin sendiri banyak juga menulis kitab-kitab Islam, dan mungkin sangat tebal dan ilmiyyah. Misalkan beberapa kitab yang disusun oleh Maulana Dzakaria Rah perihal syarh judul dari kitab Imam Bukhari, Maulana Yusuf Rah syarh kitab Imam Thahawi Rah, Maulana Dzakaria Rah juga syarh dengan Kitab Al-Muwatha Imam Malik Rah, termasuk juga dengan Maulana Inamul Hasan Rah, Mulana Noomani Rah, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Dan kami sendiri mendapatkan seri da’wah tabligh ini yang ditulis kalangan alim dan hafidz dari ahli da’wah dari Yordan dan juga dari Madinah. Yang khusus dari Yordan, beliau memberikan pengantar bahwa seri bukunya itu meminta nasehat dari para masyaikh da’wah di markaz da’wah dunia. Dan kalau kita pelajari dengan baik, apa yang sering dimudzakarahkan dalam enam sifat semuanya ada di sana. Memang dulu ada yang menulis dengan baik sekali perkara enam sifat itu, yaitu Maulana Ishaq Ilahi Rah.</p>
<p>Kami pribadi sendiri berkeinginan dengan topik-topik secara tematik yang sering diungkapkan dalam usaha da’wah ini, hanya saja kami belum menyempatkan secara serius perihal itu. Mudah-mudahan di waktu akan datang kami meluangkan waktu untuk menulis hal ini. Kami tidaklah menulis seperti para Ulama menulis, tetapi kami akan berusaha merangkai apa yang ditulis para ulama dulu terhadap tema-tema yang banyak muncul dalam usaha da’wah ini.</p>
<p>Sehingga yang HARUS DIPERHATIKAN oleh kita adalah tetap untuk menjaga Ijtima’iyyah secara TERTIB, USHUL dan HIKMAH. Hal ini jangan sampai tulisan-tulisan kita ini memberikan fitnah terhadap usaha da’wah yang mulia. Mudah-mudahan kita semua MEMPERHATIKAN TERTIB, USHUL dan HIKMAH dalam tulisan-tulisan kita dalam bentuk apapun, apakah dalam bentuk buku ataupun dalam bentuk tulisan di Internet. Sebenarnya TERTIB, USHUL dam HIKMAH itu berasal dari al-quran dan as-sunnah itu sendiri, dan pada akhirnya tulisan-tulisan itu jangan sampai bertentangan dengan al-quran dan as-sunnah itu sendiri.</p>
<p><strong>6.	Usaha da’wah dan Amal Maqomi</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Amal maqomi di masjid kita terdapat lima hal aktifitas utama yaitu (1) 2x ta’lim harian, di masjid 1x dan di rumah 1x (2) 2x jaulah mingguan, di masjid sendiri dan di masjid tetangga, (3) 2,5 jam harian, khususi kepada kaum muslimin dan amal masjid lainnya (4) musyawarah harian di masjid sendiri, (5) 3 hari khuruj fisabilillah di kota sendiri.</p>
<p>Sedangkan Amal masjid itu secara umum adalah Da’wah; Ta’lim Wa Ta’allum; Ibadah Dzikir; dan Khidmat. Jika dilihat dari lima amal maqomi, artinya hal tersebut baru merupakan BAGIAN DARI AMAL MASJID itu sendiri. Sehingga jangan dianggal bahwa amal maqomi itu sudah menyeluruh, tetapi baru merupakan bagian saja dari amal masjid. Dan tentunya perlu DIPIKIRKAN bagaimana atau sarana apa saja yang dapat menumbuhkan 5 Amal Maqomi itu.</p>
<p>Usaha da’wah ini menekankan perihal ta’lim harian dari fadhilah amal, artinya masih terbuka perihal ta’lim lainnya. Kenapa usaha da’wah ini tidak membuat aktifitas-aktifitas lainnya? Karena perkara itu harus dibangun di masyarakat yang bersangkutan, dan juga memerlukan kepahaman dan pengetahuan ilmu itu sendiri dengan baik. Tidak mungkin semua orang dapat mengajar kitab tafsir ataupun fiqh Islam. Oleh karena itu, jika diperlukan kita dapat mudzakarah ataupun musyawarah dengan kaum muslimin tempatan untuk melaksanakan aktifitas ta’lim lainnya.</p>
<p>SEHINGGA mungkin saja di waktu akan datang setiap masjid mempunyai madrasah sendiri yang dapat mengajarkan perihal ilmu lainnya secara teratur dan mempunyai kurikulum dan silabus yang baik. TETAPI ta’lim fadhilah amal dan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tetap perlu dijalankan dengan baik pula, sehingga kaum muslimin akan mempunyai semangat terhadap amal-amal Islam itu sendiri.</p>
<p>Hafalan Ayat-Ayat Quran (Baca; Surat ataupun piliha), Hafalan hadist-hadist pilihan, Hafalan Do’a, atau seperti yang kami jelaskan sebelumnya dalam bahasan “Usaha da’wah dan Ulama-Ulama Tempatan”. Kita juga dapat membuka ta’lim syarh Riyadhush Sholihin, ataupun Tafsir dsb. Sehingga hal –hal ini akan menjadi PENDORONG terhadap amal-amal maqomi itu sendiri. BIASANYA ILMU akan menjadi salah satu PENDORONG yang cukup kuat untuk memberikan kerangkan aktifitas kerja yang kita jalankan.</p>
<p>Disamping memang juga perlu terbiasa dengan Dzikir, baca Quran, Sholat malam bersama di masjid sendiri, ataupun bahkan buka puasa bersama, dsb, hal-hal seperti ini menjadi PENDORONG juga untuk dapat menjalankan kerja-kerja amal maqomi kita.</p>
<p>(1) 2x ta’lim harian, di masjid 1x dan di rumah 1x (2) 2x jaulah mingguan, di masjid sendiri dan di masjid tetangga, (3) 2,5 jam harian, khususi kepada kaum muslimin dan amal masjid lainnya (4) musyawarah harian di masjid sendiri, (5) 3 hari khuruj fisabilillah di kota sendiri. Lima kerja ini yang perlu kita TUNTASKAN SECARA SEMPURNA. Dan jangan lupa dengan hal-hal lainnya yang dapat mendukung aktifitas kita, apakah ketika di maqomi ataupun Khuruj.</p>
<p>Jika banyak anak-anak muda ataupun siapapun yang banyak hafalan quran, hadits dan do’a dan bahkan ucapana Ulama dan mereka-mereka ini keluar/khuruj, maka tentunya akan dapat memberikan kesan yang baik terhadap kaum muslimin lainnya, ketika bayan magrib, bayan shubuh, taqrir, dsb. Kami mempunyai niat untuk menyusun hafalan itu yang mana memang hal itu untuk kami sendiri dan keluarga kami juga. Mudah-mudahan dapat disebarkan dengan baik nantinya. SEBENARNYA SUDAH TERSEDIA melalui kitab-kitab Ulama dulu, hanya saja mungkin kita merasakan terlalu berat padahal masih bisa dipilih-pilih oleh kita.</p>
<p>5 Amal maqomi kita semua berusaha menyempurnakannya dengan baik, TETAPI kita perlu juga menyiapkan diri kita untuk dapat memberikan KESAN YANG BAIK dengan ILMU, IBADAH, AKHLAQ, MUAMALAT. Sehingga tidak lagi muncul kalimat-kalimat yang kurang baik terhadap usaha da’wah ini.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah pernah menjelaskan dalam kitab Malfudhotnya, bahwa jama’ah rombongan khuruj yang baik itu terdapat dua orang yang perlu membawa rombongan dengan baik, yaitu Amir Rombongan yang dapat mengelola jama’ah dengan baik, dan Ulama yang dapat memberikan bimbingan ketika sedang keluar. Mudah-mudahan di waktu akan datang SETIAP ROMBONGAN keluar akan ada ulamanya, dan hal itu terjadi melalui MASJID SENDIRI.</p>
<p>Sehingga memang peran MAQOMI itu sangat penting untuk kerja-kerja da’wah ini.</p>
<p><strong>7.	Usaha da’wah dan Internet</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Internet ini telah memberikan manfaat banyak bagi kaum muslimin dan ummat manusia, TETAPI juga Internet menjadi sarana global yang LUAR BIASA terjadi penyebaran maksyiat kepada Allah swt dan Rasulullah SAW. Facebook misalnya, beberapa waktu lalu begitu gencar perihal hal-hal yang merugikan banyak manusia. Apapun bentuk sarananya SEBENARNYA bergantung dari orang yang memanfaatkannya.</p>
<p>Telepon juga bisa menjadi sarana yang tidak benar, kalau orang yang mempunyai niat yang tidak benar. Dan banyak lagi sarana-sarana bermanfaat untuk kehidupan manusia, TETAPI akhirnya menjadi tidak benar penggunaannya. Misalkan kasus ATM yang terjadi beberapa waktu lalu, sehingga banyak orang merasakan kehilangan uangnya dari bank. Kita tidak dapat mengatakan bahwa ATM itu tidak bermanfaat, karena ada pencurian melalui ATM. Sama hal dengan Internet juga.</p>
<p>Usaha Da’wah ini sudah jelas tujuannya yaitu MENGEMBALIKAN kesadaran terhadap kesuksesan dan kejayaan di dunia dan akherat dengan IMAN dan AMAL SHOLEH. Sehingga aktifitasnya itu melalui proses langsung dan aktualisasi langsung, karena orang yang menjalankan usaha da’wah dan juga melibatkan kaum muslimin lainnya dalam usaha da’wah ini untuk lebih memahami tujuan utama itu, KEJAYAAN itu bergantung sejauh mana kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Inilah yang selalu ditekankan berulang-ulang, bahkan kita juga diminta untuk menjaga niat kita yaitu memperbaiki diri. Oleh karena itu, usaha da’wah ini dilakukan secara langsung, memerlukan pengorbanan, ijtima’iyyah, dsb. Dengan harapan, Mudah-mudahan Allah swt memberikan rahmat dan kemudahan kepada kita untuk menjadi Muslim yang baik dan sholeh, dan juga kepada kaum muslimin lainnya serta ummat manusia lainnya. Alhamdulillah, kita sendiri melihat hal itu dan mendengar perkembangannya.</p>
<p>Internet merupakan sarana, bisa dipergunakan untuk kebaikan ataupun maksyiat. Artinya bergantung kepada ORANGNYA yang menggunakan dan memanfaatkan Internet itu. Sekarang telah banyak  Ulama ataupun penuntut Ilmu Kaum Muslimin menyebarkan pelajaran-pelajaran Islam melalui Internet. Kita bersyukur bahwa Ulama/ustadz dan juga penunut Ilmu itu merupakan orang-orang baik yang memanfaatkan sarana Internet untuk kebaikan.</p>
<p>BERAPA BANYAK Ulama/Ustadz/Penuntut Ilmu DIBANDINGKAN dengan Ummat Manusia dalam menggunakan Internet? Coba bandingkan! SANGAT KECIL SEKALI rationya. Oleh karena itu, usaha da’wah TIDAK AKAN MENGGUNAKAN sarana internet untuk sarana ijtima’iyyah, karena hal itu hanya berlaku untuk kalangan tertentu saja dalam menyebarkan Islam kepada kaum muslimin lainnya. Kalau ada yang menggunakan internet untuk perkara usaha da’wah, hal itu bukan merupakan aktifitas ijtimaiyyah. Dan tentunya ketika berbagi perihal usaha da’wah di Internet, maka tentunya perlu diperhatikan TERTIB, USHUL, dan HIKMAH itu yang banyak diajarkan para masyaikh/Ulama/kalangan sepuh dalam usaha da’wah ini. Sehingga isinya tidak bertentangan dengan kaidah ijtima’iyyah itu sendiri.</p>
<p>YANG Dikuatirkan itu adalah banyaknya tulisan yang akhirnya berbeda dengan Tertib, Ushul dan Hikmah Ijtima’iyyah itu sendiri. Internet ini sangat berbeda dengan menulis buku, karena kalau menulis buku biasanya orang sudah dikenal terhadap kemampuannya dan pengetahuannya, sedangkan Internet BEBAS dan tidak membeda-bedakan hal itu, apalagi setelah ada facebook, blogging dsb. Inilah yang kami rasa kita harus berhati-hati dan tentunya diri kita masing-masing perlu terus mendalami usaha da’wah dan juga Al-Islam dengan baik.</p>
<p>Ada dua hal lainnya yang memang KAMI SENDIRI KUATIR dengan memanfaatkan internet yang berkaitan dengan usaha da’wah.</p>
<p>Pertama, dapat meningkatkan PERDEBATAN-PERDEBATAN di kalangan kaum muslimin. Karena tentunya banyak juga orang yang kurang senang dengan usaha da’wah ini menyebarkannya melalui Internet, Email dsb. Dan akhirnya menimbulkan kontra-produtif di antara kaum muslimin. DAN KITA sendiri akhirnya terfokus pada masalah-masalah itu yang banyak dilontarkan orang yang belum paham. Sehingga kita tersita waktu untuk hal-hal yang kontra-prodktif.</p>
<p>Kedua, dapat meningkatkan “DAYA CIUM” dari musuh-musuh Islam terhadap usaha da’wah Islam ini. Siapa orang yang senang dengan keberhasilan-keberhasilan musuhnya? Tidak ada yang senang dengan keberhasilan-keberhasilan dari musuhnya, bahkan orang-orang munafiq di dalam tubuh kaum musliminpun tidak akan senang dengan keberhasilan kaum muslimin sendiri. Sehingga menlontarkan kalimat-kalimat yang memancing.</p>
<p>Beberapa situs yang berkaitan dengan usaha da’wah ini telah banyak, bahkan dikelola secara baik oleh kalangan terpelajar. http://binatiih.com. Merupakan situs bahasa Arab yang kami sering berkunjung ke sana dan banyak pandangan-pandangan Ulama situs itu. Bahkan kami mendapatkan penjelasan seorang ahli tafsir di timur tengah, ketika menjelaskan satu ayat yang berkaitan dengan amal maqomi, rumah dan masjid kita. Disamping ada informasi buku-buku bahasa arab perihal usaha da’wah.</p>
<p><strong>8.	Kesimpulan</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah ini akan terus  berjalan, kita bukan mencari MAKHSYUR tetapi mencari MAQBUL. Sekarang ini usaha da’wah yang senyap awalnya ini SUDAH TERBUKA luas di seluruh dunia secara global, bahkan banyak berita internasional berkaitan dengan usaha da’wah ini disebarkan oleh pencari berita dari berbagai media cetak dan elektronik.</p>
<p>Pertemuan Ijtima’ dunia yang melibatkan jutaan kaum muslimin TENTUNYA mengundang banyak pihak, dan berita ini tersebar dengan luas dalam media cetak dan elektronik. PEMBANGUNAN masjid termegah dan terbesar di Inggris, jelas mengundang perhatian seluruh dunia. Karena pembangunan ini selesainya akan bersamaan dengan OLIMPIADE 2012 di Inggris.</p>
<p>Meskipun sarana Internet merupakan kegiatan infirodhiyyah, maka tetap kita menggunakannya secara baik dan ketika berhubungan dengan usaha da’wah. Maka perhatikan dengan baik TERTIB, USHUL, dan HIKMAH usaha da’wah. Agar kita tidak menjadi sebab muncul fitnah dalam tubuh kaum muslimin, tetapi memberikan hal-hal yang baik.</p>
<p>Sama halnya dengan aktifitas infirodhiyyah lainnya, seperti bekerja, sekolah, mengajar, berdagang dsb, kita harus melakukannya secara baik pula. Agar hal itu tidak menjadi fitnah terhadap usaha da&#8217;wah ini. Dari sekian banyak kejadian yang kami hadapi dan juga dapatkan secara informasi langsung dan tidak langsung, maka aktifitas infirodhiyyah ini sangat banyak memberikan kesan kepada usaha da&#8217;wah ini. Begitupun sebaliknya, sehingga kita memang dituntut untuk TERTIB dan HIKMAH dalam kedua hal itu.</p>
<p>Dan juga TERUSLAH BANYAK BELAJAR AL-ISLAM, sehingga kita dapat menjalankan kehidupan ini dengan landasan Al-Islam.</p>
<p>Terimakasih atas perhatiannya, dan jangan sungkan-sungkan untuk kontak kami jika ada yang perlu disampaikan.</p>
<p>Wasasalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Mohamad Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=310&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-menyikapi-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengherankan jika Mengkritik Tatacara Usaha Da&#8217;wah</title>
		<link>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 03:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/2010/01/16/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap aktifitas di muka bumi ini tentunya mempunyai tatacara untuk mencapai sasaran yang ditetapkannya. Tidaklah masuk akal jika kita mempunyai sasaran yang hendak dicapai tidak mempunyai tatacara / prosedur / proses yang sistematik. Jadi sangat heran jika ada yang memberikan pandangan kritik terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini dikarenakan tatacara atau pola da&#8217;wah yang dibangunnya.
Sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap aktifitas di muka bumi ini tentunya mempunyai tatacara untuk mencapai sasaran yang ditetapkannya. Tidaklah masuk akal jika kita mempunyai sasaran yang hendak dicapai tidak mempunyai tatacara / prosedur / proses yang sistematik. Jadi sangat heran jika ada yang memberikan pandangan kritik terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini dikarenakan tatacara atau pola da&#8217;wah yang dibangunnya.</p>
<p>Sangat heran jika ada seorang mahasiswa muslim seenaknya belajar dan tidak mengikuti aturan atau tatacara prosedur yang ditetapkan di lingkungan sekolah yang dimilikinya. Atau juga akan bertambah heran jika seorang muslim yang mengambil program S2 atau S3 tidak mengikuti aturan tatacara yang ditetapkannya, dengan alasan yang terpenting adalah sekolah S2 dan menuntut Ilmu.</p>
<p><span id="more-299"></span>Ataupun juga seorang pedagang ataupun karyawan perusahaan tidak jelas apa yang dikerjakannya, karena yang terpenting adalah kerja dan datang ke tempat kerja. Jelas pola berpikir seperti ini sangat keliru dan perlu diluruskan dengan baik. Inilah salah satu kelemahan kaum muslimin saat ini, karena kita kaum muslimin tidak pernah mengelola satu aktifitasnya dengan lebih baik dari perjalanan waktunya.</p>
<p>Allah swt sendiri sering menjelaskan perihal keteraturan alam semesta ini yang tentunya Allah swt memperlihatkan dalam alam semesta ini terdapat aturan yang sistematik dan menyeluruh. Itulah Allah swt memberikan pengajaran untuk memperhatikan alam ini, dan memang yang mendapatkan pelajaran itu hanya sebagian orang saja.</p>
<p><strong>&#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.&#8221; (QS Ali-Imran (3):190-191)</strong></p>
<p>Allah swt menjelaskan dengan sangat jelas perihal pertumbuhan manusia dari mulai pencampuran sperma dengan sel telur, terus daging, sampai terbentuk menjadi bayi. Allah swt menjelaskan pertumbuhan tersebut dengan sangat baik dan jelas. Jadi sudah sepatutnya kita kaum muslimin jika mempunyai program/kerja/aktifitas tentunya harus dikelola dengan baik dalam tatacaranya.</p>
<p>Oleh karena itu, kita kaum muslimin tentunya berkeinginan untuk mendapatkan penjelasan terlebih dahulu, sebelum kita ini memberikan kritik yang akhirnya memberikan ketidakpahaman hal itu sendiri secara menyeluruh. Seorang Ulama sekalipun  yang faqih dalam satu perkara / satu bidang Ilmu Islam, bukan berarti beliau ini menguasai dengan baik bidang lainnya. Tetapi kita tentunya tetap harus menghormati seluruh Ulama dengan baik, jika terjadi kekeliruan. Karena ada satu pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW bahwa tandanya beriman kepada Allah swt dan hari akhir adalah menghormati hak-haknya Ulama kita kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh ini telah begitu sistematik proses yang dilakukannya mulai dari akan pergi/khuruj sampai ke pulang kembali ke rumah masing-masing. Semua aktifitas itu disusun dengan rapi dan sistematik untuk menghasilkan hasil yang terbaik pula. Tatacara dalam usaha da&#8217;wah ini merupakan keterpaduan ataupun himpunan pelajaran Al-Islam menjadi satu model gerakan untuk menampilkan Al-Islam itu sendiri. Jadi jangan dianggap bahwa tatacara itu tidak mempunyai landasan Al-Quran dan As-Sunnah.</p>
<p>Dan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini sebenarnya sangat sederhana dan siapapun kaum muslimin tingkatan latar belakang, profesi, dan umur dapat mengikutinya dengan baik. Berbeda dengan tingkatan pendidikan dan kajian Islam, tidak semua latar belakang dan umur dapat mengikuti dengan baik. Oleh karena itu untuk memahami usaha da&#8217;wah dan tabligh ini kita sendiri perlu meluangkan waktu untuk khuruj/keluar dengan baik dan teratur.</p>
<p>Jadi bagi kami sangat mengherankan jika ada yang memberikan komentar ataupun kritik terhadap usaha da&#8217;wah ini dikarenakan tatacara dari usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Misalkan seperti waktu lama khuruj. Sudah sangat jelas bahwa waktu juga perlu dibuatkan keteraturan yang baik untuk mengelolanya. Karena orang yang mengikuti khuruj ini juga mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap aktifitas-aktifitas lainnya yang perlu ditunaikan dengan baik pula. Bisa kita semua bayangkan jika  mendalami Al-Islam itu tidak diatur waktunya secara baik. Bisa tidak karuan hidup manusia jika tidak ada keteraturan dalam waktu itu.</p>
<p>Perihal waktu kami sudah jelaskan sebelumnya sebagai contoh. Kami sudah memberikan penjelasan bahwa semua kehidupan ini memerlukan keteraturan dengan baik. Dan Al-Quran dan As-Sunnah memperlihatkan itu dengan sangat jelas perihal kita perlu untuk menyusun segala aktifitas dengan keteraturan/tatacara yang baik.</p>
<p>Sehingga usaha da&#8217;wah dan tabligh yang telah menyusun tatacara/proses aktifitas da&#8217;wahnya itu merupakan hal yang ilmiyyah apakah secara dalil naqli ataupun dalil aqli. Dan <strong>tatacara aktifitas da&#8217;wah ini menjadi sebuah khazanah aktualisasi dari berbabagai sumber-sumber yang telah ditulis dalam kitab-kitab Para Ulama dulu</strong>. Dan bagi para penuntut ilmu, tentunya hal ini menjadi sebuah khazanah pendalaman yang menarik. Terimakasih.</p>
<p>(Insya Allah kami lanjut dalam bahasan lain)</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=299&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebagian Kaum Muslimin Selalu Berkomentar Pada Jumlah Hari Khuruj Usaha Da&#8217;wah, Tetapi Kerdil dalam Analisa dan Sintesa</title>
		<link>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 02:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.
Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, oleh karena itu tentunya kita sendiri perlu banyak berhubungan dengan kisah-kisah itu dengan baik. Perihal waktu sebenarnya tidak merupakan hal yang kaku, tetapi setidaknya dengan adanya pola tertib/keteraturan itu akan lebih mudah bagi kaum muslimin sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da’wah ini cukup banyak sebagai ahli hadist, oleh karena itu banyak di antaranya menulis syarh hadits hadist yang cukup tebal-tebal.</p>
<p>Perihal waktu itu banyak berhubungan dengan pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan 10%, dan juga tentunya ada beberapa kisah yang berkaitan dengan 3 hari, 40 hari, 4 bulan. Memang kejadiannya sangat berbeda dan juga aktifitasnya berbeda, tetapi setidaknya pola itu dapat dipergunakan untuk ketertiban dan kemudahan bagi kaum muslimin. Karena meskipun berbeda dari aktifitasnya, tetapi mempunyai kedekatan dari proses penyebaran dan juga pengorbanan untuk agama kita yang mulia, Al-Islam. 3 hari kisah Khalid Bin Walid RA, 40 hari berkaitan kisah Ummar Bin Khatab RA, begitupun juga dengan 4 Bulan berkaitan dengan Ummar Bin Khatab RA. Silahkan untuk membuka lembaran kisah itu yang cukup menarik.</p>
<p><span id="more-297"></span>Waktu khuruj ini tidak kaku, tetapi sangat fleksibel. Berbeda dengan sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dana S1,S2, S3 mempunyai batas bawah dan atas. Sedangkan khuruj ini lebih banyak tentunya akan lebih memberikan kesan kepada yang menjalankannya. Tetapi meskipun begitu harus tertib dan beraturan. Pola waktu untuk SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 juga diadopsi dari dunia pendidikan barat, dan hal itu juga dipergunakan untuk pendidikan dan pengajaran bidang-bidang Islam. Padahal tidak ada waktu-waktu pendidikan itu di jaman Rasulullah SAW, Para Shahabat RA, tetapi memberikan manfaat dan memberikan kemudahan bagi penyusun kurikulum dan silabusnya secara bertingkat.</p>
<p>Jadi waktu 3 hari, 40 hari, 4 bulan, merupakan proses keteraturan untuk memberikan kemudahan, disamping juga dianalisa dan disintesa berdasarkan pada kaidah 10% yang menjadi pesan Nabi kita sendiri. Yang diharapkan tentunya akan meningkat terus, mungkin kita pernah mendengar bahwa ada yang mau menginfaqkan semuanya, tetapi akhirnya hanya 1/3 saja. Dan tentunya jika pengorbanan 1/3  ini dapat dilakukan cukup luar biasa pengaruhnya kepada dunia Islam. Sekarang saja baru dengan pola 10% sudah begitu besar pengaruhnya di dunia Eropa, bagaimana jika 1/3 waktu tentunya akan sangat berbeda pengaruhnya.</p>
<p>Oleh karena itu jangan antum semua terjebak dengan waktu atau lamanya, karena hal itu sudah menjadi hal umum dalam kehidupan kita agar lebih tertarur. Dan Allah swt sendiri dan Nabi kita Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan kepada kita semua perihal waktu ini, hanya saja kita kurang memperhatikan dengan baik. Jadi perihal waktu itu untuk memudahkan, begitu juga dengan pesan 10% Nabi kita, serta juga pesan Ummar RA dengan 40 hari dan 4 bulan, semua untuk menjadi teratur hidup ini. Dan ini jelas diikuti para Ulama yang benar-benar faham dengan usaha da’wah ini. Jadi tidak asal copot saja hikmah yang dibangun itu, tetapi dengan segala pertimbangan mendalam apalagi mereka ini kebanyakan ahli hadist.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan baik terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri. Sehingga semakin lama tentunya akan memberikan kesan yang lebih baik kepada setiap orang yang melakukan khuruj.</p>
<p>Tetapi juga kita sendiri jangan melupakan musuh yang akan terus menggoda kita, yaitu syeithan, dan tentunya dorongan nafsu kita sendiri yang mengarah pada hal-hal yang tidak sesuai. Itulah perlunya ketika khuruj itu mengikuti tertib-tertib dan ushul da’wah. Tanpa tertib dan ushul, maka syeithan dan nafsu akan sangat mudah masuk dalam proses ishlah/perbaikan diri kita dalam suasana agama, sehingga akhirnya tujuan yang hendak dicapai tidak dapat dicapai dengan baik.</p>
<p>Seluruh tertib dan ushul itu mempunyai landasan Al-quran dan/atau as-sunnah.  Seluruh tertib dan ushul ini dijalankan sebaik mungkin, tidak dalam bentuk dalil-dalil detail yang perlu dihafal. Dan untuk menjaga tertib dan ushul itu maka musyawarah menjadi landasan utama. Musyawarah dalam usaha da’wah merupakan hal yang sangat penting diperhatikan, sehingga agendanya sangat beragam dan tingkatan bahasannya. Musyawarah  sebenarnya membentuk pikir, kepahaman dan tanggung jawab terhadap da’wah Islam itu sendiri.</p>
<p>Perihal dalil-dalil detail yang berkaitan dengan tertib dan ushul, bagi kalangan alim-ulama dan juga penuntut ilmu biasanya mempunyai keinginan yang berbeda dengan kalangan umum. Sehingga kadangkala menghafal hadist yang begitu panjang, kami pernah mendengarkan satu hadist dalam Bahasa arab yang disampaikan dari orang Perancis turunan arab, mungkin kalau dituliskan Bahasa arabnya mungkin saja 2-3 halaman. Itu yang mempunyai jiwa thalab yang tinggi.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri.</p>
<p>Dalam hal ini banyak dalil berkaitan dengan aktifitas/kerja ketika khuruj yang kita dapat peroleh untuk menguatkan minat kita terhadap usaha da’wah dan tabligh ini, karena memang usaha da’wah ini untuk seluruh kaum muslimin. Dan jika sudah waktunya, amal ini akan kembali ke masjid Nabawi seperti mana kepala ular kembali ke kandangnya. Mungkin sdr. pernah mendengar satu hadist yang hampir sama dengan konteks dengan kalimat itu. Itulah sebenarnya yang akan terjadi dan akan dikembalikan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=297&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan hanya pandai berkomentar terhadap usaha da&#8217;wah, tetapi pelajari dengan teliti dan sistematik!</title>
		<link>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 00:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang telah tumbuh sebagian kalangan kaum muslimin (baca: salafi) yang hanya pandai berkomentar, dan bahkan asal-asalan membid&#8217;ahkan tanpa keinginan mendapatkan pandangan berimbang. Oleh karena itu coba kita semua mempelajari secara telit dan sistematika.
Dalam kaidah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah, adalah keyaqinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan membuktikan dengan amal-amal sholeh. Dan Iman itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang telah tumbuh sebagian kalangan kaum muslimin (baca: salafi) yang hanya pandai berkomentar, dan bahkan asal-asalan membid&#8217;ahkan tanpa keinginan mendapatkan pandangan berimbang. Oleh karena itu coba kita semua mempelajari secara telit dan sistematika.</p>
<p>Dalam kaidah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah, adalah keyaqinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan membuktikan dengan amal-amal sholeh. Dan Iman itu dapat meningkat dengan tetap menjaga amal sholeh, dan iman dapat menurun ketika menjalankan amal-amal maksyiat kepada Allah swt. Ini adalah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Seorang yang berpikiran Sunnah Wal Jama&#8217;ah, tentunya harus berusaha, berpikir, dan melaksanakan bagaimana iman dapat meningkat dan menghindari dari iman yang menurun. Karena jika Iman terus menurun, artinya telah banyak amal-amal maksyiat dilaksanakan, sehingga akan menjadi sulit menjalankan amal-amal sholeh lainnya.</p>
<p><span id="more-294"></span>Tidaklah mungkin antum semua berpikiran sebagai sunnah wal jama&#8217;ah untuk tidak berusaha menjaga iman dan berusaha meningkatkan iman. Dan tentunya sesuai dengan kaidah sunnah wal jama&#8217;ah, maka untuk meningkatkan iman itu dalam suasana agama dengan amal-amal sholeh.</p>
<p>Apa saja amal sholeh itu? Sholat berjama&#8217;ah jelas merupakan amal sholeh, apalagi jika dilaksanakan di awal waktu. Tentunya akan terjaga iman karena dia akan selalu mendahulukan yang perlu didahulukan. Seorang sunnah Wal Jama&#8217;ah tidaklah mungkin ketika mendengar Adzan kemudian tidak melakukan sholat, tentunya akan berusaha sholat di awal waktu dan berjama&#8217;ah. Dengan hal ini tentunya Iman akan terjaga dan meningkat.</p>
<p>Apa lagi kalau begitu? Membaca al-quran jelas juga akan meningkatkan iman, apalagi begitu banyak perintah dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW untuk selalu menjaga membaca Al-quran. Tentunya seorang sunnah wal jama&#8217;ah akan berusaha menjaga secara berkelanjutan untuk membaca al-quran.</p>
<p>Apa lagi? Berdzikir pagi dan petang, sudah banyak perintah agama untuk menganjurkan berdzikir pagi petang. Belajar dan mengajarkan al-islam apakah perkara yang mudah ataupun perkara yang memerlukan mudzakarah. Jelas juga akan meningkatkan iman, karena tidak dalam keadaan suasana maksyiat. Kira-kira apa lagi? Mendengarkan keagungan Allah swt ketika seseorang memberikan penjelasan perihal itu. Da&#8217;wah merupakan amal yang dapat meningkatkan iman juga, apalagi jika bertemu dengan halangan dan rintangan. Sehingga berharap kepada Allah swt akan lebih kuat.</p>
<p>Bagaimana dengan berdo&#8217;a kepada Allah swt? Berdo&#8217;a merupakan ibadah kepada Allah swt dan tentunya dapat meningkatkan iman, jika disertai dengan kesadaran dan harapan kepada Allah swt untuk dapat dikabulkan. Bagaimana dengan silaturahmi? Jelas juga dapat meningkatkan iman, karena merupakan amal sholeh yang sangat dianjurkan agama kita.</p>
<p>Jadi bagi kita yang mengikuti sunnah wal jama&#8217;ah maka tentunya iman itu akan menaik dan juga akan turun, sesuai dengan suasana agama yang ada. Jika banyaknya tidur-tiduran atau ngobrol ngalor ngidul, jelas iman tidak akan banyak kenaikan yang baik. Kecuali tidurnya itu dengan sunnah, dan ngobrolnya itu tidak melanggar aturan syariat agama.</p>
<p>Apakah hal itu bisa dilatih secara keseluruhan dan lengkap? Kira-kira harus bagaimana membentuk suasana agama dan semua orang bisa berlatih bersama untuk meningkatkan iman itu.</p>
<p>Khuruj 3 hari merupakan latihan untuk meningkatkan iman dan amal sholeh, dalam suasana masjid yang memang sudah ada perintahnya dari Allah swt dan Rasulullah SAW untuk memakmurkannya. Inilah tujuan pertama dalam khuruj yaitu Ishlah diri. Dalam kaidah Sunnah Wal Jama&#8217;ah Iman bisa turun dan naik, karena amalnya. Inilah yang dilatih dalam 3 hari. Sehingga kita jangan dahulu menilai yang tidak tepat, sebelum kita mengetahui dari sisi tujuan yang harusnya berlandaskan pada Sunnah Wal Jama&#8217;ah, dan tentunya amal-amal sholeh yang dilakukan selama waktu itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Bagi kalangan kaum muslimin yang selalu menilai dengan bid&#8217;ah dan bahkan sesat terhadap usaha da&#8217;wah / khuruj. Mari kita teliti dengan baik dan berikan jawabannya dengan baik pula. Jangan kita menilai, tanpa dengan ilmunya atau tidak memahaminya karena tidak mendalaminya secara detail.</p>
<p>Apakah membaca al-quran ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdzikir pagi dan petang ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah sholat berjama&#8217;ah ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a masuk kampung ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah da&#8217;wah dari rumah ke rumah itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah ta&#8217;lim hayatush shahabat ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a dengan menangis ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a terhadap orang tertentu itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah makan secara berjama&#8217;ah itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah penjelasan perihal iman dan amal sholeh itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah silaturahmi ke masyarakat itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah beri&#8217;tikaf di masjid itu sunnah atau bid&#8217;ah?</p>
<p>Silahkan berikan jawaban di atas? Seluruh di atas ini baru sebagian kecil dari aktifitas 3 hari, dan semua itu dapat meningatkan iman. Itulah yang dimaksud dalam kaidah sunnah wal jama&#8217;ah, bahwa iman itu dapat meningkat dan menurun. Dan itu cara-cara keberpaduan dari berbagai aktifitas amal sholeh dalam 3 hari dapat meningkatkan iman. Maka sering mendengar dari kalangan ahli da&#8217;wah dan tabligh, bahwa kalau mau meningkatkan iman maka keluarlah atau khuruj. Itu maknanya sebagai latihan amal sholeh untuk meningkatkan iman. Apakah hal itu bertentangan dengan sunnah wal jama&#8217;ah?</p>
<p>Kita sangat kuatir jika kita mati dalam keadaan TIDAK husnul khatimah, artinya ketika iman dan amal sholeh itu berkurangan atau bahkan dalam keadaan maksyiat kepada Allah swt. Bukankah ada yang mati dalam keadaan sedang buka aurat dengan yang bukan mukhrimnya? Bukankah ada yang mati dalam keadaan sedang minum khamr?</p>
<p>Ini yang kita kuatir bersama, oleh karena itu kita perlu bersama-sama meningkatkan iman dan amal sholeh, dan mengajak kaum muslimin lainnya untuk mau meningkatkan iman dan amal sholeh. Itulah sunnah wal jama&#8217;ah dalam memahami Iman yang bisa meningkat dan bisa menurun.</p>
<p>Kalau antum semua sebagai sunnah wal jama&#8217;ah ada yang mempunyai cara meningkatkan iman dan amal sholeh, terus dan lanjutkan. Karena sebenarnya kurikulum dan silabus aturan terhadap peningkatan iman dan amal sholeh bisa beragam bentuknya. Perkara ini biasanya diketahui dengan baik oleh kalangan ulama yang khas.</p>
<p>Oleh karena itu kita tidak perlu  mengomentari, meremehkan, bahkan berkeinginan memadamkan aktifitas-aktifitas kaum muslimin yang sedang berusaha meningkatkan iman dan amal sholeh, dan juga mengajak kaum muslimin lainnya untuk meningkatkan iman dan amal sholeh. Semua hal itu tidak ada gunanya sama sekali, bahkan bisa bertentangan dengan kaidah sunnah wal jama&#8217;ah sendiri. Seharusnya saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=294&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kita Membahas Perihal Khilafiyyah dan Usaha Da&#8217;wah Memberikan Kerangka Sistematik</title>
		<link>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 22:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan (ikhtilaf) merupakan perkara yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, ketika manusia memandang satu perkara. Tentunya untuk menghadapi perbedaan ini memerlukan satu hikmah tersendiri, tanpa adanya hikmah maka perbedaan itu akan mengakibatkan perpecahan (tafarruq). Dalam Ushul usaha da&#8217;wah dan tabligh menjelaskan perkara yang tidak boleh disentuh, yaitu tidak menyentuh khilafiyyah.
Apakah kerangka da&#8217;wah dan tabligh ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perbedaan (ikhtilaf) merupakan perkara yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, ketika manusia memandang satu perkara. Tentunya untuk menghadapi perbedaan ini memerlukan satu hikmah tersendiri, tanpa adanya hikmah maka perbedaan itu akan mengakibatkan perpecahan (tafarruq). Dalam Ushul usaha da&#8217;wah dan tabligh menjelaskan perkara yang tidak boleh disentuh, yaitu tidak menyentuh khilafiyyah.</p>
<p>Apakah kerangka da&#8217;wah dan tabligh ini hanya asal-asalan saja perihal perkara &#8220;tidak menyentuh khilafiyyah&#8221;. Kami sebelum berkenalan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh, sering dinasehati guru-guru kami sendiri untuk berhati-hati dalam perihal khilafiyyah ini. Kalau memang tidak tahu, jangan masuk dalam lingkungan khilafiyyah. Karena akan menimbulkan perpecahan (tafarruq). Seorang guru sepuh kami memberitahukan untuk banyak mempelajari perihal kitab &#8220;Bidayatul Mujtahid&#8221;, susunan Imam Ibnu Rusd Rah. Beliau menjelaskan bahwa banyak perbedaan, yang biasanya menimbulkan perpecahan di kalangan orang yang tidak mengerti.</p>
<p><span id="more-291"></span>&#8220;Tidak menyentuh&#8221; bukan berarti tidak bersentuhan, dan kalaupun bersentuhan tentunya orang yang memahami perihal tersebut. Jika tidak kita akan masuk dalam arena perpecahan yang tidak pernah habis-habisnya. Para Ulama da&#8217;wah dan tabligh di asia tengah mengikuti madzhab hanafi, sedangkan di tempat lain belum tentu mengikuti madzhab hanafi.</p>
<p>Tetapi bukan berarti yang faham dan faqh dalam bidang madzhab hanafi, tidak memahami pandangan madzhab syafi&#8217;i ataupun Maliki. Dan hal ini sudah ditunjukan dengan baik dalam kitab fadhilah amal sendiri. Jika kita buka lembaran kitab fadhilah amal dengan baik dan telaten, kita akan temukan pandangan dari ulama yang berbeda madzhab. Artinya ada orang yang faham bagaimana memadukan dari kalangan yang berbeda itu.</p>
<p>Tetapi apakah semua orang mempunyai kemampuan itu? Apakah semua para Shahabat RA mempunyai kerangka yang sama untuk semua perkara dan masalah? Para Shahabat RA sendiri mempunyai pandangan yang tidak sama semua dalam satu perkara. Bahkan ketika Rasulullah SAW masih hidup.</p>
<p>Ada beberapa buku yang ditulis perihal ikhtilaf ini, dala buku itu dijelaskan dengan baik perihal perbedaan. Tetapi yang sebenarnya tidak boleh menjadi perpecahan (tafarruq) ketika ada perbedaan, malahan menimbulkan perpecahan di kalangan ummat. Dan hal itu dikarenakan ketidakmengertian.</p>
<p>Oleh karena itu, kerangka sunnah wal jama&#8217;ah yang ditulis dengan baik oleh seorang Ulama besar dulu, Imam Thahawi Rah, memberikan penjelasan yang jelas dan hal ini dijelaskan lebih lengkap melalui syarh seorang ulama. Dalam kitab itu sangat jelas kita harus bisa menjauhi perpecahan (tafarruq), karena hal itu sangat bertentangan dengan firman Allah swt sendiri. Dan kita bisa temukan banyak ayat yang berkaitan dengan perpecahan.</p>
<p>Coba perhatikan dengan baik beberapa ayat di bawah ini, mudah-mudahan kita memahami lebih luas dan dalam. Tentunya jika memahami lagi, kita perlu membuka latar belakang dari turunnya, dan biasanya dalam tafsir juga dijelaskan dengan baik.</p>
<p><img src="http://1.1.1.5/bmi/quran.kawanda.net/gambar/3/3_103.gif" border="0" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.&#8221; (QS Ali-Imran (3):103)</em></p>
<p><img src="http://1.1.1.2/bmi/quran.kawanda.net/gambar/3/3_105.gif" border="0" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat&#8221; (QS Ali-Imran (3):105)</em></p>
<p>Kalau saja kita mempelajari latar belakang turunnya itu, kita semua akan terkejut. Bisa dibayangkan hanya dengan perkara kecil saja, kalangan para Shahabat RA bisa hampir perang di antara mereka. Dan hal ini dikarenakan diadudomba oleh orang yang mempunyai jiwa munafik. Oleh karena itu Rasulullah SAW banyak menjelaskan perkara ini dengan sangat baik. Dan salah satu solusi untuk ini adalah &#8220;Ikromul Muslimin&#8221;. Karena hal ini akan memperkecil dari efek perbedaan.</p>
<p>Awalnya kami juga tidak begitu mengerti &#8220;Tidak Menyentuh Masalah Khilafiyyah&#8221;, tetapi tentunya umur dan juga pendalaman terus berlanjut terhadap kalimat singkat ini, disamping juga ada guru-guru kami yang juga telah memberikan pengajaran dalam hal perbedaan (ikhtilaf) ini. Guru-guru kami selalu menekankan untuk jangan sangat terlibat dalam perbedaan yang mengarah pada perpecahan (tafarruq).</p>
<p>Kami punya pengalaman dulu terjadi debat antara ulama sunni dengan kalangan syiah di Bandung. Dan ketika sholat ashar semua bingung siapa yang menjadi imam sholatnya. Tetapi ada seorang ustadz yang kenal dengan kami, dan beliau meminta kami menjadi imam sholat dan mempecayainya. Di sini saja sudah bingung hanya dalam lingkungan kurang dari 50 orang dan semuanya mau sholat ashar berjama&#8217;ah. Apalagi dalam perkara besar dan jumlah orangnya banyak.</p>
<p>Dalam syarh Kitab Imam Thahawi Rah dalam kitab aqidah sunnah wal jama&#8217;ah, sangat jelas sekali. Bahkan dari kalimat &#8220;sunnah wal jama&#8217;ah&#8221; sendiri mengandung inti sari makna yang bertentangan total dengan perpecahan &#8220;tafarruq&#8221; ketika ada perbedaan. Jadi para Ulama da&#8217;wah dan tabligh yang juga sangat memahami perihal sunnah wal jama&#8217;ah juga, tentunya harus menjaga dari keselamatan ummat kaum muslimin ketika ada perbedaan. Dan untuk itulah perlu kebijakan dalam da&#8217;wah itu sendiri &#8220;Tidak menyentuh Khilafiyyah&#8221;.</p>
<p>Dan untuk membahas perkara ini, para Ulama sendiri sudah memberikan caranya. Maka Ulama dulu ketika ada perbedaan di antara beliau-beliau sendiri, tidak menimbulkan hal-hal yang kurang diinginkan. Tetapi sekarang ini perbedaan saja bisa menimbulkan saling hujat, saling remehkan. Dan lebih mengerikan, para &#8216;pion&#8217; pun ikut campur dalam urusan kalangan kealiman Ulama yang cukup kompleks, sehingga akhirnya menambah ricuh dan tidak jelas lagi. <strong>Salah satu cara yang baik untuk membahas Khilafiyyah adalah dalam bentuk kajian dan juga madrasah yang memang ada ahlinya. </strong></p>
<p>Dan salah satu solusi kebiasaan yang dibangun adalah Musyawarah dan Mudzakarah, maka dengan kebiasaan pola ini ketika ada perbedaan akan dapat dikelola dengan mudah. Karena ada Musyawarah. Ini saja banyak kalangan ummat kurang memperhatikan dengan baik, meskipun ayat-ayat Al-quran dan As-Sunnah banyak menjelaskannya dan juga memberikan contohnya. Dan usaha da&#8217;wah sangat menekankan pada MUSYAWARAH dan bahkan tertib-tertibnya. Ini salah satu sunnah yang sangat fundamental untuk pertumbuhan kaum muslimin.</p>
<p>Silahkan pelajari dan dalami ayat-ayat yang berkaitan dengan perpecahan (tafarruq), dan juga bagaimana solusi untuk hal itu. Sehingga kita akan lebih memahami bagaimana menyikapi dalam perbedaan dan menghindari perpecahan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=291&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

