<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>APAKAH SALAFI-SALAFI WAHABI INI MENYADARI TIDAK BAHWA SEBAGIAN MEREKA TELAH MEMBUAT KERUSAKAN DAN KEBURUKAN DI TENGAH-TENGAH KAUM MUSLIMIN DENGAN JUDUL-JUDUL YANG MENGANDUNG FITNAH BUSUK ITU?</title>
		<link>http://usahadawah.com/apakah-salafi-salafi-wahabi-ini-menyadari-tidak-bahwa-sebagian-mereka-telah-membuat-kerusakan-dan-keburukan-di-tengah-tengah-kaum-muslimin-dengan-judul-judul-yang-mengandung-fitnah-busuk-itu/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/apakah-salafi-salafi-wahabi-ini-menyadari-tidak-bahwa-sebagian-mereka-telah-membuat-kerusakan-dan-keburukan-di-tengah-tengah-kaum-muslimin-dengan-judul-judul-yang-mengandung-fitnah-busuk-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Kami kira dengan adanya pandangan berimbang terutama berkaitan dengan judul-judul yang aneh yang dilontarkan sebagian salafi-wahabi, seperti di situs ini dengan judul :

http://ustadzaris.com/haji-ke-bangladesh
http://ustadzaris.com/telaah-kritis-utk-6-sifat-karkun-jt,
https://ibnuramadan.wordpress.com/2011/04/03/jt-berhaji-ke-bangladesh/
http://agusisdiyanto.wordpress.com/2010/10/14/jt-berhaji-ke-bangladesh/
dsb-dsb

yang sudah benar-benar salah besar, dan bahkan mengandung unsur fitnah busuk.
Sehingga timbul sebuah pertanyaan, APAKAH MEMANG SALAFI-WAHABI INI DITAKDIRKAN UNTUK MEMBUAT KERUSAKAN DAN KEBURUKAN DI TENGAH-TENGAH KAUM MUSLIMIN?, sehingga akhirnya terdapat auto-kritik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Kami kira dengan adanya pandangan berimbang terutama berkaitan dengan judul-judul yang aneh yang dilontarkan sebagian salafi-wahabi, seperti di situs ini dengan judul :</p>
<ul>
<li>http://ustadzaris.com/haji-ke-bangladesh</li>
<li>http://ustadzaris.com/telaah-kritis-utk-6-sifat-karkun-jt,</li>
<li>https://ibnuramadan.wordpress.com/2011/04/03/jt-berhaji-ke-bangladesh/</li>
<li>http://agusisdiyanto.wordpress.com/2010/10/14/jt-berhaji-ke-bangladesh/</li>
<li>dsb-dsb</li>
</ul>
<p>yang <strong>sudah benar-benar salah besar, dan bahkan mengandung unsur fitnah busuk</strong>.</p>
<p>Sehingga timbul sebuah pertanyaan, APAKAH MEMANG SALAFI-WAHABI INI DITAKDIRKAN UNTUK MEMBUAT KERUSAKAN DAN KEBURUKAN DI TENGAH-TENGAH KAUM MUSLIMIN?, sehingga akhirnya terdapat auto-kritik ulama salafi-wahabi sendiri begitu keras. Dan judul-judul seperti ini begitu banyaknya tersebar di jaringan internet.</p>
<p>Apakah masih tidak cukup dengan auto-kritik itu? Atau memang sebagian salafi-wahabi ini berkeinginan terus-menerus membangun opini untuk merusak dan memperburuk keadaan kaum muslimin?</p>
<p>Apakah mereka salafi-wahabi ini tidak berpikir? Apakah ini yang sering dikatakan dengan fanatisme madzhab, dan mereka hanya mengikuti pandangan ulama mereka dengan buta pikiran, sehingga judulpun harus menampilkan dengan judul-judul berbau FITNAH BUSUK.</p>
<p>Thanks,</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=503&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/apakah-salafi-salafi-wahabi-ini-menyadari-tidak-bahwa-sebagian-mereka-telah-membuat-kerusakan-dan-keburukan-di-tengah-tengah-kaum-muslimin-dengan-judul-judul-yang-mengandung-fitnah-busuk-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TANGGUNG JAWAB DAKWAH</title>
		<link>http://usahadawah.com/tanggung-jawab-dakwah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/tanggung-jawab-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 23:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=480</guid>
		<description><![CDATA[1. DAKWAH TERHADAP DIRI SENDIRI DAN KELUARGA
Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah  dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia  dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak  mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan  selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS At-Tahrim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>1. DAKWAH TERHADAP DIRI SENDIRI DAN KELUARGA</p>
<p>Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah  dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia  dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak  mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan  selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS At-Tahrim 6)</p>
<p>Dalam ayat ini firman Allah ditujukan kepada orang-orang yang percaya  kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, yaitu memerintahkan supaya mereka,  menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia  dan batu, dengan taat dan patuh melaksanakan perintah Allah, dan  mengajarkan kepada keluarganya supaya taat dan patuh kepada perintah  Allah untuk menyelamatkan mereka dari api neraka.</p>
<p><span id="more-480"></span>Di antara cara menyelamatkan diri dari api neraka itu ialah  mendirikan salat dan bersabar, sebagaimana firman Allah SWT : “Dan  perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan bersabarlah kamu  mengerjakannya” (QS. Taha 132).</p>
<p>Dan dijelaskan pula dengan firman-Nya : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (QS Asy Syu&#8217;ara&#8217; 214).</p>
<p>Diriwayatkan bahwa ketika ayat ke 6 ini turun, Umar berkata: &#8220;Wahai  Rasulullah, kami sudah menjaga diri kami, dan bagaimana menjaga keluarga  kami?&#8221; Rasulullah SAW. menjawab: &#8220;Larang mereka mengerjakan apa yang  kamu dilarang mengerjakannya dan perintahkanlah mereka melakukan apa  yang Allah memerintahkan kepadamu melakukannya. Begitulah caranya  meluputkan mereka dari api neraka. Neraka itu dijaga oleh malaikat yang  kasar dan keras yang pemimpinnya berjumlah sembilan belas malaikat,  mereka dikuasakan mengadakan penyiksaan di dalam neraka, tidak  mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan  mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah.</p>
<p>Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menjelaskan, “Penjaganya adalah  para malaikat Zabaniyah yang hati mereka keras, kaku, tidak mengasihi  jika dimohon kepada mereka agar menaruh iba</p>
<p>Ada yang mengatakan, para malaikat itu kasar ucapannya dan keras  perbuatannya. Ada yang berpendapat, malaikat tersebut sangat kasar dalam  menyiksa penduduk neraka, keras terhadap mereka. Bila dalam bahasa Arab  dinyatakan: “Fulanun Syadiidun ‘alaa fulaanin” maksudnya Fulan  menguasainya dengan kuat, menyiksanya dengan berbagai macam siksaan.</p>
<p>Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Jarak antara dua pundak  salah seorang dari malaikat tersebut adalah sejauh perjalanan setahun.  Kekuatan salah seorang dari mereka adalah bila ia memukul dengan alat  pukul niscaya dengan sekali pukulan tersebut tersungkur 70.000 manusia  ke dalam jurang Jahannam.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/218)</p>
<p>Sebagaimana ayat ini mengharuskan seseorang menjaga keluarga dan  anak-anak dari api neraka dengan cara memberikan pendidikan dan  pengajaran kepada mereka, serta memberitahu mereka tentang perintah  Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang hamba tidak dapat selamat kecuali  bila ia menegakkan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan  terhadap dirinya dan orang-orang yang di bawah penguasaannya, baik  istri-istrinya, anak-anaknya, dan selain mereka dari orang-orang yang  berada di bawah kekuasaan dan pengaturannya.</p>
<p>2. DAKWAH TERHADAP KAUM KERABAT DAN TETANGGA DEKAT</p>
<p>Allah SWT berfirman : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (QS Asy Syu&#8217;ara&#8217; 214).</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi bukit Shafa dan  menaikinya, lalu menyeru manusia untuk berkumpul. Maka orang-orang pun  berkumpul di sekitar beliau. Sampai-sampai yang tidak dapat hadir  mengirim utusannya untuk mendengarkan apa gerangan yang akan disampaikan  oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shallallahu  ‘alaihi wasallam kemudian memanggil kerabat-kerabatnya, “Wahai Bani  Abdil Muththallib! Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Lu’ai! Apa pendapat  kalian andai aku beritakan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda dari  balik bukit ini akan menyerang kalian. Adakah kalian akan membenarkan  aku?” Mereka serempak menjawab, “Iya.” Beliau melanjutkan, “Sungguh aku  memperingatkan kalian sebelum datangnya azab yang pedih.” (HR Al-Bukhari  dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)</p>
<p>Aisyah radhiyallahu ‘anha memberitakan bahwa ketika turun ayat di  atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit seraya berkata,  “Wahai Fathimah putri Muhammad! Wahai Shafiyyah putrid Abdul Muththalib!  Wahai Bani Abdil Muththalib! Aku tidak memiliki kuasa sedikit pun di  hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menolong kalian kelak. (Adapun  di kehidupan dunia ini) maka mintalah harta dariku semau kalian.” (HR.  Muslim)</p>
<p>Dari Ibnu Abbas r.huma menceritakan, “Ketika Allah SWT. Menurun ayat :  Berilah peringatan kepada kaum keluargamu yang dekat.” (QS Asy Syu&#8217;ara&#8217;  214).</p>
<p>Maka Nabi SAW naik ke bukit Shafa dan berseru, “Hai manusia, Maka  orang-orang pun berkumpul (menyambut seruan) beliau, ada yang datang  sendiri dan ada yang mengutus wakil-wakilnya. Lalu Rasulullah SAW  menyeru, “Wahai Bani Abdil Muthalib, wahai Bani Fihir, wahai Bani anu,  Bani anu..! Bagaimana menurut kalian seandainya aku beritahukan pada  kalian bahwa di balik bukit ini ada pasukan musuh berkuda yang siap  menyerang kalian, apakah kalian mempercayai ucapku?” Mereka menjawab,  “Ya, (kami percaya).” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku adalah pemberi  peringatan bagi kalian akan azab yang pedih.” Mendengar hal itu, Abu  Lahab langsung berkata, “Celakalah kamu sepanjang hari ini, apakah kamu  mengundang kami semua hanya untuk ini?” (Sebagai jawaban atas celaan Abu  Lahab ini), maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat :</p>
<p>“Celaka kedua tangan Abu Lahab, dan celakalah ia.” (QS. Al Lahab ayat 1) (Hr. Ahmad V/17)</p>
<p>3. DAKWAH TERHADAP KAMPUNG ATAU DAERAH SEKITARNYA</p>
<p>Allah SWT berfirman : “dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah  Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan Kitab-Kitab yang (diturunkan)  sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura  (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. orang-orang yang  beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al  Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya”. (QS Al-An’am 92).</p>
<p>Sesudah itu Allah SWT. menjelaskan bahwa Alquran itu adalah kitab  yang bernilai tinggi, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. penutup para  Rasul. Kitab itu turun dari Allah seperti halnya Taurat yang diturunkan  kepada Musa a.s. Hanya saja Alquran itu mempunyai nilai-nilai yang lebih  sempurna karena Alquran itu berlaku abadi untuk sepanjang masa. Alquran  itu di samping sebagai petunjuk juga sebagai pembenar kitab-kitab yang  diturunkan sebelumnya dalam urusan tauhid, melenyapkan kemusyrikan dan  mengandung ajaran-ajaran pokok hukum syarak yang abadi yang tidak  berubah ubah sepanjang masa.</p>
<p>Juga sebagai pegangan bagi Rasulullah saw. untuk memperingatkan  umatnya, baik yang berada di Mekah atau di sekitar kota Mekah, ialah  orang-orang yang berada di seluruh penjuru bumi ini. Dimaksud dengan  orang-orang yang berada di sekitar kota Mekah, ialah orang-orang yang  berada di seluruh penjuru bumi, sesuai dengan pemahaman bahasa dan  pengertian ini ditegaskan sendiri oleh Allah SWT : “Alquran ini  diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu  dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya). (Q.S Al An&#8217;am  19)</p>
<p>Juga firman Allah SWT : Katakanlah, &#8220;Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua. (Q.S Al A&#8217;raf 158)</p>
<p>Dan sabda Nabi SAW : Semua nabi itu diutus hanya kepada kaumnya saja,  sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia. (HR Bukhari dan Muslim dari  Jabir bin Abdullah (Sahih Bukhari jilid 1, 70)</p>
<p>Dalam pada itu Allah SWT. menjelaskan bahwa orang-orang yang percaya  akan terjadinya hari kiamat dan kehidupan di akhirat, sudah pasti mereka  percaya kepada Alquran, karena orang-orang yang percaya kepada  kehidupan akhirat itu percaya pula akan akibat yang diterima pada hari  itu. Itulah sebabnya maka mereka selalu mencari petunjuk-petunjuk yang  dapat menyelamatkan diri mereka di akhirat kelak. Petunjuk-petunjuk itu  terdapat dalam Alquran, maka mereka tentu akan mempercayai Alquran itu,  percaya pada Rasulullah saw. yang menerima kitab itu dan taat kepada  perintah-Nya, melaksanakan salat pada waktunya secara terus menerus.</p>
<p>Disebutkan salat dalam ayat ini, karena salat itu adalah tiang agama  dan pokok dari semua ibadah. Orang yang melaksanakan salat dengan  sebaik-baiknya adalah pertanda bahwa orang itu suka melaksanakan ibadah  lainnya serta dapat mengendalikan hawa nafsunya untuk tidak melakukan  larangan larangan Allah.</p>
<p>Dalam ayat ini terdapat sindiran yang tegas yaitu adanya keingkaran  penduduk Mekah dan manusia-manusia yang mempunyai sikap seperti mereka  kepada Alquran dan menjelaskan bahwa mereka tidak mau menerima agama  Islam dan kerasulan Muhammad saw. adalah karena mereka tidak percaya  kepada kehidupan akhirat. Mereka merasa bahwa kehidupan hanya terjadi di  dunia saja.</p>
<p>4. DAKWAH ATAU TANGGUNG JAWAB MANUSIA SELURUH ALAM.</p>
<p>Allah SWT berfirman : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan  untuk seluruh manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari  yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman,  tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman,  dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”  (QS Ali Imran  110)</p>
<p>Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum mukminin supaya tetap  memelihara sifat-sifat utama itu dan supaya mereka tetap mempunyai  semangat yang tinggi.</p>
<p>Umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam  sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan  senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh  kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri  mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya. Dalam waktu yang singkat  mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di  bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji  keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah belah  selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama  mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman. dan kepatuhan mereka  menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka  menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di  hati mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk  menegakkan kebenaran dan keadilan sebagaimana tersebut dalam firman  Allah : &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman, hanyalah orang-orang  yang beriman kepada Allah dan rasul Nya. kemudian mereka tidak ragu-ragu  dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah,  mereka itulah orang-orang yang benar&#8221;. (QS. Al Hujurat 15)</p>
<p>Jadi ada dua syarat untuk menjadi sebaik-baik umat di dunia,  sebagaimana diterangkan dalam ayat ini, pertama iman yang kuat dan;  kedua menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Maka setiap umat  yang memiliki kedua sifat ini pasti umat itu jaya dan mulia dan apabila  kedua hal itu diabaikan dan tidak diperdulikan lagi, maka tidak dapat  disesalkan bila umat itu jatuh ke lembah kemelaratan.</p>
<p>Selanjutnya Allah menerangkan bahwa Ahli Kitab itu jika beriman  tentulah itu lebih baik bagi mereka. Tetapi sedikit sekali di antara  mereka yang beriman seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya, dan  kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik tidak mau beriman.  mereka percaya kepada sebagian kitab dan kafir kepada sebagiannya yang  lain, atau mereka percaya kepada sebagian Rasul seperti Musa dan Isa dan  kafir kepada Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Ibnu katsir mengatakan ayat ini mengandung makna umum mencakup semua  ummat ini dalam setiap generasinya dan sebaik-baik generasi mereka ialah  orang-orang yang Rasulullah SAW diutus dikalangan mereka, kemudian  orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka.</p>
<p>Makna ayat ini sama dengan makna ayat lain :</p>
<p>Allah SWT berfirman : “dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu  (umat Islam), umat yang adil dan pilihan” (QS. Al Baqarah 143)</p>
<p>Bagaimana caranya mengamalkan ayat-ayat tersebut ?</p>
<p>1. Untuk diri sendiri dan keluarga salah satu usahanya yaitu kita buat ta&#8217;lim dirumah</p>
<p>2. Untuk kaum kerabat dan tetangga dekat silahturahmi, Jaulah untuk saling mengingatkan</p>
<p>3. Untuk kampung sekitar atau kota sekitar maka waktunya kami sediakan minimal 3 hari setiap bulan</p>
<p>4. Kemudian yang terakhir untuk seluruh manusia ini tentunya sangat  berat karena jumlah manusia lebih dari 6 milliar, maka dengan kelemahan  kami alim ulama telah ajak keluar dalam waktu yang agak lama yaitu 40  hari dan atau 4 bulan baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Memang  seumur hidup belum tentu bisa mendatangi semua orang, tetapi Insya  Allah dengan niat untuk mendatangi seluruh manusia kemudian mengajak  orang yang lain buat usaha yang sama maka Allah akan terima niat kita,  sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk seluruh umat sampai hari  terakhir yang Allah kehendaki namun umur beliau hanya 63 tahun, tapi  Allah terima usaha yang dilakukan Rasulullah SAW sehingga usaha ini  masih akan berlanjut sampai hari terakhir yang Allah kehendaki. Jadi  usaha da&#8217;wah rasulullah yang dilakukan ini bukan hanya 3 hari, 40 hari  atau 4 bulan saja, tapi setiap hari dan seumur hidup kita untuk dakwah  dan dakwah menjadi maksud hidup.</p>
<blockquote><p>Sumber: Oleh Sdr.Mahodum Hsb, <a href="http://www.facebook.com/home.php?sk=group_210119202331448&amp;view=doc&amp;id=212522125424489" target="_blank">http://www.facebook.com/home.php?sk=group_210119202331448&amp;view=doc&amp;id=212522125424489</a></p>
<div><a><br />
</a></div>
</blockquote>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=480&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/tanggung-jawab-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaum Muslim Perlunya Meniru Para Shahabat RA</title>
		<link>http://usahadawah.com/kaum-muslim-perlunya-meniru-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kaum-muslim-perlunya-meniru-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 02:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim,
Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata:
&#8220;Barangsiapa  yang ingin meniru, hendaklah ia meniru perjalanan orang yang sudah  mati, yaitu perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu  adalah sebaik-baik ummat ini, dan sebersih-bersihnya hati,  sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan, dan seringan-ringannya penanggungan.  Mereka itu adalah suatu kaum yang telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan oleh Abu Nu&#8217;aim,<br />
Abdullah ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata:<br />
&#8220;Barangsiapa  yang ingin meniru, hendaklah ia meniru perjalanan orang yang sudah  mati, yaitu perjalanan para sahabat Nabi Muhammad SAW, karena mereka itu  adalah sebaik-baik ummat ini, dan sebersih-bersihnya hati,  sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan, dan seringan-ringannya penanggungan.  Mereka itu adalah suatu kaum yang telah dipilih Allah untuk menjadi para  sahabat NabiNya SAW dan bekerja untuk menyebarkan agamaNya. Karena itu,  hendaklah kamu mencontohi kelakuan mereka dan ikut perjalanan mereka.  Mereka itulah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berdiri di atas jalan  lurus, demi Allah yang memiliki Ka&#8217;bah!&#8221;<br />
(Hilyatul-Auliya&#8217; 1:305)</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=477&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kaum-muslim-perlunya-meniru-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan terlalu BANYAK MENGOMENTARI atau MENILAI usaha da&#8217;wah dan tabligh</title>
		<link>http://usahadawah.com/jangan-terlalu-banyak-mengomentari-atau-menilai-usaha-dawah-dan-tabligh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/jangan-terlalu-banyak-mengomentari-atau-menilai-usaha-dawah-dan-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Mar 2011 05:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=474</guid>
		<description><![CDATA[@salafi-salafi,
Jangan terlalu BANYAK MENGOMENTARI atau MENILAI  usaha da&#8217;wah dan tabligh &#8230; Kalau ketika ada yang mengajak ILMIYYAH  untuk BERBAGI PANDANGAN. Malahan menyuruh balik untuk ketemu  ustadz-ustadz salafi. Ini merupakan pola berpikir yang tidak  jelas untuk dibangun, karena MEMBIARKAN DIRI untuk BERKOMENTAR, tetapi  ketika diajak untuk ILMIYYAH, malahan tidak berani bertanggung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>@salafi-salafi,</p>
<p>Jangan terlalu BANYAK MENGOMENTARI atau MENILAI  usaha da&#8217;wah dan tabligh &#8230; Kalau ketika ada yang mengajak ILMIYYAH  untuk BERBAGI PANDANGAN. Malahan menyuruh balik untuk ketemu  ustadz-ustadz salafi. Ini merupakan pola berpikir yang tidak  jelas untuk dibangun, karena MEMBIARKAN DIRI untuk BERKOMENTAR, tetapi  ketika diajak untuk ILMIYYAH, malahan tidak berani bertanggung jawab  atau bahkan lari.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=474&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/jangan-terlalu-banyak-mengomentari-atau-menilai-usaha-dawah-dan-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa salafi setengah-setengah dalam menyampaikan keterangan hadist?</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-salafi-setengah-setengah-dalam-menyampaikan-keterangan-hadist/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-salafi-setengah-setengah-dalam-menyampaikan-keterangan-hadist/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 13:40:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=471</guid>
		<description><![CDATA[TETAPI ketika meminta kami untuk bermudzakarah perihal usaha da&#8217;wah ini, MAKA tentunya hal itu cukup aneh dari pandangan kami. KARENA begitu banyak sebagian salafi menyebarkan pandangan-pandangan KONTRA terhadap usaha da&#8217;wah di situs-situs salafi, TETAPI malahan kami diminta untuk berkunjung.
Apa yang tertulis bebas dan tersebar di kalangan Ummat Islam? Maka tentunya juga membuka wacana ILMU dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TETAPI ketika meminta kami untuk bermudzakarah perihal usaha da&#8217;wah ini, MAKA tentunya hal itu cukup aneh dari pandangan kami. KARENA begitu banyak sebagian salafi menyebarkan pandangan-pandangan KONTRA terhadap usaha da&#8217;wah di situs-situs salafi, TETAPI malahan kami diminta untuk berkunjung.</p>
<p>Apa yang tertulis bebas dan tersebar di kalangan Ummat Islam? Maka tentunya juga membuka wacana ILMU dan ILMIYYAH secara terbuka juga di kalangan Ummat Islam melalui sarana yang sama pula. Itulah APPLE-TO-APPLE communication untuk membuka wacana berimbang.</p>
<p>Ada kawan-kawan salafi meminta kami untuk memperhatikan tulisan yang berada di bawah ini.</p>
<p><a href="http://alqiyamah.wordpress.com/2008/07/05/kitab-fadhail-al-amal-dalam-timbangan-as-sunnah/">http://alqiyamah.wordpress.com/2008/07/05/kitab-fadhail-al-amal-dalam-timbangan-as-sunnah/</a></p>
<blockquote><p>Ketika Adam telah berbuat dosa, ia pun mengangkat kepalanya ke atas langit kemudian berdoa: “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad, ampunilah dosaku.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?” Maka Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu, dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. Maka akupun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu dari orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu, kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”</p>
<p>Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa menerjemahkan takhrij hadits yang disebutkan Al-Kandahlawi. Dia berkata setelah itu: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab Ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Durr, dan dalam Majma’ Az-Zawa`id (disebutkan): Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, dan dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yang lainnya berupa hadits yang masyhur: “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini”, Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”</p></blockquote>
<p>Tulisan di atas merupakan sebagian tulisan yang terdapat pada situs itu. Kami mengetahui betul bahwa memang penjelasan hadist itu TIDAK DITERJEMAHKAN oleh penterjemahnya, TENTUNYA si penterjemah  mempunyai pertimbangan-pertimbangannya. (Baca: kami sempat bertemu dengan salah seorang penterjemahnya, dan kami sampaikan agar diterjemahkan dicetakan baru. Mudah-mudahan saja diterjemahkan di centakan barunya)</p>
<p>Kami kembali terhadap terjemahan yang dilakukan seperti dalam tulisan itu. (baca: tulisan situs banyak tersebar). Terjemahan tulisan itu DIPOTONG TIDAK DITERJEMAHKAN SESUAI DENGAN SUMBERNYA, Kitab Fadhoil Dzikir, Maulana Dzakaria Rah.</p>
<p>Silahkan kepada kaum muslimin untuk mempelajari Kitab Fadhoil, Maulana Dzakaria Rah, dalam kitab fadhilah Dzikir dengan hadits itu. Dan apa yang kami tuliskan itu akan ditemukan bahwa memang sebagian textnya itu TIDAK DITEJEMAHKAN oleh salafi yang bersangkutan.</p>
<p>Silahkan untuk dicermati …</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=471&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-salafi-setengah-setengah-dalam-menyampaikan-keterangan-hadist/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perhatikan Empat Amal Masjid</title>
		<link>http://usahadawah.com/perhatikan-empat-amal-masjid/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/perhatikan-empat-amal-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Jan 2011 00:34:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[
Sehingga ahli da&#8217;wah dan tabligh ketika khuruj apakah 3 hari, 40 hari, 4 bulan, selalu dipesankan untuk mengajak pikir ke orang tempatan untuk menghidupkan empat amal maqomi masjid, karena memang hal itu ada pesan dan nasehat Rasulullah SAWnya.
Sebuah estafet kerja untuk kebaikan seluruh kaum muslimin di muka bumi, serta juga ummat manusia. Itulah bukti dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://usahadawah.com/wp-content/uploads/2011/01/amalmasjid.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-444" title="amalmasjid" src="http://usahadawah.com/wp-content/uploads/2011/01/amalmasjid.jpg" alt="" width="507" height="517" /></a></p>
<p><strong>Sehingga ahli da&#8217;wah dan tabligh ketika khuruj apakah 3 hari, 40 hari, 4 bulan, selalu dipesankan untuk mengajak pikir ke orang tempatan untuk menghidupkan empat amal maqomi masjid, karena memang hal itu ada pesan dan nasehat Rasulullah SAWnya.</strong></p>
<p><strong>Sebuah estafet kerja untuk kebaikan seluruh kaum muslimin di muka bumi, serta juga ummat manusia. Itulah bukti dari Rahmatan Lil &#8216;alamiin.</strong></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=443&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/perhatikan-empat-amal-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha da&#8217;wah dan tabligh memberikan program kerja sistematik secara amali</title>
		<link>http://usahadawah.com/usaha-dawah-dan-tabligh-memberikan-program-kerja-sistematik-secara-amali/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/usaha-dawah-dan-tabligh-memberikan-program-kerja-sistematik-secara-amali/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 01:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=437</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu &#8216;alaikum wr. wb.
Usaha da&#8217;wah dan tabligh ini memberikan program kerja sistematik rapih secara amali, tidak hanya dalam teori semata. Bagaimana mungkin dapat memberikan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan kalau hanya dalam bentuk teori (baca: penjelasan-penjelasan) semata?
Penjelasan-penjelasan sangat diperlukan untuk menambah kepahaman terhadap satu perkara, tetapi tanpa adanya bentuk amal-amal yang dapat dirasakan untuk proses perbaikan itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu &#8216;alaikum wr. wb.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh ini memberikan program kerja sistematik rapih secara amali, tidak hanya dalam teori semata. Bagaimana mungkin dapat memberikan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan kalau hanya dalam bentuk teori (baca: penjelasan-penjelasan) semata?</p>
<p>Penjelasan-penjelasan sangat diperlukan untuk menambah kepahaman terhadap satu perkara, tetapi tanpa adanya bentuk amal-amal yang dapat dirasakan untuk proses perbaikan itu, maka dengan sendirinya penjelasan-penjelasan itu tidak dapat memberikan perbaikan-perbaikan itu.</p>
<p><span id="more-437"></span>Usaha da&#8217;wah dan tabligh telah memberikan dua sisi tersebut secara baik melalui program kerja yang cukup beragam sebenarnya. Sebelum Khuruj (keluar) selama waktu tertentu, misalkan 3 hari, 40 hari, atau 4 bulan, biasanya terdapat dahulu bayan hidayah (penjelasan petunjuk). Hal ini sangat bermanfaat bagi anggota rombongan yang akan keluar ataupun yang mengikuti penjelasan itu.</p>
<p>Penjelasan-penjelasan itu akan memberikan program kerja yang sistematik dan dilakukan dengan baik pula. Itulah sebabnya kami menyebutkan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh ini memberikan program kerja sistematik secara amali. Dan tentunya kaum muslimin dapat melibatkan diri dengan baik, karena tempat yang dijadikan pusat aktifitasnya adalah MASJID.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=437&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/usaha-dawah-dan-tabligh-memberikan-program-kerja-sistematik-secara-amali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaidah dan Landasan Bagi Juru Dakwah</title>
		<link>http://usahadawah.com/kaidah-dan-landasan-bagi-juru-dakwah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kaidah-dan-landasan-bagi-juru-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Nov 2010 02:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Kaum Muslimin yang berbahagia,
Kami kopikan terhadap sebuah tulisan yang berada di : http://myquran.com/forum/showthread.php/19173-Kaidah-dan-Landasan-Bagi-Juru-Dakwah; dan kami telah memberikan beberapa tulisan singkat berkaitan dengan hal tulisan di bawah ini. Mudah-mudahan kami akan tulisan juga dalam situs ini secara berkala.
Yang ditulis dalam Al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis-Salafish-Shaalih oleh Asy-Syaikh ‘Abdullah  bin  ‘Abdil-Hamiid Al-Atsariy, Intisari ‘Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Kaum Muslimin yang berbahagia,</p>
<p>Kami kopikan terhadap sebuah tulisan yang berada di : http://myquran.com/forum/showthread.php/19173-Kaidah-dan-Landasan-Bagi-Juru-Dakwah; dan kami telah memberikan beberapa tulisan singkat berkaitan dengan hal tulisan di bawah ini. Mudah-mudahan kami akan tulisan juga dalam situs ini secara berkala.</p>
<p>Yang ditulis dalam Al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis-Salafish-Shaalih oleh Asy-Syaikh ‘Abdullah  bin  ‘Abdil-Hamiid Al-Atsariy, Intisari ‘Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah   (penerjemah : Farid bin Muhammad Bathathiy), Pustaka Imam Asy-Syafi’i,   Cet. 2/1428 H<br />
<span id="more-386"></span></p>
<blockquote><p>1. Ketahuilah bahwa dakwah kepada Allah ta’ala merupakan jalan  keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. ‘Sungguh seseorang yang  diberikan hidayah oleh Allah melalui jalan kamu lebih baik bagimu  daripada onta merah (pilihan)’. Pahala akan diperoleh hanya dengan  berdakwah, tidak terkait dengan respon (objek dakwah). &lt;span&gt;Juru  dakwah tidak dituntut untuk merealisasikan kemenangan agama Islam karena  hal ini adalah urusan Allah dan berada di tangan-Nya. Akan tetapi, juru  dakwah dituntut untuk mencurahkan segala kemampuannya dalam  berdakwah&lt;/span&gt;. Bagi juru dakwah, mempersiapkan diri merupakan  syarat. Pertolongan Allah merupakan janji. Sementara dakwah merupakan  salah satu bentuk jihad. Oleh karena itu, terdapat titik temu antara  berdakwah dan jihad dalam tujuan dan hasil.</p>
<p>2. Menegaskan dan  memperdalam manhaj As-Salafush-Shaalih yang tertuang dalam manhaj  Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, yang terkenal dengan wasathiyyah  (pertengahan), syumuliyyah (universal), i’tidal (moderat), serta jauh  dari ifrath (berlebihan) dan tafrith (melalaikan). Landasannya adalah  ilmu syar’iy yang konsisten terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah yang  shahih. Landasan inilah yang memelihara dari ketergelinciran – dengan  anugerah Allah – dan memberikan cahaya bagi orang yang bertekad bulat  untuk berjalan di atas jalan para Nabi.</p>
<p>3. Berupaya mewujudkan  Jama’atul-Muslimin (jama’ah kaum muslimin) dan menyatukan kalimat mereka  di atas kebenaran, yang bersumber dari manhaj yang menyatakan :  “Kalimatut-Tahiid (Laa ilaha illallaah) merupakan pokok untuk menyatukan  barisan (???? ??????? ???? ????? ??????)”. Selain itu, menjauhkan diri  dari segala sesuatu yang dapat memecah-belah kelompok-kelompok Islam  pada saat ini seperti tahazzub (berpartai-partai) yang tercela, yang  mencerai-beraikan barisan kaum muslimin, bahkan menjauhkan antara hati  mereka. Pemahaman yang benar bagi setiap jama’ah dakwah yang mengajak  kepada jalan Allah adalah jama’ah dari kaum muslimin (jama’atun  minal-muslimiin), bukan Jama’ah Kaum Muslimin  (Jama’atul-Muslimiin).&lt;span&gt;&lt;/span&gt;</p>
<p>4.  &lt;span&gt;Loyalitas itu wajib untuk agama bukan untuk para tokoh.  Sebab, kebenaran akan kekal sedangkan tokoh akan wafat&lt;/span&gt;.  Kenalilah kebenaran itu, niscaya engkau akan mengenal penganutnya.</p>
<p>5.  Menyeru untuk saling tolong-menolong dan (menyeru) kepada segala  sesuatu yang dapat mewujudkannya serta menjauhi dari khilaf  (perselisihan) dan dari segala sesuatu yang dapat menyebabkan khilaf  tersebut. Hendaknya satu sama lain harus tolong-menolong dan  nasihat-menasihati dalam hal yang kita perselisihkan selama hal tersebut  dalam masalah khilafiyyah dengan tanpa saling membenci.  &lt;span&gt;Prinsip yang harus ditegakkan di antara kelompok-kelompok  Islam adalah saling bekerjasama dan bersatu. Jika hal tersebut tidak  dapat diwujudkan, hendaknya senantiasa tolong-menolong. Jika itu juga  tidak dapat diwujudkan, hendaknya hidup damai dan berdampingan. Jika itu  pun juga tidak, maka pilihan yang keempat adalah  kebinasaan.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;</p>
<p>6.  &lt;span&gt;&lt;/span&gt;Tidak fanatik terhadap jama’ah yang dianutnya.  &lt;span&gt;Bersikap menyambut apapun upaya yang terpuji yang telah  diberikan oleh orang lain, selama sesuai dengan syari’at lagi jauh dari  ifrath dan tafrith&lt;/span&gt;.</p>
<p>7. Perselisihan dalam masalah  furu’ (cabang-cabang) syari’at menuntut sikap lapang dada dan dialog,  bukan permusuhan dan pembunuhan.</p>
<p>8. Melakukan introspeksi, koreksi yang kontinu, dan evaluasi yang berkesinambungan.</p>
<p>9.  Belajar adab berselisih pendapat dan memperdalam dasar-dasar diskusi,  serta menyatakan bahwa kedua-duanya penting dan perlu sehingga harus  dimiliki sarananya.</p>
<p>10. Jauh dari sikap memvonis secara umum dan  berhati-hati dalam masalah ini, serta jauh dari sikap tidak adil dalam  menghukumi setiap pribadi. Termasuk keadilan adalah menghukumi  berdasarkan makna-makna (yang tersirat), bukan dari yang tersurat</p>
<p>11.  Membedakan antara tujuan dan sarana. Misalnya : Dakwah adalah tujuan;  sedangkan pergerakan, jama’ah, markaz, dan lain-lain merupakan  sarana.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;</p>
<p>12. &lt;span&gt;Teguh dalam tujuan dan fleksibel dalam sarana berdakwah sesuai dengan yang diperbolehkan syari’at&lt;/span&gt;.</p>
<p>13.  Memperhatikan masalah prioritas dan menyusun segala sesuatu secara  berurutan sesuai dengan kepentingannya. Jika ada suatu masalah sekunder,  maka harus memperhatikan waktu, tempat, dan kondisi yang tepat.</p>
<p>14.  Tukar-menukar pengalaman di antara juru dakwah adalah hal yang penting –  di samping itu, dapat membangun bangunan berdasarkan pengalaman orang  lain. Seorang juru dakwah hendaknya jangan memulai dakwahnya dari nol.  Bukanlah dia orang yang pertama tampil berkhidmah kepada agama ini dan  juga bukan orang yang terakhir. Sebab, sekali-kali tidak akan ada orang  yang tidak perlu nasihat dan petunjuk, juga tidak akan ada orang yang  memonopoli seluruh kebenaran atau sebaliknya.</p>
<p>15. Menghormati  para ulama umat yang dikenal dengan konsistensinya terhadap ‘As-Sunnah  dan ‘aqidah yang benar, mengambil ilmu darinya, menghormatinya, tidak  bersikap sombong padanya, menjaga kehormatannya, tidak meragukan niat  baiknya, tidak fanatik kepadanya, dan tidak menuduh mereka. Sebab,  setiap ulama ada benar dan salahnya. Kesalahan dari ulama tersebut  ditolak, tanpa mengurangi kehormatan dan kedudukannya, selama dia  seorang mujtahid.</p>
<p>16. Berbaik sangka kepada kaum muslimin dan  membawa perkataannya kepada pengertian yang terbaik serta menutup cacat  mereka, tanpa melalaikan untuk memberikan keterangan/penjelasan  (nasihat) kepada orang yang bersangkutan.</p>
<p>17. Jika kebaikan  seseorang lebih banyak, janganlah disebut kejelekannya, kecuali jika ada  maslahatnya. Jika kejelekannya lebih banyak, janganlah kebaikannya  disebut, karena takut menjadikan rancu perkaranya bagi orang awam.</p>
<p>18.  Menggunakan kata-kata yang syar’i karena lebih tepat dan sesuai, serta  menjauhi kata-kata asing dan pelik. Seperti menggunakan musyawarah  (syuuraa), bukan demokrasi.</p>
<p>19. Sikap yang benar atas  madzhab-madzhab fiqh adalah bahwasannya madzhab-madzhab tersebut  merupakan kekayaan fiqh yang agung. Oleh sebab itu, wajib bagi kita  mempelajarinya, mengambil manfaat darinya, dan tidak fanatik serta  menolaknya secara keseluruhan. Hendaknya kita menjauhi pendapat yang  lemah dan mengambil yang haq dan benar menurut tuntunan Al-Qur’an dan  As-Sunnah dengan pemahaman as-salafush-shaalih.</p>
<p>20. Menetapkan  sikap yang benar terhadap dunia Barat dan peradabannya, yaitu dengan  mengambil manfaat dan ilmu pengetahuan empiris sesuai dengan  kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan agama kita yang agung ini.</p>
<p>21. Mengakui urgensi musyawarah dalam berdakwah dan keharusan juru dakwah mempelajari tentang fiqh musyawarah.</p>
<p>22. Suri tauladan yang baik. Seorang juru dakwah merupakan cerminan dan contoh hidup dalam misi dakwahnya.</p>
<p>23.  Mengikuti metode hikmah dan nasihat yang baik serta menjadikan firman  Allah berikut ini sebagai neraca dalam berdakwah dan himah untuk  diikuti. ????? ????? ??????? ??????? ????????????? ???????????????  ??????????? ????????????? ????????? ???? ???????? “Serulah (manusia)  kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah  mereka dengan cara yang baik” [QS. An-Nahl : 125].</p>
<p>24. Berhias  diri dengan kesabaran, karena itu merupakan sifat dari para Nabi dan  utusan Allah serta penunjang keberhasilan dalam  dakwahnya.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;</p>
<p>25. &lt;span&gt;Jauh dari  tasyaddud (mempersulit/keras) dan berhati-hati dari penyakit tasyaddud  dan akibatnya yang negatif&lt;/span&gt;. Selain itu, berbuat kemudahan  dan lemah-lembut dalam batas-batas yang diperbolehkan oleh syari’at.</p>
<p>26.  Seorang muslim selalu mencari kebenaran. Keberanian mengatakan  kebenaran sangat dibutuhkan dalam berdakwah. &lt;span&gt;Jika engkau  lemah untuk mengatakan yang benar, maka janganlah mengatakan yang  bathil&lt;/span&gt;.</p>
<p>27. Berhati-hati terhadap futur (patah  semangat) dan hasilnya yang negatif, serta tidak lalai dalam mempelajari  sebab dan solusinya.</p>
<p>28. Waspada terhadap segala isu (kabar  angin) dan tidak menyebarkannya. Selain itu, waspada terhadap hal-hal  negatif yang ditimbulkannya pada masyarakat Islam.</p>
<p>29. Barometer  keistimewaan seseorang adalah taqwa dan amal shalih, serta  mengesampingkan segala fanatisme jahiliyyah; seperti fanatisme daerah,  keluarga, kelompok, maupun jama’ah.&lt;span&gt;&lt;/span&gt;</p>
<p>30.  &lt;span&gt;Manhaj (metode) yang afdlal dalam berdakwah adalah memulai  dengan mengemukakan hakekat Islam dan manhajnya, bukan mendatangkan  syubhat lalu membantahnya&lt;/span&gt;. Kemudian, memberikan kepada  manusia neraca kebenaran, mengajak mereka pada pokok-pokok agama, dan  berbicara menurut kemampuan akal pikiran mereka. Mengetahui celah untuk  memasuki jiwa mereka merupakan pintu masuk untuk memberikan hidayah  kepada mereka.</p>
<p>31. Para juru dakwah dan pergerakan Islam  hendaknya senantiasa berpegang teguh kepada syari’at Allah ta’ala,  bersungguh-sungguh sesuai dengan kemampuan, meminta pertolongan kepada  Allah ta’ala, serta meyakini bahwa Allah-lah yang membimbing dan  mengarahkan perjalanan dakwah. Dia-lah yang akan melimpahkan taufiq bagi  para da’i. Sesungguhnya agama dan segala urusan hanya milik Allah  ta’ala.</p>
<p>Itulah beberapa kaidah dan landasan dalam  berdakwah yang merupakan buah pengalaman kebanyakan ulama dan juru  dakwah. Semoga ada manfaatnya. Wallaahu a’lam bish-shawwaab</p>
<p>Sumber  : Al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis-Salafish-Shaalih oleh Asy-Syaikh ‘Abdullah  bin ‘Abdil-Hamiid Al-Atsariy, Intisari ‘Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah  (penerjemah : Farid bin Muhammad Bathathiy), Pustaka Imam Asy-Syafi’i,  Cet. 2/1428 H</p></blockquote>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=386&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kaidah-dan-landasan-bagi-juru-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidaklah tepat salafi berpandangan bahwa tulisan JT tidak ada satupun tulisan yang berlandasan Al-quran dan As-Sunnah berpahaman salafush sholeh</title>
		<link>http://usahadawah.com/tidaklah-tepat-salafi-berpandangan-bahwa-tulisan-jt-tidak-ada-satupun-tulisan-yang-berlandasan-al-quran-dan-as-sunnah-berpahaman-salafush-sholeh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/tidaklah-tepat-salafi-berpandangan-bahwa-tulisan-jt-tidak-ada-satupun-tulisan-yang-berlandasan-al-quran-dan-as-sunnah-berpahaman-salafush-sholeh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 22:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[kepada Kaum muslimin yang berbahagia,
Kami mendapatkan bagian pandangan itu dari: http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/24/kritik-ijtima%E2%80%99-tahunan-jama%E2%80%99ah-tabligh
Tidaklah tepat sebagian salafi berpandangan bahwa tulisan JT tidak ada satupun tulisan yang berlandaskan Al-quran dan As-Sunnah berpahaman salafush sholeh. Pandangan salafi terhadap JT ini sangat berlebihan dan tidak tepat adanya. Kami yang mendalami kitab-kitab yang dipelajari secara ijtimaiyyah dalam program JT banyak memperlihatkan sumber-sumbernya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kepada Kaum muslimin yang berbahagia,</p>
<p>Kami mendapatkan bagian pandangan itu dari: <a href="http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/24/kritik-ijtima%E2%80%99-tahunan-jama%E2%80%99ah-tabligh" target="_blank">http://ibnuabbaskendari.wordpress.com/2010/07/24/kritik-ijtima%E2%80%99-tahunan-jama%E2%80%99ah-tabligh</a></p>
<p><strong>Tidaklah tepat sebagian salafi berpandangan bahwa tulisan JT tidak ada satupun tulisan yang berlandaskan Al-quran dan As-Sunnah berpahaman salafush sholeh. </strong>Pandangan salafi terhadap JT ini sangat berlebihan dan tidak tepat adanya. Kami yang mendalami kitab-kitab yang dipelajari secara ijtimaiyyah dalam program JT banyak memperlihatkan sumber-sumbernya dari para Ulama dulu, dan juga berlandaskan pada al-quran dan as-sunnah.</p>
<p>Dan pandangan ini bukan kira-kira atau mengarang semata, karena kami sendiri mempunyai sumber-sumber kitab-kitab para Ulama dulu yang cukup memadai, dalam bentuk hardcopy yang cukup banyak termasuk seluruh syarh kutubus sittah tentunya dan kitab-kitab tafsir Ulama yang biasanya dikatagorikan sebagai ibunya tafsir Sunnah Wal jama&#8217;ah, dan juga dalam bentuk softcopy yang biasa dikumpulkan dari sumber-sumber yang cukup baik.</p>
<p>Kalau dikatakan tidak ada satupun tulisan yang berlandaskan al-quran dan as-sunnah berpahaman salafush sholeh, maka jelas hal ini sangat berlebihan sekali. Karena kami menemukan beberapa bagiannya berasal dari para Ulama dulu juga. Semua kaum muslimin mempunyai pendalaman kurikulum dan silabus dalam madrasahnya, tentunya tidak akan semuanya sama tetapi setidaknya ada sebagiannya yang sama.</p>
<p>Di dalam buku fadhilah dzikir di sana terdapat cuplikan ringkasan fadhilah dzikir yang disusun dari Ulama Imam Ibnul Qoyyim Rah. Disamping juga terdapat bagian pendalaman yang secara khusus dan berulang-ulang dengan pelajaran dari kehidupan-kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Sehingga <strong>Tidaklah tepat salafi berpandangan bahwa tulisan JT tidak ada satupun  tulisan yang berlandaskan Al-quran dan As-Sunnah berpahaman salafush  sholeh. </strong>Tidaklah sederhana  mengatakan bahwa tulisan-tulisan kalangan Ulama yang telah lama dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh ini tidak mempunyai rujukan-rujukan para Ulama salafush sholeh.</p>
<p>S<strong>ehingga untuk membuktikannya adalah pelajari saja rujukan-rujukan yang dipergunakanya, dengan hal itu siapapun dapat mempelajarinya dengan jelas. </strong>Maka kami sudah membuktikan sendiri, karena memang kami sendiri mempunyai sebagian rujukan kitab-kitab itu. Dan kami anjurkan kepada kaum muslimin untuk terbiasa meneliti dengan baik, dan tidak menggunakan kira-kira semata.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=368&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/tidaklah-tepat-salafi-berpandangan-bahwa-tulisan-jt-tidak-ada-satupun-tulisan-yang-berlandasan-al-quran-dan-as-sunnah-berpahaman-salafush-sholeh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khuruj merupakan salah satu ijtihad untuk perbaikan kaum muslimin dari sekian banyak ijtihad-ijtihad lainnya</title>
		<link>http://usahadawah.com/khuruj-merupakan-salah-satu-ijtihad-untuk-perbaikan-kaum-muslimin-dari-sekian-banyak-ijtihad-ijtihad-lainnya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/khuruj-merupakan-salah-satu-ijtihad-untuk-perbaikan-kaum-muslimin-dari-sekian-banyak-ijtihad-ijtihad-lainnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 01:49:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Kaum Muslimin Yang Berbahagia,
Khuruj merupakan salah satu ijtihad untuk perbaikan kaum muslimin dari sekian banyak ijtihad-ijtihad lainnya. Jika kita mau berpikir sejenak saja, kita akan mendapatkan macam-macam ijtihad yang dilakukan para Ulama dan cendekia Kaum Muslimin bagaimana kaum muslimin ini mengalami perubahan atau perbaikan atau ishlah yang baik, dan tentunya berkelanjutan.
Kita semua kaum muslimin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Kaum Muslimin Yang Berbahagia,</p>
<p><strong>Khuruj merupakan salah satu ijtihad untuk perbaikan kaum muslimin dari sekian banyak ijtihad-ijtihad lainnya</strong>. Jika kita mau berpikir sejenak saja, kita akan mendapatkan macam-macam ijtihad yang dilakukan para Ulama dan cendekia Kaum Muslimin bagaimana kaum muslimin ini mengalami perubahan atau perbaikan atau ishlah yang baik, dan tentunya berkelanjutan.</p>
<p>Kita semua kaum muslimin mengenal dengan namanya pesantren. Istilah pesantren tidak akan pernah kita temukan dalam kajian-kajian kitab Ulama ahli hadist, karena memang Pesantren itu merupakan istilah yang bukan berasal dari bahasa Arab, tetapi berasal dari bahasa lain. Tetapi sekarang dipergunakan menjadi sebuah istilah tetap, bahkan kalau kita bercerita pesantren, maka tentunya hal itu berhubungan dengan Islam.</p>
<p>Pesantren merupakan tempat pengajaran, pendalaman dan pengkajian ilmu-ilmu Islam. Setiap orang yang masuk ke pesantren Islam, maka tentunya harus mengikuti aturan atau cara-cara yang diterapkan dalam pesantren yang bersangkutan. Tentunya para ustadz/Ulama yang membangun dan mengembangkan pesantren untuk menyusun aktifitas-aktifitas yang berlandaskan pada amal-amal Islam itu sendiri:</p>
<ul>
<li>Semua santri diharuskan untuk selalu sholat wajib berjama&#8217;ah</li>
<li>Semua santri diharuskan mengikuti pelajaran/ceramah setelah sholat shubuh dan maghrib</li>
<li>Semua santri diharuskan mengikuti kelas-kelas yang sudah ditetapkan di jam-jam tertentu</li>
<li>Semua santri diharuskan mengikuti kurikulum dan silabus yang ditetapkan</li>
<li>Semua santri diharuskan mengikuti program atau bakti ke masyarakat sekitarnya</li>
<li>Santri-santri yang sudah mapan akan disuruh untuk menjadi khatib jum&#8217;at di masjid-masjid masyarakat</li>
<li>Sebelum masuk ke pesantren, biasanya terjadi serah terima antara orangtua dan ustadz di pesantren</li>
<li>dsb</li>
</ul>
<p>Semua amal-amal di atas itu banyak sekali pelajarannya dalam a-quran dan as-sunnah. Meskipun istilah pesantren tidak ada dalam istilah hadist, tetapi mungkin hanya ada di Indonesi dan daratan Nusantara. Istilah ini sudah menjadi umum, dan tidak ada yang mempermasalahkannya kembali. Pesantren itu jelas merupakan ijtihad dari Ulama-Ulama dulu yang berada di tataran Nusantara untuk dapat memberikan pengajaran Islam dengan baik.</p>
<p>Kitapun mengenal dengan Universitas al-azhar, Universitas Ummul Quro dsb, tempat-tempat ini juga merupakan tempat belajar kaum muslimin dari berbagai lapisan dunia bahkan. Dan di dalamnya juga mempunyai aturan dan penelahaan terhadap pola pendidikan yang perlu dijalankannya.</p>
<p>Universitas-universitas Islam ini memberikan pendidikan berdasarkan tingkatan, ada tingkat Sarjana (S1), atau tingkat master (S2), dan bahkan tingkat Doktor (S3), serta pengajarnya juga menggunakan gelar Professor. Sekarang kita berpikir saja, apakah ada perihal S1, S2, S3 dan Professor itu dalam kajian kitab-kitab Islam dulu termasuk dalam hadist Rasulullah SAW.</p>
<p>Siapa yang melakukan kajian terhadap pola pendidikan itu? Tentunya negara-negara lain yang telah mempunyai sistem filsafat pendidikan yang berbeda, dan hal itu lebih dikenal di dunia barat. Para Ulama kaum muslimin melakukan kajian dan akhirnya membuat Ijtihad terhadap pola-pola pendidikan itu, dan ada yang diadopsinya dengan baik. Dan banyak sekali Ulama bergelar DR dalam bidang fiqh, syariah, hadist dsb.</p>
<p>Bagaimana sekarang dengan Khuruj yang sekarang banyak dikomentari sebagai bid&#8217;ah dholalah oleh sebagian kaum muslimin? Khuruj merupakan salah satu metoda yang dihasilkan melalui ijtihad seorang Ulama juga. Tentunya penelitian-penelitian antara Khuruj, Pesantren, dan Universitas itu akan berbeda-beda polanya.</p>
<p><strong>Semua Ulama sunnah Wal jama&#8217;ah sepakat bahwa Iman itu naik dan turun, bergantung pada amal-amal yang dijalankannya. Jika dalam suasana agama dan amal sholeh, tentunya Iman itu akan bertambah subur; tetapi begitupun sebaliknya jika dalam suasana amal-amal salah/maksyiat, maka tentunya Iman ini akan melemah. </strong></p>
<p>Khuruj merupakan program usaha da&#8217;wah dan tabligh (orang menyebutnya JT) hasil dari kajian dan penelitian mendalam terhadap kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, dan tentunya juga tidak melepaskan dari sumber-sumber Ulama Sunnah Wal Jama&#8217;ah. Salah satunya seperti di atas, Iman itu bisa naik dan turun.</p>
<p><strong>JIka dipelajari mendalam perihal Khuruj ini mulai dari tasykil, kemudian bayan hidayah (penjelasan sebelum keluar) sampai dengan bayan tangguh (penjelasan/ceramah sebelum pulang ke rumah masing-masing), seluruhnya banyak sekali amal-amal Islam di dalamnya yang disusun secara ijtimaiyyah; dan juga tentunya setiap pribadi akan berusaha melakukan untuk meningkatkan secara pribadi dalam amal-amal Islam, dan itu merupakan amal infirodhiyyah. </strong></p>
<p>Kami tidak perlu menuliskan dalil-dalil yang lengkapnya, dan silahkan untuk mempelajari dengan baik terhadap amal-amal Islam yang biasa dilakukan ketika khuruj.</p>
<ol>
<li>Silaturahmi</li>
<li>Da&#8217;wah</li>
<li>Ta&#8217;lim wa ta&#8217;allum</li>
<li>Sholat berjama&#8217;ah</li>
<li>Dzikir pagi dan petang (diajarkan para masyaikh da&#8217;wah yang paling ringan dibandingkan dengan susunan Ulama lainnya dalam dzikir pagi dan petang berdasarkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW).</li>
<li>Adab-adab harian</li>
<li>halaqah quran</li>
<li>Mudzakarah para Shahabat</li>
<li>Khidmat kepada kaum muslimin</li>
<li>Ta&#8217;at pada amir rombongan</li>
<li>Musyawarah</li>
<li>Bayan/ceramah umum</li>
<li>dsb.</li>
</ol>
<p>Begitu banyak amal-amal Islam yang dilakukan ketika Khuruj, menjadi satu kesatuan untuk melakukan perbaikan/ishlah pada diri orang-orang yang mengikutinya, dan tentunya juga kepada kaum muslimin yang didatanginya.</p>
<p><strong>Sehingga cukup aneh rasanya Khuruj dianggap sebagai syariat baru ataupun bid&#8217;ah dholalah. Karena cara melakukan perbandingannya itu tidak tepat, atau tidak apple-to-apple, maka tentunya bisa salah secara besar dalam pengambilan kesimpulan itu. </strong></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=376&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/khuruj-merupakan-salah-satu-ijtihad-untuk-perbaikan-kaum-muslimin-dari-sekian-banyak-ijtihad-ijtihad-lainnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

