<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 02:53:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bagaimana dengan Da&#8217;wah ke Kalangan Non-Kaum Muslimin?</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/08/28/bagaimana-dengan-dawah-ke-kalangan-non-kaum-muslimin/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/08/28/bagaimana-dengan-dawah-ke-kalangan-non-kaum-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 02:53:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu &#8216;alaikum wr. wb.
Tulisan di bawah ini merupakan pandangan terhadap pertanyaan yang disampaikan melalui blog kami:
Sdr. Zahari bertanya: &#8220;ana mau tanya,, kenapa jamaah tabligh melarang da&#8217;wah ke non Islam??
klo jawaban blum waktuny.. truz kapan waktunya tiba&#8230;??
wass..&#8221;
Ini pertanyaan sebenarnya tidak perlu ditanyakan hanya ke kalangan ahli da&#8217;wah dan tabligh saja, tetapi kepada kaum muslimin lainnya, termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu &#8216;alaikum wr. wb.</p>
<p>Tulisan di bawah ini merupakan pandangan terhadap pertanyaan yang disampaikan melalui blog kami:</p>
<blockquote><p>Sdr. Zahari bertanya: &#8220;ana mau tanya,, kenapa jamaah tabligh melarang da&#8217;wah ke non Islam??<br />
klo jawaban blum waktuny.. truz kapan waktunya tiba&#8230;??<br />
wass..&#8221;</p></blockquote>
<p>Ini pertanyaan sebenarnya tidak perlu ditanyakan hanya ke kalangan ahli da&#8217;wah dan tabligh saja, tetapi kepada kaum muslimin lainnya, termasuk dengan Sdr. Zahari yang bertanya kepada kami. Apakah sudah kaum muslimin menjalankan da&#8217;wah Islam kepada Non-Kaum Muslimin?</p>
<p>Alhamdulillah sekarang ini telah banyak orang yang diluar Islam telah masuk Islam dikarenakan asbab dari kalangan ahli da&#8217;wah dan tabligh. Apakah itu di Eropa, di Amerika, di Australia, di Afrika, dsb. Bahkan kami mendapatkan berita ribuan manusia di Afrika masuk Islam diasbabkan jam&#8217;ah yang sedang bergerak dari Afrika menuju ke Palentina.</p>
<p>Kami pernah bertemu dengan seorang Doktor yang bergerak dalam bidang Human Resource di Malaysia, karena kebetulan kami sedang mengambil pendidikan.  Tetapi dengan asbab beliau banyak orang masuk Islam di Malaysia sana, tidak hanya 1-2 orang saja, tetapi puluhan.</p>
<p>Begitupun juga di Amerika, telah ada orang Yahudi masuk Islam dan bahkan sekarang ini dia aktif dalam kerja da&#8217;wah dan tabligh. Dan informasi disampaikan seorang DR tokoh pergerakan Islam, yang sekarang menjadi PKS. Dan tertulis dalam blognya.Kami juga pernah bertemu dengan seorang mu&#8217;allaf dan yang boleh kita kagum adalah adiknya saja akan menjadi hafidzah.</p>
<p>Dan begitupun juga dengan di Thailand, banyak orang masuk Islam. Banyak kalangan biksu melihat-lihat kalau ada program ijtima&#8217;i nasional. Dan dengan hanya melihat saja, Allah swt berikan hidayah kepada mereka. Dan itu bukan 1-2 orang, tetapi cukup banyak. Bahkan teman bercerita ketika ke Thailand, banyak orang yang gundul sedang belajar sholat. Mereka adalah kalangan biksu budha yang baru masuk Islam. Di Eropa, di Amerika, banyak yang menjadi imam masjid, dan tentunya banyak yang bertanya tentang Islam.</p>
<p>Artinya tidak melarang da&#8217;wah kepada non-Muslim, tetapi sebaiknya perbaiki dahulu diri kita dan juga kaum muslimin lainnya dengan Iman dan Amal Sholeh. Dan untuk memperbaiki diri kita dan juga kaum muslimin maka tentunya harus dengan mujahadah. Dengan banyaknya perubahan dalam diri kaum muslimin, maka orang-orang Non-Muslim banyak yang tertarik dengan Islam.</p>
<p>Silahkan untuk dicermati &#8230;</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=336&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/08/28/bagaimana-dengan-dawah-ke-kalangan-non-kaum-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Da&#8217;wah memberikan jalan yang mudah untuk menarik kaum muslimin dalam berbagai lapisan dan latar belakang untuk banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/06/06/usaha-dawah-memberikan-jalan-yang-mudah-untuk-menarik-kaum-muslimin-dalam-berbagai-lapisan-dan-latar-belakang-untuk-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/06/06/usaha-dawah-memberikan-jalan-yang-mudah-untuk-menarik-kaum-muslimin-dalam-berbagai-lapisan-dan-latar-belakang-untuk-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 23:10:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/2010/06/06/usaha-dawah-memberikan-jalan-yang-mudah-untuk-menarik-kaum-muslimin-dalam-berbagai-lapisan-dan-latar-belakang-untuk-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah-Kisah Rasulullah dan Para Shahabat RA, Enam Sifat Para Shahabat RA, Adab-Adab Islam, Fadhilah-Fadhilah Amal yang banyak diutarakan, dibacakan dan dilatihkan langsung dalam usaha da&#8217;wah, tidak hanya sebagai wacana-ke-wacana telah membuka kesempatan kaum muslimin untuk lebih berdekatan dengan lautan nasehat Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA yang telah banyak ditulis para Ulama.

Dalam hal ini memerlukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah-Kisah Rasulullah dan Para Shahabat RA, Enam Sifat Para Shahabat RA, Adab-Adab Islam, Fadhilah-Fadhilah Amal yang banyak diutarakan, dibacakan dan dilatihkan langsung dalam usaha da&#8217;wah, tidak hanya sebagai wacana-ke-wacana telah membuka kesempatan kaum muslimin untuk lebih berdekatan dengan lautan nasehat Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA yang telah banyak ditulis para Ulama.</p>
<p><span id="more-329"></span></p>
<p>Dalam hal ini memerlukan kurikulum dan silabus yang konsisten, fokus dan sistematik, bukan kurikulum yang luas, melebar, detail, karena tentunya kurikulum yang luas, detail dan melebar tidak untuk seluruh kaum muslimin, dan juga tentunya tidak dapat dilakukan secara umum dan tersebar di berbagai lapisan dan tingkatan kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah telah memberikan kurikulum secara ijtima&#8217;iyyah yang memungkinkan semua lapisan dan tingkatan kaum muslimin dapat mempelajarinya dengan baik, yaitu:</p>
<p>(1) Kitab-Kitab Fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah,</p>
<p>(2) Kitab Hayatush Shahabat RA, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(3) Kitab Al-hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(4) Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah,</p>
<p>Masih banyak kitab/buku yang ditulis kalangan Ulama usaha da&#8217;wah, tetapi hal itu merupakan pendalaman secara infirodhiyyah untuk menambah pengetahuan, tentunya yang bersemangat akan mempelajarinya dengan baik pula, disamping dengan tulisan-tulisan para Ulama lainnya seperti yang kami sampaikan dalam tulisan sebelumnya dalam &#8220;Kitab Al-Hadistul Muntakhabah (six point) Maulana Yusuf Rah dan Enam Sifat Para Shahabat RA, sebuah proses pengajaran awal dan konsisten untuk membuka lebih luas terhadap pengajaran Islam&#8221;.</p>
<p>Dan kami sendiri mendapatkan beberapa buku lainnya yang dapat meningkatkan kepahaman terhadap Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA, sebagai sebuah generasi yang telah mendapatkan kejayaan dan kesuksesan di dunia dan akherat.</p>
<p>Kitab-Kitab yang ditulis Para Ulama ini begitu banyak dan tentunya mempunyai pola sistematik dan pendalaman yang berbeda-beda pula. Bagi kebanyakan mayoritas kaum muslimin tentunya hal ini akan menjadi satu hal yang sangat berat. Dan diperlukan cara pendekatan yang mana tujuan utamanya yaitu banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ini dapat terwujud, sehingga kaum muslimin sendiri mengetahui bahwa kesuksesan dan kejayaan itu bergantung sejauh mana ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah SAW. Generasi para Shahabat RA merupakan generasi yang telah membuktikan hal itu.</p>
<p>Mengambil sumber-sumber, menyusun, mensarikan kembali ke dalam bentuk kurikulum dan silabus yang dapat berlaku ke berbagai lapisan dan tersebar ke seluruh bagian di dunia ini, hal ini tidak mudah. Karena tentunya memerlukan orang-orang yang bersedia menyebarkannya, dan juga apa yang disebarkannya itu mudah dipahami banyak lapisan.</p>
<p>Kami yang sempat berhubungan dengan dunia pendidikan sekolah tinggi bidang teknologi informasi, dan juga kemadrasahan Islam merasakan hal ini cukup sulit dan tidak mudah. Seorang guru yang baik adalah memberikan landasan atau pola yang memungkinkan murid-muridnya dapat berkembang di waktu akan datang. Tidaklah mungkin diberikan macam-macam materi ke seluruh kaum muslimin, seperti dilakukannya di perguruan tinggi Islam atau madrasah-madrasah yang sudah tertata dengan baik.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah telah memberikan pola, pendekatan, kerangka, kurikulum, program dsb yang berkaitan dengan pengajaran Islam dalam tubuh kaum muslimin, dan Usaha Da&#8217;wah ini selalu menekankan pada Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA, karena memang generasi ini yang telah mendapatkan satu kesuksesan di dunia dan di akherat menurut berita dalam Al-quran sendiri.</p>
<p>Kisah-Kisah Rasulullah dan Para Shahabat RA, Enam Sifat Para Shahabat RA, Adab-Adab Islam, Fadhilah-Fadhilah Amal , serta juga dengan buku-buku yang banyak dibaca dan diulang-ulang telah memberikan pendekatan pengajaran yang fokus, sistematis, mudah, konsisten, sehingga banyak lapisan kaum muslimin dapat berinteraksi.</p>
<p>Dan bahasan-bahasan yang diutarakan dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh ini merupakan bahasan-bahasan mendasar yang sebenarnya seluruh kaum muslimin secara umum mengetahui dengan baik, seperti perihal Sholat, Silaturahmi, Memakmurkan Masjid, Dzikir, Baca Quran, Da&#8217;wah, Ikhlash, Shabar, dsb. Yang mana sebenarnya para Ulama dari generasi-ke-generasi selalu juga menekankan hal itu. Hal ini kita dapat perhatikan dengan baik dari buku-buku para Ulama dulu sendiri.</p>
<p>Dan melalui kitab-kitab yang sering dibacanya secara ijtima&#8217;iyyah yaitu :</p>
<p>(1) Kitab-Kitab Fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah,</p>
<p>(2) Kitab Hayatush Shahabat RA, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(3) Kitab Al-hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(4) Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah,</p>
<p>Memudahkan banyak lapisan dan beragam kaum muslimin untuk banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA in. Ditambah dengan adab-adab Islam, Mudzakarah Enam Sifat, Ushul-Ushul Da&#8217;wah yang kebanyakannya hal itu tidak dituliskan ke dalam buku-buku yang dibaca secara Ijtima&#8217;iyyah, tetapi dalam bentuk mudzakarah-mudzakarah yang mudah dipahami dan langsung dipraktekan, sehingga menambah kemudahan dalam pengajaran Al-Islam itu.</p>
<p>Dan tentunya bagi sebagian kalangan kaum muslimin yang mempunyai semangat mencari Ilmu dan mendalaminya, akan mencari dan mempelajari melalui kitab-kitab lainnya untuk mendukung dan meningkatkan kepahaman terhadap adab-adab Islam, Enam Sifat, Ushul-Ushul Da&#8217;wah; misalkan saja seperti kitab-kitab yang kami sebutkan dalam tulisan sebelumnya  &#8220;Kitab Al-Hadistul Muntakhabah (six point) Maulana Yusuf Rah dan Enam Sifat Para Shahabat RA, sebuah proses pengajaran awal dan konsisten untuk membuka lebih luas terhadap pengajaran Islam&#8221;.<br />
Sehingga usaha da&#8217;wah telah memberikan jalan yang sangat mudah, sistematik, efisien, efektif, kurikulum yang konsisten bagi kaum muslimin untuk banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Dan hal ini dilakukan secara Ijtima&#8217;iyyah di seluruh dunia, sehingga pengaruhnya akan berdampak seluruh dunia juga.</p>
<p>Akan sangat sulit dan bahkan tidak efisien bagi kebanyakan/mayoritas kaum muslimin dengan menggunakan kurikulum yang luas, mendalam dan melebar, karena kemampuan dan tingkatan kaum muslimin sendiri berbeda-beda. Sehingga akan sulit fokus, konsisten dalam pendalamannya.</p>
<p>Inilah yang kami dapatkan ketika kami sendiri berhubungan dengan pengembangan madrasah Islam bahwa menyusun dan menetapkan buku/kitab yang dibaca secara Ijtimai&#8217;yyah itu tidak mudah, jika berkeinginan berlaku untuk seluruh lapisan kaum muslimin di seluruh dunia. Dan Usaha da&#8217;wah telah membuktikannya, dan sekarang buku-buku tersebut banyak dibaca kalangan kaum muslimin di seluruh dunia, setelah begitu tersebarnya usaha da&#8217;wah ini.</p>
<p>(1) Kitab-Kitab Fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah,</p>
<p>(2) Kitab Hayatush Shahabat RA, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(3) Kitab Al-hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(4) Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah,</p>
<p>Sekarang ini kaum muslimin mengadakan pengajian-pengajian di masjid-masjid, hanya saja kurikulum dan silabus itu kadangkala beragam. Dan memang sudah waktunya masjid-masjid kaum muslimin, khususnya di Indonesia, untuk dapat membacakan buku-buku Islam secara Ijtima&#8217;iyyah, artinya yang dapat di dengarkan secara masyarakat luas di masjid-masjid. Tanpa adanya proses Ijtima&#8217;iyyah dalam pengajaran, maka akhirnya terbentuk dalam pulau-pulau pendalaman. Tidak adanya satu kerangka yang sama.</p>
<p>Sedangkan untuk pendalaman-pendalaman khusus, maka tentunya masjid-masjid juga perlu membuka kelas-kelas secara bertingkat, sehingga akan menghasilkan para Ulama atau ustadz di masa depannya. Kaum muslimin perlu adanya kelas Umum dan Kelas Khusus di masjid-masjid. Dan usaha da&#8217;wah telah memberikan sarana mudah untuk membentuk kelas Umum melalui kitabnya yang telah banyak dibacanya. Itulah perlunya Ta&#8217;lim Masjid harian.</p>
<p>Para Ulama dulu sebenarnya telah berusaha menyusun dan mengajarkan kepada murid-muridnya, dan masih ada yang terus berkelanjutan sekarang ini. Misalkan saja pengajaran Kitab Imam Bukhari, masih ada sekarang ini pengajaran Kitab tersebut yang berhubungan sampai ke Imam Bukharinya sendiri. Tetapi hal itu sangat jarang.</p>
<p>Mudah-mudahan Ta&#8217;lim Umum Harian dan juga Ta&#8217;lim Khusus di masjid-masjid kaum muslimin akan tambah tumbuh, dan untuk hal itu perlu banyak belajar khuruj lagi dan lagi. Supaya kita kaum muslimin menambah satu pandangan bahwa Masjid ini merupakan sarana yang paling.</p>
<p>Para penulis kitab yang kami sebutkan di atas itu termasuk dari Ulama-Ulama yang belajar sampai ke Ulama-Ulama sebelumnya. Dan kami pernah mendapatkan satu teman yang lama tinggal di pesantren kami, ketika belajar kitab Imam Tirmidzi di Pakistan ternyata sampai juga ke Imam Tirmidzi Rah.  Mudah-mudahan akan banyak lagi kaum muslimin seperti Para Ulama itu dan juga teman kami yang belajarnya sampai ke Imam yang pertama.</p>
<p>Para Penulis kitab di atas tentunya berkeinginan bagaimana kaum muslimin ini dapat berhubungan dengan nasehat-nasehat Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA, tentunya juga mengamalkannya dalam kehidupan kaum muslimin tidak hanya sebagai wacana. Maka tentunya diperlukan satu jalan atau pendekatan, yaitu kurikulum yang fokus, sistematik, konsisten yang dapat dijadikan sebagai awal perjalanan dalam proses pendalaman Al-Islam.</p>
<p>Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da&#8217;wah, serta juga memiliki kepakaran dalam Al-Islam, maka terbentuklah keranka pengajaran Al-Islam yang fokus, konsisten, tidak terlalu melebar, mudah, yang dapat melibatkan semua lapisan dan tingkatan kaum muslimin dan tersebar di seluruh dunia.</p>
<p>Dengan harapan dari waktu ke waktu akan tumbuh kalangan Ulama, alim, ustadz dsb yang dapat memberikan pengajaran Al-Islam. Dan kami pernah mendapatkan berita dari Muslim Inggris sekitar tahun tahun 1990-an, bahwa di Inggris hampir tiap tahun dikirimnya 1.000 hafidz untuk menjadi Imam di Bulan Ramadhan. Artinya pertumbuhan itu ada, dan bahkan jumlah kaum muslimin serta juga masjid terus bertambah.</p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk menjaga dua kali Ta&#8217;lim Harian, satu di masjid kita dan satu di rumah kita, terhadap pengajaran Al-Islam terhadap kitab-kitab Ijtima&#8217;iyyah:</p>
<p>(1) Kitab-Kitab Fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah,</p>
<p>(2) Kitab Hayatush Shahabat RA, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(3) Kitab Al-hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(4) Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah,</p>
<p>Dan jika ada kesempatan, maka biasakanlah untuk membaca sendiri kitab-kitab itu, dan juga menambah lagi dari tulisan-tulisan dari Ulama lainnya, Insya Allah, kami akan tuliskan kitab-kitab yang cukup bagus untuk dipelajari. Dan juga berusaha menghafal sebagiannya, semangat menghafal Al-quran dan As-Sunnah telah banyak dijelaskan para Ulama, termasuk dalam kitab fadhilah Quran Maulana Dzakaria Rah.</p>
<p>Insya Allah, kami lanjutkan dalam tulisan &#8220;Seberapa banyak kita membaca lembaran-lembaran kitab Ijtima&#8217;iyyah dalam ta&#8217;lim harian&#8221;.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=329&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/06/06/usaha-dawah-memberikan-jalan-yang-mudah-untuk-menarik-kaum-muslimin-dalam-berbagai-lapisan-dan-latar-belakang-untuk-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab Al-Hadistul Muntakhabah (six point) Maulana Yusuf Rah dan Enam Sifat Para Shahabat RA, sebuah proses pengajaran awal dan konsisten untuk membuka lebih luas terhadap pengajaran Islam</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/06/04/kitab-al-hadistul-muntakhabah-six-point-maulana-yusuf-rah-dan-enam-sifat-para-shahabat-ra-sebuah-proses-pengajaran-awal-dan-konsisten-untuk-membuka-lebih-luas-terhadap-pengajaran-islam/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/06/04/kitab-al-hadistul-muntakhabah-six-point-maulana-yusuf-rah-dan-enam-sifat-para-shahabat-ra-sebuah-proses-pengajaran-awal-dan-konsisten-untuk-membuka-lebih-luas-terhadap-pengajaran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 03:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=326</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan sebelumnya &#8220;Kitab-Kitab Yang Banyak Dibaca Kalangan Ahli Da&#8217;wah dan Tabligh Membawa Kaum Muslimin Banyak Berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA&#8221;, telah beberapa kitab yang banyak dibaca dan dipelajari kalangan usaha da&#8217;wah. Hal ini untuk mulai banyak mengajak kaum muslimin berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA.
Salah satu kitabnya adalah Kitab [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam tulisan sebelumnya &#8220;Kitab-Kitab Yang Banyak Dibaca Kalangan Ahli Da&#8217;wah dan Tabligh Membawa Kaum Muslimin Banyak Berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA&#8221;, telah beberapa kitab yang banyak dibaca dan dipelajari kalangan usaha da&#8217;wah. Hal ini untuk mulai banyak mengajak kaum muslimin berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA.</p>
<p>Salah satu kitabnya adalah Kitab Al-hadistul Muntakhabah Maulana Yusuf Rah, yang mana kitab ini merupakan kitab yang mengandung hadist-hadist pilihan yang berkaitan dengan six point (enam sifat). Setalah lama berhubungan dengan usaha da&#8217;wah, serta buku-buku bacaan ijtima&#8217;iyyah dalam kerja da&#8217;wah, yaitu  Kitab Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah Fadhilah Amal Maulana Dzakaria Rah dan Kitab Hayatush Shahabah Maulana Yusuf Rah.</p>
<p><span id="more-326"></span></p>
<p>Dengan adanya kitab-kitab tersebut yang secara ijtima&#8217;iyyah di baca kalangan ahli da&#8217;wah dan kitab-kitab ini banyak berhubungan dengan hadist-hadist Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Dan kami bersyukur terbawa untuk dapat berhubungan beberapa kitab-kitab hadits lainnya yang telah disusun para Ulama lainnya, seperti Kitab Al-Adzkar Imam Nawawi Rah, Kitab Targhib Wa Tarhib Imam Mudziri Rah, Kitab Ringkasan Nailul Authar  Imam Asy-Syaukani Rah yang merupakan Syarh Al-Muntaqa Syeikhul Islam Ibnu Thaimiyyah Rah, Kitab At-Taj Al-Jami&#8217;u Lil Ushuli Fi Ahadistir Rasulli Syeikh Manshur Ali Nashif.<br />
Yang mana kitab-kitab itu juga merupakan sumber-sumber rujukan dari para Ulama yang menulis kitab-kitab yang banyak dipelajari secara Ijtima&#8217;iyyah kalangan ahli usaha da&#8217;wah. Kecuali Kitab At-taj, karena kitab ini merupakan susunan Ulama beberapa tahun yang lalu, jadi cukup baru, tetapi sangat baik untuk dipelajari.</p>
<p>Kitab-kitab yang kami sebutkan di atas itu mempunyai pola sistematik dan fokus yang berbeda-beda, sesuai dengan apa yang menjadi perhatian para Ulama sebagai penulis terhadap Rasulullah SAW dan para shahabat RA. Kitab Al-Adzkar Imam Nawawi Rah, merupakan kitab yang berisi dengan hadist-hadist yang berkaitan dengan dzikir dan do&#8217;a. Kitab Targhib Wa Tarhib Imam Mundziri, merupakan kitab yang berisi dengan hadist-hadit yang berkaitan dengan keutamaan-keutamaan dan ancaman-ancaman.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh (orang sering menyebutnya sebagai jama&#8217;ah tabligh) yang dikenal sekarang ini mempunyai point-point yang selalu banyak dimudzakarahkan, dan hal ini dikenal dengan Six Point, atau Enam Sifat Para Shahabat RA, yaitu:</p>
<p>(1) Hakekat Kalimat Thoyyibah</p>
<p>(2) Hakekat Sholat Khusyu Wal Khudhu</p>
<p>(3) Hakekat Ilmu Ma&#8217;a Dzikir</p>
<p>(4) Hakekat Ikramul Muslimin</p>
<p>(5) Hakekat Niat Ikhlash</p>
<p>(6) Hakekat Da&#8217;wah dan Khuruj Fisabilillah</p>
<p>Setiap bayan, apakah di markaz ataupun ketika khuruj, setiap mudzakarah, dsb, selalu terarah pada sifat-sifat para Shahabat RA tersebut, six point.  Dan kami mendapatkan beberapa tulisan para Ulama berkaitan dengan Enam Sifat ini, bahkan terdapat Ulama yang menjelaskan perihal masalah Ummat ini secara umum penyakitnya terdapat pada Enam Sifat itu, dan tentunya solusi awalnya pada Enam Sifat itu.</p>
<p>Enam Point ini bukanlah keseluruhan Islam, tetapi merupakan bagian dari Al-Islam. Hanya saja enam point dapat menjadi awal untuk memudahkan terwujudnya keseluruhan Al-Islam itu sendiri. Ini merupakan kurikulm Awal yang dapat dipelajari semua lapisan sebagai awal untuk dapat banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA.</p>
<p>Akan sulit kaum muslimin saat ini mencapai ketinggian dan kesuksesan di dunia dan akherat, jika kaum muslimin berjauhan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Sehingga untuk dapat mencapai kesuksesan dan ketinggian di dunia dan akherat itu, maka kaum muslimin harus berusaha berhubungan dan mengaktualkan dari nasehat-nasehat Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Enam Sifat para Shahabat yang sering diungkap dan dibayankan itu, dapat disusun kitab-kitab hadist Rasulullah SAW  dengan bab-bab enam sifat di atas secara sistematik. Karena bab-bab tesebut hanya enam, sedangkan banyak kitab-kitab hadist yang telah mengandung enam bab itu.</p>
<p>Shalat itu merupakan sifat kedua, dan Shalat merupakan Ibadah yang sangat fundamental. Jika kaum muslimin sudah terdorong Ibadah Sholat dengan baik, dan juga dengan dorongan untuk mencari Ilmu, maka tentunya kaum muslimin ada keinginan untuk Ibadah lainnya, seperti Shaum/Puasa, Haji, Zakat dsb. Boleh dikatakan Enam sifat Para Shahabat RA ini merupakan awal untuk mendalami keseluruhan Al-Islam dengan lebih baik.</p>
<p>Di bawah ini merupakan susunan dari Kitab Al-hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah:</p>
<p>(1) Bab Kalimat Thayyibah</p>
<ul type="disc">
<li>Iman</li>
<li>Beriman Kepada Yang Ghaib</li>
<li>Beriman Kepada Hari Akhirat</li>
<li>Kejayaan Ada di Dalam      Mentaati Perintah-Perintah Allah swt</li>
</ul>
<p>(2) Bab Sholat</p>
<ul type="disc">
<li>Shalat fardhu</li>
<li>Shalat Berjam&#8217;ah</li>
<li>Shalat Sunnah dan Nafilah</li>
<li>Khusyu dalam Shalat</li>
<li>Keutamaan Wudhu</li>
<li>Keutamaan Masjid</li>
</ul>
<p>(3) Bab Ilmu dan Dzikir</p>
<ul type="disc">
<li>Ilmu</li>
<li>Ta&#8217;atsur (Terkesan) Oleh      Al-quran dan Hadist</li>
<li>Dzikir</li>
<li>Keutamaan Dzikir Kepada Allah      swt</li>
<li>Do&#8217;a dan Dzikir Ma&#8217;tsur</li>
</ul>
<p>(4) Bab Ikramul Muslimin</p>
<ul type="disc">
<li>Martabat Seorang Muslim</li>
<li>Akhlaq Yang Mulia</li>
<li>Hak-Hak Orang Islam</li>
<li>Mempererat Tali Silaturahmi</li>
<li>Ancaman Bagi Orang-Orang Yang      Mengganggu Kaum Muslimin</li>
<li>Mendamaikan Perselisihan Di      antara Orang Islam</li>
</ul>
<p>(5) Bab Ikhlash</p>
<ul type="disc">
<li>Ikhlash (membentulkan Niat)</li>
<li>Iman dan Ihtisab</li>
<li>Celaan Terhadap Riya</li>
</ul>
<p>(6) Bab Da&#8217;wah dan Tabligh</p>
<ul type="disc">
<li>Da&#8217;wah dan      Keutamaan-Keutamaannya</li>
<li>Keutamaan Keluar Pada Jalan      Allah swt</li>
<li>Adab-Adab Dan Amalan-Amalan      Ketika Keluar di Jalan Allah swt</li>
<li>Menjauhi Perbuatan Sia-Sia</li>
</ul>
<p>Jika kita memperhatikan beberapa kitab-kitab hadist lainnya seperti yang kami sebutkan di atas, kita akan mendapatkan bagian-bagian lainnya yang tidak masuk ke dalam bagian bab-bab utamanya, Enam Sifat tersebut. Atau mungkin juga kita akan mendapatkan dengan judul-judul lain yang dapat berada dalam Enam Sifat Utama tersebut.</p>
<p>Enam Sifat Para Shahabat RA merupakan awal yang baik bagi kalangan Ummat Islam untuk lebih berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Kami sendiri sangat tertarik dengan Enam Sifat, karena kami merasakan ini sebagai awal dalam proses belajar bagaimana kaum muslimin dapat berhubungan dengan nasehat-nasehat Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Konsistensi dan komitmen pengajaran yang terus-menerus terhadap Enam Sifat Para Shahabat RA dalam kerja usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, hal ini memberikan kemudahan bagi kaum muslimin dari berbagai lapisan dan latar belakang, bahkan dari berbagai bangsa dan suku yang berbeda-beda bahasa, berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA.</p>
<p>Para Ulama yang telah banyak berkorban dalam kerja-kerja da&#8217;wah dan juga mempunyai kepakaran terhadap Al-Quran dan As-Sunnah yang merupakan sumber Al-Islam itu sendiri, tentunya sangat memahami bahwa dengan memberikan pengajaran yang konsistensi dan komitmen terhadap bab-bab utama, maka akan memudahkan selanjutkan kaum muslimin banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA yang telah banyak ditulis oleh para Ulama sebelumnya. Enam Sifat Para Shahabat merupakan hal yang telah membuktikan di seluruh dunia dalam perjalanan da&#8217;wah ini.</p>
<p>Sehingga usaha da&#8217;wah dan tabligh ini telah mempunyai kurikulum yang dapat diadopsi di seluruh lapisan, latar belakang, beragam suku dan bangsa di seluruh dunia, dan hal itu terbukti dengan jelas dari kehadiran banyaknya beragam orang dalam ijtima&#8217;i-ijtima&#8217;i di beberapa negara.</p>
<p>Di bawah ini kitab-kitab yang akhirnya kami sering berhubungan setelah kami berhubungan dengan kitab-Kitab secara Ijtima&#8217;iyyah dibaca di kalangan ahli usaha da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>(1) Kitab-Kitab Fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah,</p>
<p>(2) Kitab Hayatush Shahabat RA, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(3) Kitab Al-hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah,</p>
<p>(4) Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah,</p>
<p>(5) Kitab Al-Adzakar, Imam Nawawi Rah,</p>
<p>(6) Kitab Ringkasan Nailul Authar, Imam Asy-Syaukani Rah,</p>
<p>(7) Kitab Targhib Wa Tarhib, Imam Mudziri Rah,</p>
<p>(8) Kitab At-Taj Al-Jami&#8217;u Lil Ushuli Fi Ahadistir Rasulli, Syeikh Manshur Ali Nashif (Seorang Ulama Mesir)</p>
<p>Kitab-kitab di atas telah banyak diterjemahkan di Indonesia, kecuali Kitab Imam Mundziri kami tidak mengetahuinya apakah sudah diterjamahkan atau belum. Dan kami mendapatkan relasi-relasi Bab-Bab yang saling terkait dalam bitab-kitab tersebut, artinya banyak juga ayat-ayat Al-quran dan juga hadist-hadist Rasulullah SAW terdapat dalam buku-buku lainnya.</p>
<p>Dan yang terpenting adalah Kisah-Kisah Para Shahabat, Enam Sifat Para Shahabat, Adab-Adab Islam, Fadhilah-Fadhilah Amal yang banyak diajarkan dan dilatihkan langsung dalam usaha da&#8217;wah, tidak hanya sebagai wacana-ke-wacana telah membuka kesempatan kaum muslimin untuk lebih berdekatan dengan lautan nasehat Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA yang telah banyak ditulis para Ulama.</p>
<p>Tentunya Enam Sifat ini serta bagian-bagian di dalamnya tidak hanya sebagai wacana ke wacana, tetapi perlu wujud dan aktual dalam kehidupan kaum muslimin. Sehingga para Ulama yang telah lama dalam usaha da&#8217;wah ini menekankan terhadap dua aktifitas utama yaitu kerja maqomi dan kerja Khuruj. Kedua kerja ini merupakan latihan praktis, bukan lagi sebagai wacana tetapi bagaimana menjadi sebuah yang lebih aktual dan wujud. Dan hal itu memerlukan kerja dengan pengorbanan yang berkelanjutan.</p>
<p>Insya Allah, kami lanjutkan dalam tulisan &#8220;Usaha Da&#8217;wah memberikan jalan yang mudah untuk menarik kaum muslimin dalam berbagai lapisan dan latar belakang untuk banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA &#8220;.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=326&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/06/04/kitab-al-hadistul-muntakhabah-six-point-maulana-yusuf-rah-dan-enam-sifat-para-shahabat-ra-sebuah-proses-pengajaran-awal-dan-konsisten-untuk-membuka-lebih-luas-terhadap-pengajaran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kitab-Kitab Yang Banyak Dibaca Kalangan Ahli Da&#8217;wah dan Tabligh Membawa Kaum Muslimin Banyak Berhubungan dengan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/06/03/kitab-kitab-yang-banyak-dibaca-kalangan-ahli-dawah-dan-tabligh-membawa-kaum-muslimin-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/06/03/kitab-kitab-yang-banyak-dibaca-kalangan-ahli-dawah-dan-tabligh-membawa-kaum-muslimin-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 14:56:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku Referensi]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[kitab hayatush shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[kitab-kitab fadhilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=323</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat tiga kitab yang disusun oleh para Ulama Da&#8217;wah yang banyak dibaca kalangan ahli usaha da&#8217;wah dan tabligh, yaitu :
(1) Kitab-kitab fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah. Terdapat kitab-kitab fadhilah amal yang disusun secara tematik oleh beliau, yaitu Kitab Fadhilah Sholat, Kitab Fadhilah Dzikir, Kitab Fadhilah Tabligh, Kitab Fadhilah Quran, Kitab Fadhilah Ramadhan, Kitab Fadhilah Shodaqah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terdapat tiga kitab yang disusun oleh para Ulama Da&#8217;wah yang banyak dibaca kalangan ahli usaha da&#8217;wah dan tabligh, yaitu :</p>
<p>(1) Kitab-kitab fadhilah Amal, Maulana Dzakaria Rah. Terdapat kitab-kitab fadhilah amal yang disusun secara tematik oleh beliau, yaitu Kitab Fadhilah Sholat, Kitab Fadhilah Dzikir, Kitab Fadhilah Tabligh, Kitab Fadhilah Quran, Kitab Fadhilah Ramadhan, Kitab Fadhilah Shodaqah, Kitab Fadhilah Haji, Kitab Fadhilah Dagang, Fadhilah Janggut, Hikayat Kisah-Kisah Para Shahabat RA.</p>
<p>Kitab Fadhilah Amal yang cukup populer merupakan himpunan dari beberapa kitab fadhilah menjadi satu bundle, yaitu Kitab Fadhilah Sholat, Kitab Fadhilah Quran, Kitab Fadhilah Dzikir, Kitab Fadhilah Tabligh, Kitab Fadhilah Ramadhan dan Hikayat Kisah-Kisah Para Shahabat RA.</p>
<p>(2) Kitab Hayatush Shahabah, Maulana Yusuf Rah. Kitab ini terdiri dari 3 jilid tebal.</p>
<p>(3) Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Malauna Yusuf Rah. Kitab ini merupakan himpunan hadist-hadist pilihan untuk Enam Sifat Para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-323"></span>Kitab-Kitab Fadhilah Amal merupakan himpunan fadhilah dengan terdapat penjelasan atau syarh dari Maulana Dzakaria Rah. Sedangkan Kitab Hayatush Shahabah dan Kitab  Al-Hadistul Muntakhabah, Malauna Yusuf Rah, merupakan himpunan hadist-hadist pilihan yang saling terkait.</p>
<p>Sekian lama kami membuka kitab-kitab tersebut serta juga berhubungan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, kami mendapatkan para Ulama yang telah lama terjun dan banyak korban dengan kerja-kerja da&#8217;wah, seperti Maulana Ilyas Rah, Maulana Yusuf Rah, Maulana Dzakaria Rah, Maulana Inamul Hasan Rah, Maulana Manzur Noomani Rah, Maulana Hasan Ali Nadwi Rah, dsb.</p>
<p>Beliau-beliau ini dalam catatan sejarah atau autobiographinya banyak berhubungan pendalaman dengan kitab-kitab Hadist Rasulullah SAW, dan bahkan banyak menulis kitab-kitab yang berhubungan dengan hadits Rasulullah SAW. Kitab-kitab yang kami sebutkan di atas itu merupakan salah satu buktinya.</p>
<p>Masih banyak kitab-kitab hadist dan juga syarhnya yang ditulis para Ulama-Ulama tersebut, hanya saja tidak menjadi Ijtima&#8217;iyyah dalam Kerja Da&#8217;wah. Bahkan terdapat kitab-kitab yang disusun para Ulama-Ulama itu, seperti syarh kitab Imam Bukhari Rah, Syarh Kitab Al-muwatha Imam Malik Rah, Syarh Kitab Hadist Imam Thawawi Rah, Syarh Kitab Imam Abu Dawud Rah, dsb. Hanya saja kitab-kitab ini tidak menjadi Ijtima&#8217;iyyah dalam kerja da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Tetapi yang menarik dan perlu menjadi perhatian bagi kaum muslimin adalah para Ulama-Ulama yang telah terjun dan korban dalam kerja-kerja da&#8217;wah ini mengarahkan kaum muslimin untuk lebih memperhatikan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Dan sekarang Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah, merupakan kitab ijtima&#8217;iyyah dalam kerja da&#8217;wah juga terutama di kalangan Arab.</p>
<p>Dengan pendalaman yang dalam terhadap Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA ini, Six Point (Enam Sifat) yang sering diulang-ulang tersebut menjadi awal untuk memberikan dorongan terhadap jiwa-jiwa kaum muslimin. Maulana Yusuf Rah telah menyusun Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, yang merupakan hadist-hadist pilihan terhadap Six Point (Enam Sifat).</p>
<p>Dengan hal ini mudah-mudahan kaum muslimin akan banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, yang mana sebenarnya hal ini juga menjadi perhatian dari para Ulama dari jaman ke jaman terhadap Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA.</p>
<p>Kitab-kitab yang kami sebutkan di atas Kitab Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah, Kitab-Kitab fadhilah Amal Maulana Dzakaria Rah, Kitab Hayatush Shahabah Maulana Yusuf Rah, Kitab Al-Hadistul Muntakhabah (six point) Maulana Yusuf Rah, membawa kaum muslimin untuk banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Ini merupakan awal yang baik untuk seluruh kaum muslimin dalam berbagai lapisan dan tingkatan, dan mudah-mudahan akan banyak lagi kaum muslimin terdorong mendalami bahasan-bahasan para Ulama yang berkaitan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ini. Hanya memang tidak semua kaum muslimin akan mempunyai kemampuan yang sama.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah telah memberikan jalan yang mudah untuk menarik seluruh kaum muslimin, dalam berbagai tingkatan dan latar belakang, untuk banyak berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, melalui amal maqomi, ushul-ushul da&#8217;wah, kitab, latihan khuruj, mudzakarah enam sifat, dsb.</p>
<p>Berhubungan dengan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ini tidak hanya dalam bentuk wacana-wacana saja, tetapi harus menjadi latihan-latihan praktis dalam kehidupan kaum muslimin dan hal ini akan lebih membumikan lagi dalam kehidupan kaum muslimin.</p>
<p>Insya Allah, kami lanjutkan dalam tulisan &#8220;Kitab Al-Hadistul Muntakhabah (six point) Maulana Yusuf Rah&#8221;.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=323&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/06/03/kitab-kitab-yang-banyak-dibaca-kalangan-ahli-dawah-dan-tabligh-membawa-kaum-muslimin-banyak-berhubungan-dengan-rasulullah-saw-dan-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pikir Hidayah, Kasih, Sayang, Sombong, dan Dengki</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/03/27/pikir-hidayah-kasih-sayang-sombong-dan-dengki/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/03/27/pikir-hidayah-kasih-sayang-sombong-dan-dengki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 00:11:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir Hidayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah swt,
Ada yang lupa dan luput dari Ummat Nabi Muhammad SAW sekarang ini, yaitu KASIH dan SAYANG. Dan dua hal ini yang akan berusaha dihancurkan oleh lawan-lawan kaum muslimin, dan sekarang sudah banyak terbukti. Akhirnya hal kecil saja, bisa saling membunuh; atau hal yang banyak dibahas Ulama, bisa saling menghina.
KASIH [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Ada yang lupa dan luput dari Ummat Nabi Muhammad SAW sekarang ini, yaitu KASIH dan SAYANG. Dan dua hal ini yang akan berusaha dihancurkan oleh lawan-lawan kaum muslimin, dan sekarang sudah banyak terbukti. Akhirnya hal kecil saja, bisa saling membunuh; atau hal yang banyak dibahas Ulama, bisa saling menghina.</p>
<p>KASIH dan SAYANG telah diangkat terhadap seorang manusia dari turunan Nabi Adam As, sehingga adiknya dibunuh dengan tangannya sendiri. Itulah kisah makhsyur, perihal QABIL dan HABIL. Dan kisah tertulis dengan baik dalam Al-quran.</p>
<p>Bagaimana KASIH dan SAYANG bisa hilang dalam ummat Nabi Muhamm SAW? Karena merasa SOMBONG dan DENGKI kepada kaum yang lain. Yang menjadi pembunuhan pertama terjadi di muka bumi, karena SOMBONG dan DENGKI terhadap yang lain.</p>
<p>Maka sekarang ini harus berusaha menghilang penyakit ini SOMBONG dan DENGKI, dan penyakit ini bisa kena pada siapa saja termasuk kalangan Ulama dan Ustadz sekalipun. Sehingga akhirnya bisa hilang KASIH dan SAYANG itu.</p>
<p>KASIH, SAYANG, SOMBONG dan DENGKI banyak sekali bahasannya dalam Al-quran dan As-Sunnah, kalimat-kalimat ringan untuk diucapkan, TETAPI berat untuk dijinjing kemana-mana dalam hidup ini.</p>
<p><span id="more-321"></span>Banyak di antara kita membahas perihal SOMBONG dan DENGKI melalui kitab-kitab tebal yang ditulis para Ulama tetapi seperti tidak ada hasilnya. Kenapa bisa begitu? SOMBONG biasanya muncul ketika berhadapan dengan orang yang berada di bawah pandangan kita, apakah itu karena hartanya, ilmunya, prestasinya, keberaniannya, dsb. Sedangkan DENGKI biasanya muncul ketika kita berhadapan dengan orang yang dapat menyamai atau melebihi pandangan kita, apakah itu karena hartanya, ilmunya, prestasinya, keberaniannya, dsb.</p>
<p>Untuk menghilang SOMBONG dan DENGKI dalam diri kita, maka itulah harus dengan KASIH dan SAYANG. dua kata inipun ringan diucapkan, tetapi sulit untuk diwujudkan dalam kehidupan kaum muslimin. Untuk mendapatkan KASIH dan SAYANG ini dalam diri kita, maka kita kaum muslimin harus berusaha mempunyai PIKIR HIDAYAH.</p>
<p>HIDAYAH merupakan keputusan Allah swt dan kehendakNYA. Maka kita harus mempunyai PIKIR HIDAYAH ini, sehingga apapun kita akan berusaha menjadi ASBAB HIDAYAH. dan hal ini akan menumbuhkan KASIH dan SAYANG dalam jiwa. Kata KASIH dan SAYANG merupakan dua kata yang sangat erat dengan kalimat BASMALAH yang berkaitan dengan Allah swt.</p>
<p>Banyak manusia dari dulu sampai sekarang tetapi Allah swt terus memberikan rejekiNYA, bagaimana kufurnya Firaun La&#8217;natullah. Tidak dimatikan langsung saja ketika mengaku sebagai Rab. Tetapi masih diberikan kesempatan beberapa kali, dan bahkan yang disuruhNYA adalah kekasihNYA sendiri Musa As dan Harun As. Dan ini tentunya merupakan pengorbanan yang besar dilakukan.</p>
<p>Jadi tidaklah mungkin KASIH dan SAYANG muncul dalam tubuh ummat Islam, tanpa adanya pengorbanan besar dengan jiwa dan harta sendiri. Tidaklah mungkin KASIH dan SAYANG ini muncul di tubuh Ummat, hanya dengan membahas-bahas kitab. Karena kata-kata ini sangat sederhana, KASIH dan SAYANG. Maka untuk mendapatkan itu, kaum muslimin harus berani berkorban dengan berlatih.</p>
<p>Pernah kami mendengar seorang Alim mencuci kamar mandi/wc sebelum menunaikan sholat malam di salah satu masjid, ada lagi kisah seorang pejabat tinggi di kepolisian dimarahi tukang ojek ketika mengajaknya ke masjid, seorang Alim besar berkhidmat kepada seorang tukang sereh, kisah seorang da&#8217;i mengajak makan anak-anak sekolahan, seorang Doktor menyediakan makan untuk orang-orang umum, dsb.</p>
<p>Semua hal itu untuk menumbuhkan KASIH dan SAYANG dalam tubuh Ummat Nabi Muhammad SAW. Dan hal itu dilakukan karena ada satu keinginan besar agar HIDAYAH Allah swt turun ke kaum muslimin lainnya dan ummat manusia secara umumnya, sehingga bersedia mereka berkorban apapun yang dilakukan dengan KASIH dan SAYANG. Itulah PIKIR HIDAYAH.</p>
<p>PIKIR HIDAYAH ini akan membentuk Ijtima&#8217;iyyah di tubuh kaum muslimin, karena pikir ini merupakan PUNCAK dari segala macam-macam Pikir-Pikir kaum muslimin yang ada. Dan Ijtima&#8217;iyyah itu di tubuh kaum muslimin hanya dapat dibangun dengan KASIH dan SAYANG, bukan dengan SOMBONG dan DENGKI.</p>
<p>Tanpa adanya PIKIR HIDAYAH maka akan sulit kaum muslimin MENGUNGGULI musuh-musuhnya di muka bumi, bahkan akan sulit MENGHINDARI dari trik-trik musuh-musuh kaum muslimin.</p>
<p>Semua khidmat pada Ummat Nabi Muhammad SAW perlu kita saling menghormati, dan satu sama lain itu akan memberikan peran bagi kaum muslimin. Dan tentunya perlu ada perakat untuk semua kaum muslimin di berbagai lapisan di manapun berada bahkan akan menarik ummat lain dekat dan masuk ke dalam pangkuan Al-Islam, dan PIKIR HIDAYAH itu yang perlu dibangun, dan dapat menumbuhkan KASIH dan SAYANG.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=321&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/03/27/pikir-hidayah-kasih-sayang-sombong-dan-dengki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Da&#8217;wah dan Aksi Demo</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/03/27/usaha-dawah-dan-aksi-demo/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/03/27/usaha-dawah-dan-aksi-demo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 00:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Aksi Demo]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/2010/03/27/analisa-dan-sintesa-terhadap-usaha-dawah-dan-aksi-demo/</guid>
		<description><![CDATA[Kepada kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Terdapat pandangan kami pribadi terhadap aksi demo dan usaha da&#8217;wah, dan juga kami tuliskan sebelumnya di  myquran (http://myquran.com/forum/showthread.php/6876-Menyikapi-pemerintah-yang-dzolim-dengan-demo/page12), setelah ada yang berusaha menghubungkan perihal demo dengan usaha da’wah.
Dibawah ini kami berikan pandangan kami pribadi (baca: bukan ijtima’iyyah) untuk membuka wacana analisa dan sintesa bersama.
Akan sulit diuraikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Terdapat pandangan kami pribadi terhadap aksi demo dan usaha da&#8217;wah, dan juga kami tuliskan sebelumnya di  myquran (<a href="http://myquran.com/forum/showthread.php/6876-Menyikapi-pemerintah-yang-dzolim-dengan-demo/page12">http://myquran.com/forum/showthread.php/6876-Menyikapi-pemerintah-yang-dzolim-dengan-demo/page12</a>), setelah ada yang berusaha menghubungkan perihal demo dengan usaha da’wah.</p>
<p>Dibawah ini kami berikan pandangan kami pribadi (baca: bukan ijtima’iyyah) untuk membuka wacana analisa dan sintesa bersama.</p>
<p>Akan sulit diuraikan perihal aksi demo dan usaha da&#8217;wah, karena untuk dapat menjawab hal itu maka sebenarnya kaum muslimin perlu mengetahui dengan baik perihal pikir, tertib, ushul, adab, Iman dan Amal Sholeh, Sifat para Shahabat RA, korban, dsb yang dibangun dalam usaha da&#8217;wah itu sendiri. Ketidakpahaman terhadap hal-hal itu, maka biasanya sebagian kaum muslimin itu menduga-duga terhadap usaha da&#8217;wah. Yang namanya menduga-duga bisa saja tepat atau tidak tepat.</p>
<p><span id="more-318"></span>Usaha da’wah selalu terdapat &#8220;tasykil&#8221; yang tujuannya mengajak langsung kaum muslimin untuk terjun dan merasakan langsung dengan usaha da&#8217;wah ini, apakah itu 3 hari, 40 hari, 4 bulan dsb.</p>
<p>Dan kadangkala sering menyampaikan kalimat, “kalau ingin memahami ini kerja, maka coba saja Khuruj dengan waktu yang ada. Insya Allah nanti akan mengerti ini”. Sama seperti orang diajari teori berenang, tetapi tidak pernah belajar berenang langsung. Sampai kapanpun orang yang diajari berenang dan belum berlatih berenang langsung, tidak akan merasakan apa yang disampaikannya itu.</p>
<p>Kami tidak pernah mendengar ataupun mudzakarah perihal demo dari kalangan Ulama usaha da&#8217;wah. Usaha da&#8217;wah tidak dapat DIBANDINGKAN APPLE-TO-APPLE dengan aksi demo itu, karena tentunya mempunyai sasaran dan bentukan yang berbeda. Kalaupun kalangan usaha da&#8217;wah secara ijtima&#8217;iyyah tidak melakukannya, tetapi belum tentu secara personal-personal mungkin saja ada yang mengikuti aksi demo itu.</p>
<p>Aksi demo ini mempunyai keunikan, kadangkala satu perkara ditanggapi dengan AKSI DEMO oleh kalangan-A, tentunya hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa kalangan-A. Tetapi perkara yang sama ditanggapi TIDAK ADA AKSI DEMO oleh kalangan B, tentunya hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa kalangan-B sendiri. Tetapi ada kalanya ditanggapi AKSI DEMO sama-sama oleh kalangan-A dan Kalangan-B, tentunya sesuai dengan analisa dan sintesanya masing-masing. Dan hal itu kita dapat perhatikan dengan beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Bahkan mungkin saja ada satu perkara yang begitu tinggi Aksi Demonya oleh masyarakat lainnya, tetapi kalangan tertentu tidak muncul sama sekali untuk melakukan AKSI DEMOnya. Tetapi ketika ada satu kaitan yang berada jauh dari tempat kita, dan begitu semangat melakukan AKSI DEMO. Itulah keunikan-keunikan yang terjadi dengan Aksi Demo, artinya di dalamnya ada kepentingan-kepentingan untuk menjaga kepentingan-kepentingan itu.</p>
<p>Perihal Palestina yang sekarang ini, seharusnya kita perlu banyak belajar dari Ummar Bin Khatab RA. Jika ada orang berkeinginan membuat perahu, tentunya kita harus belajar dari orang yang ahli membuat perahu. Tidaklah mungkin kita membuat perahu, tetapi kita belajar dari ahli bangunan. Di myquran sebelumnya, kami telah memberitahukan bahwa kejadian tahun 2009 akan terulang di waktu akan datang. Dan ternyata benar tahun 2010 sudah terulang lagi. Dan jika kalangan Israel ini keluar dahulu, di waktu akan datang akan datang lagi dengan pola yang sama. Begitulah perilaku Bangsa Israel itu. Dan memang sifat mereka itu sudah dikenal dengan baik dalam Al-quran.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah ini tidak memandang apakah seseorang aktif di partai atau tidak, sehingga bisa saja ada orang Golkar, orang PKS, orang PDI, orang bukan anggota partai (baca: kami) dsb. Bisa dibayangkan kalau usaha da&#8217;wah ini mendorong aksi demo dan kebetulan berbenturan dengan partai tertentu, maka yang ada menjadi masalah terhadap da&#8217;wah Islam itu sendiri. Dan menimbulkan polemik yang luas, ketika rombongan da&#8217;wah Islam ini datang ke tempat-tempat akan ditolak karena urusan dunia. Jelas ini akan menjadi kerugian bagi kaum muslimin juga.</p>
<p>Yang kita mau adalah bagaimana ISLAM dapat memberikan KESAN dan PESAN kepada seluruh masyarakat kita, sehingga di manapun dia berada akan selalu membawa KEBENARAN dan HIKMAH di lingkungannya. Sudah jelas ujungnya, kalau tidak mendapatkan hidayah Allah swt maka CELAKA, dan kalau mendapatkan hidayah Allah swt maka SUKSES.</p>
<p>PIKIR HIDAYAH merupakan satu hal yang sangat ditekankan, bagaimana Hidayah Allah swt tersebar ke seluruh alam. Sehingga tidak heran jika banyak rombongan disebarkan ke berbagai negara, dan dengan ijin Allah swt banyak kaum muslimin yang telah jauh dengan Al-Islam banyak di antaranya banyak yang kembali ke pangkuan Islam. Dan bahkan banyak orang di luar Islam masuk ke dalam Islam, bagaimana seorang mafia di Italia, dan masuk Islam kemudian belajar Islam serta da’wah. Pulang ke Italia begitu aktif mengajak kawan-kawannya masuk ke dalam Islam, dan cukup banyak yang masuk ke dalam Islam.</p>
<p>Ini salah satu kisah yang dikisahkan oleh seorang Ulama Saudi Arabia, dan juga dikutip di Al-softwah. <a href="http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkisah&amp;id=103">http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkisah&amp;id=103</a>, dan kami sendiri senang dengan kisah ini. Dan sekarang pertumbuhan di Islam di Afrika Selatan begitu besar, dan mereka yang banyak menyebarkan Islam di seluruh Afrika sekarang ini.  Inilah hasil-hasil dari PIKIR HIDAYAH, dan tentunya PIKIR HIDAYAH ini harus merata di tubuh kaum muslimin, sehingga akan tumbuh masyarakat Islami itu sendiri di berbagai lapisan dan berbagai belahan dunia.</p>
<p>Urusan-urusan dalam tubuh kaum muslimin sangat banyak dan luas macamnya, dan kemungkinan banyak perkara/urusan yang tidak pernah ada dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA sendiri, misalkan aksi demo, bentuk negara, politik kepartaian, bank, dsb.</p>
<p>Dan tidak mungkin semua amal-amal Islam itu wujud di tengah-tengah kaum muslimin, KECUALI dengan HIDAYAH Allah swt. Kemenangan kaum muslimin di badar, itu karena bantuan Allah swt. Kenapa di perang Hunain bisa kalah? Bukankah jumlahnya lebih besar dan lengkap, bukankah di sana ada Nabi yang mulia dan para Shahabat RA? Tetapi kenapa bisa kalah dalam perang Hunain di awalnya? Karena para Shahabat merasa BANGGA dengan jumlah. Nampaknya kecil, TETAPI di sisi Allah swt hal itu SANGAT BESAR. Kisah perang Hunain tercatat dengan baik.</p>
<p>Sehingga usaha da’wah tidak dapat begitu saja dilibatkan atau dibandingkan aksi demo yang mempunyai analisa dan sintesa yang beragam, meskipun dijalankan oleh kaum muslimin sekalipun. Jika ada kaum muslimin yang mempunyai analisa dan sintesa untuk melakukan Aksi demo, silahkan hal itu dilakukan dengan baik dan tertib, tidak mengganggu aktifitas masyarakat lainnya (baca: dan mungkin saja ada secara personal kalangan usaha da’wah yang mengikuti aksi demo, tetapi perkara infirodhiyyah).</p>
<p>Tetapi semua kaum muslimin harus mempunyai PIKIR HIDAYAH dan RAHMATAN LIL’ALAMIN agar Islam ini dapat wujud di seluruh alam, tentunya di tempat kita sendiri. Serta tidak lupa dengan AMAL-AMAL MASJID, karena Masjid itu yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah HIJRAH untuk memadukan kaum Muhajirin dan Anshor, sehingga Islam dapat terpancar ke berbagai lapisan dan negeri. Tanpa adanya AMAL-AMAL MASJID, maka jangan berharap kita kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan keunggulan. Tidaklah mungkin kemenangan dan pertumbuhan, kecuali meniru dari orang-orang yang pernah berhasil untuk mencapai itu.</p>
<p>Tidaklah dapat melaksanakan hal-hal itu kecuali mempunyai NIAT ISHLAH DIRI, dan berusaha mencapai dan memiliki SIFAT-SIFAT PARA SHAHABAT RA, dan untuk itulah kita perlu banyak korban dengan HARTA dan JIWA kita sendiri.</p>
<p>Mudah-mudahan dapat dicerna sebuah wacana analisa dan sintesa terhadap Usaha da’wah dan Aksi Demo.</p>
<p>Terimakasih,</p>
<p>Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=318&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/03/27/usaha-dawah-dan-aksi-demo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Guru-Guru Kami</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/03/16/guru-guru-kami/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/03/16/guru-guru-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 00:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Surat Menyurat Da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Pak Nurim Submitted on 2010/03/11 at 11:42am:
kalo boleh tahu siapa guru pak haitan? saya ingin berguru juga pada beliau
Assalamu ‘alaikum  wr. wb.
Mudah-mudahan kebaikan dan rahmat dilimpahkan kepada kedua orangtua kita, kepada guru-guru kita, dan juga kepada kawan-kawan lama serta seluruh kaum muslimin lainnya. Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, karena kami belum banyak menunaikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Pak Nurim Submitted on 2010/03/11 at 11:42am:</p>
<p>kalo boleh tahu siapa guru pak haitan? saya ingin berguru juga pada beliau</p></blockquote>
<p>Assalamu ‘alaikum  wr. wb.</p>
<p>Mudah-mudahan kebaikan dan rahmat dilimpahkan kepada kedua orangtua kita, kepada guru-guru kita, dan juga kepada kawan-kawan lama serta seluruh kaum muslimin lainnya. Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab, karena kami belum banyak menunaikan apa yang dipesankan guru-guru kami yang cukup banyak berhubungan ketika kami masih menjadi mahasiswa. Kami banyak berhubungan dengan kalangan ulama/ustadz di kota Bandung sebelum dan sesudah mengenal usaha da’wah.</p>
<p><span id="more-315"></span>Ustadz kami yang cukup kharismatik, apalagi banyak juga ulama/ustadz di kota Bandung juga yang mengetahui dengan baik. Beliau adalah KH Khair Affandi Rah, seorang pendiri pesanten Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, dan sekarang ini banyak muridnya yang mendirikan pesanren di beberapa kota di Indonesia. Beliau memberikan pelajaran perihal tauhid dan hati. Dan Nasehat yang kami ingat betul adalah kami dianjurkan mempelajari kitab Ibnu Rusyd Rah, Bidayatul Mujtahid, sebuah kitab yang membahas perbedaan pandangan di kalangan Ulama. Hal ini beliau menekankan untuk dapat memberikan wacana ke kalangan kaum muslimin, sehingga jangan sampai perihal furuiyyah menjadi perpecahan di kalangan Ummat Islam.</p>
<p>Ustadz tafsir Quran yang sangat tematik, beliau adalah KH Mukhtar Adam yang memimpin pesanren babussalam. Dan beliau banyak mengajarkan pola tafsir secara tematik-tematik, Quran bil Quran, dan juga bahasan dari Tafsir Ulama besar dulu. Beliau cukup aktif menulis. Dan kami tertarik dengan pola tematik-tematik Quran, karena akan lebih memudahkan proses belajar kita dalam memahami Al-quran.</p>
<p>Ustadz yang banyak bermudzakarah dalam perkara pergerakan Islam dan pemahaman Quran, beliau adalah Ustadz Muslim Zainuddin Rah. Beliau banyak memberikan mudzakarah perihal pergerakan Islam dan juga pendalaman Quran. Kami sering datang dan berkunjung ke beliau. Meskipun kami telah mengikuti usaha da’wah, ketika kami mahasiswa juga masih terus berhubungan. Sehingga membuka wacana pergerakan Islam yang cukup berkembang.</p>
<p>Yang terakhir beliau yang mengajarkan perihal Bahasa Arab dan tafsir, Ust. Djaja Dzakaria. Beliau ini yang mengajarkan bahasa arab, dan terus mendorong untuk terus belajar Al-Islam dengan baik. Dan beliau sering menekankan dengan baik bahwa akan sulit mendalami Al-Islam dari sumber-sumbernya, kecuali dengan bahasa Arab. Dan setelah sekian lama kami berhubungan dengan usaha da’wah, ternyata apa yang dinasehatkan beliau sangat benar. Itulah banyak hal yang kami dapatkan dalam kitab para Ulama perihal usaha da’wah ini.</p>
<p>Semua guru-guru kami selalu menasehati untuk terus mendalami Al-Islam dengan baik, karena sumber-sumber Al-Islam ini sebenarnya banyak tertulis dalam kitab-kitab dengan baik oleh para Ulama Dulu. Dan setelah kami berkenalan dengan usaha da’wah ini telah memberikan kerangka dalam banyak tematik-tematik pendalaman Al-Islam secara mudah untuk kami. Sehingga pesan dan nasehat guru kami telah banyak memberikan wawasan pendalaman terhadap usaha da’wah. Dua guru kami yang masih ada yaitu KH Mukhtar Adam dan KH Djaja Dzakaria.</p>
<p>Oleh karena itu, jika sdr. benar-benar berkeinginan mendalami Al-Islam dengan lebih baik dan secara dalam, maka terdapat dua pola yang cukup baik menurut pandnagan kami , yaitu :</p>
<p>a.	Pelajari Bahasa Arab dengan baik. Bahasa Arab menjadi alat yang sangat penting untuk mendalami Al-Islam dengan baik.</p>
<p>b.	Pelajari Al-Islam secara TEMATIK-TEMATIK, termasuk dengan Usaha Da’wah. Banyak Ulama telah memberikan contoh secara tematik, dan Jika kita pelajari dengan baik Usaha Da’wah ini memberikan Tematik-Tematik yang cukup baik. Ushul-Ushul Da’wah, Enam Prinsip (Baca: dikenal sebagai enam sifat shahabat Ra) dan Adab-Adab itu semuanya merupakan tematik-tematik yang sangat luas sebagai langkah awal.</p>
<p>Kita dapat bejalar ke banyak Ulama dengan baik di kota kita ataupun kota lainnya, jika kita mempunyai kemampuan bahasa Arab dengan baik. SEHINGGA KETIKA ada Ulama yang mengajarkan Tafsir, Hadist, Fiqh, dsb, TENTUNYA para Ulama ini mengajarkan dengan Tematik-Tematiknya secara Baik dan Juga biasanya Ulama ini juga menggunakan Kitab-Kitab Pilihannya yang diajarkan kepada kaum muslimin. Jadi kita tidak hanya sebagai PENDENGAR SAJA, tetapi kita lebih mendalami dengan baik karena kita mempunyai sarana bahasa arab itu. Dan bahkan mungkin kita akan senang bertemu dengan Ulama yang bersangkutan.</p>
<p>Guru-Guru kami selalu menekankan perihal bahasa Arab ini, sehingga di pesantren dulu teman-teman dan kami sering membuat pelatihan Bahasa Arab, dan terakhir sekitar tahun 2007, dan cukup banyak Mahasiswa yang belajar dan kebetulan yang mengajarnya adalah lulusan dari Pakistan, Maulana Ahsan, yang sebelumnya memang cukup lama di tempat kami.  Untuk kaum muslimin secara umum dalam Belajar Islam, yaitu :</p>
<p>1.	Kaum Muslimin mendengarkan pengajaran-pengajaran Al-Islam dari Para Ulama, dan tidak dicatat, tidak diulang, tidak didalami kembali pengajaran-pengajaran tersebut.</p>
<p>2.	Kaum Muslimin mendengarkan pengajaran-pengajaran Al-Islam dari Para Ulama, dan dicatat, diulang, didalami kembali pengajaran-pengajaran tersebut. Bahkan ada yang dihafal bagian-bagiannya, termasuk juga beberapa ayat dan hadist yang disampaikan itu.</p>
<p>3.	Kaum Muslimin mendengarkan pengajaran-pengajaran Al-Islam dari Para Ulama, disamping (2) juga dipelajari dari sumber-sumber kitab yang menjadi pelajaran-pelajaran Ulama dikarenakan mempunyai kemampuan Bahasa Arab.</p>
<p>4.	Kaum Muslimin melakukan proses bacaan, penjelasan kitab-kitab Islam di depan para Ulama; sehingga Ulama yang bersangkutan dapat menjelaskan isinya dan juga mengetahui kemampuan murid-muridnya dengan baik.</p>
<p>Perihal No (4) jelas harus banyak duduk dengan para Ulama. Kami pribadi sangat berkeinginan melakukan no (4), hanya jelas untuk saat ini kami tidak dapat melakukan dengan baik karena banyak keterbatasan. Kami selalu berharap akan banyak kaum muslimin yang melakukan No (4), itulah kami pernah membuat pesantren untuk kalangan mahasiswa. TETAPI kami selalu menekankan kepada teman-teman lain, terutama kalangan muda dari usaha da’wah yang banyak berhubungan dengan kamu untuk dapat meningkatkan kemampuan bahasa arab, sehingga akan mudah melakukan no (3).</p>
<p>Jika sdr. tidak dapat melakukan no (4), maka lebih baik masuk ke No (3), sehingga sdr. perlu sungguh-sungguh mendalami bahasa arab dan akhirnya dapat bertemu banyak Ulama untuk mendalami Al-Islam secara TEMATIK, dan sisanya tentunya sdr. dapat mempelajari sendiri dan juga dengan teman-teman.</p>
<p>Kalaupun tidak bisa karena banyak keterbatasan, kita tetap harus berusaha berhubungan dengan Ulama untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran Al-Islam dengan bak, dan kami secara pribadi sangat bersyukur berkenalan dengan usaha da’wah ini karena memberikan tematik-tematik (kurikulum&amp; Silabus) yang mudah dan juga terdapat dua aktifitas ta’lim yang sangat di dorong sebagai aktifitas awal yaitu ta’lim harian di rumah dan masjid.</p>
<p>Do’akan kami, mudah-mudahan kami dapat lagi menyiapkan pesantren kembali seperti yang telah kami buat di Bandung. Sedangkan kurikulum dan silabus, Alhamdulillah, telah cukup terus disiapkan melalui kitab-kitab Ulama yang dipilih. Pesantren ini sebagai “Madrasah Da’wah dan Islam” seperti yang tertulis di http://usahadawah.com. Dan Bahasa sebagai alat pendukung utamanya adalah Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, sehingga akan memudahkan mempelajari kitab-kitab Ulama.</p>
<p>Mudah-mudahan memberikan hal yang diminta oleh Pak Nurim.</p>
<p>Terimakasih,</p>
<p>Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=315&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/03/16/guru-guru-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana kita menyikapi Internet?</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/03/07/bagaimana-kita-menyikapi-internet/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/03/07/bagaimana-kita-menyikapi-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 02:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Author : nurim
E-mail : nisnurim@gmail.com
Comment:
Kepada sahabat-sahabatku semua. melalui media internet ini , alhamdulillahm, kita bisa berbagi ilmu, pengalaman, dll yang baik-baik. tapi dilubuk hati yang paling dalam ini muncul kekhawatiran yang amat sangat tentang pengaruh buruk internet. Karena melalui media internetlah, keburukan yang seburuk-buruknya tersebar ke seluruh dunia, sampai ke pelosok-pelosok (krn internet kan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Author : nurim</p>
<p>E-mail : nisnurim@gmail.com</p>
<p>Comment:</p>
<p>Kepada sahabat-sahabatku semua. melalui media internet ini , alhamdulillahm, kita bisa berbagi ilmu, pengalaman, dll yang baik-baik. tapi dilubuk hati yang paling dalam ini muncul kekhawatiran yang amat sangat tentang pengaruh buruk internet. Karena melalui media internetlah, keburukan yang seburuk-buruknya tersebar ke seluruh dunia, sampai ke pelosok-pelosok (krn internet kan bisa lewat hp juga). Nah apa pandangan sahabat semua sebagai aktifis dakwah mengenai media internet ini dipandang dari segi manfaat dan mudhorotnya? Dan apa pandangan para ulama tabligh berkaitan dengan fenomena ini? Ada yang bisa memberikan pencerahan?</p></blockquote>
<p><strong>1.	Pengantar</strong></p>
<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Segala puji bagi Allah swt yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan kepada kita semua, terutama dengan nikmat Iman dan Islam. Tiada yang lebih tinggi nikmat ini kecuali nikmat Iman dan Islam, serta kita dikenalkan terhadap usaha yang mulia yaitu usaha atas Iman dan Islam kita dan kaum muslimin. Sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, kekasih kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para Shahabat RA, kepada para guru-guru kita, serta kepada kaum muslimin yang selalu berusaha mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW, termasuk kepada diri kita dan keluarga kita semua. Amiin.</p>
<p>Kita dapat berbagi pandangan terhadap apa yang disampaikan Pak Nurim. Mudah-mudahan berbagi pandangan ini memberikan manfaat bagi kita kaum muslimin. Dan kami mencoba memberikan pandangan terlebih dahulu, hal ini dikarenakan apa yang disampaikan itu masuk ke tempat kami, http://usahadawah.com. Dan kami persilahkan kepada kawan-kawan untuk sama-sama berbagi pandangan dengan hal itu.</p>
<p><span id="more-310"></span>Untuk membuka wacana itu maka tentunya kita perlu mengetahui karakteristik dari usaha da’wah dan juga media internet itu sendiri. Secara singkat kami sebutkan terlebih dahulu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha da’wah ini, (1) usaha da’wah ini sangat menekankan pengorbanan (2) usaha da’wah ini menekankan untuk selalu berniat memperbaiki diri dengan Iman dan amal sholeh (3) usaha da’wah sangat menekankan bertemu langsung dengan ummat manusia (4) usaha da’wah sangat menekankan pada kerja ijtima’iyyah dan musyawarah (5) usaha da’wah sangat menekan pada kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA (6) Usaha da’wah ini sangat menekankan pada kerja/amal masjid maqomi dan Khuruj (7) Usaha da’wah ini menakankan untuk menjaga hati kaum muslimin melalui ikramul muslimin (8) usaha da’wah ini sangat menekankan untuk TERTIB dan HIKMAH dalam kehidupan kaum muslimin melalui adab dan akhlaq Islam.</p>
<p>Kami sebutkan sebagian saja, tetapi sebenarnya masih banyak karakter dari usaha da’wah ini dan semuanya mempunyai landasan Al-Quran dan As-Sunnah. Bagaimana dengan karakteristik Internet itu sendiri, (1) Internet merupakan sarana komunikasi global dan berbagi pengetahuan/informasi (2) Internet dapat memadukan antara suara, tulisan, video, gambar (3) Internet merupakan sarana terbarukan, setelah sarana komunikasi lainnya (4) Internet memberikan komunikasi yang TIDAK LANGSUNG BERTEMU (5) Internet membuka komunikas bebas, tanpa terdapat batas-batas sosial yang membatasinya. (6) Internet merekam semua tulisan yang disebarkan apakah itu baik ataupun buruk</p>
<p>Sebelum kami mengungkap perihal Usaha da’wah dan Internet. Sebelumnya kami mengajak kawan-kawan terlebih dahulu untuk memperhatikan beberapa hal utama berkaitan dengan usaha da’wah, yang mana kadangkala kita sendiri kurang memperhatikan dengan baik. Hal ini untuk lebih mengingatkan diri kami sendiri yang lemah ini. Sedangkan untuk perihal “Usaha da’wah dan Internet” kami tuliskan di bagian akhir.</p>
<p><strong>2.	Usaha Da’wah dan Kehidupan Para Shahabat RA</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Kita bersyukur dikenalkan dengan usaha da’wah ini, tidak terkecuali dengan kami sendiri yang lemah ini. Usaha da’wah ini telah memberikan satu kerangka yang sangat fundamental bagi kita sebagai muslimin yaitu Kepentingan Iman dan Amal Sholeh, Kejayaan dan Kesuksesan itu bergantung sejauh mana kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW. Serta kita diajari perihal satu masyarakat yang telah mendapatkan kesuksesan yaitu para Shahabat RA. Para Shahabat RA masih hidup di kala itu, tetapi para Shahabat RA telah mendapatkan keridhoan Allah swt.</p>
<p>Dan kita masih berusaha untuk mendapatkan ridho Allah swt, dan para Ulama/Masyaikh dalam usaha da’wah ini selalu MENEKANKAN kepada kita semua untuk mempunyai niat selalu memperbaiki diri dan mencapai seperti para Shahabat RA. Para Shahabat RA merupakan satu masyarakat yang mencapai kejayaan, dan kita tentunya berusaha mengikuti masyarakat yang sukses itu. Dan para Shahabat RA itu selalu berusaha mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah selalu menekankan kita untuk berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, begitupun juga dengan Maulana Yusuf Rah. Beliau, Maulana Yusuf Rah, menjelaskan bahwa untuk memahami tertib dan ushul usaha da’wah ini, maka tentunya harus selalu berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan beliau telah menulis kitab hayatush shahabat yang mudah dipelajari oleh kita kaum muslimin.</p>
<p>Sehingga tentunya bagi kita semua untuk selalu berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Kita dapat merasakan langsung dengan hal ini, sehingga (1) ta’lim akhir di waktu malam markaz ta’lim kisah-kisah Rasulullah SAW dan Shahabat RA, (2) ketika keluar sendiri di waktu malam kita sendiri mendengarkan ta’lim kisah-kisah Rasulullah SAW dan Shahabat RA, (3) ketika keluar/khuruj kita diulang-ulang perihal enam sifat shahabat saat bayan subuh, (4) ketika khuruj juga di waktu ta’lim pagi, untuk mengulang-ngulang sifat para Shahabat. Begitupun juga dengan ta’lim di masjid kita ataupun rumah kita.</p>
<p>Kita benar-benar diajak untuk memperhatikan kehidupan dari sebuah generasi yang telah mencapai kesuksesan di dunia dan di akherat, sehingga jika meminta do’a agar mendapat kebaikan di dunia dan akherat, SEBENARNYA kita berkeinginan berusaha seperti para Shahabat RA. Begitupun juga dengan bacaan al-fatihah minimal 17x/hari, di ayat terakhirnya sebenarnya kita meminta jalan dari orang-orang yang diberi nikmat, tentunya Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Mudah-mudahan kita selalu berusaha mempelajari kisah-kisah kehidupan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Maulana Dzakaria Rah menulis dengan hikayat para Shahabat RA, dan ini merupakan kitab yang mudah dipelajari oleh kaum muslimin. Maulana Yusuf Rah menulis kitab Hayatush Shahabat yang memperlihatkan sumber-sumber ilmiyyah terhadap kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat.</p>
<p>Dua kitab ini sangat mudah dipelajari oleh kaum muslimin, karena kitab-kitab disusun mengikuti kisah-kisah sesuai bab utamanya. Disamping masih banyak buku/kitab yang ditulis para Ulama lainnya dengan pendekatan dan sistematik penulisan yang berbeda. Dan kita dapat memilih buku-buku itu sebagai bahan tambahan untuk kita.</p>
<p><strong>3.	Usaha Da’wah dan Ulama-Ulama Tempatan Kita</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah telah memberikan kerangka kesuksesan dan kejayaan di dunia dan di akherat, yaitu Iman dan Amal Sholeh, serta ditunjukan pada satu masyarakat yang telah mencapai kesuksesan di dunia dan di akherat, yaitu Para Shahabat RA. Kejayaan dan kesuksesan para Shahabat RA yang dibina oleh Rasulullah SAW, dikarenakan para Shahabat RA ini mengikuti perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya.</p>
<p>Dan untuk mengikuti perintah Allah swt dan Sunnah Rasulullah SAW, kita tentunya memerlukan Ilmu itu sendiri. Dan usaha da’wah begitu sering menekankan perihal Ilmu ini, dan dipadukan dengan dzikir. Sehingga usaha da’wah selalu menjelaskan kepentingan dan keutamaan perihal “Ilmu Ma’adz Dzikir”. Dan kita selalu mengulang-ngulang perihal “Ilmu Ma’Adz Dzikir” ini. Para Ulama/masyaikh yang telah dalam usaha da’wah ini selalu menekankan perihal ‘Ilmu Ma’adz Dzikir”.</p>
<p>Dan beliau-beliau ini juga mengajarkan kepada kita untuk dapat menimba Ilmu kepada Ulama-Ulama tempatan kita. Bahkan kita sendiri sering mengulang-ngulang untuk dapat menimba Ilmu kepada Ulama-Ulama tempatan kita, apakah ketika mudzakarah enam sifat shahabat, apakah ketika bayan tangguh dsb. Hanya saja kadangkala kita lupa dan mempunyai jiwa malas untuk bertemu dan belajar kepada para Ulama-Ulama tempatan kita.</p>
<p>Ulama-ulama tempatan kita ini mempunyai tingkatan dan kemampuan berbeda-beda, sehingga kita dapat belajar dari banyak Ulama. Dengan Ulama yang satu, kita dapat belajar tajwid. Dengan Ulama yang kedua, kita dapat belajar perihal hadist. Dengan Ulama yang ketiga, kita dapat belajar tafsir quran. Dsb. Sehingga kita dapat berhubungan dengan Ulama-Ulama kita yang cukup banyak. DAN KITA dapat mengaturnya sendiri, mungkin tahap pertama kita belajar Tajwid sampai selesai, kemudian kita belajar Ilmu bahasa Arab sampai selesai, dsb. ATAU kita belajar pelajaran-pelajaran syarh kitab tertentu, seperti syarh kitab Riyadhush Sholihin, atau tematik tafsir Ibnu Katsir (Baca: Sesuai topik-topiknya).</p>
<p>Mungkin untuk MAYORITAS kaum muslimin lebih baik belajar dengan Syarh-Syarh Kitab Ulama Dulu atau Tematik-tematik dari Ulama Dulu; karena pengajaran seperti ini akan MEMUDAHKAN bagi kaum muslimin untuk mengetahui dengan baik perihal Islam dan langsung beramal Islam. Dan banyak Ulama dulu menyusun secara tema-tema secara sistematik. Disamping kita juga mudah untuk menghafal beberapa bagiannya. HANYA untuk kalangan yang benar-benar mau belajar dan mendalami secara serius, maka sebaiknya mengikuti madrasah-madrasah Islam dengan baik karena mempunyai kurikulum dan silabus yang, termasuk bahasa Arab.</p>
<p>Dan untuk hal ini, kita yang perlu aktif mencari pelajaran-pelajaran tersebut. Karena sampai saat ini sangat sedikit sekali pengajian-pengajian syarh-syarh kitab Ulama dulu dan juga tematik-tematiknya. Mudah-mudahan di waktu akan datang banyak Ulama/Ustadz yang membuka pengajian-pengajin dari Syarh-Syarh Kitab Ulama Dulu. Atau mungkin kawan-kawan sendiri di waktu akan datang menjadi alim/ustadz untuk mengajarkan hal ini di mohala-mohala (Baca: masjid) secara berurutan.</p>
<p>Kita bersyukur dikenalkan dengan kitab Fadhilah Amal Maulana Dzakaria Rah, Hayatush Shahabat Maulana Yusuf Rah, Al-muntakhabah Maulana Yusuf Rah dan Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah, yang dibaca dan dipelajari secara ijtimaiyyah. Artinya kita sudah mempunyai ta’lim rutin di rumah dan masjid kita. INI MERUPAKAN AWAL bagi kaum muslimin, termasuk kita. UNTUK MEMBIASAKAN ta’lim harian di dua tempat, yaitu rumah sendiri dan masjid di dekat rumah kita.</p>
<p>Dengan adanya pesan ataupun nasehat dari para masyaikh ataupun kawan-kawan senior kita untuk dapat belajar ke Ulama-Ulama tempatan kita. Karena tentunya beberapa hal ta’lim lainnya tidak ditetapkan sebagai Ijtima’iyyah. Karena kalau dijadikan sebagai aktifitas ijtima’iyyah, jelas hal itu akan banyak memberatkan kita sendiri apalagi memerlukan pengetahuan dan kepahaman yang lebih. Misalkan Tajwid Quran, Bahasa Arab, Syarh Riyadhush Sholihin, Fiqh Islam, Tafsir Quran dsb.</p>
<p>Sehingga kita harus berINISIATIF untuk dapat belajar kepada Ulama-Ulama kita untuk memahami Al-Islam dengan baik. Sehingga TUJUAN UTAMA dari IJTIMA’IYYAH itu sendiri untuk seluruh kaum muslimin DAPAT DIWUJUDKAN juga dengan baik. Dan kita akan banyak berhubungan dengan Ulama-Ulama kita sendiri. Inilah salah satu pesan yang kurang diperhatikan kita, termasuk kami yang lemah ini. Dan hal ini dapat menjadi SARANA untuk MENGHIDARI TA’ASHUB dan juga dapat MENGHORMATI ulama-ulama kita sendiri dengan baik.</p>
<p>PERPECAHAN kaum muslimin itu dikarenakan TA’ASHUB kepada dirinya sendiri, merasa bangga dengan dirinya dan meremehkan kepada kaum muslimin lainnya.  Sehingga para Masyaikh usaha da’wah mengajarkan kepada kita untuk banyak belajar kepada ulama-ulama tempatan kita. Sehingga usaha da’wah ini yang mana sebenarnya landasannya SILATURAHMI dan MASJID akan sangat mudah dipahami dengan baik oleh para Ulama sendiri.</p>
<p>Dan kita datang ke Ulama tempatan kita, bukan untuk kita mengajak beliau-beliau kepada usaha da’wah. Tetapi tujuannya untuk kita melanjutkan dan menjaga niat kita sendiri yaitu MEMPERBAIKI diri kita, sehingga amal-amal kita akan lebih dekat kepada apa yang menjadi tujuan kita sendiri yaitu mengikuti perintah Allah swt dan juga Rasulullah SAW dalam kehidupan kita 24 jam, 7 hari. Itulah yang selalu ditekankan, apakah ketika bayan markaz, apakah ketika keluar/khuruj, apakah ketika taqrir, dsb. Kita berlomba 100% kehidupan kita mengikuti perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah SAW.</p>
<p>Dan jika ada sebagian Ulama yang menyampaikan pandangannya yang kurang tepat terhadap usaha da’wah, maka kita tetap ikram kepada beliau-beliau ini. Dan mungkin ketika terlalu banyak yang bersifat doktrin dengan menggunakan dalil-dalil, maka sebaiknya kita tetap hormat kepada Ulama yang bersangkutan dan kita tetap menjalankan usaha da’wah ini dengan baik. Insya Allah di waktu akan datang akan memberikan kepahamannya.</p>
<p><strong>4.	Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah ini memberikan pengajaran lainnya untuk dapat membedakan antara Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah. Kita tentunya perlu berusaha menjaga amal-amal Ijtima’iyyah dalam kerja da’wah ini, tetapi juga usaha da’wah ini tidak mengajarkan untuk meninggalkan perkara infirodhiyyah. Sehingga jika kita banyak bermudzakarah tentunya kita akan mendapatkan gambaran yang baik perihal kedua hal tersebut.</p>
<p>Jika ada kawan-kawan mengajak kami perihal ekonomi, kami tentunya cukup senang untuk membahasnya. TETAPI ketika ada keinginan bermudzakarah ekonomi secara ijtima’iyyah ke dalam usaha da’wah ini, kami tentunya tidak menerima hal itu. Ekonomi ini sangat beragam bentuknya dan kebijakannya, dan tidak semua kaum muslimin memahami perihal ekonomi ini. TETAPI usaha da’wah ini merupakan usaha untuk semua kaum muslimin, bukan untuk kalangan tertentu saja. Sama halnya dengan perkara politik.</p>
<p>Maulana Yusuf Rah menjelaskan dalam bayan terakhir hidup beliau (baca: 3 hari sebelum meninggal dunia). Usaha da’wah ini merupakan kerja atas tanah, sedangkan usaha lainnya atas pohon. Artinya semua perkara infirodhiyyah tersebut akan subur dengan baik dalam tanah yang subur juga. Tetapi usaha atas tanah tidak dapat mengantikan usaha atas pohon, begitupun sebaliknya usaha atas pohon tidak dapat menggantikan usaha atas tanah.</p>
<p>Usaha da’wah ini merupakan usaha menyeluruh seluruh kaum muslimin, siapapun dapat melibatkan diri dalam usaha da’wah ini, apakah itu pejabat, apakah itu ulama, apakah itu pelajar, apakah itu berkulit hitam, apakah itu dokter, apakah itu petani, apakah itu pedagang dsb. Semua kaum muslimin dapat melibatkan diri dalam usaha da’wah ini. Sehingga seorang dokter tidak dapat mengajak-ngajak seluruh kaum muslimin untuk membahas kesehatan, tetapi ajaklah kalangan yang sangat terampil dan paham dalam kesehatan dan kedokteran.</p>
<p>Usaha da’wah ini karena mengajarkan perkara-perkara ijtima’iyyah, maka dengan secara tidak langsung dapat diterapkan dalam lingkungan infirodhiyyah. Kita perlu ta’at amir ketika khuruj, sebenarnya hal ini juga dapat diterapkan dalam aktifitas di kantor kita sendiri, tidak mungkin aktifitas kita berjalan dengan baik kecuali memang terdapat kepatuhan kepada pimpinan di tempat kerja kita ataupun mengajarkan anak buah kita untuk mematuhi apa yang ditetapkan dalam lingkungan kerja kita. Sehingga teamwork dapat terjaga dengan baik</p>
<p>Kita juga perlu menjaga ikramul muslimin (memuliakan kaum muslimin). Di manapun kita berada, apakah di tempat kerja, apakah di masjid kita, apakah di rumah kita, dsb. Kita tentunya harus juga memuliakan kaum muslimin lainnya. Kita tidak dibenarkan untuk membuka aib masyarakat kita, ataupun membuka aib tempat kerja kita, dsb. Sehingga hubungan kita dengan kaum muslimin lainnya menjadi cukup baik.</p>
<p>Kita juga tidak dibenarkan asal-asalan membahas perkara khilafiyyah, artinya perkara ini jika dibahas di sembarang tempat maka tentunya hasilnya juga kurang baik. Apalagi kalau kita sendiri tidak mengerti dengan baik perkara khilafiyyah yang dibahas itu. Tentunya jika serampangan, maka akan menghasilkan kontra produktif di kalangan ummat Islam.</p>
<p>Dan cukup banyak perkara-perkara yang diajarkan dalam tertib dan ushul usaha da’wah, hal tersebut agar kita kaum muslimin menjadi muslim YANG TERTIB dan HIKMAH dalam kehidupan kita sebagai muslimin. Menjadi muslim YANG TERTIB dan HIKMAH ini tidaklah mudah, sehingga perlu banyak berlatih lagi dan lagi. Dan kita bersyukur diajarinya tidak hanya dalam bentuk TEORI-TEORI, tetapi dalam bentuk AKTUALISASI NYATA. Adab makan, adab tidur, adab masjid, adab khususi, adab jaulah, dsb, semua hal tersebut agar kita menjadi TERTIB dan HIKMAH dalam hidup ini.</p>
<p>Sehingga kita harus benar-benar bisa membedakan antara Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah dengan baik. Jangan sampai aktifitas sendiri merusak aktifitas ijtima’iyyah, ataupun sebaliknya. Oleh karena itu tidak heran kalau akan khuruj lama diperlukan tafaqud dengan baik. Tentunya kerja Ijtima’iyyah jangan sampai merusak keperluan infirodhiyyah, karena  akhirnya dapat menimbulkan fitnah terhadap usaha da’wah itu sendiri. Dan hal ini harus dihindari.</p>
<p>Oleh karena itu kita semua memang dituntut akhirnya untuk LEBIH TERTIB dan HIKMAH, jangan sampai akhirnya kita kurang hikmah dalam menasehati kepada kawan-kawan kita sehingga melupakan tanggung jawab infirodhiyyah, dan akhirnya menimbulkan Fitnah terhadap usaha da’wah ini. Begitupun juga karena kurang tertib dan hikmah pula, akhirnya banyak juga kaum muslimin ataupun kawan-kawan lainnya menjadi kurang bersemangat dengan usaha da’wah Ijtima’iyyah.</p>
<p><strong>5.	Usaha da’wah dan Tulis-Menulis</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Pada saat awal-awal sekali Maulana Ilyas Rah dalam perjalanan usaha da’wah ini pernah melarang kalangan ahli da’wah menulis perihal usaha da’wah, TETAPI selanjutnya beliau membolehkan tulis-menulis perihal usaha da’wah. Dan siapapun boleh menulis perihal usaha da’wah, tetapi beliau selalu menekankan untuk selalu meminta nasehat dari kalangan senior-senior yang terjun dalam usaha da’wah ini. Hal ini agar jangan sampai kita melakukan pandangan tidak tepat terhadap usaha da’wah, sehingga merusaka dari Ijtima’iyyah itu sendiri.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah menjelaskan bahwa hal itu dilakukan seperti mana beliau mengikuti Rasulullah SAW melarang menulis hadist Rasulullah SAW karena dikuatirkan akan bercampur dengan Al-Quran, apalagi terdapat hadist qudsi. Dan ketika usaha da’wah ini sudah mulai nampak dan banyak kaum muslimin melibatkan diri, dan bahkan Ulama-ulama di jamannya telah banyak melibatkan diri. Maka beliau membolehkannya, karena jika diawal-awal dibolehkan dengan menulis maka dikuatirkan usaha da’wah ini akan menjadi tulisan-tulisan semata, sedangkan AKTUALISASInya tidak terjadi dan tidak membumi di lingkungan kaum muslimin.</p>
<p>Meskipun beliau membolehkan penulisan perihal usaha da’wah itu, tetapi tidak banyak yang menulis perihal usaha da’wah ini. Kitab Fadhilah Amal yang disusun Maulana Dzakaria Rah sendiri merupakan dorongan dari Maulana Ilyas Rah sendiri, disamping ada juga Ulama lainnya seperti Kitab Fadhilah Quran. Dan tidak banyak kitab bacaan yang menjadi bahan secara Ijtimaiyyah, boleh jadi kitab fadhilah amal Maulana Dzakaria Rah, kitab hayatush shahabat Maulana Yusuf Rah, Kitab Al-muntakhabah Maulana Yusuf, serta Kitab Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah.</p>
<p>Sedangkan tulisan lainnya meskipun berhubungan dengan usaha da’wah bukanlah bahan bacaan secara ijtima’iyyah. Terdapat satu kitab yang diSupervisi langsung oleh Maulana Ilyas Rah, yaitu Kitab Al-mafudhat Maulana Ilyas Rah yang disusun oleh Maulana Noomani Rah. Kitab ini saja tidak menjadi bacaan Ijtima’iyyah, meskipun menurut informasi yang kami peroleh para masyaikh banyak mempelajari kitab ini dengan baik.</p>
<p>Buku Malfudhat Maulana Ilyas Rah buku nasehat-nasehat beliau berkaitan dengan usaha da’wah. Sekarang ini sudah mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Boleh jadi akan banyak para Ulama dan penuntut ilmu yang mendalami nasehat-nasehat beliau dalam buku ini di waktu akan datang, karena tidak dapat dipungkiri usaha da’wah ini telah tersebar secara global dan mendunia sekali. Buku ini sangat memperlihatkan PIKIR dan RISAU BELIAU. Dan memang untuk membacanya perlu perlahan-lahan dan berulang-ulang.</p>
<p>Dan sekarang telah banyak yang menulis perihal usaha da’wah, termasuk kalangan ulama dari Timur Tengah. Dan bahkan telah ada ulama yang memberikan pandangan berimbang ketika terdapat pandangan yang kurang tepat terhadap usaha da’wah yang banyak dilontarkan kaum muslimin lainnya, begitupun di Indonesia sendiri telah banyak yang menulis perihal usaha da’wah ini. Buku-buku itu bukan merupakan bacaan ijtima’iyyah, sehingga dipersilahkan bagi ahli da’wah kaum muslimin untuk mempelajarinya di waktu luang.</p>
<p>Para Ulama/masyaikh da’wah ini di nizamuddin sendiri banyak juga menulis kitab-kitab Islam, dan mungkin sangat tebal dan ilmiyyah. Misalkan beberapa kitab yang disusun oleh Maulana Dzakaria Rah perihal syarh judul dari kitab Imam Bukhari, Maulana Yusuf Rah syarh kitab Imam Thahawi Rah, Maulana Dzakaria Rah juga syarh dengan Kitab Al-Muwatha Imam Malik Rah, termasuk juga dengan Maulana Inamul Hasan Rah, Mulana Noomani Rah, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Dan kami sendiri mendapatkan seri da’wah tabligh ini yang ditulis kalangan alim dan hafidz dari ahli da’wah dari Yordan dan juga dari Madinah. Yang khusus dari Yordan, beliau memberikan pengantar bahwa seri bukunya itu meminta nasehat dari para masyaikh da’wah di markaz da’wah dunia. Dan kalau kita pelajari dengan baik, apa yang sering dimudzakarahkan dalam enam sifat semuanya ada di sana. Memang dulu ada yang menulis dengan baik sekali perkara enam sifat itu, yaitu Maulana Ishaq Ilahi Rah.</p>
<p>Kami pribadi sendiri berkeinginan dengan topik-topik secara tematik yang sering diungkapkan dalam usaha da’wah ini, hanya saja kami belum menyempatkan secara serius perihal itu. Mudah-mudahan di waktu akan datang kami meluangkan waktu untuk menulis hal ini. Kami tidaklah menulis seperti para Ulama menulis, tetapi kami akan berusaha merangkai apa yang ditulis para ulama dulu terhadap tema-tema yang banyak muncul dalam usaha da’wah ini.</p>
<p>Sehingga yang HARUS DIPERHATIKAN oleh kita adalah tetap untuk menjaga Ijtima’iyyah secara TERTIB, USHUL dan HIKMAH. Hal ini jangan sampai tulisan-tulisan kita ini memberikan fitnah terhadap usaha da’wah yang mulia. Mudah-mudahan kita semua MEMPERHATIKAN TERTIB, USHUL dan HIKMAH dalam tulisan-tulisan kita dalam bentuk apapun, apakah dalam bentuk buku ataupun dalam bentuk tulisan di Internet. Sebenarnya TERTIB, USHUL dam HIKMAH itu berasal dari al-quran dan as-sunnah itu sendiri, dan pada akhirnya tulisan-tulisan itu jangan sampai bertentangan dengan al-quran dan as-sunnah itu sendiri.</p>
<p><strong>6.	Usaha da’wah dan Amal Maqomi</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Amal maqomi di masjid kita terdapat lima hal aktifitas utama yaitu (1) 2x ta’lim harian, di masjid 1x dan di rumah 1x (2) 2x jaulah mingguan, di masjid sendiri dan di masjid tetangga, (3) 2,5 jam harian, khususi kepada kaum muslimin dan amal masjid lainnya (4) musyawarah harian di masjid sendiri, (5) 3 hari khuruj fisabilillah di kota sendiri.</p>
<p>Sedangkan Amal masjid itu secara umum adalah Da’wah; Ta’lim Wa Ta’allum; Ibadah Dzikir; dan Khidmat. Jika dilihat dari lima amal maqomi, artinya hal tersebut baru merupakan BAGIAN DARI AMAL MASJID itu sendiri. Sehingga jangan dianggal bahwa amal maqomi itu sudah menyeluruh, tetapi baru merupakan bagian saja dari amal masjid. Dan tentunya perlu DIPIKIRKAN bagaimana atau sarana apa saja yang dapat menumbuhkan 5 Amal Maqomi itu.</p>
<p>Usaha da’wah ini menekankan perihal ta’lim harian dari fadhilah amal, artinya masih terbuka perihal ta’lim lainnya. Kenapa usaha da’wah ini tidak membuat aktifitas-aktifitas lainnya? Karena perkara itu harus dibangun di masyarakat yang bersangkutan, dan juga memerlukan kepahaman dan pengetahuan ilmu itu sendiri dengan baik. Tidak mungkin semua orang dapat mengajar kitab tafsir ataupun fiqh Islam. Oleh karena itu, jika diperlukan kita dapat mudzakarah ataupun musyawarah dengan kaum muslimin tempatan untuk melaksanakan aktifitas ta’lim lainnya.</p>
<p>SEHINGGA mungkin saja di waktu akan datang setiap masjid mempunyai madrasah sendiri yang dapat mengajarkan perihal ilmu lainnya secara teratur dan mempunyai kurikulum dan silabus yang baik. TETAPI ta’lim fadhilah amal dan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tetap perlu dijalankan dengan baik pula, sehingga kaum muslimin akan mempunyai semangat terhadap amal-amal Islam itu sendiri.</p>
<p>Hafalan Ayat-Ayat Quran (Baca; Surat ataupun piliha), Hafalan hadist-hadist pilihan, Hafalan Do’a, atau seperti yang kami jelaskan sebelumnya dalam bahasan “Usaha da’wah dan Ulama-Ulama Tempatan”. Kita juga dapat membuka ta’lim syarh Riyadhush Sholihin, ataupun Tafsir dsb. Sehingga hal –hal ini akan menjadi PENDORONG terhadap amal-amal maqomi itu sendiri. BIASANYA ILMU akan menjadi salah satu PENDORONG yang cukup kuat untuk memberikan kerangkan aktifitas kerja yang kita jalankan.</p>
<p>Disamping memang juga perlu terbiasa dengan Dzikir, baca Quran, Sholat malam bersama di masjid sendiri, ataupun bahkan buka puasa bersama, dsb, hal-hal seperti ini menjadi PENDORONG juga untuk dapat menjalankan kerja-kerja amal maqomi kita.</p>
<p>(1) 2x ta’lim harian, di masjid 1x dan di rumah 1x (2) 2x jaulah mingguan, di masjid sendiri dan di masjid tetangga, (3) 2,5 jam harian, khususi kepada kaum muslimin dan amal masjid lainnya (4) musyawarah harian di masjid sendiri, (5) 3 hari khuruj fisabilillah di kota sendiri. Lima kerja ini yang perlu kita TUNTASKAN SECARA SEMPURNA. Dan jangan lupa dengan hal-hal lainnya yang dapat mendukung aktifitas kita, apakah ketika di maqomi ataupun Khuruj.</p>
<p>Jika banyak anak-anak muda ataupun siapapun yang banyak hafalan quran, hadits dan do’a dan bahkan ucapana Ulama dan mereka-mereka ini keluar/khuruj, maka tentunya akan dapat memberikan kesan yang baik terhadap kaum muslimin lainnya, ketika bayan magrib, bayan shubuh, taqrir, dsb. Kami mempunyai niat untuk menyusun hafalan itu yang mana memang hal itu untuk kami sendiri dan keluarga kami juga. Mudah-mudahan dapat disebarkan dengan baik nantinya. SEBENARNYA SUDAH TERSEDIA melalui kitab-kitab Ulama dulu, hanya saja mungkin kita merasakan terlalu berat padahal masih bisa dipilih-pilih oleh kita.</p>
<p>5 Amal maqomi kita semua berusaha menyempurnakannya dengan baik, TETAPI kita perlu juga menyiapkan diri kita untuk dapat memberikan KESAN YANG BAIK dengan ILMU, IBADAH, AKHLAQ, MUAMALAT. Sehingga tidak lagi muncul kalimat-kalimat yang kurang baik terhadap usaha da’wah ini.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah pernah menjelaskan dalam kitab Malfudhotnya, bahwa jama’ah rombongan khuruj yang baik itu terdapat dua orang yang perlu membawa rombongan dengan baik, yaitu Amir Rombongan yang dapat mengelola jama’ah dengan baik, dan Ulama yang dapat memberikan bimbingan ketika sedang keluar. Mudah-mudahan di waktu akan datang SETIAP ROMBONGAN keluar akan ada ulamanya, dan hal itu terjadi melalui MASJID SENDIRI.</p>
<p>Sehingga memang peran MAQOMI itu sangat penting untuk kerja-kerja da’wah ini.</p>
<p><strong>7.	Usaha da’wah dan Internet</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Internet ini telah memberikan manfaat banyak bagi kaum muslimin dan ummat manusia, TETAPI juga Internet menjadi sarana global yang LUAR BIASA terjadi penyebaran maksyiat kepada Allah swt dan Rasulullah SAW. Facebook misalnya, beberapa waktu lalu begitu gencar perihal hal-hal yang merugikan banyak manusia. Apapun bentuk sarananya SEBENARNYA bergantung dari orang yang memanfaatkannya.</p>
<p>Telepon juga bisa menjadi sarana yang tidak benar, kalau orang yang mempunyai niat yang tidak benar. Dan banyak lagi sarana-sarana bermanfaat untuk kehidupan manusia, TETAPI akhirnya menjadi tidak benar penggunaannya. Misalkan kasus ATM yang terjadi beberapa waktu lalu, sehingga banyak orang merasakan kehilangan uangnya dari bank. Kita tidak dapat mengatakan bahwa ATM itu tidak bermanfaat, karena ada pencurian melalui ATM. Sama hal dengan Internet juga.</p>
<p>Usaha Da’wah ini sudah jelas tujuannya yaitu MENGEMBALIKAN kesadaran terhadap kesuksesan dan kejayaan di dunia dan akherat dengan IMAN dan AMAL SHOLEH. Sehingga aktifitasnya itu melalui proses langsung dan aktualisasi langsung, karena orang yang menjalankan usaha da’wah dan juga melibatkan kaum muslimin lainnya dalam usaha da’wah ini untuk lebih memahami tujuan utama itu, KEJAYAAN itu bergantung sejauh mana kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Inilah yang selalu ditekankan berulang-ulang, bahkan kita juga diminta untuk menjaga niat kita yaitu memperbaiki diri. Oleh karena itu, usaha da’wah ini dilakukan secara langsung, memerlukan pengorbanan, ijtima’iyyah, dsb. Dengan harapan, Mudah-mudahan Allah swt memberikan rahmat dan kemudahan kepada kita untuk menjadi Muslim yang baik dan sholeh, dan juga kepada kaum muslimin lainnya serta ummat manusia lainnya. Alhamdulillah, kita sendiri melihat hal itu dan mendengar perkembangannya.</p>
<p>Internet merupakan sarana, bisa dipergunakan untuk kebaikan ataupun maksyiat. Artinya bergantung kepada ORANGNYA yang menggunakan dan memanfaatkan Internet itu. Sekarang telah banyak  Ulama ataupun penuntut Ilmu Kaum Muslimin menyebarkan pelajaran-pelajaran Islam melalui Internet. Kita bersyukur bahwa Ulama/ustadz dan juga penunut Ilmu itu merupakan orang-orang baik yang memanfaatkan sarana Internet untuk kebaikan.</p>
<p>BERAPA BANYAK Ulama/Ustadz/Penuntut Ilmu DIBANDINGKAN dengan Ummat Manusia dalam menggunakan Internet? Coba bandingkan! SANGAT KECIL SEKALI rationya. Oleh karena itu, usaha da’wah TIDAK AKAN MENGGUNAKAN sarana internet untuk sarana ijtima’iyyah, karena hal itu hanya berlaku untuk kalangan tertentu saja dalam menyebarkan Islam kepada kaum muslimin lainnya. Kalau ada yang menggunakan internet untuk perkara usaha da’wah, hal itu bukan merupakan aktifitas ijtimaiyyah. Dan tentunya ketika berbagi perihal usaha da’wah di Internet, maka tentunya perlu diperhatikan TERTIB, USHUL, dan HIKMAH itu yang banyak diajarkan para masyaikh/Ulama/kalangan sepuh dalam usaha da’wah ini. Sehingga isinya tidak bertentangan dengan kaidah ijtima’iyyah itu sendiri.</p>
<p>YANG Dikuatirkan itu adalah banyaknya tulisan yang akhirnya berbeda dengan Tertib, Ushul dan Hikmah Ijtima’iyyah itu sendiri. Internet ini sangat berbeda dengan menulis buku, karena kalau menulis buku biasanya orang sudah dikenal terhadap kemampuannya dan pengetahuannya, sedangkan Internet BEBAS dan tidak membeda-bedakan hal itu, apalagi setelah ada facebook, blogging dsb. Inilah yang kami rasa kita harus berhati-hati dan tentunya diri kita masing-masing perlu terus mendalami usaha da’wah dan juga Al-Islam dengan baik.</p>
<p>Ada dua hal lainnya yang memang KAMI SENDIRI KUATIR dengan memanfaatkan internet yang berkaitan dengan usaha da’wah.</p>
<p>Pertama, dapat meningkatkan PERDEBATAN-PERDEBATAN di kalangan kaum muslimin. Karena tentunya banyak juga orang yang kurang senang dengan usaha da’wah ini menyebarkannya melalui Internet, Email dsb. Dan akhirnya menimbulkan kontra-produtif di antara kaum muslimin. DAN KITA sendiri akhirnya terfokus pada masalah-masalah itu yang banyak dilontarkan orang yang belum paham. Sehingga kita tersita waktu untuk hal-hal yang kontra-prodktif.</p>
<p>Kedua, dapat meningkatkan “DAYA CIUM” dari musuh-musuh Islam terhadap usaha da’wah Islam ini. Siapa orang yang senang dengan keberhasilan-keberhasilan musuhnya? Tidak ada yang senang dengan keberhasilan-keberhasilan dari musuhnya, bahkan orang-orang munafiq di dalam tubuh kaum musliminpun tidak akan senang dengan keberhasilan kaum muslimin sendiri. Sehingga menlontarkan kalimat-kalimat yang memancing.</p>
<p>Beberapa situs yang berkaitan dengan usaha da’wah ini telah banyak, bahkan dikelola secara baik oleh kalangan terpelajar. http://binatiih.com. Merupakan situs bahasa Arab yang kami sering berkunjung ke sana dan banyak pandangan-pandangan Ulama situs itu. Bahkan kami mendapatkan penjelasan seorang ahli tafsir di timur tengah, ketika menjelaskan satu ayat yang berkaitan dengan amal maqomi, rumah dan masjid kita. Disamping ada informasi buku-buku bahasa arab perihal usaha da’wah.</p>
<p><strong>8.	Kesimpulan</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah ini akan terus  berjalan, kita bukan mencari MAKHSYUR tetapi mencari MAQBUL. Sekarang ini usaha da’wah yang senyap awalnya ini SUDAH TERBUKA luas di seluruh dunia secara global, bahkan banyak berita internasional berkaitan dengan usaha da’wah ini disebarkan oleh pencari berita dari berbagai media cetak dan elektronik.</p>
<p>Pertemuan Ijtima’ dunia yang melibatkan jutaan kaum muslimin TENTUNYA mengundang banyak pihak, dan berita ini tersebar dengan luas dalam media cetak dan elektronik. PEMBANGUNAN masjid termegah dan terbesar di Inggris, jelas mengundang perhatian seluruh dunia. Karena pembangunan ini selesainya akan bersamaan dengan OLIMPIADE 2012 di Inggris.</p>
<p>Meskipun sarana Internet merupakan kegiatan infirodhiyyah, maka tetap kita menggunakannya secara baik dan ketika berhubungan dengan usaha da’wah. Maka perhatikan dengan baik TERTIB, USHUL, dan HIKMAH usaha da’wah. Agar kita tidak menjadi sebab muncul fitnah dalam tubuh kaum muslimin, tetapi memberikan hal-hal yang baik.</p>
<p>Sama halnya dengan aktifitas infirodhiyyah lainnya, seperti bekerja, sekolah, mengajar, berdagang dsb, kita harus melakukannya secara baik pula. Agar hal itu tidak menjadi fitnah terhadap usaha da&#8217;wah ini. Dari sekian banyak kejadian yang kami hadapi dan juga dapatkan secara informasi langsung dan tidak langsung, maka aktifitas infirodhiyyah ini sangat banyak memberikan kesan kepada usaha da&#8217;wah ini. Begitupun sebaliknya, sehingga kita memang dituntut untuk TERTIB dan HIKMAH dalam kedua hal itu.</p>
<p>Dan juga TERUSLAH BANYAK BELAJAR AL-ISLAM, sehingga kita dapat menjalankan kehidupan ini dengan landasan Al-Islam.</p>
<p>Terimakasih atas perhatiannya, dan jangan sungkan-sungkan untuk kontak kami jika ada yang perlu disampaikan.</p>
<p>Wasasalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Mohamad Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=310&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/03/07/bagaimana-kita-menyikapi-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pandangan aneh dan berlebihan terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh karena beberapa hadist/keterangan</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/02/19/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/02/19/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 00:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Kepada kaum muslimin yang berbahagia,
Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Para ulama terhadap satu perkara belum tentu mempunyai pandangan yang sama, dan hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa (baca: ijtihad) yang dibangunnya oleh Ulama yang bersangkutan. Sama halnya dengan TINGKATAN hadist Rasulullah SAW belum tentu sama seluruh ulama terhadap tingkatan tersebut, disamping terdapat yang disepakati para Ulama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada kaum muslimin yang berbahagia,</p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Para ulama terhadap satu perkara belum tentu mempunyai pandangan yang sama, dan hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa (baca: ijtihad) yang dibangunnya oleh Ulama yang bersangkutan. Sama halnya dengan TINGKATAN hadist Rasulullah SAW belum tentu sama seluruh ulama terhadap tingkatan tersebut, disamping terdapat yang disepakati para Ulama sendiri.</p>
<p>Sebagian kaum muslimin (baca: salafi) selalu menyampaikan pandangan bahwa kitab fadhilah amal, Maulana Dzakaria Rah, mengajarkan hadits-hadist dhoif, maudhu, mungkar. Sehingga akhirnya dibuat satu kesimpulan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh (baca: orang menyebutnya jama&#8217;ah tabligh) mengajarkan kesesatan. Satu pandangan dan kesimpulan yang terlalu gegabah dan tergesa-gesa.</p>
<p><span id="more-305"></span>Di bawah ini selalu dikomentari kalangan Sebagian kaum muslimin (baca: salafi).</p>
<blockquote><p>Disebutkan dalam kitab Fadha`il Al-A’mal, bab Fadhilah Adz-Dzikr2 hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab z berkata: Rasulullah n bersabda:</p>
<p>Ketika Adam telah berbuat dosa, ia pun mengangkat kepalanya ke atas langit kemudian berdoa: “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad, ampunilah dosaku.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?” Maka Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu, dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. Maka akupun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu dari orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu, kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”</p>
<p>Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa menerjemahkan takhrij hadits yang disebutkan Al-Kandahlawi. Dia berkata setelah itu: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab Ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Durr, dan dalam Majma’ Az-Zawa`id (disebutkan): Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, dan dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yang lainnya berupa hadits yang masyhur: “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini”, Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”</p></blockquote>
<p>Memang cukup disayangkan terjemahan fadhilah amal itu TIDAK MENTERJEMAHKAN bagian penjelasan-penjelasan yang berkaitan periwayatan hadist Rasulullah SAW, MESKIPUN dalam kitab itu sangat jelas dan tertulis dengan baik. Mudah-mudahan di waktu akan datang akan diterjemahkan dengan baik, sehingga kaum muslimin tidak serampangan menilai terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Hadits di atas tersebut terdapat dalam pasal 3 kitab fadhilah dzikir no hadist 28, dan merupakan bagian dari 40 hadist yang digunakan oleh Maulana Dzakaria Rah untuk menjelaskan perihal kepentingan dan keutamaan kalimat Thoyyibah. Kita pertama kali harus MEMPELAJARI DENGAN BAIK seluruh 40 hadist itu apa yang mau disampaikan oleh penulisnya dengan baik.</p>
<p>Disamping itu juga kita perlu memperhatikan penjelasan-penjelasan (baca: syarah hadist) dari 40 hadits yang bersangkutan dengan baik, serta perhatikan juga bagaimana pandangan ulama terhadap tingkatan hadist tersebut dengan baik. Dengan 3 hal perhatian kita tersebut, diharapkan kita tidak membuat kesimpulan ataupun penilaian yang serampangan terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh, apalagi sampai menyebutkan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh mengajarkan pada kesesatan.</p>
<p>3 hal yang harus diperhatikan dengan baik yaitu :</p>
<p>1. Pelajari seluruh 40 hadist Rasulullah SAW berkaitan dengan keutamaan kalimat Thoyyibah</p>
<p>2. Pelajari seluruh penjelasan-penjelasan (baca: syarh hadist) terhadap 40 hadist Rasulullah SAW berkaitan dengan kalimat Thoyyibah</p>
<p>3. Pelajari seluruh periwayatan dari 40 hadist tersebut yang dijelaskan dalam kitab itu</p>
<p>Hadits yang diatas itu memang dikeluarkan seperti yang dijelaskan di atas, TETAPI terdapat penjelasan ulama lainnya yang menjelaskan bahwa hal itu tidak maudhu oleh Imam Suyuthi Rah dan secara makna shohih oleh Al-Qari Rah dalam penjelasan hadist itu sendiri tertulis dengan baik, sedangkan ulama-ulama yang disebutkan awal-awalnya tempat dikeluarkannya hadist ini. Penulis, Maulana Dzakaria Rah, menjelaskan perihal hadist itu dalam kitab itu bahwa hadist yang serupa ini cukup banyak riwayatnya, sehingga tentunya beliau mengambil satu kesimpulan sesuai dengan keahlian yang beliau miliki.</p>
<p>Dalam 40 hadist yang dicantumkan itu banyak yang shohih juga. Dan perihal hadist dhoif ini banyak Ulama yang berbeda pandangan dalam menyikapinya. Seperti Imam Nawawi Rah menjelaskan perihal hadist dhoif dapat diamalkan dalam urusan keutamaan amal. Dan Maulana Dzakaria Rah mengambil pandangan ini secara baik, dan masih banyak lagi Ulama lainnya yang membolehkan perihal hadist dhoif dalam perkara keutamaan amal.</p>
<p>Sehingga kesimpulan yang mengatakan bahwa fadhilah amal mengajarkan pada kesesatan, maka jelas hal ini terlalu serampangan dan tergesa-gesa. Karena akhirnya mereka sendiri harus mengambil kesimpulan bahwa para Imam lainnya juga mengajarkan kesesatan. Imam Syutuhi Rah sendiri tidak mengatakan sebagai hadist maudhu dalam hal di atas, jika hanya diambil kesimpulan sederhana bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh mengajarkan kesesatan, maka Imam Suyuthi Rah juga mengajarkan kesesatan. Begitupun juga dengan Imam-Imam lainnya yang diambil pandangannya.</p>
<p>Sehingga kita tidak boleh serampangan menilai terhadap kitab fadhilah amal, karena kitab ini juga mempunyai sumber-sumber kitab yang disusun para Ulama sebelumnya. Oleh karena itu perhatikan 3 hal di atas itu dengan baik.</p>
<p>Jika ada di kalangan kaum muslimin tidak menggunakan hadist no. 28 itu, tidak ada masalah karena masih ada hadist lainnya yang menjelaskan dengan baik. TETAPI yang perlu kita BERHATI-HATI adalah menilai kaum muslimin lainnya dengan mengatakan &#8220;mengajarkan kesesatan dan kemungkaran&#8221; dikarenakan berbeda pandangan dalam satu hal. Karena hal ini merupakan ketergesa-gesaan dalam menilai Ummat Islam.</p>
<p>Dan seharusnya kaum muslimin bersyukur dengan adanya usaha da&#8217;wah dan tabligh, dan berusaha membantu rombongan-rombongan da&#8217;wahnya dengan baik; karena asbab dari da&#8217;wah-da&#8217;wah yang dilakukannya telah banyak kaum muslimin yang tadinya jauh dengan amal-amal Islam dan sekarang mereka ini telah kembali ke pangkuan Islam dengan penuh semangat Iman dan Amal sholeh, bahkan tidak hanya di daerah mayoritas Islam seperti Indonesia, Malaysia, tetapi bahkan di negara-negara Eropa, Amerika, banyak kaum muslimin yang kembali ke pangkuan Islam termasuk turuan arab sekalipun.</p>
<p>Dan bahkan banyak kaum-kaum lainnya yang tadinya bukan muslim, mereka menjadi senang memilih Al-Islam dan menjadi muslim. Dan mereka juga aktif melibatkan diri dalam kerja-kerja da&#8217;wah. Oleh karena itu, sebaiknya kalangan salafi tidak tergesa-gesa dan serampangan menilai kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh, karena hal itu sama saja dengan berusaha memadamkan semangat da&#8217;wah Ilallah.</p>
<p>Meskipun banyak yang tadinya jauh dengan Al-Islam dan bahkan banyak maksyiat kepada Allah swt, dan Alhamdulillah setelah berkenalan usaha da&#8217;wah dan tabligh akhirnya mereka bisa kembali ke pangkuan Al-Islam. Tetapi selanjutnya menjadi berpikiran aneh terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh setelah berkenalan dengan sebagian kalangan salafi dikarenakan doktrin-doktrinnya yang selalu dibangun terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Sehingga lupa terhadap jasa dan asbab yang menjadikan mereka bisa kembali ke pangkuan Islam. Bisa dibayangkan jika tidak ada usaha da&#8217;wah dan tabligh, maka mereka-mereka ini akan terus dalam keadaan masyiat kepada Allah swt dan jauh dari Al-Islam. Jadi sangat beruntunglah orang-orang yang bisa menyelamatkan mereka-mereka dan mengajak mereka kembali ke pangkuan Islam, kalau tidak mereka-mereka ini masih dalam keadaan masyiat kepada Allah swt.</p>
<p>Oleh karena itu, kawan-kawan yang awalnya tidak mengenal agama dan selanjutnya mengenal agama meskipun sedikit karena asbab usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, selanjutnya malahan mempunyai pandangan aneh terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, setelah berkenalan sebagian salafi karena doktrin-doktrinnya ataupun pergerakan lainnya. COBA MERENUNG SEDIKIT SAJA, kira-kira kalau tidak ada usaha da&#8217;wah dan tabligh yang mengajak kawan-kawan, apakah kawan-kawah masih dalam lupa dan jauh dengan Allah swt atau bagaimana?</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=305&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/02/19/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>System Thinking dan Usaha da&#8217;wah &amp; Tabligh</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/29/system-thinking-dan-usaha-dawah-tabligh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/29/system-thinking-dan-usaha-dawah-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 00:32:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Kami berikan pandangan terhadap beberapa pertanyan yang disampaikan Sdr. Indah Nur Aini, dan hal ini cukup baik untuk disampaikan di sini karena pertanyaannya cukup sangat ilmiah dan berkaitan ilmu modern. Sehingga kami kopikan dalam situs kami untuk membuka wacana. Pertanyaan ini terdapat di http://fospi.wordpress.com/2007/10/02/gerakan-tabligh-dan-realitas-dakwah/#comment-943.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Membaca uraian sinkat dari sdr. Haitan, saya jadi tersenyum-senyum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Kami berikan pandangan terhadap beberapa pertanyan yang disampaikan Sdr. Indah Nur Aini, dan hal ini cukup baik untuk disampaikan di sini karena pertanyaannya cukup sangat ilmiah dan berkaitan ilmu modern. Sehingga kami kopikan dalam situs kami untuk membuka wacana. Pertanyaan ini terdapat di http://fospi.wordpress.com/2007/10/02/gerakan-tabligh-dan-realitas-dakwah/#comment-943.</p>
<blockquote><p>Assalamu’alaikum wr. wb.</p>
<p>Membaca uraian sinkat dari sdr. Haitan, saya jadi tersenyum-senyum sendiri. Sdr. Haitan seolah-olah telah menemukan satu kesamaan praktek kehidupan antara JT dengan kehidupan Rasulullah SAW dengan menggunakan konsep/ilmu “SYSTEM THINKING VIEW” yang katanya merupakan konsep/ilmu “MODERN”. Terus terang saya terkaget-kaget mebacanya. Mengingat telah lama saya berkecimpung dalam area “BADAN SERTIFIKASI” dan “MANAGEMENT SYSTEM CONSULTANT” tapi tidak menemukan apa yang disebut “SYSSTEM THINKING VIEW”</p>
<p>Ada beberapa pertanyaan yang mungkin Sdr. Haitan bisa jawab:<br />
1. Literatur mana yang sdr. pakai dalam mempelajari apa yang sdr. sebut “SYSTEM THINKING VIEW”.<br />
2. Kenapa sdr. menyebut ilmu ini sebagai ilmu modern. Sejauh mana kemoderenannya.<br />
3. Bagaimana sdr. bisa menunjukkan kepada kami bahwa ilmu “SYTEM THINKING VIEW” bisa membuktikan kesamaan praktek kehidupan JT dengan praktek kehidupan Rasulullah SAW.</p>
<p>Mungkin ini saja dulu..nanti bisa kita lanjutkan setelah anda memberi penjelasan. Saya yakin jawabannya tidak perlu terlalu panjang karena pertanyaanya memang gampang.</p>
<p>Syukron.</p>
<p>Indah Nur Aini.</p></blockquote>
<p><span id="more-300"></span>Wa’alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Dear Indah Nur Aini dan Kawan-Kawan,</p>
<p>1.	Bidang “System Thinking View” biasanya dilaksanakan untuk kalangan pakar yang mendalami satu kejadian melalui pendekatan kesisteman untuk menganalisa dan selanjutnya melakukan tiruan melalui simulasi. Salah satu referensinya adalah “Business Dynamics: System Thinking for Complex World”, John D. Steman, MIT, Irwin-McGraw-Hill, 2000. Bidang ini sangat penting untuk memahami  kejadian/proses/prosedur  secara menyeluruh, sehingga akan mudah untuk menyusun skenario-skenarionya. Mungkin boleh juga kawan-kawan mendalami bidang “Socio-Technical Thinking” yang merupakan integrasi antara pendekatan sosial dengan teknik untuk menerapkan satu proses ke dalam sistem yang dibangun. Wikipedia memasukan “System Thinking” pada alamatnya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking">http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking</a>, silahkan pelajari dengan baik untuk menambah wacana dan pendalaman ilmu.</p>
<p>2.	Ilmu ini dipandang sebagai ilmu modern. Apakah itu modern? Untuk mengetahui definisi Modern, maka silahkan masuk ke <a href="http://www.thefreedictionary.com/modern">http://www.thefreedictionary.com/modern</a>. Sekarang ini atau di jaman sekarang ini, selalu kita berhubungan dengan kata “sistem”, misalkan sistem komputer, sistem operasi, sistem database, sistem jaringan, content management system, sistem manajemen, sistem informasi, dsb. Artinya orang berusaha membangun tiruan melalui pendekatan sistem untuk bisa menjelaskannya. Dan jelas dari waktu ke waktu, konsep “System Thinking” ini akan terus masuk ke dalam kehidupan manusia nantinya.</p>
<p>3.	Maulana Ilyas Rah Ulama yang membangkitkan kembali pola da’wah dengan silaturahmi dan masjid. Apakah hal ini begitu saja pola usaha da’wah dan tabligh diperolehnya? Itu tidak mungkin, TETAPI melalui proses kajian dan analisa yang dalam terhadap berbagai sumber-sumber Islam, dan bahkan beliau harus langsung ke lapangan untuk melakukan riset ke tataran arab. Coba perhatikan dengan ayat di bawah ini yang sangat makhsyur At-Taubah (9): 100.</p>
<p><strong>“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah (9): 100)</strong></p>
<p>Setiap orang, bahkan Ulama, akan mempunyai pendalaman yang berbeda dengan ayat tersebut. Bahkan di kalangan para Shahabat RA sendiri akan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap satu kejadian, mungkin kisah Ummar Bin Khatab RA ketika mengajukan pengumpulan dan penulisan Al-quran kepada Abu Bakar RA. Bagaimana Ummar RA bisa menganalisa dan akhirnya mengambil satu keputusan dalam hal itu. Apakah semua para Shahabat RA mempunyai pikiran seperti Ummar RA? Bahkan perhatikan kata-kata yang disampaikan Abu Bakar RA di kala itu?</p>
<p>Mungkin bagi sebagian kalangan ayat itu hal biasa, TETAPI untuk sebagian kalangan ULAMA itu hal yang sangat memberikan kerangka untuk membangun analisa (menguraikan) dan sintesa (membangun ulang melalui peniruan). TETAPI kita TIDAK BOLEH merendahkan Ulama-Ulama lainnya ketika berbeda pandangan, karena hal itu JELAS BERTENTANGAN dengan ayat At-Taubah (9): 100 sendiri.</p>
<p>4.	Banyak sekarang ini sebagian kalangan kaum muslimin (kebanyakannya baca: salafi) selalu memberikan pandangan terhadap usaha da’wah dan tabligh ini. Dan kami sendiri hanya menyayangkan, karena penilaian itu terlalu sederhana dan tanpa analisa dan sintesa yang sangat dalam dan teliti. Kami sebutkan beberapa aktifitas dalam usaha da’wah dan tabligh ketika khuruj:</p>
<p>a.	Sebelum Khuruj selalu terdapat Bayan Hidayah (penjelasan petunjuk) bagaimana da’wah dan mengisi waktu dengan baik ketika khuruj. Apakah melakukan aktifitas “Bayan Hidayah” ini ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Kami berikan salah satu kisah yang sangat makhsyur perihal pesan dan nasehat Rasulullah SAW kepada Muadz Bin Jabal RA ketika akan dikirim ke Yaman. Ini salah satu bentuk “Bayan Hidayah” yang biasa Rasulullah SAW memberikan pesan kepada para Shahabat RA ketika akan menjalankan aktifitas da’wah dan pengajaran di daerah lain, kisah-kisah ini sangat banyak.</p>
<p>b.	Sebelum pulang ke rumah dari aktifitas Khuruj, maka selalu diberikan Bayan Tangguh (penjelasan dan nasehat, dan juga meminta karguzari atau aktifitas ketika Khuruj di daerah tertentu). Apakah aktifitas “bayan tangguh” ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Orang yang tidak pernah membaca kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tidak terbiasa dengan kisah-kisah bagaimana para Shahabat RA biasa menyampaikan Karguzari atau mengisahkan pengalamannya.</p>
<p>5.	Dan masih banyak lagi aktifitas ketika KHURUJ berusah MENIRU-NIRU dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Itulah yang dilakukan dalam usaha da’wah dan tabligh. Dan kami menemukan hal itu dengan baik, jika mempelajari kitab-kitab para Ulama dulu. Banyak orang menilai, tetapi terlalu sederhana dan ringkas. Kami untuk memahami usaha da’wah dan tabligh akhirnya kami menggunakan “SYSTEM THINKING” agar lebih bisa memahaminya, karena usaha da’wah dan tabligh merupakan tiruan-tiruan kehidupan dari sekian banyak kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>6.	Caranya adalah IKUT, MELIBATKAN DIRI ke dalam aktifitas dan musyawarah, dan KAMI pelajari beberapa kitab ulama dulu untuk memberikan gambarannya karena kebetulan kami mempunyai cukup banyak kitab. Dan ternyata itu memberikan gambaran yang menarik, itulah kami selalu dorong kaum muslimin untuk mengikuti usaha da’wah dan juga kawan-kawan yang telah tejun dalam usaha da’wah untuk selalu berusaha memegangnya dengan baik. Salah satu hasilnya yang kami peroleh itu, adalah 4M. Silahkan kembangkan dan dalami dengan baik.</p>
<p>7.	Salah satu yang selalu ditekankan adalah MUSYAWARAH dalam usaha da’wah ini. Dan kita bisa mendapatkan banyak keterangan dalam al-quran dan as-sunnah perihal MUSYAWARAH.  Bahkan kalangsan yang selalu menilai usaha da’wah saat ini (baca: salafi) banyak menimbulkan kontra-produktif di dalam kalangannya sendiri, karena TIDAK MENGHIDUPKAN MUSYAWARAH. Padahal hal itu merupakan sunnah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>8.	Kami menganjurkan kepada kaum muslimin termasuk kalangan ahli da’wah dan tabligh untuk mendalami kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah. Karena setelah lama kami perhatikan dengan baik kitab itu, maka kami mendapatkan gambaran yang sangat baik terhadap aktifitas-aktifitas ketika khuruj. Dan itulah usaha da’wah dan tabligh ini menjadi merupakan latihan amal-amal sholeh untuk meningkatkan iman itu sendiri. Dan sangat cocok dengan judul itu “Riyadhush Sholihin” dengan hal yang selalu ditanamkan yaitu “memperbaiki diri”. Kapan kami mendapatkan gambaran itu? Guru kami menasehati untuk selalu membaca kitab itu, dan setelah dibaca bolak-balik dan berkali, akhirnya SEDIKIT ada gambaran terhadap usaha da’wah ini. Itulah kami sangat senang dengan tulisan-tulisan dari Imam Nawawi Rah ini. Mudah-mudahan beliau dilapangkan kuburnya dan juga mendapatkan rahmat Allah swt.</p>
<p>9.	“SYSTEM THINKING” sudah kami pergunakan dalam berbagai hal termasuk dalam R&amp;D bidang kami sendiri, silahkan perhatikan http://haitanrachman.wordpress.com.  Dan kami dengan adanya pendekatan ini, kami mendapatkan satu proses 4M (Muhasabah, Mudzakarah, Musyawarah, dan Mujahadah) melalui usaha da’wah ini setelah sekian lama dalami. Silahkan kaji dengan ilmu yang kawan-kawan pelajari, apakah teori kami 4M itu keliru dan tidak ada landasannya.</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>IN</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	mso-themecolor:hyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.EmailStyle16 	{mso-style-type:personal; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	color:windowtext;} span.gen 	{mso-style-name:gen; 	mso-style-unhide:no;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:658731091; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:447666166 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Wa’alaikumussalam wr. wb.</p>
<p class="MsoNormal">Dear Indah Nur Aini dan Kawan-Kawan,</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Bidang “System Thinking View” biasanya dilaksanakan untuk kalangan pakar yang mendalami satu kejadian melalui pendekatan kesisteman untuk menganalisa dan selanjutnya melakukan tiruan melalui simulasi. Salah satu referensinya adalah “Business Dynamics: System Thinking for Complex World”, John D. Steman, MIT, Irwin-McGraw-Hill, 2000. Bidang ini sangat penting untuk memahami <span> </span>kejadian/proses/prosedur <span> </span>secara menyeluruh, sehingga akan mudah untuk menyusun skenario-skenarionya. Mungkin boleh juga kawan-kawan mendalami bidang “Socio-Technical Thinking” yang merupakan integrasi antara pendekatan sosial dengan teknik untuk menerapkan satu proses ke dalam sistem yang dibangun. Wikipedia memasukan “System Thinking” pada alamatnya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking">http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking</a>, silahkan pelajari dengan baik untuk menambah wacana dan pendalaman ilmu.</p>
<p class="MsoListParagraph">
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Ilmu ini dipandang sebagai ilmu modern. Apakah itu modern? Untuk mengetahui definisi Modern, maka silahkan masuk ke <a href="http://www.thefreedictionary.com/modern">http://www.thefreedictionary.com/modern</a>. Sekarang ini atau di jaman sekarang ini, selalu kita berhubungan dengan kata “sistem”, misalkan sistem komputer, sistem operasi, sistem database, sistem jaringan, content management system, sistem manajemen, sistem informasi, dsb. Artinya orang berusaha membangun tiruan melalui pendekatan sistem untuk bisa menjelaskannya. Dan jelas dari waktu ke waktu, konsep “System Thinking” ini akan terus masuk ke dalam kehidupan manusia nantinya.</p>
<p class="MsoListParagraph">
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Maulana Ilyas Rah Ulama yang membangkitkan kembali pola da’wah dengan silaturahmi dan masjid. Apakah hal ini begitu saja pola usaha da’wah dan tabligh diperolehnya? Itu tidak mungkin, TETAPI melalui proses kajian dan analisa yang dalam terhadap berbagai sumber-sumber Islam, dan bahkan beliau harus langsung ke lapangan untuk melakukan riset ke tataran arab. Coba perhatikan dengan ayat di bawah ini yang sangat makhsyur At-Taubah (9): 100.</p>
<p class="MsoListParagraph">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;">“<span class="gen">Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen">Setiap orang, bahkan Ulama, akan mempunyai pendalaman yang berbeda dengan ayat tersebut. Bahkan di kalangan para Shahabat RA sendiri akan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap satu kejadian, mungkin kisah Ummar Bin Khatab RA ketika mengajukan pengumpulan dan penulisan Al-quran kepada Abu Bakar RA. Bagaimana Ummar RA bisa menganalisa dan akhirnya mengambil satu keputusan dalam hal itu. Apakah semua para Shahabat RA mempunyai pikiran seperti Ummar RA? Bahkan perhatikan kata-kata yang disampaikan Abu Bakar RA di kala itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen">Mungkin bagi sebagian kalangan ayat itu hal biasa, TETAPI untuk sebagian kalangan ULAMA itu hal yang sangat memberikan kerangka untuk membangun analisa (menguraikan) dan sintesa (membangun ulang melalui peniruan). TETAPI kita TIDAK BOLEH merendahkan Ulama-Ulama lainnya ketika berbeda pandangan, karena hal itu JELAS BERTENTANGAN dengan ayat At-Taubah (9): 100 sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>4.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Banyak sekarang ini sebagian kalangan kaum muslimin (kebanyakannya baca: salafi) selalu memberikan pandangan terhadap usaha da’wah dan tabligh ini. Dan kami sendiri hanya menyayangkan, karena penilaian itu terlalu sederhana dan tanpa analisa dan sintesa yang sangat dalam dan teliti. Kami sebutkan beberapa aktifitas dalam usaha da’wah dan tabligh ketika khuruj:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>a.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Sebelum Khuruj selalu terdapat Bayan Hidayah (penjelasan petunjuk) bagaimana da’wah dan mengisi waktu dengan baik ketika khuruj. Apakah melakukan aktifitas “Bayan Hidayah” ini ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Kami berikan salah satu kisah yang sangat makhsyur perihal pesan dan nasehat Rasulullah SAW kepada Muadz Bin Jabal RA ketika akan dikirim ke Yaman. Ini salah satu bentuk “Bayan Hidayah” yang biasa Rasulullah SAW memberikan pesan kepada para Shahabat RA ketika akan menjalankan aktifitas da’wah dan pengajaran di daerah lain, kisah-kisah ini sangat banyak.</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>b.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Sebelum pulang ke rumah dari aktifitas Khuruj, maka selalu diberikan Bayan Tangguh (penjelasan dan nasehat, dan juga meminta karguzari atau aktifitas ketika Khuruj di daerah tertentu). Apakah aktifitas “bayan tangguh” ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Orang yang tidak pernah membaca kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tidak terbiasa dengan kisah-kisah bagaimana para Shahabat RA biasa menyampaikan Karguzari atau mengisahkan pengalamannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>5.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Dan masih banyak lagi aktifitas ketika KHURUJ berusah MENIRU-NIRU dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Itulah yang dilakukan dalam usaha da’wah dan tabligh. Dan kami menemukan hal itu dengan baik, jika mempelajari kitab-kitab para Ulama dulu. Banyak orang menilai, tetapi terlalu sederhana dan ringkas. Kami untuk memahami usaha da’wah dan tabligh akhirnya kami menggunakan “SYSTEM THINKING” agar lebih bisa memahaminya, karena usaha da’wah dan tabligh merupakan tiruan-tiruan kehidupan dari sekian banyak kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>6.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Caranya adalah IKUT, MELIBATKAN DIRI ke dalam aktifitas dan musyawarah, dan KAMI pelajari beberapa kitab ulama dulu untuk memberikan gambarannya karena kebetulan kami mempunyai cukup banyak kitab. Dan ternyata itu memberikan gambaran yang menarik, itulah kami selalu dorong kaum muslimin untuk mengikuti usaha da’wah dan juga kawan-kawan yang telah tejun dalam usaha da’wah untuk selalu berusaha memegangnya dengan baik. Salah satu hasilnya yang kami peroleh itu, adalah 4M. Silahkan kembangkan dan dalami dengan baik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>7.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Salah satu yang selalu ditekankan adalah MUSYAWARAH dalam usaha da’wah ini. Dan kita bisa mendapatkan banyak keterangan dalam al-quran dan as-sunnah perihal MUSYAWARAH.<span> </span>Bahkan kalangsan yang selalu menilai usaha da’wah saat ini (baca: salafi) banyak menimbulkan kontra-produktif di dalam kalangannya sendiri, karena TIDAK MENGHIDUPKAN MUSYAWARAH. Padahal hal itu merupakan sunnah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>8.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Kami menganjurkan kepada kaum muslimin termasuk kalangan ahli da’wah dan tabligh untuk mendalami kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah. Karena setelah lama kami perhatikan dengan baik kitab itu, maka kami mendapatkan gambaran yang sangat baik terhadap aktifitas-aktifitas ketika khuruj. Dan itulah usaha da’wah dan tabligh ini menjadi merupakan latihan amal-amal sholeh untuk meningkatkan iman itu sendiri. Dan sangat cocok dengan judul itu “Riyadhush Sholihin” dengan hal yang selalu ditanamkan yaitu “memperbaiki diri”. Kapan kami mendapatkan gambaran itu? Guru kami menasehati untuk selalu membaca kitab itu, dan setelah dibaca bolak-balik dan berkali, akhirnya SEDIKIT ada gambaran terhadap usaha da’wah ini. Itulah kami sangat senang dengan tulisan-tulisan dari Imam Nawawi Rah ini. Mudah-mudahan beliau dilapangkan kuburnya dan juga mendapatkan rahmat Allah swt. </span></p>
<p class="MsoListParagraph"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>9.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">“SYSTEM THINKING” sudah kami pergunakan dalam berbagai hal termasuk dalam R&amp;D bidang kami sendiri, silahkan perhatikan <a href="http://haitanrachman.wordpress.com/">http://haitanrachman.wordpress.com</a>. <span> </span>Dan kami dengan adanya pendekatan ini, kami mendapatkan satu proses 4M (Muhasabah, Mudzakarah, Musyawarah, dan Mujahadah) melalui usaha da’wah ini setelah sekian lama dalami. Silahkan kaji dengan ilmu yang kawan-kawan pelajari, apakah teori kami 4M itu keliru dan tidak ada landasannya. </span></p>
</div>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=300&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/29/system-thinking-dan-usaha-dawah-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
