<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Mar 2010 03:19:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bagaimana kita menyikapi Internet?</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/03/07/bagaimana-kita-menyikapi-internet/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/03/07/bagaimana-kita-menyikapi-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 02:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Author : nurim
E-mail : nisnurim@gmail.com
Comment:
Kepada sahabat-sahabatku semua. melalui media internet ini , alhamdulillahm, kita bisa berbagi ilmu, pengalaman, dll yang baik-baik. tapi dilubuk hati yang paling dalam ini muncul kekhawatiran yang amat sangat tentang pengaruh buruk internet. Karena melalui media internetlah, keburukan yang seburuk-buruknya tersebar ke seluruh dunia, sampai ke pelosok-pelosok (krn internet kan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Author : nurim</p>
<p>E-mail : nisnurim@gmail.com</p>
<p>Comment:</p>
<p>Kepada sahabat-sahabatku semua. melalui media internet ini , alhamdulillahm, kita bisa berbagi ilmu, pengalaman, dll yang baik-baik. tapi dilubuk hati yang paling dalam ini muncul kekhawatiran yang amat sangat tentang pengaruh buruk internet. Karena melalui media internetlah, keburukan yang seburuk-buruknya tersebar ke seluruh dunia, sampai ke pelosok-pelosok (krn internet kan bisa lewat hp juga). Nah apa pandangan sahabat semua sebagai aktifis dakwah mengenai media internet ini dipandang dari segi manfaat dan mudhorotnya? Dan apa pandangan para ulama tabligh berkaitan dengan fenomena ini? Ada yang bisa memberikan pencerahan?</p></blockquote>
<p><strong>1.	Pengantar</strong></p>
<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Segala puji bagi Allah swt yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan kepada kita semua, terutama dengan nikmat Iman dan Islam. Tiada yang lebih tinggi nikmat ini kecuali nikmat Iman dan Islam, serta kita dikenalkan terhadap usaha yang mulia yaitu usaha atas Iman dan Islam kita dan kaum muslimin. Sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, kekasih kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para Shahabat RA, kepada para guru-guru kita, serta kepada kaum muslimin yang selalu berusaha mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW, termasuk kepada diri kita dan keluarga kita semua. Amiin.</p>
<p>Kita dapat berbagi pandangan terhadap apa yang disampaikan Pak Nurim. Mudah-mudahan berbagi pandangan ini memberikan manfaat bagi kita kaum muslimin. Dan kami mencoba memberikan pandangan terlebih dahulu, hal ini dikarenakan apa yang disampaikan itu masuk ke tempat kami, http://usahadawah.com. Dan kami persilahkan kepada kawan-kawan untuk sama-sama berbagi pandangan dengan hal itu.</p>
<p><span id="more-310"></span>Untuk membuka wacana itu maka tentunya kita perlu mengetahui karakteristik dari usaha da’wah dan juga media internet itu sendiri. Secara singkat kami sebutkan terlebih dahulu beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha da’wah ini, (1) usaha da’wah ini sangat menekankan pengorbanan (2) usaha da’wah ini menekankan untuk selalu berniat memperbaiki diri dengan Iman dan amal sholeh (3) usaha da’wah sangat menekankan bertemu langsung dengan ummat manusia (4) usaha da’wah sangat menekankan pada kerja ijtima’iyyah dan musyawarah (5) usaha da’wah sangat menekan pada kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA (6) Usaha da’wah ini sangat menekankan pada kerja/amal masjid maqomi dan Khuruj (7) Usaha da’wah ini menakankan untuk menjaga hati kaum muslimin melalui ikramul muslimin (8) usaha da’wah ini sangat menekankan untuk TERTIB dan HIKMAH dalam kehidupan kaum muslimin melalui adab dan akhlaq Islam.</p>
<p>Kami sebutkan sebagian saja, tetapi sebenarnya masih banyak karakter dari usaha da’wah ini dan semuanya mempunyai landasan Al-Quran dan As-Sunnah. Bagaimana dengan karakteristik Internet itu sendiri, (1) Internet merupakan sarana komunikasi global dan berbagi pengetahuan/informasi (2) Internet dapat memadukan antara suara, tulisan, video, gambar (3) Internet merupakan sarana terbarukan, setelah sarana komunikasi lainnya (4) Internet memberikan komunikasi yang TIDAK LANGSUNG BERTEMU (5) Internet membuka komunikas bebas, tanpa terdapat batas-batas sosial yang membatasinya. (6) Internet merekam semua tulisan yang disebarkan apakah itu baik ataupun buruk</p>
<p>Sebelum kami mengungkap perihal Usaha da’wah dan Internet. Sebelumnya kami mengajak kawan-kawan terlebih dahulu untuk memperhatikan beberapa hal utama berkaitan dengan usaha da’wah, yang mana kadangkala kita sendiri kurang memperhatikan dengan baik. Hal ini untuk lebih mengingatkan diri kami sendiri yang lemah ini. Sedangkan untuk perihal “Usaha da’wah dan Internet” kami tuliskan di bagian akhir.</p>
<p><strong>2.	Usaha Da’wah dan Kehidupan Para Shahabat RA</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Kita bersyukur dikenalkan dengan usaha da’wah ini, tidak terkecuali dengan kami sendiri yang lemah ini. Usaha da’wah ini telah memberikan satu kerangka yang sangat fundamental bagi kita sebagai muslimin yaitu Kepentingan Iman dan Amal Sholeh, Kejayaan dan Kesuksesan itu bergantung sejauh mana kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW. Serta kita diajari perihal satu masyarakat yang telah mendapatkan kesuksesan yaitu para Shahabat RA. Para Shahabat RA masih hidup di kala itu, tetapi para Shahabat RA telah mendapatkan keridhoan Allah swt.</p>
<p>Dan kita masih berusaha untuk mendapatkan ridho Allah swt, dan para Ulama/Masyaikh dalam usaha da’wah ini selalu MENEKANKAN kepada kita semua untuk mempunyai niat selalu memperbaiki diri dan mencapai seperti para Shahabat RA. Para Shahabat RA merupakan satu masyarakat yang mencapai kejayaan, dan kita tentunya berusaha mengikuti masyarakat yang sukses itu. Dan para Shahabat RA itu selalu berusaha mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah selalu menekankan kita untuk berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA, begitupun juga dengan Maulana Yusuf Rah. Beliau, Maulana Yusuf Rah, menjelaskan bahwa untuk memahami tertib dan ushul usaha da’wah ini, maka tentunya harus selalu berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan beliau telah menulis kitab hayatush shahabat yang mudah dipelajari oleh kita kaum muslimin.</p>
<p>Sehingga tentunya bagi kita semua untuk selalu berhubungan dengan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Kita dapat merasakan langsung dengan hal ini, sehingga (1) ta’lim akhir di waktu malam markaz ta’lim kisah-kisah Rasulullah SAW dan Shahabat RA, (2) ketika keluar sendiri di waktu malam kita sendiri mendengarkan ta’lim kisah-kisah Rasulullah SAW dan Shahabat RA, (3) ketika keluar/khuruj kita diulang-ulang perihal enam sifat shahabat saat bayan subuh, (4) ketika khuruj juga di waktu ta’lim pagi, untuk mengulang-ngulang sifat para Shahabat. Begitupun juga dengan ta’lim di masjid kita ataupun rumah kita.</p>
<p>Kita benar-benar diajak untuk memperhatikan kehidupan dari sebuah generasi yang telah mencapai kesuksesan di dunia dan di akherat, sehingga jika meminta do’a agar mendapat kebaikan di dunia dan akherat, SEBENARNYA kita berkeinginan berusaha seperti para Shahabat RA. Begitupun juga dengan bacaan al-fatihah minimal 17x/hari, di ayat terakhirnya sebenarnya kita meminta jalan dari orang-orang yang diberi nikmat, tentunya Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Mudah-mudahan kita selalu berusaha mempelajari kisah-kisah kehidupan Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA. Maulana Dzakaria Rah menulis dengan hikayat para Shahabat RA, dan ini merupakan kitab yang mudah dipelajari oleh kaum muslimin. Maulana Yusuf Rah menulis kitab Hayatush Shahabat yang memperlihatkan sumber-sumber ilmiyyah terhadap kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat.</p>
<p>Dua kitab ini sangat mudah dipelajari oleh kaum muslimin, karena kitab-kitab disusun mengikuti kisah-kisah sesuai bab utamanya. Disamping masih banyak buku/kitab yang ditulis para Ulama lainnya dengan pendekatan dan sistematik penulisan yang berbeda. Dan kita dapat memilih buku-buku itu sebagai bahan tambahan untuk kita.</p>
<p><strong>3.	Usaha Da’wah dan Ulama-Ulama Tempatan Kita</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah telah memberikan kerangka kesuksesan dan kejayaan di dunia dan di akherat, yaitu Iman dan Amal Sholeh, serta ditunjukan pada satu masyarakat yang telah mencapai kesuksesan di dunia dan di akherat, yaitu Para Shahabat RA. Kejayaan dan kesuksesan para Shahabat RA yang dibina oleh Rasulullah SAW, dikarenakan para Shahabat RA ini mengikuti perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya.</p>
<p>Dan untuk mengikuti perintah Allah swt dan Sunnah Rasulullah SAW, kita tentunya memerlukan Ilmu itu sendiri. Dan usaha da’wah begitu sering menekankan perihal Ilmu ini, dan dipadukan dengan dzikir. Sehingga usaha da’wah selalu menjelaskan kepentingan dan keutamaan perihal “Ilmu Ma’adz Dzikir”. Dan kita selalu mengulang-ngulang perihal “Ilmu Ma’Adz Dzikir” ini. Para Ulama/masyaikh yang telah dalam usaha da’wah ini selalu menekankan perihal ‘Ilmu Ma’adz Dzikir”.</p>
<p>Dan beliau-beliau ini juga mengajarkan kepada kita untuk dapat menimba Ilmu kepada Ulama-Ulama tempatan kita. Bahkan kita sendiri sering mengulang-ngulang untuk dapat menimba Ilmu kepada Ulama-Ulama tempatan kita, apakah ketika mudzakarah enam sifat shahabat, apakah ketika bayan tangguh dsb. Hanya saja kadangkala kita lupa dan mempunyai jiwa malas untuk bertemu dan belajar kepada para Ulama-Ulama tempatan kita.</p>
<p>Ulama-ulama tempatan kita ini mempunyai tingkatan dan kemampuan berbeda-beda, sehingga kita dapat belajar dari banyak Ulama. Dengan Ulama yang satu, kita dapat belajar tajwid. Dengan Ulama yang kedua, kita dapat belajar perihal hadist. Dengan Ulama yang ketiga, kita dapat belajar tafsir quran. Dsb. Sehingga kita dapat berhubungan dengan Ulama-Ulama kita yang cukup banyak. DAN KITA dapat mengaturnya sendiri, mungkin tahap pertama kita belajar Tajwid sampai selesai, kemudian kita belajar Ilmu bahasa Arab sampai selesai, dsb. ATAU kita belajar pelajaran-pelajaran syarh kitab tertentu, seperti syarh kitab Riyadhush Sholihin, atau tematik tafsir Ibnu Katsir (Baca: Sesuai topik-topiknya).</p>
<p>Mungkin untuk MAYORITAS kaum muslimin lebih baik belajar dengan Syarh-Syarh Kitab Ulama Dulu atau Tematik-tematik dari Ulama Dulu; karena pengajaran seperti ini akan MEMUDAHKAN bagi kaum muslimin untuk mengetahui dengan baik perihal Islam dan langsung beramal Islam. Dan banyak Ulama dulu menyusun secara tema-tema secara sistematik. Disamping kita juga mudah untuk menghafal beberapa bagiannya. HANYA untuk kalangan yang benar-benar mau belajar dan mendalami secara serius, maka sebaiknya mengikuti madrasah-madrasah Islam dengan baik karena mempunyai kurikulum dan silabus yang, termasuk bahasa Arab.</p>
<p>Dan untuk hal ini, kita yang perlu aktif mencari pelajaran-pelajaran tersebut. Karena sampai saat ini sangat sedikit sekali pengajian-pengajian syarh-syarh kitab Ulama dulu dan juga tematik-tematiknya. Mudah-mudahan di waktu akan datang banyak Ulama/Ustadz yang membuka pengajian-pengajin dari Syarh-Syarh Kitab Ulama Dulu. Atau mungkin kawan-kawan sendiri di waktu akan datang menjadi alim/ustadz untuk mengajarkan hal ini di mohala-mohala (Baca: masjid) secara berurutan.</p>
<p>Kita bersyukur dikenalkan dengan kitab Fadhilah Amal Maulana Dzakaria Rah, Hayatush Shahabat Maulana Yusuf Rah, Al-muntakhabah Maulana Yusuf Rah dan Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah, yang dibaca dan dipelajari secara ijtimaiyyah. Artinya kita sudah mempunyai ta’lim rutin di rumah dan masjid kita. INI MERUPAKAN AWAL bagi kaum muslimin, termasuk kita. UNTUK MEMBIASAKAN ta’lim harian di dua tempat, yaitu rumah sendiri dan masjid di dekat rumah kita.</p>
<p>Dengan adanya pesan ataupun nasehat dari para masyaikh ataupun kawan-kawan senior kita untuk dapat belajar ke Ulama-Ulama tempatan kita. Karena tentunya beberapa hal ta’lim lainnya tidak ditetapkan sebagai Ijtima’iyyah. Karena kalau dijadikan sebagai aktifitas ijtima’iyyah, jelas hal itu akan banyak memberatkan kita sendiri apalagi memerlukan pengetahuan dan kepahaman yang lebih. Misalkan Tajwid Quran, Bahasa Arab, Syarh Riyadhush Sholihin, Fiqh Islam, Tafsir Quran dsb.</p>
<p>Sehingga kita harus berINISIATIF untuk dapat belajar kepada Ulama-Ulama kita untuk memahami Al-Islam dengan baik. Sehingga TUJUAN UTAMA dari IJTIMA’IYYAH itu sendiri untuk seluruh kaum muslimin DAPAT DIWUJUDKAN juga dengan baik. Dan kita akan banyak berhubungan dengan Ulama-Ulama kita sendiri. Inilah salah satu pesan yang kurang diperhatikan kita, termasuk kami yang lemah ini. Dan hal ini dapat menjadi SARANA untuk MENGHIDARI TA’ASHUB dan juga dapat MENGHORMATI ulama-ulama kita sendiri dengan baik.</p>
<p>PERPECAHAN kaum muslimin itu dikarenakan TA’ASHUB kepada dirinya sendiri, merasa bangga dengan dirinya dan meremehkan kepada kaum muslimin lainnya.  Sehingga para Masyaikh usaha da’wah mengajarkan kepada kita untuk banyak belajar kepada ulama-ulama tempatan kita. Sehingga usaha da’wah ini yang mana sebenarnya landasannya SILATURAHMI dan MASJID akan sangat mudah dipahami dengan baik oleh para Ulama sendiri.</p>
<p>Dan kita datang ke Ulama tempatan kita, bukan untuk kita mengajak beliau-beliau kepada usaha da’wah. Tetapi tujuannya untuk kita melanjutkan dan menjaga niat kita sendiri yaitu MEMPERBAIKI diri kita, sehingga amal-amal kita akan lebih dekat kepada apa yang menjadi tujuan kita sendiri yaitu mengikuti perintah Allah swt dan juga Rasulullah SAW dalam kehidupan kita 24 jam, 7 hari. Itulah yang selalu ditekankan, apakah ketika bayan markaz, apakah ketika keluar/khuruj, apakah ketika taqrir, dsb. Kita berlomba 100% kehidupan kita mengikuti perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah SAW.</p>
<p>Dan jika ada sebagian Ulama yang menyampaikan pandangannya yang kurang tepat terhadap usaha da’wah, maka kita tetap ikram kepada beliau-beliau ini. Dan mungkin ketika terlalu banyak yang bersifat doktrin dengan menggunakan dalil-dalil, maka sebaiknya kita tetap hormat kepada Ulama yang bersangkutan dan kita tetap menjalankan usaha da’wah ini dengan baik. Insya Allah di waktu akan datang akan memberikan kepahamannya.</p>
<p><strong>4.	Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah ini memberikan pengajaran lainnya untuk dapat membedakan antara Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah. Kita tentunya perlu berusaha menjaga amal-amal Ijtima’iyyah dalam kerja da’wah ini, tetapi juga usaha da’wah ini tidak mengajarkan untuk meninggalkan perkara infirodhiyyah. Sehingga jika kita banyak bermudzakarah tentunya kita akan mendapatkan gambaran yang baik perihal kedua hal tersebut.</p>
<p>Jika ada kawan-kawan mengajak kami perihal ekonomi, kami tentunya cukup senang untuk membahasnya. TETAPI ketika ada keinginan bermudzakarah ekonomi secara ijtima’iyyah ke dalam usaha da’wah ini, kami tentunya tidak menerima hal itu. Ekonomi ini sangat beragam bentuknya dan kebijakannya, dan tidak semua kaum muslimin memahami perihal ekonomi ini. TETAPI usaha da’wah ini merupakan usaha untuk semua kaum muslimin, bukan untuk kalangan tertentu saja. Sama halnya dengan perkara politik.</p>
<p>Maulana Yusuf Rah menjelaskan dalam bayan terakhir hidup beliau (baca: 3 hari sebelum meninggal dunia). Usaha da’wah ini merupakan kerja atas tanah, sedangkan usaha lainnya atas pohon. Artinya semua perkara infirodhiyyah tersebut akan subur dengan baik dalam tanah yang subur juga. Tetapi usaha atas tanah tidak dapat mengantikan usaha atas pohon, begitupun sebaliknya usaha atas pohon tidak dapat menggantikan usaha atas tanah.</p>
<p>Usaha da’wah ini merupakan usaha menyeluruh seluruh kaum muslimin, siapapun dapat melibatkan diri dalam usaha da’wah ini, apakah itu pejabat, apakah itu ulama, apakah itu pelajar, apakah itu berkulit hitam, apakah itu dokter, apakah itu petani, apakah itu pedagang dsb. Semua kaum muslimin dapat melibatkan diri dalam usaha da’wah ini. Sehingga seorang dokter tidak dapat mengajak-ngajak seluruh kaum muslimin untuk membahas kesehatan, tetapi ajaklah kalangan yang sangat terampil dan paham dalam kesehatan dan kedokteran.</p>
<p>Usaha da’wah ini karena mengajarkan perkara-perkara ijtima’iyyah, maka dengan secara tidak langsung dapat diterapkan dalam lingkungan infirodhiyyah. Kita perlu ta’at amir ketika khuruj, sebenarnya hal ini juga dapat diterapkan dalam aktifitas di kantor kita sendiri, tidak mungkin aktifitas kita berjalan dengan baik kecuali memang terdapat kepatuhan kepada pimpinan di tempat kerja kita ataupun mengajarkan anak buah kita untuk mematuhi apa yang ditetapkan dalam lingkungan kerja kita. Sehingga teamwork dapat terjaga dengan baik</p>
<p>Kita juga perlu menjaga ikramul muslimin (memuliakan kaum muslimin). Di manapun kita berada, apakah di tempat kerja, apakah di masjid kita, apakah di rumah kita, dsb. Kita tentunya harus juga memuliakan kaum muslimin lainnya. Kita tidak dibenarkan untuk membuka aib masyarakat kita, ataupun membuka aib tempat kerja kita, dsb. Sehingga hubungan kita dengan kaum muslimin lainnya menjadi cukup baik.</p>
<p>Kita juga tidak dibenarkan asal-asalan membahas perkara khilafiyyah, artinya perkara ini jika dibahas di sembarang tempat maka tentunya hasilnya juga kurang baik. Apalagi kalau kita sendiri tidak mengerti dengan baik perkara khilafiyyah yang dibahas itu. Tentunya jika serampangan, maka akan menghasilkan kontra produktif di kalangan ummat Islam.</p>
<p>Dan cukup banyak perkara-perkara yang diajarkan dalam tertib dan ushul usaha da’wah, hal tersebut agar kita kaum muslimin menjadi muslim YANG TERTIB dan HIKMAH dalam kehidupan kita sebagai muslimin. Menjadi muslim YANG TERTIB dan HIKMAH ini tidaklah mudah, sehingga perlu banyak berlatih lagi dan lagi. Dan kita bersyukur diajarinya tidak hanya dalam bentuk TEORI-TEORI, tetapi dalam bentuk AKTUALISASI NYATA. Adab makan, adab tidur, adab masjid, adab khususi, adab jaulah, dsb, semua hal tersebut agar kita menjadi TERTIB dan HIKMAH dalam hidup ini.</p>
<p>Sehingga kita harus benar-benar bisa membedakan antara Ijtima’iyyah dan Infirodhiyyah dengan baik. Jangan sampai aktifitas sendiri merusak aktifitas ijtima’iyyah, ataupun sebaliknya. Oleh karena itu tidak heran kalau akan khuruj lama diperlukan tafaqud dengan baik. Tentunya kerja Ijtima’iyyah jangan sampai merusak keperluan infirodhiyyah, karena  akhirnya dapat menimbulkan fitnah terhadap usaha da’wah itu sendiri. Dan hal ini harus dihindari.</p>
<p>Oleh karena itu kita semua memang dituntut akhirnya untuk LEBIH TERTIB dan HIKMAH, jangan sampai akhirnya kita kurang hikmah dalam menasehati kepada kawan-kawan kita sehingga melupakan tanggung jawab infirodhiyyah, dan akhirnya menimbulkan Fitnah terhadap usaha da’wah ini. Begitupun juga karena kurang tertib dan hikmah pula, akhirnya banyak juga kaum muslimin ataupun kawan-kawan lainnya menjadi kurang bersemangat dengan usaha da’wah Ijtima’iyyah.</p>
<p><strong>5.	Usaha da’wah dan Tulis-Menulis</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Pada saat awal-awal sekali Maulana Ilyas Rah dalam perjalanan usaha da’wah ini pernah melarang kalangan ahli da’wah menulis perihal usaha da’wah, TETAPI selanjutnya beliau membolehkan tulis-menulis perihal usaha da’wah. Dan siapapun boleh menulis perihal usaha da’wah, tetapi beliau selalu menekankan untuk selalu meminta nasehat dari kalangan senior-senior yang terjun dalam usaha da’wah ini. Hal ini agar jangan sampai kita melakukan pandangan tidak tepat terhadap usaha da’wah, sehingga merusaka dari Ijtima’iyyah itu sendiri.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah menjelaskan bahwa hal itu dilakukan seperti mana beliau mengikuti Rasulullah SAW melarang menulis hadist Rasulullah SAW karena dikuatirkan akan bercampur dengan Al-Quran, apalagi terdapat hadist qudsi. Dan ketika usaha da’wah ini sudah mulai nampak dan banyak kaum muslimin melibatkan diri, dan bahkan Ulama-ulama di jamannya telah banyak melibatkan diri. Maka beliau membolehkannya, karena jika diawal-awal dibolehkan dengan menulis maka dikuatirkan usaha da’wah ini akan menjadi tulisan-tulisan semata, sedangkan AKTUALISASInya tidak terjadi dan tidak membumi di lingkungan kaum muslimin.</p>
<p>Meskipun beliau membolehkan penulisan perihal usaha da’wah itu, tetapi tidak banyak yang menulis perihal usaha da’wah ini. Kitab Fadhilah Amal yang disusun Maulana Dzakaria Rah sendiri merupakan dorongan dari Maulana Ilyas Rah sendiri, disamping ada juga Ulama lainnya seperti Kitab Fadhilah Quran. Dan tidak banyak kitab bacaan yang menjadi bahan secara Ijtimaiyyah, boleh jadi kitab fadhilah amal Maulana Dzakaria Rah, kitab hayatush shahabat Maulana Yusuf Rah, Kitab Al-muntakhabah Maulana Yusuf, serta Kitab Riyadhush Sholihin Imam Nawawi Rah.</p>
<p>Sedangkan tulisan lainnya meskipun berhubungan dengan usaha da’wah bukanlah bahan bacaan secara ijtima’iyyah. Terdapat satu kitab yang diSupervisi langsung oleh Maulana Ilyas Rah, yaitu Kitab Al-mafudhat Maulana Ilyas Rah yang disusun oleh Maulana Noomani Rah. Kitab ini saja tidak menjadi bacaan Ijtima’iyyah, meskipun menurut informasi yang kami peroleh para masyaikh banyak mempelajari kitab ini dengan baik.</p>
<p>Buku Malfudhat Maulana Ilyas Rah buku nasehat-nasehat beliau berkaitan dengan usaha da’wah. Sekarang ini sudah mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Boleh jadi akan banyak para Ulama dan penuntut ilmu yang mendalami nasehat-nasehat beliau dalam buku ini di waktu akan datang, karena tidak dapat dipungkiri usaha da’wah ini telah tersebar secara global dan mendunia sekali. Buku ini sangat memperlihatkan PIKIR dan RISAU BELIAU. Dan memang untuk membacanya perlu perlahan-lahan dan berulang-ulang.</p>
<p>Dan sekarang telah banyak yang menulis perihal usaha da’wah, termasuk kalangan ulama dari Timur Tengah. Dan bahkan telah ada ulama yang memberikan pandangan berimbang ketika terdapat pandangan yang kurang tepat terhadap usaha da’wah yang banyak dilontarkan kaum muslimin lainnya, begitupun di Indonesia sendiri telah banyak yang menulis perihal usaha da’wah ini. Buku-buku itu bukan merupakan bacaan ijtima’iyyah, sehingga dipersilahkan bagi ahli da’wah kaum muslimin untuk mempelajarinya di waktu luang.</p>
<p>Para Ulama/masyaikh da’wah ini di nizamuddin sendiri banyak juga menulis kitab-kitab Islam, dan mungkin sangat tebal dan ilmiyyah. Misalkan beberapa kitab yang disusun oleh Maulana Dzakaria Rah perihal syarh judul dari kitab Imam Bukhari, Maulana Yusuf Rah syarh kitab Imam Thahawi Rah, Maulana Dzakaria Rah juga syarh dengan Kitab Al-Muwatha Imam Malik Rah, termasuk juga dengan Maulana Inamul Hasan Rah, Mulana Noomani Rah, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Dan kami sendiri mendapatkan seri da’wah tabligh ini yang ditulis kalangan alim dan hafidz dari ahli da’wah dari Yordan dan juga dari Madinah. Yang khusus dari Yordan, beliau memberikan pengantar bahwa seri bukunya itu meminta nasehat dari para masyaikh da’wah di markaz da’wah dunia. Dan kalau kita pelajari dengan baik, apa yang sering dimudzakarahkan dalam enam sifat semuanya ada di sana. Memang dulu ada yang menulis dengan baik sekali perkara enam sifat itu, yaitu Maulana Ishaq Ilahi Rah.</p>
<p>Kami pribadi sendiri berkeinginan dengan topik-topik secara tematik yang sering diungkapkan dalam usaha da’wah ini, hanya saja kami belum menyempatkan secara serius perihal itu. Mudah-mudahan di waktu akan datang kami meluangkan waktu untuk menulis hal ini. Kami tidaklah menulis seperti para Ulama menulis, tetapi kami akan berusaha merangkai apa yang ditulis para ulama dulu terhadap tema-tema yang banyak muncul dalam usaha da’wah ini.</p>
<p>Sehingga yang HARUS DIPERHATIKAN oleh kita adalah tetap untuk menjaga Ijtima’iyyah secara TERTIB, USHUL dan HIKMAH. Hal ini jangan sampai tulisan-tulisan kita ini memberikan fitnah terhadap usaha da’wah yang mulia. Mudah-mudahan kita semua MEMPERHATIKAN TERTIB, USHUL dan HIKMAH dalam tulisan-tulisan kita dalam bentuk apapun, apakah dalam bentuk buku ataupun dalam bentuk tulisan di Internet. Sebenarnya TERTIB, USHUL dam HIKMAH itu berasal dari al-quran dan as-sunnah itu sendiri, dan pada akhirnya tulisan-tulisan itu jangan sampai bertentangan dengan al-quran dan as-sunnah itu sendiri.</p>
<p><strong>6.	Usaha da’wah dan Amal Maqomi</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Amal maqomi di masjid kita terdapat lima hal aktifitas utama yaitu (1) 2x ta’lim harian, di masjid 1x dan di rumah 1x (2) 2x jaulah mingguan, di masjid sendiri dan di masjid tetangga, (3) 2,5 jam harian, khususi kepada kaum muslimin dan amal masjid lainnya (4) musyawarah harian di masjid sendiri, (5) 3 hari khuruj fisabilillah di kota sendiri.</p>
<p>Sedangkan Amal masjid itu secara umum adalah Da’wah; Ta’lim Wa Ta’allum; Ibadah Dzikir; dan Khidmat. Jika dilihat dari lima amal maqomi, artinya hal tersebut baru merupakan BAGIAN DARI AMAL MASJID itu sendiri. Sehingga jangan dianggal bahwa amal maqomi itu sudah menyeluruh, tetapi baru merupakan bagian saja dari amal masjid. Dan tentunya perlu DIPIKIRKAN bagaimana atau sarana apa saja yang dapat menumbuhkan 5 Amal Maqomi itu.</p>
<p>Usaha da’wah ini menekankan perihal ta’lim harian dari fadhilah amal, artinya masih terbuka perihal ta’lim lainnya. Kenapa usaha da’wah ini tidak membuat aktifitas-aktifitas lainnya? Karena perkara itu harus dibangun di masyarakat yang bersangkutan, dan juga memerlukan kepahaman dan pengetahuan ilmu itu sendiri dengan baik. Tidak mungkin semua orang dapat mengajar kitab tafsir ataupun fiqh Islam. Oleh karena itu, jika diperlukan kita dapat mudzakarah ataupun musyawarah dengan kaum muslimin tempatan untuk melaksanakan aktifitas ta’lim lainnya.</p>
<p>SEHINGGA mungkin saja di waktu akan datang setiap masjid mempunyai madrasah sendiri yang dapat mengajarkan perihal ilmu lainnya secara teratur dan mempunyai kurikulum dan silabus yang baik. TETAPI ta’lim fadhilah amal dan kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tetap perlu dijalankan dengan baik pula, sehingga kaum muslimin akan mempunyai semangat terhadap amal-amal Islam itu sendiri.</p>
<p>Hafalan Ayat-Ayat Quran (Baca; Surat ataupun piliha), Hafalan hadist-hadist pilihan, Hafalan Do’a, atau seperti yang kami jelaskan sebelumnya dalam bahasan “Usaha da’wah dan Ulama-Ulama Tempatan”. Kita juga dapat membuka ta’lim syarh Riyadhush Sholihin, ataupun Tafsir dsb. Sehingga hal –hal ini akan menjadi PENDORONG terhadap amal-amal maqomi itu sendiri. BIASANYA ILMU akan menjadi salah satu PENDORONG yang cukup kuat untuk memberikan kerangkan aktifitas kerja yang kita jalankan.</p>
<p>Disamping memang juga perlu terbiasa dengan Dzikir, baca Quran, Sholat malam bersama di masjid sendiri, ataupun bahkan buka puasa bersama, dsb, hal-hal seperti ini menjadi PENDORONG juga untuk dapat menjalankan kerja-kerja amal maqomi kita.</p>
<p>(1) 2x ta’lim harian, di masjid 1x dan di rumah 1x (2) 2x jaulah mingguan, di masjid sendiri dan di masjid tetangga, (3) 2,5 jam harian, khususi kepada kaum muslimin dan amal masjid lainnya (4) musyawarah harian di masjid sendiri, (5) 3 hari khuruj fisabilillah di kota sendiri. Lima kerja ini yang perlu kita TUNTASKAN SECARA SEMPURNA. Dan jangan lupa dengan hal-hal lainnya yang dapat mendukung aktifitas kita, apakah ketika di maqomi ataupun Khuruj.</p>
<p>Jika banyak anak-anak muda ataupun siapapun yang banyak hafalan quran, hadits dan do’a dan bahkan ucapana Ulama dan mereka-mereka ini keluar/khuruj, maka tentunya akan dapat memberikan kesan yang baik terhadap kaum muslimin lainnya, ketika bayan magrib, bayan shubuh, taqrir, dsb. Kami mempunyai niat untuk menyusun hafalan itu yang mana memang hal itu untuk kami sendiri dan keluarga kami juga. Mudah-mudahan dapat disebarkan dengan baik nantinya. SEBENARNYA SUDAH TERSEDIA melalui kitab-kitab Ulama dulu, hanya saja mungkin kita merasakan terlalu berat padahal masih bisa dipilih-pilih oleh kita.</p>
<p>5 Amal maqomi kita semua berusaha menyempurnakannya dengan baik, TETAPI kita perlu juga menyiapkan diri kita untuk dapat memberikan KESAN YANG BAIK dengan ILMU, IBADAH, AKHLAQ, MUAMALAT. Sehingga tidak lagi muncul kalimat-kalimat yang kurang baik terhadap usaha da’wah ini.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah pernah menjelaskan dalam kitab Malfudhotnya, bahwa jama’ah rombongan khuruj yang baik itu terdapat dua orang yang perlu membawa rombongan dengan baik, yaitu Amir Rombongan yang dapat mengelola jama’ah dengan baik, dan Ulama yang dapat memberikan bimbingan ketika sedang keluar. Mudah-mudahan di waktu akan datang SETIAP ROMBONGAN keluar akan ada ulamanya, dan hal itu terjadi melalui MASJID SENDIRI.</p>
<p>Sehingga memang peran MAQOMI itu sangat penting untuk kerja-kerja da’wah ini.</p>
<p><strong>7.	Usaha da’wah dan Internet</strong></p>
<p>Kawan-Kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Internet ini telah memberikan manfaat banyak bagi kaum muslimin dan ummat manusia, TETAPI juga Internet menjadi sarana global yang LUAR BIASA terjadi penyebaran maksyiat kepada Allah swt dan Rasulullah SAW. Facebook misalnya, beberapa waktu lalu begitu gencar perihal hal-hal yang merugikan banyak manusia. Apapun bentuk sarananya SEBENARNYA bergantung dari orang yang memanfaatkannya.</p>
<p>Telepon juga bisa menjadi sarana yang tidak benar, kalau orang yang mempunyai niat yang tidak benar. Dan banyak lagi sarana-sarana bermanfaat untuk kehidupan manusia, TETAPI akhirnya menjadi tidak benar penggunaannya. Misalkan kasus ATM yang terjadi beberapa waktu lalu, sehingga banyak orang merasakan kehilangan uangnya dari bank. Kita tidak dapat mengatakan bahwa ATM itu tidak bermanfaat, karena ada pencurian melalui ATM. Sama hal dengan Internet juga.</p>
<p>Usaha Da’wah ini sudah jelas tujuannya yaitu MENGEMBALIKAN kesadaran terhadap kesuksesan dan kejayaan di dunia dan akherat dengan IMAN dan AMAL SHOLEH. Sehingga aktifitasnya itu melalui proses langsung dan aktualisasi langsung, karena orang yang menjalankan usaha da’wah dan juga melibatkan kaum muslimin lainnya dalam usaha da’wah ini untuk lebih memahami tujuan utama itu, KEJAYAAN itu bergantung sejauh mana kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Inilah yang selalu ditekankan berulang-ulang, bahkan kita juga diminta untuk menjaga niat kita yaitu memperbaiki diri. Oleh karena itu, usaha da’wah ini dilakukan secara langsung, memerlukan pengorbanan, ijtima’iyyah, dsb. Dengan harapan, Mudah-mudahan Allah swt memberikan rahmat dan kemudahan kepada kita untuk menjadi Muslim yang baik dan sholeh, dan juga kepada kaum muslimin lainnya serta ummat manusia lainnya. Alhamdulillah, kita sendiri melihat hal itu dan mendengar perkembangannya.</p>
<p>Internet merupakan sarana, bisa dipergunakan untuk kebaikan ataupun maksyiat. Artinya bergantung kepada ORANGNYA yang menggunakan dan memanfaatkan Internet itu. Sekarang telah banyak  Ulama ataupun penuntut Ilmu Kaum Muslimin menyebarkan pelajaran-pelajaran Islam melalui Internet. Kita bersyukur bahwa Ulama/ustadz dan juga penunut Ilmu itu merupakan orang-orang baik yang memanfaatkan sarana Internet untuk kebaikan.</p>
<p>BERAPA BANYAK Ulama/Ustadz/Penuntut Ilmu DIBANDINGKAN dengan Ummat Manusia dalam menggunakan Internet? Coba bandingkan! SANGAT KECIL SEKALI rationya. Oleh karena itu, usaha da’wah TIDAK AKAN MENGGUNAKAN sarana internet untuk sarana ijtima’iyyah, karena hal itu hanya berlaku untuk kalangan tertentu saja dalam menyebarkan Islam kepada kaum muslimin lainnya. Kalau ada yang menggunakan internet untuk perkara usaha da’wah, hal itu bukan merupakan aktifitas ijtimaiyyah. Dan tentunya ketika berbagi perihal usaha da’wah di Internet, maka tentunya perlu diperhatikan TERTIB, USHUL, dan HIKMAH itu yang banyak diajarkan para masyaikh/Ulama/kalangan sepuh dalam usaha da’wah ini. Sehingga isinya tidak bertentangan dengan kaidah ijtima’iyyah itu sendiri.</p>
<p>YANG Dikuatirkan itu adalah banyaknya tulisan yang akhirnya berbeda dengan Tertib, Ushul dan Hikmah Ijtima’iyyah itu sendiri. Internet ini sangat berbeda dengan menulis buku, karena kalau menulis buku biasanya orang sudah dikenal terhadap kemampuannya dan pengetahuannya, sedangkan Internet BEBAS dan tidak membeda-bedakan hal itu, apalagi setelah ada facebook, blogging dsb. Inilah yang kami rasa kita harus berhati-hati dan tentunya diri kita masing-masing perlu terus mendalami usaha da’wah dan juga Al-Islam dengan baik.</p>
<p>Ada dua hal lainnya yang memang KAMI SENDIRI KUATIR dengan memanfaatkan internet yang berkaitan dengan usaha da’wah.</p>
<p>Pertama, dapat meningkatkan PERDEBATAN-PERDEBATAN di kalangan kaum muslimin. Karena tentunya banyak juga orang yang kurang senang dengan usaha da’wah ini menyebarkannya melalui Internet, Email dsb. Dan akhirnya menimbulkan kontra-produtif di antara kaum muslimin. DAN KITA sendiri akhirnya terfokus pada masalah-masalah itu yang banyak dilontarkan orang yang belum paham. Sehingga kita tersita waktu untuk hal-hal yang kontra-prodktif.</p>
<p>Kedua, dapat meningkatkan “DAYA CIUM” dari musuh-musuh Islam terhadap usaha da’wah Islam ini. Siapa orang yang senang dengan keberhasilan-keberhasilan musuhnya? Tidak ada yang senang dengan keberhasilan-keberhasilan dari musuhnya, bahkan orang-orang munafiq di dalam tubuh kaum musliminpun tidak akan senang dengan keberhasilan kaum muslimin sendiri. Sehingga menlontarkan kalimat-kalimat yang memancing.</p>
<p>Beberapa situs yang berkaitan dengan usaha da’wah ini telah banyak, bahkan dikelola secara baik oleh kalangan terpelajar. http://binatiih.com. Merupakan situs bahasa Arab yang kami sering berkunjung ke sana dan banyak pandangan-pandangan Ulama situs itu. Bahkan kami mendapatkan penjelasan seorang ahli tafsir di timur tengah, ketika menjelaskan satu ayat yang berkaitan dengan amal maqomi, rumah dan masjid kita. Disamping ada informasi buku-buku bahasa arab perihal usaha da’wah.</p>
<p><strong>8.	Kesimpulan</strong></p>
<p>Kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Usaha da’wah ini akan terus  berjalan, kita bukan mencari MAKHSYUR tetapi mencari MAQBUL. Sekarang ini usaha da’wah yang senyap awalnya ini SUDAH TERBUKA luas di seluruh dunia secara global, bahkan banyak berita internasional berkaitan dengan usaha da’wah ini disebarkan oleh pencari berita dari berbagai media cetak dan elektronik.</p>
<p>Pertemuan Ijtima’ dunia yang melibatkan jutaan kaum muslimin TENTUNYA mengundang banyak pihak, dan berita ini tersebar dengan luas dalam media cetak dan elektronik. PEMBANGUNAN masjid termegah dan terbesar di Inggris, jelas mengundang perhatian seluruh dunia. Karena pembangunan ini selesainya akan bersamaan dengan OLIMPIADE 2012 di Inggris.</p>
<p>Meskipun sarana Internet merupakan kegiatan infirodhiyyah, maka tetap kita menggunakannya secara baik dan ketika berhubungan dengan usaha da’wah. Maka perhatikan dengan baik TERTIB, USHUL, dan HIKMAH usaha da’wah. Agar kita tidak menjadi sebab muncul fitnah dalam tubuh kaum muslimin, tetapi memberikan hal-hal yang baik.</p>
<p>Sama halnya dengan aktifitas infirodhiyyah lainnya, seperti bekerja, sekolah, mengajar, berdagang dsb, kita harus melakukannya secara baik pula. Agar hal itu tidak menjadi fitnah terhadap usaha da&#8217;wah ini. Dari sekian banyak kejadian yang kami hadapi dan juga dapatkan secara informasi langsung dan tidak langsung, maka aktifitas infirodhiyyah ini sangat banyak memberikan kesan kepada usaha da&#8217;wah ini. Begitupun sebaliknya, sehingga kita memang dituntut untuk TERTIB dan HIKMAH dalam kedua hal itu.</p>
<p>Dan juga TERUSLAH BANYAK BELAJAR AL-ISLAM, sehingga kita dapat menjalankan kehidupan ini dengan landasan Al-Islam.</p>
<p>Terimakasih atas perhatiannya, dan jangan sungkan-sungkan untuk kontak kami jika ada yang perlu disampaikan.</p>
<p>Wasasalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Mohamad Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=310&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/03/07/bagaimana-kita-menyikapi-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pandangan aneh dan berlebihan terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh karena beberapa hadist/keterangan</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/02/19/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/02/19/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 00:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Analisa Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=305</guid>
		<description><![CDATA[Kepada kaum muslimin yang berbahagia,
Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Para ulama terhadap satu perkara belum tentu mempunyai pandangan yang sama, dan hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa (baca: ijtihad) yang dibangunnya oleh Ulama yang bersangkutan. Sama halnya dengan TINGKATAN hadist Rasulullah SAW belum tentu sama seluruh ulama terhadap tingkatan tersebut, disamping terdapat yang disepakati para Ulama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada kaum muslimin yang berbahagia,</p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Para ulama terhadap satu perkara belum tentu mempunyai pandangan yang sama, dan hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa (baca: ijtihad) yang dibangunnya oleh Ulama yang bersangkutan. Sama halnya dengan TINGKATAN hadist Rasulullah SAW belum tentu sama seluruh ulama terhadap tingkatan tersebut, disamping terdapat yang disepakati para Ulama sendiri.</p>
<p>Sebagian kaum muslimin (baca: salafi) selalu menyampaikan pandangan bahwa kitab fadhilah amal, Maulana Dzakaria Rah, mengajarkan hadits-hadist dhoif, maudhu, mungkar. Sehingga akhirnya dibuat satu kesimpulan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh (baca: orang menyebutnya jama&#8217;ah tabligh) mengajarkan kesesatan. Satu pandangan dan kesimpulan yang terlalu gegabah dan tergesa-gesa.</p>
<p><span id="more-305"></span>Di bawah ini selalu dikomentari kalangan Sebagian kaum muslimin (baca: salafi).</p>
<blockquote><p>Disebutkan dalam kitab Fadha`il Al-A’mal, bab Fadhilah Adz-Dzikr2 hadits dari ‘Umar bin Al-Khaththab z berkata: Rasulullah n bersabda:</p>
<p>Ketika Adam telah berbuat dosa, ia pun mengangkat kepalanya ke atas langit kemudian berdoa: “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad, ampunilah dosaku.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?” Maka Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu, dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. Maka akupun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu dari orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu, kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”</p>
<p>Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa menerjemahkan takhrij hadits yang disebutkan Al-Kandahlawi. Dia berkata setelah itu: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab Ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Durr, dan dalam Majma’ Az-Zawa`id (disebutkan): Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, dan dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yang lainnya berupa hadits yang masyhur: “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini”, Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”</p></blockquote>
<p>Memang cukup disayangkan terjemahan fadhilah amal itu TIDAK MENTERJEMAHKAN bagian penjelasan-penjelasan yang berkaitan periwayatan hadist Rasulullah SAW, MESKIPUN dalam kitab itu sangat jelas dan tertulis dengan baik. Mudah-mudahan di waktu akan datang akan diterjemahkan dengan baik, sehingga kaum muslimin tidak serampangan menilai terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Hadits di atas tersebut terdapat dalam pasal 3 kitab fadhilah dzikir no hadist 28, dan merupakan bagian dari 40 hadist yang digunakan oleh Maulana Dzakaria Rah untuk menjelaskan perihal kepentingan dan keutamaan kalimat Thoyyibah. Kita pertama kali harus MEMPELAJARI DENGAN BAIK seluruh 40 hadist itu apa yang mau disampaikan oleh penulisnya dengan baik.</p>
<p>Disamping itu juga kita perlu memperhatikan penjelasan-penjelasan (baca: syarah hadist) dari 40 hadits yang bersangkutan dengan baik, serta perhatikan juga bagaimana pandangan ulama terhadap tingkatan hadist tersebut dengan baik. Dengan 3 hal perhatian kita tersebut, diharapkan kita tidak membuat kesimpulan ataupun penilaian yang serampangan terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh, apalagi sampai menyebutkan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh mengajarkan pada kesesatan.</p>
<p>3 hal yang harus diperhatikan dengan baik yaitu :</p>
<p>1. Pelajari seluruh 40 hadist Rasulullah SAW berkaitan dengan keutamaan kalimat Thoyyibah</p>
<p>2. Pelajari seluruh penjelasan-penjelasan (baca: syarh hadist) terhadap 40 hadist Rasulullah SAW berkaitan dengan kalimat Thoyyibah</p>
<p>3. Pelajari seluruh periwayatan dari 40 hadist tersebut yang dijelaskan dalam kitab itu</p>
<p>Hadits yang diatas itu memang dikeluarkan seperti yang dijelaskan di atas, TETAPI terdapat penjelasan ulama lainnya yang menjelaskan bahwa hal itu tidak maudhu oleh Imam Suyuthi Rah dan secara makna shohih oleh Al-Qari Rah dalam penjelasan hadist itu sendiri tertulis dengan baik, sedangkan ulama-ulama yang disebutkan awal-awalnya tempat dikeluarkannya hadist ini. Penulis, Maulana Dzakaria Rah, menjelaskan perihal hadist itu dalam kitab itu bahwa hadist yang serupa ini cukup banyak riwayatnya, sehingga tentunya beliau mengambil satu kesimpulan sesuai dengan keahlian yang beliau miliki.</p>
<p>Dalam 40 hadist yang dicantumkan itu banyak yang shohih juga. Dan perihal hadist dhoif ini banyak Ulama yang berbeda pandangan dalam menyikapinya. Seperti Imam Nawawi Rah menjelaskan perihal hadist dhoif dapat diamalkan dalam urusan keutamaan amal. Dan Maulana Dzakaria Rah mengambil pandangan ini secara baik, dan masih banyak lagi Ulama lainnya yang membolehkan perihal hadist dhoif dalam perkara keutamaan amal.</p>
<p>Sehingga kesimpulan yang mengatakan bahwa fadhilah amal mengajarkan pada kesesatan, maka jelas hal ini terlalu serampangan dan tergesa-gesa. Karena akhirnya mereka sendiri harus mengambil kesimpulan bahwa para Imam lainnya juga mengajarkan kesesatan. Imam Syutuhi Rah sendiri tidak mengatakan sebagai hadist maudhu dalam hal di atas, jika hanya diambil kesimpulan sederhana bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh mengajarkan kesesatan, maka Imam Suyuthi Rah juga mengajarkan kesesatan. Begitupun juga dengan Imam-Imam lainnya yang diambil pandangannya.</p>
<p>Sehingga kita tidak boleh serampangan menilai terhadap kitab fadhilah amal, karena kitab ini juga mempunyai sumber-sumber kitab yang disusun para Ulama sebelumnya. Oleh karena itu perhatikan 3 hal di atas itu dengan baik.</p>
<p>Jika ada di kalangan kaum muslimin tidak menggunakan hadist no. 28 itu, tidak ada masalah karena masih ada hadist lainnya yang menjelaskan dengan baik. TETAPI yang perlu kita BERHATI-HATI adalah menilai kaum muslimin lainnya dengan mengatakan &#8220;mengajarkan kesesatan dan kemungkaran&#8221; dikarenakan berbeda pandangan dalam satu hal. Karena hal ini merupakan ketergesa-gesaan dalam menilai Ummat Islam.</p>
<p>Dan seharusnya kaum muslimin bersyukur dengan adanya usaha da&#8217;wah dan tabligh, dan berusaha membantu rombongan-rombongan da&#8217;wahnya dengan baik; karena asbab dari da&#8217;wah-da&#8217;wah yang dilakukannya telah banyak kaum muslimin yang tadinya jauh dengan amal-amal Islam dan sekarang mereka ini telah kembali ke pangkuan Islam dengan penuh semangat Iman dan Amal sholeh, bahkan tidak hanya di daerah mayoritas Islam seperti Indonesia, Malaysia, tetapi bahkan di negara-negara Eropa, Amerika, banyak kaum muslimin yang kembali ke pangkuan Islam termasuk turuan arab sekalipun.</p>
<p>Dan bahkan banyak kaum-kaum lainnya yang tadinya bukan muslim, mereka menjadi senang memilih Al-Islam dan menjadi muslim. Dan mereka juga aktif melibatkan diri dalam kerja-kerja da&#8217;wah. Oleh karena itu, sebaiknya kalangan salafi tidak tergesa-gesa dan serampangan menilai kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh, karena hal itu sama saja dengan berusaha memadamkan semangat da&#8217;wah Ilallah.</p>
<p>Meskipun banyak yang tadinya jauh dengan Al-Islam dan bahkan banyak maksyiat kepada Allah swt, dan Alhamdulillah setelah berkenalan usaha da&#8217;wah dan tabligh akhirnya mereka bisa kembali ke pangkuan Al-Islam. Tetapi selanjutnya menjadi berpikiran aneh terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh setelah berkenalan dengan sebagian kalangan salafi dikarenakan doktrin-doktrinnya yang selalu dibangun terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Sehingga lupa terhadap jasa dan asbab yang menjadikan mereka bisa kembali ke pangkuan Islam. Bisa dibayangkan jika tidak ada usaha da&#8217;wah dan tabligh, maka mereka-mereka ini akan terus dalam keadaan masyiat kepada Allah swt dan jauh dari Al-Islam. Jadi sangat beruntunglah orang-orang yang bisa menyelamatkan mereka-mereka dan mengajak mereka kembali ke pangkuan Islam, kalau tidak mereka-mereka ini masih dalam keadaan masyiat kepada Allah swt.</p>
<p>Oleh karena itu, kawan-kawan yang awalnya tidak mengenal agama dan selanjutnya mengenal agama meskipun sedikit karena asbab usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, selanjutnya malahan mempunyai pandangan aneh terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini, setelah berkenalan sebagian salafi karena doktrin-doktrinnya ataupun pergerakan lainnya. COBA MERENUNG SEDIKIT SAJA, kira-kira kalau tidak ada usaha da&#8217;wah dan tabligh yang mengajak kawan-kawan, apakah kawan-kawah masih dalam lupa dan jauh dengan Allah swt atau bagaimana?</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=305&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/02/19/pandangan-aneh-dan-berlebihan-terhadap-usaha-dawah-dan-tabligh-karena-beberapa-hadistketerangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>System Thinking dan Usaha da&#8217;wah &amp; Tabligh</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/29/system-thinking-dan-usaha-dawah-tabligh/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/29/system-thinking-dan-usaha-dawah-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 00:32:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=300</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Kami berikan pandangan terhadap beberapa pertanyan yang disampaikan Sdr. Indah Nur Aini, dan hal ini cukup baik untuk disampaikan di sini karena pertanyaannya cukup sangat ilmiah dan berkaitan ilmu modern. Sehingga kami kopikan dalam situs kami untuk membuka wacana. Pertanyaan ini terdapat di http://fospi.wordpress.com/2007/10/02/gerakan-tabligh-dan-realitas-dakwah/#comment-943.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Membaca uraian sinkat dari sdr. Haitan, saya jadi tersenyum-senyum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Kami berikan pandangan terhadap beberapa pertanyan yang disampaikan Sdr. Indah Nur Aini, dan hal ini cukup baik untuk disampaikan di sini karena pertanyaannya cukup sangat ilmiah dan berkaitan ilmu modern. Sehingga kami kopikan dalam situs kami untuk membuka wacana. Pertanyaan ini terdapat di http://fospi.wordpress.com/2007/10/02/gerakan-tabligh-dan-realitas-dakwah/#comment-943.</p>
<blockquote><p>Assalamu’alaikum wr. wb.</p>
<p>Membaca uraian sinkat dari sdr. Haitan, saya jadi tersenyum-senyum sendiri. Sdr. Haitan seolah-olah telah menemukan satu kesamaan praktek kehidupan antara JT dengan kehidupan Rasulullah SAW dengan menggunakan konsep/ilmu “SYSTEM THINKING VIEW” yang katanya merupakan konsep/ilmu “MODERN”. Terus terang saya terkaget-kaget mebacanya. Mengingat telah lama saya berkecimpung dalam area “BADAN SERTIFIKASI” dan “MANAGEMENT SYSTEM CONSULTANT” tapi tidak menemukan apa yang disebut “SYSSTEM THINKING VIEW”</p>
<p>Ada beberapa pertanyaan yang mungkin Sdr. Haitan bisa jawab:<br />
1. Literatur mana yang sdr. pakai dalam mempelajari apa yang sdr. sebut “SYSTEM THINKING VIEW”.<br />
2. Kenapa sdr. menyebut ilmu ini sebagai ilmu modern. Sejauh mana kemoderenannya.<br />
3. Bagaimana sdr. bisa menunjukkan kepada kami bahwa ilmu “SYTEM THINKING VIEW” bisa membuktikan kesamaan praktek kehidupan JT dengan praktek kehidupan Rasulullah SAW.</p>
<p>Mungkin ini saja dulu..nanti bisa kita lanjutkan setelah anda memberi penjelasan. Saya yakin jawabannya tidak perlu terlalu panjang karena pertanyaanya memang gampang.</p>
<p>Syukron.</p>
<p>Indah Nur Aini.</p></blockquote>
<p><span id="more-300"></span>Wa’alaikumussalam wr. wb.</p>
<p>Dear Indah Nur Aini dan Kawan-Kawan,</p>
<p>1.	Bidang “System Thinking View” biasanya dilaksanakan untuk kalangan pakar yang mendalami satu kejadian melalui pendekatan kesisteman untuk menganalisa dan selanjutnya melakukan tiruan melalui simulasi. Salah satu referensinya adalah “Business Dynamics: System Thinking for Complex World”, John D. Steman, MIT, Irwin-McGraw-Hill, 2000. Bidang ini sangat penting untuk memahami  kejadian/proses/prosedur  secara menyeluruh, sehingga akan mudah untuk menyusun skenario-skenarionya. Mungkin boleh juga kawan-kawan mendalami bidang “Socio-Technical Thinking” yang merupakan integrasi antara pendekatan sosial dengan teknik untuk menerapkan satu proses ke dalam sistem yang dibangun. Wikipedia memasukan “System Thinking” pada alamatnya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking">http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking</a>, silahkan pelajari dengan baik untuk menambah wacana dan pendalaman ilmu.</p>
<p>2.	Ilmu ini dipandang sebagai ilmu modern. Apakah itu modern? Untuk mengetahui definisi Modern, maka silahkan masuk ke <a href="http://www.thefreedictionary.com/modern">http://www.thefreedictionary.com/modern</a>. Sekarang ini atau di jaman sekarang ini, selalu kita berhubungan dengan kata “sistem”, misalkan sistem komputer, sistem operasi, sistem database, sistem jaringan, content management system, sistem manajemen, sistem informasi, dsb. Artinya orang berusaha membangun tiruan melalui pendekatan sistem untuk bisa menjelaskannya. Dan jelas dari waktu ke waktu, konsep “System Thinking” ini akan terus masuk ke dalam kehidupan manusia nantinya.</p>
<p>3.	Maulana Ilyas Rah Ulama yang membangkitkan kembali pola da’wah dengan silaturahmi dan masjid. Apakah hal ini begitu saja pola usaha da’wah dan tabligh diperolehnya? Itu tidak mungkin, TETAPI melalui proses kajian dan analisa yang dalam terhadap berbagai sumber-sumber Islam, dan bahkan beliau harus langsung ke lapangan untuk melakukan riset ke tataran arab. Coba perhatikan dengan ayat di bawah ini yang sangat makhsyur At-Taubah (9): 100.</p>
<p><strong>“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (At-Taubah (9): 100)</strong></p>
<p>Setiap orang, bahkan Ulama, akan mempunyai pendalaman yang berbeda dengan ayat tersebut. Bahkan di kalangan para Shahabat RA sendiri akan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap satu kejadian, mungkin kisah Ummar Bin Khatab RA ketika mengajukan pengumpulan dan penulisan Al-quran kepada Abu Bakar RA. Bagaimana Ummar RA bisa menganalisa dan akhirnya mengambil satu keputusan dalam hal itu. Apakah semua para Shahabat RA mempunyai pikiran seperti Ummar RA? Bahkan perhatikan kata-kata yang disampaikan Abu Bakar RA di kala itu?</p>
<p>Mungkin bagi sebagian kalangan ayat itu hal biasa, TETAPI untuk sebagian kalangan ULAMA itu hal yang sangat memberikan kerangka untuk membangun analisa (menguraikan) dan sintesa (membangun ulang melalui peniruan). TETAPI kita TIDAK BOLEH merendahkan Ulama-Ulama lainnya ketika berbeda pandangan, karena hal itu JELAS BERTENTANGAN dengan ayat At-Taubah (9): 100 sendiri.</p>
<p>4.	Banyak sekarang ini sebagian kalangan kaum muslimin (kebanyakannya baca: salafi) selalu memberikan pandangan terhadap usaha da’wah dan tabligh ini. Dan kami sendiri hanya menyayangkan, karena penilaian itu terlalu sederhana dan tanpa analisa dan sintesa yang sangat dalam dan teliti. Kami sebutkan beberapa aktifitas dalam usaha da’wah dan tabligh ketika khuruj:</p>
<p>a.	Sebelum Khuruj selalu terdapat Bayan Hidayah (penjelasan petunjuk) bagaimana da’wah dan mengisi waktu dengan baik ketika khuruj. Apakah melakukan aktifitas “Bayan Hidayah” ini ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Kami berikan salah satu kisah yang sangat makhsyur perihal pesan dan nasehat Rasulullah SAW kepada Muadz Bin Jabal RA ketika akan dikirim ke Yaman. Ini salah satu bentuk “Bayan Hidayah” yang biasa Rasulullah SAW memberikan pesan kepada para Shahabat RA ketika akan menjalankan aktifitas da’wah dan pengajaran di daerah lain, kisah-kisah ini sangat banyak.</p>
<p>b.	Sebelum pulang ke rumah dari aktifitas Khuruj, maka selalu diberikan Bayan Tangguh (penjelasan dan nasehat, dan juga meminta karguzari atau aktifitas ketika Khuruj di daerah tertentu). Apakah aktifitas “bayan tangguh” ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Orang yang tidak pernah membaca kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tidak terbiasa dengan kisah-kisah bagaimana para Shahabat RA biasa menyampaikan Karguzari atau mengisahkan pengalamannya.</p>
<p>5.	Dan masih banyak lagi aktifitas ketika KHURUJ berusah MENIRU-NIRU dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Itulah yang dilakukan dalam usaha da’wah dan tabligh. Dan kami menemukan hal itu dengan baik, jika mempelajari kitab-kitab para Ulama dulu. Banyak orang menilai, tetapi terlalu sederhana dan ringkas. Kami untuk memahami usaha da’wah dan tabligh akhirnya kami menggunakan “SYSTEM THINKING” agar lebih bisa memahaminya, karena usaha da’wah dan tabligh merupakan tiruan-tiruan kehidupan dari sekian banyak kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>6.	Caranya adalah IKUT, MELIBATKAN DIRI ke dalam aktifitas dan musyawarah, dan KAMI pelajari beberapa kitab ulama dulu untuk memberikan gambarannya karena kebetulan kami mempunyai cukup banyak kitab. Dan ternyata itu memberikan gambaran yang menarik, itulah kami selalu dorong kaum muslimin untuk mengikuti usaha da’wah dan juga kawan-kawan yang telah tejun dalam usaha da’wah untuk selalu berusaha memegangnya dengan baik. Salah satu hasilnya yang kami peroleh itu, adalah 4M. Silahkan kembangkan dan dalami dengan baik.</p>
<p>7.	Salah satu yang selalu ditekankan adalah MUSYAWARAH dalam usaha da’wah ini. Dan kita bisa mendapatkan banyak keterangan dalam al-quran dan as-sunnah perihal MUSYAWARAH.  Bahkan kalangsan yang selalu menilai usaha da’wah saat ini (baca: salafi) banyak menimbulkan kontra-produktif di dalam kalangannya sendiri, karena TIDAK MENGHIDUPKAN MUSYAWARAH. Padahal hal itu merupakan sunnah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>8.	Kami menganjurkan kepada kaum muslimin termasuk kalangan ahli da’wah dan tabligh untuk mendalami kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah. Karena setelah lama kami perhatikan dengan baik kitab itu, maka kami mendapatkan gambaran yang sangat baik terhadap aktifitas-aktifitas ketika khuruj. Dan itulah usaha da’wah dan tabligh ini menjadi merupakan latihan amal-amal sholeh untuk meningkatkan iman itu sendiri. Dan sangat cocok dengan judul itu “Riyadhush Sholihin” dengan hal yang selalu ditanamkan yaitu “memperbaiki diri”. Kapan kami mendapatkan gambaran itu? Guru kami menasehati untuk selalu membaca kitab itu, dan setelah dibaca bolak-balik dan berkali, akhirnya SEDIKIT ada gambaran terhadap usaha da’wah ini. Itulah kami sangat senang dengan tulisan-tulisan dari Imam Nawawi Rah ini. Mudah-mudahan beliau dilapangkan kuburnya dan juga mendapatkan rahmat Allah swt.</p>
<p>9.	“SYSTEM THINKING” sudah kami pergunakan dalam berbagai hal termasuk dalam R&amp;D bidang kami sendiri, silahkan perhatikan http://haitanrachman.wordpress.com.  Dan kami dengan adanya pendekatan ini, kami mendapatkan satu proses 4M (Muhasabah, Mudzakarah, Musyawarah, dan Mujahadah) melalui usaha da’wah ini setelah sekian lama dalami. Silahkan kaji dengan ilmu yang kawan-kawan pelajari, apakah teori kami 4M itu keliru dan tidak ada landasannya.</p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>IN</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	mso-themecolor:hyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} span.EmailStyle16 	{mso-style-type:personal; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-unhide:no; 	mso-ansi-font-size:11.0pt; 	mso-bidi-font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	color:windowtext;} span.gen 	{mso-style-name:gen; 	mso-style-unhide:no;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:658731091; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:447666166 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-language:EN-US;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Wa’alaikumussalam wr. wb.</p>
<p class="MsoNormal">Dear Indah Nur Aini dan Kawan-Kawan,</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>1.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Bidang “System Thinking View” biasanya dilaksanakan untuk kalangan pakar yang mendalami satu kejadian melalui pendekatan kesisteman untuk menganalisa dan selanjutnya melakukan tiruan melalui simulasi. Salah satu referensinya adalah “Business Dynamics: System Thinking for Complex World”, John D. Steman, MIT, Irwin-McGraw-Hill, 2000. Bidang ini sangat penting untuk memahami <span> </span>kejadian/proses/prosedur <span> </span>secara menyeluruh, sehingga akan mudah untuk menyusun skenario-skenarionya. Mungkin boleh juga kawan-kawan mendalami bidang “Socio-Technical Thinking” yang merupakan integrasi antara pendekatan sosial dengan teknik untuk menerapkan satu proses ke dalam sistem yang dibangun. Wikipedia memasukan “System Thinking” pada alamatnya <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking">http://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking</a>, silahkan pelajari dengan baik untuk menambah wacana dan pendalaman ilmu.</p>
<p class="MsoListParagraph">
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>2.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Ilmu ini dipandang sebagai ilmu modern. Apakah itu modern? Untuk mengetahui definisi Modern, maka silahkan masuk ke <a href="http://www.thefreedictionary.com/modern">http://www.thefreedictionary.com/modern</a>. Sekarang ini atau di jaman sekarang ini, selalu kita berhubungan dengan kata “sistem”, misalkan sistem komputer, sistem operasi, sistem database, sistem jaringan, content management system, sistem manajemen, sistem informasi, dsb. Artinya orang berusaha membangun tiruan melalui pendekatan sistem untuk bisa menjelaskannya. Dan jelas dari waktu ke waktu, konsep “System Thinking” ini akan terus masuk ke dalam kehidupan manusia nantinya.</p>
<p class="MsoListParagraph">
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>3.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]-->Maulana Ilyas Rah Ulama yang membangkitkan kembali pola da’wah dengan silaturahmi dan masjid. Apakah hal ini begitu saja pola usaha da’wah dan tabligh diperolehnya? Itu tidak mungkin, TETAPI melalui proses kajian dan analisa yang dalam terhadap berbagai sumber-sumber Islam, dan bahkan beliau harus langsung ke lapangan untuk melakukan riset ke tataran arab. Coba perhatikan dengan ayat di bawah ini yang sangat makhsyur At-Taubah (9): 100.</p>
<p class="MsoListParagraph">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;">“<span class="gen">Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen">Setiap orang, bahkan Ulama, akan mempunyai pendalaman yang berbeda dengan ayat tersebut. Bahkan di kalangan para Shahabat RA sendiri akan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap satu kejadian, mungkin kisah Ummar Bin Khatab RA ketika mengajukan pengumpulan dan penulisan Al-quran kepada Abu Bakar RA. Bagaimana Ummar RA bisa menganalisa dan akhirnya mengambil satu keputusan dalam hal itu. Apakah semua para Shahabat RA mempunyai pikiran seperti Ummar RA? Bahkan perhatikan kata-kata yang disampaikan Abu Bakar RA di kala itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen">Mungkin bagi sebagian kalangan ayat itu hal biasa, TETAPI untuk sebagian kalangan ULAMA itu hal yang sangat memberikan kerangka untuk membangun analisa (menguraikan) dan sintesa (membangun ulang melalui peniruan). TETAPI kita TIDAK BOLEH merendahkan Ulama-Ulama lainnya ketika berbeda pandangan, karena hal itu JELAS BERTENTANGAN dengan ayat At-Taubah (9): 100 sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>4.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Banyak sekarang ini sebagian kalangan kaum muslimin (kebanyakannya baca: salafi) selalu memberikan pandangan terhadap usaha da’wah dan tabligh ini. Dan kami sendiri hanya menyayangkan, karena penilaian itu terlalu sederhana dan tanpa analisa dan sintesa yang sangat dalam dan teliti. Kami sebutkan beberapa aktifitas dalam usaha da’wah dan tabligh ketika khuruj:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>a.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Sebelum Khuruj selalu terdapat Bayan Hidayah (penjelasan petunjuk) bagaimana da’wah dan mengisi waktu dengan baik ketika khuruj. Apakah melakukan aktifitas “Bayan Hidayah” ini ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Kami berikan salah satu kisah yang sangat makhsyur perihal pesan dan nasehat Rasulullah SAW kepada Muadz Bin Jabal RA ketika akan dikirim ke Yaman. Ini salah satu bentuk “Bayan Hidayah” yang biasa Rasulullah SAW memberikan pesan kepada para Shahabat RA ketika akan menjalankan aktifitas da’wah dan pengajaran di daerah lain, kisah-kisah ini sangat banyak.</span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>b.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Sebelum pulang ke rumah dari aktifitas Khuruj, maka selalu diberikan Bayan Tangguh (penjelasan dan nasehat, dan juga meminta karguzari atau aktifitas ketika Khuruj di daerah tertentu). Apakah aktifitas “bayan tangguh” ASAL-ASALAN tanpa ada kisahnya di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA? Orang yang tidak pernah membaca kisah-kisah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA tidak terbiasa dengan kisah-kisah bagaimana para Shahabat RA biasa menyampaikan Karguzari atau mengisahkan pengalamannya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>5.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Dan masih banyak lagi aktifitas ketika KHURUJ berusah MENIRU-NIRU dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Itulah yang dilakukan dalam usaha da’wah dan tabligh. Dan kami menemukan hal itu dengan baik, jika mempelajari kitab-kitab para Ulama dulu. Banyak orang menilai, tetapi terlalu sederhana dan ringkas. Kami untuk memahami usaha da’wah dan tabligh akhirnya kami menggunakan “SYSTEM THINKING” agar lebih bisa memahaminya, karena usaha da’wah dan tabligh merupakan tiruan-tiruan kehidupan dari sekian banyak kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>6.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Caranya adalah IKUT, MELIBATKAN DIRI ke dalam aktifitas dan musyawarah, dan KAMI pelajari beberapa kitab ulama dulu untuk memberikan gambarannya karena kebetulan kami mempunyai cukup banyak kitab. Dan ternyata itu memberikan gambaran yang menarik, itulah kami selalu dorong kaum muslimin untuk mengikuti usaha da’wah dan juga kawan-kawan yang telah tejun dalam usaha da’wah untuk selalu berusaha memegangnya dengan baik. Salah satu hasilnya yang kami peroleh itu, adalah 4M. Silahkan kembangkan dan dalami dengan baik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>7.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Salah satu yang selalu ditekankan adalah MUSYAWARAH dalam usaha da’wah ini. Dan kita bisa mendapatkan banyak keterangan dalam al-quran dan as-sunnah perihal MUSYAWARAH.<span> </span>Bahkan kalangsan yang selalu menilai usaha da’wah saat ini (baca: salafi) banyak menimbulkan kontra-produktif di dalam kalangannya sendiri, karena TIDAK MENGHIDUPKAN MUSYAWARAH. Padahal hal itu merupakan sunnah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>8.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">Kami menganjurkan kepada kaum muslimin termasuk kalangan ahli da’wah dan tabligh untuk mendalami kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi Rah. Karena setelah lama kami perhatikan dengan baik kitab itu, maka kami mendapatkan gambaran yang sangat baik terhadap aktifitas-aktifitas ketika khuruj. Dan itulah usaha da’wah dan tabligh ini menjadi merupakan latihan amal-amal sholeh untuk meningkatkan iman itu sendiri. Dan sangat cocok dengan judul itu “Riyadhush Sholihin” dengan hal yang selalu ditanamkan yaitu “memperbaiki diri”. Kapan kami mendapatkan gambaran itu? Guru kami menasehati untuk selalu membaca kitab itu, dan setelah dibaca bolak-balik dan berkali, akhirnya SEDIKIT ada gambaran terhadap usaha da’wah ini. Itulah kami sangat senang dengan tulisan-tulisan dari Imam Nawawi Rah ini. Mudah-mudahan beliau dilapangkan kuburnya dan juga mendapatkan rahmat Allah swt. </span></p>
<p class="MsoListParagraph"><span class="gen"> </span></p>
<p class="MsoListParagraph" style="text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span class="gen"><span><span>9.<span style="font-family: &amp;amp;quot; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span></span><!--[endif]--><span class="gen">“SYSTEM THINKING” sudah kami pergunakan dalam berbagai hal termasuk dalam R&amp;D bidang kami sendiri, silahkan perhatikan <a href="http://haitanrachman.wordpress.com/">http://haitanrachman.wordpress.com</a>. <span> </span>Dan kami dengan adanya pendekatan ini, kami mendapatkan satu proses 4M (Muhasabah, Mudzakarah, Musyawarah, dan Mujahadah) melalui usaha da’wah ini setelah sekian lama dalami. Silahkan kaji dengan ilmu yang kawan-kawan pelajari, apakah teori kami 4M itu keliru dan tidak ada landasannya. </span></p>
</div>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=300&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/29/system-thinking-dan-usaha-dawah-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengherankan jika Mengkritik Tatacara Usaha Da&#8217;wah</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/16/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/16/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 03:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/2010/01/16/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap aktifitas di muka bumi ini tentunya mempunyai tatacara untuk mencapai sasaran yang ditetapkannya. Tidaklah masuk akal jika kita mempunyai sasaran yang hendak dicapai tidak mempunyai tatacara / prosedur / proses yang sistematik. Jadi sangat heran jika ada yang memberikan pandangan kritik terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini dikarenakan tatacara atau pola da&#8217;wah yang dibangunnya.
Sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap aktifitas di muka bumi ini tentunya mempunyai tatacara untuk mencapai sasaran yang ditetapkannya. Tidaklah masuk akal jika kita mempunyai sasaran yang hendak dicapai tidak mempunyai tatacara / prosedur / proses yang sistematik. Jadi sangat heran jika ada yang memberikan pandangan kritik terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini dikarenakan tatacara atau pola da&#8217;wah yang dibangunnya.</p>
<p>Sangat heran jika ada seorang mahasiswa muslim seenaknya belajar dan tidak mengikuti aturan atau tatacara prosedur yang ditetapkan di lingkungan sekolah yang dimilikinya. Atau juga akan bertambah heran jika seorang muslim yang mengambil program S2 atau S3 tidak mengikuti aturan tatacara yang ditetapkannya, dengan alasan yang terpenting adalah sekolah S2 dan menuntut Ilmu.</p>
<p><span id="more-299"></span>Ataupun juga seorang pedagang ataupun karyawan perusahaan tidak jelas apa yang dikerjakannya, karena yang terpenting adalah kerja dan datang ke tempat kerja. Jelas pola berpikir seperti ini sangat keliru dan perlu diluruskan dengan baik. Inilah salah satu kelemahan kaum muslimin saat ini, karena kita kaum muslimin tidak pernah mengelola satu aktifitasnya dengan lebih baik dari perjalanan waktunya.</p>
<p>Allah swt sendiri sering menjelaskan perihal keteraturan alam semesta ini yang tentunya Allah swt memperlihatkan dalam alam semesta ini terdapat aturan yang sistematik dan menyeluruh. Itulah Allah swt memberikan pengajaran untuk memperhatikan alam ini, dan memang yang mendapatkan pelajaran itu hanya sebagian orang saja.</p>
<p><strong>&#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.&#8221; (QS Ali-Imran (3):190-191)</strong></p>
<p>Allah swt menjelaskan dengan sangat jelas perihal pertumbuhan manusia dari mulai pencampuran sperma dengan sel telur, terus daging, sampai terbentuk menjadi bayi. Allah swt menjelaskan pertumbuhan tersebut dengan sangat baik dan jelas. Jadi sudah sepatutnya kita kaum muslimin jika mempunyai program/kerja/aktifitas tentunya harus dikelola dengan baik dalam tatacaranya.</p>
<p>Oleh karena itu, kita kaum muslimin tentunya berkeinginan untuk mendapatkan penjelasan terlebih dahulu, sebelum kita ini memberikan kritik yang akhirnya memberikan ketidakpahaman hal itu sendiri secara menyeluruh. Seorang Ulama sekalipun  yang faqih dalam satu perkara / satu bidang Ilmu Islam, bukan berarti beliau ini menguasai dengan baik bidang lainnya. Tetapi kita tentunya tetap harus menghormati seluruh Ulama dengan baik, jika terjadi kekeliruan. Karena ada satu pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW bahwa tandanya beriman kepada Allah swt dan hari akhir adalah menghormati hak-haknya Ulama kita kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh ini telah begitu sistematik proses yang dilakukannya mulai dari akan pergi/khuruj sampai ke pulang kembali ke rumah masing-masing. Semua aktifitas itu disusun dengan rapi dan sistematik untuk menghasilkan hasil yang terbaik pula. Tatacara dalam usaha da&#8217;wah ini merupakan keterpaduan ataupun himpunan pelajaran Al-Islam menjadi satu model gerakan untuk menampilkan Al-Islam itu sendiri. Jadi jangan dianggap bahwa tatacara itu tidak mempunyai landasan Al-Quran dan As-Sunnah.</p>
<p>Dan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini sebenarnya sangat sederhana dan siapapun kaum muslimin tingkatan latar belakang, profesi, dan umur dapat mengikutinya dengan baik. Berbeda dengan tingkatan pendidikan dan kajian Islam, tidak semua latar belakang dan umur dapat mengikuti dengan baik. Oleh karena itu untuk memahami usaha da&#8217;wah dan tabligh ini kita sendiri perlu meluangkan waktu untuk khuruj/keluar dengan baik dan teratur.</p>
<p>Jadi bagi kami sangat mengherankan jika ada yang memberikan komentar ataupun kritik terhadap usaha da&#8217;wah ini dikarenakan tatacara dari usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Misalkan seperti waktu lama khuruj. Sudah sangat jelas bahwa waktu juga perlu dibuatkan keteraturan yang baik untuk mengelolanya. Karena orang yang mengikuti khuruj ini juga mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap aktifitas-aktifitas lainnya yang perlu ditunaikan dengan baik pula. Bisa kita semua bayangkan jika  mendalami Al-Islam itu tidak diatur waktunya secara baik. Bisa tidak karuan hidup manusia jika tidak ada keteraturan dalam waktu itu.</p>
<p>Perihal waktu kami sudah jelaskan sebelumnya sebagai contoh. Kami sudah memberikan penjelasan bahwa semua kehidupan ini memerlukan keteraturan dengan baik. Dan Al-Quran dan As-Sunnah memperlihatkan itu dengan sangat jelas perihal kita perlu untuk menyusun segala aktifitas dengan keteraturan/tatacara yang baik.</p>
<p>Sehingga usaha da&#8217;wah dan tabligh yang telah menyusun tatacara/proses aktifitas da&#8217;wahnya itu merupakan hal yang ilmiyyah apakah secara dalil naqli ataupun dalil aqli. Dan <strong>tatacara aktifitas da&#8217;wah ini menjadi sebuah khazanah aktualisasi dari berbabagai sumber-sumber yang telah ditulis dalam kitab-kitab Para Ulama dulu</strong>. Dan bagi para penuntut ilmu, tentunya hal ini menjadi sebuah khazanah pendalaman yang menarik. Terimakasih.</p>
<p>(Insya Allah kami lanjut dalam bahasan lain)</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=299&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/16/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebagian Kaum Muslimin Selalu Berkomentar Pada Jumlah Hari Khuruj Usaha Da&#8217;wah, Tetapi Kerdil dalam Analisa dan Sintesa</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/16/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/16/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 02:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.
Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, oleh karena itu tentunya kita sendiri perlu banyak berhubungan dengan kisah-kisah itu dengan baik. Perihal waktu sebenarnya tidak merupakan hal yang kaku, tetapi setidaknya dengan adanya pola tertib/keteraturan itu akan lebih mudah bagi kaum muslimin sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da’wah ini cukup banyak sebagai ahli hadist, oleh karena itu banyak di antaranya menulis syarh hadits hadist yang cukup tebal-tebal.</p>
<p>Perihal waktu itu banyak berhubungan dengan pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan 10%, dan juga tentunya ada beberapa kisah yang berkaitan dengan 3 hari, 40 hari, 4 bulan. Memang kejadiannya sangat berbeda dan juga aktifitasnya berbeda, tetapi setidaknya pola itu dapat dipergunakan untuk ketertiban dan kemudahan bagi kaum muslimin. Karena meskipun berbeda dari aktifitasnya, tetapi mempunyai kedekatan dari proses penyebaran dan juga pengorbanan untuk agama kita yang mulia, Al-Islam. 3 hari kisah Khalid Bin Walid RA, 40 hari berkaitan kisah Ummar Bin Khatab RA, begitupun juga dengan 4 Bulan berkaitan dengan Ummar Bin Khatab RA. Silahkan untuk membuka lembaran kisah itu yang cukup menarik.</p>
<p><span id="more-297"></span>Waktu khuruj ini tidak kaku, tetapi sangat fleksibel. Berbeda dengan sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dana S1,S2, S3 mempunyai batas bawah dan atas. Sedangkan khuruj ini lebih banyak tentunya akan lebih memberikan kesan kepada yang menjalankannya. Tetapi meskipun begitu harus tertib dan beraturan. Pola waktu untuk SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 juga diadopsi dari dunia pendidikan barat, dan hal itu juga dipergunakan untuk pendidikan dan pengajaran bidang-bidang Islam. Padahal tidak ada waktu-waktu pendidikan itu di jaman Rasulullah SAW, Para Shahabat RA, tetapi memberikan manfaat dan memberikan kemudahan bagi penyusun kurikulum dan silabusnya secara bertingkat.</p>
<p>Jadi waktu 3 hari, 40 hari, 4 bulan, merupakan proses keteraturan untuk memberikan kemudahan, disamping juga dianalisa dan disintesa berdasarkan pada kaidah 10% yang menjadi pesan Nabi kita sendiri. Yang diharapkan tentunya akan meningkat terus, mungkin kita pernah mendengar bahwa ada yang mau menginfaqkan semuanya, tetapi akhirnya hanya 1/3 saja. Dan tentunya jika pengorbanan 1/3  ini dapat dilakukan cukup luar biasa pengaruhnya kepada dunia Islam. Sekarang saja baru dengan pola 10% sudah begitu besar pengaruhnya di dunia Eropa, bagaimana jika 1/3 waktu tentunya akan sangat berbeda pengaruhnya.</p>
<p>Oleh karena itu jangan antum semua terjebak dengan waktu atau lamanya, karena hal itu sudah menjadi hal umum dalam kehidupan kita agar lebih tertarur. Dan Allah swt sendiri dan Nabi kita Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan kepada kita semua perihal waktu ini, hanya saja kita kurang memperhatikan dengan baik. Jadi perihal waktu itu untuk memudahkan, begitu juga dengan pesan 10% Nabi kita, serta juga pesan Ummar RA dengan 40 hari dan 4 bulan, semua untuk menjadi teratur hidup ini. Dan ini jelas diikuti para Ulama yang benar-benar faham dengan usaha da’wah ini. Jadi tidak asal copot saja hikmah yang dibangun itu, tetapi dengan segala pertimbangan mendalam apalagi mereka ini kebanyakan ahli hadist.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan baik terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri. Sehingga semakin lama tentunya akan memberikan kesan yang lebih baik kepada setiap orang yang melakukan khuruj.</p>
<p>Tetapi juga kita sendiri jangan melupakan musuh yang akan terus menggoda kita, yaitu syeithan, dan tentunya dorongan nafsu kita sendiri yang mengarah pada hal-hal yang tidak sesuai. Itulah perlunya ketika khuruj itu mengikuti tertib-tertib dan ushul da’wah. Tanpa tertib dan ushul, maka syeithan dan nafsu akan sangat mudah masuk dalam proses ishlah/perbaikan diri kita dalam suasana agama, sehingga akhirnya tujuan yang hendak dicapai tidak dapat dicapai dengan baik.</p>
<p>Seluruh tertib dan ushul itu mempunyai landasan Al-quran dan/atau as-sunnah.  Seluruh tertib dan ushul ini dijalankan sebaik mungkin, tidak dalam bentuk dalil-dalil detail yang perlu dihafal. Dan untuk menjaga tertib dan ushul itu maka musyawarah menjadi landasan utama. Musyawarah dalam usaha da’wah merupakan hal yang sangat penting diperhatikan, sehingga agendanya sangat beragam dan tingkatan bahasannya. Musyawarah  sebenarnya membentuk pikir, kepahaman dan tanggung jawab terhadap da’wah Islam itu sendiri.</p>
<p>Perihal dalil-dalil detail yang berkaitan dengan tertib dan ushul, bagi kalangan alim-ulama dan juga penuntut ilmu biasanya mempunyai keinginan yang berbeda dengan kalangan umum. Sehingga kadangkala menghafal hadist yang begitu panjang, kami pernah mendengarkan satu hadist dalam Bahasa arab yang disampaikan dari orang Perancis turunan arab, mungkin kalau dituliskan Bahasa arabnya mungkin saja 2-3 halaman. Itu yang mempunyai jiwa thalab yang tinggi.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri.</p>
<p>Dalam hal ini banyak dalil berkaitan dengan aktifitas/kerja ketika khuruj yang kita dapat peroleh untuk menguatkan minat kita terhadap usaha da’wah dan tabligh ini, karena memang usaha da’wah ini untuk seluruh kaum muslimin. Dan jika sudah waktunya, amal ini akan kembali ke masjid Nabawi seperti mana kepala ular kembali ke kandangnya. Mungkin sdr. pernah mendengar satu hadist yang hampir sama dengan konteks dengan kalimat itu. Itulah sebenarnya yang akan terjadi dan akan dikembalikan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=297&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/16/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan hanya pandai berkomentar terhadap usaha da&#8217;wah, tetapi pelajari dengan teliti dan sistematik!</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/16/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/16/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 00:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang telah tumbuh sebagian kalangan kaum muslimin (baca: salafi) yang hanya pandai berkomentar, dan bahkan asal-asalan membid&#8217;ahkan tanpa keinginan mendapatkan pandangan berimbang. Oleh karena itu coba kita semua mempelajari secara telit dan sistematika.
Dalam kaidah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah, adalah keyaqinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan membuktikan dengan amal-amal sholeh. Dan Iman itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang telah tumbuh sebagian kalangan kaum muslimin (baca: salafi) yang hanya pandai berkomentar, dan bahkan asal-asalan membid&#8217;ahkan tanpa keinginan mendapatkan pandangan berimbang. Oleh karena itu coba kita semua mempelajari secara telit dan sistematika.</p>
<p>Dalam kaidah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah, adalah keyaqinan dalam hati, ikrar dengan lisan dan membuktikan dengan amal-amal sholeh. Dan Iman itu dapat meningkat dengan tetap menjaga amal sholeh, dan iman dapat menurun ketika menjalankan amal-amal maksyiat kepada Allah swt. Ini adalah Iman yang dipahami Sunnah Wal Jama&#8217;ah.</p>
<p>Seorang yang berpikiran Sunnah Wal Jama&#8217;ah, tentunya harus berusaha, berpikir, dan melaksanakan bagaimana iman dapat meningkat dan menghindari dari iman yang menurun. Karena jika Iman terus menurun, artinya telah banyak amal-amal maksyiat dilaksanakan, sehingga akan menjadi sulit menjalankan amal-amal sholeh lainnya.</p>
<p><span id="more-294"></span>Tidaklah mungkin antum semua berpikiran sebagai sunnah wal jama&#8217;ah untuk tidak berusaha menjaga iman dan berusaha meningkatkan iman. Dan tentunya sesuai dengan kaidah sunnah wal jama&#8217;ah, maka untuk meningkatkan iman itu dalam suasana agama dengan amal-amal sholeh.</p>
<p>Apa saja amal sholeh itu? Sholat berjama&#8217;ah jelas merupakan amal sholeh, apalagi jika dilaksanakan di awal waktu. Tentunya akan terjaga iman karena dia akan selalu mendahulukan yang perlu didahulukan. Seorang sunnah Wal Jama&#8217;ah tidaklah mungkin ketika mendengar Adzan kemudian tidak melakukan sholat, tentunya akan berusaha sholat di awal waktu dan berjama&#8217;ah. Dengan hal ini tentunya Iman akan terjaga dan meningkat.</p>
<p>Apa lagi kalau begitu? Membaca al-quran jelas juga akan meningkatkan iman, apalagi begitu banyak perintah dalam Al-quran dan juga sunnah Rasulullah SAW untuk selalu menjaga membaca Al-quran. Tentunya seorang sunnah wal jama&#8217;ah akan berusaha menjaga secara berkelanjutan untuk membaca al-quran.</p>
<p>Apa lagi? Berdzikir pagi dan petang, sudah banyak perintah agama untuk menganjurkan berdzikir pagi petang. Belajar dan mengajarkan al-islam apakah perkara yang mudah ataupun perkara yang memerlukan mudzakarah. Jelas juga akan meningkatkan iman, karena tidak dalam keadaan suasana maksyiat. Kira-kira apa lagi? Mendengarkan keagungan Allah swt ketika seseorang memberikan penjelasan perihal itu. Da&#8217;wah merupakan amal yang dapat meningkatkan iman juga, apalagi jika bertemu dengan halangan dan rintangan. Sehingga berharap kepada Allah swt akan lebih kuat.</p>
<p>Bagaimana dengan berdo&#8217;a kepada Allah swt? Berdo&#8217;a merupakan ibadah kepada Allah swt dan tentunya dapat meningkatkan iman, jika disertai dengan kesadaran dan harapan kepada Allah swt untuk dapat dikabulkan. Bagaimana dengan silaturahmi? Jelas juga dapat meningkatkan iman, karena merupakan amal sholeh yang sangat dianjurkan agama kita.</p>
<p>Jadi bagi kita yang mengikuti sunnah wal jama&#8217;ah maka tentunya iman itu akan menaik dan juga akan turun, sesuai dengan suasana agama yang ada. Jika banyaknya tidur-tiduran atau ngobrol ngalor ngidul, jelas iman tidak akan banyak kenaikan yang baik. Kecuali tidurnya itu dengan sunnah, dan ngobrolnya itu tidak melanggar aturan syariat agama.</p>
<p>Apakah hal itu bisa dilatih secara keseluruhan dan lengkap? Kira-kira harus bagaimana membentuk suasana agama dan semua orang bisa berlatih bersama untuk meningkatkan iman itu.</p>
<p>Khuruj 3 hari merupakan latihan untuk meningkatkan iman dan amal sholeh, dalam suasana masjid yang memang sudah ada perintahnya dari Allah swt dan Rasulullah SAW untuk memakmurkannya. Inilah tujuan pertama dalam khuruj yaitu Ishlah diri. Dalam kaidah Sunnah Wal Jama&#8217;ah Iman bisa turun dan naik, karena amalnya. Inilah yang dilatih dalam 3 hari. Sehingga kita jangan dahulu menilai yang tidak tepat, sebelum kita mengetahui dari sisi tujuan yang harusnya berlandaskan pada Sunnah Wal Jama&#8217;ah, dan tentunya amal-amal sholeh yang dilakukan selama waktu itu tidak bertentangan dengan perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p>Bagi kalangan kaum muslimin yang selalu menilai dengan bid&#8217;ah dan bahkan sesat terhadap usaha da&#8217;wah / khuruj. Mari kita teliti dengan baik dan berikan jawabannya dengan baik pula. Jangan kita menilai, tanpa dengan ilmunya atau tidak memahaminya karena tidak mendalaminya secara detail.</p>
<p>Apakah membaca al-quran ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdzikir pagi dan petang ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah sholat berjama&#8217;ah ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a masuk kampung ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah da&#8217;wah dari rumah ke rumah itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah ta&#8217;lim hayatush shahabat ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a dengan menangis ini sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah berdo&#8217;a terhadap orang tertentu itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah makan secara berjama&#8217;ah itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah penjelasan perihal iman dan amal sholeh itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah silaturahmi ke masyarakat itu sunnah atau bid&#8217;ah?<br />
Apakah beri&#8217;tikaf di masjid itu sunnah atau bid&#8217;ah?</p>
<p>Silahkan berikan jawaban di atas? Seluruh di atas ini baru sebagian kecil dari aktifitas 3 hari, dan semua itu dapat meningatkan iman. Itulah yang dimaksud dalam kaidah sunnah wal jama&#8217;ah, bahwa iman itu dapat meningkat dan menurun. Dan itu cara-cara keberpaduan dari berbagai aktifitas amal sholeh dalam 3 hari dapat meningkatkan iman. Maka sering mendengar dari kalangan ahli da&#8217;wah dan tabligh, bahwa kalau mau meningkatkan iman maka keluarlah atau khuruj. Itu maknanya sebagai latihan amal sholeh untuk meningkatkan iman. Apakah hal itu bertentangan dengan sunnah wal jama&#8217;ah?</p>
<p>Kita sangat kuatir jika kita mati dalam keadaan TIDAK husnul khatimah, artinya ketika iman dan amal sholeh itu berkurangan atau bahkan dalam keadaan maksyiat kepada Allah swt. Bukankah ada yang mati dalam keadaan sedang buka aurat dengan yang bukan mukhrimnya? Bukankah ada yang mati dalam keadaan sedang minum khamr?</p>
<p>Ini yang kita kuatir bersama, oleh karena itu kita perlu bersama-sama meningkatkan iman dan amal sholeh, dan mengajak kaum muslimin lainnya untuk mau meningkatkan iman dan amal sholeh. Itulah sunnah wal jama&#8217;ah dalam memahami Iman yang bisa meningkat dan bisa menurun.</p>
<p>Kalau antum semua sebagai sunnah wal jama&#8217;ah ada yang mempunyai cara meningkatkan iman dan amal sholeh, terus dan lanjutkan. Karena sebenarnya kurikulum dan silabus aturan terhadap peningkatan iman dan amal sholeh bisa beragam bentuknya. Perkara ini biasanya diketahui dengan baik oleh kalangan ulama yang khas.</p>
<p>Oleh karena itu kita tidak perlu  mengomentari, meremehkan, bahkan berkeinginan memadamkan aktifitas-aktifitas kaum muslimin yang sedang berusaha meningkatkan iman dan amal sholeh, dan juga mengajak kaum muslimin lainnya untuk meningkatkan iman dan amal sholeh. Semua hal itu tidak ada gunanya sama sekali, bahkan bisa bertentangan dengan kaidah sunnah wal jama&#8217;ah sendiri. Seharusnya saling tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=294&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/16/jangan-hanya-pandai-berkomentar-terhadap-usaha-dawah-tetapi-pelajari-dengan-teliti-dan-sistematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kita Membahas Perihal Khilafiyyah dan Usaha Da&#8217;wah Memberikan Kerangka Sistematik</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/15/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/15/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 22:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan (ikhtilaf) merupakan perkara yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, ketika manusia memandang satu perkara. Tentunya untuk menghadapi perbedaan ini memerlukan satu hikmah tersendiri, tanpa adanya hikmah maka perbedaan itu akan mengakibatkan perpecahan (tafarruq). Dalam Ushul usaha da&#8217;wah dan tabligh menjelaskan perkara yang tidak boleh disentuh, yaitu tidak menyentuh khilafiyyah.
Apakah kerangka da&#8217;wah dan tabligh ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perbedaan (ikhtilaf) merupakan perkara yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, ketika manusia memandang satu perkara. Tentunya untuk menghadapi perbedaan ini memerlukan satu hikmah tersendiri, tanpa adanya hikmah maka perbedaan itu akan mengakibatkan perpecahan (tafarruq). Dalam Ushul usaha da&#8217;wah dan tabligh menjelaskan perkara yang tidak boleh disentuh, yaitu tidak menyentuh khilafiyyah.</p>
<p>Apakah kerangka da&#8217;wah dan tabligh ini hanya asal-asalan saja perihal perkara &#8220;tidak menyentuh khilafiyyah&#8221;. Kami sebelum berkenalan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh, sering dinasehati guru-guru kami sendiri untuk berhati-hati dalam perihal khilafiyyah ini. Kalau memang tidak tahu, jangan masuk dalam lingkungan khilafiyyah. Karena akan menimbulkan perpecahan (tafarruq). Seorang guru sepuh kami memberitahukan untuk banyak mempelajari perihal kitab &#8220;Bidayatul Mujtahid&#8221;, susunan Imam Ibnu Rusd Rah. Beliau menjelaskan bahwa banyak perbedaan, yang biasanya menimbulkan perpecahan di kalangan orang yang tidak mengerti.</p>
<p><span id="more-291"></span>&#8220;Tidak menyentuh&#8221; bukan berarti tidak bersentuhan, dan kalaupun bersentuhan tentunya orang yang memahami perihal tersebut. Jika tidak kita akan masuk dalam arena perpecahan yang tidak pernah habis-habisnya. Para Ulama da&#8217;wah dan tabligh di asia tengah mengikuti madzhab hanafi, sedangkan di tempat lain belum tentu mengikuti madzhab hanafi.</p>
<p>Tetapi bukan berarti yang faham dan faqh dalam bidang madzhab hanafi, tidak memahami pandangan madzhab syafi&#8217;i ataupun Maliki. Dan hal ini sudah ditunjukan dengan baik dalam kitab fadhilah amal sendiri. Jika kita buka lembaran kitab fadhilah amal dengan baik dan telaten, kita akan temukan pandangan dari ulama yang berbeda madzhab. Artinya ada orang yang faham bagaimana memadukan dari kalangan yang berbeda itu.</p>
<p>Tetapi apakah semua orang mempunyai kemampuan itu? Apakah semua para Shahabat RA mempunyai kerangka yang sama untuk semua perkara dan masalah? Para Shahabat RA sendiri mempunyai pandangan yang tidak sama semua dalam satu perkara. Bahkan ketika Rasulullah SAW masih hidup.</p>
<p>Ada beberapa buku yang ditulis perihal ikhtilaf ini, dala buku itu dijelaskan dengan baik perihal perbedaan. Tetapi yang sebenarnya tidak boleh menjadi perpecahan (tafarruq) ketika ada perbedaan, malahan menimbulkan perpecahan di kalangan ummat. Dan hal itu dikarenakan ketidakmengertian.</p>
<p>Oleh karena itu, kerangka sunnah wal jama&#8217;ah yang ditulis dengan baik oleh seorang Ulama besar dulu, Imam Thahawi Rah, memberikan penjelasan yang jelas dan hal ini dijelaskan lebih lengkap melalui syarh seorang ulama. Dalam kitab itu sangat jelas kita harus bisa menjauhi perpecahan (tafarruq), karena hal itu sangat bertentangan dengan firman Allah swt sendiri. Dan kita bisa temukan banyak ayat yang berkaitan dengan perpecahan.</p>
<p>Coba perhatikan dengan baik beberapa ayat di bawah ini, mudah-mudahan kita memahami lebih luas dan dalam. Tentunya jika memahami lagi, kita perlu membuka latar belakang dari turunnya, dan biasanya dalam tafsir juga dijelaskan dengan baik.</p>
<p><img src="http://1.1.1.5/bmi/quran.kawanda.net/gambar/3/3_103.gif" border="0" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.&#8221; (QS Ali-Imran (3):103)</em></p>
<p><img src="http://1.1.1.2/bmi/quran.kawanda.net/gambar/3/3_105.gif" border="0" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat&#8221; (QS Ali-Imran (3):105)</em></p>
<p>Kalau saja kita mempelajari latar belakang turunnya itu, kita semua akan terkejut. Bisa dibayangkan hanya dengan perkara kecil saja, kalangan para Shahabat RA bisa hampir perang di antara mereka. Dan hal ini dikarenakan diadudomba oleh orang yang mempunyai jiwa munafik. Oleh karena itu Rasulullah SAW banyak menjelaskan perkara ini dengan sangat baik. Dan salah satu solusi untuk ini adalah &#8220;Ikromul Muslimin&#8221;. Karena hal ini akan memperkecil dari efek perbedaan.</p>
<p>Awalnya kami juga tidak begitu mengerti &#8220;Tidak Menyentuh Masalah Khilafiyyah&#8221;, tetapi tentunya umur dan juga pendalaman terus berlanjut terhadap kalimat singkat ini, disamping juga ada guru-guru kami yang juga telah memberikan pengajaran dalam hal perbedaan (ikhtilaf) ini. Guru-guru kami selalu menekankan untuk jangan sangat terlibat dalam perbedaan yang mengarah pada perpecahan (tafarruq).</p>
<p>Kami punya pengalaman dulu terjadi debat antara ulama sunni dengan kalangan syiah di Bandung. Dan ketika sholat ashar semua bingung siapa yang menjadi imam sholatnya. Tetapi ada seorang ustadz yang kenal dengan kami, dan beliau meminta kami menjadi imam sholat dan mempecayainya. Di sini saja sudah bingung hanya dalam lingkungan kurang dari 50 orang dan semuanya mau sholat ashar berjama&#8217;ah. Apalagi dalam perkara besar dan jumlah orangnya banyak.</p>
<p>Dalam syarh Kitab Imam Thahawi Rah dalam kitab aqidah sunnah wal jama&#8217;ah, sangat jelas sekali. Bahkan dari kalimat &#8220;sunnah wal jama&#8217;ah&#8221; sendiri mengandung inti sari makna yang bertentangan total dengan perpecahan &#8220;tafarruq&#8221; ketika ada perbedaan. Jadi para Ulama da&#8217;wah dan tabligh yang juga sangat memahami perihal sunnah wal jama&#8217;ah juga, tentunya harus menjaga dari keselamatan ummat kaum muslimin ketika ada perbedaan. Dan untuk itulah perlu kebijakan dalam da&#8217;wah itu sendiri &#8220;Tidak menyentuh Khilafiyyah&#8221;.</p>
<p>Dan untuk membahas perkara ini, para Ulama sendiri sudah memberikan caranya. Maka Ulama dulu ketika ada perbedaan di antara beliau-beliau sendiri, tidak menimbulkan hal-hal yang kurang diinginkan. Tetapi sekarang ini perbedaan saja bisa menimbulkan saling hujat, saling remehkan. Dan lebih mengerikan, para &#8216;pion&#8217; pun ikut campur dalam urusan kalangan kealiman Ulama yang cukup kompleks, sehingga akhirnya menambah ricuh dan tidak jelas lagi. <strong>Salah satu cara yang baik untuk membahas Khilafiyyah adalah dalam bentuk kajian dan juga madrasah yang memang ada ahlinya. </strong></p>
<p>Dan salah satu solusi kebiasaan yang dibangun adalah Musyawarah dan Mudzakarah, maka dengan kebiasaan pola ini ketika ada perbedaan akan dapat dikelola dengan mudah. Karena ada Musyawarah. Ini saja banyak kalangan ummat kurang memperhatikan dengan baik, meskipun ayat-ayat Al-quran dan As-Sunnah banyak menjelaskannya dan juga memberikan contohnya. Dan usaha da&#8217;wah sangat menekankan pada MUSYAWARAH dan bahkan tertib-tertibnya. Ini salah satu sunnah yang sangat fundamental untuk pertumbuhan kaum muslimin.</p>
<p>Silahkan pelajari dan dalami ayat-ayat yang berkaitan dengan perpecahan (tafarruq), dan juga bagaimana solusi untuk hal itu. Sehingga kita akan lebih memahami bagaimana menyikapi dalam perbedaan dan menghindari perpecahan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=291&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/15/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahdzir itu pelu TERTIB, Tahdzir yang GHULUW akan banyak memberikan mudharatnya</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/12/tahdzir-itu-pelu-tertib-tahdzir-yang-ghuluw-akan-banyak-memberikan-mudharatnya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/12/tahdzir-itu-pelu-tertib-tahdzir-yang-ghuluw-akan-banyak-memberikan-mudharatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 01:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[ghuluw]]></category>
		<category><![CDATA[tahdzir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=288</guid>
		<description><![CDATA[Tahdzir itu memberikan peringatan kepada kaum muslimin pada satu keadaan atau perkara, TETAPI tetap HARUS TERTIB. Kalau Tahdzir TIDAK TERTIB dan bahkan GHULUW, maka hasilnya juga TIDAK TERTIB. Itulah yang banyak terjadi sekarang ini di kalangan kaum muslimin sendiri, bahkan di dalam kalangan internal sebagian kaum muslimin tersebut (baca: Salafi). Sehingga akhirnya memunculkan kontra-produktif dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahdzir itu memberikan peringatan kepada kaum muslimin pada satu keadaan atau perkara, TETAPI tetap HARUS TERTIB. Kalau Tahdzir TIDAK TERTIB dan bahkan GHULUW, maka hasilnya juga TIDAK TERTIB. Itulah yang banyak terjadi sekarang ini di kalangan kaum muslimin sendiri, bahkan di dalam kalangan internal sebagian kaum muslimin tersebut (baca: Salafi). Sehingga akhirnya memunculkan kontra-produktif dan tidak-harmonis.</p>
<p>Perihal Ghibah yang diperbolehkan itu, silahkan buka inti sari Ihiya Ulumuddin, &#8220;Mensucikan Jiwa&#8221;, Syeikh Sa&#8217;id Hawwa Rah. Dalam buku ini perkara ini diuraikan dengan mudah dan jelas. Oleh karena itu, para Imam dulu, seperti Imam Al-Ghazali Rah, selalu memperhatikan perihal TERTIB. Dan semua perkara TERTIB itu tentunya berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah.</p>
<p><span id="more-288"></span>Menyampaikan pandanganpun ketika mendapatkan satu perkara yang diperoleh TENTUNYA memerlukan TERTIB pula. Sehingga tidak serta dan langsung menghajarnya. Itulah yang akhirnya banyak menimbulkan masalah dalam kehidupan kita kaum muslimin.</p>
<p>Sehingga akhirnya keutamaan &#8220;IMAN dan AMAL SHOLEH&#8221; yang dijanjikan oleh Allah swt begitu banyak dalam Al-quran tidak kita peroleh sampai sekarang.</p>
<p>- Allah swt akan memberikan kehidupan yang baik<br />
- Allah swt akan memberikan kekhilafahan di muka bumi<br />
- Allah swt akan menolong kaum muslimin<br />
- Allah swt akan memberikan curahan rezeki dari langit dan bumi<br />
- Allah swt akan menjaga dari orang-orang kafir<br />
- dsb-dsb</p>
<p>Kenapa tidak diberikan kepada kita semua hal-hal di atas? Kira boleh berkeinginan mendapat khilafah, kita boleh berkeinginan mendapatkan kehidupan, dsb-dsb. Tetapi kenapa keinginan kita belum diberikan Allah swt.</p>
<p>Karena kita kaum muslimin TIDAK TERTIB dalam MENGUPAYAKAN SYARAT-SYARATnya dan kita TERBALIK dalam kerangka berpikirnya, kita hanya mengejar janji-janji TETAPI kita tidak MENGUPAYAKAN syaratnya. Jadi akhirnya kita kaum muslimin sendiri menjadi TIDAK TERTIB.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=288&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/12/tahdzir-itu-pelu-tertib-tahdzir-yang-ghuluw-akan-banyak-memberikan-mudharatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendalaman DALIL terhadap Da&#8217;wah yang TERTIB tentunya memerlukan proses-proses perbaikan yang terus-menerus dan berkelanjutan</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/12/pendalaman-dalil-terhadap-dawah-yang-tertib-tentunya-memerlukan-proses-proses-perbaikan-yang-terus-menerus-dan-berkelanjutan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/12/pendalaman-dalil-terhadap-dawah-yang-tertib-tentunya-memerlukan-proses-proses-perbaikan-yang-terus-menerus-dan-berkelanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 00:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[4M]]></category>
		<category><![CDATA[mudzakarah]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabab]]></category>
		<category><![CDATA[mujahadah]]></category>
		<category><![CDATA[musyawarah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Da’wah Islam merupakan amal Islam yang sangat fundamental untuk diperhatikan dengan baik dan seksama, sehingga tentunya menjalankan da’wah Islam itu tidaklah asal-asalan tetapi perlu dijalankan dengan Tertib. Dan untuk menjaga ataupun membentuk da’wah Islam yang tertib tentunya juga memerlukan satu pendekatan yang baik pula. Artinya perlu proses-proses yang mendorong untuk pembentukan da’wah Islam yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Da’wah Islam merupakan amal Islam yang sangat fundamental untuk diperhatikan dengan baik dan seksama, sehingga tentunya menjalankan da’wah Islam itu tidaklah asal-asalan tetapi perlu dijalankan dengan Tertib. Dan untuk menjaga ataupun membentuk da’wah Islam yang tertib tentunya juga memerlukan satu pendekatan yang baik pula. Artinya perlu proses-proses yang mendorong untuk pembentukan da’wah Islam yang tertib itu.</p>
<p>Da’wah Islam tidak menganjurkan untuk menghujat ataupun meremehkan sebagian kaum muslimin lainnya, bahkan juga kepada ummat-ummat lainnya. Begitupun juga da’wah Islam tidak menganjurkan untuk menghasilkan saling berbantahan di antara pelaku da’wah itu sendiri. Tetapi kita harus menyadari bahwa manusia itu tetap manusia, artinya kekhilafan itu pasti datang, begitupun dengan kami sendiri.</p>
<p>Di bawah ini terdapat empat proses yang perlu selalu dijaga dan terus berlanjut, sehingga perbaikan-perbaikan atau peningkatan-peningkatan dalam aktifitas da&#8217;wah Islam dapat mencapai TERTIB yang lebih dari waktu ke waktu tentunya.</p>
<p><strong><span id="more-285"></span>MUHASABAH </strong> Kita kaum muslimin perlu selalu melakukan introspeksi diri atau menimbang diri kita. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, selalu melakukan ini. Beliau selalu beristighfar setiap hari, padahal beliau pasti dijamin masuk Surga Allah swt. Begitupun juga para Shahabat RA lainnya, bagaimana Ali RA ketika sholat malam, atau juga Ummar RA. Bahkan ada seseorang bukan shahabat besar dijamin dengan surga oleh Rasulullah SAW. Dan ketika dipelajari lagi, orang ini selalu melakukan muhasabah sebelum tidurnya.</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS Al-Hasyr (59): 18)</em></p>
<p>Dengan adanya muhasabah ini, kita akan selalu menjaga diri kita untuk lebih berhati-hati dalam bertindak atau berucap. Karena semuanya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah swt, dan tentunya akan selalu meningkatkan kepahaman terhadap agama kita sendiri. Tetapi bukan untuk dilihat sebagai orang paling faqih dalam Islam, tetapi akan selalu mencari tahu apa yang perlu diikuti dan apa yang perlu dijauhi.</p>
<p><strong>MUDZAKARAH.</strong> Kita kaum muslimin jarang sekali melakukan mudzakarah secara baik, dan padahal mudzakarah ini dapat lebih meningkatkan kedekatan hubungan sesama kaum muslimin itu sendiri. Saat ini kita kaum muslimin telah dapat melakukan mudzakarah melalui jaringan Internet, seperti melalui Sidogiri atau juga MyQuran.</p>
<p>Meskipun sarana ini dapat memberikan fasilitas mudzakarah, tetapi terdapat hal-hal utama yang tidak dapat digantikan yang sebenarnya banyak dalam sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan juga para shahabat RA, seperti bermuka manis ketika bertemu, berjabat tangan ketika bertemu, mengucapkan salam ketika bertemu, menghormati ketika duduk, mendengarkan dengan seksama dan hormat, dll. Mudzkarah ini perlu dilakukan dengan berbagai kalangan kaum muslimin. Mudzakarah ini akan membangkitkan hal-hal yang tidak dipahami oleh kita sendiri ketika sebelum mudzakarah.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA sering melakukan mudzakarah kadangkala dalam hal-hal yang unik. Misalkan Nabi Muhammad SAW datang ke masjid untuk mendengarkan bacaan quran dari seorang shahabat RA, dan terjadi dialog mudzakarah yang bermanfaat untuk kita sampai saat ini. Nabi Muhammad SAW bermudzakarah dengan seorang shahabat dikarenakan shahabat ini berhubungan dengan istrinya ketika berpuasa di bulan Ramadhan. Atau juga dialog Nabi Muhammad SAW dengan shahabat-shahabat yang berlebihan dalam ibadah, dikarenakan akan berpuasa terus menerus, ada juga akan sholat malam terus-menerus. Dialog yang sangat baik, dan merupakan pelajaran yang sangat berharga. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Dengan adanya mudzakarah ini secara langsung di kalangan kaum muslimin, kaum muslimin akan terbiasa terbuka berkomunikasi dengan baik dan juga akan terbiasa untuk mendengarkan pandangan kaum muslimin yang lainnya. Sehingga suasana kebersamaan akan terbentuk dengan baik. Saat ini kita kaum muslimin sangat berkurangan mudzakarah Islam dalam suasana terbuka dan langsung.</p>
<p><strong>MUSYAWARAH.</strong> Aktifitas ini yang benar-benar lemah dalam kaum muslimin, padahal aktifitas inilah yang dapat menghasilkan keputusan-keputusan atau juga langkah-langkah perbaikan untuk kaum muslimin atau kita sendiri. Padahal banyak sekali dalil dalam al-quran mendorong selalu bermusyawarah, bahkan banyak hadits mengajarkan cara-caranya itu dengan baik. Tetapi aktifitas ini benar-benar asing di lingkungan kaum muslimin.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW dan para shahabat RA selalu melakukan musyawarah ini. Sehingga perbaikan-perbaikan itu terus terjadi dan bahkan mencapai puncaknya kejayaan Ummat Islam di saat itu. Kami cukup lama terlibat dalam usaha da’wah dan tabligh. Dan banyak teman-teman lama selalu menasehati untuk dapat mengikuti musyawarah, meskipun hanya duduk dan mendengarkan saja. Setelah sekian lama, kami baru banyak memahami bahwa musyawarah ini sangat fundamental terhadap pertumbuhan da’wah ataupun aktifitas-aktifitas kaum muslimin di masa depan. Karena proses dan tanggung jawab dapat dibentangkan dan diambil untuk dikerjakan.</p>
<p><em>&#8220;Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. &#8221; (QS Ali-Imran (3): 159)</p>
<p>Diriwiyatkan dari Abu Hurairah RA katanya &#8220;Aku belum pernah melihat seorangpun yang paling sering bermusyawarah dengan para Shahabatnya selain Rasulullah SAW&#8221; (HR Tirmidzi. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)</p>
<p>&#8220;Dari Ali RA menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: &#8220;Wahai Rasulullah, jika kami menjumpai suatu urusan yang belum jelas mengenainya apakah diperintah atau dilarang, ap yang diperintahkan kepada kami? Nabi Muhammad SAW bersabda: &#8220;Musyawarahkanlah urusan itu dengan para fuqaha (orang yang dalam urusan agama) dan para &#8216;abidin (orang-orang sholeh), dan janganlah memutuskan urusan itu dengan hanya mengikuti pendapat orang tertentu.&#8221; (HR Thabrani dalam Al-Awsath dan sanad-sanadnya dipercaya daripara perawi yang shahih &#8211; Majma&#8217;uz Zawaid. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)</p>
<p>&#8220;Dari Ibnu Abbas RA menceritakan: &#8220;Ketika turun ayat ini &#8220;bermusyawarahlah engkau dengan mereka dalam segara uruan&#8221;. Maka Rasulullah SAW bersabda &#8220;Sesungguhnya Allah swt dan Rasul-NYA tidak memerlukan musyawarah, tetapi Allah swt telah menjadikan musyawarah ini sebagai rahmat bagi ummatku. Oleh karena itu siapa saja di antara ummatku yang melakukan musyawarah, maka ia tidak akan kehilangan bimbingan (petunjuk jalan yang lurus), sebaliknya barangsiapa di antara ummatku yang meninggalkan musyawarah, maka tidak akan hilang kesulitannya (yakni dalam keadaan kesulitan)&#8221; (HR Baihaqi. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)</em></p>
<p>Dan juga ternyata musyawarah ini juga dapat dipakai untuk lingkungan keluarga kaum muslimin, bahkan untuk urusan dunia sendiri. Musyawarah ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, dan terus-menerus. Dengan musyawarah yang berkelanjutan dan baik, saya mendapatkan informasi perubahan-perubahan yang sangat mengembirakan di negara-negara yang sebenarnya kaum muslimin sangat sedikit.</p>
<p><strong>MUJAHADAH.</strong> Ini merupakan langkah kongrit atau amaliyah terhadap keputusan-keputusan yang dibuat dari Muhasabah, Mudzakarah dan Musyawarah. Sehingga proses perbaikan itu akan terus berlanjut. Kisah dialog Salman Al-Farisi RA dengan Nabi Kita, Nabi Muhammad SAW, ketika perang khandaq merupakan bentuk proses yang bagus untuk dipelajari. Dan Allah swt merekamnya ke dalam Al-quran, bahkan yang lebih luar biasa lagi, dalam keadaan tertekan dan terkungkung itu, Allah swt akan memberikan kemenangan di masa depan bagi generasi itu.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. &#8221; (QS Al-Hujurat (49): 15)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. &#8221; (QS  Ash Shaff (61): 4)</em></p>
<p>Itulah empat proses yang perlu dijalankan dalam kehidupan kaum muslimin untuk menjadikan aktifitas da&#8217;wah Islam ini terus mengalami perbaikan-perbaikan dengan baik mencapai TERTIB yang lebih baik.  Dan akhirnya semuanya bergantung kepada kaum muslimin sendiri untuk membangun da&#8217;wah itu dengan tertib.</p>
<p>Thanks,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=285&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/12/pendalaman-dalil-terhadap-dawah-yang-tertib-tentunya-memerlukan-proses-proses-perbaikan-yang-terus-menerus-dan-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>saling menasehati dalam al-Haq dan saling menasehati dalam kesabaran</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/12/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/12/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 00:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[saling menasehati]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Dear all,
Kalau kita terbiasa untuk saling berkomentar dalam satu perkara, dari kerangka yang berbeda, dimana yang satu menilai dari apa yang &#8220;dilihat&#8221; dan yang satu menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, dan jika terus &#8217;saling-berkomentar&#8217; ini terbangun di kalangan ummat Islam; maka tidak pernah wujud apa yang disebutkan dalam ayat al-quran &#8220;saling menasehati dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear all,</p>
<p>Kalau kita terbiasa untuk saling berkomentar dalam satu perkara, dari kerangka yang berbeda, dimana yang satu menilai dari apa yang &#8220;dilihat&#8221; dan yang satu menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, dan jika terus &#8217;saling-berkomentar&#8217; ini terbangun di kalangan ummat Islam; maka tidak pernah wujud apa yang disebutkan dalam ayat al-quran &#8220;saling menasehati dalam al-Haq dan saling menasehati dalam kesabaran&#8221;.</p>
<p>Tentunya bagi yang kaum muslimin muslim dari apa yang &#8216;dilihat&#8217; saja, sebaiknya untuk lebih mengetahui lebih baik, dan kalau ada kekurangannya dari apa yang &#8216;diliha&#8217; maka sebaiknya terjun dan berikan nasehat secara baik dan hikmah. Tidaklah mungkin menasehati apa yang &#8216;dilihat&#8217; itu disampaikan dalam forum ini, TETAPI sebaiknya menyampaikan pada orang yang terdapat kekeliruan atau kekhilafan dari yang bersangkutan. Bukankah kita sering membaca al-quran dan as-sunnah?</p>
<p><span id="more-283"></span>Tentunya bagi kaum muslimin yang menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, tidaklah perlu gusar dan berkecil hati. Dan jika ada sebagian yang mengikuti dari apa yang &#8216;dirasakan dan diterjuni&#8217; mempunyai kekurangan dan kekhilafan, maka berilah nasehat dengan baik dan hikmah. Jangan lupa apa yang tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW, bukan berati Rasulullah SAW melarang para Shahabat RA yang melakukannya. Sehingga inilah kadangkala menimbulkan pandangan berbeda dari kalangan para Ulama sendiri, misalkan saja &#8216;perihal biji tasbih&#8217;. Jangan karena kita menganggap sebagai &#8216;bid&#8217;ah&#8217; daripada pandangan kita, selanjutnya asal-asalan menyampaikan dengan tidak jelas, yang akhirnya akan merusaka da&#8217;wah itu sendiri.</p>
<p>Saat ini kelemahan ummat Islam bertambah banyak, salah satunya dikarenakan saling bantah-membantah. Orang yang memberikan pandangan kepada kaum muslimin, tetapi yang dinilai penilaian tidak mau begitu saja menerima pandangan sepihak. Akhirnya kita menumbuhkan satu karakter jelek dan buruk di sisi agama kita yang mulia yaitu &#8220;saling bantah-membantah&#8221;.</p>
<p>Bagi kaum muslimin yang berkeinginan memberikan pandangan ataupun nasehat kepada kaum muslimin yang telah menerjuni usaha da&#8217;wah, maka sebaiknya sampaikan dengan cara baik dan hikmah. Tahdzir yang tidak hikmah akan menghasilkan hal-hal yang tidak baik pula. Itulah yang banyak dibahas dan dijelaskan oleh kalangan Ulama sendiri, dan bahkan telah dikompilasi dari orang yang banyak mendalami perihal &#8216;tahdzir&#8217; ini dikarenakan banyak kalangan yang mengaku manhaj salafush sholeh ini akhirnya kontra-produktif dan tidak-harmonis. Atau boleh dikatakan sangat bertentangan dengan manhaj salafush sholeh sendiri.</p>
<p>Silahkan semua kaum muslimin belajar dari Al-quran dan as-sunnah, dan ungkap dengan baik kedua hal itu yang telah banyak dituliskan para Ulama. Bagi kalangan ahli usaha da&#8217;wah, cobalah buka seluruh buku :</p>
<p>- Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf Rah<br />
- Kitab fadhilah amal termasuk hikayat kehidupan para Shahabat, Maulana Dzakaria Rah<br />
- Al-muntakhabah Al-hadist, Maulana Yusuf Rah<br />
- Malfudhat Maulana Ilyas Rah, Maulana Manzoor Noomani Rah<br />
- Riyadhush sholihin, Imam Nawawi Rah<br />
- Al-adzkar, Imam Nawawi Rah<br />
- Six Point of Tabligh, Maulana Isyaq Ilahi Rah</p>
<p>Baca dengan baik dan pejalari dengan baik, dan sesudahnya berilah seluruh pandangan-pandangan yang hari ini banyak disampaikan terhadap usaha da&#8217;wah ini berdasarkan kitab-kitab itu dengan baik. Insya Allah, kita akan banyak mendapatkan manfaat dengan baik. Terutama dengan kitab Imam Nawawi Rah, kita akan merasakan seluruh aktifitas dalam usaha da&#8217;wah itu sebagai bentuk latihan-latihan para sholihin. Itulah sangat tepat dengan nama kitabnya, &#8220;Riyadhush Sholihin&#8217;.</p>
<p>&#8220;Sholihin&#8221; merupakan salah satu dari empat tipe yang dinyatakan oleh Allah swt sebagai kawan yang terbaik yang telah diberi Ni&#8217;mat &#8220;Para Nabi, shidiqin, syuhada, dan Sholihin&#8221;. Inilah yang kita sering minta kepada Allah swt, minimal 17 kali. Oleh karena itu, hari ini kita belajar melalui usaha da&#8217;wah untuk latihan-latihan dari amal-amal para Sholihin (Riyadhush Sholihin), maka kita harus bersyukur kepada Allah swt. Dan sebagai rasa syukur kita kepada Allah swt, maka kita harus berusaha terus dalam usaha da&#8217;wah ini sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.</p>
<p>Dan juga kita jangan lupa bahwa &#8220;sholihin&#8221; ini yang disampaikan Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad SAW ketika dialog dengan Allah swt ketika Isra&#8217; Miraj, dan dialog ini terekam dengan baik dalam bacaan tasyahud Sholat kita. Jadi sudah sepantas kita bersyukur dengan ada sarana latihan melalui usaha da&#8217;wah agar kita menjadi bagian dari orang-orang sholihin.</p>
<p>Dan kita tidak perlu lagi saling bantah-membantah lagi dari &#8216;yang dilihat saja&#8217; dengan &#8216;yang dirasakan dan diterjuni&#8217;, tinggalkan semua itu. Lebih baik memberikan pandangan sesuai sumber-sumber kitab itu dengan baik, sehingga kita akan mendapatkan manfaat bagi kita dan orang yang sedang berdiskusi dengan kita.</p>
<p>terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=283&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/12/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
