Kenapa salafi setengah-setengah dalam menyampaikan keterangan hadist?

TETAPI ketika meminta kami untuk bermudzakarah perihal usaha da’wah ini, MAKA tentunya hal itu cukup aneh dari pandangan kami. KARENA begitu banyak sebagian salafi menyebarkan pandangan-pandangan KONTRA terhadap usaha da’wah di situs-situs salafi, TETAPI malahan kami diminta untuk berkunjung.

Apa yang tertulis bebas dan tersebar di kalangan Ummat Islam? Maka tentunya juga membuka wacana ILMU dan ILMIYYAH secara terbuka juga di kalangan Ummat Islam melalui sarana yang sama pula. Itulah APPLE-TO-APPLE communication untuk membuka wacana berimbang.

Ada kawan-kawan salafi meminta kami untuk memperhatikan tulisan yang berada di bawah ini.

http://alqiyamah.wordpress.com/2008/07/05/kitab-fadhail-al-amal-dalam-timbangan-as-sunnah/

Ketika Adam telah berbuat dosa, ia pun mengangkat kepalanya ke atas langit kemudian berdoa: “Aku meminta kepada-Mu berkat wasilah Muhammad, ampunilah dosaku.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Siapakah Muhammad (yang engkau maksud)?” Maka Adam menjawab: “Maha berkah nama-Mu ketika engkau menciptakan aku, akupun mengangkat kepalaku melihat Arsy-Mu, dan ternyata di situ tertulis: Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah. Maka akupun mengetahui bahwa tidak seorang pun yang lebih agung kedudukannya di sisi-Mu dari orang yang telah engkau jadikan namanya bersama dengan nama-Mu.” Maka Allah berfirman kepadanya: “Wahai Adam, sesungguhnya dia adalah Nabi terakhir dari keturunanmu, kalaulah bukan karena dia, niscaya Aku tidak akan menciptakanmu.”

Hadits ini diterjemahkan begitu saja tanpa menerjemahkan takhrij hadits yang disebutkan Al-Kandahlawi. Dia berkata setelah itu: “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Ash-Shaghir, Al-Hakim, Abu Nu’aim, Al-Baihaqi yang keduanya dalam kitab Ad-Dala`il, Ibnu ‘Asakir dalam Ad-Durr, dan dalam Majma’ Az-Zawa`id (disebutkan): Diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, dan dalam (sanad)-nya ada yang tidak aku kenal. Aku berkata: Dan dikuatkan yang lainnya berupa hadits yang masyhur: “Kalau bukan karena engkau, aku tidak menciptakan jagad raya ini”, Al-Qari berkata dalam Al-Maudhu’at: “Hadits ini palsu.”

Tulisan di atas merupakan sebagian tulisan yang terdapat pada situs itu. Kami mengetahui betul bahwa memang penjelasan hadist itu TIDAK DITERJEMAHKAN oleh penterjemahnya, TENTUNYA si penterjemah  mempunyai pertimbangan-pertimbangannya. (Baca: kami sempat bertemu dengan salah seorang penterjemahnya, dan kami sampaikan agar diterjemahkan dicetakan baru. Mudah-mudahan saja diterjemahkan di centakan barunya)

Kami kembali terhadap terjemahan yang dilakukan seperti dalam tulisan itu. (baca: tulisan situs banyak tersebar). Terjemahan tulisan itu DIPOTONG TIDAK DITERJEMAHKAN SESUAI DENGAN SUMBERNYA, Kitab Fadhoil Dzikir, Maulana Dzakaria Rah.

Silahkan kepada kaum muslimin untuk mempelajari Kitab Fadhoil, Maulana Dzakaria Rah, dalam kitab fadhilah Dzikir dengan hadits itu. Dan apa yang kami tuliskan itu akan ditemukan bahwa memang sebagian textnya itu TIDAK DITEJEMAHKAN oleh salafi yang bersangkutan.

Silahkan untuk dicermati …

Popularity: 36% [?]

4 Responses to Kenapa salafi setengah-setengah dalam menyampaikan keterangan hadist?

  • sayang sekali para salapi panatik yang tidak faham, padahal mereka2 itu dulunya ahli maksiat, sesudah 3 hari malah rajin ke mesjid, ke taskyl iblis laknatullah alaih mencari ilmu, makanya udah pegang buku dari gurunya berani berdalil dan berfatwa, pantaslah Rasulullah SAW bilang, janganlah kamu mencari ilmu untuk menyaingi ulama, hehe….. gimana nih ? katanya, katanya… runutannya dari bin baz, utsaimin padahal bahasa arab belum fasih, hehe….dulu berani dakwahi teman yang sesama preman dan polisi sesudah kenal salapi malah penakut dan lihat aparat terkentut-kentut, gimana ini ? apakah ALLAH itu lebih mudah dibelakangkan daripada mengajak orang untuk shalat ? hehe…. tabligh dengan segala keadaaannya berani mengajak siapa saja untuk meramaikan mesjid, tahukah ente2 sekalian, umar RA saja waktu jadi amir, bilamana datang ke suatu daerah maka akan di ceknya apakah jemaah mesjidnya lebih ramai dari penduduknya, samakah jumlahnya atau lebih sedikit, bilamana jemaah mesjidnya sedikit maka umar RA akan menyeret orang2 yang ada di sana dan langsung menghukumnya, masya ALLAH…. lha ngajak orang ke mesjid dianggap bid’ah, jadi kalau bermaksiat dibiarkan saja ? hehe…. pantaslah salapi ini tak beriman, tak malu melihat saudara sendiri menjadi kafir dan sesat, padahal iman adalah malu dan bilamana kita tidak bisa memakai tangan menangani kemaksiatan, cegahlah dengan mulut, hehe…. jadi mengajak orang shalat itu sesat ? hehe… ngetuk2 pintu orang untuk ajak ke mesjid sesat ? hehe…. jadi Rasulullah SAW mengajak kaumnya kepada agama sesat ? hehe…. jadi kalian ini sama saja dengan yahudi nashara, tidak mau melihat orang menjadi beriman…. masya ALLAH….

  • Assalamualaukum

    Saya coba kebenarannya dengan mengecek langsung pada kitab fadhail amal karangan syaikhul hadits maulana zakariya rah (gelar syaikhul hadits diberikan oleh guru beliau, Muhaddis Syaikh khalil ahmad rah pengarang kitab Bajhul Majhud Fi Hilli Alfazhi Abi Dawud) terbitan as-saff yogyakarta pada hadits ke 28 fadhilah zikir. Dan ternyata benar, Kalimat penjelasan imam Qori rah dipotong dan tidak diterjemahkan, padahal kalimat itu fundamental dan menjadi penguat hadits itu..Apakah itu yang dinamakan pembohongan publik dan pembohongan ilmiah…hemmm…

  • Haitan Rachman:

    Sdr. Android,
    Wa’alaikumussalam wr. wb.

    Terimakasih sdr. sudah mengeceknya, dan saya memang tidak berkeinginan mengSCAN cepat-cepat. Hal ini agar kaum muslimin TERBIASA membuka sumber aslinya. KETIKA terdapat dua pandangan yang berbeda. Tidak hanya mendapatkan dari satu sumber saja.

    Saya tidak mengetahuinya, apakah itu disebut sebagai pembohongan ilmiyyah atau tidak. TETAPI yang jelas adalah penulis salafi itu tidak menterjemahkannya secara lengkap ketika akan memberikan kritisasi. Orang awam yang tidak mengerti, tentunya dianggapan bahwa tulisan salafi itu sudah benar. Padahal ada informasi yang dipotongnya.

    Dan perihal hadist lainnya, saya malahan mendapatkan hadist yang berbeda 100%. Apakah karena salah terjemahannya, atau memang ada orang yang memberikan kritisasinya akan tetapi dengan menggunakan hadits yang berbeda, sedangkan penterjemahnya tidak mengetahuinya? Saya tidak mengetahuinya. hadist berkaitan dengan pemberian syafa’at Rasulullah SAW kepada siapa yang berziarah ke makamnya beliau, yang mana hadist ini dishohihkan para Ulama. TETAPI yang ditulis penulis salafi itu adalah hadist itu berkaitan dengan masuk surga Allah swt yang berjiarah ke maqam Rasulullah SAW. YA JELAS, hal itu berbeda SEKALI 100%.

    YANG SAYA SENANGI adalah sdr. sudah bisa membuktikannya, dan saya membuktikan dari 3 kitab fadhoil yang mempunyai versi yang berbeda, yaitu versi Inggris (yang dicetak dari India), versi Indonesia, versi melayu.

  • Contoh lagi cuplikan para salafi, yang menganggap gak nalar amal para ulama-ulama besar..
    ==========================================================
    Berikut ini, akan kami nukilkan pula beberapa perkataan yang dinukilkan dari kaum Shufiyyah:
    Disebutkan pada bab Fadhilah Shalat, hal. 316-317, Al-Kandahlawi berkata: Asy-Syaikh Abdul Wahid rah. a10, seorang sufi yang masyhur, mengatakan bahwa pada suatu hari beliau didatangi rasa kantuk yang luar biasa, sehingga beliau tertidur sebelum menyelesaikan dzikir malam itu. Di dalam mimpinya beliau melihat seorang gadis berpakaian sutera hijau yang amat cantik sementara seluruh tubuh hingga kakinya sibuk berdzikir. Gadis tersebut bertanya kepada beliau, adakah keinginan beliau untuk memilikinya? Dia mencintai beliau, kemudian dibacanya beberapa bait syair. Setelah bangun dari tidurnya, beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan tidur pada malam hari. Diriwayatkan bahwa selama 40 tahun beliau shalat shubuh dengan wudhu shalat ‘Isya.

    Dalam kisah ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

    Pertama: Bahwa Allah azza wa jalla telah melarang kita untuk berbuat ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beribadah, dan memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya sesuai dengan kemampuan. Sehingga, agama ini menghendaki agar seorang muslim mengerjakan ibadah tersebut dalam keadaan nasyath (giat), sehingga mampu mengerjakan ibadah tersebut dalam keadaan khusyu’ dan sesempurna mungkin. Dan apabila ia dalam keadaan mengantuk, maka dianjurkan baginya beristirahat hingga rasa kantuk tersebut hilang.

    Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki masjid, ternyata ada sebuah tali yang terbentang di antara dua tiang, lalu beliau bertanya, “Tali apa ini?” Mereka menjawab, “Tali ini milik Zainab (11), jika ia lesu (berdiri untuk shalat), diapun bergantung dengannya.” Maka Nabi n bersabda: “Lepaskan (tali) itu. Hendaklah salah seorang kalian shalat di saat giatnya. Jika ia lesu, maka hendaklah ia tidur.”

    Demikian pula yang diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    ????? ?????? ?????????? ?????? ???????? ???????????? ?????? ???????? ?????? ?????????? ??????? ?????????? ????? ?????? ?????? ??????? ??? ??????? ????????? ???????? ???????????? ????????? ????????

    “Jika salah seorang kalian dalam keadaan mengantuk, sementara dia shalat. Maka hendaklah ia tidur sampai hilang rasa kantuknya. Karena sesungguhnya jika salah seorang kalian shalat dalam keadaan mengantuk, dia tidak mengetahui. Jangan sampai dia hendak beristighfar lalu tanpa sadar ia mencerca dirinya sendiri.” (Muttafaq ‘Alaihi)
    Kedua: Bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan di antara petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melaksanakan shalat malam adalah apa yang beliau sebutkan dalam haditsnya, yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    ??????? ?????????? ????? ????? ??????? ??????? ??????? ???????? ??????? ?????????? ???????? ????????? ?????????? ????? ????? ??????? ??????? ????? ??????? ?????? ????????? ?????????? ???????? ????????? ????????

    “Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Dawud. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Dawud, beliau tidur di pertengahan malam, bangun di sepertiga malam, dan tidur seperenam malam.” (Muttafaqun ‘alaihi)

    ==========================================================
    coba bandingkan dan baca kisah para ulama ini
    Apakah mereka khurafat…
    1) Imam Ibnul-Haj’r Asqalani (RA) & Imam Dahabi (RA) both relate that Sayyidina Zainul-Abideen Ali Ibn Hussain (RA) used to pray 1000 Rakaat daily till he passed away [Tadhkiratul-Huffaz, Tahzeeb Wat-Tahzeeb]

    2) Imam Maumoon Ibn Mehraan used to pray 1000 Rakaat daily and once completed 17,000 Rakaat in 17 days [Tahzeeb Wat-Tahzeeb]

    3) Imam Mirra Ibn Sharaheel Hamdani used to pray 1000 Rakaat daily but in his old age he had reduced it to 400 Rakaat daily [AlBidaya Wan-Nihaya]

    4) Sayyidina Ali Ibn Abdullah Ibn Abbas used to pray 1000 Rakaat daily [Tahzeeb Wat-Tahzeeb]

    5) Umair Ibn Hani (RA) used to pray 1000 Rakaat daily and used to read 100,000 Tasbeehs daily

    ini kali cerita yang cocok dengan nukilan salafi itu, yang memang gak sampai di nalar mereka. tapi di amalkan oleh para ulama besar…………….

    Imam Ibn Katheer (RA) relates that Imam Abu Haneefa (RA) used to perform his Fajar Salah with the wudhu of Esha Salah for 40 years and at the spot where he passed away he had finished the Qur’aan 7000 times (please note that in some manuscripts it is printed as 70,000 instead of 7,000) [AlBidaya Wan-Nihaya]

Leave a Reply

PENGUMUMAN FACEBOOK

FACEBOOK "MADRASAH DA'WAH DAN ISLAM"

Kami telah menambah fasilitas "Madrasah Da'wah dan Islam" melalui Jejaring Social Facebook. sdr. sekalian dapat berbagi dan pendalaman berkaitan dengan usaha da'wah dan Al-Islam.

Kita dapat mendalami bersama perihal Islam, dan juga hal-hal yang banyak disampaikan terhadap usaha da'wah dan kaum muslimin lainnya oleh sebagian salafi. Atau kalangan salafi dapat menyampaikan pandangan-pandangannya lebih lengkap dan ilmiyyah.

Silahkan untuk bergabung

FACEBOOK "MADRASAH DA'WAH DAN ISLAM"