<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Da&#8217;wah</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/dawah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam bermimpi bertemu Rasulullah SAW</title>
		<link>http://usahadawah.com/kisah-pendeta-senior-di-afrika-selatan-yang-masuk-islam-bermimpi-bertemu-rasulullah-saw/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kisah-pendeta-senior-di-afrika-selatan-yang-masuk-islam-bermimpi-bertemu-rasulullah-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Jun 2011 01:50:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Bermimpi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Masuk Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Pendeta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam bermimpi bertemu Rasulullah SAW
&#8220;Ya Tuhanku&#8230; Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku&#8230; sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu&#8230; Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran&#8230; manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku&#8230; jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan&#8230; tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah pendeta senior di Afrika Selatan Yang Masuk Islam bermimpi bertemu Rasulullah SAW</p>
<p>&#8220;Ya Tuhanku&#8230; Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku&#8230; sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu&#8230; Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran&#8230; manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku&#8230; jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan&#8230; tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar&#8230;</p>
<p>Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-&#8217;Alam al-Islami di sana.</p>
<p><span id="more-56"></span>Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.&#8217; Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.</p>
<p>Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, &#8220;Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?&#8221; ia tersenyum dan berkata, &#8220;Ya, tentu saja boleh.&#8221;</p>
<p>Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!</p>
<p>Sily berkata, &#8220;Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.</p>
<p>Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!</p>
<p>Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.&#8217; Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.</p>
<p>Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, &#8220;Bukankah anda seorang pendeta?&#8221; Aku jawab, &#8220;Benar.&#8221; Lantas ia bertanya kepadaku, &#8220;Siapa Tuhanmu?&#8221; Aku katakan, &#8220;Al-Masih.&#8221; Ia kembali berkata, &#8220;Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku&#8217;.&#8221; Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.</p>
<p>Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, &#8220;Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.&#8221; Aku katakan, &#8220;Kalau begitu, coba beri jawabannya!&#8221; Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.</p>
<p>Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.</p>
<p>Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, &#8220;Ya Tuhanku&#8230; Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku&#8230; sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu&#8230; Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran&#8230; manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku&#8230; jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan&#8230; tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar&#8230;&#8221; lantas akupun tertidur.</p>
<p>Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, &#8220;Wahai Ibrahim!&#8221; Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, &#8220;Kamu Ibrahim&#8230; kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?&#8221; Aku jawab, &#8220;Benar.&#8221; Ia berkata, &#8220;Lihat ke sebelah kananmu!&#8221; Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!&#8221; Lanjut lelaki itu.</p>
<p>Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.</p>
<p>Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.</p>
<p>Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, &#8220;Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.&#8221; Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.</p>
<p>Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, &#8220;Selamat datang ya Ibrahim!&#8221; Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, &#8220;Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah SWT untuk hamba-Nya yaitu Islam.&#8221; Aku katakan, &#8220;Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.&#8221; Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, &#8220;Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?&#8221; Ia berkata, &#8220;Benar.&#8221;</p>
<p>Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah SWT telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, &#8220;Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.&#8221; Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, &#8220;Demi Allah sesungguhnya Allah SWT telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.&#8221; Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.</p>
<p>Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.</p>
<p>Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, &#8220;Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.&#8221; Aku katakan, &#8220;Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.&#8221; Mereka semua terdiam.</p>
<p>Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, &#8220;Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.&#8221;</p>
<p>Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, &#8220;Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.&#8221; Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.</p>
<p>Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,&#8221; Sily mengakhiri kisahnya.</p>
<p>Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da&#8217;i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da&#8217;i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar&#8217;i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.</p>
<p>Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma&#8217;had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, &#8220;Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?&#8221; Ia menjawab, &#8220;Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.&#8221;</p>
<p>Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah&#8230; medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, &#8220;Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, tidakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!&#8221;</p>
<p>Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal&#8230; kami berjalan lamban&#8230; kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da&#8217;i Ibrahim Sily, Da&#8217;i berbangsa Spanyol Ahmad Sa&#8217;id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (alsofwah)</p>
<p>(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616)</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=56&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kisah-pendeta-senior-di-afrika-selatan-yang-masuk-islam-bermimpi-bertemu-rasulullah-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha Da&#8217;wah dan Aksi Demo</title>
		<link>http://usahadawah.com/usaha-dawah-dan-aksi-demo/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/usaha-dawah-dan-aksi-demo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 00:03:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Aksi Demo]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/2010/03/27/analisa-dan-sintesa-terhadap-usaha-dawah-dan-aksi-demo/</guid>
		<description><![CDATA[Kepada kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Terdapat pandangan kami pribadi terhadap aksi demo dan usaha da&#8217;wah, dan juga kami tuliskan sebelumnya di  myquran (http://myquran.com/forum/showthread.php/6876-Menyikapi-pemerintah-yang-dzolim-dengan-demo/page12), setelah ada yang berusaha menghubungkan perihal demo dengan usaha da’wah.
Dibawah ini kami berikan pandangan kami pribadi (baca: bukan ijtima’iyyah) untuk membuka wacana analisa dan sintesa bersama.
Akan sulit diuraikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada kawan-kawan yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Terdapat pandangan kami pribadi terhadap aksi demo dan usaha da&#8217;wah, dan juga kami tuliskan sebelumnya di  myquran (<a href="http://myquran.com/forum/showthread.php/6876-Menyikapi-pemerintah-yang-dzolim-dengan-demo/page12">http://myquran.com/forum/showthread.php/6876-Menyikapi-pemerintah-yang-dzolim-dengan-demo/page12</a>), setelah ada yang berusaha menghubungkan perihal demo dengan usaha da’wah.</p>
<p>Dibawah ini kami berikan pandangan kami pribadi (baca: bukan ijtima’iyyah) untuk membuka wacana analisa dan sintesa bersama.</p>
<p>Akan sulit diuraikan perihal aksi demo dan usaha da&#8217;wah, karena untuk dapat menjawab hal itu maka sebenarnya kaum muslimin perlu mengetahui dengan baik perihal pikir, tertib, ushul, adab, Iman dan Amal Sholeh, Sifat para Shahabat RA, korban, dsb yang dibangun dalam usaha da&#8217;wah itu sendiri. Ketidakpahaman terhadap hal-hal itu, maka biasanya sebagian kaum muslimin itu menduga-duga terhadap usaha da&#8217;wah. Yang namanya menduga-duga bisa saja tepat atau tidak tepat.</p>
<p><span id="more-318"></span>Usaha da’wah selalu terdapat &#8220;tasykil&#8221; yang tujuannya mengajak langsung kaum muslimin untuk terjun dan merasakan langsung dengan usaha da&#8217;wah ini, apakah itu 3 hari, 40 hari, 4 bulan dsb.</p>
<p>Dan kadangkala sering menyampaikan kalimat, “kalau ingin memahami ini kerja, maka coba saja Khuruj dengan waktu yang ada. Insya Allah nanti akan mengerti ini”. Sama seperti orang diajari teori berenang, tetapi tidak pernah belajar berenang langsung. Sampai kapanpun orang yang diajari berenang dan belum berlatih berenang langsung, tidak akan merasakan apa yang disampaikannya itu.</p>
<p>Kami tidak pernah mendengar ataupun mudzakarah perihal demo dari kalangan Ulama usaha da&#8217;wah. Usaha da&#8217;wah tidak dapat DIBANDINGKAN APPLE-TO-APPLE dengan aksi demo itu, karena tentunya mempunyai sasaran dan bentukan yang berbeda. Kalaupun kalangan usaha da&#8217;wah secara ijtima&#8217;iyyah tidak melakukannya, tetapi belum tentu secara personal-personal mungkin saja ada yang mengikuti aksi demo itu.</p>
<p>Aksi demo ini mempunyai keunikan, kadangkala satu perkara ditanggapi dengan AKSI DEMO oleh kalangan-A, tentunya hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa kalangan-A. Tetapi perkara yang sama ditanggapi TIDAK ADA AKSI DEMO oleh kalangan B, tentunya hal ini sesuai dengan analisa dan sintesa kalangan-B sendiri. Tetapi ada kalanya ditanggapi AKSI DEMO sama-sama oleh kalangan-A dan Kalangan-B, tentunya sesuai dengan analisa dan sintesanya masing-masing. Dan hal itu kita dapat perhatikan dengan beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Bahkan mungkin saja ada satu perkara yang begitu tinggi Aksi Demonya oleh masyarakat lainnya, tetapi kalangan tertentu tidak muncul sama sekali untuk melakukan AKSI DEMOnya. Tetapi ketika ada satu kaitan yang berada jauh dari tempat kita, dan begitu semangat melakukan AKSI DEMO. Itulah keunikan-keunikan yang terjadi dengan Aksi Demo, artinya di dalamnya ada kepentingan-kepentingan untuk menjaga kepentingan-kepentingan itu.</p>
<p>Perihal Palestina yang sekarang ini, seharusnya kita perlu banyak belajar dari Ummar Bin Khatab RA. Jika ada orang berkeinginan membuat perahu, tentunya kita harus belajar dari orang yang ahli membuat perahu. Tidaklah mungkin kita membuat perahu, tetapi kita belajar dari ahli bangunan. Di myquran sebelumnya, kami telah memberitahukan bahwa kejadian tahun 2009 akan terulang di waktu akan datang. Dan ternyata benar tahun 2010 sudah terulang lagi. Dan jika kalangan Israel ini keluar dahulu, di waktu akan datang akan datang lagi dengan pola yang sama. Begitulah perilaku Bangsa Israel itu. Dan memang sifat mereka itu sudah dikenal dengan baik dalam Al-quran.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah ini tidak memandang apakah seseorang aktif di partai atau tidak, sehingga bisa saja ada orang Golkar, orang PKS, orang PDI, orang bukan anggota partai (baca: kami) dsb. Bisa dibayangkan kalau usaha da&#8217;wah ini mendorong aksi demo dan kebetulan berbenturan dengan partai tertentu, maka yang ada menjadi masalah terhadap da&#8217;wah Islam itu sendiri. Dan menimbulkan polemik yang luas, ketika rombongan da&#8217;wah Islam ini datang ke tempat-tempat akan ditolak karena urusan dunia. Jelas ini akan menjadi kerugian bagi kaum muslimin juga.</p>
<p>Yang kita mau adalah bagaimana ISLAM dapat memberikan KESAN dan PESAN kepada seluruh masyarakat kita, sehingga di manapun dia berada akan selalu membawa KEBENARAN dan HIKMAH di lingkungannya. Sudah jelas ujungnya, kalau tidak mendapatkan hidayah Allah swt maka CELAKA, dan kalau mendapatkan hidayah Allah swt maka SUKSES.</p>
<p>PIKIR HIDAYAH merupakan satu hal yang sangat ditekankan, bagaimana Hidayah Allah swt tersebar ke seluruh alam. Sehingga tidak heran jika banyak rombongan disebarkan ke berbagai negara, dan dengan ijin Allah swt banyak kaum muslimin yang telah jauh dengan Al-Islam banyak di antaranya banyak yang kembali ke pangkuan Islam. Dan bahkan banyak orang di luar Islam masuk ke dalam Islam, bagaimana seorang mafia di Italia, dan masuk Islam kemudian belajar Islam serta da’wah. Pulang ke Italia begitu aktif mengajak kawan-kawannya masuk ke dalam Islam, dan cukup banyak yang masuk ke dalam Islam.</p>
<p>Ini salah satu kisah yang dikisahkan oleh seorang Ulama Saudi Arabia, dan juga dikutip di Al-softwah. <a href="http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkisah&amp;id=103">http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkisah&amp;id=103</a>, dan kami sendiri senang dengan kisah ini. Dan sekarang pertumbuhan di Islam di Afrika Selatan begitu besar, dan mereka yang banyak menyebarkan Islam di seluruh Afrika sekarang ini.  Inilah hasil-hasil dari PIKIR HIDAYAH, dan tentunya PIKIR HIDAYAH ini harus merata di tubuh kaum muslimin, sehingga akan tumbuh masyarakat Islami itu sendiri di berbagai lapisan dan berbagai belahan dunia.</p>
<p>Urusan-urusan dalam tubuh kaum muslimin sangat banyak dan luas macamnya, dan kemungkinan banyak perkara/urusan yang tidak pernah ada dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA sendiri, misalkan aksi demo, bentuk negara, politik kepartaian, bank, dsb.</p>
<p>Dan tidak mungkin semua amal-amal Islam itu wujud di tengah-tengah kaum muslimin, KECUALI dengan HIDAYAH Allah swt. Kemenangan kaum muslimin di badar, itu karena bantuan Allah swt. Kenapa di perang Hunain bisa kalah? Bukankah jumlahnya lebih besar dan lengkap, bukankah di sana ada Nabi yang mulia dan para Shahabat RA? Tetapi kenapa bisa kalah dalam perang Hunain di awalnya? Karena para Shahabat merasa BANGGA dengan jumlah. Nampaknya kecil, TETAPI di sisi Allah swt hal itu SANGAT BESAR. Kisah perang Hunain tercatat dengan baik.</p>
<p>Sehingga usaha da’wah tidak dapat begitu saja dilibatkan atau dibandingkan aksi demo yang mempunyai analisa dan sintesa yang beragam, meskipun dijalankan oleh kaum muslimin sekalipun. Jika ada kaum muslimin yang mempunyai analisa dan sintesa untuk melakukan Aksi demo, silahkan hal itu dilakukan dengan baik dan tertib, tidak mengganggu aktifitas masyarakat lainnya (baca: dan mungkin saja ada secara personal kalangan usaha da’wah yang mengikuti aksi demo, tetapi perkara infirodhiyyah).</p>
<p>Tetapi semua kaum muslimin harus mempunyai PIKIR HIDAYAH dan RAHMATAN LIL’ALAMIN agar Islam ini dapat wujud di seluruh alam, tentunya di tempat kita sendiri. Serta tidak lupa dengan AMAL-AMAL MASJID, karena Masjid itu yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah HIJRAH untuk memadukan kaum Muhajirin dan Anshor, sehingga Islam dapat terpancar ke berbagai lapisan dan negeri. Tanpa adanya AMAL-AMAL MASJID, maka jangan berharap kita kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan keunggulan. Tidaklah mungkin kemenangan dan pertumbuhan, kecuali meniru dari orang-orang yang pernah berhasil untuk mencapai itu.</p>
<p>Tidaklah dapat melaksanakan hal-hal itu kecuali mempunyai NIAT ISHLAH DIRI, dan berusaha mencapai dan memiliki SIFAT-SIFAT PARA SHAHABAT RA, dan untuk itulah kita perlu banyak korban dengan HARTA dan JIWA kita sendiri.</p>
<p>Mudah-mudahan dapat dicerna sebuah wacana analisa dan sintesa terhadap Usaha da’wah dan Aksi Demo.</p>
<p>Terimakasih,</p>
<p>Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=318&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/usaha-dawah-dan-aksi-demo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat-Menyurat Da&#8217;wah Dengan Abdul Qahhar</title>
		<link>http://usahadawah.com/surat-menyurat-dawah-dengan-abdul-qahhar/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/surat-menyurat-dawah-dengan-abdul-qahhar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 02:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surat Menyurat Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Abdul Qahhar Wrote:
Salam ukhwah, saya agak terlewat membaca blog ini mungkin. tapi, saya sudah pun membaca sebahagian besar artikel dalam blog ini.
dah sekian lama saya mencari jawapan kepada persoalan dan tomahan kepada usaha tabligh ini sebenarnya. sebab adalah tak adil jika tidak mendapatkan keterangan dari pengiat tabligh sendiri berkenaan tomahan tersebut.
rata-rata, sikap ahli tabligh yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abdul Qahhar Wrote:</p>
<p>Salam ukhwah, saya agak terlewat membaca blog ini mungkin. tapi, saya sudah pun membaca sebahagian besar artikel dalam blog ini.</p>
<p>dah sekian lama saya mencari jawapan kepada persoalan dan tomahan kepada usaha tabligh ini sebenarnya. sebab adalah tak adil jika tidak mendapatkan keterangan dari pengiat tabligh sendiri berkenaan tomahan tersebut.</p>
<p>rata-rata, sikap ahli tabligh yg tidak mahu membicarakan perihal isu dan tomahan ttg tabligh menjadikan org luar susah untuk menerima gerak kerja Tabligh ini.</p>
<p>setelah membaca blog ini, kebanyakkanya persoalan dalam diri saya telah terjawab berkenaan dengan perihal tabligh dari hukum syarak dan menjwab fatwa2 yang terlibat.</p>
<p>kami berharap pihak tuan dapat kembali aktif dlm blog ini untuk terus menerus memberikan kefahaman ttg JT ini sendiri.</p>
<p>harapan dari semua pihak agar semua jemaah dapat bersatu di atas nama Islam, dan berharap agar pimpinan tabligh turut mengesa ahli untuk belajar menerima bezanya jemaah Islam lain pula&#8230;</p>
<p>Maradhatillah</p>
<p><span id="more-260"></span>Sdr. Abdul Qadhar Yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p> 1. Para Ulama yang awal-awal terjun dalam usaha da&#8217;wah ini merupakan orang-orang yang hafidz dan juga alim dalam urusan ilmu hadits serta bidang ilmu Al-Islam lainnya. Maulana Ilyas Rah mengetahui juga perihal adanya pandangan kritis terhadap usaha da&#8217;wah ini, tetapi beliau tidak memberikan pandangan berimbang terhadap pandangan tersebut. Tentunya bagi beliau, apalagi yang mengangkat kembali usaha da&#8217;wah ini wujud, mempunyai pertimbangan-pertimbangannya.</p>
<p>Maulana Yusuf Rah juga mengetahui hal ini, beliau adalah seorang ahli hadist dan kita bisa mendapatkan karya beliau yang berkaitan dengan syarh hadist beliau yang dalam terhadap kitab hadits yang disusun Imam Thahawi Rah. Beliau sebagai orang alim, hafidz, dan juga penanggung jawab, serta juga penulis kitab, tentunya beliau perlu memberikan jawaban terhadap pandangan kritis, maka beliau menulis buku &#8220;Hayatush Shahabat&#8221;.</p>
<p>Kitab ini merupakan pensarian, terhadap topik-topik yang banyak diperbincangkan kaum muslimin terhadap usaha da&#8217;wah, sehinga beliau menjelaskan bahwa jika berkeinginan memahami usaha da&#8217;wah ini dengan baik maka hendaknya selalu berhubungan dengan sirah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Sirah-sirah ini tersebar dalam berbagai kitab, tidak hanya dalam kitab sirah itu sendiri. Bahkan dalam kitab hadist dan tafsir saja terdapat sirah.</p>
<p>Maulana Yusuf Rah mempersilahkan kepada siapapun, termasuk kepada kaum muslimin yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh sendiri, untuk menggali secara ILMIYYAH yang berkaitan dengan usaha da&#8217;wah. Dan kami sangat setuju dan senang, karena itu memberikan kelonggaran berpikir dan tidak menjadikan kaum muslimin yang terlibat sendiri menjadi katak dalam tempurung. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mendalami.</p>
<p>Artinya bagi kita sendiri, termasuk kami, perlu banyak memperlajari sirah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan para Shahabat RA. Allah swt dengan tegas dan jelas menjelaskan perihal ini, hanya saja kita kaum muslimin kurang memperhatikan dengan baik.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.&#8221; (QS Yusuf (2): 111)</p>
<p>Al-quran banyak sekali bercerita sirah, bahkan termasuk dialog yang penting antara Allah swt dengan para malaikat sendiri tercatat dengan baik, termasuk pembangkangan Iblish La&#8217;natullah.</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">2. Sekarang ini sebenarnya telah banyak Ulama yang memberikan pandangan tertulis secara baik terhadap pandangan-pandangan yang tidak tepat, dan terdapat juga Ulama ini dari kalangan Ulama Arab sendiri. Bahkan kami telah mendapatkan beberapa tafsir ayat dari yang disampaikan dengan baik oleh seorang Dr. ahli tafsir, yang berkaitan dengan usaha da&#8217;wah ini. Penjelasan seperti ini disertai dengan perjalanan para Shahabat RA sendiri, sehingga beliau tetap mengikuti pola tafsir yang telah banyak ditulis para Ulama sebelumnya.</p>
<p>Tulisan-tulisan ini masih di kalangan masyarakat berbahasa Arab. Sehingga tentunya pertumbuhan ILMIYYAH ini akan terus tumbuh dengan sendiri. Karena sebenarnya sumber-sumber Al-Islam sudah begitu luas dan banyak yang ditulis para Ulama sebelumnya, seperti para Imam Mhadzab, para Imam Hadits, dsb.</p>
<p>Kami sering dinasehati sebelum mengenal usaha da&#8217;wah ini untuk selalu belajar Al-Islam. Itulah mungkin yang kami tidak pernah berhenti mencari dan mengkaji, apalagi para Ulama da&#8217;wah sering menekankan untuk meningkatkan ‘Jiwa Thalab&#8217;. Memang kami sendiri tidak mudah untuk mencari dalil dari sumber-sumber para Ulama yang berkaitan dengan usaha da&#8217;wah. Para Ulama da&#8217;wah tidak mau memberikan beban atau kesulitan terhadap kaum muslimin, sehingga dibuatlah pola yang sederhana dan setiap lapisan kaum muslimin dapat terlibat dengan baik.</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">3. Kami bisa bayangkan bagaimana akan sulitnya kaum muslimin, jika para Ulama da&#8217;wah ini memberikan dalil-dalil secara detail. Jangan-jangan akan menyulitkan, dan akhirnya tidak produktif bagi kaum muslimin. Dan tentunya orang bijak akan melakukan yang bijak pula. Itulah yang kami senangi dan kagum. Dan kami temukan hal ini dari diri Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Dan bahkan kami temukan dari kitab-kitab para Ulama dulu, hanya saja kita kurang memperhatikannya. Sebagai contoh saja, Imam Nawawi Rah beliau ini banyak menulis kitab dengan baik. Kitab-kitab itu memperlihatkan tingkatan bagi kaum muslimin sendiri. Apakah semua orang dapat membaca syarh Imam Muslim dan juga Majmu fatwanya? Tetapi beliau menulisan Riyadhush Sholihin, semua orang akan mudah membacanya.</p>
<p>Bagi siapapun, termasuk ahli da&#8217;wah, yang mau mendalami dalil-dalilnya yang berkaitan usaha da&#8217;wah dan tabligh, maka perlu meniru dengan baik bagaimana para Shahabat RA ataupun para Imam dalam mencari Ilmu. Jangan hanya mau disuapi saja, tetapi carilah ilmu itu. Kita harus meniru seperti Ibnu Abbas Ra ketika mau mendapatkan satu hadist, sampai beliau harus menunggu berjam-jam di rumah shahabat dikarenakan seorang shahabat ini sedang tidur. Atau seperti Imam Muslim, bagaimana beliau mencari ilmu dari berbagai kalangan dan sumber tentunya.</p>
<p>Sehingga kami mengikuti pesan guru-guru kami untuk terus belajar, dan juga para ulama da&#8217;wah yaitu untuk meningkatkan ‘Jiwa Thalab&#8217;. Dengan begitu kami akan lebih leluasa, karena tentunya para Ulama da&#8217;wah, seperti Maulana Ilyas, Maulana Yusuf, dsb, bukanlah ulama yang hanya asal-asalan dalam menetapkan kaidah-pola, tanpa melihat dan mempelajari dari sumber-sumber Ulama sebelumnya. Apalagi keduanya terlahir dari keluarga yang 800 tahun tidak terputus keulamaan di keluarganya. Dan hal ini sangat luar biasa.</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">4. Kalangan kaum muslimin, apakah itu Ulama, ustadz, ataupun penuntut ilmu, yang banyak memberikan pandangan kritis, bagi kami hal itu merupakan anugrah yang tidak terduga. Di sinilah kami banyak bersyukur. Kenapa? Kalangan kaum muslimin banyak mempelajari, menulis dan mensarikan kitab-kitab secara aktif, tentunya tidak akan lepas dari sumber-sumber para Ulama sebelumnya.</p>
<p>Sudah dijelaskan bahwa para Ulama da&#8217;wahpun tidak lepas sumber-sumber Ulama sebelumnya, dan mungkin saja mendapatkan sumber yang sama dan tentunya pasti. Misalkan para Ulama tidak mungkin melepaskan diri dari sumber seperti kitab Imam Bukhari, ataupun Imam Muslim, atau Imam Abu Daud. Sehingga secara automatis akan terangkat berbagai sumber dengan baik.</p>
<p>Mungkin sdr. akan mencari dalil perihal sholat Isyraq (yang biasa dilakukan sekitar jam 6-an), mecari dalil ini tidak mudah. Meskipun Maulana Dzakariya Rah menuliskan dalam kitab fadhilah amal, tetapi beliau hanya mensarikannya. Bisa sdr. bayangkan bagaimana kita mencarinya? Karena kalangan kaum muslimin ini aktif menulis, membaca dan mensarikan kitab para Ulama, maka dengan sendiri akan terbentuk dalam bentuk topik-topik dan index. Sehingga akan lebih mudah. Dan kami temukan penjelasannya dengan baik dari kalangan kaum muslimin yang mungkin masih tidak sreg dengan usaha da&#8217;wah.</p>
<p>Atau jika sdr. membaca kitab shohih pilihan yang disusun Syeikh Al-Banni Rah, di bagian pertama hadist di bawah nomor 5. Di bagian itu terdapat keterangan perihal tegaknya Al-islam. Dan wujudnya itu akan masuk ke setiap rumah dan lorong. Kira-kira bagaimana mewujudkannya kalau begitu?</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">5. Dalam menghadapi perbedaan dengan kaum muslimin lainnya kita perlu saling menghormati, tidak perlu meremehkan, tidak perlu menghina, dan tidak perlu mencibirkannya. Itulah Ikramul Muslimin yang sering disampaikan. Tetapi kita harus mempunyai keteguhan dengan keputusan kita sendiri, bahkan kita perlu dapat menjelaskannya secara ILMIYYAH dan HIKMAH. Sehingga tentunya kaum muslimin yang mempunyai pandangan berbeda pandangan itu akan mendapatkan PANDANGAN BERIMBANG secara ilmiyyah dan hikmah.</p>
<p>Apa yang dipesan salah seorang guru kami (sebelum kami mengikuti usaha da&#8217;wah) bahwa banyak sekali perbedaan di kalangan kaum muslimin yang memungkinkan menuju pada perpecahan di kalangan ummat, maka kami dianjurkan mendalami kitabnya perbedaan madzhab yang ditulis Ulama dulu. Dari sisi kami melihat hal itu untuk berpikiran yang luas dan ilmiyyah, dan Maulana Dzakaria Rah menulis hanya dalam satu perkara yaitu wudhu saja sudah perbedaan sampai 60. Kenapa dalam ahli da&#8217;wah ditekankan untuk tidak membahas Khilafiyyah, karena tidak mudah untuk membahas itu dan tidak banyak orang yang mampu membahas itu. Kalau salah akan mengakibatkan pertentangan tajam di kalangan kaum muslimin.</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">6. Kami sama seperti sdr. banyak bertanya terhadap usaha da&#8217;wah ini. Tetapi kita harus mempunyai ‘Jiwa Thalab&#8217; untuk mencari, membaca, mensarikan dari sumber-sumber Al-Islam yang telah ditulis para Ulama sebelumnya, dan tentunya kita juga perlu banyak bertemu dengan para Ulama sendiri. Tujuan kita bukan untuk mengajak dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh, TETAPI untuk mencari ilmu al-Islam yang dapat mengarahkan kehidupan kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p style="margin-left: 0in;">Tidak ada kesuksesan kecuali mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW. Dan itulah para Shahabat RA telah membuktikannya. Maka Maulana Yusuf Rah menjelaskan untuk memahami usaha da&#8217;wah ini untuk mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, karena beliau-beliau ini yang sudah sukses dan dijamin kesuksesannya. Orang bijak dan berpikiran jauh tentunya akan memilih jalur dari orang-orang yang sukses sebelumnya.</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.&#8221; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: &#8220;Ta&#8217;atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.&#8221; (QS Ali-Imran (3):31-32)</em></p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">7. Insya Allah, kami akan berbagi sesuai dengan kemampuan yang kami miliki. Jika ada yang keliru, maka tegurlah kami. Jika ada yang baik, ambilah dan pelajari kembali. Yang benar itu dari Allah swt, dan yang keliru itu dari kelemahan dan kekurangan kami. Kami tidak mempunyai kemampuan memberikan kepahaman, hanya Allah swt yang memberikan kepahaman terhadap usaha da&#8217;wah ini. Dan kami masih jauh dan masih banyak belajar dengan usaha da&#8217;wah ini. Terimakasih</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=260&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/surat-menyurat-dawah-dengan-abdul-qahhar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menurut Jamaah Tabligh, khuruj itu kewajiban bukan? Kalau dakwah, oke lah kewajiban setiap mukmin. Tapi metode khuruj ini kewajiban bukan?</title>
		<link>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 07:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan di myQuran:
http://myquran.org/forum/index.php/topic,62873.msg1900611.html#msg1900611
Sdr. dan kawan-kawan,
Da&#8217;wah merupakan tanggung jawab kaum muslimin, dan metoda untuk menjalankan da&#8217;wah ini beragam untuk dilakukan. Tentunya orang-orang yang mempunyai akal dan berpikiran akan bertanya-tanya kenapa jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA bisa tersebar ke berbagai lapisan dan daerah, padahal di jaman itu tidak ada media seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan di myQuran:</p>
<h5>http://myquran.org/forum/index.php/topic,62873.msg1900611.html#msg1900611</h5>
<p>Sdr. dan kawan-kawan,</p>
<p>Da&#8217;wah merupakan tanggung jawab kaum muslimin, dan metoda untuk menjalankan da&#8217;wah ini beragam untuk dilakukan. Tentunya orang-orang yang mempunyai akal dan berpikiran akan bertanya-tanya kenapa jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA bisa tersebar ke berbagai lapisan dan daerah, padahal di jaman itu tidak ada media seperti yang sekarang, tidak ada TV, tidak internet, tidak ada radio? Kenapa di jaman itu bisa tersebar dengan luas, padahal juga jika dilihat di jaman itu awalnya sangat lemah dan jumlahnya sedikit? Kenapa hal itu terjadi?</p>
<p><span id="more-258"></span>Terus juga akan bertanya lagi kepada bangsa kita sendiri. Kenapa Al-Islam bisa tersebar di Indonesia? Bukankah di Indonesia mayoritas bukan beragama Islam sebelumnya, melainkan agama hindu ataupun anisme? Kenapa bisa tersebar di jaman itu? Islam tidak disebarkan melalui burung ataupun berita-berita di media? Kenapa bisa tersebar ke seluruh nusantara? Kenapa hal itu terjadi?</p>
<p>Kenapa meskipun media banyak, TV, Internet, Radio, tetapi kenapa banyak juga orang-orang muslim yang berpindah ke dalam agama lain? Kenapa hal itu bisa terjadi? Begitupun dengan orang Islam yang pergi ke Eropa, begitu pindah dulu-dulu banyak yang berubah, yang menggunakan jilbab akhirnya menggunakan celana bikini seperti mereka yang ada di Eropa kebanyakannya? Kenapa hal itu terjadi? Kenapa juga ada orang-orang Indonesia dari jawa yang pergi ke Australia, awalnya mereka itu sholat, tetapi lama-lama turun-turunan mereka lupa dengan agama Al-Islam yang mulia. Kenapa hal itu terjadi? Bukankah telah banyak kitab dicetak?</p>
<p>Khuruj itu salah satu metoda penyebaran, dan juga menyebarkan da&#8217;wah melalui media cetak/elektronik itu metoda juga. Kedua-duanya mempunyai peran dalam penyebaran Islam, tetapi tentunya kita harus memahami karakter-karakternya. Kita tidak mungkin melepaskan metoda yang satu, dikarenakan ada metoda lainnya. Begitupun kita tidak mungkin meninggalkan metoda yang asli, karena begitu banyak metoda pilihan lainnya. Metoda yang satu tentunya akan bersifat menyeluruh untuk ummat, tetapi metoda lainnya hanya bisa dijalankan secara pribadi-pribadi yang memang mampu.</p>
<p>Khuruj ini tentunya mempunyai pasangannya, oleh karena itu perlu juga memperhatikan pasangannya yaito maqomi sebagai tempat kita membuat kerja da&#8217;wah di tempat sendiri, sedangkan Khuruj untuk melakukan penyebaran da&#8217;wah Islam ke tempat lain. Khuruj ini jelas merupakan pola penyebaran yang asli, karena di jaman Nabi dan juga para Shahabat RA ini merupakan pola yang ada bahkan jika kita membaca kisah-kisah para Ulama, maka khuruj ini merupakan hal yang biasa, seperti halnya ketika penyebaran Islam di nusantara, tentunya para Ulama itu datang bukan dengan menyebarkan buletin ataupun media lainnya.</p>
<p>Tentunya aktifitas da&#8217;wah itu sendiri beragam ketika dijalankan ketika khuruj ataupun maqomi, tentunya juga perlu bertemu langsung dengan kaum muslimin khususnya ataupun manusia lainnya. Cukup aneh kita mengajak kaum agama lain, sedangkan kita tidak mengingatkan ummat kaum muslimin sendiri. Dalam da&#8217;wah ini tentunya ada yang disampaikan melalui (1) penjelasan umum secara ijtimaiyyah (ceramah umum), ada juga dalam bentuk (2) khususi bertemu ke kalangan yang khusus seperti alim, ustadz, sesepuh, ataupun masyarakat yang perlu dikunjungi (3) da&#8217;wah umumi dimana kita bertemu dengan kaum muslimin secara langsung apakah di rumahnya ataupun di jalanan, (4) da&#8217;wah secara infirodhiyyah, dimana bisa dari hati ke hati untuk menyampaikan agama ketika di masjid atau sedang tenang.</p>
<p>Khuruj dan aktifitas da&#8217;wah baru akan bermakna jika dilakukan bertemu langsung serta juga dengan biaya sendiri dan jiwa sendiri. Lalu kita berpikir, bagaimana dengan awalnya Al-Islam, apakah langsung bertemu? Jelas kita akan menjawab bertemu dengan langsung, dan tersebarnya melalui perjalanan itu sendiri.</p>
<p>Jadi Khuruj dan aktifitas da&#8217;wah langsung itu merupakan metoda asli yang tidak boleh berhenti untuk ummat Islam, tetapi bukan berarti metoda pilihan lainnya tidak perlu diperhatikan, seperti TV, Radio, CD dsb, tetapi metoda pilihan ini juga tidak boleh dijadikan sebagai pengganti dari metoda asli yang sebenarnya telah ada dari awal perjalanan da&#8217;wah Nabi kita sampai penyebarannya di Indonesia dulu.</p>
<p>Dan karena mulai ditinggalkan, maka begitu banyak kaum muslimin yang meninggalkan amal-amal agama kita sendiri. Sehingga jika banyak kaum muslimin menjalankan khuruj dan maqomi ini kurang lebih 100.000 rombongan setiap tahun, diharapkan masjid-masjid akan makmur dengan amal-amal agama dan banyak kembali kaum muslimin yang mengamalkan agama.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=258&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>64</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa pusat usaha da&#8217;wah di India, tidak di Arab?</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 07:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Usaha Da'wah dan Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan, dan kami mencoba berbagi pandangan dengan sdr. sekalian.
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Mari kita ungkap lebih dalam perihal pertanyaan ini, dan kita jangan termasuk seperti bani Israil yang menanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman itu terlahir dari Arab tidak dari bani Israil. Pertanyaan ini terlontar sangat wajar karena banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan, dan kami mencoba berbagi pandangan dengan sdr. sekalian.</p>
<p>Assalamu ‘alaikum wr. wb.</p>
<p>Mari kita ungkap lebih dalam perihal pertanyaan ini, dan kita jangan termasuk seperti bani Israil yang menanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman itu terlahir dari Arab tidak dari bani Israil. Pertanyaan ini terlontar sangat wajar karena banyak Nabi lahir di kalangan bani israil, dan memang dari turunan Nabi Ishak As ini sangat banyak Nabi. Sedangkan dari Nabi Ismail As hanya satu Nabi saja, yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman.</p>
<p>Ummat Islam ini bukan hanya berada di arab, tetapi sudah sangat tersebar ke berbagai negara. Semua sejarah mencatat dengan baik perihal da&#8217;wah Abi Waqash RA sampai ke negera Cina. Atau kisah-kisah lainnya. Kita bisa bayangkan dengan pikiran yang normal, tanpa ada pesawat atau kendaran yang sangat hebat saat itu, tetapi kaum muslimin telah menembus negara-negara untuk menyampaikan agama Islam yang mulia ini. Jika kita perhatikan daratan yang ditempuh, gunung yang tinggi dan suhu yang dingin, tetapi mereka terus bergerak ke negara-negara jauh. Kira-kira SEMANGAT APA yang menjadikan mereka berani meninggal tanah air dengan waktu yang sangat panjang itu. Hal ini bisa terjadi karena PIKIR yang menghujam ke dalam diri mereka seperti mana PIKIR NABI untuk menyebarkan Islam ke seluruh daerah dan tempat. Apa PIKIR NABI itu? Allah swt dengan jelas dan lugas menjelaskan pikir dan kerisauan beliau itu dalam ayat Al-quran sendiri.</p>
<p><span id="more-256"></span>Perhatikan dengan ayat At-Taubah terakhir 128-129:</p>
<p><strong>&#8220;sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: &#8220;Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki &#8216;Arsy yang agung&#8221;. (At-Taubah: 128-129).</strong></p>
<p>Para Shahabat RA dan juga para Ulama dulu sangat memahami perihal risau ini, mereka ini menyelami kisah Nabi bagaimana ke thaif, mereka ini menyelami kisah Nabi ketika mengajak kaumnya sendiri di mekkah, mereka ini menyelami bagaimana hijrah Nabi ke Madinah, bagaimana keluarganya sendiri ada yang menghina dan mau merencanakan membunuhnya. PADAHAL apa yang diinginkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, yang mulia ini. Sebuah keselamatan dan keimananan bagi ummat manusia. Nabi kita bukan mau harta yang dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Jadi para Shahabat dan juga para Ulama berani untuk berpergian yang jauh untuk menyebarkan Islam ini dengan harta dan jiwa mereka sendiri. Silahkan pelajari kisah-kisah penyebaran Islam ke Indonesia, dan terutama dengan kehadirannya orang-orang Arab di Indonesia. Kalangan Arab ini sangat berperan dalam penyebaran Islam, dan menurut sejarah banyak dari kalangan Hadramaut yang ke Indonesia.</p>
<p>Kemajuan kaum muslimin di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA yang signifikan yaitu setelah ditetapkannya tempat berhimpun dan menjalankan aktifitas ijtimaiyyah kaum muslimin, Masjid. Masjid ini yang menjadi titik central Utama di jaman itu. Bahkan banyak penjelasan tolok-ukur kaum muslimin dapat dilihat dari kedatangannya ke masjid. Dan banyak ayat dan juga hadist yang menjelaskan keutamaan terhadap masjid ini. Jika Allah swt dan juga Nabi kita menekankan perkara masjid, maka tentunya masjid ini mempunyai peran sangat penting bagi kehidupan kaum muslimin dari masa ke masa. Kita dapat mempelajari perihal keutamaan masjid dalam kitab yang ditulis para Ulama.</p>
<p>Sehingga siapapun di dunia ini yang dapat menjalankan aktifitas-aktifitas masjid itu dengan baik seperti mana yang terjadi di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan terutama dengan aktifitas da&#8217;wah Islam, karena da&#8217;wah Islam ini mempunyai dampak perubahan dari ketidaktaatan menjadi ketaatan itu sendiri. Kita kaum muslimin sangat dianjurkan untuk menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat yang mungkar. Dari jelas da&#8217;wah itu merupakan aktifitas untuk melakukan perubahan dari yang tidak diridhoi menjadi yang diridhoi Allah swt. Sehingga jika da&#8217;wah ini dijalankan di masjid, maka dengan sendirinya pesan dan kesan masjid itu akan masuk ke dalam rumah-rumah kaum muslimin. Dan da&#8217;wah ini tidak mungkin dijalankan kecuali dengan ijtimaiyyah jika dilakukan di masjid kita.</p>
<p>Ada satu ayat yang sebenarnya cukup penting dipelajari dengan baik, bagi kaum muslimin yang menjalankan aktifitas da&#8217;wah ini, yaitu Ali-Imran:104. Dalam ayat ini terdapat kata &#8220;waltakum minkum ..&#8221;, terdapat dua penjelasan terhadap ayat ini oleh kalangan Ulama yaitu &#8220;Membentuk sebagian dari kaum muslimin &#8230;.&#8221; Dan &#8220;Membentuk Ummat Islam sebagai Ummat Da&#8217;wah ..&#8221;. Tetapi keduanya pada prinsipnya adalah sama untuk mendorong aktifitas da&#8217;wah itu sendiri. Yang namanya &#8220;membentuk ..&#8221; tentunya mencetak atau menjadikan seseorang untuk terjun dalam da&#8217;wah. Jika dilakukan di masjid, maka secara kemestian perlu dilakukan tertibnya atau metodanya dengan baik. Dalam hal ini kita sendiri dapat menyusun  metodanya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, tetapi bukan berarti kita harus berpegang terus dengan prosedur kita jika ada yang membawa metoda yang lebih mudah dan menyeluruh.</p>
<p>Masjid Nabawi di Arab belum menjadikan sebagai pusat da&#8217;wah, tetapi masih dijadikan sebagai pusat pengajaran dan pendidikan (ta&#8217;lim) Islam. Karena tentunya para Ulama sendiri sangat memahami apa pengaruh (efek) dari da&#8217;wah itu sendiri. Da&#8217;wah itu akan memberikan perubahan ke setiap lingkungan masyarakat, dan tentunya akan memberikan dampak orang-orang untuk berdatangan ke masjid itu sendiri dengan sukarela. Kaum muslimin sekarang juga datang ke masjid Nabawi, itupun sebenarnya karena pengaruh da&#8217;wah (ajakan) meskipun caranya mungkin dari kata-kata ringan. Sehingga banyak juga kaum muslimin akhirnya untuk belajar di masjid Nabawi. Tetapi jika menjadikan pusat da&#8217;wah, maka akhirnya akan disebarkan ke berbagai negeri untuk menyebarkan Islam. Dan nantinya secara automatis akan banyak orang datang ke masjid Nabawi ini, dan seterusnya kembali menyebarkan Islam. Dan akhirnya menggerakan semua aktifitas lainnya, seperti ta&#8217;lim, ibadah dan juga khidmat atau muamalat.</p>
<p>Waktunya akan datang, para Ulama di arab sendiri terutama yang mendukung usaha da&#8217;wah dan tabligh seperti Syeikh Abu Bakar Al-Jazairi juga sangat paham ini, tetapi perlu mempertimbangkan dengan hikmah dan dalam. Oleh karena itu beliau sendiri hanya menjelaskan ketika ditanya perihal usaha da&#8217;wah di masjid itu, bahwa usaha da&#8217;wah ini merupakan mutiara di akhir jaman. Jadi pengaruh da&#8217;wah dan ta&#8217;im sangat berbeda hasilnya. Waktunya akan datang dengan sendirinya, ketika sudah siap semuanya. Jika tidak, maka akan sangat mudah dihancurkan da&#8217;wah ini oleh musuh-musuh Islam itu sendiri. Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa perihal perahu merupakan pelajaran terpenting bagi kalangan ahli da&#8217;wah, agar semuanya berjalan dengan sederhana dan senyap, tetapi semuanya berjalan dengan jelas dan pasti. Pelajaran</p>
<p>Dan Maulana Ilyas Rah memulai dari masjid yang sangat sederhana di daerah Nizamuddin, dan sekarang tersebar ke seluruh dunia bahkan tembus negara-negara Eropa, Amerika dsb. Bahkan beberapa tahun yang silam kaum muslimin Inggris sangat berkeinginan membangun masjid markaz ini menjadi masjid yang indah dan besar, dan hal ini disampaikan kepada maulana Inamul Hasan Rah, tidak dapat diiijinkan oleh beliau. Dan bahkan beliau mendorong untuk membangun masjid besar dan megah di Inggris sendiri, dan hari ini menjadi perbincangan di Inggris akan menjadi masjid terbesar di Eropa yang dibangun kalangan da&#8217;wah dan tabligh. Dorongan Maulana Inamul Hasan Rah itu sekitar 15 tahun yang lalu.</p>
<p>Kita boleh berkeinginan dan merencanakan. Tetapi juga kita harus menyaqini bahwa Allah swt sendiri mempunyai rencana. Maulana Ilyas Rah hanya sebagai asbab saja untuk kaum muslimin, tetapi sebenarnya semua tertib itu telah tertulis dengan baik oleh para ulama dulu. Dan beliau ini hanya perangkai dari sumber-sumber itu yang saling berkaitan untuk menjadi sebuah model metoda da&#8217;wah dan tabligh, dan sekarang ijtihad itu telah banyak memberikan kesan dan pesan ke seluruh dunia, termasuk di kalangan arab sendiri termasuk para Ulama. Dan jika banyak mempelajari siapa Maulana Ilyas dan keluarganya. Kita akan mengetahui bahwa mereka juga merupakan turunan dari kalangan para Shahabat RA.</p>
<p>Thanks,</p>
<p>Haitan</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=256&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa pelajaran bagi para da&#8217;i dan kaum muslimin</title>
		<link>http://usahadawah.com/beberapa-pelajaran-bagi-para-dai-dan-kaum-muslimin/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/beberapa-pelajaran-bagi-para-dai-dan-kaum-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 01:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Sdr. dan Teman-Teman,
Kami dan juga kawan-kawan sekalian sangat berkeinginan ummat ini menjadi baik dan terus mengalami proses pertumbuhan menuju yang terbaik. Insya Allah, keadaan itu dapat terjadi dengan ijin Allah swt. Ada beberapa point yang perlu diperhatikan bersama, agar proses pertumbuhan akan menuju pada tingkatan yang diharapkan bersama untuk ummat Islam kita ini.
1. Kaum muslimin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sdr. dan Teman-Teman,</p>
<p>Kami dan juga kawan-kawan sekalian sangat berkeinginan ummat ini menjadi baik dan terus mengalami proses pertumbuhan menuju yang terbaik. Insya Allah, keadaan itu dapat terjadi dengan ijin Allah swt. Ada beberapa point yang perlu diperhatikan bersama, agar proses pertumbuhan akan menuju pada tingkatan yang diharapkan bersama untuk ummat Islam kita ini.</p>
<p>1. Kaum muslimin yang telah terjun dalam lapangan da&#8217;wah, apapun bentuknya, apakah itu tulisan, ucapan, ajakan langsung dsb, tetaplah untuk selalu berniat memperbaiki diri dan mengikuti amal-amal Al-Islam yang disampaikan tersebut.</p>
<p>2. Kaum muslimin yang telah terjun dalam lapangan da&#8217;wah, apapun bentuknya, maka tetap menjaga kehormatan kaum muslimin, dengan tidak merendahkan, tidak meremehkan, bahkan tidak membuka aib dari kekurangan kaum muslimin sdr. kita yang lain.</p>
<p>3. Kaum muslimin yang telah terjun dalam lapangan da&#8217;wah, terutama kalangan pemuda dan pemudi Islam, tetaplah berbaik sangka kepada Ulama-Ulama dan tidak meremehkan dan merendahkan, meskipun berbeda pandangan dengan kita sendiri dalam satu perkara.</p>
<p>4. Kaum muslimin yang telah terjun dalam lapangan da&#8217;wah, terutama kalangan pemuda dan pemudi Islam, tetap berhubungan dengan Ulama untuk menuntut Ilmu dengan baik dan teratur; dan hormatilah guru-guru kita dengan baik.</p>
<p>5. Kaum muslimin yang telah terjun dalam lapangan da&#8217;wah, tetaplah mengikuti majelis-majelis orang-orang sholeh dengan baik dan teratur. Kita perlu terbiasa berhubungan dengan orang-orang sholeh.</p>
<p>Insya Allah, ada jalan untuk kebaikan kaum muslimin.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=254&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/beberapa-pelajaran-bagi-para-dai-dan-kaum-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah dakwah syaikh maulana itu sesuai sunah, adakah rasulullah menentukan hari tertentu?</title>
		<link>http://usahadawah.com/adakah-dakwah-syaikh-maulana-itu-sesuai-sunah-adakah-rasulullah-menentukan-hari-tertentu/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/adakah-dakwah-syaikh-maulana-itu-sesuai-sunah-adakah-rasulullah-menentukan-hari-tertentu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 01:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Maulana Ilyas]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatan lil'alamin]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Adakah dakwah syaikh maulana itu sesuai sunah, adakah rasulullah menentukan hari tertentu, saya kira itukan hanya peraturan yang ada di JT aja !
Pertanyaan di atas itu merupakan satu hal yang disampaikan melalui http://usahadawah.com/2008/11/19/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/#comment-391.
Kepada Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt,
Mudah-mudahan kita semua berada dalam lindungan dan rahmat Allah swt, karena perkara ini merupakan hal yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Adakah dakwah syaikh maulana itu sesuai sunah, adakah rasulullah menentukan hari tertentu, saya kira itukan hanya peraturan yang ada di JT aja !</strong></p>
<p>Pertanyaan di atas itu merupakan satu hal yang disampaikan melalui http://usahadawah.com/2008/11/19/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/#comment-391.</p>
<p>Kepada Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Mudah-mudahan kita semua berada dalam lindungan dan rahmat Allah swt, karena perkara ini merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan kita yang sementara ini. Sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para Shahabat RA, dan juga kepada pengikutnya yang setia sampai akhir jaman.</p>
<p>Pertanyaan &#8220;Apakah metoda da&#8217;wah Maulana Ilyas Rah ini sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW?&#8221; merupakan pertanyaan yang sering disampaikan. Mari kita ungkap bersama dalam hal ini dengan analisa dan sintesa terhadap perjalanan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Perjalanan ini perlu dibagi ke dalam dua sisi perjalanan sejarah yaitu Mekkah dan Madinah, dan titik perpaduan dua sisi ini adalah hijrah itu sendiri.</p>
<p><span id="more-231"></span>Kita memulai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menguraikan hal-hal yang perlu diketahui bersama ketika masa mekkah, sebelum menjawab pertanyaan di atas.</p>
<p><em>Bagaimana cara da&#8217;wah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ketika jaman itu?</em></p>
<p><em>Apakah Nabi kita menyampaikan da;wah Islam kepada masyarakat di mekah dan thaif melalui selembaran, brosur, ataupun media lainnya? </em></p>
<p><em>Apakah Nabi kita melakukan da&#8217;wah ini bertemu langsung dengan masyarakat di jaman itu?</em></p>
<p><em>Bagaimana yang dilakukan Abu Bakar RA ketika sudah masuk Islam, dan bagaimana da&#8217;wah yang disampaikannya?</em></p>
<p><em>Apakah beliau, Abu Bakar RA, menggunakan surat atau selembaran untuk menyampaikan da&#8217;wahnya? Atau bertemu langsung dengan kalangan manusia di saat itu?</em></p>
<p><em>Apakah Rasulullah SAW bertemu dengan kumpulan manusia dari tempat ke tempat ketika beliau menyampaikan Islam di Mekkah atau beliau diundang? </em></p>
<p><em>Apakah Abu Bakar RA ini suka membantu da&#8217;wah Nabi kita sebagai pengarah kepada kaum-kaum di sekitar mekkah itu? </em></p>
<p><em>Apakah Nabi kita ketika menyampaikan da&#8217;wah di thaif dengan berbatas waktu?</em></p>
<p><em>Bagaimana cara Nabi kita da&#8217;wah di Thaif, meskipun akhirnya beliau dilempari dengan batu? Apakah beliau ini mengundang, atau beliau bertemu dahulu dengan para pemimpin di sana kemudian bertemu dengan masyarakat umum? </em></p>
<p><em>Apakah Nabi kita mengutus Musyaib bin Umair RA menyampaikan da&#8217;wah dan pengajaran Islam ke Madinah ini ditetapkan waktunya?</em></p>
<p><em>Bagaimana cara da&#8217;wah Musyaib Bin Umair RA di Madinah, ketika diutus Nabi kita, Nabi Muhammad SAW?</em></p>
<p><em>Apakah da&#8217;wah Nabi kita dengan harta sendiri?</em></p>
<p><strong>Dan masih banyak pertanyaan dapat diungkap di sini untuk melakuakn ekplorasi sejarah perjalanan da&#8217;wah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ketika waktu mekkah. Selanjutnya kita bertanya ketika waktu madinah. </strong></p>
<p><em>Apa yang disiapkan Nabi Kita, Nabi Muhammad SAW, ketika sampai di madinah pertama kali? Apakah rumah beliau atau masjid terlebih dahulu?</em></p>
<p><em>Apa yang dilakukan oleh beliau ketika di Madinah, terutama di masjid Nabawi itu?</em></p>
<p><em>Bagaimana cara Nabi kita menyampaikan da&#8217;wah Islam ke kampung lainnya? Apakah melalui surat atau bagaimana?</em></p>
<p><em>Apa yang dilakukan shahabat di rumah-rumah mereka ini? </em></p>
<p><em>Apakah Nabi mengirim orang-orang ke pemimpin bangsa lain untuk mengajak masuk Islam? Bagaimana sampai kesana? Dan apa yang diucapkan para Shahabat RA ketika itu?</em></p>
<p><em>Apakah para Shahabat RA ketika berpergian jihad/da&#8217;wah dengan harta sendiri atau harta orang lain?</em></p>
<p><strong>Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui sejarah di waktu itu untuk lebih mengenal dengan dekat sejarah Nabi bagaimana menjalankan da&#8217;wah itu.</strong><em> </em></p>
<p>Kami sebutkan di bawah ciri da&#8217;wah maulana Ilyas :</p>
<p>1. Berbasis di masjid</p>
<p>2. Bertemu langsung dengan kaum muslimin</p>
<p>3. Mengetuk dari rumah ke rumah</p>
<p>4. Melakukan perjalanan ke masjid-masjid kaum muslimin</p>
<p>5. Melakukan secara infirodhi dan ijtima&#8217;iyyah (jama&#8217;ah/rombongan)</p>
<p>6. Mengeluarkan dengan harta dan jiwa sendiri. (Catatan: Silahkan perhatikan dalam al-quran, ini merupakan tertib yang kurang banyak diperhatikan kaum muslimin)</p>
<p>7. Belajar langsung dalam perjalanan atau dalam bentuk mudzakarah</p>
<p>8. Membiasakan musyawarah untuk merencanakan kerja</p>
<p>dan masih banyak lagi yang tidak dapat dijelaskan. Dan hal itu kita dapat mulai melakukan kajian terhadap pertanyaan semula: &#8220;apakah metodologi ini sangat dekat dengan cara-cara da&#8217;wah yang dibangun oleh Rasulullah SAW?&#8221;</p>
<p><strong>Da&#8217;wah ini masih merupakan alif, ba, ta, dan masih panjang perjalanan da&#8217;wah ini untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan Lil &#8216;Alamin. Karena kita kaum muslimin semuanya belum bersedia, risau, dan berpikir hidayah Islam sebagai rahmatan Lil&#8217;alamin, sehingga seluruh ummat manusia mengabdi kepada Allah swt dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. </strong></p>
<p><strong>Dan untuk lebih mengetahui, sebenarnya dipersilahkan untuk keluar/khuruj dengan waktu yang sesuai dengan waktu yang dimilikinya</strong>.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=231&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/adakah-dakwah-syaikh-maulana-itu-sesuai-sunah-adakah-rasulullah-menentukan-hari-tertentu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Ayat An-Nahl: 125, Da’wah Harus Dilakukan Dengan Hikmah</title>
		<link>http://usahadawah.com/tafsir-ayat-an-nahl-125-da%e2%80%99wah-harus-dilakukan-dengan-hikmah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/tafsir-ayat-an-nahl-125-da%e2%80%99wah-harus-dilakukan-dengan-hikmah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 04:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kerja Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Amar Ma'ruf Nahi Mungkar]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tafsir pilihan untuk menjelakan perkara Amar Ma&#8217;ruf Nahi Mungkar harus dilakukan secara hikmah, QS An-Nahl (16): 125.
Tafsir Al-Baghwi (516H):
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=2&#38;tTafsirNo=13&#38;tSoraNo=16&#38;tAyahNo=125&#38;tDisplay=yes&#38;UserProfile=0
Tafsir Al-Kasyaf (538H):
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&#38;tTafsirNo=2&#38;tSoraNo=16&#38;tAyahNo=125&#38;tDisplay=yes&#38;UserProfile=0
Tafsir Ibnu Katsir (774H):
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&#38;tTafsirNo=7&#38;tSoraNo=16&#38;tAyahNo=125&#38;tDisplay=yes&#38;UserProfile=0
Tafsir Al-Sya&#8217;rawi (1418H):
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=7&#38;tTafsirNo=76&#38;tSoraNo=16&#38;tAyahNo=125&#38;tDisplay=yes&#38;UserProfile=0
Terimakasih
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tafsir pilihan untuk menjelakan perkara Amar Ma&#8217;ruf Nahi Mungkar harus dilakukan secara hikmah, <strong>QS An-Nahl (16): 125</strong>.</p>
<p>Tafsir Al-Baghwi (516H):<br />
<a href="http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=2&amp;tTafsirNo=13&amp;tSoraNo=16&amp;tAyahNo=125&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0" target="_blank">http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=2&amp;tTafsirNo=13&amp;tSoraNo=16&amp;tAyahNo=125&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0</a></p>
<p>Tafsir Al-Kasyaf (538H):<br />
<a href="http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&amp;tTafsirNo=2&amp;tSoraNo=16&amp;tAyahNo=125&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0" target="_blank">http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&amp;tTafsirNo=2&amp;tSoraNo=16&amp;tAyahNo=125&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0</a></p>
<p>Tafsir Ibnu Katsir (774H):<br />
<a href="http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&amp;tTafsirNo=7&amp;tSoraNo=16&amp;tAyahNo=125&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0" target="_blank">http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&amp;tTafsirNo=7&amp;tSoraNo=16&amp;tAyahNo=125&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0</a></p>
<p>Tafsir Al-Sya&#8217;rawi (1418H):<br />
<a href="http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=7&amp;tTafsirNo=76&amp;tSoraNo=16&amp;tAyahNo=125&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0" target="_blank">http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=7&amp;tTafsirNo=76&amp;tSoraNo=16&amp;tAyahNo=125&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0</a></p>
<p>Terimakasih</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=9&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/tafsir-ayat-an-nahl-125-da%e2%80%99wah-harus-dilakukan-dengan-hikmah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Ayat Ali-Imran:110, Da&#8217;wah Menjadikan Ummat Terbaik</title>
		<link>http://usahadawah.com/tafsir-ayat-ali-imran110-dawah-menjadikan-ummat-terbaik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/tafsir-ayat-ali-imran110-dawah-menjadikan-ummat-terbaik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 03:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kerja Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafsir Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Ali-Imran]]></category>
		<category><![CDATA[Amar Ma'ruf Nahi Mungkar]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Khairo Ummat]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tafsir pilihan untuk menjelakan perkara Amar Ma&#8217;ruf Nahi Mungkar yang menjadikan ummat Islam menjadi ummat terbaik, QS Ali Imran (3): 110.
Tafsir Al-Baghwi (516H):
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=2&#38;tTafsirNo=13&#38;tSoraNo=3&#38;tAyahNo=110&#38;tDisplay=yes&#38;UserProfile=0
Tafsir Al-Kasyaf (538H):
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&#38;tTafsirNo=2&#38;tSoraNo=3&#38;tAyahNo=110&#38;tDisplay=yes&#38;UserProfile=0
Tafsir Ibnu Katsir (774H):
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&#38;tTafsirNo=7&#38;tSoraNo=3&#38;tAyahNo=110&#38;tDisplay=yes&#38;UserProfile=0
Tafsir Al-Sya&#8217;rawi (1418H):
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=7&#38;tTafsirNo=76&#38;tSoraNo=3&#38;tAyahNo=110&#38;tDisplay=yes&#38;UserProfile=0
Terimakasih
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tafsir pilihan untuk menjelakan perkara Amar Ma&#8217;ruf Nahi Mungkar yang menjadikan ummat Islam menjadi ummat terbaik, <strong>QS Ali Imran (3): 110</strong>.</p>
<p>Tafsir Al-Baghwi (516H):<br />
<a href="http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=2&amp;tTafsirNo=13&amp;tSoraNo=3&amp;tAyahNo=110&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0" target="_blank">http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=2&amp;tTafsirNo=13&amp;tSoraNo=3&amp;tAyahNo=110&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0</a></p>
<p>Tafsir Al-Kasyaf (538H):<br />
<a href="http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&amp;tTafsirNo=2&amp;tSoraNo=3&amp;tAyahNo=110&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0" target="_blank">http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&amp;tTafsirNo=2&amp;tSoraNo=3&amp;tAyahNo=110&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0</a></p>
<p>Tafsir Ibnu Katsir (774H):<br />
<a href="http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&amp;tTafsirNo=7&amp;tSoraNo=3&amp;tAyahNo=110&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0" target="_blank">http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=1&amp;tTafsirNo=7&amp;tSoraNo=3&amp;tAyahNo=110&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0</a></p>
<p>Tafsir Al-Sya&#8217;rawi (1418H):<br />
<a href="http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=7&amp;tTafsirNo=76&amp;tSoraNo=3&amp;tAyahNo=110&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0" target="_blank">http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=7&amp;tTafsirNo=76&amp;tSoraNo=3&amp;tAyahNo=110&amp;tDisplay=yes&amp;UserProfile=0</a></p>
<p>Terimakasih</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=4&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/tafsir-ayat-ali-imran110-dawah-menjadikan-ummat-terbaik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marilah kita banyak mengisahkan cerita Para Shahabat RA!</title>
		<link>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 22:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.
Tulisan ini terinspirasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dengan nasehat dari seorang ulama dan guru yang banyak memberikan pengaruh kepada penulis sendiri, yaitu Maulana Ilyas. Beliau memberikan nasehatnya dengan lugas dan tegas, &#8220;Janganlah menceritakan tentang aku, tetapi banyakkanlah bercerita tentang para Shahabat RA&#8221;. Ucapan yang sederhana tetapi mempunyai makna yang sangat dalam. Penulis sendiri pernah ditegur oleh seseorang dikarenakan penulis banyak bercerita tentang beliau itu dalam satu ceramah, &#8220;Kita bersyukur dengan kerja agama ini, dan beliaulah yang mengajarkan kepada kita, tetapi para Shahabat RA telah dinyatakan langsung oleh Allah swt, sebagai generasi yang diridhoiNya meskipun masih ada di dunia yang fana ini. Oleh karena itu kita mesti banyak-banyak menceritakan para shahabat RA itu&#8221;.</p>
<p><span id="more-70"></span>Tulisan ini untuk memberikan tambahan terhadap tulisan-tulisan sebelumnya, yaitu karakter, kerja dan pikir salafush sholeh. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita untuk lebih banyak menceritakan kisah-kisah generasi para Shahabat RA, dan tentunya mengikuti langkah-langkahnya dengan baik. Sehingga kepahaman kita terhadap karakter, kerja dan pikir generasi para shahabat dalam didalami dan dihayati.</p>
<p><strong>Ridho Allah swt untuk Generasi Shahabat RA </strong></p>
<p>Allah swt menyatakan dengan tegas dalam satu ayatnya:</p>
<p><em>&#8220;Generasi awwalun dari Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka dengan baik, Allah swt ridho kepada mereka dan juga mereka ridho kepada Allah swt&#8221; (QS: 9-100)</em></p>
<p>Allah swt yang mempunyai sifat-sifat yang mulia, dan sebagai pencipta alam jagat raya ini, termasuk manusia, terlebih dahulu menyatakan keridhoanNya kepada generasi pertama dan juga generasi yang mengikutinya dengan baik.</p>
<p>Dan kita, sebagai generasi yang sangat jauh dengan generasi Shahabat RA itu, sangat perlu mengetahui generasi dengan baik, apakah ucapan-ucapannya, apakah dialog-dialognya, apakah perilaku-perilakunya. Dan untuk mengetahui itu, kita perlu terus mendorong kaum muslimin untuk lebih banyak mengisahkan kisah-kisah generasi Shahabat RA, sehingga hikmah-hikmahnya dapat direnungi, dihanyati, dan didalami dengan baik, yang akhirnya memberikan dorong atau juga spririt yang dalam bagi kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai kehidupan di kaum muslimin.</p>
<p>Seorang yang kaya akan dapat belajar dari hikmah yang dimiliki Abu Bakar RA dan Ustman RA. Seorang pemimpin akan dapat belajar dari hikmah Ummar RA, dan juga Ali Bin Abi Thalib RA. Seorang anak muda dapat belajar dari kepiwaian Musaib bin Umair RA ketika dialog dengan orang-orang Madinah. Seorang gadis dapat belajar dari hikmah Siti Fathimah RA dan Siti Aisyah RA ketika masih gadis. Seorang anak kecil akan bisa belajar hikmah dari kisah Hasan RA dan Husein ketika masih kecil.</p>
<p>Kisah-kisah ini telah mewujudkan hikmah-hikmah dan juga pelajaran-pelajaran yang berharga, kita tidak hanya belajar dari ucapan-ucapannya saja yang kadangkala kita tidak mempelajari bagaimana generasi Para Shahabat RA meaktualkanya, tetapi ada makna dan hikmah yang lebih dalam dari perilaku generasi.</p>
<p>Saat ini, kita telah banyak diberikan kisah-kisah atau cerita-cerita yang dapat memberikan efek kepada perilaku kita secara langsung dan tidak langsung. Media cetak, media komunikasi, media elektronik, dan apa lagi di masa depan akan muncul, telah memberikan kisah-kisah atau cerita-cerita glamorisasi dalam kehidupan, kekerasan sampai dengan pembunuhan dan perkosaan, aib-aib telah banyak bersuliweran dalam kehidupan kita kaum muslimin, saling menghina dan mengolok-olokan bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu. Oleh karena itu, marilah kita banyak mengisahkan generasi Para Shahabat RA yang telah banyak memberikan banyak pelajaran.</p>
<p><strong>Kisah Yang Berkesan</strong></p>
<p>Para Shahabat RA telah menjadi generasi yang unggul dan telah membaktikan waktu, jiwa dan hartanya untuk tersebar dan wujud di dunia ini. Generasi ini telah mewujudkan Islam dalam diri-diri mereka, sehingga kecermelangan dan keberkahan Islam bukan lagi menjadi slogan-slogan, tetapi wujud dengan indahnya dalam kehidupan mereka itu. Sehingga perlu banyak belajar dari generasi itu dengan baik, dengan harapan kita dapat mencontohnya dalam berbagai kehidupannya. Penulis mencoba menuliskan beberapa kisah yang berkesan utuk penulis, dalam kesempatan ini satu dahulu.</p>
<p>Siti Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW, telah mendapatkan kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya. Dan kalung itu adalah barang yang sangat berharga dan bernilai yang tidak terkira bagi Siti Fathimah RA. Satu ketika, telah datang seorang miskin ke masjid dan bertemu dengan Rasulullah SAW untuk mendapatkan makanan karena orang miskin sudah beberapa hari tidak makan. Bisa kita bayangkan bagaimana kerendahan hati Rasulullah SAW dalam menghadapi hal ini, Rasulullah SAW masih mau menemui orang miskin ini, bahkan orang ini meminta makanan. Sikap tauladan telah diwujudkan oleh Nabi kita, dan hal ini tidak mudah bagi kita untuk mengikutinya. Karena saat ini kita kadangkala menyepelekan orang miskin.</p>
<p>Dan Rasulullah SAW dengan hikmah menyuruhnya untuk bertemu dengan anaknya, Siti Fathimah RA, padahal Rasulullah SAW paham betul dengan anaknya, dan juga mantunya Ali Bin Abi Thalib, sangat berkurangan juga. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memperlihatkan kembali tauladannya, bahwa meskipun anaknya berkurangan juga, pasti mau memberikan solusi terhadap hal ini. Karena memuliakan tamunya merupakan tanda-tanda beriman kepada Allah swt dan Akherat.</p>
<p>Sesampai di rumahnya, orang miskin ini menjelaskan maksudnya itu. Siti Fathimah RA jelas bingung karena memang kelurganya berkurangan. Beliau ini terus mencoba mencari jawabannya, dan tidak sengaja beliau ketika memegang kalungnya itu. Dan tidak banyak berpikir pandang lebar, beliau menyerahkan itu. Jelas orang miskin tidak bisa menerimanya, karena yang diminta adalah makanan. Beliau menyuruhnya untuk bertemu kembali dengan Rasulullah SAW tentang hal. Bisa kita bayangkan, kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya itu diberikan kepada orang lain. Sifat yang menunjukkan bahwa memberikan pemberian yang lebih dicintainya telah diwujudkan oleh Siti Fathimah RA.</p>
<p>Orang miskin ini menemui lagi, dan menjelaskan perkaranya. Dan menyerahkan kalung dari Siti Fathimah RA itu. Bisa kita bayangkan, bagaimana Rasulullah SAW terkejutnya dengan hal ini. Rasulullah SAW jelas termenung, bersyukur dan bercampur haru menjadi satu. Bersyukur karena anaknya telah menjadi seorang perempuan yang sangat mulia, dan terharunya adalah Rasulullah SAW tahu betul itu adalah kalung pemberian istrinya yang sangat dicintainya. Coba kita bayangkan, kalau kita mendapatkan baju pemberian kita untuk anak kita, terus sudah ada ditangan orang lain. Kita akan marah sama anak kita. Tetapi Rasulullah SAW tetap menunjukkan sifat tauladannya.</p>
<p>Akhirnya Rasulullah SAW mempersilahkan kepada orang miskin itu untuk menjualnya. Dan ada seorang Shahabat RA yang membelinya dan ditukar dengan makanan dan barang-barang yang diperlukannya untuk orang miskin ini. Tetapi jelas bahwa hal itu bukan untuk keperluannya, tetapi karena hanya membantu orang miskin itu. Sesampainya di rumah Shahabat itu menyuruh kepada pembantunya untuk menyerahkan kalung ini kepada Rasulullah SAW, karena kalau diserahkan kepada siti Fathimah RA tidak pada tempatnya. Dan sampaikan ini merupakan hadiah dari shahabat itu, dan pembantunya itu dibebaskan dari majikannya itu sebagai hadiah kalau memang kalung itu diterima oleh Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW menerima kalung itu, dan menyerahkan kembali kepada Siti Fathimah RA.</p>
<p>Bisa kita bayangkan, ada seorang shahabat RA yang sangat berhati-hati untuk menyerahkan kalung itu karena takut dengan fitnah, dan bahkan telah bebasnya seorang pembantu dari ikatan dengan majikannya, orang miskin telah mendapatkan apa yang diperlukannya dan bahkan berlebih, dan anak seorang Rasul memberikan pengorbanan yang luar biasa. Itu kisah yang sangat terkesan. Dan banyak hikmah yang dapat kita peroleh.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita banyak kisahkan dari para shahabat RA untuk kita dan dapat memberikan dorongan atau spirit perubahan kehidupan kaum muslimin di masa depan. Mudah-mudah kisah-kisah lebih memahami terhadap karakter utama manhaj generasi shahabat RA, kerja manhaj Shahabat RA dan pikir generasi itu.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=70&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

