<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Fadhoil Amal</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/fadhoil-amal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 Jun 2010 23:17:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kitab-Kitab Fadhilah Amal dan Hayatush Shahabat</title>
		<link>http://usahadawah.com/2009/03/12/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2009/03/12/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 02:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[fadhilah amal]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[targhib wat tarhib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:

http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/
http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/

Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya kami telah memberikan wacana atau pendalaman berkaitan dengan kurikulum dan juga silabus dalam pengajaran Fadhilah Amal dan juga Hayatus Shahabat. Dan kami berikan linknya di bawah ini:</p>
<ul>
<li><a href="http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/" target="_blank">http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/</a></li>
<li><a href="http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/" target="_blank">http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%E2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/</a></li>
</ul>
<p>Sekarang mari kita sama-sama untuk melihat-lihat perihal Buku Fadhilah Amal dan juga Hayatush Shahabat yang cukup banyak dibaca di kalangan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Pertama kali, perlu kami sampaikan kenapa Hayatush Shahabat menjadi salah satu pengajaran utama dalam usaha da&#8217;wah ini. Para Ulama dari jaman kapanpun sangat memahami bahwa kesuksesan dan kejayaan para Shahabat RA ini merupkan tauladan yang tidak dapat dipupus oleh jaman. Sehingga tidak heran banyak ulama sepanjang perjalanan kaum muslimin selalu menulis perihal kehidupan para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-244"></span>Itulah sebabnya para ahli da&#8217;wah di manapun berada, apakah di masjid ataupun sedang khuruj, selalu membaca kisah-kisah para Shahabat RA ini, diulang-ulang, disampaikan berkali-kali, diceritakan lagi dan lagi kepada kaum muslimin lainnya, KARENA para Shahabat RA itu merupakan generasi yang telah mendapatkan keridhoan Allah swt dan juga kesuksesan di dunia ini serta akherat nanti. Sehingga perlu dibacakan untuk dingat serta menjadi idola, atau menjadi sebuah keinginan yang membakar untuk mempunyai cita-cita seperti para Shahabat RA.</p>
<p>Dua sumber bacaan yang cukup banyak di baca yaitu kitab kisah-kisah para Shahabat, Maulana Dzakaria, dan Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf. Kedua kitab ini mempunyai ciri yang khas, dan untuk memahaminya sebenarnya para pembaca perlu membuka pengantar buku-buku itu dengan baik. Banyak orang menilai, tetapi kadangkala tidak memperhatikan kata pengantar ataupun pendahuluan, yang tentunya untuk memberikan secara menyeluruh terhadap apa buku itu sebenarnya. Silahkan perhatikan pengantar dari kedua buku itu dengan baik.</p>
<p>Sekarang ini telah ada yang memberikan komentar terhadap kitab Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf, yang berkaitan dengan tingkatan hadits yang terdapat dalam kitab itu. Tetapi yang harus dipahami dengan baik oleh siapapun termasuk juga kalangan ulama yang juga memberikan komentar terhadap tingkatan hadits dalam kitab itu, yaitu <strong>susunan sistematik kitab itu mempunyai tujuan atau sasaran utama yang hendak dicapai dari apa yang menjadi pikiran si penulis sendiri, dalam hal ini yaitu Maulana Yusuf.</strong></p>
<p>Jadi jika ada Ulama yang memberikan komentar terhadap hadits yang terdapat dalam kitab itu, itu sah-sah saja ataupun mungkin juga menyusun ringkasannya secara ilmiyyah. TETAPI yang perlu diperhatikan adalah susunan sistematik kitab itu sendiri, karena pikiran dan sasaran itu terdapat dalam susunan sistematik itu sendiri. Jika dilakukan perumbakan secara serampangan, maka artinya sama dengan merusak karya seseorang dalam pola analisanya. Sehingga hal itu kurang pantas dilakukan. Jangan kita menjadi tertawaan orang banyak, karena kita melakukan perombakan terhadap karya orang, sedangkan kita tidak mampu berbuat sesuatu yang lebih baik.</p>
<p>Kitab seperti Fadhilah Amal ini sudah banyak di abad-abad yang lalu, dan tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda. Kami sendiri ]melakukan penulusuran terhadap kitab-kitab yang seperti fadhilah amal. Kami mendapatkan banyak kitab seperti itu, tentunya dengan gaya penulisan yang berbeda.  Misalkan kitab dengan judul <strong>Fadhoil Amal </strong>yang ditulis Ulama, Al-Hafidz MUhammad Abdul Wahid Al-Maqdisi, sekitar tahn 600-an. Atau kitab yang disusun Imam Mundziri, Targhib Wat Tarhib. Kitab Imam Mundziri ini yang banyak dijadikan sebagai rujukan buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria.</p>
<p>Sekarang ini telah ada ulama yang memberikan komentar terhadap buku-buku fadhilah amal susunan Maulana Dzakaria. Hal ini merupakan sah-sah saja secara ilmiyyah, dan telah banyak dilakukan juga. Sekarang saja telah ada kitab ringkasan Kitab Tafsir Ibnu Katsir dimana Ulama menghilangkan hal-hal yang dianggap maudhu atau israilliyat. TETAPI tetap kita atau bahkan ulama menghormati Ibnu Katsir sendiri sebagai penulis kitab itu, dan bahkan banyak ulama yang mendorong untuk membacanya.</p>
<p>Dan sebenarnya kita kaum muslimin juga perlu mengetahui kenapa beliau, maulana dzakaria, menulis buku-buku fadhilah amal ini. Tentunya mempunyai latar belakangnya. Usaha da&#8217;wah ini lebih dahulu muncul dibandingkan dengan kelahiran buku-buku fadhilah itu sendiri yang disusun Maulana Dzakaria. Dan juga tidak semua topik yang menjadi buku fadhilah amal, berbeda dengan targhib wa tarhib yang lebih banyak dan luas dalam topiknya. Silahkan untuk diperhatikan dengan baik!</p>
<p>Jika ada ulama yang berkeinginan meringkas buku-buku fadhilah amal, itu merupakan hak secara ilmiyyah. Sama halnya terhadap kitab hadist shohih muslim, ataupun shohih bukhari, ataupun juga terhadap kitab Tafsir Ibnu Katsir, juga ada ringkasannya. TETAPI yang perlu dijaga adalah susunan sistematik dan juga sasaran yang hendak dicapai dari kitab yang ditulis itu. Ini yang harus diperhatikan dengan baik.</p>
<p>Para Ulama biasa menyusun kitab yang sama dengan ulama lainnya, tentunya dengan karakter dan pendalaman yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang dan juga sasaran yang dibuat. Begitulah kita juga berlaku secara ilmiyyah, tidak hanya kita memberikan penilaian yang mengarah pada kontra-produktif bagi kaum muslimin. Yang akhirnya tidak produktif bagi kaum muslimin lainnya. Apakah ketika memberikan penilaian isi yang terdapat Tafsir Ibnu Katsir, Ulama yang bersangkutan meremehkan dan mencaci Ibnu Katsfir? Kami kira ulama yang bersangkutan tidak melakukannya. Begitulah kita juga kepada Ulama lainnya.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=244&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2009/03/12/kitab-kitab-fadhilah-amal-dan-hayatush-shahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurikulum Pengajaran melalui ta’lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat</title>
		<link>http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 16:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[hayatush shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[ 
Usaha da&#8217;wah dan tabligh merupakan satu bentuk pergerakan Islam yang cukup sangat dinamis di jaman sekarang ini. Tidak mungkin satu pergerakan tanpa mempunyai metodologi gerak secara ijtimaiyyah, termasuk juga kurikulum ataupun silabus pengajaran Al-Islam itu sendiri. Dan hal ini sudah menjadi hal yang umum dalam proses pengajaran memerlukan kurikulum dan silabus itu sendiri, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   AR-SA </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh merupakan satu bentuk pergerakan Islam yang cukup sangat dinamis di jaman sekarang ini. Tidak mungkin satu pergerakan tanpa mempunyai metodologi gerak secara ijtimaiyyah, termasuk juga kurikulum ataupun silabus pengajaran Al-Islam itu sendiri. Dan hal ini sudah menjadi hal yang umum dalam proses pengajaran memerlukan kurikulum dan silabus itu sendiri, dan dengan sendirinya akan juga berhubungan sumber-sumber buku yang menjadi bacaannya.</p>
<p>Kami yang sempat berhubungan perguruan tinggi dalam pengembangan kurikulum dan silabus, serta juga ma&#8217;had Islam sendiri, maka kurikulum dan silabus mempunyai peran yang cukup penting untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya dengan baik. Hal ini juga berlaku untuk usaha da&#8217;wah dan tabligh, begitupun juga kami kira dengan ma&#8217;had atau madrasah Islam lainnya.</p>
<p><span id="more-238"></span>Kitab-kitab yang ditulis para Ulama dulu sangat banyak sekali, dan tidak mungkin dapat dipelajari dan diajarkan seluruhnya kepada kaum muslimin. Sehingga diperlukan penyusunan yang bersesuaian dengan sasaran yang hendak dicapainya dalam pengajaran itu sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh sendiri banyak menulis kitab-kitab yang cukup tebal, TETAPI tidak semua bacaan itu menjadi bahan bacaan secara ijtimaiyyah.  Bahkan jika membawanya saja mungkin sudah cukup sulit ketika mengadakan khuruj.</p>
<p>Pengajaran yang ditekankan adalah untuk memahami bahwa kesuksesan dunia dan akherat jika mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi apa yang dilarangnya, serta menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya secara 100%. Dan untuk memudahkan hal ini perlu dijelaskan perihal sifat-sifat utama yang dimiliki para Shahabat RA, dan ditekankan pada enam sifat utama. Sehingga pelajaran kisah-kisah Shahabat RA tentunya dengan Rasulullah SAW menjadi pelajaran yang sangat rutin.</p>
<p>KItab Hayatush Shahabat, susunan Maulana Yusuf Rah, merupakan kitab yang banyak dibaca ketika di malam markaz. Kitab ini terdiri dari 3 jilid tebal, mengisahkan perihal Rasulullah SAW dan para Shahabat RA dalam hal ibadah, da&#8217;wah, jihad, pengorbanan, ijtimatiyyah, belajar-mengajar, ikramul muslimin, akhlaq dsb. Dan khusus dalam bab pertama dijelaskan yang sangat penting yaitu ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah SAW, dan juga mengikuti para Shahabat RA.</p>
<p>Kitab hikayat para Shahabat, susunan Maulana Dzakaria Rah, kitab ini biasanya dibundle dalam kitab fadhoil amal. Kitab ini banyak dibaca kalau sedang keluar dan juga di rumah atau di masjid. Disamping itu terdapat beberapa kitab fadhilah yaitu Sholat, Dzikir, Quran, Tabligh, Ramadhan. Semuanya disatukan biasanya dalam kitab fadhoil amal. Tetapi bacaan kitab fadhilah Ramadhan, biasanya dilakukan ketika keluar di bulan ramadhan ataupun mau menghadapi bulan ramadhan.</p>
<p>Terdapat juga kitab Al-Muntakhabatul Hadist, susunan Maulana Yusuf Rah, merupakan kitab pilihan ayat dan hadist yang berkaitan dengan enam sifat Shahabat (enam prinsip). Disamping tersebut terdapat buku yang kadangkala dipergunakan ketika khuruj, kecuali di daerah timur tengah lebih banyak dipergunakan, kitab itu adalah Kitab Riyadhush Sholihin, susunan Imam Nawawi Rah.</p>
<p>Terdapat pelajaran yang sering diulang, kalaupun terdapat kitabnya tetapi kitab ini hampir tidak dibaca secara ijtimatiyyah tetapi dibaca secara infirodhiyyah, pelajaran ini adalah enam sifat Shahabat, juga ushul-ushul da&#8217;wah dan adab-adab Islam.</p>
<p>Ada juga kitab fadhilah Shodaqah dan Haji, disamping tersebut ada kitab fadhilah lainnya, fadhilah dagang,  yang ditulis oleh Maulana Dzakaria, ataupun perihal kajian terhadap pendalaman da&#8217;wah dalam kerja da&#8217;wah dan tabligh, bahkan terdapat beberapa buku yang ditulis oleh para ustadz di Indonesia. Tetapi hal itu bukan menjadi sebuah bacaan yang bersifat ijtima&#8217;iyyah, tetapi infirodhiyyah. Artinya belum tentu ahli da&#8217;wah sendiri mempunyai buku-buku itu.</p>
<p>Bacaan Ijtimaiyyah hampir sama ketika khuruj, ataupun di rumah atau masjid. Tetapi pelajaran infirodhiyyah merupakan bacaan untuk meningkatkan kualitasnya sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. TENTUNYA seseorang yang mempelajari bacaan buku-buku secara individu ini akan memberikan kesan secara langsung kepada jama&#8217;ah itu sendiri. Karena ketika bayan, ataupun taqrir, seseorang yang mempunyai pengetahuan dan pendalaman luas akan menyampaikannya sesuai dengan kepahamannya. TETAPI kerangkanya tidak keluar dari kerangka ijtimaiyyah.</p>
<p>Pelajaran Infirodhiyyah merupakan proses belajar-mengajar yang dilakukan atas kemampuan dan keinginan sendiri. Sehingga dapat saja seseorang mengikuti kurikulum atau silabus yang dibangun oleh satu ma&#8217;had yang lainnya, misalkan mengikuti pelajaran kitab shohih bukhari dan muslim, atau pelajaran fiqh Imam Syafi&#8217;I, dsb. Pelajaran ini akan menambah kepahaman dan kualitas sendiri dari yang mengikutinya.</p>
<p>Para Ulama yang menjalankan usaha da&#8217;wah ini cukup lama memahami bahwa ijtimaiyyah tidak dapat mengantikan infirodhiyyah, begitupun infirodhiyyah tidak dapat menggantikan ijtimaiyyah. Sehingga para ulama atau masyaikh da&#8217;wah mendorong untuk meningkatkan jiwa tholab dalam mencari ilmu, tetapi untuk ijtimaiyyah para Ulama melakukannya melalui musyawarah-musyawarah secara berkesinambungan dan tentunya perlu memperhitungkan dengan baik.</p>
<p>Kitab yang dibaca terutama ketika keluar/khuruj fi sabilillah, di masjid atau di rumah yaitu:</p>
<p>1.       Bundel Buku-Buku Fadhilah Amal:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a.       Fadhilah sholat, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">b.      Fadhilah dzikir, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">c.       Fadhilah quran, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">d.      Fadhilah tabligh, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">e.      Fadhilah ramadhan, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">f.        Kisah-kisah para Shahabat RA, Maulana Dzakaria</p>
<p>g.       Keruntuhan Ummat Islam dan Cara Perbaikannya, Maulana Ihtisamul Hasan</p>
<p>2.       Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf (kitab 3 jilid tebal)</p>
<p>3.       Kitab Hadits-Hadits Pilihan, Maulana Yusuf</p>
<p>4.       Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi</p>
<p>5.       Fadhilah Haji, Maulana Dzakaria</p>
<p>6.       Fadhiah Shodaqah, Maulana Dzakaria</p>
<p>Pengajaran melalui ta&#8217;lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat memberikan pendekatan yang lebih mudah diserap oleh semua lapisan kaum muslimin. Tidak hanya untuk semua lapisan tertentu, misalnya hanya untuk kalangan penuntut ilmu atau santri madrasah, tetapi semua lapisan dapat melibatkan diri dengan baik, apakah itu pelajar, apakah itu petani, apakah itu pedagang, apakah itu dokter, dsb. Dan semua Nampak dengan jelas kalau kita melibatkan diri dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh atau juga menghadiri ijtima&#8217;i-ijtima&#8217;I pertemuan yang dilaksanakan, semua lapisan kaum muslimin dapat melibatkan diri, atau juga ketika khuruj fisabilillah.</p>
<p>Biasanya jika semangat telah tumbuh, maka seseorang berusaha untuk meningkatkan kualitas pemahaman melalui kitab lainnya: kitab fiqh Islam, buku-buku berkaitan dengan usaha  da&#8217;wah dan tabligh, do&#8217;a-do&#8217;a harian. Beberapa tulisan kecil yang sangat erat dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini yang dapat meningkatkan pikir yaitu:</p>
<p>1.       Keruntuhan Ummat Islam dan Cara Perbaikannya, Maulana Ihtisamul Hasan</p>
<p>2.       Penderitaan Ummat dan Penyelesaiannya, Maulana Dzakaria</p>
<p>3.       Perasaan Ummat seruan Maulana Yusuf</p>
<p>4.       Sebuah Seruan Kepada Kaum Muslimin, pesan disampaikan Maulana Ilyas dalam konferensi seluruh Ulama Indoa dan pemimpin politik Muslim</p>
<p>5.       Enam Prinsip Tabligh, Maulana Ishaq Elahi</p>
<p>6.       Malfudhat Maulana Ilyas, Maulana Manzoor Nu&#8217;mani</p>
<p>Tulisan-tulisan di atas ini merupakan bahan bacaan infirodhiyyah, dan tidak dilakukan secara ijtimaiyyah. Disamping mungkin saja untuk meningkatkan kualitas pendalamannya, misalkan melalui kajian tafsir Quran, Syarh Hadits, dsb. Peningkatan infirodhiyyah tentunya akan banyak memberikan pengaruh ijtimaiyyah, begitupun ijtimaiyyah akan banyak memberikan dorongan terhadap infirodhiyyah.</p>
<p>Bagi kaum muslimin yang mempunyai kemampuan tentunya juga sebaiknya mempunyai kurikulum ataupun silabus untuk pendalaman-pendalaman Islam lainnya, sehingga pendalaman tersebut mempunyai arah dan sistematika yang jelas dan beraturan. Dan beberapa kitab perihal Ilmu selalu menjelaskan kurikulum dan silabus pengajaran Islam dengan baik, hal ini untuk menghindari pengajaran yang tidak beraturan dan tidak terstruktur.</p>
<p>Meskipun seperti itu sasaran utama dari ta&#8217;lim wat ta&#8217;allum dalm usaha da&#8217;wah dan tabligh ini adalah bagaimana menghidupkan amal agama 100% dalam kehidupan kita sebagai muslim. Bukan menjadikan buku-buku itu sebagai tumpukan yang tidak ada artinya, jangan sampai seperti perumpaan keledai yang membawa tumpukan kitab yang tidak memberikan kesan sama sekali.</p>
<p>Sekian penjelasan dari analisa dan sintesa kami pribadi berkaitan dengan Kurikulum Pengajaran melalui ta&#8217;lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat, dan juga berkaitan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh juga. Kami akan lanjutkan dalam tulisan lainnya, beberapa pesan yang disampaikan maulana Ilyas Rah yang berkaitan dengan ilmu. Sehingga kita kaum muslimin dapat memperhatikan hikmah yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Terimakasih</p>
<p><script type="text/javascript"></script></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=238&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2009/02/28/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Tidak Membaca Kitab Hadits Shohih Bukhari dan Muslim?</title>
		<link>http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 16:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[hayatush shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[kitab bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[kitab muslim]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[ 
Di kalangan penuntut ilmu sering muncul pertanyaan ataupun bahkan pernyataan kenapa tidak saja menggunakan kitab hadits bukhari dan muslim daripada menggunakan kitab fadhoil amal. Apalagi kedua kitab ini mempunyai bobot yang cukup tinggi. Para ulama sangat kenal benar dengan kedua kitab ini, dan merupakan sumber rujukan yang tidak ada taranya. Kedua kitab ini juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   AR-SA </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Di kalangan penuntut ilmu sering muncul pertanyaan ataupun bahkan pernyataan kenapa tidak saja menggunakan kitab hadits bukhari dan muslim daripada menggunakan kitab fadhoil amal. Apalagi kedua kitab ini mempunyai bobot yang cukup tinggi. Para ulama sangat kenal benar dengan kedua kitab ini, dan merupakan sumber rujukan yang tidak ada taranya. Kedua kitab ini juga merupakan rujukan dari kitab fadhoil amal sendiri. Kami pribadi mempunyai kedua kitab itu serta juga syarahnya yang disusun oleh Ulama yang sangat dikenal, seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar Asqolani.</p>
<p>Kita kadangkala kurang memperhatikan pandangan-pandangan lain ketika kita memberikan pandangan ataupun pernyataan itu. Oleh karena itu sebaiknya kaum muslimin, terutama kalangan penuntut ilmu, dapat juga memperhatikan pandangan terhadap satu perkara, sehingga kaum muslimin terhindari dari penilaian-penilain yang kurang tepat, bahkan terhindar dari perkara meremehkan dan merendahkan kaum muslimin lainnya.</p>
<p><span id="more-236"></span>Mari kita perhatikan dengan dengan pertanyaan di atas. Sebelumnya kita perlu mengetahui apa tujuan utama dari pelajaran fadhilah amal ini. Pelajaran utama dari fadhilah amal ini adalah untuk selalu mengetahui kelebihan-kelebihan amal, dan mengetahui jaminan-jaminan Allah swt dan juga Rasulullah SAW terhadap orang yang mengamalkan amal Islam dan bagaimana akibatnya dengan yang meninggalkan amal Islam itu. Sehingga timbul dorongan yang berkelanjutan untuk menjaga amal Al-Islam itu sendiri.</p>
<p>Kitab fadhoil amal ini merupakan kumpulan dari beberapa buku fadhilah yang dijadikan satu, dan salah satunya di dalamnya terdapat buku yang secara khusus untuk kisah-kisah para Shahabat RA disamping kisah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Dan kisah-kisah ini perlu sering dibaca untuk menumbuhkan semangat ataupun acuan bahwa contohan dan tauladan itu adalah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Dan kesuksesan hidup di dunia dan di akherat itu jika mengikuti Nabi Muhammad SAW seperti para Shahabat RA yang mengikuti Rasulullah SAW dalam hidupnya.</p>
<p>Buku fadhilah amal ini dan kisah-kisah ini disusun agar dapat dibaca oleh semua kalangan, tidak hanya kalangan penuntut ilmu tetapi juga kalangan orang awam sekalipun. Dan jika berkeinginan bagaimana mengetahui kaifiyyahnya tentunya orang awam akan bertanya kepada para ustadz atau ulama yang dikenalnya dengan baik, tetapi dorongan itu tetap dapat dilakukan dengan baik pula oleh setiap kaum muslimin.</p>
<p>Bagaimana dengan Kitab Shohih Bukhari dan Muslim? Kitab Kitab Shohih Bukhari dan Muslim merupakan kitab hadist yang tidak hanya berhubungan dengan bagian-bagian fadhilah amal, tetapi mengandung bagian lainnya yang memerlukan penjelasan dengan baik. Sehingga perlu orang-orang tertentu yang dapat mengajarkannya kepada kaum muslimin, tidak semua orang dapat mengajarkannya, untuk bagian-bagian yang memerlukan penjelasan itu. Itu merupakan bahasan masyail yang memerlukan kepahaman secara khusus. Yang tentunya tidak asal berdasarkan apa yang tertulis saja. Disamping juga kitab ini bukan merupakan kitab kisah-kisah para Shahabat RA, meskipun ada sebagian-sebagiannya.</p>
<p>Dan mengajar kitab bukhari dan muslim ini karena merupakan kitab rujukan utama maka tentunya orang yang mengajarkannya kembali perlu mempunyai hubungan pengajaran sampai kepada penulis kitab itu sendiri. Maulana Ilyas ah sebagai penggagas usaha da&#8217;wah, ataupun juga Maulana Dzakaria Rah sebagai penulis kitab fadhilah-fadhilah amal, beliau ini belajar kitab hadist ini berhubungan dengan langsung dengan penulis dari kitab itu sendiri melalui guru-gurunya yang sampai ke penulis yang bersangkutan. Ini adalah perkara yang tidak mudah sembarangan dilakukan.</p>
<p>Dalam bahasan masyail ini meskipun kitabnya sama, bisa saja mempunyai pemahaman yang berbeda sesuai pengajarannya itu sendiri. Apalagi bagi orang yang membaca dan mempelajari kedua kitab itu tidak ada sangkut pautan pelajarannya tidak sampai ke kedua imam itu, maka bisa juga melakukan interpretasi-interpretasi yang berbeda dengan kedua imam itu atau ulama lainnya. Sehingga sebaiknya kedua kitab ini dibaca dan dipelajari melalui bimbingan dari seorang guru atau ustadz yang cukup baik asal-muasal belajarnya. Disamping sistematikanya juga memerlukan perhatian yang cukup baik dari orang yang membacanya.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak heran jika dikemudian hari banyak ulama yang menyusun kitab-kitab hadits yang merupakan gambungan dari kitab-kitab hadist rujukan dengan pendekatan atau sistematika yang lebih mudah dan juga arah yang terfokus, misalkan kitab Riyadhush Sholihin, Bulughul Murom, Targhib Wat Tarhib, dsb. Kitab-kitab ini menggunakan sumber-sumber kitab hadist yang lebih awal, seperti kitab bukhari, muslim, tirmidzi, nasa&#8217;I dsb.</p>
<p>Bagaimana dengan kitab fadhilah amal itu sendiri. Pertama, kitab fadhilah amal ini disusun oleh ulama yang telah lama berkecimpung dalam pelajaran hadist, termasuk kitab hadist bukhari dan muslim, sehingga sudah dipertimbangkan perihal penjelasan dan sistematikanya sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai. Bahkan penulis sendiri menulis kitab syarh dari kitab Imam Bukhari. Kedua, kitab fadhilah amal ini sangat berhubungan dengan dorongan amal dan juga kisah-kisah para Shahabat dalam buku yang terdapat dalam bundel kitab itu. Sehingga tentunya akan lebih mendorong pada jiwa dan mudah dipahaminya. Dan setiap kaum muslimin dapat membacanya.</p>
<p>Apakah kedua kitab itu dipelajari? Tentu kedua kitab itu dipelajari, tetapi di madrasah-madrasah yang lebih tepat dan juga terdapat bimbingan yang baik dari ustadz-ustadz yang mempunyai kapasitasnya. Mudah-mudahan di waktu akan datang lebih banyak ulama ataupun ustadz yang dapat mengajar kedua kitab ini dengan lebih mudah, seperti di masjid-masjid kaum muslimin sendiri. Disamping memang sekarang telah ada kitab ringkasan untuk kedua kitab itu serta juga penjelasannya.</p>
<p>Tetapi proses belajar itu mempunyai peningkatan yang perlu diperhatikan, TIDAK MUNGKIN setiap kaum muslimin akan mempunyai kemampuan yang sama dalam memahami ini. Dan hal ini sudah sesuai dengan kaidah yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW sendiri, bahwa masyarakat yang diberikan pengajaran ini mempunyai tingkatan sendiri-sendiri. Dan hal ini terbukti di jaman Rasulullah SAW sendiri, para Shahabat RA mempunyai tingkatan yang berbeda-beda bahkan dalam kepahaman juga. Kita semua dapat mempelajari kisah-kisah terhadap tingkatan kepahaman ini. Salah satu kisah yang menarik adalah perihal seorang Shahabat RA memperhatikan benang ketika shaum di bulan ramadhan karena ingin melihat bagaimana berbuka di bulan Ramadhan sehingga terus memperhatikan kapan  benang dengan warna yang berbeda.</p>
<p>Jadikan pelajaran fadhilah amal sebagai pelajaran yang merata dan merupakan alif, ba, ta di k</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=236&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2009/02/28/kenapa-tidak-membaca-kitab-hadits-shohih-bukhari-dan-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kerangka Kita Terhadap Ulama Hadits dan Kitab Fadhoil Amal?</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/10/02/bagaimana-kerangka-kita-terhadap-ulama-hadits-dan-kitab-fadhoil-amal/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/10/02/bagaimana-kerangka-kita-terhadap-ulama-hadits-dan-kitab-fadhoil-amal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Oct 2008 22:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana Kerangka Kita Terhadap Ulama Hadits dan Kitab Fadhoil Amal?
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kaum Muslimin Yang Berbahagia,
Pada saat ini sebagian kaum muslimin telah memberikan pandangannya terhadap usaha da&#8217;wah melalui kitab Fadhoil Amal yang disusun oleh Maulana Dzakaria. Jika kita mau berpikir sejenak terhadap tulisan yang terdapat dalam kitab fadhoil Amal, maka kita sendiri akan menemukan beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bagaimana Kerangka Kita Terhadap Ulama Hadits dan Kitab Fadhoil Amal?</strong></p>
<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Kaum Muslimin Yang Berbahagia,</p>
<p>Pada saat ini sebagian kaum muslimin telah memberikan pandangannya terhadap usaha da&#8217;wah melalui kitab Fadhoil Amal yang disusun oleh Maulana Dzakaria. Jika kita mau berpikir sejenak terhadap tulisan yang terdapat dalam kitab fadhoil Amal, maka kita sendiri akan menemukan beberapa pandangan Ulama dulu terhadap satu hadits. Sehingga sebenarnya hal itu memperlihatkan permbedaan pandangan dari para Ulama sendiri bagaimana para Ulama dulu memberikan penilaian bobot terhadap satu hadits. Kita harus menghargai dan menghormati semua Ulama itu, sehingga kita tidak menyalahkan yang satunya. Oleh karena itu, kami mengajak kaum muslimin untuk memperhatikan sikap Ulama terhadap hadits-hadits yang tercantum dalam kitab-kitab Ulama dulu. Di bawah ini kami sampaikan kembali perihal tiga Ulama:</p>
<p>(A) Ulama memilih dari pandangan Ulama terdahulu sesuai dengan kedalaman ilmunya, dan menyampaikan dari Ulama dahulu yang lainnya. Maksudnya: Ulama tipe A ini mempelajari dan membandingkan berbagai pandangan Ulama sebelumnya, selanjutnya memilih pandangan Ulama tertentu sesuai dengan kedalaman Ulama tipe A sendiri, dan disamping itu menyampaikan pandangan yang berbeda Ulama dahulu yang lain.</p>
<p><span id="more-115"></span>(B) Ulama memilih dari pandangan ulama terdahulu dengan kedalaman ilmunya, dan tidak menyampaikan pandangan dari Ulama dahulu yang berbeda, tetapi tentunya dengan pertimbangannya. Maksudnya: Ulama tipe B mempelajari dan membandingkan berbagai Ulama sebelumnya, selanjutnya pandangan Ulama tertentu sesuai dengan kedalaman Ulama tipe B sendiri, tetapi Ulama Tipe B tidak menyampaikan perbedaan dari pandangan-pandangan yang berbeda dari para Ulama terdahulu. Hal ini dilakukan oleh Ulama tipe B sesuai dengan pertimbangan-pertimbangannya.</p>
<p>(C) Ulama memilih dan meramu ulang, dan memberikan penilaian sendiri. Dan disampaikan pandanganya secara tegas, bahwa itu merupakan pandangannya. Maksudnya: Ulama tipe C mempelajari dan membandingkan berbagai ulama sebelumnya, dan menyampaikan pandangan sendiri terhadap penilaian itu sendiri.</p>
<p>Ketiga tipe Ulama di atas setidaknya banyak memberikan pengaruh terhadap kaum muslimin yang belajar Al-Islam itu sendiri dari para Ulama-ulama tersebut. Ulama tipe C dapat juga awalnya sebagai Ulama tipe A ataupun B. Tetapi bukan berarti Ulama Tipe A atau Ulama Tipe B harus mengambil keputusan menjadi Ulama Tipe C, atau bahkan lebih rendah dari Ulama Tipe C. Karena jelas Ulama Tipe A dan Ulama Tipe B sendiri mempunyai kerangka analisa yang menjadi pertimbangannya.</p>
<p>Ulama-Ulama yang bergelut dalam bidang ilmu hadits setidaknya mempunyai kerangka analisa yang perlu kita hormati. Kami pribadi sudah memberikan pandangan kami pribadi lebih condong terhadap Ulama Tipe A ataupun Ulama Tipe B, dibandingkan Ulama Tipe C. Pengambilan kami terhadap pilihan tersebut mempunyai alasan-alasan juga, sehingga setidaknya kaum muslimin sendiri perlu memperhatikan hal itu dengan baik. Mungkin dalam tulisan ini ini perlu kami sampaikan alasan-alasan itu, yaitu :</p>
<p>1. Sangat sedikit di kalangan Kaum muslimin, termasuk kami, bukan peneliti hadits, sehingga semuanya digantungkan pada ulama-ulama yang dapat dipercaya keilmuannya. Meskipun hari ini misalkan Ulama Tipe C menyampaikan penjelasan-penjelasannya terhadap penentuan terhadap bobot satu hadits, tetapi hal itu memerlukan waktu untuk dapat diterima secara mayoritas kaum muslimin.</p>
<p>2. Kita hari ini sangat jauh dengan jaman para Ulama dahulu, sehingga kami memandang bahwa hirarki proses belajar dari Ulama sendiri menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Semua Ulama apakah Tipe A, apakah Tipe B dan juga Tipe C memerlukan proses hierarki belajar itu sendiri. Sehingga ketika kita mengantungkan pada Ulama Tipe itu, maka sebenarnya kita mempunyai kepercayaan yang penuh terhadap Ulama yang bersangkutan.</p>
<p>3. Pandangan Ulama Tipe C di jaman sekarang memerlukan waktu untuk dapat diterima secara mayoritas Ulama-Ulama yang ada sejamannya, atau juga sesudahnya. Semuanya akan dipelajari dengan baik oleh kalangan Ulama sendiri. Seperti bagaimana Ulama Tipe C belajarnya? Apakah melalui hirarki proses belajar atau Tidak? Apakah hanya mengandalkan kitab-kitab yang sudah dicetak saja? Apakah Ulama Tipe C ini memadukan antara Hierarki Proses Belajar dan Kitab-Kitab yang sudah dicetak? Bagaimana kerangka yang dipergunakan dalam penentuan itu? Dsb. Oleh karena itu, kami pribadi tidak mungkin secara merta mengikuti pandangan Ulama Tipe C.</p>
<p>4. Sebagian kaum muslimin yang mempunyai pendalaman atau juga pengetahuan yang cukup dalam, mungkin saja akan dapat memilih dengan baik terhadap Ulama Tipe itu sendiri. Tetapi mayoritas kaum muslimin yang diamati sekarang ini akan lebih condong merujuk pada Ulama Tipe B, dibandingkan Ulama Tipe A atau Ulama Tipe C. Hal ini kita tidak dapat pungkiri terhadap mayoritas kaum muslimin di mana-mana terhadap kemampuan yang dipunyainya.</p>
<p>Selanjutnya timbul pertanyaan kepada kita semua. Apakah kita dapat berpindah mengikuti dari pandangan Ulama Tipe B, kemudian selanjutnya mengikuti pandangan Ulama Tipe A, dan mungkin akhirnya mengikuti Ulama Tipe C? Sangat mungkin saja terjadi. Atau bahkan kita dapat berpindah dari mengikuti Ulama Tipe C yang sudah dapat menentukan sendiri penilaian haditsnya, untuk lebih mengikuti Ulama Tipe A ataupun B. Hal inipun sangat mungkin terjadi. Yang terpenting bagi kami yang jauh dari pendalaman ilmu itu sendiri adalah tetap menghormati Ulama Tipe A, Ulama Tipe B dan Ulama Tipe C.</p>
<p>Dan proses untuk mengikuti Ulama ini bukan menjadi aib atau bahkan kenistaan bagi kaum muslimin. Dan yang terpenting ketika orang mengambil sikap perubahan itu adalah tidak menyampaikan hal-hal yang kurang baik terhadap masing-masing Ulama itu sendiri. Begitupun sebaliknya, jika ada yang mengambil pandangan dari Tipe manapun, kami tetap menghormati sesuai dengan keterbatasan itu sendiri-sendiri kaum muslimin.</p>
<p>Apakah kami mengambil sikap seperti ini tidak ada landasan yang memberikan kerangka ini? Jelas kami mempunyai kerangka landasan yang mempengaruhinya, dan kita dapat sama-sama memperhatikan dua ulama yang menyampaikan.</p>
<p><strong>Penjelasan Syeikh Abu Bakr Al-jazairi dalam Minhajul Muslim:</strong></p>
<p>Syeikh Abu Bakr Al-jazairi menjelaskan beberapa bagiannya dalam bagian Akidah Islam dalam bahasan &#8220;Beriman kepada kewajiban mencitai para Shahabat Rasulullah, keutamaan mereka, horma pada para Imam Islam dan taat kepada pemimpin kaum muslimin&#8221;. Kami sampaikan sebagian terhadap tulisan beliau di bawah ini.</p>
<p>Beliau menjelaskan sebagai berikut: Adapun terhadap para para imam Islam, yaitu para qari&#8217;, pakar hadits dan pakar tafsir, maka orang muslim:</p>
<p>1. Mencintai mereka, memintakan rahmat, ampunan untuk mereka dan mengakui keutamaan mereka. Dalam satu hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Yang paling baik di antara kalian adalah generasiku, kemudian orang-orang sesudahnya, kemudian orang-orang sesudah mereka&#8221; (Muttafaq Alaih).</p>
<p>Mayoritas besar para qari&#8217;, pakar hadits, fuqaha, dan pakar tafsir berasal dari ketiga generasi yang kebaikannya diakui Rasulullah SAW. Allah swt memuji orang-orang yang memintakan ampunan untuk orang-orang yang lebih dahulu beriman daripada mereka dengan firmanNya. &#8220;Ya Tuhan kami, berilah ampunan kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami&#8221; (Al-Hasyr:10)</p>
<p>2. Tidak menyebutkan kecuali kebaikan mereka, tidak mencaci ucapan ataupun pendapat mereka, dan mengetahui bahwa mereka ada;ah para mujtahid yang mukhlish kemudia ia santun ketika menyebut nama mereka, dan mendahulukan pendapat mereke daripada ulama-ulama, fuqaha, ahli tafsir, dan ahli hadits sesudah mereka, dan tidak meninggalkan pendapat mereka kecuali karena firman Allah swt dan juga sabda Rasulullah SAW, atau pendapat para Shahabat.</p>
<p>3. Apa saja yang dibukukan oleh empat imam: Imam Malik, Imam Syafi&#8217;I, Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, dan apa yang mereka katakan dalam masalah-masalah agama, fiqh, dan syariat itu bersumber pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Mereka tidak memahami kecuali dari kedua sumber tersebut, tidak mengeluarkan hukum kecuali dari keduanya, dan tidak membuat qiyas kecuali berdasarkan keduanya jika mereka tidak mendapatkan nash tekstual dari keduanya atau isyarat di keduanya.</p>
<p>4. Berpendapat bahwa mengambil apa yang ditulis salah seorang dari imam dalam masalah-masalah fiqh, dan agama adalah diperbolehkan, dan mengamalkannya berarti syariat Allah swt selagi tidak berbenturan dengan nash yang tegas dan shahih dalam kitabullah atau Sunnah Rasulullah SAW.</p>
<p>5. Berpendapat bahwa mereka adalah manusia biasa yang dapat benar dan salah. Bisa jadi salah seorang dari mereka salah dalam salah satu masalah tanpa sengaja, namun karena lalai, atau lupa, ataupun tidak menguasai. Oleh karena itu, orang muslimin tidak fanatik terhadap pendapat salah seorang dari mereka, dan meninggalkan pendapat lainnya. Sikap yang benar adalah ia mengambil pendapat salah satunya dari mereka, dan tidak menolak pendapat mereka kecuali firman Allah swt dan Sabda Rasulullah SAW.</p>
<p><strong>Penjelasan Dr Nashir Bin Abdul Karim dalam Al-Iftiraq:</strong></p>
<p>Dr. Nashir Bin Abdul Karim menjelaskan cukup baik perihal terjadinya ifiraq dan gejalanya. &#8220;. Kami sampaikan sebagian terhadap tulisan beliau di bawah ini. Beliau menjelaskan sebagai berikut:</p>
<p>Di antara sebab terjadinya ifitiraq adalah adanya anggapan bahwa itba&#8217; kepada para imam berdasarkan petunjuk dan bashirah itu adalah taqlid. Inilah kerancuan yang sering kita dengar dari sebagian pengajar yang mengatakan : &#8220;Ittiba&#8217; kepada para Ulama adalah taqlid. Sedangkan taqlid tidak diperbolehkan dalam agama. Mereka manusia, kitapun manusia. Kita harus berijtihad sebagaimana mereka berijtihad. Kita memiliki banyak sarana dan kitab, dan sekarang terpenuhi segala sarana untuk memperoleh ilmu. Maka mengapa kita harus belajar dari Ulama, sedang belajar ilmu dari Ulama itu taqlid. Dan taqlid ini bathil&#8221;</p>
<p>Ada perbedaan yang jelas antara taqlid dengan ittiba&#8217; dan ihtida&#8217; (mengambil pentunjuk). Ittiba&#8217; wajib secara syara&#8217;. Umumnya orang Islam bahkan kebanyakan pelajar tidak bisa melakukan ijtihad atau mengambil pokok-pokok ilmu melalui jalan yang benar, lantas dari siapa mereka mempelajarinya?</p>
<p>Tidak mungkin mereka mengambilnya kecuali dengan ittiba&#8217; kepada para ulama. Ittiba&#8217; bukanlah taqlid. Bila tidak demikian, maka setiap manusia adalah firqah (golongan) dan jadilah firqah (golongan) itu sebanyak jumlah manusia itu sendiri. Tentu saja itu jelas batilnya. Jadi Ittiba&#8217; kepada para imam berdasarkan dan bashirah bukanlah taqlid.</p>
<p>Tulisan-tulisan kedua Ulama diatas memperlihatkan satu kondisi penting yang terdapat dalam kehidupan kaum muslimin. Kesempatan, kemampuan, bakat, kecerdasan yang dimiliki kaum muslimin tidak sama, dan hal ini merupakan sunnatullah yang harus kita pahami dengan baik. Oleh karena itu kaum muslimin saat ini lebih banyak (bahkan paling banyak) untuk mengikuti pada pandangan sebagian ulama tertentu, daripada membanding-bandingkan pandangan-pandangan para Ulama sendiri untuk mendapatkan pandangan yang lebih baik.</p>
<p>Sama halnya ketika kita memilih pandangan Ulama tertentu dalam bobot hadits itu sendiri. Sehingga pernyataan-pernyataan terhadap sebagian kaum muslimin sebagai taqlid atau fanatik madzhab merupakan pernyataan yang cukup berlebihan, karena seolah-olah kaum muslimin ini harus mempunyai kerangka yang sama ataupun mempunyai kemampuan yang sama. Jika di antara kita mempunyai kelebihan dalam analisa, maka lakukan apa yang kita miliki. Tetapi kita tidak dapat menyamakan semua orang memiliki kemampuan itu.</p>
<p>Selanjutnya kitab Fadhoil Amal sebelumnya adalah Tabligh Nishob. Dan perlu kita pahami bersama bahwa Maulana Dzakaria ini menulis perihal fadhoil amal ini cukup banyak, tetapi tidak dimasukkan ke dalam kitab fadhoil amal (himpunan fadhilah) yang dibaca ijtima&#8217;I ketika menjalankan aktifitas usaha da&#8217;wah, seperti khuruj atau ta&#8217;lim harian. Sehingga dari hal di atas, sangat nampak sebenarnya pemilihan kitab fadhoil amal ini tidak asal dari Maulana Dzakaria, tetapi melalui proses musyawarah dalam usaha da&#8217;wah itu sendiri.</p>
<p>Kitab fadhilah lainnya yang disusun beliau yang kami sempat mengetahuinya yaitu fadhilah janggut, fadhilah tijarah. Sedangkan ke dalam ta&#8217;lim ahli da&#8217;wah yaitu fadhilah sholat, fadhilah dzikir, fadhilah quran, fadhilah tabligh, fadhilah ramadhan, fadhilah shodaqah, fadhilah haji, kisah-kisah Shahabat.</p>
<p>Dan sekarang telah ada yang menggunakan kitab riyadhush sholihin, kitab hayatush shahabat (maulana Yusuf), dan juga kitab al-mutakhobatul ahaadits (maulana Yusuf). Dan kebetulan saja keduanya adalah belajar juga pada Maulana Ilyas, disamping pada Ulama lainnya. Kita mungkin hanya mengetahui kitab-kitab itu saja yang ditulis beliau berdua, sedangkan tulisan lainnya dari keduanya cukup banyak dan lebih mendalam. Misalkan Syarah himpunan hadits Imam Thahawi oleh Maulana Yusuf, syarh Al-Muwatho Imam Malik oleh Maulana Dzakaria. Tetapi kitab-kitab lain itu tersebut tidak menjadi ta&#8217;lim Ijtima&#8217;i.</p>
<p>Dan mungkin saja tidak banyak yang memperhatikan buku-buku fadhilah Amal yang ditulis dalam gaya penulisan beliau itu, dan tidak pernah membandingkan beberapa kitab fadhilah tersebut satu sama lain. Dan bahkan mungkin saja tidak pernah dianalisa dihubungkan dengan keunggulan yang dimiliki bangsa asal-muasal penulis kitab fadhoil amal itu di abad ini. Salah satu keunggulan bangsa asal-muasal penulis itu sama dengan bangsa arab sendiri. Mereka sudah berabad-abad tersebar ke berbagai negara, sama dengan bangsa arab.</p>
<p>Ketika kami bermudzakarah dengan sebagian salafi, kami selalu menekankan untuk memperhatikan dengan baik kitab fadhoil itu terutama dari gaya penulisan, sistematika penulisan serta relasi-relasi satu bahasan ke bahasan lainnya, bahkan termasuk terhadap rujukan-rujukannya itu sendiri. Sehingga kita sendiri akan mendapatkan beberapa hal yang menjadi pegangan penulis sendiri. Di bawah ini merupakan beberapa karakter dari kitab fadhoil amal itu:</p>
<p>1. Penyusunan hadits dimulai dari yang shohih terlebih dahulu, sehingga hadits dhoif selanjutnya merupakan kelanjutan dari hadist sebelumnya. Disamping itu penulisan Ayat Al-quran dan penjelasannya dilakukan juga dari awal, sebelum hadits shohih yang dijelaskan. Sehingga jika ada yang mengambil pandangan bahwa fadhoil amal juga harus shohih atau hasan, maka dapat diambil dibagian depan sebagai landasan kepentingan bahasan itu. Sedangkan jika ada yang mengambil pandangan bahwa fadhoil amal dapat dengan hadits dhoif, maka jelas hal itu tidak mengurangi terhadap bahasan sebelumnya. Dan seterusnya.</p>
<p>2. Penyusunan tulisan menggunakan pola satu hadits di jelaskan, dan penyelasannya lebih didominasi hadits-bil-hadits. Pola ini cukup banyak dilakukan oleh ulama sebelumnya. Bagi orang awam kebayakan kaum muslimin pola penjelasan ini memberikan kerangka yang sangat baik terhadap pendalaman Al-Islam.</p>
<p>3. Beberapa kitab fadhilah amal lebih lengkap terdapat catatan kakinya dibandingkan dengan kitab fadhilah lainnya. Kami temukan sendiri dengan hal itu. Kami persilahkan kepada kaum muslimin dapat memperhatikan kitab-kitab fadhilah amal itu.</p>
<p>4. Terdapat hadits yang dianggap maudhu oleh sebagian ulama, tetapi dibenarkan oleh Ulama lainnya, misalkan hadits yang berhubungan dengan kisah Nabi Adam melihat Nama Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Dan beliau menyampaikan kedua-duanya penjelasan itu dengan fair. Tetapi beliau menunjukkan bahwa beliau mempunyai ketetapan dengan hadits yang bersangkutan, karena terdapat hubungan dengan hadits-hadits yang lainnya dan juga terdapat Imam hadits lain yang dipercayainya membenarkannya.</p>
<p>Oleh karena itu, kami sendiri mempunyai pilihan dalam hal ini. Sesuai dengan penjelasan yang sebelumnya. Dan jika sebagian sebagian kaum muslimin tidak menyetujuinya dan bahkan dijadikan sebagai sarana untuk memberikan kritik-kritik terhadap usaha da&#8217;wah, kami tetap menghormatinya. Bahkan mungkin saja di masa depan, terdapat ulama yang melakukan penjelasan secara menyeluruh terhadap setiap bobot hadits itu atau juga bahkan peringkasan yang diperlukan.</p>
<p>Dan yang terpenting kami perlu jelas dalam hal ini bahwa kami menjaga tiga hal dengan baik sebagai landasan sunnah wal jama&#8217;ah, yaitu Ijtima&#8217;i, Al-Jama&#8217;ah dan juga Ishlah. Sunnah Wal Jama&#8217;ah merupakan milik kaum muslimin, dimana sangat berkeinginan mengikuti sunnah dan juga contohan para Shahabat, serta selalu memberikan perbaikan bagi kaum muslimin dan juga ummat manusia. Oleh karena itu, ikhtilaf (perbedaan) kami pandang bukan sebagai iftiraq (perpecahan), sedangkan iftiraq itu sudah pasti merupakan ikhtilaf. Tetapi jika kita selalu mempertajam ikhtilaf, maka bisa saja di antara kita sendiri terjerembab ke dalam iftiraq. Hal ini yang perlu dihindari.</p>
<p>Terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=115&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/10/02/bagaimana-kerangka-kita-terhadap-ulama-hadits-dan-kitab-fadhoil-amal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
