<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; jama&#8217;ah tabligh</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/jamaah-tabligh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ustadz Berdo&#8217;a Untuk Dipilih Dalam Usaha Da&#8217;wah Atau Menghancurkan Usaha Da&#8217;wah ini</title>
		<link>http://usahadawah.com/ustadz-berdoa-untuk-dipilih-dalam-usaha-dawah-atau-menghancurkan-usaha-dawah-ini/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/ustadz-berdoa-untuk-dipilih-dalam-usaha-dawah-atau-menghancurkan-usaha-dawah-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 01:31:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[da'wah sampai mati]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah swt,
Al-Islam merupakan agama yang penuh dengan rahmat, dan hal ini sebenarnya menjadi tanggung jawab setiap individu kaum muslimin untuk menjadikan Al-Islam ini menjadi rahmatan Lil&#8217;alamiin. Kita hendaknya menjadi asbab atas hidayah Allah swt untuk seluruh Ummat manusia, sedangkan keputusan hidayah berada dalam kehendak Allah swt. Itu yang dikenhendaki Allah swt, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Al-Islam merupakan agama yang penuh dengan rahmat, dan hal ini sebenarnya menjadi tanggung jawab setiap individu kaum muslimin untuk menjadikan Al-Islam ini menjadi rahmatan Lil&#8217;alamiin. Kita hendaknya menjadi asbab atas hidayah Allah swt untuk seluruh Ummat manusia, sedangkan keputusan hidayah berada dalam kehendak Allah swt. Itu yang dikenhendaki Allah swt, kita hanya diminta untuk berusaha dalam asbab hidayah Allah swt.</p>
<p>Di bawah ini merupakan pandangan yang disampaikan melalui blog kami (http://usahadawah.com/2008/12/04/kabar-dusta-dan-fitnah-ahli-usaha-dakwah-dan-tabligh-menyembah-kuburan-di-markas-nizhamuddin/#comment-212), mudah-mudahan pandangan ini dapat bermanfaat:</p>
<blockquote><p>Assalamu alaikum !<br />
Ana pernah khuruj, dan kebetulan amir ana adalah seorang ustadz dari salah satu pergerakan Islam. Beliau sebelum kenal usaha dakwah adalah orang yang sangat benci dengan tabligh akibat mendengar keterangan yang salah tentang tabligh. Alhamdulillah, Allah telah bukakan jalan sehingga beliau bisa ambil bagian dan ikut serta berjuang menghidupkan agama ke seluruh alam.Ada satu doa yang beliau ajarkan yang sampai sekarang masih ana amalkan, doa itu bunyinya ” <strong>Ya Allah, kalau memang usaha tabligh ini adalah usaha yang engkau ridhai, maka ikutkan juga aku ya Allah sampai mati dan jadikan usaha dawah ini menyebar ke seluruh alam, tapi kalau usaha dawah ini adalah usaha yang salah dan engkau murkai, maka janganlah ikutkan saya, dan hancurkanlah usaha ini </strong>“. Alhamdulillah, sampai sekarang ana masih istiqomah dalam usaha ini, dan niat ke IPB bulan juli nanti, insya Allah !. Untuk yang benci atau belum paham dengan tabligh silahkan amalkan doa tersebut dengan hati yang ikhlas…wassalam</p></blockquote>
<p>Kami percaya dengan kaum muslimin, terutama para Ulama atau ustadz, yang telah memberikan pandangan terhadap usaha da&#8217;wah ini sebagai bentuk nasehat agar kita kaum muslimin selamat di dunia dan akherat. Jika kita mempunyai perasaan yang bersih dan hanya Allah swt sebagai tujuan hidupnya, maka mintalah kepada Allah swt seperti mana ustadz itu berdo&#8217;a. Insya Allah, kita semua mendapatkan apa yang menjadi niat kita yang ikhlash.</p>
<p>Terimakasih</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=226&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/ustadz-berdoa-untuk-dipilih-dalam-usaha-dawah-atau-menghancurkan-usaha-dawah-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melepas Kedok Jemaah Tabligh, bagian 5 (Habis)</title>
		<link>http://usahadawah.com/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 01:11:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Membongkar Jama'ah Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Sumber : http://imanyakin.wordpress.com/2008/08/13/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/
MENGAPA HARUS KE INDIA DAN PAKISTAN BUKAN KE MEKKAH ATAU MADINAH ?
Banyak anggota mereka yang telah menghabiskan harta mereka agar dapat datang ke India dan Pakistan belajar cara kerja dakwah yang asal. Sampai-sampai orang jual rumah, kendaraan, ternak, atau kehilangan modal usaha gara-gara ingin pergi ke sana. Bahkan dalam ceramah-ceramah mereka di markaz [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber : http://imanyakin.wordpress.com/2008/08/13/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/</p>
<p><strong>MENGAPA HARUS KE INDIA DAN PAKISTAN BUKAN KE MEKKAH ATAU MADINAH ?</strong></p>
<p>Banyak anggota mereka yang telah menghabiskan harta mereka agar dapat datang ke India dan Pakistan belajar cara kerja dakwah yang asal. Sampai-sampai orang jual rumah, kendaraan, ternak, atau kehilangan modal usaha gara-gara ingin pergi ke sana. Bahkan dalam ceramah-ceramah mereka di markaz pusat maupun daerah selalu diakhiri dengan ajakan untuk pergi ke sana. Ada apa gerangan ?</p>
<p>Beredar di tengah masyarakat bahwa kiblat mereka jemaah tabligh bukan ke ka&#8217;bah, mereka tak mau pergi haji, haji mereka ke India Pakistan, dsb.</p>
<p><span id="more-50"></span>Orang tua di antara mereka mengatakan kami datang ke INDIA PAKISTAN untuk belajar ke tempat yang sudah hidup amal DAKWAH, bukan untuk beribadat di sana. Ada juga yang mengatakan sebagaimana orang ingin belajar sepak bola harus ke BRAZIL dan INGGRIS karena sudah sukses menjadi juara dunia. Begitu pula belajar HADITS orang perlu ke MADINAH, belajar qiraat ke MESIR, belajar madzhab Imam Syafi&#8217;I ke negeri MELAYU, belajar WAHABY ke ARAB SAUDI, belajar madzhab Hanafy ke KHURASAN. Maka apa salah kami belajar DAKWAH ke INDIA dan PAKISTAN karena di negeri itulah hidup amal dakwah.</p>
<p>Masjid banyak yang hidup 24 jam tidak seperti di Negara lain masjid banyak di kunci termasuk di MAKKAH dan MADINAH jika tak musim haji terkunci. (Penyalin : Rumah Allah DIKUNCI!!?) Padahal Rasulullah saw mulai kerja dari Masjid Nabawi yang hidup dengan amal 24 jam. Di Reiwind amalan hidup 24 jam sebagaimana Masjid Nabawi dahulu di zaman Rasulullah saw.</p>
<p>Ada juga di antara mereka yang katakan : Kami ke INDIA mau lihat sejarah bagaimana hasil kerja dakwah yang dibuat oleh Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A terhadap orang MEWAT. Suatu kampung pemakan bangkai, tidak mengenal Allah, tak pernah ibadah, sampai menjadi kampung yang penuh kesalehan.</p>
<p>Yang lain mengatakan banyak orang yang menuduh kami haji ke Pakistan bukan ke Mekah terkadang mereka sendiri belum berhaji. Lihatlah di markaz kami, di sana para hujjaj tak pernah di panggil Pak Haji, bahkan mereka berkali-kali haji, ini bisa dibuktikan jika kita Tanya para AHLI SYURA mereka rata-rata lebih dari 3 kali ke haji.</p>
<p>Di antaranya juga katakan : Kami datang untuk Shuhbah (berteman rapat / bershahabat untuk mengambil manfaat dari ILMU maupun AMAL) dengan ulama-ulama yang telah banyak berkorban dalam kerja dakwah, dan melihat kisah nyata kehidupan mereka yang telah jadikan dakwah sebagai MAKSUD HIDUP. Sebab jika kami tidak lihat mereka hanya baca tentang dakwah maka tak akan bisa kami terapkan.</p>
<p>Sebagaimana penjahit yang hanya membaca buku bagaimana cara menjahit jas tetapi tak pernah lihat bagaimana jas dibuat oleh penjahit yang lebih senior maka tak mungkin bias jahit. Memang kalau kita mau jujur mengamati kepergian mereka ke India dan Pakistan tak merubah cara ibadah, dan cara mu&#8217;asyaroh mereka, artinya tidak ada misi madzhab ataupun aliran yang dibawa. Mereka malahan lebih tenggelam dalam masyarakat dan memikirkan keadaan mereka yang jauh dari agama. Mereka shalat berjamaah dengan orang banyak, cara shalat pun tak berikhtilaf dengan umat Islam lainnya hanya saja mereka lebih menekankan sholat berjamaah, di awal waktu, dan di masjid.</p>
<p>Jadi kebanyakan tuduhan-tuduhan orang terhadap mereka kebanyakan hanya ikut-ikutan dan mencari-cari celah kesalahan tanpa melihat perubahan yang terjadi terhadap orang yang pulang dari sana.</p>
<p><strong>BEBERAPA KRITIKAN TERHADAP JEMAAH TABLIGH</strong></p>
<p>Kalau kita mau jujur melihat kritikan yang beredar sejak awal usaha didirikan oleh Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A, maka kita akan dapati kritikan dengan materi yang sama. Karena usut punya usut selalu bersumber dari kitab yang sama yang selalu dijadikan topik yang berulang-ulang. Di antara kritikan yang berulang-ulang itu adalah :</p>
<p>1.      Mereka tak memiliki Tauhid Uluhiyyah hanya membicarakan Tauhid Rubbubiyyah saja.</p>
<p>2.      Mereka memiliki kebiasaan TAWAF di kuburan.</p>
<p>3.      Masjid-masjid mereka di dalamnya ada kuburan.</p>
<p>4.      Buku Fadhilah amal mengandungi hadits-hadits dhoif.</p>
<p>5.      Mereka ahli bid&#8217;ah di dalam ibadah.</p>
<p>6.      Dakwah mereka kepada hal yang rendah yaitu shalat bukan dakwah untuk murnikan agama yakni anti terhadap bid&#8217;ah sehingga tak beresiko seperti Rasulullah saw.</p>
<p>7.      Mereka merupakan gerakan sufi modern.</p>
<p>8.      Tinggalkan anak istri dan tidak mengurusnya adalah suatu kedzoliman</p>
<p>9.      Mereka dakwah tanpa ilmu sehingga berbahaya untuk umat Islam</p>
<p>10.  Haji mereka ke India Pakistan</p>
<p>11.  Mereka berlebihan dalam memuji masyaikh mereka (Ghuluw)</p>
<p><strong>TANGGAPAN MEREKA TERHADAP KRITIKAN</strong></p>
<p>Umumnya mereka tidak menanggapi kritikan-kritikan yang beredar bahkan mereka anggap angin lalu saja sehingga semakin menambah sakit hati orang yang mencemooh mereka. Karena jika kritikan ditanggapi maka orang yang kritik merasa kritikannya berarti atau merasa menang atas mereka. Tetapi aneh! Mereka tak tanggapi kritikan sehingga banyak ahli kritik yang benci mereka stress atas sikap mereka.</p>
<p>Tak ada satu buku pun ditulis untuk jawab kritikan. Dakwah mereka istikhlash seperti kuda INDIA yang dipakaikan kaca mata kuda tak lihat kiri kanan, tak lihat kerja orang lain, tak lihat apa kata orang, mereka tawajjuh hanya kepada tertib yang mereka telah sepakati.</p>
<p>Dalam mudzakaroh enam sifat mereka ada point tentang tashihun niyat / meluruskan niat. Di sana dikatakan bahwa cirri orang ikhlash adalah Sikapnya sama saja dengan orang memuji atau orang yang membenci. Mereka telah buktikan, walaupun dihina, dicaci, tetap mereka memberi salam kepada siapapun, selalu tersenyum, bahkan justru para pengkritik banyak yang tak mau jawab salam mereka, memalingkan muka dari senyum mereka, bahkan meludah di hadapan mereka.</p>
<p><strong>BETULKAH JEMAAH TABLIGH SUATU ALIRAN KESUFIAN GAYA BARU ?</strong></p>
<p>Banyak yang katakan bahwa para masyaikh jemaah tabligh adalah penganut Thariqat Chistiyyah. Hal ini tak bias dipungkiri terlihat dari buku yang ditulis oleh Syaikh Zakariya Al Kandahlawi dalam bukunya &#8220;Thariqat menurut Maulana Zakariya yang diterjemahkan oleh Ustadz Qosim Timori. Thariqat mereka bersanad sampai Ali Bin Abi Thalib R A.</p>
<p>Tetapi keanehan terjadi di dalam kerja dakwah yang mereka sebarkan tak pernah sedikit pun perintah orang untuk amalkan thariqat tertentu, hatta kepada orang yang sudah puluhan tahun ikur kerja dakwah sekalipun. Bahkan menurut sejarah yang shahih kerja tabligh yang ada sekarang dimulai ketika Syaikh Maulana Muhammad Ilyas Rah A menganggap cara-cara taklim, pengajian, thariqat yang pernah dinuatnya atas orang Mewat mengalami kegagalan dalam merubah mereka.</p>
<p>Dengan keilmuan yang luas Syaik Ilyas Rah A pernah membayar orang-orang Mewat untuk duduk di majlisnya dan dengan thariqatnya beliau pernah ajarkan orang Mewat untuk bersihkan Iman mereka. Tetapi semua mengalami kegagalan, barulah Allah beri taufiq untuk kerja Tabligh ini.</p>
<p>Lihatlah!! Mereka di masjid bukan untuk berdzikir saja tetapi mereka bertemu manusia untuk jadikan seluruh manusia berdzikir kepada Allah. Setelah itu mereka hidupp seperti biasa punya istri dan anak, punya pekerjaan. Adakah ajaran sufi seperti ini? Perlu kejujuran dalam menjawabnya.</p>
<p>Anehnya mereka pencemooh mengatakan Tabligh Sufi Modern karena kesamaan ucapan antara Syaikh Yusuf Rah A dengan tokoh sufi seperti Al Busyairi Rah A, dsb. Bukankah ucapan yang baik dan haq perlu selalu disampaikan walau dari siapapun. Bahkan pepatah Arab katakan : Ambillah nasehat walaupun dari dinding.</p>
<p>Lihatlah dalam hadits tentang perkataan Raja Hiraclius dikutip kembali oleh para shahabat dan para perawi hadits, tidak menjadikan shahabat atau perawi hadits dikatakan sebagai orang Romawi.</p>
<p>Inilah kedangkalan ilmu para pencemooh yang hanya didasari hasad sehingga Allah SWT tampakkan kebodohan mereka walaupun mereka dikecam justru menjadi promosi gratis bagi mereka sehingga orang yang berhati bersih jadi tablighi karena ingin tahu yang sebenarnya.</p>
<p>Ketika mereka katakan Jemaah Tabligh Khawarij Modern, maka orang langsung bisa lihat siapa yang Khawarij.</p>
<p>Ternyata sifat Khawarij yang tak mau salah (Ali RA dan Muawiyyah RA dimata Khawarij keduanya salah yang betul dia sendiri) justru ada pada para pencemooh.</p>
<p>Adakah Jemaah Tabligh salahkan orang ?? Baik dalam buku maupun dalam bayan mereka ?? Tidak!!</p>
<p>Adakah Jemaah Tabligh membid&#8217;ahkan orang sehingga tak mau shalat berjemaah di masjid, atau mau shalat hanya di masjid tertentu ?? Tidak !!</p>
<p>Adakah pelarangan dari syuro mereka atau ustadz mereka yang melarang duduk di majlis taklim yang diajar oleh ustadz yang bukan karkun ?? Tidak!!</p>
<p>Bahkan setelah khuruj dianjurkan agar lebih dekat dengan ulama di kampung mereka masing-masing.</p>
<p>Dengarlah ucapan Syaikh Maulana Muhammad Saad Al Kandahlawi : Wallahi!! Doa Masnunah (Doa masuk WC, Doa makan, dsb) yang diajarkan oleh Rasulullah saw jauh lebih hebat jika dibandingkan amalan yang diajarkan mursyid-mursyid dzikir.</p>
<p>Inikah yang dinamakan sufi?? Tidak, bahkan mereka adalah orang yang cinta sunnah Nabi saw.</p>
<p>Sufi menurut Ibnu Taimiyyah berasal dari kata suf artinya wol, yakni sebagian penduduk Kufah yang ahli ibadah berpakaian wol. Lihatlah baju jemaah tabligh apakah berasal dari wol?? Capek deh&#8230;</p>
<p><strong>JEMAAH TABLIGH TINGGALKAN ANAK ISTRI LI I&#8217;LAI KALIMATILLAH</strong></p>
<p>Jadi perginya seorang keluar di jalan Allah bukan untuk habiskan waktu di masjid, duduk, dzikir, pegang tasbih, kalaulah ini yang dibuat maka ini adalah bentuk kedzaliman terhadap keluarga. Tetapi para shahabat dahulu tinggalkan istri berbulan-bulan bahkan ada Al Faruq ayah dari Rabi&#8217;ah Al Faruq seorang muhaddits telah tinggalkan istri 27 tahun adalah untuk meniggikan kalimat Allah dengan berdakwah.</p>
<p>Datang dari kampung ke kampung, Bandar ke Bandar, dengan cara membentuk Jemaah dakwah. Bahkan di zaman Rasulullah saw tak kurang dari 150 jemaah telah dihantar Rasulullah saw. Dan Nabi sendiri telah ikut tak kurang dari 25 kali. Kini orang mau tegakkan agama hanya duduk di majlis taklim dan mencela sesama muslim&#8230;Mungkinkah???</p>
<p><strong>TERTIB DAKWAH JEMAAH TABLIGH ADA DALAM KITAB HAYATUSHAHABAH</strong></p>
<p>Amir dakwah mereka yang kedua yakni Maulana Muhammad Yusuf Rah A telah berkata: Kalau saya tuliskan suatu kitab ushul atau tertib kerja dakwah ini maka yang membaca hanyalah orang-orang yang ikut dalam kerja dakwah saja sedangkan yang lain tak baca. Padahal dakwah ini memiliki ushul dalam kehidupan sahabat. Karena Allah jadikan shahabat sebagai contoh tauladan umat. Untuk itulah saya tuliskan kitab HAYATUSSHAHABAH.</p>
<p>Maulana Ahmad Lat telah berkata bahwa kitab Hayatusshahabah sudah cukup untuk dijadikan ushul dalam kerja dakwah, tak perlu tambahan apa-apa, siapa yang ikut cara mereka akan ada jaminan keselamatan baginya.</p>
<p>Hayatusshahabah dihimpun dalam 3 jilid. Ketiga jilid merupakan keajaiban yang besar, karena belum ada kitab hadits yang ditulis dengan cara seperti ini.</p>
<p>Permulaan kitab ditulis dengan ayat :</p>
<p>&#8220;Dari kalangan orang beriman ada laki-laki yang telah membenarkan janjinya kepada Allah yakni mereka syahid dan mencari cari jalan untukk syahid&#8221;</p>
<p>Seolah-olah Maulana Yusuf Rah A ingin katakan inilah kitab yang berisi kisah orang yang telah tunaikan janjinya kepada Allah SWT. Akhir dari kitab ini adalah carita tentang bantuan-bantuan Allah secara ghaib yang diberikan kepada para shahabat. Sehingga tengah-tengah antara keduanya adalah berisi cara untuk datangkan bantuan itu. Mereka menamsilkan bahwa kehidupan shahabat ibarat lautan yang mana jika orang akan berenang di dalamnya harus tanggalkan dulu pakaiannya dan diganti dengan baju renang.</p>
<p>Ayat pembuka seolah pakaian yang bias menyelam dalam kehidupan mereka. Selama kita tak tanggalkan pakaian kita dan diganti dengan pakaian shahabat maka kita tak akan faham kehidupan mereka. Pakaian kita yakni saya seorang dokter, seorang guru, seorang ayah, seorang suami, harus kita tanggalkan dahulu dan menggantinya dengan pakaian mereka yakni Syahid dan Bersiap-siap Syahid.</p>
<p>Sehingga aneh jika ada seorang ustadz yang mengkritik mereka dan menanyakan mana dalil dakwah dengan cara keluar di jalan Allah ?? Mana dalilnya tinggalkan anak istri untuk dakwah ??  Mana dalilnya 4 bulan 40 hari, karena kisah tersebut telah ada dalam kitab hayatusshahabah dengan sanad hadits yang jelas.</p>
<p>Hanya saja menurut mereka orang yang tak mau mujahadah untuk meniru kehidupan shahabat tak akan faham dengan kehidupan mereka. Bagaimana mungkin orang akan faham agama dengan cara satu keadaan yang tak sama. Hanya mengkajinya di majlis taklim setelah itu pulang ke rumah ngobrol sama anak istri, bahkan nonton TV, kemudian shalat, dll.</p>
<p>Sementara para shahabat Nabi bermujahadah dalam terik matahari, kehausan, berhadapan dengan musush, musim dingin, dsb. Sedangkan Al Quran turun kepada mereka dalam keadaan suasana yang berlainan bukan di majlis taklim. Surat At Taubah turun di musim panas, surat Al Ahzab di musim dingin dsb. Mustahil akan bias memahami Al Quran tanpa mengambil pengorbanan mereka.</p>
<p><strong>JEMAAH TABLIGH BUKAN ORGANISASI TETAPI DALAM KERJA DAKWAHNYA TERORGANISIR</strong></p>
<p>Di mulai dari penanggung jawab mereka untuk seluruh dunia yang dikenal dengan Ahli Syura di Nizamuddin, New Delhi, INDIA. Kemudian di bawahnya ada syura Negara, misalnya : SYura Indonesia, Malaysia, Amerika, dll. Menurut pengakuan mereka ada lebih dari 250 negara yang memiliki markaz seperti Masjid Kebon Jeruk Jakarta.</p>
<p>Kemudian ada penanggung jawab propinsi, untuk Indonesia sudah ada di semua propinsi. Di bawahnya ada peannggungjawab Kabupaten, seperti : penanggung jawab Solo, Purwokerto, dll. Di bawahnya ada Halaqah yang terdiri dari banyak mahalah yang minimal 10 mahalah yakni masjid yang hidup amal dakwah dan masing-masing mereka ada penanggungjawab yang dipilih oleh musyawarah tempatan masing-masing.</p>
<p>Di India ada masjid yang menjadi Muhallah sekaligus halaqah dimana di dalam masjid hidup 10 kelompok kerja (jemaah yang dihantar tiap bulan 3 hari). Semua permasalahan diputus dalam musyawarah sehingga tak ada perselisihan di antara mereka dan mereka punya sifat taat kepada hasil musyawarah.</p>
<p>Walaupun mereka tak pernah katakan bentuk mereka kekhalifahan seperti harakah lain yang mempropagandakan Khilafatul Muslimin, tetapi system jemaah tabligh terlihat begitu rapi sehingga mereka saling kenal satu sama lain karena jumlah orang yang pernah keluar di jalan Allah tercatat dan terdaftar di markaz dunia.</p>
<p>Setiap 4 bulan mereka berkumpul musyawarah Negara masing-masing kemuadian dibawa ke musyawarah dunia di Nizamuddin.</p>
<p>Musyawarah harian ada di mahalah masing-masing untuk memikirkan orang kampung mereka masing-masing sehingga biarpun ada yang pergi tasykiil tetaplah ada orang di maqami yang garap dakwah di sana. Orang yang suka dakwah sendiri-sendiri / penceramah suka kritik mereka katanya kenapa harus dakwah jauh-jauh ke luar negeri kalau tempat tinggal sendiri aja belum beres. Hal ini karena dakwah jemaah tabligh berjamaah sehingga walaupun mereka pergi tasykiil di maqami ada orang yang tetap jalankan dakwah.</p>
<p>Yang jelas mereka telah amalkan ayat :</p>
<p>&#8220;Hendaklah ada di antara kamu umat (Ibnu Abbas mengartikan jemaah) yang mengajak kepada kebaikan, memerintah kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang yang mendapat kejayaan.&#8221; (QS Ali Imran)</p>
<p><strong>PANDANGAN JEMAAH TABLIGH TENTANG KEKHALIFAHAN</strong></p>
<p>Kekhalifahan adalah janji Allah dalam AlQuran, artinya pasti Allah beri sebagaimana dalam surat An Nuur :</p>
<p>Allah berjanji kepada orang yang beriman di antara kalian dan beramal shalih pasti sungguh mereka akan dijadikan khalifah di muka bumi.</p>
<p>Syura mereka beri bayan : Dua orang anak dijanjikan ayahnya : Nak, jika kamu lulus dan nilai kamu baik maka ayah akan beri kalian mobil. Anak yang pertama sibuk memenuhi syaratnya, belajar semakin rajin, siang dan malam, tak fikir mobil, maka pada waktunya akhirnya ia lulus dengan nilai yang baik. Anak yang kedua sibuk pergi ke showroom mobil, lihat-lihat, Tanya harga, duduk-duduk di joknya, dll. Setiap hari tidak pernah belajar hanya sibuk bicarakan mobil. Maka pada waktunya akhirnya ia tak lulus, karena nilainya jelek.</p>
<p>Tuan-tuan begitulah kekhalifahan, ada orang yang sibuk propagandakan, bicarakan, diskusikan tetapi lupa penuhi syaratnya. Bahwa syarat kekhalifahan diberikan Allah SWT adalah karena Iman dan Amal Shalih.</p>
<p><strong>JEMAAH TABLIGH ALIRAN MASYAIKH MANIA / BERLEBIHAN DALAM IKUT MASYAIKH (GHULLUW), BENARKAH ???</strong></p>
<p>Datanglah ke markaz Nizamuddin, dengarkan ceramah masyaikh mereka, Syaikh Maulana Muhammad Saad Alkandahlawi : Seandainya Maulana Ilyas Rah A hidup kembali dan beliau mengatakan wahai manusia dengar !! Jangan jalani kerja tabligh yang saya ajarkan kepada kalian, karena saya keliru dan ini kesesatan.&#8221; Maka kita jangan percayai Maulan Ilyas Rah A karena kerja ini adalah kerja Anbiya, kerja yang haq di sisi Allah SWT.</p>
<p>Bahkan orang-orang yang pergi ke Nizamuddin tak ada satupun yang menziarahi Makam Syaikh Ilyas Rah A, tak ada targhib / anjuran, apalagi diharuskan untuk ziarah ke makam Syaikh Ilyas Rah A. Kebanyakan mereka pergi ke Nizamuddin 40 hari tetapi selama itu tak ada program ziarah makam seperti kebanyakan orang yang adakan ziarah ke wali-wali. Bahkan banyak yang pergi ke sana sampai pulang tak tahu tempat makam Syaikh Ilyas Rah A termasuk penulis yang pernah datang ke sana tak ada yang mau tunjuki dimana makam itu. Wallahi!!</p>
<p>Tuan-tuan buktikanlah!! Datang ke sana, kalian akan tahu jawabannya bahwa mereka bukan kepada masyaikh mereka tetapi mereka taat kepada Rasulullah saw untuk meneruskan kerja mereka. Berbeda dengan para pencemooh yang suka menggunakan lisan Syaikh mereka dalam keburukan akhlaq. Menurut Syaikh anu, anu&#8230;jemaah tabligh sesat. Jadi mereka kutip omongan syaikh bukan dalam kebaikan, sedang jemaah tabligh ikut dalam kebaikan kepada masyaikh mereka.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=50&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melepas Kedok Jemaah Tabligh, bagian 4</title>
		<link>http://usahadawah.com/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-4/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 00:59:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Mengbongkar Kedok Jama'ah Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: http://imanyakin.wordpress.com/2008/08/02/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-4/
PERBEDAAN DAKWAH JEMAAH TABLIGH DENGAN HAROKAH LAINNYA
1.      Dakwah Mereka Mendatangi Manusia Dengan Berjalan Kaki
2.      Modal Dakwah Mereka Adalah Harta dan Diri
3.      Dakwah Mereka Kepada Akar Bukan Ranting Yakni Kepada Iman Bukan Fiqh
4.      Dakwah Jemaah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: http://imanyakin.wordpress.com/2008/08/02/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-4/</p>
<p>PERBEDAAN DAKWAH JEMAAH TABLIGH DENGAN HAROKAH LAINNYA</p>
<p>1.      Dakwah Mereka Mendatangi Manusia Dengan Berjalan Kaki</p>
<p>2.      Modal Dakwah Mereka Adalah Harta dan Diri</p>
<p>3.      Dakwah Mereka Kepada Akar Bukan Ranting Yakni Kepada Iman Bukan Fiqh</p>
<p>4.      Dakwah Jemaah Tabligh Tak Ikut Suasana dan Keadaan</p>
<p>5.      Dakwah Jemaah Tabligh Dimulai Dari Keutamaan Amal</p>
<p>6.      Sasaran Dakwah Mereka Adalah Orang Bodoh, Orang Miskin, Orang Pendosa (Preman, Koruptor, dsb)</p>
<p>7.      Dakwah Jemaah Tabligh Tak Terkesan Dengan Kekuasaan</p>
<p>8.      Dakwah Jemaah Tabligh Tak Terkesan Dengan Harta</p>
<p>9.      Dakwah Mereka Tak Berpolitik</p>
<p>10.  Dakwah Mereka Tidak Minta Upah</p>
<p><span id="more-48"></span><strong>1. </strong><strong>Dakwah Mereka Mendatangi Manusia Dengan Berjalan Kaki</strong></p>
<p>Jemaah Tabligh mempunyai cara dakwah yang konvensional yakni Dakwah Bil Aqdam dengan berjalan kaki jumpa manusia, sedangkan kebanyakan harokah lain berdakwah didatangi manusia seperti kajian-kajian mereka yang datang adalah orang yang akan dengar dakwah mereka. Bahkan di saat harokah lain telah memakai sarana Radio, TV, dan majalah untuk dakwah, di markaz dakwah mereka komputer saja tidak ada.</p>
<p>Juga banyak yang gunakan media massa Televisi, Koran, majalah, dan bulletin. Bahkan mereka dengan gunakan propaganda besar-besar pasang iklan untuk kumpulkan massa dalam kongres mereka. Sedangkan jemaah tabligh dakwah dengan senyap-senyap namun dalam ijtima&#8217; mereka di 5 wilayah Indonesia dihadiri ratusan ribu orang padahal tak ada satu iklanpun tertempel di jalan bahkan di markaz mereka sekalipun.</p>
<p>Ketika ada orang yang kritik mereka : Bagaimana mungkin dakwah masih cara begitu datang ke rumah tidak efisien, bukankah sekarang ada TV, Radio, cukup kita ngomong di studio dan didengar oleh banyak orang di rumah-rumah. Mereka katakana : Dahulu shahabat Nabi dakwah dengan cara datangi manusia maka satu negeri masuk Islam, satu kota masuk Islam, satu kampung masuk Islam. Kini orang dakwah lewat majalah, TV, Radio adakah satu keluarga saja masuk Islam?</p>
<p>Tetapi saksikanlah satu jamaah dihantar ke pegunungan Tengger dengan berjalan kaki maka 124 Keluarga beragama Hindu telah masuk Islam.</p>
<p>Ulama mereka katakan : Dakwah yang tidak ikut cara Nabi dengan inovasi atau imitasi tak akan datangkan ketakwaan. Tetapi kita dakwah harus duplikasi sehingga menjadi asbab hidayah.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Modal Dakwah Mereka Adalah Harta dan Diri</strong></p>
<p>Berbada dengan harokah lain jika ingin ada kegiatan apapun apalagi yang bersifat pengiriman tenaga dainya pasti mencari dana dari luar, di masjid-masjid selalu diumumkan soal dana.</p>
<p>Jemaah Tabligh beda, mereka tak bicara duit. Setiap orang yang ingin keluar di jalan Allah maka membawa uangnya sendiri untuk membiayai kebutuhannya sendiri.</p>
<p>Tak ada diumumkan jemaah tabligh butuh dana untuk kirim jemaah ke Irian Jaya dsb, bahkan kotak infaq saja tak ada dimarkaz mereka yang berjalan-jalan seperti di masjid lain.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Dakwah Mereka Kepada Akar Bukan Ranting Yakni Kepada Iman Bukan Fiqh</strong></p>
<p>Banyak harokah yang tak sabar jika lihat cara kerja jemaah tabligh yang hanya bicara tentang Iman dan Amal Sholeh melulu. Sementara mereka inginkan bukan hanya amar ma&#8217;ruf tetapi nahi mungkar, hancurkan kemaksiatan, dll.</p>
<p>Orang tua di jemaah mereka katakan Rasulullah tak pernah hancurkan berhala dengan tangannya agar sahabat tak sembah berhala, tetapi Rasulullah hancurkan berhala yang ada di hati para sahabat, sehingga ketika hati mereka sudah penuh dengan kebesaran Allah dan berhala talah dinafikan maka dihancurkan sendiri dengan tangan mereka.</p>
<p>Mereka katakan : Dakwah Nabi kepada Iman dahulu, betulkan yakin maka ketika yakin betul maka akan betulkan amal manusia.</p>
<p>Syaikh Yusuf Rah A sebagai Amir Jemaah Tabligh yang kedua ditanya orang : Kenapa orang tabligh tak nahi mungkar hanya amar makruf saja. Maka Syaikh Yusuf Rah A katakan : Hadits tentang hal ini bunyinya Jika kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan, bukan hancurkanlah tetapi rubahlah!! Lihatlah oleh kamu orang-orang yang telah keluar di jalan Allah telah merubah kehidupannya dalam ketaatan.</p>
<p>Menurut mereka difinisi berkembangnya agama ditamsilkan sebagai berikut : Seperti BAYI dan MAYAT keduanya sama-sama dapat berkembang. Bayi yang dirawat dengan baik, sabar, maka walaupun lambat bayi ini akan berkembang, dan akan disayang oleh orang banyak. Setelah dewasa aka nada manfaat. Tetapi mayat yang jatuh di kali juga berkembang menjadi besar dalam hitungan jam, cepat. Tetapi baunya busuk dan tak disukai orang menjadi sumber yang mengganggu. Begitulah agama yang berkembang dengan ushul yang benar walaupun lambat akan menjadi manfaat bagi umat, tetapi yang tak ikut ushul cepat maju tetapi mudhorot buat umat.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Dakwah Jemaah Tabligh Tak Ikut Suasana Dan Keadaan</strong></p>
<p>Dakwah yang dibuat Jemaah Tabligh tak terkesan dengan keadaan baik dalam masa aman, maupun rawan. Panas dingin, senang susah, mereka tetap keluar di jalan Allah ikut nishob yang mereka tentukan sendiri. Tak seperti harokah lain baru kirim jemaah kalau ada kejadian tertentu. Misalnya ada pemurtadan, ada gempa bumi, tsunami, orang Islam di perangi, barulah mereka buat kerja galang dana, ajak jemaah mereka ke sana. Kalau jemaah tabligh mulai program maka akan dibuatnya sampai mati.</p>
<p>Sampai-sampai ulama mereka Syaikh Ilyas Rah A beri nasehat : Hendaklah kalian buat jaulah tak boleh berhenti walaupun waktunya bertepatan dengan hari kematian ayah kamu, istri kamu, anak kamu. Karena jika kalian tetap jaulah maka Allah akan ampuni dosa keluarga kalian.</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Dakwah Jemaah Tabligh Dimulai Dari Keutamaan Amal</strong></p>
<p>Menurut mereka ILMU FADHOIL adalah TUJUAN sedangkan ILMU MASAIL adalah KEPERLUAN untuk mewujudkannya. Sedangkan harokah lain mereka mulai dari masail yakni ilmu cara beramal yang betul. Seperti seorang anak diberitahu Fadhilah seorang dokter bahwa dokter itu akan dapat uang banyak, dapat kemuliaan di masyarakat. Maka anak itu akan semangat belajar sungguh-sungguh dan dalam masa belajar itulah ia belajar cari jadi dokter yang baik (masail).</p>
<p>BUKU FADHILAH AMAL</p>
<p>Kebanyakan orang mengkritik buku tersebut karena isinya berisi hadits dhoif. Terjadi sedikit kejanggalan bagi para pengkritik dimana pengeritik sendiri mempunyai kaidah bahwa hadits dhoif boleh dijadikan hujjah untuk fadhilah atau untuk memberi semangat muslimin mengamalkan agama. Sementara ketika jemaah tabligh pakai hadits dhoif, banyak orang yang dahulu memakai kaidah itu justru menyalahkan seolah terjadi sentiment kepada mereka.</p>
<p>Menurut sebagian mereka : di dalam buku fadhilah amal berisi Al Quran dan Hadits dan disebutkan derajat sanad haditsnya. Sedangkan kisah dan tamsil serta hadits yang lain adalah untuk menjelaskan hadits yang ada. Lihatlah hadits utama yang menjadi pokok bahasan diberi nomer di setiap hadits sedangkan FAEDAH atau PENJELASAN sama dengan kitab-kitab hadits atau tafsir yang dibuat oleh ulama salaf seperti IBNU KATSIR atau syarah Riyadhus Shalihin dalam menjelaskan ayat terkadang menggunakan kisah ISRAILIYAT dan HADITS DHOIF.</p>
<p>Tetapi orang tidak menjadikan kitab Ibnu Katsir dhoif semua, dan tetap dijadikan acuan dalam ilmu tafsir.</p>
<p>Penulis Fadhilah Amal yang disebut oleh para kritikus sebagai Tablighi Nisob (istilah ini justru tak terkenal di India dan Pakistan, mereka menyebutnya Kitab Fazail) adalah ULAMA bESAR yang HAFIDZ dalam HADITS yaikni <strong>RAISUL MUHADDITSUN MAULANA  MUHAMMAD ZAKARIYA AL KANDAHLAWI.</strong></p>
<p>Dalam sejarah hidup beliau tertulis saat lepas dari sapihan ibunya ia telah menghafal 5 ruku&#8217; Al Quran dan beliau HAFIDZ Al QURAN dalam usia 7 tahun. Amalan paman beliau, ayah, bibi, maupun saudaranya adalah para HAFIDZ AL QURAN dan HADITS. Beliau menulis Kitab Fadhilah Amal sambil keluar di jalan Allah dan setiap kali beliau hendak menuliskan hadits dalam kitabnya beliau selalu sholat 2 rakaat terlebih dahulu, selain itu beliau adalah pewaris dari thoreqat Chistiyyah yang disandarkan kepada Ali Bin Abi Tholib berasal dari gurunya.</p>
<p>Jadi baik ilmu maupun amal ruhani tak diragukan lagi. Tak mungkin beliau tak mengerti hadits dhoif dan shahih serta maudhu&#8217; atau palsu, sedangkan seliau ada menulis satu kitab syarah bagi kitab sunan Abu Dawud dan Al Muwatho&#8217;. Lihatlah keluasan ilmu beliau yang telah mencantumkan 84 kitab yang menjadi acuan bagi buku Fadhilah Amal, maka seharusnya para pengeritik langsung mengecek kepada Maroji&#8217;.</p>
<p>Ilmu tentangMustholah hadits memiliki kaedah yang berbeda tiap ulama dalam menentukan shahih dan dhoif. Sehingga kisah yang masyhur hadits-hadits yang dhoif menurut syarat Bukhari dan beliau ragu memuatnya dalam kitab beliau diambil oleh Imam Hakim dan disusun menjadi kitab yang baru yang dinamakan Al Mustadrak.</p>
<p>Menurut mereka perdebatan tentang shahih dan dhoif dalam ilmu hadits sebenarnya telah ditutup pintunya karena terbukti ulama-ulama masih meletakkan hadits yang dhoif dalam kitab mereka seperti : Sunan Abu Dawud dan beberapa kitab kutubussitah. Sebab kalau itu berbahaya bagi agama tentu sudah dihapuskan dari kitab mereka karena mereka tak mau beresiko di Yaumul Hisab.</p>
<p>Imam Nawawi Rah A dalam Al Adzkar telah memuat hadits dhoif sebagai fadhilah. Begitu juga Imam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qoyyim Rah A huma.</p>
<p>Catatan : Kebanyakan kritik yang beredar baik buku maupun internet terlihat asal saja dan hanya semata karena hasad belaka. Terbukti ketika mereka menulis halaman yang dikritik seperti dalam Fadhail Dzikr terbitan Kutub Khonat Faidzi dikatakan halaman tertulis masalah WIHDATUL WUJUD, ternyata tak betul karena di halaman tersebut bukan bercerita hal itu melainkan tentang daftar isi&#8230;. Capek deh !!</p>
<p>PEMBAGIAN ILMU MASAIL DAN FADHAIL</p>
<p>Di dalam kaedah jemaah tabligh menyebutkan bahwa syarat amal diterima adalah tahu fadhilahnya janji Allah dalam Amal tersebut. Sebagaimana Hadits : Barang siapa yang berpuasa karena Iman dan Ihtisab (berharap pahala) Al Hadits. Maka Nabi pun menganjurkan beramal harus mengharap pahala.</p>
<p>Seorang ustadz mereka di Masjid Jami&#8217; Kebon Jeruk dalam ceramahnya mengatakan : Beramal karena mengharapkan janji-janji Allah adalah suatu bentuk KEIKHLASHAN.</p>
<p>Ulama mereka katakan : Sebagaimana orang yang hendak menikah dengan seorang gadis. Ketika selesai menikah sang gadis bertanya untuk dapatkan apa kamu menikah ?, maka orang itu menjawab : untuk dapatkan hadiah perkawinan. Maka pasti sang gadis akan marah! Karena seharusnya dia kawin karena ingin dapatkan gadis itu sedangkan hadiah hanyalah efek dari perkawinan.</p>
<p>Begitu pula dalam beramal tetaplah ikhlash semata karena Allah SWT sedangkan janji-janji Allah pasti akan didapatkan. Orang yang beramal tanpa yakin janji Allah maka seperti pesawat terbang tanpa mesin.</p>
<p>Itulah sebabnya jemaah tabligh setiap hari ta&#8217;lim ilmu fadhail 2 kali di masjid bersama jemaah masjid dan di rumah bersama ahli keluarga mereka.</p>
<p>Maulana Ilyas Rah A katakan : Ilmu Fadhail memiliki derajat satu tingkat di atas Masail karena dengan fadhail orang tergerak ingin beramal dan pada saat yang sama mereka akan belajar masail tentang amalan tersebut.</p>
<p>Ilmu Masail ibarat ban depan mengemudikan arah yang benar, sedangkan ilmu fadhail adalah ban belakang.</p>
<p>Mereka juaga mengatakan : Lihatlah karena orang tabligh belajar Fadhail maka hasrat untuk amal ditujukan untuk dirinya bukan untuk menilai amalan orang, sehingga ketika belajar masail tak akan salahkan orang lain karena agama adalah untuk diri sendiri demi mencapai Ridho Allah.</p>
<p>Sedangkan orang yang tak taklim Fadhail tetapi langsung Masail maka langsung melihat kesalahan orang lain karena agama bukan ditujukan untuk dirinya tetapi untuk orang lain, mulailah mereka menjadi Ahli Fatwa, Membid&#8217;ahkan bahkan meremehkan Madzhab yang di ijma&#8217; oleh para ulama.</p>
<p>Mayaikh mereka katakan : Penolakan terhadap madzhab dengan mentah-mentah akan lebih banyak membawa orang kepada kesesatan.</p>
<p>Jemaah tabligh tidak ada taklim masail khusus tabligh, tetapi mereka mengarahkan kepada ustadz-ustadz masing-masing walaupun belum ikut dalam khuruj. Sehingga kalau kita saksikan di markaz-markaz mereka tak ada penyeragaman dalam shalat seperti di harokah. Justru dalam perbedaan mereka harmonis, tak ada yang salahkan satu sama lain. Prinsip dari jemaah tabligh adalah menghargai persamaan bukan menghargai perbedaan sehingga kebanyakan harokah lain berpecah dengan muslimin lainnya.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Sasaran Dakwah Mereka Adalah Orang Bodoh, Orang Miskin, Orang Pendosa</strong></p>
<p>Pernah seorang yang dituakan di antara mereka ditanya kenapa Jemaah Tabligh tak ada SEMPALANNYA, di seluruh dunia tak ada TABLIGH TANDINGAN, tidak pernah terjadi keributan dalam kepemimpinan, program, dll.</p>
<p>Maka mereka katakan : Perbedaan antara jemaah mereka dengan jemaah lain adalah komponen pendukungnya. Jemaah mereka dibangun oleh orang bodoh yang hanya ikut saja tak ada inovasi, mereka taat kepada aturan jemaah, jemaah mereka orang miskin yang tidak punya uang untuk bikin tandingan karena biasanya orang kaya atau orang pandai jika usulan dalam jemaah ditolak mereka akan bikin tandingan karena punya uang untuk kumpulkan massa tandingan.</p>
<p>Jemaah mereka dibangun oleh orang-orang berdosa sehingga mereka hanya ingin tobat agar dosanya diampuni sehingga dengan cara apapun yang penting tobatnya diterima. Orang miskin tak punya cita-cita yang muluk-muluk hidupnya hanya untuk hari ini saja sehingga siap korban kapan saja.</p>
<p>Sedangkan harokah / organisasi lain senang jika orang pandai, orang kaya, para pejabat, orang sholeh / ulama ikut dalam jemaah mereka.</p>
<p><strong>7. </strong><strong>Dakwah Jemaah Tabligh Tak Terkesan Dengan Kekuasaan</strong></p>
<p>Masyaikh mereka di Pakistan yakni Syaikh Abdul Wahhab ketika melihat pejabat-pejabat datang ke markaz mereka dengan formil dan pengawalan maka langsung beliau memerintahkan pejabat itu balik, karena beliau khawatir jamaah di markaz Raiwind yang hari-hari berjulah lebih dari 20.000 kehilangan tawajjuh kepada Allah dan hatinya bergeser kepada kekuasaan seolah agama dibangun dengan kekuasaan, mereka meyakini agama akan wujud dengan pengorbanan.</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Dakwah Jemaah Tabligh Tak Terksan Dengan Harta</strong></p>
<p>Di Pakistan yang menjadi markaz terbesar di seluruh dunia pernah di datangi oleh Perdana Menteri Pakistan Nawaz Syarif membawa satu koper uang untuk operasional markaz. Syaikh Abdul Wahhab telah TOLAK itu semua sehingga Nawaz Syarif katakan : Ya Syaikh, Anda tak akan temui lagi orang yang bawa uang sebanyak ini untuk markaz selain saya. Maka Syaikh Abdul Wahhab katakan : Dan anda tak akan temui orang yang tolak uang sebanyak ini selain saya.</p>
<p>Seorang dokter yang ikut jemaah mereka telah bercerita selama dia datang di markaz mereka tidak ada ratupun orang yang menyodorkan proposal. List sumbangan, bahkan kotak amal yang berjalan pun tak ada, tak ada pembicaraan tentang uang sumbangan. Tidak seperti di jemaah atau pengajian lain yang isinya cerita dana melulu, proposal, infaq, dll intinya ingin tarik uang umat untuk membiayai PERJUANGAN katanya.</p>
<p><strong>9. </strong><strong>Dakwah Mereka Tak Berpolitik</strong></p>
<p>Seorang di antara jemaah senior mereka ditanya : Kenapa kalian tak berpolitik bukankah Rasulullah berpolitik juga?? Orang itu menjawab : Kalau kalian jeli mengamati pilihan untuk tidak berpolitik adalah sebuah politik juga yakni POLITIK untuk tidak BERPOLITIK. Mereka katakan : Kalau Rasulullah dahulu politiknya adalah merendahkan diri sendiri dan meninggikan muslimin lain, tetapi kalian sekarang berpolitik merendahkan muslimin saling caci, saling kritik, dan meninggikan diri sendiri seolah kalian yang terbaik.</p>
<p>Dalam politik Islam yang ada sekarang umumnya ingin turunkan orang lain dan menikkan diri sendiri berbeda dengan politik Nabi, Nabi datang kepada raja-raja untuk tawarkan Iman kalau mereka mau tak perlu diturunkan seperti Najasy. Kalau mereka menolak maka wajib bagi mereka bayar jizyah, kalau tidak mau juga baru diperangi. Adakah hari ini politik seperti politik Rasulullah ???</p>
<p>Mereka bukan tak berpolitik justru terlihat mereka sedang membuka jalan agar wujud politik Rasulullah yang sebenarnya di mana dimulai dari DAKWAH.</p>
<p>Mereka datang kepada pejabat-pejabat bahkan raja-raja agar mau ambil kerja Dakwah sebagai maksud hidup. Mereka sedang ambil aset Amerika secara perlahan-lahan. Mereka hantar jemaah-jemaah Dakwah ke Amerika dan mereka buat usaha sehingga turun hidayah di Amerika. Jika Amerika telah masuk Islam bukankah aset mereka menjadi aset Islam.</p>
<p>Syaikh Abdul Wahhab -Amir Dakwah Pakistan- katakan : Dahulu kami sebelum buat kerja dakwah, bangsa kami datang ke Amerika cari duit untuk bangun Pakistan. Tetapi setelah dakwah, kami cari uang di negeri sendiri setelah dapat kami belanjakan pergi ke Amerika supaya orang Amerika dapat hidayah.</p>
<p>Ketika utusan Usamah bin Laden datang ke Reiwind maka syaikh Abdul Wahhab kasih nasehat : kenapa kalian ajak orang Islam seluruh dunia perangi Amerika. Kita dakwahkan mereka dahulu dan doakan agar mereka dapat hidayah. Bahkan menurut pengakuan mereka beberapa pemimpin dunia telah keluar di jalan Allah bersama mereka seperti Putera Mahkota Kerajaan Qatar.</p>
<p>Mereka datang ke orang pemerintahan bukan ambil kekuasaan mereka tetapi agar para pemerintah mengamalkan agama di dalam pemerintahannya, begitu juga orang kaya bukan untuk ambil hartanya tetapi agar orang kaya dapat mentaati Allah SWT dengan hartanya.</p>
<p>Sehingga tak mengherankan jika para pejabat, orang kaya, dan alim ulama memiliki ketaatan yang tinggi kepada para ulama mereka di India dan Pakistan sehingga mereka mudah diarahkan.</p>
<p><strong>10. </strong><strong>Dakwah Mereka Tidak Minta Upah</strong></p>
<p>Mereka hanya minta bayaran dari Allah saja, tak ada maksud untuk ambil uang dari mad&#8217;u (orang yang di dakwah). Ini lah yang menyebabkan mereka banyak ditentang oleh orang yang menjadikan dakwah sebagai mata pencaharian, mereka terusik dengan kehadiran jemaah sehingga mereka halangi jemaah dalam kampungnya, mereka katakan : Ini garapan saya, jangan dakwah di sini!!</p>
<p>Tetapi kebanyakan ustadz, penceramah yang ikut jemaah tabligh baru tahu bahwa selama ini mereka bukan DA&#8217;I tetapi MAD&#8217;U karena mereka dakwah kalau ada panggilan. Bahkan mereka berkelakar : Dulu kami setelah ceramah pulang ke rumah maka istri tanya ENTOK PIRO (dapat berapa) tetapi setelah ikut dakwah dengan jemaah maka istri tanya ENTE&#8217; PIRO (habis berpa) duitnya.</p>
<p><strong>Bersambung &#8230; (satu lagi&#8230;.)</strong></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=48&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (3)</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 22:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj islam]]></category>
		<category><![CDATA[maqomi]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu bersemangat musyawarah harian. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.
Kenapa Kita Perlu Musyawarah Harian?
Musyarawah ini merupakan perkara yang sangat penting bagi kita yang telah terjun ke dalam usaha da&#8217;wah ini. Kita jangan sepelekan perkara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu bersemangat musyawarah harian. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.</p>
<h3>Kenapa Kita Perlu Musyawarah Harian?</h3>
<p>Musyarawah ini merupakan perkara yang sangat penting bagi kita yang telah terjun ke dalam usaha da&#8217;wah ini. Kita jangan sepelekan perkara musyawarah ini, meskipun hanya musyawarah 5-10 menit. Banyak ayat Quran dan hadits yang menjelaskan perihal musyawarah ini, bahkan kisah-kisah musyawarah di kalangan para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-121"></span>Kami yang setidaknya membaca pelajaran ilmu umum yang berasal dari bangsa lain, telah terbukti bahwa pertemuan rutin setiap hari untuk membahas masalah dan menyelesaikannya secara bersama, meskipun hanya beberapa menit saja, telah memberikan pengaruh besar bagi perusahaan-perusahaan mereka. Dan akhirnya memberikan pengaruh pada negara tersebut. Itu adalah kebiasaan yang dilakukan di perusahaan-perusahaan besar, seperti di Korea, Jepang dll.</p>
<p>Apalagi seperti kita yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini? Karena kerja kita ini adalah untuk diri kita dan juga kaum muslimin, agar Allah swt memberikan rahmat dan hidayahnya. Kita perlu musyawarah dengan sungguh-sungguh dan juga pikir yang benar. Musyawarah harian akan membiasakan kerja kita dalam kebersamaan atau ijtimaiyyah, sehingga kita akan selalu mempunyai pikir dan kerja yang sama. <strong>Tanpa adanya pikir dan kerja yang sama, kerja kita akan nafsi-nafsi dan biasanya saling menyalahkan satu sama lain jika ada sesuatu yang kurang berkenan</strong>. Hal ini perlu menjadi perhatian penting bagi kita semua, kita perlu menjaga kesatuan hati di antara kaum muslimin. Kita sendiri sangat memahami hal ini, karena kejadian-kejadian seperti ini dapat juga terjadi dalam semua lapangan kehidupan kita sendiri. Sehingga bagaimana kita dapat mencapai apa yang menjadi keinginan kita kalau sudah seperti itu.</p>
<p><strong>Musyawarah ini telah banyak hilang dalam kehidupan kaum muslimin</strong>, sehingga perkara-perkara kecil saja dapat menghasilkan masalah-masalah besar di antara kaum muslimin. Bahkan musyawarah bukan lagi menjadi kebiasaan di dalam rumah tangga kaum muslimin. Itulah kita perlu bersungguh-sungguh untuk menjalankan musyawarah ini, dan kita libatkan kaum muslimin dalam musyawarah harian kita. Sehingga mereka mengetahui apa yang dipikirkan atau dibahas dalam musyawarah kita.</p>
<p>Dan kami pribadi melihat bahwa musyawarah ini sangat fundamental bagi kaum muslimin. Kami terlibat dalam mudzakarah-mudzakarah dengan sebagian kaum muslimin perihal usaha da&#8217;wah ini, karena sebagian kaum muslimin ini banyak memberikan pandangan yang berlebihan dan kurang tepat tentang usaha da&#8217;wah. Sehingga mudzakarah-mudzakarah ini tidak banyak memberikan kerangka kebersamaan di antara kaum muslimin. <strong>Karena kaum muslimin yang pertama kali menyampaikan pandangannya, tidak dapat serta merta mengakui atau memahami apa yang kita sampaikan</strong> sebagai bentuk pandangan berimbang ataupun pelurusan.</p>
<p>Setelah sekian lama kami bermudzakarah, akhirnya kami mendapatkan satu titik terang bahwa memang kaum muslimin belum mempunyai kebersamaan untuk saling bermusyawarah. Bahkan kami yang sering mendapatkan pandangan yang kurang tepat atau kesewenang-wenangan dari sebagian kaum muslimin, kadangkala berpikir untuk tidak terlalu dalam dalam perbicangan tersebut. Mudah-mudahan di masa depan, adanya forum saling bertukar pikiran di antara ulama atau ustadz di antara kaum muslimin terhadap keadaan kaum muslimin sendiri, sehingga hal-hal yang kurang diinginkan kita dapat menyampaikannya dengan baik pula.</p>
<p>Kembali pada bahasan kita, yaitu <strong>kenapa kita perlu bersemangat dengan musyawarah harian ini</strong>? Musyawarah yang kita lakukan sebagai bagian dari amal maqomi kita merupakan sebuah sarana untuk memudzakarahkan dan menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan kerja atau program harian ataupun yang berkaitan dengan kerja da&#8217;wah itu sendiri. <strong>Musyawarah harian kita pertama kali perlu fokuskan dan prioritaskan pada amal maqomi itu sendiri</strong>, seperti ta&#8217;lim harian, jaulah masjid, jaulah dua, keluar 3 hari, 2.5 jam khususi harian. Sehingga kita mempunyai arah yang jelas terhadap kerja maqomi itu sendiri.</p>
<p>Dan kita biasakan untuk memulai dari kecil secara bertahap terus meningkat. Itulah yang banyak diajarkan oleh Nabi kita Nabi Muhammad SAW. Insya Allah, ini akan terus meningkat sesuai kapasitasnya dengan baik juga. <strong>Bermula musyawarah harian</strong> untuk menentukan terlebih dahulu siapa yang akan memberikan pikir musyawarah besoknya, juga ta&#8217;lim fadhoil harian dan juga siapa yang akan dikunjungi besok atau hari ini.</p>
<p>Kerja maqomi di masjid kita seperti perusahaan atau pabrik, sehingga kita perlu mengamati dan menyelesaikan hal-hal yang kurang berkenan untuk kerja da&#8217;wah ini. Jika sekitar masjid kita ada sekitar 100 keluarga, sedangkan yang masih datang ke masjid baru sekitar 20 orang, maka kita masih ada target bagimana yang datang ke masjid untuk sholat berjamaah menjadi 30 orang, terus menjadi 40 orang, sampai akhirnya semua laki-laki dewasanya mau untuk sholat berjama&#8217;ah.</p>
<p>Jika kita mengetahui bahwa yang baru ikut ta&#8217;lim fadhoil baru sekitar 4 orang, kita perlu pikirkan lagi bagaimana menjadi 10 orang, bagaimana menjadi 20 orang, terus begitu. Jika di sekitar masjid kita, baru 2 orang yang sudah mempunyai ta&#8217;lim harian di rumah, maka kita perlu pikirkan kembali menjadi 5 orang, terus 10 keluarga, terus menjadi 30 keluarga, sampai akhirnya semua keluarga menjalankan ta&#8217;lim harian ini dengan baik.</p>
<p>Kita dapat bermusyawarah perkara bagaimana jaulah dilakukan di tempat sendiri, dan juga masjid tetangga. Dan setelah itu, kita dapat musyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan da&#8217;wah misalkan nusrah rombongan, menyiapkan orang yang akan keluar 40 hari atau 4 bulan dsb. Kita juga dapat kirimkan wakil untuk dapat ikut serta dalam musyawarah halaqah, dimana kita sendiri dapat menyampaikan pikir bagaimana membentuk rombongan 3 hari yang belum dapat dibentuk dari masjid sendiri. Atau juga bagaimana membantu rombongan dari halaqah lain ataupun dari yang lainnya.</p>
<p><strong>Dan yang terpenting, musyawarah ini akan memberikan pengaruh tertib pada diri kita terhadap masyarakat kita sendiri</strong>. Sehingga kebaikan itu secara automatis akan kepada diri kita sendiri terlebih dahulu, misalkan saja jika kita sebelum terjun dalam usaha da&#8217;wah ini, kita ini dikenal sebagai orang yang kurang baik di tengah-tengah masyarakat kita.</p>
<p>Maka dengan adanya musyawarah, ketika kita akan bertemu khususi misalnya, maka kita akan mendapatkan nasehat-nasehat atau pesan-pesan dari teman kita yang lain untuk berlaku sabar, tenang, tidak tergesa-gesa. Dan Insya Allah, adab-adab dan juga akhlaq ini akan lebih memberikan warna, karakter baik dan sedikit-demi-sedikit akan menghilang karakter tidak baik kita dan juga memberikan kesan yang baik kepada kaum muslimin di sekitar kita. Kita tetapkan untuk selalu ikut serta dalam musyawarah, apakah itu di masjid sendiri ataupun di halaqah bahkan di markaz kota kita.</p>
<p>Kami penulis sendiri pernah diminta teman lama kami untuk selalu hadir musyawarah markaz dan tidak perlu menyampaikan usulan-usulan dalam musyawarah itu, cukup duduk dan dengar saja. Setelah sekian lama, baru kami menyadari pengaruh yang sangat signifikan dari musyawarah ini sendiri. Oleh karena itu, kita perlu tetap menjaga tertib dan adab ketika menjalankan musyawarah itu, agar kita semua mendapatkan kesan-kesan untuk di kita dan kaum muslimin.</p>
<p>Nanti kita lanjut lagi &#8230;. Insya Allah.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=121&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (2)</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-2/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 22:23:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[kerja tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu ta&#8217;lim fadhoil harian dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.
Kenapa Kita Perlu Ta&#8217;lim Fadhoil Harian?
Pelajaran-pelaran kelebihan amal atau fadhoil, dan tentunya juga peringatan-peringatan ketika meninggalkan amal, merupakan pelajaran yang ada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu ta&#8217;lim fadhoil harian dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.</p>
<h3>Kenapa Kita Perlu Ta&#8217;lim Fadhoil Harian?</h3>
<p>Pelajaran-pelaran kelebihan amal atau fadhoil, dan tentunya juga peringatan-peringatan ketika meninggalkan amal, merupakan pelajaran yang ada di dalam Al-quran dan juga Hadits Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Sehingga kita tidak perlu mempermasalahkan perkara ini, meskipun hari ini ada sebagian kaum muslimin memberikan pandangan kenapa ahli da&#8217;wah dan tabligh ini hanya menjalankan ta&#8217;lim fadhoil. Kaum muslimin ada yang sudah dapat memahaminya, tetapi adanya juga yang belum dapat memahaminya.</p>
<p><span id="more-119"></span><strong>Bahkan ada komentar atau pandangan yang cukup berlebihan kenapa dibagi pada ilmu masyail dan fadhoil segala</strong>? Bukankah di jaman Nabi dan shahabat RA tidak ada pembagian ilmu itu, serta termasuk di jaman para Ulama terdahulu? Sehingga pandangan seperti ini memberikan kesan bahwa pembagian itu sesuatu perkara bid&#8217;ah atau menyalahi syariat agama kita.</p>
<p><strong>Kodifikasi atau pembagian ilmu</strong> sudah dijalankan di jaman para Ulama terdahulu, termasuk para Imam besar dan juga ahli hadits, dan kita semua dengan mudah mendapatkan perihal ini melalui kitab-kitab beliau sendiri, sehingga kodifikasi atau pembagian itu berdasarkan Bab atau sub bab. Bukankah di jaman Nabi tidak ada pembagian bab ini dalam proses pengajarannya? Jadi proses kodifikasi itu merupakan proses untuk memudahkan kaum muslimin belajar, dan juga mempunyai fokus yang betul. Sama halnya dengan pembagian ilmu ke dalam masyail dan fadhoil.</p>
<p>Jika kita perhatikan bermacam-macam buku atau kitab rujukan, maka <strong>kita akan mendapatkan ilmu masyail dan fadhoil sekaligus dalam satu bab atau fasal</strong>. Bahkan kita juga mendapatkan dalam kitab yang mana Ulama mengatakan bahwa kitab itu adalah kitab yang banyak berhubungan dengan hukum Islam, Misalkan kitab Al-Muntaqa, susunan Imam Ibnu Taimiyyah Rah. Kami berikan contoh di bawah ini sebagai fadhoil.</p>
<p><em>&#8220;Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda: Muadzdzin itu akan diampuni sepanjang suaranya, dan akan disaksikan oleh semua benda yang basah dan kering&#8221; (HR Imam Yang Lima, kecuali Tirmidzi). </em></p>
<p><em>&#8220;Dari Abdullah bin Zaid, sesungguhnya ia bermimpi adzan. Ia berkata: Lalu aku pergi ke tempat Nabi SAW untuk menceritakan hal itu. Kemudian Nabi bersabda: Sampaikanlah hal itu kepada Bilal. Lalu aku sampaikan kepadanya. Kemudian Bilal adzan. Dan ketika ia hendak iqomat, aku berkata: Ya Rasulullah! Aku mimpi hendak iqomat. Nabi menjawab: &#8220;Kalau begitu iqomatlah&#8221;. Kemudian Abdullah Iqomat, sedang Bilal yang adzan&#8221; (HR Ahmad, Abu Da&#8217;wud).</em></p>
<p>Hadits yang kedua ini cukup panjang (tidak dimasukkan perihal mimpinya dan juga kalimat adzan dan juga iqomat) menjelaskan perihal adzan. Dan dalam kitab itu dibahas perihal berapa banyak kalimat yang harus diadzankan, dan terdapat beberapa pandangan. Jelas hal ini merupakan perkara Masyail, tidak boleh sembarang orang menyampaikannya apalagi memberikan pendapatnya. Sehingga diperlukan ustadz atau faqih untuk menjelaskan dengan baik, terutama beberapa perbedaan yang ada.</p>
<p><strong>Ilmu masyail</strong> merupakan ilmu yang menjelaskan perkara-perkara bagaimana menjalankan amal itu sendiri, sehingga dalam ilmu masyail ini kita akan mendapatkan pandangan-pandangan yang berbeda di kalangan ulama sendiri, misalnya dalam bab wudhu. Bersetuhan dengan wanita dapat membatalkan wudhu seseorang, itu pandangan dari Imam Syafi&#8217;I, sedangkan Imam Malik berpandangan hal itu tidak membatalkan wudhu. Dan masih banyak perkara-perkara ini kita dapat temukan dalam kitab-kitab yang disusun Ulama.</p>
<p>Oleh karena itu, ilmu masyail memerlukan pengajaran yang benar dan dalam hal ini <strong>ustadz </strong>atau <strong>ulama</strong> yang faqih dalam bidang ilmu itu yang harus mengajarkannya dengan baik. Sedangkan <strong>Ilmu fadhoil</strong> merupakan ilmu yang menjelaskan perkara-perkara dorongan, keutamaan, dan juga peringatan terhadap sebuah amal. Sehingga kita semua sebenarnya berkepentingan dengan hal ini, dan kita semua perlu sering menyampaikan satu sama lain di antara kita sendiri. Hal ini agar kita sendiri terdorong untuk mengamalkan apa yang diperintakan oleh Allah swt dan juga Nabi Muhammad SAW, dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah swt dan juga Nabi kita sendiri.</p>
<p>Beberapa Ulama dulu juga sangat memahami perihal ini, sehingga kita dapat juga menemukan kitab yang sangat khusus berkaitan dengan Fadhoil ini, misalkan <strong>Kitab Targhib Wa Tarhib</strong> Imam Mundziri, <strong>Kitab Fadhoil Amal</strong> Imam Muhammad Wahib Al-Maqdisi, <strong>Kitab Fadhoil Ramadhan</strong> Imam Ibnu Abi Dunya. Dan masih banyak lagi perihal kitab seperti ini. Kami sendiri sangat berkeinginan mengambil dan menyusunnya ke dalam <strong>kitab tematik</strong> yang berasal dari kitab-kitab seperti itu.</p>
<p>Oleh karena itu ketika ada sebagian kaum muslimin mempermasalahkan ta&#8217;lim fadhoil ini, kami sendiri menjadi heran. Padahal banyak kitab telah ditulis oleh ulama dulu perihal fadhoil amal ini. Tidak apa-apa, Insya Allah, di masa depan kaum muslimin akan lebih banyak memahaminya dengan baik. Dan bagi ahli da&#8217;wah dan tabligh sebenarnya ini merupakan banyak kesempatan untuk banyak mendo&#8217;akan kaum muslimin yang lain dan lebih lagi bersemangat dalam kerja da&#8217;wah ini. <strong>Allah swt yang memberikan hidayah, dan kita hanya kerja untuk hidayah</strong>.</p>
<p>Oleh karena itu kita tidak perlu banyak mempermasalahkan dengan pembagian ilmu ini.<strong> Dan sekarang kenapa kita perlu sungguh-sungguh dengan ta&#8217;lim harian ta&#8217;lim fadhoil amal ini? </strong>Hal ini lebih penting dan utama, dan kita perlu menjalankan setiap hari di waktu yang sama, di masjid kita sendiri dan juga di rumah kita sendiri. Dan kita perlu sampaikan agar keluarga kita perlu terus menjalankan ta&#8217;lim ini dengan baik, termasuk juga di masjid kita.</p>
<p>Ta&#8217;lim fadhoil ini sangat penting bagi kaum muslimin. Mari kami ajak untuk memperhatikan kehidupan kita terutama dengan media yang banyak menjelaskan perkara keutamaan ini. <strong>Coba perhatikan media televisi hari ini, mulai dari pagi sampai malam hari</strong>. Semua iklan lebih banyak menceritakan keutamaan dari barang itu sendiri. Misalkan, iklan mobil. Kita akan mendapatkan bahwa dengan menggunakan mobil itu, kita akan nyaman untuk keluarga kita.</p>
<p>Iklan sikat gigi. Kita akan mendapatkan alat yang baik untuk bergosok gigi, karena akan lebih bersih dan juga tidak merusak gigi kita ketika menggosok gigi kita. Iklan alat olahraga. Kita akan mendapatkan tubuh yang baik dan sehat. Iklan minimum isotonik, kita akan cepat segar dan bergairah. Iklan genting rumah. Kita akan mendapatkan genting yang tahan lama dan berumur panjang. Dan masih banyak lagi. Kita akan temukan tidak hanya di televisi, tetapi di media cetak lainnya.</p>
<p>Semua informasi itu untuk memberikan pengaruh pada kita untuk mengambil keputusan, sehingga kelebihan-kelebihan ini akan menjadi sumber yang bekelanjutan dan mungkin saja menjadi sebuah informasi yang terdapat dalam kepala kita cukup banyak. Tetapi kita sendiri tidak pernah bertanya bagaimana membuat mobil yang nyaman itu. Kalau ada, hanya berapa orang dari sekian banyak orang. Dan juga kita tidak bertanya bagaimana membuat sikat gigi yang sangat baik untuk gigi kita. Kalaupun ada, hanya beberapa orang dari sekian banyak orang. Dan yang perlu menjelaskannya juga tidak boleh sembarangan orang, karena kalau salah menjelaskannya, maka mungkin saja menghasilkan seseuatu yang merugikan.</p>
<p>Atau juga berkaitan dengan keahlian. Jika jadi seorang programmer, kita akan mendapatkan penghasilan yang besar dan peluang di masa depan. Jika jadi seorang dokter, kita akan mendapatkan penghasilan yang banyak dan tetap di masa depan. Seperti itu terus terjadi di lingkungan kita. Dan hal itu merupakan hal yang normal dan sangat alamiyyah. Itulah sebuah analogi, bahwa kita sekarang ini sudah sangat diajarkan dengan banyak kelebihan yang berhubungan dengan dunia. Dan perkara-perkara itu terjadi dalam kehidupan kita setiap hari.</p>
<p>Al-Islam bukan merupakan panduan untuk ketika kita sholat atau haji saja, tetapi Al-Islam mengajarkan mulai dari tidur sampai ke tidur lagi dalam kehidupan kita. Sehingga kita semua perlu mendapatkan dorongan agar berusaha menghidupkan semua amalan dari tidur sampai ke tidur lagi. <strong>24 jam</strong> kita perlu mengikuti apa yang diajarkan oleh Allah swt. Kaum muslimin kalau ditanya perihal Sholat, maka kebanyakan kaum muslimin mengetahui bahwa Sholat itu wajib, dan bahkan sudah belajar dari kecil bagaimana mengerjakan sholat.</p>
<p>Atau jika kita tanya perihal Puasa Ramadhan, maka kebanyakan kaum muslimin mengetahui bahwa Puasa Ramadhan itu merupakan wajib, dan bahkan sudah dari kecil diajari bagaimana puasa ramadhan ini. Begitupun juga dengan Baca Quran, dsb. Tetapi kita sendiri mendapatkan berapa banyak kaum muslimin yang sungguh-sungguh menjaga Sholat, menjaga Puasa Ramadhan, menjaga Baca Quran. Sangat sedikit. Begitupun juga kadangkala kita sendiri, dan juga keluarga kita sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu, kita perlu lakukan sebuah kerja atau program yang berkelanjutan, dan kita perlu tekankan pentingnya perkara ini. Yaitu Ta&#8217;lim Fadhoil Harian di masjid kita dan di rumah kita. Kita perlu sampaikan kepada masyarakat kita, <strong>meskipun kaum muslimin yang belum ikut serta dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh ini juga dapat menghidupkan kebiasaan ta&#8217;lim fadhoil ini di rumah masing-masing</strong>. Sehingga semua amal akan terdorong dan terbangun, dan hal ini akan memudahkan kita semua kaum muslimin menjalankan <strong>perkara-perkara yang lebih besar</strong>.</p>
<p>Apabila sering setiap hari mendengarkan Fadhoil amal dan kelebihan-kelebihan amal ini, maka akhirnya kita dengan sendirinya berusaha untuk mencapainya, dan kita sendiri terdorong untuk belajar bagaimana mengerjakannya dengan baik pula, sehingga Ilmu Masya&#8217;il akan dipelajari juga. Dan lambat laut, kita akan terbiasa untuk menyampaikan kelebihan-kelebihan amal ini di mana saja, termasuk kisah-kisah tauladan dari para Shahabat<strong>. Artinya Apa?</strong> Kami banyak menemukan dalam kisah-kisah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA, kadangkala Nabi kita memberikan dorongan itu pada para Shahabat RA ketika dalam perjalanan, ketika dalam makan, ketika duduk rileks, dsb. Sehingga kita sendiri akan terbentuk suasana untuk saling menyampaikan dan mengingatkan ketika lupa atas sesuatu, di dalam lingkungan apa saja. Seperti mana pengajaran yang dilakukan Nabi kita sendiri.</p>
<p>Perkara-perkara yang lebih besar misalkan saja <strong>bagaimana mendalami pengajaran Islam dari ustadz</strong>, agar pengajarannya lebih baik lagi. <strong>Bagaimana mencetak ulama</strong> yang faqih dalam ilmu masyail, seperti paham dalam hadits, paham dalam fiqih, paham dalam tafsir dll. <strong>Bagaimana seorang imam masjid adalah seorang hafidz</strong>, karena semakin baik imam sholat di masjid maka akan semakin baik juga kepada kita kaum muslimin di masjid itu. <strong>Bagaimana menyediakan santunan anak yatim</strong>, sehingga anak-anak itu sendiri dapat tumbuh dengan baik dan juga dapat belajar dengan baik. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Anak-anak kita akan memahami perihal kelebihan amal, dan juga peringatan jika meninggalkannya. Misalkan seperti sholat dan puasa ramadhan. Sehingga anak-anak kecil kita akan semangat untuk beramal sholat. Jjika anak-anak kita sedang belajar bersama di rumah temannya, mereka akan mengajak yang lainnya untuk mengerjakan sholat berjama&#8217;ah ketika memasuki waktunya.</p>
<p>Oleh karena itu kita perlu galakkan ta&#8217;lim fadhoil ini di masjid dan di rumah. <strong>Bagaimana dengan Ta&#8217;lim Ilmu Masyail?</strong> <strong>Seolah-olah Usaha da&#8217;wah dan tabligh tidak memberikan perhatian pada Ilmu Masyail</strong>, karena sangat mendorong ilmu fadhoil ini dalam kesehariannya. Pandangan yang beranggapan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh ini tidak memberikan perhatian ilmu masyail <strong>sangat tidak tepat</strong>.</p>
<p>Telah dijelaskan perkara Ilmu Masyail ini di bagian atas, bahwa Ilmu Masyail ini perlu ditangani dengan baik dan sistematik oleh orang yang faqih dalam bidangnya. Tidak semua kaum muslimin dapat memikirkan perkara ini. <strong>Kenapa begitu?</strong> Dalam Ilmu Masyail ini terdapat hal-hal yang memerlukan ilmu sendiri atau alat, misalkan bahasa arab, ilmu hadits, ilmu tafsir dll. Sehingga jika semua kaum muslimin terlibat dalam perkara ini, maka akan lebih banyak hal-hal yang kurang diinginkan.</p>
<p>Misalkan saja dalam perbedaan-perbedaan yang telah kami sampaikan di hadits di atas, perihal jumlah kalimat adzan. Jika orang yang tidak faqih, maka akhirnya menghasilkan perdebatan-perdebatan yang tidak akan selesai-selesai. Yang satu menyatakan harus 4 kalimat, yang satu lagi harus 2 kalimat. Dimana masing-masing hanya mengetahui satu kerangka saja, tetapi jika mempunyai ilmu yang baik maka pandangan-pandangan yang berbeda ini akan memberikan kebaikan bersama. Misalkan lagi, apakah harus bermadzhab atau tidak sama sekali. Jika tidak hati-hati, maka akhirnya tidak pernah selesai perkara seperti ini.</p>
<p><strong>Oleh karena itu jika kita terus tanamkan untuk ta&#8217;lim fadhoil ini, </strong>maka akan terdorong untuk memikirkan perkara yang lebih besar, misalkan yang kami sebutkan di atas seperti mengundang ulama atau ustadz , dan bahkan mencetak ulama yang faqih. Dan akhirnya Ulama faqih inilah yang kita harapkan dapat mengajarkan kepada kaum muslimin dengan baik.</p>
<p><strong>Musyawarahkan</strong> dengan kaum muslimin atau juga ahli da&#8217;wah lainnya waktu yang baik untuk menjalankan ta&#8217;lim fadhoil dengan baik di masjid, dan begitupun juga dengan keluarga kita sendiri. Dan biasakan untuk banyak minta nasehat pada ahli da&#8217;wah lainnya di markaz agar kita semua besemangat dengan perkara ta&#8217;lim fadhoil harian. Dan kita tetap untuk menggunakan kitab Fadhoil Amal yang telah diputuskan musyawarah para Ulama, atau kitab Riyadhush Sholihin.</p>
<p>Apakah itu ta&#8217;lim fadhoil ataupun masyail, <strong>kita tetap harus menjaga tertib dan adab</strong>. Karena kebehasilan seseorang dalam ta&#8217;lim bergantung sejauh mana kita mengikuti pada tertib dan adab. Dan kita yang mengambil usaha da&#8217;wah ini, maka kita perlu semangat untuk mempunyai waktu sendiri untuk membaca dan menelaah Ilmu Islam secara baik dan berkelanjutan, meskipun hanya membaca beberapa lembar halaman setiap, disamping tentunya kita tidak lupa untuk membaca al-quran secara teratur.</p>
<p>Nanti kita lanjut lagi &#8230;. Insya Allah.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=119&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (1)</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 22:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[kerja tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj islam]]></category>
		<category><![CDATA[maqomi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Amal maqomi masjid sendiri merupakan kerja harian untuk kita semua kaum muslimin. Hanya mungkin saja istilah ini masih dikenal dalam lingkungan ahli da&#8217;wah dan tabligh, kaum muslimin masih belum banyak mengetahuinya dengan baik. Ahli da&#8217;wah membagi amal maqomi masjid ke dalam lima kerja atau aktifitas utama yaitu:
(1)    Dua ta&#8217;lim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Amal maqomi masjid sendiri merupakan kerja harian untuk kita semua kaum muslimin. Hanya mungkin saja istilah ini masih dikenal dalam lingkungan ahli da&#8217;wah dan tabligh, kaum muslimin masih belum banyak mengetahuinya dengan baik. Ahli da&#8217;wah membagi amal maqomi masjid ke dalam lima kerja atau aktifitas utama yaitu:</p>
<p>(1)    Dua ta&#8217;lim fadhoil harian, di masjid dan di rumah,</p>
<p>(2)    Dua jaulah (berkeliling silaturahmi), di masjid sendiri dan di masjid tetangga,</p>
<p>(3)    Musyawarah harian,</p>
<p>(4)    2.5 jam khususi, berkunjung di lingkungan masjid sendiri kepada masyarakat kaum muslimin, dan</p>
<p>(5)    3 hari khuruj ke masjid yang lebih jauh dari masjid kita, bagi pelajar 1 hari.</p>
<p><span id="more-117"></span>Kerja maqomi akan terus meningkat dari waktu-ke-waktu, mungkin saja tahapan seperti kita adalah tingkatan TADIKA, sehingga kita kurang serius terhadap kerja seperti ini. Kami sendiri sekarang ini lebih banyak di luar, karena urusan pekerjaan. Sehingga amal maqomi lebih banyak bolongnya, tetapi niyat terus dibangun dan kalau ada kesempatan kita bangun da&#8217;wah ke dalam lingkungan pekerjaan kita. Kami masih ingat sebuah pertanyaan ahli da&#8217;wah pada seorang ulama perihal maqomi, karena ahli da&#8217;wah ini adalah seorang dokter yang cukup sibuk dalam pekerjaannya.</p>
<p>Dan jelas, kerja maqominya akan sulit dilakukan, terutama kerja 2.5 jamnya. Dan jawabannya cukup hikmah dari ulama ini, beliau menjelaskan siapa yang sering membagikan obat ke pasien yang sakit di rumah sakit. Dokter ini menjawab bahwa yang membagikan obat ke pasien adalah perawat. Dan ulama ini menasehati bagaimana kalau sdr. sendiri yang bertemu pasien, sehingga da&#8217;wahpun dapat dilakukan juga. Dokter ini selanjutnya melaksanakannya, dan sebelum pasien makan obat selalu diajarkan untuk membaca basmalallah, atau bahkan didorong untuk sholat. Dan Alhamdulillah, berkat pikir seorang ahli da&#8217;wah itu seorang doter ini telah banyak lagi orang yang mengenal agama. Allah swt yang memberikan hidayah, dan kita hanya kerja untuk hidayah.</p>
<p>Kami yang menulis ini juga perlu terus mengingatkan diri kami dengan jalan mengulang-ulang hal itu, agar kami sendiri teringat akan kerja maqomi masjid sendiri yang sangat fundamental untuk kaum muslimin pahami dengan baik, termasuk pada keluarga kami dan juga teman-teman kami yang cukup sibuk dengan kegiatannya. Dalam tulisan ini, kami akan ungkap hal-hal perlu mendapatkan perhatian bagi kami dan juga yang lainnya, agar kita tidak tersilap atau bahkan menjadi perbincangan berkepanjangan dengan kaum muslimin yang berlum memahami, sehingga akhirnya diri kita sendiri jauh dari perkara amal maqomi sendiri.</p>
<p>Tulisan ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan umum untuk MENGGUGAH terhadap kita semua, termasuk kami sendiri:</p>
<ul>
<li>Kenapa kita perlu amal maqomi ini?</li>
<li>Kenapa kita perlu ta&#8217;lim fadhoil?</li>
<li>Kenapa kita perlu jaulah atau keliling silaturahmi di sekitar masjid kita?</li>
<li>Kenapa kita perlu jalankan 2.5 jam khususi?</li>
<li>Kenapa kita perlu musyawarah harian?</li>
<li>Kenapa kita perlu keluarkan rombongan Khuruj 3 hari dari masjid sendiri?</li>
</ul>
<p><strong>Kenapa kita perlu amal maqomi ini?</strong>Coba perhatikan dengan baik perihal program kerja di atas, dan coba kita juga pelajari arti kita BERADA dalam lingkungan kita sendiri. Serta renungi beberapa ayat ataupun hadits berkaitan dengan <strong>amalan-amalan yang berhubungan</strong> antara Ummat yang banyak diajarkan oleh guru-guru kita, apakah di masjid kita sendiri ataupun mungkin kita datang kepada guru ngaji kita.</p>
<p>Misalkan saja, jika kita bersin maka kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdallah, dan yang mendengarnya wajib menjawabnya dengan yarhamukallah. Atau juga kita sangat ditekankan untuk menyampaikan salam kepada kaum muslimin, yang kita kenal atau tidak kenal, sebagai tanda ciri-ciri kebaikan seorang muslim, sesuai anjuran Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Atau juga perihal jika ada kematian di sekitar kita, atau yang sedang sakit. Termasuk juga kita sholat berjama&#8217;ah di masjid kita sendiri. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Semua perkara-perkara itu sebenarnya HARUS menyatu ke dalam diri kita kaum muslimin, tidak kecuali siapapun orangnya. Apakah itu seorang Ulama? Apakah itu seorang dokter? Apakah itu seorang pelajar? Apakah itu seorang pedagang kaki lima? Dll. TETAPI kenapa hal itu SEKARANG ini tidak wujud di tengah-tengah kita kaum muslimin, PADAHAL kita sendiri mengetahui ajaran-ajaran itu sebenarnya telah banyak diajarkan kepada Ummat ini. Dan bahkan kita sendiri kurang banyak memperhatikan dengan baik.</p>
<p>Bahkan ibadah yang banyak memberikan pengaruh terhadap diri sendiri dan juga masyarakat, misalkan dzikir ataupun sholat. Hari ini telah hilang pengaruh hakekatnya, misalkan sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, ternyata pengaruh ini sudah mulai berkurang ataupun juga kurang memberikan kesan. Iman sebagai daya dorong amal seseorang, telah menjadi lemah dalam diri kaum muslimin. Bukan berarti kaum muslimin tidak percaya dengan adanya ajaran Sholat, ataupun azab kubur. Tetapi pengaruh atau kesan pelajaran itu sudah berkurangan.</p>
<p>Iman dan amal sholeh ini perlu disuburkan dengan baik di sekitar kita, sehingga kita dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar kita sendiri. INDIVIDUALISME telah menjadi penyakit yang menahun pada diri kita sendiri. Inilah penyakit yang telah menyebabkan BENCANA pertama kali terjadi di muka bumi. Kisah Qabil dan Habil, yang mana keduanya adalah anak dari Nabi Adam As, telah menunjukan satu penyakit yang akan terus menghantui ummat manusia dari zaman-ke-zaman. Penyakit ini yang hampir menjadikan Kaum Muslimin Aus dan Khajraz berperang, meskipun masih ada Nabi Muhammad SAW dan juga ayat Al-quran turun. Semuanya dicatat dengan baik dalam Al-quran, dan para Ulama telah memberikan penjelasannya dengan baik.</p>
<p><strong>BENAR bahwa kita berat menjalankan kerja maqomi ini, karena semua masyarakat di sekitar kita mengetahui siapa kita. Kamipun berat untuk menjalankan ini, meskipun sudah cukup lama kenal usaha da&#8217;wah ini. Disinilah awalnya kehidupan agama itu akan masuk ke dalam diri kita, kita akan berusaha mengamalkan atau berusaha mengikuti seluruh hikmah-hikmah yang diajarkan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Kita akan belajar senyum kalau bertemu tetangga kita; kita akan belajar menghormati pada yang tua; kita akan belajar menyayangi pada yang muda; kita akan belajar mendahulukan kepentingan orang lain; kita akan belajar bagaimana menghormati seorang ustadz atau alim; dsb. </strong></p>
<p>Belajar-belajar ini semua bukan lagi di atas buku, tetapi menjadi sebuah kenyataan yang memang nyata. Sehingga semangat beramal akan menjadi dorongan terhadap diri kita sendiri. Dan tidak heran jika hal ini juga akhirnya menjadikan iman kita mendapatkan tingkatan, sehingga amal mudah dijalankan. Itulah Hakekat, bukan lagi gambaran terhadap Islam itu sendiri. Mungkin kita berat, karena malu, karena takut, karena kurang percaya diri, dsb.</p>
<p><strong> Malu, Takut, kurang percaya diri dll it akan muncul di depan kita sendiri, dan jika kita usahakan melalui kerja maqomi dengan adab dan akhlaq yang memang mesti dilakukan oleh kita sendiri, maka penyakit INDIVIDUALISME dan juga perasaan-perasaan itu juga akan hilang dengan izin Allah swt dan kita dan masyarakat akan sama-samam membangun suasana itu sendiri. Sehingga kita sendiri akan senang dan mudah melakukan amal-amal baik lainnya. Saling membantu, saling menyalami, saling bertegu sapa, saling mengingatkan, akan mudah terwujud. </strong></p>
<p>Dan yang masuk ke dalam diri kita dan juga masyarakat kita adalah suasana inter-aksi dan inter-komunikasi yang berlandaskan pada adab dan akhlaq Islam, sehingga amal-amal Islam menjadi wujud dalam kehidupan masyarakat kita di sekitar masjid kita sendiri, dan terus memberikan suasana ke lingkungan yang lainnya. Oleh karena itu, kerja maqomi perlu disebarkan melalui jaulah ke dua dan bahkan 3 hari dari masjid kita sendiri, agar kita mempunyai benteng beradius cukup luas terhadap hal-hal negatif yang akan datang lagi kepada lingkungan kita.</p>
<p><strong>Kerja ini memerlukan TERTIB, karena kerja ini merupakan inter-aksi dan inter-komunikasi harian, maka musyawarahnyapun ada yang harian pula, sehingga kerja ini dapat dikendalikan dengan baik, dan juga dapat mendengarkan adab dan akhlaq Nabi ketika menjalankan hubungan dengan masyarakat umumnya. Sehingga kita sendiri akhirnya terjaga dari perkara-perkara yang kurang diharapkan. Itulah pentingnya musyawarah harian kita lakukan. </strong></p>
<p>Nanti kami lanjut lagi dalam hal &#8230;.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=117&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Pandangan Ilmiah tentang Jamaah Tabligh (Review)</title>
		<link>http://usahadawah.com/sebuah-pandangan-ilmiah-tentang-jamaah-tabligh-review/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/sebuah-pandangan-ilmiah-tentang-jamaah-tabligh-review/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 11:24:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku Referensi]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[kitab tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: http://estethiques.blogspot.com/2006/12/sebuah-pandangan-ilmiah-tentang-jamaah.html

Judul asli     : Nadzrah Ilmiyah fi Ahlit Tabligh wad Da&#8217;wah
Pengarang     : Syeikh Ayman Abu Syadi
Penerbit     : Maktabah Al-Majallad Al-Araby Cairo
Jumlah seri     : 5 buku
Jumlah hal     : seri I (128 h) seri II (128 h) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: http://estethiques.blogspot.com/2006/12/sebuah-pandangan-ilmiah-tentang-jamaah.html</p>
<p><a href="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5678/300/1600/832447/Image%28952%291.jpg"><img src="http://photos1.blogger.com/x/blogger/5678/300/200/688164/Image%28952%291.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p>Judul asli     : Nadzrah Ilmiyah fi Ahlit Tabligh wad Da&#8217;wah<br />
Pengarang     : Syeikh Ayman Abu Syadi<br />
Penerbit     : Maktabah Al-Majallad Al-Araby Cairo<br />
Jumlah seri     : 5 buku<br />
Jumlah hal     : seri I (128 h) seri II (128 h) seri III (270 h) seri IV (285 h) seri V (319 h)</p>
<p><span id="more-170"></span>B uku ini terdiri dari 5 seri dengan kwantitas halaman yang berlainan. Diikarang oleh Syeikh Ayman Abu Syadi. Beliau adalah alumni universitas Al-Azhar dengan memperoleh ijazah ‘aliyah (licence) dari fakultas Syariah Islamiyah, sebagaimana tertulis pada sampul bukunya. Beliau juga memiliki sanad (rantai ilmu) dalam bidang aqidah, hadits, ushul fiqh, dan fiqh, bahkan sudah diberi izin (ijazah) oleh gurunya untuk menyampaikan ilmu yang telah didapatkannya.</p>
<p>Kelima seri buku karya Syeikh Ayman Abu Syadi ini tampaknya patut menjadi buku bacaan para pegiat dakwah (lebih khusus : JT) agar tidak runtuh oleh banyaknya tuduhan-tuduhan dari kelompok-kelompok yang tidak menyukainya. Bahkan, perlu untuk dibaca juga bagi orang-orang yang menganggap Jamaah Tabligh (JT [sebagaimana orang-orang menyebutnya]) ini telah menyimpang dari ajaran Nabi SAW (bid&#8217;ah). Dan tidak mengurangi kelayakan bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh tentang JT itu sendiri.</p>
<p>Setiap seri dari kelima seri ini menjawab satu tuduhan (syubuhat) yang dilontarkan oleh kelompok-kelompok yang menyesatkannya, dijawab dengan dalil dari Quran, Sunnah, maupun perkataan ulama-ulama salaf dengan mengutipkannya dari referensi-referensi kitab klasik (turats).</p>
<p>Seri pertama membahas tentang penentuan nishab (tahdidul awqath) yang ada dalam aktivitas JT seperti 3 hari, 40 hari, 4 bulan, dll serta menjawab berbagai tuduhan yang berkaitan dengan hal tersebut. Pada seri pertama ini sebelum masuk pada jawaban atas tuduhan, pengarang menjelaskan terlebih dahulu tentang :</p>
<p>1. pengertian bid&#8217;ah menurut berbagai pendapat ulama (Imam Az-Zarkasyi, Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al-Asqalany, dll),</p>
<p>2. pengklasifikasiannya kedalam bid&#8217;ah hasanah dan bid&#8217;ah sayyi&#8217;ah (Imam Syafi&#8217;i, Imam Syatiby, Al-&#8217;Allamah Al-Ainy, dll),</p>
<p>3. juga memaparkan pendapat-pendapat ulama lain yang membagi bid&#8217;ah menjadi 5 bagian; wajibah, mandubah, mubahah, mamnu&#8217;ah, makruhah (Imam Al-Qarafy, Imam Nawawy, Imam Al-&#8217;Izz bin Abdus Salam, dll).</p>
<p>Kemudian seri pertama ini ditutup dengan lampiran fatwa-fatwa dan pandangan para ulama tentang JT, diantaranya; Syeikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Abu Bakr Al-Jazairy, Dr. Muhammad Bakr Ismail, Syeikh Muhammad Abu Zahrah, dll.</p>
<p>Seri kedua membahas tentang konsep jihad (mafhumul jihad), sebagai jawaban atas tuduhan bahwa JT mengingkari adanya jihad dan mendistorsikan makna jihad serta mengalih maknakan makna jihad ke dalam dakwah. Kemudian ditutup juga dengan fatwa dan pandangan beberapa ulama Islam (Syeikh Abul A&#8217;la Al-Mawdudi, dll)</p>
<p>Seri ketiga membahas tentang konsep loyalitas keislaman (al-wala&#8217; wal bara&#8217;), sebagai jawaban atas tuduhan bahwa JT tidak memiliki loyalitas keislaman dan tidak memiliki ikatan keimanan yang teguh. Kemudian sebagaimana pada seri sebelumnya, ditutup dengan pandangan maupun fatwa ulama (Syeikh Abu Hasan Ali An-Nadwy, Prof. Dr. Wahidudin Khan, dll)</p>
<p>Seri keempat membahas tentang metode keberislaman Nabi SAW (manhaj nabawy), sebagai jawaban atas tuduhan bahwa JT tidak ingin menegakkan agama Islam di muka bumi dan tidak menginginkan masyarakat Islamy itu terbentuk. Lalu ditutup dengan pandangan dan fatwa para ulama (Syeikh Sa&#8217;duddin Sayyid Shalih, dll)</p>
<p>Seri kelima membahas tentang konsep mencegah kemunkaran (taghyirul munkar), sebagai jawaban atas tuduhan bahwa JT tidak mempedulikan adanya kemunkaran dan tidak memiliki anggapan bahwa menegah kemunkaran adalan bagian dari kewajiban seorang muslim. Lalu ditutup dengan fatwa dan pandangan para ulama (Dr. Sa&#8217;id Ramadhan Al-Buthy, dll)</p>
<p>Demikian review singkat dari buku ini. Sebenarnya banyak pembahasan-pembahasan yang menarik untuk disimak dari buku ini, mengingat hampir semua tuduhan dijawab dengan jawaban yang bereferensikan kitab islam klasik (turats) bahkan pengarang tak jarang menampilkan pembahasan salah satu tema kaedah ushul fiqh, dll, namun karena keterbatasan waktu, pereview hanya dapat memberi gambaran singkat saja. Oleh karena itu, tulisan ini lebih pantas disebut review, bukan resensi. Semoga bermanfaat.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=170&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/sebuah-pandangan-ilmiah-tentang-jamaah-tabligh-review/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asal Muasal Adzan dan Iqomat Melalui Mimpi Shahabat dan Perihal Mimpi Maulana Ilyas</title>
		<link>http://usahadawah.com/asal-muasal-adzan-dan-iqomat-melalui-mimpi-shahabat-dan-perihal-mimpi-maulana-ilyas/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/asal-muasal-adzan-dan-iqomat-melalui-mimpi-shahabat-dan-perihal-mimpi-maulana-ilyas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 07:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Maulana Ilyas]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebelumnya telah kami sampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan mimpi yang mana kami sampaikan hal tersebut setelah kami membaca seorang ulama salafi memberikan pandangan atau pernyataan yang berlebihan terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Sdr. sekalian dapat membaca enam tulisan kami dalam blog ini juga.
Setelah kami sampaikan pandangan berimbang itu, terdapat beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Sebelumnya telah kami sampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan mimpi yang mana kami sampaikan hal tersebut <strong>setelah kami membaca seorang ulama salafi memberikan pandangan atau pernyataan yang berlebihan terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini</strong>. Sdr. sekalian dapat membaca enam tulisan kami dalam blog ini juga.</p>
<p>Setelah kami sampaikan pandangan berimbang itu, terdapat beberapa komentar yang masuk ke dalam blog kami. Dan kami sampaikan juga di forum yang lebih terbuka. Kami sangat berharap mudzakarah tersebut memberikan keterbukaan bagi kaum muslimin, terutama juga untuk sebagian salafi yang sudah jauh dan banyak memberikan pernyataan sepihak terhadap usaha da&#8217;wah. Tetapi kami perlu berlapang dada perihal-perihal tersebut.</p>
<p><strong>Setelah tulisan ini, kami persilahkan kepada kaum muslimin untuk mengambil kesimpulan sendiri, termasuk juga teman-teman salafi sendiri.</strong> Apakah mimpi seperti Maulana Ilyas Rah itu seperti yang dituduhkan ulama salafi atau merupakan anugrah yang Allah swt berikan kepada seseorang? Sehingga kami tidak terlalu berdetail-detail lagi perihal itu, karena kami telah sampaikan hujah ataupun dalil penjelasan itu. Dan juga kami sudah sampaikan satu bab yang berkaitan dengan mimpi. Dan silahkan untuk dicari kitab tersebut dengan baik, kami dapatkan kitab tersebut di <a href="http://www.waqfeya.com/">http://www.waqfeya.com/</a>. Apakah salafi akan mengakuinya atau tidak? Kami serahkan perkara ini pada diri masing-masing. Dan kami tidak dapat memberikan hidayah kepada siapapun, dan hanya Allah swt tempat kita bergantung kita semua.</p>
<p><span id="more-136"></span><strong>Dan bagi kami sendiri yang terjun dalam usaha da&#8217;wah ini tidak terpengaruh dengan mimpi tersebut, karena yang terpenting bagi kami Islam telah mengajarkan bagaimana kita menyikapi mimpi itu sendiri. Dan pelajaran-pelajaran Islam lebih jelas menerangkan hal-hal yang berkaitan dalam aktifitas-aktifitas usaha da&#8217;wah itu sendiri, seperti silaturahmi, da&#8217;wah, belajar, mengajar, sholat, ‘itikaf, dzikir, musyawarah, pikir kaum muslimin, saling menghormati, adab-adab keseharian, musyawarah, dll. </strong></p>
<p>Dan kami telah sampaikan dalam tulisan sebelumnya, dengan adanya <strong>pernyataan sepihak sebagian Ulama Salafi</strong>, menjadikan kami pribadi terdorong untuk lebih mendalami uasaha da&#8217;wah ini lebih Ilmiyyah. <strong>Sehingga kami pribadi menjadi terbuka sendiri terhadap ucapan Maulana Ilyas Rah sendiri yang ringkas, &#8220;Bawalah Usaha Da&#8217;wah Dengan Ilmiyyah&#8221;</strong>. Kami berharap kepada Allah swt agar kami diistiqomahkan dalam kerja da&#8217;wah ini. Dengan begitu kami banyak ucapkan terimakasih terhadap ustadz salafi dan juga teman-teman salafi, dengan asbab salafi ini kami sendiri menjadi terbuka.</p>
<p>Tulisan ini menjelaskan sebuah mimpi yang dialami seorang shahabat tentang adzan dan iqomat. Mudah-mudahan kaum muslimin dapat memahami bahwa mimpi yang baik itu dapat diberikan pada siapapun. <strong>Kisah ini kami ambil dari satu Kitab Nailur Author Asy-Syaukani yang merupakan Kitab Syarh Kitab Al-Muntaqo Ibnu Thaimiyyah Rah</strong>. Kami dapatkan juga dari kitab Minhajul Muslim Syeikh Abu Bakar Al-jazairi.</p>
<p><em>&#8220;Dari Muhammad Bin Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Sa&#8217;id Bin Musayyab, dari Abdullah Bin Zaid, ia berkata: Ketika Rasulullah SAW sudah menyetujui untuk dipukulnya lonceng, padahal sebenarnya beliau sendiri tidak menyukainya, karena menyerupai orang-orang Nashrani. </em></p>
<p><em>Pada suatu malam ketika aku tidur, tiba-tiba aku bermimpi. Ada seorang laki-laki yang mengenakan pakaian hijau, mengelilingi aku sedang ditangannya ada lonceng yang dibawanya. Lalu aku bertanya: Hai Hamba Allah! Apakah lonceng ini akan kamu jual? Ia menjawab: Akan kamu pergunakan untuk apa? Aku menjawab: Akan kupakai untuk memanggil orang untuk sholat. </em></p>
<p><em>Ia bertanya lagi: Maukah engkau, kutunjukkan yang lebih baik dari itu? Kau menjawab: Baiklah. Ia menjawab: Yaitu hendaklah engkau berkata:</em></p>
<p><em>ALLLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR</em></p>
<p><em>ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH, ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH</em></p>
<p><em>ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH, ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH</em></p>
<p><em>HAYYA ‘ALASH SHALAH, HAYYA ‘ALASH SHALAH</em></p>
<p><em>HAYYA ‘ALAL FALAH, HAYYA ‘ALAL FALAH</em></p>
<p><em>ALLLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR</em></p>
<p><em>LAA ILAAHA ILLALLAAH </em></p>
<p><em>Abdullah bin Zaid berkata: Kemudian ia mundur tidak seberapa jauh, dan berkata: Apabila engkau hendah iqomah, maka katakanlah:</em></p>
<p><em>ALLLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR</em></p>
<p><em>ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH</em></p>
<p><em>ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH</em></p>
<p><em>HAYYA ‘ALASH SHALAH</em></p>
<p><em>HAYYA ‘ALAL FALAH</em></p>
<p><em>QADQAAMATISH SHALAH, QADQAAMATISH SHALAH</em></p>
<p><em>ALLLAHU AKBAR</em></p>
<p><em>LAA ILAAHA ILLALLAAH </em></p>
<p><em>Abdullah bin Zaid berkata: Kemudian di waktu pagi aku datang kepada Rasulullah SAW untuk menceritakan kepadanya apa yang aku impikan itu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya mimpi kamu itu adalah mimpi yang benar, Insya Allah. Kemudian Nabi memerintahkan adzan. Maka Bilal, Maula Abubakr, beradzan dengan lafal-lafal itu. Dan menyeru Rasulullah SAW untuk sholat.</em></p>
<p><em>Abdullah Bin Zaid berkata: Lalu Bilal datang kepada Nabi, kemudian memanggilnya pda suatu pagi untuk sholat subuh. Lalu Bilal mengeraskan suaranya dengan tinggi: ASH-SHALAATU KHAIRUM MINAN NAUUM. </em>Sa&#8217;id bin Musayyab berkata: Lalu lafal ini dimasukkan ke dalam bagian dari adzan untuk sholat subuh.&#8221; <em>(HR AHMAD)</em></p>
<p><em>&#8220;Dari Muhammad Bin Ishaq, dari Muhammad Bin Ibrahim At-Taimiy, dari Muhammad Bin Abdullah Bin Zaid, dari ayahnya, yang dikatakan dalam hadist tersebut: Maka tatkala di waktu pagi, aku datang kepada Rasulullah SAW, lalu aku ceritakan kepadanya apa yang kulihat itu. Maka Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ini adalah mimpi yang benar, Insya Allah. Berdirilah bersama Bilal dan sampaikanlah kepadanya apa yang kamu impikan itu, karena Bilal itu lebih keras suaranya daripada kamu. </em></p>
<p><em>Ia berkata: Lalu aku menemui Bilal dan saya sampaikan kepadanya apa yang aku impikan itu, dan Bilal pun lalu adzan dengan lafal-lafal itu. Ia berkata: Lalu ‘Ummar Ibnul Khatab mendengar yang demikian itu, sedang ia berada di rumahnya. Kemudian keluar sambil menyeret selendangnya, dan berkata: Demi Allah, Yang telah mengutus Engkau (Muhammad) dengan benar. Sungguh akupun telah mimpi, persis seperti yang ia impikan. Lalu Rasulullah SAW mengucapkan: ALHAMDULILLAH.&#8221; (HR Abu Dawud)</em></p>
<p><em>&#8220;Dari Timirdzi meriwayatkan bagian dari hadits tersebut dengan sanad ini, dan ia berkata: Hadits ini adalah Hasan Shohih&#8221; </em></p>
<p>Mudah-mudahan penjelasan mimpi Shahabat di atas memberikan wacana dan pengetahuan kepada kita semua, dan bermanfaat bagi kita semua.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=136&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/asal-muasal-adzan-dan-iqomat-melalui-mimpi-shahabat-dan-perihal-mimpi-maulana-ilyas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pandangan Berimbang Untuk Analisa Kritis Kaum Salafi Wahabi Terhadap Mimpi Maulana Ilyas (2)</title>
		<link>http://usahadawah.com/pandangan-berimbang-untuk-analisa-kritis-kaum-salafi-wahabi-terhadap-mimpi-maulana-ilyas-2/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/pandangan-berimbang-untuk-analisa-kritis-kaum-salafi-wahabi-terhadap-mimpi-maulana-ilyas-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 07:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Maulana Ilyas]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Kaum Muslimin,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kami sampaikan kembali beberapa mimpi yang terdapat dalam al-quran, dan kaum muslimin serta Kaum Salafi Wahabi dapat mempelajarinya dengan baik.
Kisah Mimpi Firan dan Takwil Ahli Sihir
Mimpi itu akan menjadi sebuah malapetaka atau cobaan bagi masyarakat tertentu, jika KELIRU menghadapinya. Perhatikan mimpinya Raja Firaun. Al-quran menjelaskan mimpi dengan sangat baik sekali, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Kaum Muslimin,<br />
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Kami sampaikan kembali beberapa mimpi yang terdapat dalam al-quran, dan kaum muslimin serta Kaum Salafi Wahabi dapat mempelajarinya dengan baik.</p>
<p><em><strong>Kisah Mimpi Firan dan Takwil Ahli Sihir</strong></em></p>
<p>Mimpi itu akan menjadi sebuah malapetaka atau cobaan bagi masyarakat tertentu, jika KELIRU menghadapinya. Perhatikan mimpinya Raja Firaun. Al-quran menjelaskan mimpi dengan sangat baik sekali, dan kita kaum muslimin perlu mendapatkan pelajaran dalam kisah itu.</p>
<p><span id="more-132"></span><em><strong>Kisah Mimpi Nabi Ibrahim dan Keteguhan Ismail</strong></em></p>
<p>Mimpi seorang Nabi, seperti Nabi Ibrahim As, dapat memberikan keraguannya, karena mimpi itu berhubungan dengan hal-hal yang sangat fitrah seorang Bapak. Bisa kita bayangkan bagaimana ragunya seorang Bapak untuk melakukan itu. Dengan adanya KETEGASAN dan KETEGUHAN dari anaknya, Nabi Ismail itu, keputusan Bapaknya dapat dilakukan dengan baik.</p>
<p>Sekian lama beberapa tahun, bukan beberapa bulan atau bukan beberapa hari, meninggalkan KELUARGA untuk DA&#8217;WAH, bukan untuk DAGANG ataupun bukan untuk LIBURAN, tetapi untuk DA&#8217;WAH. Tetapi ketika DATANG perlu mengambil keputusan berat itu. Dan kisah ini akan terus diulang-ulang bagi kaum muslimin dan manusia sampai akhir jaman.</p>
<p>Silahkan kepada Kaum Salafi Wahabi untuk sama-sama memperhatikan kisah-kisah mimpi yang dijelaskan dalam Al-quran.</p>
<ul>
<li>Ada mimpi seorang Raja yang ditakwilkan oleh Nabi Yusuf, dan akhirnya memberikan kesejahteraan kepada masyarakat di jaman itu. Padahal Raja ini bukan seorang Ulama atau Faqih dalam urusan agama.</li>
<li>Ada mimpi seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga sholeh, dan ditakwilkan oleh Bapaknya sendiri, Nabi Yaqub. Padahal mimpi ini dari seorang anak kecil, yang belum menjadi seorang yang penuh dengan ilmu.</li>
</ul>
<p>Coba perhatikan dengan baik dua hal di atas saja, mimpi itu memberikan manfaat jika benar penjelasannya, meskipun yang memimpikannya bukan orang yang penuh dengan ilmu. Sama halnya dengan mimpi Maulana Ilyas tersebut, kami persilahkan kepada kaum muslimin dan juga Kaum Salafi Wahabi untuk mempercayainya atau TIDAK. Tetapi kita semua sekarang MELIHAT SENDIRI pertumbuhan ummat Islam di Eropa karena usaha da&#8217;wah dan tabligh.</p>
<p>Bahkan kami sendiri menemukan berapa banyak kaum muslimin yang SUDAH LAMA MENINGGALKAN SHOLAT, dan kembali mau sholat lagi bahkan mau sholat berjama&#8217;ah, dan mengingatkan kaum muslimin lainnya. Malahan kita seharusnya MALU dan SEDIH terlalu lama membiarkan kaum muslimin dalam keadaan BERDOSA dan LUPA, karena kita selalu berkeinginan menyampaikan kalau kita diundang atau juga dijadwal.</p>
<p>Jelas hal ini merupakan taufiq dan hidayah bagi bagi kaum muslimin yang TELAH LUPA. Bukankah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, menjelaskan dalam satu penjelasannya.</p>
<p><em>Dari Abi Mas&#8217;ud Bin Amru Al-Anshary RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sama dengan yang mengerjakannya&#8221; (HR Muslim)</em></p>
<p>Sama halnya dengan mimpi-mimpi di atas, tidak mungkin diketahui apakah BENAR atau TIDAK perihal MAKNA MIMPI itu kecuali sesudah melewati batas waktu TERTENTU, dan mimpi-mimpi yang khas biasanya merupakan proses yang CUKUP PANJANG dari seseorang. Dan hasilnya bisa MALAPETAKA atau juga ANUGRAH. Perhatikan kisah mimpi Fir&#8217;aun ataupun juga mimpi Raja di jaman Nabi Yusuf.</p>
<p>Perhatikan dengan jelas oleh kita semua, termasuk Kaum Salafi Wahabi. Supaya kita TIDAK CEROBOH ketika menyampaikan pandangan analisa kritisnya. Jangan sampai kita semua termasuk ke dalam apa yang disampaikan oleh Nabi kita sendiri, dan hal ini diriwiyatkan oleh Imam Bukhari (susunan ringkasan dari H. Zainuddin Hamidy, H. Fachruddin, dan tim) :</p>
<p><em>Dari Abdullah Bin Ummar Ra dari Muhammad SAW bersabda: &#8220;Orang Muslim adalah orang yang selamat semua orang muslim dari lidahnya dan tangannya. Dan orang yang hijrah adalah orang meninggalkan dari apa-apa yang Allah swt larang darinya&#8221; (No. <img src='http://usahadawah.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p>Oleh karena itu, BEBERAPA ULAMA yang terdahulu selalu mendapatkan penjelasan kadangkala melalui mimpi, bahkan Shahabat RA sendiri, misalkan Bilal RA bermimpi Nabi Muhammad SAW, dimana beliau meminta Bilal RA untuk datang ke Madinah. Dan ketika Bilal RA tiba di Madinah, beliau bertemu dengan cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hasan RA. Dan Hasan RA meminta adzan dikumandang untuk sholat berjama&#8217;ah ketika waktunya. Berderai air mata kaum muslimin mendengarnya, karena mereka mengetahui siapa yang adzan itu.</p>
<p>Itulah mimp-mimpi yang terdapat dalam Al-quran, oleh karena itu tidak heran kalau Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, memberikan arahan yang baik terhadap mimpi ini. Hal ini kita jangan sampai CEROBOH dengan perkara mimpi. Karena jika kita keliru terhadap perkara mimpi ini, kita akan dapat memperoleh MALAPETAKA atau ANUGRAH bergantung pada sikap kita dengan mimpi itu. Itulah KEINDAHAN ISLAM, perkara mimpi saja terdapat ARAHANnya dengan cukup detail.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=132&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/pandangan-berimbang-untuk-analisa-kritis-kaum-salafi-wahabi-terhadap-mimpi-maulana-ilyas-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pandangan Berimbang Untuk Analisa Kritis Kaum Salafi Wahabi Terhadap Mimpi Maulana Ilyas (1)</title>
		<link>http://usahadawah.com/pandangan-berimbang-untuk-analisa-kritis-kaum-salafi-wahabi-terhadap-mimpi-maulana-ilyas-1/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/pandangan-berimbang-untuk-analisa-kritis-kaum-salafi-wahabi-terhadap-mimpi-maulana-ilyas-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Oct 2008 07:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Maulana Ilyas]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Kepada Kaum Muslimin,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kaum Salafi Wahabi telah mencoba memberikan pandangan analisa kritis yang berhubungan dengan mimpi yang dialami seorang ulama, Maulana Ilyas Rah, yang berhubungan dengan pemahaman terhadap ayat Ali Imran (3): 110. Yang mana hal ini ada kaitannnya dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh (orang mengenalnya dengan jama&#8217;ah tabligh). Mimpi ini sebenarnya dituliskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Kaum Muslimin,<br />
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Kaum Salafi Wahabi telah mencoba memberikan pandangan analisa kritis yang berhubungan dengan mimpi yang dialami seorang ulama, Maulana Ilyas Rah, yang berhubungan dengan pemahaman terhadap ayat Ali Imran (3): 110. Yang mana hal ini ada kaitannnya dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh (orang mengenalnya dengan jama&#8217;ah tabligh). Mimpi ini sebenarnya dituliskan balik oleh seorang Ulama setelah mendengarkan perkara ini dari Maulana sendiri. Dan kami sendiri telah membacanya dengan baik.</p>
<p>Mari sama-sama ungkap dua hal utama dalam perkara mimpi ini, yaitu mimpi sendiri dan juga isi / konten dari mimpi itu sendiri. Kami sendiri mengajak kaum muslimin, terutama teman-teman ahli da&#8217;wah dan tabligh, tidak perlu gusar dengan pandangan Kaum Salafi Wahabi. Mungkin saja analisa kritis Kaum Salafi Wahabi ini dapat menjadikan kita sangat gusar karena pandangan Kaum Salafi Wahabi bahwa mimpi-mimpi seperti ini berasal dari Syaithan. Jika Kaum Salafi Wahabi beranggapan seperti itu, maka usaha da&#8217;wah dan tabligh sendiri sebagai bagian dari program syaithan. Sebuah pandangan yang SANGAT CEROBOH.</p>
<p><span id="more-130"></span>Kita kaum muslimin perlu berpegang terhadap sebuah hadits Nabi Muhammad SAW, dan hal ini diriwiyatkan oleh Imam Bukhari (susunan ringkasan dari H. Zainuddin Hamidy, H. Fachruddin, dan tim) :</p>
<p><em>Dari Abdullah Bin Ummar Ra dari Muhammad SAW bersabda: &#8220;Orang Muslim adalah orang yang selamat semua orang muslim dari lidahnya dan tangannya. Dan orang yang hijrah adalah orang meninggalkan dari apa-apa yang Allah swt larang darinya&#8221; (No. <img src='http://usahadawah.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p>Kita berlindung kepada Allah swt dari ucapan-ucapan dan juga analisa-analisa yang membangkitkan semangat amarah yang tidak pada tempatnya. Dalam tulisan sebelumnya, kami sudah menunjukkan KETIDAKAKURATAN INFORMASI ASAL Maulana Ilyas, sehingga pandangan-pandangan itu merupakan proses TERGESA-GESA menilai sesuatu. Dan kami TIDAK MENDAPATKAN KOREKSI INFORMASI YANG DISAMPAIKAN dari penulisnya. Sesuatu yang aneh jika Kaum Salafi Wahabi selalu mendengungkan ILMIYYAH, sedangkan hal kecil TIDAK DAPAT AKURAT. Jika penterjemah melakukan klarifikasi tentang data itu, hal ini tidak dapat dilakukan karena penterjemah tidak dapat melakukan atas nama penulis. DUNIA ILMIYYAH seperti BUKAN?</p>
<p>Kami akan mencoba menuliskan sumber-sumber yang dapat dipercaya, dan mudah-mudahan Kaum Salafi Wahabi dapat membacanya dengan baik juga, tidak hanya kata gurunya atau juga syeikhnya, tanpa mau membuka juga. Dan kita harus terima kebenaran itu datangnya darimana saja, meskipun dari Syeithan sekalipun. Kaum Salafi Wahabi telah menulis perkara bahwa kita perlu menerima kebenaran itu darimana saja. Dan hal ini dituilis dengan jelas dalam blognya, tetapi apakah akan menerima dari kaum muslimin lainnya, itu dipersilahkan kepada Kaum Salafi Sendiri dan juga kaum muslimin lainnya menilai.</p>
<p>Mari kita ungkap bersama yang berhubungan dengan perkara pertama, yaitu mimpi itu sendiri. Dan nantinya kita ungkap dengan isi mimpi itu sendiri. Yang diperhatikan adalah jika mimpi tersebut memberikan efek terhadap syariat utama lainnya, maka mimpi siapapun PERLU DITINGGALKAN. Misalkan seseorang bermimpi bahwa dia merupakan Nabi Baru sehingga Syariat Islam yang sekarang tidak berlaku, sampai tidak perlu sholat, maka jelas mimpi itu perlu PERLU DITINGGALKAN. Di bawah ini beberapa kisah yang berhubungan denga MIMPI dalam Al-quran, sebagai sumber utama kita.</p>
<p><em><strong>Kisah Mimpi Yusuf Ketika Masih Masih Kecil</strong></em></p>
<p><em>&#8220;</em><em>ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: &#8220;Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.&#8221;</em></p>
<p><em>Ayahnya berkata: &#8220;Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.&#8221;</em><em> (QS Yusuf (12): 4-5)</em></p>
<p>Kisah ini sangat menarik karena mimpi seorang anak, Yusuf ketika belum menjadi Nabi, dan ditakwilkan oleh Bapaknya sendiri, Nabi Yaqub As. Dalam dialog itu sebenarnya terdapat pelajaran yang berharga, dimana kita tidak dapat sembarangan menyampaikan mimpi kita. Mimpi seorang anak kecil tetapi karena memang dibina oleh seorang Bapak yang sholeh, maka mimpinya sendiri mempunyai makna sendiri.</p>
<p><em><strong>Kisah Mimpi Raja dan Takwil Nabi Yusuf As</strong></em></p>
<p><em>Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): &#8220;Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering.&#8221; Hai orang-orang yang terkemuka: &#8220;Terangkanlah kepadaku tentang ta&#8217;bir mimpiku itu jika kamu dapat mena&#8217;birkan mimpi.&#8221;</em></p>
<p><em>Mereka menjawab: &#8220;(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta&#8217;birkan mimpi itu.&#8221;</em></p>
<p><em>Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: &#8220;Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena&#8217;birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).&#8221;</em></p>
<p><em>Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): &#8220;Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.&#8221;</em></p>
<p><em>Yusuf berkata: &#8220;Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.&#8221;</em></p>
<p><em>Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan.</em></p>
<p><em>Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan dimasa itu mereka memeras anggur.&#8221; </em><em>(QS Yusuf: 43-49)</em></p>
<p>Mimpi seseorang, termasuk mimpi seorang raja dianggap hal yang biasa bagi kebanyakan orang, tetapi ketika ditanyakan kepada Nabi Yusuf As, maka mimpi ini memberikan sebuah makna yang sangat penting bagi negeri yang bersangkutan. Disini ada sebuah pelajaran yang berharga bagi kita bahwa mimpi seseorang itu dapat mempunyai makna. Oleh karena itu Rasulullah SAW menjelaskannya dengan baik, supaya kita kaum muslimin tidak keliru dengan hal-hal yang berhubungan dengan mimpi. Oleh karena itu, kitab hadits seperti Imam Muslim menjelaskannya dengan cukup baik, termasuk adab-adab yang berhubungan mimpi itu.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=130&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/pandangan-berimbang-untuk-analisa-kritis-kaum-salafi-wahabi-terhadap-mimpi-maulana-ilyas-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

