<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; manhaj islam</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/manhaj-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (3)</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 22:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj islam]]></category>
		<category><![CDATA[maqomi]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu bersemangat musyawarah harian. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.
Kenapa Kita Perlu Musyawarah Harian?
Musyarawah ini merupakan perkara yang sangat penting bagi kita yang telah terjun ke dalam usaha da&#8217;wah ini. Kita jangan sepelekan perkara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu bersemangat musyawarah harian. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.</p>
<h3>Kenapa Kita Perlu Musyawarah Harian?</h3>
<p>Musyarawah ini merupakan perkara yang sangat penting bagi kita yang telah terjun ke dalam usaha da&#8217;wah ini. Kita jangan sepelekan perkara musyawarah ini, meskipun hanya musyawarah 5-10 menit. Banyak ayat Quran dan hadits yang menjelaskan perihal musyawarah ini, bahkan kisah-kisah musyawarah di kalangan para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-121"></span>Kami yang setidaknya membaca pelajaran ilmu umum yang berasal dari bangsa lain, telah terbukti bahwa pertemuan rutin setiap hari untuk membahas masalah dan menyelesaikannya secara bersama, meskipun hanya beberapa menit saja, telah memberikan pengaruh besar bagi perusahaan-perusahaan mereka. Dan akhirnya memberikan pengaruh pada negara tersebut. Itu adalah kebiasaan yang dilakukan di perusahaan-perusahaan besar, seperti di Korea, Jepang dll.</p>
<p>Apalagi seperti kita yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini? Karena kerja kita ini adalah untuk diri kita dan juga kaum muslimin, agar Allah swt memberikan rahmat dan hidayahnya. Kita perlu musyawarah dengan sungguh-sungguh dan juga pikir yang benar. Musyawarah harian akan membiasakan kerja kita dalam kebersamaan atau ijtimaiyyah, sehingga kita akan selalu mempunyai pikir dan kerja yang sama. <strong>Tanpa adanya pikir dan kerja yang sama, kerja kita akan nafsi-nafsi dan biasanya saling menyalahkan satu sama lain jika ada sesuatu yang kurang berkenan</strong>. Hal ini perlu menjadi perhatian penting bagi kita semua, kita perlu menjaga kesatuan hati di antara kaum muslimin. Kita sendiri sangat memahami hal ini, karena kejadian-kejadian seperti ini dapat juga terjadi dalam semua lapangan kehidupan kita sendiri. Sehingga bagaimana kita dapat mencapai apa yang menjadi keinginan kita kalau sudah seperti itu.</p>
<p><strong>Musyawarah ini telah banyak hilang dalam kehidupan kaum muslimin</strong>, sehingga perkara-perkara kecil saja dapat menghasilkan masalah-masalah besar di antara kaum muslimin. Bahkan musyawarah bukan lagi menjadi kebiasaan di dalam rumah tangga kaum muslimin. Itulah kita perlu bersungguh-sungguh untuk menjalankan musyawarah ini, dan kita libatkan kaum muslimin dalam musyawarah harian kita. Sehingga mereka mengetahui apa yang dipikirkan atau dibahas dalam musyawarah kita.</p>
<p>Dan kami pribadi melihat bahwa musyawarah ini sangat fundamental bagi kaum muslimin. Kami terlibat dalam mudzakarah-mudzakarah dengan sebagian kaum muslimin perihal usaha da&#8217;wah ini, karena sebagian kaum muslimin ini banyak memberikan pandangan yang berlebihan dan kurang tepat tentang usaha da&#8217;wah. Sehingga mudzakarah-mudzakarah ini tidak banyak memberikan kerangka kebersamaan di antara kaum muslimin. <strong>Karena kaum muslimin yang pertama kali menyampaikan pandangannya, tidak dapat serta merta mengakui atau memahami apa yang kita sampaikan</strong> sebagai bentuk pandangan berimbang ataupun pelurusan.</p>
<p>Setelah sekian lama kami bermudzakarah, akhirnya kami mendapatkan satu titik terang bahwa memang kaum muslimin belum mempunyai kebersamaan untuk saling bermusyawarah. Bahkan kami yang sering mendapatkan pandangan yang kurang tepat atau kesewenang-wenangan dari sebagian kaum muslimin, kadangkala berpikir untuk tidak terlalu dalam dalam perbicangan tersebut. Mudah-mudahan di masa depan, adanya forum saling bertukar pikiran di antara ulama atau ustadz di antara kaum muslimin terhadap keadaan kaum muslimin sendiri, sehingga hal-hal yang kurang diinginkan kita dapat menyampaikannya dengan baik pula.</p>
<p>Kembali pada bahasan kita, yaitu <strong>kenapa kita perlu bersemangat dengan musyawarah harian ini</strong>? Musyawarah yang kita lakukan sebagai bagian dari amal maqomi kita merupakan sebuah sarana untuk memudzakarahkan dan menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan kerja atau program harian ataupun yang berkaitan dengan kerja da&#8217;wah itu sendiri. <strong>Musyawarah harian kita pertama kali perlu fokuskan dan prioritaskan pada amal maqomi itu sendiri</strong>, seperti ta&#8217;lim harian, jaulah masjid, jaulah dua, keluar 3 hari, 2.5 jam khususi harian. Sehingga kita mempunyai arah yang jelas terhadap kerja maqomi itu sendiri.</p>
<p>Dan kita biasakan untuk memulai dari kecil secara bertahap terus meningkat. Itulah yang banyak diajarkan oleh Nabi kita Nabi Muhammad SAW. Insya Allah, ini akan terus meningkat sesuai kapasitasnya dengan baik juga. <strong>Bermula musyawarah harian</strong> untuk menentukan terlebih dahulu siapa yang akan memberikan pikir musyawarah besoknya, juga ta&#8217;lim fadhoil harian dan juga siapa yang akan dikunjungi besok atau hari ini.</p>
<p>Kerja maqomi di masjid kita seperti perusahaan atau pabrik, sehingga kita perlu mengamati dan menyelesaikan hal-hal yang kurang berkenan untuk kerja da&#8217;wah ini. Jika sekitar masjid kita ada sekitar 100 keluarga, sedangkan yang masih datang ke masjid baru sekitar 20 orang, maka kita masih ada target bagimana yang datang ke masjid untuk sholat berjamaah menjadi 30 orang, terus menjadi 40 orang, sampai akhirnya semua laki-laki dewasanya mau untuk sholat berjama&#8217;ah.</p>
<p>Jika kita mengetahui bahwa yang baru ikut ta&#8217;lim fadhoil baru sekitar 4 orang, kita perlu pikirkan lagi bagaimana menjadi 10 orang, bagaimana menjadi 20 orang, terus begitu. Jika di sekitar masjid kita, baru 2 orang yang sudah mempunyai ta&#8217;lim harian di rumah, maka kita perlu pikirkan kembali menjadi 5 orang, terus 10 keluarga, terus menjadi 30 keluarga, sampai akhirnya semua keluarga menjalankan ta&#8217;lim harian ini dengan baik.</p>
<p>Kita dapat bermusyawarah perkara bagaimana jaulah dilakukan di tempat sendiri, dan juga masjid tetangga. Dan setelah itu, kita dapat musyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan da&#8217;wah misalkan nusrah rombongan, menyiapkan orang yang akan keluar 40 hari atau 4 bulan dsb. Kita juga dapat kirimkan wakil untuk dapat ikut serta dalam musyawarah halaqah, dimana kita sendiri dapat menyampaikan pikir bagaimana membentuk rombongan 3 hari yang belum dapat dibentuk dari masjid sendiri. Atau juga bagaimana membantu rombongan dari halaqah lain ataupun dari yang lainnya.</p>
<p><strong>Dan yang terpenting, musyawarah ini akan memberikan pengaruh tertib pada diri kita terhadap masyarakat kita sendiri</strong>. Sehingga kebaikan itu secara automatis akan kepada diri kita sendiri terlebih dahulu, misalkan saja jika kita sebelum terjun dalam usaha da&#8217;wah ini, kita ini dikenal sebagai orang yang kurang baik di tengah-tengah masyarakat kita.</p>
<p>Maka dengan adanya musyawarah, ketika kita akan bertemu khususi misalnya, maka kita akan mendapatkan nasehat-nasehat atau pesan-pesan dari teman kita yang lain untuk berlaku sabar, tenang, tidak tergesa-gesa. Dan Insya Allah, adab-adab dan juga akhlaq ini akan lebih memberikan warna, karakter baik dan sedikit-demi-sedikit akan menghilang karakter tidak baik kita dan juga memberikan kesan yang baik kepada kaum muslimin di sekitar kita. Kita tetapkan untuk selalu ikut serta dalam musyawarah, apakah itu di masjid sendiri ataupun di halaqah bahkan di markaz kota kita.</p>
<p>Kami penulis sendiri pernah diminta teman lama kami untuk selalu hadir musyawarah markaz dan tidak perlu menyampaikan usulan-usulan dalam musyawarah itu, cukup duduk dan dengar saja. Setelah sekian lama, baru kami menyadari pengaruh yang sangat signifikan dari musyawarah ini sendiri. Oleh karena itu, kita perlu tetap menjaga tertib dan adab ketika menjalankan musyawarah itu, agar kita semua mendapatkan kesan-kesan untuk di kita dan kaum muslimin.</p>
<p>Nanti kita lanjut lagi &#8230;. Insya Allah.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=121&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (2)</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-2/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 22:23:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[kerja tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu ta&#8217;lim fadhoil harian dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.
Kenapa Kita Perlu Ta&#8217;lim Fadhoil Harian?
Pelajaran-pelaran kelebihan amal atau fadhoil, dan tentunya juga peringatan-peringatan ketika meninggalkan amal, merupakan pelajaran yang ada di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu ta&#8217;lim fadhoil harian dalam kehidupan kita. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.</p>
<h3>Kenapa Kita Perlu Ta&#8217;lim Fadhoil Harian?</h3>
<p>Pelajaran-pelaran kelebihan amal atau fadhoil, dan tentunya juga peringatan-peringatan ketika meninggalkan amal, merupakan pelajaran yang ada di dalam Al-quran dan juga Hadits Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Sehingga kita tidak perlu mempermasalahkan perkara ini, meskipun hari ini ada sebagian kaum muslimin memberikan pandangan kenapa ahli da&#8217;wah dan tabligh ini hanya menjalankan ta&#8217;lim fadhoil. Kaum muslimin ada yang sudah dapat memahaminya, tetapi adanya juga yang belum dapat memahaminya.</p>
<p><span id="more-119"></span><strong>Bahkan ada komentar atau pandangan yang cukup berlebihan kenapa dibagi pada ilmu masyail dan fadhoil segala</strong>? Bukankah di jaman Nabi dan shahabat RA tidak ada pembagian ilmu itu, serta termasuk di jaman para Ulama terdahulu? Sehingga pandangan seperti ini memberikan kesan bahwa pembagian itu sesuatu perkara bid&#8217;ah atau menyalahi syariat agama kita.</p>
<p><strong>Kodifikasi atau pembagian ilmu</strong> sudah dijalankan di jaman para Ulama terdahulu, termasuk para Imam besar dan juga ahli hadits, dan kita semua dengan mudah mendapatkan perihal ini melalui kitab-kitab beliau sendiri, sehingga kodifikasi atau pembagian itu berdasarkan Bab atau sub bab. Bukankah di jaman Nabi tidak ada pembagian bab ini dalam proses pengajarannya? Jadi proses kodifikasi itu merupakan proses untuk memudahkan kaum muslimin belajar, dan juga mempunyai fokus yang betul. Sama halnya dengan pembagian ilmu ke dalam masyail dan fadhoil.</p>
<p>Jika kita perhatikan bermacam-macam buku atau kitab rujukan, maka <strong>kita akan mendapatkan ilmu masyail dan fadhoil sekaligus dalam satu bab atau fasal</strong>. Bahkan kita juga mendapatkan dalam kitab yang mana Ulama mengatakan bahwa kitab itu adalah kitab yang banyak berhubungan dengan hukum Islam, Misalkan kitab Al-Muntaqa, susunan Imam Ibnu Taimiyyah Rah. Kami berikan contoh di bawah ini sebagai fadhoil.</p>
<p><em>&#8220;Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda: Muadzdzin itu akan diampuni sepanjang suaranya, dan akan disaksikan oleh semua benda yang basah dan kering&#8221; (HR Imam Yang Lima, kecuali Tirmidzi). </em></p>
<p><em>&#8220;Dari Abdullah bin Zaid, sesungguhnya ia bermimpi adzan. Ia berkata: Lalu aku pergi ke tempat Nabi SAW untuk menceritakan hal itu. Kemudian Nabi bersabda: Sampaikanlah hal itu kepada Bilal. Lalu aku sampaikan kepadanya. Kemudian Bilal adzan. Dan ketika ia hendak iqomat, aku berkata: Ya Rasulullah! Aku mimpi hendak iqomat. Nabi menjawab: &#8220;Kalau begitu iqomatlah&#8221;. Kemudian Abdullah Iqomat, sedang Bilal yang adzan&#8221; (HR Ahmad, Abu Da&#8217;wud).</em></p>
<p>Hadits yang kedua ini cukup panjang (tidak dimasukkan perihal mimpinya dan juga kalimat adzan dan juga iqomat) menjelaskan perihal adzan. Dan dalam kitab itu dibahas perihal berapa banyak kalimat yang harus diadzankan, dan terdapat beberapa pandangan. Jelas hal ini merupakan perkara Masyail, tidak boleh sembarang orang menyampaikannya apalagi memberikan pendapatnya. Sehingga diperlukan ustadz atau faqih untuk menjelaskan dengan baik, terutama beberapa perbedaan yang ada.</p>
<p><strong>Ilmu masyail</strong> merupakan ilmu yang menjelaskan perkara-perkara bagaimana menjalankan amal itu sendiri, sehingga dalam ilmu masyail ini kita akan mendapatkan pandangan-pandangan yang berbeda di kalangan ulama sendiri, misalnya dalam bab wudhu. Bersetuhan dengan wanita dapat membatalkan wudhu seseorang, itu pandangan dari Imam Syafi&#8217;I, sedangkan Imam Malik berpandangan hal itu tidak membatalkan wudhu. Dan masih banyak perkara-perkara ini kita dapat temukan dalam kitab-kitab yang disusun Ulama.</p>
<p>Oleh karena itu, ilmu masyail memerlukan pengajaran yang benar dan dalam hal ini <strong>ustadz </strong>atau <strong>ulama</strong> yang faqih dalam bidang ilmu itu yang harus mengajarkannya dengan baik. Sedangkan <strong>Ilmu fadhoil</strong> merupakan ilmu yang menjelaskan perkara-perkara dorongan, keutamaan, dan juga peringatan terhadap sebuah amal. Sehingga kita semua sebenarnya berkepentingan dengan hal ini, dan kita semua perlu sering menyampaikan satu sama lain di antara kita sendiri. Hal ini agar kita sendiri terdorong untuk mengamalkan apa yang diperintakan oleh Allah swt dan juga Nabi Muhammad SAW, dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah swt dan juga Nabi kita sendiri.</p>
<p>Beberapa Ulama dulu juga sangat memahami perihal ini, sehingga kita dapat juga menemukan kitab yang sangat khusus berkaitan dengan Fadhoil ini, misalkan <strong>Kitab Targhib Wa Tarhib</strong> Imam Mundziri, <strong>Kitab Fadhoil Amal</strong> Imam Muhammad Wahib Al-Maqdisi, <strong>Kitab Fadhoil Ramadhan</strong> Imam Ibnu Abi Dunya. Dan masih banyak lagi perihal kitab seperti ini. Kami sendiri sangat berkeinginan mengambil dan menyusunnya ke dalam <strong>kitab tematik</strong> yang berasal dari kitab-kitab seperti itu.</p>
<p>Oleh karena itu ketika ada sebagian kaum muslimin mempermasalahkan ta&#8217;lim fadhoil ini, kami sendiri menjadi heran. Padahal banyak kitab telah ditulis oleh ulama dulu perihal fadhoil amal ini. Tidak apa-apa, Insya Allah, di masa depan kaum muslimin akan lebih banyak memahaminya dengan baik. Dan bagi ahli da&#8217;wah dan tabligh sebenarnya ini merupakan banyak kesempatan untuk banyak mendo&#8217;akan kaum muslimin yang lain dan lebih lagi bersemangat dalam kerja da&#8217;wah ini. <strong>Allah swt yang memberikan hidayah, dan kita hanya kerja untuk hidayah</strong>.</p>
<p>Oleh karena itu kita tidak perlu banyak mempermasalahkan dengan pembagian ilmu ini.<strong> Dan sekarang kenapa kita perlu sungguh-sungguh dengan ta&#8217;lim harian ta&#8217;lim fadhoil amal ini? </strong>Hal ini lebih penting dan utama, dan kita perlu menjalankan setiap hari di waktu yang sama, di masjid kita sendiri dan juga di rumah kita sendiri. Dan kita perlu sampaikan agar keluarga kita perlu terus menjalankan ta&#8217;lim ini dengan baik, termasuk juga di masjid kita.</p>
<p>Ta&#8217;lim fadhoil ini sangat penting bagi kaum muslimin. Mari kami ajak untuk memperhatikan kehidupan kita terutama dengan media yang banyak menjelaskan perkara keutamaan ini. <strong>Coba perhatikan media televisi hari ini, mulai dari pagi sampai malam hari</strong>. Semua iklan lebih banyak menceritakan keutamaan dari barang itu sendiri. Misalkan, iklan mobil. Kita akan mendapatkan bahwa dengan menggunakan mobil itu, kita akan nyaman untuk keluarga kita.</p>
<p>Iklan sikat gigi. Kita akan mendapatkan alat yang baik untuk bergosok gigi, karena akan lebih bersih dan juga tidak merusak gigi kita ketika menggosok gigi kita. Iklan alat olahraga. Kita akan mendapatkan tubuh yang baik dan sehat. Iklan minimum isotonik, kita akan cepat segar dan bergairah. Iklan genting rumah. Kita akan mendapatkan genting yang tahan lama dan berumur panjang. Dan masih banyak lagi. Kita akan temukan tidak hanya di televisi, tetapi di media cetak lainnya.</p>
<p>Semua informasi itu untuk memberikan pengaruh pada kita untuk mengambil keputusan, sehingga kelebihan-kelebihan ini akan menjadi sumber yang bekelanjutan dan mungkin saja menjadi sebuah informasi yang terdapat dalam kepala kita cukup banyak. Tetapi kita sendiri tidak pernah bertanya bagaimana membuat mobil yang nyaman itu. Kalau ada, hanya berapa orang dari sekian banyak orang. Dan juga kita tidak bertanya bagaimana membuat sikat gigi yang sangat baik untuk gigi kita. Kalaupun ada, hanya beberapa orang dari sekian banyak orang. Dan yang perlu menjelaskannya juga tidak boleh sembarangan orang, karena kalau salah menjelaskannya, maka mungkin saja menghasilkan seseuatu yang merugikan.</p>
<p>Atau juga berkaitan dengan keahlian. Jika jadi seorang programmer, kita akan mendapatkan penghasilan yang besar dan peluang di masa depan. Jika jadi seorang dokter, kita akan mendapatkan penghasilan yang banyak dan tetap di masa depan. Seperti itu terus terjadi di lingkungan kita. Dan hal itu merupakan hal yang normal dan sangat alamiyyah. Itulah sebuah analogi, bahwa kita sekarang ini sudah sangat diajarkan dengan banyak kelebihan yang berhubungan dengan dunia. Dan perkara-perkara itu terjadi dalam kehidupan kita setiap hari.</p>
<p>Al-Islam bukan merupakan panduan untuk ketika kita sholat atau haji saja, tetapi Al-Islam mengajarkan mulai dari tidur sampai ke tidur lagi dalam kehidupan kita. Sehingga kita semua perlu mendapatkan dorongan agar berusaha menghidupkan semua amalan dari tidur sampai ke tidur lagi. <strong>24 jam</strong> kita perlu mengikuti apa yang diajarkan oleh Allah swt. Kaum muslimin kalau ditanya perihal Sholat, maka kebanyakan kaum muslimin mengetahui bahwa Sholat itu wajib, dan bahkan sudah belajar dari kecil bagaimana mengerjakan sholat.</p>
<p>Atau jika kita tanya perihal Puasa Ramadhan, maka kebanyakan kaum muslimin mengetahui bahwa Puasa Ramadhan itu merupakan wajib, dan bahkan sudah dari kecil diajari bagaimana puasa ramadhan ini. Begitupun juga dengan Baca Quran, dsb. Tetapi kita sendiri mendapatkan berapa banyak kaum muslimin yang sungguh-sungguh menjaga Sholat, menjaga Puasa Ramadhan, menjaga Baca Quran. Sangat sedikit. Begitupun juga kadangkala kita sendiri, dan juga keluarga kita sendiri.</p>
<p>Oleh karena itu, kita perlu lakukan sebuah kerja atau program yang berkelanjutan, dan kita perlu tekankan pentingnya perkara ini. Yaitu Ta&#8217;lim Fadhoil Harian di masjid kita dan di rumah kita. Kita perlu sampaikan kepada masyarakat kita, <strong>meskipun kaum muslimin yang belum ikut serta dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh ini juga dapat menghidupkan kebiasaan ta&#8217;lim fadhoil ini di rumah masing-masing</strong>. Sehingga semua amal akan terdorong dan terbangun, dan hal ini akan memudahkan kita semua kaum muslimin menjalankan <strong>perkara-perkara yang lebih besar</strong>.</p>
<p>Apabila sering setiap hari mendengarkan Fadhoil amal dan kelebihan-kelebihan amal ini, maka akhirnya kita dengan sendirinya berusaha untuk mencapainya, dan kita sendiri terdorong untuk belajar bagaimana mengerjakannya dengan baik pula, sehingga Ilmu Masya&#8217;il akan dipelajari juga. Dan lambat laut, kita akan terbiasa untuk menyampaikan kelebihan-kelebihan amal ini di mana saja, termasuk kisah-kisah tauladan dari para Shahabat<strong>. Artinya Apa?</strong> Kami banyak menemukan dalam kisah-kisah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA, kadangkala Nabi kita memberikan dorongan itu pada para Shahabat RA ketika dalam perjalanan, ketika dalam makan, ketika duduk rileks, dsb. Sehingga kita sendiri akan terbentuk suasana untuk saling menyampaikan dan mengingatkan ketika lupa atas sesuatu, di dalam lingkungan apa saja. Seperti mana pengajaran yang dilakukan Nabi kita sendiri.</p>
<p>Perkara-perkara yang lebih besar misalkan saja <strong>bagaimana mendalami pengajaran Islam dari ustadz</strong>, agar pengajarannya lebih baik lagi. <strong>Bagaimana mencetak ulama</strong> yang faqih dalam ilmu masyail, seperti paham dalam hadits, paham dalam fiqih, paham dalam tafsir dll. <strong>Bagaimana seorang imam masjid adalah seorang hafidz</strong>, karena semakin baik imam sholat di masjid maka akan semakin baik juga kepada kita kaum muslimin di masjid itu. <strong>Bagaimana menyediakan santunan anak yatim</strong>, sehingga anak-anak itu sendiri dapat tumbuh dengan baik dan juga dapat belajar dengan baik. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Anak-anak kita akan memahami perihal kelebihan amal, dan juga peringatan jika meninggalkannya. Misalkan seperti sholat dan puasa ramadhan. Sehingga anak-anak kecil kita akan semangat untuk beramal sholat. Jjika anak-anak kita sedang belajar bersama di rumah temannya, mereka akan mengajak yang lainnya untuk mengerjakan sholat berjama&#8217;ah ketika memasuki waktunya.</p>
<p>Oleh karena itu kita perlu galakkan ta&#8217;lim fadhoil ini di masjid dan di rumah. <strong>Bagaimana dengan Ta&#8217;lim Ilmu Masyail?</strong> <strong>Seolah-olah Usaha da&#8217;wah dan tabligh tidak memberikan perhatian pada Ilmu Masyail</strong>, karena sangat mendorong ilmu fadhoil ini dalam kesehariannya. Pandangan yang beranggapan bahwa usaha da&#8217;wah dan tabligh ini tidak memberikan perhatian ilmu masyail <strong>sangat tidak tepat</strong>.</p>
<p>Telah dijelaskan perkara Ilmu Masyail ini di bagian atas, bahwa Ilmu Masyail ini perlu ditangani dengan baik dan sistematik oleh orang yang faqih dalam bidangnya. Tidak semua kaum muslimin dapat memikirkan perkara ini. <strong>Kenapa begitu?</strong> Dalam Ilmu Masyail ini terdapat hal-hal yang memerlukan ilmu sendiri atau alat, misalkan bahasa arab, ilmu hadits, ilmu tafsir dll. Sehingga jika semua kaum muslimin terlibat dalam perkara ini, maka akan lebih banyak hal-hal yang kurang diinginkan.</p>
<p>Misalkan saja dalam perbedaan-perbedaan yang telah kami sampaikan di hadits di atas, perihal jumlah kalimat adzan. Jika orang yang tidak faqih, maka akhirnya menghasilkan perdebatan-perdebatan yang tidak akan selesai-selesai. Yang satu menyatakan harus 4 kalimat, yang satu lagi harus 2 kalimat. Dimana masing-masing hanya mengetahui satu kerangka saja, tetapi jika mempunyai ilmu yang baik maka pandangan-pandangan yang berbeda ini akan memberikan kebaikan bersama. Misalkan lagi, apakah harus bermadzhab atau tidak sama sekali. Jika tidak hati-hati, maka akhirnya tidak pernah selesai perkara seperti ini.</p>
<p><strong>Oleh karena itu jika kita terus tanamkan untuk ta&#8217;lim fadhoil ini, </strong>maka akan terdorong untuk memikirkan perkara yang lebih besar, misalkan yang kami sebutkan di atas seperti mengundang ulama atau ustadz , dan bahkan mencetak ulama yang faqih. Dan akhirnya Ulama faqih inilah yang kita harapkan dapat mengajarkan kepada kaum muslimin dengan baik.</p>
<p><strong>Musyawarahkan</strong> dengan kaum muslimin atau juga ahli da&#8217;wah lainnya waktu yang baik untuk menjalankan ta&#8217;lim fadhoil dengan baik di masjid, dan begitupun juga dengan keluarga kita sendiri. Dan biasakan untuk banyak minta nasehat pada ahli da&#8217;wah lainnya di markaz agar kita semua besemangat dengan perkara ta&#8217;lim fadhoil harian. Dan kita tetap untuk menggunakan kitab Fadhoil Amal yang telah diputuskan musyawarah para Ulama, atau kitab Riyadhush Sholihin.</p>
<p>Apakah itu ta&#8217;lim fadhoil ataupun masyail, <strong>kita tetap harus menjaga tertib dan adab</strong>. Karena kebehasilan seseorang dalam ta&#8217;lim bergantung sejauh mana kita mengikuti pada tertib dan adab. Dan kita yang mengambil usaha da&#8217;wah ini, maka kita perlu semangat untuk mempunyai waktu sendiri untuk membaca dan menelaah Ilmu Islam secara baik dan berkelanjutan, meskipun hanya membaca beberapa lembar halaman setiap, disamping tentunya kita tidak lupa untuk membaca al-quran secara teratur.</p>
<p>Nanti kita lanjut lagi &#8230;. Insya Allah.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=119&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (1)</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 22:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[kerja tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj islam]]></category>
		<category><![CDATA[maqomi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Amal maqomi masjid sendiri merupakan kerja harian untuk kita semua kaum muslimin. Hanya mungkin saja istilah ini masih dikenal dalam lingkungan ahli da&#8217;wah dan tabligh, kaum muslimin masih belum banyak mengetahuinya dengan baik. Ahli da&#8217;wah membagi amal maqomi masjid ke dalam lima kerja atau aktifitas utama yaitu:
(1)    Dua ta&#8217;lim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Amal maqomi masjid sendiri merupakan kerja harian untuk kita semua kaum muslimin. Hanya mungkin saja istilah ini masih dikenal dalam lingkungan ahli da&#8217;wah dan tabligh, kaum muslimin masih belum banyak mengetahuinya dengan baik. Ahli da&#8217;wah membagi amal maqomi masjid ke dalam lima kerja atau aktifitas utama yaitu:</p>
<p>(1)    Dua ta&#8217;lim fadhoil harian, di masjid dan di rumah,</p>
<p>(2)    Dua jaulah (berkeliling silaturahmi), di masjid sendiri dan di masjid tetangga,</p>
<p>(3)    Musyawarah harian,</p>
<p>(4)    2.5 jam khususi, berkunjung di lingkungan masjid sendiri kepada masyarakat kaum muslimin, dan</p>
<p>(5)    3 hari khuruj ke masjid yang lebih jauh dari masjid kita, bagi pelajar 1 hari.</p>
<p><span id="more-117"></span>Kerja maqomi akan terus meningkat dari waktu-ke-waktu, mungkin saja tahapan seperti kita adalah tingkatan TADIKA, sehingga kita kurang serius terhadap kerja seperti ini. Kami sendiri sekarang ini lebih banyak di luar, karena urusan pekerjaan. Sehingga amal maqomi lebih banyak bolongnya, tetapi niyat terus dibangun dan kalau ada kesempatan kita bangun da&#8217;wah ke dalam lingkungan pekerjaan kita. Kami masih ingat sebuah pertanyaan ahli da&#8217;wah pada seorang ulama perihal maqomi, karena ahli da&#8217;wah ini adalah seorang dokter yang cukup sibuk dalam pekerjaannya.</p>
<p>Dan jelas, kerja maqominya akan sulit dilakukan, terutama kerja 2.5 jamnya. Dan jawabannya cukup hikmah dari ulama ini, beliau menjelaskan siapa yang sering membagikan obat ke pasien yang sakit di rumah sakit. Dokter ini menjawab bahwa yang membagikan obat ke pasien adalah perawat. Dan ulama ini menasehati bagaimana kalau sdr. sendiri yang bertemu pasien, sehingga da&#8217;wahpun dapat dilakukan juga. Dokter ini selanjutnya melaksanakannya, dan sebelum pasien makan obat selalu diajarkan untuk membaca basmalallah, atau bahkan didorong untuk sholat. Dan Alhamdulillah, berkat pikir seorang ahli da&#8217;wah itu seorang doter ini telah banyak lagi orang yang mengenal agama. Allah swt yang memberikan hidayah, dan kita hanya kerja untuk hidayah.</p>
<p>Kami yang menulis ini juga perlu terus mengingatkan diri kami dengan jalan mengulang-ulang hal itu, agar kami sendiri teringat akan kerja maqomi masjid sendiri yang sangat fundamental untuk kaum muslimin pahami dengan baik, termasuk pada keluarga kami dan juga teman-teman kami yang cukup sibuk dengan kegiatannya. Dalam tulisan ini, kami akan ungkap hal-hal perlu mendapatkan perhatian bagi kami dan juga yang lainnya, agar kita tidak tersilap atau bahkan menjadi perbincangan berkepanjangan dengan kaum muslimin yang berlum memahami, sehingga akhirnya diri kita sendiri jauh dari perkara amal maqomi sendiri.</p>
<p>Tulisan ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan umum untuk MENGGUGAH terhadap kita semua, termasuk kami sendiri:</p>
<ul>
<li>Kenapa kita perlu amal maqomi ini?</li>
<li>Kenapa kita perlu ta&#8217;lim fadhoil?</li>
<li>Kenapa kita perlu jaulah atau keliling silaturahmi di sekitar masjid kita?</li>
<li>Kenapa kita perlu jalankan 2.5 jam khususi?</li>
<li>Kenapa kita perlu musyawarah harian?</li>
<li>Kenapa kita perlu keluarkan rombongan Khuruj 3 hari dari masjid sendiri?</li>
</ul>
<p><strong>Kenapa kita perlu amal maqomi ini?</strong>Coba perhatikan dengan baik perihal program kerja di atas, dan coba kita juga pelajari arti kita BERADA dalam lingkungan kita sendiri. Serta renungi beberapa ayat ataupun hadits berkaitan dengan <strong>amalan-amalan yang berhubungan</strong> antara Ummat yang banyak diajarkan oleh guru-guru kita, apakah di masjid kita sendiri ataupun mungkin kita datang kepada guru ngaji kita.</p>
<p>Misalkan saja, jika kita bersin maka kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdallah, dan yang mendengarnya wajib menjawabnya dengan yarhamukallah. Atau juga kita sangat ditekankan untuk menyampaikan salam kepada kaum muslimin, yang kita kenal atau tidak kenal, sebagai tanda ciri-ciri kebaikan seorang muslim, sesuai anjuran Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Atau juga perihal jika ada kematian di sekitar kita, atau yang sedang sakit. Termasuk juga kita sholat berjama&#8217;ah di masjid kita sendiri. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Semua perkara-perkara itu sebenarnya HARUS menyatu ke dalam diri kita kaum muslimin, tidak kecuali siapapun orangnya. Apakah itu seorang Ulama? Apakah itu seorang dokter? Apakah itu seorang pelajar? Apakah itu seorang pedagang kaki lima? Dll. TETAPI kenapa hal itu SEKARANG ini tidak wujud di tengah-tengah kita kaum muslimin, PADAHAL kita sendiri mengetahui ajaran-ajaran itu sebenarnya telah banyak diajarkan kepada Ummat ini. Dan bahkan kita sendiri kurang banyak memperhatikan dengan baik.</p>
<p>Bahkan ibadah yang banyak memberikan pengaruh terhadap diri sendiri dan juga masyarakat, misalkan dzikir ataupun sholat. Hari ini telah hilang pengaruh hakekatnya, misalkan sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, ternyata pengaruh ini sudah mulai berkurang ataupun juga kurang memberikan kesan. Iman sebagai daya dorong amal seseorang, telah menjadi lemah dalam diri kaum muslimin. Bukan berarti kaum muslimin tidak percaya dengan adanya ajaran Sholat, ataupun azab kubur. Tetapi pengaruh atau kesan pelajaran itu sudah berkurangan.</p>
<p>Iman dan amal sholeh ini perlu disuburkan dengan baik di sekitar kita, sehingga kita dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar kita sendiri. INDIVIDUALISME telah menjadi penyakit yang menahun pada diri kita sendiri. Inilah penyakit yang telah menyebabkan BENCANA pertama kali terjadi di muka bumi. Kisah Qabil dan Habil, yang mana keduanya adalah anak dari Nabi Adam As, telah menunjukan satu penyakit yang akan terus menghantui ummat manusia dari zaman-ke-zaman. Penyakit ini yang hampir menjadikan Kaum Muslimin Aus dan Khajraz berperang, meskipun masih ada Nabi Muhammad SAW dan juga ayat Al-quran turun. Semuanya dicatat dengan baik dalam Al-quran, dan para Ulama telah memberikan penjelasannya dengan baik.</p>
<p><strong>BENAR bahwa kita berat menjalankan kerja maqomi ini, karena semua masyarakat di sekitar kita mengetahui siapa kita. Kamipun berat untuk menjalankan ini, meskipun sudah cukup lama kenal usaha da&#8217;wah ini. Disinilah awalnya kehidupan agama itu akan masuk ke dalam diri kita, kita akan berusaha mengamalkan atau berusaha mengikuti seluruh hikmah-hikmah yang diajarkan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Kita akan belajar senyum kalau bertemu tetangga kita; kita akan belajar menghormati pada yang tua; kita akan belajar menyayangi pada yang muda; kita akan belajar mendahulukan kepentingan orang lain; kita akan belajar bagaimana menghormati seorang ustadz atau alim; dsb. </strong></p>
<p>Belajar-belajar ini semua bukan lagi di atas buku, tetapi menjadi sebuah kenyataan yang memang nyata. Sehingga semangat beramal akan menjadi dorongan terhadap diri kita sendiri. Dan tidak heran jika hal ini juga akhirnya menjadikan iman kita mendapatkan tingkatan, sehingga amal mudah dijalankan. Itulah Hakekat, bukan lagi gambaran terhadap Islam itu sendiri. Mungkin kita berat, karena malu, karena takut, karena kurang percaya diri, dsb.</p>
<p><strong> Malu, Takut, kurang percaya diri dll it akan muncul di depan kita sendiri, dan jika kita usahakan melalui kerja maqomi dengan adab dan akhlaq yang memang mesti dilakukan oleh kita sendiri, maka penyakit INDIVIDUALISME dan juga perasaan-perasaan itu juga akan hilang dengan izin Allah swt dan kita dan masyarakat akan sama-samam membangun suasana itu sendiri. Sehingga kita sendiri akan senang dan mudah melakukan amal-amal baik lainnya. Saling membantu, saling menyalami, saling bertegu sapa, saling mengingatkan, akan mudah terwujud. </strong></p>
<p>Dan yang masuk ke dalam diri kita dan juga masyarakat kita adalah suasana inter-aksi dan inter-komunikasi yang berlandaskan pada adab dan akhlaq Islam, sehingga amal-amal Islam menjadi wujud dalam kehidupan masyarakat kita di sekitar masjid kita sendiri, dan terus memberikan suasana ke lingkungan yang lainnya. Oleh karena itu, kerja maqomi perlu disebarkan melalui jaulah ke dua dan bahkan 3 hari dari masjid kita sendiri, agar kita mempunyai benteng beradius cukup luas terhadap hal-hal negatif yang akan datang lagi kepada lingkungan kita.</p>
<p><strong>Kerja ini memerlukan TERTIB, karena kerja ini merupakan inter-aksi dan inter-komunikasi harian, maka musyawarahnyapun ada yang harian pula, sehingga kerja ini dapat dikendalikan dengan baik, dan juga dapat mendengarkan adab dan akhlaq Nabi ketika menjalankan hubungan dengan masyarakat umumnya. Sehingga kita sendiri akhirnya terjaga dari perkara-perkara yang kurang diharapkan. Itulah pentingnya musyawarah harian kita lakukan. </strong></p>
<p>Nanti kami lanjut lagi dalam hal &#8230;.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=117&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

