<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; maqomi</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/maqomi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (3)</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 22:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj islam]]></category>
		<category><![CDATA[maqomi]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu bersemangat musyawarah harian. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.
Kenapa Kita Perlu Musyawarah Harian?
Musyarawah ini merupakan perkara yang sangat penting bagi kita yang telah terjun ke dalam usaha da&#8217;wah ini. Kita jangan sepelekan perkara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Selanjutnya kami ajak sdr. sekalian untuk menyelami kenapa kita perlu bersemangat musyawarah harian. Mudah-mudahan Allah swt, memberikan kemudahan kepada kita, termasuk kami, untuk menjalankan hal itu dengan baik.</p>
<h3>Kenapa Kita Perlu Musyawarah Harian?</h3>
<p>Musyarawah ini merupakan perkara yang sangat penting bagi kita yang telah terjun ke dalam usaha da&#8217;wah ini. Kita jangan sepelekan perkara musyawarah ini, meskipun hanya musyawarah 5-10 menit. Banyak ayat Quran dan hadits yang menjelaskan perihal musyawarah ini, bahkan kisah-kisah musyawarah di kalangan para Shahabat RA.</p>
<p><span id="more-121"></span>Kami yang setidaknya membaca pelajaran ilmu umum yang berasal dari bangsa lain, telah terbukti bahwa pertemuan rutin setiap hari untuk membahas masalah dan menyelesaikannya secara bersama, meskipun hanya beberapa menit saja, telah memberikan pengaruh besar bagi perusahaan-perusahaan mereka. Dan akhirnya memberikan pengaruh pada negara tersebut. Itu adalah kebiasaan yang dilakukan di perusahaan-perusahaan besar, seperti di Korea, Jepang dll.</p>
<p>Apalagi seperti kita yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini? Karena kerja kita ini adalah untuk diri kita dan juga kaum muslimin, agar Allah swt memberikan rahmat dan hidayahnya. Kita perlu musyawarah dengan sungguh-sungguh dan juga pikir yang benar. Musyawarah harian akan membiasakan kerja kita dalam kebersamaan atau ijtimaiyyah, sehingga kita akan selalu mempunyai pikir dan kerja yang sama. <strong>Tanpa adanya pikir dan kerja yang sama, kerja kita akan nafsi-nafsi dan biasanya saling menyalahkan satu sama lain jika ada sesuatu yang kurang berkenan</strong>. Hal ini perlu menjadi perhatian penting bagi kita semua, kita perlu menjaga kesatuan hati di antara kaum muslimin. Kita sendiri sangat memahami hal ini, karena kejadian-kejadian seperti ini dapat juga terjadi dalam semua lapangan kehidupan kita sendiri. Sehingga bagaimana kita dapat mencapai apa yang menjadi keinginan kita kalau sudah seperti itu.</p>
<p><strong>Musyawarah ini telah banyak hilang dalam kehidupan kaum muslimin</strong>, sehingga perkara-perkara kecil saja dapat menghasilkan masalah-masalah besar di antara kaum muslimin. Bahkan musyawarah bukan lagi menjadi kebiasaan di dalam rumah tangga kaum muslimin. Itulah kita perlu bersungguh-sungguh untuk menjalankan musyawarah ini, dan kita libatkan kaum muslimin dalam musyawarah harian kita. Sehingga mereka mengetahui apa yang dipikirkan atau dibahas dalam musyawarah kita.</p>
<p>Dan kami pribadi melihat bahwa musyawarah ini sangat fundamental bagi kaum muslimin. Kami terlibat dalam mudzakarah-mudzakarah dengan sebagian kaum muslimin perihal usaha da&#8217;wah ini, karena sebagian kaum muslimin ini banyak memberikan pandangan yang berlebihan dan kurang tepat tentang usaha da&#8217;wah. Sehingga mudzakarah-mudzakarah ini tidak banyak memberikan kerangka kebersamaan di antara kaum muslimin. <strong>Karena kaum muslimin yang pertama kali menyampaikan pandangannya, tidak dapat serta merta mengakui atau memahami apa yang kita sampaikan</strong> sebagai bentuk pandangan berimbang ataupun pelurusan.</p>
<p>Setelah sekian lama kami bermudzakarah, akhirnya kami mendapatkan satu titik terang bahwa memang kaum muslimin belum mempunyai kebersamaan untuk saling bermusyawarah. Bahkan kami yang sering mendapatkan pandangan yang kurang tepat atau kesewenang-wenangan dari sebagian kaum muslimin, kadangkala berpikir untuk tidak terlalu dalam dalam perbicangan tersebut. Mudah-mudahan di masa depan, adanya forum saling bertukar pikiran di antara ulama atau ustadz di antara kaum muslimin terhadap keadaan kaum muslimin sendiri, sehingga hal-hal yang kurang diinginkan kita dapat menyampaikannya dengan baik pula.</p>
<p>Kembali pada bahasan kita, yaitu <strong>kenapa kita perlu bersemangat dengan musyawarah harian ini</strong>? Musyawarah yang kita lakukan sebagai bagian dari amal maqomi kita merupakan sebuah sarana untuk memudzakarahkan dan menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan kerja atau program harian ataupun yang berkaitan dengan kerja da&#8217;wah itu sendiri. <strong>Musyawarah harian kita pertama kali perlu fokuskan dan prioritaskan pada amal maqomi itu sendiri</strong>, seperti ta&#8217;lim harian, jaulah masjid, jaulah dua, keluar 3 hari, 2.5 jam khususi harian. Sehingga kita mempunyai arah yang jelas terhadap kerja maqomi itu sendiri.</p>
<p>Dan kita biasakan untuk memulai dari kecil secara bertahap terus meningkat. Itulah yang banyak diajarkan oleh Nabi kita Nabi Muhammad SAW. Insya Allah, ini akan terus meningkat sesuai kapasitasnya dengan baik juga. <strong>Bermula musyawarah harian</strong> untuk menentukan terlebih dahulu siapa yang akan memberikan pikir musyawarah besoknya, juga ta&#8217;lim fadhoil harian dan juga siapa yang akan dikunjungi besok atau hari ini.</p>
<p>Kerja maqomi di masjid kita seperti perusahaan atau pabrik, sehingga kita perlu mengamati dan menyelesaikan hal-hal yang kurang berkenan untuk kerja da&#8217;wah ini. Jika sekitar masjid kita ada sekitar 100 keluarga, sedangkan yang masih datang ke masjid baru sekitar 20 orang, maka kita masih ada target bagimana yang datang ke masjid untuk sholat berjamaah menjadi 30 orang, terus menjadi 40 orang, sampai akhirnya semua laki-laki dewasanya mau untuk sholat berjama&#8217;ah.</p>
<p>Jika kita mengetahui bahwa yang baru ikut ta&#8217;lim fadhoil baru sekitar 4 orang, kita perlu pikirkan lagi bagaimana menjadi 10 orang, bagaimana menjadi 20 orang, terus begitu. Jika di sekitar masjid kita, baru 2 orang yang sudah mempunyai ta&#8217;lim harian di rumah, maka kita perlu pikirkan kembali menjadi 5 orang, terus 10 keluarga, terus menjadi 30 keluarga, sampai akhirnya semua keluarga menjalankan ta&#8217;lim harian ini dengan baik.</p>
<p>Kita dapat bermusyawarah perkara bagaimana jaulah dilakukan di tempat sendiri, dan juga masjid tetangga. Dan setelah itu, kita dapat musyawarahkan hal-hal yang berkaitan dengan da&#8217;wah misalkan nusrah rombongan, menyiapkan orang yang akan keluar 40 hari atau 4 bulan dsb. Kita juga dapat kirimkan wakil untuk dapat ikut serta dalam musyawarah halaqah, dimana kita sendiri dapat menyampaikan pikir bagaimana membentuk rombongan 3 hari yang belum dapat dibentuk dari masjid sendiri. Atau juga bagaimana membantu rombongan dari halaqah lain ataupun dari yang lainnya.</p>
<p><strong>Dan yang terpenting, musyawarah ini akan memberikan pengaruh tertib pada diri kita terhadap masyarakat kita sendiri</strong>. Sehingga kebaikan itu secara automatis akan kepada diri kita sendiri terlebih dahulu, misalkan saja jika kita sebelum terjun dalam usaha da&#8217;wah ini, kita ini dikenal sebagai orang yang kurang baik di tengah-tengah masyarakat kita.</p>
<p>Maka dengan adanya musyawarah, ketika kita akan bertemu khususi misalnya, maka kita akan mendapatkan nasehat-nasehat atau pesan-pesan dari teman kita yang lain untuk berlaku sabar, tenang, tidak tergesa-gesa. Dan Insya Allah, adab-adab dan juga akhlaq ini akan lebih memberikan warna, karakter baik dan sedikit-demi-sedikit akan menghilang karakter tidak baik kita dan juga memberikan kesan yang baik kepada kaum muslimin di sekitar kita. Kita tetapkan untuk selalu ikut serta dalam musyawarah, apakah itu di masjid sendiri ataupun di halaqah bahkan di markaz kota kita.</p>
<p>Kami penulis sendiri pernah diminta teman lama kami untuk selalu hadir musyawarah markaz dan tidak perlu menyampaikan usulan-usulan dalam musyawarah itu, cukup duduk dan dengar saja. Setelah sekian lama, baru kami menyadari pengaruh yang sangat signifikan dari musyawarah ini sendiri. Oleh karena itu, kita perlu tetap menjaga tertib dan adab ketika menjalankan musyawarah itu, agar kita semua mendapatkan kesan-kesan untuk di kita dan kaum muslimin.</p>
<p>Nanti kita lanjut lagi &#8230;. Insya Allah.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=121&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Kita Perlu Bersemangat dalam Amal Maqomi Masjid Sendiri? (1)</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 22:19:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[kerja tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj islam]]></category>
		<category><![CDATA[maqomi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Amal maqomi masjid sendiri merupakan kerja harian untuk kita semua kaum muslimin. Hanya mungkin saja istilah ini masih dikenal dalam lingkungan ahli da&#8217;wah dan tabligh, kaum muslimin masih belum banyak mengetahuinya dengan baik. Ahli da&#8217;wah membagi amal maqomi masjid ke dalam lima kerja atau aktifitas utama yaitu:
(1)    Dua ta&#8217;lim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Amal maqomi masjid sendiri merupakan kerja harian untuk kita semua kaum muslimin. Hanya mungkin saja istilah ini masih dikenal dalam lingkungan ahli da&#8217;wah dan tabligh, kaum muslimin masih belum banyak mengetahuinya dengan baik. Ahli da&#8217;wah membagi amal maqomi masjid ke dalam lima kerja atau aktifitas utama yaitu:</p>
<p>(1)    Dua ta&#8217;lim fadhoil harian, di masjid dan di rumah,</p>
<p>(2)    Dua jaulah (berkeliling silaturahmi), di masjid sendiri dan di masjid tetangga,</p>
<p>(3)    Musyawarah harian,</p>
<p>(4)    2.5 jam khususi, berkunjung di lingkungan masjid sendiri kepada masyarakat kaum muslimin, dan</p>
<p>(5)    3 hari khuruj ke masjid yang lebih jauh dari masjid kita, bagi pelajar 1 hari.</p>
<p><span id="more-117"></span>Kerja maqomi akan terus meningkat dari waktu-ke-waktu, mungkin saja tahapan seperti kita adalah tingkatan TADIKA, sehingga kita kurang serius terhadap kerja seperti ini. Kami sendiri sekarang ini lebih banyak di luar, karena urusan pekerjaan. Sehingga amal maqomi lebih banyak bolongnya, tetapi niyat terus dibangun dan kalau ada kesempatan kita bangun da&#8217;wah ke dalam lingkungan pekerjaan kita. Kami masih ingat sebuah pertanyaan ahli da&#8217;wah pada seorang ulama perihal maqomi, karena ahli da&#8217;wah ini adalah seorang dokter yang cukup sibuk dalam pekerjaannya.</p>
<p>Dan jelas, kerja maqominya akan sulit dilakukan, terutama kerja 2.5 jamnya. Dan jawabannya cukup hikmah dari ulama ini, beliau menjelaskan siapa yang sering membagikan obat ke pasien yang sakit di rumah sakit. Dokter ini menjawab bahwa yang membagikan obat ke pasien adalah perawat. Dan ulama ini menasehati bagaimana kalau sdr. sendiri yang bertemu pasien, sehingga da&#8217;wahpun dapat dilakukan juga. Dokter ini selanjutnya melaksanakannya, dan sebelum pasien makan obat selalu diajarkan untuk membaca basmalallah, atau bahkan didorong untuk sholat. Dan Alhamdulillah, berkat pikir seorang ahli da&#8217;wah itu seorang doter ini telah banyak lagi orang yang mengenal agama. Allah swt yang memberikan hidayah, dan kita hanya kerja untuk hidayah.</p>
<p>Kami yang menulis ini juga perlu terus mengingatkan diri kami dengan jalan mengulang-ulang hal itu, agar kami sendiri teringat akan kerja maqomi masjid sendiri yang sangat fundamental untuk kaum muslimin pahami dengan baik, termasuk pada keluarga kami dan juga teman-teman kami yang cukup sibuk dengan kegiatannya. Dalam tulisan ini, kami akan ungkap hal-hal perlu mendapatkan perhatian bagi kami dan juga yang lainnya, agar kita tidak tersilap atau bahkan menjadi perbincangan berkepanjangan dengan kaum muslimin yang berlum memahami, sehingga akhirnya diri kita sendiri jauh dari perkara amal maqomi sendiri.</p>
<p>Tulisan ini terdiri dari pertanyaan-pertanyaan umum untuk MENGGUGAH terhadap kita semua, termasuk kami sendiri:</p>
<ul>
<li>Kenapa kita perlu amal maqomi ini?</li>
<li>Kenapa kita perlu ta&#8217;lim fadhoil?</li>
<li>Kenapa kita perlu jaulah atau keliling silaturahmi di sekitar masjid kita?</li>
<li>Kenapa kita perlu jalankan 2.5 jam khususi?</li>
<li>Kenapa kita perlu musyawarah harian?</li>
<li>Kenapa kita perlu keluarkan rombongan Khuruj 3 hari dari masjid sendiri?</li>
</ul>
<p><strong>Kenapa kita perlu amal maqomi ini?</strong>Coba perhatikan dengan baik perihal program kerja di atas, dan coba kita juga pelajari arti kita BERADA dalam lingkungan kita sendiri. Serta renungi beberapa ayat ataupun hadits berkaitan dengan <strong>amalan-amalan yang berhubungan</strong> antara Ummat yang banyak diajarkan oleh guru-guru kita, apakah di masjid kita sendiri ataupun mungkin kita datang kepada guru ngaji kita.</p>
<p>Misalkan saja, jika kita bersin maka kita dianjurkan untuk mengucapkan hamdallah, dan yang mendengarnya wajib menjawabnya dengan yarhamukallah. Atau juga kita sangat ditekankan untuk menyampaikan salam kepada kaum muslimin, yang kita kenal atau tidak kenal, sebagai tanda ciri-ciri kebaikan seorang muslim, sesuai anjuran Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Atau juga perihal jika ada kematian di sekitar kita, atau yang sedang sakit. Termasuk juga kita sholat berjama&#8217;ah di masjid kita sendiri. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Semua perkara-perkara itu sebenarnya HARUS menyatu ke dalam diri kita kaum muslimin, tidak kecuali siapapun orangnya. Apakah itu seorang Ulama? Apakah itu seorang dokter? Apakah itu seorang pelajar? Apakah itu seorang pedagang kaki lima? Dll. TETAPI kenapa hal itu SEKARANG ini tidak wujud di tengah-tengah kita kaum muslimin, PADAHAL kita sendiri mengetahui ajaran-ajaran itu sebenarnya telah banyak diajarkan kepada Ummat ini. Dan bahkan kita sendiri kurang banyak memperhatikan dengan baik.</p>
<p>Bahkan ibadah yang banyak memberikan pengaruh terhadap diri sendiri dan juga masyarakat, misalkan dzikir ataupun sholat. Hari ini telah hilang pengaruh hakekatnya, misalkan sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, ternyata pengaruh ini sudah mulai berkurang ataupun juga kurang memberikan kesan. Iman sebagai daya dorong amal seseorang, telah menjadi lemah dalam diri kaum muslimin. Bukan berarti kaum muslimin tidak percaya dengan adanya ajaran Sholat, ataupun azab kubur. Tetapi pengaruh atau kesan pelajaran itu sudah berkurangan.</p>
<p>Iman dan amal sholeh ini perlu disuburkan dengan baik di sekitar kita, sehingga kita dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar kita sendiri. INDIVIDUALISME telah menjadi penyakit yang menahun pada diri kita sendiri. Inilah penyakit yang telah menyebabkan BENCANA pertama kali terjadi di muka bumi. Kisah Qabil dan Habil, yang mana keduanya adalah anak dari Nabi Adam As, telah menunjukan satu penyakit yang akan terus menghantui ummat manusia dari zaman-ke-zaman. Penyakit ini yang hampir menjadikan Kaum Muslimin Aus dan Khajraz berperang, meskipun masih ada Nabi Muhammad SAW dan juga ayat Al-quran turun. Semuanya dicatat dengan baik dalam Al-quran, dan para Ulama telah memberikan penjelasannya dengan baik.</p>
<p><strong>BENAR bahwa kita berat menjalankan kerja maqomi ini, karena semua masyarakat di sekitar kita mengetahui siapa kita. Kamipun berat untuk menjalankan ini, meskipun sudah cukup lama kenal usaha da&#8217;wah ini. Disinilah awalnya kehidupan agama itu akan masuk ke dalam diri kita, kita akan berusaha mengamalkan atau berusaha mengikuti seluruh hikmah-hikmah yang diajarkan oleh Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Kita akan belajar senyum kalau bertemu tetangga kita; kita akan belajar menghormati pada yang tua; kita akan belajar menyayangi pada yang muda; kita akan belajar mendahulukan kepentingan orang lain; kita akan belajar bagaimana menghormati seorang ustadz atau alim; dsb. </strong></p>
<p>Belajar-belajar ini semua bukan lagi di atas buku, tetapi menjadi sebuah kenyataan yang memang nyata. Sehingga semangat beramal akan menjadi dorongan terhadap diri kita sendiri. Dan tidak heran jika hal ini juga akhirnya menjadikan iman kita mendapatkan tingkatan, sehingga amal mudah dijalankan. Itulah Hakekat, bukan lagi gambaran terhadap Islam itu sendiri. Mungkin kita berat, karena malu, karena takut, karena kurang percaya diri, dsb.</p>
<p><strong> Malu, Takut, kurang percaya diri dll it akan muncul di depan kita sendiri, dan jika kita usahakan melalui kerja maqomi dengan adab dan akhlaq yang memang mesti dilakukan oleh kita sendiri, maka penyakit INDIVIDUALISME dan juga perasaan-perasaan itu juga akan hilang dengan izin Allah swt dan kita dan masyarakat akan sama-samam membangun suasana itu sendiri. Sehingga kita sendiri akan senang dan mudah melakukan amal-amal baik lainnya. Saling membantu, saling menyalami, saling bertegu sapa, saling mengingatkan, akan mudah terwujud. </strong></p>
<p>Dan yang masuk ke dalam diri kita dan juga masyarakat kita adalah suasana inter-aksi dan inter-komunikasi yang berlandaskan pada adab dan akhlaq Islam, sehingga amal-amal Islam menjadi wujud dalam kehidupan masyarakat kita di sekitar masjid kita sendiri, dan terus memberikan suasana ke lingkungan yang lainnya. Oleh karena itu, kerja maqomi perlu disebarkan melalui jaulah ke dua dan bahkan 3 hari dari masjid kita sendiri, agar kita mempunyai benteng beradius cukup luas terhadap hal-hal negatif yang akan datang lagi kepada lingkungan kita.</p>
<p><strong>Kerja ini memerlukan TERTIB, karena kerja ini merupakan inter-aksi dan inter-komunikasi harian, maka musyawarahnyapun ada yang harian pula, sehingga kerja ini dapat dikendalikan dengan baik, dan juga dapat mendengarkan adab dan akhlaq Nabi ketika menjalankan hubungan dengan masyarakat umumnya. Sehingga kita sendiri akhirnya terjaga dari perkara-perkara yang kurang diharapkan. Itulah pentingnya musyawarah harian kita lakukan. </strong></p>
<p>Nanti kami lanjut lagi dalam hal &#8230;.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=117&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-kita-perlu-bersemangat-dalam-amal-maqomi-masjid-sendiri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

