<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; Pikir</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/pikir/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Marilah kita banyak mengisahkan cerita Para Shahabat RA!</title>
		<link>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 22:16:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah-Kisah Tauladan]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Para Shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.
Tulisan ini terinspirasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Segala puji bagi Allah swt yang telah banyak memberikan ni&#8217;mat kepada kita semua, terutama dengan ni&#8217;mat Iman dan Islam. Dan juga sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, dan juga kepada para shahabat RA yang telah memberikan pengorbanan untuk tersebarnya risalah Islam dan sampai kepada kita semua.</p>
<p>Tulisan ini terinspirasi dengan nasehat dari seorang ulama dan guru yang banyak memberikan pengaruh kepada penulis sendiri, yaitu Maulana Ilyas. Beliau memberikan nasehatnya dengan lugas dan tegas, &#8220;Janganlah menceritakan tentang aku, tetapi banyakkanlah bercerita tentang para Shahabat RA&#8221;. Ucapan yang sederhana tetapi mempunyai makna yang sangat dalam. Penulis sendiri pernah ditegur oleh seseorang dikarenakan penulis banyak bercerita tentang beliau itu dalam satu ceramah, &#8220;Kita bersyukur dengan kerja agama ini, dan beliaulah yang mengajarkan kepada kita, tetapi para Shahabat RA telah dinyatakan langsung oleh Allah swt, sebagai generasi yang diridhoiNya meskipun masih ada di dunia yang fana ini. Oleh karena itu kita mesti banyak-banyak menceritakan para shahabat RA itu&#8221;.</p>
<p><span id="more-70"></span>Tulisan ini untuk memberikan tambahan terhadap tulisan-tulisan sebelumnya, yaitu karakter, kerja dan pikir salafush sholeh. Mudah-mudahan tulisan ini memberikan kesadaran kepada kita untuk lebih banyak menceritakan kisah-kisah generasi para Shahabat RA, dan tentunya mengikuti langkah-langkahnya dengan baik. Sehingga kepahaman kita terhadap karakter, kerja dan pikir generasi para shahabat dalam didalami dan dihayati.</p>
<p><strong>Ridho Allah swt untuk Generasi Shahabat RA </strong></p>
<p>Allah swt menyatakan dengan tegas dalam satu ayatnya:</p>
<p><em>&#8220;Generasi awwalun dari Muhajirin dan Anshor, dan orang-orang yang mengikuti langkah mereka dengan baik, Allah swt ridho kepada mereka dan juga mereka ridho kepada Allah swt&#8221; (QS: 9-100)</em></p>
<p>Allah swt yang mempunyai sifat-sifat yang mulia, dan sebagai pencipta alam jagat raya ini, termasuk manusia, terlebih dahulu menyatakan keridhoanNya kepada generasi pertama dan juga generasi yang mengikutinya dengan baik.</p>
<p>Dan kita, sebagai generasi yang sangat jauh dengan generasi Shahabat RA itu, sangat perlu mengetahui generasi dengan baik, apakah ucapan-ucapannya, apakah dialog-dialognya, apakah perilaku-perilakunya. Dan untuk mengetahui itu, kita perlu terus mendorong kaum muslimin untuk lebih banyak mengisahkan kisah-kisah generasi Shahabat RA, sehingga hikmah-hikmahnya dapat direnungi, dihanyati, dan didalami dengan baik, yang akhirnya memberikan dorong atau juga spririt yang dalam bagi kita untuk melakukan perubahan-perubahan dalam berbagai kehidupan di kaum muslimin.</p>
<p>Seorang yang kaya akan dapat belajar dari hikmah yang dimiliki Abu Bakar RA dan Ustman RA. Seorang pemimpin akan dapat belajar dari hikmah Ummar RA, dan juga Ali Bin Abi Thalib RA. Seorang anak muda dapat belajar dari kepiwaian Musaib bin Umair RA ketika dialog dengan orang-orang Madinah. Seorang gadis dapat belajar dari hikmah Siti Fathimah RA dan Siti Aisyah RA ketika masih gadis. Seorang anak kecil akan bisa belajar hikmah dari kisah Hasan RA dan Husein ketika masih kecil.</p>
<p>Kisah-kisah ini telah mewujudkan hikmah-hikmah dan juga pelajaran-pelajaran yang berharga, kita tidak hanya belajar dari ucapan-ucapannya saja yang kadangkala kita tidak mempelajari bagaimana generasi Para Shahabat RA meaktualkanya, tetapi ada makna dan hikmah yang lebih dalam dari perilaku generasi.</p>
<p>Saat ini, kita telah banyak diberikan kisah-kisah atau cerita-cerita yang dapat memberikan efek kepada perilaku kita secara langsung dan tidak langsung. Media cetak, media komunikasi, media elektronik, dan apa lagi di masa depan akan muncul, telah memberikan kisah-kisah atau cerita-cerita glamorisasi dalam kehidupan, kekerasan sampai dengan pembunuhan dan perkosaan, aib-aib telah banyak bersuliweran dalam kehidupan kita kaum muslimin, saling menghina dan mengolok-olokan bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu. Oleh karena itu, marilah kita banyak mengisahkan generasi Para Shahabat RA yang telah banyak memberikan banyak pelajaran.</p>
<p><strong>Kisah Yang Berkesan</strong></p>
<p>Para Shahabat RA telah menjadi generasi yang unggul dan telah membaktikan waktu, jiwa dan hartanya untuk tersebar dan wujud di dunia ini. Generasi ini telah mewujudkan Islam dalam diri-diri mereka, sehingga kecermelangan dan keberkahan Islam bukan lagi menjadi slogan-slogan, tetapi wujud dengan indahnya dalam kehidupan mereka itu. Sehingga perlu banyak belajar dari generasi itu dengan baik, dengan harapan kita dapat mencontohnya dalam berbagai kehidupannya. Penulis mencoba menuliskan beberapa kisah yang berkesan utuk penulis, dalam kesempatan ini satu dahulu.</p>
<p>Siti Fathimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW, telah mendapatkan kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya. Dan kalung itu adalah barang yang sangat berharga dan bernilai yang tidak terkira bagi Siti Fathimah RA. Satu ketika, telah datang seorang miskin ke masjid dan bertemu dengan Rasulullah SAW untuk mendapatkan makanan karena orang miskin sudah beberapa hari tidak makan. Bisa kita bayangkan bagaimana kerendahan hati Rasulullah SAW dalam menghadapi hal ini, Rasulullah SAW masih mau menemui orang miskin ini, bahkan orang ini meminta makanan. Sikap tauladan telah diwujudkan oleh Nabi kita, dan hal ini tidak mudah bagi kita untuk mengikutinya. Karena saat ini kita kadangkala menyepelekan orang miskin.</p>
<p>Dan Rasulullah SAW dengan hikmah menyuruhnya untuk bertemu dengan anaknya, Siti Fathimah RA, padahal Rasulullah SAW paham betul dengan anaknya, dan juga mantunya Ali Bin Abi Thalib, sangat berkurangan juga. Dalam hal ini, Rasulullah SAW memperlihatkan kembali tauladannya, bahwa meskipun anaknya berkurangan juga, pasti mau memberikan solusi terhadap hal ini. Karena memuliakan tamunya merupakan tanda-tanda beriman kepada Allah swt dan Akherat.</p>
<p>Sesampai di rumahnya, orang miskin ini menjelaskan maksudnya itu. Siti Fathimah RA jelas bingung karena memang kelurganya berkurangan. Beliau ini terus mencoba mencari jawabannya, dan tidak sengaja beliau ketika memegang kalungnya itu. Dan tidak banyak berpikir pandang lebar, beliau menyerahkan itu. Jelas orang miskin tidak bisa menerimanya, karena yang diminta adalah makanan. Beliau menyuruhnya untuk bertemu kembali dengan Rasulullah SAW tentang hal. Bisa kita bayangkan, kalung pemberian dari ibunya yang sangat dicintainya itu diberikan kepada orang lain. Sifat yang menunjukkan bahwa memberikan pemberian yang lebih dicintainya telah diwujudkan oleh Siti Fathimah RA.</p>
<p>Orang miskin ini menemui lagi, dan menjelaskan perkaranya. Dan menyerahkan kalung dari Siti Fathimah RA itu. Bisa kita bayangkan, bagaimana Rasulullah SAW terkejutnya dengan hal ini. Rasulullah SAW jelas termenung, bersyukur dan bercampur haru menjadi satu. Bersyukur karena anaknya telah menjadi seorang perempuan yang sangat mulia, dan terharunya adalah Rasulullah SAW tahu betul itu adalah kalung pemberian istrinya yang sangat dicintainya. Coba kita bayangkan, kalau kita mendapatkan baju pemberian kita untuk anak kita, terus sudah ada ditangan orang lain. Kita akan marah sama anak kita. Tetapi Rasulullah SAW tetap menunjukkan sifat tauladannya.</p>
<p>Akhirnya Rasulullah SAW mempersilahkan kepada orang miskin itu untuk menjualnya. Dan ada seorang Shahabat RA yang membelinya dan ditukar dengan makanan dan barang-barang yang diperlukannya untuk orang miskin ini. Tetapi jelas bahwa hal itu bukan untuk keperluannya, tetapi karena hanya membantu orang miskin itu. Sesampainya di rumah Shahabat itu menyuruh kepada pembantunya untuk menyerahkan kalung ini kepada Rasulullah SAW, karena kalau diserahkan kepada siti Fathimah RA tidak pada tempatnya. Dan sampaikan ini merupakan hadiah dari shahabat itu, dan pembantunya itu dibebaskan dari majikannya itu sebagai hadiah kalau memang kalung itu diterima oleh Rasulullah SAW. Dan Rasulullah SAW menerima kalung itu, dan menyerahkan kembali kepada Siti Fathimah RA.</p>
<p>Bisa kita bayangkan, ada seorang shahabat RA yang sangat berhati-hati untuk menyerahkan kalung itu karena takut dengan fitnah, dan bahkan telah bebasnya seorang pembantu dari ikatan dengan majikannya, orang miskin telah mendapatkan apa yang diperlukannya dan bahkan berlebih, dan anak seorang Rasul memberikan pengorbanan yang luar biasa. Itu kisah yang sangat terkesan. Dan banyak hikmah yang dapat kita peroleh.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita banyak kisahkan dari para shahabat RA untuk kita dan dapat memberikan dorongan atau spirit perubahan kehidupan kaum muslimin di masa depan. Mudah-mudah kisah-kisah lebih memahami terhadap karakter utama manhaj generasi shahabat RA, kerja manhaj Shahabat RA dan pikir generasi itu.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=70&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/marilah-kita-banyak-mengisahkan-cerita-para-shahabat-ra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banyakkanlah Tafakkur dan Berpikir</title>
		<link>http://usahadawah.com/banyakkanlah-tafakkur-dan-berpikir/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/banyakkanlah-tafakkur-dan-berpikir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 00:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Amar Ma'ruf Nahi Mungkar]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>
		<category><![CDATA[tafakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Kami sering kali diberikan nasehat oleh ahli-ahli da&#8217;wah untuk selalu bertafakur dan berpikir. Karena jika tanpa hal itu, maka langkah-langkah yang dilakukan menjadi bentuk kebiasaan atau adat saja. Untuk hal ini, musyawarah yang sering dilakukan, apakah musyawarah dengan ahli keluarga di rumah, apakah musyawarah harian di masjid sendiri, apakah itu di malam musyawarah mingguan, apakah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kami sering kali diberikan nasehat oleh ahli-ahli da&#8217;wah untuk selalu bertafakur dan berpikir. Karena jika tanpa hal itu, maka langkah-langkah yang dilakukan menjadi bentuk kebiasaan atau adat saja. Untuk hal ini, musyawarah yang sering dilakukan, apakah musyawarah dengan ahli keluarga di rumah, apakah musyawarah harian di masjid sendiri, apakah itu di malam musyawarah mingguan, apakah itu pada saat malam markaz, dan seterusnya, ternyata pikir dan kerisauan terus dapat terjaga dan tumbuh dengan baik. Musyawarah telah memberikan pikir yang terus tumbuh tidak hanya di kalangan khusus tertentu, bahkan kaum muslimin yang yang sering dianggap rendah oleh kebanyakan manusia, dan kami sendiri mendapatkan pengaruh ini bukan dari seorang ulama atau ustadz tetapi dari seorang pedagang biasa dan juga pengasuh becak yang mempunyai pikir dan kerisauan. Oleh karena itu kami memahami betul dengan pentingnya memperbanyak tafakkur dan juga berpikir.</p>
<p><span id="more-78"></span>Sehingga setelah sekian lama kami belajar usaha da&#8217;wah dan tabligh, kurang lebih 14 tahun, ternyata kami masih sedikit yang kami pahami dalam usaha da&#8217;wah dan silaturahmi ini. Tafakkur dan juga berpikir inilah yang kami pergunakan untuk lebih memahami usaha da&#8217;wah ini dan tentunya dengan menggunakan pendekatan yang beragam:</p>
<ul>
<li> kami perlu terus untuk dapat berhubungan dengan teman-teman kami dan juga ahli-ahli da&#8217;wah yang sudah lama;</li>
<li> kami perlu banyak mencari sumber-sumber yang baik dan beragam yang telah ditulis para Ulama, tidak hanya dari para ulama yang telah lama terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini;</li>
<li> kami perlu menjaga silaturahmi dengan para ustadz dan ulama, meskipun tidak ada hubungannya dengan usaha da&#8217;wah ini;</li>
<li> dan keempat kami perlu menggunakan pendekatan yang berasal dari keilmuan umum yang kami pelajari dari waktu-ke-waktu, pendekatan keempat ini dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan oleh kami sebelumnya, tetapi Salman Al-Farisi RA telah membuktikannya ketika memberikan kerangka masukan kepada Rasulullah SAW dalam perjuangan khandaq. Itulah yang menjadikan kami juga menggunakan pendekatan keempat yang mungkin tidak umum.</li>
</ul>
<p>Untuk kepentingan hal ini, kami sampaikan beberapa ayat al-quran untuk memberikan kepentingannya untuk selalu bertafakkur dan juga berpikir. Dan kami tidak berikan penafsiran terhadap ayat-ayat yang bersangkutan, karena banyak lagi ulama-ulama yang sangat faqih dengan hal ini. Tetapi kami mengajak bersama-sama bertafakkur dan berpikir terhadap hal-hal yang unik terjadi di dalamnya, sehingga kita dapat mengetahui bahwa Allah swt memberikan karunia kepada kita satu perangkat yang sangat penting yaitu kemampuan untuk berpikir. Oleh karena itu kita sebagai kaum muslimin hendaknya untuk memanfaatkan kemampuan itu untuk bertafakkur dan berpikir terhadap hal-hal yang berhubungan dengan kita sendiri. Jangan sampai kita tidak memanfaatkannya dengan baik, akhirnya kita sendiri, kaum muslimin, mengalami kesusahan dan juga penderitaan. Bertafakkur dan berpikir tidak hanya untuk memikirkan penciptaan alam semesta ini, ternyata lebih luas dari itu.</p>
<p align="right"><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091807-0445-banyakkanla1.png" alt="091807-0445-banyakkanla1.png" /></p>
<p><em>&#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk&#8221; (QS Ali Imran:103)</em></p>
<p>Kisah sejarah kaum muslimin di jaman Rasulullah SAW dan Para Shahabat RA, dimana hampir terjadi pertempuran yang sangat hebat di antara kaum muslimin, antara Aus dan Khazraj. Oleh karena itu dengan karunia kemampuan untuk bertafakkur dan berpikir inilah kita dapat memperoleh hikmah di balik kisah itu. Dan Allah swt merekam kejadian itu di dalam beberapa ayat dalam Surat Ali Imran, agar kita semua mendapatkan petunjuk atau juga arahan yang benar. Sehingga hal itu tidak terjadi lagi di kemudian hari, atau juga akan lebih waspada terhadap hal-hal yang dapat mendorong kearah pertingkaian di antara kaum muslimin itu sendiri. Kita dapat mempelajari Ali Imran: 103 dari beberapa tafsir yang telah menjelaskan dengan sangat baik dan sistematik.</p>
<p align="right"><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091807-0445-banyakkanla2.png" alt="091807-0445-banyakkanla2.png" /></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal&#8221; (QS Ali Imran:190)</em></p>
<p>Allah swt memberikan penegasan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi, begitupun juga dengan pergantian siang dan malam, terdapat pelajaran-pelajaran yang berharga bagi orang yang selalu berpikir.</p>
<p align="right"><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091807-0445-banyakkanla3.png" alt="091807-0445-banyakkanla3.png" /></p>
<p><em>&#8220;(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal&#8221; (QS Al-Baqarah: 197)</em></p>
<p>Allah swt mengajak kaum muslimin untuk menggunakan pikirannya dan juga akalnya ketika mengerjakan amal ibadah, seperti haji. Haji, sebagai rukun islam kelima, merupakan amal ibadah yang memerlukan kesiapan yang tidak sedikit. Bahkan jumlah kaum muslimin yang mengerjakannya bukan lagi 2.000 orang atau 10.000 orang, tetapi sudah sangat banyak sekali, bisa sampai 3 juta orang lebih. Disinilah Allah swt mengingatkan kita untuk menggunakan akal yang telah dikarunikanNya. Dan kita bisa bayangkan apa yang kira-kira terjadi ketika berkumpul sebanyak itu, ada yang muda dan tua, ada yang besar dan kecil, ada laki-laki dan perempuan, ada dari berbagai negara dan suku.</p>
<p align="right"><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091807-0445-banyakkanla4.png" alt="091807-0445-banyakkanla4.png" /></p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.&#8221; (QS Al-Maidah: 100)</em></p>
<p>Tidak ada di antara kita yang tidak berkinginan untuk mendapatkan keberuntungan atau kesuksesan. Oleh karena itu Allah swt mengajak orang-orang yang mempunyai pikiran (akal) untuk selalu memperhatikan antara yang baik dan buruk dalam kehidupan kita. Dan ternyata sekarang ini apa-apa yang tidak baik di sisi Allah swt lebih banyak memberikan pengaruh kepada kita, kaum muslimin, dan bahkan memberikan daya tarik yang luar biasa. Disinilah kita perlu mempunyai pikiran kenapa hal itu terjadi dan bagaimana memberikan jawabannya. Kita dapat mengamati apa-apa yang terjadi di lingkungan kita sendiri, apakah itu di kantor, apakah itu di pasar, apakah di halte bus, apakah itu terminal.</p>
<p align="right"><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091807-0445-banyakkanla5.png" alt="091807-0445-banyakkanla5.png" /></p>
<p><em>&#8220;Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran&#8221; (QS Ar-Ra&#8217;d:19)</em></p>
<p align="right"><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091807-0445-banyakkanla6.png" alt="091807-0445-banyakkanla6.png" /></p>
<p><em>&#8220;Maka tidakkah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal&#8221; (QS Thaahaa: 120)</em></p>
<p>Sejarah telah banyak memberikan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga kepada kita semua, bagaimana kisah di jaman Nabi Musa As, bagaimana kisah di jaman Nabi Luth As, bagaimana kisah di jaman Syuaib As, begitupun juga bagaimana kisah di jaman Nabi Nuh As. Ha-hal itu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang berakal dan berpikir. Oleh karena itu kaum muslimin dengan berbagai kejadian-kejadian seperti saat ini, seharusnya mendapatkan pelajaran yang berharga dari perjalanan ummat sebelumnya. Dan untuk mendapatkan pelajaran tersebut, kecuali kaum muslimin sendiri mau menggunakan pikiran dan akalnya untuk memahami itu.</p>
<p align="right"><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091807-0445-banyakkanla7.png" alt="091807-0445-banyakkanla7.png" /></p>
<p><em>&#8220;Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?&#8221; (QS Al-Baqarah: 44) </em></p>
<p>Allah swt mengajak kita untuk berpikir dan merenung terhadap diri kita sendiri. Kita selalu mengajarkan hal-hal yang baik kepada yang lain, tetapi kita sendiri sering melupakan dengan hal-hal itu. Sehingga jika kita sering memberikan pelajaran atau da&#8217;wah kepada kaum muslimin yang lain, kita harus juga mengetahui bahwa pelajaran-pelajaran itu juga untuk diri kita sendiri, oleh karena itu kita dituntut juga untuk selalu meningkatkan amal sholeh dari apa yang kita sampaikan kepada kaum yang lainnya. Sehingga jika kita melupakannya, Allah swt mengingatkannya apakah kita tidak berpikir tentang hal itu.</p>
<p>Masih banyak lagi ayat-ayat Al-Quran mendorong dan mendidik kita untuk selalu bertafakkur dan juga berpikir ini, begitupun juga yang ada dalam ucapan-ucapan Rasulullah SAW sendiri. Hanya saja kami ingin menyampaikan satu ayat At-Taubah:128 yang menurut kami inilah yang telah hilang dalam diri kita kaum muslimin dalam hal bertafakkur dan berpikir. Kita kurang risau terhadap kaum muslimin atau juga bahkan dengan kehidupan manusia yang sedang terjadi saat ini. Silahkan dalami, renungilah, dan bertanyalah kepada para ulama atau ustadz apa maksud ayat itu, sehingga kita benar-benar bisa memahaminya dengan baik, dan akhirnya mendorong kita bersama-sama berkerja untuk kebaikan kaum muslimin di seluruh alam ini, yang mana kita sangat sedikit untuk kaum muslimin, termasuk kami yang lemah ini.</p>
<p align="right"><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091807-0445-banyakkanla8.png" alt="091807-0445-banyakkanla8.png" /></p>
<p><em>&#8220;Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmi&#8221; (QS At-Taubah:128)</em></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=78&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/banyakkanlah-tafakkur-dan-berpikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pikir lagi dan lagi ….</title>
		<link>http://usahadawah.com/pikir-lagi-dan-lagi-%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/pikir-lagi-dan-lagi-%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 00:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>
		<category><![CDATA[tafakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi warabarakatuh,
Kita sangat memahami dengan anugrah yang satu ini, yaitu Pikir. Kita hari ini, di jaman ini, semua kemajuan merupakan hasil dari pikir. Beberapa abad yang lalu, manusia masih mengendarai kuda atau unta, meskipun hari ini masih ada yang memanfaatkan binatang ini sebagai sarana perjalanan. Coba kita bayangkan dengan jelas, kapal laut yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi warabarakatuh,</p>
<p>Kita sangat memahami dengan anugrah yang satu ini, yaitu Pikir. Kita hari ini, di jaman ini, semua kemajuan merupakan hasil dari pikir. Beberapa abad yang lalu, manusia masih mengendarai kuda atau unta, meskipun hari ini masih ada yang memanfaatkan binatang ini sebagai sarana perjalanan. Coba kita bayangkan dengan jelas, kapal laut yang terbuat dari besi yang mana masa jenisnya lebih besar dari air, sekarang ini dapat terapung di lautan. Sekali-sekali boleh kita coba untuk memasukan jarum kecil atau juga kancing untuk dimasukkan ke gelas yang berisi air, maka dapat dipastikan bahwa jarum atau kancing tersebut tenggelam. Tetapi sekarang dengan pikirnya manusia, besi dapat terbang, dapat berlayar dsb. Allah swt berfirman:</p>
<p><span id="more-76"></span></p>
<p><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091207-0046-pikirlagida12.png" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal&#8221; (QS Ali Imran (3): 190)<br />
</em></p>
<p>Pikir ini mempunyai jangkauan yang sangat luas untuk kehidupan manusia, tidak hanya perkara besi yang dapat dijadikan kapal terbang atau kapal laut. Tetapi pikir ini juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Sebenarnya apa yang pertamakali harus menjadi pikir seorang muslim? Apakah seorang muslim harus mempunyai pikir membangun kapal besar, atau juga rumah yang bertingkat, atau juga madrasah Islam. Itulah pikir-pikir yang selalu hidup dalam kehidupan kita, termasuk kita sebagai muslim.</p>
<p>Allah swt memahami betul dengan perkara ini, Allah swt tidak akan membiarkan manusia mempunyai pikir yang tidak terarah, atau juga pikir yang tidak mempunyai landasan. Sebab jika tidak, maka manusia akan mencari hal-hal yang dapat bertentangan dengan maksud Allah swt ciptakan manusia ini. Allah swt jelaskan bahwa pencipataan manusia ini untuk beribadah kepadaNya.</p>
<p><img src="http://usahadawah.files.wordpress.com/2007/09/091207-0046-pikirlagida22.png" alt="" /></p>
<p>&#8220;Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku&#8221; (QS Adz Dzaariyaat (51): 56)</p>
<p>Tetapi bukan berarti pikir ini tidak boleh memikirkan alam atau juga memanfaatkan sumber yang ada di alam semesta ini. Pikir ini akan terus mengalami perubahannya dikarenakan pengaruh dari lingkungannya itu sendiri, apakah dapat meningkat menuju pada perbaikan atau juga kerugian. Hal itu semua bergantung pada manusia itu sendiri. Allah swt sudah memberikan garisan atau juga pandauan untuk hal ini. Dan Nabi Muhammad SAW juga sendiri telah memberikan arahan dan juga panduan, yang dapat dijadikan sebagai landasan perubahan pikir itu dari masa ke masa.</p>
<p>Sangat indah ucapan <strong>pikir lagi dan lagi</strong>, ucapan yang sederhana dan singkat. Tetapi mempunyai makna yang dalam, karena tidak mungkin kita mengalami perubahan kecuali kita <strong>pikir lagi dan lagi</strong> terhadap perubahan itu sendiri. Ucapan <strong>pikir lagi dan lagi </strong>pertama kali tertuju pada diri kita sendiri, apakah kita sudah pikirkan atau perhatikan terhadap amalan kita, apakah kita sudah pertimbangkan kesungguhan kita, apakah kita sudah pikirkan sdr. kita sama seperti kita juga perhatikan diri kita untuk keselamatan di dunia dan akherat.</p>
<p>Tidak mungkin terjadi perbaikan dalam diri kita, kecuali kita sendiri <strong>pikir lagi dan lagi</strong>, perhatikan prose pembuatan kapal dari bijih besi itu. Sebuah proses yang panjang dan boleh jadi melelahkan, dan juga membosankan. Tetapi ketika hasilnya telah nampak, maka banyak manusia menaiki kapal yang terbuat dari bijih besi itu. Manusia bisa berpergian dengan kapal itu, dapat melihat keindahan alam dari atas. Sangat luar biasa. Begitupun juga dengan perubahan diri kita, maka tidak ada jalan lain kita perlu <strong>pikir lagi dan lagi</strong> agar kita mengikuti perintah Allah swt dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dan juga meniru pertumbuhan peradaban yang dibangun oleh para Shahabat RA.</p>
<p><strong>Pikir lagi dan lagi </strong>terhadap suasana sekitar kita, apakah sudah kita dapat memberikan suasana perubahan. Kita tidak mungkin berpangku atau menunggu suasana itu datang kepada kita, biarlah nanti banyak manusia yang menikmati atas suasana itu. Sehingga kita perlu <strong>pikir lagi dan lagi </strong>terhadap perubahan diri kita dan juga suasana lingkungan kita. Jika kita hanya <strong>pikir lagi dan lagi </strong>terhadap diri kita sendiri, maka suasana yang belum terbentuk akan memberikan pengaruh kepada diri kita sendiri, sehingga <strong>pikir lagi dan lagi </strong>akan menjadi redup. Sehingga kita bangunkan suasana untuk sama-sama <strong>pikir lagi dan lagi</strong> dalam kehidupan masyarakat kaum muslimin, sehingga tanggung jawab ini tidak hanya kita, tetapi seluruhnya.</p>
<p>Terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=76&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/pikir-lagi-dan-lagi-%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pikir terhadap apa yang dikehendaki Al-quran dan juga aktual saat ini dalam diri kaum muslimin</title>
		<link>http://usahadawah.com/pikir-terhadap-apa-yang-dikehendaki-al-quran-dan-juga-aktual-saat-ini-dalam-diri-kaum-muslimin/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/pikir-terhadap-apa-yang-dikehendaki-al-quran-dan-juga-aktual-saat-ini-dalam-diri-kaum-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 00:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[al-quran]]></category>
		<category><![CDATA[Kaum Muslimin]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[shahabat RA]]></category>
		<category><![CDATA[sifat]]></category>
		<category><![CDATA[tafakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum waramatullahi wabarakatuh,
Kepada Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah swt,
Kita kaum muslimin perlu banyak meningkatkan pikir saat ini, karena tanpa adanya pikir ini kaum muslimin tidak akan banyak mengalami perubahan. Salah satu pikir kita adalah menimbang keadaan kita kaum muslimin dengan timbangan yang pasti benarnya yaitu Kitab suci Al-quran. Para Shahabat RA telah membuktikannya sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum waramatullahi wabarakatuh,<br />
Kepada Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Kita kaum muslimin perlu banyak meningkatkan pikir saat ini, karena tanpa adanya pikir ini kaum muslimin tidak akan banyak mengalami perubahan. Salah satu pikir kita adalah menimbang keadaan kita kaum muslimin dengan timbangan yang pasti benarnya yaitu Kitab suci Al-quran. Para Shahabat RA telah membuktikannya sebagai generasi yang telah mencapai timbangan yang dikehendaki sesuai dengan Al-quran. Kita kaum muslimin saat ini mempunyai GAP yang cukup jauh, antara yang dikehendaki dan yang aktual dalam diri kaum muslimin.</p>
<p><span id="more-74"></span>Pikir terhadap GAP antara yang dikehendaki dan yang aktual merupakan proses yang penting terjadi dalam diri setiap kaum muslimin. Dan perihal ini sebenarnya banyak ayat Al-quran sendiri yang mengajarkannya. Misalkan dengan ayat yang paling populer di kalangan kaum muslimin, seperti Ali-Imran (3): 110. Kita ummat terbaik, tetapi sekarang kita bukan sebagai ummat terbaik. Bagaimana caranya kita mengembalikan ke tingkatan yang dikehendaki? Itu menjadi perhatian dan pikir kita kaum muslimin tentunya.</p>
<p>Kita mempunyai dua pilihan dalam hidup ini, menyerahkan apa adanya atau kita tingkatkan pikir untuk mengambil perubahan-perubahan itu. Apakah kita termasuk dari orang yang memahami pikir itu, atau termasuk orang yang baru belajar mehami pikir itu? Sebenarnya orang yang telah memahami pikir itu tentunya perlu menjaga pikir itu sendiri dengan jalan membiasakan mengajak orang yang belajar terhadap pikir untuk meningkatkan pikir itu sendiri.</p>
<p>Mudah-mudahan kita termasuk orang yang selalu meningkatkan pikir terhadap diri kita, terhadap keluarga kita, terhadap masyarakat kita, terhadap seluruh kaum muslimin dan juga terhadap seluruh ummat manusia yang ada di muka bumi ini. Yang jelas Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan juga para Shahabat RA telah MEMPERLIHATKANnya dengan jelas, dan karena itu beliau-beliau diridhoi Allah swt.</p>
<p>Terimakasih,</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=74&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/pikir-terhadap-apa-yang-dikehendaki-al-quran-dan-juga-aktual-saat-ini-dalam-diri-kaum-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Pikir Kita Sebagai Muslim?</title>
		<link>http://usahadawah.com/apa-pikir-kita-sebagai-muslim/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/apa-pikir-kita-sebagai-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 22:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir]]></category>
		<category><![CDATA[pikir muslim]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu  ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kita yang terjun dalam usaha da&#8217;wah selalu diajak untuk pikir dan pikir, artinya kita diajak untuk menghindari kerja da&#8217;wah yang dilakukan dengan adat kebiasaan saja. Pikir merupakan salah satu anugrah dari Allah swt yang sangat penting bagi setiap insan untuk melakukan perubahan, termasuk juga dengan kita kaum muslimin. Generasi salafush sholeh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu  ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,</p>
<p>Kita yang terjun dalam usaha da&#8217;wah selalu diajak untuk pikir dan pikir, artinya kita diajak untuk menghindari kerja da&#8217;wah yang dilakukan dengan adat kebiasaan saja. Pikir merupakan salah satu anugrah dari Allah swt yang sangat penting bagi setiap insan untuk melakukan perubahan, termasuk juga dengan kita kaum muslimin. Generasi salafush sholeh para Shahabat RA telah memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kita tentang perkara pikir ini dengan baik. Begitupun dengan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW.</p>
<p><span id="more-72"></span>Oleh karena itu, kita kaum muslimin yang berada di jaman yang sangat lemah posisinya sepantasnya dalam diri kita kaum muslimin mempunyai pikir-pikir utama, sehingga pikir ini menjadi landasan kepada kita untuk mencapai apa yang menjadi keinginan kita di masa depan. Pikir sebagai anugrah Allah swt ini tidak hanya untuk urusan dunia semata, tetapi juga juga pikir untuk urusan agama kita sendiri. Islam tidak menghalangi pikir kita untuk perkara urusan dunia, tetapi juga Islam juga tidak mengajari pikir hanya untuk urusan dunia semata.</p>
<p>Seandainya Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, hanya mempunyai pikir untuk dirinya sendiri, maka beliau tidak mau kembali ketika beliau dialog dengan Allah swt langsung saat Isro Mi&#8217;raj. Begitupun juga, seandainya para Shahabat RA hanya mempunyai pikir untuk dirinya sendiri, maka beliau-beliau ini tidak akan bersusah payah untuk menyebarkan Islam dan meninggalkan kampung halamannya. Kisah Musyaib Bin Umair RA, seorang pemuda tampan dan terpandang, berani meninggalkan kehidupannya untuk menyampaikan da&#8217;wah di Yastrib (belum jadi Madinah Munawarah saat itu), padahal beliau tidak mempunyai sanak saudara di kota tersebut.</p>
<p>Marilah kita belajar dari pikir ini, dan kita gunakan pikir untuk kebaikan kaum muslimin di berbagai lapisan masyarakat, berbagai lapangan kehidupan; kita tidak membedakan apakah itu tua atau muda, apakah itu ustadz atau pelajar, apakah itu pedagang atau dokter, apakah itu insinyur atau guru, apakah itu kaya atau miskin; semuanya perlu kembangkan pikir untuk keselamatan dunia dan akherat kita.</p>
<p>Insya Allah, kami akan berbagi dengan pikir-pikir ini lebih lengkap berlandaskan pada sumber-sumber Al-quran dan As-Sunnah, yang sebenarnya banyak mengajarkan terhadap pikir-pikir ini.</p>
<p><strong>Pikir Diri dan  Keluarga</strong></p>
<p>Pikir diri dan keluarga merupakan pikir yang sangat mendasar bagi kita semua kaum muslimin, sehingga selalu berusaha keras untuk dapat mengikuti perintah Allah swt dan juga sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya, begitupun juga berusaha menjauhi apa-apa yang dilarangnya oleh Allah swt dan juga Rasulullah SAW. Taqwa merupakan bukti kita sendiri sebagai muslim yang mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi larangan-laranganNya. Pikir atas diri dan keluarga yang seharusnya kita jaga dengan baik.</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.&#8221; (QS At-Tahrim: 6)</em></p>
<p>Bagaimana Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajarkan kepada kita ummat Islam untuk selalu beristighfar, dan juga sholat malam. Hal ini agar kita selalu memperhatikan terhadap diri kita sendiri, bahwa kita ini tidak lepas dari kesalahan tetapi kita perlu kembali lagi kepada alur-alur Islam itu. Bagaimana Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajari kita untuk menyuruh anak-anak kita sholat di waktu masih kecil, begitupun juga menyuruh keluarga kita untuk menjaga sholat.</p>
<p>Hal ini sebagai bentuk agar pikir diri dan keluarga melekat pada kita sendiri. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, mengajari para Shahabat RA dan juga kita sendiri untuk lebih bersungguh-sungguh dengan diri kita sendiri seperti dalam pelajaran do&#8217;a beliau di bawah ini.</p>
<p><em>&#8220;Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kebakhilan dan berusia lanjut yang tidak kuat. Dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan fitnah ketika hidup dan mati&#8221; (HR &#8211; Bukhari-Muslim)</em></p>
<p>Do&#8217;a di atas sangat mengajarkan kepada kita terhadap perkara-perkara yang dapat menjadikan kita lalai terhadap diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita perlu sungguh-sungguh dengan perkara-perkara di atas agar tidak melekat dalam diri kita dan juga keluarga kita.</p>
<p>Dan kisah Umar Bin Abdul Aziz RA ketika masih kecil, menangis di waktu malam setelah sholat, ditanya oleh ibunya kenapa menangis, dijawabnya siapa yang dapat menjaga keselamatan saya di waktu persidangan akherat. Allah swt menjelaskan dengan tegas untuk selalu menjaga diri dan keluarga dari Api Neraka. Dan juga kita diajarkan untuk selalu berdo&#8217;a agar dijadikan sebagai keluarga yang tetap istiqomah dengan amalan sholat. Harapan dan cemas telah menjadi pendorong kepada generasi itu selalu memikirkan diri dan keluarga, sejauh mana ketaatanya kepada Allah swt dalam kehidupannya dan mengikuti perintah Rasulullah SAW.</p>
<p><strong>Pikir  Silaturahmi</strong></p>
<p>Pikir silaturahmi menjadi landasan untuk menjaga kebersamaan antara kaum muslimin. Generasi para Shahabat RA paham betul bahwa ketidakharmonisan akan membawa bencana yang berkepanjangan. Rasulullah menampakan kemarahannya ketika mengetahui terjadi perdebatan dua orang dalam satu ayat, dan beliau menjelaskan bahwa hal ini yang menjadikan ummat dahulu mengalami kehancuran.</p>
<p>Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Rasulullah SAW sangat mengingatkan untuk menghormati yang tua dan ulama jika memang benar-benar beriman kepada Allah swt dan akherat.</p>
<p><em>&#8220;Dari ‘Ubadah bin Shamit RA meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersadba: &#8220;Bukan dari golongan ummatku orang tidak menghormati orang yang telah tua, tidak menyayangi anak muda, dan tidak mengetahui haknya orang ‘alim kami (tidak memuliakan ulama)&#8221; (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-kabiir, dan isnadnya hasan &#8211; Majma&#8217;uz Zawaa&#8217;id I/338) [1]</em></p>
<p>Dan juga untuk menjaga silaturahmi ini, Rasulullah SAW memberikan contoh-contoh untuk selalu memuliakan saudaranya sendiri. Bagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh berkhidmat kepada seorang muslim yang berkeinginan mendapatkan pekerjaan, seperti berusaha dengan kayu bakar. Generasi tersebut akan selalu menjaga ucapan agar tidak menghancurkan kebersamaan, bahkan kesalahan orang lain yang telah dibuatnya tidak diingat kembali.</p>
<p>Generasi Shahabat RA Aus dan Khazraj hampir terjadi pertumpahan darah yang sangat luar biasa, hal ini dikarenakan hembusan dari pihak ketiga dan juga satu sama lain melupakan tanggung jawabnya untuk saling mengingatkan dan menjaga kebersamaan. Oleh karena itu, Allah swt menjelaskan dengan baik sekali dengan kejadian ini dalam QS 3:100-105, dan kita dapat pelajarinya dengan baik tentang hal ini melalui kitab-kitab tafsir besar, seperti Ibnu katsir. Dan ini seharusnya menjadi perhatian serius dalam diri kita, karena saat ini kebersamaan kaum muslimin sangat lemah.</p>
<p><strong>Pikir Da&#8217;wah </strong></p>
<p>Pikir Da&#8217;wah sudah menjadi pikiran generasi Shahabat RA tersebut, yang baru masuk Islam, yang sudah paham, atau pemuda. Semuanya aktif dalam kerja da&#8217;wah. Dan da&#8217;wah tidak dibatasi hanya berdasarkan pada ucapan saja, tetapi kadangkala dengan perbuatan. Allah swt menegaskannya dengan tegas kerja ini, agar Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, menjelaskan juga hal ini kepada ummatnya.</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.&#8221; (QS Yusuf (12): 108)</em></p>
<p>Kisahnya masuk Islam seorang Yahudi di depan Rasulullah SAW, dikarenakan kerendahan hati Rasulullah SAW ketika orang yahudi ini meminta bayaran hutang. Rasulullah SAW sangat bersedih hati jika banyak masyarakat menolak da&#8217;wahnya, bagaimana kesedihan Rasulullah SAW ketika berda&#8217;wah ke thoif. Meskipun disepelekan, tetapi Rasulullah SAW berharap di masa depan ada yang beriman kepada Allah swt. Kita dapat perhatikan dari ucapan atau do&#8217;a Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, ketika di thaif.</p>
<p>Bagaimana pikir Abu Bakar RA untuk mengajak kembali teman-temannya yang lain untuk masuk Islam, setelah masuk Islam, langsung besoknya melakukan da&#8217;wah mengajak yang masuk Islam. Bagaiman dengan Abu Dzar RA, sungguh-sungguh da&#8217;wah di lingkungan kaumnya. Bagaimana dengan seorang pemuda tampan, Musaib bin Umair berda&#8217;wah di Madinah. Kerisauan terhadap keselamatan masyarakat dan keluarga itu, generasi salaf sungguh-sungguh berda&#8217;wah. Mereka menyebarkan Islam ke seantero negeri untuk menyampaikan Risalah da&#8217;wah ini.</p>
<p><strong>Pikir Rahmatan  Lil ‘Alamin</strong></p>
<p>Pikir kita bagaimana menjadikan Islam sebagai rahmat di seluruh alam. Pikir yang mana kita selalu berpikir agar Allah swt memberikan hidayah dan taufiqNya ke seluruh alam. Allah swt menjelaskan peran Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamiin.</p>
<p>Pikir yang menyeluruh telah dijadikan sandaran oleh generasi para Shahabat RA. Dan Rasulullah SAW selalu memberikan dorongan untuk itu. Sehingga kaum muslimin saat itu berlomba-lomba untuk menyebarkan Islam ke negara-negara yang lebih jauh. Mereka berani berkorban segala-galanya. Sehingga tidak heran jika Islam tumbuh di daerah Parsi. Atau juga Islam telah masuk ke daerah Eropa.</p>
<p>Dengan kerisauan dan pikir yang mendalam itu generasi para Shahabat RA telah banyak berkorban untuk menyerbarkan Islam di seluruh Alam. Dan sampai sekarang banyak peninggalan yang sangat bersejarah, dan salah satu bukti yang sangat kongrit adalah Islam telah sampai di Indonesia. Pikir yang dalam telah merubah mereka menjadi kaum yang terbaik dalam perjalanan sejarah, dan mereka telah memberikan catatan-catatan sejarah yang sangat berharga bagi peradaban manusia. Imam Bukhari Rah sebagai ahli hadits bukan berasal tataran Arab, hal ini menjadi bukti yang sangat jelas bahwa Islam telah masuk ke tataran di sekitar kel</p>
<p>Itulah pikir yang mesti dikembangkan ke dalam diri kita. Dan generasi para Shahabat RA telah mempunyai pikir yang sangat dalam terhadap pikir-pikir di atas, sehingga kita perlu banyak belajar bagaimana meningkatkan pikir-pikir sebagaimana generasi itu. Pikir-pikir ini akan memberikan dorongan kepada kita untuk lebih berkeja dan berusaha dalam amal agama.</p>
<p>Wassalamu  ‘alaikum<br />
Mohamad Haitan Rachman</p>
<p>Catatan:<br />
Karakter Utama dan Kerja Utama Manhaj Para Shahabat RA sebagai generasi salafush sholeh telah dituliskan dalam bagian lainnya.</p>
<p>Referensi:<br />
[1]  Maulana Yusuf, &#8220;Al-haditsul Muntakhabah&#8221;</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=72&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/apa-pikir-kita-sebagai-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

