<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; rahmatan lil&#8217;alamin</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/rahmatan-lilalamin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 02:53:10 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Da&#8217;wah itu memerlukan tertib, jika berkeinginan mendapatkan manfaat yang lebih besar daripada madhoratnya</title>
		<link>http://usahadawah.com/2010/01/11/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2010/01/11/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 23:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatan lil'alamin]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Bid&#8217;ah dholalah, syrik dan macam-macam yang bertentangan dengan Al-Islam perlu dijelaskan dengan baik kepada kaum muslimin, tetapi menjelaskan dan menerangkan hal-hal tersebut memerlukan TERTIB. Tanpa adanya TERTIB maka kita kaum muslimin sendiri akan mendapatkan hal-hal yang kurang diinginkan. Nabi Muhammad SAW sangat menekankan TERTIB ini dengan baik, dan beliau tidak hanya menjelaskan dengan kalimat-kalimat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Bid&#8217;ah dholalah, syrik dan macam-macam yang bertentangan dengan Al-Islam perlu dijelaskan dengan baik kepada kaum muslimin, tetapi menjelaskan dan menerangkan hal-hal tersebut memerlukan TERTIB. Tanpa adanya TERTIB maka kita kaum muslimin sendiri akan mendapatkan hal-hal yang kurang diinginkan. Nabi Muhammad SAW sangat menekankan TERTIB ini dengan baik, dan beliau tidak hanya menjelaskan dengan kalimat-kalimat tetapi juga dengan bentuk-bentuk contoh yang bisa dipahami dengan baik.</p>
<p>Ada seorang badwi buang air kecil di dalam masjid Nabawi, bisa kita bayangkan bagaimana perasaan para Shahabat RA yang melihat itu. Tentunya mereka marah dan kesal, sehingga ada saja yang akan memukulnya. TETAPI Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW, melarangnya bahkan beliau menyuruhnya membawa air untuk disiramkan. Itulah da&#8217;wah dan pengajaran tidak boleh kasar.</p>
<p><em><span id="more-274"></span>&#8220;Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. &#8221; (QS Ali-Imran (3): 159)</em></p>
<p>Ada seorang pemuda akan masuk Islam tetapi agar diijinkan untuk tetap melakukan berzina. Kira-kira apa yang akan kita lakukan kalau ada orang seperti ini? Nabi kita tidak marah dan tidak memperlihatkan wajah marah atau bahkan mengeluarkan dalil-dalil quran yang mana pasti beliau sangat hafal, TETAPI beliau melakukan dialog yang ringan dengan pemuda itu. Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan ibumu? Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan istrimu? Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan sdr. Perempuanmu? Jelas pemuda itu menjawab bahwa dia akan marah. Dan Nabi kita menjawab dengan simple, yang lainpun akan marah kepada kamu jika kamu tetap berzina. Dan akhirnya pemuda itu tidak mau berzina lagi.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW sangat memahami bahwa keluarganya banyak yang belum masuk Islam, dan bahkan menyembah latta dan uza. Nabi kita tidak pernah mencaci dan menghina tuhan-tuhan mereka, ataupun bahkan merusak tuhan-tuhan mereka.</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.&#8221; (QS Al-An&#8217;am (6): 108) </em></p>
<p>Coba kita lebih jauh dengan pelajaran perihal Khmar. Allah swt jelas akan mengharamkan perihal khmar ini. TETAPI Allah swt sendiri memberikan pelajaran secara bertahap terhadap para Shahabat RA. Nabi kita Nabi Muhammad SAW tidak pernah minum khmar dari kecil, meskipun masyarakatnya biasa minum khmar dan main judi. Tentunya Nabi kita Nabi Muhammad SAW sangat memahami perihal khmar ini, tetapi beliau menunggu bagaimana pelajaran dari Allah swt.</p>
<p>Dan akhirnya Allah swt menjelaskan dengan ayat yang menjelaskan jangan dekat-dekat sholat dalam keadaan mabuk, maka lama-lama para Shahabat RA banyak yang menhancurkan khmar itu sendiri. Padahal ketentuan khmar itu belum ditetapkan sebagai haram.  Allah swt sendiri memberikan pelajaran yang demikian baik kepada para Shahabat RA bagaimana langkah-langkah untuk melakukan perbaikan terhadap masyarakat yang terbiasa dengan khmar dan judi. Apakah kita kaum muslimin kurang memperhatikan pelajaran-pelajaran seperti ini?</p>
<p>Allah swt dengan jelas menegaskan bahwa jika telah datang yang haq maka yang bathil akan hilang. Ini mengandung pelajaran denganbaik. Atau misalkan kalimat &#8220;amar ma&#8217;ruf nahi mungkar&#8221;, kalimat ini akan seperti itu. Artinya bukan berarti kita mendorong atau menyuruh orang lain untuk berbuat baik, terus diartikan bahwa kita tidak menghalangi yang mungkar. Semua hal itu ada pertimbangan itu sendiri, maka TERTIB dalam pengajaran, pendidikan, tarbiyyah dan da&#8217;wah merupakan hal yang perlu sangat diperhatikan. Tanpa adanya TERTIB maka akhirnya kita kaum muslimin akan menghasilkan kontra-produktif dan ketidakharmmisan yang semakin tajam.</p>
<p>Sekarang kita ajak seluruh kaum muslimin untuk sholat dengan baik, berjama&#8217;ah, khusyu dan tertib. Allah swt menjelaskan dengan jelas dan terang, bahwa sholat itu dapat mencegah perbuat keji dan mungkar. Artinya kita teruskan secara terus-menerus dan berkelanjutan untuk mengajak kaum muslimin untuk sholat dengan baik itu, dan dengan tidak perlu menyentuh perkara yang keji dan mungkarnya, maka kaum muslimin akan meninggalkannya sendiri perkara keji dan mungkar itu.</p>
<p>Dan hal itu ada buktinya sering ditemukan dalam usaha da&#8217;wah, bahkan di jaman Rasulullah SAW pernah terjadi ketika perihal anak muda yang bolak-balik ke masjid untuk sholat yang ketika itu masih belum betul perilakunya  dan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pemuda itu akan berubah karena sholatnya dan ternyata benar adanya.</p>
<p><em>&#8220;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. &#8221; (QS Al-&#8217;Ankabut (29): 45)</em></p>
<p>Jadi jangan dianggap bahwa kalau ada sebagian kaum muslimin tidak membicarakan syirik, bid&#8217;ah dholalah, kemusyikan yang umum terjadi di lingkungan kita kaum muslimin; selanjutnya dikatakan salah dalam da&#8217;wah dan pengajaran kaum muslimin. Jelas hal ini tidak tepat. Konten dan cara pendekatan itu perlu dipertimbangkan secara TERTIB.</p>
<p>Jika ada sebagian kaum muslimin  yang berkeinginan menyampaikan secara terang-terangan dan bebas  perihal syirik atau bid&#8217;ah dholalah ataupun perihal kekeliruan masyarakat, silahkan saja sampaikan sesuai dengan langkah-langkah yang dipercayainya. TETAPI  jangan melemahkan ataupun meremehkan terhadap sebagian kaum muslimin yang tidak memilih jalur seperti itu, seperti kami termasuk yang menolak mentah-mentah.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah ini mempunyai TERTIB. Empat perkara yang tidak boleh disentuh ketika khuruj fisabilillah atau bahkan ketika aktifitas usaha da&#8217;wah di maqomi di jalankan, yaitu perihal politik, perihal khilafiyyah, perihal aib masyarakat, serta perihal derma dan pangkat. Mungkin banyak kaum muslimin bertanya, Why? Tentunya pertanyaan itu dikeluarkan dengan macam-macam argumen, seperti politik itu kan ada yang syar&#8217;i atau Islam juga membahas Politik, bukan perlu membahas perihal khilafiyyah dsb. Dan ujungnya bahwa usaha da&#8217;wah ini tidak jelas.</p>
<p>Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada juga ahli politik, dan bahkan menjadi persiden pertama kali di India. Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang ahli dalam perkara khilafiyyah, dan bahkan menulis perihal madzhab maliki melalui syarh Kitab Al-Muwathanya. Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang kaya raya dan cukup banyak, dan bahkan sudah bisa merencanakan masjid terbesar di Eropa dengan biaya hampir 10 Trillyun.  Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang pangkat tinggi, bahkan ada yang sudah menjabat sebagai kapolda dan ada juga sebagai pangeran.</p>
<p>Kenapa tidak menyentuh perkara-perkara itu, TETAPI malahan menguasai di perkara-perkara tersebut dengan sangat baik. Empat perkara tersebut jika tidak melalui TERTIB menjadi sebab terhadap perpecahan kaum muslimin. Sedang usaha da&#8217;wah ini dipersiapkan untuk seluruh kaum muslimin, apakah berbeda lapisan, berbeda tingkatan, berbeda status, berbada umur, berbada suku dsb.</p>
<p>Sehingga jika disentuh perkara politik praktis, khilafiyyah dsb, maka bisa dibayangkan bagaimana kacaunya ummat Islam ini nantinya. Dan bisa diperkirakan kekacauannya sangat luar biasa pengaruhnya ke seluruh dunia. Mungkin jika hanya satu kampung saja sangat kecil pengaruhnya, tetapi bisa dibayangkan dengan berbeda suku, tingkatan, umur, warna kulit, dsb yang ada di seluruh dunia.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah ini merupakan kerja da&#8217;wah dan pengorbanan kaum muslimin seluruh alam, tidak hanya untuk satu kota atau kampung. Jadi jika ada yang meminta ataupun mengharapkan usaha da&#8217;wah secara ijtimaiyyah untuk menyentuh atau membicarakan bahasan-bahasan seperti yang diminta sekarang ini, hal itu tidak dapat ditunaikan. Dan kami sendiri menolak mentah-mentah. TETAPI jika sebagian kaum muslimin meminta agar dijelaskan perkara-perkara  di madrasah-madrasah ataupun dalam kajian-kajian itu secara sistematik, tentunya hal itu sudah biasa dan juga bergantung dari kurikulum dan silabus yang dibahasnya.</p>
<p>Jadi kesimpulannya kepada kawan-kawan :</p>
<p>PERTAMA jika usaha da&#8217;wah tidak menyentuh dan menjelaskan perkara-perkara tersebut tentunya memiliki pertimbangan TERTIB, yang akan memberikan pengaruh pada manfaat dan madhoratnya. Tentunya pertimbangannya akan dicarikan manfaat yang lebih besar daripada madhoratnya.  Pengajaran dan da&#8217;wah juga seperti jual beli, yang semuanya pertimbangananya keuntungan yang besar. Untuk apa kita lakukan pengajaran dan da&#8217;wah tetapi akhirnya menimbulkan kontra-produktif dan tidak harmonis di kalangan kaum muslimin.</p>
<p>Kontra-produktif dan tidak harmonis di kalangan kaum muslimin tidak akan pernah mengangkat pada tingkatan pengajaran dan da&#8217;wah yang lebih tinggi. Sekarang ini kita masih pada tarap awal saja, karena kita masih saling mengingatkan di antara kaum muslimin. Bagaimana kita bisa mengajak manusia di luar Islam ke dalam pangkuan Al-Islam dan mereka juga akan terbebas dari api neraka dan masuk surga Allah swt, sedangkan kita akhirnya habis waktu dengan kontra-produktif dan tidak harmonis. Yang akhirnya kita sendiri dipermainkan oleh lawan-lawan kita sendiri.</p>
<p>KEDUA, silahkan saja kepada kawan-kawan yang semangat dengan bahasan perihal syirk, bid&#8217;ah dholalah, khilafiyyah secara langsung untuk disampaikan kepada Ummat Islam. Kami tidak akan mengambil cara-cara itu ketika menjalankan ijtimaiyyah tertib, bahkan kami sendiri secara infirodhiyyah juga tidak akan mengambil cara-cara yang akan menimbulkan mudhorat yang lebih besar.</p>
<p>TETAPI jika ada yang mau mengambinya, silahkan sebagai bagian dari hak semua orang untuk menyampaikannya. Silahkan saja krirtsasi atau tahdzir perihal-perihal syirk itu dan bid&#8217;ah dholalah, atau yang dianggap bid&#8217;ah secara langsung di depan orangnya. Tentunya hal itu ada pertimbangannya oleh kawan-kawan dengan alasan-alasan yang menghasilkan langkah-langkah itu. Hanya saja ketika menimbulkan mudhorat lebih besar, tentunya juga perlu dipertimbangkan. Silahkan bangun macam-macam da&#8217;wah untuk kaum muslimin, karena da&#8217;wah ini merupakan tanggung jawab bersama dan khidmat untuk agama kita yang mulia. Dan kita tidak perlu saling menghujat ataupun meremehkannya.</p>
<p>Hanya saja KETIKA ada sebagian kaum muslimin sudah memberikan pandangan terhadap usaha da&#8217;wah ini dikarenakan mempunyai pendekatan yang berbeda dari pandangannya, tentunya siapapun termasuk kami  juga perlu membuka pandangan berimbang denganhal itu. <strong>Maksud pandangan berimbang ini untuk membuka wacana bersama, sehingga kita semua terbebas dari pola berpikir kerdil dan tidak terjebak dalam kerdilisasi. </strong></p>
<p>Pola berpikir kerdil dan terjebak dalam kerdilisasi ini telah memakan korban di jaman Nabi kita Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Apakah yang dibangun sendiri oleh sebagian kaum muslimin di jaman itu karena mempunyai jiwa ghuluw, atau dibangun oleh kalangan orang munafik sendiri. Orang-orang munafik ini sangat lincah dan lihai, para Shahabat RA sendiri bisa terkecoh. Dan banyak kejadian di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA menjadi pelajaran. Sebagai contohnya, silahkan buka dan pelajari Ali-Imran (3):100-105. Kisah latar belakang ini sangat menarik, dan dari belajar kami terhadap ayat tersebut menunjukan bahwa saat ini juga kaum muslimin memperlihatkan keadaan yang hampir sama dan tentunya solusinya akan sama juga.</p>
<p>Itulah kenapa Da&#8217;wah dan pengajaran/tarbiyyah ini memerlukan TERTIB. Dan usaha da&#8217;wah telah menyiapkan tertib dan ushul da&#8217;wah secara sistematik, hal itu untuk menghindari dari hal-hal yang kurang diharapkan dan menghasilkan serta mencapai sasaran/niat/tujuan yang hendak dicapai.</p>
<p>Terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=274&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2010/01/11/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah dakwah syaikh maulana itu sesuai sunah, adakah rasulullah menentukan hari tertentu?</title>
		<link>http://usahadawah.com/2009/02/25/adakah-dakwah-syaikh-maulana-itu-sesuai-sunah-adakah-rasulullah-menentukan-hari-tertentu/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2009/02/25/adakah-dakwah-syaikh-maulana-itu-sesuai-sunah-adakah-rasulullah-menentukan-hari-tertentu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Feb 2009 01:45:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Maulana Ilyas]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatan lil'alamin]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[Adakah dakwah syaikh maulana itu sesuai sunah, adakah rasulullah menentukan hari tertentu, saya kira itukan hanya peraturan yang ada di JT aja !
Pertanyaan di atas itu merupakan satu hal yang disampaikan melalui http://usahadawah.com/2008/11/19/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/#comment-391.
Kepada Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt,
Mudah-mudahan kita semua berada dalam lindungan dan rahmat Allah swt, karena perkara ini merupakan hal yang sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Adakah dakwah syaikh maulana itu sesuai sunah, adakah rasulullah menentukan hari tertentu, saya kira itukan hanya peraturan yang ada di JT aja !</strong></p>
<p>Pertanyaan di atas itu merupakan satu hal yang disampaikan melalui http://usahadawah.com/2008/11/19/melepas-kedok-jemaah-tabligh-bagian-5-habis/#comment-391.</p>
<p>Kepada Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt,</p>
<p>Mudah-mudahan kita semua berada dalam lindungan dan rahmat Allah swt, karena perkara ini merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan kita yang sementara ini. Sholawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada Nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para Shahabat RA, dan juga kepada pengikutnya yang setia sampai akhir jaman.</p>
<p>Pertanyaan &#8220;Apakah metoda da&#8217;wah Maulana Ilyas Rah ini sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW?&#8221; merupakan pertanyaan yang sering disampaikan. Mari kita ungkap bersama dalam hal ini dengan analisa dan sintesa terhadap perjalanan Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Perjalanan ini perlu dibagi ke dalam dua sisi perjalanan sejarah yaitu Mekkah dan Madinah, dan titik perpaduan dua sisi ini adalah hijrah itu sendiri.</p>
<p><span id="more-231"></span>Kita memulai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menguraikan hal-hal yang perlu diketahui bersama ketika masa mekkah, sebelum menjawab pertanyaan di atas.</p>
<p><em>Bagaimana cara da&#8217;wah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ketika jaman itu?</em></p>
<p><em>Apakah Nabi kita menyampaikan da;wah Islam kepada masyarakat di mekah dan thaif melalui selembaran, brosur, ataupun media lainnya? </em></p>
<p><em>Apakah Nabi kita melakukan da&#8217;wah ini bertemu langsung dengan masyarakat di jaman itu?</em></p>
<p><em>Bagaimana yang dilakukan Abu Bakar RA ketika sudah masuk Islam, dan bagaimana da&#8217;wah yang disampaikannya?</em></p>
<p><em>Apakah beliau, Abu Bakar RA, menggunakan surat atau selembaran untuk menyampaikan da&#8217;wahnya? Atau bertemu langsung dengan kalangan manusia di saat itu?</em></p>
<p><em>Apakah Rasulullah SAW bertemu dengan kumpulan manusia dari tempat ke tempat ketika beliau menyampaikan Islam di Mekkah atau beliau diundang? </em></p>
<p><em>Apakah Abu Bakar RA ini suka membantu da&#8217;wah Nabi kita sebagai pengarah kepada kaum-kaum di sekitar mekkah itu? </em></p>
<p><em>Apakah Nabi kita ketika menyampaikan da&#8217;wah di thaif dengan berbatas waktu?</em></p>
<p><em>Bagaimana cara Nabi kita da&#8217;wah di Thaif, meskipun akhirnya beliau dilempari dengan batu? Apakah beliau ini mengundang, atau beliau bertemu dahulu dengan para pemimpin di sana kemudian bertemu dengan masyarakat umum? </em></p>
<p><em>Apakah Nabi kita mengutus Musyaib bin Umair RA menyampaikan da&#8217;wah dan pengajaran Islam ke Madinah ini ditetapkan waktunya?</em></p>
<p><em>Bagaimana cara da&#8217;wah Musyaib Bin Umair RA di Madinah, ketika diutus Nabi kita, Nabi Muhammad SAW?</em></p>
<p><em>Apakah da&#8217;wah Nabi kita dengan harta sendiri?</em></p>
<p><strong>Dan masih banyak pertanyaan dapat diungkap di sini untuk melakuakn ekplorasi sejarah perjalanan da&#8217;wah Rasulullah SAW dan para Shahabat RA ketika waktu mekkah. Selanjutnya kita bertanya ketika waktu madinah. </strong></p>
<p><em>Apa yang disiapkan Nabi Kita, Nabi Muhammad SAW, ketika sampai di madinah pertama kali? Apakah rumah beliau atau masjid terlebih dahulu?</em></p>
<p><em>Apa yang dilakukan oleh beliau ketika di Madinah, terutama di masjid Nabawi itu?</em></p>
<p><em>Bagaimana cara Nabi kita menyampaikan da&#8217;wah Islam ke kampung lainnya? Apakah melalui surat atau bagaimana?</em></p>
<p><em>Apa yang dilakukan shahabat di rumah-rumah mereka ini? </em></p>
<p><em>Apakah Nabi mengirim orang-orang ke pemimpin bangsa lain untuk mengajak masuk Islam? Bagaimana sampai kesana? Dan apa yang diucapkan para Shahabat RA ketika itu?</em></p>
<p><em>Apakah para Shahabat RA ketika berpergian jihad/da&#8217;wah dengan harta sendiri atau harta orang lain?</em></p>
<p><strong>Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui sejarah di waktu itu untuk lebih mengenal dengan dekat sejarah Nabi bagaimana menjalankan da&#8217;wah itu.</strong><em> </em></p>
<p>Kami sebutkan di bawah ciri da&#8217;wah maulana Ilyas :</p>
<p>1. Berbasis di masjid</p>
<p>2. Bertemu langsung dengan kaum muslimin</p>
<p>3. Mengetuk dari rumah ke rumah</p>
<p>4. Melakukan perjalanan ke masjid-masjid kaum muslimin</p>
<p>5. Melakukan secara infirodhi dan ijtima&#8217;iyyah (jama&#8217;ah/rombongan)</p>
<p>6. Mengeluarkan dengan harta dan jiwa sendiri. (Catatan: Silahkan perhatikan dalam al-quran, ini merupakan tertib yang kurang banyak diperhatikan kaum muslimin)</p>
<p>7. Belajar langsung dalam perjalanan atau dalam bentuk mudzakarah</p>
<p>8. Membiasakan musyawarah untuk merencanakan kerja</p>
<p>dan masih banyak lagi yang tidak dapat dijelaskan. Dan hal itu kita dapat mulai melakukan kajian terhadap pertanyaan semula: &#8220;apakah metodologi ini sangat dekat dengan cara-cara da&#8217;wah yang dibangun oleh Rasulullah SAW?&#8221;</p>
<p><strong>Da&#8217;wah ini masih merupakan alif, ba, ta, dan masih panjang perjalanan da&#8217;wah ini untuk menjadikan Islam sebagai rahmatan Lil &#8216;Alamin. Karena kita kaum muslimin semuanya belum bersedia, risau, dan berpikir hidayah Islam sebagai rahmatan Lil&#8217;alamin, sehingga seluruh ummat manusia mengabdi kepada Allah swt dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. </strong></p>
<p><strong>Dan untuk lebih mengetahui, sebenarnya dipersilahkan untuk keluar/khuruj dengan waktu yang sesuai dengan waktu yang dimilikinya</strong>.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=231&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2009/02/25/adakah-dakwah-syaikh-maulana-itu-sesuai-sunah-adakah-rasulullah-menentukan-hari-tertentu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuan Da’wah</title>
		<link>http://usahadawah.com/2008/09/25/tujuan-da%e2%80%99wah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/2008/09/25/tujuan-da%e2%80%99wah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 00:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatan lil'alamin]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Tujuan Da&#8217;wah
Apa tujuan da&#8217;wah atau juga sasaran Da&#8217;wah? Pertanyaan ini sering disampaikan oleh kalangan Tarbiyyah. Ketika kami masih mahasiswa sering pertanyaan ini disampaikan dari kalangan tarbiyyah. Dan jika pertanyaan seperti ini tidak dijawab seringkali memberikan kerangka yang menggambarkan bahwa usaha da&#8217;wah ini tidak jelas kerjanya. Oleh karena itu mari kita mudzakarah bersama perihal sasaran da&#8217;wah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tujuan Da&#8217;wah</strong></p>
<p>Apa tujuan da&#8217;wah atau juga sasaran Da&#8217;wah? Pertanyaan ini sering disampaikan oleh kalangan Tarbiyyah. Ketika kami masih mahasiswa sering pertanyaan ini disampaikan dari kalangan tarbiyyah. Dan jika pertanyaan seperti ini tidak dijawab seringkali memberikan kerangka yang menggambarkan bahwa usaha da&#8217;wah ini tidak jelas kerjanya. Oleh karena itu mari kita mudzakarah bersama perihal sasaran da&#8217;wah ini, dan kami tuliskan apa yang kami pelajari selama terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini. Mudah-mudahan ini memberikan wacana bagi kaum muslimin, termasuk juga bagi teman-teman pergerakan Islam lainnya dan juga teman-teman ahli da&#8217;wah sendiri.</p>
<p>Tujuan merupakan sebuah harapan yang kita capai ketika menjalankan sebuah aktifitas. Dan tujuan ini dapat dikatagorikan menjadi tujuan jangka pendek, jangka menengah dan juga jangka panjang. Tetapi ada kalanya orang membagi menjadi tujuan secara umum, dan tujuan secara khusus. Kita sebagai kaum muslimin yang telah mengingatkan diri dan berusaha menjadi bagian dari da&#8217;I Allah swt, apakah itu mengingatkan kaum muslimin sendiri atau juga mengajak kaum yang lainnya. Seharusnya mengetahui apa tujuan kita melakukan aktifitas da&#8217;wah itu sendiri.</p>
<p><span id="more-80"></span>Dan bagi kaum muslimin yang berkeinginan berhubungan tujuan ini, maka sebaiknya untuk dapat terlibat secara berkesinambungan dengan usaha da&#8217;wah ini sendiri. Karena sepengetahuan kami tujuan-tujuan da&#8217;wah ini sering kali disampaikan dalam bentuk bayan, targhib dan juga zihin. Dan hampir semua yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini menyampaikannya secara berulang-ulang, meskipun hal itu tidak dinyatakan sebagai tujuan da&#8217;wah itu sendiri. Karena hal itu menjadi tujuan dari semua kaum muslimin itu sendiri, dan perkara itu menjadi hal mutlak bagi kaum muslimin sendiri untuk dipahami.</p>
<p>Kami mengajak kaum muslimin untuk memahami Tujuan Umum Da&#8217;wah yang perlu ditekankan kepada kaum muslimin yaitu Kesuksesan dunia dan akherat dapat dicapai melalui ketaatan kepada Allah swt dan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW. Dan hal ini menjadi inti dari da&#8217;wah itu sendiri. Perhatikan beberapa ayat di bawah ini:</p>
<p><em>&#8220;Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa&#8221; (QS Al-Baqarah (2): 21)</em></p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk&#8221; (QS Al-‘Araf (7): 158)</em></p>
<p><em> &#8220;Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah Termasuk orang-orang musyrik&#8221;. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.&#8221; (Al-An&#8217;am: (6): 161-162)</em></p>
<p><em> &#8220;Dan taatilah Allah dan rasul, supaya kamu diberi rahmat.&#8221; (QS Ali-Imran (3): 132)</em></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. &#8220;Kami mendengar, dan Kami patuh&#8221;. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan&#8221; (QS An-Nuur (24): 51-52)</em></p>
<p><em> &#8220;dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: &#8220;Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar&#8221;. (QS Lukman (31): 13)</em></p>
<p>Selanjutnya kami mengajak kaum muslimin untuk memahami terhadap tujuan atau sasaran khusus dari kerja da&#8217;wah ini, dan sebenarnya perkara dari tujuan ini seharus menjadi bagian seluruh kaum muslimin. Menjadi perhatian, menjadi pikiran, dan juga menjadi rencana bersama kaum muslimin.</p>
<p><strong>1.       Kita hendaknya berusaha untuk menjauhkan diri kita dan keluarga kita dari maksiyat kepada Allah swt. Sehingga kita dan keluarga terbebas dari api neraka Allah swt, dan masuk ke dalam surge Allah swt.  Jangan diri kita menjadi bagian orang yang merugi, tetapi menjadi bagian yang mendapatkan kejayaan di dunia yang hasanah dan juga akherat yang hasanah, sepertimana para Shahabat RA.</strong></p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.&#8221; (QS At-Tahrim: 6)</em></p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar&#8221; (QS At-Taubah (9): 100)</em></p>
<p><em>&#8220;Ya, Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kebakhilan dan berusia lanjut yang tidak kuat. Dan aku berlindung pada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka dan fitnah ketika hidup dan mati&#8221; (HR &#8211; Bukhari-Muslim)</em></p>
<p><strong>2.       Kita hendaknya berusaha meningkatkan pertumbuhan kebersamaan atau ukhuwah di antara kaum muslimin, semua kaum muslimin bersedia untuk saling mernghormati. Para Shahabat RA telah menunjukkannya dengan sangat baik dalam kehidupan mereka, dan semuanya tercatat dengan baik dalam lembaran-lembaran sejarah yang sangat bermanfaat bagi ummat Islam di kemudian hari.</strong></p>
<p><em>&#8220;Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat&#8221; (QS Al-Hujurat (49): 10)</em></p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri&#8221; (QS Lukman (31): 18)</em></p>
<p><em>&#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk&#8221; (QS Ali-Imran (3): 103)</em></p>
<p><em>&#8220;Dari ‘Ubadah bin Shamit RA meriwayatkan bahwasanya Rasulullah SAW bersadba: &#8220;Bukan dari golongan ummatku orang tidak menghormati orang yang telah tua, tidak menyayangi anak muda, dan tidak mengetahui haknya orang ‘alim kami (tidak memuliakan ulama)&#8221; (HR. Ahmad dan Thabrani dalam al-kabiir, dan isnadnya hasan &#8211; Majma&#8217;uz Zawaa&#8217;id I/338) [1]</em></p>
<p><strong>3.       Kita hendaknya berusaha menanamkan kembali kepada kaum muslimin sebagai ummat terbaik melalui kerja-kerja da&#8217;wah, amar ma&#8217;ruf nahi mungkar. Itulah yang banyak dipesankan oleh Rasulullah SAW dan juga para Shahabat RA. Ummar RA telah menjelaskan bahwa jika berkeinginan menjadi ummat terbaik, maka hendaknya mengikuti syarat-syaratnya.</strong></p>
<p><em>&#8220;Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar[1]; merekalah orang-orang yang beruntung&#8221; (QS Ali-Imran (3): 104)</em></p>
<p><em>&#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.&#8221; (QS Ali-Imran (3): 110)</em></p>
<p><em>[1] Ma&#8217;ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah; sedangkan Munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.</em></p>
<p><strong>4.       Kita bukanlah ummat untuk satu jaman atau satu area, tetapi kita ummat dari seorang Nabi, Nabi Muhammad SAW, yang mempunyai tugas sebagai rahmatan lil&#8217;alamin.</strong></p>
<p>&#8220;<em>Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmi&#8221; (QS At-Taubah:128)</em></p>
<p><em>&#8220;Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam&#8221; (QS Al-Anbiyaa: 107)</em></p>
<p>Tujuan dan sasaran umum dari da&#8217;wah yang diatas merupakan perkara Am, oleh karena itu usaha da&#8217;wah sendiri merupakan kerja Am bagi kaum muslimin. Sehingga kerja ini dapat melibatkan berbagai lapisan yang terdapat dalam kalangan kaum muslimin, apakah itu orang kaya, apakah itu orang miskin, apakah itu pedagang, apakah itu anggota partai Islam atau bukan, apakah itu kaum muslimin yang tidak berpartai secara langsung, apakah itu ulama, apakah itu santri atau pelajar, apakah itu tua atau muda, apakah itu professor atau mahasiswa sekalipun, apakah itu pengusaha atau para cendikia. Semuanya dapat mengambil kerja usaha da&#8217;wah ini, karena usaha da&#8217;wah ini merupakan kerja Am bagi kaum muslimin.</p>
<p>Untuk mendapatkan keempat hal itu di atas, tidak dapat kita hanya berdiam diri. Tetapi kita kerahkan pikir, tenaga, harta untuk mendapatkan itu semua. Dan selanjutnya Allah swt yang memberikan anugrah dan rahmat kepada masing-masing yang menjalankannya dan juga bergantung pada niat yang dimilikinya. Itulah yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan memberikan manfaatnya.</p>
<p>Terimakasih atas perhatiannya.<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=80&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/2008/09/25/tujuan-da%e2%80%99wah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
