<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; salafi</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/salafi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengherankan jika Mengkritik Tatacara Usaha Da&#8217;wah</title>
		<link>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 03:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/2010/01/16/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap aktifitas di muka bumi ini tentunya mempunyai tatacara untuk mencapai sasaran yang ditetapkannya. Tidaklah masuk akal jika kita mempunyai sasaran yang hendak dicapai tidak mempunyai tatacara / prosedur / proses yang sistematik. Jadi sangat heran jika ada yang memberikan pandangan kritik terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini dikarenakan tatacara atau pola da&#8217;wah yang dibangunnya.
Sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap aktifitas di muka bumi ini tentunya mempunyai tatacara untuk mencapai sasaran yang ditetapkannya. Tidaklah masuk akal jika kita mempunyai sasaran yang hendak dicapai tidak mempunyai tatacara / prosedur / proses yang sistematik. Jadi sangat heran jika ada yang memberikan pandangan kritik terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini dikarenakan tatacara atau pola da&#8217;wah yang dibangunnya.</p>
<p>Sangat heran jika ada seorang mahasiswa muslim seenaknya belajar dan tidak mengikuti aturan atau tatacara prosedur yang ditetapkan di lingkungan sekolah yang dimilikinya. Atau juga akan bertambah heran jika seorang muslim yang mengambil program S2 atau S3 tidak mengikuti aturan tatacara yang ditetapkannya, dengan alasan yang terpenting adalah sekolah S2 dan menuntut Ilmu.</p>
<p><span id="more-299"></span>Ataupun juga seorang pedagang ataupun karyawan perusahaan tidak jelas apa yang dikerjakannya, karena yang terpenting adalah kerja dan datang ke tempat kerja. Jelas pola berpikir seperti ini sangat keliru dan perlu diluruskan dengan baik. Inilah salah satu kelemahan kaum muslimin saat ini, karena kita kaum muslimin tidak pernah mengelola satu aktifitasnya dengan lebih baik dari perjalanan waktunya.</p>
<p>Allah swt sendiri sering menjelaskan perihal keteraturan alam semesta ini yang tentunya Allah swt memperlihatkan dalam alam semesta ini terdapat aturan yang sistematik dan menyeluruh. Itulah Allah swt memberikan pengajaran untuk memperhatikan alam ini, dan memang yang mendapatkan pelajaran itu hanya sebagian orang saja.</p>
<p><strong>&#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.&#8221; (QS Ali-Imran (3):190-191)</strong></p>
<p>Allah swt menjelaskan dengan sangat jelas perihal pertumbuhan manusia dari mulai pencampuran sperma dengan sel telur, terus daging, sampai terbentuk menjadi bayi. Allah swt menjelaskan pertumbuhan tersebut dengan sangat baik dan jelas. Jadi sudah sepatutnya kita kaum muslimin jika mempunyai program/kerja/aktifitas tentunya harus dikelola dengan baik dalam tatacaranya.</p>
<p>Oleh karena itu, kita kaum muslimin tentunya berkeinginan untuk mendapatkan penjelasan terlebih dahulu, sebelum kita ini memberikan kritik yang akhirnya memberikan ketidakpahaman hal itu sendiri secara menyeluruh. Seorang Ulama sekalipun  yang faqih dalam satu perkara / satu bidang Ilmu Islam, bukan berarti beliau ini menguasai dengan baik bidang lainnya. Tetapi kita tentunya tetap harus menghormati seluruh Ulama dengan baik, jika terjadi kekeliruan. Karena ada satu pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW bahwa tandanya beriman kepada Allah swt dan hari akhir adalah menghormati hak-haknya Ulama kita kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh ini telah begitu sistematik proses yang dilakukannya mulai dari akan pergi/khuruj sampai ke pulang kembali ke rumah masing-masing. Semua aktifitas itu disusun dengan rapi dan sistematik untuk menghasilkan hasil yang terbaik pula. Tatacara dalam usaha da&#8217;wah ini merupakan keterpaduan ataupun himpunan pelajaran Al-Islam menjadi satu model gerakan untuk menampilkan Al-Islam itu sendiri. Jadi jangan dianggap bahwa tatacara itu tidak mempunyai landasan Al-Quran dan As-Sunnah.</p>
<p>Dan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini sebenarnya sangat sederhana dan siapapun kaum muslimin tingkatan latar belakang, profesi, dan umur dapat mengikutinya dengan baik. Berbeda dengan tingkatan pendidikan dan kajian Islam, tidak semua latar belakang dan umur dapat mengikuti dengan baik. Oleh karena itu untuk memahami usaha da&#8217;wah dan tabligh ini kita sendiri perlu meluangkan waktu untuk khuruj/keluar dengan baik dan teratur.</p>
<p>Jadi bagi kami sangat mengherankan jika ada yang memberikan komentar ataupun kritik terhadap usaha da&#8217;wah ini dikarenakan tatacara dari usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Misalkan seperti waktu lama khuruj. Sudah sangat jelas bahwa waktu juga perlu dibuatkan keteraturan yang baik untuk mengelolanya. Karena orang yang mengikuti khuruj ini juga mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap aktifitas-aktifitas lainnya yang perlu ditunaikan dengan baik pula. Bisa kita semua bayangkan jika  mendalami Al-Islam itu tidak diatur waktunya secara baik. Bisa tidak karuan hidup manusia jika tidak ada keteraturan dalam waktu itu.</p>
<p>Perihal waktu kami sudah jelaskan sebelumnya sebagai contoh. Kami sudah memberikan penjelasan bahwa semua kehidupan ini memerlukan keteraturan dengan baik. Dan Al-Quran dan As-Sunnah memperlihatkan itu dengan sangat jelas perihal kita perlu untuk menyusun segala aktifitas dengan keteraturan/tatacara yang baik.</p>
<p>Sehingga usaha da&#8217;wah dan tabligh yang telah menyusun tatacara/proses aktifitas da&#8217;wahnya itu merupakan hal yang ilmiyyah apakah secara dalil naqli ataupun dalil aqli. Dan <strong>tatacara aktifitas da&#8217;wah ini menjadi sebuah khazanah aktualisasi dari berbabagai sumber-sumber yang telah ditulis dalam kitab-kitab Para Ulama dulu</strong>. Dan bagi para penuntut ilmu, tentunya hal ini menjadi sebuah khazanah pendalaman yang menarik. Terimakasih.</p>
<p>(Insya Allah kami lanjut dalam bahasan lain)</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=299&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebagian Kaum Muslimin Selalu Berkomentar Pada Jumlah Hari Khuruj Usaha Da&#8217;wah, Tetapi Kerdil dalam Analisa dan Sintesa</title>
		<link>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 02:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.
Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, oleh karena itu tentunya kita sendiri perlu banyak berhubungan dengan kisah-kisah itu dengan baik. Perihal waktu sebenarnya tidak merupakan hal yang kaku, tetapi setidaknya dengan adanya pola tertib/keteraturan itu akan lebih mudah bagi kaum muslimin sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da’wah ini cukup banyak sebagai ahli hadist, oleh karena itu banyak di antaranya menulis syarh hadits hadist yang cukup tebal-tebal.</p>
<p>Perihal waktu itu banyak berhubungan dengan pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan 10%, dan juga tentunya ada beberapa kisah yang berkaitan dengan 3 hari, 40 hari, 4 bulan. Memang kejadiannya sangat berbeda dan juga aktifitasnya berbeda, tetapi setidaknya pola itu dapat dipergunakan untuk ketertiban dan kemudahan bagi kaum muslimin. Karena meskipun berbeda dari aktifitasnya, tetapi mempunyai kedekatan dari proses penyebaran dan juga pengorbanan untuk agama kita yang mulia, Al-Islam. 3 hari kisah Khalid Bin Walid RA, 40 hari berkaitan kisah Ummar Bin Khatab RA, begitupun juga dengan 4 Bulan berkaitan dengan Ummar Bin Khatab RA. Silahkan untuk membuka lembaran kisah itu yang cukup menarik.</p>
<p><span id="more-297"></span>Waktu khuruj ini tidak kaku, tetapi sangat fleksibel. Berbeda dengan sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dana S1,S2, S3 mempunyai batas bawah dan atas. Sedangkan khuruj ini lebih banyak tentunya akan lebih memberikan kesan kepada yang menjalankannya. Tetapi meskipun begitu harus tertib dan beraturan. Pola waktu untuk SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 juga diadopsi dari dunia pendidikan barat, dan hal itu juga dipergunakan untuk pendidikan dan pengajaran bidang-bidang Islam. Padahal tidak ada waktu-waktu pendidikan itu di jaman Rasulullah SAW, Para Shahabat RA, tetapi memberikan manfaat dan memberikan kemudahan bagi penyusun kurikulum dan silabusnya secara bertingkat.</p>
<p>Jadi waktu 3 hari, 40 hari, 4 bulan, merupakan proses keteraturan untuk memberikan kemudahan, disamping juga dianalisa dan disintesa berdasarkan pada kaidah 10% yang menjadi pesan Nabi kita sendiri. Yang diharapkan tentunya akan meningkat terus, mungkin kita pernah mendengar bahwa ada yang mau menginfaqkan semuanya, tetapi akhirnya hanya 1/3 saja. Dan tentunya jika pengorbanan 1/3  ini dapat dilakukan cukup luar biasa pengaruhnya kepada dunia Islam. Sekarang saja baru dengan pola 10% sudah begitu besar pengaruhnya di dunia Eropa, bagaimana jika 1/3 waktu tentunya akan sangat berbeda pengaruhnya.</p>
<p>Oleh karena itu jangan antum semua terjebak dengan waktu atau lamanya, karena hal itu sudah menjadi hal umum dalam kehidupan kita agar lebih tertarur. Dan Allah swt sendiri dan Nabi kita Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan kepada kita semua perihal waktu ini, hanya saja kita kurang memperhatikan dengan baik. Jadi perihal waktu itu untuk memudahkan, begitu juga dengan pesan 10% Nabi kita, serta juga pesan Ummar RA dengan 40 hari dan 4 bulan, semua untuk menjadi teratur hidup ini. Dan ini jelas diikuti para Ulama yang benar-benar faham dengan usaha da’wah ini. Jadi tidak asal copot saja hikmah yang dibangun itu, tetapi dengan segala pertimbangan mendalam apalagi mereka ini kebanyakan ahli hadist.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan baik terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri. Sehingga semakin lama tentunya akan memberikan kesan yang lebih baik kepada setiap orang yang melakukan khuruj.</p>
<p>Tetapi juga kita sendiri jangan melupakan musuh yang akan terus menggoda kita, yaitu syeithan, dan tentunya dorongan nafsu kita sendiri yang mengarah pada hal-hal yang tidak sesuai. Itulah perlunya ketika khuruj itu mengikuti tertib-tertib dan ushul da’wah. Tanpa tertib dan ushul, maka syeithan dan nafsu akan sangat mudah masuk dalam proses ishlah/perbaikan diri kita dalam suasana agama, sehingga akhirnya tujuan yang hendak dicapai tidak dapat dicapai dengan baik.</p>
<p>Seluruh tertib dan ushul itu mempunyai landasan Al-quran dan/atau as-sunnah.  Seluruh tertib dan ushul ini dijalankan sebaik mungkin, tidak dalam bentuk dalil-dalil detail yang perlu dihafal. Dan untuk menjaga tertib dan ushul itu maka musyawarah menjadi landasan utama. Musyawarah dalam usaha da’wah merupakan hal yang sangat penting diperhatikan, sehingga agendanya sangat beragam dan tingkatan bahasannya. Musyawarah  sebenarnya membentuk pikir, kepahaman dan tanggung jawab terhadap da’wah Islam itu sendiri.</p>
<p>Perihal dalil-dalil detail yang berkaitan dengan tertib dan ushul, bagi kalangan alim-ulama dan juga penuntut ilmu biasanya mempunyai keinginan yang berbeda dengan kalangan umum. Sehingga kadangkala menghafal hadist yang begitu panjang, kami pernah mendengarkan satu hadist dalam Bahasa arab yang disampaikan dari orang Perancis turunan arab, mungkin kalau dituliskan Bahasa arabnya mungkin saja 2-3 halaman. Itu yang mempunyai jiwa thalab yang tinggi.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri.</p>
<p>Dalam hal ini banyak dalil berkaitan dengan aktifitas/kerja ketika khuruj yang kita dapat peroleh untuk menguatkan minat kita terhadap usaha da’wah dan tabligh ini, karena memang usaha da’wah ini untuk seluruh kaum muslimin. Dan jika sudah waktunya, amal ini akan kembali ke masjid Nabawi seperti mana kepala ular kembali ke kandangnya. Mungkin sdr. pernah mendengar satu hadist yang hampir sama dengan konteks dengan kalimat itu. Itulah sebenarnya yang akan terjadi dan akan dikembalikan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=297&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kabar Dusta dan Fitnah: Ahli Usaha dakwah dan tabligh menyembah kuburan di Markas Nizhamuddin</title>
		<link>http://usahadawah.com/kabar-dusta-dan-fitnah-ahli-usaha-dakwah-dan-tabligh-menyembah-kuburan-di-markas-nizhamuddin/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kabar-dusta-dan-fitnah-ahli-usaha-dakwah-dan-tabligh-menyembah-kuburan-di-markas-nizhamuddin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 13:37:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: http://tetesanhujan.wordpress.com/2008/12/01/kabar-dusta-dan-fitnah-ahli-usaha-dakwah-dan-tabligh-menyembah-kuburan-di-markas-nizhamuddin/
Mereka berkata, markas jamaah tabligh di India adalah tempat kemusyrikan, karena biasa memuja dan menyembah kuburan syaikh Nizhamuddin awliya
Fitnah para pembohong/ pendusta 
Tuduhan bahwa jamaah tabligh menyembah kubur di Nizhamuddin India adalah fitnah dan dusta. Hal ini pasti bohongnya, karena dari kalimat tuduhan tersebut dapat dipastikan bahwa si penuduh belum pernah mengunjungi Masjid Banglawali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sumber: http://tetesanhujan.wordpress.com/2008/12/01/kabar-dusta-dan-fitnah-ahli-usaha-dakwah-dan-tabligh-menyembah-kuburan-di-markas-nizhamuddin/</p>
<p align="center"><em>Mereka berkata, markas jamaah tabligh di India adalah tempat kemusyrikan, karena biasa memuja dan menyembah kuburan syaikh Nizhamuddin awliya</em></p>
<p><strong>Fitnah para pembohong/ pendusta </strong></p>
<p>Tuduhan bahwa jamaah tabligh menyembah kubur di Nizhamuddin India adalah fitnah dan dusta. Hal ini pasti bohongnya, karena dari kalimat tuduhan tersebut dapat dipastikan bahwa si penuduh belum pernah mengunjungi Masjid Banglawali di kampung Nizhamuddin, New Delhi, India.</p>
<p><span id="more-221"></span>Berita atas tuduhan ini sangat menyesatkan banyak orang, sehingga ada sebagian orang yang mempercayainya begitu saja, dan memvonis bahwa jamaah dakwah dan tabligh memang telah melakukan kemusyrikan dan menyimpang dari akidah islam.</p>
<p>Namun bagi mereka yang sudah pernah hadir dan menyaksikan langsung hal ihwal dan keadaan disana yang sebenarnya, tentu mereka akan tertawa terbahak-bahak atas kebohongan yang sungguh nyata tersebut.</p>
<p>Seandainya para pendusta itu benar-benar telah hadir dan menyaksikan tempat yang benar, bukan ke tempat yang salah, pasti mereka akan menyesali bahwa apa yang mereka tuduhkan itu adalah salah sama sekali dan suatu fitnah yang besar.!!</p>
<p>Salah seorang tokoh senior sekaligus penanggung jawab usaha dakwah dan tabligh di Indonesia, pada suatu ketika bertemu dengan seorang ustadz yang menyinggung masalah ini. Ustadz tersebut langsung menuduh bahwa Jamaah tabligh telah melakukan kemusyrikan dengan menyembah kuburan di Nizhamudin, India.</p>
<p>Mendengar hal itu, maka orang tua dari jamaah tabligh ini berkata, &#8221; Dari mana bapak mendapatkan sumber berita itu?&#8221; Kemudian Ia menjawab, &#8220;Saya mendapatkannya dari sumber yang terpercaya.&#8221; Tokoh jamaah tabligh tersebut bertanya, &#8220;Apakah bapak sudah meneliti kebenaran berita itu?&#8221; Kemudian ustadz tersebut berkata, &#8220;Itu tidak perlu, karena saya mempercayai kebenaran berita itu&#8221;. Tokoh jamaah tabligh itupun menyahut, &#8220;Masya Alloh, hadits-hadits Nabi saw saja, bapak seleksi dengan ketat keshahihannya dan kedhaifannya, mengapa berita yang demikian palsu bapak telan bulat-bulat?!!&#8221;</p>
<p>Demikianlah yang terjadi. Dan hal ini menguatkan keyakinan, bahwa para penuduh yang menyatakan bahwa jamaah tabligh telah menyembah kuburan di Nizhamuddin awliya India, adalah para PENDUSTA/PEMFITNAH yang tidak pernah sama sekali meneliti maupun memeriksa kebenaran berita tersebut. Dan mereka hanya membenarkan tuduhan tersebut, hanya disebabkan tertutupnya hati dari kebenaran yang sesungguhnya.</p>
<p>Oleh sebab itu, mari kita simak, bagaimana sebenarnya keadaan yang sesungguhnya mengenai tuduhan tersebut.</p>
<p><strong>Makam Syaikh Nizhamuddin Awliya</strong></p>
<p>Basti Nizhamuddin adalah nama sebuah kampung di kota Delhi, India. Basti bermakna kampung dalam bahasa Urdu. Didalamnya terdapat sebuat tempat penziarahan yang luas namun padat didatangi bukan hanya oleh kaum muslimin awam, namun juga oleh orang-orang hindu.</p>
<p>Disitulah kuburan/makam Syaikh Nizhamuddin Awliya, seorang waliyullah yang sangat terkenal. Beliau adalah seorang dai sekaligus pejuang besar yang telah banyak berjuang menegakkan islam di kawasan India dan Pakistan. Sayangnya, kuburan beliau dianggap oleh orang-orang jahil sebagai kuburan yang sangat bertuah dan keramat., sehingga sebagian mereka berkeyakinan akan mendapatkan keberkahan dari kuburan tersebut jika mereka menziarahinya.</p>
<p>Oleh sebab itu, tidak heran jika ditempat tersebut menjadi tempat yang ramai didatangi oleh berbagai kalangan manusia yang telah tertipu akidah mereka. Diantara mereka ada sebagian dari kalangan kaum muslimin dan sebagian lain-yang tidak kalah ramai-juga datang dari kalangan non muslim.</p>
<p>Tempat tersebut sangat jelas berbeda sama sekali dengan markas atau pusat perhimpunan Jamaah tabligh dari seluruh dunia, yaitu di kampung yang sama; Nizhamuddin tetapi di Masjid Banglawali, bukan di kuburan Syaikh Nizhamuddin Awliya.</p>
<p>Inilah yang telah banyak mengecoh orang-orang. Bagi anda yang baru pertama kali ke India pun biasanya akan terkecoh mengenai hal ini. Biasanya, sejak pintu keluar dari Air Port New Delhi, orang-orang hingga agen-agen perjalanan ataupun supir-supir angkutan (yaitu orang-orang hindu) sudah sangat akrab dengan rute tujuan Nizhamuddin Awliya. Anda cukup menyebutkan tujuan Basti Nizhamuddin awliya, maka mereka akan memahaminya bahwa anda akan berkunjung ke kubur syaikh nizhamuddin awliya tersebut.</p>
<p>Dan seandainya anda tidak mengenal tempat yang anda tuju mereka akan mengantarkannya ke tempat kuburan keramat syaikh nizhamuddin awliya, bukan ke tempat perhimpunan jamaah tabligh yang dimaksud, yaitu di Masjid Banglawali.</p>
<p>Inilah kekeliruan yang sangat merusak citra jamaah tabligh. Apabila tidak diluruskan maka akan menjadi finah yang keji dan persangkaan buruk secara umum.</p>
<p><em>(Sumber: Kupas tuntas jamaah tabligh jilid 2)</em></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=221&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kabar-dusta-dan-fitnah-ahli-usaha-dakwah-dan-tabligh-menyembah-kuburan-di-markas-nizhamuddin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salah Kaprah Terhadap Ucapan Salaf…</title>
		<link>http://usahadawah.com/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 03:54:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komentar Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[ahli bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Salafi]]></category>
		<category><![CDATA[manhaj salaf]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Kaum Muslimin Yang Budiman,
Kami mendapatkan pandangan dalam satu Blog, tetapi yang lebih MENJADI PERHATIAN adalah &#8220;SEBAGIAN RIWAYAT TENTANG PERINGATAN PARA SALAF AGAR JANGAN DUDUK DAN BERGAUL DENGAN AHLI BID&#8217;AH&#8221;.
Jika kami yang memberikan pandangan berimbang selalu mendapatkan hal-hal yang kurang kembali. Oleh karena itu, kami nukilkan di bawah ini yang berasal dari Blog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,<br />
Kaum Muslimin Yang Budiman,</p>
<p>Kami mendapatkan pandangan dalam satu Blog, tetapi yang lebih MENJADI PERHATIAN adalah &#8220;<strong>SEBAGIAN RIWAYAT TENTANG PERINGATAN PARA SALAF AGAR JANGAN DUDUK DAN BERGAUL DENGAN AHLI BID&#8217;AH&#8221;.</strong></p>
<p>Jika kami yang memberikan pandangan berimbang selalu mendapatkan hal-hal yang kurang kembali. <strong>Oleh karena itu, kami nukilkan di bawah ini yang berasal dari Blog Salafi Wahabi lainnya, &#8220;SALAH KAPRAH TERHADAP UCAPAN SALAF&#8221;</strong></p>
<p><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- </strong></p>
<p><strong>SEBAGIAN RIWAYAT TENTANG PERINGATAN PARA SALAF AGAR JANGAN DUDUK DAN BERGAUL DENGAN AHLI BID&#8217;AH </strong><a href="http://alatsar.wordpress.com/2007/04/27/jamaah-tabligh-dalam-sorotan-tajam/">http://alatsar.wordpress.com/2007/04/27/jamaah-tabligh-dalam-sorotan-tajam/</a></p>
<p>Sebelum saya membawakan sebagian riwayat dari para salaf tentang larangan duduk dan bergaul dengan ahli bid&#8217;ah akan saya bawakan riwayat dari ibu kita Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat: <em>&#8220;Dia yang menurunkan kepadamu al kitab. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat (jelas) dan itu adalah induk kitab dan yang lainnya adalah mutasyabihat (samar)&#8221; hingga ayat: &#8220;Dan tidak ada yang mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.&#8221; (Ali Imran: 7). Maka beliau bersabda: Bila kalian melihat orang-orang yang mencari-cari ayat-ayat yang mutasyabihat, maka merekalah yang disebutkan Allah dalam ayat ini dan berhati-hatilah terhadap mereka.</em> (HR. Bukhari dan yang lainnya).</p>
<p><span id="more-106"></span>Adapun dari atsar adalah ucapan Al Hasan dan Ibnu Sirin, keduanya berkata: <em>&#8220;Janganlah kalian duduk bersama para pengikut hawa nafsu, mendebat mereka dan jangan mendengar ucapan mereka.&#8221; </em>(Riwayat Ad Darimi dalam sunannya 1/110 dan Al Lalika`i dalam Syarh Ushul I&#8217;tiqad Ahlus sunnah wal jama&#8217;ah 1/133).</p>
<p>Abu Qilabah berkata: <em>&#8220;Jangan kalian duduk dan bergaul dengan ahlul bid&#8217;ah, karena aku merasa tidak aman kalau mereka akan membenamkan kalian dalam kesesatan dan mengaburkan kepada kalian banyak hal yang telah kalian ketahui.&#8221;</em> (Riwayat Ad Darimi 1/108 dan Al Lalika`i 1/134).</p>
<p>Yahya bin Abi Katsir berkata: <em>&#8220;Kalau engkau berpapasan dengan Ahli bid&#8217;ah di satu jalan, maka carilah jalan lain.&#8221;</em> (Riwayat Al Lalika`i 1/1137).</p>
<p>Abdullah bin Al Mubarak berkata: <em>&#8220;Hendaklah majlismu bersama orang-orang miskin dan janganlah engkau bermajlis dengan Ahlul bid&#8217;ah.&#8221;</em> (Al Lalika`i 1/137).</p>
<p>Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata: <em>&#8220;Siapa yang didatangi oleh seseorang dan meminta pendapatnya tapi dia malah menyuruh orang yang datang itu untuk mendatangi Ahli bid&#8217;ah, berarti dia telah menipu Islam. Hati-hati, jangan mendatangi Ahli bid&#8217;ah, karena mereka menghalangi kalian dari kebenaran.&#8221;</em> (Al Lalika`i 1/137).</p>
<p>Beliau berkata juga: <em>&#8220;Jangan engkau duduk bersama Ahlul bid&#8217;ah, karena aku takut laknat Allah turun kepadamu.&#8221; </em>(Al Lalika`i 1/137).</p>
<p>Beliau berkata lagi: <em>&#8220;Aku menemui manusia yang baik-baik, mereka semua adalah Ahlus sunnah dan mereka melarang bergaul dengan ahlul bid&#8217;ah.&#8221;</em> (Al Lalika`i 1/138).</p>
<p>Ibrahim bin Maisarah berkata: &#8220;Siapa yang menghormati Ahli bid&#8217;ah, berarti dia telah membantu untuk menghancurkan Islam.&#8221; (Al Lalika`i 1/139).</p>
<p>Al Hasan Al Bashri berkata: <em>&#8220;Melaknat Ahlul bid&#8217;ah dan orang fasiq karena kefasikannya bukan termasuk ghibah.&#8221;</em> (Al Lalika`i 1/140).</p>
<p>Ada seseorang bertanya kepada Sa&#8217;id bin Jubair tentang sesuatu tapi dia tidak menjawabnya. Ada yang menanyakan tentang sikapnya itu kepadanya, maka dia mengatakan: &#8220;Dia (si penanya) adalah Azayisyan (dalam bahasa Persia yang berarti dari mereka, yaitu dari ahlul bid&#8217;ah).&#8221; (Ad Darimi 1/109).</p>
<p>Mujaddid abad 20, syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata dalam risalahnya kepada penduduk Qashim yang berisi tentang aqidahnya: &#8220;Dan saya berpendapat bahwa ahlul bid&#8217;ah harus diisolir dan dijauhi hingga mereka bertaubat.&#8221; (Rasa`ilusy Syakhshiyyah hal. 11 yang berisi kumpulan karangan-karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang dikumpulkan oleh Universitas Al Imam Muhammad bin Su&#8217;ud Al Islamiyyah).</p>
<p>Dan riwayat-riwayat tentang hal itu banyak sekali, maka dimana kedudukan orang-orang yang menyuruh para pemuda muslim dan orang awam yang mereka tidak memiliki ilmu untuk bergaul dengan jama&#8217;ah Tabligh dan mengambil ilmu dari mereka (padahal kelompok ini adalah ahlul bid&#8217;ah, -pent). Di mana kedudukan mereka di hadapan nash-nash (keteranga-keterangan) ini.</p>
<p>Hendaklah mereka takut kepada Allah karena para pemuda ini agamanya akan menjadi kabur dan hendaklah takut kepada ayat Allah yang berbunyi (yang artinya):<em>&#8220;Hendaklah mereka memikul dosa-dosa mereka secara sempurna dan dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak tahu sedikitpun bahwa mereka disesatkan. Ingatlah, amat buruk sekali apa yang mereka pikul itu.&#8221;</em> (An Nahl: 25).</p>
<p>(Waqafat hal. 17-41 dengan beberapa ringkasan)</p>
<p><strong>Jika kami yang memberikan PANDANGAN BERIMBANG selalu mendapatkan hal-hal yang kurang tepat kembali. Oleh karena itu, kami nukilkan di bawah ini yang berasal dari Blog Salafi Wahabi lainnya.</strong></p>
<p><strong>&#8220;SALAH KAPRAH TERHADAP UCAPAN SALAF&#8221;. </strong><a href="http://abusalma.wordpress.com/2007/11/06/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf/">http://abusalma.wordpress.com/2007/11/06/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf/</a></p>
<p>Seringkali kita mendengar atau membaca ucapan-ucapan hikmah ulama salaf, terutama yang berkaitan dengan pensikapan terhadap ahli bid&#8217;ah. Misalnya :</p>
<p align="justify">Al-Imam Al-Fudhail bin Iyyadh berkata :</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Siapa yang duduk dengan ahli bid&#8217;ah maka berhati-hatilah darinya dan siapa yang duduk dengan ahli bid&#8217;ah tidak akan diberi Al- Hikmah. Dan saya ingin jika antara saya dan ahli bid&#8217;ah ada benteng dari besi yang kokoh. Dan saya makan di samping yahudi dan nashrani lebih saya sukai daripada makan di sebelah ahli bid&#8217;ah</em>.&#8221; (Al Lâlikâ`i 4/638 nomor 1149)</p>
<p align="justify">Al-Imam Hanbal bin Ishaq berkata, saya mendengar Abu Abdillah (Imam Ahmad) berkata :</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Tidak pantas seseorang itu bersikap ramah kepada ahli bid&#8217;ah, duduk dan bergaul dengan mereka</em>.&#8221; (Al-Ibânah 2/475 nomor 495)</p>
<p align="justify">Al-Imam Al Barbahary berkata :</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Apabila tampak bagimu satu perkara bid&#8217;ah pada seseorang maka jauhilah dia sebab sesungguhnya yang dia sembunyikan darimu jauh lebih banyak dari yang dia tampakkan</em>.&#8221; (Syarhus Sunnah 123 nomor 148)</p>
<p align="justify">Dan masih banyak lainnya&#8230;</p>
<p align="justify">Sungguh ucapan para imam di atas adalah ucapan hikmah dan haq, sebagai upaya untuk menjaga kemurnian agama umat. Namun, suatu hal penting yang patut dicatat di sini adalah : ucapan para imam tersebut akan menjadi hikmah apabila ditempatkan pada proporsi dan tempatnya, sebab diantara makna hikmah adalah : <em>wadh&#8217;u asy-Syai` fil mahallihi</em> (menempatkan sesuatu pada tempatnya). Sesuatu yang tidak ditempatkan pada tempatnya adalah sia-sia, bahkan dapat memadharatkan.</p>
<p align="justify">Ironinya, betapa sering kita lihat sebagian pemuda dan sahabat kita, yang dibakar oleh semangat tanpa ilmu, menerapkan ucapan para ulama salaf dengan serampangan dan asal-asalan. Ketika bertemu dengan saudaranya seislam ia tidak mau salam maupun menjawab salam, tidak mau senyum, bersikap kaku lagi keras, dan sifat-sifat buruk lainnya. Anehnya, ketika ditanyakan sebab mereka melakukan ini, mereka menjawab bahwa mereka sedang menerapkan ucapan ulama salaf untuk menjauhi ahli bid&#8217;ah dan bersikap keras terhadap mereka.</p>
<p align="justify">Parahnya lagi, terhadap sesama ahlus sunnah, mereka halalkan <em>ghîbah</em> (menggunjing) dengan alasan <em>tahdzîr </em>(memperingatkan dari kesesatan), mereka halalkan <em>muqôtho&#8217;ah </em>(pemboikotan) dengan alasan <em>hajr </em>(isolir), mereka halalkan sikap keras dan bengis dengan alasan <em>tabdî&#8217; </em>(menvonis bid&#8217;ah) terhadap <em>hizbî mubtadi&#8217;</em>!? Mereka sibukkan diri dengan <em>tatabbu&#8217; al-Aktho&#8217;</em> (mencari-cari kesalahan) dengan alasan <em>jarh wa ta&#8217;dîl</em>!? Ketika ditanya, maka jawaban yang meluncur adalah : &#8220;<em>Bertetangga dengan yahudi dan nashrani lebih aku sukai daripada bertetangga dengan pengekor hawa nafsu (ahli bid&#8217;ah) karena ini menyebabkan hatiku berpenyakit</em>.&#8221; (Ucapan Imam Abu Musa dalam Al-Ibânah 2/468 nomor 469) dan ucapan semisal&#8230;</p>
<p align="justify">Akhirnya syiar mereka terhadap siapa saja yang menyelisihi mereka adalah :</p>
<p align="center">?????? ???????? ????? ??????? ???????? ???????? ????? ??????????</p>
<p align="center"><em>Tidak ada nasab pada hari ini dan tidak pula hubungan persahabatan</em></p>
<p align="center"><em>Perpecahan benar-benar telah melebar atas keretakan yang ada</em></p>
<p align="justify">Al-Ustadz Abu Sumayyah, ‘Abdur Ra&#8217;?f Muhammad <em>hafizhahullahu </em>mengabarkan : Setelah menyelesaikan ibadah ‘Umrah dengan keluargaku pada hari Kamis malam, 5 Juli 2007, saya menghadiri <em>durus</em> (pelajaran) Fadhîlatusy Syaikh Shâlih bin Muhammad al-Luhaidân <em>hafizhahullahu</em> (ketua Mahkamah Tinggi Agama Arab Saudi) di al-Haram al-Makki pada hari Jum&#8217;at Juli 2007 ba&#8217;da sholat Maghrib. Syaikh ketika itu menyampaikan ceramah yang bermanfaat tentang rukun Islam, kemudian diikuti sesi tanya jawab. Syaikh ditanya dalam salah satu sesi :</p>
<p align="justify">&#8220;Apa pandangan anda terhadap beberapa pemuda yang menggunakan ucapan para salaf berkenaan tentang <em>hajr </em>dan <em>tahdzîr</em> terhadap ahli bid&#8217;ah, dalam rangka untuk menjustifikasi (membenarkan) <em>hajr</em> dan <em>tahdzîr</em> mereka terhadap ahli sunnah, yang memiliki beberapa perbedaan dalam beberapa masalah dengan mereka (yang tidak melibatkan perbuatan bid&#8217;ah) atau di dalam suatu perkara yang ada <em>ikhtilâf</em> pendapat di dalamnya?&#8221;</p>
<p align="justify">Syaikh menjawab :</p>
<p align="justify">&#8220;Pemahaman ini tidak benar dan seorang thôlibul ‘ilmi tidak boleh mengikuti cara seperti ini di dalam berhubungan dengan orang-orang yang berbeda dengannya. Perbuatan ini disebabkan oleh karena kesesatan dan kejâhilan para pemuda ini. Allôhu a&#8217;lam&#8221; [http://madeenah.com]</p>
<p align="justify">Sungguh benar apa yang dinyatakan oleh Fadhîlatusy Syaikh Shâlih bin Muhammad al-Luhaidân <em>hafizhahullâhu</em>, bahwa tindakan seperti itu bukanlah tindakan para <em>thôlibul ‘ilmi</em>, namun tidak lebih tindakan dari para pemuda yang <em>jâhil</em> namun bersikap <em>muta&#8217;âlim </em>(sok berilmu) !!! Dan sikap seperti ini sungguhlah jauh dari sifat dan hakikat salaf. [Masalah hakikat dan sifat salaf, akan saya turunkan tersendiri dari buku al-‘Allâmah asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hâdi al-Madkholî yang berjudul "<em>Quth?f min Nu'?tis Salaf</em>", semoga Allôh memudahkannya].</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=106&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/salah-kaprah-terhadap-ucapan-salaf%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

