<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; tertib da&#8217;wah</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/tertib-dawah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebagian Kaum Muslimin Selalu Berkomentar Pada Jumlah Hari Khuruj Usaha Da&#8217;wah, Tetapi Kerdil dalam Analisa dan Sintesa</title>
		<link>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 02:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.
Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, oleh karena itu tentunya kita sendiri perlu banyak berhubungan dengan kisah-kisah itu dengan baik. Perihal waktu sebenarnya tidak merupakan hal yang kaku, tetapi setidaknya dengan adanya pola tertib/keteraturan itu akan lebih mudah bagi kaum muslimin sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da’wah ini cukup banyak sebagai ahli hadist, oleh karena itu banyak di antaranya menulis syarh hadits hadist yang cukup tebal-tebal.</p>
<p>Perihal waktu itu banyak berhubungan dengan pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan 10%, dan juga tentunya ada beberapa kisah yang berkaitan dengan 3 hari, 40 hari, 4 bulan. Memang kejadiannya sangat berbeda dan juga aktifitasnya berbeda, tetapi setidaknya pola itu dapat dipergunakan untuk ketertiban dan kemudahan bagi kaum muslimin. Karena meskipun berbeda dari aktifitasnya, tetapi mempunyai kedekatan dari proses penyebaran dan juga pengorbanan untuk agama kita yang mulia, Al-Islam. 3 hari kisah Khalid Bin Walid RA, 40 hari berkaitan kisah Ummar Bin Khatab RA, begitupun juga dengan 4 Bulan berkaitan dengan Ummar Bin Khatab RA. Silahkan untuk membuka lembaran kisah itu yang cukup menarik.</p>
<p><span id="more-297"></span>Waktu khuruj ini tidak kaku, tetapi sangat fleksibel. Berbeda dengan sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dana S1,S2, S3 mempunyai batas bawah dan atas. Sedangkan khuruj ini lebih banyak tentunya akan lebih memberikan kesan kepada yang menjalankannya. Tetapi meskipun begitu harus tertib dan beraturan. Pola waktu untuk SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 juga diadopsi dari dunia pendidikan barat, dan hal itu juga dipergunakan untuk pendidikan dan pengajaran bidang-bidang Islam. Padahal tidak ada waktu-waktu pendidikan itu di jaman Rasulullah SAW, Para Shahabat RA, tetapi memberikan manfaat dan memberikan kemudahan bagi penyusun kurikulum dan silabusnya secara bertingkat.</p>
<p>Jadi waktu 3 hari, 40 hari, 4 bulan, merupakan proses keteraturan untuk memberikan kemudahan, disamping juga dianalisa dan disintesa berdasarkan pada kaidah 10% yang menjadi pesan Nabi kita sendiri. Yang diharapkan tentunya akan meningkat terus, mungkin kita pernah mendengar bahwa ada yang mau menginfaqkan semuanya, tetapi akhirnya hanya 1/3 saja. Dan tentunya jika pengorbanan 1/3  ini dapat dilakukan cukup luar biasa pengaruhnya kepada dunia Islam. Sekarang saja baru dengan pola 10% sudah begitu besar pengaruhnya di dunia Eropa, bagaimana jika 1/3 waktu tentunya akan sangat berbeda pengaruhnya.</p>
<p>Oleh karena itu jangan antum semua terjebak dengan waktu atau lamanya, karena hal itu sudah menjadi hal umum dalam kehidupan kita agar lebih tertarur. Dan Allah swt sendiri dan Nabi kita Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan kepada kita semua perihal waktu ini, hanya saja kita kurang memperhatikan dengan baik. Jadi perihal waktu itu untuk memudahkan, begitu juga dengan pesan 10% Nabi kita, serta juga pesan Ummar RA dengan 40 hari dan 4 bulan, semua untuk menjadi teratur hidup ini. Dan ini jelas diikuti para Ulama yang benar-benar faham dengan usaha da’wah ini. Jadi tidak asal copot saja hikmah yang dibangun itu, tetapi dengan segala pertimbangan mendalam apalagi mereka ini kebanyakan ahli hadist.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan baik terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri. Sehingga semakin lama tentunya akan memberikan kesan yang lebih baik kepada setiap orang yang melakukan khuruj.</p>
<p>Tetapi juga kita sendiri jangan melupakan musuh yang akan terus menggoda kita, yaitu syeithan, dan tentunya dorongan nafsu kita sendiri yang mengarah pada hal-hal yang tidak sesuai. Itulah perlunya ketika khuruj itu mengikuti tertib-tertib dan ushul da’wah. Tanpa tertib dan ushul, maka syeithan dan nafsu akan sangat mudah masuk dalam proses ishlah/perbaikan diri kita dalam suasana agama, sehingga akhirnya tujuan yang hendak dicapai tidak dapat dicapai dengan baik.</p>
<p>Seluruh tertib dan ushul itu mempunyai landasan Al-quran dan/atau as-sunnah.  Seluruh tertib dan ushul ini dijalankan sebaik mungkin, tidak dalam bentuk dalil-dalil detail yang perlu dihafal. Dan untuk menjaga tertib dan ushul itu maka musyawarah menjadi landasan utama. Musyawarah dalam usaha da’wah merupakan hal yang sangat penting diperhatikan, sehingga agendanya sangat beragam dan tingkatan bahasannya. Musyawarah  sebenarnya membentuk pikir, kepahaman dan tanggung jawab terhadap da’wah Islam itu sendiri.</p>
<p>Perihal dalil-dalil detail yang berkaitan dengan tertib dan ushul, bagi kalangan alim-ulama dan juga penuntut ilmu biasanya mempunyai keinginan yang berbeda dengan kalangan umum. Sehingga kadangkala menghafal hadist yang begitu panjang, kami pernah mendengarkan satu hadist dalam Bahasa arab yang disampaikan dari orang Perancis turunan arab, mungkin kalau dituliskan Bahasa arabnya mungkin saja 2-3 halaman. Itu yang mempunyai jiwa thalab yang tinggi.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri.</p>
<p>Dalam hal ini banyak dalil berkaitan dengan aktifitas/kerja ketika khuruj yang kita dapat peroleh untuk menguatkan minat kita terhadap usaha da’wah dan tabligh ini, karena memang usaha da’wah ini untuk seluruh kaum muslimin. Dan jika sudah waktunya, amal ini akan kembali ke masjid Nabawi seperti mana kepala ular kembali ke kandangnya. Mungkin sdr. pernah mendengar satu hadist yang hampir sama dengan konteks dengan kalimat itu. Itulah sebenarnya yang akan terjadi dan akan dikembalikan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=297&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kita Membahas Perihal Khilafiyyah dan Usaha Da&#8217;wah Memberikan Kerangka Sistematik</title>
		<link>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 22:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan (ikhtilaf) merupakan perkara yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, ketika manusia memandang satu perkara. Tentunya untuk menghadapi perbedaan ini memerlukan satu hikmah tersendiri, tanpa adanya hikmah maka perbedaan itu akan mengakibatkan perpecahan (tafarruq). Dalam Ushul usaha da&#8217;wah dan tabligh menjelaskan perkara yang tidak boleh disentuh, yaitu tidak menyentuh khilafiyyah.
Apakah kerangka da&#8217;wah dan tabligh ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perbedaan (ikhtilaf) merupakan perkara yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, ketika manusia memandang satu perkara. Tentunya untuk menghadapi perbedaan ini memerlukan satu hikmah tersendiri, tanpa adanya hikmah maka perbedaan itu akan mengakibatkan perpecahan (tafarruq). Dalam Ushul usaha da&#8217;wah dan tabligh menjelaskan perkara yang tidak boleh disentuh, yaitu tidak menyentuh khilafiyyah.</p>
<p>Apakah kerangka da&#8217;wah dan tabligh ini hanya asal-asalan saja perihal perkara &#8220;tidak menyentuh khilafiyyah&#8221;. Kami sebelum berkenalan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh, sering dinasehati guru-guru kami sendiri untuk berhati-hati dalam perihal khilafiyyah ini. Kalau memang tidak tahu, jangan masuk dalam lingkungan khilafiyyah. Karena akan menimbulkan perpecahan (tafarruq). Seorang guru sepuh kami memberitahukan untuk banyak mempelajari perihal kitab &#8220;Bidayatul Mujtahid&#8221;, susunan Imam Ibnu Rusd Rah. Beliau menjelaskan bahwa banyak perbedaan, yang biasanya menimbulkan perpecahan di kalangan orang yang tidak mengerti.</p>
<p><span id="more-291"></span>&#8220;Tidak menyentuh&#8221; bukan berarti tidak bersentuhan, dan kalaupun bersentuhan tentunya orang yang memahami perihal tersebut. Jika tidak kita akan masuk dalam arena perpecahan yang tidak pernah habis-habisnya. Para Ulama da&#8217;wah dan tabligh di asia tengah mengikuti madzhab hanafi, sedangkan di tempat lain belum tentu mengikuti madzhab hanafi.</p>
<p>Tetapi bukan berarti yang faham dan faqh dalam bidang madzhab hanafi, tidak memahami pandangan madzhab syafi&#8217;i ataupun Maliki. Dan hal ini sudah ditunjukan dengan baik dalam kitab fadhilah amal sendiri. Jika kita buka lembaran kitab fadhilah amal dengan baik dan telaten, kita akan temukan pandangan dari ulama yang berbeda madzhab. Artinya ada orang yang faham bagaimana memadukan dari kalangan yang berbeda itu.</p>
<p>Tetapi apakah semua orang mempunyai kemampuan itu? Apakah semua para Shahabat RA mempunyai kerangka yang sama untuk semua perkara dan masalah? Para Shahabat RA sendiri mempunyai pandangan yang tidak sama semua dalam satu perkara. Bahkan ketika Rasulullah SAW masih hidup.</p>
<p>Ada beberapa buku yang ditulis perihal ikhtilaf ini, dala buku itu dijelaskan dengan baik perihal perbedaan. Tetapi yang sebenarnya tidak boleh menjadi perpecahan (tafarruq) ketika ada perbedaan, malahan menimbulkan perpecahan di kalangan ummat. Dan hal itu dikarenakan ketidakmengertian.</p>
<p>Oleh karena itu, kerangka sunnah wal jama&#8217;ah yang ditulis dengan baik oleh seorang Ulama besar dulu, Imam Thahawi Rah, memberikan penjelasan yang jelas dan hal ini dijelaskan lebih lengkap melalui syarh seorang ulama. Dalam kitab itu sangat jelas kita harus bisa menjauhi perpecahan (tafarruq), karena hal itu sangat bertentangan dengan firman Allah swt sendiri. Dan kita bisa temukan banyak ayat yang berkaitan dengan perpecahan.</p>
<p>Coba perhatikan dengan baik beberapa ayat di bawah ini, mudah-mudahan kita memahami lebih luas dan dalam. Tentunya jika memahami lagi, kita perlu membuka latar belakang dari turunnya, dan biasanya dalam tafsir juga dijelaskan dengan baik.</p>
<p><img src="http://1.1.1.5/bmi/quran.kawanda.net/gambar/3/3_103.gif" border="0" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.&#8221; (QS Ali-Imran (3):103)</em></p>
<p><img src="http://1.1.1.2/bmi/quran.kawanda.net/gambar/3/3_105.gif" border="0" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat&#8221; (QS Ali-Imran (3):105)</em></p>
<p>Kalau saja kita mempelajari latar belakang turunnya itu, kita semua akan terkejut. Bisa dibayangkan hanya dengan perkara kecil saja, kalangan para Shahabat RA bisa hampir perang di antara mereka. Dan hal ini dikarenakan diadudomba oleh orang yang mempunyai jiwa munafik. Oleh karena itu Rasulullah SAW banyak menjelaskan perkara ini dengan sangat baik. Dan salah satu solusi untuk ini adalah &#8220;Ikromul Muslimin&#8221;. Karena hal ini akan memperkecil dari efek perbedaan.</p>
<p>Awalnya kami juga tidak begitu mengerti &#8220;Tidak Menyentuh Masalah Khilafiyyah&#8221;, tetapi tentunya umur dan juga pendalaman terus berlanjut terhadap kalimat singkat ini, disamping juga ada guru-guru kami yang juga telah memberikan pengajaran dalam hal perbedaan (ikhtilaf) ini. Guru-guru kami selalu menekankan untuk jangan sangat terlibat dalam perbedaan yang mengarah pada perpecahan (tafarruq).</p>
<p>Kami punya pengalaman dulu terjadi debat antara ulama sunni dengan kalangan syiah di Bandung. Dan ketika sholat ashar semua bingung siapa yang menjadi imam sholatnya. Tetapi ada seorang ustadz yang kenal dengan kami, dan beliau meminta kami menjadi imam sholat dan mempecayainya. Di sini saja sudah bingung hanya dalam lingkungan kurang dari 50 orang dan semuanya mau sholat ashar berjama&#8217;ah. Apalagi dalam perkara besar dan jumlah orangnya banyak.</p>
<p>Dalam syarh Kitab Imam Thahawi Rah dalam kitab aqidah sunnah wal jama&#8217;ah, sangat jelas sekali. Bahkan dari kalimat &#8220;sunnah wal jama&#8217;ah&#8221; sendiri mengandung inti sari makna yang bertentangan total dengan perpecahan &#8220;tafarruq&#8221; ketika ada perbedaan. Jadi para Ulama da&#8217;wah dan tabligh yang juga sangat memahami perihal sunnah wal jama&#8217;ah juga, tentunya harus menjaga dari keselamatan ummat kaum muslimin ketika ada perbedaan. Dan untuk itulah perlu kebijakan dalam da&#8217;wah itu sendiri &#8220;Tidak menyentuh Khilafiyyah&#8221;.</p>
<p>Dan untuk membahas perkara ini, para Ulama sendiri sudah memberikan caranya. Maka Ulama dulu ketika ada perbedaan di antara beliau-beliau sendiri, tidak menimbulkan hal-hal yang kurang diinginkan. Tetapi sekarang ini perbedaan saja bisa menimbulkan saling hujat, saling remehkan. Dan lebih mengerikan, para &#8216;pion&#8217; pun ikut campur dalam urusan kalangan kealiman Ulama yang cukup kompleks, sehingga akhirnya menambah ricuh dan tidak jelas lagi. <strong>Salah satu cara yang baik untuk membahas Khilafiyyah adalah dalam bentuk kajian dan juga madrasah yang memang ada ahlinya. </strong></p>
<p>Dan salah satu solusi kebiasaan yang dibangun adalah Musyawarah dan Mudzakarah, maka dengan kebiasaan pola ini ketika ada perbedaan akan dapat dikelola dengan mudah. Karena ada Musyawarah. Ini saja banyak kalangan ummat kurang memperhatikan dengan baik, meskipun ayat-ayat Al-quran dan As-Sunnah banyak menjelaskannya dan juga memberikan contohnya. Dan usaha da&#8217;wah sangat menekankan pada MUSYAWARAH dan bahkan tertib-tertibnya. Ini salah satu sunnah yang sangat fundamental untuk pertumbuhan kaum muslimin.</p>
<p>Silahkan pelajari dan dalami ayat-ayat yang berkaitan dengan perpecahan (tafarruq), dan juga bagaimana solusi untuk hal itu. Sehingga kita akan lebih memahami bagaimana menyikapi dalam perbedaan dan menghindari perpecahan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=291&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Da&#8217;wah itu perlu TERTIB?</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-dawah-itu-perlu-tertib/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-dawah-itu-perlu-tertib/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 23:58:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[da'wah tertib]]></category>
		<category><![CDATA[tertib]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan tulisan kami di:http://myquran.org/forum/index.php/topic,69802.msg2028248.html#msg2028248 (MYQURAN)
Da&#8217;wah itu perlu TERTIB, karena Allah swt dan Rasulullah SAW yang meminta hal itu dengan baik. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolaknya, sehingga kita tentunya perlu berusaha mengikuti apa yang dinasehatkan Allah swt dan Rasulullah SAW. Kekhilafan atau kekurangan kita kaum muslimin dalam menjalankan da&#8217;wah yang TERTIB ini tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan tulisan kami di:http://myquran.org/forum/index.php/topic,69802.msg2028248.html#msg2028248 (MYQURAN)</p>
<p>Da&#8217;wah itu perlu TERTIB, karena Allah swt dan Rasulullah SAW yang meminta hal itu dengan baik. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolaknya, sehingga kita tentunya perlu berusaha mengikuti apa yang dinasehatkan Allah swt dan Rasulullah SAW. Kekhilafan atau kekurangan kita kaum muslimin dalam menjalankan da&#8217;wah yang TERTIB ini tidak menjadikan kendur ataupun lemah dalam kerja da&#8217;wah dengan baik.</p>
<p>Tetapi sebaliknya kita  perlu berusaha untuk saling memperbaiki dalam hal ini, sehingga tentunya dari waktu ke waktu menunjukan hal yang lebih produktif dan harmonis, bukan sebaliknya kontra-produktif dan tidak-harmonis di antara kaum muslimin yang menerjuni lapangan kerja da&#8217;wah ini. Tujuan da&#8217;wah itu mengajak diri kita dan yang diajak untuk ta&#8217;at kepada Allah swt dan Rasulullah SAW.<br />
<strong><br />
<span id="more-280"></span>Allah swt meminta untuk menjalankan da&#8217;wah dengan bertemu langsung dengan yang dida&#8217;wahinya,  kalimat yang lemah-lembut, dan selalu menjaga dzikir kepada Allah swt, meskipun sekalipun kepada musuh.</strong></p>
<p><em>&#8220;Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir&#8217;aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;  maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. Berkatalah mereka berdua: &#8220;Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.&#8221; Allah berfirman: &#8220;Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.&#8221; (QS Thaahaa (20): 42-47) </em></p>
<p><strong>Dalam ayat yang lain Allah swt menjelaskan untuk untuk menjalankan da&#8217;wah itu dengan berlaku lemah lembut, tidak keras dan berhati kasar, mema&#8217;afkan, dan selalu bermusyarawah. </strong></p>
<p><em>&#8220;Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. &#8221; (QS Ali-Imran (3): 159)</em></p>
<p><strong>Dalam ayat yang lain Allah swt menjelaskan mempunyai jiwa pema&#8217;af, berpaling dari orang yang tidak menerima dengan baik, dan berlindung kepada Allah swt dari godaan Syeitan. </strong></p>
<p><em>&#8220;Jadilah engkau pema&#8217;af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma&#8217;ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.  Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.&#8221; (QS Al A&#8217;raaf (7) :199-200)</em></p>
<p><strong>Dalam ayat yang lain Allah swt menjelaskan perlu mempunyai jiwa shabar karena ulah yang dida&#8217;wahinya dan menjauhinya dengan cara yang baik. </strong></p>
<p><em>&#8220;Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.&#8221; (QS Al Muzzammil(73): 10)</em></p>
<p>Di atas merupakan beberapa hal kenapa kita perlu menjalankan da&#8217;wah dengan tertib, dan masih banyak lagi pelajaran-pelajaran dari Al-quran dan juga As-Sunnah terhadap da&#8217;wah ini. Dan bagi orang yang berpikir tentunya, ayat-ayat tersebut dan juga as-sunnah menjadi pelajaran dan nasehat untuk dapat diaktualkan dalam kehidupan kaum muslimin, tidak hanya dalam bentuk kajian-kajian ataupun mudzakarah semat.</p>
<p>Pelajaran tanpa adanya amal, maka sama dengan pohon yang tidak berbuah. Sehingga tentunya hal ini memerlukan latihan-latihan yang berkelanjutan dan istiqomah, sehingga pelajaran-pelajaran itu menjadi hal yang wujud dan diri kita kaum muslimin tidak hanya dalam bentuk lembaran-lembaran kitab semata.</p>
<p>Para alim ulama, ustadz dan juga penuntut ilmu sangat memahami betul bahwa da&#8217;wah itu tidak boleh dilakukan sembarangan atau asal-asalan, tetapi harus dilaksanakan dengan baik dan tertib. Dan hal ini tidak hanya dijelaskan di majelis-majelis saja, tetapi perlu dilatihkan dan diwujudkan dengan baik pula dalam kehidupan kaum muslimin.</p>
<p>Terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=280&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-dawah-itu-perlu-tertib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

