<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; usaha dakwah</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/usaha-dakwah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>saling menasehati dalam al-Haq dan saling menasehati dalam kesabaran</title>
		<link>http://usahadawah.com/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 00:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[saling menasehati]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Dear all,
Kalau kita terbiasa untuk saling berkomentar dalam satu perkara, dari kerangka yang berbeda, dimana yang satu menilai dari apa yang &#8220;dilihat&#8221; dan yang satu menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, dan jika terus &#8217;saling-berkomentar&#8217; ini terbangun di kalangan ummat Islam; maka tidak pernah wujud apa yang disebutkan dalam ayat al-quran &#8220;saling menasehati dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear all,</p>
<p>Kalau kita terbiasa untuk saling berkomentar dalam satu perkara, dari kerangka yang berbeda, dimana yang satu menilai dari apa yang &#8220;dilihat&#8221; dan yang satu menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, dan jika terus &#8217;saling-berkomentar&#8217; ini terbangun di kalangan ummat Islam; maka tidak pernah wujud apa yang disebutkan dalam ayat al-quran &#8220;saling menasehati dalam al-Haq dan saling menasehati dalam kesabaran&#8221;.</p>
<p>Tentunya bagi yang kaum muslimin muslim dari apa yang &#8216;dilihat&#8217; saja, sebaiknya untuk lebih mengetahui lebih baik, dan kalau ada kekurangannya dari apa yang &#8216;diliha&#8217; maka sebaiknya terjun dan berikan nasehat secara baik dan hikmah. Tidaklah mungkin menasehati apa yang &#8216;dilihat&#8217; itu disampaikan dalam forum ini, TETAPI sebaiknya menyampaikan pada orang yang terdapat kekeliruan atau kekhilafan dari yang bersangkutan. Bukankah kita sering membaca al-quran dan as-sunnah?</p>
<p><span id="more-283"></span>Tentunya bagi kaum muslimin yang menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, tidaklah perlu gusar dan berkecil hati. Dan jika ada sebagian yang mengikuti dari apa yang &#8216;dirasakan dan diterjuni&#8217; mempunyai kekurangan dan kekhilafan, maka berilah nasehat dengan baik dan hikmah. Jangan lupa apa yang tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW, bukan berati Rasulullah SAW melarang para Shahabat RA yang melakukannya. Sehingga inilah kadangkala menimbulkan pandangan berbeda dari kalangan para Ulama sendiri, misalkan saja &#8216;perihal biji tasbih&#8217;. Jangan karena kita menganggap sebagai &#8216;bid&#8217;ah&#8217; daripada pandangan kita, selanjutnya asal-asalan menyampaikan dengan tidak jelas, yang akhirnya akan merusaka da&#8217;wah itu sendiri.</p>
<p>Saat ini kelemahan ummat Islam bertambah banyak, salah satunya dikarenakan saling bantah-membantah. Orang yang memberikan pandangan kepada kaum muslimin, tetapi yang dinilai penilaian tidak mau begitu saja menerima pandangan sepihak. Akhirnya kita menumbuhkan satu karakter jelek dan buruk di sisi agama kita yang mulia yaitu &#8220;saling bantah-membantah&#8221;.</p>
<p>Bagi kaum muslimin yang berkeinginan memberikan pandangan ataupun nasehat kepada kaum muslimin yang telah menerjuni usaha da&#8217;wah, maka sebaiknya sampaikan dengan cara baik dan hikmah. Tahdzir yang tidak hikmah akan menghasilkan hal-hal yang tidak baik pula. Itulah yang banyak dibahas dan dijelaskan oleh kalangan Ulama sendiri, dan bahkan telah dikompilasi dari orang yang banyak mendalami perihal &#8216;tahdzir&#8217; ini dikarenakan banyak kalangan yang mengaku manhaj salafush sholeh ini akhirnya kontra-produktif dan tidak-harmonis. Atau boleh dikatakan sangat bertentangan dengan manhaj salafush sholeh sendiri.</p>
<p>Silahkan semua kaum muslimin belajar dari Al-quran dan as-sunnah, dan ungkap dengan baik kedua hal itu yang telah banyak dituliskan para Ulama. Bagi kalangan ahli usaha da&#8217;wah, cobalah buka seluruh buku :</p>
<p>- Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf Rah<br />
- Kitab fadhilah amal termasuk hikayat kehidupan para Shahabat, Maulana Dzakaria Rah<br />
- Al-muntakhabah Al-hadist, Maulana Yusuf Rah<br />
- Malfudhat Maulana Ilyas Rah, Maulana Manzoor Noomani Rah<br />
- Riyadhush sholihin, Imam Nawawi Rah<br />
- Al-adzkar, Imam Nawawi Rah<br />
- Six Point of Tabligh, Maulana Isyaq Ilahi Rah</p>
<p>Baca dengan baik dan pejalari dengan baik, dan sesudahnya berilah seluruh pandangan-pandangan yang hari ini banyak disampaikan terhadap usaha da&#8217;wah ini berdasarkan kitab-kitab itu dengan baik. Insya Allah, kita akan banyak mendapatkan manfaat dengan baik. Terutama dengan kitab Imam Nawawi Rah, kita akan merasakan seluruh aktifitas dalam usaha da&#8217;wah itu sebagai bentuk latihan-latihan para sholihin. Itulah sangat tepat dengan nama kitabnya, &#8220;Riyadhush Sholihin&#8217;.</p>
<p>&#8220;Sholihin&#8221; merupakan salah satu dari empat tipe yang dinyatakan oleh Allah swt sebagai kawan yang terbaik yang telah diberi Ni&#8217;mat &#8220;Para Nabi, shidiqin, syuhada, dan Sholihin&#8221;. Inilah yang kita sering minta kepada Allah swt, minimal 17 kali. Oleh karena itu, hari ini kita belajar melalui usaha da&#8217;wah untuk latihan-latihan dari amal-amal para Sholihin (Riyadhush Sholihin), maka kita harus bersyukur kepada Allah swt. Dan sebagai rasa syukur kita kepada Allah swt, maka kita harus berusaha terus dalam usaha da&#8217;wah ini sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.</p>
<p>Dan juga kita jangan lupa bahwa &#8220;sholihin&#8221; ini yang disampaikan Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad SAW ketika dialog dengan Allah swt ketika Isra&#8217; Miraj, dan dialog ini terekam dengan baik dalam bacaan tasyahud Sholat kita. Jadi sudah sepantas kita bersyukur dengan ada sarana latihan melalui usaha da&#8217;wah agar kita menjadi bagian dari orang-orang sholihin.</p>
<p>Dan kita tidak perlu lagi saling bantah-membantah lagi dari &#8216;yang dilihat saja&#8217; dengan &#8216;yang dirasakan dan diterjuni&#8217;, tinggalkan semua itu. Lebih baik memberikan pandangan sesuai sumber-sumber kitab itu dengan baik, sehingga kita akan mendapatkan manfaat bagi kita dan orang yang sedang berdiskusi dengan kita.</p>
<p>terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=283&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Da&#8217;wah itu memerlukan tertib, jika berkeinginan mendapatkan manfaat yang lebih besar daripada madhoratnya</title>
		<link>http://usahadawah.com/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 23:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatan lil'alamin]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Bid&#8217;ah dholalah, syrik dan macam-macam yang bertentangan dengan Al-Islam perlu dijelaskan dengan baik kepada kaum muslimin, tetapi menjelaskan dan menerangkan hal-hal tersebut memerlukan TERTIB. Tanpa adanya TERTIB maka kita kaum muslimin sendiri akan mendapatkan hal-hal yang kurang diinginkan. Nabi Muhammad SAW sangat menekankan TERTIB ini dengan baik, dan beliau tidak hanya menjelaskan dengan kalimat-kalimat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Bid&#8217;ah dholalah, syrik dan macam-macam yang bertentangan dengan Al-Islam perlu dijelaskan dengan baik kepada kaum muslimin, tetapi menjelaskan dan menerangkan hal-hal tersebut memerlukan TERTIB. Tanpa adanya TERTIB maka kita kaum muslimin sendiri akan mendapatkan hal-hal yang kurang diinginkan. Nabi Muhammad SAW sangat menekankan TERTIB ini dengan baik, dan beliau tidak hanya menjelaskan dengan kalimat-kalimat tetapi juga dengan bentuk-bentuk contoh yang bisa dipahami dengan baik.</p>
<p>Ada seorang badwi buang air kecil di dalam masjid Nabawi, bisa kita bayangkan bagaimana perasaan para Shahabat RA yang melihat itu. Tentunya mereka marah dan kesal, sehingga ada saja yang akan memukulnya. TETAPI Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW, melarangnya bahkan beliau menyuruhnya membawa air untuk disiramkan. Itulah da&#8217;wah dan pengajaran tidak boleh kasar.</p>
<p><em><span id="more-274"></span>&#8220;Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. &#8221; (QS Ali-Imran (3): 159)</em></p>
<p>Ada seorang pemuda akan masuk Islam tetapi agar diijinkan untuk tetap melakukan berzina. Kira-kira apa yang akan kita lakukan kalau ada orang seperti ini? Nabi kita tidak marah dan tidak memperlihatkan wajah marah atau bahkan mengeluarkan dalil-dalil quran yang mana pasti beliau sangat hafal, TETAPI beliau melakukan dialog yang ringan dengan pemuda itu. Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan ibumu? Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan istrimu? Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan sdr. Perempuanmu? Jelas pemuda itu menjawab bahwa dia akan marah. Dan Nabi kita menjawab dengan simple, yang lainpun akan marah kepada kamu jika kamu tetap berzina. Dan akhirnya pemuda itu tidak mau berzina lagi.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW sangat memahami bahwa keluarganya banyak yang belum masuk Islam, dan bahkan menyembah latta dan uza. Nabi kita tidak pernah mencaci dan menghina tuhan-tuhan mereka, ataupun bahkan merusak tuhan-tuhan mereka.</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.&#8221; (QS Al-An&#8217;am (6): 108) </em></p>
<p>Coba kita lebih jauh dengan pelajaran perihal Khmar. Allah swt jelas akan mengharamkan perihal khmar ini. TETAPI Allah swt sendiri memberikan pelajaran secara bertahap terhadap para Shahabat RA. Nabi kita Nabi Muhammad SAW tidak pernah minum khmar dari kecil, meskipun masyarakatnya biasa minum khmar dan main judi. Tentunya Nabi kita Nabi Muhammad SAW sangat memahami perihal khmar ini, tetapi beliau menunggu bagaimana pelajaran dari Allah swt.</p>
<p>Dan akhirnya Allah swt menjelaskan dengan ayat yang menjelaskan jangan dekat-dekat sholat dalam keadaan mabuk, maka lama-lama para Shahabat RA banyak yang menhancurkan khmar itu sendiri. Padahal ketentuan khmar itu belum ditetapkan sebagai haram.  Allah swt sendiri memberikan pelajaran yang demikian baik kepada para Shahabat RA bagaimana langkah-langkah untuk melakukan perbaikan terhadap masyarakat yang terbiasa dengan khmar dan judi. Apakah kita kaum muslimin kurang memperhatikan pelajaran-pelajaran seperti ini?</p>
<p>Allah swt dengan jelas menegaskan bahwa jika telah datang yang haq maka yang bathil akan hilang. Ini mengandung pelajaran denganbaik. Atau misalkan kalimat &#8220;amar ma&#8217;ruf nahi mungkar&#8221;, kalimat ini akan seperti itu. Artinya bukan berarti kita mendorong atau menyuruh orang lain untuk berbuat baik, terus diartikan bahwa kita tidak menghalangi yang mungkar. Semua hal itu ada pertimbangan itu sendiri, maka TERTIB dalam pengajaran, pendidikan, tarbiyyah dan da&#8217;wah merupakan hal yang perlu sangat diperhatikan. Tanpa adanya TERTIB maka akhirnya kita kaum muslimin akan menghasilkan kontra-produktif dan ketidakharmmisan yang semakin tajam.</p>
<p>Sekarang kita ajak seluruh kaum muslimin untuk sholat dengan baik, berjama&#8217;ah, khusyu dan tertib. Allah swt menjelaskan dengan jelas dan terang, bahwa sholat itu dapat mencegah perbuat keji dan mungkar. Artinya kita teruskan secara terus-menerus dan berkelanjutan untuk mengajak kaum muslimin untuk sholat dengan baik itu, dan dengan tidak perlu menyentuh perkara yang keji dan mungkarnya, maka kaum muslimin akan meninggalkannya sendiri perkara keji dan mungkar itu.</p>
<p>Dan hal itu ada buktinya sering ditemukan dalam usaha da&#8217;wah, bahkan di jaman Rasulullah SAW pernah terjadi ketika perihal anak muda yang bolak-balik ke masjid untuk sholat yang ketika itu masih belum betul perilakunya  dan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pemuda itu akan berubah karena sholatnya dan ternyata benar adanya.</p>
<p><em>&#8220;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. &#8221; (QS Al-&#8217;Ankabut (29): 45)</em></p>
<p>Jadi jangan dianggap bahwa kalau ada sebagian kaum muslimin tidak membicarakan syirik, bid&#8217;ah dholalah, kemusyikan yang umum terjadi di lingkungan kita kaum muslimin; selanjutnya dikatakan salah dalam da&#8217;wah dan pengajaran kaum muslimin. Jelas hal ini tidak tepat. Konten dan cara pendekatan itu perlu dipertimbangkan secara TERTIB.</p>
<p>Jika ada sebagian kaum muslimin  yang berkeinginan menyampaikan secara terang-terangan dan bebas  perihal syirik atau bid&#8217;ah dholalah ataupun perihal kekeliruan masyarakat, silahkan saja sampaikan sesuai dengan langkah-langkah yang dipercayainya. TETAPI  jangan melemahkan ataupun meremehkan terhadap sebagian kaum muslimin yang tidak memilih jalur seperti itu, seperti kami termasuk yang menolak mentah-mentah.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah ini mempunyai TERTIB. Empat perkara yang tidak boleh disentuh ketika khuruj fisabilillah atau bahkan ketika aktifitas usaha da&#8217;wah di maqomi di jalankan, yaitu perihal politik, perihal khilafiyyah, perihal aib masyarakat, serta perihal derma dan pangkat. Mungkin banyak kaum muslimin bertanya, Why? Tentunya pertanyaan itu dikeluarkan dengan macam-macam argumen, seperti politik itu kan ada yang syar&#8217;i atau Islam juga membahas Politik, bukan perlu membahas perihal khilafiyyah dsb. Dan ujungnya bahwa usaha da&#8217;wah ini tidak jelas.</p>
<p>Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada juga ahli politik, dan bahkan menjadi persiden pertama kali di India. Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang ahli dalam perkara khilafiyyah, dan bahkan menulis perihal madzhab maliki melalui syarh Kitab Al-Muwathanya. Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang kaya raya dan cukup banyak, dan bahkan sudah bisa merencanakan masjid terbesar di Eropa dengan biaya hampir 10 Trillyun.  Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang pangkat tinggi, bahkan ada yang sudah menjabat sebagai kapolda dan ada juga sebagai pangeran.</p>
<p>Kenapa tidak menyentuh perkara-perkara itu, TETAPI malahan menguasai di perkara-perkara tersebut dengan sangat baik. Empat perkara tersebut jika tidak melalui TERTIB menjadi sebab terhadap perpecahan kaum muslimin. Sedang usaha da&#8217;wah ini dipersiapkan untuk seluruh kaum muslimin, apakah berbeda lapisan, berbeda tingkatan, berbeda status, berbada umur, berbada suku dsb.</p>
<p>Sehingga jika disentuh perkara politik praktis, khilafiyyah dsb, maka bisa dibayangkan bagaimana kacaunya ummat Islam ini nantinya. Dan bisa diperkirakan kekacauannya sangat luar biasa pengaruhnya ke seluruh dunia. Mungkin jika hanya satu kampung saja sangat kecil pengaruhnya, tetapi bisa dibayangkan dengan berbeda suku, tingkatan, umur, warna kulit, dsb yang ada di seluruh dunia.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah ini merupakan kerja da&#8217;wah dan pengorbanan kaum muslimin seluruh alam, tidak hanya untuk satu kota atau kampung. Jadi jika ada yang meminta ataupun mengharapkan usaha da&#8217;wah secara ijtimaiyyah untuk menyentuh atau membicarakan bahasan-bahasan seperti yang diminta sekarang ini, hal itu tidak dapat ditunaikan. Dan kami sendiri menolak mentah-mentah. TETAPI jika sebagian kaum muslimin meminta agar dijelaskan perkara-perkara  di madrasah-madrasah ataupun dalam kajian-kajian itu secara sistematik, tentunya hal itu sudah biasa dan juga bergantung dari kurikulum dan silabus yang dibahasnya.</p>
<p>Jadi kesimpulannya kepada kawan-kawan :</p>
<p>PERTAMA jika usaha da&#8217;wah tidak menyentuh dan menjelaskan perkara-perkara tersebut tentunya memiliki pertimbangan TERTIB, yang akan memberikan pengaruh pada manfaat dan madhoratnya. Tentunya pertimbangannya akan dicarikan manfaat yang lebih besar daripada madhoratnya.  Pengajaran dan da&#8217;wah juga seperti jual beli, yang semuanya pertimbangananya keuntungan yang besar. Untuk apa kita lakukan pengajaran dan da&#8217;wah tetapi akhirnya menimbulkan kontra-produktif dan tidak harmonis di kalangan kaum muslimin.</p>
<p>Kontra-produktif dan tidak harmonis di kalangan kaum muslimin tidak akan pernah mengangkat pada tingkatan pengajaran dan da&#8217;wah yang lebih tinggi. Sekarang ini kita masih pada tarap awal saja, karena kita masih saling mengingatkan di antara kaum muslimin. Bagaimana kita bisa mengajak manusia di luar Islam ke dalam pangkuan Al-Islam dan mereka juga akan terbebas dari api neraka dan masuk surga Allah swt, sedangkan kita akhirnya habis waktu dengan kontra-produktif dan tidak harmonis. Yang akhirnya kita sendiri dipermainkan oleh lawan-lawan kita sendiri.</p>
<p>KEDUA, silahkan saja kepada kawan-kawan yang semangat dengan bahasan perihal syirk, bid&#8217;ah dholalah, khilafiyyah secara langsung untuk disampaikan kepada Ummat Islam. Kami tidak akan mengambil cara-cara itu ketika menjalankan ijtimaiyyah tertib, bahkan kami sendiri secara infirodhiyyah juga tidak akan mengambil cara-cara yang akan menimbulkan mudhorat yang lebih besar.</p>
<p>TETAPI jika ada yang mau mengambinya, silahkan sebagai bagian dari hak semua orang untuk menyampaikannya. Silahkan saja krirtsasi atau tahdzir perihal-perihal syirk itu dan bid&#8217;ah dholalah, atau yang dianggap bid&#8217;ah secara langsung di depan orangnya. Tentunya hal itu ada pertimbangannya oleh kawan-kawan dengan alasan-alasan yang menghasilkan langkah-langkah itu. Hanya saja ketika menimbulkan mudhorat lebih besar, tentunya juga perlu dipertimbangkan. Silahkan bangun macam-macam da&#8217;wah untuk kaum muslimin, karena da&#8217;wah ini merupakan tanggung jawab bersama dan khidmat untuk agama kita yang mulia. Dan kita tidak perlu saling menghujat ataupun meremehkannya.</p>
<p>Hanya saja KETIKA ada sebagian kaum muslimin sudah memberikan pandangan terhadap usaha da&#8217;wah ini dikarenakan mempunyai pendekatan yang berbeda dari pandangannya, tentunya siapapun termasuk kami  juga perlu membuka pandangan berimbang denganhal itu. <strong>Maksud pandangan berimbang ini untuk membuka wacana bersama, sehingga kita semua terbebas dari pola berpikir kerdil dan tidak terjebak dalam kerdilisasi. </strong></p>
<p>Pola berpikir kerdil dan terjebak dalam kerdilisasi ini telah memakan korban di jaman Nabi kita Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Apakah yang dibangun sendiri oleh sebagian kaum muslimin di jaman itu karena mempunyai jiwa ghuluw, atau dibangun oleh kalangan orang munafik sendiri. Orang-orang munafik ini sangat lincah dan lihai, para Shahabat RA sendiri bisa terkecoh. Dan banyak kejadian di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA menjadi pelajaran. Sebagai contohnya, silahkan buka dan pelajari Ali-Imran (3):100-105. Kisah latar belakang ini sangat menarik, dan dari belajar kami terhadap ayat tersebut menunjukan bahwa saat ini juga kaum muslimin memperlihatkan keadaan yang hampir sama dan tentunya solusinya akan sama juga.</p>
<p>Itulah kenapa Da&#8217;wah dan pengajaran/tarbiyyah ini memerlukan TERTIB. Dan usaha da&#8217;wah telah menyiapkan tertib dan ushul da&#8217;wah secara sistematik, hal itu untuk menghindari dari hal-hal yang kurang diharapkan dan menghasilkan serta mencapai sasaran/niat/tujuan yang hendak dicapai.</p>
<p>Terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=274&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>6 (enam) sifat shahabat dalam usaha dakwah dan tabligh: : perlu mendapatkan perhatian kaum muslimin termasuk para Ulama (bagian-2)</title>
		<link>http://usahadawah.com/6-enam-sifat-shahabat-dalam-usaha-dakwah-dan-tabligh-perlu-mendapatkan-perhatian-kaum-muslimin-termasuk-para-ulama-bagian-2/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/6-enam-sifat-shahabat-dalam-usaha-dakwah-dan-tabligh-perlu-mendapatkan-perhatian-kaum-muslimin-termasuk-para-ulama-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 15:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[sifat shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[six point]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Bagian kedua:
5.       Kenapa perlu dibangun 6 (enam) sifat Shahabat itu? Karena sama saja dengan meninggalkan perkara lainnya dalam Islam itu sendiri, bagaimana dengan rukun Islam lainnya. Itulah pandangan yang disampaikan, bahkan beberapa tahun yang silam ketika kami masih mahasiswa dari kalangan pergerakan Islam seperti itu. 6 (enam) sifat hakekat merupakan bagian dari sifat hakekat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bagian kedua:</strong></p>
<p>5.       Kenapa perlu dibangun 6 (enam) sifat Shahabat itu? Karena sama saja dengan meninggalkan perkara lainnya dalam Islam itu sendiri, bagaimana dengan rukun Islam lainnya. Itulah pandangan yang disampaikan, bahkan beberapa tahun yang silam ketika kami masih mahasiswa dari kalangan pergerakan Islam seperti itu. <strong>6 (enam) sifat hakekat merupakan bagian dari sifat hakekat yang dimiliki para Shahabat,</strong> apakah kita menolak bahwa para Shahabat itu memiliki sifat hakekat iman kepada Allah swt dan Rasulullah SAW? Atau para Shahabat itu memilihi sifat hakekat Sholat Khusyu? Jelas kita tidak menolaknya, dan kita temukan semuanya dalam banyak kisah di kalangan Shahabat itu sendiri.</p>
<p><span id="more-92"></span>6.       Mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah kita bisa mendapatkan semua sifat yang hakiki Al-Islam yang terdapat dalam sumber kita, Al-Quran dan As-Sunnah, seperti para Shahabat RA. <strong>Tidak mungkin kita mendapatkan sifat-sifat secara keseluruhan dalam waktu bersamaan, kecuali kita mendapatkan secara bertahap dan berkelanjutan. Dan kita sendiri perlu memberikan perhatian serius pada awal yang dijadikan sebagai landasan untuk mendapatkan sifat-sifat hakiki secara keseluruhan. Tidak mungkin kita dapat membaca, kecuali kita mengenal abjad dahulu. </strong>Itulah kenapa kita perlu memberikan perhatian pada sifat hakekat pada enam.</p>
<p>7.       Pendalaman terhadap 6 (enam) sifat hakekat ini akan terus berkembang sesuai dengan ilmu dan kepahaman yang dimiliki setiap kaum muslimin itu sendiri. Para Ulama yang mempunyai Ilmu dan kepahaman akan dapat menjelaskan sifat hakekat ini luas dan mendalam, sehingga kami sendiri sering mendengar bayan-bayan dan juga penjelasan yang berbeda-beda. <strong>Sebenarnya pendalaman yang tidak membosankan tersebut dalam penjelasan itu, bukan dikarenakan orangnya, tetapi dikarenakan sumber Islam itu sangat luas dan dalam, dan satu hal dengan hal itu sangat berhubungan dan berkaitan.</strong></p>
<p>8.       Jika kita bersedia mengumpulkan tulisan para Ulama dulu dan mengkompilasi terhadap 6 (enam) sifat hakiki para Shahabat RA ini, maka kita akan mendapatkan berjilid-jilid kitab yang mendalam  terhadap hal itu. Maulana Yusuf menyusun kumpulan ayat dan juga hadist yang berhubungan dengan 6 (enam) sifat Shahabat RA ini, Al-Muntakhabatul Ahadits.</p>
<p>9.       Bagaimana dengan ilmu fiqh atau pendalaman kaifiyyah dalam amal itu sendiri? Kenapa tidak diajarkan perihal tatacara sholat, wudhu, ilmu dsb, padahal itu sangat mendukung untuk mendapatkan sifat hakekat itu. Mari kita perhatikan bersama, agar kita tidak terjebak dengan penilaian sepihak. Jika kita bahas hal-hal lain yang berhubungan dengan kaifiyyah, maka kita akan mendapatkan bahasan-bahasan perkara yang berbeda dari kalangan Ulama sendiri. Misalkan dari perkara Wudhu atau Sholat, banyak ulama yang berbeda dalam perkara furuiyyah, seperti sholat tarraweh, atau juga dalam perkara qunut, ataupun juga perkara adzan jum&#8217;at, atau juga penggunaan hadits dhoif untuk fahdoil amal, dsb. Oleh karena itu, enam (6) sifat membahas pada hakikinya, bukan pada bahasan yang berbedanya. Karena dalam hal itu dapat kita bahas dalam waktu dan suasana yang berbeda, misalkan madrasah, pesantren dsb. Jika kita membahas perkara-perkara furuiyyah secara terbuka dan tidak hikmah, maka yang ada bahasan yang dapat menimbulkan hal-hal yang kurang baik di lingkungan masyarakat Islam itu sendiri.</p>
<p>10.       Bahasan sifat hakiki enam itu lebih mengarah pada individu, sehingga hal ini menjadi perhatian semua kalangan itu sendiri, termasuk dari kalangan ulama sendiri. Beberapa ulama besar seperti Syiekh Hasan Hudhaibi dan juga Syeikh Al-Banni  pernah menyatakan dengan tegas, bahwa tegakan Islam dalam diri kita maka Islam akan tegak di duni ini. Jika kita kaum muslimin berkeinginan menegakan Islam dalam diri kita, maka kita harus mempunyai fokus terhadap sifat hakiki yang perlu dicapai dengan baik oleh setiap orang. Dan hal ini perlu disampaikan terus-menerus secara berkelanjutan, apakah itu di rumah, di masjid, di tempat kerja, dan di mana saja kita memungkinkan untuk menyampaikannya.</p>
<p>11.       Usaha da&#8217;wah dan tabligh ini bukan merupakan kerja hanya untuk para Ulama atau faqih dan urusan agama, tetapi setiap kaum muslimin dari berbagai lapisan dapat terlibat dalam kerja ini. Islam tidak hanya untuk satu tempat, tetapi untuk rahmatan lil&#8217;alamin. Oleh karena itu kita perlu banyak belajar dan juga menyebarkannya ke berbagai lapisan di seluruh tempat di muka bumi ini.</p>
<p>Itulah 6 (enam) sifat para Shahabat, sebagai langkah awal Alif, Ba, Ta dari perjalanan kaum muslimin itu sendiri. Mudah-mudahan hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW sendiri yang diriwiyatkan oleh Imim Tirmidzi:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya kamu meninggalkan 10% dari apa yang diperintahkan maka kamu akan hancur, di masa akan datang jika mereka mengamalkan 10% dari apa yang diperintahkan, maka mereka akan jaya&#8221;.</p>
<p>Mudah-mudahan memberikan manfaat bagi kami yang lemah ini dan kaum muslimin lainnya. Amiin. Jangan sungkan-sungkan untuk kontak kami, jika ada yang perlu disampaikan.</p>
<p>Terimakasih</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=92&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/6-enam-sifat-shahabat-dalam-usaha-dakwah-dan-tabligh-perlu-mendapatkan-perhatian-kaum-muslimin-termasuk-para-ulama-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>6 (enam) sifat shahabat dalam usaha dakwah dan tabligh: perlu mendapatkan perhatian kaum muslimin termasuk para Ulama (bagian-1)</title>
		<link>http://usahadawah.com/6-enam-sifat-shahabat-dalam-usaha-dakwah-dan-tabligh-perlu-mendapatkan-perhatian-kaum-muslimin-termasuk-para-ulama-bagian-1/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/6-enam-sifat-shahabat-dalam-usaha-dakwah-dan-tabligh-perlu-mendapatkan-perhatian-kaum-muslimin-termasuk-para-ulama-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Sep 2008 15:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[6 sifat shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[jama'ah tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[sifat shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Perkara 6 (enam) sifat Shahabat yang banyak dimudzakarahkan ataupun dibayankan dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh (Baca: orang menyebutnya sebagai Jama&#8217;ah Tabligh) dipandang oleh sebagian kalangan kaum muslimin, karena tidak ada di kalangan Shahabat RA dan juga ulama salaf, atau bahkan menyepelekannya. Pandangan seperti ini jelas memberikan kerangka yang tidak dapat memberikan kerangka untuk kebaikan kaum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perkara 6 (enam) sifat Shahabat yang banyak dimudzakarahkan ataupun dibayankan dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh (Baca: orang menyebutnya sebagai Jama&#8217;ah Tabligh) dipandang oleh sebagian kalangan kaum muslimin, karena tidak ada di kalangan Shahabat RA dan juga ulama salaf, atau bahkan menyepelekannya. Pandangan seperti ini jelas memberikan kerangka yang tidak dapat memberikan kerangka untuk kebaikan kaum muslimin, karena hanya mengandalkan pernyataan sepihak tanpa adanya keseimbangan untuk saling menelaah terhadap sebuah ijtihad. Dan akhirnya kaum muslimin akan mendapatkan pola berpikir yang sempit untuk membangun Ummat Islam itu sendiri.</p>
<p>6 (enam) sifat Shahabat merupakan hasil ijtihad yang dilakukan terhadap berbagai sumber-sumber Islam itu sendiri. Sehingga yang perlu dipahami oleh kaum muslimin adalah bagaimana dan kenapa ijtihad ini muncul. Seharusnya kita tidak terbiasa untuk memberikan kerangka pandangan memvonis atatupun menilai dengan tanpa adanya kajian mendalam terhadap ijtihad itu sendiri.</p>
<p><span id="more-90"></span>Apakah penyusunan kitab hadist yang dilakukan para Ulama dulu sama semua? Apakah hal itu juga dilakukan oleh Para Shahabat RA? Apakah ada tingkatan belajar S1,S2 dan S3 untuk kajian Islam di jaman Ulama dulu dan juga Para Shahabat RA? Kita semua mengetahui bahwa hal itu tidak ada, tetapi semuanya merupakan hasil Ijtihad yang dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan terhadap berbagai sumber yang didalaminya. Meskipun hal tersebut tidak ada, tetapi ijtihad itu sendiri mempunyai sumber-sumber yang dapat menjadikan sebagai landasannya.</p>
<p>Jadi seharusnya sebagian kaum muslimin untuk dapat mengkaji terhadap Ijtihad itu lebih mendalam. Telah ada sebagian kaum muslimin yang masuk ke dalam tempat kami dan menyampaikan hal-hal seperti di atas. Sehingga kami perlu menyampaikan hal-hal yang perlu diketahui bersama untuk meningkatkan jiwa tholab kita dan juga kaum muslimin.</p>
<p>Mari kita sama-sama ungkap terhadap 6 (enam) sifat Shahabat dari kajian kerangka analisa dan sintesa terhadap Ijtihad itu, tidak dari perkara isinya. Sehingga kita berusaha untuk memahami kenapa 6 (enam) sifat ini perlu diajarkan di kalangan seluruh kaum muslimin, bahkan di kalangan para Ulama sendiri.</p>
<p>1. Pendekatan Analisa dan Sintesa merupakan pendekatan modern yang saat ini sangat berkembang di berbagai negara. Analisa merupakan proses penguraian terhadap sesuatu masalah, dan sintesa menyusun kembali untuk menyelesaikan masalah. <strong>Sebenarnya pendekatan ini telah ada di jaman para Shahabat RA serta para Ulama Salafush sholeh terdahulu, hanya saja kita kaum muslimin kurang dapat mengkodifikasi kan menjadi sebuah Ilmu</strong>. Kemungkinan kaum muslimin mulai kendur setelah kaum muslimin mengalami kekalahan dalam peperangan Tartar, dan juga banyaknya negara kaum muslimin di jajah oleh bangsa lain. Sehingga semangat untuk melakukan kodifikasi terhadap ilmu itu sangat lemah di kalangan Ummat Islam itu sendiri. Tetapi bukan berarti kita akan terus dalam kondisi seperti ini, sehingga marilah kita terbiasa untuk meningkatkan pendalaman.</p>
<p>2. 6 (enam) sifat Shahabat merupakan pendalaman pada hakekat sifat yang dimiliki di generasi para Shahabat RA. Para Shahabat RA merupakan generasi yang telah mendapatkan pengakuan dari Allah swt, meskipun mereka sendiri masih berada di muka bumi. Dalam hal ini banyak ayat Al-quran dan juga hadist yang menjelaskan ini, seperti yang dinyatakan dalam QS At-Taubah (9): 100.</p>
<p>&#8220;orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar&#8221; (QS At-Taubah (9): 100)</p>
<p>3. Hakekat bukan berarti gambaran. Mari kita lihat dua barang yang serupa, tetapi sangat berbeda. Mungkin kita sering mendapatkan bentuk dari kayu yang berbentuk pisang atau gambar pisang. Dan kita juga sering makan pisang tentunya. Apa yang berbeda dari kedua barang itu. Yang satu merupakan gambaran dari pisang, sedangkan yang kedua merupakan pisang sebenarnya. Itulah hakekat. Tidak mungkin para Shahabat RA mendapatkan pengakuan dari Allah swt, kecuali mereka sendiri mempunyai sifat yang sebenarnya menjadi maksud Allah swt sendiri.</p>
<p>4. Apakah para Shahabat RA hanya mempunyai 6 (enam) sifat Shahabat yang sering dimudzakarahkan dan juga dibayankan itu? Para Shahabat ini mempunyai sifat yang banyak, semakin kita banyak membaca Al-quran dan sunnah Rasulullah SAW, maka kita akan banyak mendapatkan sifat-sifat hakekat itu dalam diri para Shahabat RA. Dan kita sendiri akan mendapatkan 6 (enam) sifat shahabat ini dalam sumber Al-quran dan juga As-Sunnah.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=90&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/6-enam-sifat-shahabat-dalam-usaha-dakwah-dan-tabligh-perlu-mendapatkan-perhatian-kaum-muslimin-termasuk-para-ulama-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

