<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Madrasah Da&#039;wah dan Islam &#187; usaha da&#8217;wah</title>
	<atom:link href="http://usahadawah.com/tag/usaha-dawah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://usahadawah.com</link>
	<description>Envisioning and Empowering Moslems</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jun 2011 23:17:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengherankan jika Mengkritik Tatacara Usaha Da&#8217;wah</title>
		<link>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 03:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/2010/01/16/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/</guid>
		<description><![CDATA[Setiap aktifitas di muka bumi ini tentunya mempunyai tatacara untuk mencapai sasaran yang ditetapkannya. Tidaklah masuk akal jika kita mempunyai sasaran yang hendak dicapai tidak mempunyai tatacara / prosedur / proses yang sistematik. Jadi sangat heran jika ada yang memberikan pandangan kritik terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini dikarenakan tatacara atau pola da&#8217;wah yang dibangunnya.
Sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap aktifitas di muka bumi ini tentunya mempunyai tatacara untuk mencapai sasaran yang ditetapkannya. Tidaklah masuk akal jika kita mempunyai sasaran yang hendak dicapai tidak mempunyai tatacara / prosedur / proses yang sistematik. Jadi sangat heran jika ada yang memberikan pandangan kritik terhadap usaha da&#8217;wah dan tabligh ini dikarenakan tatacara atau pola da&#8217;wah yang dibangunnya.</p>
<p>Sangat heran jika ada seorang mahasiswa muslim seenaknya belajar dan tidak mengikuti aturan atau tatacara prosedur yang ditetapkan di lingkungan sekolah yang dimilikinya. Atau juga akan bertambah heran jika seorang muslim yang mengambil program S2 atau S3 tidak mengikuti aturan tatacara yang ditetapkannya, dengan alasan yang terpenting adalah sekolah S2 dan menuntut Ilmu.</p>
<p><span id="more-299"></span>Ataupun juga seorang pedagang ataupun karyawan perusahaan tidak jelas apa yang dikerjakannya, karena yang terpenting adalah kerja dan datang ke tempat kerja. Jelas pola berpikir seperti ini sangat keliru dan perlu diluruskan dengan baik. Inilah salah satu kelemahan kaum muslimin saat ini, karena kita kaum muslimin tidak pernah mengelola satu aktifitasnya dengan lebih baik dari perjalanan waktunya.</p>
<p>Allah swt sendiri sering menjelaskan perihal keteraturan alam semesta ini yang tentunya Allah swt memperlihatkan dalam alam semesta ini terdapat aturan yang sistematik dan menyeluruh. Itulah Allah swt memberikan pengajaran untuk memperhatikan alam ini, dan memang yang mendapatkan pelajaran itu hanya sebagian orang saja.</p>
<p><strong>&#8220;Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.&#8221; (QS Ali-Imran (3):190-191)</strong></p>
<p>Allah swt menjelaskan dengan sangat jelas perihal pertumbuhan manusia dari mulai pencampuran sperma dengan sel telur, terus daging, sampai terbentuk menjadi bayi. Allah swt menjelaskan pertumbuhan tersebut dengan sangat baik dan jelas. Jadi sudah sepatutnya kita kaum muslimin jika mempunyai program/kerja/aktifitas tentunya harus dikelola dengan baik dalam tatacaranya.</p>
<p>Oleh karena itu, kita kaum muslimin tentunya berkeinginan untuk mendapatkan penjelasan terlebih dahulu, sebelum kita ini memberikan kritik yang akhirnya memberikan ketidakpahaman hal itu sendiri secara menyeluruh. Seorang Ulama sekalipun  yang faqih dalam satu perkara / satu bidang Ilmu Islam, bukan berarti beliau ini menguasai dengan baik bidang lainnya. Tetapi kita tentunya tetap harus menghormati seluruh Ulama dengan baik, jika terjadi kekeliruan. Karena ada satu pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW bahwa tandanya beriman kepada Allah swt dan hari akhir adalah menghormati hak-haknya Ulama kita kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh ini telah begitu sistematik proses yang dilakukannya mulai dari akan pergi/khuruj sampai ke pulang kembali ke rumah masing-masing. Semua aktifitas itu disusun dengan rapi dan sistematik untuk menghasilkan hasil yang terbaik pula. Tatacara dalam usaha da&#8217;wah ini merupakan keterpaduan ataupun himpunan pelajaran Al-Islam menjadi satu model gerakan untuk menampilkan Al-Islam itu sendiri. Jadi jangan dianggap bahwa tatacara itu tidak mempunyai landasan Al-Quran dan As-Sunnah.</p>
<p>Dan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini sebenarnya sangat sederhana dan siapapun kaum muslimin tingkatan latar belakang, profesi, dan umur dapat mengikutinya dengan baik. Berbeda dengan tingkatan pendidikan dan kajian Islam, tidak semua latar belakang dan umur dapat mengikuti dengan baik. Oleh karena itu untuk memahami usaha da&#8217;wah dan tabligh ini kita sendiri perlu meluangkan waktu untuk khuruj/keluar dengan baik dan teratur.</p>
<p>Jadi bagi kami sangat mengherankan jika ada yang memberikan komentar ataupun kritik terhadap usaha da&#8217;wah ini dikarenakan tatacara dari usaha da&#8217;wah dan tabligh ini. Misalkan seperti waktu lama khuruj. Sudah sangat jelas bahwa waktu juga perlu dibuatkan keteraturan yang baik untuk mengelolanya. Karena orang yang mengikuti khuruj ini juga mempunyai hak dan tanggung jawab terhadap aktifitas-aktifitas lainnya yang perlu ditunaikan dengan baik pula. Bisa kita semua bayangkan jika  mendalami Al-Islam itu tidak diatur waktunya secara baik. Bisa tidak karuan hidup manusia jika tidak ada keteraturan dalam waktu itu.</p>
<p>Perihal waktu kami sudah jelaskan sebelumnya sebagai contoh. Kami sudah memberikan penjelasan bahwa semua kehidupan ini memerlukan keteraturan dengan baik. Dan Al-Quran dan As-Sunnah memperlihatkan itu dengan sangat jelas perihal kita perlu untuk menyusun segala aktifitas dengan keteraturan/tatacara yang baik.</p>
<p>Sehingga usaha da&#8217;wah dan tabligh yang telah menyusun tatacara/proses aktifitas da&#8217;wahnya itu merupakan hal yang ilmiyyah apakah secara dalil naqli ataupun dalil aqli. Dan <strong>tatacara aktifitas da&#8217;wah ini menjadi sebuah khazanah aktualisasi dari berbabagai sumber-sumber yang telah ditulis dalam kitab-kitab Para Ulama dulu</strong>. Dan bagi para penuntut ilmu, tentunya hal ini menjadi sebuah khazanah pendalaman yang menarik. Terimakasih.</p>
<p>(Insya Allah kami lanjut dalam bahasan lain)</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=299&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/mengherankan-jika-mengkritik-tatacara-usaha-dawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebagian Kaum Muslimin Selalu Berkomentar Pada Jumlah Hari Khuruj Usaha Da&#8217;wah, Tetapi Kerdil dalam Analisa dan Sintesa</title>
		<link>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 02:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khuruj]]></category>
		<category><![CDATA[salafi]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=297</guid>
		<description><![CDATA[Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.
Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu banyaknya sebagian kaum muslimin (baca: salafi) terhadap jumlah hari Khuruj Da&#8217;wah memberikan kerangka analisa dan sintesa yang terlalu kerdil dan mengkerdilkan pola berpikir kaum muslimin. Disinilah kita perlu membuka kerangka analisa dan sintesa yang lebih luas, agar kita tidak terjebak dalam kerangka yang mudah untuk membid&#8217;ahkan aktifitas kaum muslimin.</p>
<p>Usaha da’wah ini selalu berhubungan dengan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, oleh karena itu tentunya kita sendiri perlu banyak berhubungan dengan kisah-kisah itu dengan baik. Perihal waktu sebenarnya tidak merupakan hal yang kaku, tetapi setidaknya dengan adanya pola tertib/keteraturan itu akan lebih mudah bagi kaum muslimin sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da’wah ini cukup banyak sebagai ahli hadist, oleh karena itu banyak di antaranya menulis syarh hadits hadist yang cukup tebal-tebal.</p>
<p>Perihal waktu itu banyak berhubungan dengan pesan Nabi kita Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan 10%, dan juga tentunya ada beberapa kisah yang berkaitan dengan 3 hari, 40 hari, 4 bulan. Memang kejadiannya sangat berbeda dan juga aktifitasnya berbeda, tetapi setidaknya pola itu dapat dipergunakan untuk ketertiban dan kemudahan bagi kaum muslimin. Karena meskipun berbeda dari aktifitasnya, tetapi mempunyai kedekatan dari proses penyebaran dan juga pengorbanan untuk agama kita yang mulia, Al-Islam. 3 hari kisah Khalid Bin Walid RA, 40 hari berkaitan kisah Ummar Bin Khatab RA, begitupun juga dengan 4 Bulan berkaitan dengan Ummar Bin Khatab RA. Silahkan untuk membuka lembaran kisah itu yang cukup menarik.</p>
<p><span id="more-297"></span>Waktu khuruj ini tidak kaku, tetapi sangat fleksibel. Berbeda dengan sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dana S1,S2, S3 mempunyai batas bawah dan atas. Sedangkan khuruj ini lebih banyak tentunya akan lebih memberikan kesan kepada yang menjalankannya. Tetapi meskipun begitu harus tertib dan beraturan. Pola waktu untuk SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 juga diadopsi dari dunia pendidikan barat, dan hal itu juga dipergunakan untuk pendidikan dan pengajaran bidang-bidang Islam. Padahal tidak ada waktu-waktu pendidikan itu di jaman Rasulullah SAW, Para Shahabat RA, tetapi memberikan manfaat dan memberikan kemudahan bagi penyusun kurikulum dan silabusnya secara bertingkat.</p>
<p>Jadi waktu 3 hari, 40 hari, 4 bulan, merupakan proses keteraturan untuk memberikan kemudahan, disamping juga dianalisa dan disintesa berdasarkan pada kaidah 10% yang menjadi pesan Nabi kita sendiri. Yang diharapkan tentunya akan meningkat terus, mungkin kita pernah mendengar bahwa ada yang mau menginfaqkan semuanya, tetapi akhirnya hanya 1/3 saja. Dan tentunya jika pengorbanan 1/3  ini dapat dilakukan cukup luar biasa pengaruhnya kepada dunia Islam. Sekarang saja baru dengan pola 10% sudah begitu besar pengaruhnya di dunia Eropa, bagaimana jika 1/3 waktu tentunya akan sangat berbeda pengaruhnya.</p>
<p>Oleh karena itu jangan antum semua terjebak dengan waktu atau lamanya, karena hal itu sudah menjadi hal umum dalam kehidupan kita agar lebih tertarur. Dan Allah swt sendiri dan Nabi kita Nabi Muhammad SAW sendiri mengajarkan kepada kita semua perihal waktu ini, hanya saja kita kurang memperhatikan dengan baik. Jadi perihal waktu itu untuk memudahkan, begitu juga dengan pesan 10% Nabi kita, serta juga pesan Ummar RA dengan 40 hari dan 4 bulan, semua untuk menjadi teratur hidup ini. Dan ini jelas diikuti para Ulama yang benar-benar faham dengan usaha da’wah ini. Jadi tidak asal copot saja hikmah yang dibangun itu, tetapi dengan segala pertimbangan mendalam apalagi mereka ini kebanyakan ahli hadist.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan baik terhadap aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri. Sehingga semakin lama tentunya akan memberikan kesan yang lebih baik kepada setiap orang yang melakukan khuruj.</p>
<p>Tetapi juga kita sendiri jangan melupakan musuh yang akan terus menggoda kita, yaitu syeithan, dan tentunya dorongan nafsu kita sendiri yang mengarah pada hal-hal yang tidak sesuai. Itulah perlunya ketika khuruj itu mengikuti tertib-tertib dan ushul da’wah. Tanpa tertib dan ushul, maka syeithan dan nafsu akan sangat mudah masuk dalam proses ishlah/perbaikan diri kita dalam suasana agama, sehingga akhirnya tujuan yang hendak dicapai tidak dapat dicapai dengan baik.</p>
<p>Seluruh tertib dan ushul itu mempunyai landasan Al-quran dan/atau as-sunnah.  Seluruh tertib dan ushul ini dijalankan sebaik mungkin, tidak dalam bentuk dalil-dalil detail yang perlu dihafal. Dan untuk menjaga tertib dan ushul itu maka musyawarah menjadi landasan utama. Musyawarah dalam usaha da’wah merupakan hal yang sangat penting diperhatikan, sehingga agendanya sangat beragam dan tingkatan bahasannya. Musyawarah  sebenarnya membentuk pikir, kepahaman dan tanggung jawab terhadap da’wah Islam itu sendiri.</p>
<p>Perihal dalil-dalil detail yang berkaitan dengan tertib dan ushul, bagi kalangan alim-ulama dan juga penuntut ilmu biasanya mempunyai keinginan yang berbeda dengan kalangan umum. Sehingga kadangkala menghafal hadist yang begitu panjang, kami pernah mendengarkan satu hadist dalam Bahasa arab yang disampaikan dari orang Perancis turunan arab, mungkin kalau dituliskan Bahasa arabnya mungkin saja 2-3 halaman. Itu yang mempunyai jiwa thalab yang tinggi.</p>
<p>Lebih baik antum semua memperhatikan dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukan ketika Khuruj. Ini lebih fundamental untuk diperhatikan dengan baik bagi kita kaum muslimin. Coba antum perhatikan definisi Iman dalam kerangka Sunnah Wal Jama’ah. Karena hal itu menjadi inti, dimana Iman itu akan meningkat atau menurun dikarenakan suasana agama itu sendiri.</p>
<p>Dalam hal ini banyak dalil berkaitan dengan aktifitas/kerja ketika khuruj yang kita dapat peroleh untuk menguatkan minat kita terhadap usaha da’wah dan tabligh ini, karena memang usaha da’wah ini untuk seluruh kaum muslimin. Dan jika sudah waktunya, amal ini akan kembali ke masjid Nabawi seperti mana kepala ular kembali ke kandangnya. Mungkin sdr. pernah mendengar satu hadist yang hampir sama dengan konteks dengan kalimat itu. Itulah sebenarnya yang akan terjadi dan akan dikembalikan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=297&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/sebagian-kaum-muslimin-selalu-berkomentar-pada-jumlah-hari-khuruj-usaha-dawah-tetapi-kerdil-dalam-analisa-dan-sintesa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Kita Membahas Perihal Khilafiyyah dan Usaha Da&#8217;wah Memberikan Kerangka Sistematik</title>
		<link>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 22:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafiyyah]]></category>
		<category><![CDATA[tertib da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Perbedaan (ikhtilaf) merupakan perkara yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, ketika manusia memandang satu perkara. Tentunya untuk menghadapi perbedaan ini memerlukan satu hikmah tersendiri, tanpa adanya hikmah maka perbedaan itu akan mengakibatkan perpecahan (tafarruq). Dalam Ushul usaha da&#8217;wah dan tabligh menjelaskan perkara yang tidak boleh disentuh, yaitu tidak menyentuh khilafiyyah.
Apakah kerangka da&#8217;wah dan tabligh ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perbedaan (ikhtilaf) merupakan perkara yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, ketika manusia memandang satu perkara. Tentunya untuk menghadapi perbedaan ini memerlukan satu hikmah tersendiri, tanpa adanya hikmah maka perbedaan itu akan mengakibatkan perpecahan (tafarruq). Dalam Ushul usaha da&#8217;wah dan tabligh menjelaskan perkara yang tidak boleh disentuh, yaitu tidak menyentuh khilafiyyah.</p>
<p>Apakah kerangka da&#8217;wah dan tabligh ini hanya asal-asalan saja perihal perkara &#8220;tidak menyentuh khilafiyyah&#8221;. Kami sebelum berkenalan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh, sering dinasehati guru-guru kami sendiri untuk berhati-hati dalam perihal khilafiyyah ini. Kalau memang tidak tahu, jangan masuk dalam lingkungan khilafiyyah. Karena akan menimbulkan perpecahan (tafarruq). Seorang guru sepuh kami memberitahukan untuk banyak mempelajari perihal kitab &#8220;Bidayatul Mujtahid&#8221;, susunan Imam Ibnu Rusd Rah. Beliau menjelaskan bahwa banyak perbedaan, yang biasanya menimbulkan perpecahan di kalangan orang yang tidak mengerti.</p>
<p><span id="more-291"></span>&#8220;Tidak menyentuh&#8221; bukan berarti tidak bersentuhan, dan kalaupun bersentuhan tentunya orang yang memahami perihal tersebut. Jika tidak kita akan masuk dalam arena perpecahan yang tidak pernah habis-habisnya. Para Ulama da&#8217;wah dan tabligh di asia tengah mengikuti madzhab hanafi, sedangkan di tempat lain belum tentu mengikuti madzhab hanafi.</p>
<p>Tetapi bukan berarti yang faham dan faqh dalam bidang madzhab hanafi, tidak memahami pandangan madzhab syafi&#8217;i ataupun Maliki. Dan hal ini sudah ditunjukan dengan baik dalam kitab fadhilah amal sendiri. Jika kita buka lembaran kitab fadhilah amal dengan baik dan telaten, kita akan temukan pandangan dari ulama yang berbeda madzhab. Artinya ada orang yang faham bagaimana memadukan dari kalangan yang berbeda itu.</p>
<p>Tetapi apakah semua orang mempunyai kemampuan itu? Apakah semua para Shahabat RA mempunyai kerangka yang sama untuk semua perkara dan masalah? Para Shahabat RA sendiri mempunyai pandangan yang tidak sama semua dalam satu perkara. Bahkan ketika Rasulullah SAW masih hidup.</p>
<p>Ada beberapa buku yang ditulis perihal ikhtilaf ini, dala buku itu dijelaskan dengan baik perihal perbedaan. Tetapi yang sebenarnya tidak boleh menjadi perpecahan (tafarruq) ketika ada perbedaan, malahan menimbulkan perpecahan di kalangan ummat. Dan hal itu dikarenakan ketidakmengertian.</p>
<p>Oleh karena itu, kerangka sunnah wal jama&#8217;ah yang ditulis dengan baik oleh seorang Ulama besar dulu, Imam Thahawi Rah, memberikan penjelasan yang jelas dan hal ini dijelaskan lebih lengkap melalui syarh seorang ulama. Dalam kitab itu sangat jelas kita harus bisa menjauhi perpecahan (tafarruq), karena hal itu sangat bertentangan dengan firman Allah swt sendiri. Dan kita bisa temukan banyak ayat yang berkaitan dengan perpecahan.</p>
<p>Coba perhatikan dengan baik beberapa ayat di bawah ini, mudah-mudahan kita memahami lebih luas dan dalam. Tentunya jika memahami lagi, kita perlu membuka latar belakang dari turunnya, dan biasanya dalam tafsir juga dijelaskan dengan baik.</p>
<p><img src="http://1.1.1.5/bmi/quran.kawanda.net/gambar/3/3_103.gif" border="0" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.&#8221; (QS Ali-Imran (3):103)</em></p>
<p><img src="http://1.1.1.2/bmi/quran.kawanda.net/gambar/3/3_105.gif" border="0" alt="" /></p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat&#8221; (QS Ali-Imran (3):105)</em></p>
<p>Kalau saja kita mempelajari latar belakang turunnya itu, kita semua akan terkejut. Bisa dibayangkan hanya dengan perkara kecil saja, kalangan para Shahabat RA bisa hampir perang di antara mereka. Dan hal ini dikarenakan diadudomba oleh orang yang mempunyai jiwa munafik. Oleh karena itu Rasulullah SAW banyak menjelaskan perkara ini dengan sangat baik. Dan salah satu solusi untuk ini adalah &#8220;Ikromul Muslimin&#8221;. Karena hal ini akan memperkecil dari efek perbedaan.</p>
<p>Awalnya kami juga tidak begitu mengerti &#8220;Tidak Menyentuh Masalah Khilafiyyah&#8221;, tetapi tentunya umur dan juga pendalaman terus berlanjut terhadap kalimat singkat ini, disamping juga ada guru-guru kami yang juga telah memberikan pengajaran dalam hal perbedaan (ikhtilaf) ini. Guru-guru kami selalu menekankan untuk jangan sangat terlibat dalam perbedaan yang mengarah pada perpecahan (tafarruq).</p>
<p>Kami punya pengalaman dulu terjadi debat antara ulama sunni dengan kalangan syiah di Bandung. Dan ketika sholat ashar semua bingung siapa yang menjadi imam sholatnya. Tetapi ada seorang ustadz yang kenal dengan kami, dan beliau meminta kami menjadi imam sholat dan mempecayainya. Di sini saja sudah bingung hanya dalam lingkungan kurang dari 50 orang dan semuanya mau sholat ashar berjama&#8217;ah. Apalagi dalam perkara besar dan jumlah orangnya banyak.</p>
<p>Dalam syarh Kitab Imam Thahawi Rah dalam kitab aqidah sunnah wal jama&#8217;ah, sangat jelas sekali. Bahkan dari kalimat &#8220;sunnah wal jama&#8217;ah&#8221; sendiri mengandung inti sari makna yang bertentangan total dengan perpecahan &#8220;tafarruq&#8221; ketika ada perbedaan. Jadi para Ulama da&#8217;wah dan tabligh yang juga sangat memahami perihal sunnah wal jama&#8217;ah juga, tentunya harus menjaga dari keselamatan ummat kaum muslimin ketika ada perbedaan. Dan untuk itulah perlu kebijakan dalam da&#8217;wah itu sendiri &#8220;Tidak menyentuh Khilafiyyah&#8221;.</p>
<p>Dan untuk membahas perkara ini, para Ulama sendiri sudah memberikan caranya. Maka Ulama dulu ketika ada perbedaan di antara beliau-beliau sendiri, tidak menimbulkan hal-hal yang kurang diinginkan. Tetapi sekarang ini perbedaan saja bisa menimbulkan saling hujat, saling remehkan. Dan lebih mengerikan, para &#8216;pion&#8217; pun ikut campur dalam urusan kalangan kealiman Ulama yang cukup kompleks, sehingga akhirnya menambah ricuh dan tidak jelas lagi. <strong>Salah satu cara yang baik untuk membahas Khilafiyyah adalah dalam bentuk kajian dan juga madrasah yang memang ada ahlinya. </strong></p>
<p>Dan salah satu solusi kebiasaan yang dibangun adalah Musyawarah dan Mudzakarah, maka dengan kebiasaan pola ini ketika ada perbedaan akan dapat dikelola dengan mudah. Karena ada Musyawarah. Ini saja banyak kalangan ummat kurang memperhatikan dengan baik, meskipun ayat-ayat Al-quran dan As-Sunnah banyak menjelaskannya dan juga memberikan contohnya. Dan usaha da&#8217;wah sangat menekankan pada MUSYAWARAH dan bahkan tertib-tertibnya. Ini salah satu sunnah yang sangat fundamental untuk pertumbuhan kaum muslimin.</p>
<p>Silahkan pelajari dan dalami ayat-ayat yang berkaitan dengan perpecahan (tafarruq), dan juga bagaimana solusi untuk hal itu. Sehingga kita akan lebih memahami bagaimana menyikapi dalam perbedaan dan menghindari perpecahan.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=291&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/bagaimana-kita-membahas-perihal-khilafiyyah-dan-usaha-dawah-memberikan-kerangka-sistematik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendalaman DALIL terhadap Da&#8217;wah yang TERTIB tentunya memerlukan proses-proses perbaikan yang terus-menerus dan berkelanjutan</title>
		<link>http://usahadawah.com/pendalaman-dalil-terhadap-dawah-yang-tertib-tentunya-memerlukan-proses-proses-perbaikan-yang-terus-menerus-dan-berkelanjutan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/pendalaman-dalil-terhadap-dawah-yang-tertib-tentunya-memerlukan-proses-proses-perbaikan-yang-terus-menerus-dan-berkelanjutan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 00:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[4M]]></category>
		<category><![CDATA[mudzakarah]]></category>
		<category><![CDATA[muhasabab]]></category>
		<category><![CDATA[mujahadah]]></category>
		<category><![CDATA[musyawarah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=285</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Da’wah Islam merupakan amal Islam yang sangat fundamental untuk diperhatikan dengan baik dan seksama, sehingga tentunya menjalankan da’wah Islam itu tidaklah asal-asalan tetapi perlu dijalankan dengan Tertib. Dan untuk menjaga ataupun membentuk da’wah Islam yang tertib tentunya juga memerlukan satu pendekatan yang baik pula. Artinya perlu proses-proses yang mendorong untuk pembentukan da’wah Islam yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Da’wah Islam merupakan amal Islam yang sangat fundamental untuk diperhatikan dengan baik dan seksama, sehingga tentunya menjalankan da’wah Islam itu tidaklah asal-asalan tetapi perlu dijalankan dengan Tertib. Dan untuk menjaga ataupun membentuk da’wah Islam yang tertib tentunya juga memerlukan satu pendekatan yang baik pula. Artinya perlu proses-proses yang mendorong untuk pembentukan da’wah Islam yang tertib itu.</p>
<p>Da’wah Islam tidak menganjurkan untuk menghujat ataupun meremehkan sebagian kaum muslimin lainnya, bahkan juga kepada ummat-ummat lainnya. Begitupun juga da’wah Islam tidak menganjurkan untuk menghasilkan saling berbantahan di antara pelaku da’wah itu sendiri. Tetapi kita harus menyadari bahwa manusia itu tetap manusia, artinya kekhilafan itu pasti datang, begitupun dengan kami sendiri.</p>
<p>Di bawah ini terdapat empat proses yang perlu selalu dijaga dan terus berlanjut, sehingga perbaikan-perbaikan atau peningkatan-peningkatan dalam aktifitas da&#8217;wah Islam dapat mencapai TERTIB yang lebih dari waktu ke waktu tentunya.</p>
<p><strong><span id="more-285"></span>MUHASABAH </strong> Kita kaum muslimin perlu selalu melakukan introspeksi diri atau menimbang diri kita. Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, selalu melakukan ini. Beliau selalu beristighfar setiap hari, padahal beliau pasti dijamin masuk Surga Allah swt. Begitupun juga para Shahabat RA lainnya, bagaimana Ali RA ketika sholat malam, atau juga Ummar RA. Bahkan ada seseorang bukan shahabat besar dijamin dengan surga oleh Rasulullah SAW. Dan ketika dipelajari lagi, orang ini selalu melakukan muhasabah sebelum tidurnya.</p>
<p><em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS Al-Hasyr (59): 18)</em></p>
<p>Dengan adanya muhasabah ini, kita akan selalu menjaga diri kita untuk lebih berhati-hati dalam bertindak atau berucap. Karena semuanya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah swt, dan tentunya akan selalu meningkatkan kepahaman terhadap agama kita sendiri. Tetapi bukan untuk dilihat sebagai orang paling faqih dalam Islam, tetapi akan selalu mencari tahu apa yang perlu diikuti dan apa yang perlu dijauhi.</p>
<p><strong>MUDZAKARAH.</strong> Kita kaum muslimin jarang sekali melakukan mudzakarah secara baik, dan padahal mudzakarah ini dapat lebih meningkatkan kedekatan hubungan sesama kaum muslimin itu sendiri. Saat ini kita kaum muslimin telah dapat melakukan mudzakarah melalui jaringan Internet, seperti melalui Sidogiri atau juga MyQuran.</p>
<p>Meskipun sarana ini dapat memberikan fasilitas mudzakarah, tetapi terdapat hal-hal utama yang tidak dapat digantikan yang sebenarnya banyak dalam sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan juga para shahabat RA, seperti bermuka manis ketika bertemu, berjabat tangan ketika bertemu, mengucapkan salam ketika bertemu, menghormati ketika duduk, mendengarkan dengan seksama dan hormat, dll. Mudzkarah ini perlu dilakukan dengan berbagai kalangan kaum muslimin. Mudzakarah ini akan membangkitkan hal-hal yang tidak dipahami oleh kita sendiri ketika sebelum mudzakarah.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA sering melakukan mudzakarah kadangkala dalam hal-hal yang unik. Misalkan Nabi Muhammad SAW datang ke masjid untuk mendengarkan bacaan quran dari seorang shahabat RA, dan terjadi dialog mudzakarah yang bermanfaat untuk kita sampai saat ini. Nabi Muhammad SAW bermudzakarah dengan seorang shahabat dikarenakan shahabat ini berhubungan dengan istrinya ketika berpuasa di bulan Ramadhan. Atau juga dialog Nabi Muhammad SAW dengan shahabat-shahabat yang berlebihan dalam ibadah, dikarenakan akan berpuasa terus menerus, ada juga akan sholat malam terus-menerus. Dialog yang sangat baik, dan merupakan pelajaran yang sangat berharga. Dan masih banyak lagi.</p>
<p>Dengan adanya mudzakarah ini secara langsung di kalangan kaum muslimin, kaum muslimin akan terbiasa terbuka berkomunikasi dengan baik dan juga akan terbiasa untuk mendengarkan pandangan kaum muslimin yang lainnya. Sehingga suasana kebersamaan akan terbentuk dengan baik. Saat ini kita kaum muslimin sangat berkurangan mudzakarah Islam dalam suasana terbuka dan langsung.</p>
<p><strong>MUSYAWARAH.</strong> Aktifitas ini yang benar-benar lemah dalam kaum muslimin, padahal aktifitas inilah yang dapat menghasilkan keputusan-keputusan atau juga langkah-langkah perbaikan untuk kaum muslimin atau kita sendiri. Padahal banyak sekali dalil dalam al-quran mendorong selalu bermusyawarah, bahkan banyak hadits mengajarkan cara-caranya itu dengan baik. Tetapi aktifitas ini benar-benar asing di lingkungan kaum muslimin.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW dan para shahabat RA selalu melakukan musyawarah ini. Sehingga perbaikan-perbaikan itu terus terjadi dan bahkan mencapai puncaknya kejayaan Ummat Islam di saat itu. Kami cukup lama terlibat dalam usaha da’wah dan tabligh. Dan banyak teman-teman lama selalu menasehati untuk dapat mengikuti musyawarah, meskipun hanya duduk dan mendengarkan saja. Setelah sekian lama, kami baru banyak memahami bahwa musyawarah ini sangat fundamental terhadap pertumbuhan da’wah ataupun aktifitas-aktifitas kaum muslimin di masa depan. Karena proses dan tanggung jawab dapat dibentangkan dan diambil untuk dikerjakan.</p>
<p><em>&#8220;Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. &#8221; (QS Ali-Imran (3): 159)</p>
<p>Diriwiyatkan dari Abu Hurairah RA katanya &#8220;Aku belum pernah melihat seorangpun yang paling sering bermusyawarah dengan para Shahabatnya selain Rasulullah SAW&#8221; (HR Tirmidzi. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)</p>
<p>&#8220;Dari Ali RA menceritakan: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: &#8220;Wahai Rasulullah, jika kami menjumpai suatu urusan yang belum jelas mengenainya apakah diperintah atau dilarang, ap yang diperintahkan kepada kami? Nabi Muhammad SAW bersabda: &#8220;Musyawarahkanlah urusan itu dengan para fuqaha (orang yang dalam urusan agama) dan para &#8216;abidin (orang-orang sholeh), dan janganlah memutuskan urusan itu dengan hanya mengikuti pendapat orang tertentu.&#8221; (HR Thabrani dalam Al-Awsath dan sanad-sanadnya dipercaya daripara perawi yang shahih &#8211; Majma&#8217;uz Zawaid. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)</p>
<p>&#8220;Dari Ibnu Abbas RA menceritakan: &#8220;Ketika turun ayat ini &#8220;bermusyawarahlah engkau dengan mereka dalam segara uruan&#8221;. Maka Rasulullah SAW bersabda &#8220;Sesungguhnya Allah swt dan Rasul-NYA tidak memerlukan musyawarah, tetapi Allah swt telah menjadikan musyawarah ini sebagai rahmat bagi ummatku. Oleh karena itu siapa saja di antara ummatku yang melakukan musyawarah, maka ia tidak akan kehilangan bimbingan (petunjuk jalan yang lurus), sebaliknya barangsiapa di antara ummatku yang meninggalkan musyawarah, maka tidak akan hilang kesulitannya (yakni dalam keadaan kesulitan)&#8221; (HR Baihaqi. Kitab Al-Hadistul Muntakhabah, Maulana Yusuf Rah)</em></p>
<p>Dan juga ternyata musyawarah ini juga dapat dipakai untuk lingkungan keluarga kaum muslimin, bahkan untuk urusan dunia sendiri. Musyawarah ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, dan terus-menerus. Dengan musyawarah yang berkelanjutan dan baik, saya mendapatkan informasi perubahan-perubahan yang sangat mengembirakan di negara-negara yang sebenarnya kaum muslimin sangat sedikit.</p>
<p><strong>MUJAHADAH.</strong> Ini merupakan langkah kongrit atau amaliyah terhadap keputusan-keputusan yang dibuat dari Muhasabah, Mudzakarah dan Musyawarah. Sehingga proses perbaikan itu akan terus berlanjut. Kisah dialog Salman Al-Farisi RA dengan Nabi Kita, Nabi Muhammad SAW, ketika perang khandaq merupakan bentuk proses yang bagus untuk dipelajari. Dan Allah swt merekamnya ke dalam Al-quran, bahkan yang lebih luar biasa lagi, dalam keadaan tertekan dan terkungkung itu, Allah swt akan memberikan kemenangan di masa depan bagi generasi itu.</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. &#8221; (QS Al-Hujurat (49): 15)</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. &#8221; (QS  Ash Shaff (61): 4)</em></p>
<p>Itulah empat proses yang perlu dijalankan dalam kehidupan kaum muslimin untuk menjadikan aktifitas da&#8217;wah Islam ini terus mengalami perbaikan-perbaikan dengan baik mencapai TERTIB yang lebih baik.  Dan akhirnya semuanya bergantung kepada kaum muslimin sendiri untuk membangun da&#8217;wah itu dengan tertib.</p>
<p>Thanks,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=285&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/pendalaman-dalil-terhadap-dawah-yang-tertib-tentunya-memerlukan-proses-proses-perbaikan-yang-terus-menerus-dan-berkelanjutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>saling menasehati dalam al-Haq dan saling menasehati dalam kesabaran</title>
		<link>http://usahadawah.com/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 00:41:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[saling menasehati]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[Dear all,
Kalau kita terbiasa untuk saling berkomentar dalam satu perkara, dari kerangka yang berbeda, dimana yang satu menilai dari apa yang &#8220;dilihat&#8221; dan yang satu menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, dan jika terus &#8217;saling-berkomentar&#8217; ini terbangun di kalangan ummat Islam; maka tidak pernah wujud apa yang disebutkan dalam ayat al-quran &#8220;saling menasehati dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear all,</p>
<p>Kalau kita terbiasa untuk saling berkomentar dalam satu perkara, dari kerangka yang berbeda, dimana yang satu menilai dari apa yang &#8220;dilihat&#8221; dan yang satu menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, dan jika terus &#8217;saling-berkomentar&#8217; ini terbangun di kalangan ummat Islam; maka tidak pernah wujud apa yang disebutkan dalam ayat al-quran &#8220;saling menasehati dalam al-Haq dan saling menasehati dalam kesabaran&#8221;.</p>
<p>Tentunya bagi yang kaum muslimin muslim dari apa yang &#8216;dilihat&#8217; saja, sebaiknya untuk lebih mengetahui lebih baik, dan kalau ada kekurangannya dari apa yang &#8216;diliha&#8217; maka sebaiknya terjun dan berikan nasehat secara baik dan hikmah. Tidaklah mungkin menasehati apa yang &#8216;dilihat&#8217; itu disampaikan dalam forum ini, TETAPI sebaiknya menyampaikan pada orang yang terdapat kekeliruan atau kekhilafan dari yang bersangkutan. Bukankah kita sering membaca al-quran dan as-sunnah?</p>
<p><span id="more-283"></span>Tentunya bagi kaum muslimin yang menilai dari apa yang &#8220;dirasakan dan diterjuni&#8221;, tidaklah perlu gusar dan berkecil hati. Dan jika ada sebagian yang mengikuti dari apa yang &#8216;dirasakan dan diterjuni&#8217; mempunyai kekurangan dan kekhilafan, maka berilah nasehat dengan baik dan hikmah. Jangan lupa apa yang tidak dilakukan Nabi Muhammad SAW, bukan berati Rasulullah SAW melarang para Shahabat RA yang melakukannya. Sehingga inilah kadangkala menimbulkan pandangan berbeda dari kalangan para Ulama sendiri, misalkan saja &#8216;perihal biji tasbih&#8217;. Jangan karena kita menganggap sebagai &#8216;bid&#8217;ah&#8217; daripada pandangan kita, selanjutnya asal-asalan menyampaikan dengan tidak jelas, yang akhirnya akan merusaka da&#8217;wah itu sendiri.</p>
<p>Saat ini kelemahan ummat Islam bertambah banyak, salah satunya dikarenakan saling bantah-membantah. Orang yang memberikan pandangan kepada kaum muslimin, tetapi yang dinilai penilaian tidak mau begitu saja menerima pandangan sepihak. Akhirnya kita menumbuhkan satu karakter jelek dan buruk di sisi agama kita yang mulia yaitu &#8220;saling bantah-membantah&#8221;.</p>
<p>Bagi kaum muslimin yang berkeinginan memberikan pandangan ataupun nasehat kepada kaum muslimin yang telah menerjuni usaha da&#8217;wah, maka sebaiknya sampaikan dengan cara baik dan hikmah. Tahdzir yang tidak hikmah akan menghasilkan hal-hal yang tidak baik pula. Itulah yang banyak dibahas dan dijelaskan oleh kalangan Ulama sendiri, dan bahkan telah dikompilasi dari orang yang banyak mendalami perihal &#8216;tahdzir&#8217; ini dikarenakan banyak kalangan yang mengaku manhaj salafush sholeh ini akhirnya kontra-produktif dan tidak-harmonis. Atau boleh dikatakan sangat bertentangan dengan manhaj salafush sholeh sendiri.</p>
<p>Silahkan semua kaum muslimin belajar dari Al-quran dan as-sunnah, dan ungkap dengan baik kedua hal itu yang telah banyak dituliskan para Ulama. Bagi kalangan ahli usaha da&#8217;wah, cobalah buka seluruh buku :</p>
<p>- Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf Rah<br />
- Kitab fadhilah amal termasuk hikayat kehidupan para Shahabat, Maulana Dzakaria Rah<br />
- Al-muntakhabah Al-hadist, Maulana Yusuf Rah<br />
- Malfudhat Maulana Ilyas Rah, Maulana Manzoor Noomani Rah<br />
- Riyadhush sholihin, Imam Nawawi Rah<br />
- Al-adzkar, Imam Nawawi Rah<br />
- Six Point of Tabligh, Maulana Isyaq Ilahi Rah</p>
<p>Baca dengan baik dan pejalari dengan baik, dan sesudahnya berilah seluruh pandangan-pandangan yang hari ini banyak disampaikan terhadap usaha da&#8217;wah ini berdasarkan kitab-kitab itu dengan baik. Insya Allah, kita akan banyak mendapatkan manfaat dengan baik. Terutama dengan kitab Imam Nawawi Rah, kita akan merasakan seluruh aktifitas dalam usaha da&#8217;wah itu sebagai bentuk latihan-latihan para sholihin. Itulah sangat tepat dengan nama kitabnya, &#8220;Riyadhush Sholihin&#8217;.</p>
<p>&#8220;Sholihin&#8221; merupakan salah satu dari empat tipe yang dinyatakan oleh Allah swt sebagai kawan yang terbaik yang telah diberi Ni&#8217;mat &#8220;Para Nabi, shidiqin, syuhada, dan Sholihin&#8221;. Inilah yang kita sering minta kepada Allah swt, minimal 17 kali. Oleh karena itu, hari ini kita belajar melalui usaha da&#8217;wah untuk latihan-latihan dari amal-amal para Sholihin (Riyadhush Sholihin), maka kita harus bersyukur kepada Allah swt. Dan sebagai rasa syukur kita kepada Allah swt, maka kita harus berusaha terus dalam usaha da&#8217;wah ini sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.</p>
<p>Dan juga kita jangan lupa bahwa &#8220;sholihin&#8221; ini yang disampaikan Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad SAW ketika dialog dengan Allah swt ketika Isra&#8217; Miraj, dan dialog ini terekam dengan baik dalam bacaan tasyahud Sholat kita. Jadi sudah sepantas kita bersyukur dengan ada sarana latihan melalui usaha da&#8217;wah agar kita menjadi bagian dari orang-orang sholihin.</p>
<p>Dan kita tidak perlu lagi saling bantah-membantah lagi dari &#8216;yang dilihat saja&#8217; dengan &#8216;yang dirasakan dan diterjuni&#8217;, tinggalkan semua itu. Lebih baik memberikan pandangan sesuai sumber-sumber kitab itu dengan baik, sehingga kita akan mendapatkan manfaat bagi kita dan orang yang sedang berdiskusi dengan kita.</p>
<p>terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=283&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/saling-menasehati-dalam-al-haq-dan-saling-menasehati-dalam-kesabaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Da&#8217;wah itu memerlukan tertib, jika berkeinginan mendapatkan manfaat yang lebih besar daripada madhoratnya</title>
		<link>http://usahadawah.com/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 23:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Da'wah dan Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[rahmatan lil'alamin]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[usaha dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Dear All,
Bid&#8217;ah dholalah, syrik dan macam-macam yang bertentangan dengan Al-Islam perlu dijelaskan dengan baik kepada kaum muslimin, tetapi menjelaskan dan menerangkan hal-hal tersebut memerlukan TERTIB. Tanpa adanya TERTIB maka kita kaum muslimin sendiri akan mendapatkan hal-hal yang kurang diinginkan. Nabi Muhammad SAW sangat menekankan TERTIB ini dengan baik, dan beliau tidak hanya menjelaskan dengan kalimat-kalimat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear All,</p>
<p>Bid&#8217;ah dholalah, syrik dan macam-macam yang bertentangan dengan Al-Islam perlu dijelaskan dengan baik kepada kaum muslimin, tetapi menjelaskan dan menerangkan hal-hal tersebut memerlukan TERTIB. Tanpa adanya TERTIB maka kita kaum muslimin sendiri akan mendapatkan hal-hal yang kurang diinginkan. Nabi Muhammad SAW sangat menekankan TERTIB ini dengan baik, dan beliau tidak hanya menjelaskan dengan kalimat-kalimat tetapi juga dengan bentuk-bentuk contoh yang bisa dipahami dengan baik.</p>
<p>Ada seorang badwi buang air kecil di dalam masjid Nabawi, bisa kita bayangkan bagaimana perasaan para Shahabat RA yang melihat itu. Tentunya mereka marah dan kesal, sehingga ada saja yang akan memukulnya. TETAPI Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad SAW, melarangnya bahkan beliau menyuruhnya membawa air untuk disiramkan. Itulah da&#8217;wah dan pengajaran tidak boleh kasar.</p>
<p><em><span id="more-274"></span>&#8220;Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma&#8217;afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. &#8221; (QS Ali-Imran (3): 159)</em></p>
<p>Ada seorang pemuda akan masuk Islam tetapi agar diijinkan untuk tetap melakukan berzina. Kira-kira apa yang akan kita lakukan kalau ada orang seperti ini? Nabi kita tidak marah dan tidak memperlihatkan wajah marah atau bahkan mengeluarkan dalil-dalil quran yang mana pasti beliau sangat hafal, TETAPI beliau melakukan dialog yang ringan dengan pemuda itu. Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan ibumu? Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan istrimu? Bagaimana kalau ada orang yang berzina dengan sdr. Perempuanmu? Jelas pemuda itu menjawab bahwa dia akan marah. Dan Nabi kita menjawab dengan simple, yang lainpun akan marah kepada kamu jika kamu tetap berzina. Dan akhirnya pemuda itu tidak mau berzina lagi.</p>
<p>Nabi Muhammad SAW sangat memahami bahwa keluarganya banyak yang belum masuk Islam, dan bahkan menyembah latta dan uza. Nabi kita tidak pernah mencaci dan menghina tuhan-tuhan mereka, ataupun bahkan merusak tuhan-tuhan mereka.</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.&#8221; (QS Al-An&#8217;am (6): 108) </em></p>
<p>Coba kita lebih jauh dengan pelajaran perihal Khmar. Allah swt jelas akan mengharamkan perihal khmar ini. TETAPI Allah swt sendiri memberikan pelajaran secara bertahap terhadap para Shahabat RA. Nabi kita Nabi Muhammad SAW tidak pernah minum khmar dari kecil, meskipun masyarakatnya biasa minum khmar dan main judi. Tentunya Nabi kita Nabi Muhammad SAW sangat memahami perihal khmar ini, tetapi beliau menunggu bagaimana pelajaran dari Allah swt.</p>
<p>Dan akhirnya Allah swt menjelaskan dengan ayat yang menjelaskan jangan dekat-dekat sholat dalam keadaan mabuk, maka lama-lama para Shahabat RA banyak yang menhancurkan khmar itu sendiri. Padahal ketentuan khmar itu belum ditetapkan sebagai haram.  Allah swt sendiri memberikan pelajaran yang demikian baik kepada para Shahabat RA bagaimana langkah-langkah untuk melakukan perbaikan terhadap masyarakat yang terbiasa dengan khmar dan judi. Apakah kita kaum muslimin kurang memperhatikan pelajaran-pelajaran seperti ini?</p>
<p>Allah swt dengan jelas menegaskan bahwa jika telah datang yang haq maka yang bathil akan hilang. Ini mengandung pelajaran denganbaik. Atau misalkan kalimat &#8220;amar ma&#8217;ruf nahi mungkar&#8221;, kalimat ini akan seperti itu. Artinya bukan berarti kita mendorong atau menyuruh orang lain untuk berbuat baik, terus diartikan bahwa kita tidak menghalangi yang mungkar. Semua hal itu ada pertimbangan itu sendiri, maka TERTIB dalam pengajaran, pendidikan, tarbiyyah dan da&#8217;wah merupakan hal yang perlu sangat diperhatikan. Tanpa adanya TERTIB maka akhirnya kita kaum muslimin akan menghasilkan kontra-produktif dan ketidakharmmisan yang semakin tajam.</p>
<p>Sekarang kita ajak seluruh kaum muslimin untuk sholat dengan baik, berjama&#8217;ah, khusyu dan tertib. Allah swt menjelaskan dengan jelas dan terang, bahwa sholat itu dapat mencegah perbuat keji dan mungkar. Artinya kita teruskan secara terus-menerus dan berkelanjutan untuk mengajak kaum muslimin untuk sholat dengan baik itu, dan dengan tidak perlu menyentuh perkara yang keji dan mungkarnya, maka kaum muslimin akan meninggalkannya sendiri perkara keji dan mungkar itu.</p>
<p>Dan hal itu ada buktinya sering ditemukan dalam usaha da&#8217;wah, bahkan di jaman Rasulullah SAW pernah terjadi ketika perihal anak muda yang bolak-balik ke masjid untuk sholat yang ketika itu masih belum betul perilakunya  dan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pemuda itu akan berubah karena sholatnya dan ternyata benar adanya.</p>
<p><em>&#8220;Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. &#8221; (QS Al-&#8217;Ankabut (29): 45)</em></p>
<p>Jadi jangan dianggap bahwa kalau ada sebagian kaum muslimin tidak membicarakan syirik, bid&#8217;ah dholalah, kemusyikan yang umum terjadi di lingkungan kita kaum muslimin; selanjutnya dikatakan salah dalam da&#8217;wah dan pengajaran kaum muslimin. Jelas hal ini tidak tepat. Konten dan cara pendekatan itu perlu dipertimbangkan secara TERTIB.</p>
<p>Jika ada sebagian kaum muslimin  yang berkeinginan menyampaikan secara terang-terangan dan bebas  perihal syirik atau bid&#8217;ah dholalah ataupun perihal kekeliruan masyarakat, silahkan saja sampaikan sesuai dengan langkah-langkah yang dipercayainya. TETAPI  jangan melemahkan ataupun meremehkan terhadap sebagian kaum muslimin yang tidak memilih jalur seperti itu, seperti kami termasuk yang menolak mentah-mentah.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah ini mempunyai TERTIB. Empat perkara yang tidak boleh disentuh ketika khuruj fisabilillah atau bahkan ketika aktifitas usaha da&#8217;wah di maqomi di jalankan, yaitu perihal politik, perihal khilafiyyah, perihal aib masyarakat, serta perihal derma dan pangkat. Mungkin banyak kaum muslimin bertanya, Why? Tentunya pertanyaan itu dikeluarkan dengan macam-macam argumen, seperti politik itu kan ada yang syar&#8217;i atau Islam juga membahas Politik, bukan perlu membahas perihal khilafiyyah dsb. Dan ujungnya bahwa usaha da&#8217;wah ini tidak jelas.</p>
<p>Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada juga ahli politik, dan bahkan menjadi persiden pertama kali di India. Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang ahli dalam perkara khilafiyyah, dan bahkan menulis perihal madzhab maliki melalui syarh Kitab Al-Muwathanya. Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang kaya raya dan cukup banyak, dan bahkan sudah bisa merencanakan masjid terbesar di Eropa dengan biaya hampir 10 Trillyun.  Orang yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah ini ada yang pangkat tinggi, bahkan ada yang sudah menjabat sebagai kapolda dan ada juga sebagai pangeran.</p>
<p>Kenapa tidak menyentuh perkara-perkara itu, TETAPI malahan menguasai di perkara-perkara tersebut dengan sangat baik. Empat perkara tersebut jika tidak melalui TERTIB menjadi sebab terhadap perpecahan kaum muslimin. Sedang usaha da&#8217;wah ini dipersiapkan untuk seluruh kaum muslimin, apakah berbeda lapisan, berbeda tingkatan, berbeda status, berbada umur, berbada suku dsb.</p>
<p>Sehingga jika disentuh perkara politik praktis, khilafiyyah dsb, maka bisa dibayangkan bagaimana kacaunya ummat Islam ini nantinya. Dan bisa diperkirakan kekacauannya sangat luar biasa pengaruhnya ke seluruh dunia. Mungkin jika hanya satu kampung saja sangat kecil pengaruhnya, tetapi bisa dibayangkan dengan berbeda suku, tingkatan, umur, warna kulit, dsb yang ada di seluruh dunia.</p>
<p>Usaha da&#8217;wah ini merupakan kerja da&#8217;wah dan pengorbanan kaum muslimin seluruh alam, tidak hanya untuk satu kota atau kampung. Jadi jika ada yang meminta ataupun mengharapkan usaha da&#8217;wah secara ijtimaiyyah untuk menyentuh atau membicarakan bahasan-bahasan seperti yang diminta sekarang ini, hal itu tidak dapat ditunaikan. Dan kami sendiri menolak mentah-mentah. TETAPI jika sebagian kaum muslimin meminta agar dijelaskan perkara-perkara  di madrasah-madrasah ataupun dalam kajian-kajian itu secara sistematik, tentunya hal itu sudah biasa dan juga bergantung dari kurikulum dan silabus yang dibahasnya.</p>
<p>Jadi kesimpulannya kepada kawan-kawan :</p>
<p>PERTAMA jika usaha da&#8217;wah tidak menyentuh dan menjelaskan perkara-perkara tersebut tentunya memiliki pertimbangan TERTIB, yang akan memberikan pengaruh pada manfaat dan madhoratnya. Tentunya pertimbangannya akan dicarikan manfaat yang lebih besar daripada madhoratnya.  Pengajaran dan da&#8217;wah juga seperti jual beli, yang semuanya pertimbangananya keuntungan yang besar. Untuk apa kita lakukan pengajaran dan da&#8217;wah tetapi akhirnya menimbulkan kontra-produktif dan tidak harmonis di kalangan kaum muslimin.</p>
<p>Kontra-produktif dan tidak harmonis di kalangan kaum muslimin tidak akan pernah mengangkat pada tingkatan pengajaran dan da&#8217;wah yang lebih tinggi. Sekarang ini kita masih pada tarap awal saja, karena kita masih saling mengingatkan di antara kaum muslimin. Bagaimana kita bisa mengajak manusia di luar Islam ke dalam pangkuan Al-Islam dan mereka juga akan terbebas dari api neraka dan masuk surga Allah swt, sedangkan kita akhirnya habis waktu dengan kontra-produktif dan tidak harmonis. Yang akhirnya kita sendiri dipermainkan oleh lawan-lawan kita sendiri.</p>
<p>KEDUA, silahkan saja kepada kawan-kawan yang semangat dengan bahasan perihal syirk, bid&#8217;ah dholalah, khilafiyyah secara langsung untuk disampaikan kepada Ummat Islam. Kami tidak akan mengambil cara-cara itu ketika menjalankan ijtimaiyyah tertib, bahkan kami sendiri secara infirodhiyyah juga tidak akan mengambil cara-cara yang akan menimbulkan mudhorat yang lebih besar.</p>
<p>TETAPI jika ada yang mau mengambinya, silahkan sebagai bagian dari hak semua orang untuk menyampaikannya. Silahkan saja krirtsasi atau tahdzir perihal-perihal syirk itu dan bid&#8217;ah dholalah, atau yang dianggap bid&#8217;ah secara langsung di depan orangnya. Tentunya hal itu ada pertimbangannya oleh kawan-kawan dengan alasan-alasan yang menghasilkan langkah-langkah itu. Hanya saja ketika menimbulkan mudhorat lebih besar, tentunya juga perlu dipertimbangkan. Silahkan bangun macam-macam da&#8217;wah untuk kaum muslimin, karena da&#8217;wah ini merupakan tanggung jawab bersama dan khidmat untuk agama kita yang mulia. Dan kita tidak perlu saling menghujat ataupun meremehkannya.</p>
<p>Hanya saja KETIKA ada sebagian kaum muslimin sudah memberikan pandangan terhadap usaha da&#8217;wah ini dikarenakan mempunyai pendekatan yang berbeda dari pandangannya, tentunya siapapun termasuk kami  juga perlu membuka pandangan berimbang denganhal itu. <strong>Maksud pandangan berimbang ini untuk membuka wacana bersama, sehingga kita semua terbebas dari pola berpikir kerdil dan tidak terjebak dalam kerdilisasi. </strong></p>
<p>Pola berpikir kerdil dan terjebak dalam kerdilisasi ini telah memakan korban di jaman Nabi kita Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Apakah yang dibangun sendiri oleh sebagian kaum muslimin di jaman itu karena mempunyai jiwa ghuluw, atau dibangun oleh kalangan orang munafik sendiri. Orang-orang munafik ini sangat lincah dan lihai, para Shahabat RA sendiri bisa terkecoh. Dan banyak kejadian di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA menjadi pelajaran. Sebagai contohnya, silahkan buka dan pelajari Ali-Imran (3):100-105. Kisah latar belakang ini sangat menarik, dan dari belajar kami terhadap ayat tersebut menunjukan bahwa saat ini juga kaum muslimin memperlihatkan keadaan yang hampir sama dan tentunya solusinya akan sama juga.</p>
<p>Itulah kenapa Da&#8217;wah dan pengajaran/tarbiyyah ini memerlukan TERTIB. Dan usaha da&#8217;wah telah menyiapkan tertib dan ushul da&#8217;wah secara sistematik, hal itu untuk menghindari dari hal-hal yang kurang diharapkan dan menghasilkan serta mencapai sasaran/niat/tujuan yang hendak dicapai.</p>
<p>Terimakasih,<br />
Haitan Rachman</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=274&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/dawah-itu-memerlukan-tertib-jika-berkeinginan-mendapatkan-manfaat-yang-lebih-besar-daripada-madhoratnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat-Menyurat Da&#8217;wah Dengan Abdul Qahhar</title>
		<link>http://usahadawah.com/surat-menyurat-dawah-dengan-abdul-qahhar/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/surat-menyurat-dawah-dengan-abdul-qahhar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 02:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Surat Menyurat Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Abdul Qahhar Wrote:
Salam ukhwah, saya agak terlewat membaca blog ini mungkin. tapi, saya sudah pun membaca sebahagian besar artikel dalam blog ini.
dah sekian lama saya mencari jawapan kepada persoalan dan tomahan kepada usaha tabligh ini sebenarnya. sebab adalah tak adil jika tidak mendapatkan keterangan dari pengiat tabligh sendiri berkenaan tomahan tersebut.
rata-rata, sikap ahli tabligh yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abdul Qahhar Wrote:</p>
<p>Salam ukhwah, saya agak terlewat membaca blog ini mungkin. tapi, saya sudah pun membaca sebahagian besar artikel dalam blog ini.</p>
<p>dah sekian lama saya mencari jawapan kepada persoalan dan tomahan kepada usaha tabligh ini sebenarnya. sebab adalah tak adil jika tidak mendapatkan keterangan dari pengiat tabligh sendiri berkenaan tomahan tersebut.</p>
<p>rata-rata, sikap ahli tabligh yg tidak mahu membicarakan perihal isu dan tomahan ttg tabligh menjadikan org luar susah untuk menerima gerak kerja Tabligh ini.</p>
<p>setelah membaca blog ini, kebanyakkanya persoalan dalam diri saya telah terjawab berkenaan dengan perihal tabligh dari hukum syarak dan menjwab fatwa2 yang terlibat.</p>
<p>kami berharap pihak tuan dapat kembali aktif dlm blog ini untuk terus menerus memberikan kefahaman ttg JT ini sendiri.</p>
<p>harapan dari semua pihak agar semua jemaah dapat bersatu di atas nama Islam, dan berharap agar pimpinan tabligh turut mengesa ahli untuk belajar menerima bezanya jemaah Islam lain pula&#8230;</p>
<p>Maradhatillah</p>
<p><span id="more-260"></span>Sdr. Abdul Qadhar Yang dimuliakan Allah swt,</p>
<p> 1. Para Ulama yang awal-awal terjun dalam usaha da&#8217;wah ini merupakan orang-orang yang hafidz dan juga alim dalam urusan ilmu hadits serta bidang ilmu Al-Islam lainnya. Maulana Ilyas Rah mengetahui juga perihal adanya pandangan kritis terhadap usaha da&#8217;wah ini, tetapi beliau tidak memberikan pandangan berimbang terhadap pandangan tersebut. Tentunya bagi beliau, apalagi yang mengangkat kembali usaha da&#8217;wah ini wujud, mempunyai pertimbangan-pertimbangannya.</p>
<p>Maulana Yusuf Rah juga mengetahui hal ini, beliau adalah seorang ahli hadist dan kita bisa mendapatkan karya beliau yang berkaitan dengan syarh hadist beliau yang dalam terhadap kitab hadits yang disusun Imam Thahawi Rah. Beliau sebagai orang alim, hafidz, dan juga penanggung jawab, serta juga penulis kitab, tentunya beliau perlu memberikan jawaban terhadap pandangan kritis, maka beliau menulis buku &#8220;Hayatush Shahabat&#8221;.</p>
<p>Kitab ini merupakan pensarian, terhadap topik-topik yang banyak diperbincangkan kaum muslimin terhadap usaha da&#8217;wah, sehinga beliau menjelaskan bahwa jika berkeinginan memahami usaha da&#8217;wah ini dengan baik maka hendaknya selalu berhubungan dengan sirah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA. Sirah-sirah ini tersebar dalam berbagai kitab, tidak hanya dalam kitab sirah itu sendiri. Bahkan dalam kitab hadist dan tafsir saja terdapat sirah.</p>
<p>Maulana Yusuf Rah mempersilahkan kepada siapapun, termasuk kepada kaum muslimin yang terlibat dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh sendiri, untuk menggali secara ILMIYYAH yang berkaitan dengan usaha da&#8217;wah. Dan kami sangat setuju dan senang, karena itu memberikan kelonggaran berpikir dan tidak menjadikan kaum muslimin yang terlibat sendiri menjadi katak dalam tempurung. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mendalami.</p>
<p>Artinya bagi kita sendiri, termasuk kami, perlu banyak memperlajari sirah Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dan para Shahabat RA. Allah swt dengan tegas dan jelas menjelaskan perihal ini, hanya saja kita kaum muslimin kurang memperhatikan dengan baik.</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.&#8221; (QS Yusuf (2): 111)</p>
<p>Al-quran banyak sekali bercerita sirah, bahkan termasuk dialog yang penting antara Allah swt dengan para malaikat sendiri tercatat dengan baik, termasuk pembangkangan Iblish La&#8217;natullah.</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">2. Sekarang ini sebenarnya telah banyak Ulama yang memberikan pandangan tertulis secara baik terhadap pandangan-pandangan yang tidak tepat, dan terdapat juga Ulama ini dari kalangan Ulama Arab sendiri. Bahkan kami telah mendapatkan beberapa tafsir ayat dari yang disampaikan dengan baik oleh seorang Dr. ahli tafsir, yang berkaitan dengan usaha da&#8217;wah ini. Penjelasan seperti ini disertai dengan perjalanan para Shahabat RA sendiri, sehingga beliau tetap mengikuti pola tafsir yang telah banyak ditulis para Ulama sebelumnya.</p>
<p>Tulisan-tulisan ini masih di kalangan masyarakat berbahasa Arab. Sehingga tentunya pertumbuhan ILMIYYAH ini akan terus tumbuh dengan sendiri. Karena sebenarnya sumber-sumber Al-Islam sudah begitu luas dan banyak yang ditulis para Ulama sebelumnya, seperti para Imam Mhadzab, para Imam Hadits, dsb.</p>
<p>Kami sering dinasehati sebelum mengenal usaha da&#8217;wah ini untuk selalu belajar Al-Islam. Itulah mungkin yang kami tidak pernah berhenti mencari dan mengkaji, apalagi para Ulama da&#8217;wah sering menekankan untuk meningkatkan ‘Jiwa Thalab&#8217;. Memang kami sendiri tidak mudah untuk mencari dalil dari sumber-sumber para Ulama yang berkaitan dengan usaha da&#8217;wah. Para Ulama da&#8217;wah tidak mau memberikan beban atau kesulitan terhadap kaum muslimin, sehingga dibuatlah pola yang sederhana dan setiap lapisan kaum muslimin dapat terlibat dengan baik.</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">3. Kami bisa bayangkan bagaimana akan sulitnya kaum muslimin, jika para Ulama da&#8217;wah ini memberikan dalil-dalil secara detail. Jangan-jangan akan menyulitkan, dan akhirnya tidak produktif bagi kaum muslimin. Dan tentunya orang bijak akan melakukan yang bijak pula. Itulah yang kami senangi dan kagum. Dan kami temukan hal ini dari diri Rasulullah SAW dan para Shahabat RA.</p>
<p>Dan bahkan kami temukan dari kitab-kitab para Ulama dulu, hanya saja kita kurang memperhatikannya. Sebagai contoh saja, Imam Nawawi Rah beliau ini banyak menulis kitab dengan baik. Kitab-kitab itu memperlihatkan tingkatan bagi kaum muslimin sendiri. Apakah semua orang dapat membaca syarh Imam Muslim dan juga Majmu fatwanya? Tetapi beliau menulisan Riyadhush Sholihin, semua orang akan mudah membacanya.</p>
<p>Bagi siapapun, termasuk ahli da&#8217;wah, yang mau mendalami dalil-dalilnya yang berkaitan usaha da&#8217;wah dan tabligh, maka perlu meniru dengan baik bagaimana para Shahabat RA ataupun para Imam dalam mencari Ilmu. Jangan hanya mau disuapi saja, tetapi carilah ilmu itu. Kita harus meniru seperti Ibnu Abbas Ra ketika mau mendapatkan satu hadist, sampai beliau harus menunggu berjam-jam di rumah shahabat dikarenakan seorang shahabat ini sedang tidur. Atau seperti Imam Muslim, bagaimana beliau mencari ilmu dari berbagai kalangan dan sumber tentunya.</p>
<p>Sehingga kami mengikuti pesan guru-guru kami untuk terus belajar, dan juga para ulama da&#8217;wah yaitu untuk meningkatkan ‘Jiwa Thalab&#8217;. Dengan begitu kami akan lebih leluasa, karena tentunya para Ulama da&#8217;wah, seperti Maulana Ilyas, Maulana Yusuf, dsb, bukanlah ulama yang hanya asal-asalan dalam menetapkan kaidah-pola, tanpa melihat dan mempelajari dari sumber-sumber Ulama sebelumnya. Apalagi keduanya terlahir dari keluarga yang 800 tahun tidak terputus keulamaan di keluarganya. Dan hal ini sangat luar biasa.</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">4. Kalangan kaum muslimin, apakah itu Ulama, ustadz, ataupun penuntut ilmu, yang banyak memberikan pandangan kritis, bagi kami hal itu merupakan anugrah yang tidak terduga. Di sinilah kami banyak bersyukur. Kenapa? Kalangan kaum muslimin banyak mempelajari, menulis dan mensarikan kitab-kitab secara aktif, tentunya tidak akan lepas dari sumber-sumber para Ulama sebelumnya.</p>
<p>Sudah dijelaskan bahwa para Ulama da&#8217;wahpun tidak lepas sumber-sumber Ulama sebelumnya, dan mungkin saja mendapatkan sumber yang sama dan tentunya pasti. Misalkan para Ulama tidak mungkin melepaskan diri dari sumber seperti kitab Imam Bukhari, ataupun Imam Muslim, atau Imam Abu Daud. Sehingga secara automatis akan terangkat berbagai sumber dengan baik.</p>
<p>Mungkin sdr. akan mencari dalil perihal sholat Isyraq (yang biasa dilakukan sekitar jam 6-an), mecari dalil ini tidak mudah. Meskipun Maulana Dzakariya Rah menuliskan dalam kitab fadhilah amal, tetapi beliau hanya mensarikannya. Bisa sdr. bayangkan bagaimana kita mencarinya? Karena kalangan kaum muslimin ini aktif menulis, membaca dan mensarikan kitab para Ulama, maka dengan sendiri akan terbentuk dalam bentuk topik-topik dan index. Sehingga akan lebih mudah. Dan kami temukan penjelasannya dengan baik dari kalangan kaum muslimin yang mungkin masih tidak sreg dengan usaha da&#8217;wah.</p>
<p>Atau jika sdr. membaca kitab shohih pilihan yang disusun Syeikh Al-Banni Rah, di bagian pertama hadist di bawah nomor 5. Di bagian itu terdapat keterangan perihal tegaknya Al-islam. Dan wujudnya itu akan masuk ke setiap rumah dan lorong. Kira-kira bagaimana mewujudkannya kalau begitu?</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">5. Dalam menghadapi perbedaan dengan kaum muslimin lainnya kita perlu saling menghormati, tidak perlu meremehkan, tidak perlu menghina, dan tidak perlu mencibirkannya. Itulah Ikramul Muslimin yang sering disampaikan. Tetapi kita harus mempunyai keteguhan dengan keputusan kita sendiri, bahkan kita perlu dapat menjelaskannya secara ILMIYYAH dan HIKMAH. Sehingga tentunya kaum muslimin yang mempunyai pandangan berbeda pandangan itu akan mendapatkan PANDANGAN BERIMBANG secara ilmiyyah dan hikmah.</p>
<p>Apa yang dipesan salah seorang guru kami (sebelum kami mengikuti usaha da&#8217;wah) bahwa banyak sekali perbedaan di kalangan kaum muslimin yang memungkinkan menuju pada perpecahan di kalangan ummat, maka kami dianjurkan mendalami kitabnya perbedaan madzhab yang ditulis Ulama dulu. Dari sisi kami melihat hal itu untuk berpikiran yang luas dan ilmiyyah, dan Maulana Dzakaria Rah menulis hanya dalam satu perkara yaitu wudhu saja sudah perbedaan sampai 60. Kenapa dalam ahli da&#8217;wah ditekankan untuk tidak membahas Khilafiyyah, karena tidak mudah untuk membahas itu dan tidak banyak orang yang mampu membahas itu. Kalau salah akan mengakibatkan pertentangan tajam di kalangan kaum muslimin.</p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">6. Kami sama seperti sdr. banyak bertanya terhadap usaha da&#8217;wah ini. Tetapi kita harus mempunyai ‘Jiwa Thalab&#8217; untuk mencari, membaca, mensarikan dari sumber-sumber Al-Islam yang telah ditulis para Ulama sebelumnya, dan tentunya kita juga perlu banyak bertemu dengan para Ulama sendiri. Tujuan kita bukan untuk mengajak dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh, TETAPI untuk mencari ilmu al-Islam yang dapat mengarahkan kehidupan kita mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW.</p>
<p style="margin-left: 0in;">Tidak ada kesuksesan kecuali mengikuti perintah Allah swt dan Rasulullah SAW. Dan itulah para Shahabat RA telah membuktikannya. Maka Maulana Yusuf Rah menjelaskan untuk memahami usaha da&#8217;wah ini untuk mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW dan para Shahabat RA, karena beliau-beliau ini yang sudah sukses dan dijamin kesuksesannya. Orang bijak dan berpikiran jauh tentunya akan memilih jalur dari orang-orang yang sukses sebelumnya.</p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.&#8221; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: &#8220;Ta&#8217;atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.&#8221; (QS Ali-Imran (3):31-32)</em></p>
<p style="margin-left: 0in; text-indent: 0in;">7. Insya Allah, kami akan berbagi sesuai dengan kemampuan yang kami miliki. Jika ada yang keliru, maka tegurlah kami. Jika ada yang baik, ambilah dan pelajari kembali. Yang benar itu dari Allah swt, dan yang keliru itu dari kelemahan dan kekurangan kami. Kami tidak mempunyai kemampuan memberikan kepahaman, hanya Allah swt yang memberikan kepahaman terhadap usaha da&#8217;wah ini. Dan kami masih jauh dan masih banyak belajar dengan usaha da&#8217;wah ini. Terimakasih</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=260&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/surat-menyurat-dawah-dengan-abdul-qahhar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menurut Jamaah Tabligh, khuruj itu kewajiban bukan? Kalau dakwah, oke lah kewajiban setiap mukmin. Tapi metode khuruj ini kewajiban bukan?</title>
		<link>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 07:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=258</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan di myQuran:
http://myquran.org/forum/index.php/topic,62873.msg1900611.html#msg1900611
Sdr. dan kawan-kawan,
Da&#8217;wah merupakan tanggung jawab kaum muslimin, dan metoda untuk menjalankan da&#8217;wah ini beragam untuk dilakukan. Tentunya orang-orang yang mempunyai akal dan berpikiran akan bertanya-tanya kenapa jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA bisa tersebar ke berbagai lapisan dan daerah, padahal di jaman itu tidak ada media seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan di myQuran:</p>
<h5>http://myquran.org/forum/index.php/topic,62873.msg1900611.html#msg1900611</h5>
<p>Sdr. dan kawan-kawan,</p>
<p>Da&#8217;wah merupakan tanggung jawab kaum muslimin, dan metoda untuk menjalankan da&#8217;wah ini beragam untuk dilakukan. Tentunya orang-orang yang mempunyai akal dan berpikiran akan bertanya-tanya kenapa jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA bisa tersebar ke berbagai lapisan dan daerah, padahal di jaman itu tidak ada media seperti yang sekarang, tidak ada TV, tidak internet, tidak ada radio? Kenapa di jaman itu bisa tersebar dengan luas, padahal juga jika dilihat di jaman itu awalnya sangat lemah dan jumlahnya sedikit? Kenapa hal itu terjadi?</p>
<p><span id="more-258"></span>Terus juga akan bertanya lagi kepada bangsa kita sendiri. Kenapa Al-Islam bisa tersebar di Indonesia? Bukankah di Indonesia mayoritas bukan beragama Islam sebelumnya, melainkan agama hindu ataupun anisme? Kenapa bisa tersebar di jaman itu? Islam tidak disebarkan melalui burung ataupun berita-berita di media? Kenapa bisa tersebar ke seluruh nusantara? Kenapa hal itu terjadi?</p>
<p>Kenapa meskipun media banyak, TV, Internet, Radio, tetapi kenapa banyak juga orang-orang muslim yang berpindah ke dalam agama lain? Kenapa hal itu bisa terjadi? Begitupun dengan orang Islam yang pergi ke Eropa, begitu pindah dulu-dulu banyak yang berubah, yang menggunakan jilbab akhirnya menggunakan celana bikini seperti mereka yang ada di Eropa kebanyakannya? Kenapa hal itu terjadi? Kenapa juga ada orang-orang Indonesia dari jawa yang pergi ke Australia, awalnya mereka itu sholat, tetapi lama-lama turun-turunan mereka lupa dengan agama Al-Islam yang mulia. Kenapa hal itu terjadi? Bukankah telah banyak kitab dicetak?</p>
<p>Khuruj itu salah satu metoda penyebaran, dan juga menyebarkan da&#8217;wah melalui media cetak/elektronik itu metoda juga. Kedua-duanya mempunyai peran dalam penyebaran Islam, tetapi tentunya kita harus memahami karakter-karakternya. Kita tidak mungkin melepaskan metoda yang satu, dikarenakan ada metoda lainnya. Begitupun kita tidak mungkin meninggalkan metoda yang asli, karena begitu banyak metoda pilihan lainnya. Metoda yang satu tentunya akan bersifat menyeluruh untuk ummat, tetapi metoda lainnya hanya bisa dijalankan secara pribadi-pribadi yang memang mampu.</p>
<p>Khuruj ini tentunya mempunyai pasangannya, oleh karena itu perlu juga memperhatikan pasangannya yaito maqomi sebagai tempat kita membuat kerja da&#8217;wah di tempat sendiri, sedangkan Khuruj untuk melakukan penyebaran da&#8217;wah Islam ke tempat lain. Khuruj ini jelas merupakan pola penyebaran yang asli, karena di jaman Nabi dan juga para Shahabat RA ini merupakan pola yang ada bahkan jika kita membaca kisah-kisah para Ulama, maka khuruj ini merupakan hal yang biasa, seperti halnya ketika penyebaran Islam di nusantara, tentunya para Ulama itu datang bukan dengan menyebarkan buletin ataupun media lainnya.</p>
<p>Tentunya aktifitas da&#8217;wah itu sendiri beragam ketika dijalankan ketika khuruj ataupun maqomi, tentunya juga perlu bertemu langsung dengan kaum muslimin khususnya ataupun manusia lainnya. Cukup aneh kita mengajak kaum agama lain, sedangkan kita tidak mengingatkan ummat kaum muslimin sendiri. Dalam da&#8217;wah ini tentunya ada yang disampaikan melalui (1) penjelasan umum secara ijtimaiyyah (ceramah umum), ada juga dalam bentuk (2) khususi bertemu ke kalangan yang khusus seperti alim, ustadz, sesepuh, ataupun masyarakat yang perlu dikunjungi (3) da&#8217;wah umumi dimana kita bertemu dengan kaum muslimin secara langsung apakah di rumahnya ataupun di jalanan, (4) da&#8217;wah secara infirodhiyyah, dimana bisa dari hati ke hati untuk menyampaikan agama ketika di masjid atau sedang tenang.</p>
<p>Khuruj dan aktifitas da&#8217;wah baru akan bermakna jika dilakukan bertemu langsung serta juga dengan biaya sendiri dan jiwa sendiri. Lalu kita berpikir, bagaimana dengan awalnya Al-Islam, apakah langsung bertemu? Jelas kita akan menjawab bertemu dengan langsung, dan tersebarnya melalui perjalanan itu sendiri.</p>
<p>Jadi Khuruj dan aktifitas da&#8217;wah langsung itu merupakan metoda asli yang tidak boleh berhenti untuk ummat Islam, tetapi bukan berarti metoda pilihan lainnya tidak perlu diperhatikan, seperti TV, Radio, CD dsb, tetapi metoda pilihan ini juga tidak boleh dijadikan sebagai pengganti dari metoda asli yang sebenarnya telah ada dari awal perjalanan da&#8217;wah Nabi kita sampai penyebarannya di Indonesia dulu.</p>
<p>Dan karena mulai ditinggalkan, maka begitu banyak kaum muslimin yang meninggalkan amal-amal agama kita sendiri. Sehingga jika banyak kaum muslimin menjalankan khuruj dan maqomi ini kurang lebih 100.000 rombongan setiap tahun, diharapkan masjid-masjid akan makmur dengan amal-amal agama dan banyak kembali kaum muslimin yang mengamalkan agama.</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=258&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/menurut-jamaah-tabligh-khuruj-itu-kewajiban-bukan-kalau-dakwah-oke-lah-kewajiban-setiap-mukmin-tapi-metode-khuruj-ini-kewajiban-bukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>64</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa pusat usaha da&#8217;wah di India, tidak di Arab?</title>
		<link>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 07:01:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Pikir dan Analisa Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Soal-Jawab]]></category>
		<category><![CDATA[Da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>
		<category><![CDATA[Usaha Da'wah dan Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan, dan kami mencoba berbagi pandangan dengan sdr. sekalian.
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Mari kita ungkap lebih dalam perihal pertanyaan ini, dan kita jangan termasuk seperti bani Israil yang menanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman itu terlahir dari Arab tidak dari bani Israil. Pertanyaan ini terlontar sangat wajar karena banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan, dan kami mencoba berbagi pandangan dengan sdr. sekalian.</p>
<p>Assalamu ‘alaikum wr. wb.</p>
<p>Mari kita ungkap lebih dalam perihal pertanyaan ini, dan kita jangan termasuk seperti bani Israil yang menanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman itu terlahir dari Arab tidak dari bani Israil. Pertanyaan ini terlontar sangat wajar karena banyak Nabi lahir di kalangan bani israil, dan memang dari turunan Nabi Ishak As ini sangat banyak Nabi. Sedangkan dari Nabi Ismail As hanya satu Nabi saja, yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman.</p>
<p>Ummat Islam ini bukan hanya berada di arab, tetapi sudah sangat tersebar ke berbagai negara. Semua sejarah mencatat dengan baik perihal da&#8217;wah Abi Waqash RA sampai ke negera Cina. Atau kisah-kisah lainnya. Kita bisa bayangkan dengan pikiran yang normal, tanpa ada pesawat atau kendaran yang sangat hebat saat itu, tetapi kaum muslimin telah menembus negara-negara untuk menyampaikan agama Islam yang mulia ini. Jika kita perhatikan daratan yang ditempuh, gunung yang tinggi dan suhu yang dingin, tetapi mereka terus bergerak ke negara-negara jauh. Kira-kira SEMANGAT APA yang menjadikan mereka berani meninggal tanah air dengan waktu yang sangat panjang itu. Hal ini bisa terjadi karena PIKIR yang menghujam ke dalam diri mereka seperti mana PIKIR NABI untuk menyebarkan Islam ke seluruh daerah dan tempat. Apa PIKIR NABI itu? Allah swt dengan jelas dan lugas menjelaskan pikir dan kerisauan beliau itu dalam ayat Al-quran sendiri.</p>
<p><span id="more-256"></span>Perhatikan dengan ayat At-Taubah terakhir 128-129:</p>
<p><strong>&#8220;sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: &#8220;Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki &#8216;Arsy yang agung&#8221;. (At-Taubah: 128-129).</strong></p>
<p>Para Shahabat RA dan juga para Ulama dulu sangat memahami perihal risau ini, mereka ini menyelami kisah Nabi bagaimana ke thaif, mereka ini menyelami kisah Nabi ketika mengajak kaumnya sendiri di mekkah, mereka ini menyelami bagaimana hijrah Nabi ke Madinah, bagaimana keluarganya sendiri ada yang menghina dan mau merencanakan membunuhnya. PADAHAL apa yang diinginkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, yang mulia ini. Sebuah keselamatan dan keimananan bagi ummat manusia. Nabi kita bukan mau harta yang dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Jadi para Shahabat dan juga para Ulama berani untuk berpergian yang jauh untuk menyebarkan Islam ini dengan harta dan jiwa mereka sendiri. Silahkan pelajari kisah-kisah penyebaran Islam ke Indonesia, dan terutama dengan kehadirannya orang-orang Arab di Indonesia. Kalangan Arab ini sangat berperan dalam penyebaran Islam, dan menurut sejarah banyak dari kalangan Hadramaut yang ke Indonesia.</p>
<p>Kemajuan kaum muslimin di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA yang signifikan yaitu setelah ditetapkannya tempat berhimpun dan menjalankan aktifitas ijtimaiyyah kaum muslimin, Masjid. Masjid ini yang menjadi titik central Utama di jaman itu. Bahkan banyak penjelasan tolok-ukur kaum muslimin dapat dilihat dari kedatangannya ke masjid. Dan banyak ayat dan juga hadist yang menjelaskan keutamaan terhadap masjid ini. Jika Allah swt dan juga Nabi kita menekankan perkara masjid, maka tentunya masjid ini mempunyai peran sangat penting bagi kehidupan kaum muslimin dari masa ke masa. Kita dapat mempelajari perihal keutamaan masjid dalam kitab yang ditulis para Ulama.</p>
<p>Sehingga siapapun di dunia ini yang dapat menjalankan aktifitas-aktifitas masjid itu dengan baik seperti mana yang terjadi di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan terutama dengan aktifitas da&#8217;wah Islam, karena da&#8217;wah Islam ini mempunyai dampak perubahan dari ketidaktaatan menjadi ketaatan itu sendiri. Kita kaum muslimin sangat dianjurkan untuk menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat yang mungkar. Dari jelas da&#8217;wah itu merupakan aktifitas untuk melakukan perubahan dari yang tidak diridhoi menjadi yang diridhoi Allah swt. Sehingga jika da&#8217;wah ini dijalankan di masjid, maka dengan sendirinya pesan dan kesan masjid itu akan masuk ke dalam rumah-rumah kaum muslimin. Dan da&#8217;wah ini tidak mungkin dijalankan kecuali dengan ijtimaiyyah jika dilakukan di masjid kita.</p>
<p>Ada satu ayat yang sebenarnya cukup penting dipelajari dengan baik, bagi kaum muslimin yang menjalankan aktifitas da&#8217;wah ini, yaitu Ali-Imran:104. Dalam ayat ini terdapat kata &#8220;waltakum minkum ..&#8221;, terdapat dua penjelasan terhadap ayat ini oleh kalangan Ulama yaitu &#8220;Membentuk sebagian dari kaum muslimin &#8230;.&#8221; Dan &#8220;Membentuk Ummat Islam sebagai Ummat Da&#8217;wah ..&#8221;. Tetapi keduanya pada prinsipnya adalah sama untuk mendorong aktifitas da&#8217;wah itu sendiri. Yang namanya &#8220;membentuk ..&#8221; tentunya mencetak atau menjadikan seseorang untuk terjun dalam da&#8217;wah. Jika dilakukan di masjid, maka secara kemestian perlu dilakukan tertibnya atau metodanya dengan baik. Dalam hal ini kita sendiri dapat menyusun  metodanya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, tetapi bukan berarti kita harus berpegang terus dengan prosedur kita jika ada yang membawa metoda yang lebih mudah dan menyeluruh.</p>
<p>Masjid Nabawi di Arab belum menjadikan sebagai pusat da&#8217;wah, tetapi masih dijadikan sebagai pusat pengajaran dan pendidikan (ta&#8217;lim) Islam. Karena tentunya para Ulama sendiri sangat memahami apa pengaruh (efek) dari da&#8217;wah itu sendiri. Da&#8217;wah itu akan memberikan perubahan ke setiap lingkungan masyarakat, dan tentunya akan memberikan dampak orang-orang untuk berdatangan ke masjid itu sendiri dengan sukarela. Kaum muslimin sekarang juga datang ke masjid Nabawi, itupun sebenarnya karena pengaruh da&#8217;wah (ajakan) meskipun caranya mungkin dari kata-kata ringan. Sehingga banyak juga kaum muslimin akhirnya untuk belajar di masjid Nabawi. Tetapi jika menjadikan pusat da&#8217;wah, maka akhirnya akan disebarkan ke berbagai negeri untuk menyebarkan Islam. Dan nantinya secara automatis akan banyak orang datang ke masjid Nabawi ini, dan seterusnya kembali menyebarkan Islam. Dan akhirnya menggerakan semua aktifitas lainnya, seperti ta&#8217;lim, ibadah dan juga khidmat atau muamalat.</p>
<p>Waktunya akan datang, para Ulama di arab sendiri terutama yang mendukung usaha da&#8217;wah dan tabligh seperti Syeikh Abu Bakar Al-Jazairi juga sangat paham ini, tetapi perlu mempertimbangkan dengan hikmah dan dalam. Oleh karena itu beliau sendiri hanya menjelaskan ketika ditanya perihal usaha da&#8217;wah di masjid itu, bahwa usaha da&#8217;wah ini merupakan mutiara di akhir jaman. Jadi pengaruh da&#8217;wah dan ta&#8217;im sangat berbeda hasilnya. Waktunya akan datang dengan sendirinya, ketika sudah siap semuanya. Jika tidak, maka akan sangat mudah dihancurkan da&#8217;wah ini oleh musuh-musuh Islam itu sendiri. Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa perihal perahu merupakan pelajaran terpenting bagi kalangan ahli da&#8217;wah, agar semuanya berjalan dengan sederhana dan senyap, tetapi semuanya berjalan dengan jelas dan pasti. Pelajaran</p>
<p>Dan Maulana Ilyas Rah memulai dari masjid yang sangat sederhana di daerah Nizamuddin, dan sekarang tersebar ke seluruh dunia bahkan tembus negara-negara Eropa, Amerika dsb. Bahkan beberapa tahun yang silam kaum muslimin Inggris sangat berkeinginan membangun masjid markaz ini menjadi masjid yang indah dan besar, dan hal ini disampaikan kepada maulana Inamul Hasan Rah, tidak dapat diiijinkan oleh beliau. Dan bahkan beliau mendorong untuk membangun masjid besar dan megah di Inggris sendiri, dan hari ini menjadi perbincangan di Inggris akan menjadi masjid terbesar di Eropa yang dibangun kalangan da&#8217;wah dan tabligh. Dorongan Maulana Inamul Hasan Rah itu sekitar 15 tahun yang lalu.</p>
<p>Kita boleh berkeinginan dan merencanakan. Tetapi juga kita harus menyaqini bahwa Allah swt sendiri mempunyai rencana. Maulana Ilyas Rah hanya sebagai asbab saja untuk kaum muslimin, tetapi sebenarnya semua tertib itu telah tertulis dengan baik oleh para ulama dulu. Dan beliau ini hanya perangkai dari sumber-sumber itu yang saling berkaitan untuk menjadi sebuah model metoda da&#8217;wah dan tabligh, dan sekarang ijtihad itu telah banyak memberikan kesan dan pesan ke seluruh dunia, termasuk di kalangan arab sendiri termasuk para Ulama. Dan jika banyak mempelajari siapa Maulana Ilyas dan keluarganya. Kita akan mengetahui bahwa mereka juga merupakan turunan dari kalangan para Shahabat RA.</p>
<p>Thanks,</p>
<p>Haitan</p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=256&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kenapa-pusat-dawah-di-india-tidak-di-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurikulum Pengajaran melalui ta’lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat</title>
		<link>http://usahadawah.com/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/</link>
		<comments>http://usahadawah.com/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 16:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haitan Rachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ilmu dan Pengajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj Pilihanku]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhoil Amal]]></category>
		<category><![CDATA[hayatush shahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[usaha da'wah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://usahadawah.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[ 
Usaha da&#8217;wah dan tabligh merupakan satu bentuk pergerakan Islam yang cukup sangat dinamis di jaman sekarang ini. Tidak mungkin satu pergerakan tanpa mempunyai metodologi gerak secara ijtimaiyyah, termasuk juga kurikulum ataupun silabus pengajaran Al-Islam itu sendiri. Dan hal ini sudah menjadi hal yang umum dalam proses pengajaran memerlukan kurikulum dan silabus itu sendiri, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0               false   false   false      EN-US   X-NONE   AR-SA </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Usaha da&#8217;wah dan tabligh merupakan satu bentuk pergerakan Islam yang cukup sangat dinamis di jaman sekarang ini. Tidak mungkin satu pergerakan tanpa mempunyai metodologi gerak secara ijtimaiyyah, termasuk juga kurikulum ataupun silabus pengajaran Al-Islam itu sendiri. Dan hal ini sudah menjadi hal yang umum dalam proses pengajaran memerlukan kurikulum dan silabus itu sendiri, dan dengan sendirinya akan juga berhubungan sumber-sumber buku yang menjadi bacaannya.</p>
<p>Kami yang sempat berhubungan perguruan tinggi dalam pengembangan kurikulum dan silabus, serta juga ma&#8217;had Islam sendiri, maka kurikulum dan silabus mempunyai peran yang cukup penting untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya dengan baik. Hal ini juga berlaku untuk usaha da&#8217;wah dan tabligh, begitupun juga kami kira dengan ma&#8217;had atau madrasah Islam lainnya.</p>
<p><span id="more-238"></span>Kitab-kitab yang ditulis para Ulama dulu sangat banyak sekali, dan tidak mungkin dapat dipelajari dan diajarkan seluruhnya kepada kaum muslimin. Sehingga diperlukan penyusunan yang bersesuaian dengan sasaran yang hendak dicapainya dalam pengajaran itu sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh sendiri banyak menulis kitab-kitab yang cukup tebal, TETAPI tidak semua bacaan itu menjadi bahan bacaan secara ijtimaiyyah.  Bahkan jika membawanya saja mungkin sudah cukup sulit ketika mengadakan khuruj.</p>
<p>Pengajaran yang ditekankan adalah untuk memahami bahwa kesuksesan dunia dan akherat jika mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi apa yang dilarangnya, serta menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya secara 100%. Dan untuk memudahkan hal ini perlu dijelaskan perihal sifat-sifat utama yang dimiliki para Shahabat RA, dan ditekankan pada enam sifat utama. Sehingga pelajaran kisah-kisah Shahabat RA tentunya dengan Rasulullah SAW menjadi pelajaran yang sangat rutin.</p>
<p>KItab Hayatush Shahabat, susunan Maulana Yusuf Rah, merupakan kitab yang banyak dibaca ketika di malam markaz. Kitab ini terdiri dari 3 jilid tebal, mengisahkan perihal Rasulullah SAW dan para Shahabat RA dalam hal ibadah, da&#8217;wah, jihad, pengorbanan, ijtimatiyyah, belajar-mengajar, ikramul muslimin, akhlaq dsb. Dan khusus dalam bab pertama dijelaskan yang sangat penting yaitu ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah SAW, dan juga mengikuti para Shahabat RA.</p>
<p>Kitab hikayat para Shahabat, susunan Maulana Dzakaria Rah, kitab ini biasanya dibundle dalam kitab fadhoil amal. Kitab ini banyak dibaca kalau sedang keluar dan juga di rumah atau di masjid. Disamping itu terdapat beberapa kitab fadhilah yaitu Sholat, Dzikir, Quran, Tabligh, Ramadhan. Semuanya disatukan biasanya dalam kitab fadhoil amal. Tetapi bacaan kitab fadhilah Ramadhan, biasanya dilakukan ketika keluar di bulan ramadhan ataupun mau menghadapi bulan ramadhan.</p>
<p>Terdapat juga kitab Al-Muntakhabatul Hadist, susunan Maulana Yusuf Rah, merupakan kitab pilihan ayat dan hadist yang berkaitan dengan enam sifat Shahabat (enam prinsip). Disamping tersebut terdapat buku yang kadangkala dipergunakan ketika khuruj, kecuali di daerah timur tengah lebih banyak dipergunakan, kitab itu adalah Kitab Riyadhush Sholihin, susunan Imam Nawawi Rah.</p>
<p>Terdapat pelajaran yang sering diulang, kalaupun terdapat kitabnya tetapi kitab ini hampir tidak dibaca secara ijtimatiyyah tetapi dibaca secara infirodhiyyah, pelajaran ini adalah enam sifat Shahabat, juga ushul-ushul da&#8217;wah dan adab-adab Islam.</p>
<p>Ada juga kitab fadhilah Shodaqah dan Haji, disamping tersebut ada kitab fadhilah lainnya, fadhilah dagang,  yang ditulis oleh Maulana Dzakaria, ataupun perihal kajian terhadap pendalaman da&#8217;wah dalam kerja da&#8217;wah dan tabligh, bahkan terdapat beberapa buku yang ditulis oleh para ustadz di Indonesia. Tetapi hal itu bukan menjadi sebuah bacaan yang bersifat ijtima&#8217;iyyah, tetapi infirodhiyyah. Artinya belum tentu ahli da&#8217;wah sendiri mempunyai buku-buku itu.</p>
<p>Bacaan Ijtimaiyyah hampir sama ketika khuruj, ataupun di rumah atau masjid. Tetapi pelajaran infirodhiyyah merupakan bacaan untuk meningkatkan kualitasnya sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. TENTUNYA seseorang yang mempelajari bacaan buku-buku secara individu ini akan memberikan kesan secara langsung kepada jama&#8217;ah itu sendiri. Karena ketika bayan, ataupun taqrir, seseorang yang mempunyai pengetahuan dan pendalaman luas akan menyampaikannya sesuai dengan kepahamannya. TETAPI kerangkanya tidak keluar dari kerangka ijtimaiyyah.</p>
<p>Pelajaran Infirodhiyyah merupakan proses belajar-mengajar yang dilakukan atas kemampuan dan keinginan sendiri. Sehingga dapat saja seseorang mengikuti kurikulum atau silabus yang dibangun oleh satu ma&#8217;had yang lainnya, misalkan mengikuti pelajaran kitab shohih bukhari dan muslim, atau pelajaran fiqh Imam Syafi&#8217;I, dsb. Pelajaran ini akan menambah kepahaman dan kualitas sendiri dari yang mengikutinya.</p>
<p>Para Ulama yang menjalankan usaha da&#8217;wah ini cukup lama memahami bahwa ijtimaiyyah tidak dapat mengantikan infirodhiyyah, begitupun infirodhiyyah tidak dapat menggantikan ijtimaiyyah. Sehingga para ulama atau masyaikh da&#8217;wah mendorong untuk meningkatkan jiwa tholab dalam mencari ilmu, tetapi untuk ijtimaiyyah para Ulama melakukannya melalui musyawarah-musyawarah secara berkesinambungan dan tentunya perlu memperhitungkan dengan baik.</p>
<p>Kitab yang dibaca terutama ketika keluar/khuruj fi sabilillah, di masjid atau di rumah yaitu:</p>
<p>1.       Bundel Buku-Buku Fadhilah Amal:</p>
<p style="padding-left: 30px;">a.       Fadhilah sholat, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">b.      Fadhilah dzikir, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">c.       Fadhilah quran, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">d.      Fadhilah tabligh, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">e.      Fadhilah ramadhan, Maulana Dzakaria</p>
<p style="padding-left: 30px;">f.        Kisah-kisah para Shahabat RA, Maulana Dzakaria</p>
<p>g.       Keruntuhan Ummat Islam dan Cara Perbaikannya, Maulana Ihtisamul Hasan</p>
<p>2.       Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf (kitab 3 jilid tebal)</p>
<p>3.       Kitab Hadits-Hadits Pilihan, Maulana Yusuf</p>
<p>4.       Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi</p>
<p>5.       Fadhilah Haji, Maulana Dzakaria</p>
<p>6.       Fadhiah Shodaqah, Maulana Dzakaria</p>
<p>Pengajaran melalui ta&#8217;lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat memberikan pendekatan yang lebih mudah diserap oleh semua lapisan kaum muslimin. Tidak hanya untuk semua lapisan tertentu, misalnya hanya untuk kalangan penuntut ilmu atau santri madrasah, tetapi semua lapisan dapat melibatkan diri dengan baik, apakah itu pelajar, apakah itu petani, apakah itu pedagang, apakah itu dokter, dsb. Dan semua Nampak dengan jelas kalau kita melibatkan diri dalam usaha da&#8217;wah dan tabligh atau juga menghadiri ijtima&#8217;i-ijtima&#8217;I pertemuan yang dilaksanakan, semua lapisan kaum muslimin dapat melibatkan diri, atau juga ketika khuruj fisabilillah.</p>
<p>Biasanya jika semangat telah tumbuh, maka seseorang berusaha untuk meningkatkan kualitas pemahaman melalui kitab lainnya: kitab fiqh Islam, buku-buku berkaitan dengan usaha  da&#8217;wah dan tabligh, do&#8217;a-do&#8217;a harian. Beberapa tulisan kecil yang sangat erat dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh ini yang dapat meningkatkan pikir yaitu:</p>
<p>1.       Keruntuhan Ummat Islam dan Cara Perbaikannya, Maulana Ihtisamul Hasan</p>
<p>2.       Penderitaan Ummat dan Penyelesaiannya, Maulana Dzakaria</p>
<p>3.       Perasaan Ummat seruan Maulana Yusuf</p>
<p>4.       Sebuah Seruan Kepada Kaum Muslimin, pesan disampaikan Maulana Ilyas dalam konferensi seluruh Ulama Indoa dan pemimpin politik Muslim</p>
<p>5.       Enam Prinsip Tabligh, Maulana Ishaq Elahi</p>
<p>6.       Malfudhat Maulana Ilyas, Maulana Manzoor Nu&#8217;mani</p>
<p>Tulisan-tulisan di atas ini merupakan bahan bacaan infirodhiyyah, dan tidak dilakukan secara ijtimaiyyah. Disamping mungkin saja untuk meningkatkan kualitas pendalamannya, misalkan melalui kajian tafsir Quran, Syarh Hadits, dsb. Peningkatan infirodhiyyah tentunya akan banyak memberikan pengaruh ijtimaiyyah, begitupun ijtimaiyyah akan banyak memberikan dorongan terhadap infirodhiyyah.</p>
<p>Bagi kaum muslimin yang mempunyai kemampuan tentunya juga sebaiknya mempunyai kurikulum ataupun silabus untuk pendalaman-pendalaman Islam lainnya, sehingga pendalaman tersebut mempunyai arah dan sistematika yang jelas dan beraturan. Dan beberapa kitab perihal Ilmu selalu menjelaskan kurikulum dan silabus pengajaran Islam dengan baik, hal ini untuk menghindari pengajaran yang tidak beraturan dan tidak terstruktur.</p>
<p>Meskipun seperti itu sasaran utama dari ta&#8217;lim wat ta&#8217;allum dalm usaha da&#8217;wah dan tabligh ini adalah bagaimana menghidupkan amal agama 100% dalam kehidupan kita sebagai muslim. Bukan menjadikan buku-buku itu sebagai tumpukan yang tidak ada artinya, jangan sampai seperti perumpaan keledai yang membawa tumpukan kitab yang tidak memberikan kesan sama sekali.</p>
<p>Sekian penjelasan dari analisa dan sintesa kami pribadi berkaitan dengan Kurikulum Pengajaran melalui ta&#8217;lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat, dan juga berkaitan dengan usaha da&#8217;wah dan tabligh juga. Kami akan lanjutkan dalam tulisan lainnya, beberapa pesan yang disampaikan maulana Ilyas Rah yang berkaitan dengan ilmu. Sehingga kita kaum muslimin dapat memperhatikan hikmah yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Terimakasih</p>
<p><script type="text/javascript"></script></p>
<img src="http://usahadawah.com/?ak_action=api_record_view&id=238&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://usahadawah.com/kurikulum-pengajaran-melalui-ta%e2%80%99lim-fadhoil-amal-dan-hayatush-shahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

